Anda di halaman 1dari 51

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA Tn.

S
DENGAN MASALAH KESEHATAN ARTRITIS
DI DUSUN KRAJAN SELATAN RT.03 RW.03DESA DUKUH MENCEK
KECAMATAN SUKORAMBI JEMBER

A. KONSEP DASAR KELUARGA


1. Pegertian Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan
beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam
keadaan saling ketergantungan (Effendy,2005).
2.

Tahap-tahap Kehidupan Keluarga


a. Tahap pembentukan keluarga,

tahap

ini

dimulai

dari

pernikahan,

yang

dilanjutkan dalam membentuk rumah tangga.


b. Tahap menjelang kelahiran anak, tugas utama keluarga untuk mendapatkan
keturunan sebagai generasi penerus, melahirkan anak merupakan kebanggaan bagi
keluarga yang merupakan saat-saat yang sangat dinantikan.
c. Tahap menghadapi bayi, dalam hal ini keluarga mengasuh, mendidik, dan
memberikan kasih sayang kepada anak karena pada tahap ini bayi kehidupannya
sangat bergantung kepada orang tuanya. Dan kondisinya masih sangat lemah.
d. Tahap menghadapi anak prasekolah, pada tahap ini anak sudah mulai mengenal
kehidupan sosialnya, sudah mulai bergaul dengan teman sebaya,

tetapi sangat

rawan dalam masalah kesehatan karena tidak mengetahui mana yang kotor dan mana
yang bersih. Dalam fase ini anak sangat sensitif terhadap pengaruh lingkungan
dan tugas keluarga adalah mulai menanamkan norma-norma kehidupan, normanorma agama, norma-norma sosial budaya, dsb.
e. Tahap menghadapi anak sekolah, dalam tahap ini tugas keluarga adalah bagaimana
mendidik anak, mengajari anak untuk mempersiapkan
membiasakan anak belajar secara

teratur, mengontrol

masa

tugas-tugas

depannya,
di

sekolah

anak dan meningkatkan pengetahuan umum anak.


f. Tahap menghadapi anak remaja,

tahap ini adalah tahap yang paling rawan,

karena dalam tahap ini anak akan mencari identitas diri dalam membentuk

kepribadiannya, oleh karena itu suri tauladan dari

kedua orang

tua

sangat

diperlukan. Komunikasi dan saling pengertian antara kedua orang tua dengan anak
perlu dipelihara dan dikembangkan.
g. Tahap melepaskan anak ke masyarakat, setelah melalui tahap remaja dan anak telah
dapat menyelesaikan pendidikannya, maka tahap selanjutnya adalah

melepaskan

anak ke masyarakat dalam memulai kehidupannya yang sesungguhnya, dalam tahap


ini anak akan memulai kehidupan berumah tangga.
h. Tahap berdua kembali, setelah anak besar dan menempuh kehidupan keluarga
sendiri-sendiri,tinggallah suami istri berdua saja. Dalam tahap ini keluarga akan
merasa sepi, dan bila tidak dapat menerima kenyataan akan dapat menimbulkan
depresi dan stress.
i. Tahap masa tua, tahap ini masuk ke tahap lanjut

usia, dan kedua orang tua

mempersiapkan diri untuk meninggalkan dunia yang fana ini.


3. Tugas Perkembangan Sesuai Dengan Tahap Perkembangan
a. Keluarga baru menikah
1) Membina hub. Intim
2) Bina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok sosial
3) Mendiskusikan rencana punya anak
b. Keluarga dengan anak baru lahir
1) Persiapan menjadi orang tua
2) Adaptasi keluarga baru, interaksi keluarga, hubungan seksual
c. Keluarga dengan usia pra sekolah
1)
2)
3)
4)
5)

Memenuhi kebutuhan anggota keluarga rumah, rasa aman


Membantu anak untuk bersosialisasi
Mempertahankan hubungan yg sehat klg intern dan luar
Pembagian tanggung jawab
kegiatan untuk stimulasi perkembangan Anak

d. Keluarga dengan anak usia sekolah


1) Membantu sosialisasi anak dg lingkungan luar
2) Mempertahankan keintiman pasangan

3) Memenuhi kebutuhan yang meningkat


e. Keluarga dengan anak remaja
1) Memberikan kebebasan seimbang dan bertanggugung jawab
2) Mempertahankan hubungan intim dg keluarga
3) Komunikasi terbuka : hindari, debat, permusuhan
4) Persiapan perubahan sistem peran
f. Keluarga mulai melepas anak sebagai dewasa
1)
2)
3)
4)

Perluas jaringan keluarga dari keluarga inti ke extended


Mempertahankan keintiman pasangan
Membantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru
Penataan kembali peran orang tua

g. Keluarga usia pertengahan


1) Mempertahankan kesehatan Individu dan pasangan usia pertengahan
2) Hubungan serasi dan memuaskan dg anak-anaknya dan sebaya
3) Meningkatkan keakraban pasangan
h. Keluarga usia tua
1)
2)
3)
4)
4.

Mempertahankan suasana saling menyenangkan


adapatasi perubahan: kehilangan pasangan, kekuatan Fisik, penghasilan
Mempertahankan keakraban pasangan
Melakukan life review masa lalu

Struktur Keluarga
Struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam, diantaranya adalah :
a. Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.
b. Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
c. Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.
d. Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama kelurga sedarah suami.
e. Keluarga kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan warga
dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan
dengan suami atau istri.

5. Ciri-ciri Struktur Keluarga


Menurut Anderson Carter ciri-ciri struktur keluarga :

a. Terorganisasi: saling berhubungan, saling ketergantungan, antara anggota keluarga.


b. Ada keterbatasan: setiap

anggota memiliki

kebebasan

tetapi mereka

juga

mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masing.


c. Ada perbedaan dan kekhususan: setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan
fungsinya masing-masing.
6.

Tipe/Bentuk Keluarga
a. Keluarga inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan
Anak-anak.
b. Keluarga besar (Extended Family) adalah keluarga Inti ditambah dengan
sanak

saudara, misalnya : nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi,

dan sebagainya.
c. Keluarga berantai (Serial Family) adalah keluarga yang terdiri dari satu wanita dan
pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
d. Keluarga Duda/Janda (Single Family) adalah keluarga yang terjadi karena perceraian
atau kematian.
e. Keluarga berkomposisi

(Camposite)

adalah keluarga yang perkawinannya

berpoligami dan hidup secara bersama.


f. Keluarga Kabitas
pernikahan

(Cahabitasion)

adalah

dua

orang menjadi

tapi membentuk suatu keluarga. Keluarga

Indonesia

satu

tanpa

umumnya

menganut tipe keluarga besar (extended family) karena masyarakat Indonesia


yang terdiri dari beberapa suku hidup dalam suatu komuniti dengan adat istiadat yang
sangat kuat.
7.

Pemegang Kekuasaan Dalam Keluarga


a. Patriakal, yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak
Ayah.
b. Matriakal, yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak
Ibu.
c. Equlitarian, yang memegang dalam keluarga adalah Ayah dan Ibu.

8.

Peranan Keluarga
Peranan

keluarga menggambarkan

seperangkat

perilaku

interpersonal,

sifat,

kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan
individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok
dan masyarakat.
Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut :
a. Peranan Ayah : Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai pencari
nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai
anggota

dari

kelompok

sosialnya

serta

sebagai anggota dari kelompok

sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.


b. Peranan Ibu : Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk
mengurus

rumah

tangga,

sebagai

pengasuh

dan

pendidik

anak-anaknya,

pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai
anggota masyarakat

dari

lingkungannya, disamping

itu

juga

ibu

dapat

berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.


c. Peran Anak

: Anak-anak melaksanakan

peranan

psikosial

sesuai

dengan

tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.


1. Fungsi Keluarga
Menurut Friedman (1999), lima fungsi keluarga adalah sebagai berikut:
a. Fungsi efektif Adalah fungsi internal keluarga untuk pemenuhan kebutuhan psikosial,
saling mengasah dan memberikan cinta kasih, serta saling menerima dan
mendukung.
b. Fungsi sosialisasi Adalah proses perkembangan dan pembahan individu keluarga,
tempat anggota keluarga berinteraksi social dan belajar berperan di lingkungan
social.
c. Fungsi reproduksi Adalah fungsi keluarga memutuskan kelangsungan keturunan dan
menambah SDM.
d. Fungsi ekonomi Adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seperti
sansang pangan dan papan.

e. Fungsi perawatan kesehatan Adalah kemampuan keluarga untuk merawat anggota


keluarga yang mengalami masalah kesehatan.
Ahli lain membagi fungsi keluarga, sebagai berikut :
a. Fungsi Pendidikan. Dalam hal ini tugas keluarga adalah mendidik dan
menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak bila
kelak dewasa.
b. Fungsi Sosialisasi anak. Tugas keluarga dalam menjalankan fungsi

ini adalah

bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.


c. Fungsi Perlindungan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah melindungi anak dari
tindakan-tindakan yang tidak baik sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan
merasa aman.
d. Fungsi Perasaan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah menjaga secara instuitif
merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi
dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian
satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
e. Fungsi Religius. Tugas keluarga dalam fungsi
mengajak anak

dan

anggota

keluarga

ini adalah memperkenalkan dan


yang

lain

dalam kehidupan

beragama, dan tugas kepala keluarga untuk menanamkan keyakinan bahwa


ada

keyakinan

lain

yang

mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain

setelah di dunia ini.


f. Fungsi Ekonomis. Tugas kepala keluarga dalam hal
sumber-sumber kehidupan dalam memenuhi

ini adalah mencari

fungsi-fungsi keluarga yang lain,

kepala keluarga bekerja untuk mencari penghasilan, mengatur penghasilan itu,


sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga.
g. Fungsi Rekreatif. Tugas keluarga dalam fungsi rekreasi ini tidak harus selalu pergi
ke tempat rekreasi, tetapi yang penting bagaimana menciptakan suasana yang
menyenangkan dalam keluarga sehingga dapat dilakukan di rumah dengan cara
nonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dsb.
h. Fungsi Biologis. Tugas keluarga yang utama dalam hal ini adalah untuk
meneruskan keturunan sebagai generasi penerus.

Dari berbagai fungsi di atas ada 3 fungsi pokol kelurga terhadap keluarga lainnya, yaitu :
a.

Asih

adalah memberikan

kehangatan,pada anggota keluarga

kasih

saying,

perhatian,

rasa

sehingga memungkinkan mereka

aman,
tumbuh

dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya.


b.

Asuh adalah menuju kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar


kesehatannya selalu terpelihara sehingga memungkinkan menjadi anak-anak sehat
baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.

c.

Asah adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap menjadi


manusia dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya.

2.

Tugas-tugas Keluarga
Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut :
a.

Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya

b.

Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga

c.

Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya


masing-masing

d.

Sosialisasi antar anggota keluarga

e.

Pengaturan jumlah anggota keluarga

f.

Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga

g.

Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas

h.

Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya

3. Bentuk-Bentuk keluarga
a.

Keluarga inti

b.

Keluarga asal

c.

Keluarga keluar

d.

Keluarga berantai

e.

Keluarga janda/duda

f.

Keluarga komposit

g.

Keluarga rehabilitasi

h.

Keluarga insus

i.

Keluarga tradisional dan nontradisional

4.

5.

Struktur Kekuatan Keluarga


a.

Kemampuan berkomunikasi

b.

Kemampuan keluarga saling berbagi

c.

Kemampuan system pendukung diantara anggota keluarga.

d.

Kemampuan perawatan dini

e.

Kemampuan menyelesaikan masalah


Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan

Keluarga dalam masalah kesehatan mempunyai tugas

pemeliharaan kesehatan para

anggotanya dan saling memelihara. Suprajitno (2004) membagi 5 tugas kesehatan yang
harus dilakukan oleh keluarga yaitu mengenal gangguan atau masalah perkembangan
kesehatan setiap anggota keluarga, setelah mengenal keluarga diharapkan mampu
mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat. keluarga juga bertugas
memberi keperawatan kepada anggota keluarganya yang sakit dan yang tidak dapat
membantu dirinya karena cacat atau usia yang terlalu muda.
Dalam hal lingkungan untuk menjamin kesehatan, keluarga diharapkan dapat
memodifikasi lingkungan sehingga tidak terjadi dampak dari lingkungan yang tidak sehat
baik didalam maupun diluar rumah.

Suprajitno (2004) menambahkan keluarga

memannfaatkan dengan baik fasilitas-fasilitas kesehatan dalam menjamin kondisi yang


sehata didalam keluarga.
B. FOKUS PENGKAJIAN
1.

Identitas keluarga
Pengkajian identitas keluarga terdiri dari adalah umur, pekerjaan, tempat tinggal, dan
tipe keluarga. Pada umumnya penderita hipertensi merupakan penyakit yang
dipengaruhi oleh pola hidup terutama pola hidup yang salah, pola hidup yang
berhubungan dengan emosi yang negative seperti emosi yang tidak terkendali atau

temperamental, ambisius, pekerja kerasyang tidak tenang, takut dan kecemasan yang
berlebihan (Indomedia, 2002).
2.

Latar belakang budaya /kebiasaan keluarga


a. Kebiasaan makan
Kebiasaan makan ini meliputi jenis makanan yang dikosumsi oleh Keluarga. Pada
keluarga dengan hipertensi sering dijumpai pola makan yang tidak benar seperti
mengkosumsi makanan yang banyak mengandung zat pengawet ,makanan yang
asin serta emosi yang negatif
b. Pemanfaatan fasilitas kesehatan
Perilaku keluarga didalam memanfaatkan fasilitas kesehatan merupakan faktor
yang penting dalam penggelolaan penyakit hipertensi. Adanya sumber pelayanan
kesehatan digunakan untuk upaya pencegahan dan pengobatan dini karena dapat
mencegah timbulnya komplikasi (Rokhaeni,2001).
c. Pengobatan tradisional
Keluarga dapat mengobati hipertensi dengan pengobatan tradisional, yaitu minum
sari bawang putih yang ditumbuk halus dan diberi air secukupnya di minum pagi
dan sore (Hariadi, 2001). Hipertensi akan menjadi parah dan menimbulkan
komplikasi bila pasien tidak memilih pengobatan tradisional hipertensi yang benar
dan tepat justru akan memperparah dan bahkan akan menimbulkan gangguan pada
organ lain seperti hati, ginjal dan lambung.

3.

Status Sosial Ekonomi


a.

Pendidikan
Tingkat pendidikan keluarga mempengaruhi keluarga dalam mengenal hipertensi
beserta pengelolaannya. berpengaruh pula terhadap pola pikir dan kemampuan
untuk mengambil keputusan dalam mengatasi masalah dangan tepat dan benar.

b.

Pekerjaan dan Penghasilan


Penghasilan yang tidak seimbang juga berpengaruh terhadap keluarga dalam
melakukan pengobatan dan perawatan pada angota keluarga yang sakit salah
satunya disebabkan karena hipertensi. Menurut (Effendy,1998) mengemukakan

bahwa ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit salah
satunya disebabkan karena tidak seimbangnya sumber-sumber yang ada pada
keluarga.
4.

Tingkat perkembangandan riwayat keluarga


Riwayat keluarga mulai lahir hingga saat ini. termasuk riwayat perkembangan dan
kejadian serta pengalaman kesehatan yang unik atau berkaitan dengan kesehatan yang
terjadi dalam kehidupan keluarga yang belum terpenuhi berpengaruh terhadap
psikologis seseorang yang dapat mengakibatkan cemas stres(Friedman, 1998).

5.

Aktiftas
Aktifitas fisik yang keras dapat menambah terjadinya peningkatan tekanan darah.
Serangan hipertensi dapat timbul sesudah atau waktu melakukan kegiatan fisik, seperti
olah raga.

6.

Data Lingkungan
a. Karakteristik rumah
Cara memodifikasikan lingkungan fisik yang baik seperti lantai rumah, penerangan
dan fentilasi yang baik dapat mengurangai faktor penyebab terjadinya hipertansi
dan juga ketenangan dalam rumah tangga dapat memperkecil serangan hipertensi.
b. Karakteristik Lingkungan
Menurut (Friedman,1998) derajad kesehatan dipengaruhi oleh lingkungan.
Ketenangan lingkungan sangat mempengaruhi derajat kesehatan tidak terkecuali
pada hipertensi.
c. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Masalah dalam keluarga dapat menjadi salah satunya faktor pencetus terjadinya
hipertensi dimana akan menyebabkan cemas merupakan faktor resiko hipertensi.

7.

Struktur Keluarga
a. Pola komunikasi

Menurut (Nursalam, 2001) Semua interaksi perawat dengan pasien adalah


berdasarkan komunikasi. Istilah komunikasi teurapetik merupakan suatu teknik
diman usaha mengajak pasien dan keluarga untuk bertukar pikiran dan perasaan.
Tekhnik tersebut mencakup ketrampilan secara verbal maupun non verbal, empati
dan rasa kepedulian yang tinggi.
b. Struktur Kekuasaan
Kekuasaan dalam keluarga mempengaruhi dalam kondisi kesehatan, kekuasaan
yang otoriter dapat menyebabkan stress psikologik yang mempengaruhi dalam
hipertensi.
c. Struktur peran
Bila anggota keluarga menerima dan konsisten terhadap peran yang dilakukan,
maka ini akan membuat anggota keluarga puas atau tidak ada konflik dalam peran,
dan sebaliknya bila peran tidak dapat diterima dan tidak sesuai dengan harapan
maka akan mengakibatkan ketegangan dalam keluarga (Friedman, 1998).

8.

Fungsi Keluarga
a.

Fungsi afektif
Keluarga yang tidak menghargai anggota keluarganya yang menderita hipertensi,
maka akan menimbulkan stresor

tersendiri bagi penderita. Hal ini akan

menimbulkan suatu keadaan yang dapat menambah seringnya terjadi serangan


hipertensi karena kurangnya partisipasi keluarga dalam merawat anggota keluarga
yang sakit (Friedman, 1998).
b.

Fungsi sosialisasi

Keluarga memberikan kebebasan bagi anggota keluarga yang menderita hipertensi


dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Bila keluarga tidak memberikan
kebebasan pada anggotanya, maka akan mengakibatkan anggota keluarga menjadi
sepi. Keadaan ini mengancam status emosi menjadi labil dan mudah stress.
c.

Fungsi kesehatan
Pengetahuan keluarga tentang penyakit dan penanganannya
1)

Mengenal masalah kesehatan


Ketidaksanggupan keluarga mengenal masalah kesehatan pada keluarganya,
salah satunya adalah disebabkan karena kurang pengetahuan (Effendy, 1998).
Bila keluarga tidak mampu mengenali masalah hipertensi yang disertai anggota
keluarganya, maka hipertensi akan berakibat terjadinya komplikasi.

2)

Mengambil keputusan.
Ketidaksanggupan keluarga mengambil keputusan dalam melakukan tindakan
yang tepat, disebabkan karena tidak memahami mengenai sifat, berat dan
luasnya masalah tidak begitu menonjol (Eendy, 1998).

3)

Merawat anggota keluarga yang sakit


Ketidakmampuan merawat anggota keluarga yang sakit disebabkan karena
tidak mengetahui keadaan penyakit, misalnya komplikasi, progrfosis, cara
perawatan dan sumber-sumber yang ada dalam keluarga.

4)

Memelihara lingkungan rumah yang sehat


Keluarga diharapkan mengetahui keuntungan atau manfaat pemeliharaan
lingkungan yang sehat, dan menyadarinya sebagai salah satu media perawatan
bagi anggota keluarga yang sakit.
Lingkungan rumah yang berdebu dan asap rokok bisa menjadi pemicu
serangan hipertensi (Sundaru, 2001). Dengan melihat hal tersebut, keluarga
harus mampu memodifikasi lingkungan yang sehat dan nyaman bagi penderita
hipertensi.

5)

Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada


Pengetahuan keluarga tentang keberadaan dan keuntungan yang didapat dari
fasilitas-fasilitas kesehatan, sangat berpengaruh terhadap penderita hipertensi.

Fasilitas kesehatan di masyarakat sangat berperan daiam hal ini, juga saat
penderita hipertensi memerlukan pengobatan.
9.

Pola istirahat tidur


Istirahat tidur seseorang akan terganggu manakala sedang mengalami masalah yang
belum terselesaikan. Pada penderita hipertensi, gangguan istirahat tidur sering
diakibatkan oleh sesak nafas dan batuk. Tidak terpenuhinya kebutuhan istirahat tidur
beresiko memperburuk keadaan hipertensi.

10.

Pemeriksaan fisik anggota keluarga


Sebagaimana prosedur pengkajian yang komprehensif, pemeriksaan fisik juga dilakukan
menyeluruh dari ujung rambut sampai kuku. Setelah ditemukan masalah kesehatan,
pemeriksaan fisik lebih difokuskan lagi pada pemeriksaan sistem pernafasan terutama
pada penderita hipertensi dikarenakan dengan adanya hipertensi dapat terjadi
peningkatan tekanan intra kranial yang dapat menyebabkan kelainan pada syaraf yang
mempersyarafi pada pernafasan.

11.

Koping keluarga
Bila ada stresor yang muncul dalam keluarga, sedangkan koping keluarga tidak efektif,
maka ini akan menjadi stres anggota keluarga yang berkepanjangan. Salah satu
pencegahan agar serangan hipertensi tidak sering muncul adalah dengan mencegah
timbulnya stres (Tanjung, 2003).

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Menentukan Prioritas Masalah
a.

Berdasarkan sifat atau tifologi masalah. Penelitian masalah adalah sebagai berikut :
1.

Ancaman keluarga

Keadaan yang dapat beresiko terjadinya penyakit, kecelakaan atau kegagalan


dapat mempertahankan kesehatan optimal m,isalnya riwayat penyakit
keturunan, resiko tertular, resiko kecelakaan dan lain-lain.
2.

Kurang sehat
Suatu keadaan sedang sakit atau gagal mencapai kesehatan optimal, misalnya
sedang sakit dan kegagalan tumbuh kembang.

3.

Krisis
Suatu keadaan individu atau keluarga memerlukan penyesuaian lebih banyak
dalam hal sumber daya yang dimiliki, misalnya kehamilan, aborsi, lahir diluar
nikah dan kehilangan orang yang dicintai.

b.

Kemungkinan masalah dapat diubah adalah kemungkinan berhasilnya mengurangi


masalah keperawatan atau mencegah masalah bila ada tindakan tertentu. Pemberian
nilainya adalah :
( 2 ) dengan mudah
( 1 ) hanya sebagian
( 0 ) tidak dapat diubah

c.

Retensi masalah untuk dicegah adalah sifat dan beratnya masalah keperawatan yang
akan terjadi bila dapat dikurang atau dicegah. Pemberian nilanya adalah (3) tinggi,
(2) cukup, (1) rendah.

d.

Munculnya masalah adalah cara keluarga memandang dan menilai masalah


keperawatan berkaitan dengan berat dan mendesaknya untuk segera diatasi untuk
segera diatasi, pemberian nilainya adalah masalah berat dan harus segera diatasi (2),
msalah dirasakan tetapi perlu segera diatasi (1) dan masalah tidak dirasakan (0).

N
o
1 Sifat masalah
- Ancaman
- Kurang sehat
- Krisis

Kriteria

Skor

Bobot
1

2
3
1

Nilai
2

/3 x 1

2 Kemungkinan masalah dapat diubah


Dengan mudah
Hanya sebagian
Tidak dapat
3 Potensial masalah untuk dicegah
Tinggi
cukup
Rendah
4 Menonjolnya masalah
Masalah berat yang harus segera diatasi
Masalah dirasakan, tapi tidak perlu segera
diatasi
Masalah tidak dirasakan

x2

x1

2
1
0
/3 x 1

3
2
1
2
1
0

2. Diagnosis Keperawatan Keluarga


Tiga kelompok besar dalam tipologi masalah kesehatan keluarga adalah sebagai berikut
a.

Ancaman kesehatan adalah sebagai berikut


1) Penyakit keturunan
2) Keluarga atau anggota yang mengidap penyakit menular
3) Jumlah anggota keluarga terlalu terlalu besar atau tidak sesuai dengan
kemampuan dengan sumber daya keluarga
4) Resiko terjadi kecelakaan dalam keluarga
5) Kekurangan atau kelebihan gizi
6) Keadaan yang dapat menimbulkan stress
7) Sanitasi lingkungan buruk
8) Kebiasaan yang merugikan kesehatan

b.

Kurang atau tidak sehat adalah kegagalan mereka memantapkan kesehatan

c.

Situasi krisis
1) Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan karena hal-hal
berikut:
a)

Kurang pengetahuan atau tidak mengetahui fakta

b) Rasa takut akibat masalah yang diketahui


c)

Sikap dan falsafah hidup

2) Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan dalam melakukan tindakan


yang tepat karena hal-hal sebagai berikut:
a)

Keluarga tidak memahami dan mengenal sifat dan luasnya msalah

b) Fasilitasi kesehatan tidak terjangkau


c)

Ketidakcocokan pendapat terjadi antara anggota keluarga

3) Ketidakmampuan merawat anggota keluarga yang sakit karena hal-hal sebagai


berikut :
a)

Tidak mengetahui keadaan penyakit

b) Ketidaseimbangan sumber yang ada dalam keluarga


c)

Konflik individu dalam keluarga

d) Perilaku yang mementingkan diri sendiri


4) Ketidakmampuan memelihara lingkungan rumah yang dapat mengalami
kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga karena hal-hal berikut :
a)

Sumber dari keluarga tidak cukup

b) Ketidaktahuan pentingnya sanitasi lingkungan


c)

Kurang mampu memelihara keuntungan dan manfaat dari pemeliharaan


lingkungan murah.

d) Ketidakompakan keluarga karena sifat mementingkan diri sendiri.


5) Ketidakmampuan menggunakan sumber dimasyarakat untuk memelihara
kesehatan karena hal-hal berikut :
a)

Rasa takut akibat dari tindakan

b) Tidak memahami keuntungan yang diperoleh


c)
4.

Kualitas yang diperlukan tidak terjangkau

Intervensi Keperawatan Keluarga


Perencanaan merupakan suatu proses merumuskan tujuan yang diharapkan sesuai
prioritas masalah keperawatan keluarga, memilih strategi keperawatan yang tepat dan
mengembangkan rencana asuhan keperawatan keluarga sesuai dengan kebutuhan klien.

B. Konsep Artritis

1. Pengertian

Artritis pirai (Gout) adalah suatu proses inflamasi yang terjadi karena deposisi kristal asam
urat pada jaringan sekitar sendi. gout terjadi sebagai akibat dari hyperuricemia yang
berlangsung lama (asam urat serum meningkat) disebabkan karena penumpukan purin atau
ekresi asam urat yang kurang dari ginjal.Gout mungkin primer atau sekunder.
Pirai atau gout adalah suatu penyakit yang ditandai dengan serangan mendadak dan berulang
dari artritis yang terasa sangat nyeri karena adanya endapan kristal monosodium urat, yang
terkumpul di dalam sendi sebagai akibat dari tingginya kadar asam urat di dalam darah
(hiperurisemia).
- Gout primer
Merupkan akibat langsung pembentukan asam urat tubuh yang berlebih atau akibat
penurunan ekresi asam urat
- Gout sekunder
Disebabkan karena pembentukan asam urat yang berlebih atau ekresi asam urat yang
bekurang akibat proses penyakit lain atau pemakaian obat tertentu.
2. Etiologi
Gout disebabkan oleh adanya kelainan metabolik dalam pembentukan purin atau ekresi
asam urat yang kurang dari ginjal yang menyebakan hyperuricemia. Hyperuricemia pada
penyakit ini disebabakan oleh pembentukan asam urat yang berlebih.

Gout primer metabolik disebabkan sistensi langsung yang bertambah.


Gout sekunder metabolik disebabkan pembentukan asam urat berlebih karena
penyakit lain, seperti leukemia.

Kurang asam urat melalui ginjal.

Gout primer renal terjadi karena ekresi asam urat di tubulus distal ginjal yang sehat.

Penyabab tidak diketahui


Gout sekunder renal disebabkan oleh karena kerusakan ginjal, misalnya
glumeronefritis kronik atau gagal ginjal kronik.

3. Patofisiologi

Banyak factor yang berperan dalam mekanisme serangan gout. Salah satunya yang telah
diketahui peranannya adalah kosentrasi asam urat dalam darah. Mekanisme serangan gout
akut berlangsung melalui beberapa fase secara berurutan.
a. Presipitasi kristal monosodium urat.
b. Presipitasi monosodium urat dapat terjadi di jaringan bila kosentrasi dalam plasma
lebih dari 9 mg/dl. Presipitasi ini terjadi di rawan, sonovium, jaringan para- artikuler
misalnya bursa, tendon, dan selaputnya. Kristal urat yang bermuatan negatif akan
dibungkus (coate) oleh berbagai macam protein. Pembungkusan dengan IgG akan
merangsang netrofil untuk berespon terhadap pembentukan kristal.
c. Respon leukosit polimorfonukuler (PMN)
d. Pembentukan kristal menghasilkan faktor kemotaksis yang menimbulkan respon
leukosit PMN dan selanjutnya akan terjadi fagositosis kristal oleh leukosit.
e. Fagositosis
f. Kristal difagositosis olah leukosit membentuk fagolisosom dan akhirnya membram
vakuala disekeliling kristal bersatu dan membram leukositik lisosom.
g. Kerusakan lisosom
h. Terjadi kerusakn lisosom, sesudah selaput protein dirusak, terjadi ikatan hidrogen
antara permukan kristal membram lisosom, peristiwa ini menyebabkan robekan
membram dan pelepasan enzim-enzim dan oksidase radikal kedalam sitoplasma.
i. Kerusakan sel Setelah terjadi kerusakan sel, enzim-enzim lisosom dilepaskan kedalam
cairan sinovial, yang menyebabkan kenaikan intensitas inflamasi dan kerusakan
jaringan.
4. Gambaran klinis
a. Fase akut
Biasanya timbul tiba-tiba, tanda-tanda awitan serangan gout adalah rasa sakit yang hebat dan
peradangan lokal. Kulit diatasnya mengkilat dengan reaksi sistemik berupa demam,
menggigil, malaise dan sakit kepala. Yang paling sering terserang mula-mula adalah ibu jari
kaki (sendi metatarsofalangeal) tapi sendi lainnya juga dapat terserang. Serangan ini
cenderung sembuh spontan dalam waktu 10-14 hari meskipun tanpa terapi.
b. Fase kronis
Timbul dalam jangka waktu beberapa tahun dan ditandai dengan rasa nyeri, kaku, dan pegal.
Akidat adanya kristal-kristal urat maka terjadi peradangan kronik. Sendi yang bengkak akibai
gout kronik sering besar dan berbentuk noduler. Tanda yang mungkin muncul :
- Tampak deformitas dan tofus subkutan.
- Terjadi pemimbunan kristal urat pada sendi-sendi dan juga pada ginjal.

- Terjadi uremi akibat penimbunan urat pada ginjal


- Mikroskofik tanpak kristal-kristal urat disekitar daerah nekrosisi.
5. Faktor yang berperan
- Diet tinggi purin, karen asam urat dibentuk dari purin.
- Kelaparan dan intake etil alkohol yang berlebih.
- Penggunaan obat diuritik, anti hipertensi , salisilat dosis rendah.
6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan non medik.
a. Diet rendah purin.
Hindarkan alkohol dan makanan tinggi purin (hati, ginjal, ikan sarden, daging
kambing) serta banyak minum.
b. Tirah baring.
Merupakan suatu keharusan dan di teruskan sampai 24 jam setelah serangan
menghilang. Gout dapat kambuh bila terlalu cepat bergerak.
Penatalaksanaan medik.
a. Fase akut.
Obat yang digunakan :1. Colchicine (0,6 mg)
Indometasin ( 50 mg 3 X sehari selama 4-7 hari)
Fenilbutazon.
b. Pengobatan jangka panjang terhadap hyperuricemia untuk mencegah komplikasi.
1. Golongan urikosurik
- Probenasid, adalah jenis obat yang berfungsi menurunkan asam urat dalam
serum.
- Sulfinpirazon, merupakan dirivat pirazolon dosis 200-400 mg perhari.
- Azapropazon, dosisi sehari 4 X 300 mg.
- Benzbromaron.
2. Inhibitor xantin (alopurinol).
Adalah suatu inhibitor oksidase poten, bekerja mencegah konversi hipoxantin
menjadi xantin, dan konversi xantin menjadi asam urat.
C. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian.

a. Identitas pasien.
b. Keluhan utama.
Nyeri pada daerah persendian.
c. Riwayat kesehatan.
d. Riwayat adanya faktor resiko :
- Peningkatan kadar asam urat serum.
- Riwayat keluarga positif.
B. Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik berdasarkan pengkajin fungsi muskuluskletal dapat menunjukan
- Ukuran sendi normal dengan mobilitas penuh bila pada remisi.
- Tofu dengan gout kronis. Ini temuan paling bermakna.
- Laporan episode serangan gout.
C. Pemeriksaan diagnostik.
- Kadar asam urat serum meningkat.
- Laju sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat.
- Kadar asam urat urine dapat normal atau meningkat.
- Analisis cairan sinovial dari sendi terinflamasi atau tofi menunjukan kristal urat
monosodium yang membuat diagnosis.
- Sinar X sendi menunjukan massa tofaseus dan destruksi tulang dan perubahan sendi.
D. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri behubungan dengan kerusakan integritas jaringan sekunder tehadap gout
ditandai dengan pasien mengunkapkan ketidak nyamanan, merintih, melindungi sisi
yang sakit, meringis.
Kreteria hasil : nyeri berkurang
Intervensi

1. Pantau kadar asam urat serum.


2. Berikan istirahat dengan kaki ditnggikan.
3. Berikan kantung es atau panas basah.
4. Berikan analgesik yang diprogramkan.
5. Berikan obat anti gout yang diresepkan dan evaluasi keefektifannya.
6. Instruksikan pasien untuk minim2-3 liter cairan setiap hari dan meningkatkan
masukn makanan pembuat alkalis seperti susu, buah sitrun dan daging.
2. Resiko tinggi terhadap perubahan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah
berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, dan rencana tindakan,
koping tidak efektif pada kondisi kronis, ditandai dengan pasien mengungkapkan
ketidak pahaman dan meminta informasi.
Kreteria hasil : mengungkapkan pemahaman tentang instruksi perawatan diri dan
rencana perawatan dan pengobatan.
Intervensi :

1. Berikan informasi tentang kondisi, proses penyakit dan rencana pengobatan.


2. Ajarkan pasien apa yang harus dilakukan selama serangan, instruksi meliputi :
- Mengistirahatkan sendi yang nyeri.
- Tinggikan eksrtemitas dan berikan kantung es atau panas basah.
- Hindarkan aktivitas yang meningkatkan ketidak nyamanan.
3. Ajarkn pasien bagaimana mengontrol serangan gout, instruksi harus meliputi :
Menghidarkan faktor pencetus, mengunakan obat anti gout sesuai resep.
Diagnosa keperawatan lain yang mungkin muncul.
1. Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan, sendi
benkok, deformitas.
2. Resiko cidera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot, rasa nyeri.
3. Ganguan aktivitas sehari-hari berhubungandengan terbatasnya gerakan sekunder
akibat nyeri pada persendian

SATUAN ACARA PENYULUHAN


Pokok Bahasan

: PHBS

Sub Pokok Bahasan : Pengertian PHBS


Sasaran

: Keluarga Tn.S

Waktu

: 25 menit

Tanggal

: 20 Juni 2012

A.

Tujuan Instruksional Umum

Setelah mendapat pembekalan penyuluhan, diharapkan keluarga Tn.S mengerti dan


melaksanakan Prilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS)
B.

Tujuan Instruksional Khusus


Setelah mendapat pembekalan penyuluhan, diharapkan keluarga Tn.S mampu:

C.

1.

Menjawab Pengertian PHBS.

2.

Mengerti akan manfaat PHBS

3.

Menjawab 10 indikator PHBS


Materi

1. Pengertian PHBS.
2. Manfaat PHBS
3. 10 indikator PHBS
D.

Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab

E.

Media
Leaflet, Laptop

F.
No
1.

Kegiatan Penyuluhan
FASE
Pra Interaksi

KEGIATAN MAHASISWA
WAKTU
a. Mengucapkan salam

WAKTU
5 menit

KEGIATAN
SASARAN
a. Menjawab salam

b. Memperkenalkan diri
c. Menyampaikan
tujuan

Mendengarkan

penyuluhan
Meminta kontrak waktu

2.

penyuluhan

dan

menyetujui

kontrak waktu

Pengembangan a. Menyampaikan
menjelaskan

tujuan

dan 10 menit
materi

a. Mendengarkan
pembacaan materi

penyuluhan kepada sasaran


mengenai:
1. Pengertian PHBS.
2. Manfaat PHBS
3.
10 indikator PHBS
5 menit
b. Evaluasi / Tanya jawab
b. Menanyakan

hal

yang masih belum


jelas

dan

menjawab
pertanyaan

yang

diajukan
3.

Penutup

A.

Mengucapkan salam

5 menit

Menjawab salam

PENGERTIAN PHBS
Upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan
mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif
dalam gerakan kesehatan di masyarakat.

B.

MANFAATNYA PHBS

1. Setiap anggota rumah tangga meningkat kesehatannya dan tidak mudah


sakit

2. Dapat meningkatkakan produktifitas kerja anggota rumah tangga


3. Meningkatkan citra puskesmas dalam bidang kesehatan
4. Sebagai contoh rumah tangga bagi daerah lain
C.

INDIKATOR PHBS
terdiri dari 6 indikator perilaku dan 4 indikator lingkungan. Dengan rincian
sebagai berikut :
a.

Ibu bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan

b.

Ibu hanya memberikan ASI kepada bayinya

c.

Keluarga mempunyai Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPKM)

d.

Anggota keluarga tidak merokok

e.

Olah raga atau melakukan aktifitas fisik secara teratur

f.

Makan dengan menu gizi seimbang (makan sayur dan buah setiap hari)

g.

Tersedia air bersih

h.

Tersedia Jamban

i.

Kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni

j.

Rumah sehat terdiri dari:


1. Sirkulasi udara yang baik.
2. Penerangan yang cukup.
3. Air bersih terpenuhi
4. Pembuangan air limbah diatur dengan baik agar tidak menimbulkan
pencemaran.
5. Bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab serta
tidak terpengaruh pencemaran seperti bau, rembesan air kotor maupun
udara kotor, lantai tidak dari tanah

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN


Topik

: Rumah Sehat

Sasaran

: Anggota Rumah Tangga

Tempat
Waktu

: Rumah Tn. S
: 30 menit

A. LATAR BELAKANG

Rumah tangga merupakan asset atau modal utama pembangunan di masa depan
yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya.
B. TUJUAN
1. TUJUAN UMUM
Pada akhir proses pembelajaran, seluruh anggota rumah tangga dapat
memahami tentang rumah sehat
2. TUJUAN KHUSUS
Setelah diberikan penyuluhan ibu dapat :
a) Mengetahui pengertian rumah sehat
b) Menyebutkan kriteria rumah sehat
c) Menyebutkan manfaat lingkungan sehat
C. MATERI
a) Pengertian rumah sehat
b) Kriteria rumah sehat
c) Manfaat lingkungan sehat
D. METODE
Ceramah dan tanya jawab
E. MEDIA
Leaflet

F.

KEGIATAN PENYULUHAN

No.

WAKTU

KEGIATAN PENYULUH

1.

Membuka

menit

kegiatan

KEGIATAN PESERTA
dengan Menjawab salam

mengucapkan salam.
Menjelaskan

tujuan

dari Mendengarkan

penyuluhan
Menyebutkan materi yang akan Memperhatikan

diberikan

2.

20

Pelaksanaan :

menit

Menggali

ibu

pengetahuan

tentang rumah sehat

Memperhatikan
menjawab pertanyaan

Menjelaskan Pengertian rumah

Memperhatikan

sehat

Menyebutkan

Memperhatikan

Memperhatikan

kriteria rumah sehat

3.

5
menit

Menjelaskan

manfaat

rumah

sehat
Menanyakan

tentang

materi Menjawab pertanyaan

yang disampaikan
Mengucapkan terimakasih

mendengarkan

Salam

menjawab salam

RUMAH SEHAT
A. Pengertian Rumah Sehat
Rumah sehat adalah rumah yang layak dihuni, tidak harus berwujud rumah
mewah dan besar sehingga penghuni/masyarakat memperoleh derajat
kesehatan yang optimal
B. Kriteria Rumah sehat
1. Sirkulasi udara yang baik

dan

2. Penerangan yang cukup


3. Air bersih terpenuhi
4. Adanya pembuangan sampah
5. Jumlah penghuni disesuaikan dengan luas rumah
C. Manfaat Rumah Sehat
1.

Mencegah terjadinya penyakit

2.

Aman dan nyaman bagi penghuni

3.

Memberi ketenangan jiwa dan social

4.

Mencegah kecelakaan

RANCANGAN RENCANA KEGIATAN (PRA PLANNING)


ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA BAPAK SAFII
DENGAN LINGKUNGAN YANG TIDAK SEHAT
Nama mahasiswa

: DITAN AGUS TRIYUDA

NIM

: 0911012053

Nama KK

: Tn.S

Alamat

: RW 03 RT 03 Dusun Krajan Desa Dukuh Mencek Kec.


Sukorambi

Kunjungan ke

: 1 (Pertama)

A. FASE PERSIAPAN
Latar belakang kegiatan
Salah satu aspek yang penting dalam keperawatan adalah keluarga karena
keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang merupakan klien
keperawatan atau penerima asuhan keperawatan. Keluarga memiliki peran yang
sangat penting dalam menentukan cara asuhan yang diperlukan anggota
keluarga yang sakit.
Keluarga juga menempati posisi di antara individu dan masyarakat, sehingga
dengan memberikan pelayanan kesehatan kepada keluarga, perawat dapat
mendapatkan keuntungan dua sekaligus yaitu memenuhi kebutuhan individu dan
memenuhi kebutuhan masyarakat dimana keluarga itu berada.
Berkaitan dengan praktek keperawatan komunitas yang sudah mulai memasuki
kegiatan intervensi keperawatan, maka dilaksanakan juga penerapan asuhan
keperawatan keluarga kepada keluarga/klien yang memiliki resiko tinggi
terhadap kesehatan. Salah satunya adalah asuhan keperawatan keluarga pada
keluarga Bapak Abd Gofar, yang memiliki lingkungan yang tidak sehat.
Lingkungan tempat tinggal
Klien tinggal di rumah sendiri, dengan kondisi bangunan rumah yang kurang
cukup memenuhi syarat kesehatan. Rata rata penghuni di daerah tersebut
adalah penduduk pendatang (musiman) yang kurang memperhatikan syarat
pemukiman yang sehat dan layak sebagai tempat tinggal.

Tujuan Umum
Setelah kegiatan, maka keluarga Bapak Safii mampu menerapkan asuhan
keperawatan dengan lingkungan rumah yang sehat.
Tujuan khusus
Setelah kegiatan pada kunjungan pertama, maka keluarga Bapak safii mampu
mengenal masalah kesehatan di lingkungan rumah tinggalnya.
B. FASE PENDAHULUAN

Perkenalan
Pada tahap perkenalan, mahasiswa memperkenalkan diri (identitas: nama, asal
institusi) kepada klien. Klien juga memperkenalkan identitas diri dan suaminya.
Kontrak belajar asuhan
Menetapkan kontrak waktu pertemuan dengan klien yang disepakati oleh klien
dan mahasiswa, yaitu:
NO

URAIAN KEGIATAN

WAKTU

1.

a. Pengkajian, meliputi:

Selasa, 19-06-2012

Anamnesa

Observasi

Pemeriksaan fisik

Pk. 14.00 WIB - selesai

b. Pengkajian lanjutan, meliputi:


-

Pemeriksaan fisik lanjutan

Anamnesa data yang belum lengkap

c. Perencanaan, meliputi:

Rabu, 20-06-2012

Penentuan masalah keperawatan

Penentuan prioritas masalah

Pk. 15.00 WIB - selesai

d. Implementasi, meliputi:

Kamis, 21-06-2012

Penyuluhan tentang Rumah sehat

Pk. 10.00 WIB - selesai

Melakukan diskusi bersama tindakan yang


dapat dilakukan

e. Lanjutan implementasi, meliputi:


-

Jumat, 22-06-2012

Penyuluhan tentang Lingkungan sehat dan Pk.


rumah sehat

Diskusi

bersama

10.00

WIB

selesai
tindakan

yang

dapat

dilakukan
f. Evaluasi/terminasi, meliputi:
-

Evaluasi masalah

Sabtu,23-06-2012
Pk. 10.00 WIB - selesai

Tujuan kunjungan
a.

Mengadakan dan menyepakati kontrak waktu dengan klien Bapak S dan


keluarga.

b.

Mengadakan pengkajian tahap I.

C. FASE KERJA

Pertanyaan inti meliputi:


a. Data umum keluarga
b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
c. Pengkajian lingkungan tempat tinggal
d. Struktur keluarga
e. Fungsi keluarga
f. Stres dan koping keluarga
g. Pemeriksaan fisik
h. Harapan keluarga
Kegiatan yang dilaksanakan
a. Anamnesa untuk mengumpulkan data klien dan keluarga.
b. Observasi terhadap keadaan lingkungan fisik tempat tinggal keluarga Tn.S
c. Pemeriksaan fisik terhadap semua anggota keluarga.
D. FASE TERMINASI
Resume kegiatan.
Resume kegiatan yang telah dilaksanakan.
Kontrak waktu kegiatan berikut.
Kontrak waktu dsesuaikan dengan kesepakatan antara mahasiswa dengan
keluarga.
Lampiran:
Format pengkajian asuhan keperawatan keluarga

RANCANGAN RENCANA KEGIATAN (PRA PLANNING)


ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA BAPAK SAFII
DENGAN LINGKUNGAN YANG TIDAK SEHAT
Nama mahasiswa

: DITAN AGUS TRIYUDA

NIM

: 0911012053

Nama KK

: Tn.S

Alamat

: RW 03 RT 03 Dusun Krajan Desa Dukuh Mencek Kec.


Sukorambi

Kunjungan ke

: 2 (Kedua)

A. FASE PERSIAPAN
1. Menentukan tujuan kunjungan kedua
2. Menentukan Pengkajian Lingkungan
3. Observasi lingkungan dalam rumah, kamar dan dapur serta lingkungan sekitar
rumah
4. Pemeriksaan fisik seluruh anggota keluarga
B. Fase kerja
Kegiatan yang dilaksanakan
1. Melakukan wawancara pada keluarga tentang lingkungan rumah
2. Melakukan observasi lingkungan dari halaman luar, ruang tamu, ke tiga kamar
dapur dan kamar mandi
3. Melakukan pemeriksaan fisik pada anggota keluarga
C. FASE TERMINASI
Resume kegiatan.
Resume kegiatan yang telah dilaksanakan.
Kontrak waktu kegiatan berikut.
Kontrak waktu dsesuaikan dengan kesepakatan antara mahasiswa dengan
keluarga.
Lampiran:
Format pengkajian asuhan keperawatan keluarga
RANCANGAN RENCANA KEGIATAN (PRA PLANNING)
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA BAPAK SAFII
DENGAN LINGKUNGAN YANG TIDAK SEHAT
Nama mahasiswa

: DITAN AGUS TRIYUDA

NIM

: 0911012053

Nama KK

: Tn.S

Alamat

: RW 03 RT 03 Dusun Krajan Desa Dukuh Mencek Kec.


Sukorambi

Kunjungan ke

: 3 (Ketiga)

A. FASE PERSIAPAN
1. Menentukan tujuan kunjungan ketiga
2. Menyiapkan materi penyuluhan
B. Fase kerja
Kegiatan yang dilaksanakan
1. Menentukan waktu yang telah disepakati
2. Melakukan penyuluhan pada keluarga tentang lingkungan rumah
3. Memberi kesempatan klien untuk bertanya hal- hal yg kurang dimengerti
keluarga
4. Melakukan evaluasi tentang hasil dari penyuluhan.
C. FASE TERMINASI
Resume kegiatan.
Resume kegiatan yang telah dilaksanakan.
Kontrak waktu kegiatan berikut.
Kontrak waktu dsesuaikan dengan kesepakatan antara mahasiswa dengan
keluarga.
Lampiran:
Format pengkajian asuhan keperawatan keluarga

DEPARTEMEN KEPERAWATAN JIWA DAN KOMUNITAS


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
JEMBER
FORMAT PENGKAJIAN KELUARGA
I. IDENTITAS UMUM KELUARGA
a. Identitas Kepala Keluarga

Nama

: Tn. S

Pendidikan

: SD

Umur

: 65 Tahun

Pekerjaan

: Tani

Agama

: Islam

Alamat

: RW 03 RT 03

Suku

: Madura

Nomor Telp

: -

b. Komposisi Keluarga
No
Nama
1. Tn. S

L/P
L

Umur
65 Th

Hub. Klg
KK

Pekerjaan
Tani

Pendidikan
SD

2.

Ny. K

48 Th

Istri

Tani

SD

3.

Ny. B

75 Th

Ibu

Wiraswasta

4.

Ny. E

17 Th

Anak

IRT

SMP

5.

Nn. A

14 Th

Anak

Pelajar

SMP

6.

An. R

11 Th

Anak

Pelajar

SD

7.

An. A

4 Th

Anak

Pelajar

C. Genogram :
Keterangan
= Laki-laki
= Perempuan
= KK Binaan
= Meninggal
------- = Tinggal se rumah
d. Type Keluarga :
1). Jenis Type Keluarga : Keluarga ekstendet/ keluarga besar
2). Masalah yang terjadi dengan type tersebut : Gangguan pola asuh dimana
cucu dari anak kedua klien diasuh oleh neneknya yang sudah lansia.
e. Suku Bangsa
1). Asal suku bangsa : Jawa
2). Budaya yang berhubungan dengan kesehatan : Bila ada anggota keluarga
yang sakit, kadang-kadang

beli obat bebas diwarung atau dibawa ke

Puskesmas
f. Agama dan kepercayaan yang berhubungan dengan kesehatan : Agama dan
kepercayaan yang dianut klien dan keluarga adalah agama islam

g. Status sosial ekonomi keluarga :


1. Anggota keluarga yang mencari nafkah : Kepala keluarga
2. Penghasilan : Rp. 15.000 -20.000. sehari cukup untuk kebutuhan hidup
sehari-hari dan biaya sekolah anaknya .
3. Upaya lain : memelihara itik
4. Harta benda yang dimiliki (perabot, transportasi dll) : Meja, kursi,
alamari,tv dan sepeda motor tidak punya.
5. Kebutuhan yang dikeluarkan setiap bulan : Rp. 300.000
h. Aktifitas Rekreasi Keluarga : Tidak pernah.
II. RIWAYAT DAN PERKEMBANGAN KELUARGA
a. Tahap perkembangan keluarga saat ini (ditentukan dengan anak tertua)
anak pertama sudah nikah,masih sekolah SD,SMP mau meneruskan ke
SMA kelas I
b. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi dan gendalanya :
Tidak ada masalah
c. Riwayat kesehatan Keluarga inti :
1) Riwayat kesehatan keluarga saat ini : Keluarga dalam keadaan sudah
lansia klien mengeluh leher sampai kepundak mengeluh pegal, Istri
klien mengeluh pegal-pegal, cucu klien pada saat pengkajian sedang
flue.
2) Riwayat penyakit keturunan :

Suami istri tidak pernah mempunyai

penyakit keturunan dan penyakit menular


3). Riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga tidak ada masalah

No

Nama

Umur

BB

Keadaan

Immunisasi

Masalah

Tindakan

Kesehata

(BCG/Polio/

Kesehata

Yang telah

DPT/

dilakukan

Nyeri

1.

Tn. S

65 Th

55 kg

Pegal

HB/Campak
-

2.

Ny. K

48 Th

43 kg

Pegal

Nyeri

3.

Ny. B

75 Th

42 kg

Pusing

Nyeri

4.

Ny. E

17 Th

50 kg

Pusing

5.

Nn. A

14 Th

40 kg

Pilek

6.

An. R

11 Th

25 kg

Pilek

lengkap

7.

An. A

4 Th

15 kg

Pilek

lengkap

4). Sumber pelayanan kesehatan yang dimanfaatkan : Puskesmas


d. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya : Klien sudah lama mengeluh nyeri pada
leher
III. PENGKAJIAN LINGKUNGAN
a. Karakteristik Rumah
1). Luas rumah : 8x 14 m2
2). Type rumah : Permanen
3). Kepemilikan : Milik sendiri
4). Jumlah dan ratio kamar/ruangan : Luas rumah 112 m2 dibagi 3 anggota
= 37 m2 sangat ratio.
5). Ventilasi/Jendela : Ada, tidak pernah dibuka setiap hari cahaya ruang
tamu kurang, pencahayaan ketiga kamar sangat kurang, udara ruangan
rumah bau kotoran itik karena kandang itik berada didapur.
6). Pemanfaatan ruangan : Ruang tamu merangkap ruang keluarga
7). Septic Tank : ada di belakang rumah
8). Sumber air minum : Ada, lewat pipa
9). Kamar mandi/WC : Tidak ada
10). Sampah : Lubang tempat pembuangan sampah tidak ada, sementara
sampah ditumpuk di depan halaman lahan kosong punya tetangga,
setelah kering dibakar/ditimbun.
11). Kebersihan lingkungan : lingkungan rumah kebersihan kurang bersih
penataan ruang kamar tidak rapi dan kotor, samping rumah terdapat
kotoran itik dan bau, dapur dan sumur dekat kandang itik.
b. Karakteristik Tetangga dan Komunitas RW :
1). Kebiasaan : Masih banyak warga yang berak kesungai bila di WC
.alasannya tidak punya WC
2). Aturan dan kebiasaan : Tidak ada aturan dan kebiasaan yang mengikat
warga tentang masalah kesehatan.
3). Budaya : Gaya hidup gotong royang masih sangat kuat dilingkungan
warga RT. 03 RW. 03 Dusun Krajan Desa Sukorambi.
c. Mobilitas Geografis Keluarga : Sehari-hari kepala keluarga dan istri bekerja
di sawah sambil memelihara itik.

d. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan masyarakat : Keluarga aktif


mengikuti kegiatan dilingkungan

dan silaturahmi dengan tetangga yang

lainnya.
IV. STRUKTUR KELUARGA
a. Pola/cara komunikasi Keluarga : Sehari-hari dalam keluarga menggunakan
bahasa jawa
b. Struktur Kekuatan Keluarga : Ada pada kepala keluarga.
c. Struktur Peran ( Peran masing-masing keluarga) :

Kepala keluarga

bertanggung jawab mencari nafkah, istri juga mencari nafkah membantu


suami.
d.

Nilai dan Norma Keluarga : Beragama Islam dan menjalankan sholat 5

waktu, mengajari anak-anaknya mengaji.


V. FUNGSI KELUARGA
a. Fungsi afektif : Keluarga mau menerima saran/masukan tentang masalah
kesehatan dari petugas.
b. Fungsi sosialisasi
1). Kerukunan hidup dalam keluarga : Satu sama lain sangat rukun
2). Interaksi dan hubungan dalam keluarga : Sangat harmonis
3). Anggota keluarga yang dominan dalam pengambilan keputusan : Tidak
ada semua permasalahan diselasaikan dengan musyawarah dan mufakat.
4).

Kegiatan keluarga waktu senggang : berkumpul dengan keluarga dan


anak-anak

5). Partisivasi dalam kegiatan sosial : Sangat aktif dalam kegiatan pengajian
c. Fungsi Keperawatan Kesehatan
1). Pengetahuan dan persepsi keluarga tentang penyakit/masalah kesehatan
keluarganya : Pengetahuan keluarga tentang kesehatan masih minim, hal
ini tampak perilaku untuk BAB di sungai.
2). Kemampuan keluarga mengambil keputusan tindakan kesehatan yang
tepat : Bila sakit keluarga berobat di Puskesmas
3). Kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit : Sangat
baik penuh perhatian dan kesabaran.

4). Kemampuan keluarga memelihara lingkungan rumah yang sehat : Baik,


setiap hari rumah dan halaman rumah dibersihkan.
5) Kemampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan di masyarakat :
Baik, bila ada anggota keluarga yang sakit dibawa ke Posyandu dan
Puskesmas.
d. Fungsi reproduksi
1). Perencanaan jumlah anak : tidak ada
2). Akseptor KB : ya, yang digunakan suntik
3). Akseptor KB : tidak di kaji
4). Keterangan lain : tidak dikaji
e. Fungsi Ekonomi
1). Usaha pemenuhan sandang pangan : beli di Warung
2). Pemanfaatan sumber di masyarakat : tidak ada
VI. STRESS DAN KOPING KELUARGA
a. Stressor jangka pendek : Langsung diselesaikan
b. Stressor jangka panjang :

Dimusyawarahkan untuk mencarari jalan

keluarnya, bila tidak berhasil tetap berusaha dan berdoa mohon petunjuk
kepada Allah SWT.
c. Respon keluarga terhadap stressor : Sangat positif
d. Strategi koping : Musyawarah dan mufakat
e. Strategi adaptasi disfungsional : Dipikir dulu baik buruknya, bila baik
diikuti, bila buruk dijauhi.
VII. KEADAAN GIZI KELUARGA
Pemenuhan gizi : Untuk kebutuhan sehari-hari beli diwarung dekat rumah,
klien mengatakan makan sehari- hari dengan lauk dan sayur
Upaya lain : Tidak ada
VII. PEMERIKSAAN FISIK
a. Identitas
Nama

: Tn.S

Umur

: 65 Tahun

L/P

: Laki- laki

Pendidikan : SD
Pekerjaan : Tani

b. Keluhan/riwayat penyakit saat ini : Sudah lebih kurang 1 bulan klien


mengeluh leher sampai pundak terasa sakit ,sudah dibawa ke Puskesmas
c. Riwayat penyakit sebelumnya : Sebelumnya klien mengatakan tidak pernah
sakit yang berat
d. Tanda-tanda vital TD 120//90 mmhg, Nadi : 84 x/mnt.
e. System Cardio Vasculer : S1S2 = Suara tunggal, teraba pada ictus cordis
CS 3/4.
f. System Respirasi : RR= 20x/menit, tidak ada suara tambahan ronki dan
wheezing
g. System Gastro Intestinal (GI Tract) : Perut datar, peristaltik usus positif
18x/menit, nyeri tekan tidak ada.
h. System Persyarafan : Refleks babinsky normal, refleks patella normal
i. System Muskuloskeletal : Tonus otot menurun, turgor kulit sedikit menurun.
j. System Genitalia : tidak dikaji
IX. HARAPAN KELUARGA
a. Terhadap masalah kesehatannya : Keluarga berharap tetap dalam keadaan
sehat terus agar tetap dapat bekerja
b. Terhadap petugas kesehatan yang lain : Keluarga menerima saran/masukan
yang diberikan oleh petugas tentang masalah kesehatan yang tidak sehat, dan
akan berusaha memperbaiki sarana kesehatan yang tidak sehat tersebut
semampunya.

FORMAT PEMERIKSAAN FISIK ANGGOTA KELUARGA

No Pemeriksaan
Tn.S
Ny.K
Ny.B
Ny.E
Nn.A
An.R
An.A
1. Kepala
Kulit
kepala Kulit kepala Kulit kepala Kulit kepala Kulit kepala Kulit
kepala Kulit
kepala
Bersih tdk ada Bersih

tdk Bersih

tdk Bersih

tdk Bersih

tdk Bersih tdk ada Bersih tdk ada

ketombe, rambut ada ketombe, ada ketombe, ada ketombe, ada ketombe, ketombe, hitam, ketombe, hitam,

TTV

putih dan hitam, hitam, lurus

rambut putih hitam, lurus

lurus

dan

hitam, lurus

lurus

lurus

hitam,

lurus
RR: 22x/mnt

RR: 20x/mnt

RR: 20x/mnt

RR: 20x/mnt

RR: 20x/mnt

TD:140/70

TD:100/80

TD:110/80

TD:100/80

N: 80x/mnt

mmHg

mmHg

mmHg

mmHg

N: 80x/mnt

N: 88x/mnt

N: 80x/mnt

N: 80x/mnt

N: 80x/mnt

BB 55 kg

BB 48

BB 45 kg

BB 43 kg

BB 42 kg

BB 35 kg

BB 20 kg

TB 155 cm

TB156 cm

TB 156 cm

TB 150 cm

TB 150 cm

TB 120 cm

TB 80 cm

Pernafasan
vesikolor,
sesak,
22x/mnt

RR: 20x/mnt
tdk TD:120/80
RR: mmHg

,TD:120/90
mmHg
N: 88x/mnt
3

BB,TB,PB

Mata

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Hidung

Normal

Normal

Normal

Normal

Pilek

Pilek

Pilek

Mulut

Bersih

Bersih

Bersih

Bersih

Bersih

Bersih

Bersih

Leher

Nyeri

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Dada

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Perut

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

FORMAT ANALISA DATA


ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
Nama Mahasiswa : DITAN AGUS TRIYUDA
Tanggal Analisa
No
1

: 19 Juni 2012

Tanggal
Data
19 - 06 - 2012 Ds: Klien mengatakan leher saya
pegal-pegal dan lutut sakit
Do: - Klien memegang leher
belakangnya
-Tangan kanan memijit leher

Diagnosa Keperawatan
Nyeri pada Tn.S ybd
kurang pengetahuan klien
tentang

penyakit

beban

kerja

dan
yang

berlebihan

- TD: 120/90 mmhg


- Nadi: 84x/ menit
2

19 - 06 - 2012

Do: Klien mengatakan Jendela


jarang dibuka
Ds : - Jendela tetap tertutup pada

Gangguan manajemen
pemeliharaan rumah
Ketidaktahuan keluarga &

kunjungan kedua

ketidak ampuan keluarga

-Penerangan saat kunjungan

mengenal masalah

cukup pada ruang tamu

kesehatan lingkungan.

- Ruang kamar pencahayaan


sangat kurang, penataan
ruang kotor
- Dapur lembab dekat dengan
kandang itik dan bau kotoran
itik, pencahayaan kurang
- Kandang itik terdapat
dibelakang di samping rumah
3

19 - 06 - 2012

dekat dengan dapur


Ds: -. Klien mengatakan Saya
masih tetap merokok
Do : - Usia Klien 65 tahun
- Klien sedang memegang
rokok di tangan
-TD 120/90 mmhg

Resiko terjadi penurunan


derajat kesehatan pada
lansia
merokok

ybd kebiasaan

SCORING/PRIORITAS
DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA
Diagnosa Keperawatan 1 : Gangguan manajemen pemeliharaan rumah
Ketidaktahuan keluarga & ketidak mampuan keluarga mengenal masalah kesehatan
lingkungan
No

Kriteria

Nilai

Bobot

Scoring

Pembenaran

1.
2.

Sifat Masalah
Kemungkinan masalah

2
3

1
2

2/3x1= 2/3

Pencahayaan kurang

3/3x2 = 1

dan bau kotoran itik


Sumber dan tindakan

dapat dicegah :

untuk

memecahkan

masalah

dapat

dijang
3.

Potensial untuk dicegah

2/3x1= 2/3

kau oleh keluarga.


Kemungkinan dapat
dicegah

adalah

rendah karena harus


membuat
pencahayaan yg baru
& kandang itik jauh
4.

Menonjolnya masalah

3/3x1= 1

dari rumah
Keluarga

tidak

menyadari

masalah

yang ada
Total skor =

10

3, 1/3

Diagnosa Keperawatan 2 : Resiko terjadi penurunan derajat kesehatan pada lansia


ybd kebiasaan merokok
No
Kriteria
1. Sifat Masalah
2.

Kemungkinan masalah
dapat dicegah :

Nilai
2
1

Bobot
1
2

Scoring
2/3x1= 2/3

Pembenaran
Usia tua masih

1/3x2 = 2/3

merokok
Untuk merubah
kebiasaan tidak
merokok sangat
sulit karna sudah

menjadi kebiasaan
3.

Potensial untuk dicegah

3/3x1= 1

yg lama
Kemungkinan
untuk dicegah

4.

Menonjolnya masalah

1/3x1= 1/3

sangat rendah
Merokok menjadi
suatu kebiasaan dan
masalah tersebut
tidak dirasakan
klien

Total skor =

2,2/3

Diagnosa Keperawatan 3 : Nyeri pada Tn.S bd kurang pengetahuan klien tentang


penyakit dan beban kerja yang berlebihan
No
Kriteria
1. Sifat Masalah

Nilai
2

Bobot
1

Scoring
2/3x1 = 2/3

Pembenaran
Tn.S mengeluh leher
pundak dan kaki

2.

Kemungkinan masalah

1/3x2 = 1/3

dapat dicegah :
3.

Potensial untuk dicegah

sakit
Konsumsi makan
setiap hari tidak

1/3x1= 1/3

mengandung lemak
Keluarga
mengatakan kalau

minum obat sakitnya


4.

Menonjolnya masalah

1/3x1= 1/3

akan hilang
Nyeri yg ada tidak
dirasakan dgn tetap
bekerja

Total skor =

1, 2/3

INTERVENSI ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


Nama Mahasiswa : DITAN AGUS TRIYUDA
Tanggal

: 20 Juni 2012

Tujuan

Diagnosa
Keperawatan

TUM

Evaluasi
TUK

Kriteria

Standar

Intervensi

Gangguan

Keluarga

Setelah 30

Tidak terja

Lingkungan Berikan

manajemen

mengeta

menit dila

di penyakit

bersih dan -

penyuluhan

pemeliharaan

hui tentang kukan pe

akibat dari

sehat.

pada keluarga ttg:

rumah

lingkungan nyuluhan

faktor ling

1. Rumah sehat

Ketidaktahuan

yang sehat

klg dapat

kungan yg

2. Cara

keluarga &

menjelas

tidak sehat.

pembuangan

ketidak

kan bebe

sampah yang

mampuan

rapa ten

sehat

keluarga

tang

3.Penyakit yg

mengenal

lingkungan

dapat

masalah

sehat

ditimbulkan

kesehatan

akibat faktor

lingkungan

lingkungan
yang tidak sehat
4. Manfaat dari
lingkungan yang
sehat
1.

Resiko

terjadi Keluarga

Setelah di

Setelah

Derajat

pengetahuan

berikan pe

dilakukan

kesehatan

keluarga tentang

penurunan

mengeta

derajat

hui tentang nyuluhan

penyuluhan keluarga

kesehatan pada penyakit

klg dapat

klien

Tn.S

lansia

menjelas

mengerti

meningkat

ybd yang

Gali

lansia
2. Beri
penyuluhan

kebiasaan

muncul

kan bebe

ttg

pada

keluarga

merokok

pada usia

rapa hal

penyakit

ttg

tua

tentang

pada lansia

mengetahui

pentingnya

penyakit

penyakit-

pd lansia

penyakit

pada

usia tua
3. Beri
kesempatan kpd
keluarga untuk
mengulang
apa

yg

ttg
telah

dijelaskan
4. Beri pujian atas
perilaku

yg

benar
1. Beri
Nyeri pada

Keluarga

Nyeri

Setelah

Tidak

penjelasan ttg

Tn.S bd

mengerti

berkurang

dilakukan

terjadi nyeri

penyebab

kurang

penyebab

dalam

intervensi

nyeri

pengetahuan

dari nyeri

2x24 jam

tidak

dialami klien

yang

klien tentang

terjadi

2. Beri

penyakit dan

nyeri pada

kesempatan

beban kerja

leher

klien

yang

pundak

&

dan

keluarga untuk

berlebihan

membuat
keputusan
3. Menganjurkan
klien

untuk

mengunjungi
fasilitas
pelayanan
kesehatan
4. Beri

pujian

atas keputusan
yg diambil bila
keputusan

yg

dianggap tepat
CATATAN TINDAKAN KEPERAWATAN DAN EVALUASI
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
Nama Mahasiswa : DITAN AGUS TRIYUDA
Tanggal
Diagnosa
Keperawatan
Ketidaktahuan
keluarga
tentang manfa

: 21 Juni 2012
Implementasi
Memberikan penyuluhan pada keluar
ga tetang :

Evaluasi
Knowledge:
- Keluarga mampu
menyebutkan syarat

atkan
lingkungan
yang sehat.

1. Pengertian rumah sehat


2.Penyakit yang timbul pd rumah tidak
sehat
3.Cara pembuangan sampah
4.Manfaat dari lingkungan yang sehat

rumah sehat
- Keluarga mampu
menyebutkan manfaat
ventilasi dan akibat
dari kurangnya
ventilasi dan cahaya di
dalam rumah
Afektif
Ny. S mengatakan
memahami tentang
pentingnya pentingnya
rumah yang sehat
Psikomotor
Ny. S memasang genteng
kaca di rumahnya dan
jendela setiap hari
dibuka.

Tanggal

: 22 Januari 2010

Diagnosa
Implementasi
Keperawatan
Resiko terjadi 1. Mengali pengetahuan keluarga
penurunan
tentang defenisi lansia
derajat
kesehatan pada 2. Memberi penyuluhan pada keluarga
lansia ybd
ttg pentingnya mengetahui
kebiasaan
merokok
penyakit- penyakit pada usia tua
3. Memberi kesempatan kpd keluarga

Evaluasi
Knowledge:
- Keluarga menyebutkan
definisi lansia
- Keluarga mampu
menyebutkan tentang
pentingnya
menhetahui penyakit
usia tua.

untuk mengulang ttg apa yg telah


dijelaskan
4. Memberi pujian atas perilaku yg
benar

Tanggal

Psikomotor
Tn.S berusaha tidak
merokok tapi diganti
dengan makan permen

: 23 Juni 2012

Diagnosa
Keperawatan
Nyeri pada

Implementasi

Evaluasi

1. Memberi penjelasan ttg

Tn.N bd kurang

penyebab nyeri yang dialami

pengetahuan

klien

klien tentang

Afektif
Tn.S mengatakan
memahami tentang
pentingnya hidup sehat

2. Memberi kesempatan klien dan

penyakit dan

keluarga untuk membuat

beban kerja

keputusan

yang berlebihan 3. Menganjurkan

klien

untuk

Knowledge:
Keluarga dapat
menyebutkan nyeri yang
dialami Tn.S
Afektif
Tn. S mengatakan akan
melaksanakan
perawatan
pada
dirinya
sendiri
terhadap penyakitnya

mengunjungi fasilitas pelayanan


kesehatan
4. Memberi pujian atas keputusan
yg diambil bila keputusan yg
dianggap tepat

Psikomotor
Tn.S mengurangi
melakukan perkerjaan yang
berlebihan dan istirahat
yang cukup

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, L. J. (1999) Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 7, Alih Bahasa
Monica Ester. Jakarta: EGC
Carpenito, L. J. Handbook of Nursing Diagnosis. Edisi 8, Alih Bahasa Monica Ester.
(2001). Jakarta: EGC
DIKLIT RS Jantung Harapan Kita. (1993). Dasar-dasar
Kardiovaskuler. RS Jantung Harapan Kita. Jakarta

Keperawatan

Doengoes. M. E, Et. All. Nursing Care Plans Guidelines for Planning and
Documenting Patient Care, Edisi 3. Alih Bahasa: I Made Kariasa, Et. All.
2000. Jakarta: EGC
Effendy, N. (2005) Dasar- dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat, Edisi 2.
Jakarta; EGC
FKUI. (1990). Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Balai Penerbit FKUI. Jakarta
Friedman, M. M. (1998). Keperawatan Keluarga Teori dan Praktek, Edisi 3. alih
Bahasa: Debora R. L & Asy. Y, Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzanne, and Bare. (2001), Buku Saku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,
Edisi 8. Jakarta: EGC
Suprajitno. (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakata: EGC.
Tim POKJA RS Jantung Harapan Kita. (2003). Standar Asuhan Keperawatan
Kardiovaskuler. Direktorat Medik dan Pelayanan RS Jantung dan pembuluh
darah Harapan kita. Jakarta