Anda di halaman 1dari 15

BANK & LKNB : PEMBIAYAAN KONSUMEN &

LEASING
A. Pengertian Pembiayaan Konsumen
Pembiayaan konsumen Adalah Badan Usaha yang melakukan pembiayaan
pengadaan barang untuk kebutuhan konsumen dengan sistem pembayaran asuran atau
berkala. Pembiayaan konsumen merupakan salah satu bidang usaha lembaga pembiayaan. Di
negara kita, badan usaha di luar bank dan lembaga keuangan bukan bank yang khusus
didirikan untuk melakukan kegiatan yang termasuk dalam atau seluruh bidang usaha lembaga
pembiayaan biasanya disebut perusahaan pembiayaan atau perusahaan multi finance.

B. Dasar Hukum Pembiayaan Konsumen


Yang menjadi dasar hokum dari pembiayaan konsumen dapat dibedakan kepada
dasar hokum substantive dan dasar hokum administrative.
1. Dasar hokum substantive
Adapun yang menjadi dasar hokum substantive eksistensinya pembiayaan konsumen
adalah perjanjian diantara para pihakberdasarkan Pasal 1338 ayat 1 KUH Perdata asas
kebebasan berkontrak, yaitu perjanjian antara pihak perusahaan financial sebgai kreditur
dan pihak konsumen sebagai debitur. Sejauh hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsipprinsip hokum yang berlaku, maka perjanjian tersebut adalah sah.

2. Dasar Hokum Administrative


Berdasarkan Keppres No.

61

Tahun

1988

tentang

Lembaga

Pembiayaan.
Keputusan Menteri Keuangan No. 1251/KMK.031/1988 tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan.

C. Pihak Yang Terlibat Dalam Transaksi Pembiayaan.


Adapun pihak-pihak yang terlibat di dalam transaksi pembiayaan konsumen adalah :
1. Pihak Perusahaan Pembiayaan

Pihak perusahaan pembiayaan adalah pihak yang menyediakandana bagi


kepentingan konsumen.
2. Pihak Dealer/Supplier
Pihak dealer/supplier adalah pihak penyedia barang yang dibutuhkan konsumen.
3. Pihak Konsumen
Pihak konsumen adalah pihak yang membutuhkan barang ataupun jasa.
D. Hubungan Para Pihak Yang Terlibat Dalam Pembiayaan Konsumen
Ada tiga pihak yang yang terlibat dalam suattu transaksi pembiayaan konsumen,
yaitu pihak perusahaan pembiayaan, pihak konsumen dan piahak supplier.
1. Hubungan Pihak Kreditur Dengan Konsumen
Hubungan antara pihak kreditur dengan pihak konsumen adalah hubungan
kontraktual dalam hal ini kontrak pembiayaan konsumen. Dimana pihak pemberi biaya
sebgai kreditur dan pihak penerima biaya adalah konsumen sebagai pihak debitur. Pihak
pemberi biaya berkewajiban utama untuk meberikan sejumlah uang untuk pembelian sesuattu
brang konsumsi, sementara pihak penerima biaya (konsumen) berkewajiban utm\ama untuk
membayar

kembali

uang

tersebut

secara

cicilan

kepada

pihak

pemberi

biaya.

Jadi hubungan kontraktual antara pihak penyedia dana dengan pihak penerima dana disebut
perjanjian kredit sehingga ketentuan yuridis yang berlaku adalah ketentuan tentang perjanjian
kredit dalam KUH Perdata sedangkan perjanjian kredit yang diatur dalam perbankan secara
yuridis formal tidak berlaku berhubung pihak pemberi biaya bukan bank.
2. Hubungan Pihak Konsumen Dengan Supplier
Hubungan antara konsumen dengan supplier terdapat suattu hubungan jual beli
yakni jual beli bersyarat, dimana pihak supplier selaku penjual menjual barang kepada pihak
konsumen sebagai pembeli, dengan syarat bahwa harga harga akan dibayarkan oleh pihak
ketiga yaitu pihak pembiayaan konsumen.
Karena adanya perjanjian jual beli. Maka seluruh ketentuan tentang jual beli tentang
yang relevan akan berlaku. Misalnya tentang adanya kewajiban menanggung dari pihak
penjual, kewajiban purna jual (garansi) dan sebgainya.
3. Hubungan Penyedia Dana Dan Supplier

Dalam hal ini antara pihak penyedia dana (pemberi dana) dengan pihak supplier
(penyedia barang) tidak mempunyai suattu hubungan hokum yang khusus, kecuali pihak
penyedia dana hanya sebgai pihak ketiga yang disyaratkan, yaitu pihak yang disyaratkan
untuk menyediakan dana untuk digunakan dalam perjanjian jual beli antara pihak supplier
dengan pihak konsumen. Jadi jika pihak penyedia dana wanprestasi dalam menyediakan
dananya, sementara kontrak jual beli maupun kontrak pembiayaan konsuemn telah selesai
dilakukan jual beli bersyarat antara pihak supplier dengan konsumen akan batal. Sementara
piahak konsumen dapat menggugat pihak pemberi dana karena wanprestasi tersebut.
E. Perkembangan Pembiayaan Konsumen
Ada 4 faktor utama yang mendorong perkembangan pembiayaan konsumen,
adalah :
1.

Keterbatasan Sumber Dana Formal

2.

Koperasi Simpan Pinjam Sulit Berkembang

3.

Bank Tidak Melayani Pembiayaan Konsumen

4.

Pembiayaan Lintah Darat Yang Mencekik

F. Penggolongan Perusahaan Pembiayaan Konsumen


Berdasarkan Dasar Kepemilikanya, perusahaan pembiayaan konsumen dapat
dibedakan menjadi 3 yaitu :
1.

Perusahaan Pembiayaan Konsumen Yang Merupakan Anak Perusahaan

Dari Pemasok.
Perusahaan pembiayaan konsumen ini dibentuk oleh perusahaan induknya, yaitu
pemasok, untuk memperlancar penjualan barang dan jasanya. Mengingat perusahaan ini
dibentuk untuk memperlancar penjualan barang atau jasa perusahaan induknya, maka
perusahaan pembiayaan konsumen jenis ini biasanya hanya melayani barang dan jasa yang
diproduksi atau ditawarkan oleh perusahaan induknya.
2.

Perusahaan Pembiayaan Konsumen Yang Merupakan Satu Group Usaha

Dengan Pemasok.
Perusahaan pembiayan konsumen jenis ini pada dasarnya tidak berbeda dengan
perusahaan pembiayaan konsumen yang merupakan anak perusahaan dari pemasok.
Perusahaan pembiayaan konsumen ini biasanya juga hanya melayani pembiayaan pembelian

barang dan jasa yang diproduksi oleh pemasok yang masih satu group usaha dengan
perusahaan tersebut.
3.

Perusahahaan Pembiayaan Konsumen Yang Tidak Mempunyai Kaitan

Kepemilikan Dengan Pemasok.


perusahahaan pembiayaan konsumen yang tidak mempunyai kaitan kepemilikan
dengan pemasok biasanya tidak hanya melayani pembiayaan atas pembelian barang pada
suatu pemasok saja. Perusahaan pembiayaan ini bisa melayani pembiayaan pembelian pada
pemasok lain, sedangkan spesialisasi pembiayaan konsumen biasanya pada jenis atau tipe
barang dan daerah pemasaranya.
G. Mekanisme Transaksi Pembiayaan Konsumen
Adapun beberapa tahap atau proses di dalam hal transaksi pembiayaan konsumen
ini, antara lain :
a)

Tahap permohonan.

Permohonan pembiyaan konsumen biasanya dilakukan oleh konsumen di tempat


kedudukan supplier atau dealer penyedia barang kebutuhan konsumen. Supplier atau dealer
ini biasanya telah bekerja sama dengan peruhaan pembiayaan konsumen.
b)

Tahap pengecekan dan pemeriksaan lapangan.

Berdasarkan aplikasi pemohon, perusahaan pembiayaan konsumen akan melakukan


pengecekan atas kebenaran dari pengisian formulir aplikasi tersebut dengan melakukan
analisis dan evaluasi terhadap data dan informasi yang telah di terima. Adapun tujuan dari
pemeriksaan lapangan ini adalah :
1)

Untuk memastikan keadaan konsumen dan memastikan akan kebutuhan

barang konsumen.
2)

Mempelajari keberaadaan barang yang dibutuhkan konsumen, terutama harga

kredibilitas pemasok atau supplier, dan layanan purna jual.


3)

Untuk menghitung secara pasti berapa besar tingkat kebenaran laporan calon

konsumen dengan laporan yang telah disampaikan.


c)

Tahap pembuatan customer profile

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, marketing department dari perusahaan


pembiayaan konsumen tersebut akan membuat customer profile yang isinya memuat tentang

nama calon konsumen dan istri/suami, alamat dan nomor rumah, pekerjaan, alamat kantor,
kondii pembiayaan yang diajukan, jenis dan tipe barang kebutuhan konsumen, dll.
d)

Tahap pengajuan proposal kepada credit komite

Marketing department akan mengajukan proposal atas permohonan yang diajukan


oleh calon konsumen tersebut kepada credit komite.
e)

Tahap keputusan kredit komite

Keputusan kredit komite merupakan dasar bagi perusahaan pembiyaan konsumen


untuk melakukan pembiayaan atau tidak. Apabila permohonan calon konsumen ditolak, maka
harus diberitahukan melalui surat penolakan, sedangkan apabila disetujui maka oleh
marketing department akan meneruskan ke tahap berikutnya.
f)

Tahap pengikatan

Berdasarkan keputusan kredit komite, selanjutnya oleh Bagian Legal akan


mempersiapkan pengkitan sebagai berikut:
1.

Perjanjian pembiayaan Konsumen beserta lampirannya

2.

Jaminan Pribadi (jika ada)

3.

Jaminan Perusahaan (jika ada)

Pengikatan perjanjian pembiayaan konsumen usaha dapat dilakukan secara bawah


tangan, dilegalisir oleh notaries, atau secara notariil.
g)

Tahap pemesanan barang kebutuhan konsumen

Setelah proses penandatanganan perjanjian dilakukan oleh kedua belah pihak,


selanjutnya perusahaan pembiayaan konsumen akan melakukan:
1.

Pemesanan barang kebutuhan konsumen kepada supplier. Pesanan ini

dituangkan dalam penegasan pemesanan pembelian/confirm purchse order dan bukti


pengiriman dan surat tandan penerimaan barang
2.

Penerimaan pembayaran dari konsumen kepada perusahaan pembiayaan

konsumen (dapat melalui supplier/dealer).


h)

Tahap pembayaran kepada supplier

Setelah barang model diserahkan oleh supplier kepada konsumen, selanjutnya


supplier akan melakukan penagihan kepada perusahaan pembiayaan konsumen. Sebelum

melaksanakan pembayaran, perusahaan pembiayaan konsumen akan melakukan hal-hal


sebagai berikut ;
1.

Melakukan penutupan perjanjian asuransi kepada perusahaan asuransi yang

telah ditunjuk.
2.

Pemeriksaan ulang terhadap seluruh dokumentasi perjanjian pembiayaan

konsumen.
i)

Tahap penagihan/monitoring pembayaran

Setelah seluruh pembayaran kepada supplier/dealer dilakukan, proses selanjutnya


adalah pembayaran angsuran oleh konsumen sesuai jadwal yang telah ditentukan. Pada tahap
ini collection department akan memonitor pembayaran angsuran berdasarkan jatuh tempo
yang telah ditetapkan, dan berdasarkan system pembayaran yang telah disepakati.
Disamping itu, juga akan dilakukan monitoring terhadapa jaminan, jangka waktu
berlakunya jaminan, dan masa berlakunya penutupan angsuransi.
j)

Tahap Pengambilan Surat Jaminan

Setelah konsumen melunasi seluruh kewajibannya kepada perusahaan pembiayaan


konsumen, maka perusahaan pembiayaan konsumen akan mengembalikan kepada konsumen:

H.

1.

Jaminan (BPKB, dan/atau sertifikat dan/atau faktur/invoice)

2.

Dokumen lainnya (jika ada) .

Manfaat Pembiayaan Konsumen


Ada beberapa manfaat dari pembiayaan konsumen, tergantung dari subjeknya,
yaitu :
Bagi Perusahaan Pembiayaan Konsumen
Manfaat utama yang dapat diperoleh perusahaan pembiayaan konsumen adalah
penerimaan dari bunga dan biaya administrasi. Tingkat bunga yang ditetapkan oleh
perusahaan konsumen biasanya lebih tinggi daripada tingkat bunga kredit bank. Resiko yang

ditanggung perusahaan pembiayaan konsumen relatif lebih besar daripada bank yang
menyalurkan kredit antara lain karena:
Perusahaan pembiayaan konsumen cenderung melakukan analisis
terhadap kelayakan konsumen atau calon debitor dengan cara yang lebih sederhana.
Analisis dilakukan dalam waktu yang sangat singkat
Sepanjang kemampuan dan kemauan calon debitor cukup bisa diandalkan,
perusahaan pembiayaan konsumen biasanya tidak mensyaratkan peyerahan anjungan
tambahan.
Bagi Pemasok
Manfaat utama bagi pemasok dengan adanya peusahaan pembiayaan konsumen
adalah peningkatan penjualan. Daya beli dan kemampuan cashflow calon konsumen yang
akan membeli barang pada pemasok sangat beragam. Konsumen tertentu berkemampuan
membayar secara tunai, disamping itu dalam kenyataan nya terdapat juga konsumen yang
mempunyai niat untuk membeli barang namun tidak memiliki uang tunai.perusahaan
pembiayaan konsumen menjembatani kepentingan konsumen semacam ini sehingga
penjualan barang oleh pemasok tidak hanya dapat dilakukan pada konsumen yang mempuai
cukup dana tunai. Apabila pemasok melakukan penjualan dengan cara kredit maka dana tunai
akan diterima secara bertahap dan setelah jangka waktu tertentu. Dengan adanya perusahaan
pembiayaan konsumen maka pemasok dapat memperoleh pembayaran secara tunai dan
angsuran konsumen dialihkan kepada perusahaan pembiayaan konsumen. Resiko tidak
terbayarnya kredit konsumen yang semula ditanggung oleh pemasok juga menjadi dapat
dialihkan pada perusahaan pembiayaan konsumen.
Bagi Konsumen.
Manfaat utama bagi konsumen adalah kesempatan untuk membeli atau memiliki
barang meskipun dana yang tersedia saat ini belum cukup untuk menutup seluruh harga
barang atau jasa. Apabila pembiayaan konsumen ini dibandigkan dengan kredit bank, maka
pembiayaan konsumen mempunyai manfaat atau keunggulan lain bagi konsumen.
Keunggulan pembiayaan konsumen dibandingkan kredit bank antara lain:
Prosedur yang lebih sederhana
Proses persetujuan yang biasanya lebih cepat

Perusahaan

pembiayaan

konsumen

biasanya

tidak

mensyaratkan

penyerahan anjungan tambahan sepanjang konsumen atau debitor cukup layak untuk
dipercaya kemampuan dan kemauan memenuhi kewajibanya.
Konsumen tertentu(terutama indonesia) mengalami keengganan untuk
berhubungan dengan bank dalam hal peminjam dana karena minimnya informasi tentang
jasa-jasa bank dan cara berhubungan dengan bank.
I.

Pengertian Leasing / Sewa Guna Usaha


Menurut Keputusan Menteri Keuangan No.1169/KMK.01/1991 tanggal 21
Nopember 1991, Sewa Guna Usaha / leasing adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk
penyediaan barang modal baik secara guna usaha dengan hak opsi (finance lease) maupun
sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease), untuk digunakan oleh lessee selama
jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala.

J.

Dasar Hukum Leasing


SKB Menkeu dan Menperin dan Mendag No. 122/MK/2/1974,

No.

32/M/SK/1974, DAN NO.30/Kpb/I/1974 tanggal 7 Februari 1974 Tentang Perijinan Usaha


Leasing.
SK MenKeu No. 650/MK/IV/5/1974 tentang Penegasan Ketentuan Pajak
Leasing Dan Besarnya Bea Materai Terhadap Usaha Leasing.
Keputusan Menteri Keuangan no 1169/KMK.01/1991, 21 Nov 1991 Tentang
Kegiatan Sewa Guna Usaha
K.

Pihak- Pihak Yang Terlibat Dalam Leasing


Setiap transaksi leasing sekurang-kurangnya melibatkan 4 (empat) pihak yang
berkepentingan, yaitu : lessor, lessee, supplier, dan bank atau kreditor.
1.

Lessor adalah

perusahaan leasing atau

pihak

yang

memberikan

jasa

pembiayaan kepada pihak lessee dalam bentuk barang modal. Lessor dalam financial
lease bertujuan untuk mendapatkan kembali biaya yang telah dikeluarkan untuk membiayai
penyediaan barang modal dengan mendapatkan keuntungan. Sedangkan dalam operating
lease, lessor bertujuan mendapatkan keuntungan dari penyediaan barang serta pemberian
jasa-jasa yang berkenaan dengan pemeliharaan serta pengoperasian barang modal tersebut.

2.

Lessee adalah perusahaan atau pihak yang memperoleh pembiayaan dalam

bentuk barang modal dari lessor. Lessee dalam financial lease bertujuan mendapatkan
pembiayaan berupa barang atau peralatan dengan cara pembayaran angsuran atau secara
berkala. Pada akhir kontrak, lessee memiliki hak opsi atas barang tersebut. Maksudnya,
pihak lessee memiliki hak untuk membeli barang yang di-lease dengan harga berdasarkan
nilai sisa. Dalamoperating lease, lessee dapat memenuhi kebutuhan peralatannya di samping
tenaga operator dan perawatan alat tersebut tanpa risiko bagilessee terhadap kerusakan.
3.

Supplier adalah perusahaan atau pihak yang mengadakan atau menyediakan

barang untuk dijual kepada lesseedengan pembayaran secara tunai oleh lessor. Dalam
mekanismefinancial lease, supplier langsung menyerahkan barang kepada lesseetanpa
melalui

pihak lessor sebagai

dalam operating

lease,

pihak

yang

supplier menjual

memberikan

barangnya

pembiayaan.

langsung

Sebaliknya,

kepada lessor dengan

pembayaran sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak, yaitu secara tunai atau berkala.
4.

Bank/kreditor. Dalam suatu perjanjian atau kontrakleasing, pihak bank atau

kreditor tidak terlibat secara langsung dalam kontrak tersebut, namun pihak bank memegang
peranan dalam hal penyediaan dana kepada lessor, terutama dalam mekanisme leverage
lease di

mana

sumber

dana

pembiayaan

lessor diperoleh

melalui

kredit

bank.

Pihak supplier dalam hal ini tidak tertutup kemungkinan menerima kredit dari bank, untuk
memperoleh

barang-barang

yang

nantinya

akan

objek leasing kepada lessee atau lessor.


L.

Mekanisme Transaksi Leasing / Sewa Guna Usaha


Adapun mekanisme transaksi pembiayaan leasing, adalah

Keterangan gambar :

dijual

sebagai

1. Lessee menghubungi supplier untuk pemilihan dan penentuan jenis barang,


spesifikasi, harga, jangka waktu pengiriman, jaminan purnajual atas barang yang akan dilease
2. Lessee melakukan negoasiasi dengan lessor mengenai kebutuhan pembiayaan
barang modal. Pada
tahap
dari lessor.

awal

ini, lessee dapat

Dalam lease

meminta lease

quotation ini

dimuat

quotation yang
mengenai

tidak

mengikat

syarat-syarat

pokok

pembiayaan leasing antara lain : keteranganbarang, cash security deposit, residual value,
asuransi, biaya administrasi, jaminan uang sewa dan persyaratan-persyaratan lainnya.
3. Lessor mengirimkan letter of offer atau commitment letter kepada lessee yang
berisi syarat-syarat pokok persetujuan lessor untuk membiayai barang modal yang
dibutuhkan lessee tersebut. Apabilalessee menyetujui semua ketentuan dan persyaratan
dalam letter of offer, kemudian lessee menandatangani dan mengembalikannya kepada lessor.
4.

Penandatanganan

kontrak leasing setelah

semua

persyaratan

dipenuhi lessee. Kontrak leasing tersebut sekurang-kurangnya mencakup hal-hal antara lain :
pihak-pihak yang terlibat, hak milik, jangka waktu, jasa leasing, opsi bagi lessee, penutupan
asuransi, tanggung jawab atas objek leasing, perpajakan, jadwal pembayaran angsuran sewa
dan sebagainya.
5. Pengiriman order beli kepada supplier disertai instruksi pengiriman barang
kepada lessee sesuai dengan tipe dan spesifikasi barang yang telah disetujui
6.

Pengriman

barang

dan

pengecekan

barang

oleh lesseesesuai

pesanan.

Selanjutnya lessee menandatangani surat tanda terima dan perintah bayar dan diserahkan
kepada supplier.
7. Penyerahan dokumen oleh supplier kepada lessortermasuk faktur dan bukti-bukti
kepemilikan barang lainnya.
8. Pembayaran oleh lessor kepada supplier.
9.

Pembayaran

angsuran

(lease

payment)

secara

berkala

oleh lessee kepada lessor selama masa sewa guna usaha yang seluruhnya mencakup
pengembalian jumlah yang dibiayai serta bungannya.

M. Penggolongan Perusahaan Leasing/Sewa Guna Usaha


Perusahaan leasing dalam menjalankan kegiatan usahanya dapat digolongkan ke
dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu :
1. Independent Leasing Company
Perusahaan leasing jenis

ini

mewakili

sebagian

besar

dari

industri leasing. Perusahaan tipe ini berdiri sendiri atauindependent dari supplier yang
mungkin dapat sekaligus sebagai pihak produsen barang dan dalam memenuhi kebutuhan
barang modal nasabahnya (lessee). Perusahaan dapat membelinya dari berbagaisupplier atau
produsen kemudian di-lease kepada pemakai.
2. Captive Lessor
Captive

lessor akan

tercipta

apabila supplier atau

produsen

mendirikan

perusahaan leasing sendiri untuk membiayai produk-produknya. Hal ini dapat terjadi apabila
pihak supplier berpendapat bahwa dengan menyediakan melebihi tingkat penjualan dengan
menggunakan

pembiayaan

trasdisional. Captive

lessor ini

sering

pula

disebut

dengan twoparty lessor. Pihak pertama terdiri atas perusahaan induk dan anak
perusahaan leasing (subsidiary) dan pihak kedua adalah lessee atau pemakai barang.
3. Lease Broker atau Packager
Bentuk

akhir

dari

perusahaan leasing adalah leasebrokeratau packager. Broker

leasing berfungsi mempertemukan calon lesseedenngan pihak lessor yang membutuhkan


suatu barang modal dengan cara leasing. Broker leasing beasanya tidak memiliki barang atau
peralatan

untuk

perusahaan broker

menangani

transaksi leasing untuk atas

leasing memberikan

satu

namanya.

atau lebih

Disamping

jasa-jasa

itu

dalam

usaha leasing tergantung apa yang dibutuhkan dalam suatu transaksi leasing.
N. Kelebihan Leasing Sebagai Sumber Pembiayaan
Leasing sebagai alternatif sumber pembiayaan memiliki beberapa kelebihan
dibandingkan dengan sumber-sumber pembiayaan lainnya antara lain sebagai berikut:
1. Pembiayaan Penuh
Transaksi leasing sering dilakukan tanpa perlu uang muka dan pembiayaannya dapat
diberikan sampai 100% (full pay out). Hal ini akan membantu cash flow terutama bagi

perusahaan (lessee) yang beru berdiri atau beroperasi dan perusahaan yang mulai
berkembang.
2. Lebih Fleksibel
Dipandang dari segi perjanjiannya, leasing lebih luwes karena leasing lebih mudah
menyesuaikan keadaan keuangan lessee dibandingkan dengan perbankan. Pembayaran
angsuran secara berkala akan ditetapkan berdasarkan pendapatan yang dihasilkan lessee
sehingga pengaturan pembayaran angsuran secara berkala dapat disesuaikan dengan
pendapatan yang dihasilkan objek yang di-lease. Artinya pembayaran sewa baru dilakukan
setelah barang modal yang di-lease tersebut telah mulai produktif. Selain itu perusahaan
leasing dapat melakukan pengaturan pembayaran yang menggelembung (baloon payment)
pada awal atau akhir masa lease, pembayaran musiman (khusus apabila lessee bergerak
dalam bidang pertanian, perkebunan atau peternakan) bahkan mungkin pula suatu tenggang
waktu pembayaran yang sesuai dengan keadaan keuangan lessee.
3. Sumber Pembiayaan Alternatif
Leasing merupakan sumber pembiayaan lain bagi perusahaan tanpa mengganggu
fasilitas kredit (credit line) yang telah dimiliki. Dari segi jaminan leasing tidak terlalu
menuntut adanya jaminan tambahan yang lebih banyak dibandingkan apabila lessee
memperoleh pinjaman dari pihak lainnya. Karena hak kepemilikan sah atas objek lease serta
pengaturan pembayaran lease sesuai dengan pendapatan yang dihasilkan oleh objek lease
sehingga merupakan jaminan bagi leasing itu sendiri. Dengan demikian harta yang telah
dijaminkan untuk kredit tetap dapat menjamin kredit yang sudah ada.
4. Off Balance Sheet
Tidak adanya ketentuan keharusan mencantumkan transaksi leasing dalam neraca
memberi daya tarik tersendiri kepada lessee karena tanpa mencantumkan sebagai aktiva
berarti prosedur pembelian barang tidak perlu dipenuhi secara terperinci karena mungkin
masih dalam batas kewenangan direksi (seringkali kewenangan pembelian barang modal baru
sah apabila disetujui Dewan Komisaris atau bahkan Rapat Pemegang Saham). Dengan
demikian keputusan secara cepat dan tepat dapat lebih mudah dilakukan oleh direksi Hal ini
mempunyai dampak positif terhadap kondisi rasio keuangan perusahaan lessee karena

transaksi leasing tersebut tidak akan terlihat dalam neraca lessee sebagai komponen utang.
Kondisi ini disebut off balance sheet financing.
5. Arus Dana
Keluwesan pengaturan pembayaran sewa sangatlah penting dalam perencanaan arus
dana karena pengaturan ini akan mempunyai dampak yang berarti terhadap pendapatan
lessee. Di samping itu, persyaratan pembayaran di muka yang relatif lebih kecil akan sangat
berpengaruh pada arus dana terlebih apabila ada pertimbangan kelambatan menghasilkan laba
dalam investasi.
6. Proteksi Inflasi
Leasing dapat merupakan pelindung terhadap inflasi meskipun dalam beberapa
keadaan sering dikatakan hal ini kurang relevan. Dalam tahun-tahun berikutnya setelah
kontrak leasing dilakukan, khususnya apabila leasing berdasarkan tarif suku bunga
tetap,maka lessee akan membayar dengan jumlah tetap atas sisa kewajibannya yang berasal
dari pelunasan pembelian yang dilakukan di masa lalu.
7. Perlindungan Akibat Kemajuan Teknologi
Dengan memanfaatkan leasing, lessee dapat terhindar dari kerugian akibat barang
yang disewa tersebut mengalami ketinggalan model dan teknologi disebabkan oleh pesatnya
perkembangan teknologi. Dalam suatu kontrak leasing objek leasing sering dimasukkan
sebagai perjanjian bahwa barang yang sedang disewa tersebut dapat ditukarkan dengan
barang yang serupa yang lebih canggih apabila di kemudian hari terdapat penemuanpenemuan baru yang lebih unggul daripada produk barang yang sama.
8. Sumber Pelunasan Kewajiban
Pembatasan pembelanjaan dalam perjanjian kredit dapat diatasi melalui leasing
karena pada umumnya pelunasan atau pembayaran angsuran hampir selalu diperkirakan
berasal dari modal kerja yang dihasilkan oleh adanya barang yang di lease. Sehingga
kekhawatiran para kreditor terhadap gangguan penggunaan modal kerja yang akan
mempengaruhi pelunasan kredit yang telah diberikan dapat diatasi.
9. Kapitalisasi Biaya
Adanya biaya-biaya tambahan selain harga perolehan seperti biaya penyerahan,
instalasi, pemeriksaan, konsultan, percobaan dan sebagainya dapat dipertimbangkan sebagai

biaya modal yang dapat dibiayai dalam leasing dan dapat disusutkan berdasarkan lamanya
leasing.
10. Risiko Keusangan
Dalam keadaan yang serba tidak menentu, operating lease yang berjangka waktu
relatif singkat dapat mengatasi kekhawatiran lessee terhadap risiko keusangan (obsolescence)
sehingga lessee tidak perlu mempertimbangkan risiko pada tahap dini yang mungkin terjadi.
11. Kemudahan Penyusutan Anggaran
Adanya pembayaran sewa secara berkala yang jumlahnya relatif tetap akan
merupakan kemudahan dalam penyusunan anggaran tahunan lessee.
12. Pembiayaan Proyek Skala Besar
Adanya keengganan untuk memikul risiko investasi dalam pembiayaan proyek yang
seringkali menjadi masalah di antara pemberi dana, masalah tersebut biasanya dapat diatasi
melalui perusahaan leasing sepanjang tersedianya suatu jaminan penuh yang dapat diterima
dan / serta kemudahan untuk menguasai barang yang dibiayai apabila terjadi suatu kelalaian.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembiayaan Konsumen (Consumers Finance) adalah kegiatan pembiayaan untuk
pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara angsuran.
Adapun yang menjadi dasar hokum pembiayaan konsumen adalah : Berdasarkan
Keppres No. 61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan & Keputusan Menteri
Keuangan No. 1251/KMK.031/1988 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga
Pembiayaan.
Adapun pihak-pihak yang terlibat di dalam transaksi pembiayaan konsumen adalah :
Pihak

Perusahaan

Pembiayaan,

Pihak

Dealer/Supplier,

Pihak

Konsumen.

Serta

adapun penggolongan dari perusahaan pembiayaan,diantaranya : Perusahaan Pembiayaan


Konsumen Yang Merupakan Anak Perusahaan Dari Pemasok, Perusahaan Pembiayaan

Konsumen Yang Merupakan Satu Group Usaha Dengan Pemasok, Perusahahaan Pembiayaan
Konsumen Yang Tidak Mempunyai Kaitan Kepemilikan Dengan Pemasok.
Dan Sewa Guna Usaha / leasing adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk
penyediaan barang modal untuk digunakan oleh lessee selama jangka waktu tertentu
berdasarkan pembayaran secara berkala.
serta Pihak yang terlibat dalam transaksi leasing adalah lessor,lesse,supplier, dan
juga kreitor/bank.
Jadi, antar pembiayaan konsumen dan leasing sama-sama merupakan lembaga yang
bergerak dalam bidang pembiayaan, namun titik perbedaanya yaitu terletak pada objeknya,
kalau pembiayaan konsumen lebih mengarah kepada barang /jasa yang bergerak dan
digunakan untuk kelangsungan hidup kita, sedangkan kalau leasing objeknya lebih kepada
barang modal.
Diposkan oleh heri anti di 00.51 0 Comments