Anda di halaman 1dari 37

BAB I

Pendahuluan
1.1 Pendahuluan
Laboratorium adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan
ilmiah yang dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya
kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali. Laboratorium ilmiah biasanya dibedakan
menurut

disiplin

ilmunya,

laboratorium biokimia,

misalnya

laboratorium

laboratorium fisika,

mikrobiologi,

laboratorium kimia,

laboratorium

uji

pangan,

laboratorium komputer, dan laboratorium bahasa.


Laboratorium pada lembaga pendidikan tidak hanya turut bertanggungjawab dalam
menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademis dan profesi kependidikan saja,
melainkan juga harus mampu menghasilkan berbagai produk pendidikan sains seperti; media,
model dan proses pembelajaran secara empiris dan tervalidasi secara objektif. Laboratorium
sebagai tempat untuk melahirkan gagasan-gagasan baru. Inovasi dan kreativitas hendaknya
lahir dari komponen laboratorium dengan stimulus yang berasal dari lapangan. Laboratorium
pendidikan harus mampu mengembangkan berbagai alternatif solusi terhadap masalah
pendidikan sains.
Sampai saat ini laboratorium ideal hanya dinyatakan secara fisik dan kelengkapannya
serta proporsi antara alat dengan pemakai serta kualitas alat. Tidak dinyatakan secara
profesional, dalam hal ini adalah pengelolaan. Fasilitas canggihpun tidak akan bertahan lama
bila kapabilitas pengelolaan tidak profesional. Setiap komponen alat laboratorium memiliki
masa susut dan potensi kerusakan. Tanpa adanya maintenance yang baik akan
mempersingkat umur dan daya guna alat. Tanpa pengelolaan yang baik laboratorium hanya
sebatas kumpulan alat yang teratur namun tidak fungsional.
Untuk itu disetiap laoratorium terdapat manajemen atau pengaturannya yang
bertujuan

untuk

peningkatan

dan

pengembangan

laboratorium

sebagai

fungsi

pengelolaan pada dasarnya bertujuan untuk lebih meningkatkan produk perguruan tinggi
seperti jumlah dan kualitas lulusan, hasil penelitian, kemitraan usaha dan kepedulian

terhadap masyarakat, serta kemampuannya sebagai income generating unit (Sub Direktorat
Sarana Akademik, 2002).
Manajemen laboratorium (laboratory management) adalah usaha untuk mengelola
laboratorium. Suatu laboratorium dapat dikelola dengan baik sangat ditentukan oleh beberapa faktor
yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Beberapa alat-alat laboratorium yang canggih,
dengan staf profesional yang terampil belum tentu dapat berfungsi dengan baik, jika tidak didukung
oleh adanya manajemen laboratorium yang baik. Oleh karena itu manajemen laboratorium adalah
suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan laboratorium sehari-hari.
Pengelolaan laboratorium akan berjalan dengan lebih efektif bilamana dalam struktur
organisasi laboratorium didukung oleh Board of Management yang berfungsi sebagai pengarah dan
penasehat. Board of Management terdiri atas para senior/profesor yang mempunyai kompetensi
dengan kegiatan laboratorium yang bersangkutan. Pengelolaan laboratorium berkaitan dengan

unsur atau fungsi manajer yakni perencanaan, penataan, pengadministrasian, pengamanan,


perawatan dan pengawasan.
a. Perencanaan (Planning)
Laboratorium hendaknya seperti suatu organisme yang mampu tumbuh dan
berkembang. Tanpa ada visi yang jelas, laboratorium seolah hanya suatu organisme
yang menjalankan metabolisme basal.

Tidak terarah dalam

pertumbuhan

dan perkembangan atau mandul dalam produktivitas penelitian. Akibatnya semua


kegiatan terjadi secara insidental. Kalaupun terstruktur sebatas melayani kegiatan
praktikum.

Perencanaan bukan sekedar mengatur kegiatan, melainkan juga

menentukan indikator keberhasilan dalam setiap tahapan dari kegiatan yang


direncanakan. Dalam pengelolaan laboratorium merencanakan kegiatan meliputi
pelayanan praktikum, penelitian, pengadaan peralatan dan kebutuhan bahan,
optimalisasi sumber daya, mencari sumber-sumber dana untuk kemandirian
dan maintenance.
Perencanaan pengadaan peralatan adalah suatu hal yang sangat penting, terutama
dalam spesifikasi alat dan bahan. Ketika mengajukan alat, spesifikasi alat hendaknya
jangan mengacu pada katalog yang ada, melainkan pada spesifikasi apa yang
dibutuhkan. Kesalahan menentukan spesifikasi alat dan bahan mengakibatkan biaya
investasi menjadi tinggi. Jangan menentukan spesifikasi peralatan dengan akurasi
2

tinggi bila dalam pelaksanaannya nanti tidak diperlukan. Demikian juga dengan
bahan-bahan kimia, menggunakan bahan dengan tingkat kemurnian tinggi merupakan
pemborosan bila dalam prosesnya bukan merupakan suatu kegiatan analisis.
Spesifikasi hendaknya disusun berdasar pada karakteristik kebutuhan, sarana yang
ada dan ruang untuk penyimpanan.
Selain itu dalam pengadaan alat harus bisa dijamin adanya tenaga yang mampu
mengoperasionalkan alat. Jangan merencanakan pengadaan alat yang tidak ada tenaga
yang akan mengoperasikannya. Apabila memang dibutuhkan maka harus dilakukan
training yang relevan dengan penggunaan alat. Garansi, yang mencakup kemudahan
ketersediaan

suku

cadang,

kredibilitas

perusahaan

dan

keberadaan

agen

diIndonesiajuga patut dipertimbangkan dalam menentukan pilihan alat yang akan


dibeli.

b. Mengatur (Organizing)
Merupakan upaya untuk menjalankan kegiatan laboratorium sebagaimana
fungsinya. Pengaturan mencakup setting secara fisik dan

regulating. Setting

merupakan suatu kegiatan pengaturan tata letak dan penataan yang mencakup
penempatan mebeler, peralatan dan bahan kimia. Sedangkan regulating merupakan
suatu pengaturan jadwal kegiatan dan penyusunan perangkat lunak untuk
terlaksananya ketertiban dan keselamatan bekerja di laboratorium.
a) Setting
Setting laboratorium hendaknya dapat memberikan dukungan yang
optimal terhadap keberlangsungan kegiatan belajar mengajar. Untuk setting ini
perlu memperhatikan prinsip-prinsip yang mencakup; keselamatan, efektivitas
dan efisiensi, serta kemudahan pengawasan. Prinsip keselamatan dimaksudkan
penempatan alat-alat dan bahan diusahakan sekecil mungkin memberikan resiko
terjadinya kecelakaan. Petunjuk penggunaan alat harus tersedia dekat peralatan
khusus disertai dengan daftar isian penggunaan alat (kartu alat). Hindarkan dari
kemungkinan terjatuh

atau tersenggol.

Peralatan berat/besar hendaknya

ditempatkan permanen. Kabel tidak terjuntai atau jatuh kelantai. Setiap terminal
listrik digunakan hanya untuk satu alat. Penyimpanan bahan kimia hendaknya
3

dilakukan dengan mempertimbangkan sifat atau karakteristik bahan. Dengan


kecilnya resiko kecelakaan dan kerusakan alat maka keutuhan perangkat dapat
dipertahankan.
Prinsip efisiensi dan efektivitas penggunaan alat dimaksudkan bahwa
penempatan alat memberikan kesempatan yang tinggi kepada mahasiswa
untuk

menggunakan

alat sesuai

mengembangkan ketrampilan

peruntukkannya (aksesibilitas)

dasar laboratorium

dengan

hasil

dalam
yang

optimal. Selain itu juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk lebih
familiar dengan alat-alat.
Setting juga diharapkan dapat memperkecil energi untuk melakukan
pengawasan, dengan cara memberikan pendelegasian pengawasan secara
bertingkat. Adanya format isian untuk peralatan khusus merupakan suatu proses
pendelegasian, sehingga mengurangi beban kerja dosen/laboran pengawasan.
Setiap pengguna melakukan pengecekan terhadap keutuhan, kebersihan dan
fungsi alat sebelum dan sesudah kegiatan.
b) Regulating
Pada

dasarnya

semua

orang

diberi

kebebasan

untuk

bekerja

dilaboratorium. Namun demikian agar kebebasan ini tidak mengganggu orang lain
harus ada seperangkat aturan yang mengatur kegiatan di laboratorium. Aturanaturan tersebut merupakan guide line yang dapat berupa perangkat formal atau
normatif bekerja di laboratorium. Diantaranya adalah struktur organisasi, job
description, diagram alur, penjadwalan, tata tertib, prosedur penggunaan alat,
petunjuk praktikum dan prosedur keselamatan kerja. Setiap personal yang bekerja
di laboratorium harus memahami aturan yang berlaku. Oleh karena itu tata tertib
harus jelas terpasang di ruangan dan perhatian mahasiswa seharusnya tertarik
terhadapnya.

c. Pencatatan (Administrating)
Pencatatan atau pengadministrasian merupakan suatu proses pedokumentasian
seluruh komponen fisik laboratorium. Proses ini mencakup kegiatan mendaftar semua

fasilitas, alat dan bahan yang ada berdasarkan kategori tertentu atau sesuai dengan
peraturan yang berlaku. Inventarisasi laboratorium berguna untuk

Informasi dengan cepat dan tepat mengenai keadaan laboratorium

Perencanaan dan pengembangan sehingga bila ada permintaan atau penambahan


alat dapat ditentukan prioritas dan mencegah duplikasi

Meningkatkan kerjasama dengan laboratorium lain

Pencegahan kehilangan atau penyalahgunaan

Membina kegiatan laboratorium yang lebih baik dan teratur


Daftar alat sebagai bukti inventaris laboratorium merupakan suatu keharusan.

Daftar alat ini dapat dibuat dalam bentuk keseluruhan (secara total) atau
perlaboratorium. Daftar alat dapat dikategorisasi berdasarkan jenis alat, bahan alat,
kerja alat dsb. Dalam daftar hendaknya sekurang-kurangnya tercantum kode alat
(berdasarkan ketentuan yang berlaku), jumlah, spesifikasi dan nomor seri, tahun
kedatangan dan asal.
Pencatatan mengenai pemakai dan riwayat alat untuk alat-alat tertentu juga sangat
penting. Catatan ini biasanya dibuat dalam bentuk kartu alat. Kartu alat merupakan
data spesifikasi alat, prosedur penggunaan, catatan pemakaian, dan riwayat service
atau perbaikan kerusakan serta keberadaan suku cadang atau consumable part. Kartu
alat biasanya diletakan dekat atau digantungkan pada alat. Dengan adanya kartu alat
ini lebih memudahkan proses pengawasan, karena setiap pemakai akan memeriksa
kondisi alat berdasarkan spesifikasi dan kelengkapan yang tercantum dalam kartu alat
tersebut.
Pencatatan mengenai bahan sangat penting untuk mengetahui jenis dan jumlah
bahan serta masa kadaluarsa. Dengan mengetahui jenis dan jumlah bahan dapat
diperkirakan dan diprioritaskan bahan yang akan dibeli. Bahan-bahan dengan jumlah
yang sedikit dan kadaluarsa menjadi prioritas kebutuhan. Administrasi bahan yang
baik dapat menghindarkan pembelian ulang bahan yang sama.
Keberadaan data alat dan bahan merupakan sumber kajian untuk mempelajari
potensi laboratorium. Berdasarkan alat yang ada maka dapat dikembangkan kegiatan

produktif yang relevan. Data peralatan laboratorium harus selalu dipelajari sekurangkurangnya sekali dalam setiap semester. Hal ini juga sangat penting untuk memantau
keberadaan jumlah alat, alat yang hilang atau rusak, atau untuk memprioritaskan
kebutuhan mendatang.
d. Pemeliharaan (Maintenance)
Merupakan upaya terus menerus dalam mengupayakan agar laboratorium dapat
berfungsi secara optimal. Kegiatan ini dilakukan dengan cara periodik melakukan
pemeriksaan terhadap seluruh utility ruangan (listrik, gas, pemadam kebakaran,
detektor) dan kondisi alat serta aksesorisnya.
dalam

Semua peralatan diperiksa

fungsi normal dan akurasinya. Untuk peralatan mekanik hendaknya

dilaksanakan pemberian minyak pelumas. Untuk peralatan optik dilaksanakan


pembersihan kotoran/jamur pada lensa atau body alat. Selain itu dilaksanakan
penggantian suku cadang terhadap komponen yang aus atau rusak.

e. Keselamatan Laboratorium.
Kecelakaan dapat terjadi pada siapa saja pada berbagai waktu dan tempat.
Kecelakaan merupakan kejadian diluar kemampuan manusia, terjadi dalam sekejap
dan dapat menimbulkan kerusakan jasmani, rokhani maupun jiwa. Kecelakaan di
laboratorium (Koesmadji et. al. 2000) dapat bersumber dari

Kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai bahan kimia dan


proses-proses serta perlengkapan atau peralatan yang digunakan dalam
melakukan kegiatan laboratorium

Kurang jelasnya petunjuk kegiatan laboratorium

Kurang bimbingan dan pengawasan terhadap kegiatan laboratorium

Kurang

tersedia

peralatan

keamanan

dan

tidak

menggunakan

perlengkapan pelindung

Tidak mengikuti petunjuk dan aturan yang semestinya ditaati

Bekerja diluar kesadaran dan tidak hati-hati dalam melakukan kegiatan

Menggunakan peralatan yang tidak sesuai atau rusak

Kemungkinan kecelakaan yang terjadi ketika bekerja dengan alat spesifik atau
bahan kimia. Berkaitan dengan bahan kimia berpotensi menimbulkan kecelakaan
(beracun, reaktif dan mudah meledak, asam/basa kuat) maka harus digunakan dalam
jumlah yang sedikit dan konsentrasi rendah.
Pengelolaan laboratorium dalam pengertian kuratif adalah tindakan pertolongan
pertama terhadap kecelakaan yang terjadi untuk menghindari bahaya lebih lanjut.
Prosedur penanganan kecelakaan tergantung pada jenis kecelakaannya. Penanganan
kecelakaan memerlukan keterampilan khusus. Oleh karenanya perlu dilakukan
pelatihan dengan mengundang instruktur yang ahli.
f. Penganggaran.
Merupakan kegiatan pengaturan pengeluaran keuangan laboratorium berdasarkan
kebutuhan dan skala prioritas, serta tindakan mencari sumber-sumber keuangan
melalui kegiatan produktif dengan cara yang benar dan sah untuk menunjang
kelangsungan proses akademis dan tumbuhkembangnya laboratorium.
Sumber pembiayaan laboratorium bisa berasal dari biaya praktikum yang
dipungut pada setiap mahasiswa setiap semester atau anggaran lain yang terprogram.
Analisis kebutuhan dan prioritas sangat penting dalam pengaturan keuangan
laboratorium. Administrasi yang berkaitan dengan kondisi alat dan keadaan bahan
merupakan suatu bahan pertimbangan penting dalam menentukan skala prioritas
pembelajaan.

1.2 Latar Belakang


Latar belakang kami memilih Laboratorium Kontaminan Kimia di

Direktorat

Pengawasan Mutu Barang adalah karena kami sangat tertarik dengan Laboratorium tersebut
sebab disana terdapat banyak alat-alat yang baru yang tidak kami temukan di Kampus. Selain
itu juga kami menjadi tahu alat-alat apa saja yang digunakan untuk menguji adanya
Kontaminansi Kimia pada bahan makanan. Selain itu Laboratorium di DPMB ini dikenal
lengkap dengan fasilitas dan manajemen laboratoriumnya yang baik.

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah agar kita mengetahui seperti apa
Struktur organisasi dan Manajemen Laboratorium Kontaminan Kimia di Balai Pengujian
Mutu Barang-Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.

BAB II
Pembahasan
2.1 Deskripsi dan Sejarah DPMB
DPMB (Direktorat Pengawasan Mutu Barang) resmi didirikan pada tanggal 6 November
1979. Lembaga pengawasan mutu barang eksport dan import ini beralamat di Jalan Raya
Bogor Km.26 Ciracas- Jakarta Timur. Badan pengawasan yang berada langsung dibawah
kepemimpinan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia ini berluas sekitar 19.650 m2
ini bertugas untuk melaksanakan tugas pengawasan dan pelayanan di bidang mutu barang.
DPMB Memiliki tugas pokok dan fungsi yang berdasarkan Peraturan Menteri
Perdagangan RI Nomor : 31/M-DAG/PER/7/2010 tanggal 27 Juli 2010 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Kementerian Perdagangan, Direktorat Pengawasan Mutu Barang yang
selanjutnya disebut DPMB adalah unsur penunjang pelaksana tugas kementerian yang berada
dibawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Perdagangan melalui Sekretaris Jenderal.

2.2 Tugas dan Fungsi DPMB


Balai Pengujian Mutu Barang mempunyai tugas melaksanakan pengawasan dan
pelayanan di bidang mutu barang. Dalam melaksanakan tugas di atas, DPMB
menyelenggarakan fungsi :
a. Penyiapan dan pelaksanaan pengawasan, pemantauan, evaluasi dan pelayanan di bidang
mutu barang
b. Penyiapan dan pelaksanaan jaminan mutu, pembinaan dan pengembangan kerjasama di
bidang mutu barang
c. Penyiapan dan pelaksanaan pengembangan, pembinaan, penilaian dan evaluasi sumber
daya manusia fungsional Penguji Mutu Barang (PMB).
d. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Pusat.

2.3 Struktur Organisasi DPMB

Gambar 1. Struktur Organisasi DPMB

Adapun Susunan Organisasi Direktorat Pengawasan Mutu Barang (DPMB) terdiri atas :
a. Bidang Verifikasi Mutu Barang
b. Bidang Pembinaan dan Kerjasama Mutu Barang;
c. Bidang Pengembangan SDM Penguji Mutu Barang (PMB) dan
d. Bagian Tata Usaha
e. Unit Pelaksana Teknis (UPT), yakni :

Balai Pengujian Mutu Barang

Balai Kalibrasi

Balai Sertifikasi

2.4 Tugas dan Fungsi Tiap Bidang dan Balai di DPMB


a) Bidang Verifikasi Mutu Barang
Mempunyai tugas melaksanakan penyiapan dan pelaksanaan pengawasan,
pemantauan, evaluasi dan pelayanan di bidang mutu barang baik ekspor maupun impor.
Dalam melaksanakan tugasnya, Bidang Verifikasi Mutu Barang menyelenggarakan
fungsi :
1. Penyiapan bahan dan pelaksanaan pelayanan dan pengawasan pra pasar mutu
barang impor dan barang dalam negeri

10

2. Penyiapan bahan dan pelaksanaan pelayanan, pengawasan, pemantauan, dan


evaluasi di bidang mutu barang ekspor.
3. Bidang Verifikasi Mutu Barang terdiri atas :
1) Subbidang Pengawasan Pra Pasar
2) Subbidang Pemantauan Mutu Barang Ekspor.
Subbidang Pengawasan Pra Pasar mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan
pelayanan dan pengawasan mutu barang impor dan barang dalam negeri yang SNI-nya
telah diberlakukan secara wajib atau persyaratan teknis lain
Subbidang Pemantauan Mutu Barang Ekspor mempunyai tugas melakukan
penyiapan bahan dan pelaksanaan pelayanan dan pengawasan mutu barang ekspor,
pemantauan serta evaluasi mutu barang.
b) Bidang Pembinaan dan Kerjasama Mutu Barang
Mempunyai tugas melaksanakan penyiapan dan pelaksanakan jaminan mutu
barang, bimbingan teknis, kerjasama dan pelayanan informasi di bidang mutu barang.
Dalam melaksanakan tugasnya, Bidang Pembinaan dan Kerjasama Mutu Barang
menyelenggarakan fungsi :
1. Penyiapan bahan dan koordinasi pelaksanaan jaminan mutu dan bimbingan teknis
di bidang mutu barang
2. Penyiapan bahan dan koordinasi pelaksanaan kerjasama dan pelayanan informasi
di bidang mutu barang.
Bidang Pembinaan dan Kerjasama Mutu Barang terdiri atas :
1) Subbidang Jaminan Mutu dan Bimbingan Teknis
2) Subbidang Kerjasama.
Subbidang Jaminan Mutu dan Bimbingan Teknis mempunyai tugas melakukan
penyiapan bahan dan pelaksanaan jaminan mutu, sosialisasi dan bimbingan teknis di
bidang mutu barang. Subbidang Kerjasama mempunyai tugas melakukan penyiapan
bahan koordinasi dan pelaksanaan kerjasama nasional maupun internasional serta
pelayanan informasi di bidang mutu barang.

11

c) Bidang Pengembangan SDM Penguji Mutu Barang (PMB)


Mempunyai tugas melaksanakan penyiapan dan pelaksanaan pengembangan,
pembinaan, penilaian dan evaluasi sumber daya manusia fungsional Penguji Mutu
Barang. Dalam melaksanakan tugasnya, bidang pengembangan SDM Penguji Mutu
Barang (PMB) menyelenggarakan fungsi

1. Penyiapan bahan dan pelaksanaan pembinaan dan pengembangan sumber daya


manusia fungsional PMB
2. Penyiapan bahan dan pelaksanaan penilaian dan evaluasi sumber daya manusia
fungsional PMB.
Bidang Pengembangan SDM Penguji Mutu Barang (PMB) terdiri atas:
a. Subbidang Pembinaan; dan
b. Subbidang Penilaian dan Evaluasi.
Subbidang Pembinaan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan dan
pelaksanaan pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia fungsional Penguji
Mutu Barang. Subbidang Penilaian dan Evaluasi mempunyai tugas melakukan penyiapan
bahan dan pelaksanaan penilaian dan evaluasi sumber daya manusia fungsional Penguji
Mutu Barang.
d) Bagian Tata Usaha
Mempunyai tugas melakukan urusan umum, kepegawaian, program dan keuangan
Pusat Pengawasan Mutu Barang. Dalam melaksanakan tugasnya, Bagian Tata Usaha
menyelenggarakan fungsi:
1. Pelaksanaan urusan umum dan kepegawaian;
2. Pelaksanaan penyiapan koordinasi dan penyusunan rencana, program dan urusan
keuangan.
Bagian Tata Usaha terdiri atas:
a. Subbagian Umum dan Kepegawaian; dan
b. Subbagian Program dan Keuangan.
Subbagian Umum dan Kepegawaian mempunyai tugas melakukan urusan umum
dan kepegawaian. Subbagian Program dan Keuangan mempunyai tugas melakukan
12

penyiapan bahan koordinasi dan penyusunan rencana, program dan evaluasi serta urusan
pengelolaan keuangan.
e) Unit Pelaksana Teknis (UPT)
a. Balai Pengujian Mutu Barang (BPMB)
Unit Pelaksana Teknis di bidang pengujian dan sertifikasi mutu barang
ekspor dan impor yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada
Kepala Pusat Pengawasan Mutu Barang. BPMB dipimpin oleh seorang
Kepala,BPMB mempunyai tugas memberikan pelayanan teknis pengujian
mutu barang.
Dalam melaksanakan tugasnya BPMB menyelenggarakan fungsi:
Penyusunan rencana dan program di bidang pengujian mutu barang
Pemberian pelayanan teknis pengujian mutu barang
Pelaksanaan pengembangan jasa pengujian, dan
Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.
b. Balai Kalibrasi
Unit Pelaksana Teknis di bidang kalibrasi yang berada di bawah dan
bertanggung jawab kepada Kepala Pusat Pengawasan Mutu Barang. Balai
Kalibrasi dipimpin oleh seorang Kepala, mempunyai tugas memberikan
pelayanan kalibrasi alat ukur besaran. Dalam melaksanakan tugasnya Balai
Kalibrasi menyelenggarakan fungsi:
Penyusunan rencana dan program di bidang pelayanan kalibrasi;
Pemberian pelayanan teknis kalibrasi;
Pelaksanaan pengembangan jasa kalibrasi; dan
Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.
c. Balai Sertifikasi
Unit pelaksana teknis di bidang sertifikasi produk, personil, sistem
manajemen mutu, inspeksi teknis dan pelatihan teknis di bidang mutu, yang
berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Pusat Pengawasan Mutu
Barang.

13

Balai Sertifikasi dipimpin oleh seorang Kepala, mempunyai tugas


melaksanakan sertifikasi,inspeksi teknis dan pelatihan teknis di bidang sertifikasi.
Dalam melaksanakan tugasnya, Balai Sertifikasi menyelenggarakan fungsi:
Penyusunan rencana dan program di bidang pelayanan sertifikasi;
Pelaksanaan pelayanan teknis sertifikasi;
Pelaksanaan pengembangan jasa sertifikasi;
Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

2.5 Profil BPMB


Balai Pengujian Mutu Barang (BPMB) adalah Unit Pelayanan Teknis berada dibawah
Direktorat Pengembangan Mutu Barang (UPT PMB), Direktorat Jendral Standardisasi dan
Perlindungan Konsumen, Kementrian Perdagangan. BPMB telah mendapatkan akreditasi
SNI ISO/IEC 17025 : 2008 dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) dengan Nomor LP-025IDN sejak Tahun 1998. Saat ini UPT BPMB telah terakreditasi untuk 238 Komoditi dengan
2058 Parameter Uji.

2.6 Visi dan Misi BPMB


a) Visi :
Menjadi Laboratorium Penguji Mutu Barang yang Diakui secara Nasional dan Internasional.
b) Misi :
a. Mengembangkan ruang lingkup akreditasi sesuai dengan potensi pasar,
mendukung kebijakan penerapan SNI Wajib dan kebijakan Kementrian
Perdagangan dibidang Perlindungan Konsumen,
b. Memelihara dan mengembangkan kemampuan pelayanan pengujian melalui
peningkatan dan pengebangan peralatan laboratorium pengujian.
c. Meningkatkan kompetensi SDM yang profesional di bidang pengujian mutu
barang.
d. Meningkatkan pelayanan prima dan memelihara hubungan komunikasi yang
harmonis dengan pelanggan.

14

2.7 Lokasi dan Kontak BPMB

Lokasi BPMB: Jalan Raya Bogor Km. 26 Ciracas, Jakarta 13740, PO. BOX 4235

Telpon

: (021) 8703881, 87721001, 87721002, 8710321, 8710323

Fax

: (021) 8710477, 87721001

Email

: Pjt.bpmbei@yahoo.co.id

2.8 Tugas Pokok BPMB


BPMB Memiliki tugas pokok dan fungsi yang berdasarkan Peraturan Menteri
Perdagangan RI Nomor : 31/M-DAG/PER/7/2010 tanggal 27 Juli 2010 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Kementerian Perdagangan, Pusat Pengawasan Mutu Barang yang selanjutnya
disebut PPMB adalah unsur penunjang pelaksana tugas kementerian yang berada dibawah
dan bertanggung jawab kepada Menteri Perdagangan melalui Sekretaris Jenderal.
BPMP memiliki tugas pokok memberikan pelayanan teknis pengujian mutu barang serta
berfungsi untuk menyusun rencana dan progran dibidang pengujian mutu barang,
memberikan pelayanan teknis pengujian mutu barang, melaksanakan pengembangan jasa
pengujian dan melaksanakan urusan tata usaha dan rumah tangga.
Selain itu, BPMB melakukan pengujian dalam rangka untuk perlindungan konsumen
dimana BPMB melakukan pengujian untuk komoditi atau produk hot issue yaitu isu-isu
yang berkembangan di masyarakat seperti kandungan logam berat pada beras impor, mutu air
minum isi ulang, kandungan formalin pada buah-buahan, serta pengujian untuk barangbarang yang SNI-nya diberlakukan wajib.
BPMB melakukan pengujian berdasarkan standar nasional yaitu Standar Nasional
Indonesia (SNI) dan Standar Internasional ataupun berdasarkan permintaan pelanggan untuk
mendukung industri domestik dan internasional yang memiliki komitmen terhadap kualitas
produk yang tinggi serta memenuhi aspek keamanan, keselamatan,kesehatan dan lingkungan.
Dalam menjalani pelayanannya, BPMB didukung oleh tenaga kerja yang kompeten, serta
memiliki peralatan atau fasilitas yang moderen.

15

2.9 Laboratorium di BPMB


Laboratorium Instrumen
BPMB melakukan pengujian dengan perlatan modern dan memiliki presisi tinggi, seperti
pengujian dengan menggunakan alat DSC, GC-MS, LC-MSMS, ICP-MS, Eliza Reader, PCR
Real Time untuk pengujian melamin, residu pestisida, logam berat, identifikasi substrat,
antibiotik, DNA Babi, Azo dyes, Ftalat, DCD (Dicyandiaminde).
Laboratorium Pangan dan Pakan
BPMB melayani pengujian untuk produk makanan, baik bahan mentah, setengah jadi
maupun olahan. Seperti Jagung, Beras, Minyak Goreng, Mentega, Susu dsb.
Laboratorium Organoleptik dan Mikrobiologi
BPMB melakukan pengujian organoleptik terhadap produk-produk pertanian dan produk
makanan seperti Teh, Kopi, Biji Kakao,Susu dan Tepung Terigu. Serta pengujian
mikrobiologi pada Produk makanan dan Minuman,maupun pertanian seperti Salmonella, E.
coli, Kapang dan Khamir.
Laboratorium Non Pangan
BPMB melayani pengujian untuk produk hasil industri kimia,produk tambang, mineral
dan minyak bumi seperti minyak diesel, batubara, pupuk, minyak pelumas, minyak atsiri,
batu-batuan dan kosmetik.
Laboratorium Mekanik
BPMB melayani pengujian untuk produk hasilhutan dan olahannya, produk otomotif dan
bahan konstruksi seperti karet konvensional, karet alam spesifikasi teknis, kayu lapis dsb.
Laboratorium Tekstil dan Aneka Industri
BPMB melayani pengujian untuk tekstil seperti kain garment, aksesoris garment,
sedangkan pengujian aneka industri meliputi bahan kemasan, kemasan, mainan anak, korek
api, sepatu pengaman, selang gas,alat peraga dll.
Laboratorium Listrik
BPMB melayani pengujian untuk produk elektronika, barang listrik dan peralatan rumag
tangga seperti Kabel, Batu Baterai, Lampu, Kipas angin dll.

16

2.10

Kunjungan Laboratorium Kontaminan Kimia


Laboratorium Kontaminan Kimia di Balai Pengujian Mutu Barang Kementerian

Perdagangan Republik Indonesia mencakup berfungsi untuk menguji kualitas pangan dan
kandungan atau ada tidaknya kontaminan yang ada dalam makanan sebelum diedarkan diluar
ataupun didalam negeri.

Gambar 2. Laboratorium Kontaminan Kimia

Jenis Laboratorium ini termasuk jenis Research Laboratory dan termasuk dalam jenis
Laboratorium Sentral karena dalam Laboratorium ini hanya berfokus pada pengujian
Kontaminan Kimia pada Pangan.

2.11

Struktur Organisasi Lab. Kontaminan Kimia

Gambar 3. Struktur Organisasi Lab.Kontaminan Kimia

17

2.12

Manajemen Laboratorium Kontaminan Kimia

a. Perencanaan
Perencanaan barang atau bahan di Laboratorium dilakukan tiap 3 bulan sekali.
Dimana barang atau bahan terlebih dahulu di data ataupun dicatat mana barang atau
bahan yang dibutuhkan agar sesuai dengan kebutuhan laboratorium.
b. Pembelian
Pembelian barang secara rutin dilakukan setiap 3 bulan sekali. Barang yang
dibutuhkan didata lalu dipesan kepada Produsen. Adapun Alurnya sebagai berikut :

c. Stock Opname
Stock Opname dilakukan secara rutin per 6 bulan. Tujuan dari Stock Opname
sendiri berfungsi untuk mengetahui jumlah barang dan bahan yang masih ada di
laboratorium.
d. Penyimpanan
Bahan kimia yang terdapat di laboratorium ini disimpan berdasarkan Sifat dari
bahan itu sendiri. Untuk Barang yang terdapat dilaboratorium dikelompokkan
berdasarkan Sifat dan Fungsi dari Barang itu sendiri.
e. Maintenance
Barang dan Instrumen yang terdapat di laboratorium ini secara rutin dilakukan
maintenance atau pemeriksaan atau perwatan setiap 3 bulan sekali. Untuk barang atau
Instrumen yang rusak dilakukan perbaikan oleh teknisi dari Perusahaan dimana barang
itu dibeli.
f. Pembuangan Limbah
Limbah-limbah yang berasal dari Laboratorium dikumpulkan didalam Tangki
atau Drum yang berada di BPMB. Kemudian limbah tersebut dibuang oleh pihak ketiga
yaitu Perusahaan yang berwenang dalam pengolahan limbah. Pembuangan Limbah ini
dilakukan tiap 6 bulan sekali.

18

2.13 Peraturan Laboratorium Kontaminan Kimia


Peraturan Laboratorium
Tata Tertib Umum
a. Tidak diperkenankan membawa makanan dan minuman ke dalam ruangan
laboratorium.
b. Tidak diperkenankan memindahkan alat maupun bahan laboratorium
tanpa seijin penanggung jawab ruang.
c. Memasuki ruangan laboratorium alas kaki harus diganti dengan alas kaki
yang telah disediakan laboratorium.

2.13

Tata Tertib Laboratorium Kontaminan Kimia


Tata Tertib
a. Mengenakan jas laboratorium, sarung tangan dan goggles mulai dari ruang
antara, masuk ruang laboratorium, selama berada, dan bekerja di ruangan
laboratorium.
b. Mencuci tangan dengan sabun dan dilanjutkan dengan mengusapkan alkohol
70%. Lakukan sebelum dan selesai bekerja.
c. Membersihkan dan mensterilisasi meja laboratorium dengan alkohol 70% atau
disinfektan lainnya sebelum dan selesai bekerja.

2.14

Denah Laboratorium Kontaminan Kimia

Gambar 4. Denah Lab. Kontaminan Kimia

19

2.15

Ruangan Di Laboratorium Kontaminan Kimia

Ruangan yang ada di dalam Laboratorium Kontaminan Kimia DPMB terdiri dari :
1. Ruang Timbang

: Untuk menimbang barang sampel

2. Ruang LC-MSMS

: Untuk menguji ada atau tidaknya Aflatoksin, Melanin


pada bahan makanan maupun peralatan rumah tangga
serta ruang pengujian Kloramfenikol.

3. Ruang ICP-MS

: Untuk menguji kandungan logam berat dalam kadar kecil


dari sampel makanan dan minuman.

4. Ruang Spektofotometri

: Untuk menguji kandungan dan pH dari air mineral dan


minuman kemasan.

5. Ruang Bahan Kimia

: Untuk menyimpan Bahan Kimia

6. Ruang Asam

: Untuk menyimpan Bahan Kimia yang bersifat Asam

7. Ruang Lab

: Untuk melakukan uji pangan

8. Ruang Staff

: Untuk staff berkumpul, beristirahat, dan berdiskusi

2.16

Alat-Alat di Laboratorium Kontaminan Kimia

Adapun Alat-alat yang terdapat pada Laboratorium Kontaminan Kimia adalah :


a. Spektofotometer
Fungsi : Menurut Cairns (2009), spektrofotometer adalah alat untuk mengukur
transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Tiap
media akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu tergantung pada
senyawaan atau warna terbentuk.
b. ICP-MS
Digunakan untuk mengukur isotop dari setiap elemen individu;
kemampuan ini membawa nilai ke laboratorium tertarik pada salah satu isotop
unsur tertentu atau dalam rasio antara dua isotop unsur.
ICP-MS secara akurat menentukan berapa banyak elemen tertentu dalam
bahan yang dianalisis. Dalam analisis kuantitatif yang khas, konsentrasi setiap
elemen ditentukan dengan membandingkan jumlah diukur untuk isotop yang
dipilih kekurva kalibrasi eksternal yang dihasilkan untuk elemen itu.
20

c. Nitrogen evaporator
Sebuah alat yang berfungsi mengubah sebagian atau keseluruhan sebuah
pelarut dari sebuah larutan dari bentuk cair menjadi uap. Evaporator mempunyai
dua prinsip dasar, untuk menukar panas dan untuk memisahkan uap yang
terbentuk dari cairan. Evaporator umumnya terdiri dari tiga bagian, yaitu penukar
panas, bagian evaporasi (tempat di mana cairan mendidih lalu menguap), dan
pemisah untuk memisahkan uap dari cairan lalu dimasukkan ke dalam kondenser
(untuk diembunkan/kondensasi) atau ke peralatan lainnya. Hasil dari evaporator
(produk yang diinginkan) biasanya dapat berupa padatan atau larutan
berkonsentrasi. Larutan yang sudah dievaporasi bisa saja terdiri dari beberapa
komponen volatil (mudah menguap). Evaporator biasanya digunakan dalam
industri kimia dan industri makanan. Pada industri kimia, contohnya garam
diperoleh dari air asin jenuh (merupakan contoh dari proses pemurnian) dalam
evaporator. Evaporator mengubah air menjadi uap, menyisakan residu mineral di
dalam evaporator. Uap dikondensasikan menjadi air yang sudah dihilangkan
garamnya. Pada sistem pendinginan, efek pendinginan diperoleh dari penyerapan
panas oleh cairan pendingin yang menguap dengan cepat (penguapan
membutuhkan energi panas). Evaporator juga digunakan untuk memproduksi air
minum, memisahkannya dari air laut atau zat kontaminasi lain.
d. DSC
Digunakan untuk mengamati perubahan fasa lebih halus, seperti transisi
kaca.

DSC banyak digunakan dalam pengaturan industri sebagai instrumen

pengendalian kualitas karena penerapannya dalam mengevaluasi kemurnian


sampel dan untuk mempelajari pengobatan polimer. Hasil percobaan DSC adalah
pemanasan atau pendinginan kurva.
e. Vaccuum Rotary Evaporator
Vaccuum Rotary Evaporator

adalah alat yang berfungsi untuk

memisahkan suatu larutan dari pelarutnya sehingga dihasilkan ekstrak dengan


kandungan kimia tertentu sesuai yang diinginkan. Alat ini menggunakan prinsip
vakum destilasi, sehingga tekanan akan menurun dan pelarut akan menguap
dibawah titik didihnya. Rotary evaporator sering digunakan dibandingkan dengan
21

alat lain yang memiliki fungsi sama karena alat ini mampu menguapkan pelarut
dibawah titik didih sehingga zat yang terkandung di dalam pelarut tidak rusak
oleh suhu tinggi.
f. Oven
Fungsinya untuk memamaskan atau mengeringkan alat-alat laboratorium
atau objek-objek lainnya.
g. Frezeer
Digunakan untuk mengawetkan makanan ataupun untuk keperluan
menyimpan bahan-bahan kimia
h. LC-MSMS
LC-MSMS
Spectrometry)

(Liquid

ChromatographyMass

Spektrometri massa

Spectrometry/Mass

kromatografi cair (LC-MSMS, atau

alternatif HPLC-MSMS) adalah suatu teknik kimia analitik yang menggabungkan


kemampuan pemisahan fisik kromatografi cair (atauHPLC) dengan kemampuan
analisis massa spektrometri massa (MS). LC-MS adalah teknik yang kuat yang
memiliki sensitivitas yang sangat tinggi dan selektivitas dan begitu juga berguna
dalam banyak

aplikasi. Penerapannya berorientasi pemisahan, deteksi dan

identifikasi potensi umum bahan kimia massa tertentu dalam keberadaan bahan
kimia lain

(misalnya, dalam

campuran

alami dari alam-produk ekstrak, dan

yang

kompleks),misalnya, produk

zat murni dari

campuran intermediet

kimia . Preparat sistem LC-MS dapat digunakan untuk pemurnian mass rapiddiarahkan dari zat-zat

tertentu dari campuran

semacam

itu yang

penting

dalam penelitian dasar,dan farmasi, agrokimia, makanan, dan industri lainnya.


Peralatan ini menggunakan metode ionisasi ESI (Electrospray Ionisation).
Sistem triple quadrupole yang ada pada Mass Spectrometry memungkinkan untuk
melakukan targeted analysis dengan limit deteksi yang sangat rendah (ppb). Saat
ini penggunaan alat lebih banyak untuk analisis pestisida, antibiotik, dan
konfirmasi berat molekul senyawa murni atau semi murni hasil kromatografi
kolom.

22

LC-MS memadukan daya pemisahan HPLC untuk bahan berat molekul


besar dengan kemampuan MS untuk mendeteksi dan mengonfirmasikan identitas
molekul secara selektif.
i. Centrifuge
Prinsip kerja centrifuge adalah dengan memanfaatkan gaya centrifugal
sehingga bahan tersebut terpisah. Hal ini dilakukan dengan cara memutar
campuran dengan sangat cepat dan bertumpu pada titik pusat. Centrifuge sering
sekali digunakan untuk memisahkan

suatu padatan dari cairan misalnya

memisahkan plasma dari sel darah.


j. Pipet Dryer
Berfungsi untuk meletakan pipet setelah dicuci agar kering.
k. Homogenizer
Alat yang digunakan untuk melakukan proses pencampuran pada sampel.
l. Microwave
Berfungsi untuk memanaskan bahan dengan gelombang mikro.
m. Water Destilator
Berfungsi untuk membuat air destilasi, seperti aquabides. Proses ini
dilakukan dengan merebus air dan uap panasnya dikondensasikan menggunakan
condenser.
n. Evaporator
Berfungsi untuk mengubah sebagian atau keseluruhan sebuah pelarut dari
sebuah larutan dari bentuk cair menjadi uap. Evaporator mempunyai dua prinsip
dasar, untuk menukar panas dan untuk memisahkan uap yang terbentuk dari
cairan.
o. HPLC (High Perfomance Liquid Chromatography)
Berfungsi untuk memisahkan komponen berdasarkan dua fase yaitu fase
gerak dan fase diam dengan metode kolom. Analit didorong melalui sebuah
kolom dari fase diam (yaitu sebuah tube dengan partikel bulat kecil dengan
permukaan kimia tertentu) dengan memompa cairan (fase bergerak) pada tekanan
tinggi melalui kolom. Sampel yang akan dianalisis dijadikan dalam volume yang
kecil dari fase bergerak dan diubah melalui reaksi kimia oleh fase diam ketika
23

sampel melalui sepanjang kolom. Tujuan penggunaan alat ini adalah mengetahui
kadar asam organik.
p. Neraca Analitik Digital
Berfungsi untuk mengukur massa sebuah benda dengan ketelitian yang
lebih besar sehingga menghasilkan hasil yang sesuai,yang dapat dilihat langsung
pada layar berupa monitor kecil dengan warna lampu beragam sehingga data yang
di dapat sudah terlihat langsung tanpa harus menghitung dengan manual.
q. PCR
Berfungsi untuk untuk:
a. Amplifikasi urutan nukleotida.
b. Menentukan kondisi urutan nukleotida suatu DNA yang mengalami mutasi.
c.

Bidang kedokteran forensik.

d. Melacak asal-usul sesorang dengan membandingkan finger print.


r. Glass Dryer
Berfungsi sebagai alat untuk mengeringkan alat- alat glass yang telah di
bersihkan.
s. Micropipet
Berfungsi untuk memindahkan cairan atau larutan dari satu tempat ke tempat
lainnya.
t. Refrigenerator
Berfungsi untuk mengawetkan makanan. dapat di usahakan dengan cara di
keringkan, diasap, di asinkan (diberi garam), dirempah, di buat asinan dan di
dinginkan.

24

2.17

Inventarisasi Alat

25

26

27

28

29

BAB III
Penutup
Kunjungan Laboratorium merupakan suatu kegiatan yang dapat membantu mahasiswa
untuk mengenal dan mengetahui Manajemen Laboratorium dari Laboratorium Pengujian
Kontaminan Kimia. Selain itu, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa untuk membantu
mahasiswa dalam mengenal dan mengetahui Manajemen Laboratorium dan mempersiapkan
bekal untuk terjun ke Dunia Kerja nantinya. Sehingga mahasiswa dapat memiliki gambaran
mengenai Cara Kerja dan Manajemen Laboratorium yang akan dilakukan dalam penelitian
dimasa mendatang.
Dengan adanya Kunjungan Laboratorium dapat mengaplikasikan teori yang di dapat saat
perkuliahan. Kegiatan Kunjungan Laboratorium dapat memberikan ilmu pengetahuan yang lebih
luas bagi mahasiswa dan dapat memberikan pengalaman yang baik untuk kehidupannya.
Penulis berharap semoga Makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi
pembaca yang akan melaksanakan Kunjungan mengenai Manajemen Laboratorium, serta dapat
menambaha pengatahuan bagi mahasiswa pada umumnya.

30

Lampiran

Lampiran 1.Ruang LC-MSMS

Lampiran 3.Ruang Spektofotometri

Lampiran 5. Ruang Bahan Kimia

Lampiran 2.Ruang ICP-MS

Lampiran 4.Ruang Timbang

Lampiran 6. Ruang Asam

31

Lampiran 7. Ruang Laboratorium

Lampiran 8. Ruang Staff

Lampiran 9. Pemadam Api dan Kotak P3K

32

33

34

35

36

37