Anda di halaman 1dari 33

DAFTAR ISI

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN

01

A.

Latar Blakang

01

B.

Dasar Hukum

03

C.

Definisi .

04

Tujuan Instruksional Umum

06

Tujuan Instruksional Khusus ..

06

OBJEK PENGAWASAN

07

1.

Instalasi Nuklir

07

2.

Instalasi Nuklir Non Reaktor ..

07

3.

Bahan Nuklir

07

4.

Sertifikasi. .

08

BAB III

PERIZINAN INSTALASI DAN BAHAN NUKLIR ..

09

BAB IV

PROSEDUR, PERYARATAN PENERBITAN DAN JENIS IZIN ..

11

A.

Persyaratan Izin..

11

1. Syarat syarat untuk mendapatkan izin tapak

12

2. Syarat Syarat untuk mendapatkan izin kontruksi

13

3. Syarat-Syarat untuk mendapat Izin Operasi

14

4. Syarat-Syarat untuk Izin Dekomisioning

16

Laporan Analisis Keselamatan .

17.

1. Laporan Analisis Keselamatan Pendahuluan

18

2. Laporan Analisis Keselamatan Akhir ...

20

3. Laporan Analisis Keselamatan Dampak Lingkungan ..

22

BAB V

SURAT IZIN BEKERJA

24

BAB VI

KEWAJIBAN PEMEGANG IZIN OPERASI .

26

BAB VII

PENGAWASAN BAHAN BAKAR NUKLIR . 29

BAB VIII

BIAYA IZIN INNR .

B.

30

DASAR DASAR PERIZINAN INSTALASI DAN BAHAN


NUKLIR

BAB I
PENDAHULUAN.

A. Latar Belakang

Direktorat Perizinan Instalasi dan Bahan Nuklir, BAPETEN antara lain


bertugas menyelenggarakan perizinan di bidang instalasi nuklir, bahan nuklir
dan petugas yang bekerja sebagai operator reaktor/supervisor reaktor. Yang
dimaksud dengan perizinan (PP No. 64/2000) adalah seluruh proses yang
meliputi persyaratan dan tatacara memperoleh izin, penerbitan, perubahan,
perpanjangan, pembekuan, pencabutan dan kegiatan lain yang terkait dengan
izin pemanfaatan tenaga nuklir.

Tujuan penyelenggaraan Perizinan Instalasi dan Bahan Nuklir yang


dilaksanakan oleh BAPETEN adalah untuk :
a) Terjaminnya kesejahteraan, keamanan dan ketentraman masyarakat;
b) Menjamin keselamatan dan kesehatan pekerja dan anggota masyarakat
serta perlindungan terhadap lingkungan hidup;
c) Memelihara tertib hukum dalam pelaksanaan pemanfaatan tenaga nuklir;
d) Meningkatkan

kesadaran

hukum

pengguna

tenaga

nuklir

untuk

menimbulkan budaya keselamatan di bidang nuklir;


e) Mencegah terjadinya perubahan tujuan pemanfaatan bahan nuklir; dan
f) Menjamin terpeliharanya dan ditingkatkannya disiplin petugas dalam
pelaksanaan pemanfaatan tenaga nuklir.

Pengaturan perizinan instalasi nuklir sebagaimana tercantum dalam pasal 17


UU No. 10/97, adalah :

Ayat (1) : Setiap pemanfaatan tenaga nuklir wajib memiliki izin, kecuali
dalam hal-hal tertentu yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Pemerintah.
Ayat (2) : Pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir dan instalasi
nuklir lainnya serta dekomisioning reaktor nuklir wajib
memiliki izin.
Ayat (3) : Syarat-syarat dan tata cara perizinan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Pemerintah.

Yang dimaksud dengan instalasi nuklir adalah :


a. Reaktor nuklir
b. Fasilitas yang digunakan untuk pemurnian, konversi, pengayaan bahan
nuklir, fabrikasi bahan bakar nuklir dan atau pengolahan ulang bahan bakar
nuklir bekas; dan atau
c. Fasilitas yang digunakan untuk menyimpan bahan bakar nuklir dan bahan
bakar nuklir bekas.
(kelompok dalam butir (b) dan (c) disebut instalasi nuklir non rektor)

Selain instalasi nuklir baik rektor nuklir maupun instalasi nuklir non rektor,
Bapeten mengatur pula kualifikasi petugas yang bekerja sebagai operator
reaktor/supervisor reaktor dan petugas proteksi radiasi. Persyaratan dimaksud
adalah untuk meminimalkan risiko yang dihadapi oleh pengguna tenaga nuklir
maupun masyarakat.

Disamping itu terdapat pula pengawasan khusus terhadap bahan bakar nuklir
yang digunakan yang harus memenuhi ketentuan :
1. Bahan bakar nuklir dikuasai oleh negara dan pemanfaatannya diatur dan
diawasi oleh BAPETEN.

2. Pemegang izin konstruksi/operasi wajib mentaati ketentuan yang


dikeluarkan oleh BAPETEN mengenai tanggung jawab yang dipikulnya
selama bahan bakar nuklir dalam penguasaannya.
3. BAPETEN akan mengadakan pemeriksaan pertanggung-jawaban maupun
pemeriksaan fisik bahan bakar nuklir.

Untuk izin pemanfaatan bahan nuklir diberlakukan persyaratan khusus berikut


:
1. Mempunyai sistem pengawasan dan pertanggungjawaban bahan nuklir
(safeguards), memberikan DIQ (Design Information Questionaire).
2. Mempunyai sistem proteksi fisik.

B. Dasar Hukum.

1. UU No.10 Tahun 1997 Tentang Ketenaganukliran


2. PP No. 63 Tahun 2000 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Terhadap
Pemanfaatan Radiasi Pengion
3. PP No. 64 Tahun 2000 Tentang Perizinan Pemanfaatan Tenaga Nuklir
4. PP No. 26 Tahun 2002 Tentang Keselamatan Pengangkutan Zat Radioaktif
5. PP No. 27 Tahun 2002 Tentang Pengelolaan Limbah Radioaktif
6. PP No. 134 Tahun 2000 Tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara
Bukan Pajak Yang Berlaku pada Badan Pengawas Tenaga Nuklir
7. PP No. 48 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No.
134 Tahun 2000
8. Kep. Ka. BAPETEN No. 01/Ka-BAPETEN/V-99 tentang Ketentuan
Keselamatan Kerja Terhadap Radiasi
9. Kep. Ka. BAPETEN No. 02-P/Ka-BAPETEN/VI-99 tentang Proteksi Fisik
Bahan Nuklir
10. Kep. Ka. BAPETEN No. 03/Ka-BAPETEN/V-99 tentang Ketentuan
Keselamatan untuk Pengelolaan Limbah Radioaktif

11. Kep. Ka. BAPETEN No. 04/Ka-BAPETEN/V-99 tentang Ketentuan


Keselamatan untuk Pengangkutan Zat Radioaktif
12. Kep. Ka. BAPETEN No. 05/Ka-BAPETEN/V-99 tentang Ketentuan
Keselamatan Desain Reaktor Penelitian
13. Kep. Ka. BAPETEN No. 06/Ka-BAPETEN/V-99 tentang Pembangunan
dan Pengoperasian reaktor nuklir
14. Kep. Ka. BAPETEN No. 07/Ka-BAPETEN/V-99 tentang Jaminan Kualitas
Instalasi Nuklir
15. Kep. Ka. BAPETEN No. 10/Ka-BAPETEN/VI-99 tentang Ketentuan
Keselamatan Operasi Reaktor Penelitian
16. Kep. Ka. BAPETEN No. 01-P/Ka-BAPETEN/VI-99 tentang Pedoman
Penentuan Tapak reaktor Nuklir
17. Kep. Ka. BAPETEN No. 05-P/Ka-BAPETEN/VII-00 tentang Pedoman
Persyaratan Untuk Keselamatan Pengangkutan Zat Radioaktif
18. Kep. Ka. BAPETEN No. 06-P/Ka-BAPETEN/XI-00 tentang Pedoman
Pembuatan Laporan Analisis Keselamatan Reaktor Penelitian
19. Kep. Ka. BAPETEN No. 19/Ka-BAPETEN/IV-00 tentang Pengecualian
Dari Kewajiban Memiliki Izin Pemanfaatan Tenaga Nuklir

C. Definisi
1. Reaktor nuklir adalah alat atau instalasi yang dijalankan dengan bahan
bakar nuklir yang dapat menghasilkan reaksi inti berantai yang terkendali
dan digunakan untuk pembangkitan daya, atau penelitian, dan/atau
produksi radioisotop. (UU 10/1997)
2. Instalasi nuklir non-reaktor adalah fasilitas yang digunakan untuk
pemurnian, konversi, pengayaan bahan nuklir, fabrikasi bahan bakar nuklir
dan/atau pengolahan ulang bahan bakar nuklir bekas; dan/atau untuk
menyimpan bahan bakar nuklir dan bahan bakar nuklir bekas.
3. Perizinan adalah seluruh proses yang meliputi persyaratan dan tata cara
memperoleh izin, penerbitan, perubahan, perpanjangan, pembekuan,

pencabutan dan kegiatan lain yang terkait dengan izin pemanfaatan tenaga
nuklir. (PP 64/2000)
4. Modifikasi (Modifikasi Reaktor) adalah perubahan di dalam atau
penambahan terhadap konfigurasi reaktor yang ada dengan pelaksanaan
keselamatan potensial yang dimaksudkan untuk kesinambungan operasi
reaktor. Modifikasi ini dapat menyangkut sistem keselamatan atau sistem
komponen yang terkait dengan keselamatan, prosedur, dokumentasi atau
kondisi operasi yang berkaitan dengan keselamatan. (SK Ka-BAPETEN
No 06-P)
5. Laporan Analisis Keselamatan adalah dokumen yang disampaikan
pemohon kepada Badan Pengawas dan berisi informasi tentang fasilitas
reaktor penelitian nuklir, desain, analisis keselamatan dan peralatan untuk
mengurangi

resiko

terhadap

masyarakat,

lingkungan.

(SK Ka-BAPETEN No 06-P)

personilpengoperasi

dan

6. Perawatan adalah kegiatan yang terorganisasi baik secara administratif


maupun teknis untuk menjaga agar struktur, sistem dan komponen selalu
dalam kondisi dapat beroperasi dengan baik, termasuk aspek preventif
(pencegahan) dan korektif (perbaikan). (SK Ka-BAPETEN No. 05)
7. Dekomisioning :
a. Adalah suatu kegiatan untuk menghentikan beroperasinya reaktor
nuklir secara tetap, antara lain, dilakukan pemindahan bahan bakar
nuklir

dari

teras

reaktor,

pembongkaran

komponen

reaktor,

dekontaminasi, dan pengamanan akhir. (UU 10/1997)


b. Adalah suatu kegiatan untuk menghentikan secara tetap beroperasinya
fasilitas/instalasi yang memanfaatkan radiasi, zat radioaktif, atau bahan
nuklir, antara lain pemindahan dan pengelolaan sumber radiasi dan
limbah radioaktif dari fasilitas/instalasi, pembongkaran struktur dan
komponen proses, dekontaminasi dan pengamanan akhir. (SK KaBAPETEN No. 07-P)
c. Adalah proses dimana suatu reaktor diberhentikan operasinya secara
permanen. (SK Ka-BAPETEN No. 05)

8. Pembongkaran (dismantling) adalah kegiatan pencopotan komponen dan


sistem

dari

fasilitas

terpasang

yang

dilakukan

selama

kegiatan

dekomisioning fasilitas. (SK Ka-BAPETEN No. 07-P)


9. Batasan dan Kondisi Operasi adalah seperangkat aturan yang
menetapkan batasan parameter, kemampuan fungsi dan tingkat unjuk kerja
peralatan

dan

personil

yang

disetujui

oleh

BAPETEN

untuk

mengoperasikan fasilitas reaktor penelitian secara aman. (SK KaBAPETEN No. 05)
10. Sistem yang Berkaitan dengan Keselamatan adalah sistem yang penting
untuk keselamatan tapi bukan merupakan sistem keselamatan (SK KaBAPETEN No. 05)
11. Sistem Keselamatan adalah sistem yang penting untuk keselamatan, yang
diperlukan untuk menjamin pemadaman reaktor dengan aman, atau untuk
memindahkan panas dari teras reaktor, atau untuk membatasi akibat
peristiwa operasi yang diperkirakan dan kondisi kecelakaan (SK KaBAPETEN No. 05)

Tujuan Instruksional Umum


Peserta setelah mengikuti diklat diharapkan peserta dapat mengerti tentang
sistem perizinan, obyek perizinan, permohonan izin, evaluasi perizinan, jenisjenis izin dan mengerti tentang fungsi fasilitas instalasi dan bahan nuklir secara
garis besar

Tujuan Instruksional Khusus

Peserta setelah mengikuti diklat diharapkan dapat mengerti prinsip dasar


evaluasi dan verifikasi perizinan instalasi nuklir, bahan nuklir, perizinan
instalasi nuklir, dan sertifikasi personil dan bungkusan

BAB II.
OBJEK PENGAWASAN

Sebagai obyek perizinan yang dilaksanakan oleh Direktorat Perizinan Instalasi


dan Bahan Nuklir.

1. Instalasi Nuklir:
a. Reaktor Kartini,
b. RSG GA. Siwabessy,
c. Reaktor Triga 2000.

2. Instalasi Nuklir non Reaktor:


a. Divisi Elemen Bakar Nuklir PT Batan Teknologi
b. Instalasi Elemen Bakar Eksperimental - P2TBDU,
c. Instalasi Radio Metalurgi - P2TBDU
d. Instalasi Recovery Uranium - P2RR
e. Intern Spent Fuel Storage Facility - P2TRR
f. Pabrik Pemurnian Asam Fosfat PT PKG (status Dekomisioning)

3. Bahan Nuklir
a. Bahan Nuklir untuk Reaktor Kartini (antara lain: SS-204),
b. Bahan Nuklir untuk Reaktor RSG GA. Siwabessy (Uranium Oksida,
Uranium Silisida),
c. Bahan Nuklir untuk Reaktor Triga 2000 (SS-204, SS-304, rod
follower).
d. Bahan Nuklir untuk produksi Molibdenum
e. Bahan Nuklir untuk produksi Elemen Bakar RSG-GAS
f. Bahan Nuklir hasil tambang timah (P. Bangka)
g. Bahan Nuklir di pertambangan daerah Kalan Kalimantan
h. Penyimpanan Bahan Nuklir di P. Batam)

i. Bahan Nuklir hasil permurnian PT Petrokimia Gresik yang disimpan di


fasilitas pengelolaan limbah P2PLR Serpong

4. Sertifikasi
Sertifikasi personil Operator reaktor dan Supervisor reaktor, validasi
bungkusan.

BAB III
PERIZINAN INSTALASI DAN BAHAN NUKLIR

Perizinan dalam instalasi nuklir dikaitkan dengan perizinan pengoperasian reaktor


nuklir adalah dimulai dengan pelaksanaan perizinan tapak sampai dengan
perizinan dekomisioning. Keselamatan reaktor nuklir mensyaratkan pemilihan
tapak, desain, konstruksi, komisioning, operasi dan dekomisioning yang memadai
yang diatur dalam ketentuan keselamatan operasi reaktor nuklir. Ketentuan
keselamatan operasi reaktor nuklir mencakup persyaratan jaminan kualitas yang
berkaitan dengan terjaminnya operasi reaktor nuklir yang aman dan pernyataan
dan persyaratan dasar tentang pengawasan dari BAPETEN. Ketentuan
keselamatan merupakan salah satu dari dua Ketentuan Keselamatan (desain dan
operasi) yang diterbitkan dalam rangka menetapkan tujuan, prinsip dan
persyaratan dasar yang harus dipenuhi untuk menjamin keselamatan yang
memadai pada semua tahap selama umur reaktor nuklir.

Tujuan Keselamatan keseluruhan suatu reaktor nuklir adalah melindungi orang/


seseorang, masyarakat dan lingkungan dengan membentuk dan memelihara
pertahanan yang efektif terhadap bahaya radiologi.

Berdasarkan tujuan ini, terdapat pula tujuan proteksi radiasi yang lebih rinci yang
digunakan untuk :
1.

menjamin agar pengoperasian dan pemanfaatan reaktor nuklir dibenarkan


melalui pertimbangan proteksi radiasi (prinsip kebenaran);

2.

menjamin agar selama operasinya, penyinaran radiasi terhadap pekerja dan


masyarakat tetap berada dalam dibawah nilai batas yang ditetapkan oleh
instansi yang berwenang dan diusahakan serendah mungkin sesuai prinsip
optimasi (ALARA) dan dosis perorangan serta prinsip batas resiko; dan

3.

menjamin pengurangan penyinaran radiasi akibat kecelakaan.

Berkaitan dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan, maka pengoperasian


reaktor nuklir harus :
1. menjamin pencegahan terjadinya kecelakaan;
2. menjamin agar semua rentetan kejadian yang dipertimbangkan dalam desain
fasilitas (termasuk rentetan kejadian yang mempunyai kementakan rendah)
konsekuensi radiologinya adalah kecil; dan
3. menjamin baik melalui upaya pencegahan maupun upaya penanggulangan agar
kecelakaan dengan akibat besar kemungkinannya sangat kecil (tujuan
keselamatan teknik).

10

BAB IV
PROSEDUR, PERSYARATAN PENERBITAN DAN JENIS IZIN

BAPETEN adalah satu-satunya badan pengawas yang melakukan pengawasan


terhadap seluruh pemanfaatan tenaga nuklir di Indonesia sesuai dengan UU No. 10
tahun 1997.

A. Persyaratan Izin

Persyaratan umum yang dipakai sebagai dasar penilaian agar diperolehnya izin
pemanfaatan tenaga nuklir dari Bapeten adalah sebagai berikut :
1. Mempunyai fasilitas yang memenuhi persyaratan keselamatan untuk
bekerja dengan tenaga nuklir. Fasilitas nuklir harus didesain, dikonstruksi,
dioperasikan yang memberikan dampak aman/selamatnya operasi.
2. Mempunyai tenaga-tenaga yang cakap dan terlatih baik, untuk bekerja
dengan instalasi nuklir. Yang dimaksud dengan tenaga yang cakap dan
terlatih baik adalah tenaga yang mempunyai pengetahuan dalam bidang
keselamatan kerja terhadap radiasi.
3. Mempunyai

peralatan

teknis

yang

diperlukan

untuk

menjamin

perlindungan terhadap radiasi seperti: surveymeter, detektor kontaminasi,


film badge/ dosimeter saku, dll, dan alat-alat pelindung lainnya bila
diperlukan.
4. Mempunyai prosedur kerja (juklak) yang memenuhi syarat. Juklak tersebut
harus disampaikan kepada BAPETEN untuk mendapat persetujuan.

Tahapan perizinan pengoperasian reaktor nuklir maupun instalasi nuklir non


reakor sebelum fasilitas dibangun dan dioperasikan harus memenuhi perizinan
yang dimuat dalam pasal 17 ayat 1 , UU No. 10 tahun 1997 sesuai dengan jenis
izin yang terkait.
Jenis Izin yang dimaksud adalah :

11

1. izin tapak
2. izin konstruksi
3. izin operasi:
a. izin operasi sementara (tahap komisioning)
b. izin operasi jangka panjang
4. izin dekomisioning

Izin tapak, izin konstruksi, izin operasi, atau izin dekomisioning diberikan
setelah permohonan beserta seluruh lampirannya memenuhi ketentuan dalam
keputusan ini dan ketentuan lain yang dikeluarkan oleh BAPETEN.

Izin tapak diberikan untuk jangka waktu 2 (dua) tahun, yang dapat
diperpanjang sampai dengan 2 (dua) kali masing-masing 1 (satu) tahun.

1. Syarat-syarat untuk mendapatkan izin tapak adalah:


a. Pemohon mengajukan permohonan izin tapak kepada BAPETEN
dengan mencantumkan calon atau calon-calon tapak;
b. Aplikasi pada butir 1) harus dilengkapi dengan keterangan, antara lain
tentang:
1) ciri-ciri disain konseptual reaktor beserta instalasinya dan operasi
reaktor yang direncanakan;
2) data terakhir tentang kepadatan penduduk dan yang diperkirakan
pada waktu yang akan datang serta sifat-sifat khusus di sekitar
lokasi;
3) keadaan fisik calon tapak, ditinjau dari segi seismologi,
meteorologi, geologi, hidrologi dan radioekologi, dll.;
4) keadaan lingkungan (nilai-nilai ekologi dan budaya), adanya cagar
alam, pangkalan militer, lapangan terbang, industri pangan dan
tempat/bangunan lain yang berdasarkan ketentuan Pemerintah harus
dijaga keutuhannya.

12

Setiap permohonan izin konstruksi reaktor nuklir diajukan kepada


BAPETEN dengan melampirkan antara lain laporan Analisis Keselamatan
Pendahuluan, Laporan Analisis Dampak Lingkungan dan persyaratan
tentang jadwal konstruksi. Permohonan izin konstruksi diajukan dengan
mengikuti Keputusan ini dan ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan oleh
IAEA.

2. Syarat-syarat untuk mendapatkan izin konstruksi adalah:


a. Pemohon mengajukan permohonan izin konstruksi kepada BAPETEN;
b. Aplikasi pada butir 1) harus dilengkapi dengan:
1) Laporan Analisis Keselamatan Pendahuluan (LAKP)
2) Laporan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
termasuk Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dan Rencana
Pengelolaan Lingkungan (RKL) yang telah disetujui oleh Komisi
Pusat AMDAL
3) Jadwal Konstruksi
4) Program Jaminan Kualitas
5) Kecuali hal-hal tersebut di atas, sesuai dengan petunjuk BAPETEN,
pemohon harus juga menyampaikan :
a) Uraian tentang disain pendahuluan dari sistem pengendalian
zat radioaktif dalam efluen dalam bentuk gas dan cairan
yang dihasilkan selama operasi normal reaktor nuklir
termasuk penyimpangan yang diperkirakan yang mungkin
terjadi selama operasi;
b) Uraian tentang perkiraan jumlah zat radioaktif utama yang
mungkin terlepas ke lingkungan dalam bentuk cairan setiap
tahun selama operasi normal;
c) Uraian tentang perkiraan jumlah zat radioaktif utama yang
mungkin terlepas ke lingkungan dalam bentuk gas, senyawa
halogen dan partikel;

13

d) Uraian umum mengenai pembungkusan, penyimpanan, dan


pengangkutan limbah padat radioaktif hasil pengolahan
efluen dalam bentuk gas dan cairan dan dari sumber lainnya
ke luar instalasi.

Kecuali hal-hal tersebut di atas, sesuai dengan petunjuk BAPETEN,


pemohon harus juga menyampaikan :
1. Uraian tentang disain pendahuluan dari sistem pengendalian zat
radioaktif dalam efluen dalam bentuk gas dan cairan yang dihasilkan
selama operasi normal reaktor nuklir termasuk penyimpangan yang
diperkirakan mungkin terjadi selama operasi;
2. Uraian tentang perkiraan jumlah zat radioaktif utama yang mungkin
terlepas ke lingkungan dalam bentuk cairan setiap tahun selama
operasi normal;
3. Uraian tentang perkiraan jumlah zat radioaktif utama yang mungkin
terlepas ke lingkungan dalam bentuk gas, senyawa halogen dan
partikel;
4. Uraian

umum

mengenai

pembungkusan,

penyimpanan,

dan

pengangkutan limbah padat radioaktif hasil pengolahan efluen dalam


bentuk gas dan cairan dan dari sumber lainnya ke luar instalasi;
5. Persyaratan tentang perkiraan jangka waktu penyelesaian konstruksi.

Pada waktu pembangunan instalasi reaktor nuklir mendekati penyelesaian


dan selambat-lambatnya sebelum pengisian bahan bakar, pemegang izin
konstruksi harus mengajukan permohonan untuk memperoleh izin operasi.
Permohonan izin operasi harus dilengkapi dengan :
1. Laporan Analisis Keselamatan Akhir;
2. Rencana tentang pengamanan fisik baik terhadap peralatan, tempat
dan daerah bebas pemukiman.

14

Permohonan izin operasi harus diajukan dengan mematuhi ketentuan dalam


keputusan ini dan petunjuk-petunjuk yang dikeluarkan oleh BAPETEN.

3. Syarat-syarat untuk mendapatkan izin operasi adalah:

a. Pemohon mengajukan permohonan izin operasi kepada BAPETEN


harus dilengkapi dengan:
1) Laporan Analisis Keselamatan Akhir (LAK)
2) Rencana tentang pengamanan fisik terhadap instalasi
3) Organisasi Penanggulangan Keadaan Darurat (OPKD)

b. Izin operasi diberikan dalam 2 (dua) tahap :


1) Izin operasi sementara dapat diberikan untuk jangka waktu paling
lama 24 bulan, termasuk tahap pra-operasi dan awal operasi;
2) Apabila dalam jangka waktu 24 bulan operasi sementara tidak
memenuhi syarat, izin operasi sementara dapat diperpanjang
selama 12 bulan;
3) Apabila tahap operasi sementara berjalan baik, izin operasi jangka
panjang dapat diberikan untuk jangka waktu paling lama 40 tahun.

c. Izin operasi diberikan apabila :


1) Pembangunan instalasi telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
yang tercantum dalam izin konstruksi serta ketentuan dari
BAPETEN;
2) Instalasi akan dioperasikan sesuai dengan permohonan yang
disetujui dan sesuai dengan permohonan yang disetujui dan sesuai
dengan ketentuan dari BAPETEN dan peraturan lain yang berlaku;
3) Terdapat jaminan bahwa operasi reaktor nuklir dapat dilaksanakan
tanpa membahayakan keselamatan dan kesehatan penduduk;

d. Izin operasi diberikan dengan ketentuan sebagai berikut :

15

1) izin operasi yang diberikan tidak meliputi izin pemakaian bahan


bakar nuklir.
2) izin yang diperoleh tidak dapat dipindahkan tanpa persetujuan
BAPETEN.
3) izin dapat dicabut, dibekukan, diubah atas dasar asalan yang
ditentukan dalam peraturan atau atas dasar pertimbangan
keselamatan.
4) izin dapat dibekukan apabila negara dalam keadaan darurat
perang atau keadaan darurat.
5) izin operasi diberikan dengan kondisi yang dicantumkan dalam
surat izin dari BAPETEN.

4. Syarat- Syarat untuk izin dekomisioning:


a. Pemohon mengajukan permohonan izin dekomisioning kepada
BAPETEN;
b. Aplikasi pada butir a. harus dilengkapi dengan:
1) Laporan Analisis Keselamatan untuk Dekomisioning
2) Rencana Dekomisioning

Izin tapak, izin konstruksi, izin operasi, atau izin dekomisioning diberikan
setelah permohonan beserta seluruh lampirannya memenuhi ketentuan
dalam keputusan ini dan ketentuan lain yang dikeluarkan oleh BAPETEN.

Izin tapak diberikan untuk jangka waktu 2 (dua) tahun, yang dapat
diperpanjang sampai dengan 2 (dua) kali masing-masing 1 (satu) tahun.

Izin konstruksi diberikan untuk jangka waktu 5(lima) tahun, dengan


memuat semua persyaratan yang dikenakan terhadap pemohon mengenai
perubahan disain serta segala modifikasi yang bertujuan untuk membuat
dampak negatif seminimal mungkin. Apabila dalam jangka waktu 18 bulan
sesudah izin konstruksi diberikan, pelaksanaan konstruksi belum dimulai

16

maka pemegang izin wajib melaporkannya kepada BAPETEN dengan


mengemukakan alasannya. Apabila alasan yang dikemukakan oleh
pemegang izin seperti tersebut pada ayat 2 tidak diterima, maka izin
konstruksi dapat dicabut. Jika pemegang izin telah memperkirakan bahwa
konstruksi tidak dapat diselesaikan pada waktu yang ditentukan, maka
paling lambat tiga bulan sebelum berakhirnya izin konstruksi pemegang
izin

harus

mengajukan

permohonan

perpanjangan

izin

dengan

mengemukakan alasan-alasan yang kuat.

B. Laporan Keselamatan

Laporan Analisis Keselamatan (LAK) disusun menurut format sesuai


dengan Keputusan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir No. 06-P/KaBAPETEN/XI-00 tentang pembuatan Laporan Analisis Keselamatan
Reactor Penelitian. Format LAK untuk fasilitas instalasi nuklir non reactor
sedang dalam tahap penyusunan sedangkan format LAK PLTN masih
dalam tahap pengembangan. Jumlah bab pedoman LAK sebanyak 20 bab;
dalam hal ini merupakan ketentuan dasar pembuatan LAK bagi reactor,
instalasi nuklir non reactor dan PLTN.

Bab I

Pendahuluan Dan Uraian Singkat Fasilitas

Bab II

Tujuan Keselamatan Dan Persyaratan Desain Teknis

Bab III

Karakteristik Tapak

Bab IV

Gedung Dan Struktur Bangunan

Bab V

Reaktor

Bab VI

Sistem Pendingin Reaktor Dan Sistem Yang Berkaitan

Bab VII

Sistem Keselamatan Teknis

Bab VIII

Instrumentasi Dan Kendali

Bab IX

Daya Listrik

Bab X

Sistem Bantu

17

Bab XI

Pemanfaatan Reaktor

Bab XII

Keselamatan Radiologi Operasional

Bab XIII

Pelaksanaan Operasi

Bab XIV

Pengkajian Lingkungan

Bab XV

Komisioning

Bab XVI

Analisis Keselamatan

Bab XVII

Batasan Dan Kondisi Operasi

Bab XVIII

Jaminan Kualitas

Bab XIX

Dekomisioning

Bab XX

Kesiapsiagan Dan Rencana Kedaruratan

Dari segi proses pelaporan, LAK terdiri dari

Laporan

Analisis

Keselamatan Pendahuluan dan Laporan Analisis Keselamatan Akhir.

1. Laporan Analisa Keselamatan Pendahuluan.

Laporan Analisis Keselamatan Pendahuluan sekurang-kurangnya harus


memuat hal-hal sebagai berikut:
a. Uraian dan penilaian keselamatan mengenai tapak reaktor nuklir;
b. Ikhtisar pembahasan reaktor nuklir yang dititik-beratkan pada
karakteristik disain dan operasi, hal-hal baru dan luar biasa dari
disain dan pertimbangan keselamatan yang utama;
c. Uraian dan pembahasan mengenai disain yang meliputi :
1) kriteria utama disain;
2) dasar disain dan kaitannya dengan kriteria utama disain; dan
3) keterangan

mengenai

bahan

yang

digunakan

untuk

konstruksi, tata letak pada umumnya, ukuran-ukuran dalam


garis besar yang cukup memberi jaminan bahwa disain akhir
akan sesuai dengan dasar disain dengan batas yang cukup
untuk keselamatan;

18

d. Uraian singkat mengenai program penelitian/eksperimen yang


menggunakan reaktor, dan uraian singkat mengenai dampak dari
eksperimen tersebut terhadap perilaku reaktor;
e. Analisis pendahuluan tentang evaluasi disain mengenai kemampuan
struktur, sistem dan komponen reaktor nuklir, dan keandalan
penyediaan listrik, dengan tujuan untuk membuat perkiraan risiko
bahaya terhadap keselamatan dan kesehatan penduduk sebagai
akibat dioperasikannya reaktor nuklir, termasuk penentuan tentang :
1) batas keselamatan selama operasi serta keadaan yang
bersifat sementara yang diperkirakan selama instalasi
bekerja;
2) cukup kuatnya struktur, sistem dan komponen yang dipakai
untuk mencegah terjadinya kecelakaan atau memperkecil
bahaya radiasi akibat kecelakaan;
f. Identifikasi dan pembenaran dari berbagai kemungkinan variabel
yang secara teknis harus dispesifikasikan menurut hasil laporan
analisis keselamatan pendahuluan;
g. Rencana awal mengenai organisasi, pelatihan personil dan
pengoperasian;
h. Uraian mengenai program pemonitoran lingkungan dan keadaan
meteorologi;
i. Uraian mengenai program jaminan kualitas yang akan dilakukan
dalam disain, fabrikasi, konstruksi dan pengujian struktur, sistem
dan komponen instalasi;
j. Identifikasi mengenai struktur, sistem dan komponen instalasi jika
ada yang memerlukan penelitian dan pengembangan untuk
meyakinkan bahwa disain memenuhi persyaratan; suatu identifikasi
dan uraian dari program penelitian dan pengembangan yang
diarahkan untuk penyelesaian persoalan-persoalan keselamatan
yang berkaitan dengan struktur, sistem atau komponen tersebut; dan
suatu jadwal mengenai program penelitian dan pengembangan yang

19

memperlihatkan

bahwa

tiap

persoalan

keselamatan

akan

diselesaikan pada atau sebelum tanggal yang dicantumkan pada


permohonan mengenai penyelesaian pembangunan fasilitas;
k. Kualifikasi teknis pemohon beserta kontraktor utama dan
konsultannya yang berminat untuk melaksanakan kegiatan seperti
yang diusulkan sesuai dengan peraturan yang ada dan uraian
mengenai partisipasi nasional dalam tahap konstruksi; dan
l. Pembahasan mengenai rencana awal pemohon untuk mengatasi
keadaan darurat.

2. Laporan Analisa Keselamatan Akhir (LAK AKHIR)

Laporan Analisis Keselamatan Akhir harus memuat :


a. Uraian mengenai pelaksanaan program sejak izin konstruksi
dikeluarkan yang meliputi program:
1) pemonitoran radioaktivitas lingkungan dan meteorologi;
2) jaminan kualitas;
3) pelatihan personil;
4) penanggulangan keadaan darurat.
b. Uraian dan analisis yang menitik-beratkan pada persyaratan
kemampuannya serta dasar persyaratan tersebut, pembenaran teknis
dan evaluasi yang diperlukan untuk menunjukkan bahwa fungsi
keselamatan akan dicapai;
c. Hal-hal tersebut meliputi teras reaktor, sistem pendingin reaktor,
sistem

instrumentasi

dan

kendali,

sistem

listrik,

sistem

pengungkungan, sistem keselamatan lain, sistem penunjang dan


sistem keadaan darurat, dan sistem pengelolaan limbah radioaktif
dan sistem pengelolaan bahan bakar;
d. Jenis dan jumlah zat radioaktif yang diperkirakan akan dihasilkan
selama operasi reaktor serta cara mengendalikan dan membatasi zat

20

radioaktif dalam efluen dan paparan radiasi dalam batas-batas yang


ditentukan oleh BAPETEN;
e. Analisis dan evaluasi terakhir mengenai disain kemampuan
struktur,

sistem

dan

komponen

harus

memperhatikan

perkembangan baru yang terjadi sejak diserahkannya Laporan


Analisis Keselamatan Pendahuluan;
f. Uraian dan evaluasi hasil pelaksanaan program pemohon, termasuk
penelitian dan pengembangan, apabila ada, untuk membuktikan
bahwa setiap masalah yang telah diidentifikasikan pada tahap
konstruksi telah diselesaikan;
g. Keterangan dalam rangka operasi reaktor nuklir mengenai :
1) struktur organisasi, wewenang dan tanggung jawab;
2) persyaratan kualifikasi personil;
3) pengendalian secara administrasi dan manajemen yang akan
dilaksanakan untuk menjamin operasi reaktor nuklir dengan
aman;
4) rencana percobaan pra-operasi serta awal operasi;
5) rencana

pelaksanaan

operasi,

termasuk

perawatan,

pengawasan dan pengujian berkala terhadap struktur, sistem


dan komponen serta penghentian operasi (shutdown);
6) rencana penanggulangan keadaan darurat;
7) spesifikasi teknik yang diusulkan, yang menguraikan hal-hal
berikut :
a) Nilai batas keselamatan reaktor nuklir dan penetapan
batas sistem keselamatan :
(1) nilai batas keselamatan reaktor nuklir adalah
pembatasan terhadap nilai parameter untuk
menjaga keutuhan penahan fisik yang berfungsi
mencegah pelepasan zat radioaktif secara tidak
terkendali yang apabila dilampaui, reaktor harus
dihentikan;

21

(2) penetapan batas sistem keselamatan adalah


penetapan batas bagi peralatan proteksi yang
akan berfungsi secara otomatis apabila parameter
yang berhubungan langsung dengan reaktor
melampaui batas yang ditetapkan tersebut.
Penetapan batas ini ditentukan agar peralatan
proteksi

otomatis

dapat

mengatasi

situasi

abnormal sebelum nilai batas keselamatan


dilampaui.
b) Persyaratan minimal untuk operasi reaktor. Persyaratan
minimal untuk operasi reaktor adalah kemampuan
fungsional terendah atau tingkat unjuk kerja terendah
dari peralatan yang diperlukan agas instalasi beroperasi
dengan aman. Apabila persyaratan minimal tidak
terpenuhi,

pemegang

izin

harus

menghentikan

beroperasinya reaktor.
c) Persyaratan

pengawasan.

Persyaratan

pengawasan

adalah persyaratan yang berhubungan dengan pengujian,


kalibrasi atau pemeriksaan untuk menjamin agar :
(1) Kualitas komponen dan sistem dipertahankan;
(2) Instalasi

beroperasi

dalam

nilai

batas

keselamatan;dan
(3) Persyaratan minimal dipenuhi;
d) Bagian-bagian penting dari disain. Bagian-bagian
penting

dari

disain,

misalnya

bahan

konstruksi

pengaturan denah yang apabila diubah atau diganti akan


membawa pengaruh yang berarti terhadap keselamatan;
e) Ketentuan administrasi. Ketentuan administrasi adalah
ketentuan

mengenai

organisasi

dan

pengelolaan,

prosedur, dokumentasi, penilaian dan pemeriksaan serta

22

pelaporan yang diperlukan untuk menjamin keselamatan


operasi reaktor.
f) kualifikasi teknis personil yang dimiliki pemohon untuk
mengoperasikan reaktor nuklir;
g) uraian dan rencana untuk melaksanakan program kualifikasi
ulang kecakapan operator.

3. Laporan Analisa Keselamatan Dampak Lingkungan


a. Laporan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
sekurang-kurangnya harus memuat hal-hal sebagai berikut:
1) Disain reaktor nuklir selengkapnya, berikut instalasi
sistem pendingin teras darurat, sistem penghentian operasi
yang aman dan sistem pengungkungan zat radioaktif;
2) Perkiraan dampak lingkungan selama konstruksi dan
operasi reaktor, berikut analisis dampak terhadap dan
melalui udara, air dan tanah serta dampak biologi dan
sosial ekonomi terhadap masyarakat sekeliling tapak
reaktor.

b. Laporan AMDAL disusun berdasarkan masukan data dari instansi


yang bergerak di bidang geologi, seismologi, hidrologi,
oseanologi, vulkanologi, pertanian, kehutanan, pengairan, ilmu
ekonomi, pekerjaan umum/konstruksi, demografi, lingkungan
hidup dan sebagainya.

c. Laporan AMDAL disusun berdasarkan Keputusan Kepala


BAPETEN No. 04-P/Ka-BAPETEN/VI-99.

23

BAB V
SURAT IZIN BEKERJA (SIB)

Dalam pasal 19 UU No. 10/1997 disebutkan bahwa:


Ayat (1) :

Setiap petugas yang mengoperasikan reaktor nuklir dan petugas


tertentu di dalam instalasi nuklir lainnya dan di dalam instalasi yang
memanfaatkan sumber radiasi pengion wajib memiliki izin.

Ayat (2) :

Persyarata untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) diatur oleh Badan Pengawas

Dalam pasal 5 SK Ka BAPETEN No. 17/Ka-BAPETEN/IX-99 disebutkan bahwa:


Setiap pengoperasian reaktor nuklir harus dilakukan oleh tenaga-tenaga yang
cakap dan terlatih, dan sekurang-kurangnya terdiri dari :
a. satu orang Operator Reaktor;
b. satu orang Supervisor Reaktor;
c. satu orang Petugas Proteksi Radiasi; dan
d. satu orang Petugas Perawatan dan Perbaikan.

Petugas yang bekerja di instalasi nuklir atau yang memanfaatkan tenaga


nuklir harus memiliki izin dari instansi yang berwenang. Persyaratan
dimaksud adalah digunakan untuk meminimalkan risiko yang dihadapi oleh
pengguna tenaga nuklir maupun masyarakat.

Pasal 18, menyebutkan bahwa


1. Setiap perubahan dan penambahan dalam instalasi yang berhubungan dengan
struktur, sistem, komponen, spesifikasi teknis dan lain-lain yang menyangkut
keselamatan dalam operasi hanya dapat dilakukan setelah persetujuan dari
BAPETEN.
2. BAPETEN dapat mewajibkan pemegang izin mengadakan perubahan instalasi
demi kesehatan dan keselamatan.

24

Dalam Pasal 19 menyebutkan bahwa Izin operasi berakhir dengan :


a. lewatnya jangka waktu izin yang diberikan;
b. bubarnya pemegang izin;
c. dicabut oleh BAPETEN karena alasan sebagai berikut :
1) terbukti adanya keterangan palsu yang disampaikan kepada BAPETEN
dalam permohonan atau laporan dalam hubungannya dengan reaktor
dan operasi reaktor;
2) pemegang izin tidak mentaati spesifikasi teknis dan/atau kondisi izin
yang disetujui oleh BAPETEN;
3) pemegang izin melanggar ketentuan yang tercantum dalam peraturan
perundangan yang berlaku.

Dalam Pasal 20 menyebutkan bahwa

a. Para ahli dan para petugas yang akan bertindak sebagai operator untuk reaktor
nuklir harus memiliki izin kerja dari BAPETEN.
b. Izin kerja bagi operator tersebut diberikan oleh BAPETEN setelah diadakan
pengujian.
c. Izin kerja diberikan untuk jangka waktu tertentu dan ditinjau kembali secara
berkala.

25

BAB VI
KEWAJIBAN PEMEGANG IZIN OPERASI

Pasal 21

Pemegang izin operasi mempunyai kewajiban sebagai berikut :


a. mentaati dan melaksanakan peraturan, ketentuan dan pedoman kerja yang
berlaku;
b. membuat suatu prosedur kerja dan jadwal jam kerja, agar selama operasi
reaktor, petugas yang memiliki izin kerja menjalankan reaktor selalu hadir
dan siaga;
c. membuat suatu petunjuk kerja yang jelas bagi karyawan;
d. memiliki prosedur pengamanan dalam hal terjadi keadaan darurat;
e. membentuk Panitia Keselamatan yang bertugas menilai setiap segi
keselamatan operasi rutin dan menilai segala usul kegiatan penelitian baik
penelitian baru maupun perubahan disain yang sifatnya bukan rutin;
f. mempunyai organisasi Proteksi Radiasi;
g. setiap saat wajib memberikan kesempatan inspeksi atau pemeriksaan yang
dilakukan oleh petugas BAPETEN;
h. melaksanakan pengamanan fisik terhadap Instalasi, bahan bakar nuklir dan
pengangkutan bahan bakar nuklir;
i. melaksanakan pembukuan semua bahan bakar nuklir yang ada di fasilitas itu
sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
j. 3 (tiga) bulan sebelum izin operasi berakhir wajib mengajukan pernyataan
tertulis kepada BAPETEN tentang rencana pengelolaan instalasi tersebut
lebih lanjut.

Pasal 23

1) BAPETEN akan melakukan inspeksi pada setiap tahap proses perizinan :

26

a. sebelum dikeluarkan izin tapak, pemeriksaan atas tapak untuk


mempermudah evaluasi data yang diberikan oleh pemohon;
b. selama

tahap

konstruksi,

pemeriksaan

apakah

persyaratan

yang

dicantumkan dalam izin konstruksi dipenuhi dan dilaksanakan;


c. selama tahap konstruksi dan sesudah konstruksi selesai, pemeriksaan
apakah program jaminan kualitas dan program-program lainnya telah
dilaksanakan seperti yang disyaratkan baik di tapak reaktor maupun di
tempat pembuatan komponen peralatan;
d. pada tahap pra-operasi; mengadakan inspeksi untuk memeriksa apakah
semua persyaratan dan persiapan untuk operasi telah memenuhi syarat.
2) Secara berkala dan sewaktu-waktu, bila dianggap perlu selama tahap operasi
BAPETEN mengadakan pemeriksaan apakah semua persyaratan dan ketentuan
kerja ditaati.

Pasal 24

1.

Pemegang izin konstruksi dan operasi harus menyelenggarakan catatan


tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan konstruksi dan operasi
reaktor.

2.

Secara berkala pemegang izin wajib membuat laporan tentang kegiatan


tersebut pada ayat 1 kepada BAPETEN khususnya mengenai program:
a. pemonitoran terhadap lingkungan dan meteorologi;
b. jaminan kualitas konstruksi;
c. pelatihan personil;
d. penanggulangan keadaan darurat.

Pasal 25

1.

Apabila terjadi suatu kelainan, penyimpangan atau kecelakaan dalam operasi


reaktor yang diperkirakan dapat menimbulkan bahaya radiasi, pemegang izin

27

wajib mengambil tindakan penanggulangan, sehingga bahaya radiasi menjadi


sekecil mungkin.
2.

Operator reaktor wajib melaporkan hal ini kepada pemegang izin operasi yang
selanjutnya melaporkan hal tersebut kepada BAPETEN.

3.

Petugas pengawasan dari BAPETEN akan segera melaksanakan pemeriksaan.

28

BAB VII
PENGAWASAN BAHAN BAKAR NUKLIR

Pasal 26

1. Bahan bakar nuklir dikuasai oleh negara dan pemanfaatannya diatur dan
diawasi oleh BAPETEN.
2. Pemegang izin konstruksi/operasi wajib mentaati ketentuan yang dikeluarkan
oleh BAPETEN mengenai tanggung jawab yang dipikulnya selama bahan
bakar nuklir dalam penguasaannya.
3. BAPETEN akan mengadakan pemeriksaan pertanggung-jawaban maupun
pemeriksaan fisik bahan bakar nuklir.

{ps.1]
a. PPR

adalah petugas yang ditunjuk oleh pengusaha instalasi nuklir atau

instalasi lainnya yang memanfaatkan radiasi pengion yang dinyatakan mampu


oleh Bapeten untuk melaksanakan pekerjaan yang berhubungan dengan
persoalan proteksi radiasi.
b. Petugas reaktor nuklir adalah petugas yang bekerja diinstalasi nuklir, baik yang
berkualifikasi sebagai Operator reaktor, Supervisor Reaktor, atau Petugas
Perawatan dan Perbaikan Reaktor.
c. Supervisor Reaktor adalah ahli yang bertanggung jawab dalam melaksanakan
pengawasan dan bimbingan terhadap operator reaktor yang sudah diberi izin.
d. Operator Reaktor adalah orang yang bertugas untuk mengendalikan reaktor.

[ps.5]
Setiap pengoperasian reaktor nuklir harus dilakukan oleh tenaga-tenaga yang
cakap dan terlatih, dan sekurang-kurangnya terdiri dari: satu Operator reaktor, satu

29

Supervisor Reaktor, satu Petugas Proteksi Radiasi dan satu Petugas Perawatan dan
Perbaikan.

30

BAB VII
BIAYA IZIN INNR

(Berdasarkan PP No. 134/2000)

Biaya izin ini merupakan biaya untuk izin baru maupun perpanjangan.

No.

Jenis Izin

Masa

Berlaku Biaya

(thn)
1.

2.

(Rupiah)

Izin Tapak
-

Pemerintah

Swasta

2 (dua)

1.250.000,2.750.000,-

Izin Konstruksi
-

Pemerintah
-

Swasta

5 (lima) (fas. Fab.,

2.500.000,-

pemurnian)

5.500.000,-

8 (delapan) (inst.
pengkayaan)
3.

Izin Operasi

2(dua)

Sementara

4.

Pemerintah

Swasta

Pemerintah
-

Swasta

20 (dua puluh)

3.750.000,8.250.000,-

Izin Dekomisioning
-

Pemerintah
-

6.

2.750.000,-

Izin Operasi Tetap


-

5.

1.250.000,-

Swasta

3.750.000,8.250.000,-

Fasilitas Penyimpanan

31

Lestari
a. Izin Tapak

2 (dua)

b. Izin Konstruksi

8(delapan)

c. Izin Operasi

33.000.000,110.000.000,550.000.000,-

Tetap
Catatan :
o Denda keterlambatan perpanjangan izin (paling lama 30 hari sejak izin
berakhir) : 25% dari total biaya izin (Ps. 3).

32