Anda di halaman 1dari 31

I.

II.

III.

Tujuan
1. Membuat formulasi sirup dekstromethorphan
2. Mengetahui stabilitas sirup dekstromethorphan dengan variasi kadar PVP
Rumusan Masalah
1. Bagaimana pembuatan sirup dekstromethorphan
2. Bagaimana sirup dekstromethorphan dengan variasi kadar PVP
Latar Belakang
Dewasa ini terdapat berbagai penyakit mulai dari penyakt berat seperti sampai penyakit
ringan. Hal ini selain diakibatkan oleh kebiasan pola hidup individu itu sendiri juga
diakibatkan cuaca yang tidak menentu di daerah katulistiwa.
Dengan berbagai penyakit yang ada, maka akan di ikuti pula dengan perbaikan
ketersediaan obat. Pada penelitian kali ini akan membahas tentang obat untuk sakit batuk
yang sering di alami masyarakat. Dengan meneliti karakteristik dextrometrophan sebagai
subyek pereda batuk.
Dextrometrophan adalah isomer dekstrorotatori dari levorphanol opioidsintetik.
merupakan antagonis nonkompetitif Nmetil dreseptoraspartat. Dextrometrophan Juga
mengikat CNS sigmaserta mengikatopioid berbarengan meningkatkan 5HT dan
peningkatan pelepasan. Dextrometrophan bersifat antitusif dan memiliki efek antihy
peralgesic (1).
Dalampenelitian kali ini dilakukan uji stabilitas sediaan sirup dextrometorphan yang
dikombinasikan dengan PVP (polivynilpirolydone). Dimana PVP sendiri merupakan
polimer yang larut dalam air yang terbuat dari monomerN-vinylpyrrolidone.PVP larut
dalam air dan pelarut polar lainnya(2). Dalam sediaan kering berupa serpihan bubuk
higroskopis, mudah menyerap hingga 40% dari berat dalam air di atmosfer. Dalam
larutan, memiliki sifat pembasahan yang sangat baik dan mudah membentuk film. Hal ini
membuat PVP baik dijadikan pelapis atau aditif untuk pelapis. Polimer PVP digunakan
sebagai expander plasma darah dan juga bahan pengikat dalam banyak tablet farmasi(3).
Dalam sediaan ini fungsi PVP sebagai agen pensuspensi, dibuat dua seri kadar PVP untuk
meneliti pengaruh PVP terhadap kestabilan sediaan sirup.
Dengan demikian akan diteliti bagaimana kandungan PVP yang dapat digunakan untuk
mengikat Dextrometrophan.
1. Dasar Teori

Menurut farmakope Indonesia III, syrup adalah sedian cair berupa larutan yang
mengandung sakarosa, C12H22O11, tidak kurang dari 64.0% dan tidak lebih dari 66.0%.

Syrup adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain dalam kadar tinggi (Anonim,
1995). Secara umum sirup merupakan larutan pekat dari gula yang ditambah obat atau zat
pewangi dan merupakan larutan jernih berasa manis. Syrup adalah sediaan cair kental yang
minimal mengandung 50% sakarosa . Dalam perkembangannya, banyak sekali pengertian
mengenai sirup. Sirup adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. Sirup
adalah sediaan cairan kental untuk pemakaian dalam, yang minimal mengandung 90% sakarosa
(4)
.
Bedasarkan fungsinya, sirup dikelompokan menjadi 2 golongan, yaitu:
1. Medicated Syrup (sirup obat) merupakan sirup yang mengandung satu atau lebih bahan
obat. Sirup obat berupa preparat yang sudah distandarisasi, dapat diberikan berupa obat
tunggal atau dikombinasikan dengan obat lain.
2. Flavored Syrup (sirup korigen/pembawa),
Biasanya tidak digunakan untuk tujuan medis, namun mengandung berbagai bahan
aromatis atau rasa yang enak dan digunakan sebagai larutan pembawa atau pemberi
rasa pada berbagai sediaan farmasi lainnya, misalnya sebagai penutup rasa pahit pada
Vitamin B Kompleks yang diberikan kepada bayi atau anak-anak. Sirup golongan ini,
mengandung berbagai bahan tambahan, misalnya bahan antioksidan (antioxidant
agent), pengawet (preservative agent), pewarna (coloring agent), pemberi rasa
(flavoring agent), dan bahan pelarut (diluting agent) (5).
Adapun komponen dalam sediaan sirup yaitu :
1. Pemanis berungsi untuk memperbaiki rasa dari sediaan. Dilihat dari kalori yang dihasilkan
dibagi menjadi pemanis berkalori tinggi dan pemanis berkalori rendah. Adapun pemanis
berkalori tinggi misalnya sorbitol, sakarin dan sukrosa sdangkan yang berkalori rendah seperti
laktosa.
2.
Pengawet Antimikroba
Digunakan untuk menjaga kestabilan obat dalam penyimpanan agar dapat bertahan lebih lama
dan tidak ditumbuhi oleh mikroba atau jamur.
3.
Perasa dan Pengaroma
Hampir semua sirup disedapkan dengan pemberi rasa buatan atau bahan-bahan yang berasal dari
alam untuk membuat syrup mempunyai rasa yang enak. Karena syrup adalah sediaan cair,
pemberi rasa ini harus mempunyai kelarutan dalam air yang cukup. Pengaroma ditambahkan ke
dalam syrup untuk memberikan aroma yang enak dan wangi. Pemberian pengaroma ini harus
sesuai dengan rasa sediaan syrup, misalkan syrup dengan rasa jeruk diberi aroma citrus.
4.
Pewarna
Pewarna yang digunakan umumnya larut dalam air dan tidak bereaksi dengan komponen lain
dalam syrup dan warnanya stabil dalam kisaran pH selama penyimpanan. Penampilan
keseluruhan dari sediaan cair terutama tergantung pada warna dan kejernihan. Pemilihan warna
biasanya dibuat konsisten dengan rasa. Ada beberapa alasan mengapa syrup itu berwarana, yaitu:
a.
Lebih menarik dalam faktor estetikanya.
b.
Untuk menutupi kestabilan fisik obat.
5. Juga banyak sediaan syrup, terutama yang dibuat dalam perdagangan mengandung pelarutpelarut khusus, pembantu kelarutan, pengental dan stabilisator (6).

Keuntungan dari pembuataan sediaan dalam bentuk sirup adalah :


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Merupakan campuran yang homogeny.


Dosis dapat diubah-ubah dalam pembuatan.
Obat lebih mudah diabsorbsi.
Mempunyai rasa manis.
Mudah diberi bau-bauan dan warna sehingga menimbulkan daya tarik untuk anak.
Membantu pasien yang mendapat kesulitan dalam menelan obat tablet.

Cara penyimpanan sediaan dalam bentuk sirup yang baik yaitu :


1.
2.
3.

Sebaiknya disimpan ditempat sejuk.


Tidak terkena matahari langsung.
Tutup rapat penutup pada botol sirup.

Sifat kimia pada sediaan dalam bentuk sirup


1. Viskositas
Viskositas atau kekentalan adalah suatu sifat cairan yang berhubungan erat dengan hambatan
untuk mengalir. Kekentalan didefinisikan sebagai gaya yang diperlukan untuk menggerakkan
secara berkesinambungan suatu permukaan datar melewati permukaan datar lainnya dalam
kondisi mapan tertentu bila ruang diantara permukaan tersebut diisi dengan cairan yang akan
ditentukan kekentalannya. Untuk menentukan kekentalan, suhu zat uji yang diukur harus
dikendalikan dengan tepat, karena perubahan suhu yang kecil dapat menyebabkan perubahan
kekentalan yang berarti untuk pengukuran sediaan farmasi. Suhu dipertahankan dalam batas
tidak lebi dari 0,1 C.
2.
Uji mudah tidaknya dituang
Uji mudah tidaknya dituang adalah salah satu parameter kualitas sirup. Uji ini berkaitan erat
dengan viskositas. Viskositas yang rendah menjadikan cairan akan smakin mudah dituang dan
sebaliknya. Sifat fisik ini digunakan untuk melihat stabilitas sediaan cair selama
penyimpanan.Besar kecilnya kadar suspending agent berpengaruh terhadap kemudahan sirup
untuk dituang. Kadar zat penstabil yang terlalu besar dapat menyebabkan sirup kental dan sukar
dituang.
3.
Uji Intensitas Warna
Uji intensitas warna dilakukan dengan melakukan pengamatan pada warna sirup mulai minggu
0-4. Warna yang terjadi selama penyimpanan dibandingkan dengan warna pada minggu 0. Uji ini
bertujuan untuk mengetahui perubahan warna sediaan cair yang disimpan Selama waktu
tertentu(7) .
Dekstrometorpan yaitu D-isomer dari analog kodein dari levorphanol. Dekstrometorfan
menunjukkan afinitas tinggi mengikat beberapa daerah di otak, termasuk pusat batuk meduler.
Senyawa ini merupakan antagonis reseptor NMDA (reseptor, N-methyl-D-aspartat) dan
bertindak sebagai blocker saluran non-kompetitif. Ini adalah salah satu antitusif banyak
digunakan, dan juga digunakan untuk mempelajari keterlibatan reseptor glutamat dalam
neurotoksisitas.

Dektrometropan digunakan untuk mengobatkan dan meringankan batuk kering.


Dekstrometorfan adalah obat opioid seperti yang mengikat dan bertindak sebagai antagonis pada
reseptor NMDA glutamatergic, itu adalah agonis opioid ke sigma 1 dan 2 reseptor sigma, juga
merupakan antagonis reseptor nicotinic alpha3/beta4 dan menargetkan serotonin reuptake pompa
. Dekstrometorfan dengan cepat diserap dari saluran pencernaan, di mana ia memasuki aliran
darah dan melintasi penghalang darah-otak. Yang pertama-melewati darah portal hasil vena di
beberapa obat yang dimetabolisme menjadi metabolit aktif dekstrometorfan, dextrorphan,
turunan 3-hidroksi dari dekstrometorfan (8)
Sirup
dekstrometorfa
hidrobromida
mengandung
dekstrometrofan
hidrobromida
C18H25NO.Hbr.H2O , tidak kurang dari 95,0 % dan tidak lebih dari 105,0% dari jumlah yang
tertera pada etiket.
Dekstrometrofan agak sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol dan dalam kloroform,
tidak larut dalam eter (9).

IV.

Formulasi (fungsi dan perlakuan)


Dekstrometorfan HBr Acuan(1)
Bahan
Dekstrometorfan HBr
Sukrosa
Povidone (Kollidon K25)
Polyethylene Glycol 6000
Natrium Benzoat
Sukrolase
Sodium Sakarin
Perasa
Asam Sitrat
Sodium Sitrat Dihidrat
Aquades
1. jurnal paten 2006

Gram per 100 ml


0.3
60
2.5
0.25
0.2
0.2
0.13
0.3
0.64
2.66
Qs 100 ml

Dekstrometorfan HBr Modifikasi 1


Bahan
Dekstrometorfan HBr
Sukrosa
Povidone (Kollidon K25)
Polyethylene Glycol 6000
Natrium Benzoat
Asesulfam Kalium
Sodium Sakarin
Perasa
Asam Sitrat
Sodium Sitrat Dihidrat
Aquades
Na CMC

Gram per 120 ml


0.36
72
3.6
0.3
0.24
0.96
0.156
0.36
0.768
3.192
Qs 100 ml
0.9

Dekstrometorfan HBr Modifikasi 2


Bahan
Dekstrometorfan HBr
Sukrosa
Povidone (Kollidon K25)
Polyethylene Glycol 6000
Natrium Benzoat
Asesulfam Kalium
Sodium Sakarin
Perasa
Asam Sitrat
Sodium Sitrat Dihidrat
Aquades
Na CMC
V.

Gram per 120 ml


0.36
72
4.8
0.3
0.24
0.96
0.156
0.36
0.768
3.192
Qs 100 ml
0.9

Cara Kerja

Pertama dilakukan pembuatan faese A. Fase A terdiri dari pencampuran


sukrosa dan sodium benzoate, kemudian dipanaskan. Setelah itu didinginkan
sampai suhu 30o. Selanjutnya dilakukan pembuatan fase B yang terdiri dari
campuran PEG dan air yang dicampur hingga homogeny. Kemudian ditambahkan
dekstrometorfan . Selanjutnya dibuat fase C yang terdiri daricampuran fase A
dan B.
Kemudian dibuat fase D yang terdiri dari campuran povidon polivinil priolidon
(PVP) dengan fase C. Selanjutnya dibuat fase E yang terdiri dari asam sitrat dan
sodium sitrat dihidrat. Setelah itu dibuat fse F yang terdiri dari sakarin sodium dan
asesulfam K. Kemudian dibuat fase G yang terdiri dari campuran fase D, fase E, dan

fase F. Setelah terbentuk campuran yang homogen, ditambahkan perasa pada fase
G. Kemudian ditambahkan air sampai volume yang dibutuhkan. Setelah itu
ditambahkan Na CMC.

VI.

Uji Evaluasi
a. Uji Viskositas

Dipasang alat di statib yang tersedia, dipaskan posisi gelembung udara pada waterpas nya
sehingga ada di tengah lingkaran. Dipasang pelindung rotornya sekrupkan hingga kencang.
Dipasang kabel powernya. Dilepas penutup sekrup rotornya. Dipasang rotor sesuai kekentalan
bahan yang akan diuji (untuk sediaan yang encer pakai rotor yang besar S61). Dicolokan
listriknya tekan tombol power di posisi on di belakang alat.Ditekan sembarang tombol, tunggu
beberapa saat sampai tulisan di LCD diam.Ditekan select spindle sesuaikan dengan rotor yang
terpasang, sesuaikan dengan spindle yang digunakan . Ditekan tombol on / of di panel depan ,
usahakan persen rpmnya minim 50 % kalau kurang dari 50% turunkan atau naikkan speednya,
dengan menekan tombol set speed dan tanda turun untuk menurunkan kecepatannya dari 100
rpm 0,5 rpm. Dilihat tampilan lcdnya berupa viskositasnya dikanan atas dengan satuan cp
( centi meter vois) dan lihat persen rpmnya. Catat hasilnya dan pembacaan yang pertama, kedua,
ketiga, dan seterusnya. Diusahakn pada persen rpm yang sama. Untuk replikasi pembacaan
minimal 3 kali dari pembacaan pertama kepembacaan kedua viscometer dimatikan rpmnya saja.
Terus dinaikkan tunggu 3 menit. Kemudian diturunkan lagi dan tekan tombol on atau offnya.
Cara mematikan viscometer brook field : pastikan posisi rpm mati atau off, matikan tombol
power dibelakang alat, naikkan viscometernya, lepas rotornya bersihkan. Ditutup dudukan
spindel dengan tutupnya keringkan rotor, simpan dikotak sesuai tempatnya. Dicabut tabel power
dari stop kontak. Dibersihkan lingkungan di sekitar alat.
b. Uji Alir
Disiapkan alat untuk alir. Disiapkan masing-masing replica.si formula 1 dan formula 2 pada
tabung reaksi 5ml. Ditempatkan tabung reaksi pada alat. Diputar alat dan tabung reaksi hingga
90. Dihitung waktu sampel hingga tertuang seluruhnya
c. Uji pH
Disiapkan larutan yang akan diuji pH nya. PH meter distabilkan terlebih dahulu dengan
menggunakan standar pH 7.00. Dicelupkan pH meter pada larutan, kemudian dilihat angka yang
tertera sampai perubahannya stabil. Dicatat pH yang diperoleh.
d. Uji Organoleptis
Uji dilakukan selama 2 minggu, diamati sejak pembuatan formulasi. Diamati warna,
kekentalan, bau, serta sedimentasi.
e. Uji Ukuran Partikel

Diletakkan mikroskop di atas meja. Disiapkan preparat yang sudah diberikan sampel lalu
ditempatkan preparat pada meja benda tepat pada lubang preparat dan dijepit dengan penjepit
obyek/benda. Diputar revolver sehingga lensa obyektif dengan perbesaran 10x berada pada
posisi satu poros dengan lensa okuler yang ditandai bunyi klik pada revolver. Diatur cermin
dan diafragma untuk melihat kekuatan cahaya masuk, sehingga pada lensa okuler tampak
terang berbentuk bulat (lapang pandang). Diatur fokus untuk memperjelas gambar obyek
dengan diputar pemutar kasar, sambil dilihat dari lensa okuler. Untuk mempertajam diputar
pemutar halus. Apabila bayangan obyek sudah ditemukan, maka diganti lensa obyektif dengan
ukuran dari 10 X,40 X atau 100 X, dengan cara memutar revolver hingga bunyi klik.
Jika telah selesai digunakan, bersihkan mikroskop dan disimpan pada tempat yang tidak
lembab.

VII.

Data dan Hasil

A.

Uji Organoleptis

Minggu
Ke

Formula

1
2

1
2

1
2

B. Uji pH
1. Mingguke 0
a. Formula 1

Bau
Aroma
Strawberry
Aroma
Strawberry
Aroma
Strawberry
Aroma
Strawberry
Aroma
Strawberry
Aroma
Strawberry

Warna

Sediment
asi

Merah

Tidak Ada

Merah

Tidak Ada

Merah

Tidak Ada

Merah

Tidak Ada

Merah

Tidak Ada

Merah

Tidak Ada

Replikasi
1
2
3
Rata Rata

SD

SD

pH
5.21
5.2
5.2
5.21

(x1-x)2 + (x2-x)2 +(x3-x)2


n-1

(5.21-5.20)2 + (5.21-5.21)2 + (5.21-5.22)2


3-1

= 0,01

CV

SD
100%
= x

CV

0,01
100
5,21

= 0,19 %
b. Formula 2
Replikasi
1
2
3
Rata Rata

pH
5,17
5,22
5,21
5,2

SD

SD

(x1-x)2 + (x2-x)2 +(x3-x)2


n-1

(5,2 5,17)2 +(5,2 - 5,22)2 +(5.2 - 5.21)2


3-1

= 0,026

CV

SD
100%
= x

CV

0,026
100
5,2

= 0,5 %

2. Mingguke 1
a. Formula 1
Replikasi
1
2
3
Rata Rata

SD

pH
5,33
5,34
5,34
5.38
(x1-x)2 + (x2-x)2 +(x3-x)2
n-1

SD

(5,38 5,33)2 +(5,38 5,34) 2 + (5,38 5,34) 2


3-1

= 0,05

CV

CV

SD
100%
= x

0,05
100
5,38

= 0,93 %
b. Formula 2
Replikasi
1
2
3
Rata Rata

SD

SD

pH
5,36
5,35
5,37
5,36

(x1-x)2 + (x2-x)2 +(x3-x)2


n-1

(5,36 5,36)2 +(5,36 - 5,35)2 +(5,36 5,37)2


3-1

= 0,01

CV

SD
100%
= x

CV

0,026
100
5,2

= 0,19 %

3. Mingguke 2
a. Formula 1
Replikasi
1
2
3
Rata Rata

SD

SD

pH
5,31
5,3
5,25
5,29

(x1-x)2 + (x2-x)2 +(x3-x)2


n-1

(5,29 5,31)2 +(5,29 5,3) 2 + (5,29 5,25) 2


3-1

= 0,03

CV

SD
100%
= x

CV

0,03
100
5,29

= 0,57 %
b. Formula 2
Replikasi
1
2
3
Rata Rata

SD

SD

Ph
5,24
5,21
5,25
5,23

(x1-x)2 + (x2-x)2 +(x3-x)2


n-1

(5,23 5,24)2 +(5,23 - 5,21)2 +(5,23 - 5.25)2


3-1

= 0,02

CV

CV

SD
100%
= x

0,02
100
5,23

= 0,38 %
C.

UjiViskositas

1. Mingguke 0
a. Formula 1
Replikasi
1
2
3
Rata Rata

SD

SD

Viskositas
68,7
70,8
66,6
68,7

(x1-x)2 + (x2-x)2 +(x3-x)2


n-1

(68,7 68,7)2 +(68,7 70,8) 2 + (68,7 66,6)2


3-1

= 2,1

CV

SD
100%
= x

CV

2,1
100
68,7

= 3,06 %
b. Formula 2
Replikasi
1
2

Viskositas
58
61,7

3
Rata Rata

SD

SD

60
59,9

(x1-x)2 + (x2-x)2 +(x3-x)2


n-1

(59,9 - 58)2 + (59,9 61,7)2 +(59,9 - 60)2


3-1

= 1,85

CV

SD
100%
= x

CV

1,85
100
59,5

= 3,09 %

2. Mingguke 1
a. Formula 1
Replikasi
1
2
3
Rata Rata

Viskositas
53,4
51
57
53,8

SD

SD

(x1-x)2 + (x2-x)2 +(x3-x)2


n-1

(53,8 53,4)2 +(53,8 - 51)2 +(53,8 - 57)2


3-1

= 3,02

CV

CV

SD
100%
= x

3,02
100
53,8

= 5,61 %
b. Formula 2
Replikasi
1
2
3
Rata Rata

SD

Viskositas
77,7
81,9
82,5
80,7
(x1-x)2 + (x2-x)2 +(x3-x)2
n-1

SD

(80,7 77,7)2 +(80,7 81,9) 2 + (80,7 82,5)2


3-1

= 2,62

SD
100%
= x

CV

CV

2,62
100
80,7

= 3,25 %

3. Mingguke 2
a. Formula 1
Replikasi
1
2
3
Rata Rata

SD

SD

Viskositas
60,6
58,5
63,6
60,9

(x1-x)2 + (x2-x)2 +(x3-x)2


n-1

(60,9 60,6)2 +(60,9 58,5) 2 + (60,9 63,6)2


3-1

= 2,56

CV

SD
100%
= x

CV

2,56
100
60,9

= 4,2 %
b. Formula 2
Replikasi
1
2
3
Rata Rata

SD

SD

Viskositas
73
75
77
75

(x1-x)2 + (x2-x)2 +(x3-x)2


n-1

(75 - 73)2 + (75 - 75)2 + (75 - 77)2


3-1

=2

CV

SD
100%
= x

CV

2
100
75

= 2,67 %

D.
1. Minggu 0

Uji DayaAlir

a. Formula 1
Replikasi
1
2
3
Rata Rata

SD

SD

WaktuAlir 5 ml (detik)
10,5
10,53
10,4
10,48

(x1-x)2 + (x2-x)2 +(x3-x)2


n-1

(10,48 10,5)2 +(10,48 10,53) 2 + (10,48 10,4)2


3-1

= 0,08
b. Formula 2
Replikasi
1
2
3
Rata Rata

WaktuAlir 5 ml (detik)
15,1
14,8
15,2
15,03

SD

SD

(x1-x)2 + (x2-x)2 +(x3-x)2


n-1

(15,03 15,1)2 +(15,03 14,8) 2 + (15,03 15,2)2


3-1

= 0,21

CV

CV

SD
100%
= x

0,21
100
15 , 03

= 1,4 %

CV

SD
100%
= x

CV

0,08
100
10,48

= 0,76 %
2. Minggu 1

a. Formula 1
Replikasi
1
2
3
Rata Rata

SD

SD

WaktuAlir 5 ml (detik)
10,36
10,34
10,21
10,30

(x1-x)2 + (x2-x)2 +(x3-x)2


n-1

(10,3 10,36)2 +(10,3 10,34) 2 + (10,3 -10,21)2


3-1

= 0,08

CV

SD
100%
= x

CV

0,08
100
10,3

= 0,78 %

b. Formula 2
Replikasi
1
2

WaktuAlir 5 ml (detik)
13,13
13,76

3
Rata Rata

SD

SD

13,01
13,3

(x1-x)2 + (x2-x)2 +(x3-x)2


n-1

(13,13 13,3)2 +(13,3 -13,76)2 +(13,3 13,01) 2


3-1

= 0,4

CV

SD
100%
= x

CV

0,4
100
13,3

= 3,01 %

2. Minggu 2
a. Formula 1
Replikasi
1
2
3
Rata Rata

WaktuAlir 5 ml (detik)
10
9,9
10,8
10,23

SD

SD

(x1-x)2 + (x2-x)2 +(x3-x)2


n-1

(10,23 - 10)2 + (10,23 9,9)2 +(10,23 10,8) 2


3-1

= 0,49

CV

SD
100%
= x

CV

0,49
100
10,23

= 4,79 %

b. Formula 2
Replikasi
1
2
3
Rata Rata

SD

WaktuAlir 5 ml (detik)
10
11,2
11,3
10,83
(x1-x)2 + (x2-x)2 +(x3-x)2
n-1

SD

(10,83 - 10)2 + (10,83 11,2)2 + (10,83 11,3)2


3-1

= 0,72

CV

SD
100%
= x

CV

0,72
100
10,83

= 6,65%
c. Uji Ukuran Partikel
1.
Minggu ke 0
a. Formula 1
Replikasi 1

Replikasi 2

Replikasi 3

b. Formula 2
Replikasi 1

Replikasi 2

Replikasi 3

2.
Minggu ke 1
a. Formula 1

Replikasi 1

Replikasi 2

Replikasi 3

b. Formula 2
Replikasi 1

Replikasi 2

Replikasi 3

3.
Minggu ke 2
a. Formula 1
Replikasi 1

Replikasi 2

Replikasi 3

b. Formula 2
Replikasi 1

Replikasi 2

Replikasi 3

Grafik

Daya Alir Formula 1


10.5
10.4

Daya Alir

10.3
10.2
10.1
0

0.5

1.5

2.5

Daya Alir Formula 2


20
15

Daya Alir

10
5
0
0

0.5

1.5

2.5

pH Formula 1

pH

pH Formula 2

pH

viskositas Formula 1
viskositas

Viskositas Formula 2
100
80
60

Viskositas

40
20
0

VIII.

Pembahasan
Penelitian yang dilakukan mengenai formulasi sirup dekstrometorpan dengan
variasi kadar PVP (polyvinilpyrrolidone) sebanyak 3% dan 4%. Dekstrometorphan
digunakan sebagai salah satu antitusif yang banyak digunakan, dan juga digunakan untuk
mempelajari keterlibatan resep torglutamat dalam neurotoksisitas (drug bank). Polyvinil
pyrrolidone (PVP) banyak digunakan dalam sediaan tablet sebagai agen penyalut. Fungsi
dari PVP yang bermacam-macam diantaranya sebagai agen pensuspensi, penstabilisasi,
agen peningkat viskositas dalam sediaan topikal dan oral baik itu berbentuk suspensi atau
larutan. Dalam formulasi ini digunakan fungsi dari PVP yaitu sebagai agen pensuspensi
dalam sirup. Digunakan variasi kadar dalam penelitian untuk mengetahui pengaruh dari
PVP dalam kestabilan sediaan sirup.

Dekstrometorpan stabil dalam pH sedian 5,2 - 6,5(Budavari,S.,1996,The

MerckIndex:AnEncyclopediaofChemicals,Drugs,and
Biologicals,Edisi12,Merck&Co.,Inc.,Whitehouse
Station,NJ.). Sedangkan pH dari PVP sekitar 3-7. Hal ini menunjukkan penambahan
PVP tidak akan mempengaruhi ph dari dektrometorpan karena keduanya masih berada dalam
rentang pH yang sama. Formulasi yang dibuat terdiri dari dekstrometorpan HBr yang berfungsi
sebagai zat aktif obat. Sukrosa, asesulfam kalium, dan sodium sakarin berfungsi sebagai pemanis
dalam sediaan. Kombinasi dari ketiganya menghasilkan efek sinergis dari pemanis. Digunakan
secara bersamaan karena untuk menghindari dosis berlebih pada masing-masing bahan yang
digunakan sehingga tidak melewati dosis maksimal yang dapat digunakan per harinya. Pemanis
tersebut dipilih karena memiliki efek manis yang cukup baik juga karena apabila digunakan
dalam jumlah banyak masih dalam batas aman untuk dikonsumsi. Sakarin memiliki dosis aman
per hari 2,5 mg/kg BB dan memiliki sifat manis 300-600 kali sukrosa (eksipien 609), asesulfam
15mg/kg BB (eksipien 3-5). Asesulfam yang digunakan dalam formulasi adalah 0,96 mg dalam
120 ml masih dalam batas aman penggunaan. Natrium benzoate dalam formulasi berfungsi
sebagai pengawet dan antimikroba. PEG 400 digunakan sebagai pelarut. Asam sitrat dan sodium
sitrat dihidrat berfungsi sebagai penyangga untuk mempertahankan pH larutan.
Uji yang dilakukan pada penelitian yaitu stabilitas fisik terkait dengan
organoleptis, pH, viskositas, ukuran partikel, uji daya tuang. Organoleptis pada formula 1
dan formula 2 menunjukkan bahwa tidak ada perubahan pada warna dan bau. Warna tetap
merah dan aroma strawberi kedua formula juga tetap dari minggu ke-0 hingga minggu
ke-2. Uji sedimentasi pada kedua formula juga menunjukkan tidak ada pengendapan yang
terjadi. Uji organoleptis membuktikan bahwa secara fisik sirup yang dibuat sudah stabil.
Hasil uji partikel menunjukan bahwa sediaan yang dibuat telah homogen karena pada
hasil partikel tidak terlihat. Uji daya tuang yang dilakukan pada formula satu
menunjukkan hasil yang stabil karena waktu daya tuang yang dibutuhkan relative stabil
dari minggu ke-0 sampai minggu ke-2 yaitu sekitar 10 detik untuk tiap replikasi per 5 ml.
Sedangkan untuk formula 2 relativ tidak stabil karena tiap minggu waktu yang
dibutuhkan semakin berkurang yang menunjukkan bahwa formula dua setiap minggunya
semakin encer. Uji pH pada formulasi 1 dan formulasi 2 menunjukkan hasil yang relative
stabil. Hasil uji viskositas formula 1 dan formula 2 menunjukkan ketidakstabilan
viskositas terlihat dari hasil yang berubah-ubah tiap minggunya. Namun formula 1
memiliki hasil pada tiap replikasi yang tidak jauh berbeda, sedangkan formula 2 hasil tiap
replikasinya berbeda cukup jauh. Dari semua uji yang dilakukan dapat disimpulkan
bahwa formulasi 1 dengan kadar PVP 3% lebih baik daripada formula 2 dengan kadar
PVP 4%.
IX.

Kesimpulan
1.Formulasi sirup yang dibuat dari dekstrometorfan sebagai zat aktif dan Povidone
(Kollidon K25), sukrosa, Asesulfam Kalium, Sodium Sakarin, Asam Sitrat, Sodium Sitrat
Dihidrat, Natrium Benzoat, Polyethylene Glycol 400, dan perasa sebagai eksipien atau
zat tambahan.

2. Variasi kadar PVP dalam pembuatan sirup dekstrometorphan dibuat dalam dua variasi
formula 1 dan formula 2. Berdasarkan hasil uji yang dilakukan formula 1 dengan kadar
PVP 3% lebih baik dibandingkan formula 2 dengan kadar 4%.
X.

Daftar Pustaka
JK Aronson. 2010. Meylers Side effect of Analgesics and Anti inflamantory
drugs.Radarweg Amsterdam : Elsevier. Ebook @ http://books.google.co.id/books?
id=2WxotnWiiWkC&pg=PA49&dq=dextromethorphan&hl=en&sa=X&ei=wPO7Ubj4N
omMrQeQ6YDICg&redir_esc=y#v=onepage&q=dextropetophan&f=false
F. Haaf, A. Sanner and F. Straub (1985). "Polymers of N-Vinylpyrrolidone: Synthesis,
Characterization

and

Uses".

Polymer

Journal

17

(1):

143152.

doi:10.1295/polymj.17.143
Bhler, Volker (2005). Excipients for Pharmaceuticals - Povidone, Crospovidone and
Copovidone. Berlin, Heidelberg, New York: Springer. pp. 1254. ISBN
Voigt, Rudolf, 1995, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta ,392-393
Ansel , H.C , 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi , Edisi Keempat, Penerbit
Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta , 304-305
Agoes, Goeswin , 2006 , Pengembangan Sediaan Farmasi , Edisi revisi dan perluasan ,
Penerbit ITB, Bandung , 59, 62, 69, 72
Lachman , Leon , Lieberman, H.A, Kanig ,J.L., 1994, Teori dan Praktek Farmasi
Industri , Edisi Ketiga, Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta, 965-975
http://www.drugbank.ca/drugs/DB00514, diakses pada 16 juni 2013

Anonin, 1995 , Farmakope Indonesia , Edisi IV , Departemen Kesehatan Republik


Indonesia, Jakarta , 299-300.