Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Memasuki abad millenium, perkembangan teknologi dan informasi begitu
cepat dan berdampak pada banyak bidang. Otomotif, komunikasi, dan banyak bidang
lainnya tidak terkecuali di perekonomian terkhusus pada sistem pembayaran.
Sistem pembayaran pertama kali menggunakan sistem barter, yaitu pertukaran
suatu barang/komoditi dengan komoditi lain secara langsung sesuai dengan kebutuhan
yang bersangkutan (Sri Mulyani,1988). Tetapi sistem ini mempunyai keterbatasanketerbatasan seperti tidak efisien dan tidak adanya kesepakatan standar mengenai nilai
suatu barang. Dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut dan semakin berkembangnya
perekonomian, diperlukanlah suatu benda yang dapat digunakan sebagai alat tukar
tetapi mempunyai nilai tetap dan dapat diterima masyarakat luas.
Uang merupakan alat yang akhirnya menjadi alat tukar mempunyai sejarah
yang panjang. Bentuk uang pada awalnya merupakan suatu barang yang dapat disukai
banyak orang dan jumlahnya pun terbatas. Perkembangan selanjutnya adalah logam
dijadikan sebagai uang dalam bentuk, ukuran dan berat yang berbeda-beda yang disebut
juga sebagai uang logam atau metalic money. Terbatasnya jumlah logam yang dapat
digunakan untuk membuat uang, maka muncullah ide untuk menciptakan uang dari
bahan kertas. Terciptanya uang kertas tidak langsung melenyapkan uang logam,
melainkan uang kertas dan uang logam berdampingan dalam sistem pembayaran.
Sejalan perkembangan perekonomian dari waktu ke waktu, bentuk uang
semakin bervariasi. Uang kertas dan uang logam yang juga disebut sebagai uang kartal
kemudian dilengkapi dengan uang giral dalam bentuk cek dan giro. Uang kartal dan
uang giral dapat juga disebut sebagai uang tunai, yaitu dapat langsung digunakan
sebagaimana fungsi uang.
Perkembangan teknologi dan informasi juga menciptakan kemajuan di bidang
perekonomian terkhususnya sistem pembayaran. Semakin murahnya komputer serta
meluasnya penggunaan internet didukung kondisi di abad ini yang menuntut
keseluruhan sistem agar dapat bekerja secara efektif dan praktis membuat akhirnya
memunculkan suatu inovasi dalam sistem pembayaran yang disebut dengan
pembayaran secara elektronik. Pembayaran secara elektronik ini menggantikan alat
pembayaran cek untuk membayar tagihan-tagihan baik bersifat mikro maupun ritel.
Tidak hanya itu saja, bahkan akhir-akhir ini muncul suatu inovasi dalam bidang
instrument pembayaran yang diciptakan untuk menggantikan alat pembayaran berupa
uang tunai. Instrument pembayaran ini disebut e-money (electronic money). E-money
dipercaya mempunyai kelebihan dibanding uang tunai seperti lebih cepat dan lebih
mudah. Di masa depan uang elektronik (electronic money) akan menjadi fenomenal
karena akan mempermudah transaksi, apalagi setelah semua pelaku bisnis dapat
menerima pembayaran secara eleltronik.
Bentuk e-money yang paling sederhana dan sering kita jumpai adalah kartu
debit yang menyerupai kartu kredit. Kita dapat membayar belanjaan kita dengan

menggunakan kartu debit. Perusahaan besar seperti Visa dan MasterCard juga telah
menerbitkan kartu kredit dan kartu ATM yang juga dapat berfungsi sebagai kartu debit
untuk pembayaran secara non-tunai atau elektrik.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, maka yang menjadi rumusan masalah adalah :
1. Bagaimana proses evolusi sistem pembayaran ?
2. Bagaimana sejarah e-money di Dunia ?
3. Bagaimana Perkembangan e-money di Indonesia ?
4. Apa kelebihan dan kekurangan e-money ?
5. Apa saja peraturan terkait e-money di Indonesia ?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui trend penggunaan uang elektronik (e-money) di Indonesia.
2. Untuk mengetahui regulasi yang mengatur tentang uang elektronik di Indonesia.
3. Untuk menjelaskan hubungan permintaan uang elektronik terhadap velocity of
money (percepatan) di Indonesia.
1.4 Manfaat Penulisan
Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain :
1. Sebagai tambahan wawasan ilmiah dan ilmu pengetahuan bagi penulis dalam
disiplin ilmu yang ditekuni penulis.
2. Sebagai tambahan informasi dan tambahan literature bagi masyarakat dan
mahasiswa/I yang ingin melakukan penelitian selanjutnya
3. Sebagai sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak yang ingin mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi permintaan uang di Indonesia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uang
1. Pengertian Uang

Beberapa tokoh atau penulis ekonomi pada masa lampau mendefinisikan uang
sebagai alat pembayar atau penukar. Dalam bukunya, Drs. M. Manullang (1977)
menjabarkan definisi uang dari beberapa tokoh, antara lain:
a. Robertson : Money is something which is widely accepted in payments for
goods yang artinya, Uang adalah segala sesuatu yang umum diterima dalam
pembayaran barang-barang.
b. C. Pigou : Money are those things that are widely used as a media for
exchange yang artinya : uang adalah segala sesuatu yang umum
dipergunakan sebagai alat penukar.
c. R. S. Sayers : Money is something that is widely accepted for the settlements
of debts yang artinya uang adalah segala sesuatu yang umum diterima
sebagai pembayar utang.
d. Rollin G. Thomas : Money is something that is good, services, and other
valuaber assets, and for the payment of debts yang artinya : uang adalah
segala sesuatu yang siap sedia dan pada umumnya diterima umum dalam
pembayaran pembelian barang-barang, jasa-jasa dan untuk pembayar hutang.
e. Mankiw (2006) mendefinisikan uang sebagai persediaan aset yang dapat
dengan segera digunakan untuk melakukan transaksi.
f. Dan akhirnya Drs. M. Manullang memberi definisi uang sebagai berikut:
Uang adalah segala sesuatu yang umum diterima sebagai alat penukar dan
sebagai alat pengukur nilai, yang pada waktu bersamaan bertindak sebagai alat
penimbun kekayaan.
Dari definisi ini, beliau mengatakan bahwa segala sesuatu yang sudah
memenuhi definisi ini sudah dianggap uang, baik itu terbuat dari logam, kertas atau
benda lainnya yang sudah diterima oleh masyarakat sebagai alat penukar, pengukur
nilai dan sebagai alat penimbun kekayaan.
Seiring perkembangan uang yang semakin pesat, definisi uang mempengaruhi
jenis-jenis uang apa saja yang masuk dalam definisi tersebut (Sri Mulyani, 1988).
Miskhin (2008) mengungkapkan bahwa ekonom mendefinisikan uang sebagai
sesuatu yang sacara umum diterima dalam pembayaran barang dan jasa atau
pembayaran atas utang. Tetapi definisi ini masih sangat sederhana. Diperlukan
definisi yang lebih kompleks dan lebih luas. Sedangkan menurut Mankiw (2006),
uang adalah persediaan asset yang dapat dengan segera digunakan untuk melakukan
transaksi.

2. Fungsi Uang
Ada 4 fungsi uang pada umumnya :
1) Uang sebagai alat tukar
Fungsi uang sebagai alat tukar memudahkan masyarakat untuk melaksanakan
transaksi. Fungsi ini menghilangkan perlunya ada kesamaan keinginan dalam
transaksi barter. Unsur kepercayaan sangatlah penting karena melandasi
pemilihan barang apa yang bisa digunakan sebagai uang.

2) Uang sebagai alat penyimpan nilai/daya beli


Fungsi ini terkait usaha manusia dalam mengumpulkan kekayaan.
Pemegangan uang merupakan salah satu cara untuk menyimpan kekayaan.
Syarat utama untuk ini adalah bahwa uang harus bisa menyimpan daya beli
atau nilai. Karena pada saat inflasi tinggi, nilai merosot cepat, maka orang pun
enggan memegang uang.
3) Uang sebagai standar/satuan nilai
Fungsi ini ,memungkinkan seluruh barang/jasa dinilai dengan satuan uang.
Dengan demikian masyarakat tidak perlu lagi menghafal sampai ribuan nilai
tukar yang dilakukan pada masa perekonomian barter. Fungsi ini tidak dapat
dipisahkan dari fungsi sebagai alat tukar, tetapi hanya dapat dibedakan.
4) Uang sebagai standar pembayaran di masa mendatang
Fungsi ini terkait dengan pinjam-meminjam atau transaksi kredit. Dalam
hubungan ini, uang merupakan salah satu cara menghitung pembayaran masa
depan.
3. Jenis Uang
Jenis-jenis uang dibagi dalam berdasarkan nilai, bahan, kawasan, dan lembaga
penerbit.
1) Jenis uang berdasarkan Nilai
a. Uang bernilai penuh (full bodied money), merupakan uang yang nilai
intrinsiknya sama dengan nilai nominalnya, misalnya uang logam.
b. Uang Tidak Bernilai Penuh (representative full bodied money), merupakan
uang yang nilai intrinsiknya lebih kecil dari nominalnya, seperti uang
kertas. Uang jenis ini sering disebut uang bertanda atau token money.
2) Jenis Uang Berdasarkan Bahan
a. Uang Logam, merupakan uang dalam bentuk koin yang terbuat dari
logam, misalnya aluminium, emas, perak, perunggu, dan bahan lainnya.
b. Uang Kertas, merupakan uang yang terbuat dari kertas, plastik, atau bahan
lainnya. Uang jenis ini biasanya bernominal tinggi, dan berkualitas tinggi
sehingga tidak mudah robek dan luntur.
3) Jenis Uang Berdasarkan Kawasan
a. Uang Lokal, berlaku di suatu Negara tertentu, seperti Rupiah di Indonesia
atau Ringgit di Malaysia.
b. Uang Regional, berlaku di kawasan tertentu yang lebih luas dari uang
lokal, misalnya uang Euro yang berlaku di benua Eropa.
c. Uang Internasional, merupakan uang yang berlaku antarnegara dan
menjadi standard pembayaran internasional, seperti US dollar.
4) Jenis Uang Berdasarkan Lembaga Penerbit
a. Uang Kartal, merupakan uang yang diterbitkan oleh Bank Sentral, baik
uang logam maupun uang kertas.
b. Uang Giral, merupakan uang yang diterbitkan oleh Bank Umum, seperti
cek, bilyet giro, travelers check, atau credit card.
Berdasarkan penghitungan jumlah permintaan uang di masyarakat, uang dapat
dibedakan dengan M0, M1, M2 dan M3. M0 merupakan definisi permintaan uang
yang paling sempit karena M0 hanya terdiri dari uang kartal, yaitu uang kertas dan

logam yang dipegang masyarakat sehari-hari. M1, yaitu M0 ditambah dengan


demand deposit. Demand deposit adalah tabungan yang dimiliki masyarakat yang
ada di bank, yang dapat dicairkan sewaktu-waktu apabila dibutuhkan. M1 ini
merupakan perhitungan jumlah uang beredar yang sangat likuid. M2, yaitu M1
ditambah dengan time deposit. Time deposit adalah tabungan, deposito, dan
sejenisnya, yang memiliki waktu jatuh tempo atau tidak dapat dicairkan sewaktuwaktu apabila dibutuhkan. M3, yaitu M2 ditambah dengan deposito jangka panjang,
meliputi dana-dana institusional yang ada dipasar uang.
4. Motif Memegang Uang
Menurut Keynes, ada 3 motif mengapa orang memegang uang, antara lain:
1) Motif Transaksi, yaitu kebutuhan uang untuk meningkatkan transaksi dan
memenuhi kebutuhan hidup artinya semakin tinggi tingkat transaksi maka
semakin tinggi kebutuhan masyarakat akan uang.
2) Motif Berjaga-jaga, yaitu mengantisipasi keadaan masa depan yang penuh
ketidakpastian (uncertainty), maka perlu mempersiapkan dengan sejumlah
uang untuk berjaga-jaga seandainya menghadapi masalah seperti sakit,
meninggal, kecelakaan, bencana alam dan sebagainya.
3) Motif Spekulasi, yaitu mengambil pilihan bentuk kekayaan yang
memberikan keuntungan baik secara finansial maupun sosial.
2.2 Permintaan Uang
1. Teori Permintaan Uang Klasik
Teori permintaan uang klasik bermula dari teori tentang jumlah uang yang
beredar dalam masyarakat (teori kuantitas uang). Teori ini tidak dimaksudkan untuk
menjelaskan mengapa seseorang atau masyarakat menyimpan uang kas, tetapi lebih
pada peranan uang dalam perekonomian. Dengan sederhana Fisher dalam Waluyo
(2004) merumuskan teori kuantitas uang sebagai berikut :
PT = MV
dimana :
M = Jumlah uang beredar
V = Perputaran uang dari satu tangan ke tangan lain dalam satu periode
P = Harga barang
T = Volume barang yang diperdagangkan
Persamaan diatas menunjukkan bahwa nilai barang yang diperdagangkan sama
besarnya dengan jumlah uang beredar dikalikan kecepatan perputarannya. Meskipun
persamaan diatas tidak mencerminkan permintaan uang namun bisa diubah
bentuknya menjadi persamaan permintaan uang.
Kedua, versi yang dikemukakan oleh A. Marshall dari Cambridge University.
Dengan notasi yang sama, formulasi Marshall terlihat sebagai berikut :
M = k PQ
= k Y dimana k = 1/V
Secara matematis formulasi Marshal ini sama dengan formulasi Irving Fisher,
namun implikasinya berbeda. Marshall memandang bahwa individu atau masyarakat
selalu menginginkan sebagian (proporsi) tertentu dari pendapatannya (Y) dalam

bentuk uang kas (dinyatakan dengan k). sehingga k Y merupakan keinginan individu
atau masyarakat akan uang kas (Md). Secara matematis dapat diformulasikan
sebagai berikut :
Md = kPQ = kY
dimana :
Md = permintaan uang kas
Dari formulasi ini kita mendapatkan perilaku permintaan uang menurut teori
Marshall, yang merupakan awal dari teori permintaan akan uang.
2. Teori Permintaan Uang Keyness
Keynes menerangkan mengapa seseorang memegang uang kas berdasarkan
kegunaan uang. Seperti kita ketahui, uang dapat berfungsi sebagai alat tukar
(transaksi) dan penyimpan kekayaan. Dalam teorinya tentang permintaan akan uang
kas, Keynes membedakan antara motif transaksi (dan berjaga-jaga) serta spekulasi.
Seseorang memerlukan uang karena dia akan melakukan transaksi dan untuk
brejaga-jaga (kalau sakit, musibah dan sebagainya yang pada akhirnya merupakan
kegiatan transaksi). Selain itu orang mau memegang uang karena motif spekulasi.
Dalam hal ini seseorang berusaha supaya hasil dari uang yang dipegang maksimum
dengan cara mengkombinasikan uang yang dipegang dalam bentuk kekayaan
lainnya.
Permintaan Uang untuk Transaksi
Individu atau perusahaan memerlukan uang kas untuk membiayai transaksi.
Transaksi ini sering terjadi tidak bersamaan waktunya dengan penerimaan uang.
Pengeluaran ini seringkali tidak bisa diperkirakan terlebih dahulu sehingga sangat
diperlukan adanya uang kas di tangan. Meskipun seandainya pengeluaran dan
penerimaan itu dapat diperkirakan dengan tepat, namun uang kas di tangan tetap
diperlukan. Sebab penerimaan yang diharapkan mungkin tidak jadi diterima atau
pengeluaran untuk transaksi yang sangat penting perlu dilakukan sebelum
penerimaan datang, atau mungkin suatu transaksi yang memberikan keuntungan
besar sangat menarik untuk dilakukan sebelum penerimaan datang dan sebagainya.
Keynes mengatakan bahwa permintaan uang kas untuk tujuan transaksi ini
tergantung dari pendapatan. Makin tinggi tingkat pendapatan seseorang, makin besar
keinginan akan uang kas untuk transaksi. Seseorang atau masyarakat yang tingkat
pendapatannya tinggi biasanya melakukan transaksi lebih banyak dibanding
seseorang atau masyarakat yang pendapatannya lebih rendah. Ketergantungan
permintaan uang untuk transaksi terhadap pendapatan ditunjukkan pada Gambar 2.1.

Mt
L1

(Y/P)

Gambar 2.1 Permintaan Uang untuk Transaksi


Permintaan uang untuk transaksai riil ditunjukkan dengan L1. Terlihat
semakin tinggi pendapatan maka semakin banyak uang yang dipegang untuk
keperluan transaksi (Mt). hubungan antara permintaan uang untuk transaksi dengan
pendapatan riil (Y/P) tidak selalu linier. Berbeda dengan kaum klasik, Keynes lebih
menekankan analisisnya pada motif spekulasi yaitu peranan tingkat bunga dalam
menetukan permintaan uang untuk spekulasi.
3. Teori Permintaan Uang Friedman
Teori permintaan uang Friedman ini dikenal dengan "restatement" of the
quantity theory (penegasan kembali tentang teori kuantitas). Friedman menyatakan
bahwa uang pada prinsipnya merupakan salah satu bentuk kekayaan. Permintaan
uang (mirip dengan permintaan akan suatu barang) tergantung pada tiga hal, yaitu:
(a) total kekayaan yang dimiliki, dalam segala macam bentuk kekayaan ini
merupakan kendala anggaran (budget constraint) dalam perilaku konsumen; (b)
harga dan keuntungan (return) dari masing-masing bentuk kekayaan; dan (c) selera
dan preferensi pemilik kekayaan. Analisis Friedman bertitik-tolak pada keuntungan
marginal dari proses substitusi antar bentuk kekayaan seperti uang, obligasi, saham,
surat berharga dan bentuk kekayaan yang lain (baik manusiawi maupun non
manusiawi).
Dalam definisinya yang paling luas, kekayaan seseorang adalah seluruh
sumber "pendapatan" atau jasa yang dapat dikonsumsi. Salah satu bentuk kekayaan
ini adalah kapasitas produktif dari manusia. Dengan demikian bentuk kekayaan yang
pertama yang dapat dimiliki seseorang adalah kapasitas produksi manusia (sumber
daya manusia). Kapasitas manusia berhubungan erat dengan besarnya harapan
memperoleh penghasilan di masa depan. Dengan demikian semakin kaya seseorang
harapan pendapatan di masa depan semakin besar. Apabila kekayaan adalah W,
pendapatan adalah y dan suku bunga adalah r; maka W = y/r menunjukkan nilai
sekarang dari pendapatan di masa depan. Bila W P maka YP akibatnya jumlah uang
yang dipegang juga akan naik.
Keuntungan dalam memegang uang berupa kemudahan dalam melakukan
transaksi. Secara riil, besarnya keuntungan memegang uang ini dipengaruhi oleh
volume barang yang ditransaksikan. Untuk per unit uang yang dipegang, volume
barang yang dapat ditransaksikan ditentukan oleh harga barang, P. Dengan demikian
keuntungan memegang uang tergantung tingkat harga, P.
4. Teori Baumol dan Tobin
Baumol menggunakan pendekatan teori penentuan persediaan barang yang
biasa dipakai dalam dunia usaha. Baumol menganalisa tingkah laku individu (rumah
tangga maupun perusahaan) dan menganggap pendapatan mereka diterima sekali
misalnya tiap bulan namun individu tersebut harus membelanjakannya sepanjang
waktu (satu bulan). Untuk menyederhanakan analisanya, Baumol menganggap
bahwa penghasilan tadi dibelanjakan merata setiap saat selama periode

pendapatannya. Masalahnya adalah penentuan berapa besarnya uang kas yang harus
dipegang setiap saat yang mana ongkosnya paling rendah. Hal ini mengingat bahwa
kekayaan individu itu selain berupa uang kas dapat berupa surat berharga yang
menghasilkan bunga, serta adanya ongkos untuk menukarkan surat berharga tersebut
dengan uang kas (Nopirin : 2000).
2.3 Pengertian Electonic Money
Menurut pengertian yang dikeluarkan Bank for International Settlement (BIS)
dalam suatu Kajian E-money oleh Siti Hidayati dkk (2006),
stored-value or prepaid products in which a record of the funds or value
available to a consumer is stored on an electronic device in the consumers
possession
Menurut Peraturan Bank Indonesia NOMOR: 11/12/PBI/2009, Elektronik
Money adalah alat pembayaran yang memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:
Universitas Sumatera Utara
a. Diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu oleh pemegang
kepada penerbit
b. Nilai uang disimpan secara elektronik dalam suatu media seperti server atau
chip
c. Digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang yang bukan merupakan
penerbit uang elektronik tersebut; dan
d. Nilai uang elektronik yang disetor oleh pemegang dan dikelola oleh penerbit
bukan merupakan simpanan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang
mengatur mengenai perbankan.

2.4 Ketentuan Lain E-money


Beberapa ketentuan-ketentuan lain dari e-money yang terdapat di Peraturan
Bank Indonesia (PBI) NOMOR: 11/12/PBI/2009 Tentang Uang Elektronik
(electronic money)
a. Nilai Uang Elektronik adalah nilai uang yang disimpan secara elektronik pada
suatu media yang dapat dipindahkan untuk kepentingan transaksi pembayaran
dan/atau transfer dana.
b. Prinsipal adalah Bank atau Lembaga Selain Bank yang bertanggung jawab atas
pengelolaan sistem dan/atau jaringan antar anggotanya, baik yang berperan
sebagai penerbit dan/atau acquirer, dalam transaksi Uang Elektronik yang
kerjasama dengan anggotanya didasarkan atas suatu perjanjian tertulis.
c. Penerbit adalah Bank atau Lembaga Selain Bank yang menerbitkan Uang
Elektronik.
d. Universitas Sumatera Utara
e. Acquirer adalah Bank atau Lembaga Selain Bank yang melakukan kerja sama
dengan pedagang, yang dapat memproses data Uang Elektronik yang diterbitkan
oleh pihak lain.
f. Pemegang adalah pihak yang menggunakan Uang Elektronik.

g. Pedagang (merchant) adalah penjual barang dan/atau jasa yang menerima


transaksi pembayaran dari Pemegang.
h. Pengisian Ulang adalah penambahan Nilai Uang Elektronik pada Uang
Elektronik.
i. Dana Float adalah seluruh Nilai Uang Elektronik yang diterima Penerbit atas
hasil penerbitan Uang Elektronik dan/atau Pengisian Ulang yang masih
merupakan kewajiban Penerbit kepada Pemegang dan Pedagang.
j. Tarik Tunai adalah fasilitas penarikan tunai atas Nilai Uang Elektronik yang
dapat dilakukan setiap saat oleh Pemegang.
k. Penyelenggara Kliring adalah Bank atau Lembaga Selain Bank yang melakukan
perhitungan hak dan kewajiban keuangan masing-masing Penerbit dan/atau
Acquirer dalam rangka transaksi Uang Elektronik.
l. Penyelenggara Penyelesaian Akhir adalah Bank atau Lembaga Selain Bank
yang melakukan dan bertanggungjawab terhadap penyelesaian akhir atas hak
dan kewajiban keuangan masing-masing Penerbit dan/atau Acquirer dalam
rangka transaksi Uang Elektronik berdasarkan hasil perhitungan dari
Penyelenggara Kliring.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Evolusi Sistem Pembayaran
Fungsi dan bentuk uang mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Hal ini dapat
kita lihat melalui evolusi sistem pembayaran (payments system). Dalam bukunya,
Miskhin berpendapat bahwa evolusi sistem pembayaran yang dimaksud ialah cara
bagaimana transaksi dilakukan dalam perekonomian. Sistem pembayaran telah berubah
sepanjang waktu, demikian pula dengan bentuk uang.
Pada awalnya, emas digunakan sebagai alat pembayaran utama kemudian asset
kertas seperti cek dan uang kertas mulai digunakan untuk sistem pembayaran dan
dianggap sebagai uang. Miskhin juga berpendapat bahwa sistem pembayaran berujung
pada memiliki makna penting terhadap bagaimana uang akan didefinisikan di masa
mendatang.
Diawali dari uang komoditas (commodity money), dimana uang terbuat dari
logam berharga atau komoditas berharga lainnya; misal, emas atau perak. Dari zaman
dahulu uang komoditas dijadikan sebagai alat pembayaran utama di kalangan
masyarakat kecuali masyarakat yang primitif. Tentu terdapat kelemahan atau
permasalahan yang muncul dari uang komoditas ini. Selain berat, uang komoditi juga
sulit untuk dibawa dalam jumlah besar. Terlebih kalau terjadi transaksi yang
mempunyai nilai besar.
Kemudian muncullah uang berbentuk kertas yang dinamakan uang fiat (fiat
money). Uang fiat berarti uang kertas yang dikeluarkan oleh pemerintah sebagai alat
pembayaran yang sah tetapi tidak dapat dikonversikan ke dalam bentuk koin atau
logam berharga. Kelebihan dari uang koin adalah bentuknya yang lebig ringan. Tetapi
uang kertas dapat diterima sebagai alat pembayaran jika ada kredibilitas dari otoritas
yang menerbitkan uang kertas tersebut. Sama seperti uang koin, kelemahan dari uang
kertas adalah mudah dicuri dan cukup mahal untuk dibawa dalam jumlah besar.
Maka untuk mengatasi permasalahan dari kelemahan-kelemahan alat pembayaran
sebelumnya, muncullah cek, yaitu suatu tahapan baru dalam evolusi sistem
pembayaran. Cek juga merupakan suatu hasil dari perkembangan perbankan modern.
Pengertian cek sendiri adalah suatu instruksi dari pihak pertama ke Bank pihak
pertama untuk mengirimkan uang dari rekening pihak pertama ke rekening pihak kedua
ketika pihak kedua tersebut menyetorkan cek yang diterimanya. Cek menutupi
kelemahan uang logam dan uang kertas, yaitu mahalnya jika dibawa dalam jumlah
besar. Bentuk cek hanya sehelai kertas yang dapat memungkinkan terjadinya transaksi
dalam jumlah besar tanpa harus membawa sejumlah besar mata uang. Penemuan cek
adalah suatu inovasi yang dapat meningkatkan efisiensi sistem pembayaran.
Keuntungan lain dari cek adalah dapat mengurangi kerugian seandainya cek tersebut
dicuri, dan karena cek memberikan bukti pembelian dengan nyaman.
Tetapi terdapat juga permasalahan/kelemahan dari cek. Pertama, dibutuhkannya
waktu untuk memberikan cek dari pihak pertama ke pihak kedua jika mereka berada di
tempat yang berbeda, terlebih dengan kondisi membutuhkan pembayaran dengan cepat.
Kedua, tingginya biaya administrasi dalam proses pencairan cek.

Tahapan evolusi sistem pembayaran berikutnya adalah pada zaman teknologi


yang sudah mulai maju dan berkembang, yaitu pada saat ini. Meluasnya penggunaan
internet dan juga semakin murahnya computer memunculkan pembayaran secara
elektronik. Apalagi biayanya tidaklah terlalu mahal dan sangat efisien. Beberapa bentuk
dari pembayaran secara elektronik adalah E-Banking dan E-money. E-banking
memudahkan nasabah dalam bertransaksi. Tidak perlu ngantri di kantor cabang, tidak
perlu biaya prangko untuk mengirim cek. Nasabah hanya tinggal membuka computer
dan meng-klik saja, maka transaksi sudah selesai. Terlebih sekarang muncul yang
disebut dengan SmartPhone, jadi bisa melakukan transaksi dimana saja dan kapan saja.
Bentuk kedua dari pembayaran secara elektronik ialah e-money (uang elektronik).
Uang elektronik akan menggantikan posisi dari uang tunai dari sistim pembayaran.
Bentuk dari e-money adalah kartu yang terdapat chips di dalamnya. Uang elektronik
memudahkan masyarakat untuk berbelanja tanpa harus membawa uang tunai dalam
jumlah besar. Hanya tinggal membawa kartu, menggesek maka transaksi selesai. Tidak
perlu ada kembalian, karena jumlah pembelian langsung dipotong dari saldo yang ada
di kartu. Tetapi terdapat kelemahan dari alat pembayaran e-money yang berakibat uang
tunai masih dipakai di masyarakat, yaitu pertimbangan pribadi masyarakat akan
keamanan, baik keamanan dari uang yang didalamnya maupun data atau informasi dari
nasabah. Karena sekarang ini sudah banyak kejahatan berbasis teknologi yang disebut
cyber crime.
3.2. Perkembangan E-money
1. Sejarah E-money di Dunia
Tahun 1914 merupakan tahun kelahiran kartu kredit konsumen pertama yang
dikeluarkan oleh Western Union. Juga pada tahun 1918 ketika Bank Sentral Amerika
Serikat pertama kali pindah rekening melalui telegraf.
Pada tahun 1950, Diners Club mengeluarkan kartu kredit pertama yang dapat
diterima oleh banyak pedagang yang berbeda. Itulah uang plastik pertama kali
digunakan pada tahun 1950 oleh Diners Club yang kemudian Amerika Express
meluncurkan kartu pembayaran mereka di Amerika Serikat. Setelah itu, kurang lebih
100 bank mulai mengeluarkan kartu pembayarannya. Sedangkan kartu kredit
pertama kali diterbitkan di Inggris pada tahun 1966.
Meluasnya penggunaan mata uang elektronik tidak akan bisa terjadi kalau
bukan karena Automated Clearinghouse (ACH) yang didirikan oleh Federal Reserve
AS pada tahun 1972 yang menyediakan AS Treasury dan untuk memeriksa
pengolahan bank komersial dengan sebuah alternatif elektronik. Sistem serupa
muncul di Eropa sekitar waktu yang sama, sehingga mata uang elektronik telah
banyak digunakan di seluruh dunia pada tingkat kelembagaan untuk lebih dari dua
dekade.
Pada saat ini Sistem Pembayaran di hampir semua mata uang deposito di
perbankan dunia ditangani secara elektronik melalui serangkaian jaringan komputer
antar bank.
2.

Perkembangan E-money di Indonesia

Indonesia melalui Bank Indonesia mulai mengkaji penggunaan uang


elektronik pada tahun 2000. Kemudian dilanjutkan pengkajian lanjutan pada tahun
2006 yang membahas mengenai operasionalitas uang elektronik yang dilihat dari
berbagai aspek, baik teknis maupun non-teknis.
Ketertarikan para pelaku pasar dan beberapa institusi untuk mengembangkan
sistim pembayaran ini direspon Bank Indonesia sebagai penyenggara alat
pembayaran di Indonesia dengan mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI)
No.7/52/PBI tahun 2005 tentang Penyelengaraan Kegiatan Alat Pembayaran Dengan
Menggunakan Kartu yang didalamnya juga mengatur mengenai keberadaan e-money
tersebut. Melihat perkembangannya, maka Bank Indonesia mengeluarkan Peraturan
Bank Indonesia No. : 11/ 12 /PBI/2009 Tentang Uang Elektronik (Electronic
Money). Peraturan ini dikeluarkan dikarenakan terdapat perbedaan antara e-money
dan alat pembayaran lainnya yang menggunakan kartu.
Di Indonesia sendiri, penggunaan uang elektronik (e-money) ini dimulai di
tahun 2007 tetapi masih diatur dalam pengaturan mengenai APMK (Alat
Pembayaran dengan Menggunakan Kartu). Bank Indonesia mencatat jumlah
transaksi di tahun 2007 ada sekitar 586.046 transaksi dengan nilai 5,267 milliar
rupiah dan di tahun 2008 meningkat sebanyak 2.560.591 transaksi. Kemudian di
tahun 2009, Bank Indonesia sebagai lembaga yang mempunyai otoritas moneter
mengeluarkan peraturan Bank Indonesia dengan no. 11/12/PBI/2009 Tentang Uang
Elektronik (Electronic money). Peraturan ini menjadikan pengaturan mengenai Uang
Elektronik terpisah dengan pengaturan mengenai Alat Pembayaran dengan
Menggunakan Kartu. Keluarnya PBI ini secara tidak langsung mengakibatkan
melonjaknya jumlah transaksi uang elektronik mencapai 17 juta transaksi dengan
nilai transaksi mencapai 500 milyar pada tahun 2009. Di tahun-tahun berikutnya
jumlah instrument selalu meningkat dan di akhir tahun 2011, jumlah transaksi sudah
mencapai 41 juta transaksi.
Dari data diatas terlihat bahwa perkembangan uang elektronik ini begitu cepat
dan signifikan. Adanya peningkatan terhadap penggunaan uang elektonik berarti
mengakibatkan adanya peningkatan terhadap pemintaan uang. Dari data terlihat
bahwa jumlah transaksi e-money dari tahun ke tahun terus meningkat. Diikuti juga
peningkatan nilai transaksi e-money dari tahun ke tahun. Peningkatan jumlah
transaksi terbesar terjadi dari tahun 2008 ke tahun 2009 mencapai kenaikan sebesar
581%, lebih besar dari peningkatan jumlah transaksi yang terjadi dari tahun 2007 ke
tahun 2008 yang mengalami kenaikan sebesar 337%. Setelah tahun 2009
pertumbuhan transaksi e-money tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya dan
cenderung masih lesu. Total di tahun 2012 terdapat kurang lebih 100 juta transaksi
terjadi dan mencapai total nilai transaksi sebesar 2 triliun rupiah.
Sedangkan pada grafik 3.1, terlihat perkembangan jumlah instrument dari
uang elektronik antara tahun 2007-2012. Dari tahun ke tahun selalu meningkat.
Tahun 2009 merupakan tahun kenaikan yang paling drastis dari tahun sebelumnya.
Ini dikarenakan pada tahun inilah peraturan dan surat edaran mengenai uang
elektronik dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Artinya ada aturan yang jelas mengenai
uang elektronik dan masyarakat mulai mengenal yang namanya uang elektronik.

Setelah tahun 2009, persentase kenaikan jumlah instrument uang elektronik hampir
sama. Grafik 3.1 menunjukkan perkembangan Jumlah Instrument Uang Elektronik
selama tahun 2007-2012.

Jumlah Instrument E-Money


25.000.000
20.000.000
15.000.000
10.000.000

5.000.000
2007 2008 2009 2010 2011 2012
Grafik 3.1
Perkembangan Jumlah Instrument E-money di Indonesia

Perkembangan uang elektronik tentu juga tidak lepas dari factor banyaknya
perusahaan yang menerbitkan uang elektronik. Berdasarkan data yang dikeluarkan
Bank Indonesia, saat ini terdapat 17 Perusahaan baik Swasta maupun perusahaan
pemerintah, baik itu bank ataupun perusahaan seluler yang memberikan layanan emoney. Table 3.1 menunjukkan daftar penerbit uang elektronik.

Tabel 3.1 Daftar Penerbit Uang Elektronik

No.

Daftar Penerbit Uang Elektronik


Nama Penerbit

BPD DKI JAKARTA

BANK MANDIRI

BANK CENTRAL ASIA

PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA

PT. TELEKOMUNIKASI SELULAR

BANK MEGA

PT. SKYE SAB INDONESIA

PT. INDOSAT

BANK NEGARA INDONESIA

10

BANK RAKYAT INDONESIA

11

PT. XL AXIATA

12

PT. FINNET INDONESIA

13

PT. ARTAJASA PEMBAYARAN ELEKTRONIS

14

BANK PERMATA

15

BANK CIMB NIAGA

16

PT. NUSA SATU INTI ARTHA

17

PT. BANK NATIONALNOBU

Sumber : Bank Indonesia

Dalam kajian BI mengenai e-money, Siti Hadayati dkk (2006) menilai bahwa
penerbitan e-money dinilai sebagai salah satu faktor yang dapat merubah fungsi
permintaan uang dan selanjutnya dapat menurunkan rata-rata jumlah uang tunai
(average money holdings) yang dipegang oleh masyarakat. Penurunan average
money holdings ini mengakibatkan meningkatnya velocity of money atau semakin
tingginya sirkulasi uang dalam perekonomian.
Percepatan uang (velocity of money) atau sering disebut percepatan saja
merupakan sebuah konsep yang digunakan untuk menghitung jumlah uang beredar
(M) yang dikaitkan dengan tingkat harga (P) dan ouput agregat (Y). Konsep ini
diperkenalkan oleh seorang ekonom Amerika Serikat Irving Fisher dalam bukunya
yang berjudul The Purcasing Power of Money.
Percepatan uang atau sering dilambangkan dengan huruf V dapat diartikan
sebagai rata-rata jumlah berapa kali per tahun (perputaran) dari satu unit mata uang
digunakan untuk membeli total barang dan jasa yang diproduksi dalam
perekonomian. Sederhananya bahwa percepatan menunjukkan berapa kali uang
berpindah tangan dalam suatu periode tertentu.
Menurut Irving Fisher dalam Miskhin (2008) beralasan bahwa kalau
masyarakat menggunakan kartu debit dan kartu kredit dalam melakukan
transaksinya (termasuk juga menggunakan instrument e-money), maka akan
semakin sedikit uang yang dibutuhkan untuk melakukan pembelian, maka semakin
sedikit uang yang dibutuhkan untuk melakukan transaksi yang dihasilkan oleh
pendapatan nominal akibatnya percepatan akan naik. Tetapi berlaku sebaliknya
bahwa apabila pembelian lebih banyak menggunakan uang tunai atau cek, maka
lebih banyak uang yang digunakan untuk melakukan transaksi yang dihasilkan oleh

jumlah pendapatan nominal yang sama, dan percepatan akan turun. Melihat
permasalahan di atas, maka penulis ingin menganalisis lebih jauh mengenai
permintaan uang elektonik dan hubungannya terhadap percepatan perputaran uang di
Indonesia.
Tetapi pada dasarnya perkembangan uang elektronik masih jauh dari harapan
pemerintah yang sekarang ini mulai memasuki era less cash society. Hal ini terlihat
dari IndoTelko Forum yang melakukan survey kepada dua ribu responden di
beberapa kota besar yang mengaku mampunyai telepon selular dan rekening
tabungan. Kesimpulan hasil survey ialah bahwa pemahaman masyarakat tentang
uang elektronik masih simpang siur, kemudian masih banyaknya masyarakat yang
ragu untuk menggunakan layanan ini karena berbagai alasan dan yang menjadi
alasan yang utama adalah keamanan transaksi dari layanan ini.

3.3. Kelebihan dan Kekuranga E-money


1. Kelebihan
Beberapa kelebihan dari Uang Elektronik (e-money)
a.
Cepat dan nyaman. Dibandingkan dengan uang tunai, tentu e-money lebih
cepat dan lebih nyaman khususnya untuk transaksi yang bernilai kecil.
Nasabah tidak perlu lagi membawa uang pas dan menyimpan kembalian.
b.
Proses transaksi lebih singkat daripada menggunakan kartu kredit ataupun
kartu debit karena prosesnya tidak memerlukan otorisasi on-line, tanda tangan
maupun PIN. Juga menghemat biaya komunikasi karena proses off-line.
c.
Pengisian ulang electronic value ke dalam kartu e-money dapat dilakukan
dalam berbagai sarana yang disediakan oleh issuer.
d.
Uang elektronik juga sangat berguna bagi anda yang konsumtif dan malas
mencatat pengeluaran. Ketika dana tersebut memang sudah saatnya habis,
tinggal diisi lagi sesuai bujet. Sehingga pengeluarannya terkontrol, tidak asal
menggesek kartu saja.
e.
e-money adalah multi-purposed prepaid card sehingga satu kartu e-Money
dapat digunakan untuk berbagai keperluan misalnya untuk berbelanja di
supermarket, department store, bioskop, SPBU, dan transportasi umum
tertentu yang terdaftar dalam fitur e-Money terkait. Hal ini tentu sangat
memudahkan pengguna dalam hal kenyamanan pengoperasian kartu karena
tidak perlu membawa banyak kartu untuk bertransaksi pada berbagai
keperluan belanja.
f.
Untuk memiliki e-money seseorang tidak perlu memiliki akun di bank,
sehingga sangat memudahkan kepada mereka yang belum atau tidak memiliki
akun di bank untuk memiliki kartu E-Money ini.
g.
Penggunaan e-money juga menghemat penggunaan uang kertas dan uang
logam yang biaya pencetakannya cukup besar.
h.
e-Money membantu pemerintah mengurangi peredaran uang palsu.
2.

Kekurangan
Sedangkan kelemahan/resiko dari e-money antara lain

a. Keamanan. Berkembangnya teknologi, juga dimanfaatkan oleh para penjahat


teknologi (cyber crime). Uang yang terdapat dalam kartu e-money dapat hilang
karena dicuri. Hilangnya uang elektronik tidak menjadi tanggung jawab
penerbit.
b. Resiko kebingungan. Belum semua nasabah/pengguna memahami dengan
jelas penggunaan uang elektronik dikarenakan rumitnya peraturan yang
mengaturnya.
c. Belum semua transaksi bisa memakai e-money karena e-money baru bisa
dipakai di merchant yang bekerja sama dengan penerbit
d. Risiko seluruh uang hilang ketika pengguna kehilangan kartu atau piranti yang
dipakai menyimpan e-money.
e. Sulitnya mengecek saldo menjadi kekurangan menggunakan uang elektronik.
Sehingga, saat melakukan pembayaran bisa jadi konsumen tidak mengetahui
saldonya habis. Contohnya, saat membayar di gerbang tol, pengendara
terpaksa meminta bantuan petugas karena tak mengetahui saldonya habis.
Akibatnya, terjadi hambatan saat transaksi.
f. Tak dilengkapi dengan pin dan di dalam kartu tak tertera nama pemilik,
melainkan hanya data saldo. Sehingga mudah tertukar atau hilang dengan
prosedur pengembalian yang sulit.
g. E-money yang telah banyak disediakan oleh berbagai operator atau penerbit
yang berbeda-beda ini, diantaranya belum ada saling interkoneksi serta
belum memperhatikan interoperabilitas.
h. Nominal yang tersimpan di dalam kartu e-money juga dibatasi maksimal Rp 1
juta. Bila diinginkan bisa ditingkatkan menjadi Rp 5 juta namun harus melalui
proses klarifikasi.

BAB 1V
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Perkembangan uang elektronik dari tahun 2007 hingga tahun 2013 mengalami
peningkatan. Hal ini menunjukkan adanya trend positif dalam penggunaan uang
elektronik. Tetapi peningkatannya semakin lama semakin rendah atau dapat dikatakan
semakin lambat. Hal ini disebabkan oleh karena pemahaman masyarakat akan layanan

uang elektronik masih simpang siur sehingga masih ragu-ragu dalam menggunakan
layanan ini.
Dilihat dari segi perencanaan keuangan, transaksi e-money bisa digunakan untuk
mengelola anggaran secara digital. Jadi, begitu menerima gaji, anda sekarang bisa
langsung membaginya ke dalam amplop-amplop yang berwujud kartu e-money. Anda
bisa membagi amplop-amplop digital ini sesuai dengan keperluan Anda, misalnya
amplop untuk bayar tol, amplop untuk biaya transportasi umum, amplop untuk
pembayaran berbagai tagihan rumahtangga.
E-money memang tidak bertujuan untuk mengganti uang kecil secara total. Ia
merupakan salah satu kemudahan dalam bertransaksi yang ditawarkan kepada
masyarakat. Dengan e-money, masyarakat untuk melakukan transaksi, maka mereka
tidak perlu lagi membawa uang receh, cukup menyentuhkan e-money pada sensor
alatnya.
4.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas di atas, maka penulis dapat memberikan beberapa
saran, yaitu sebagai berikut :
1. Dalam rangka memasuki era less cash society dan melihat pemahaman masyarakat
yang masih rendah akan informasi dan layanan uang elektronik sebaiknya direspon
oleh para pemegang kepentingan yang terkait uang elektronik. Bank Indonesia
sebagai pengambil kebijakan sistem pembayaran sebaiknya semakin
memperbanyak iklan ataupun bentuk informasi lainnya kepada masyarakat
mengenai layanan uang elektronik agar seluruh lapisan masyarakat semakin
mengerti dan tidak ragu-ragu dalam menggunakan layanan uang elektronik.
2. Uang elektronik (e-money) merupakan variabel yang masih dikaji oleh Bank
Indonesia, dan masih perlu lebih banyak penelitian untuk mengembangkannya.
Maka dari itu, penulis berharap lebih banyak lagi peneliti yang berminat untuk
melakukan penelitian yang membahas uang elektronik.

Daftar Pustaka
Hidayati Siti, dkk. 2006. Kajian Operasional E-money, Bank Indonesia, Jakarta.
Indrawati, Sri Mulyani. 1988. Teori Moneter, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, Jakarta.
Mankiw, N. Gregory. 2007, Makroekonomi,Erlangga, Jakarta.
Manullang, M. 1977. Ekonomi Moneter, Ghalia Indonesia, Medan.

Miskhin, Frederic S. 2008. Buku 1 Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Keuangan,
Salemba Empat, Jakarta.
_______. 2008. Buku 2 Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Keuangan, Salemba Empat,
Jakarta.
Nopirin, (2000). Ekonomi Moneter. Buku II. Edisi ke 1. Cetakan Kesepuluh. Yogyakarta.
BPFE UGM.
Peraturan Bank Indonesia No. 11/12/PBI/2009. Uang Elektronik (Electronic Money). Bank
Indonesia. Jakarta.

Website
www.bi.go.id
www.wilipedia.com
http://atmbersama.com/id/info-and-tips/2014/11/28/untung-rugi-dalam-menggunakan-emoney/
http://tabloidnova.com/Karier/Keuangan/Kenali-Kekurangan-Dan-Kelebihan-UangElektronik-Yuk
https://www.carajadikaya.com/plus-minus-penggunaan-e-money/

MAKALAH EKONOMI MONETER


PERMINTAAN DAN PENGGUNAAN UANG ELEKTONIK (E-MONEY) DI
INDONESIA
Disusun untuk memnuhi tugas Ekonomi Moneter II

Disusun Oleh

Muhammad Ilham Ashari


C1A013113

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PURWOKERTO
2016