Anda di halaman 1dari 131

PERAN KELUARGA DAN PETUGAS PUSKESMAS TERHADAP PENANGGULANGAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI PERUMNAS HELVETIA MEDAN TAHUN 2009

TESIS

Oleh A KARMILA H 077033020/IKM L S C A P A O S A K
Oleh
A
KARMILA
H
077033020/IKM
L
S
C
A
P
A
O
S
A
K
R
J
E
A
S
N
A

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2009

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

PERAN KELUARGA DAN PETUGAS PUSKESMAS TERHADAP PENANGGULANGAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI PERUMNAS HELVETIA MEDAN TAHUN 2009

TESIS

Oleh KARMILA 077033020/IKM
Oleh
KARMILA
077033020/IKM

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan dalam Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Kekhususan Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2009

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

Judul Tesis : PERAN KELUARGA DAN PETUGAS PUSKESMAS TERHADAP PENANGGULANGAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI PERUMNAS HELVETIA MEDAN TAHUN 2009

Nama Mahasiswa

:

:

:

Karmila

Nomor Pokok

077033020

Program Studi Kekhususan :

Ilmu Kesehatan Masyarakat Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku

Menyetujui Komisi Pembimbing Ketua Program Studi, Direktur,
Menyetujui
Komisi Pembimbing
Ketua Program Studi,
Direktur,

(Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, MKM) Ketua

(Ir. Indra Chahaya, M.Si) Anggota

(Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, MKM)

(Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B, M.Sc)

Tanggal lulus: 15 Juni 2009

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

Telah diuji pada Tanggal : 11 Juni 2009

Telah diuji pada Tanggal : 11 Juni 2009 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua : Dr. Drs. R.

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua

: Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, MKM

Anggota

: 1. Ir. Indra Chahaya, M.Si

2. dr. Halinda Sari Lubis, MKKK

3. Drs. Eddy Sahrial, M.Kes

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

PERNYATAAN

PERAN KELUARGA DAN PETUGAS PUSKESMAS TERHADAP PENANGGULANGAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI PERUMNAS HELVETIA MEDAN TAHUN 2009

TESIS Medan,
TESIS
Medan,

Dengan ini menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Juni 2009

KARMILA NIM. 077033020

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

ABSTRAK

Demam berdarah dengue disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti sampai saat ini masih menjadi masalah yang belum dapat ditanggulangi. Di seluruh wilayah Sumatera Utara, kasus demam berdarah bermunculan dan memakan korban yang sangat banyak. Kecamatan Helvetia merupakan daerah endemis demam berdarah dan penyumbang korban yang cukup banyak pada tahun 2006. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, pada keluarga dan petugas kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Helvetia. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran keluarga dan petugas kesehatan dalam penanggulangan demam berdarah dengue. Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan dan wawancara mendalam. Penelitian ini dilakukan selama Februari-April 2009, dengan subjek penelitian 4 keluarga, seorang petugas pemegang program penanggulangan demam berdarah dan seorang kepala lingkungan. Penganalisisan data dilakukan dengan tehnik “on going analysis”. Hasil penelitian menunjukkan banyak faktor yang menyebabkan terjadinya demam berdarah. Kebersihan rumah tangga dan sanitasi lingkungan mempunyai kontribusi terjadinya demam berdarah. Kebersihan rumah tangga yaitu rumah dan semua yang ada di dalamnya seperti kebersihan kamar mandi, bak mandi dan wadah-wadah penampungan air. Ketersediaan air yang kurang menyebabkan banyaknya wadah-wadah untuk menyimpan air yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk. Faktor penyebab yang lain yaitu sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat. Mengatasi hal di atas diharapkan petugas kesehatan memberikan penyuluhan kepada masyarakat dalam hal ini keluarga secara berkesinambungan sehingga keluarga menjadi lebih proaktif dalam penanggulangan demam berdarah.

menjadi lebih proaktif dalam penanggulangan demam berdarah. Kata Kunci: Peran Keluarga, Petugas Ke sehatan,

Kata Kunci: Peran Keluarga, Petugas Kesehatan, Penanggulangan, Demam Berdarah Dengue.

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

ABSTRACT

Up to now, Dengue Hemorrhage Fever (DHF) spread by the Aedes Aegypthi is still an unresolved problem. In the whole area of Sumatera Utara, the incident of DHF has brought about many cases with a great number of victims. Helvetia Sub-district is a DHF endemic area with a great number of victims in

2006.

The purpose of this descriptive study with qualitative approach conducted among the families and health workers in the working area of Helvetia Community Health Center from February to April 2009 is to analyze the roles of family and health workers in preventing prevent the incident of DHF. The respondents of this study consisted of 4 (four) families, an executive staff of DHF prevention program, and a neighborhood head. The data for this study were obtained through observation and in-depth interview. The data obtained were analyzed through an on-going analysis technique. The result of the study shows that many factors which caused the incident of DHF. Household hygiene including the cleanliness of the house itself, its bathroom, its bathtub, and because of the unadequate water supply, the many water containers found in the house that can be the breeding place for the mosquitoes as well as the environmental sanitation that does not meet the sanitation requirement are the factors that contribute to the incident of DHF. To solve the problem mentioned above, it is suggested that health workers provide the community especially the familie living in the area with a continuous extension that the families can be more proactive in preventing the incident of DHF.

can be more proactive in preventing the incident of DHF. Key Words: Role of Family, Health

Key Words: Role of Family, Health Worker, Prevention, Dengue Hemorrhage Fever.

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan tesis ini, dengan judul “Peran Keluarga dan Petugas Puskesmas terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2008”. Dalam proses penelitian dan penulisan tesis ini tidak terlepas dari bantuan, dukungan dan doa dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada:

penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada: 1. Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa

1. Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B, M.Sc., selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, MKM., selaku Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, dan juga selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dengan sabar serta tulus hati membimbing penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

3. Ibu Ir. Indra Chahaya, M.Si., selaku Anggota Komisi Pembimbing yang dengan tulus dan sabar membimbing penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

4. Ibu dr. Halinda Sari Lubis, MKKK., selaku Dosen Pembanding yang telah meluangkan waktu untuk memberikan saran-saran dan perbaikan bagi tesis ini.

5. Bapak Drs. Eddy Sahrial, M.Kes., selaku Dosen Pembanding yang telah memberikan saran-saran dan perbaikan bagi tesis ini.

6. Bapak Dr. Drs. Surya Utama, M.Si., yang telah banyak memberikan dukungan, masukan dan saran dalam pelaksanaan tesis ini.

7. Bapak Dr. Fikarwin Zuska., yang telah bersedia membagi ilmu kualitatifnya kepada penulis dalam mengerjakan tesis ini.

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

8. Bapak dr. Edwin, selaku Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan yang telah memberikan izin dalam pelaksanaan penelitian.

9. dr. Anjelimery Paulina, selaku Kepala Puskesmas Helvetia, beserta stafnya, yang telah memberikan izin dan keleluasaan bagi penulis dalam melakukan pengumpulan data.

10. Irforman yang telah sangat membantu penulis dengan memberikan informasi yang sangat dibutuhkan.

nulis dengan memberikan informasi yang sangat dibutuhkan. 11. Ibunda (Alm) dan Abah tercinta yang senantiasa memberi

11. Ibunda (Alm) dan Abah tercinta yang senantiasa memberi semangat dan dukungan serta doa kepada penulis.

12. Abang tersayang yang memberikan doa, dukungan dan warna yang indah dalam kehidupan penulis.

13. Adikku yang telah memberikan dukungan dan semangat serta doa kepada penulis.

14. Seluruh Dosen dan Administrasi Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Kekhususan Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, yang telah memberi pengajaran, bimbingan dan arahan selama penulis dalam masa pendidikan.

15. Teman-teman seangkatan di peminatan Ilmu Kesehatan Masyarakat, yang selalu memberikan saat-saat berbagi cerita dan penuh tawa. Penulis menyadari bahwa dalam melakukan penulisan tesis ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, untuk itu saran-saran yang membangun sangat diharapkan. Semoga semua ini bermanfaat bagi kita.

Penulis

Karmila

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

RIWAYAT HIDUP

A. IDENTITAS

1. Nama : Karmila 2. Jenis Kelamin : Perempuan 3. Agama : Islam 4. Tempat/Tgl
1.
Nama
: Karmila
2.
Jenis Kelamin
: Perempuan
3.
Agama
: Islam
4.
Tempat/Tgl lahir
: Rantau, 13 April 1976
5.
Alamat
: Jl. Durung Gg. Amal No. 5 Medan
B.
RIWAYAT PENDIDIKAN
1.
SD YPDP Pertamina Rantau
2.
SMP Dharma Patra Rantau
3.
SMA Negeri I Kuala Simpang
4.
Akper DepKes RI Medan
5.
DIV Perawat Pendidik USU
6.
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Tahun 1982 - 1988
Tahun 1989 - 1991
Tahun 1992 - 1994
Tahun 1995 - 1998
Tahun 2000 - 2001
Tahun 2002 - 2005
7.
Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat
Kekhususan Promosi Kesehatan dan
Ilmu Perilaku Sekolah Pascasarjana USU
Tahun 2007 - 2009

C. RIWAYAT PEKERJAAN

1. Dosen Akademi Kebidanan Nusantara

Tahun 2005 – sekarang

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK i ABSTRACT ii KATA ii PENGANTAR i RIWAYAT v HIDUP DAFTAR v ISI i
ABSTRAK
i
ABSTRACT
ii
KATA
ii
PENGANTAR
i
RIWAYAT
v
HIDUP
DAFTAR
v
ISI
i
DAFTAR
i
TABEL
x
DAFTAR
x
GAMBAR
DAFTAR
x
LAMPIRAN
i
BAB
PENDAHULUAN
1
1
1.1.
Lat
1
Belakang
1.2.
7
Permasalahan
1.3.
Tuju
7
Penelitian
1.4.
Manfa
8
Penelitian
BAB
TINJAUAN
9
2
PUSTAKA
2.1.
Per
9
Keluarga
2.1.1.
Pengerti
9
Keluarga
2.1.2.
Peran
Petug
1
Kesehatan
2
2.1.3.
Tanggung
Jawab
Petugas
terhad
1
DBD
4
2.2.
Pengetahuan
dan
Sik
1
Masyarakat
4

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

2.3. Promo 1 Kesehatan 6 2.3.1. Strategi Promo 1 Kesehatan 6 2.3.2. Promosi Kesehatan ol
2.3.
Promo
1
Kesehatan
6
2.3.1.
Strategi
Promo
1
Kesehatan
6
2.3.2.
Promosi
Kesehatan
ol
1
Puskesmas
8
2.4.
Penyakit
Demam
Berdarah
Deng
1
(DBD)
9
2.4.1.
Tanda-tanda
Penyak
2
DBD
2
2.4.2.
Vekt
2
Penular
3
2.4.3.
Faktor-faktor
yang
Mempengaruhi
Penular
Penyakit DBD
2
5
2.5.
Upaya
Penanggulang
2
DBD
6
2.5.1.
Penemu
2
Penderita
6
2.5.2.
Pelaporan
dan
Tindak
Lanjut
Penanggulang
2
DBD
9
2.5.3.
Penata
3
Lingkungan
2.6. Faktor-faktor yang Menyebabkan Sulitnya Penanggulang
DBD
1
3
3
2.7.
Kerangka
Pik
3
Penelitian
5
BAB
METODE
3
3
PENELITIAN
6
3.1.
Jen
3
Penelitian
6
3.2.
Lokasi
Penelitian
dan
Wak
3
Penelitian
6
3.3.
Pemilih
3
Informan
7
3.4.
Metode
Pengumpul
3
Data
8
3.5.
Metode
Pengolahan
dan
Analis
4
Data
2
BAB
HASIL
4
4
PENELITIAN
4
4.1.
Gambar
4

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

Umum 4 4.1.1. Kecamatan Med 4 Helvetia 4 4.1.2. 4 Kependudukan 4 4.1.3. Ma 4
Umum
4
4.1.1.
Kecamatan
Med
4
Helvetia
4
4.1.2.
4
Kependudukan
4
4.1.3.
Ma
4
Pencaharian
5
4.1.4.
Penduduk
ya
4
Mutasi
6
4.2.
Subj
4
Penelitian
6
4.2.1.
Deskripsi
Subj
4
Penelitian
6
4.2.2.
Petugas
Penanggulangan
Dema
5
Berdarah
5
4.3.
Penyebab
Terjadinya
Demam
Berdarah
pa
6
Keluarga
1
4.3.1.
Kebersihan
dalam
Rum
6
Keluarga
1
4.3.2.
Ketersedia
6
Air
2
4.3.3.
Pengetahu
6
Keluarga
3
4.3.4.
Sanita
6
Lingkungan
4
4.4.
Peran
Petug
6
Kesehatan
6
4.5.
Penanggulangan
Demam
Berdarah
ol
6
Keluarga
4.5.1. Menjaga Kebersihan Rumah Tangga dan Kam
8
6
Mandi
8
4.5.2.
Mengantisipasi
Ketersedia
6
Air
9
4.5.3.
Menjaga
Kebersihan
Sanita
7
Lingkungan
1
4.6.
Perlindungan
Keluarga
terhad
7
DBD
2
4.7.
Penanggulangan
Demam
Berdarah
ol
7
Pemerintah
4
BAB
PEMBAHASAN
7
5
7
5.1.
Pemberantasan
Nyamuk
Aedes
aegypti
ol
7
Keluarga
7

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

5.1.1. Cara Pemberantasan Nyamuk Aed 7 aegypti 7 5.1.2. Sanita 8 Lingkungan 1 5.1.3. Pengetahu
5.1.1.
Cara
Pemberantasan
Nyamuk
Aed
7
aegypti
7
5.1.2.
Sanita
8
Lingkungan
1
5.1.3.
Pengetahu
8
Keluarga
5
5.2.
Per
8
Petugas
6
5.2.1.
Tanggung
Jaw
8
Petugas
6
5.2.2.
Promo
8
Kesehatan
9
5.2.3.
Pemberantasan
Sara
9
Nyamuk
0
5.3.
Penanggulangan
terhad
9
DBD
1
5.4.
Promosi
Kesehatan
dalam
Pencegahan
Dema
9
Berdarah
4
BAB
KESIMPULAN
DA
9
6
SARAN
6
6.1.
9
Kesimpulan
6
6.1.1.
Per
9
Keluarga
6
6.1.2.
Peran
Petug
9
Kesehatan
7
6.1.3.
Penanggulang
9
DBD
7
6.2.
9
Saran
7
DAFTAR
9
PUSTAKA
8

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman mor 4.1. Luas Kelurahan, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Pendudu Per Km2 di
No
Judul
Halaman
mor
4.1.
Luas Kelurahan, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Pendudu
Per
Km2
di
Kecamatan
Med
45
Helvetia
4.2.
Distribusi
Penduduk
Berdasarkan
Mata
Pencaharian
Pa
Wilayah
Kecamatan
Med
45
Helvetia
4.3.
Distribusi
Penduduk
Berdasarkan
Mutasi
pada
Wilay
Kecamatan
Med
46
Helvetia

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

DAFTAR GAMBAR

No

Judul

Halaman

mor

2.1.

Alur

Pelaporan

Kas

30

DBD

2.2.

Kerangka

Pikir

Peneliti

35

30 DBD 2.2. Kerangka Pikir Peneliti 35 Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Halaman mor 1. Lembaran 101 Wawancara 2. Lembaran Observasi Sanitasi Lingkung 102 3.
No
Judul
Halaman
mor
1. Lembaran
101
Wawancara
2. Lembaran
Observasi
Sanitasi
Lingkung
102
3. Lembaran
Observasi
Sanitasi
Lingkungan
Keluar
Bapak
104
Sugi
4. Lembaran
Observasi
Sanitasi
Lingkungan
Keluar
Bapak
106
Apri
5. Lembaran
Observasi
Sanitasi
Lingkungan
Keluar
Bapak
108
Sitorus
6. Lembaran
Observasi
Sanitasi
Lingkungan
Keluar
Bapak
110
Nainggolan
7. Surat
Iz
112
Penelitan

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

1.1. Latar Belakang

BAB 1

PENDAHULUAN

Demam berdarah dengue menjadi masalah kesehatan yang sangat serius

dengue menjadi masalah kesehatan yang sangat serius di Indonesia. Kejadian demam berdar ah tidak kunjung

di Indonesia. Kejadian demam berdarah tidak kunjung berhenti walaupun telah

banyak program dilakukan oleh pemerintah. Keluarga dan petugas kesehatan

memegang peranan yang sangat penting dalam penanggulangan demam berdarah

sehingga dengan melihat upaya-upaya yang mereka lakukan untuk mencegah

demam berdarah dapat mengurangi terjadinya kejadian luar biasa (KLB) di

masyarakat pada saat ini.

Penyakit Demam Berdarah Dengue atau Dengue Haemorrhagic Fever

(DHF) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menimbulkan

dampak sosial maupun ekonomi. Jumlah kasus yang dilaporkan cenderung

meningkat dan daerah penyebarannya bertambah luas. Kerugian sosial yang

terjadi antara lain karena menimbulkan kepanikan dalam keluarga, kematian

anggota keluarga, dan berkurangnya usia harapan hidup penduduk. Dampak

ekonomi langsung pada penderita adalah kehilangan waktu kerja, waktu sekolah

dan biaya lain yang dikeluarkan selain untuk pengobatan seperti transportasi dan

akomodasi selama perawatan penderita (Depkes RI, 2006).

Kejadian luar biasa atau KLB DBD di Indonesia terbesar terjadi pada

tahun 1998 yaitu dengan IR (Insident Rate) sebanyak 35,19 per 100.000 ribu

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

penduduk, lalu menurun pada tahun 1999 dengan IR 10,17 per 100.000 ribu

penduduk, mengalami peningkatan kembali pada tahun 2000 dengan IR 15,99 per

100.000 ribu penduduk dan kembali meningkat pada tahun 2001 dengan IR 21,66

per 100.000 ribu penduduk, kembali menurun pada tahun 2002 yaitu IR 19,24 per

100.000 ribu penduduk dan meningkat tajam kembali pada tahun 2003 yaitu IR

dan meningkat tajam kembali pada tahun 2003 yaitu IR 23,87 per 100.000 ribu penduduk. Data di

23,87 per 100.000 ribu penduduk. Data di atas menunjukkan bahwa penyakit

DBD di Indonesia menjadi fenomena yang sangat sulit diatasi di mana kejadian

DBD setiap tahunnya berfluktuasi (Depkes RI, 2004).

Penyakit DBD telah menyebar luas ke seluruh wilayah Provinsi Sumatera

Utara sebagai KLB dengan angka kesakitan dan kematian yang relatif tinggi.

Berdasarkan data di wilayah Propinsi Sumatera Utara terdapat 8 daerah endemis

DBD yaitu: Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten

Langkat, Kabupaten Asahan, Kota Tebing Tinggi, Kota Pematang Siantar dan

Kabupaten Karo. Daerah Sporadis DBD sebanyak 15 daerah, yaitu: Kota Sibolga,

Tanjung Balai, Simalungun, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Dairi, Tapanuli

Tengah, Mandailing Natal, Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan, Labuhan Batu,

Humbang Hasundutan, Pak-Pak Barat, Serdang Bedagai dan Kabupaten Samosir.

Daerah Potensial/Bebas DBD adalah Nias dan Nias Selatan dikarenakan daerah

tersebut berada di tempat dataran tinggi di mana suhu udara rendah sehingga tidak

memungkinkan nyamuk hidup dan berkembang biak (Dinkes Kota Medan, 2006).

Angka kejadian penyakit DBD di Sumatera Utara dari tahun ke tahun

mengalami peningkatan. Tahun 2002 jumlah penderita (IR) adalah 3,6/100.000

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

penduduk (353 penderita), tahun 2003 sampai 2004 naik menjadi 8,79/100.000

penduduk (1093 penderita). Pada tahun 2005 terjadi ledakan kasus yang sangat

tajam yaitu 30,75/100.000 penduduk (3.657) penderita dan tahun 2006 terjadi

penurunan yaitu 17,58/100.000 penduduk (2.091 penderita), tahun 2007 terjadi

kembali peningkatan kasus yaitu menjadi 34,5/100.000 penduduk. Angka ini

jauh dari target Indonesia Sehat 2010 yaitu nyamuk Aedes aegypti di lingkungan penduduk
jauh
dari
target
Indonesia
Sehat
2010
yaitu
nyamuk
Aedes
aegypti
di
lingkungan
penduduk

2/100.000

masih

penduduk.

Sebaliknya, walaupun jumlah penderita naik, tapi angka kematian DBD (CFR)

mengalami penurunan sejak tahun 2002 yaitu 2,84% menjadi 1,53% pada tahun

2006 dan menurun lagi menjadi 0,83% pada tahun 2007. Penurunan CFR ini

menunjukkan bahwa penanganan kasus di sarana pelayanan kesehatan sudah

mengalami peningkatan, namun tingginya IR menunjukkan masih banyak tempat-

tempat berkembang biak (Breeding Places) dan tempat peristirahatan (Resting

Provinsi

Places)

(Dinkes

Sumatera Utara, 2006).

Berdasarkan SK Menkes Nomor 581 Tahun 1992, kegiatan pokok upaya

penanggulangan penyakit DBD yang dilaksanakan dengan cara tepat guna oleh

pemerintah

adalah

pencegahan,

penemuan,

pertolongan

dan

pelaporan,

penyelidikan

epidemiologi

dan

pengamatan

penyakit

DBD,

penanggulangan

seperlunya, penanggulangan lain dan penyuluhan (Depkes, 1996).

Pemerintah pada tanggal 12 Nopember 1999 yang bertepatan dengan Hari

Kesehatan Nasional ke-40 mencanangkan Gerakan PSN DBD. Oleh karena itu

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

yang menjadi penggeraknya dipilih oleh pemerintah Jumantik (Juru Pemantau

Jentik) dan supervisor dari masyarakat sendiri (Depkes RI, 2006).

Upaya program penanggulangan penyakit DBD yang dilaksanakan sangat

banyak tetapi belum optimal karena lebih banyak mempengaruhi epidemiologi

penyakit DBD. Angka kematian DBD cenderung menurun walaupun kasus

DBD. Angka kematian DBD cenderung menurun walaupun kasus bertambah, hal ini menunjukkan bahwa penatalaksanaan kasus

bertambah, hal ini menunjukkan bahwa penatalaksanaan kasus cukup efektif

di pelayanan kesehatan yang ada tetapi peran serta masyarakat untuk pencegahan

penyakit demam berdarah belum ada (Depkes RI, 2000).

Menurut Kepala Dinas Kesehatan melalui Kasubdin Program Pencegahan

Penyakit/P2P (Pulungan, 2007), bahwa DBD bukan hanya menyerang orang

dewasa, hal tersebut sesuai data tahun 2007, yang diketahui 27% penderita

penyakit yang berasal dari gigitan nyamuk Aedes Aegypti di Medan korbannya

balita, dan dari 27% tersebut, 9% balita 0-4 tahun dan 18% berusia 5-12 tahun

dan sisanya paling banyak berusia 20-24 tahun. Saat ini seluruh kecamatan di

Medan berstatus endemis DBD. Kecamatan tersebut adalah Medan Tuntungan

sebanyak 69 orang, Medan Johor sebanyak 74 orang, Medan Amplas sebanyak

69, Medan Denai sebanyak 92 orang, Medan Area sebanyak 27 orang, Medan

Kota sebanyak 68 orang, Medan Maimun sebanyak 12 orang, Medan Polonia

sebanyak 27 orang, Medan Baru sebanyak 113 orang, Medan Selayang sebanyak

83 orang, Medan Sunggal sebanyak 127 orang, Medan Helvetia sebanyak 213

orang, Medan Petisah sebanyak 77 orang, Medan Barat sebanyak 28 orang,

Medan Timur sebanyak 65 orang, Medan Perjuangan sebanyak 51 orang, Medan

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

Tembung sebanyak 75 orang, Medan Deli sebanyak 53 orang, Medan Labuhan

sebanyak 12 orang, Medan Marelan sebanyak 28 orang dan Medan Belawan

sebanyak 15 orang. Kecamatan Helvetia merupakan daerah yang terbanyak

penderita demam berdarah (Dinkes Kota Medan, 2007).

Upaya-upaya yang telah dilakukan untuk menanggulangi dan mencegah

Penaburan bubuk Abate pada tempat-tempat
Penaburan
bubuk
Abate
pada
tempat-tempat

penyakit DBD oleh Dinas Kesehatan Kota Medan antara lain: (1) Pertolongan

pertama pada penderita DBD, dan selanjutnya dirujuk kerumah sakit apabila perlu

(2) Penyuluhan terus menerus kepada masyarakat (berkoordinasi dengan Sie.

Promosi Kesehatan dan Lintas Sektoral) (3) Fogging Foccus dan Fogging ULV

(4)

air

(5)

penampungan

Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara bergotong royong yang

melibatkan masyarakat dan Lintas Sektoral. Namun upaya yang telah dilakukan

belum dapat merubah status daerah endemis DBD di Kota Medan. Kondisi di atas

mengingatkan bahwa kasus penyakit DBD belum dapat ditanggulangi secara

maksimal walaupun telah dilakukan berbagai upaya (Dinkes Kota Medan, 2006).

Pada tahun 2000, Sub Direktorat Arbovirus Departemen Kesehatan yang

membidangi

upaya

pemberantasan

penyakit

yang

bersumber

dari

binatang

termasuk di dalamnya upaya pemberantasan penyakit DBD, mensosialisasikan

Rencana Strategis (Renstra) Program Pemberantasan Penyakit DBD Tahun 2001-

2005. Dalam Renstra tersebut dikemukakan banyak faktor yang mendukung

peningkatan kasus, antara lain kurangnya upaya penggerakan masyarakat dalam

Pemberantasan

Sarang

Nyamuk

DBD

(PSN

DBD),

kurangnya

keterlibatan

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

keluarga dalam pencegahan penyakit demam berdarah dan kurang aktif petugas

dalam menjalankan fungsinya.

Terlihat dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti tanggal 3 Nopember

2008 pada keluarga yang salah seorang anggota keluarganya terkena penyakit

demam berdarah dengue didapat bahwa pada awalnya si ibu tidak tahu akan

kesehatan di Puskesmas Helvetia yang bertugas
kesehatan
di
Puskesmas
Helvetia
yang
bertugas

untuk

pentingnya PSN (pemberantasan sarang nyamuk) dikarenakan kurangnya petugas

memberi informasi dan penyuluhan. Petugas menjadi aktif apabila ada kasus dan

menangani

petugas

pencegahan demam berdarah dengue hanya 1 (satu) orang.

Pengadaan kampanye kebersihan yang intensif dan penyebaran leaflet

merupakan upaya di tingkat masyarakat yang telah dilakukan oleh pemerintah,

tetapi hal ini sering gagal karena tidak adanya keterlibatan keluarga di dalamnya.

Peran keluarga sangat dibutuhkan untuk mendorong mereka mau melaksanakan

kegiatan 3M secara intensif di rumah dan juga melibatkan keluarga agar turut

serta dalam kegiatan PSN yang ada di lingkungannya (Depkes, 2005).

Petugas mempunyai peran yang juga tidak kalah pentingnya. Selama ini

petugas

hanyalah

sebatas

penyuluh

kesehatan

yang

bertugas

memberikan

informasi.

Padahal

seorang

petugas

kesehatan

bukan

hanya

memberikan

informasi tetapi juga harus membagi pengetahuan mereka di setiap kesempatan di

manapun petugas berada. Pada dasarnya pemeliharaan kesehatan dasar adalah

keterlibatan masyarakat. Hubungan yang erat antara petugas pelayanan kesehatan

dan masyarakat sangat penting dan harus merupakan proses dua arah. Petugas

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

kesehatan harus tanggap terhadap kebutuhan masyarakat yang mereka layani

(Tarimo, 1994).

Seharusnya melalui program pencegahan dan penanggulangan penyakit

DBD yang matang dan ditunjang oleh informasi kesehatan khususnya yang

menyangkut penyakit DBD, maka diharapkan keikut sertaan masyarakat terutama

keluarga dalam pemberantasan sarang nyamuk peran keluarga dan petugas puskesmas dalam
keluarga
dalam
pemberantasan
sarang
nyamuk
peran
keluarga
dan
petugas
puskesmas
dalam

keterlibatan

melalui

3M

di

lingkungan tempatnya tinggal, sehingga penyebaran penyakit DBD dapat diatasi

(Depkes RI, 1992).

Berdasarkan paparan di atas, di mana program penanggulangan penyakit

demam berdarah dengue belum sepenuhnya dapat menanggulangi kasus penyakit

demam berdarah dengue maka sangat penting dilakukan upaya pemberdayaan

masyarakat khususnya keluarga, sehingga perlu dilakukan penelitian yang dapat

dan

menggali

pencegahan

penanggulangan penyakit demam berdarah dengue.

1.2. Permasalahan

Bagaimana

peran

keluarga

dan

petugas

Puskesmas

dalam

penanggulangan penyakit demam berdarah dengue di Perumnas Helvetia Medan.

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian

ini

dilakukan

untuk

mengetahui

peran

keluarga

dan

petugas

Puskesmas dalam upaya penanggulangan penyakit demam berdarah dengue,

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

sehingga didapat suatu model pemberdayaan masyarakat untuk penanggulangan

penyakit demam berdarah dengue yang tepat dan sesuai dengan keinginan

masyarakat.

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian adalah sebagai berikut: pelayan kesehatan dan keberhasilan program pencegahan penyakit
Adapun manfaat penelitian adalah sebagai berikut:
pelayan
kesehatan
dan
keberhasilan
program
pencegahan penyakit demam berdarah dengue.
secara berkelanjutan.

1. Dinas Kesehatan Kota Medan mendapat masukan bagaimana kinerja petugas

serta

penanggulangan

2. Memotivasi keluarga agar dapat mencegah penyakit demam berdarah dengue

3. Sebagai bahan masukan kepada petugas kesehatan di Puskesmas Helvetia

dalam pencegahan penyakit demam berdarah dengue tentang metode promosi

yang tepat sebagai upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

4. Menambah wawasan penulis dalam bidang penelitian kualitatif.

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Peran Keluarga

2.1.1.

Pengertian Keluarga

Afektif adalah fungsi internal keluarga sebagai dan saling menghargai antar anggota keluarga. individu untuk
Afektif
adalah
fungsi
internal
keluarga
sebagai
dan saling menghargai antar anggota keluarga.
individu untuk belajar bersosialisasi.

Fungsi

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala

keluarga dan beberapa orang yang berkumpul serta tinggal di suatu tempat di

bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Depkes RI, 1988).

Menurut Friedman (1986) yang dikutip oleh Setiawati (2008), fungsi

keluarga adalah:

1.

dasar

kekuatan

keluarga. Di dalamnya terkait dengan saling mengasihi, saling mendukung

2. Fungsi Sosial adalah fungsi yang mengembangkan proses interaksi dalam

keluarga. Sosialisasi dimulai sejak lahir dan keluarga merupakan tempat

3. Fungsi Reproduksi adalah fungsi keluarga untuk meneruskan kelangsungan

keturunan dan menambah sumber daya manusia.

4. Fungsi Ekonomi adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh

keluarganya yaitu: sandang, pangan dan papan.

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

5. Fungsi Keperawatan Kesehatan adalah fungsi keluarga untuk mencegah

terjadinya masalah kesehatan dan merawat anggota keluarga yang mengalami

masalah kesehatan.

Menurut Setiawati (2008), ada beberapa alasan perlunya keterlibatan keluarga

dalam pelayanan kesehatan antara lain:

pesan kesehatan. demam berdarah. dalam satu ikatan dan saling mempengaruhi.
pesan kesehatan.
demam berdarah.
dalam satu ikatan dan saling mempengaruhi.

1. Keluarga dipandang sebagai sumber daya kritis untuk menyampaikan pesan-

Kasus meningkatnya angka kesakitan akibat DBD membuat pemerintah

dengan gencar menggalakkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dalam

skala nasional, keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat berperan

dalam penyampaian pesan betapa pentingnya PSN agar terhindar dari wabah

2. Keluarga sebagai satu unit antar anggota dalam keluarga.

Keluarga dipandang sebagai kesatuan dari sejumlah anggota keluarga, berada

3. Hubungan yang kuat dalam keluarga dengan status kesehatan anggotanya.

Peran keluarga sangat penting dalam tahapan-tahapan perawatan kesehatan,

mulai dari tahapan peningkatan kesehatan, pencegahan, pengobatan sampai

dengan rehabilitasi.

4. Keluarga sebagai tempat penentuan kasus dini.

Adanya

masalah

kesehatan

pada

salah

satu

anggota

keluarga

akan

memungkinkan munculnya faktor resiko pada anggota keluarga lainnya.

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

5. Individu dipandang dalam konteks keluarga.

Seorang dapat mencapai pemahaman yang lebih jelas terhadap individu dan

fungsinya apabila individu tersebut dipandang dalam konteks keluarga mereka. 6. Keluarga sebagai sumber pendukung
fungsinya
apabila
individu
tersebut
dipandang
dalam
konteks
keluarga
mereka.
6. Keluarga sebagai sumber pendukung bagi anggota keluarga lainnya.
Peran
keluarga
dalam
penanggulangan
demam
berdarah
adalah
sebagai
berikut (Depkes RI, 1992):
1. Keluarga turun serta melaksanakan pemberantasan nyamuk demam berdarah
dengan melakukan 3M + 1T yaitu menguras, menutup dan mengubur serta
telungkup.
2. Apabila ada keluarga yang anggota keluarganya menunjukkan gejala penyakit
demam berdarah maka keluarga mengerti cara pertolongan pertama (memberi
minum
banyak,
kompres
dingin
dan
obat
penurun
panas
yang
tidak
mengandung asam siali silat) dan segera memeriksakan diri kepada dokter
atau unit pelayanan kesehatan.
3. Keluarga
segera
melaporkan
kepada
Lurah
melalui
kader
atau
kepala

lingkungan/kepala dusun.

4. Keluarga melakukan PSN secara serentak dan mengikuti petunjuk dalam

pelaksanaan pananggulangan demam berdarah.

5. Keluarga mengikuti/menghadiri kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh

petugas Puskesmas.

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

Keterlibatan atau partisipasi keluarga ditujukan untuk memperkenalkan

perilaku baru (yang mungkin sebagai pengganti dari perilaku yang selama ini

dipraktikkan

keluarga

tersebut).

Misalnya

buang

air

besar

dijamban,

mengkonsumsi garam beryodium, memelihara tanaman obat keluarga, menguras

bak mandi-menutup persediaan air-mengubur benda-benda buangan yang dapat

Peran Petugas Kesehatan Hal yang membuat petugas kesehatan sangat berharga
Peran Petugas Kesehatan
Hal
yang
membuat
petugas
kesehatan
sangat
berharga

menahan/menampung air (Kutuk), mengkonsumsi makanan berserat (Depkes RI,

2005).

2.1.2.

Penempatan tenaga atau personil merupakan bagian yang paling banyak

mengeluarkan biaya dalam kebanyakan sistem pemeliharaan kesehatan. Penting

bagi petugas kesehatan untuk turut mendukung dan berpartisipasi dalam proyek

masyarakat misalnya, mereka dapat membantu mengetahui penyebab masalah

kesehatan dan mengusulkan cara perbaikannya. Hendaknya, petugas kesehatan

terutama memikirkan keseluruhan masyarakat sebagai tanggung jawabnya, tidak

hanya sebagai penunjang klinik saja (Tarimo, 1994).

karena

mereka

mengenal secara pribadi semua keluarga di daerah mereka. Petugas kesehatan

merupakan

anggota

yang

sangat

penting

dalam

Tim

Kesehatan

karena

pengetahuan

yang

mereka

miliki

tentang

keadaan

setempat.

Sebagai

tenaga/petugas kesehatan kunjungan rumah merupakan tugas tambahan yang

penting bagi pemeliharaan kesehatan dan membutuhkan orang tertentu untuk

melaksanakan dengan baik (Tarimo, 1994).

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

Keterlibatan petugas dalam hal ini adalah petugas puskesmas adalah dengan

melaksanakan kunjungan rumah terhadap keluarga, yaitu keluarga dari individu

pengunjung Puskesmas, atau keluarga-keluarga lain yang berada di wilayah kerja

Puskesmas. Dalam kunjungan rumah ini dikumpulkan semua anggota keluarga

dan

diberikan

informasi

berkaitan

dengan

perilaku

yang

diperkenalkan.

informasi dilakukan secara sistematis sehingga dan Lurah/Kepala Desa yang menerima penanggulangan demam berdarah.
informasi
dilakukan
secara
sistematis
sehingga
dan
Lurah/Kepala
Desa
yang
menerima
penanggulangan demam berdarah.

Pemberian

anggota-anggota

keluarga itu bergerak dari tidak tahu ke tahu, dan dari tahu ke mau. Bila sarana

untuk melaksanakan perilaku yang bersangkutan tersedia, diharapkan juga sampai

tercapai fase mampu melaksanakan (Depkes RI, 2005).

Peran petugas kesehatan dan sektor terkait dalam penanggulangan demam

berdarah adalah sebagai berikut (Depkes RI, 1992):

1. Camat

laporan

rencana

penanggulangan, memerintahkan warga setempat melalui kepala lingkungan/

kepala dusun untuk melakukan PSN dan membantu kelancaran pelaksanaan

2. Petugas kesehatan atau tenaga terlatih melakukan penyemprotan insektisida 2

siklus

dengan

interval

1

minggu

dan

memberikan

penyuluhan

kepada

masyarakat.

3. Kepala lingkungan/Kepala Dusun dibantu pemuka masyarakat dan kader

menyampaikan informasi tentang rencana penanggulangan demam berdarah

dan membantu pelaksanaan penyuluhan.

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

4.

Kepala

Lingkungan

dan

kader

mendampingi

petugas

kesehatan

dalam

pelaksanaan penyemprotan.

 

5.

Keluarga

melakukan

PSN

secara

serentak

sesuai

petunjuk

pelaksanaan

penanggulangan demam berdarah.

2.1.3.

Tanggung Jawab Petugas terhadap DBD

 
Tanggung jawab petugas Kesehatan dalam penangulangan (Depkes RI, 2006): 1. Petugas DBD mempunyai tanggung jawab
Tanggung
jawab
petugas
Kesehatan
dalam
penangulangan
(Depkes RI, 2006):
1. Petugas
DBD
mempunyai
tanggung
jawab
untuk
rumah.
Kunjungan
rumah
ini
dimaksudkan
agar
keluarga
melaksanakan penanggulangan DBD.
2. Melakukan pemeriksaan jentik secara berkala di rumah-rumah.
rumah keluarga yang ada di wilayah kerjanya.
nyamuk DBD.

melakukan

mengerti

DBD

adalah

kunjungan

dan

mau

Untuk melihat ada tidaknya jentik dibak-bak penampungan air yang ada

3. Berperan sebagai penggerak dan pengawas dalam pemberantasan sarang

4. Membuat catatan/rekapitulasi hasil pemeriksaan jentik.

5. Melaporkan hasil pemeriksaan jentik kepada puskesmas sebulan sekali.

2.2. Pengetahuan dan Sikap Masyarakat

Analisis dari Green (1980), menyatakan bahwa kesehatan dipengaruhi

oleh dua faktor yaitu, faktor perilaku (behaviour causes) dan faktor non perilaku

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

(non

behaviour

causes).

Sedangkan

perilaku

itu

sendiri,

khusus

perilaku

kesehatan dipengaruhi atau ditentukan oleh 3 (tiga) faktor yakni:

a. Faktor-faktor

predisposisi

(predisposing

factor),

yaitu

terwujud

dalam

pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya dari

seseorang.

fisik. keluarga dan teman sebaya. dilihat sebagai fungsi dari pengaruh kolektif ketiga kolektif itu penting
fisik.
keluarga dan teman sebaya.
dilihat
sebagai
fungsi
dari
pengaruh
kolektif
ketiga
kolektif
itu
penting
terutama
karena
perilaku

b. Faktor-faktor penunjang (enabling factor) yang terwujud dalam lingkungan

c. Faktor-faktor pendukung (Reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan

perilaku petugas kesehatan dan petugas-petugas lainnya termasuk di dalamnya

Green (1980), kemudian berkesimpulan bahwa setiap perilaku kesehatan

Gagasan

suatu

dapat

faktor.

penyebab

merupakan

fenomena yang majemuk.

Jika menelaah dari ketiga faktor tersebut maka proses perubahan perilaku

sangat berhubungan dengan faktor-faktor sebagai berikut:

a. Kepercayaan terhadap kesehatan dengan dimensi pembentukan (determinant)

adalah pengetahuan dan sikap. Kedua dimensi ini berkaitan erat dengan

karakteristik demografis individu.

b. Kemampuan mendapatkan informasi, kemudahan mendapatkan pelayanan

serta ketersediaan alat dan bahan dalam melakukan pencegahan.

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

Pengetahuan dan sikap masyarakat

yang kurang mengetahui tentang

tanda/ gejala, cara penularan dan pencegahan penyakit DBD mempunyai resiko

terkena

penyakit

DBD.

Dengan

demikian

upaya

peningkatan

pengetahuan

mengenai gejala/ tanda, cara penularan dan pencegahan serta pemberantasan

penyakit DBD perlu mendapat perhatian utama agar masyarakat lebih berperan

untuk melakukan pembersihan dan pemberantasan Promosi Kesehatan Strategi Promosi Kesehatan menerus dan
untuk
melakukan
pembersihan
dan
pemberantasan
Promosi Kesehatan
Strategi Promosi Kesehatan
menerus
dan
berkesinambungan
mengikuti
perkembangan

aktif

sarang

nyamuk.

Kebiasaan menggantungkan pakaian di dalam rumah merupakan kesenangan

nyamuk Aedes aegypti untuk beristirahat (Depkes, 1992).

2.3.

2.3.1.

Menurut Depkes RI (2005), kebijakan Nasional Promosi Kesehatan telah

menetapkan tiga strategi dasar promosi kesehatan, yaitu:

1. Gerakan pemberdayaan adalah proses pemeberian informasi secara terus

serta

sasaran,

proses membantu sasaran, agar sasaran tersebut berubah dari tahu menjadi

tahu atau sadar (aspek knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek attitude),

dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan

(aspek practice). Sarasan utama pemberdayaan adalah individu dan keluarga,

serta kelompok masyarakat.

2. Bina suasana adalah upaya menciptakan opini atau lingkungan sosial yang

mendorong

individu

anggota

masyarakat

mau

melakukan

perilaku

yang

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

diperkenalkan. Seseorang akan terdorong untuk melakukan sesuatu apabila

lingkungan sosial di mana pun ia berada (keluarga di rumah, orang yang

menjadi panutan/idolanya, kelompok arisan, majelis agama, dan lain-lain

bahkan masyarakat umum) memiliki opini positif terhadap perilaku tersebut.

Terdapat tiga pendekatan bina suasana, antara lain:

a. Bina suasana individu ditujukan kepada individu-individu tokoh masyarakat. Dengan pendekatan ini diharapkan
a.
Bina
suasana
individu
ditujukan
kepada
individu-individu
tokoh
masyarakat. Dengan pendekatan ini diharapkan mereka akan menyebarkan
opini yang positif terhadap perilaku yang sedang diperkenalkan seperti
“gerakan 3M +1T”. Di samping itu diharapkan mereka juga bersedia
memperkenalkan
atau
mau
mempraktekkan
perilaku
yang
sedang
diperkenalkan tersebut (misal seorang pemuka agama rajin melakukan 3M
yaitu menguras, mengubur dan menutup serta telungkup).
b.
Bina suasana kelompok ditujukan kepada kelompok masyarakat seperti
Kepala Lingkungan, majelis pengajian, majelis gereja, organisasi pemuda
dan
lain-lain.
Pendekatan
ini
dilakukan
bersama
tokoh
masyarakat
sehingga mereka perduli dan mau mendukung perubahan perilaku yang

sedang diperkenalkan dan menyetujui untuk mempraktekkan perilaku

yang sedang diperkenalkan yaitu 3M + 1 T tersebut.

c. Bina suasana masyarakat umum dilakukan terhadap masyarakat umum

dengan membina dan memanfaatkan media-media komunikasi seperti

radio, televisi, koran, majalah, situs internet dan lain-lain, sehingga

dengan

media

komunikasi

tersebut

diharapkan

media-media

massa

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

tersebut perduli dan mendukung perubahan perilaku yang diperkenalkan.

Dengan demikian media massa tersebut dapat menjadi mitra dalam rangka

penyebarluasan informasi dan akhirnya diharapkan terbentuklah sebuah

opini

publik

yang

positif

terhadap

perubahan

perilaku

baru

yang

diperkenalkan

dan

akhirnya

mereka

masyarakat

mau

melaksanakan

2.3.2.

perilaku baru tersebut dalam kehidupannya. 3. berupa kebijakan (misal dalam bentuk tokoh masyarakat formal yang
perilaku baru tersebut dalam kehidupannya.
3.
berupa
kebijakan
(misal
dalam
bentuk
tokoh
masyarakat
formal
yang
umumnya
berperan
penentu kebijakan di bidangnya.
Promosi Kesehatan oleh Puskesmas

Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis atau terencana untuk

mendapatkan komitmen adan dukungan dari pihak-pihak yang terkait

(stakeholders). Advokasi diarahkan untuk mendapatkan dukungan yang

dana,

perundang-undangan),

sarana, dan lain-lain sejenisnya. Stakeholders yang dimaksud bisa berupa

penentu

sebagai

kebijakan pemerintah dan penyandang dana pemerintah. juga dapat berupa

tokoh agama, tokoh adat, dan lain-lain yang umumnya berperan sebagai

Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu

wilayah kerja. Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan Puskesmas

adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi

setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya, agar terwujud derajat

kesehatan

yang

setinggi-tingginya,

dalam

rangka

mencapai

visi

“Indonesia

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

Sehat”. Untuk mencapai tujuan tersebut, Puskesmas harus menyelenggarakan tiga

fungsi, yaitu sebagai: (1) pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan,

(2) pusat pemberdayaan masyarakat, dan (3) pusat pelayanan kesehatan strata

pertama.

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) lemah atau lesu, gelisah, nyeri ulu hati disertai Penyebab penyakit
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
lemah
atau
lesu,
gelisah,
nyeri
ulu
hati
disertai
Penyebab
penyakit
adalah
virus
Dengue.
Virus
ini

dengan

2.4.

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang

disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti yang

ditandai dengan deman mendadak dua sampai tujuh hari tanpa penyebab yang

tanda-tanda

jelas,

perdarahan di kulit berupa bintik perdarahan (petechiae), lembam (ecchymosis)

atau ruam (purpura). Kadang-kadang mimisan, berak darah, muntah darah,

kesadaran menurun/renjatan atau syok (Depkes, 2006).

termasuk

kelompok

Arthropoda. Borne Viruses (Arbovirosis). Sampai saat ini dikenal ada 4 serotype

virus yaitu: (1). Dengue 1 diisolasi oleh Sabin pada tahun 1944 (2). Dengue 2

diisolasi oleh Sabin pada tahun 1944 (3). Dengue 3 diisolasi oleh Sather (4).

Dengue 4 diisolasi oleh Sather

Keempat type virus tersebut telah ditemukan diberbagai daerah di Indonesia

dan

yang

terbanyak

adalah

type

2

dan

type

3.

Penelitian

di

Indonesia

menunjukkan

dengue

type

3

merupakan

serotype

virus

yang

dominan

menyebabkan kasus yang berat.

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

Demam berdarah

dengue

merupakan

salah

satu

penyakit

menular

yang

disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti

maupun Aedes albopictus. Yang paling berperan dalam penularan penyakit ini

adalah nyamuk aedes aegypti karena hidupnya di dalam dan sekitar rumah,

sedangkan aedes albopictus hidupnya di kebun-kebun sehingga jarang kontak

manusia. Kedua jenis nyamuk terdapat hampir di Penularan penyakit DBD dapat terjadi apabila seorang dengue
manusia.
Kedua
jenis
nyamuk
terdapat
hampir
di
Penularan
penyakit
DBD
dapat
terjadi
apabila
seorang
dengue mengalami

dengan

seluruh

pelosok

Indonesia, kecuali ditempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di

atas permukaan laut, karena pada ketinggian tersebut suhu udara terlalu rendah

sehingga tidak memungkinkan bagi nyamuk untuk hidup dan berkembangbiak

(Depkes RI, 1991).

penderita

yang

di dalam darahnya mengandung virus dengue, yang kemudian menularkan kepada

orang lain dengan perantaraan gigitan nyamuk Ae. Aegypti atau Ae.albopictus.

Dalam darah penderita, virus

inkubasi selama 4-7 hari

(viremia) yang disebut dengan masa inkubasi intrinsik. Pada masa viremia ini

penderita berperan sebagai sumber infeksi kepada orang lain (Sumarmo, 1999).

Penularan demam berdarah dengue melalui bermacam cara antara lain:

a. Demam berdarah dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti betina.

b. Nyamuk ini mendapat virus dengue sewaktu menggigit/menghisap darah

orang yang sakit DBD dan tidak sakit DBD tetapi dalam darahnya terdapat

virus dengue.

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

c. Virus dengue yang terhisap akan berkembang biak dan menyebar keseluruh

tubuh nyamuk, termasuk kelenjar liurnya.

d. Bila nyamuk tersebut menggigit/menghisap darah orang lain, virus akan

berpindah bersama air liur nyamuk.

e. Bila orang yang tertular itu tidak memiliki kekebalan (umumnya anak-anak)

tertular itu tidak memiliki kekebalan (umumnya anak-anak) tersebut dibuat tidak berdaya sehi ngga orang tersebut tidak

tersebut dibuat tidak berdaya sehingga orang tersebut tidak sakit.

maka virus itu akan menyerang sel pembeku darah dan merusak dinding

pembuluh darah kecil (kapiler). Akibatnya terjadi pendarahan dan kekurangan

cairan yang ada dalam pembuluh darah orang itu.

f. Bila orang yang tertular mempunyai zat anti kekebalan yang cukup maka virus

g. Dalam darah manusia, virus dengue akan mati dengan sendirinya dalam waktu

lebih kurang satu minggu (Depkes RI, 2006).

Seseorang yang di dalam darahnya mengandung virus dengue merupakan

sumber penular penyakit DBD. Virus dengue berada dalam darah selama 4-7 hari

mulai 1-2 hari sebelum demam. Bila penderita tersebut digigit nyamuk penular,

maka virus dalam darah akan ikut terhisap masuk kedalam lambung nyamuk.

Selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaraingan

tubuh nyamuk termasuk dalam kelenjar liurnya (Depkes RI, 1992).

Penyakit Demam Berdarah dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.

Nyamuk ini mendapat virus dengue sewaktu menggigit, mengisap darah orang

yang sakit demam berdarah dengue atau tidak sakit tetapi dalam darahnya

terdapat virus dengue. Seseorang yang di dalam darahnya mengandung virus

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

dengue merupakan sumber penularan penyakit demam berdarah. Virus dengue

berada dalam darah selama 4-7 hari mulai hari 1-2 hari sebelum demam. Bila

penderita tersebut digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut

terhisap masuk dalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan memperbanyak

diri dan tersebar diberbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk di dalam kelenjar

Tanda-tanda Penyakit DBD
Tanda-tanda Penyakit DBD

liurnya. Kira-kira 1 minggu setelah mengisap darah penderita, nyamuk tersebut

siap untuk menularkan kepada orang lain (masa inkubasi ekstrinsik). Virus ini

akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu

nyamuk aedes aegypti yang telah menghisap virus dengue itu menjadi penular

(infektif) sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk

menusuk/mengigit, sebelum menghisap darah akan mengeluarkan air liur melalui

alat tusuknya (proboscis) agar darah yang diisap tidak membeku. Bersama air liur

inilah virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain (Depkes RI, 1992).

2.4.1.

Pada hari pertama sakit, penderita panas mendadak secara terus menerus dan

badan terasa lemah dan lesu. Pada hari kedua dan ketiga akan timbul bintik-bintik

perdarahan, lembam atau ruam pada kulit di muka, dada, lengan atau kaki dan

nyeri ulu hati serta kadang-kadang mimisan, berak darah atau muntah. Antara hari

ketiga

sampai

ketujuh,

panas

turun

secara

tiba-tiba.

Kemungkinan

yang

selanjutnya adalah penderita sembuh atau keadaan memburuk yang ditandai

dengan gelisah, ujung tangan dan kaki dingin dan banyak mengeluarkan keringat.

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

Bila keadaan berlanjut, akan terjadi renjatan (lemah lunglai, denyut nadi lemah

atau tidak teraba). Kadang-kadang kesadarannya menurun (Depkes, 1992).

Pada dasarnya pengobatan DBD bersifat simtomatik dan suportif yaitu

pemberian cairan oral untuk mencegah dehidrasi. Apabila cairan oral tidak dapat

diberikan

oleh

karena

tidak

mau

minum,

muntah

atau

neyeri

perut

yang

Transfusi darah diberikan kepada penderita yang
Transfusi
darah
diberikan
kepada
penderita
yang

berlebihan, maka cairan intravena (biasanya cairan ringer laktat atau NaCL) perlu

mengalami

diberikan.

perdarahan yang membahayakan seperti hematemesis, melena, serta penderita

yang menunjukkan penurunan kadar Hemoglobin (Hb), Hematokrit (Ht) pada

pemeriksaan berkala. Indikasi pemberian transfusi pada penderita yaitu jika ada

perdarahan yang jelas secara klinis dan abdomen yang semakin tegang dengan

penurunan kadar Hb yang mencolok (Depkes RI, 2004).

Pada fase demam dianjurkan (Depkes RI, 2006): (1) Istirahat di tempat

tidur (bed rest) selama masih demam (2) Obat antipiretik atau kompres hangat

diberikan bila diperlukan (3) Memberikan minum sebanyak-banyaknya, karena

penderita DBD mengalami kekurangan cairan di dalam tubuh. Oleh sebab itu

pertolongan pertama yang paling penting adalah memberi minum sebanyak-

banyaknya. Minuman dapat berupa jus buah, air teh manis, sirop, susu, serta

larutan oralit.

2.4.2. Vektor Penular

Nyamuk Aedes aegypti maupun Aedes albopictus merupakan vektor

penularan virus dengue dari penderita kepada orang lain melalui gigitan. Nyamuk

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

Aedes aegypti merupakan faktor penting di daerah perkotaan (daerah urban)

sedangkan di daerah pedesaan (daerah rural) kedua jenis spesies nyamuk Aedes

tersebut berperan dalam penularan. Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak

di

tempat

lembab

dan

genangan

air

bersih.

Sedangkan

Aedes

albopictus

berkembangbiak di lubang-lubang pohon dalam bambu, dalam lipatan daun dan

yang lembab, baik di dalam maupun dekat rumah.
yang
lembab,
baik
di
dalam
maupun
dekat
rumah.

dalam genangan air lainnya (Soedarto, 1995).

Tempat perkembangbiakan utama nyamuk Aedes aegypti adalah tempat-

tempat penyimpanan air di dalam atau di luar rumah, atau di tempat-tempat

umum, biasanya berjarak tidak lebih 500 meter dari rumah. Nyamuk ini tidak

dapat berkembang biak di genangan air yang berhubungan langsung dengan tanah

(Depkes, 1992).

Nyamuk-nyamuk ini berkembang biak di dalam air bersih dan tempat-tempat

betina

gelap

Nyamuk

meletakkan telurnya di bejana-bejana atau tempat-tempat penyimpanan air di

dalam atau di sekitar rumah, sekolah atau gedung perkantoran. Tempat yang

sering dijadikan bertelur adalah batok kelapa, drum, kaleng bekas, pot bunga,

ember, vas bunga, tatakan pot bunga, tangki air, tempat penampungan air pada

lemari es, baskom, pipa air, benda-benda yang terbuang dari kaca atau plastik,

ban-ban bekas dan botol-botol kosong, dan talang atap rumah yang tergenang sisa

air hujan (Depary, 2003).

Nyamuk ini mendapatkan virus dengue pada waktu mengisap darah penderita

DBD.

Jika

nyamuk

kelak

menggigit

orang

lain,

maka

virus

dengue

akan

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

dipindahkan bersama air liur nyamuk. Dalam waktu kurang dari 7 hari orang

tersebut dapat menderita sakit DBD. Virus DBD memperbanyak diri dalam tubuh

manusia dan akan ada dalam darah selama 1 minggu. Setelah nyamuk menggigit

dan menghisap darah penderita yang sedang dalam masa viremia, lalu dalam

tubuh nyamuk akan mangalami multiplikasi dan menyebar di berbagai jaringan

mangalami multiplikasi dan menyebar di berbagai jaringan tubuh termasuk dalam kelenjar air liur. Kira-kira 1 minggu

tubuh termasuk dalam kelenjar air liur. Kira-kira 1 minggu setelah menghisap

darah penderita, nyamuk tersebut telah siap untuk menularkan virus kepada orang

lain dengan tenggang waktu itu disebut masa inkubasi ekstrinsik (Sumarmo,

1999).

Virus dengue akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya.

Oleh karena itu nyamuk Aedes aegypti yang menghisap virus dengue ini menjadi

penular (infektif) sepanjang hidupnya. Penularan terjadi karena setiap kali nyamuk

menggigit, sebelum menghisap darah akan mengeluarkan air liur melalui salauran

alat tusuknya (probocis), agar darah yang dihisap tidak membeku. Bersama air

liur itulah virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain. Nyamuk Aedes

aegypti hidupnya antara 1-2 bulan (Depkes RI, 1992).

2.4.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penularan Penyakit DBD

Lingkungan merupakan tempat interaksi vektor penular penyakit DBD dengan

manusia yang dapat mengakibatkan terjadinya penyakit DBD. Hal-hal yang

diperhatikan di lingkungan yang berkaitan dengan vektor penularan DBD antara

lain:

a. Sumber air yang digunakan

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

Air

yang

digunakan

dan

tidak

berhubungan

langsung

dengan

tanah

merupakan tempat perindukan yang potensial bagi vektor DBD.

b. Kualitas Tempat Penampungan Air (TPA)

Tempat penampungan air yang berjentik lebih besar kemungkinan terjadinya

DBD dibandingkan dengan tempat penampungan air yang tidak berjentik.

merupakan faktor terbesar terjadinya DBD (Depkes, 1997). Upaya Penanggulangan DBD Penemuan Penderita pilek atau
merupakan faktor terbesar terjadinya DBD (Depkes, 1997).
Upaya Penanggulangan DBD
Penemuan Penderita
pilek
atau
diare.
Penyakit
ini
dianggap
sebagai
perdarahan
gastrointestinal
yang
berakhir
dengan

c. Kebersihan Lingkungan

Kebersihan halaman dari kaleng/ban bekas, tempurung, dan lain-lain juga

2.5.

2.5.1.

Selama hampir dua abad, penyakit dengue digolongkan sejajar dengan

diri

demam,

penyesuaian

seseorang terhadap iklim tropis. Tetapi, hal ini berubah sejak timbulnya wabah

demam dengue di Manila pada tahun 1953-1954, yang disertai renjatan (shock)

penderita,

dan

kematian

menyebabkan pandangan ini berubah (Soedarmo, 1988).

Pada awal perjalanan penyakit DBD tanda/gejalanya tidak spesifik. Oleh

karena itu masyarakat/keluarga diharapkan waspada jika terdapat tanda/gejala

yang mungkin merupakan awal perjalanan penyakit DBD (Depkes RI, 1992).

Apabila keluarga/masyarakat menemukan tanda/gejala di atas, maka penderita

segera diberi obat penurun panas golongan parasetamol. Beri kompres hangat dan

minum banyak seperti air teh, susu, sirop, oralit dan lain-lain. Jika dalam dua hari

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

panas tidak turun atau timbul tanda/gejala lanjut seperti perdarahan kulit (seperti

gigitan nyamuk), muntah-muntah, gelisah, mimisan dianjurkan segera dibawa

berobat ke dokter atau ke unit pelayanan kesehatan (Puskesmas, RS) atau sarana

pelayanan kesehatan lain untuk segera mendapat pemeriksaan dan pertolongan

(Depkes RI, 2006).

Pelaporan resmi dilakukan dengan jalan
Pelaporan
resmi
dilakukan
dengan
jalan

Dokter atau petugas kesehatan yang menentukan penderita DBD maka wajib

dilaporkan dalam 1 kali 24 jam ke Puskesmas sesuai dengan tempat tinggal

formulir

penderita.

mengirim

pemeriksaan spesimen DBD atau tanpa spesimennya kepada Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota setempat. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang No. 4 Tahun

1984 dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 560 Tahun 1989 (Depkes RI, 1992).

Penanggulangan seperlunya adalah kegiatan untuk mencegah atau membatasi

penularan penyakit DBD di rumah penderita/tersangka DBD dan lokasi sekitarnya

yang diperkirakan dapat menjadi sumber penularan lebih lanjut.

Jenis kegiatan yang dilakukan berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi

sebagai berikut (Depkes RI, 1992):

a.

Bila ditemukan penderita/tersangka DBD lainnya atau ditemukan satu atau

lebih penderita panas tanpa sebab yang jelas dan ditemukan jentik, dilakukan

penyemprotan (fogging focus) di rumah penderita dan sekitarnya dalam radius

200 meter, 2 siklus dengan interval 1 minggu (siklus 1 untuk mematikan

nyamuk Aedes aegypti yang ada dan siklus II untuk mematikan nyamuk Aedes

aegypti pada siklus 1 belum menjadi nyamuk atau masih berstadium pupa),

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

penyuluhan

dan

penggerakan

masyarakat

untuk

Pemberantasan

Sarang

Nyamuk.

b. Bila

ditemukan

penderita

tetapi

tidak

ditemukan

jentik,

dilakukan

penggerakan masyarakat PSN dan penyuluhan.

 

c. Bila

tidak

ditemukan

penderita

dan

tidak

ditemukan

jentik

dilakukan

a.

penyuluhan terhadap masyarakat.
penyuluhan terhadap masyarakat.

Penanggulangan lain yang dilakukan di desa/kelurahan rawan dilaksanakan

oleh petugas kesehatan dibantu masyarakat untuk mencegah terjadinya KLB dan

membatasi penyebaran penyakit ke wilayah lain. Jenis kegiatan disesuaikan

dengan stratifikasi daerah rawan sebagai berikut (Soegijanto, 2004):

Desa/kelurahan rawan I (endemis) yaitu apabila dalam tiga tahun terakhir setiap

tahun terjangkit DBD maka dilakukan:

i. Penyemprotan massal sebelum musim penularan, yaitu penyemprotan yang

dilakukan di sebagian atau di seluruh wilayah Desa/Kelurahan rawan I

sebelum masa penularan untuk membatasi penularan dan mencegah KLB.

ii. Pemeriksaan jentik berkala di rumah dan di tempat umum yaitu pemeriksaan

tempat-tempat penampungan air dan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes

aegypti yang dilakukan di rumah dan tempat umum secara teratur sekurang-

kurangnya tiga bulan sekali untuk mengetahui populasi jentik nyamuk penular

DBD dengan menggunakan indikator Angka Bebas Jentik (ABJ).

iii. Penyuluhan pada masyarakat.

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

b. Desa/kelurahan rawan II (sporadis) yaitu apabila dalam tiga tahun terakhir

terjangkit DBD tetapi tidak setiap tahun maka dilakukan:

i. Pemeriksaan jentik berkala.

ii. Penyuluhan pada masyarakat.

c. Desa/Kelurahan rawan III (potensial) yaitu apabila dalam tiga tahun terakhir

d.

Jentik Berkala di rumah dan tempat umum ketinggian lebih dari 1000 meter dari permukaan
Jentik
Berkala
di
rumah
dan
tempat
umum
ketinggian
lebih
dari
1000
meter
dari
permukaan

di kecamatan yang sama.

laut

tidak pernah terjangkit penyakit DBD tetapi penduduknya padat, mempunyai

hubungan transportasi yang ramai dengan wilayah lain dan persentase ditemukan

jentik lebih dari 5%, maka dilakukan:

i. Pemeriksaan

akan

tetapi

pemeriksaan di rumah di lakukan jika ada Desa/Kelurahan rawan I atau II

ii. Penyuluhan kepada masyarakat.

Desa/Kelurahan bebas yaitu desa/kelurahan yang tidak pernah terjangkit DBD,

dan

atau

yang

ketinggiannya kurang dari 1000 meter tetapi persentase rumah yang ditemukan

jentik kurang dari 5% maka dilakukan:

i.

Pemeriksaan jentik berkala di tempat umum.

ii.

Penyuluhan kepada masyarakat.

2.5.2.

Pelaporan dan Tindak Lanjut Penanggulangan DBD

Dokter atau petugas kesehatan yang menemukan kasus/tersangka DBD

diwajibkan melapor kepada Puskesmas setempat sesuai dengan domisili (tempat

tinggal) pasien dan membuat surat pengantar untuk disampaikan kepada kepala

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

desa/kelurahan melalui keluarga pasien. Laporan kasus/tersangka DBD dari

Rumah Sakit dan Puskesmas Perawatan lalu dikirim kepada Dinas Kesehatan

Kabupaten/ Kota, dengan tembusan kepada Puskesmas sesuai dengan tempat

tinggal pasien yang bersangkutan. Pelaporan dilakukan 24 jam setelah diagnosa

sementara ditegakkan.

Puskesmas yang menerima laporan adanya kasus DBD melaksanakan penyelidikan Epidemiologis dan penanggulangan focus
Puskesmas yang menerima laporan adanya kasus DBD melaksanakan
penyelidikan
Epidemiologis
dan
penanggulangan
focus
untuk
membatasi
penularan penyakit DBD:
1.
Penyelidikan
Epidemiologi:
meliputi
kegiatan
pencarian
penderita
DBD
tambahan/tersangka DBD, serta pemeriksaan jentik di rumah pasien dan 20
rumah sekitarnya. Tujuan penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui ada/
tidaknya risiko penularan lebih lanjut.
2.
Penanggulangan fokus di lapangan meliputi kegiatan:
a.
Penyemprotan
insektisida
(fogging
focus)
bila
sesuai
indikasi,
yaitu:
ditemukan ≥ 1 kasus DBD lainnya, ditemukan 3 penderita panas tanpa
sebab yang jelas (tersangka DBD) serta ditemukan jentik > 5% rumah/
bangunan yang diperiksa.
b.
Penggerakan
masyarakat
untuk
PSN
secara
bersama-sama
yang
dikoordinasi olrh Kepala Desa/Kelurahan setempat.
c.
Jika diperlukan dilakukan larvadinasi (terutama untuk daerah sulit air).
d.
Penyuluhan
kepada
masyarakat
tentang
gejala/tanda
dini
DBD
dari

pertolongan pertama oleh masyarakat serta PSN DBD.

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

Desa

Desa Dinas Kesehatan Puskesmas dan Penyelidikan Epidemiologi Puskesmas Perawatan RS/Unit pelayanan Kesehatan Gambar
Dinas Kesehatan Puskesmas dan Penyelidikan Epidemiologi Puskesmas Perawatan
Dinas Kesehatan
Puskesmas dan
Penyelidikan Epidemiologi
Puskesmas Perawatan
RS/Unit pelayanan Kesehatan Gambar 2.1. Alur Pelaporan Kasus DBD Penataan Lingkungan Penataan lingkungan meliputi
RS/Unit pelayanan Kesehatan
Gambar 2.1. Alur Pelaporan Kasus DBD
Penataan Lingkungan
Penataan
lingkungan
meliputi
berbagai
perubahan
yang
pencegahan
atau
mengurangi
perkembangbiakan

Keluarga

2.5.3.

menyangkut

sehingga

upaya

vektor

mengurangi kontak antara vektor dengan manusia adalah dengan melakukan

Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi

tempat perkembangbiakan buatan manusia, dan perbaikan desain rumah (Depkes

RI, 2003).

Pencegahan perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD adalah dengan

cara modifikasi lingkungan yaitu (Depkes RI, 2003):

1.

Perbaikan saluran air: Apabila aliran sumber air tidak memadai dan hanya

tersedia sedikit, maka harus diperhatikan kondisi penyimpanan air tersebut

pada

berbagai

jenis

wadah

karena

hal

perkembangbiakan aedes.

tersebut

dapat

meningkatkan

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

2. Talang air/tangki air bawah tanah atau sumber air bawah tanah anti nyamuk:

Perindukan jentik Ae.aegypti termasuk di talang air/tangki air bawah tanah

bangunan dari batu (masonary), saluran pipa air, maka strukturnya harus

dibuat anti nyamuk.

Pengelolaan lingkungan dapat dilakukan dengan cara (Depkes RI, 2003):

1.

2.

3.

penampungan air di lingkungan rumah tangga: Sumber utama Ae. Aegypti sebagian besar adalah wadah-wadah air
penampungan
air
di
lingkungan
rumah
tangga:
Sumber
utama
Ae.
Aegypti
sebagian
besar
adalah
wadah-wadah
air
untuk
keperluan
rumah
tangga,
termasuk
wadah
dari
bunga
dan
perangkap
semut:
Merupakan
sumber

Mengeringkan instalasi penampungan air: genangan air/kebocoran di ruang

berdinding batu, pipa penyaluran, katup, katup pintu air, kotak keran hidran,

meteran air dan lain-lain, akan dapat menampung air dan menjadi tempat

perindukan jentik Ae.aegypti bila tidak dirawat.

Tempat

perkembangbiakan

penampungan

keramik, tanah liat dan bak semen, galon dan wadah-wadah yang lebih kecil

sebagai penampungan air bersih atau hujan. Wadah penampungan air harus

ditutup dengan penutup rapat atau kasa.

Jamban/vas

perkembangbiakan Ae.aegypti yang banyak dijumpai. Semua harus dilubangi

sebagai lubang pengeringan. Untuk vas bunga dapat diberi campuran pasir dan

air. Jambangan bunga dari kuningan, bukan merupakan tempat perindukan

larva yang baik, sehingga dapat digunakan sebagai pengganti wadah dari kaca.

Perangkap semut dapat dibubuhi garam atau minyak.

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

4. Diwadah tertentu lainnya: Alat pendingin air, wadah kondensasi air di bawah

kulkas, dan pendingin ruangan harus secara teratur diperiksa, dikeringkan dan

dibersihkan.

5. Pembuangan sampah padat: Sampah padat seperti kaleng, botol, ember atau

sejenisnya yang tersebar di sekitar rumah harus dipindahkan dan dikubur

dengan pasir, pecahan gelas, atau semen untuk
dengan
pasir,
pecahan
gelas,
atau
semen
untuk

Aedes. Ban dapat didaur ulang untuk menghasilkan barang-barang.

di dalam tanah.

6. Pembuangan Ban: Ban bekas merupakan tempat perkembangbiakan utama

7. Mengisi lubang pagar: Pagar atau pembatas pagar yang terbuat dari tanaman

8.

berlubang seperti bambu harus dipotong pada ruasnya dan pagar beton harus

mengurangi

dipenuhi

perindukan Aedes.

Botol, Kaca dan Kaleng: Semuanya merupakan wadah penampung air yang

harus dikubur di dalam tanah atau dihancurkan dan didaur-ulang untuk

keperluan industri.

Pengawasan kualitas lingkungan adalah cara pemberantasan vektor DBD

melalui pengawasan kebersihan lingkungan oleh masyarakat. Cara ini bertujuan

untuk

menghilangkan

pemukiman

penduduk.

tempat

perindukan

nyamuk

Kegiatan

yang

dilakukan

Ae.aegypti

adalah:

(1)

dari

daerah

Pengawasan

kebersihan lingkungan disetiap rumah termasuk sekolah, tempat-tempat umum

(TTU) dan tempat-tempat industri (TTI) oleh masyarakat seminggu sekali, (2)

Penyuluhan

kebersihan

lingkungan

dan

penggerakan

masyarakat

dalam

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

kebersihan lingkungan dan masyarakat dalam kebersihan lingkungan melalui

gotong royong secara berkala, (3) Pemantauan kualitas menggunakan indikator

kebersihan dan indeks vektor DBD (Chahaya, 2003).

2.6. Faktor-faktor yang Menyebabkan Sulitnya Penanggulangan DBD

Faktor-faktor yang Menyebabkan Sulitnya Penanggulangan DBD jentik secara berkala ada ta pi belum berjalan maksimal.

jentik secara berkala ada tapi belum berjalan maksimal.

Faktor manusia erat kaitannya dengan peran serta dalam penanggulangan

vektor DBD di masyarakat. Mobilitas penduduk yang tinggi dapat memudahkan

penyebarluasan DBD dari suatu tempat ke tempat lain. Menurut Depkes RI

(2003), bahwa populasi penduduk, kepadatan penduduk di suatu wilayah dengan

mobilitas yang tinggi mempunyai potensi yang besar untuk meningkatnya jumlah

kasus serta bertambahnya wilayah terjangkitnya penyakit DBD.

Dari laporan Depkes RI tahun 2003, penyebab sulitnya pemberantasan DBD

disebabkan antara lain:

1. Tenaga pemantau jentik tetap di masyarakat yang bertugas untuk memantau

2. Faktor biaya juga salah satu penghambat pelaksanaan program pemberantasan

penyakit DBD. Tidak adanya dana khusus menyebabkan banyaknya pokja-

pokja (kelompok kerja) DBD yang telah dibentuk di kecamatan tidak berjalan

dan berfungsi seperti yang diharapkan, padahal peran serta masyarakat pada

pokja sangat potensial dalam memberantas penyakit DBD.

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

3. Sistem surveilans yang sangat penting belum dilakukan dengan baik, terlihat

dari beberapa perencanaan kegiatan surveilans yang tidak direalisasikan dan

minimnya dana operasional kegiatan surveilans.

4. Penentuan diagnosis yang cepat dan tepat sebagai deteksi dini kasus dan

pemutusan rantai penularan juga belum dilakukan secara optimal. Tidak

adanya peralatan untuk menghitung trombosit dan hematokrit, mempengaruhi kecepatan penetapan diagnosis (Depkes RI,
adanya
peralatan
untuk
menghitung
trombosit
dan
hematokrit,
mempengaruhi kecepatan penetapan diagnosis (Depkes RI, 2003).
Kerangka Pikir Penelitian
didapat kerangka pikir penelitian sebagai berikut:
Peran Keluarga
- Pemberantasan
Nyamuk
sarang
- Sanitasi Lingkungan
Penanggulangan
Terhadap
Peran Petugas Kesehatan
- Tanggung Jawab Petugas
- Promosi Kesehatan
- Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN)

yang

merupakan penunjang diagnosis secara laboratorium di puskesmas sangat

2.7.

Berdasarkan landasan teoritis yang telah dipaparkan sebelumnya, maka

Gambar 2.2. Kerangka Pikir Penelitian

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis

penelitian

yang

digunakan

pada

penelitian

ini

adalah

penelitian

yang terjadi di masyarakat. Dengan pribadi individu dan kelompok, serta bagaimana mereka menjalankan
yang
terjadi
di
masyarakat.
Dengan
pribadi
individu
dan
kelompok,
serta
bagaimana
mereka
menjalankan
kehidupannya
dengan
cara

deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yang berupaya melihat sedalam mungkin

fenomena

itu

kejadian-kejadian

melihat

kehidupan

kehidupan

mempengaruhi motif, tindakan, serta komunikasi mereka (Daymon, 2001).

Pendekatan dengan melihat fenomena yang ada di masyarakat ditujukan untuk

membantu memasuki sudut pandang orang lain, dan berupaya untuk memahami

serta

bagaimana

mereka,

pemahaman bahwa realitas pemahaman setiap individu berbeda.

Penelitian ini, fenomena yang akan digali adalah faktor-faktor penyebab

terjadinya penyakit demam berdarah dengue dan upaya-upaya penanggulangan

yang telah dilakukan.

3.2. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Perumnas Helvetia Medan. Alasan pemilihan

lokasi

penelitian

di

Perumnas

Helvetia

dikarenakan

Perumnas

merupakan

perumahan dengan padat penduduk yang juga mobilitas masyarakatnya sangat

tinggi sehingga sampai saat ini masih ditemukan penderita penyakit demam

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

berdarah

dengue,

walaupun

telah

penyakit demam berdarah dengue.

dilakukan

upaya-upaya

penanggulangan

Pengamatan

dan

wawancara

saya

lakukan

di

wilayah

kerja

Puskesmas

Helvetia

yaitu

di

sekitar

Perumnas

Helvetia

Kecamatan

Medan

Helvetia,

penelitian ini dilaksanakan mulai pada bulan Februari 2009 – April 2009.

3.3.

mulai pa da bulan Februari 2009 – April 2009. 3.3. Pemilihan Informan Informan pada penelitian ini

Pemilihan Informan

Informan pada penelitian ini adalah keluarga yang dapat memberikan

informasi ataupun keterangan yang dibutuhkan yaitu keluarga baik itu ibu, bapak

maupun anggota keluarga yang lain yang tinggal dalam satu rumah baik yang

pernah menderita demam berdarah dengue maupun yang tidak menderita demam

berdarah dengue. Informan selanjutnya dan petugas penunjang lain yaitu kepala

lingkungan yang juga sebagai petugas Jumantik.

Informan atau keluarga yang menjadi subjek penelitian ini sebanyak 4

(empat) keluarga yang diambil dari warga Perumnas Helvetia. Dari kempat

keluarga yang menjadi subjek penelitian ini, ternyata secara kebetulan ada dua

keluarga yang anggota keluarganya pernah menderita penyakit demam berdarah

dan dua keluarga lagi belum pernah menderita demam berdarah. Walaupun

ternyata

secara

kebetulan

terdapat

jumlah

yang

sama

antara

yang

pernah

menderita

dan

tidak

pernah

menderita

demam

berdarah

bukanlah

suatu

kesengajaan

apalagi

untuk

membuat

perbandingan

perilaku

keluarga

dalam

penanggulangan penyakit demam berdarah.

Karmila : Peran Keluarga Dan Petugas Puskesmas Terhadap Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Perumnas Helvetia Medan Tahun 2009, 2009 USU Repository © 2008

Selain

mewawancarai

keluarga

saya

juga

mewawancarai

petugas

kesehatan

yaitu

petugas

penanggung

jawab

program

demam

berdarah

di

Puskesmas

Helvetia