Anda di halaman 1dari 7

PENTINGNYA PENDIDIKAN

Bertolak dari asumsi bahwa life is education and education is life, dalam arti pendidikan
merupakan persoalan hidup dan kehidupan, dan seluruh proses hidup dan kehiduan manusia
adalah proses pendidikan maka pendidikan Islam pada dasarnya hendak mengembangkan
pandangan hidup Islami, yang diharapkan tercermin dalam sikap hidup dan keterampilan hidup
orang Islam. Karena itu, pandangan hidup yang dimanifestasikan dalam sikap hidup dan
keterampilan hidup seseorang harus bisa mendatangkan berkah, yakni nilai tambah, kenikmatan,
dan kebahagian dalam hidup.
Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk membangun dan meningkat mutu SDM menuju era
globalisasi yang penuh dengan tantangan sehingga disadari bahwa pendidikan merupakan sesuatu
yang sangat fundamental bagi setiap individu. Oleh karena itu, kagiatan pendidikan tidak dapat
diabaikan begitu saja, terutama dalam memasuki era persaingan yang semakin ketat, tajam, berat
pada abad millennium ini.[3] Dalam Islam menuntut ilmu itu wajib hukumnya, sebagaimana sabda
Rasulullah saw dalam hadits yang berbunyai:

Artinya:
Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuaan (al-Hadits)
Berdasarkan hadits tersebut, bahwa menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim. Disamping
diwajibkan menuntut ilmu, hadits tersebut juga memberikan pelajaran kepada umat Islam tentang
pentingnya pendidikan untuk kemulian hidupnya. Pendidikan merupakan salah proses untuk
meningkat dan mendekatkan diri kepada sang pencipta yaitu Allah SWT. Dengan pendidikan
manusia lebih mulia dan terhormat dipandangan Allah SWT dan lebih mulia dari pada mahkluk
ciptaan-Nya yang lain. Pendidikan merupakan usaha manusia untuk membina kepribadiannya
sesuai dengan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat.
Secara alamiah, manusia sejak dalam rahim ibu sampai meninggal dunia mengalami proses
pertumbuhan dan berkembang tahap demi tahap. Begitu pula kejadian alam semesta ini
diciptakan oleh Allah SWT dalam proses tingkat demi tingkat. Dengan demikian, pendidikan dapat
dikatakan sebagai sarana utama untuk mengembangkan kepribadian setiap manusia dalam usaha
manusia melestarikan hidupnya.[4]
Pentingnya pendidikan telah diungkapkan beberapa tokoh pendidikan Islam yang mengacu kepada
definisi pendidikan Islam, yaitu:
1.

Abdurrahman al-Nahlawi mengemukakan bahwa pendidikan Islam merupakan suatu


tuntutan dan kebutuhan mutlak umat manusia, karena (a) untuk menyelamatkan anakanak di dalam tubuh umat manusia pada umumnya dari ancaman.[5]

2.

Dr. Muhammad Fadil al-Jamaly (Guru Besar Pendidikan di universitas Tunisia) mengatakan
bahwa pendidikan adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik
dan yang mengangkat derajat kemanusiaannya, sesuai dengan kemampuan dasar atau

fitrah dan kemampuaan ajarannya (pengaruh dari luar).[6] Esensi pendidikan yang harus
dilaksankan umat Islam menurut beliau adalah pendidikan yang memimpin manusia kea
rah akhlak mulia dengan memberikan kesempatan keterbukaan terhadap pengaruh dari
dunai luar dan perkembangan dari dalam diri manusia yang merupakan kemampuan dasar
yang dilandasi oleh keimanan kepada Allah SWT. Pandangan beliau ini didasarkan pada
firman Allah SWT yang berbunyi:
!$#ur N3y_tzr& .`iB bq/ N3FygB& w cqJn=s? $\x@yy_ur
?N3s9 yJ9$# t|/F{$#ur noyF{$#ur

N3=ys9 cr3s

Artinya:
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan
dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. an-Nahl: 78)
Firman Allah dalam surat an-Nahl ayat 78 tersebut mengindikasikan kepada kita bahwa ketika kita
dilahirkan tidak mengetahui sesuatupun. Maka Allah ciptakan pada diri manusia pendengaran,
penglihatan dan hati, ini semua untuk membantu manusia dalam proses pendidikan. Tanpa melalui
pendidikan manusia tidak mengetahui apa-apa. Dengan pendidikanlah manusia bisa mengetahui
tentang segala sesuatu terutama tentang kebesaran Allah SWT.
Pendidikan anak merupakan tanggung jawab orang tuanya. Memberikan pengertian pentinganya
pendidikan merupakan keharusan orang tua tatkala proses pendidikan dalam keluarga. Pendidikan
anak merupakan tanggung jawab orang tua didasarkan pada firman Allah SWT yang berbunyi:
pkrt t%!$# (#qZtB#u (#q% /3|Rr& /3=dr&ur #Y$tR$
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS. atTahriim: 06)
Pendidik dalam padangan Islam secara umum adalah mendidik, yaitu mengupayakan
perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi psikomotorik, kognitif, maupun potensi
afektifnya. Potensi ini harus dikembangkan secara seimbang sampai ke tingkat setinggi mungkin,
menurut ajaran Islam.[7] Maka inilah tugas orang tua tersebut berdasarkan firman Allah dalam
surat al-Tahriim ayat 06 tersebut di atas. Salah satu cara untuk menumbuhkembangkan potensi
yang dimiliki anak adalah melalui pendidikan. Disinilah pentingnya pendidikan bagi umat manusia.
Dalam pandangan penulis, bahwa pada awalnya pendidikan merupakan murni tugas kedua orang
tua, sehingga kedua orang tua tidak perlu mengirim anaknya ke sekolah, akan tetapi karena
perkembangan ilmu pengetahun, keterampilan, sikap serta kebutuhan hidup sudah semakin luas,
dalam, dan rumit, maka orang tua tidak mampu lagi melaksanakan sendiri tugas-tugas mendidik
anaknya. Sekalipun demikian, secara teoritis seharusnya rumah tangga dan sekolah tetap
menyadari sejarah pendidikan tersebut. Pengaruh pendidikan di dalam rumah tangga terhadap
perkembangan anak memang sangat besar, mendasar dan mendalam.

Marimba (1989: 19) menyatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar
oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama.[8]Dari pendapat Marimba tersebut, dapat penulis simpulkan bahwa
pentingnya pendidikan adalah untuk menumbuhkembangan potensi jasmani dan rohani yang
dimiliki manusia demi terwujudnya manusia yang memiliki kepribadian-kepribadian yang utama
dalam istilah agamanya adalah Insan Kamil dan menjadi hamba Allah SWT yang selalu
mendekatkan diri kepada-Nya.
Dalam teori pendidikan lama, yang dikemukan oleh dunia Barat, dikatakan bahwa perkembangan
seseorang hanya dipengaruhi oleh pembawaan (nativisme). Sebagai lawannya berkembang pula
teori yang mengajarkan bahwa perkembangan seseorang ditentukan oleh lingkungannya
(empirisme). Sedangkan Islam memandang bahwa perkembangan seeorang ditentukan oleh
pembawaan dan lingkungannya, hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw yang berbunyi:[9]
( )
Artinya:
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi,
Nasrani atau Majusi. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam analisis penulis, berdasarkan hadits Rasulullah saw tersebut, bahwa sejak lahir manusia
dalam keadaan fitrah atau telah membawa kemampuan-kemampuan dasar atau dengan istilah
sekarang disebut dengan potensi. Fitrah atau kemampuan dasar tersebut harus
ditumbuhkembangkan dengan baik sesuai dengan fitrah dasarnya. Salah satu cara untuk
menumbuhkembangn fitrah atau potensi tersebut yang paling efektif adalah melalui pendidikan.
Sehingga hadits tersebut menjelaskan begitu pentingnya pendidikan bagi manusia untuk
menumbuhkembangkan fitrah atau potensi yang dimilikinya yang telah dibawa sejak manusia itu
sendiri lahir. Walaupun tanpa pendidikan, fitrah atau potensi itu bisa berkembang, namun
perkembangannya tidak sesuai dengan nilai-nilai dari ajaran Islam. Pendidikan mengarahkan
bagaimana seharusnya fitrah atau potensi itu harus diarahkan dan ditumbuhkembangkan.
Para ahli pendidikan Islam telah sepakat bahwa maksud dari pendidikan dan pengajaran bukanlah
memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui, tetapi
maksudnya ialah mendidik ahklak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadilah (keutamaan),
membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu
kehidupan yang suci seluruhnya ikhlas dan jujur. Maka tujuan pokok pendidikan Islam ialah
mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa.[10]
Islam adalah agama ilmu dan cahaya, bukanlah suatu agama kebodohan dan kegelapan. Wahyu
yang pertama-tama diturunkan mengandung perintah membaca kepada Rasulullah saw.
Pengulangan atas perintah tersebut dan penyebutan kembali mengenai masalah ilmu dan
pendidikan itu, dapat kita rasakan menghubungkan soal pendidikan dengan Tuhan dalam ayat:
[11]
&t%$# O$$/ y7n/u %!$# t,n=y{ t,n=y{ z`|SM}$# `B @,n=t
&t%$# y7/uur Pt.F{$# %!$# zO=t On=s)9$$/ zO=t z`|SM}
$# $tB Os9 Ls>t

Artinya:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajar (manusia)
dengan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al-Alaq: 15)
Ayat ini menjelaskan kepada kita untuk selalu membaca dan belajar. Proses belajar dan mambaca
hanya banyak dilakukan tetkala manusia melakukan proses pendidikan. Sehingga dengan banyak
membaca, manusia lebih dekat dengan Allah SWT dan banyak mengetahui tentang ciptaan-Nya
terutama tentang proses penciptaan alam semesta ini. Pendidikan merupakan salah media yang
paling utama untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT karena inti pendidikan itu
adalah mendekatkan diri kepada-Nya. Namun, kebanyakan dari umat manusia tidak mengetahu
hakikat dari penting pendidikan itu, sehingga mereka sering mengabaikan pendidikan pada
anaknya.
Manusia sebagai mahluk biologis memiliki unsur mekanisme jasmani yang membutuhkan
kebutuhan-kebutuhan lahiriyah, misalnya sandang, pangan dan papan dan kebutuhan biologisnya
lainnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut harus dipenuhi secara layak, dan salah satu di antara
persiapan untuk memenuhinya yang layak adalah melalui pendidikan. Dengan pendidikan,
pengalaman dan pengetahuan seseorang dapat bertambah dan dapat menentukan kualitas dan
kuantitas kerjanya.[12]
Pendidikan berusaha mengembangkan potensi individu agar mampu berdiri sendiri, untuk itu
individu perlu diberi berbagai kemampuan dalam pengembangan berbagai hal, seperti komsep,
prinsip, kreaktivitas, tanggung jawab, dan keterampilan. Dengan kata lain perlu perlu mengalami
perkembangan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Demikian juga individu juga
makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan lingkungan sesamanya. Objek sosial ini akan
berpengaruh terhadap perkembangan individu. Melalui pendidikan dapat dikembangkan suatu
keadaan yang seimbang antara perkembangan aspek individual dan aspek sosial.[13]
Dalam analisis dan pengamatan penulis, pendidikan merupakan proses dimana seseorang
memperoleh pengetahuan (knowledge acquisition), mengembangkan kemampuan/keterampilan
(skills developments) sikap atau mengubah sikap (attitute of change). Pendidikan adalah suatu
proses transpormasi anak didik agar mencapai hal-hal tertentu sebagai akibat dari proses
pendidikan yang diikutinya. Sebagai bagian dari masyarakat, pendidikan memiliki fungsi ganda,
yaitu fungsi sosial dan fungsi individual. Fungsi sosialnya untuk membantu setiap individu menjadi
anggota masyarakat yang lebih efektif dengan memberikan pengalaman kolektif masa lalu dan
sekarang, sedangkan fungsi individualnya untuk memungkin seseorang menempuh hidup yang
lebih memuaskan dan lebih produktif dengan menyiapkannya untuk menghadapi masa depan.
Fungsi tersebut dapat dilakukan secara formal seperti yang terjadi di lembaga pendidikan, maupun
informal melalui berbagai kontak dengan media informasi seperti buku, surat kabar, majalah. Tv,
radio dan lain sebagainya.
Dari penjelasan di atas maka tujuan pendidikan dalam pandangan Islam harus mampu
menciptakan manusia yang berilmu pengetahuan yang tinggi, dimana iman dan takwa menjadi
menjadi pengendali dalam pengamalan ilmunya di masyarakat. Manusia muslim yang dihasilkan
oleh proses kependidikan Islam harus mampu mencari cara-cara hidup yang dapat membawa

kebahagian hidup di dunia maupun di akhirat yang bercorak diri dan berderajat tinggi menurut
ukuran Allah.[14] Manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi, untuk menjalankan
kepemimpinannya, manusia harus memiliki pengetahuan untuk membantu dirinya dalam
mengelola alam semesta ini. Hidup di dunia maupun bekal di akhirat nanti harus berilmu,
sebagaimana sabda Rasulullah saw yang berbunyi:

Artinya:
Barangsiapa yang menginginkan (kebahagian) hidup di dunia maka hendaklah ia berilmu, dan
barangsiapa yang meninginkan (kebahagian) hidup di akhirat maka hendaklah ia berilmu, dan
barangsiapa yang menhendaki kedua-keduanya maka hendaklah ia berilmu.
Hadits tersebut memberikan pembelajaran kepada kita umat Islam agar memiliki ilmu
pengetahuan baik ilmu pengatahuan agama maupun ilmu pengetahuan umum. Hadits Rasulullah
saw tersebut, dalam pandangan penulis menjelaskan tentang pentingnya pendidikan bagi umat
manusia. Ilmu pengetahuan merupakan bekal kita untuk hidup di dunia dan akhirat. Tujuan dari
proses pendidikan adalah untuk kesempurnaan dan kemulian manusia itu sendiri.
Dihadapan Allah, orang yang menuntut ilmu sangat mulia. Apabila para pencari ilmu meninggal
ketika dalam proses pendidikan atau pencaraian ilmu, mereka adalah mati dalam keadaan syahid.
Begitu mulianya orang memiliki ilmu dihadapan Allah SWT yang pemberi ilmu. Orang tua memilik
peran yang penting untuk memahamkan pentingnya pendidikan demi kelangsungan hidup
manusia.
Perumusan tujuan pendidikan Islam harus berorientasi pada hakikat pendidikan yang meliputi
beberapa aspek, misalnya tentang pertama, tujuan dan tugas hidup manusia. Manusia hidup
bukan karena kebetulan dan sia-sia. Ia diciptakan dengan membawa tujuan dan tugas tertentu.
Tujuan diciptakan manusia adalah hanya untuk mengabdi kepada Allah SWT.[15]
Tujuan manusia agar menuntut ilmu agar hidupnya melia dan mendapat derajat yang tinggi disisi
Allah SWT, sebagaimana firman-Nya yang berbunyi:
st !$# t%!$# (#qZtB#u N3ZB t%!$#ur (#q?r& zO=9$#
;My_uy 4 !$#ur $yJ/ tbq=yJs? 7yz
Artinya:
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang yang diberi ilmu
beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahu apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Mujadalah: 11)
Dalam proses pendidikan, tujuan akhir merupakan kristalisasi nilai-nilai yang ingin diwujudkan
dalam pribadi peserta didik. Dalam ayat tersebut, Allah meninggi derajat orang yang berilmu dari
yang lainnya. Mereka memiliki kemulian disisi Allah SWT. Tujuan akhir dari pentingnay pendidikan
harus lengkap mencakup semua aspek, serta terintegrasi dalam pola kepribadain ideal yang bulat
dan utuh. Tujuan akhir mengandung nilai-nilai Islami dalam segala aspeknya. Dari semua
penjelasan di atas, dapat penulis simpulkan bahwa pendidikan adalah sebagai alat untuk

memilihara, memperluas dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan


sosial serta ide-ide masyarakat dan bangsa. Pendidikan juga sebagai alat untuk mengadakan
perubahan, inovasi dan perkembangan yang secara garis besarnya memalui pengetahuan dan skill
yang baru ditemukan, dan melatih tenaga-tenaga manusia yang produktif untuk menemukan
keseimbangan perubahan sosial dan ekonomi. Namun dalam pandangan Imam al-Ghazali, tujuan
akhir pendidikan adalah berahklak mulia dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, itulah tujuan
terpenting dari pentingnya pendidikan itu dilakukan.
KESIMPULAN
Pendidikan dalam pandangan Islam yang sebenarnya adalah suatu sistem pendidikan yang
memungkinkan seseorang dapat mengarahkan hidupnya sesuai dengan ajaran Islam. Pendidikan
merupakan suatu proses untuk mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi,
masyarakat dan alam sekitarnya. Prinsip ini adalah keseimbangan antara berbagai aspek
kehidupan pada pribadi berbagai kebutuhan individu dan komunitas, serta tuntutan pemiliharaan
kebudayaan silam dengan kebutuhan kebudayaan masa kini serta berusaha mengatasi masalahmasalah yang sedang dan yang akan dihadapi. Dari penjelasan di atas dapat penulis simpulkan
bahwa tujuan pendidikan adalah:
1.

Mendidik akhlak dan jiwa manusia, menanamkan nilai-nilai keutamaan, membiasakan


mereka dengan kesopanan yang tinggi.

2.

Menjadi manusia yang hidup mulia dan bahagia dunia dan akhirat

3.

Menjadi hamba Allah SWT yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Karena manusia
diciptakan sebagai khalifah dan mengabdi kepada-Nya.

4.

Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kita dan orang-orang
yang memiliki ilmu pengetahuan.

5.

Serta mampu menjalankan hidupnya sebagai khalifah Allah di muka bumi dengan memiliki
pengetahuan baik pengatahuan agama maupun pengetahuan umum.

[1] Dra. Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Askara, 2008, hlm. 10
[2] Prof. Dr. Imam Suprayogo, Pendidikan Berparadigma Al-Quran,Malang: Aditya Media & UIN
Malang Press, 2004, hlm. 7
[3] Prof. Dr. Veithzal Rivai, Dr. Sylviana Murni, Education Management, Analisis Teori dan
Praktik, Jakarta: Rajawali Press, 2009, hlm. 1
[4] HM. Djumransjah, Abdul Malik Karim Amrullah, Pendidikan Islam,Malang: UIN-Malang Press,
2007, hlm. 12
[5] Fathiyyah Hasan Sulaiman, Konsep Pendidikan al-Ghazaly, Jakarta: P3M, 1986, hlm. 19
[6] HM. Djumransjah, ibid, hlm. 17

[7] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam,Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2007, hlm. 74
[8] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, ibid, hlm. 24
[9] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Op.cit. hlm. 34
[10] M. Athiyah al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Media Surya
Grafindo, 1987, hlm. 1
[11] Ibid, hlm. 33
[12] Abdul Mujib, Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006,
hlm. 138
[13] Dr. Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2008, hlm. 5
[14] Lihat HM. Djumransjah.hlm. 71
[15] Abdul Mujib, Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006,
hlm. 71