Anda di halaman 1dari 27

ISLAM DAN KESEHATAN

Oleh: Ahmad Basthomi, M.Ag

Sebagai agama yang ajarannya meliputi seluruh alam semesta, Islam selalu
menekankan pada umatnya untuk memperhatikan dan mempelajari apa saja yang
diciptakan

Allah

dan

bagaimana

pula

manusia

memerankan

dirinya

untuk

mempertahankan eksistensi hidupnya sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Salah satu
penekanan tersebut adalah ihwal kesehatan dan tuntunan untuk hidup sehat. Bahkan,
Islam juga menetapkan bahwa tujuan pokok kehadirannya (maqasidusy syariah), selain
dalam rangka untuk; (1) memelihara agama, (2) harta, (3) keturunan, juga menekankan
pada pentingnya pemeliharaan; (4) jiwa, (5) akal, dan (6) jasmani. Tiga hal yang disebut
terakhir, dalam pelaksanaannya mensyaratkan adanya praktik hidup sehat.
Perhatian Islam terhadap masalah kesehatan pada dasarnya berbanding lurus
dengan kebutuhan dasar manusia itu sendiri. Bahkan lebih jauh lagi, kesehatan dalam
Islam tidak hanya ditekankan pada masalah fisik/tubuh semata, tapi juga kesehatan jiwa,
pisikis, atau mental, dan kesehatan ruhani atau spiritual. Hal ini dikarenakan struktur diri
manusia tidak hanya terdiri sebagai wujud fisik semata (biologis), tetapi juga meliputi
jiwa dan ruhaninya.
Begitu luas cara pandang ajaran Islam terhadap makna kesehatan, maka sangat
tidak benar kalau kita beranggapan bahwa konsep sehat dan hidup sehat menurut Islam
hanya berpulang pada satu kesimpulan semata, yaitu sehat jasmani/ fisik, tanpa
menyertakan unsur-unsur kejiwaan dan ruhani manusia. Dalam pandangan kebanyakan
orang, memang sehat lebih kuat dikonotasikan pada satu arah kesimpulan, yaitu sehat
fisik/tubuh/jasmani. Hal tersebut tidak salah, namun tidak seluruhnya benar.
Sebab itu, penting disini diurai lebih jelas dan mendalam bagaimana pandangan
Islam tentang kesehatan sejalan semangat nilai-nilai yang dikandungnya. Termasuk
bagaiman kita mengapresiasi makna sehat, kesehatan, dan bagaiman hidup sehat
(termasuk menciptakan lingkungan hidup yang sehat) dalam pengertian dan praktik hidup
yang setepat-tepatnya.
A. Urgensi hidup sehat bagi manusia
Sudah menjadi suatu kebutuhan dasar bawah setiap manusia selalu ingin hidup
sehat. Kondisi yang satu ini memang mahal harganya, sekalipun, misalnya, hanya sebatas
sehat fisik. Kita akan merasakan betapa bermaknanya bila kita mengalami kondisi sehat

yang dengan leluasa dapat menikmati udara segar di sekitar rumah kita, sementara tidak
sedikit saudara kita yang lain berbaring dengan tabung oksigen di rumah sakit. Ataupun
kita merasa bugar dan bergairah, sementara yang lain terkena deman, batuk, dan
penyakit-penyakit fisik lainnya.
Dari gambaran kecil pentingnya hidup sehat di atas, maka manusia dituntut untuk
memperhatikan anatomi tubuhnya dan kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhinya agar
tidak mengalami hambatan atau bahkan kerusakan pada bagian-bagian tertentu atau
keseluruhan dalam sistem tubuhnya. Hal yang paling mendasar pemenuhan untuk hidup
sehat bagi manusia adalah bagaimana menciptakan pola hidup sehat, mulai dari perhatian
pola makan, minum, keseimbangan gizi dan cara-cara lain yang menghantarkan untuk
mendapatkan paket menuju sehat. Perhatian dan pemenuhan akan kebutuhan organ tubuh
(biologis) dengan mengkonsumsi makanan bergizi atau menyehatkan akan memberikan
suplay energi pada tubuh untuk melakukan kegiatan-kegaiatan dan sekaligus menjaga
dari berbagai ancaman penyakit. Hal ini karena setiap sel pada seluruh organ tubuh
manusia merupakan bagian yang hidup dan berdiri sendiri, yang berfungsi dalam proses
pembentukan dan perlindungan jaringan tubuh.
Makanan adalah bahan bakar tubuh yang menjadi sumber energi. Kalau
seseorang bekerja keras, ia akan membutuhkan energi yang sebanding dengan kuantitas
aktifitas yang dikerjakannya. Jika seseorang mengkonsumsi makanan yang dapat
memberi energi melebihi kebutuhannya akan menyebabkan kegemukan atau berat badan
bertambah. Sebaliknya, jika energi yang dibutuhkan berkurang sedikit saja, apalagi kadar
gizinya sangat sedikit, tidak hanya berat badan akan berkurang (mengalami kekurusan),
tapi juga rawan terserang penyakit. Seperti kasus-kasus kelaparan, busung lapar, gizi
buruk yang pernah dialami sebagian masyarakat kita. Sebab itu pola makan yang teratur
dan menyehatkan (steril dari bakteri, racun, virus, zat-zat kimiawi) harus mendapat
perhatian serius karena hal tersebut juga termasuk usaha untuk memenuhi kebutuhan
hidup.
Tidak hanya faktor makanan yang bergizi untuk menjadikan tubuh sehat. Banyak
faktor lain yang saling terkait yang memiliki kontribusi besar terhadap kesehatan.
Misalnya; istirahat yang cukup, rajin berolah raga, lingkungan yang ramah, dan
sebagainya. Namun, dari sudut pandang anatomi tubuh manusia, untuk mendapatkan
tubuh yang sehat kuncinya bermula pada otak dan jantung. Dua organ tubuh manusia
tersebut, menurut analisis dr. Egha Zainur Ramadhani, seorang penulis buku best seller
Super Health, 1 mempunyai peran yang sangat vital.

1 Ramadhani, Sehat Berpahala (nikmat di dunia, dahsya di akhirat,


Yogyakarta, Pro-U Media, 2009: 26-27

Otak misalnya, ia bekerja untuk mengatur dan mengkordinasi sebagian besar


gerakan, prilaku dan fungsi tubuh seperti tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan
suhu tubuh. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi pengenalan, emosi, ingatan, dan
segala bentuk pembelajaran lainnya. Kerusakan sebagian kecil saja dari jaringan sistem
syaraf otak, akan membuat tampilan sesorang berubah.
Sementara jantung adalah pemompa darah. Ia bertanggung jawab atas
mengalirnya darah beserta segenap zat gizi yang terkandung di dalamnya. Darah yang
dipompa oleh jantung berkisar 60-100 kali dalam semenit. Darah yang dipompa itu wajib
keluar dari jantung dan kembali lagi ke jantung setiap kali pompa, agar darah yang
kehilangan oksigen beserta zat gizi bisa diisi ulang untuk menjamin bagian organ tubuh
yang lain sehat.
Jaringan otak sendiri, masih menurutnya, sangat rentan terhadap perubahan
oksigen dan kadar gula dalam darah. Aliran darah berhenti 10 detik saja sudah dapat
menghilangkan kesadaran manusia. Berhenti dalam beberapa menit, sanggup merusak
otak secara permanen. Maka, jika jantung tidak dapat berperan secara optimal, banyak
fungsi otak yang hilang. Sungguh tak terbayangkan!
Dalam dunia kesehatan, jantung mempunyai sistem komunikasi yang lebih luas
dan jauh dengan otak daripada yang dilakukan organ-organ tubuh yang lain. Antara
keduanya selalu terjalin komunikasi yang intens, dan instensitas komunikasi tersebut
sekaligus sebagai indikasi bahwa seseorang itu dapat dikatakan sehat. Kedua organ
tersebut sama-sama sangat canggih, hanya saja jantung masih lebih unggul atas otak. Hal
ini dibuktikan secara mengagumkan dalam dunia kesehatan bahwa jantung mulai
berdetak pada janin sebelum otak terbentuk sempurna. Karena itu jantung sesungguhnya
pemrakarsa utama kehidupan manusia. Di jantung juga ada 40 ribu sel (neuron), yang
sebagian dari sel itu berperan sebagai otak (neuron nodus SA dan jaringannya) yang
membuat ia bekerja secara otomatis tanpa menunggu perintah dari otak. 2
Selain itu, bahkan jantung mempunyai medan elektromagnetik 5.000 kali lebih
besar daripada otak. Medan ini dapat diukur dengan magnetometer dengan jarak lebih
dari 3 meter di luar badan/ fisik. Penjelsan ini memperkuat berbagai pangajarn spiritual
yang menyatakan manusia mempunyai medan energi yang terus menerus mencampur
satu sama lain, yang memungkinkan penyembuhan atau pikiran serta perasaan positif di
perlebar, dikirim, ditukar, bahkan dilipatgandakan.3

2 Ramadhani, Sehat Berpahala. hl: 27-28. Lihat juga dalam, Erbe Sentanu,
Quantum Ikhlash, Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati, Jakarta, PT Elex Media
Komputindo, 2011 (cet. ke- 27): hal: l09
3 Arbi Sentanu.hal: 109

Segi keunggulan jantung (hati) atas otak, dapat juga dipahami dalam hadits Nabi
saw. sebagai berikut:
HADITS
Ketahuilah bahwa dalam diri manusia itu terdapat segumpal darah.
Jika segumpal darah itu baik, maka akan baik pula seluruh jasadnya.
Dan apabila segumpal darah tersebut buruk, maka buruk pula
seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati
(HR. Bukhari)
Dalam hadits Nabi saw. diatas dijelaskan bahwa segumpal darah (mudlghah)
sebagai penentu sehatnya badan, dan segumpal darah itu adalah hati. Secara fisiologis,
segumpal darah jelas menunjuk pada organ jantung, dan ia tidak lain adalah hati. Ini sama
persis dengan pendapatnya Aristoteles yang beranggapan bahwa untuk berpikir dan
berperasaan, manusia menggunakan jantung (heart).
Dengan demikian, urgensi hidup sehat bagi manusia, hal yang paling mendasar
untuk diperhatikan adalah bagaimana pemanfaatan dan pemeliharaan yang tepat fungsi
otak pada dirinya dan secara bersamaan adanya keseimbangan sistem komunikasi sadar
dengan jantung atau hatinya dalam mencapai keinginan-keinginan hidup yang
menyehatkan. Dalam bahasa yang sederhana, bicara tentang sehat dan kesehatan selalu
menyertakan sistem kesadaran yang semua itu diawali dengan harmonisasi fungsi otak
dan jantung (hati/jiwa).
Sekalipun

demikian, perlu dipahami berbedaan mendasar antara otak dan

jantung. Pada otak, ia terkait dengan pikiran-pikiran sadar, sementara jantung terkait
dengan rasa/perasaan. Memikirkan adalah wilayah kesadaran dan itu ada pada otak,
sementara merasakan adalah wilayah hati dan itu tidak lain adalah jantung. Sebab itu
kalau hasil temuan ilmiah terbaru menyimpulkan bahwa manusia menggunakan kekuatan
pikiran sadarnya hanya berkisar 12%, berarti prosentase tersebut dimaksudkan sebagai
penggunaan fungsi otak. Sementara yang 88% merupakan kekuatan pikiran bawah sadar
yang secara umum hanya muncul dalam bentuk perasaan, dan itu mempunyai keterkaitan
dengan masalah jantung (hati). Inilah yang oleh Arbi Sentanu

dipahami bahwa

jantunglah yang sesungguhnya menuntun otak untuk menyembah Tuhan. Dengan kata
lain, pikiran bawah sadarlah yang dimaksud ketika kita mengatakan seseorang
menggunakan hati-nya.

4 Arbi Sentanu.hal: 108-109

Elan vital otak dan jantung sebagai organ terpenting tubuh manusia, pada
kenyataannya seringkali dipandang biasa-biasa saja. Banyak orang dalam meraih
kesehatan tubuh tidak memperhatikan dahsyatnya kesatuan pikiran sadar yang
dimobilisasi oleh organ otak dan pikiran bawah sadar yang dimobilisasi oleh organ
jantung (hati). Sungguh sangat berbahaya apabila kita mengabaikan peran otak dan
jantung dalam menjalani hidup. Termasuk enggan untuk mempelajari kinerja kedua organ
tubuh yang sangat besar peranannya bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Misalnya,
mengabaikan pola makan, pola berpikir dan bertindak, serta pola hidup sehat yang
bersifat menyeluruh lainnya.
Sebab itu, hal yang perlu dikoreksi total terkait masalah kesehatan adalah apabila
praktik hidup yang kita jalani mengabaikan peran otak dan jantung dan hak-hak tubuh
yang lain secara menyeluruh. Apalagi sakit yang dialami sudah mempunyai keterkaitan
dengan kesehatan jiwa dengan berbagai pernak-pernik yang menyertainya. Koreksi
tersebut, karena tidak sedikit ketika seseorang mengalami goncangan pikiran (otak) dan
hati (jantung), cara pemenuhannya dengan menenggak minuman keras. Atau ketika
mengalami stress yang berkepanjangan, misalnya, cara penyelesaiannya dengan
mengkonsumsi pil penenang sebagaimana banyak digunakan para aktor/aktris terkenal
dunia. Cara tersebut jelas akan menambah rusaknya jaringan sistem tubuh, terutama otak
dan jantung. Pun, akan mengalami disorientasi dalam hidupnya karena yang dilakukan
sudah jelas terbukti tidak tepat dan benar.
Beruntung belakangan banyak komunitas masayarakat kita sudah memiliki
kesadaran yang cukup menggembirakan terhadap pentingnya menjaga kesehatan tubuh,
termasuk bagaimana cara pemenuhannya. Misalnya, gerakan pentingnya senam jantung,
hipnoterapy, meditasi hening, senam yoga, dan semacamnya, yang dari waktu ke waktu
semakin banyak peminatnya. Semua itu sebenarnya arahnya tidak hanya menuju sehat
jasmani, tetapi juga sampai pada titik kesadaran jiwa; sampai pada pengenalan hakikat
dirinya, kemana tujuan hidupnya, apa yang harus dilakukan, bagaiman cara
mewujudkannya, bagaimana cara menjalaninya, dan seterusnya.
Begitu juga gerakan untuk kembali ke alam, tidak sedikit mendapat apresiasi
tinggi di masyarakat kita. Soal makanan, misalnya, sudah banyak orang menganut pola
makan vegetarian. Ramuan tradisional yang 100% belum terkontaminasi zat-zat kimia
semakin banyak peminatnya, meskipun efek pada kesehatan tubuh membutuhkan rentang
waktu lama dan harus dijalani secara konstan. Langkah ini tidak lebih karena semakin
susahnya mengkontrol bahan-bahan pada sebagian jenis makanan siap saji, snack, dan
berbagai minuman dan jamu-jamuan yang banyak beredar di pasaran, dimana bahan-

bahan penunjang cita rasanya tidak sedikit yang mengandung zat-zat kimiawi yang dapat
menyerang dan merusak sel-sel syaraf otak, jantung, liver, pankreas, dan organ tubuh
lainnya.
Pentingnya meraih hidup sehat dan menjaga kesehatan, selain sudah menjadi
sesuatu yang sudah given pada setiap keinginan manusia, juga karena kesehatan pada diri
seseorang memantulkan kondisi dan suasana jiwanya. Ketika jiwa (hati, jantung,
mudlghah) sehat dan baik, maka akan berkultivasi dan berefek pada kesehatan tubuh.
Adanya pola hubungan antara jiwa dan tubuh/fisik perihal kesehatan seseorang,
sebenarnya bukan hal baru dalam dunia kesehatan (kedokteran). Dalam bidang psikologi
pun juga demikian, bahwa ada simbiosis mutualistik kondisi tubuh seseorang dengan
keadaan jiwanya. Sebab itu, dalam batas-batas tertentu, wilayah kajian psikologi dapat
masuk pada wilayah kesehatan (kedokteran; medis). Demikian pula sebaliknya, wilayah
kesehatan dapat masuk kajian psikologi.
Hal menarik adanya titik temu antara kesehatan fisik dan kesehatan jiwa, dalam
Tradisi Timur, terutama Jepang, Tibet, dan China, dikembangkan suatu model menuju
kesehatan sejati (fisik, jiwa, dan ruhani) dengan olah sistem kesadaran eksistensi diri
melalui model meditasi. Tradisi ini sudah ribuan tahun usianya, terutama Tibet dan China.
Hanya saja bagi masyarakat kita masih belum begitu populer dan diterima sepenuh hati,
atau boleh jadi sudah enggan mengambil segi kemanfaatan meditasi a la Tradisi Timur
tersebut.
Dalam Islam, meditasi sebenarnya juga ada, yaitu dalam praktik shalat. Bahkan,
jauh sebelum Nabi saw. mengemban risalah kerasulannya dan perintah untuk mendirikan
shalat lima waktu sebagaiman yang kita jalani setiap hari, beliau juga intens melakukan
meditasi di gua Hira. Setelah itu (sejak diutus menjadi Rasul), beliau tidak pernah lagi
meditasi di gua Hira, tetapi (atas perintah Allah setelah beliau berisra miraj)
ditransformasikannya ke dalam praktik ibadah shalat. Bahkan tidak hanya prakti shalat,
meditasi yang lain juga diperkenalkan dengan cara beritikaf.
Mengenai meditasi sendiri, dapat dipahami sebagai usaha menciptakan suasana hening
(khusyu, thumaninah) dalam jiwa dan pikiran, sementara tubuh mengikuti irama
keheningan itu dengan rileks secara optimal. Dari segi praktik, secara umum meditasi
dilakukan dengan cara duduk bersila, punggung tegap secara vertikal, kepala lurus
menghadap kedepan, memejamkan mata secara ringan/ rileks, dan fokus pada satu titik
konsentrasi atau fokus pada satu obyek visualisasi. Ada juga dengan cara bersamaan,
konsentrasi dan visualisasi sekaligus.

Dalam praktek meditasi konsentrasi maupun visualisasi, kunci utama adalah pada
pengelolaan gelombang otak (brainwave). Sebagaiman diketahui, ada empat gelombang
otak pada manusia, yaitu;
(1) Gelombang Otak Betha, dimana frekwensi pikiran/ otak berada pada kisaran
14-40 Hz (herzt)/ Cps (cycle per scond; getaran per detik). Pada gelombang ini muncul
ketika kondisi pikiran berada dalam posisi aktif dan waspada. Kita menggunakan betha
untuk berpikir, berinteraksi, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
(2) Gelombang Otak Alpha, berada pada kisaran 8-12 Hz (herzt)/ Cps (cycle per
scond; getaran per detik). Pada kondisi ini pikiran dapat melihat gambaran mental secara
sangat jelas dan dapat merasakan sensasi inderawi dan apa yang terjadi atau dilihat dalam
pikiran. Juga, pikiran terfokus/ terkonsentrasi pada satu tujuan atau sasaran saja dengan
disertai sikap yang sangat santai atau rileks (tidur ayam). Pada gelombang alpha inilah
sesungguhnnya pintu masuk menuju alam bawah sadar. Termasuk pintu menuju keadaan
batin atau spiritual yang terdalam yang akan kita capai.
(3) Gelombang Otak Tetha, berada pada kisaran 3,5-7 Hz (herzt)/ Cps (cycle per
scond; getaran per detik). Pada kondisi theta ini, kondisi pikiran dalam suasana relaksasi
yang sangat ekstrim karena kondisi tersebut dihasilkan oleh pikiran bawah sadar.
Berbagai isnpirasi kreatif muncul pada gelombang tetha ini. Bahkan, pada gelombang
inilah (pikiran bawah sadar) yang menyertai proses penggapaian khusyu. Semua
pengalaman spiritualitas yang selama ini dicari melalui shalat, haji, zakat, umrah, dan
kebajikan-kebajikan yang lain, dapat dirasakan pada gelombang ini. Pada fase ini, otak
mengurangi masukan dari sistem syaraf yang lebih rendah sehingga dapat menanggulangi
stress yang umum terjadi saat terlalu banyak tekanan ke dalam tubuh. Pada
kelanjutannya, akan menghasilkan sisi kehidupan yang lebih baik. Jiwa-jiwa positif dan
murni (ikhlas) yang ada pada diri kita dapat dibangkitkan, seperti, jiwa; bersahabat,
dermawan, murah senyum, santun, baik sangka, sabar, tawakkal, dan sifat/karakter/jiwa
positif lainnya..
(4) Gelombang Otak Delta, berada pada kisaran 0,5-4 Hz (herzt). Cps (cycle per
scond; getaran per detik). Pada gelombang ini adalah situasi dimana seseorang telah jatuh
tertidur lelap, nyenyak, dan tidak bermimpi sama sekali sehingga gelombang otak yang
dihasilkannya dapat memulihkan kondisi fisik. Pada frekwensi ini pula pikiran
mengalami nirsadar (unconsciaus mind). Pun juga dialami oleh orang yang pingsan atau
koma, kondisi semadi (tenang, hening) pada pelaku meditasi. Pada orang tertentu yang
sudah mahir mengelola gelombang otak, apabila keadaan delta dapat muncul bersama
dengan gelombang lainnya, dalam keadaan tersebut delta bertindak sebagai radar yang

mendasari kerja intuisi, empati, dan tindakan yang bersifat insting. Delta juga
memberikan kebijakan dengan level kesadaran psikis yang sangat mendalam.
Dari pengelompokan gelombang otak dan kemunculan-kemunculan yang
dihasilkan dengan berbagai dampaknya, sudah sangat jelas bahwa meditasi sangat
bermanfaat tidak hanya bagi kesehatan tubuh, tetapi juga kesehatan jiwa/ hati, atau
mental. Bahkan kalau sudah terlatih dengan meditasi gelombang otak, akan terasa gelisah
kalau kita menjalankan shalat tetapi keseluruhan sistem struktur diri kita tidak terpadu
antara gelombang otak, sikap tubuh, kekhusyuan hati, dan kemurnian ruhani (ikhlas).
Secara umum, meditasi dimulai dengan mengosongkan pikiran-pikiran pada halhal yang menarik, mengingat suasana atau peristiwa suka cita yang pernah dialami,
mengontrol ketakutan, kecemasan, depresi, kemarahan, kepahitan, dan emosi-emosi
negatif lainnya. Pada tahap berikutnya, dikembangkan emosi-emosi positif dan menatap
masa depan dengan penuh harapan dan menantikan suatu hidup yang lebih baik.
Meditasi dapat mengembalikan suatu kehidupan yang baik, dimana ruh kita
bekerja di alam ruh, jiwa bekerja di alam jiwa/ dunia psikis, dan tubuh di dunia fisik atau
jasmani. Dengan bermeditasi, pikiran, kemauan dan perasaan ditempatkan di bawah
kendali atau pengaruh ruh sehingga jiwa menjadi tenang, sehat, dan kuat serta berperan
secara optimal untuk kesehatan tubuh. Begitu kepurusan diambil, maka fokus dan
konsentrasi beralih dari msalah ke jalan keluar (solusi) sehingga stress psikis secara
otomatis akan terus berkurang dan terkendali.
Ada beberapa manfaat dalam meditasi; (1) membuat fungsi tubuh menjadi lebih
baik dan stabil (hormonal, imunitas, keseimbangan ion-ion dan elektrolit), (2) membuat
tubuh sehat dan berada dalam keseimbangan yang optimal (3) dapat memperkuat sistem
penyembuhan tubuh, (4) membuat hubungan sinergis antara ruh (hati nurani), jiwa
(psikis, ikran, mental, perasaan, sifat, watak, emosi-emosi) dan tubuh (fisik, jasad) secara
baik dan seimbang.
Karena ruh terus diberikan makanan ruhani, maka tindakan meditasi harus terus
dilakukan secara rutin dan berkesinambungan, sehingga ruhnya semakin dominan dan
akibatnya jiwa akan bertambah kuat serta terus diperbarui setiap hari. Jiwa yang sehat
akan selalu berselaras dengan ruh yang memerintahnya, serta patuh kepada ruh tersebut
dengan sendirinya tubuh akan dikuasi pula.
Pentingnya memahami meditasi dalam Tradisi Timur tersebut, sama halnya
pentingnya kita memahami keseluruhan faktor penggerak struktur jati diri kita, yaitu; ruh
sebagai penyelenggara yang berkehendak pertama dan utama, jiwa (hati, jantung, psikis)
sebagai pengapresiasi kehendak ruh. Sedangkan tubuh sebagai representasi sistem

kesadaran, bawah sadar, dan kesadaran bawah sadar, yang berpusat pada otak kita yang
secara otomatis mengikuti perintah hati/jiwa dan ruh.
B. Pandangan Islam tentang hidup sehat
Kebutuhan untuk hidup sehat merupakan kebutuhan universal umat manusia.
Satu sisi karena dalam diri manusia sebagai makhluk biologis yang memerlukan makan,
minum, tidur atau istirahat, dan sebagainya, dan di sisi lain karena sehat (tubuh) termasuk
bagian dari eksistensi diri manusia untuk dapat beraktualisasi. Sungguh akan sulit
terlaksana bilamana manusia berkeinginan untuk melaksanakan pekerjaan hariannya
sementara pada saat yang sama mengalami kondisi sakit. Belajar, misalnya, akan
mengalami gangguan manakala pada saat yang sama anggota tubuh mengalami gangguan
kesehatan, apakah pusing, demam, atau sakit yang lain.
Dalam Islam, baik yang terapresiasi melalui al-Quran maupun Hadits Nabi saw.,
tidak sedikit ajaran-ajarannya berkenaan dengan anjuran hidup sehat, baik sehat secara
jasmani, jiwa/mental, maupun sehat secara ruhani/spiritual. Bahkan tidak luput pula
anjuran untuk menciptakan lingkungan yang sehat.
1. Sehat Jasmani
Banyak sekali ayat-ayat al-Quran memberikan informasi perihal bagaiman
memenuhi kebutuhan jasmani agar menjadi sehat, mulai dari proporsi makanan yang
harus dikonsumsinya, jenis makanan apa saja dan yang bagaimana, sampai pada detail
praktisnya, sebagaimana yang dijalankan Nabi saw. Tentang proporsi makanan, misalnya,
Allah menjelaskan dalam al-Quran sebagai berikut;

Hai anak Adam, pakailah pakaian yang indah di setiap (memasuki)


masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.

sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihlebihan (QS. Al-Aarf: 31)
Penting sekali dipahami, pesan Allah sebagaimana di atas ringkas, tetapi
cakupannya sangat luas. Di dalamnya telah teringkas kaidah-kaidah kesehatan (
makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan..) mengapa Allah menyerukan
makanan dan minuman yang kita konsumsi harus proporsional atau tidak berlebihan?.
Dilihat dari struktur fisiologis manusia, terutama lambung sebagai tempat makanan, jika
mengkonsumsi makanan berlebihan, maka proses kerja lambung akan bertambah atau
meningkat sehingga akan terasa sangat berat atau bahkan tidak sanggup untuk melakukan
pencernaan. Akhirnya, perutpun mengembang karena makanan-makanan itu. Jika perut
sudah penuh dengan makanan, minuman, dan unsur-unsur gas sebagai dampak dari
peragian akan menimbulkan tekanan dahsyat pada hati. Hati terletak di atas lambung dan
hanya dibatasi selaput dinding. Tekanan pada hati tersebut dapat mendesak paru-paru
sehingga berakibat sulit bernafas.
Proporsi makanan yang seimbang (tidak berlebihan dan tidak terlalu kenyang),
dikarenakan lambung juga memerlukan kadar air dan oksigen. Dalam sabda Nabi Saw
dijelaskan:
Tidak ada bejana yang diisi manusia lebih buruk dari perutnya.
Cukuplah bagi anak Adam mengisi beberapa suap, suapan yang dapat
menegakkan tulang belakangnya (untuk menunaikan kewajibannya).
Kalau ia harus mengisi perutnya maka sepertiga untuk ruang
makannya, sepertiga untuk ruang minumnya, dan sepertiga untuk
ruang napasnya (HR. Turmudzi).
Hadits di atas adalah contoh praktis yang diajarkan oleh Nabi saw. untuk menjaga
kesehatan yang berhubungan dengan kadar makanan yang harus dikonsumsi. Lebih dari
itu, banyak juga contoh-contoh yang beliau ajarkan dalam konteks menjaga kesehatan.
Seperti perintah Nabi saw. untuk menutup hidangan, mencuci tangan sebelum makan,
bersikat gigi, larangan bernafas sambil minum, tidak kencing atau buang air di tempat
yang tidak mengalir atau di bawah pohon, dan sebagainya.
Sementara soal jenis makanan atau buah-buahan, minuman, dan segala sesuatu
yang mengandung gizi tinggi dan menyehatkan bagi tubuh, juga banyak dijelaskan, baik
di dalam al-Quran maupun Hadits Nabi saw. Soal makanan dan minuman, misalnya, hal

10

paling utama adalah jenis makanan apapun yang dihalalkan oleh Allah. Ini berarti segala
makanan dan minuman yang diharamkan tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi,
sebagaiman dijelaskan dalam al-Quran:
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baikbaik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika
benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. Sesungguhnya Allah hanya
mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang
yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi
barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak
menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada
dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang (QS. Al-Baqarah [2]: 172-173). 5
Jadi jelaslah bahwasannya sejak awal Islam sudah penuh perhatian terhadap
kebutuhan biologis manusia untuk mendapatkan kesehatan tubuhnya. Karena itu menjaga
kondisi dan stamina tubuh merupakan kewajiban, termasuk kewajiban memakan
makanan yang dihalalkan oleh Allah. Termasuk juga meminum minumam yang
diperbolehkan. Hal ini karena ada juga minuman yang diharamkan, seperti khamr
(alkohol) dan segala macam jenisnya. Karena jenis minuman tersebut dalam kadar
tertentu dapat menghilangkan akal pikiran dan akal sehat manusia, sementara Islam
sendiri sangat menaruh hormat terhadap fungsinya akal pikiran tersebut.
Dapatlah dikatakan, bahwa dalam pandangan Islam tubuh/ jasmani mempunyai
hak-hak yang harus dipenuhi untuk menjadi sehat. Mengenai hak tubuh tersebut sampaisampai Nabi saw. pernah suatu ketika menegur beberapa sahabatnya yang bermaksud
melampaui batas beribadah, sehingga kebutuhan jasmaniahnya terabaikan dan
kesehatannya terganggu. Sabda beliau; Sesungguhnya badanmu mempunyai hak atas
dirimu (HR. Bukhari).
Tidak sedikit Hadits Nabi saw. ihwal perhatian tentang kesehatan tubuh.
Misalnya juga sabda beliu;
Ingatlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara; sehatmu
sebelum sakitmu, mudamu sebelum tua, kayamu sebelum miskin, waktu

5 Keterangan yang sama juga ada dalam QS. Al-Anam ayat 145; QS.
An-Nahl ayat 115, dan QS. Al-Maidah ayat 3. Khusus larangan makan
bangkai, dalam Islam yang diperbolehkan adalah memakan bangkai
(jenis) ikan dan (jenis) belalang.

11

senggangmu sebelum sibuk, dan hidupmu sebelum mati (HR. al-Hakim


dan Baihaki).
Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terperdaya, yakni
nikmat sehat dan waktu senggang (HR. Bukhari)
Mohonlah kepada Allah Kesehatan. Sesungguhnya karunia yang lebih
baik sesudah keimaman adalah kesehatan (HR. Ibnu Majah)
2. Sehat jiwa/ hati
Diri manusia terdiri dari beberapa strukur. Ada struktur tubuh/ fisik, jiwa/ hati,
dan ada juga struktur nonmateri yang bersifat ilahiyah, yaitu ruh. Dalam konteks
pandangan Islam tentang pentingnya hidup sehat, maka dengan sendirinya yang
dimaksud bukan sebatas sehat fisik/ tubuh/ jasmani semata, tetapi juga sehat secara jiwa/
hati. Dari pemahaman tersebut, maka perhatian terhadap masalah kesehatan jiwa/ hati
juga sangat penting. Lebih-lebih dalam ajaran Islam sendiri masalah tersebut banyak
diterangkan, baik melalui kitab suci asl-Quran maupun Hadits Nabi saw dan praktik
hidup beliau. Mengenai kesehatan jiwa, salah satunya dijelaskan dalam al-Quran surat
al-Syams ayat 7-10, yaitu sebagai berikut;
AYAT
Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah
mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan
sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Menarik untuk dicermati dari ayat di atas, adalah bahwa Allah sudah
memperangkati (mengilhamkan) jiwa (nafs, dan dalam bentuk tunggal) manusia dengan
dua kecenderungan sekaligus. Satu sisi kecenderungan pada hal-hal negatif (fasiq; energi
negatif), dan di sisi lain kecenderungan pada hal-hal positif (taqwa; energi positif). Tidak
kalah menariknya lagi, ayat-ayat sebelumnya (ayat 1-6) didahului dengan sumpah Allah
kepada; (1) matahari dan cahaya di pagi hari, (2) bulan, (3) waktu (siang), (4) waktu
(malam), (5) langit, dan (6) bumi.
Kalau diperhatikan obyek-obyek atau sasaran-sasaran sumpah Allah tersebut,
sudah pasti tidak akan pernah bisa dilepaskan dengan eksistensi manusia dengan segala
apapun. Dan ujung dari sekian banyak sumpah Allah itu ternyata terkait dengan

12

manajemen jiwa/hati; apakah ia dipola sebagai energi positif (taqwa) atau energi negatif
(fasiq). Tetapi yang jelas, kalau jiwa itu dikotori, pasti akan mengalami goncangan,
bahkan merusak jiwa itu sendiri. Wujud mengotori jiwa terpotret pada sikap dan prilaku
yang tidak terpuji, tidak dibenarkan oleh ajaran Islam, baik dalam konteks hubungan
kepada Allah maupun kepada sesama dan semesta.
Dampak berantai ketika jiwa terkotori dengan hal-hal negatif, dapat
menyebabkan ketidakstabilan mental dengan berbagai ragam wujudnya. Misalnya;
kecemasan, gelisah, hidup terasa tertekan (stress), bahkan juga terasa berat untuk
membangun harmoni dengan kehidupan sesama. Kalau sudah pada titik tersebut, organ
tubuh dapat terganggu atau terserang penyakit. Tidak sulit mengambil contoh tentang hal
ini. Pelaku korupsi (koruptor), misalnya, sekalipun sebelumnya sehat-sehat saja,
berhubung dia melakukan tindakan-tindakan negatif yang sudah jelas tidak dibenarkan,
sistem kesadarannya pasti berfrekwensi pada titik jiwanya. Hatinya bisa menjadi gundah
dan terus dihantui kecemasan kalau sewaktu-waktu prilaku negatifnya tersebut diketahui
orang lain. Apalagi yang sudah tertangkap dan benar-benar terbukti melakukan korupsi,
reaksi fisiologis langsung cepat meresponsnya, sehingga tidak heran ketika sebelumnya
sehat akhirnya menjadi sakit-sakitan.
Lain halnya dengan yang membiarkan jiwa negatif (fujur), bagi yang
mengindahkan jiwa positif (taqwa), tentu hasilnya yag dicapai jauh lebih besar. Ibarat
melipatgandakan energi positif, maka vibrasi energi positifnya pun tentu merasuk dalam
hatinya yang itu berwujud pada; ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan. Itu semua
didapat karena ingat Allah yang ditampilkan dalam semangat mengembangkan potensi
fitrahnya untuk selalu berbuat baik, benar, dan hal-hal positif lainnya (akhlak terpuji).
Sebab itu tidak ada kamus dalam ajaran Islam kalau seseorang berbuat baik berefek pada
kegelisahan, kecemasan dan goncangan batin. Justru dengan kebaikan itu jiwa/ hati
menjadi tenang, bahagia, bahkan tubuhpun dapat menjadi sehat, fresh, bugar. Itulah
kesehatan jiwa yang mesti harus dipenuhi.
Menciptakan kesehatan jiwa/hati bukanlah perkara mudah. Ia butuh proses yang
panjang dan istiqamah karena pada diri manusia dua sisi energi positif (taqwa) dan energi
negatif (fujur) selalu berdampingan dan selalu mempunyai potensi dan peluang yang
sama untuk saling mengalahkan. Ini menunjukkan bahwa sekalipun manusia sebagai
sebaik-baik ciptaan Allah (ahsani taqwim), tetapi hal tersebut bukan berarti serba given
atau otomatis menjadi manusia baik. Hal menarik terkait dengan masalah ini adalah apa
yang dicontohkan Nabi saw. melalui doanya, yang bisa dikatakan sebagai permohonan
perlindungan dan pencegahan dini kemunculan penyakit jiwa/ hati, yaitu:

13

HADITS
Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari susah dan duka cita. Dan
aku berlindung kepadaMu dari rasa lemah, malas, penakut, bakhil,
dari kejaran hutang dan hidup dalam tekanan orang
Do Nabi saw. di atas, menunjukkan bahwa beliau sangat memahami betapa
kacaunya hidup ini bila dalam diri seseroang tertanam benih/penyakit hati semisal isi
dalam doa di atas. Kalau diperhatikan poin-poin penting dalam doa beliau tersebut,
adalah;
(1) Perasaan susah dan duka cita. Dua hal ini adalah permainan dunia emosi
manusia yang tidak stabil, yang tidak dapat mengambil penyelesaian dari masalahmasalah hidup yang dihadapinya. Tidak sedikit orang yang gagal mengatasi masalah ini
akhirnya diselesaikan dengan cara yang tidak benar. Misalnya; mengkonsumsi narkoba,
minum-minuman keras, bahkan sampai nekat bunuh diri.
(2) Rasa lemah dan malas. Ini dimaksudkan agar manusia tidak dihinggapi sifat
apatis dan gampang frustasi. Kelihatannya sepele, tapi justeru kedua sifat negatif tersebut
akan melahirkan petaka yang sangat besar, karena (a) tidak mengindahkan prosedur yang
tepat bagaimana berihtiyar, dan (b) sudah mengabaikan hidup bertawakkal kepada Allah.
Dari sifat lemah dan pemalas itu seringkali membawa khayalan-khayalan, yang pada
gilirannya membawa ketidakseimbangan jiwa dan sistem berpikir yang sebenarnya.
(3) sifat penakut dan bakhil/kikir. Sifat penakut akan berakibat pada pengecut dan
pada akhirnya tidak dapat berpikir realistik. Bila hal ini terus terpelihara, misalnya, maka
sikap-sikap jujur, integritas, dan profesionalitas akan jadi mudah terkikis sehingga akan
tercipta suatu sikap inferior. Secara berantai, ini akan menimbulkan budaya lembek (soft
culture), sehingga sesuatu yang dipandang bernilai dalam hidup (ketenangan dan
kesehatan jiwa, baik secara personal maupun komunal) tidak dapat diraih. Sementara
gangguan kejiwaan yang lain, adalah sifat bakhil. Orang yang terhinggap sifat bakhil tak
ubahnya menanamkan penyakit dalam jiwanya sendiri, karena orang tersebut telah
menahan atau mencegah harta miliknya secara penuh yang semestinya tidak
diperkenankan untuk ditahan atau dicegah. Akibatnya adalah sifat dermawan tidak
tumbuh dalam dirinya, seperti; enggan bersedekah, infaq, zakat, dan memberikan
santunan kepada orang lain.
(4) Kejaran hutang dan hidup dalam tekanan orang. Sudah pasti orang yang dililit
hutang suasana jiwanya lebih tertekan daripada yang tidak mempunyai hutang. Namun,

14

konteks hutang bukan berarti berurusan dengan masalah finansial semata, tetapi meliputi
segala apapun yang menjadikan seseorang mempunyai tanggungan/ kewajiban yang
harus dipenuhi. Ini juga berpengaruh terhadap kesehatan (dan suasana) jiwa, mulai tidak
tentram, merasa gelisah, merasa bersalah, rendah diri, dan sebagainya. Kemunculan
prilaku mencopet, mencuri, merampok, membunuh, bahkan menjadi buronan, tidak
sedikit yang bermula dari persoalan ini. Demikian halnya orang yang hidup dalam
tekanan orang lain, sudah tentu ia akan mengalami shock, nervous, bahkan trauma. Ini
dimaksudkan bukan berarti bahwa manusia tidak memerlukan disiplin dalam
pekerjaannya, tetapi yang dimaksud adalah tekanan-tekanan diluar batas prikemanusiaan
yang adil dan beradab.
Itulah gambaran dioa Nabi tentang pentingnya pencegahan dini kemunculan
penyakit jiwa/hati. Dan sudah tentu tidak hanya itu saja yang mesti dicegah, karena masih
banyak penyakit jiwa/hati lain yang dapat kita jumpai dari berbagai ayat al-Quran
maupun Hadits Nabi saw. Diantaranya, misalnya; namimah, hasud, ghibah, riya, marah,
dzalim, dan segala hal apapun yang merepresentasikan akhlak tidak terpuji.
Perhatian Islam tentang pentingnya kesehatan jiwa/ hati, menunjukkan bahwa
sikap atau praktek hidup yang sejalan dengan nilai ajaran Islam (yang ter-cover melalui
anjuran untuk berakhlak terpuji, baik kepada Allah maupun kepada sesama) adalah
kebutuhan dasar jiwa/hati manusia itu sendiri. Sebab itu, sebagaimana isyarat QS. AsSyams ayat 7-10 di atas, misalnya, Allah sudah memberikan perangkat dasar bagaimana
kita menjadi sehat jiwa. Dan itu tidak lain adalah dengan membersihkan jiwa/ hati dari
segala hal apapun yang mengotori atau menjadi penyebab munculnya penyakit jiwa/ hati.
Bahkan, usaha pembersihan diri dengan cara mengingat Allah, jiwa/ hati dijamin
mengalami ketenangan dan ketentraman. Ini sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Rad
ayat 28:
AYAT
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi
tenteram karena mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat
Allah hati akan menjadi tenteram
Ingat (dzikir) kepada Allah, berarti adanya keteguhan dan komitmen untuk
beribadah kepada-Nya. Tidak hanya dalam praktek ibadah khusus (mahdhah), seperti;
shalat, puasa, zakat, haji, tetapi meliputi segala aspek kehidupan (ghairu mahdhah).
Dengan demikian, bila kita memiliki komitmen untuk selalu ingat kepada Allah, berarti
kita berkomitmen berproses untuk menyehatkan jiwa. Pun sebaliknya, kalau kita ingin

15

sehat jiwa/ hati dan mental, maka terapinya adalah dengan ingat kepada Allah yang
diwujudkan dalam berbagai bentuk kebaikan (akhlak terpuji), baik dalam hubungannya
kepada Allah maupun kepada sesama.
Selain itu, hal yang perlu diperhatikan terkait dengan kesehatan jiwa, adalah pola
perasaan. Perasaan positif (positive feeling), misalnya, adalah model pengembangan
potensi diri yang sangat spektakuler hasilnya bagi kesehatan jiwa. Ini berlawanan dengan
konsep pikiran positif (positive thinking), karena dalam pikiran positif, pelibatan pikiran
bawah sadar seringkali tidak disertakan atau setidaknya sangat sedikit. Cukup berasalan,
sebab pikiran sadar terbukti hanya kisaran 12% sementara bawah sadar (perasaan) 88%.
Jadi, dengan kekuatan positive feeling, menunjukkan pelibatan suasan hati yang sangat
mendalam yang dari sinilah akan muncul emosi-emosi positif yang menyehatkan jiwa,
bahkan dapat berdampak menentramkan.
Hal menarik terkait perasaan positif, adalah respons Nabi Saw. ketika
menggendong seorang balita dari anak salah seorang sahabat. Saat digendong si balita
tersebut pipis membasahi pakaian Nabi. Seketika ibunya merenggut bayi tersebut dengan
kasar. Namun Nabi menegurnya dengan bersabda:
jangan hentikan pipisnya, jangan renggut dia dengan kasar. Pakaian
ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi apa yang dapat menjernihkan
hati sang anak (yang engkau renggut dengan kasar)?
Inilah gambaran bahwa perasaan positif mempunyai pengaruh sangat besar
terhadap jiwa seseorang. Andaikata Nabi marah atau setidaknya kurang berkenan dengan
peristiwa tersebut, misalnya, tentu dampaknya kompleks. Satu sisi si balita terkena link
suplay energi negatif dan itu sudah pasti langsung terekam dalam alam bawah sadarnya
untuk terus menyertai perjalanan hidupnya, dan di sisi lain menjadikan sang ibu tidak
enak hati kepada Nabi di kemudian hari dan boleh jadi anaknya ikut dimarahi juga.
Dari gambaran di atas, sangatlah jelas bahwa perasaan positif memiliki
kontribusi yang sangat besar bagi kesehatan jiwa/ hati. Itulah sebabnya di masyarakat kita
sudah mulai ada gairah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kejiwaan dengan cara,
misalnya; hipnoterapy, meditasi hening, meditasi layar mental, meditasi gelombang otak,
meditasi titik jiwa, dan sebagainya. Ini semua dimaksudkan untuk melibatkan rasa dalam
hidup agar persoalan-persoalan yang mengganggu kesehatan jiwa atau ketenangan hati
dapat terselesaikan dengan penuh damai.
3. Sehat Ruhani/ Spiritual
Perhatian Islam tentang kesehatan, tidak hanya berhenti pada pentingnya hidup sehat
secara jasmani dan jiwa sebagaimana dijelaskan di muka. Lebih dari itu adalah

16

pentingnya meraih kesehatan ruhani. Bahkan, kesehatan ruhanilah yang sesungguhnya


paling penting dan utama untuk diraih. Pandangan ini karena manusia tidak hanya
sebagai makhluk biologis dan sosial semata, tetapi juga sebagai makhluk ruhani/ spiritual.
Sehat ruhani adalah adanya jalinan yang murni seorang hamba dengan Allah, tanpa
sedikitpun terinfeksi oleh keterikatan hati dan sifat-sifat negatif dalam diri.
Sepanjang sejarah kehidupan manusia, studi tentang kebutuhan ruhani selalu menarik
perhatian. Satu sisi karena setiap manusia memiliki fitrah bertuhan, dan di sisi lain
karena sistem evolusi spiritual, terutama dalam teori fisika kuantum, sudah membuktikan
bahwa sumber penciptaan alam semesta adalah berasal dari yang nonmateri. Bagi umat
Islam, yang terakhir ini tidak begitu asing, karena secara dogmatis sudah mengimani
bahwa Sang Maha Pencipta alam semesta adalah Allah swt. Pemenuhan kebutuhan
ruhani, dengan demikian selalu menjadi kerinduan bagi setiap manusia, karena ia diyakini
sebagai pusat kesadaran tertinggi yang dapat menghubungkan dengan Sang Pencipta.
Oleh sebab itu, satu-satunya cara untuk mendapatkan kesehatan ruhani, adalah
dengan cara memurnikan diri, yang dalam bahasa agama dinamai dengan ikhlas. Bahkan,
ikhlas-lah yang menjadi tolok ukur diterima tidaknya amal perbuatan manusia oleh Allah.
Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa ikhlas berkolerasi dengan kesehatan ruhani,
bahkan vibrasi energinya dapat menyehatkan jiwa/ hati dan jasmani? Ada dua alasan
terkait hal tersebut;
Pertama, manusia terdiri dari dua unsur, yaitu materi dan nonmateri. Unsur materi
berwujud seluruh organ tubuh, sedangkan unsur nonmateri berupa ruh. Pada tubuh
manusia terbentuk dari berbagai komponen dan unsur yang sanggup membawa dan
mempertahankan ruh dan jiwanya, yang kemudian menjadi suatu tubuh berpostur yang
memiliki wajah, dua tangan dan kaki, serta bisa beraktifitas. Sedangkan ruh merupakan
subtansi, yaitu yang berdiri sendiri, tidak terformulasi dari berbagai unsur materi
sehingga tidak mengalami kehancuran sebagaimana benda materi. Karena itu, kematian
bagi seseorang, misalnya, sesungguhnya kematian tubuh di mana yang hancur dan terurai
kembali ke aslinya adalah tubuh. Sedangkan ruh tidak akan hilang dan tetap eksis. Jadi,
hakikat manusia adalah ruhnya 6. Ruh yang menggerakkan segala aktifitas manusia

6 Terhadap masalah ruh, menarik memperhatikan drama kosmik tentang


penolakan iblis yang tidak mau mengikuti perintah Allah untuk sujud
penghormatan kepada Adam sebagaimana yang dilakukan para malaikat. Iblis
beralasan bahwa (tidak layak bersujud kepada Adam) karena dia (Adam)
terbuat dari unsur tanah. Sementara unsur tanah lebih baik daripada unsur
api sebagai unsur penciptaannya. Secara lengkap dijelaskan dalam QS. Shaad
[38]: 71-83, yang artinya demikian; (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman
kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya
ruh-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya. Lalu

17

dengan cara melakukan eksplorasi terhadap jasad sehingga dari struktur alamiah jasad
(materi) tersebut ruh berusaha mencari suatu bakat ketika ia sanggup menguasainya.
Proses alamiah inilah yang menjadikan jiwa/ hati memiliki dua sisi; positif dan negatif;
yin dan yang. Jadi, ruhlah penggerak utama (penyelenggara) segala aktifitas manusia,
bukan tubuh atau otak yang sebenarnya hanyalah berbentuk materi, sebagaimana hal ini
diyakini oleh fisika Newtonian (penganut Newton), kaum positivisme dan materialisme.
Jadi, ikhlas bersumber dari dimensi nonmateri diri kita, yaitu kehendak ruh, dan
karenanya ia selalu bersifat murni (tidak terinfeksi oleh segala apapun yang negatif, kotor,
dan jahat) dan berbanding lurus dengan fitrah manusia.
Kedua; karena ruh adalah penggerak utama segala aktifitas manusia, maka ketika ia
terus dirawat dengan cara memurnikannya (yaitu hidup berserah diri dengan selalu
memurnikannya [ikhlas] sejalan dengan fitrah manusia), dengan sendirinya menjadikan
seseorang sehat secara ruhani/ spiritual. Ibaratnya, ada sinyal sistem energi antara seorang
hamba dengan Allah yang terhubung (connect), karena channel dan link energi ilahi
diakses melalui pemurnian diri (ikhlas).

seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, kecuali iblis; dia


menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. Allah
berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah
Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri
ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?." Iblis
berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api,
sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." Allah berfirman: "Maka keluarlah
kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk.
Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan. Iblis
berkata: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan."
Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi
tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat)."
Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka
semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlashin (yang termurnikan).
Jadi, vonis Allah atas iblis sebagai penghuni neraka, bermula dari argumentasi
bahwa dalam diri Adam hanya berwujud materi (tanah) semata, dan tidak
lebih dari itu. Iblis merasa lebih baik daripada Adam karena memusatkan
dirinya dengan pandangan materialismenya (terkonsentrasi pada unsur
tanah). Padahal, Adam diperangkati oleh Allah berupa unsur nonmateri (ruh).
Ini menunjukkan bahwa iblis tidak mampu melihat ke dalam inti jiwa manusia
(Adam) tempat ruh disematkan oleh Allah, sehingga ia melihat Adam tidak
lebih dari tanah yang digunakan sebagai bahan dasar jasadnya. Karena sebab
itu, sehingga ia menolak bersujud penghormatan kepada Adam. Siapakah
iblis? Ia makhluk Allah yang berasal dari bangsa jin! (lihat, QS. Al-Kahfi [18]:
50.

18

Ketiga; Karena ikhlas merupakan syarat utama dan pertama diterimanya amal
perbuatan manusia, maka apabila ia (ikhlas) sudah kuat tertanam dalam jiwa/ hati kita
secara otomatis berdampak pada kesehatan jiwa/ hati kita, dan bahkan berpengaruh
signifikan terhadap kondisi tubuh. Terhadap kesehatan jiwa, misalnya, akan berdampak
munculnya dominasi sifat, mental, ataupun emosi-emosi positif (akhlak terpuji), karena
energi negatif (fujur) terdesak kuat dan mengalami penyempitan ruang gerak. Terhadap
kesehatan tubuh, pun juga berpengaruh signifikan. Sebab, dengan ikhlas, frekwensi
gelombang otak berada pada gelombang alfa-teta (lihat penjelasan sebelumnya). Pada
gelombang ini, maka respons tubuh menjadi rileks, tenang, tidak mudah cemas, khawatir,
kikir, sombong, dengki, dan sifat-sifat negatif lainnya, karena pada gelombang ini sudah
masuk pada sistem bawah sadar yang diperankan oleh perasaan/ hati. Pada wilayah inilah
maka dominasi positive feeling sangat sangat kuat dan memiliki vibrasi energi yang
dahsyat terhadap kestabilan emosi, ketenangan jiwa, kecerdasan emosional, dan
mendamaikan. Bahkan, pada level inilah dapat dirasakan sensasinya oleh anggota tubuh
yang pada gilirannya dapat menghasilkan sehat jasmani.
Dikarenakan Islam sebagai ajaran agama yang menuntut adanya kerja nyata (amal
shaleh), maka untuk mendapatkan kesehatan ruhani, pemurnian diri (ikhlas) harus
diarahkan sebagai manifestasi beribadah hanya semata karena Allah secara nyata pula. Ini
mengisyaratkan bahwa sehat ruhani bersimbiosis mutualistik (memiliki hubungan timbal
balik) dengan seberapa intens ketaatan kita kepada Allah. Dalam Islam, secara praksis
dan hasilnya spektakuler, pemenuhan kesehatan ruhani (salah satunya) dapat diakses
melalui praktek ibadah shalat. Bahkan lebih dari itu, shalat juga menghasilkan kesehatan
jiwa/ hati dan tubuh sekaligus.
Ada beberapa alasan mengapa shalat merupakan terapi terbaik bagi kesehatan ruhani,
jiwa, bahkan pada tubuh. Pertama; shalat (yang dalam kamus bahasa Arab asal maknanya
adalah doa), adalah media komunikasi paling intensif antara seorang hamba dengan
Allah. Dalam shalat, dimensi-dimensi materi, termasuk pusat kesadaran dan bawah sadar
kita yang sebelumnya pergi kemana-mana, memikirkan beragam keinginan, dialihkan
dengan fokus pada satu titik, yaitu penghambaan kepada Allah (dengan memaknai
bacaan-bacaan shalat). Dengan cara begitu (shalat dengan thumaninah dan khusyu)
maka mushalli

(orang yang shalat) mengaktualisasikan hakikat dirinya (ruh) untuk

kembali ke Sang Peniup ruh kita, Pencipta alam semesta, Allah swt. Pada maqam inilah
maka kita mengalami puncak mengingat Allah, pun Allah akan selalu ingat kita. Ini
sebagaimana diisyaratkan dalam al-QS. Thaha ayat 14, yang artinya: Sungguh aku ini
adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat

19

untuk mengingat Aku. Dijelaskan juga dalam QS al-Baqarah ayat 45-46, yang artinya;
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu
sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang
meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali
kepada-Nya.
Kedua; praktek shalat menghasilkan gelombang otak turun sampai pada theta, yaitu
gelombang otak yang berada pada kisaran 3,5-7 Hz (herzt)/ Cps (cycle per scond; getaran
per detik). Pada kondisi theta ini, kondisi pikiran dalam suasana relaksasi yang sangat
ekstrim. Bahkan, untuk orang-orang tertentu (apalagi Nabi saw), bisa turun ke gelombang
otak delta (3,5 sampai ke bawah 0,00000000xxxxx1 dalam skala Hz). Oleh sebab itu,
shalat dapat menghasilkan kekuatan jiwa positif yang ada pada bawah sadar, yang pada
gilirannya akan menghasilkan prilaku yang positif pula. Inilah yang diisyaratkan dalam
QS. As-Syuura ayat 27, yang artinya; sesungguhnya shalat itu mencegah dari
perbuatan-perbuatan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat)
adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain), dan Allah mengetahui
apa yang kamu kerjakan.
Ketiga; dalam sistem energi, praktek shalat sebenarnya meliputi gabungan tiga
kekuatan meditasi, yaitu; (1). Meditasi Penurunan Gelombang Otak, yaitu merilekskan
anggota tubuh dan pada saat yang sama memusatkan kesadaran pada satu hal, yaitu
pelaksanaan shalat itu sendiri. Tidak mungkin gelombang otak turun sampai pada
frekwensi terbawah dan dalam skala sedalam-dalamnya manakala anggota tubuh tidak
tenang dan rileks secara ekstrim. Meditasi gelombang otak inilah yang diapresiasi dengan
cara fokus pada bacaan shalat dengan disertai respons fisik thumaninah. (2) Meditasi
Titik Jiwa, yaitu menghadirkan seluruh kekuatan jiwa-jiwa positif kita yang terpendam di
alam bawah sadar. Karena kita diperangkati fitrah dengan sifatnya yang hanief, yaitu
selalu condong untuk rindu dan melakukan kebaikan dan kebenaran, maka titik jiwa kita
dapat dirasakan dengan cara membaca bacaan shalat dengan penuh penghayatan. (2)
Meditasi Layar Mental, yaitu menfokuskan pada satu peristiwa dan kita seolah
mengalami hanyut di dalamnya. Dalam meditasi ini, mengakses peristiwa sudah tentu
yang dapat membangkitkan jiwa, membersihkannya, dan memurnikan diri kita. Ibaratnya,
meditasi layar mental adalah melipatgandakan jiwa-jiwa positif yang berhasil kita miliki.
Dalam shalat, ini diapresiasi melalui khusyu. 7
7 Pengalaman menarik penulis dapatkan melalui sharing dengan para
mahasiswa yang mengikuti Pelatihan Pengembangan Kepribadian dan
Kepemimpinan (P2KK) Universitas Muhammadiyah Malang, 2011, dalam
materi Keislaman. Para mahasiswa, penulis khususkan yang berasal dari
Banyuwangi yang terkenal dengan keilmuan nenek moyang, yaitu santet.

20

Jadi, kunci utama untuk mendapatkan paket sehat ruhani, adalah dengan cara
berusaha memurnikan diri secara terus menerus (ikhlas) dari segala apapun yang
mengotorinya. Sumber segala sumber kekotoran, negatif, dan jahat, dalam pandangan
Islam adalah iblis. Iblis adalah golongan jin (lihat QS. Al-Kahfi [28]: 50). Ia adalah
makhluk Maha Jahat yang memiliki beberapa kehebatan (dalam tanda kutip), yaitu; (1)
pernah tinggal di surga, (2) dapat berkomunikasi langsung kepada Allah tanpa perantara,
(3) berhasil membujuk dan menggelincirkan Adam a.s. untuk mendekat (dan memakan)
buah pohon khuldi, padahal Allah sudah berpesan untuk tidak mendekatinya (QS. alBaqarah ayat 35, dan QS. Thaha ayat 120). Karena peristiwa itu, Adam beserta istri
tercinta, Hawa, diusir Allah ke bumi (sekalipun pada akhirnya pertaubatannya diampuni
oleh Allah), dan (4) sekalipun divonis masuk neraka selamanya, iblis dikabulkan
permintaan dispensasinya oleh Allah untuk menggoda dan menyesatkan anak cucu Adam
(umat manusia) sampai datangnya kiamat. Kecuali bagi orang-orang yang termurnikan
(mukhlashin), iblis sudah tidak berdaya lagi menggoda dan menyesatkan manusia (QS.
Shaad [38]: 83).
Jadi, dapatlah disimpulkan bahwa sehat ruhani/ spiritual adalah manakala dalam diri
kita berhasil memurnikan diri (ikhlas) dalam setiap menjalankan berbagai bentuk ketaatan
kita kepada Allah. Tidak hanya dalam ibadah-ibadah yang bersifat khusus atau ritualseremonial, seperti; shalat, puasa, zakat, haji, maupun semacamnya, tetapi meliputi
Kesimpulannya adalah, tidak ada seorangpun dalam sejarah keilmuan santet
yang menjadi korban adalah orang yang dalam kesehariannya rajin shalat
dengan khusyu. Mengapa? Karena orang yang shalat khusyu (tentunya juga
dengan aktifitas sehari-hari yang dijalani dengan khusyu pula), secara
otomatis dapat menetralisir unsur bion-bion (percikan api) dalam tubuhnya.
Iblis, simbol energi negatif nonmateri yang berkultivasi tingkat tinggi, adalah
diciptakan dari api (bion-bion atau percikan api). Sementara santet,
bersumber dari energi negatif nonmateri dan sudah tentu link suplay
energinya berasal dari iblis. Ketika terlatih dalam khusyu, baik dalam praktik
shalat maupun aktifitas sehari-hari (menyatunya pikiran sadar, bawah sadar,
jiwa, dan ruhaninya), berarti seseorang memiliki kekuatan energi nonmateri
pula, yaitu energi nonmateri yang bersifat positif dan murni. Ini berarti, bila
seseorang terserang penyakit nonmedis, seperti kena ajian-ajian dukun, ilmu
klenik, termasuk juga santet, dan sebangsanya, misalnya, berarti ia terserang
energi nonmateri yang bersifat negatif. Terapi untuk menyembuhkannya, yang
paling utama adalah dilawan dengan kekuatan energi nonmateri pula, tetapi
energi positif yang dilipatgandakan menjadi energi pemurnian.
Pintu masuk energi negatif nonmateri, seperti halnya santet, adalah melalui
bawah sadar. Itulah sebabnya tidak ada orang yang terkena santet dalam
keadaan sadar, pasti dikala si korban dalam keadaan tidur (bawah sadar).
Dalam konteks ini, sungguh luar biasa ajaran Islam bahwa sebelum dan
sesudah tidur dianjurkan berdoa. Dengan berdoa sebelum dan sesudah tidur
(termasuk doa-doa lain yang menjadi harapan cita-cita hidup kita),
menunjukkan bahwa Allah dimohon untuk turut intervensi terhadap apa yang
kita pintakan, termasuk kesehatan raga, jiwa, dan ruhani, dari segala hal
energi negatif apapun.

21

praktek hidup secara umum atau yang termanifestasi melalui kesalehan-kesalehan sosial
(ghairu mahdhah)
C.

Prinsip-prinsip Islam dalam mewujudkan hidup sehat


Pada uraian sebelumnya, yaitu pandangan Islam tentang pentingnya hidup sehat,

dijelaskan bahwa kesehatan tidak hanya dipahami sebagai suatu keadaan tubuh yang
seluruh sistem organ-organ yang ada di dalamnya dapat bekerja sebagaimana fungsinya,
tetapi (sehat) juga termasuk ketika jiwa/ hati dikembangkan pada perbuatan positif
(akhlak terpuji). Selain itu, sehat di sini adalah manakala dimensi-dimensi ruhani manusia
dikembangkan dalam praktek hidup ikhlas (murni) hanya semata karena Allah. Sebab itu
dapatlah disimpulkan bahwa prinsip-prinsip Islam dalam mewujudkan hidup sehat,
adalah; (1). Mememnuhi hak-hak fisiologis secara tepat dan benar, (2). Membangkitkan
dan mengembangkan jiwa-jiwa positif (akhlak terpuji), dan (3) Mengembangkan fitrah
bertuhan dengan hidup penuh ikhlas.
Ketiga prinsip Islam dalam mewujudkan hidup sehat di atas, merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kesehatan fisik, misalnya, adalah kebutuhan dasar
manusia sebagai makhluk biologis. Tubuh akan mengalami sakit manakala sebagian
diantara organ-organnya tidak dapat bekerja sebagaimana fungsinya. Akibatnya,
produktifitas kerja menurun dan hasil/ prestasi yang dicapai pun tidak maksimal
sebagaimana dalam keadaan kondisi tubuh sehat. Penyakit dalam tubuh, bila dibiarkan
begitu saja, sama halnya tidak mengindahkan arti kesehatan itu sendiri.
Demikian halnya penyakit jiwa/ hati, bila terus bersemayam dalam diri kita, maka
akan berakibat fatal. Tidak hanya merusak eksistensi kita sebagai hamba Allah, tetapi
juga dapat juga mengacaukan kehidupan sekitarnya. Seribu orang yang membekali diri
dengan kedisiplinan dan kejujuran dalam suatu jalinan kerja sama usaha, misalnya, dapat
dihancurkan oleh satu orang yang mengembangkan sifat fitnah, hasud, korup, dan sifatsifat negatif lainnya. Dalam bahasa agama, sakit jiwa dinamai dengan qalb maridl;
qalbun maridlun (hati yang sakit).
Dari sakitnya jiwa/ hati, menunjukkan adanya sakit ruhani, atau dalam bahasa
yang populer disebut; mengalami krisis spiritual. Bila demikian, maka jalinan hubungan
kepada Allah sudah tidak murni lagi karena sudah terinfeksi dan tercampuri oleh sesuatu
yang negatif atau palsu. Ketidakmurnian hubungan dengan Allah, sudah tentu amal
ibadah menjadi sia-sia, karena syarat utama dan pertama diterima tidaknya amal ibadah
adalah dilihat dari kemurniannya (ikhlas). Jadi, dimensi tertinggi sehat ruhani adalah
ikhlas lillahi taala.

22

Yang menjadi persoalan adalah, bagaimana jika seseorang yang sudah berbekal
ikhlas, berbudi luhur (akhlak terpuji), dan hukum-hukum kesehatan fisik sudah dipenuhi
secara tepat, tetapi mengalami sakit (misalnya, stroke, kanker, diabetes, jantung, dan
penyakit fisik lainnya)? Terhadap masalah ini, maka orang yang sakit tersebut sedang
dipilih oleh Allah untuk dicintainya. Ini dapat dimaknai melalui sebuah hadits qudsi,
yang artinya demikian;
Sesungguhnya Allah azza wajalla berfirman pada hari kiamat:
Hai anak Adam, Aku sakit, kenapa kamu tidak datang mengunjungiKu? Anak Adam menjawab: Ya Tuhan, bagaimana aku akan
mengunjungi-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?
Allah berfirman: Tidakkah kamu tahu bahwa si fulan hamba-Ku
sakit, kenapa kamu tidak mengunjunginya? Tahukah kamu, jika kamu
mengunjunginya niscaya kamu akan menemui-Ku di sisinya.. (HR.
Muslim)
Jadi, setiap manusia tidak terbebas dari sakit. Bahkan, tidak sedikit dengan
pengalaman sakit yang dialami justeru menjadi kompas perubahan hidupnya. Sakit tak
ubahnya peluit untuk bangkit dalam menyemangati hidup yang jauh lebih baik daripada
sebelumnya. Itulah sebabnya, bagi orang baik, sakit justeru menjadi berkah spiritual
untuk semakin intens dekat dengan Allah. Apalagi bila sakit yang dialami sudah sampai
diambang pintu kematian, ia justeru semakin memurnikan diri sebagai investasi terakhir
pengabdiannya kepada-Nya. 8
D. Menjaga Keseimbangan Lingkungan Hidup untuk Mewujudkan Hidup Sehat
Memenuhi hak-hak fisiologis secara tepat dan benar, membangkitkan dan
mengembangkan jiwa-jiwa positif (akhlak terpuji), dan mengembangkan fitrah bertuhan
dengan hidup penuh ikhlas sebagai manifestasi hidup sehat menurut Islam, belumlah
dikatakan final apabila tanpa menyertakan sikap adil, baik, bijaksana, dan harmonis

8 Secara aura, bila seseorang dalam keadaaan sakit berat (dengan suatu
misal hasil diagnosis menunjukkan masa injury time atau peluang lebih
besar tidak terselamatkan nyawanya), terlihat warna putih, sebagai tanda
tingginya dimensi spiritualitas dalam dirinya. Mengapa? Karena sistem
kesadaran, alam bawah sadar, ruhani, dan karena juga fisiknya dalam
keadaan rileks yang super ekstrem, hanya memusat dalam satu tujuan, yaitu
selalu berusaha mendekat lebih intens kepada Sang Maha Penyembuh, Sang
Maha Pencipta, yaitu Allah. (inilah konteks makna hadits qudsi di atas, bahwa
Allah mengunjungi orang sakit). Tentunya, sekali lagi, dalam kondisi ini disertai
dengan kepasrahan yang tinggi, bahwa segala sesuatunya berasal dari Allah
dan akan kembali kepada-Nya. Bukan sakit yang diapresiasi dengan pikiran
dan jiwa/hati masih dongkol, dendam, benci, dan semacamnya.

23

dengan lingkungan hidup/ alam semesta. Hal ini karena selain manusia sebagai seorang
hamba yang harus mengabdikan dirinya untuk beribadah kepada Allah, juga karena ia
diproyeksikan sebagai khalifah fil ardl, yaitu sebagai wakil Allah untuk memakmurkan
kehidupan bumi dengan cara menjaga lingkungan hidup.
Terlebih lagi, di saat yang sama wacana global dalam rangka menciptakan
tatanan dunia yang lebih damai dan beradab, salah satu perhatiannya adalah dialamatkan
pada lingkungan hidup. Ini semua disebabkan karena seiring dengan kemajuan ilmu dan
teknologi untuk kepentingan peningkatan kesejahteraan hidup material manusia, pada
saat yang sama menyisakan keprihatinan yang sangat mendalam, yaitu rusaknya
lingkungan hidup. Pencemaran lingkungan, limbah industri, tanah lonsor, pemanasan
global (misalnya, penggundulan hutan tropis secara membabi buta sebagaimana terjadi di
bumi Nusantara, Kalimantan), adalah sebagian kecil contoh rusaknya lingkungan hidup
itu. Akibatnya, umat manusia sekarang (termasuk masyarakat kita) dihadapkan pada apa
yang disebut dengan alienasi ekologis, yaitu keterasingan diri untuk berhubungan secara
timbal balik dan harmonis dengan lingkungan hidup.
Dalam al-Quran, sinyalemen rusaknya ligkungan hidup itu dapat ditemukan
dalam Firman Allah Swt:
AYAT
Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan ulah tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat)
perbuatannya, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS. Ar-Rum
[30]: 41)
Dengan demikian, keseimbangan lingkungan hidup menjadi prasyarat utama
untuk menciptakan lingkungan hidup yang sehat. Namun, seiiring dengan kenyataan yang
ada, prestasi masayarakt kita tentang hal tersebut belum menggembirakan sepenuhnya,
terutama masalah interrelasi pola hidup sehat. Polusi udara, misalnya, adalah salah satu
contohnya. Bahkan, polusi udara kota di beberapa kota besar di Indonesia sudah sangat
memperihatinkan. Kalau kita sempatkan menengok ke langit saat udara cerah, sejak pagi
sampai sore hari, langit di kota-kota besar di negara kita sudah tidak biru lagi. Udara kota
sudah terlalu berlimpah dengan gas-gas yang berbahaya bagi kesehatan. Andil besar
masalah polusi udara kota adalah emisi kendaraan bermotor. Selama ini, banyak orang
menduga bahwa andil terbesar polusi udara kota berasal dari industri. Jarang disadari,
bahwa justru yang mempunyai andil sangat besar adalah gas dan partikel yang diemisikan

24

oleh kendaraan bermotor. Padahal kendaraan bermotor di negara kita dari waktu ke waktu
jumlahnya semakin bertambah pesat. Dari sebab polusi udara kota tersebut, hasil
penelitian menunjukan resiko terbesarnya adalah timbulnya penyakit kanker darah 9.
Oleh sebab itu, hal terpenting untuk meningkatkan derajat kesehatan lingkungan
hidup adalah pada prilaku. Bahkan pencegahan ataupun penanggulangan suatu penyakit
akan sulit berhasil bila tanpa memperhatikan prilaku. Secara umum masalah prilaku
sering dipahami sebagai pola hidup sehat. Salah satu pola hidup sehat yang sering terkait
dengan kesehatan tubuh dan dalam jangka waktu tertentu berantai pada kesehatan
jiwa/mental, adalah stress. Pada masyarakat kita, penyakit stress bukanlah hal yang sulit
dijumpai karena stress kini sudah banyak dialami masyarakat kita. Hal ini terutama akibat
beban ekonomi yang semakin berat, kehidupan keras yang menuntut persaingan ketat,
ketidakpuasaan terhadap sesuatu yang sudah dicapai, kesulitan dalam hubungan dengan
antar manusia, dan sebagainya.
Dalam batas tertentu, stress memang merupakan gejala normal dalam kehidupan
sehari-hari. Bila dapat diatasi dengan baik, tidak akan membahayakan bagi kesehatan.
Namun, stress yang berkepanjangan tentu sangat membahayakan karena akan
mempengaruhi denyut jantung dan tekanan darah meningkat. Pada kelanjutannya,
timbullah penyakit jantung koroner.

Secara umum, efek penyakit jantung koroner

sebagai akibat stress berkepanjangan itu akan mengganggu kejiwaan seseorang dan
tingkah lakunya, yang salah satu gejala kejiwaan yang muncul secara dominan adalah
ditandai dengan sikap cepat marah.10
Itulah sekilas contoh kecil, betapa faktor-faktor eksternal di luar diri kita turut
memberikan andil terhadap ketidakseimbangan lingkungan hidup. Padahal, permasalahan
kesehatan lingkungan di negara kita sangat kompleks. Misalnya, ancaman krisis air bersih
dan lemahnya sistem sanitasi, terutama di kota-kota besar, wabah penyakit endemik lokal,
pengelolaan sampah dan lokalisasi tempat pembuangan sampah yang belum teraktivasi
menjadi sistem energi seluruhnya, dan sebagainya. Itu semua akan berakibat pada
gangguan kesehatan fisik dan lingkungan hidup sekaligus. Inilah dampak nyata bila
interrelasi antar manusia tidak ada kesatuan prilaku atau pola hidup sehat dalam
kaitannya dengan ihtiyar menciptakan lingkungan hidup yang baik dan sehat.

9 Anies, Mewaspadai Penyakit Lingkungan (Berbagai Gangguan Kesehatan


Akibat Pengaruh Faktor Lingkungan), Jakarta, PT Elex Media Komputindo,
Jakarta, 2005: 22-23
10 Anies, Mewaspadai . hal: 82-83

25

Dengan demikian, rusaknya lingkungan hidup atau alam itu, manusialah yang
menjadi penyebabnya. Dan semua itu berawal dari kegagalan dalam menjaga dan atau
cara memanfaatkannya. Firman Allah Swt:
AYAT

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)


memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak
diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah
amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Araf [7]: 56)
Ungkapan dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah
memperbaikinya mengandung dua pengertian;
Pertama, larangan merusak bumi setelah adanya perbaikan, yaitu saat penciptaan
bumi oleh Allah sendiri. Pengertian ini mengisyaratkan agar manusia memelihara bumi,
yang sudah merupakan tempat yang baik bagi manusia.
Kedua, larangan membuat kerusakan di bumi setelah adanya perbaikan oleh
sesama manusia. Hal ini terkait dengan peran aktif manusia untuk menciptakan sesuatu
yang baru, baik, dan membawa kebaikan (maslahah). Tugas kedua ini, lebih berat
daripada tugas pertama, karena memerlukan pemahaman yang tepat tentang hukumhukum Allah yang menguasai alam ciptaan-Nya, berikutnya adalah penerapan ilmu
cara (teknologi) dengan melihat hukum-hukum itu, daya cipta untuk memanfaatkannya,
dan prinsip-prinsip keseimbangan.

11

Berkaitan dengan hal tersebut, maka pemanfaatan

potensi alam yang dianugerahkan Tuhan kepada umat manusia, haruslah berdampak pada
kebaikan (maslahah) daripada kerusakan (mafsadah).
Menjaga lingkungan hidup (alam) dan atau memanfaakannya, merupakan sesuatu
yang sangat prinsipil dalam ajaran Islam, terutama bila dikaitkan dengan tujuan
diciptakannya alam ini. Allah Swt. berfirman, Dan Kami tidak menciptakan langit dan
bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main (QS. Ad-Dukhan [44]
ayat 38). Kami tidak ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya
dengan sia-sia (tanpa tujuan) (QS. Shaad [38] ayat 27). Ayat lain juga menegaskan;
Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang berada di antara keduanya

11 Nurcholish Madjid, Kalam Kekhalifahan Manusia dan Reformasi Bumi; Suatu


Percobaan Pendekatan Sistematis terhadap Konsep Antropologis Islam, Pidato
Pengukuhan Guru Besar Luar Biasa dalam Bidang Ilmu Filsafat di IAIN (sekarang UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta, 10 Agustus 1998.

26

kecuali dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan (QS. Al-Ahqaaf
[46]: 3).
Dengan demikian, arti penting menjaga lingkungan hidup (alam) ataupun
memanfaatkannya dengan baik dan berakhir pada kebaikan (maslahah), sama halnya
sebagai bentuk apresiasi yang tinggi terhadap tujuan diciptakan alam itu sendiri. Karena
yang demikian itu, maka termasuk bagian dari menerapkan etika beragama dengan
berbasis pada kesalehan sosial. Sebagai bentuk apresiasi terhadap lingkungan hidup maka
umat manusia juga dituntut untuk memahami hukum-hukum keseimbangan alam.
Pemahaman, apresiasi, dan pemanfaatn potensi alam dan lingkungan hidup yang baik,
bijak, tepat dan benar, tidak hanya akan berpulang pada suatu pola hidup yang sinergis
dan harmonis antara manusia dan lingkungan hidupnya, tapi juga sebagai suatu cara
bagaimana manusia menemukan dan memaknai hakikat eksistensinya sebagai makhluk
makrokosmis. Inilah starting point menjaga keseimbangan lingkungan hidup untuk
mewujudkan hidup sehat dalam pengertian yang sebenarnya.

27