Anda di halaman 1dari 31

SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek

Sejarah Singkat
Di tahun 60-an, Pemerintah merancang pelaksanaan peningkatan produksi
pertanian di dalam usaha swasembada pangan. Demi suksesnya program Pemerintah ini,
maka kebutuhan akan pupuk mutlak harus di penuhi, mengingat produksi PT Pupuk
Sriwidjaya 1 (PT Pusri 1) waktu itu diperkirakan tidak akan mencukupi. Menyusul
ditemukannya beberapa sumber gas alam dibagian utara Jawa Barat, muncullah gagasan
untuk membangun pabrik urea lainnya di Jawa Barat. Pemanfaatan sumber gas alam ini
maka Tahun 1973 Pemerintah menunjuk Departemen Pertambangan cq, pertamina untuk
melaksanakan proyek pupuk Jawa Barat.
Departemen Pertambangan kemudian melimpahkan wewenang kepada Pertamina
dengan BECIP sebuah perusahaan Perancis yang bertindak sebagai konsultan yang
meneliti kemungkinan pembangunan sebuah pabrik pupuk di Jawa Barat. Team teknis
dibentuk dan langkah-langkah selanjutnya diambil oleh Pertamina dengan menentukan
Jatibarang. Balongan sebagai lokasi proyek, Study mengenai lokasi proyek ini oleh
BECIP dilanjutkan kembali bersama Dinas Pekerajaan Umum Propinsi Jawa Barat 63
yang menghasilkan saran dipilihnya Desa Dawuan Cikampek sebagai lokasi pabrik, atas
dasar pertimbangan :
1. Dekat ke sumber bahan baku gas alam di Cilamaya.
2. Dekat ke sumber air tawar di waduk jurug, sebelah bawah waduk Jatiluhur
3.
4.
5.
6.
7.

(Purwakarta).
Dekat ke sumber tenaga listrik di Jatiluhur.
Tersedianya jaringan angkutan yang baik, seperti jalan raya dan jalan kereta api.
Dekat ke sumber penyediaan bahan bangunan.
Terdapatnya sungai pembuangan Cikaranggelam.
Berada di tengah-tengah pemasaran pupuk.
Tahun 1975 keluar surat Keputusan Presiden Nomor 16/1975 tertanggal 17 April

1975, memutuskan pengalihan tugas pelaksanaan proyek pupuk Jawa Barat dari
Departemen Pertambangan kepada Departemen Perindustrian, Menyusul kebijakan
Presiden ini pada bulan April 1975 Menteri Perindustrian mengeluarkan surat keputusan
No. 25/M/SK/4/1975 untuk membentuk team penyelesaian proyek pupuk Jawa Barat
dengan Dirjen Industri Kimia sebagai ketua Team, Ir. A. Salmon Mustafa sebagai
pimpinan proyek dan Ir. Didi Suwardi sebagai pimpinan Lapangan.
Guna mengelola pabrik pupuk urea yang akan lahir dari proyek pupuk Jawa Barat,
perlu dibentuk sebuah badan hukum (persero). Maka keluarlah Peraturan Pemerintah RI
No. 19 Tahun 1975 tanggal 2 Juni 1975 yang mengatur tentang pendirian badan hukum
(persero). Untuk memperoleh nama 64 bagi Badan Hukum tersebut, Menteri
Perindustrian meminta pertimbangan Gubernur Jawa Barat pada saat itu yaitu Bapak
Page
1

SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek

Aang kunaefi. Beliau kemudian menyarankan nama PUPUK KUJANG, dan saran ini
diterima baik oleh Menteri Perindustrian. Tanggal 9 Juni 1975. Dibentuk PT. PUPUK
KUJANG (persero) dengan Akte Notaris Suleman Ardjasasmita SH. No. 19.
Sumber biaya untuk pembangunan pabrik pupuk urea diperoleh dari pinjaman
Pemerintah Kerajaan Iran sebanyak US $ 200 juta untuk pembelian mesin-mesin dan pipa
gas, sedangkan biaya kontruksi dalam negri, dana berasal dari Pemerintah sebagai
Pernyataan Modal Pemerintah (PMP). Biaya proyek pada waktu itu diperkirakan
mencapai US $ 256 juta. Sebagai kontraktor utama, telah dipilih dalam tender terbatas
yang diadakan oleh Dirjen Industri Kimia Dasar pada bulan Mei 1975 yaitu Kellog
Oversease Coporation (KOC) dari Amerika Serikat sebagai General Contractor dan Toyo
Enginering Corporation (TEC) dari Jepang sebagi Urea Unit Contactor. Kontrak tersebut
di tanda tangani pada tanggal 15 November 1975 dan mulai berlaku efektif pada tanggal
1 Januari 1976 untuk TEC, dan 26 Januari 1976 untuk KOC. Pelaksanaan pembangunan
proyek ini berjalan lancar sehingga pada tanggal 7 November 1978 pabrik sudah mulai
berproduksi dengan kapasitas urea 570.000 ton/tahun dan amonia 330.000 ton/tahun ini
terjadi 3 bulan lebih awal dari jadwal yang telah ditentukan. Pada tanggal12 Desember
1978, Presiden Soeharto berkenan meresmikan Pembukaan Pabrik dan 1 April 1979 PT.
Pupuk Kujang mulai dengan operasi komersil.
Sejalan dengan perkembangan PT Pupuk Kujang berupaya meningkatkan
kemampuan dengan memasok kebutuhan pupuk di Jawa Barat, maka pada Tahun 2002
dibangunlah pabrik Kujang 1-B yang merupakan kelanjutan program Pemerintah dalam
pemulihan ekonomi jangka menengah dari jangka panjang. Pelaksanaan peresmian tiang
pancang pertama oleh Presiden RI Megawati Soekarno Putri pada tanggal 3 Juli 2002.
Kontraktor utama pembangunan pabrik Kujang 1-B oleh Toyo Engineering
Corporatio (TEC) Jepang dan subkontraktor dalam negeri Joint Operation antara PT.
Rekayasa Industri dengan PT. IKPT. Pada tanggal 3 April 2006, Presiden RI Susilo
Bambang Yudhoyono meresmikan pembukaan pabrik, dengan mulai beroperasinya pabrik
Kujang 1-B, maka kapasitas pabrik PT Pupuk Kujang menjadi 1.140.000 ton/tahun.
Filosofi Perusahaan
Maksud dan tujuan di dirikan PT Pupuk Kujang adalah :
a. Mengelola bahan mentah menjadi bahan-bahan pokok yang diperlukan untuk
pembuatan Urea dan bahan-bahan kimia lain nya.
b. Memproduksi Pupuk Urea untuk kebutuhan dalam Negeri sehingga tujuan utama
tercapai, yaitu memenuhi kebutuhan Pupuk didaerah Jawa Barat khususnya dan

Page
2

SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek

untuk ekspor apabila kebutuhan dalam negeri telah dapat terpenuhi, sehingga
dapat menambah penghasilan baik untuk perusahaan maupun untuk Negara.
c. Untuk menunjang program Pemerintah dalam rangka peningkatan hasil produksi
pertanian, sehingga dapat meningkatkan penghasilan petani.
d. Pendayaguanaan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan penghasilan
masyarakat.
e. Memberikan jasa dalam proyek-proyek pembangunan Industri Pupuk Kimia
lainnya serta penelitiaan dan pemeliharaan pabrikasi alat-alat pada umumnya.
f. Menyalurkan kegiatan-kegiatan usaha bidang pengangkutan dan pergudangan
yang merupakan sarana dan perlengkapan guna kelancaran kegiatan usaha.
Visi dan Misi Perusahaan
PT. Pupuk Kujang telah menetapkan suatu visi atau suatu pandangan kedepan
yang hendak dicapai. Visi tersebut adalah “Menjadi perusahaan pupuk dan petrokimia
yang efisien dan kompetitif di Pasar Global,”
Misi dari PT. Pupuk Kujang adalah “Memberikan kontribusi kepada
pembangunan atau pertumbuhan ekonomi nasiaonal demi kemakmuran serta masyarakat
melalui pengembangan industri kimia berbasis sumber daya alam yang ramah lingkungan
dengan melaksanakan etika bisnis secara konsisten.”
PT. Pupuk Kujang juga memiliki budaya perusahaan yang harus diketahui dan
tetap dijaga, budaya tersebut seperti :
a. Sikap profesionalisme individu karyawan.
b. Kebersamaan dan kerjasama dalam setiap pelaksanaan tugas.
c. Responsif, adaptif, dan inovatif dalam menghasilkan produk dan jasa yang
bermutu.
d. Mengutamakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
e. Memperdulikan lingkungan.
f. Fokus pada kepuasan pelanggan-pelanggan stoke holder.
Proses Produksi Perusahaan
a.

Produksi
Mengolah bahan-bahan mentah tertentu menjadi bahan- bahan pokok yang
diperlukan dalam pembuatan pupuk, terutama pupuk urea dan bahan kimia
lainnya, serta mengolah bahan pokok tersebut menjadi berbagai jenis pupuk dan
hasil bahan kimia lainnya.

b.

Proses
a) Produksi Bahan Baku
Bahan baku utama dalam proses produksi Urea adalah :
 Gas Alam,
 Air, dan
Page
3

Inc. Keduanya mengambil sumber gas alam dari lepas pantai laut Jawa c. Hidrogen(H2). Unit-unit Produksi Unit Pembangkit Uap Unit pembangkit uap di pabrik Kujang 1A terdiri dari satu unit Waste Heat Boiler dengan kapasitas 97 ton/jam dan dua unit Package Boiler dengan kapasitas 100 ton/jam/unit.2 mm. Unit pembangkit uap di pabrik Kujang 1B terdiri dari satu unit Waste Heat Boiler dengan kapasitas 30 ton/jam dan satu unit Package Boiler dengan kapasitas 100 ton/jam. Unit Pembangkit Listrik Baik Kujang 1A maupun Kujang 1B masing-masing memiliki unit pembangkit listrik tersendiri. Amonia diproduksi dalam pabrik Amonia dan merupakan hasil reaksi gas Nitrogen dan Hidrogen. Pembuatan Urea di pabrik Kujang 1B menggunakan proses ACES 21 dari Toyo Engineering Corporation Jepang Penyediaan Air Baku Untuk memenuhi kebutuhan air pabrik Kujang 1A dan Kujang 1B telah dibangun stasiun Pompa Air. dan Karbondioksida (CO2). b) Proses Ketiga bahan baku tersebut diolah untuk menghasilkan Nitrogen (N2). dari Amerika Serikat sedangkan proses pembuatan Ureanya menggunakan teknologi Mitsui Toatsu Total Recycle C-Improved dari Toyo Engineering Corporation Jepang. Tahap selanjutnya Amonia dan Karbon dioksida diproses lebih lanjut di unit Urea untuk memperoleh urea butiran dengan diameter 1 . (KBR). Unit pembangkit listrik di Kujang 1A terdiri dari satu unit Gas Turbin Generator kapasitas 15 MW. Pabrik Amonia Kujang 1B dibangun oleh Toyo Engineering Corporation menggunakan teknologi Reduced Energy Ammonia Process yang lisensinya dimiliki oleh Kellogg Brown & Root.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek  Udara. Pabrik pupuk ini terdiri dari unit Ammonia dan unit Urea. yaitu di daerah Parungkadali Bendungan Curug dan di Cikao sebelah hilir Jatiluhur dengan kapasitas 1600 m3/jam. Pabrik Amonia Kujang 1A dirancang oleh Kellogg Overseas Corp. Penyediaan Gas Alam Gas alam Untuk proses produksi Urea di Kujang 1A dan Kujang 1B diperoleh dari Pertamina dan BP ONWJ dengan jumlah kebutuhan kedua pabrik adalah sebesar 108 MMSCF/hari. Tiga unit Diesel Standby Page 4 .

unit pengolah air juga memasok kebutuhan air hydran di area Pupuk Kujang. Air minum kapasitas 75 m3/jam. dan Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum. Direktur Keuangan.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek Generator kapasitas 750 KW/unit dan satu unit Diesel Emergency Generator kapasitas 375 KW. Page 5 . Air yang sudah diolah kemudian dimanfaatkan atau diproses lebih lanjut antara lain untuk Air Pendingin kapasitas 360 m3/jam. Air Bersih untuk Perusahaan Patungan 125 m3/jam. Dewan Direksi bertanggung jawab kepada Dewan Komisaris yang mewakili Pemerintah sebagai pemegang saham melalui Departemen Pertanian.000 MT/tahun sehingga kapasitas total produksi Urea Pupuk Kujang sebesar 1. serta selanjutnya membawahi Kepala Biro dan Kepala Divisi. Direktur Teknik dan Pengembangan.725 MT/hari atau sebesar 570. Sedangkan unit pengolahan air di Kujang 1B memiliki kapasitas terpasang sebesar 650 m3/jam. Selain keperluan di atas. Air Bebas Mineral kapasitas 180 ton/jam. Unit Amonia Unit Amonia Kujang 1A dan Kujang 1B menghasilkan Amonia dengan kapasitas terpasang masing-masing sebesar 1000 MT/hari. Dewan Direksi membawahi lima komponen (Direktur Muda) dan Staf. Unit Penjernihan Air Unit pengolahan air di Kujang 1A mengolah air baku menjadi air bersih untuk berbagai keperluan antara lain Air Pendingin kapasitas 573 m3/jam. Unit pembangkit listrik Kujang 1B terdiri dari satu unit Gas Turbin Generator kapasitas 11 MW dan satu unit Diesel Emergency Generator dengan kapasitas 1300 KW. Struktur Organisasi PT PUPUK KUJANG Cikampek Struktur organisasi PT. Air Bebas Mineral kapasitas 180 ton/jam. Pupuk Kujang. Selain itu dihasilkan juga produk samping berupa gas Karbondioksida yang digunakan untuk bahan baku pembuatan Urea. Pupuk Kujang secara garis besar sesuai dengan Surat Keputusan Direksi No. Pabrik Urea Kujang 1A dan 1B memiliki kapasitas terpasang yang sama yaitu masing-masing 1. Unit Urea Amonia dan Karbondioksida yang diperoleh dari unit Amonia kemudian diproses di unit Urea.140. Direktur tersebut dibawah koordinasi Direktur Utama sebagai pimpinan tertinggi di PT. dan Departemen Keuangan.000 MT/tahun. 014/SK DU/X/2004 antara lain : Direktur Produksi.

Pupuk Kujang adalah struktur organisasi garis dan staf. tanggal 2 Januari 2002. juga bertugas dan mengkoordinir unit-unit kerja atau fungsi-fungsi yang berada dibawah kompartemen 2) sekretariat dan staff. tanggung jawab. Unsur pimpinan: 1) Direktur Utama: Unsur pimpinan ini disamping bertugas mengatur dan mengkoordinir direktur-direktur lainnya. Sedangkan Sekretaris perusahaan membawahi Biro Kemitraan. masing-masing karyawan dapat mengetahui tugas. Deskripsi Jabatan Tugas-tugas dimasing-masing bagian berdasarkan Keputusan Direksi No. Biro Komunikasi. Biro Hukum dan Tata Usaha.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek Bentuk organisasi yang ditetapkan PT. perlu diadakan pendelegasian wewenang kepada para staf sesuai dengan 68 bidangnya masing-masing. a.01/SK/DU/2002. garis khusus tersebut diisi oleh Satuan Pengawasan Intern dan Sekretaris perusahaan. Direktur Teknik dan Pengembangan: Bertugas mengatur dan mengkoordinir unit-unit kerja atau fungsi-fungsi yang berada dibawah kompartemen Teknik dan Pengembangan beserta staff serta bertanggung jawab kepada Direktur Page 6 . dan wewenang secara jelas. Pelaksanaan kegiatan pengelolaan perusahaan Direktur utama memiliki garis khusus dalam menjalankan tugasnya. Oleh karena itu. PT. Satuan Pengawasan Intern membawahi Biro Pengawasan Keuangan dan Biro Pengawasan Operasional. Struktur organisasi dapat dinyatakan dalam bentuk gambaran grafik atau bagan yang memperlihatkan hubungan unit-unit organisasi dan garis-garis wewenang yang ada struktur organisasi perusahaan sangat berguna untuk menentukan pembagian dari tiaptiap departemant atau bagian. dan Biro Pengamanan. Pupuk Kujang adalah berstatus BUMN yang dipimpin oleh Dewan Direksi yang bertanggung jawab dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Direktur Produksi: Bertugas mengatur dan mengkoordinir unit-unit kerja atau fungsi-fungsi yang berada dibawah kompartemen produksi beserta staff serta 3) bertanggung jawab kepada direktur utama. Perusahaan PT. Pupuk Kujang mempunyai tugas yang beraneka ragam dan sangat kompleks. Struktur organisasi merupakan susunan yang terdiri fungsifungsi dan hubungan-hubungan yang menyatakan seluruh kegiatan untuk mencapai suatu sasaran. b. maka tidak mungkin bagi seorang pimpinan perusahaan disamping membuat keputusan juga memberikan perintah kerja untuk kelancaran tugasnya.

d. diperbantukan pada masing-masing direktur. bertanggung jawab kepada Direktur Utama. Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia: Bertugas mengatur dan mengkoordinir unit-unit kerja atau fungsi-fungsi yang berada dibawah kompartemen Umum dan Sumber Daya Manusia beserta Staff serta c. Keuangan beserta Staff serta bertanggung jawab kepada Direktur 4) Utama.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek Utama. Direktur Keuangan: Bertugas mengatur dan mengkoordinir unit-unit kerja atau fungsi-fungsi yang berada dibawah kompartemen Administrasi dan 5) keuangan beserta Staff serta bertanggung jawab kepada Direktur Utama. Unsur Pelaksana: 1) Divisi Produksi 2) Divisi Pemasaran 3) Divisi Konstruksi 4) Biro Rancang Bangun 5) Divisi Industri Peralatan Pabrik 6) Divisi Jasa Pelayanan Pabrik 7) Biro Anggaran 8) Biro Keuangan 9) Biro Akuntansi 10) Biro Teknologi Informasi 11) Biro Administrsi Perusahaan Patungan 12) Biro Pendidikan dan Latihan 13) Biro Umum 14) Biro Kesehatan Unsur Penunjang: 1) Biro Pengawasan Proses 2) Biro Inspeksi 3) Biro Keselamatan dan Lingkungan Hidup 4) Biro Material 5) Biro Sistem Manajemen 6) Biro Pengadaan 7) Biro pengembangan 8) Kantor Pupuk Kujang Jakarta 9) Biro Ketenagakerjaan 10) Biro Kemitraan 11) Biro Hukum dan Tata Usaha 12) Biro Komunikasi 13) Biro Pengamanan Unsur Pengawasan: 1) Satuan Pengawasan Intern. e. f. Unsur Pembantu Pimpinan: 1) Sekretaris Perusahaan 2) Kompartemen Produksi 3) Kompartemen Teknik dan pengembangan 4) Kompartemen Keuangan 5) Kompartemen Umum dan Sumber Daya Manusia 6) Staff utama Setingkat Kompartemen. Page 7 .

yang dimaksud dengan tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. 3) Eselon III (tiga) Manager Muda. halaman dan sekelilingnya merupakan bagian-bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut. 5) Eselon V (lima) Manager Pelaksana. b. yang termasuk tempat kerja ialah semua ruangan. atau sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya. Menurut Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Jabatan Struktual. Jabatan Pelaksanaan. lapangan. bergerak atau tetap. Eselon Jabatan: 1) Eselon I (satu) Manager Utama. 1) Pelaksana Utama 2) Pelaksana I 3) Pelaksana II 4) Pelaksana III (pekarya). karyawan PT.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek Biro Pengawasan Keuangan Eselon Jabatan dan golongan jabatan di PT Pupuk Kujang Cikampek Selain dibagi lima unsur tersebut. 4) Eselon VI (empat) Manager Pertama. Sedangkan diperinci dalam pasal 2. Menurut Undang-undang No. Golongan Jabatan: 1. 1) Kepala Kompartemen 2) Kepala Divisi / Biro 3) Kepala Dinas / Bagian 4) Asisten Kepala Dinas 5) Kepala Seksi / Bidang 2. Pupuk Kujang dibagi dalam eselon jabatan dan golongan jabatan. 2) Eselon II (dua) Manager Madya. Jabatan Fungsional (Teknis / Specialis). 4. 1) Staf I dan II setingkat kepala kompartemen 2) Staf Madya I dan II setingkat kepala Divisi / Biro 3) Staf Madya III setingkat Kadis / Bagian 4) Staf Muda I setingkat kepala Dinas / bagian 5) Staf muda tingkat II dan III setingkat kasi / kabid 3. Klasifikasi dari eselon jabatan tersebut adalah. Page 8 . yang dimaksud dengan tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Jabatan Fungsional (Staff Biasa / Generalis). 1) Ahli Utama I dan II setingkat Kepala Kompartemen 2) Ahli Madya I dan II setingkat Kepala Divisi / Biro 3) Staf Madya III setingkat Kepala Dinas / Bagian 4) Ahli Muda II dan III setingkat Kepala Seksi / Bidang. tertutup atau terbuka. a. dimana tenaga kerja bekerja.

yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi efisiensi dan produktifitas kerja. Penyakit akibat kerja dapat timbul setelah seorang karyawan yang tadinya terbukti sehat memulai pekerjaanya. baik fisik. Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor: PER. serta terhadap penyakitpenyakit umum. penempatan dan pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikologisnya.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek Sedangkan diperinci dalam pasal 86 menyebutkan. penyesuaian pekerjaan. 2009) Kesehatan kerja menurut ILO/WHO Committee tahun 1995 dapat diartikan sebagai promosi dan pemeliharaan derajat yang setinggi-tingginya dari kesehatan fisik. atau mental. Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja. b. terhadap penyakit-penyakit/gangguan. Keselamatan dan kesehatan kerja. (Suma’mur. dan sebagai kesimpulan. perlindungan pekerja dalam pekerjaan mereka dari risiko akibat faktor-faktor yang mengganggu kesehatan. yang dimaksud dengan Penyakit Akibat Kerja adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja. 2. Memang tidak seluruh pekerjaan menimbulkan Page 9 . mental dan sosial dari pekerja pada semua pekerjaan. pencegahan gangguan kesehatan pada pekerja yang disebabkan oleh kondisi kerja mereka. terhadap manusia dan setiap manusia terhadap pekerjaannya.gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja. Kesehatan Kerja adalah spesialisasi dalam Ilmu Kesehatan/Kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar pekerja/masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya. 1. Moral dan kesusilaan. Sedangkan menurut Tarwaka. 2008 Kesehatan Kerja (Occupational Health) diartikan sebagai suatu aspek atau unsur kesehatan yang berkaitan dengan lingkungan kerja dan pekerjaan.01/MEN/1981 tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja. dan c. Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas a. maupun sosial. perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama. dengan usahausaha preventif dan kuratif.

mata. terjadi mendadak atau menahun/jangka waktu lama karena konsentrasi paparan kecil. Etiologi penyakit akibat kerja jelas dapat ditentukan di tempat kerja. (Silalahi silalahi. biologi. yang dapat berupa bahaya fisik. 1991) Penyakit karakteristik akibat penyebab kerja dan (Occupational proses Disease) terjadinya lambat ditetapkan (kronis). dan “heat cramps” (keadaan-keadaan panas badan yang tinggi suhunya). “heat stroke”. bahkan susunan darah. tetapi ada beberapa pekerjaan yang menyebabkan penyakit akibat kerja. rasa sakit karena panas udara).SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek penyakit. antara lain : a. Dalam ruang atau di tempat kerja biasanya terdapat faktor-faktor yang menjadi penyebab penyakit akibat kerja. kimia. Golongan Fisik 1) Bunyi dan getaran yang bisa menyebabkan ketulian atau pekak (sementara atau permanen). Caisson disease (keadaan yang ditandai dengan kelumpuhan. Menetapkan penyakit akibat kerja guna memenuhi berbagai kepentingan antara lain : a. Page 10 . 3) Radiasi sinar Rontgen atau sinar-sinar radioaktif yang menyebabkan kelainan pada kulit. sedangkan suhu yang rendah sekali (di bawah 0˚C) dapat menyebabkan kekakuan dan peradangan akibat dingin. Pengobatan penyakit sebagai tindakan kuratif pekerja atau keluarganya menderita sakit d. dan lain-lain. Suhu yang tinggi menyebabkan “hyperpyrexia”. Dengan demikian penyakit akibat kerja adalah penyakit yang murni ditimbulkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja. Pencegahan penyakit sebagai tindakan preventif sebelum penyakit yang disebabkan pekerjaan muncul c. 4) Tekanan udara yang tinggi menyebabkan ketulian permanen. Ganti rugi/kompensasi atau asuransi b. 2) Suhu ruang kerja. Tindakan rehabilitatif agar pekerja dapat kembali bekerja secara normal e. Laporan atau catatan medis untuk kepentingan analisis data secara statistic (Tarwaka. ergonomi dan psikososial. berdasarkan Bila proses terjadinya cepat atau mendadak (akut) disebut kecelakaan. 2008) Penyakit akibat kerja disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan kesehatan (health hazard).

1991) Cara menegakkan diagnosa penyakit akibat kerja agak berlainan dari pada diagnosa penyakit-penyakit umum.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek 5) Penerangan yang kurang baik menyebabkan kelainan pada mata atau indera penglihatan. e. Riwayat Penyakit dan Riwayat Pekerjaan. perkembangan penyakit selanjutnya Page 11 . gejala-gejala sewaktu penyakit dini. Golongan Psikologis 1) Proses kerja yang rutin dan membosankan. Riwayat penyakit ini meliputi antara lain permulaan timbul gejala-gejala. dan lain-lain. Selain itu sebagai tambahan harus pula dipertanyakan riwayat pekerjaan dari si sakit. Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mengetahui suatu diagnosa penyakit akibat kerja. d. 2) Sikap kerja yang menyebabkan keletihan dan kelainan fisik. 4) Uap yang menyebabkan keracunan atau penyakit kulit. bahwa salah satu faktor di tempat kerja atau dalam pekerjaan yang bisa mengakibatkan penyakit. c. Oleh karena untuk penyakit-penyakit tersebut pemeriksaan klinis dan laboratorium belumlah cukup. 2) Kabut dari racun serangga yang menimbulkan keracunan. Golongan Biologis 1) Tumbuh-tumbuhan yang beracun atau menimbulkan alergi. b. (Silalahi Silalahi. 3) Gas. 2) Hubungan kerja yang terlalu menekan atau sangat menuntut. Golongan Chemis 1) Debu dan serbuk yang menyebabkan penyakit pada saluran pernafasan. 3) Cara kerja yang membosankan atau meletihkan. Digunakan untuk mengetahui adanya kemungkinan. 3) Suasana kerja yang serba aman. cara dan syarat-syarat kerja. 2) Penyakit anthrax (semacam infeksi) dari hewan atau Brucella pada karyawan penyamak kulit. Golongan Fisiologis 1) Konstruksi mesin atau peralatan yang tidak sesuai dengan mekanisme tubuh manusia. misalnya keracunan oleh karbon monooksida. melainkan harus pula diperiksa tempat. hidrogen sulfida. antara lain : a.

sebab kemungkinan selalu ada. f. c. selain hasil pemeriksaan sinar tembus dan hasil-hasil pemeriksaan lainnya. maka dari itu tidak ada jalan lain. namun harus pula diteliti tentang pekerjaanpekerjaan sebelumnya. pindah dari satu pekerjaan kepada pekerjaan lain. Pengalaman menunjukkan. Janganlah sekali-kali mencurahkan perhatian kepada pekerjaan yang sekarang. bahwa penyakit yang sekarang itu diakibatkan oleh faktor-faktor penyebab penyakit yang ada di tempat kerja dalam hubungan pekerjaan beberapa tahun dahulu. terutama penting untuk penyakit-penyakit oleh karena penimbunan debu didalam paru-paru yaitu yang dikenal dengan nama pneumoconiosis. Juga untuk disadari bahwa pada umumnya tenaga kerja sangat gemar berganti pekerjaan. apakah benar atau tidaknya bahwa penyebab penyakit yang bersangkutan ada dalam tubuh manusia.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek yang berhubungan dengan pekerjaan. yang sering atau khas untuk suatu penyakit yang disebabkan oleh salah satu faktor penyakit akibat kerja. atau kwalitatif. b. Hasil pengukuran yang bersifat kwantitatif sangat perlu untuk mengambil kesimpulan. melainkan harus diketahui juga banyaknya. Untuk membuat diagnosa penyakit akibat kerja tidaklah cukup hanya tentang adanya penyakit itu. atau kwantitatif. Pemeriksaan Ruang atau Tempat Kerja Ini dimaksudkan untuk mengukur adanya dan banyaknya faktor penyebab penyakit itu ditempat kerja. e. Pemeriksaan Klinis Digunakan untuk menemukan tanda-tanda dan gejala-gejala yang sesuai untuk sindrom. Hubungan antara Bekerja dan Tidak Bekerja dengan Gejala Penyakit Pada umumnya gejala-gejala penyakit akibat kerja akan mengurangi. Pemeriksaan Rontgen Sering kali sangat membantu dalam menegakkan diagnosa suatu penyakit akibat kerja. Pemeriksaan Laboratorium Digunakan untuk mencocokkan. apakah benar-benar kadar bahan sebagai sebab penyakit itu cukup dosisnya atau tidak. betapa sukarnya memastikan adanya penyakit mengkombinasikan itu. Riwayat pekerjaan harus ditanya seteliti-telitinya dari permulaan kali ia bekerja hingga akhir bekerja. Page 12 . d.

sekolah. Jenis-jenis kebisingan yang sering ditemukan antara lain : 1) Kebisingan yang kontinu dengan spektrum frekwensi yang luas (Steady State. Efek yang ditimbulkan dari setiap kebisingan juga berbeda-beda terhadap tenaga kerja yang menerimanya. Pengenalan jenis kebisingan kepada tenaga kerja penting dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya dampak yang tidak diinginkan. apabila ia kembali bekerja. pasar. venting. Wide Band Noise). dan gejala-gejala itu sering timbul lagi atau menjadi lebih berat. Kebisingan mempunyai jenis yang bervariasi yang tidak sama frekwensinya. perumahan. Narrow Page 13 . dan lain-lain. Kenyataan ini sangat jelas misalnya pada penyakit dermatosis akibat kerja atau pada penyakitpenyakit paru-paru byssinosis. seperti lalu lintas jalan raya. dan lain-lain) juga penggunaan peralatan kerja dalam proses kerja diakibatkan oleh adanya benturan dan gesekan peralatan kerja. mesin pompa air. dapur pijar. 2009) Kebisingan Kebisingan adalah suara yang tidak dikehendaki (Suma’mur. 2) Kebisingan kontinu dengan spektrum frekwensi sempit (Steady State. apabila si penderita tidak masuk bekerja. misalnya mesin-mesin. seperti umur mesin. Faktor-faktor dari mesin itu sendiri juga mempengaruhi kebisingan yang ada. dan lainlain. penggunaan pelumas dan peredam pada mesin yang sedikit banyak akan berpengaruh terhadap kebisingan yang dihasilkan. Sumber bising yang ada di luar lingkungan kerja secara langsung maupun tidak langsung juga menambah kebisingan yang ada. kipas angin. Sumber kebisingan yang terjadi di lingkungan kerja berasal dari mesin yang beroperasi. Sedangkan menurut Kepmenaker Nomor : KEP-51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja. yang pada umumnya terbuat dari benda keras atau logam. antara jenis kebisingan yang satu dengan jenis kebisingan yang lain. (Suma’mur. Kebisingan yang ditimbulkan akibat proses mesin produksi (mesin compresor. perawatan mesin tersebut. steam drum. kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran. 2009). misalnya cuti.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek bahkan kadang-kadang hilang sama sekali.

75 1. 4) Kebisingan impulsif (Impact or Impulsive Noise).11 139 Sumber : Himpunan Peraturan Perundang-undangan K3. seperti pukulan tukul. dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak lebih melebihi delapan (8) jam sehari atau empat puluh (40) jam seminggu. 2009) Menurut Kepmenaker Nomor : KEP.88 0.44 0. dan lain-lain.06 7. Pengaruh kebisingan menurut Suma’mur. katup gas. menyebutkan NAB adalah standar faktor tempat kerja yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan. tembakan bedil atau meriam.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek Band Noise). Nilai Ambang Batas Kebisingan Waktu Pemajanan per Hari 8 4 2 1 30 15 7.51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja. 2007 Secara langsung maupun tidak langsung kebisingan akan memberikan pengaruh kepada tenaga kerja yang terpajan. (Suma’mur. 3) Kebisingan terputus-putus (Intermittent).03 3. 5) Kebisingan impulsif berulang. misalnya lalu-lintas. Tabel 1. misalnya mesin tempa di perusahaan.85 0.12 14.22 Jam Intensitas Kebisingan dalam dB(A) 85 88 91 94 97 100 103 106 109 112 115 118 121 124 127 130 133 136 Menit Detik 0.52 1. misalnya gergaji sirkuler. suara kapal terbang dilapangan udara. ledakan.5 3.76 0.94 28. 2009 adalah : Page 14 .

yang mengakibatkan munculnya gangguan-gangguan. Gangguan Masyarakat Kebisingan mempunyai pengaruh yang besar. sehingga banyak tenaga kerja yang terpapar kebisingan. hal ini akan menyebabkan terganggunya pekerjaan. Kehilangan daya dengar yang menetap dan tidak pulih kembali dapat terjadi apabila tenaga kerja bekerja secara terus. kebisingan merupakan suatu bahaya yang serius bagi kesehatan. Gangguan pada Kesehatan Pengaruh utama kebisingan kepada kesehatan adalah kerusakan kepada indera-indera pendengar yang menyebabkan tuli progresif. terutama bagi tenaga kerja baru. penurunan Page 15 .000 Hz dan kemudian menghebat dan meluas ke frekwensi-frekwensi sekitarnya dan akhirnya mengenai frekwensifrekwensi yang digunakan untuk percakapan. sehingga masyarakat sekitar akan merasa terganggu. Tenaga kerja yang melakukan pengamatan dan pengawasan terhadap suatu proses produksi atau hasil dapat menyebabkan terjadinya kesalahan yang merupakan akibat dari terganggunya konsentrasi. Gangguan pada Daya Kerja Kebisingan mempunyai efek merugikan kepada daya kerja yaitu mengganggu komunikasi pembicaraan. Awalnya efek kebisingan pada pendengaran adalah sementara dan pemulihan terjadi secara cepat sesudah dihentikan kerja ditempat bising.menerus ditempat bising. Kebisingan juga menyebabkan berkurangnya kenyamanan dalam bekerja dan menimbulkan kelelahan terhadap pekerjaan. baik yang bersifat tetap maupun sesaat dapat menimbulkan gangguan pada pendengaran yang disebut “Tinnitus”. Gangguan pada Pekerjaan Kebisingan dapat mengganggu perhatian dan konsentrasi yang dicurahkan kepada pekerjaan. biasanya dimulai pada frekwensi-frekwensi sekitar 4. Tenaga kerja yang bekerja pada daerah bising maka komunikasi pembicaraannya harus dilakukan dengan berteriak. apabila kebisingan akibat suatu proses produksi meningkat. Gangguan tersebut berupa “ringging in the ears” (suara berdenging di telinga). 3. seperti : a. 2. 4. Didalam industri. Efek terhadap Organ Pendengaran Kebisingan.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek 1.

1999) Dalam dunia industri. Pengendalian kebisingan haruslah mengikuti penerapan secara hirarki. misalnya pada jantung. Eliminasi dapat dicapai dengan memindahkan atau menghilangkan objek kerja atau sistem kerja yang berhubungan dengan tempat kerja yang kehadirannya pada batas yang tidak dapat diterima oleh ketentuan. peraturan atau standar baku Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) atau kadarnya melampaui Nilai Ambang Batas (NAB) Page 16 . Hal ini diakibatkan oleh pemajanan terusmenerus dari dosis yang tinggi. pada pembuluh-pembuluh darah. Dengan adanya rotasi kerja tersebut diharapkan waktu pemajanan akan lebih berkurang dan kondisi pendengaran akan kembali normal. Hal ini bisa dihindari dengan cara pemindahan tenaga kerja dari daerah pemaparan dalam jangka waktu tertentu. Keluhan subjektif yang sering dirasakan oleh tenaga kerja yang terpapar kebisingan adalah pusing. tetapi kebisingan tersebut dapat dikendalikan. b.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek sensitifitas pendengaran dan iritasi pada telinga. Secara umum hirarki pengendalian resiko dapat dilakukan dengan : 1) Eliminasi (Elimination) Eliminasi merupakan suatu pengendalian resiko yang bersifat permanen dan harus dicoba untuk diterapkan sebagai pilihan prioritas utama. PTS ini menunjukkan kemunduran terhadap pendengaran yang bersifat tetap/permanen. (Pupuk Kujang. dan pada syaraf. prioritas pilihan yang dapat dilakukan untuk mengeliminasi atau meminimalkan paparan dari suatu resiko. Efek terhadap Organ-Organ Lain Kebisingan juga dapat memberikan pengaruh terhadap organ tubuh lain. mual dan lesu/letih. b) Permanent Treshold Shift (PTS) Disebabkan oleh paparan suara keras dan pemajanannya terjadi berulangulang. sakit kepala. Hirarki pengendalian adalah langkah urutan. TTS ini menunjukkan kemunduran sementara terhadap pendengaran akibat dari paparan bising. kebisingan tidak dapat dihindarkan. yang dalam hal ini kebisingan. Paparan berupa suara keras dari kebisingan dapat menyebabkan : a) Temporary Treshold Shift (TTS) Disebabkan oleh paparan dari suara keras dan dapat menyebabkan kelelahan dari organ-organ pendengaran.

3) Rekayasa Teknik (Engineering Control) Pengendalian atau rekayasa teknik termasuk merubah struktur objek kerja untuk mencegah seseorang terpapar kepada potensi bahaya. Contohnya adalah penggunaan solar yang bersifat mudah terbakar dan reaktif yang biasa dipakai untuk bahan pembersih perkakas bengkel digantikan dengan bahan deterjen atau sabun. Eliminasi adalah cara pengendalian resiko yang paling baik. penerapan prosedur kerja. cara eliminasi banyak mengalami kendala karena keterkaitan antara sumber bahaya dan potensi bahaya sangat erat atau menjadi sebab dan akibat. training keahlian dan training K3. 2) Subtitusi (Subtitution) Pengendalian ini dimaksudkan untuk mengganti bahan-bahan dan peralatan yang lebih berbahaya dengan bahan-bahan dan peralatan yang kurang berbahaya atau yang lebih aman. 6) Alat Pelindung Diri (Personal Protective Equipment) Alat pelindung diri (APD) secara umum merupakan sarana pengendalian yang digunakan dalam jangka pendek dan bersifat sementara manakala sistem Page 17 . pembuatan struktur pondasi mesin dengan cor beton. seperti menjalankan mesin-mesin produksi dari tempat tertutup (control room) menggunakan remote control. sehingga pemaparannya selalu dalam batas yang masih dapat diterima. Metode ini meliputi : pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat. dan lain-lain. seperti pemberian pengaman mesin. rotasi kerja untuk mengurangi kebosanan dan kejenuhan. Metode pengendalian ini sangat tergantung dari perilaku pekerjanya dan memerlukan pengawasan yang teratur agar dipatuhinya pengendalian administrasi ini. Pengendalian dengan eliminasi bukan tanpa hambatan. karena resiko terjadinya kecelakaan dan sakit akibat potensi bahaya dapat ditiadakan.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek yang diperkenankan. 4) Isolasi (Isolation) Isolasi merupakan pengendalian resiko dengan cara memisahkan seseorang dari objek kerja. pemberian absorber suara pada dinding ruang mesin yang menghasilkan kebisingan tinggi. pengaturan kembali jadwal kerja. 5) Pengendalian Administrasi (Administration Control) Pengendalian administrasi dilakukan dengan menyediakan suatu sistem kerja yang dapat mengurangi kemungkinan seseorang terpapar potensi bahaya.

(Tarwaka. f. Untuk ini perencanaan harus sempurna dan bahan-bahan yang dipakai harus mampu menyerap suara. 3) Proteksi dengan Sumbat atau Tutup Telinga Tutup telinga biasanya lebih efektif dari sumbat telinga. misalnya hendaknya generator diletakkan di dalam tanah. Sumber-sumber getaran harus diisolasi. 2) Penempatan Penghalang pada Jalan Transmisi Isolasi tenaga kerja atau mesin adalah usaha segera dan baik bagi usaha mengurangi kebisingan. Alat-alat ini mengurangi intensitas kebisingan sekitar 20-25 dB(A). d. 2008) Menurut Suma’mur. Harus diusahakan perbaikan komunikasi. karet. Permasalahan utama pemakaian alat proteksi pendengaran adalah mendidik tenaga kerja. Cegah penggunaan mesin-mesin yang menimbulkan kebisingan diatas 85 dB(A). c. e. tetapi umumnya hal ini dilakukan dengan penelitian dan perencanaan mesin baru. agar tidak terjadi getaran yang lebih hebat.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek pengendalian yang lebih permanen belum dapat diimplementasikan. Lengkapi karyawan yang bekerja di tempat-tempat sumber bising diatas 85 Page 18 . Pengendalian kebisingan menurut Silalahi Silalahi. 1991 adalah : a. sebagai akibat pemakaian alat-alat pelindung ini. Alat demikian harus diseleksi. sehingga dipilih yang tepat. perlengkapan. 2009 kebisingan dapat dikendalikan dengan : 1) Pengurangan Kebisingan pada Sumbernya Dilakukan misalnya dengan menempatkan peredam pada sumber getaran. Permukaan tembok dan langit-langit sedapat mungkin dilapis dengan tegel akustik. agar secara kontinu menggunakannya. b. Pergunakan peredam getaran seperti tegel akustik. Bagian-bagian bergerak dari seluruh mesin. dan barang-barang lain yang sejenis. dan peralatan harus senantiasa diberi minyak pelumas atau gemuk. Bahan-bahan penutup harus dibuat cukup berat dan lapisan dalam terbuat dari bahan yang menyerap sinar. APD merupakan pilihan terakhir dari suatu sistem pengendalian resiko di suatu tempat kerja.

nyaman dipakai dan tidak merupakan beban tambahan bagi pemakainya. Mudah dipakai dan dilepas kembali. bahkan ukuran kedua telinga dari orang yang sama adalah berbeda. Suku cadang APD tersebut cukup tersedia di pasaran. tetapi alat pelindung telinga akan dapat mengurangi tingkat keparahan dari suatu kemungkinan terjadinya kecelakaan ataupun penyakit akibat kerja. 5. Mudah disimpan dan dipelihara pada saat tidak digunakan. Memberikan perlindungan efektif terhadap jenis bahaya. 6. APD mempunyai berat yang seringan mungkin. Alat pelindung telinga adalah seperangkat alat keselamatan yang dipergunakan oleh tenaga kerja untuk mengurangi intensitas suara yang masuk kedalam telinga. Sumbat Telinga (Ear Plug) Ukuran dan bentuk saluran telinga tiap-tiap individu berbeda. (Lampiran 11) Salah satu alat pelindung diri adalah alat pelindung telinga. Untuk itu. APD dipilih sesuai standar yang ditetapkan. 3. Alat Pelindung Telinga Salah satu upaya perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja adalah penggunaan alat pelindung diri. Kemampuan atau kualitas alat-alat pelindung diri perseorangan yang dipergunakan tenaga kerja adalah salah satu faktor penentu mengurangi terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. 7. Secara teknis alat pelindung telinga tidaklah dapat melindungi secara sempurna terhadap paparan potensi bahaya. Bentuknya cukup menarik. yaitu : a. Kewajiban dalam penggunaan alat pelindung diri di tempat kerja yang mempunyai resiko terhadap timbulnya kecelakaan dan penyakit akibat kerja telah diatur dalam Undang-Undang No. Alat pelindung telinga dibedakan menjadi dua (2). 2. alat pelindung diri yang digunakan harus memenuhi persyaratan. sehingga tenaga kerja tidak malu memakainya. 4. ear plug Page 19 . g.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek dB(A) dengan alat penyumbat telinga. antara lain : 1. Secara umum. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pada pasal-pasal tertentu.

Ear plug ini dapat mengurangi kebisingan antara 20-25 dB(A). plastik. Tutup Telinga (Ear Muff) Alat pelindung telinga jenis ini terdiri dari 2 (dua) buah tutup telinga dan sebuah headband. Sedangkan yang terbuat dari bahan karet dan plastik yang dicetak (Molded rubber/plastic) dapat digunakan berulang kali (Non Disposable). Pada pemakaian untuk waktu yang cukup lama. Alat ini dapat mengurangi intensitas suara sampai dengan 30 dB(A) dan juga dapat melindungi bagian luar telinga dari benturan benda keras atau percikan bahan kimia.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek harus dipilih sedemikian rupa sehingga sesuai dengan ukuran dan bentuk saluran telinga pemakainya. sehingga PT Pupuk Kujang Cikampek memilih mengurangi kebisingan tersebut. Isi dari tutup telinga dapat berupa cairan atau busa yang berfungsi untuk menyerap suara frekwensi tinggi. Ear plug dapat terbuat dari kapas. PT Pupuk Kujang Cikampek melakukan pengendalian kebisingan dikarenakan ada beberapa area yang tingkat kebisingannya berada diatas NAB. Ear plug yang terbuat dari kapas. (Tarwaka. Kemungkinan untuk menghilangkan kebisingan sulit untuk dilakukan. efektivitas ear muff dapat menurun karena bantalannya menjadi mengeras dan mengerut sebagai akibat reaksi dari bantalan dengan minyak dan keringat pada permukaan kulit. karet alami dan bahan sintesis. b. seperti kebisingan. Hirarki pengendalian kebisingan di PT Pupuk Kujang Cikampek adalah : a) Pemilihan Mesin dengan Kebisingan Rendah Pada awal tahap perencanaan PT Pupuk Kujang Cikampek sudah mulai memikirkan tentang resiko-resiko yang ada. Pada umumnya diameter saluran telinga antara 5-11 mm dan liang telinga pada umumnya berbentuk lonjong dan tidak lurus. Tujuan pelaksanaan pengendalian kebisingan ini adalah untuk melindungi tenaga kerja dari penurunan fungsi pendengaran dan memelihara kewaspadaan serta efisiensi kerja tenaga kerja. Salah satu cara meminimalisir kebisingan adalah dengan pemilihan mesin dengan tingkat Page 20 . 2008) Pengendalian Kebisingan Pengendalian kebisingan adalah suatu upaya yang dilakukan untuk memperkecil kebisingan agar mencapai kearah tingkat bising yang diperkenankan. spon dan malam (wax) hanya dapat dipergunakan untuk sekali pakai (Disposable).

Isolasi Mesin Isolasi mesin dengan pekerja telah dilakukan PT Pupuk Kujang Cikampek. juga dilakukan pemeliharaan skala kecil yang dilakukan oleh Biro Pemeliharaan secara rutin. Ketika perbaikan tahunan. c. perbaikan tahunan tersebut memerlukan waktu kurang lebih dua (2) minggu sampai satu (1) bulan. atau biasa disebut dengan Perbaikan Tahunan (PERTA). Mengurangi Efek Kebisingan dengan Isolasi Ruang Kerja Page 21 . seluruh proses produksi pabrik dihentikan berikut mesin-mesinnya. mulai dari kondisi fisik sampai dengan kualitas maupun kuantitas produk yang dihasilkan. b. compresor. Contohnya. Di PT Pupuk Kujang dilakukan perbaikan mesin dengan cara : a. penggantian pelumas secara rutin. Pemeliharaan (Maintenance) Pemeliharaan dilakukan dengan memberikan perawatan terhadap mesinmesin yang beroperasi dalam waktu yang lama. b) Perbaikan Cara Kerja Mesin Mesin yang beroperasi dalam waktu yang lama perlahan-lahan akan mengalami penurunan. Proses perbaikan tahunan meliputi perbaikan-perbaikan pada peralatan utama produksi PT Pupuk Kujang seperti reactor. dan lain-lain. penggunaan peredam pada mesin-mesin yang bergetar. Mesin-mesin yang menimbulkan kebisingan ditempatkan pada suatu area khusus yang dirancang sedemikian rupa sehingga kebisingan yang dihasilkan dapat dikontrol. Modifikasi Modifikasi dilakukan untuk mengurangi efek dari kebisingan. Selain pemeliharaan skala besar. mesin-mesin pada area Compressor diisolasi pada suatu ruangan agar kebisingan yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan. PT Pupuk Kujang memilki program pemeliharaan skala besar yang dilakukan setiap satu (1) tahun sekali. Perawatan ini dilakukan agar mesin-mesin yang ada tetap dalam kondisi yang bagus. Pemeliharaan rutin ini dilakukan jika terjadi gangguan atau kerusakan pada peralatan. d. contohnya penggantian baut yang sudah aus.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek kebisingan yang rendah. Pemilihan mesin ini dilakukan oleh tim khusus yang ditunjuk oleh perusahaan. Modifikasi ini dilakukan apabila ada bagian mesin yang sudah tidak layak digunakan.

Setelah dilakukan pengukuran. salah satunya dengan dibuatnya control room. maka dilakukan pelaporan hasil pengukuran. Hal ini dilakukan untuk memantau kebisingan agar tidak menimbulkan efek yang tidak diinginkan. tiga (3) bulan sekali dan satu (1) tahun sekali. Upaya Promotif Upaya promotif telah dilakukan di PT Pupuk Kujang dengan cara : 1) Poster Dalam Surat Keputusan Direksi PT Pupuk Kujang Nomor 023/SK/DU/IX/2002 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di PT Pupuk Kujang menyebutkan : Page 22 . Control room dibuat sedemikian rupa sehingga pajanan kebisingan dapat ditekan. f. pengukuran untuk diperhatikan. yang dilakukan setiap satu (1) bulan sekali. tenaga kerja dapat mengawasi mesin dan peralatan tanpa takut terpapar kebisingan.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek Untuk menghindari efek kebisingan terhadap tenaga kerja maka PT Pupuk Kujang Cikampek melakukan pemisahan pekerja dari mesin yang menimbulkan kebisingan. e. Pengukuran dan Pengawasan secara Periodik Selain melakukan pemantauan bising tindakan sendiri perlu secara teknik. Di control room. serta Pengukuran dilakukan secara periodik oleh Bagian Hiperkes setiap dua (2) minggu sekali.

guna mencegah terjadinya kecelakaan. Penggantian poster di Pupuk Kujang Cikampek dilakukan apabila ada perubahan mengenai penambahan area pabrik dan perubahan lingkungan pabrik.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek a. perhatian dan larangan bagi setiap orang. tetapi diganti dengan penyuluhan Hiperkes. perhatian dan larangan bagi setiap orang. Selama kegiatan penyuluhan tenaga kerja dapat berinteraksi langsung kepada instruktur. . sedangkan untuk poster/rambu kebisingan dilakukan perubahan apabila intensitas kebisingan di daerah tersebut berubah atau kondisi fisik dari poster/rambu tersebut sudah tidak layak lagi. Tanda-tanda atau poster keselamatan dan kesehatan kerja dibuat dan dipasang sebagai pemberitahuan. guna mencegah terjadinya kecelakaan serta penyakit akibat kerja yang ada di PT Pupuk Kujang Cikampek. tidak saja tentang kebisingan tetapi juga tentang pencahayaan. b. Setiap orang yang berada di kawasan pabrik harus memperhatikan dan mematuhi tanda-tanda dimaksud pada butir a ayat ini. Poster diperbolehkan tersebut atau berisi tidak rambu-rambu/aturan-aturan diperbolehkan. pengarahan. Penyuluhan Hiperkes dilakukan dilakukan minimal empat (4) kali dalam satu (1) tahun atau sesuai dengan indikasi yang ada. c. getaran. Dalam penyuluhan Hiperkes ini materi yang diberikan lebih meluas. Poster/rambu-rambu yang ini diletakkan di tempat yang mudah dilihat. Penyuluhan kebisingan secara khusus belum terselenggara. Penyuluhan Penyuluhan di PT Pupuk Kujang Cikampek digunakan untuk membantu terhadap keselamatan dan kesehatan kerja dengan memberikan kesempatan untuk komunikasi langsung diantara instruktur dengan tenaga kerja. Poster di PT Pupuk Kujang digunakan untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja membantu serta sebagai pemberitahuan. sering dilalui atau dijadikan tempat berkumpul bagi tenaga kerja serta di tempat yang mengandung resiko kecelakaan atau penyakit akibat kerja tinggi. gizi. kesehatan kerja. Mereka dapat menanyakan segala permasalahan yang dihadapi di area pabrik. Poster/rambu dibuat semenarik mungkin sehingga tenaga kerja merasa tertarik untuk melihatnya. dan lain-lain. pengarahan. Perusakan dan penyalahgunaan tanda-tanda keselamatan kerja merupakan pelanggaran peraturan ini.

SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek Di akhir penyuluhan instruktur memberikan suatu himbauan akan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja bagi tenaga kerja. Alat pelindung telinga yang digunakan di PT Pupuk Kujang Cikampek ada dua (2) macam. Rotasi/mutase Rotasi/mutasi ini dilakukan oleh perusahaan apabila tenaga kerja yang bersangkutan mengalami kelainan sehingga membahayakan diri sendiri atau orang lain yang ada disekeliling. Menetapkan norma keselamatan kerja dalam SK Direktur No. Penggunaan Alat Pelindung Telinga Dalam Surat Keputusan Direksi PT Pupuk Kujang Nomor 023/SK/DU/IX/2002 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di PT Pupuk Kujang pada pasal 8 ayat 5 menyebutkan : “Tutup pengaman telinga harus dipakai apabila berada/bekerja di area yang mempunyai kebisingan tinggi atau daerah-daerah yang ada tanda harus memakainya”. Rotasi/mutasi ini harus mendapat persetujuan dari Dokter Perusahaan. Bagian yang terkait serta dari Direksi. Tujuannya adalah untuk melindungi tenaga kerja terhadap paparan kebisingan yang ada. 023/SK/DU/IX/2002 tentang Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja PT Pupuk Kujang. Alat pelindung telinga wajib digunakan oleh tenaga kerja apabila tenaga kerja tersebut memasuki area pabrik. antara lain dengan : 1. 2. Pengaturan waktu kerja Pengaturan waktu kerja diatur sedemikian rupa oleh Manajemen sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap tenaga kerja. 3. Pengendalian Administratif Pengendalian secara administratif juga diperhatikan di PT Pupuk Kujang Cikampek. yaitu : (1) Ear muff Penggunaan ear muff hanya dikhususkan untuk para inspektor yang datang . Waktu kerja di PT Pupuk Kujang adalah delapan (8) jam sehari atau empat puluh (40) jam seminggu untuk karyawan shift dan karyawan reguler.

Penggantian ear plug bagi tenaga kerja ini dilakukan minimal satu (1) tahun satu (1) kali atau sesuai dengan kerusakan. Ear muff dapat meredam kebisingan mencapai 30 dB. (2) Sanksi Sanksi/hukuman yang diberikan kepada si pelanggar bisa berupa : a. Ear muff lebih nyaman digunakan. b . b.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek ke area pabrik. Hal ini dilakukan karena : a . Untuk meningkatkan kesadaran tenaga kerja dalam penggunaan alat pelindung telinga maka Bagian KPK dan Bagian Hiperkes melakukan razia secara mendadak. Teguran Tertulis. Ear plug yang ada di PT Pupuk Kujang Cikampek ini dibedakan menjadi dua (2) macam. Pemberitahuan dilakukan agar tenaga kerja sadar akan pentingnya penggunaan alat pelindung telinga. b . Ear plug model jamur Digunakan oleh tenaga kerja di PT Pupuk Kujang Cikampek mulai dari Bagian. yaitu : a . sampai Kompartemen. untuk melindungi dari paparan kebisingan saat berada di area pabrik. diberikan oleh Biro Ketenagakerjaan atas nama Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia atau pejabat lain sesuai kewenangannya (Surat . Apabila terdapat tenaga kerja yang tidak menggunakan alat pelindung telinga di area pabrik maka dilakukan tindakan. diberikan oleh Kepala Unit Kerja minimal Kepala Dinas/Bagian. Biro/Divisi. Surat Peringatan (Warning Slip). c. Ear plug model spon Digunakan oleh praktikan-praktikan yang ada di PT Pupuk Kujang Cikampek. Biaya pengeluaran dapat ditekan dibandingkan dengan penggunaan ear plug yang hanya sekali pakai. ( 2 ) Ear plug Ear plug yang digunakan di PT Pupuk Kujang dapat meredam kebisingan antara 20-25 dB. antara lain : (1) Pemberitahuan Pemberitahuan ini dilakukan secara langsung oleh Bagian Hiperkes atau Bagian KPK kepada tenaga kerja yang bersangkutan.

dilakukan hanya dengan memeriksa setiap panel secara sepintas lalu dan segera berpindah ke panel yang lain. kebakaran. Didalamnya terdapat potensi bahaya dan faktor bahaya yang tidak dapat dihindarkan. terpeleset. tenaga kerja langsung . Selain itu tenaga kerja memeriksa mesin dan peralatan setiap dua (2) jam sekali dalam satu (1) shift kerja.J Cooling Tower Primery Reformer 101. keracunan. (Suma’mur.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek Keputusan Direksi Nomor 023/SK/DU/IX/2002 Pasal 16 ayat 2) Pembahasan Kebisingan di Area Ammonia IA Ammonia IA merupakan suatu area yang memiliki mesin dan peralatan dalam jumlah yang banyak. temperature tinggi. seperti : Tabel 3. tetapi paparan yang diterima tenaga kerja telah diatur sedemikian rupa dan disesuaikan dengan kebisingan tersebut. 2009) Pengukuran yang telah dilakukan pada tahun 2009 menunjukkan intensitas kebisingan yang tinggi pada area Ammonia IA.J-105. Potensi bahaya yang ada meliputi ledakan. iritasi. Hasil pengukuran ini bervariasi antara satu titik dengan titik yang lain. Kebisingan adalah suara yang tidak dikehendaki. dan lain-lain. Tenaga kerja yang melakukan pengontrolan mesin dan peralatan di area Ammonia IA hanya memerlukan waktu 15-30 menit untuk seluruh area. Salah satu faktor bahaya yang mengganggu adalah kebisingan. tersetrum. tertimpa.B Jalan Stipper Benfield Absorber Synloop Gardu Removal Intensitas Kebisingan 102-108 dB(A) 96-102 dB(A) 88-99 dB(A) 96-112 dB(A) 89-91 dB(A) 97-91 dB(A) 88-91 dB(A) 86 dB(A) 86 dB(A) 85-86 dB(A) 86-87 dB(A) Semua titik pengukuran menunjukkan kebisingan lebih dari 85 dB(A) dan dapat dikatakan tidak sesuai dengan Kepmenaker Nomor : KEP. Setelah melakukan pengontrolan. dan lain-lain. getaran. Sedangkan faktor bahaya yang ada meliputi kebisingan.51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja. Intensitas Kebisingan Area Ammonia IA Area 101.

Mengganggu kenyamanan (75%) b. Penegakkan diagnosa penyakit akibat kerja karena kebisingan belum dilakukan di . Penggunaan ear plug ini diwajibkan apabila tenaga kerja berada di area pabrik. baik untuk waktu yang singkat ataupun waktu yang lama. Pengaruh kebisingan yang dialami oleh tenaga kerja baru di PT Pupuk Kujang Cikampek khususnya area Ammonia IA akan sangat mengganggu ketika tenaga kerja tersebut mulai bekerja di area tersebut. Ear plug yang digunakan oleh tenaga kerja dapat meredam kebisingan antara 2025 dB(A). Tenaga kerja terpapar kebisingan hanya saat melakukan pengontrolan di lapangan atau melakukan perbaikan mesin/peralatan. seluruhnya tidak diakibatkan oleh faktor lingkungan kerja seperti mesin-mesin atau peralatan yang digunakan untuk proses produksi. Kebisingan yang dialami oleh tenaga kerja tidak diterima selama waktu kerja (8 jam) karena paparan kebisingan yang diterima oleh tenaga kerja hanya sewaktu-waktu.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek kembali ke control room serta tidak selalu standby di suatu titik tersebut. tetapi dalam jangka waktu lama akan dirasakan biasa oleh tenaga kerja tersebut. Pengaruh Kebisingan Paparan kebisingan dalam waktu singkat atau lama dapat mempengaruhi setiap tenaga kerja. sehingga tenaga kerja bisa berada di area bising dalam waktu yang lebih lama. Hal ini dilakukan untuk menekan pengaruh kebisingan terhadap tenaga kerja. Ear plug ini sangat membantu tenaga kerja saat berada di area pabrik seperti di area Ammonia IA karena paparan kebisingan yang diterima tenaga kerja sedikit berkurang dengan pemakaian ear plug. dan aktivitas tambahan yang dilakukan diluar pekerjaannya yang memungkinkan terjadinya penurunan pendengaran pada tenaga kerja yang bersangkutan. pengontrolan juga dilakukan dengan berpindah-pindah dari satu panel ke panel yang lain dalam waktu yang relatif singkat. Mengurangi konsentrasi (50%) c. penyakit/infeksi yang diderita. Pengaruh kebisingan yang dirasakan oleh tenaga kerja antara lain : a. seperti umur. tetapi juga disebabkan oleh faktorfaktor lain diluar lingkungan kerjanya. Menurunkan fungsi pendengaran (50%) Tenaga kerja PT Pupuk Kujang Cikampek yang mengalami penurunan kebisingan. Mengganggu komunikasi (100%) d. Tenaga kerja yang melakukan pemeriksaan selalu dilengkapi dengan alat pelindung diri seperti ear plug.

yang dilakukan setiap satu (1) tahun sekali oleh PT Pupuk Kujang Cikampek ke Dinas Kesehatan Karawang. penggunaan alat pelindung telinga. uap. antara lain : pemilihan mesin dengan tingkat kebisingan yang rendah. (Zulmiar Yanri. Pengendalian kebisingan ini dilakukan karena tingkat bising yang ada di PT Pupuk Kujang Cikampek khususnya di area Ammonia IA telah melebihi Nilai Ambang Batas yang ditentukan. asap. hembusan angin. a. isolasi yang terdiri dari isolasi mesin dan isolasi ruang kerja. deteksi dini terhadap penurunan fungsi pendengaran. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pasal 3 ayat (1) c yang menyebutkan mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu. tetapi PT Pupuk Kujang Cikampek selalu melaporkan setiap hasil General Medical Check Up. pengaturan waktu kerja.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek PT Pupuk Kujang dikarenakan sampai akhir tahun 2009 belum ditemukan penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan khususnya kebisingan di PT Pupuk Kujang Cikampek walaupun intensitas kebisingan yang ada di PT Pupuk Kujang khususnya di area Ammonia IA berada diatas Nilai Ambang Batas. kotoran. pengukuran dan pengawasan secara periodik. dan penghijauan. Pemilihan Mesin Pemilihan mesin dengan tingkat kebisingan yang rendah dilakukan pada .01/MEN/1981 tentang Kewajiban Melaporkan Penyakit Akibat Kerja. 1999). suara dan getaran (Zulmiar Yanri. 1999) Pengendalian Kebisingan Pengendalian kebisingan adalah suatu upaya yang dilakukan untuk memperkecil kebisingan agar mencapai kearah tingkat bising yang diperkenankan. sinar radiasi. Hal ini telah sesuai dengan Permenaker Nomor : PER. kelembaban. Walaupun sampai akhir tahun 2009 belum ditemukan adanya penyakit akibat kerja seperti kebisingan di PT Pupuk Kujang Cikampek. pengendalian administratif yang dilakukan dengan cara menetapkan norma keselamatan kerja dalam SK Direktur No. gas. debu. cuaca. PT Pupuk Kujang Cikampek menyadari pentingnya penerapan upaya pengendalian kebisingan.023/SK/DU/IX/2002. dan rotasi/mutasi. Oleh karena itu PT Pupuk Kujang Cikampek menerapkan beberapa upaya untuk mengendalikan kebisingan. selain itu juga untuk melindungi tenaga kerja dari penurunan fungsi pendengaran. upaya promotif dilakukan dengan cara poster dan penyuluhan. perbaikan cara kerja mesin yang dilakukan dengan pemeliharaan (Maintenance) dan modifikasi.

Hal ini sesuai dengan Permenaker No. PER.3. Untuk mengetahui efektivitas penggunaan alat pelindung telinga dapat dilihat dari kesadaran tenaga kerja dalam penggunaan alat pelindung telinga tersebut. 05/MEN/2009 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lampiran I poin 3. a.3. b. Pengendalian Secara Teknik dan Isolasi Selain itu pengendalian secara teknik dan isolasi telah diterapkan untuk area Ammonia IA.4. maka kemungkinan terjadinya penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja dapat dihindarkan serta dapat menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Namun tingkat kesadaran tenaga kerja tentang pentingnya penggunaan alat pelindung telinga masih kurang. Dengan semakin berkurangnya penurunan fungsi pendengaran pada tenaga kerja.3. Mesin-mesin dipilih oleh tim khusus dan disesuaikan dengan lingkungan yang ada di PT Pupuk Kujang Cikampek seperti di area Ammonia IA. yaitu pengendalian penyakit akibat kerja dalam proses rekayasa harus dimulai sejak tahap perancangan dan perencanaan. atau tenaga kerja menggunakan alat pelindung telinga dikarenakan takut pada pengawas. Tenaga kerja yang sadar akan pentingnya penggunaan alat pelindung telinga akan senantiasa menaati peraturan untuk selalu menggunakan alat pelindung telinga apabila berada di tempat yang tingkat bisingnya tinggi. Hal ini dapat dilihat dari masih adanya tenaga kerja yang tidak menggunakan alat pelindung tenaga saat berada di tempat kerja yang bising. yaitu pengendalian penyakit akibat kerja dilakukan melalui metode pengendalian teknis/rekayasa yang meliputi. 05/MEN/2009 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lampiran I poin 3. Efektivitas Pengendalian Kebisingan Pengendalian kebisingan yang diterapkan di PT Pupuk Kujang Cikampek telah didesain sedemikian supaya tidak menimbulkan masalah-masalah yang berarti dikemudian hari. tanpa perlu adanya teguran atau sanksi tentang penggunaan alat pelindung telinga tersebut. PER. aman dan selamat.. Untuk meningkatkan kesadaran tenaga kerja akan pentingnya penggunaan alat pelindung telinga maka PT Pupuk Kujang Cikampek mengupayakan berbagai cara . substitusi. Cara teknik dan isolasi telah dirancang sedemikian rupa untuk menekan kebisingan yang melebihi NAB. Hal ini telah sesuai dengan Permenaker No. Efektivitas pengendalian kebisingan di PT Pupuk Kujang Cikampek dapat dilihat dari pengaruh kebisingan tersebut terhadap tenaga kerja..SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek saat perencanaan. isolasi.

memasang poster/rambu keselamatan di tempat yang sering dilewati tenaga kerja. dan razia yang dilakukan secara mendadak oleh Bagian Hiperkes dan Bagian KPK. Anjuran Penggunaan Alat Pelindung Telinga Hari Pagi Siang/Sore Hari 1 30 Menit 1 Jam Hari 2 1 Jam 1 Jam Hari 3 2 Jam 2 Jam Hari 4 3 Jam 3 Jam Hari 5 Selama shift kerja Hari 6. dst Selama shift kerja Sumber : PT Pupuk Kujang. 200 . Penyuluhan ini disesuaikan dengan bagian tenaga kerja tersebut bekerja sehingga tenaga kerja mudah untuk menerima. Penyuluhan yang diberikan oleh Bagian Hiperkes dilakukan agar timbul kesadaran dari diri tenaga kerja itu sendiri. Berikut cara yang dianjurkan untuk membiasakan diri menggunakan alat pelindung telinga bagi tenaga kerja baru : Tabel 4.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek seperti mengadakan penyuluhan bagi tenaga kerja.

Himpunan Peraturan Perundangan Kesehatan Kerja.K. Jakarta : CV Haji Masagung. 2009. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. 1993. Jakarta : Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. 2002.B Silalahi dan Rumondang Silalahi. Soekidjo Notoatmodjo. dkk. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Manajemen dan Implementasi K3 di Tempat Kerja. Direktorat Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan. 2009. Jakarta : PT Bina Sumber Daya Manusia. . 2008. Jakarta : Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. 1999. Cikampek : PT Pupuk Kujang. Suma’mur P. Jakarta : PT Citratama Bangun Mandiri. Haryono. Zulmiar Yanri. 1991. Teknik Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. 2007. Surakarta : Harapan Press. Jakarta : PT Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta : PT Toko Gunung Agung. Metode Penelitian Kesehatan. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.K.SMK3 di PT Pupuk Kujang Cikampek DAFTAR PUSTAKA Bennet N. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta : PT Rineka Cipta. dkk. Suma’mur P. PT Pupuk Kujang. 1997. Agenda Hiperkes dan Keselamatan Kerja. 1999. Pedoman Diagnosis dan Evaluasi Cacat karena Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja. Syukri Sahab. Tarwaka.