Anda di halaman 1dari 2

Kenali Bakat Anak Autis Sejak Dini

14 May
JAKARTA, KOMPAS.com Orang tua yang memiliki anak dengan berkebutuhan
khusus seperti autis hendaknya jeli dalam mengenali potensi dan bakat anak
mereka sejak dini. Hal ini menjadi penting untuk menentukan masa depan dan
kehidupan mereka.
Temukenali bakat anak sedini mungkin. Jangan cuma didiamkan saja. Bantu anak
mengembangkan bakat mereka, kata Tri Gunadi, Konsultan Anak Berkebutuhan
Khusus dan Dosen Vokasi Kedokteran Okupasi Terapi Universitas Indonesia, saat
ditemui dalam acara Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The London School of Public
Relations, dengan tema Autism Awareness Festival, Sabtu, (14/4/2012) lalu.
Tri Guna menyampaikan, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk
mengetahui bakat dan minat anak. Pada fase pertama, orang tua harus
mencaritahu dan mengenali bakat anak. Kedua, tes bakat minat dengan melibatkan
(psikolog). Pada anak autis, tes bakat menggunakan fingerprintsebaiknya tidak
dilakukan.
Untuk anak spesial, fingerprint tidak berlaku karena tertutupi oleh
ketidakmampuannya terkait masalah sensori, bicara, dan interaksi, katanya
Setelah menemukan bakat anak, maka tahap selanjutnya adalah memasukkan anak
ke pendidikan vocational. Konsep pendidikannya lebih mengandalkan skill atau
keterampilan dan bertujuan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas dan
terampil.
Triguna berpendapat, pendidikan vocational adalah pendidikan yang paling ideal
untuk anak special need seperti, autis. Karena anak autis tidak balance antara IQ
dan EQ.
Banyak anak autis yang IQ tinggi tapi tidak fungsional, ucapnya.
Pendidikan vocational bisa diberikan ketika anak berusia minimal 10 tahun. Pada
anak autis, ia harus memilih apakah mengikuti pendidikan formal atau vocational.
Meskipun ada beberapa anak autis yang bisa menjalankan pendidikan formal dan
vocational secara bersamaan.
Memang tergantung kasus per kasus. Tapi lebih baik memilih salah satu, katanya.
Tingkat pengajaran yang diberikan anak autis di pendidikan vocational bermacammacam. Mulai dari yang sederhana sampai berat. Misalnya, membuat adonan kue
sampai teknik grafika.
Meskipun idealnya pendidikan vocational diberikan sejak anak usia 10 tahun, tapi
sayangnya, di Indonesia, pendidikan vocational baru ada di tingkat universitas. dan

SMA/SMK. Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Dasar (SD) belum
digarap.
Padahal bagi anak autis pendidikan vocational adalah jalan terbaik untuk
menentukan kehidupan mereka yang sebenarnya. Karena tidak semua anak mampu
mengikuti pendidikan formal, terangnya