Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Gula darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat glukosa di dalam darah.
Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum, diatur dengan ketat di dalam tubuh.
Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber utama energi untuk sel-sel tubuh.
Glukosa diperlukan sebagai sumber energi terutama bagi sistem syaraf dan eritrosit. Glukose
juga dibutuhkan di dalam jaringan adipose sebagai sumber gliserida-glisero, dan mungkin
juga berperan dalam mempertahankan kadar senyawa antara pada siklus asam sitrat di dalam
banyak jaringan tubuh
Glukose sebagian besar diperoleh dari manusia, kemudian dibentuk dari berbagai senyawa
glukogenik yang mengalami glukogenesis lalu juga dapat dibentuk dari glikogen hati melalui
glikogenolsis.
Proses mempertahankan kadar glukosa yang stabil didalam darah merupakan salah satu
mekanisme homeostasis yang diatur paling halus dan juga menjadi salah satu mekanisme di
hepar, jaringan ekstrahepatik serta beberapa hormon. Hormon yang mengatur kadar glukosa
darah adalah insulin dan glukagon. Insulin adalah suatu hormon anabolik, merangsang
sintesis komponen makromolekuler sel dan mengakibatkan penyimpanan glukosa.
Glukagon adalah suatu katabolik, membatasi sintesis makromolekuler dan menyebabkan
pengeluaran glukosa yang disimpan. Peningkatan glukosa dalam sirkulasi mengakibatkan
peningkatan kosentrasi glukosa dalam sirkulasi mengakibatkan peningkatan sekresi insulin
dan pengurangan glukagon, demikian sebaliknya.
Diabetes mellitus adalah penyakit yang paling menonjol yang disebabkan oleh gagalnya
pengaturan gula darah. Meskipun disebut gula darah, selain glukosa, kita juga menemukan
jenis-jenis gula lainnya, seperti fruktosa dan galaktosa. Namun demikian, hanya tingkatan
glukosa yang diatur melalui insulin dan leptin.
Dalam ilmu kedokteran, gula darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat glukosa di
dalam darah. Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum, diatur dengan ketat di
dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber utama energi untuk sel-sel
tubuh. Umumnya tingkat gula darah bertahan pada batas-batas yang sempit sepanjang hari: 48 mmol/l (70-150 mg/dl). Tingkat ini meningkat setelah makan dan biasanya berada pada
level terendah pada pagi hari, sebelum orang makan. (Anik Widjayanti, 2009)

Salah satu pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan adalah pemeriksaan


glukosa darah. Tujuan dari pemeriksaan glukosa darah ini salah satunya adalah untuk
menentukan ada tidaknya penyakit diabetes mellitus. Diabetes mellitus adalah penyakit yang
paling menonjol yang disebabkan oleh gagalnya pengaturan gula darah atau kelainan
metabolisme karbohidrat, dimana glukosa darah tidak dapat digunakan dengan baik, sehingga
meyebabkan keadaan hiperglikemia. (Anonim. 2010)
Umumnya pada pemeriksaan kimia darah khususnya glukosa biasanya digunakan
serum sebagai spesimen. Serum merupakan hasil pemisahan antara komponen cair dan
seluler dari darah (whole blood). Proses pemisahan komponen darah untuk mendapatkan
serum dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama dengan mendiamkan darah selama
minimal 1-2 jam hingga terjadi pemisahan dengan sendirinya (pemisahan spontan), namun
dengan membiarkan darah terlalu lama memungkinkan terjadinya metabolisme glukosa
dalam sampel oleh sel-sel darah. Kadar glukosa dalam tabung akan menurun setelah 10 menit
pengambilan darah, karena proses glikolisis dengan kecepatan kurang lebih 7 mg/dl per jam.
(Anonim 2012).
Kenyataan dilapangan Pemeriksaan Glukosa darah Pada spektrofotometer Sering
Mengalami penundaan pemeriksaan Hal ini biasanya disebabkan karena pemeriksaan
dilakukan secara seri, penundaan pengiriman sampel, penanganan sampel yang kurang cepat
dan tepat, terjadi kerusakan alat maupun kehabisan reagen pemeriksaan. Sebagai contoh
penundaan pengiriman darah akan mengakibatkan penurunan kadar glukosa darah,
peningkatan
pasien.

kadar

kalium,

hal

ini

dapat

mengakibatkan

kesalahan

pengobatan

( Anonim. 2012)

Cara kedua yaitu dengan mendiamkan darah hingga membeku kemudian dilanjutkan
dengan sentrifugasi hingga terjadi pemisahan secara total kemudian serum dipisahkan dari
sel-sel darah untuk mencegah terjadinya proses metabolisme sel hidup yang dapat
mengakibatkan penurunan kadar glukosa darah. Hal ini sejalan dengan pendapat Hardjoeno
dalam bukunya Interprestasi Hasil tes Laboratorium Diagnostik bahwa Serum harus segera
dipisahkan dari bahan bekuan darah dalam sampel atau paling lambat 2 jam setelah
pengambilan darah untuk menghindari perubahan-perubahan dari zat-zat yang terlarut
didalamnya oleh pengaruh hemolisis darah (Hardjoeno, 2003)
Dengan perkembangan yang pesat dari jumlah dan jenis pemeriksaan, peralatan
laboratorium, maka dibutuhkan pemilihan metode dan alat yang sesuai dengan indikasi
pemeriksaan serta interpretasi hasil yang tepat (www.klik nikmedik.com.2012)

Pada pemeriksaan glukosa darah metode yang digunakan meliputi metode reduksi,
enzimatik, dan lainya. Namun yang sering digunakan adalah metode enzimatik, yaitu metode
glukosa oksidase peroksidase, 4-aminophenason dan phenol (GOD-PAP) karena mempunyai
akurasi dan presisi yang baik (Sri Jufari, 2011).
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis berkeinginan mencari informasi dengan tujuan
untuk mengetahui proses pemeriksaan gula darah.
B.

Rumusan Masalah
1. Bagaimana indikasi pemeriksaan gula darah?
2. Apa saja jenis pemeriksaan gula darah?
3. Bagaimana cara pemeriksaan gula darah?
4. Bagaimana nilai normal pada gula darah?

C.

Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang indikasi, jenis, dan
cara dalam pemeriksaan gula darah serta mengetahui nilai normal gula darah.

D. Manfaat Penulisan
1. Manfaat bagi Institusi
Sebagai sumbangsih ilmiah bagi almamater Program Studi D3 Keperawatan Poltekkes
Kemenkes Bandung.
2.

Manfaat bagi praktisi Kesehatan


Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan
tentang pemeriksaan glukosa darah sehingga dapat membantu dalam penegakan diagnosa
suatu penyakit.

3.

Akademik
Sebagai referensi untuk menambah pengetahuan tentang cara penanganan dan
pemeriksaan glukosa.

4. Peneliti
Menambah pengetahuan penulis dalam mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dibangku
perkuliahan.

BAB 2
PEMBAHASAN
A.

Pengertian
Didalam darah terdapat zat glukosa, glukosa ini gunanya untuk dibakar agar

mendapatkan kalori atau energi. Sebagian glukosa yang ada dalam darah adalah hasil
penyerapan dari usus dan sebagian lagi dari hasil pemecahan simpanan energi dalam jaringan.
Glukosa yang ada di usus bisa berasal dari glukosa yang kita makan atau bisa juga hasil
pemecahan zat tepung yang kita makan dari nasi, ubi, jagung, kentang, roti atau dari yang
lain. (Djojodibroto,2003.
B. Indikasi Pemeriksaan
1. TES SARING: GDP, GDS, GLUKOSA URIN
Tujuan:1
Untuk mendeteksi kasus DM sedini mungkin, sehingga dapat dicegah kemungkinan
terjadinya komplikasi kronik akibat penyakit ini.
Indikasi:3
Bila terdapat salah satu faktor resiko DM sebagai berikut:
Usia > 45 tahun
Berat Badan (BB) lebih: BB >110 % BB idaman atau IMT > 23 kg/m2.
Hipertensi (>140/90 mmHg).
Riwayat DM dalam garis keturunan.
Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat atau BB lahir bayi > 4000 g.
Kolesterol HDL < 35 mg/dL, dan atau Trigliserida > 250 mg/dL).
Keterangan : IMT= BB/TB2 (Berat Badan/Tinggi Badan kuadrat).
2. TES DIAGNOSTIK: GDP,GDS,GD2PP,GLUKOSA Jam ke-2 TTGO
Tujuan: 1
Untuk memastikan diagnosis DM pada individu dengan keluhan klinis khas DM atau
mereka yang terjaring pada tes saring.
Indikasi:1
Ada keluhan klinis khas DM: poliuria, polidipsi, polifagia, lemah,
badan yang tidak jelas penyebabnya.
Tes saring (lihat juga indikasi pada tes saring) menunjukkan hasil:
a. GDS:
plasma vena = 110 199 mg/dL (6,111,0 mmol/L)
darah kapiler = 90 199 mg/dL (5,011,0 mmol/L)
atau
b. GDP:
plasma vena = 110 125 mg/dL (6,17,0 mmol/L)
darah kapiler = 90 109 mg/dL (5,06,1 mmol/L)
atau
c. Tes urin glukosa / reduksi positip.
4

penurunan berat

Indikasi Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) bila:


a. Keluhan klinis tidak ada, dan pada tes diagnostik pertama:
GDS: plasma vena = 110 199 mg/dL (6,111,0 mmol/L)
GDP: plasma vena = 110 125 mg/dL (6,17,0 mmol/L)
b. Tes diagnostik pertama :
GDS: plasma vena = > 200 mg/dL (11,1 mmol/L)
GDP: plasma vena = > 126 mg/dL (7,0 mmol/L)
Setelah diulang :
GDS: plasma vena
GDP: plasma vena
(lihat algoritme)
DM Gestasi

= < 200 mg/dL (11,1 mmol/L)


= < 126 mg/dL (7,0 mmol/L)

3. TES MONITORING TERAPI: GDP, GD2PP, A1c dan TES UNTUK


MENDETEKSI KOMPLIKASI DM: Tes Mikroalbuminuria (MAU), Ureum,
Kreatinin, Asam Urat dan Tes Fraksi Lipid.
Tujuan:1
Memantau keberhasilan pengobatan untuk mencegah terjadinya komplikasi kronik DM.
Indikasi:1
Individu yang didiagnosis DM, Toleransi Glukosa Terganggu (TGT), atau GDPT (Glukosa
Darah Puasa Terganggu) pada tes saring.
Langkah-langkah pelaksanaan pengendalian DM adalah sebagai berikut:
Tes glukosa darah (GDP, GD2PP) frekuensinya tergantung kebutuhan pasien.
Tes A1c , 2 4 kali setahun.
Edukasi pasien DM tentang penanganan diabetes, sekali setahun.
Edukasi pasien DM tentang terapi dan diet, sekali setahun.
Pemeriksaan mata, sekali setahun.
Pemeriksaan kaki, 12 kali setahun oleh dokter, setiap hari oleh pasien.
Skrining nefropati diabetika dengan tes mikroalbuminuria, sekali setahun.
Pemeriksaan tekanan darah, sesering mungkin.
Tes fraksi lipid, sekali setahun.
4. TES GLUKOSA DARAH: GDS, GDP, GD2PP, TTGO
Hal-hal yang penting mengenai tes glukosa darah:
Menggambarkan faktor resiko penyakit kardiovaskuler dan berbagai penyakit dengan
mortalitas tinggi.
Glukosa post prandial merupakan prediktor mortalitas yang lebih baik dibanding glukosa
puasa.
Glukosa post prandial juga berhubungan dengan kematian non kardiovaskuler
Peningkatan kadar glukosa post prandial sejalan dengan tingkat mortalitas.
PRAANALITIK.
Persiapan pasien untuk tes glukosa darah:1
GDP :
5

Pasien dipuasakan 8 12 jam sebelum tes.


Semua obat dihentikan dulu, bila ada obat yang harus diberikan ditulis pada formulir

permintaan tes.
GD2PP:
- Dilakukan 2 jam setelah tes GDP.
Pasien diberikan makanan yang mengandung 100 gram karbohidrat sebelum tes
dilakukan.
TTGO (WHO, 1994):3
- Tiga (3) hari sebelum tes makan seperti biasa (karbohidrat cukup).
- Kegiatan jasmani seperti yang biasa dilakukan.
- Puasa minimal 8 jam dimulai malam hari sebelum tes dilakukan, minum air
putih diperbolehkan.
5. TES GLUKOSA URIN: BENEDICT, CARIK CELUP
a. TES BENEDICT (Kualitatif).
PRA ANALITIK.
Persiapan Pasien:1
Sama dengan persiapan pasien pada tes glukosa darah puasa dan tes glukosa darah

post

prandial.
Nilai Rujukan: 1
Glukosa Negatif: bukan DM bila hasil tes urin berwarna biru, sesuai dengan < 0,5 %
glukosa.
PASCA ANALITIK.
Interpretasi:1
Warna :
Interpretasi: (1+) s/d ( 4+) mungkin/diduga DM
Hijau kekuningan dan keruh
Positif + (1+): sesuai dengan 0,51 % glukosa
Kuning keruh
Positif ++ (2+): sesuai dengan 11,5 % glukosa
Jingga / warna lumpur keruh
Positif +++ (3+): sesuai dengan 23,5 % glukosa
Merah keruh
Positif ++++(4+): sesuai dengan > 3,5 % glukosa
b. TES CARIK CELUP (Semi Kuantitatif).
PRAANALITIK.
Persiapan Pasien: Sama dengan persiapan pasien pada tes Benedict.
PASCAANALITIK.
Interpretasi:1
Hasil:
Interpretasi : + s/d ( 4+ ) mungkin / diduga DM
+ : sesuai dengan 50 < 250 mg/100ml glukosa
Positif +
(1+) : sesuai dengan 250 < 500 mg/100ml glukosa
Positif ++
(2+) : sesuai dengan 500 < 1000 mg/100ml glukosa
Positif +++ (3+) : sesuai dengan 1000 < 2000 mg/100ml glukosa
Positif ++++ (4+) : sesuai dengan
> 2000
mg/100ml glukosa
TES A1c
Hemoglobin pada orang dewasa terdiri dari HbA (95 100 %), HbA2 2 3 %) dan HbF
(< 1 %). HbA terdiri dari HbAo dan HbA1. HbAo merupakan fraksi HbA yang tidak

mengalami glikosilasi (92 94,5 %) sedangkan HbA1 adalah fraksi HbA yang mengalami
glikosilasi (5,5 8,0 %).1
Hb terglikosilasi (Glycosilated Hemoglobin) adalah hemoglobin yang terikat dengan
glukosa dan atau karbohidrat lainnya terhadap gugus amino. HbA1 adalah serangkaian HbA
yang terglikosilasi dimana karbohidrat berikatan secara spesifik pada N terminal valin dari
rantai b.1
HbA1 terdiri dari tiga varian yaitu HbA1a, HbA1b dan HbA1c. HbA1c menunjukkan
presentase terbesar (80 %) dari HbA1 total dalam eritrosit, oleh karena itu maka tes HbA1c
yang paling sering dilakukan.1
Varian HbA1
Komponen
A1a1
Fruktosa -1,6- bifosfat berikatan pada HbA1
A1a2
Glukosa -6- fosfat berikatan pada HbA1
A1bJenis karbohidrat yang berikatan belum jelas
A1c Glukosa berikatan pada HbA1c
Hb A1c (Hemoglobin Adult 1c) atau A1c adalah HbA1 yang terikat secara spesifik dengan
glukosa pada N-terminal valin dari rantai b membentuk pre-HbA1c yang tidak stabil (basa
schiff) dan selanjutnya melalui penyusunan kembali dengan reaksi Amadori membentuk
SA1c (ketoamin) yang stabil.1
Tes Hb A1c atau tes A1c merupakan pedoman untuk memonitor terapi DM karena dengan
tes A1c dapat diperoleh informasi rata-rata kadar glukosa darah selama 40 60 hari terakhir,
sesuai dengan waktu paruh eritrosit dan untuk mengetahui kualitas pengendalian glukosa
darah pada pasien DM dalam kurun waktu tersebut. Pada tes A1c kadar glukosa tidak
dipengaruhi oleh fluktuasi glukosa harian.1
Frekuensi tes A1c disesuaikan dengan kebutuhan pasien secara individual diantaranya:1
Terapi berdasarkan tipe DM
Frekuensi yang di rekomendasikan
DM tipe 1 dengan terapi minimlal / sedang
3 4 kali pertahun
DM tipe 1 dengan terapi intensif setiap 1 2 bulan
DM tipe 2 2 kali pertahun untuk pasien stabil
DM pregestasi
setiap 1 2 bulan
DM gestasi setiap 1 2 bulan
C.Jenis Pemeriksaan
Jenis metode pemeriksaan gula darah meliputi metode reduksi dan enzimatik. Yang paling
sering digunakan adalah metode enzimatik, yaitu metode glukosa oksidasi (GOD) dan
metode heksokinase. Metode GOD dan heksokinase banyak digunakan karena mempunyai
7

akurasi dan presisi yang baik dan merupakan metode referensi, karena enzim yang digunakan
spesifik untuk glukosa. (www.tempo.co.id.2011)
1.

Metode Glukosa Oksidasi

Metode glukosa oksidase merupakan metode yang paling banyak digunakan di


laboratorium yang ada di Indonesia. Sekitar 85% dari peserta program nasional pemantapan
mutu eksternal di bidang kimia klinik. Memeriksa glukosa serum kontrol dengan
menggunakan metode ini.
Prinsip pemeriksaan:
Glukosa ditentukan setelah oksidasi enzimatis dengan adanya oksidase. Hidrogen
peroksida yang terbentuk bereaksi dengan adanya peroksidase. Dengan phenol serta 4amiophenazon menjadi zat warna quinoneimine berwarna merah violet.
GOD
Glukosa

+O2 +H2O

gluconic

acid

+H2O2
POD
2H2O2 +4-aminphenazon+ phenol

quinoneimine +4 H2O

Digunakan enzim glukosa oksidasi pada reaksi pertama menyebabkan sifat Reaksi
pertama spesifik untuk glukosa khususnya P-D-glukosa. Sedangkan reaksi kedua tidak
spesifik karena zat yang bisa teroksidasi dapat menyebabkan hasil pemeriksaan lebih
rendah. Asam urat, asam askorbat, bilirubin, dan glutation menghambat reaksi karena zat-zat
ini akan berkompotesi dengan kromogen bereaksi dengan hydrogen peroksida sehingga hasil
pemeriksaan akan lebih rendah. Keunggulan dari metode GOD adalah karena murahnya
reagen dan hasil yang cukup memadai. Namun hasil pemeriksaan juga dapat dipengruhi oleh
serum yang lisis mutu reagen, alat yang tidak dan cara kerja analisis itu sendiri.
2.

Metode Hexokinase

Metode hexokinase merupakan metode untuk pemeriksaan glukosa darah dianjurkan


(reference method) oleh WHO dan IFCC. Namun baru sekitar 10% laboratorium yang
menggunakan metode ini untuk pemeriksaan glukosa darah.
Prinsip pemeriksaan:
Hexokinase akan mengkatalisis reaksi fosforilasi glukosa dengan ATP membentuk glukosa
6-fosfat dan ADP.Enzim kedua yaitu glukosa 6-fosfat dehidrogennase akan mengkatalisis

oksidasi glukosa-6-fosfat dan ADP dengan nicotinamid adeninedenucleotide phosphate


(NADP)
Hexokinase
Glukosa + ATP

Glukosa-6-fosfat +ADP
G-6-DP

Glukosa-6-fosfat +NADP (p) +

6- fosfoglukonat + NAD (p)

H + H+

Pada metode ini digunakan dua macam enzim yang spesifik sehingga hasil yang
diperoleh sangat baik. Belum ada laporan penelitian yang mengatakan adanya reaksi
senyawa lain. Kekurangan dari metode ini adalah biaya yang relativ mahal untuk
pemeriksaan tersebut (Anonim, 2005)
3.

Pemeriksaan Reduksi Metode Benedict

Penyakit diabetes selain dapat dideteksi melalui pemeriksaan glukosa darah dapat juga
dideteksi pada urin sehinga dapat dilakukan pemeriksaan glukosa pada sampel urin yaitu
pemeriksaan reduksi metode benedict. Darah disaring oleh jutaan nefron sebuah unit
fungsional dalam ginjal. Hasil penyaringan (filtrat) berisi produk-produk limbah (misalnya
urea), elektrolit( misalnya natrium, kalium dan klorida), asam amino dan glukosa. Filtrate
kemudian dialirkan ke tubulus gijal untuk direabsorbsi dan diekskresikan zat-zat yang
diperlukan termasuk glukosa diserap kembali dan zat-zat yang tidak diperlukan
diekskresikan kedalam urin.
Kurang dari 0,1% glukosa yang disaring oleh glomerolus terdapat dalam urin yaitu kurang
dari 130 mg/24 jam. Kelebihan gula dalam urin atau disebut juga glukosuria karena nilai
ambang ginjal terlampau ( kadar gula darah melebihi 160-180 mg/dl) atau daya reabsorbsi
tubulus yang menurun.
Uji glukosa urin menggunakan reagen benedict atas dasar sifat glukosa sebagai peruduksi.
Cara ini tidak spesifik karena beberapa pereduksi lain dapat mengacaukan hasil uji. Beberapa
gula lain bisa menyebabkan hasil uji reduksi positif misalnya glukosa, sukrosa, galaktosa,
pentosa, laktosa dan beberapa zat bukan gula yang dapat mengadakan reduksi seperti
homogentisat alkapton, formalin, glukoronat. Metode benedict banyak digunakan di
laboratorium klinik karena hanya menggunakan satu jenis larutan saja untuk menafsirkan
kadar gula secara kasar dan pemakaian bahan urin yang sedikit sekali, dengan prinsip
glukosa dalam urin akan mereduksi garam kompleks dari reagen (ion cupri direduksi cupro )
dan mengendap dalam bentuk CuO dan Cu2O berwarna kuning hingga merah bata.
4.

Pemeriksaan Glukosa Metode Carik Celup


9

Metode carik celup (dipstick) dinilai lebih bagus karena lebih spesifik untuk glukosa dan
waktu pengujian yang amat singkat Reagen strip untuk glukosa dilekati dua enzim, yaitu
glukosa oksidase (GOD) dan peroksidase (POD) serta zat warna (kromogen) seperti ortotoluidin yang berubah warna biru jika teroksidasi. Zat warna lain yang digunakan ialah iodide
yang akan berubah warna coklat jika teroksidasi.
Prosedur uji yang akan dijelaskan disini adalah uji dipstick yaitu celupkan strip reagen
(dipstick) kedalam urin.Tunggu selama 60 detik, amati perubahan warna yang terjadi dan
cocokkan dengan bagan warna.
5.

Pemeriksaan Glukosa Darah Dengan Alat Glukometer

Ada beberapa jenis alat yang digunakan dalam pemeriksaan glukosa darah salah satunya
adalah glukometer yang digunakan untuk mengukur kadar glukosa darah dengan mudah dan
cepat. Pada alat glukometer dilengkapi dengan suatu sensor tepatnya disebut biosensor sesuai
dengan komponen penyusunnya yang terdiri dari biological element sebagai pengenal
molekul atau senyawa yang hendak diukur (analit) dan trasducer yang menangkap sinyal dari
biological element itu. Biosensor sendiri bekerja berdasarkan reaksi enzymatic antara enzim
glukose oxidase (GOD) dengan glukosa dalam darah yang kemudian dirubah menjadi sinyal
elektronik.
Glukosa dalam darah bereaksi dengan glukosa oxidase dan kalium ferrycianide didalam
strip memproduksi kalium ferrocyanide. Kalium ferrocyanide yang di produksi sebanding
dengan konsentrasi glukosa dalam darah. Oksidasi kalium ferrocyanida menghasilkan suatu
elektrik yang kemudian dikonversi oleh meter untuk menampakan konsentrasi glukosa pada
layar. (anonym 2004, Arkray Factory)
D.Cara pemeriksaan
Pemeriksaan Reduksi Metode Benedict
a. Masukkanlah 5ml reagens benedict kedalam tabung reaksi.
b. Teteskan sebanyak 5-8 tetes (jangan lebih!) urin kedalam tabung itu.
c. Masukkanlah tabung itu kedalam air mendidih selama 5 menit.
d. Angkatlah tabung, kocoklah isinya dan amati hasil reduksi.
E.Nilai normal
Pada orang normal pengaturan besarnya konsentrasi glukosa darah sangat sempit,
pada orang yang sedang berpuasa kadar glukosa darah ini biasanya antara 80 dan
90mg/dl darah yang diukur pada waktu sebelum makan pagi.Konsentrasi ini
meningkat menjadi 120-140mg/dl selama jam pertama atau lebih setelah makan,
tetapi sistem umpan balik yang mengatur kadar glukosa darah dengan cepat
10

mengembalikkan konsentrasi glukosa ke nilai kontrolnya. Biasanya terjadi dalam


waktu 2 jam sesudah absorpsi karbohidrat terakhir.Sebaliknya pada waktu
kelaparan,fungsi glukoneogenesis dari hati menyediakan glukosa yang dibutuhkan
untuk mempertahankan kadar glukosa darah sewaktu puasa.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Konsentrasi glukosa darah perlu dijaga agar tidak meningkat terlalu tinggi karena 3 alasan
berikut, pertama glukosa sangat berpengaruh terhadap tekanan osmotik dalam cairan
ekstraseluler, dan bila konsentrasi glukosa meningkat sangat berlebihan,akan mengakibatkan
timbulnya dehidrasi seluler. Kedua, sangat tingginya konsetrasi glukosa dalam darah
menyebabkan keluarnya glukosa dalam air seni.Ketiga, keadaan keadaan diatas menimbulkan
diuresis osmosis oleh ginjal, yang dapat mengurangi jumlah cairan tubuh dan elektrolit.
Umumnya tingkat gula darah bertahan pada batas-batas yang sempit sepanjang hari: 4-8
mmol/l (70-150 mg/dl). Tingkat ini meningkat setelah makan dan biasanya berada pada level
terendah pada pagi hari, sebelum orang makan.
Kadar gula darah pada orang yang berpuasa normalnya <126. Pada orang yang tidak berpuasa
normalnya <200. Dan jika lebih dari angka tersebut bisa menunjukan gejala hiperglikemi dan
menyebabkan penyakit diabetes. Diabetes mellitus adalah penyakit yang paling menonjol
yang disebabkan oleh gagalnya pengaturan gula darah.
11

Daftar pustaka
Guyton, Hall.1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC
Gandasoebrata. R. 2004. Penuntun Laboratorium Klinik.Jakarta: Dian Rakyat

12