Anda di halaman 1dari 64

BAB I

LAPORAN KASUS
A.. Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Status Perkawinan
Alamat

: Ny. NH
: 24 tahun
: Perempuan
: Menikah
: Dusun Kalipinggang RT 01/RW 14

Desa Ringinanom Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang


Agama
: Islam
Suku Bangsa
: Jawa
Pendidikan Terakhir
: SMP
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Kunjungan ke pelayanan kesehatan
: 24 Februari 2016
Kunjungan rumah
: 22 Maret 2016
B. Anamnesis Holistik (Autoanamnesis)
B.1 Aspek Klinis
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada hari Rabu, 24
Februari 2016 di Puskesmas Tempuran dan hari Selasa, 22 Maret 2016 di rumah
pasien.

a. Keluhan Utama :
Keluar bercak darah jalan lahir.
b. Keluhan Tambahan
Tidak ada.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien G1P0A0 datang dengan keluhan bercak darah dari jalan lahir
sejak 1 hari yang lalu. Bercak darah tersebut berwarna merah kecoklatan.
Bercak tidak disertai nyeri. Kenceng-kenceng (-), keluar air-air dari jalan
lahir (-), riwayat jatuh(-) riwayat minum alkohol (-)
d.
Riwayat penyakit dahulu
Pasien tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya.
e.
Riwayat penyakit keluarga
Di keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan yang serupa.
f.

Riwayat personal sosial


Riwayat pendidikan

Pasien menempuh pendidikan sampai tamat Sekolah


Menengah Pertama (SMP) di magelang.
Riwayat pekerjaan
Pasien merupakan ibu rumah tangga. Sehari-hari pasien
melakukan pekerjaan rumah tangga.
Riwayat perkawinan
Pasien menikah pada tahun 2014.
Riwayat sosial
Pasien tinggal di kawasan pedesaan di tengah lingkungan sosial
adalah warga biasa. Pergaulan umumnya berasal dari kalangan
menengah ke bawah. Pasien tidak aktif mengikuti kegiatan disekitar
lingkungan rumah seperti arisan, pertemuan RT, RW dan pengajian.
Riwayat gaya hidup
Pasien biasa mengonsumsi makanan seadanya karena pasien tidak
mengerti akan pentingnya gizi ibu hamil.
Riwayat Menstruasi
Menarche usia 12 tahun, siklus 28 hari, lama 7 hari
teratur, banyaknya 2-3 pembalut perhari.Tidak ada keluhan saat
menstruasi.
Riwayat Kontrasepsi
Pasien tidak menggunakan KB.
HPHT
HPL
Riwayat Antenatal

: 17 Juni 2015
: 24 Maret 2016
:

Pasien belum pernah melakukan pemeriksaan kehamilan

(ANC)
Riwayat penyakit dahulu :
-

Riwayat penyakit asma

: disangkal

Riwayat penyakit hipertensi

: disangkal

Riwayat penyakit diabetes mellitus

: disangkal

Riwayat penyakit jantung

: disangkal

Riwayat alergi

: disangkal

Riwayat penggunaan obat-obatan dan jamu

: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat penyakit jantung

: disangkal

Riwayat diabetes mellitus

: disangkal

Riwayat hipertensi

: disangkal

Riwayat Asma

: disangkal

Riwayat Alergi

: disangkal

Riwayat Sosial Ekonomi


-

Pasien tidak bekerja dan suami pasien bekerja sebagai karyawan


swasta. Biaya pengobatan menggunakan BPJS.

Kesan ekonomi

: cukup

Riwayat Pribadi
-

Merokok

: disangkal

Minum Alkohol : disangkal

Anamnesis Sistemik

Sistem integumentum : tidak ada keluhan


Sistem muskuloskeletal: tidak ada keluhan
Sistem gastrointestinal : tidak ada keluhan
Sistem urogenital
: tidak ada keluhan
Sistem neurologi
: tidak ada keluhan
Sistem kardiovaskular : tidak ada keluhan
Sistem respirologi
: tidak ada keluhan

Aspek Personal
Illness merupakan keadaan sakit yang dirasakan oleh manusia yang
didapat dari penyakit tersebut (bersifat subjektif). Illness terdiri dari beberapa
komponen yaitu pemahaman terhadap penyakit. Efek penyakit yang dirasakan

pasien terhadap fungsi hidupnya (pergaulan, pekerjaan), perasaan, dan


harapan. Komponen illness pada pasien yang terdiri dari aspek :
Tabel 1. 1 Komponen illness
No.
1
2

Komponen

Pasien
khawatir akan

Perasaan

Pasien

kesehatan

Ide/Pemikiran

janinnya.
Pasien merasa terganggu dengan
keluhan berupa bercak darah yang
dialami

Harapan

pasien

sehingga

pasien

datang berobat ke puskesmas.


Pasien memiliki harapan agar janin
yang dikandugnya dapat lahir dengan
normal dan sehat.

Efek terhadap fungsi sosial

Menurut

skala

pasien

termasuk

derajat 1 dimana pasien dapat secara


mandiri melakukan perawatan diri
dan melakukan seluruh aktivitasnya
tanpa dibatasi oleh masalah.

B.2 Pemeriksaan Fisik


Keadaan umum : Baik
Kesadaran
: Compos mentis
BB
: 42 Kg
BMI
TB
: 155 Cm
Tanda vital
:
TD : 110/70 mmHg RR
: 16x/menit
N : 84x/menit
T
: 36,7o C
Status Generalis

: 17,5 kg/m2

Kepala : Normocephal, warna rambut hitam, distribusi

merata, tidak mudah dicabut.


Mata : pupil isokor, konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik
(-/-), reflek cahaya langsung (+/+), reflek cahaya tidak

langsung (+/+).
Hidung : Sekret (-), septum deviasi (-).
Mulut : Mukosa bibir lembab.
Telinga : Normotia, discharge (-/-), massa (-/-)
Leher : Pembesaran KGB (-), deviasi trakea (-)
Toraks : Normochest
Paru
Inspeksi
: Simetris, gerak kedua hemitoraks simetris
pada saat statis dan dinamis, penggunaan otot bantu napas
(-)
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Vokal fremitus kanan sama dengan kiri


: Sonor diseluruh lapang paru
: Suara napas vesikuler -/-, rhonki -/-,

wheezing -/ Jantung
Inspeksi
: Pulsasi ictus cordis tidak tampak
Palpasi
: Pulsasi ictus cordis teraba pada ICS V linea
midclavicula sinistra, kuat angkat
Perkusi
:
Batas kanan atas: ICS II linea parasternal dextra
Batas kanan bawah: ICS IV linea parasternal dextra
Batas kiri atas : ICS II linea parasternal sinistra
Batas kiri bawah : ICS VI linea midclavicula sinistra
Auskultasi
: Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-),

gallop (-).
Abdomen

Inspeksi : tidak terlihat dilatasi vena, striae gravidarum (+).


Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi
: Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba
membesar
Perkusi
: Timpani diseluruh regio abdomen

Pemeriksaan obstetrikus :
-

Inspeksi :
striae gravidarum (+)

Pemeriksaan luar :

Tinggi Fundus Uteri : 23 cm

HIS (-) jarang

DJJ : (+) 144x/menit, reguler

Palpasi :
Leopold 1 : teraba bulat, lunak
Leopold 2 : kiri: teraba bagian rata, keras seperti papan; kanan :
teraba bagian kecil-kecil

Leopold 3 : teraba bagian bulat, keras dan tidak melenting

Leopold 4 : bagian terbawah janin belum masuk pintu atas


panggul,konvergen (4/5)

Pemeriksaan Dalam
VT

:Tidak dilakukan

Ekstremitas: Akral hangat, CRT < 2 detik, sianosis (-)


B.3. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang
B.4. Diagnosis Klinis
G1P0A0, 24 tahun, Hamil 35 minggu
Janin tunggal Intrauterin,
Presentasi Kepala, U
Susp. Perdarahan antepartum
B.5 Kunjungan Rumah
B.5,1 Kondisi pasien
Pada saat kunjungan rumah pada tanggal 22 Maret 2016, pasien
dalam kondisi sehat. Pasien mengatakan sudah tidak ada darah yang keluar
dari jalan lahir, tidak ada nyeri perut dan tidak ada demam.
B.5.2 Keadaan rumah
a. Lokasi
Pasien tinggal di rumah milik sendiri yang terletak di pemukiman
penduduk yang tidak terlalu padat dan termasuk pemukiman biasa.

b. Kondisi rumah
Bentuk bangunan rumah terdiri atas 1 lantai. Secara umum rumah
terdiri atas 1 ruang tamu (ukuran 3x6 m2), 1 ruang tidur (ukuran 3x4
m2), ruang makan (ukuran 3x2 m2), 1 kamar mandi (ukuran 3x5 m 2)
dengan WC, dan dapur (ukuran 4x3 m2).
c. Luas
Rumah memiliki luas sekitar 100 m2.
d. Lantai rumah
Seluruh lantai rumah pasien berbentuk tanah, lantai rumah tidak kedap
air dan sulit dibersihkan.
e. Jendela rumah
Jendela terdapat di seluruh ruangan yang ada di rumah dan selalu
dibuka setiap harinya.
f. Pencahayaan
Pencahayaan disetiap

ruangan di rumah pasien termasuk kurang

terang sehingga tidak bisa membaca tanpa bantuan penerangan lampu.


g. Kebersihan dan tata letak ruang
Kebersihan rumah kurang, barang-barang yang ada di dalam rumah
diletakkan dengan kurang rapih dan ruang kurang tertata
h. Sanitasi dasar
Dilihat dari aspek sanitasi, maka beberapa sarana lingkungan yang
berkaitan dengan perumahan sehat adalah sebagai berikut:
a. Saluran Pembuangan Air Limbah
Sarana pembuangan air limbah di rumah pasien langsung di
resapkan kedalam tanah sehingga tidak ada genangan air
disekitar rumah pasien.
b. Jamban/Kakus
Jamban/kakus dirumah pasien berbentuk setengah terbuka
sehingga mengganggu pandangan dan menimbulkan bau.
Kakus/jamban tersebut memiliku lantai yang kuat dan tempat
berpijak yang kuat yang memiliki lubang kloset berbentuk leher
angsa yang dilengkapi dengan septiktank, namun letak
septiktank dirumah pasien berjarak <10m.

c. Tempat Sampah
Sampah yang ada dirumah pasien biasanya dikumpulkan
ditempat sampah lalu dibakar bila sudah terkumpul cukup
banyak.
i. Halaman
Halaman rumah pasien cukup luas, halaman rumah dimanfaatkan
sebagai tempat menjemur pakaian dan ditanami berbagai jenis tanaman
oleh pasien. Halaman rumah dibersihkan sebanyak 2-3kali dalam satu
minggu
j. Kesan kebersihan
Kebersihan rumah pasien termasuk ke dalam kategori rumah dalam
keadaan kebersihan kurang.
k. Denah rumah

Gambar 1. 1 Denah Rumah


Keterangan Denah Rumah
1. Teras Rumah
2.
3.
4.
5.
6.

Ruang Tamu
Kamar utama
Kamar mandi
Dapur
Gudang
Tabel 1. 2 indikator rumah sehat

Indikator

Lokasi
Kepadatan

Variabel

Skor

a. Tidak rawan banjir


b. Rawan banjir
a. Tidak padat (>8m2/ orang)

3
1
3

Skor rumah
pasien
(tanda )

rumah
Lantai

Pencahayaan
Ventilasi
Air bersih

Pembuangan
kotoran kakus

Septic tank
Kepemilikan
WC
SPAL

Saluran got

Pengelolaan
sampah

Polusi udara

b. Padat (<8m2/ orang)


a. Semen, ubin, keramik,
kayu
b. Tanah
a. Cukup
b. Tidak cukup
a. Ada
b. Tidak ada
a. Air kemasan
b. Ledeng/ PAM
c. Mata air terlindung
d. Sumur pompa tangan
e. Sumur terlindung
f. Sumur tidak terlindung
g. Mata air tidak terlindung
h. Lain-lain
a. Leher angsa

1
3

b. Plengsengan
c. Cemplung/ cubuk
d. Kolam
ikan/
sungai/
kebun
e. Tidak ada
a. Jarak > 10 meter
b. Lainnya
a. Sendiri

2
2
1

b.
c.
a.
b.
c.
a.
b.
c.
d.
a.

Bersama
Tidak ada
Saluran tertutup
Saluran terbuka
Tanpa saluran
Mengalir lancar
Mengalir lambat
Tergenang
Tidak ada got
Diangkut petugas

2
1
3
2
1
3
2
1
1
3

b.
c.
d.
e.
f.
g.
a.

Ditimbun
Dibuat kompos
Dibakar
Dibuang ke kali
Dibuang sembaragan
Lainnya
Tidak ada

2
3
2
1
1
1
3

1
3
1
3
1
3
3
2
2
2
1
1
1
3

1
3
1
3

Bahan
masak

b. Ada gangguan
bakar a. Listrik, gas

1
3

b. Minyak tanah
2

c. Kayu bakar
1
d. Arang/ batu bara
1
Total skor
28
Penetapan skor kategori rumah sehat:
a. Baik
: Skor 35-42 (>83%)
b. Sedang
: Skor 29-34 (69-83%)
c. Kurang
: Skor <29 (<69%)
Pada pasien termasuk ke dalam kategori rumah dalam kondisi kurang.
C. Pengamatan Keluarga
C. 1 Demografi
Daftar anggota keluarga yang tinggal dalam 1 rumah dalam 1 tahun
terakhir :
Tabel 1. 3 Daftar Anggota Keluarga Serumah
No

Nama

Eri

Kedudu
kan

Suami

Jeni
s
Kela
min
(L/P
)
L

Umu
r
(Tah
un/
Bula
n)
23

Apriliya Pasien

Aga
ma

Su
ku

Stat
us
Mar
ital

Pen
didi
kan

Peke
rjaan

Isla

Ja

Men

Tam

Kary

wa

ikah

at

awan

SMP

swast

nto

a
2

Nurhali

Pasien

24

mah

Isla

Ja

Men

Tam

Ibu

wa

ikah

at

Rum

SMP

ah
Tang

By Ny Anak
Nurhali

Pasien

mah

Isla

Ja

Belu Belu

wa

men

seko

ikah

lah

ga
-

Keterangan:

10

1. Pekerjaan disebutkan rinci jenis pekerjaan/ jenis aktivitas


berkaitan dengan kedokteran okupasi untuk menilai faktor
risiko gangguan kesehatan / penyakit akibat kerja.
2. Pendidikan disebutkan jenjang pendidikan terakhir yang
mendapatkan surat kelulusan.

Gambar 1. 2 Genogram
=
=
=
=

Laki-laki
Perempuan
Penderita
Tinggal satu rumah

1. 5. Family Map

Anak

Ayah

Gambar 1. 3 Family map

Ibu

D. Identifikasi Fungsi-Fungsi Keluarga (APGAR)


Tabel 1. 4 Komponen APGAR
Komponen

Adaptation

Partnership

Indikator

Saya hampir selalu saya


dapat kembali pada
keluarga (teman-teman)
saya, untuk membantu
saya pada waktu saya
Mendapat kesusahan
Saya kadang-kadang

Hampir
tidak
pernah
(0)

Kadangkadang
(1)

Hampir
selalu
(2)

11

Growth

Affection

Resolve

merasa puas dengan cara


keluarga (teman-teman)
saya, untuk
membicarakan sesuatu
dengan saya dan
mengungkapkan masalah
dengan saya
Saya hampir selalu puas
bahwa keluarga (temanteman) saya, menerima
dan mendukung
keinginan saya untuk
melakukan aktifitas atau
arah baru
Saya kadang-kadang
puas dengan cara
keluarga (teman-teman)
saya, mengekpresikan
afek dan berespon
terhadap emosi-emosi
saya seperti marah sedih
atau mencintai
Saya kadang-kadang
puas dengan cara
keluarga (teman-teman)
saya, dan saya
menyediakan waktu
bersama-sama

Skor total

Klasifikasi :
Skor 8-10 : fungsi keluarga sehat
Skor 4-7
: fungsi keluarga kurang sehat
Skor 0-3
: fungsi keluarga sakit
Pada pasien termsuk ke dalam kategori fungsi keluarga kurang sehat.
E. Sumber Daya Keluarga (FAMILY SCREEM)
Tabel 1.5 Family Screem
Komponen
Social

Sumber daya
Seluruh anggota keluarga
pasien sering berkumpul
bersama di ruang makan atau
di ruang tamu untuk berbagi

Patologis
Tidak ada

12

Cultural

Religious

Economy

Educatioon

Medical

cerita atau berdiskusi.


Pasien dan keluarga tidak
aktif dalam melakukan
kegiatan di lingkungan
tempat tinggalnya sesuai
dengan kebudayaan Jawa
yang berlaku.
Pasien dan keluarga semua
beragama Islam dan
menunaikan sholat
Suami pasien bekerja sebagai
karyawan di tempat alat tulis
di sekitar tempat tinggal

Pendidikan terakhir pasien


dan suami pasien adalah
SMP. Kesadaran pasien dan
suami pasien untuk rencana
pendidikan anaknya belum
cukup
Pasien memiliki jaminan
kesehatan berupa BPJS, serta
jarak dari rumah ke
Puskesmas cukup dekat

Suami pasien dan pasien


sering menutup diri dari
lingkungan karena tetangga
pasien seringkali salahpaham
dengan suami pasien
Suami pasien dan pasien
jarang menunaikan sholat
Pasien tidak bekerja sehingga
tidak memiliki pendapatan,
sedangkan suami bekerja
sebagai karyawan swasta
dengan pendapatan Rp
1.500.000,- untuk
menghidupi anggota
keluarganya.
Tidak ada

Tidak ada

F. Perjalanan Hidup Keluarga (Family Life Line)


Tabel 1. 6 Family Life Line
Tahun
2006

Usia
15 tahun

2014

22 tahun

Peristiwa
Pasien
menyelesaikan
jenjang pendidikan
SMP, pasien tidak
melanjutkan
pendidikan karena
biaya.
Pasien menikah
dengan suaminya
sekarang.

Severity of Illness

13

2016

24 tahun

Pasien dan
suaminya sedang
menunggu
kelahiran anak
pertama

Kepuasan dalam
perkawinan
menurun karena
pasien dan suami
sedang menjalani
proses
pembelajaran
menjadi orang tua

G. Family Life Cycle


Pada keluarga termasuk ke dalam bentuk keluarga inti dimana terapat
suami, istri dan anak. Sedangkan untuk siklus hidup keluarga termasuk dalam
Childbearing family dimana suatu keluarga dengan (kelahiran anak pertama
sampai berusia 30 bulan), berlangsung sekitar 2.5 tahun.
H Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat
Tabel 1. 7 Indikator PHBS
No
Indikator PHBS
.
1 Keluarga biasa makan dengan gizi seimbang
2 Menggunakan air bersih untuk kebutuhan
sehari-hari
3 Keluarga biasa BAB di jamban sehat
4 Membuang sampah pada tempatnya sehari-hari
5 Menggunakan lantai rumah kedap air (bukan
tanah)
6 Melakukan aktifitas fisik minimal 30 menit
perhari
7 Tidak merokok
8 Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
9 Menggosok gigi minimal 2 kali sehari
10 Membeli/menyimpan /menjual minum-minuman
keras (bir, alkohol, arak, anggur)/narkoba?
11 Anggota JPK/Dana Sehat/Asuransi
Kesehatan/JAMKESMAS (peserta JKN/BPJS)?
12 Melakukan pemberantasan sarang nyamuk
(PSN) seminggu sekali
Kesimpulan : Keluarga berperilaku hidup bersih dan sehat.

Ya

Tidak

I. Diagnosis Holistik
G1P0A0 dengan perdarahan anterpartum pada wanita berusia 24 tahun karena
kurangnya pengetahuan mengenai pemeriksaan kehamilan (ANC), tanda
14

bahaya saat kehamilan, masalah ekonomi yang berdampak pada gizi ibu hamil
dan kurangnya pengetahuan suami tentang kehamilan.
J. Manajemen Komprehensif
a. Promotif
Edukasi kepada pasien dan keluarga (minimal melibatkan 1 orang anggota
keluarga jika memungkinkan) tentang :
1. Pemeriksaan kehamilan (ANC)
2. Gambaran bahwa perdarahan anterpartum merupakan tanda bahaya
saat kehamilan.
3. Edukasi tentang perdarahan anterpartum dan komplikasi yang dapat
timbul serta penatalaksanaan segera
4. Pentingnya bagi pasien untuk menghindari faktor pencetus trauma,
aktivitas berlebihan, hubungan seksual dan konsumsi obat-obatan/
jamu yang dapat membahayakan kehamilan. Pentingya minum obat
secara teratur sesuai anjuran dokter.
5. Mendapatkan KIE untuk mengatasi kurangnya pengetahuan tentang
perdarahan antepartum dan komplikasinya.
b. Preventif
1. Menghindari faktor pencetus yang menyebabkan perdarahan
antepartum
c. Kuratif
Saat pasien mengeluhkan adanya perdarahan pada saat kehamilan lebih
dari 28 minggu maka dapat didiagnosis sebagai perdarahan antepartum
sehingga untuk penatalaksanaan secara lanjut diperlukan pemeriksaan
lebih lanjut di fasilitas kesehatan yang memadai (memiliki dokter spesialis
obgyn serta alat penunjang lainnya. seperti USG) maka pada pasien ini
dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.
d. Rehabilitatif
Belum perlu dilakukan.
e. Paliatif
Belum perlu dilakukan.

15

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kedokteran Keluarga
A.1 Definisi Dokter Keluarga
Menurut WONCA, 1991 dalam Prasetyawati, dokter keluarga
adalah dokter yang mengutamakan penyediaan pelayanan komprehensif
bagi semua orang yang mencari pelayanan kedokteran, dan mengatur
pelayanan oleh provider lain bila diperlukan. Dokter ini adalah seorang
generalis yang menerima semua orang yang membutuhkan pelayanan
kedokteran tanpa adanya pembatasan usia, gender, ataupun jenis penyakit.
Dikatakan pula bahwa dokter keluarga adalah dokter yang mengasuh
individu sebagai bagian dari keluarga dan dalam lingkup komunitas dari
individu tersebut. Tanpa membedakan ras, budaya, dan tingkatan sosial.
Secara klinis, dokter ini berkompeten untuk menyediakan pelayanan
dengan sangat mempertimbangkan dan memperhatikan latar belakang
budaya, sosioekonomi, dan psikologis pasien. Dokter ini bertanggung
jawab

atas

berlangsungnya

pelayanan

yang

komprehensif

dan

bersinambung bagi pasiennya.


16

Sementara menurut Ikatan Dokter Indonesia, dokter keluarga


adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan yang
berorientasi komunitas dengan titik berat kepada keluarga, tidak hanya
memandang penderita sebagai individu yang sakit tetapi sebagai bagian
dari unit keluarga dan tidak hanya menanti secara pasif, tetapi bila perlu
aktif mengunjungi penderita atau keluarganya
A.2 Definisi Pelayanan Dokter Keluarga
The American Academy of Family Physician mendefinisikan
pelayanan dokter keluarga dalam dua rumusan. Rumusan pertama adalah
pelayanan kedokteran yang menyeluruh yang memusatkan pelayanannya
kepada keluarga sebagai suatu unit, dimana tanggung jawab dokter
terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis
kelamin pasien, juga tidak oleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu
saja.
Sementara rumusan kedua berbunyi pelayanan dokter keluarga
adalah pelayanan spesialis yang luas yang bertitik tolak dari suatu pokok
ilmu yang dikembangkan dari berbagai disiplin ilmu lainnya terutama ilmu
penyakit dalam, ilmu kesehatan anak, ilmu kebidanan dan kandungan,
ilmu bedah serta ilmu kedokteran jiwa, yang secara keseluruhan
membentuk kesatuan yang terpadu, diperkaya dengan ilmu perilaku,
biologi dan ilmu - ilmu klinik, dan karenanya mampu mempersiapkan
dokter untuk mempunyai peranan yang unik dalam menyelenggarakan
penatalaksanaan pasien, penyelesaian masalah, pelayanan konseling, serta

17

dapat bertindak sebagai dokter pribadi yang mengkoordinasikan seluruh


pelayanan kesehatan.
Rumusan yang pertama, karena menunjuk pada karakteristik
pelayanan, lebih ditujukan untuk kepentingan penyelenggaraan pelayanan.
Sedangkan rumusan yang kedua, karena lebih menunjuk pada penerapan
disiplin ilmu, lebih ditujukan untuk kepentingan pendidikan dan pelatihan.
A.3 Standar Kompetensi Dokter Keluarga
Perbedaan garis kompetensi yang tegas antara Dokter Keluarga
dengan Dokter yang melaksanakan pelayanan dengan pendekatan
kedokteran keluarga, memang sangat sulit dilakukan. Namun demi
kepentingan pasien, dokter yang bekerja di pelayanan primer diharapkan
memiliki kemampuan untuk melaksanakan prinsip prinsip pelayanan
dokter keluarga.
Prinsip prinsip pelayanan dokter keluarga di Indonesia mengikuti
anjuran WHO dan WONCA yang mencantumkan prinsip prinsip ini
dalam banyak terbitannya. Prinsip prinsip ini juga merupakan simpulan
untuk dapat meningkatkan kualitas layanan dokter primer dalam
melaksanakan pelayanan kedokteran. Prinsip prinsip pelayanan /
pendekatan kedokteran keluarga adalah memberikan / mewujudkan :
1.
2.
3.
4.
5.

Pelayanan yang holistic dan komprehensif


Pelayanan yang kontinu
Pelayanan yang mengutamakan pencegahan
Pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif
Penanganan personal bagi setiap pasien sebagai bagian integral

dari keluarganya
6. Pelayanan yang mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja,
dan lingkungan tempat tinggalnya
7. Pelayanan yang menjunjung tinggi etika dan hukum
18

8. Pelayanan yang dapat diaudit dan dapat dipertanggungjawabkan


9. Pelayanan yang sadar biaya dan sadar mutu
Dengan melihat pada prinsip pelayanan yang harus dilaksanakan,
maka disusun kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang dokter untuk
dapat disebut menjadi dokter keluarga.
Kompetensi dokter keluarga seperti yang tercantum dalam Standar
Kompetensi Dokter Keluarga yang disusun oleh Perhimpunan Dokter
Keluarga Indonesia tahun 2006 adalah :
1. Kompetensi Dasar
a. Ketrampilan Komunikasi Efektif
b. Ketrampilan Klinik Dasar
c. Ketrampilan menerapkan dasar dasar ilmu biomedik, ilmu klinik, ilmu perilaku,
dan epidemiologi dalam praktek kedokteran keluarga
d. Ketrampilan pengelolaan masalah kesehatan pada individu, keluarga ataupun
masyarakat dengan cara yang komprehensif, holistik, berkesinambungan,
terkoordinir, dan bekerja sama dalam konteks Pelayanan Kesehatan Primer
e. Memanfaaatkan, menilai secara kritis, dan mengelola informasi
f. Mawas diri dan pengembangan diri / belajar sepanjang hayat
g. Etika, moral, dan profesionalisme dalam praktik
2. Ilmu dan Ketrampilan Klinis Layanan Primer Cabang Ilmu Utama
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Bedah
Penyakit Dalam
Kebidanan dan Penyakit Kandungan
Kesehatan Anak
THT
Mata
Kulit dan Kelamin
Psikiatri
Saraf
Kedokteran Komunitas
3. Ketrampilan Klinis Layanan Primer Lanjut

a. Ketrampilan melakukan health screening


b. Menafsirkan hasil pemeriksaan laboratorium lanjut

19

c. Membaca hasil EKG


d. Membaca hasil USG
e. BTLS, BCLS, dan BPLS
4. Ketrampilan Pendukung
a. Riset
b. Mengajar kedokteran keluarga
5. Ilmu dan Ketrampilan Klinis Layanan Primer Cabang Ilmu Pelengkap
a. Semua cabang ilmu kedokteran lainnya
b. Memahami dan menjembatani pengobatan alternatif
6. Ilmu dan Ketrampilan Manajemen Klinik
a. Manajemen klinik dokter keluarga
Standar Kompetensi Dokter Keluarga menurut Deklarasi WONCA
WHO tahun 2003 meliputi :
1. Melaksanakan asuhan bagi pasien dalam kelompok usia tertentu
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Bayi baru lahir


Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Wanita hamil dan menyusui
Lansia wanita dan pria

2. Mengintegrasikan komponen asuhan komprehensif


a.
b.
c.
d.
e.
f.

Memahami epidemiologi penyakit


Melakukan anamnesis dan pemeriksaan jasmani secara memadai
Memahami ragam perbedaan faali dan metabolisme obat
Menafsirkan hasil pemeriksaan laboratorium dan radiologi
Menyelenggarakan penilaian risiko khusus usia tertentu
Menyelenggarakan upaya pencegahan, penapisan, dan panduan

serta penyuluhan gizi


g. Memahami pokok masalah perkembangan normal
h. Menyelenggarakan konseling psikologi dan perilaku
i. Mengkonsultasikan atau merujuk pasien tepat pada waktunya bila
diperlukan

20

j. Menyelenggarakan layanan paliatif dan jelang ajal


k. Menjunjung tinggi aspek etika pelayanan kedokteran
3. Mengkoordinasikan layanan kesehatan
a. Dengan keluarga pasien
1 1) Penilaian keluarga
2 2) Menyelenggarakan pertemuan keluarga (pasien)
3 3) Pembinaan dan konseling keluarga
b. Dengan masyarakat
1) Penilaian kesehatan masyarakat dan epidemiologi
2) Pemeriksaan / penilaian masyarakat
3) Mengenali dan memanfaatkan sumber daya masyarakat
4) Program pencegahan dan pendidikan bagi masyarakat
5) Advokasi / pembelaan kepentingan kesehatan masyarakat
4. Menangani masalah masalah kesehatan yang menonjol
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.

Kelainan alergik
Anestesia dan penanganan nyeri
Kelainan yang mengancam jiwa dan kegawatdaruratan
Kelainan kardiovaskular
Kelainan kulit
Kelainan mata dan telinga
Kelainan saluran cerna
Kelainan perkemihan dan kelamin
Kelainan obstetrik dan ginekologi
Penyakit infeksi
Kelainan muskuloskeletal
Kelainan neoplastik
Kelainan neurologi
Psikiatri

5. Melaksanakan profesi dalam tim penyedia kesehatan


a.
b.
c.
d.
e.

Menyusun dan menggerakkan tim


Kepemimpinan
Ketrampilan manajemen praktik
Pemecahan masalah konflik
Peningkatan kualitas

A.4 Karakteristik Pelayanan Dokter Keluarga


Pelayanan dokter keluarga mempunyai beberapa karakteristik yang
menurut para ahli dibedakan dan diuraikan sebagai berikut :

21

1. Lan R. McWhinney :
a. Lebih mengikatkan diri pada kebutuhan pasien secara keseluruhan,
bukan pada disiplin ilmu kedokteran, kelompok penyakit atau
teknik-teknik kedokteran tertentu.
b. Berupaya mengungkapkan kaitan munculnya suatu penyakit
dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya.
c. Menganggap setiap kontak dengan pasiennya sebagai suatu
kesempatan untuk menyelenggarakan pelayanan pencegahan
penyakit atau pendidikan kesehatan.
d. Memandang dirinya sebagai masyarakat yang berisiko tinggi.
e. Memandang dirinya sebagai bagian dari jaringan pelayanan
kesehatan yang tersedia di masyarakat.
f. Diselenggarakan dalam suatu daerah domisili yang sama dengan
pasiennya.
g. Melayani pasien di tempat praktek, di rumah dan di rumah sakit.
h. Memperhatikan aspek subjektif dari ilmu kedokteran.
i. Diselenggarakan oleh seorang dokter yang bertindak sebagai
manager dari sumber - sumber yang tersedia.
2. Ikatan Dokter Indonesia
a. Yang melayani penderita tidak hanya sebagai orang perorang,
melainkan sebagai anggota satu keluarga dan bahkan sebagai
anggota masyarakat sekitarnya.
b. Yang memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan
memberikan perhatian kepada penderita secara lengkap dan
sempurna, jauh melebihi jumlah keseluruhan keluhan yang
disampaikan.
c. Yang mengutamakan pelayanan kesehatan guna meningkatkan
derajat kesehatan seoptimal mungkin, mencegah timbulnya
penyakit dan mengenal serta mengobati penyakit sedini mungkin.
d. Yang mengutamakan pelayanan kesehatan sesuai dengan

22

kebutuhan dan berusaha memenuhi kebutuhan tersebut sebaik baiknya.


e. Yang menyediakan dirinya sebagai tempat pelayanan kesehatan
tingkat pertama dan bertanggung jawab pada pelayanan kesehatan
lanjutan.
A.5 Tujuan Pelayanan Dokter Keluarga
Tujuan pelayanan dokter keluarga mencakup bidang yang amat
luas sekali. Jika disederhanakan secara umum dapat dibedakan atas dua
macam:
1. Tujuan Umum
Tujuan umum pelayanan dokter keluarga adalah sama
dengan tujuan pelayanan kedokteran dan atau pelayanan kesehatan
pada umumnya, yakni terwujudnya keadaan sehat bagi setiap
anggota keluarga.
2. Tujuan Khusus
a. Terpenuhinya

kebutuhan

keluarga

akan

pelayanan

kedokteran yang lebih efektif. Bila dibandingkan dengan


pelayanan kedokteran yang lain, pelayanan dokter keluarga
memang lebih efektif. Ini disebabkan karena dalam
menangani suatu masalah kesehatan, perhatian tidak hanya
ditujukan

pada

keluhan

pasien

semata,

melainkan

memandang pasien sebagai manusia seutuhnya, dan bahkan


sebagai bagian anggota keluarga dengan lingkungannya
masing-masing. Dengan metode seperti ini diharapkan

23

penyelesaian masalah kesehatan dapat dilakukan secara


sempurna dan memuaskan.
b. Terpenuhinya kebutuhan

keluarga

akan

pelayanan

kedokteran yang lebih efisien. Pelayanan kedokteran


keluarga lebih efisien disebabkan pelayanan kedokteran
keluarga lebih mengutamakan pelayanan pencegahan
penyakit yang diselnggarakan secara menyeluruh, terpadu,
dan

berkesinambungan.

Hal

ini

bertujuan

untuk

menurunkan angka jatuh sakit, yang secara tidak langsung


akan menurunkan biaya kesehatan. Dengan pelayanan yang
menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan dapat dihindari
tindakan atau pemeriksaan yang berulang-ulang, yang besar
peranannya

dalam

mencegah

penghamburan

dana

kesehatan yang bersifat tidak terbatas.


A.6 Standar Pelayanan Kedokteran Keluarga
1. Standar Pemeliharaan Kesehatan di Klinik (Standards of
clinical care)
a. Standar Pelayanan Paripurna (standard of comprehensive of
care)
Pelayanan

yang

disediakan

dokter

keluarga

adalah

pelayanan medis strata pertama untuk semua orang yang bersifat


paripurna (comprehensive), yaitu termasuk pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan (promotive), pencegahan penyakit dan
proteksi khusus (preventive and spesific protection), pemulihan
kesehatan (curative), pencegahan kecacatan (disability limitation)

24

dan

rehabilitasi

setelah

sakit

(rehabilitation)

dengan

memperhatikan kemampuan sosial serta sesuai dengan mediko


legal etika kedokteran.
1) Pelayanan medis strata pertama untuk semua orang
Pelayanan dokter keluarga merupakan praktik umum
dengan pendekatan kedokteran keluarga yang memenuhi standar
pelayanan dokter keluarga dan diselenggarakan oleh dokter yang
sesuai dengan standar profesi dokter keluarga serta memiliki surat
ijin pelayanan dokter keluarga dan surat persetujuan tempat
praktik.
2) Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
Pelayanan

dokter

keluarga

memiliki

sistim

untuk

memperhatikan pemeliharaan kesehatan dan peningkatan kesehatan


pasien dan keluarganya.
3) Pencegahan penyakit dan proteksi khusus
Pelayanan

dokter

keluarga

memiliki

sistim

untuk

menggunakan segala kesempatan dalam menerapkan pencegahan


masalah kesehatan pada pasien dan keluarganya.
4) Deteksi dini
Pelayanan

dokter

keluarga

memiliki

sistim

untuk

menggunakan segala kesempatan dalam melaksanakan deteksi dini


penyakit dan melakukan penatalaksanaan yang tepat untuk itu.
5) Kuratif medik
25

Pelayanan

dokter

keluarga

memiliki

sistim

untuk

melaksanakan pemulihan kesehatan dan pencegahan kecacatan


pada strata pelayanan tingkat pertama, termasuk kegawatdaruratan
medik, dan bila perlu akan dikonsultasikan dan / atau dirujuk ke
pusat pelayanan kesehatan dengan strata yang lebih tinggi.
6) Rehabilitasi medik dan sosial
Pelayanan

dokter

keluarga

memiliki

sistim

untuk

menerapkan segala kesempatan rehabilitasi pada pasien dan / atau


keluarganya setelah mengalami masalah kesehatan atau kematian
baik dari segi fisik, jiwa maupun sosial.
7) Kemampuan sosial keluarga
Pelayanan

dokter

keluarga

memiliki

sistim

untuk

memperhatikan kondisi sosial pasien dan keluarganya.


8) Etik medikolegal
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim yang sesuai
dengan mediko legal dan etik kedokteran.
b. Standar Pelayanan Medis (standard of medical care)
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga merupakan
pelayanan medis yang melaksanakan pelayanan kedokteran secara
lege artis.
1) Anamnesis
Pelayanan dokter keluarga melaksanakan anamnesis dengan
pendekatan pasien (patient-centered approach) dalam rangka
26

memperoleh keluhan utama pasien, kekhawatiran dan arapan


pasien

mengenai

keluhannya

tersebut,

serta

memperoleh

keterangan untuk dapat menegakkan diagnosis.


2) Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Dalam rangka memperoleh tanda - tanda kelainan yang
menunjang diagnosis atau menyingkirkan diagnosis banding,
dokter keluarga melakukan pemeriksaan fisik secara holistik; dan
bila perlu menganjurkan pemeriksaan penunjang secara rasional,
efektif dan efisien demi kepentingan pasien semata.
3) Penegakkan diagnosis dan diagnosis banding
Pada setiap pertemuan, dokter keluarga menegakkan
diagnosis kerja dan beberapa diagnosis banding yang mungkin
dengan pendekatan diagnosis holistik.
4) Prognosis
Pada

setiap penegakkan diagnosis,

dokter keluarga

menyimpulkan prognosis pasien berdasarkan jenis diagnosis,


derajat keparahan, serta tanda bukti terkini (evidence based).
5) Konseling
Untuk membantu pasien (dan keluarga) menentukan pilihan
terbaik

penatalaksanaan

untuk

dirinya,

dokter

keluarga

melaksanakan konseling dengan kepedulian terhadap perasaan dan


persepsi pasien (dan keluarga) pada keadaan di saat itu.
6) Konsultasi
27

Pada saat - saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan


konsultasi ke dokter lain yang dianggap lebih piawai dan / atau
berpengalaman. Konsultasi dapat dilakukan kepada dokter keluarga
lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, atau dinas
kesehatan, demi kepentingan pasien semata.
7) Rujukan
Pada saat - saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan
rujukan ke dokter lain yang dianggap lebih piawai dan/atau
berpengalaman. Rujukan dapat dilakukan kepada dokter keluarga
lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, rumah sakit atau
dinas kesehatan, demi kepentingan pasien semata.
8) Tindak lanjut
Pada saat - saat dinilai perlu, dokter keluarga menganjurkan
untuk dapat dilaksanakan tindak lanjut pada pasien, baik
dilaksanakan di klinik, maupun di tempat pasien.
9) Tindakan
Pada saat - saat dinilai perlu, dokter keluarga memberikan
tindakan medis yang rasional pada pasien, sesuai dengan
kewenangan dokter praktik di strata pertama, dan demi
kepentingan pasien.
10) Pengobatan rasional

28

Pada

setiap

anjuran

pengobatan,

dokter

keluarga

melaksanakannya dengan rasional, berdasarkan tanda bukti


(evidence based) yang sahih dan terkini, demi kepentingan pasien.
11) Pembinaan keluarga
Pada saat - saat dinilai bahwa penatalaksanaan pasien akan
berhasil lebih baik, bila adanya partisipasi keluarga, maka dokter
keluarga menawarkan pembinaan keluarga, termasuk konseling
keluarga.
c. Standar Pelayanan Menyeluruh (standard of holistic of care)
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat
menyeluruh, yaitu peduli bahwa pasien adalah seorang manusia
seutuhnya yang terdiri dari fisik, mental, sosial dan spiritual, serta
berkehidupan di tengah lingkungan fisik dan sosialnya.
1) Pasien adalah manusia seutuhnya
Pelayanan

dokter

keluarga

memiliki

sistim

untuk

memandang pasien sebagai manusia yang seutuhnya.


2) Pasien adalah bagian dari keluarga dan lingkungannya
Pelayanan

dokter

keluarga

memiliki

sistim

untuk

memandang pasien sebagai bagian dari keluarga pasien, dan


memperhatikan bahwa keluarga pasien dapat mempengaruhi
dan/atau dipengaruhi oleh situasi dan kondisi kesehatan pasien.
3) Pelayanan menggunakan segala sumber di sekitarnya

29

Pelayanan dokter keluarga mendayagunakan segala sumber


di sekitar kehidupan pasien untuk meningkatkan keadaan
kesehatan pasien dan keluarganya.

d. Standar Pelayanan Terpadu (standard of integration of care)


Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat terpadu,
selain merupakan kemitraan antara dokter dengan pasien pada saat
proses penatalaksanaan medis, juga merupakan kemitraan lintas
program dengan berbagai institusi yang menunjang pelayanan
kedokteran, baik dari formal maupun informal.
1) Koordinator penatalaksanaan pasien
Pelayanan dokter keluarga merupakan koordinator dalam
penatalaksanaan pasien yang diselenggarakan bersama, baik
bersama antar dokter pasien - keluarga, maupun bersama antar
dokter pasien - dokter spesialis / rumah sakit.
2) Mitra dokter-pasien
Pelayanan
kemitraan

dokter

antara

keluarga

dokter

dan

merupakan

pasien

pada

keterpaduan
saat

proses

penatalaksanaan medis.
3) Mitra lintas sektoral medik
Pelayanan dokter keluarga bekerja sebagai mitra penyedia
pelayanan kesehatan dengan berbagai sektor pelayanan kesehatan
formal di sekitarnya.

30

4) Mitra lintas sektoral alternatif dan komplimenter medik


Pelayanan

dokter

keluarga

mempedulikan

dan

memperhatikan kebutuhan dan perilaku pasien dan keluarganya


sebagai masyarakat yang menggunakan berbagai pelayanan
kesehatan nonformal di sekitarnya.

B. Perdarahan Antepartum
Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi setelah minggu ke 28
masa kehamilan.1 Perdarahan antepartum dapat berasal dari 2:
a. Plasenta
Meliputi plasenta previa, solusio plasenta dan ruptura sinus marginal.
b. Lokal pada saluran genitali
1. Show
2. Serviks : servisitis, polip, erosi serviks dan keganasan
3. Trauma : trauma saat hubungan seksual
4. Vulvovaginal varicosities
5. Tumor saluran genital
6. Infeksi saluran genital
7. Hematuria
c. Insersi tali pusat
Meliputi vasa
previa
Plasenta previa merupakan penyebab utama perdarahan antepartum.1
31

Perdarahan akibat plasenta previa terjadi secara progresif dan berulang karena
proses pembentukan segmen bawah rahim.3 Sampai saat ini belum terdapat
definisi yang tetap mengenai keparahan derajat perdarahan antepartum. Seringkali
jumlah darah yang keluar dari jalan lahir tidak sebanding dengan jumlah
perdarahan sebenarnya sehingga sangat penting untuk membandingkan jumlah
perdarahan dengan keadaan klinis pasien.
Terdapat beberapa definisi yang dapat digunakan untuk menggambarkan
perdarahan antepartum4:
a. Spotting terdapat bercak darah pada pakaian dalam
b. Perdarahan minor kehilangan darah < 50 mL
c. Perdarahan mayor kehilangan darah 501000 mL tanpa tanda klinis syok
d. Perdarahan masif kehilangan darah > 1000 mL dengan/tanpa tanda klinis
syok
B.1 Kelainan Implantasi Plasenta 4,5
Sebagian besar plasenta akan berimplantasi pada yang tempat yang subur
agar dapat memberikan nutrisi yang cukup bagi janin yaitu pada dinding uterus
bagian depan maupun belakang fundus uteri. Namun, hal ini tidak selalu terjadi
sehingga menyebabkan berbagai kelainan implantasi plasenta. Kelainan
implantasi plasenta dibagi menjadi :
Kelainan lokasi implantasi pada bagian bawah uterus.
Bentuk dari kelainan ini berupa :
1. Plasenta previa totalis
2. Plasenta previa parsialis
3. Plasenta previa marginalis

32

4. Plasenta letak rendah


Kelainan kedalaman implantasi plasenta
Hal ini disebabkan oleh kesuburan endometrium yang tidak sama pada cavum
uteri,

sehingga

jonjot

korialis

berimplantasi

menembus

sampai

miometriumbahkan peritoneum yang melapisi uterus.

Bentuk dari kelainan kedalaman implantasi plasenta yaitu :


1. Plasenta akreta
2. Plasenta inkreta
3. Plasenta perkreta
B.2 Plasenta Previa 1,2
B.2.1 Definisi Plasenta Previa
Plasenta previa ialah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen
bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan
lahir. Pada plasenta previa, jaringan plasenta tidak tertanam dalam korpus uteri
jauh dari ostium internum serviks, tetapi sangat dekat atau pada ostium internum
tersebut.
B.2.2 Epidemiologi
Insidensi plasenta previa adalah 0,5%. Perdarahan plasenta previa
menyebabkan kira-kira 20% dari semua perdarahan antepartum. Di Rumah Sakit
Dr. Cipto Mangunkusumo. Antara 1971 1975, terjadi 37 kasus plasenta previa
diantara 4781 persalinan yang terdaftar, atau kira-kira 1 diantara 125 persalinan
terdaftar. Plasenta previa terjadi pada kira-kira 5 diantara 1000 persalinan di
Amerika Serikat dan merupakan penyebab kematian sebesar 0,03%. Iyasu dan
rekan (1993), dalam suatu analisis terhadap The National Hospital Discharge
Survey dari tahun 1979 sampai 1987, menemukan bahwa plasenta previa menjadi
penyulit pada 0,5% (1 dari 200) persalinan. Di Prentinces Women Hospital,
Frederiksen dan rekan (1999), melaporkan bahwa 0,55 % (1 dari 180) dari hampir
93.500 pelahiran mengalami penyulit plasenta previa. Crane dan rekan (1999)
mendapatkan insidensi 0,33% (1 dari 300) pada hampir 93.000 persalinan di
33

provinsi Nova Scotia. Di Parkland Hospital, insidensinya adalah 0,26% (1 dari


390) pada lebih dari 169.000 persalinan selama 12 tahun.
B.2.3 Etiologi 3,4
Penyebab terjadinya plasenta previa belum diketahui secara pasti. Salah
satu teori mengatakan bahwa perkembangan plasenta previa terjadi akibat
gangguan vaskularisasi desidua yang kemungkinan terjadi akibat perubahan
atrofik dan inflamatorik. Faktor lainnya adalah plasenta yang ukurannya besar
sehingga membentang dan meliputi daerah uterus yang luas sebagaimana terlihat
pada eritroblastosis fetalis dan pada janin lebih dari satu. Pada perentangan
semacam itu, bagian bawah plasenta kadang mencapai daerah ostium internum,
dan secara lengkap (total) atau sebagian (parsial) saling bertumpuk dengan ostium
tersebut. Terjadinya plasenta previa juga dihubungkan dengan banyak hal,
diantaranya yaitu:
1

Usia Ibu
Usia ibu yang lanjut meningkatkan risiko plasenta previa, pada
lebih dari 169.000 pelahiran di Parkland Hospital dari tahun 1988 sampai
tahun 1999, insidensi plasenta previa meningkat secara bermakna di setiap
kelompok usia, 1 dari 1500 untuk wanita berusia 19 tahun atau kurang dan
1 dari 100 untuk wanita berusia lebih dari 35 tahun. Frederiksen dan rekan
(1999) melaporkan bahwa insidensi plasenta previa meningkat dari 0,3%
pada tahun 1976 menjadi 0,7% pada tahun 1997. Mereka memperkirakan
bahwa hal ini disebabkan oleh bergesernya usia populasi obstetris ke arah
yang lebih tua. Pada primigravida, umur lebih dari 35 tahun lebih sering

daripada umur kurang dari 25 tahun.


Paritas
Multiparitas dilaporkan berkaitan dengan plasenta previa. Dalam
seuh studi terhadap 314 wanita para 5 atau lebih, Babinzski dan rekan
(1999) melaporkan bahwa insidensi plasenta previa adalah 2,2% dan
meningkat drastis dibandingkan dengan insidensi pada wanita dengan para
yang lebih rendah. Pada lebih dari 169.000 wanita di Parkland Hospital,

insidensinya untuk wanita dengan para 3 atau lebih adalah 1 dari 175.
Kelainan Endometrium
Riwayat seksio sesarea meningkatkan kemungkinan terjadinya
plasenta previa. Nielsen dan rekan (1999) mendapatkan peningkatan

34

insidensi plasenta previa lima kali lipat pada wanita Swedia dengan
riwayat seksio sesarea. Di Parkland, insidensi meningkat dua kali lipat dari
1 dalam 400 menjadi 1 dalam 200 pada riwayat seksio sesarea minimal
satu kali. Miller dan rekan (1996), dari 150.000 lebih pelahiran di Los
Angeles County Womens Hospital, menyebutkan peningkatan tiga kali
lipat plasenta previa pada wanita dengan seksio sesarea. Insidensi
meningkat

seiirng

dengan

jumlah

seksio

sesarea

yang

pernah

dijalaniangkanya 1,9% pada riwayat seksio sesarea dua kali dan 4,1%
pada riwayat seksio sesarea tiga kali atau lebih. Frederiksen dan rekan
(1999) melaporkan angka histerktomi 25% pada wanita dengan seksio
sesarea berulang atau indikasi plasenta previa dibandingkan hanya 6%
pada mereka yang menjalani seksio sesarea primer atas indikasi plasenta
4
5

previa.
Riwayat plasenta previa.
Perokok
Williams dan rekan (1991) mendapatkan risiko relatif untuk
plasenta previa meningkat dua kali lipat berkaitan dengan merokok.
Mereka

berteori

bahwa

hipoksemia

akibat

karbon

monoksida

menyebabkan hipertrofi plasenta kompensatorik. Temuan-temuan ini


dikonfirmasi oleh Handler dan rekan (1994). Mungkin terdapat kaitan
antara gangguan vaskularisasi desiduayang mungkin disebabkan oleh
peradangan atau atrofidengan terjadinya plasenta previa.
B.2.4 Klasifikasi Plasenta Previa 5,6
Plasenta previa digolongkan menurut hubungan plasenta terhadap
pembukaan serviks bagian dalam. Ada empat derajat abnormalitas yang diketahui.
1

Plasenta previa totalis. Ostium internum serviks tertutup sama sekali oleh
jaringan plasenta.

35

Gambar 3 plasenta totalis


2

Plasenta previa parsialis. Ostium internum tertutup sebagian oleh jaringan


plasenta.

Gambar 4 Plasenta previa parsialis.


3

Plasenta previa marginalis. Tepi plasenta terletak pada bagian pinggir

ostium internum.
Plasenta letak rendah. Plasenta tertanam dalam segmen bawah uterus
sehingga tepi plasenta sebenarnya tidak mencapai ostium internum tetapi
terletak sangat berdekatan dengan ostium tersebut.

36

Gambar 5 Plasenta letak rendah.


Derajat plasenta previa akan tergantung pada luasnya ukuran dilatasi
serviks saat dilakukan pemeriksaan, karena klasifikasi ini tidak didasarkan pada
keadaan anatomik melainkan fisiologik, maka klasifikasinya akan berubah setiap
waktu. Baik pada jenis total maupun parsial, pelepasan plasenta dengan derajat
tertentu merupakan konsekuensi yang tak dapat dielakkan dari pembentukan
segmen bawah uterus dan dilatasi serviks. Pelepasan plasenta akan disertai
perdarahan akibat pembuluh darah yang ruptur.
B.2.5 Gambaran Klinik 7,8
Hal yang paling khas pada plasenta previa adalah perdarahan yang tidak
nyeri, yang biasanya belum muncul pada akhir trimester kedua atau setelahnya.
Namun, beberapa jenis abortus dapat terjadi akibat lokasi plasenta abnormal yang
berkembang tersebut. Perdarahan dari plasenta previa sering muncul tanpa
peringatan, terjadi tanpa disertai nyeri pada wanita yang riwayat pranatalnya
tampak normal. Darah berwarna merah segar. Untungnya, perdarahan awal jarang
sedemikian deras sehingga menimbulkan kematian. Perdarahan ini biasanya
berhenti spontan namun kemudian kambuh. Pada sebagian kasus, terutama pada
mereka yang plasentanya tertanam tapi tidak menutupi ostium serviks, perdarahan
mungkin belum terjadi sampai persalinan dimulai; perdarahan ini dapat bervariasi
dari ringan sampai berat dan secara klinis dapat menyerupai solusio plasenta.
37

Penyebab perdarahan perlu ditekankan kembali. Apabila palsenta terletak


di atas ostium interna, pembentukan segmen bawah uterus dan pembukaan ostium
interna akan menyebabkan robeknya plasenta pada tempat melekatnya.
Perdarahan diperparah oleh ketidakmampuan serat-serat miometrium di segmen
bawah uterus untuk menjepit pembuluh-pembuluh darah yang robek.
Perdarahan dari tempat implantasi plasenta di segmen bawah uterus dapat
berlanjut setelah plasenta dilahirkan, terutama pengeluaran plasenta yang agak
melekat secara manual.
B.2.6 Diagnosis 3,4
Pada wanita dengan perdarahan uterus selama paruh terakhir kehamilan,
plasenta previa atau solusio plasenta harus dicurigai. Kemungkinan plasenta
previa tidak boleh disingkirkan sampai pemeriksaan yang sesuai termasuk USG,
jelas membuktikan ketiadaannya.
Anamnesis
Perdarahan jalan lahir setelah kehamilan 28 minggu, tanpa rasa nyeri,
tanpa alasan, berulang dengan volume lebih banyak daripada sebelumnya,
terutama pada multigravida dan berwarna merah segar. Banyaknya perdarahan
tidak dapat dinilai dari anamnesia, melainkan dari pemeriksaan hematokrit.
Pemeriksaan Luar
Inspeksi
1
2

Dapat dilihat perdarahan pervaginam yang banyak, sedikit dan darah beku.
Bila perdarahan banyak, ibu tampak pucat/anemis.

Palpasi
1

Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul, apabila
presentasi kepala. Biasanya kepala masih terapung diatas pintu atas
panggul atau mengolak ke samping dan sukar didorong ke dalam pintu

atas panggul.
Tidak jarang terdapat kelainan letak, seperti letak lintang atau letak

sungsang.
Janin sering belum cukup bulan, sehingga fundus uteri masih rendah.

38

Pemeriksaan Inspekulo
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui asal perdarahan apakah dari
ostium uteri eksternum atau dari kelainan serviks dan vagina. Apabila perdarahan
berasal dari ostium uteri internum, adanya plasenta previa dapat dicurigai.
Pemeriksaan Ultrasonografi
Metode paling sederhana, tepat dan aman untuk mengetahui lokasi
plasenta adalah dengan USG transabdominal.

Pemeriksaan Langsung 5,6


Diagnosis plasenta jarang ditegakkan melalui pemeriksaan klinis, kecuali
jari tangan pemeriksa dimasukkan lewat serviks dan jaringan plasenta teraba.
Pemeriksaan serviks semacam ini tidak pernah diperbolehkan kecuali bila wanita
tersebut sudah berada di kamar operasi dengan segala persiapan untuk
pembedahan seksio sesarea segera, karena pemeriksaan serviks yang paling hatihati pun dapat menimbulkan perdarahan hebat. Selain itu, pemeriksaan ini jangan
dilakukan kecuali apabila memang telah direncanakan pelahiran, karena dapat
terjadi perdarahan yang sedemikian rupa sehingga janin perlu segera dilahirkan
walaupun masih imatur. Pemeriksaan double set-up semacam ini jarang
diperlukan karena lokasi plasenta yang selalu dapat diketahui dengan
ultrasonografi.
Pemeriksaan dalam diatas meja operasi (PDMO) dapat dilakukan bila
semua syarat terpenuhi, yaitu:
a
b
c

Infus/transfusi telah terpasang, kamar dan tim operasi telah siap.


Kehamilan 37 minggu (berat badan 2500 gr) dan in partu.
Janin telah meninggal atau terdapat anomali congenital major (misalnya

anencephalus).
Perdarahan dengan bagian terbawah janin telah jauh melewati pintu atas
panggul (2/5 atau 3/5 pada palpasi luar).

B.2.7 Penatalaksanaan 6,7,8


Terapi Ekspektatif
Tujuan dari terapi ekspektatif adalah agar janin tidak terlahir prematur dan
upaya diagnosis dilakukan secara non invasif. Penatalaksanaannya berupa:

39

a
b

Rawat inap, tirah baring dan antibiotik profilaksis.


Pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan implantasi plasenta, usia

kehamilan, letak dan presentasi janin.


Perbaiki anemia dengan pemberian sulfas ferosus atau ferous fumarat

e
f

peroral 60 mg selama 1 bulan.


Berikan tokolitik bila ada kontraksi:
a MgSO4 4 g IV dosis awal dilanjutkan 4 g setiap 6 jam.
b Nifedipin 3 x 20 mg/hari.
c Betametason 24 mg IV dosis tunggal untuk pematangan paru.
Pastikan sarana untuk melakukan transfusi.
Jika perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 minggu masih
lama, pasien dapat rawat jalan (kecuali rumah pasien diluar kota atau
diperlukan waktu > 2 jam untuk mencapai Rumah Sakit) dengan pesen
segera kembali ke Rumah Sakit jika terjadi perdarahan.
Syarat terapi ekspektatif, yaitu:

a
b
c
d

Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti.


Belum ada tanda in partu.
Keadaan umum ibu cukup baik (kadar Hb dalam batas normal).
Janin masih hidup.
Kriteria pasien yang dapat diberlakukan rawat jalan:

a
b
c
d
e

Pasien yang telah diobservasi 72 jam tanpa adanya perdarahan.


Stabil serial hematokrit.
Telepon tersedia 24 jam dan transportasi antara rumah dan Rumah Sakit.
Dapat melakukan bed rest dirumah.
Pasien dan keluarga telah mengerti tentang potensi-potensi komplikasi

yang mungkin timbul.


Kontrol tiap minggu sampai usia kehamilan aterm dengan serial level Hb
dan ultrasonografi.

Terapi Aktif
Wanita hamil diatas 28 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif
dan banyak, harus segera ditatalaksanakan secara aktif tanpa memandang
maturitas janin.
Jumlah Perdarahan
1

Ringan, kehilangan darah < 15% dari total volume darah tubuh.
Manifestasi klinis berupa:
a Tanda vital normal.
b Tidak ada hipotensi postural.
c Tidak ada defisit sirkulasi perifer.
d Urin output normal.

40

Sedang, kehilangan darah 15-30% dari total volume tubuh. Menifestasi


klinis berupa:
a
Perubahan frekuensi nadi terhadap perubuhan posisi badan
(meningkat 10-20 bpm ketika berubah dari posisi terlentang ke
b

duduk atau berdiri dan diastolik menurun 10 mmHg atau lebih).


Terdapat tanda-tanda inadekuat sirkulasi (sesak, haus, pucat,
takikardi) perubahan status mental juga dapat terjadi (apatis atau
agitasi).

Terapi:
a Terminasi pada kehamilan yang aterm.
b Ekspektan jika paru janin belum matur atau pada usia gestasi 32-36

minggu.
c Rawat inap di Rumah Sakit.
Berat, kehilangan darah 30-40% dari total volume darah tubuh.
Manifestasi klinis berupa:
a Syok.
b Kehilangan darah terus-menerus pervaginam.
c Fetus dapat meninggal atau menunjukkan tanda-tanda stress.
d Oligouri atau anuria.
Terapi:
a Observasi dan monitoring.
b Pasang cairan IV.
c Siapkan transfusi.
d Assessment fungsi ginjal.
e Terminasi kehamilan dengan seksio sesarea.

B.2.8 Komplikasi
Pada ibu terjadi dapat terjadi syok dan kematian akibat perdarahan
antepartum berat yang berasal dari plasenta previa. Komplikasi lainnya yang dapat
terjadi adalah antara lain anemia karena perdarahan, plasentitis, endometritis
pasca persalinan, robekan jalan lahir akibat tindakan, prolaps tali pusat, prolaps
plasenta. Sedangkan pada janin dapat terjadi persalinan prematur yang dapat
mengakibatkan kematian perinatal walaupun sudah dilakukan penatalaksanaan
menunggu pada plasenta previa. Sebagian kematian pada kasus ini merupakan
akibat dari asfiksia intrauterine atau trauma pada persalinan.
Prognosis
Karena dahulu penanganan bersifat konservatif, maka mortalitas dan
mobiditas ibu dan bayi tinggi, mortalitas ibu mencapai 8-10% dan mortalitas janin
50-80%. Sekarang penanganan relatif bersifat operatif dini, maka angka kematian

41

dan kesakitan ibu dan perinatal jauh menurun. Kematian mternal menjadi < 1%
terutama disebabkan oleh infeksi, emboli udara dan trauma karena tindakan.
Kematian perinatal juga menurun menjadi 10% terutama disebabkan oleh
prematuritas, asfiksia, prolaps funikuli dan persalinan buatan (tindakan).
C.IUGR
C.1 Definisi

9,10

Istilah small gestational age ( SGA ) dan intrauterine gowth


retardation ( IUGR ) sering digunakan secara bergantian untuk
menunjukkan pertumbuhan janin yang buruk, namun terdapat perbedaan
minor secara terminology.
SGA adalah apabila perkiraan berat janin ( EFW ) terhadap usia
kehamilan berada di bawah persentil 10. Dari janin SGA yang di di
diagnosa ;

40% adalah secara konstitusional kecil tetapi sehat, janin ini


mencerminkan bangsa, berat dan tinggi dari ibu bapak mereka
20% adalah secara intrinsik kecil sekunder oleh karena etiologi
kromosomal atau lingkungan dan sepertinya tidak bermanfaat untuk

intervensi prenatal
40% adalah yang beresiko tinggi untuk menghasilkan perinatal yang
buruk termasuklah kematian dan mungkin mempunyai pertumbuhan
intrauterine terhambat, suatu proses patologi mungkin sudah sedia
teridentifikasi
IUGR mengacu kepada pertumbuhan janin yang telah dibatasi oleh

lingkungan gizi yang tidak adekuat di dalam rahim, sehingga


menyebabkan bayi baru lahir tidak mencapai potensi pertumbuhannya.
Bayi ini kurang beruntung sebelum mereka memasuki dunia. Meskipun
klarifikasi IUGR masih didasarkan kepada data referensi kurang standar
ada tiga kelompok yang berbeda, sering digambarkan pada gambar 1.2.
Kurva referensi dalam gambar ini adalah persentil 10 dari populasi
referensi dan memperhitungkan usia kehamilan.
Bayi baru lahir di grup 1 adalah lahir setelah setidaknya usia
kehamilan 37 minggu dan berat badan lahir 2500 gram. Dalam sebagian

42

besar populasi ini adalah kelompok terbesar dari bayi baru lahir
dipengaruhi oleh IUGR. Kelompok 2 yang baru lahir premature dan berat
kurang dari persentil 10 (berada di bawah kurva) tetapi mempunyai berat
lahir lebih besar dari 2500 gram.
Di Negara-negara berkembang tidak memungkinkan untuk
menentukan usia gestasi bayi. Malah, referensi kurva untuk usia
kehamilan tidak secara luas digunakan. Oleh karena itu, berat lahir rendah
(< 2500 gram) sering digunakan sebagai tanda IUGR. Tingkat insiden
berat lahir rendah membantu untuk menggolongkan status gizi selama
hidup janinj untuk populasi, tetapi mereka tidak terlalu membantu. Hal ini
karena insiden berat lahir rendah pada bayi premature terlampau
memperkirakan pertumbuhan yang buruk disebabkan oleh factor gizi
( grup 2) di sisi lain, tingkat insiden berat lahir rendah pada bayi akan
kurang memperkirakan pertumbuhan buruk akibat factor gizi pada bayi
karena tidak semua bayi jatuh di bawah kurva persentil 10 ( grup 3 ).

Gambar 1. Pelbagai Tipe IUGR


C.2 Etiologi 11,12

43

Penyebab terjadinya IUGR terbagi menjadi tiga kategori mayor


yaitu pengaruh dari maternal , janin, dan plasenta.
Faktor maternal

Hipertensi dan penyakit vaskuler ( hipertensi gestasional, autoimun )


Diabetes
Infeksi viral dan parasit ( TORCH, malaria ) infeksi bacterial

( penyakit menular seksual )


Hipoksemia maternal ( penyakit pulmonal, penyakit jantung sianotik,

anemia berat )
Toksin-medikasi ( warfarin ). Antikonvulsan, agen neoplastik
Malformasi uterine dan fibroid
Trombofilia ( sindrom fosfolipid )
Berat badan ibu-kurang berat badan pada awal kehamilan, malnutrisi

kalori-protein atau ibu obesitas ( BMI tinggi )


Variasi sosio demografi
Merokok dan atau pemakaian alcohol, dan/atau pemakaian bahan lain
Wanita dengan pertumbuhan terhambat mempunyai riwayat
kehamnilan atau mempunyai kakak yang hamil IUGR

Faktor janin

Kelainan bawaan ( termasuk mereka dengan infeksi maternal )


Kelainan kromosom ( contoh sindrom turner dan sindrom down )
kelaianan genetic lainnya yang tidak disebebkan masalah kromosom
adalah seperti sindrom Russel-Silver, pertumbuhan tulang skeletal

abnormal dan beberapa sindrom lain


Sindrom transfusi kembar ke kembar
Gestasi multipel

Faktor plasenta

Plasenta infark
Thrombosis pada pembuluh darah janin
Gangguan kronis premature
Vili plasenta edema

C.Patofisiologi 12,13

44

Faktor-faktor yang memperngaruhi berat badan janin termasuk


jenis kelamin yaitu laki-laki lebih berat dari perempuan, paritas contohnya
bayi yang lahir pertama lebih kecil, etnis tergantung norma-norma yang
berbeda, ketinggian, ukuran ibu yaitu ibu besar mendapat bayti besar,
jumlah janin yaitu berat lahir mengecil dengan meningkatkan jumlah janin
dan insulin yaitu faktor hormonal yang paling penting.
Normal pertumbuhan intera uteri terjadi dalam 3 tahap. Mitosis
cepat dan konten DNA meningkat ( hyperplasia ) terjadi selama trimester
pertama ( kehamilan 4-20 minggu ). Trimester kedua ( umur kehamilan
20-2 minggu ) adalah periode hyperplasia dan hipertropi dengan mitosis
menurun tetapi peningkatan ukuran sel. Trimester ketiga ( umur kehamilan
28-40 minggu ) adalah periode peningkatan pesat dalam ukuran sel dengan
akumulasi lemak, otot, dan jaringan ikat. Hambatan pertumbuhan selama
trimester pertama menghasilkan janin yang sel berkurang tetapi ukuran
normal, menyebabkan IUGR simetris. Contohnya termasuk pengekangan
pertumbuhan melekat genetic, infeksi, dan kelainan kromosom bawaan.
Hambatan pertumbuhan selama trimester kedua dan ketiga menyebabkan
ukuran sel mengecil dan berat badan janin dengan efek kurang pada
panjang dan pertumbuhan kepala yang mengarah ke IUGR asimetris.
Dengan onset kemudian, contoh termasu kekurangan atau defisiensi gizi
uteroplasenta selama trimester 3.

C.3 klasifikasi IUGR 14,15


IUGR Simetrik
Tipe IUGR ini menunjuk pada bayi dengan potensi penurunan
pertumbuhan. Tipe IUGR ini dimulai pada gestasi lebih awal dan semua
fetus pada tipe ini menurut perbandingan SGA. Lingkar dada dan kepala
panjang dan beratnya semua dibawah persentil 10 untuk usia kehamilan,

45

tetapi bayti ini memiliki indeks Pinderal yang normal. Tipe IUGR ini
merupakan akibat dari hambatan pertumbuhan pada awal kehamilan.
IUGR Asimetrik
Tipe IUGR asimetrik menunjuk pada hambatan pertumbuhan pada
neonates dan frekuensi terbanyak berhubungan dengan isufisiensi
uteroplasental.

Tipe

IUGR

ini

merupakan

hasi

keterlmabatan

pertumbuhan. Tipe ini dan selalu terjadi sesudah minggu ke 28

dari

kehamilan. Pada kehamilan trimester II, pertumbuhan fetus normal


ditandai dengan adanya hipertropi. Pada fase hipertropi secara cepat telah
terjadi peningkatan ukuran sel dan pembentukan lemak, otot, tulang, dan
jaringan yang lainnya.
Hambatan pertumbuhan fetus yang asimetrik total jumlah sel
mendekati normal, tetapi sel-sel tersebut mengalami penurunan atau
pengecilan ukuran. Fetus IUGR simetrik memiliki indek Ponderal yang
rendah dibandingkan dengan rata-rata bawah berat bayi, tetapi ukuran
lingkar kepala dan panjang lengan adalah normal. Pada beberapa kasus
IUGR asimetrik pertumbuhan fetus adalah normal sampai dengan akhir
trimester II dan awal trimester III, ketika pertumbuhan kepala tetap
normal, sedangkan pertumbuhan abdominal lambat ( brain sparring
effect ). Tipe asimetrik ini merupakan hasil dari mekanisme kompensasi
fetus dalam memberikan reaksi terhadap fase penurunan perfusi plasent.
Terjadinya pendistribusian ulang dari fetal cardiac output dengan
penurunan aliran ke otak, hari dan adrenal dan penurunan cadangan
glikogen dan liver mass. Bagaimanapun, isufisiensi plasenta adalah
merugikan selama akhir kehamilan, pertumbuhan kepala menjadi rata, dan
ukurannya mungkin menjari turu pada kurva pertumbuhan normal.
Diperkirakan 70-80% hambatan pertumbuhan pada fetus terjadi
pada tipe ini. IUGR seringkali berhubungan dengan penyakti ibu seperti
Hipertensi Kronis, gangguan ginjal, diabetes mellitus dengan vaskulopati,
dan yang lainnya.

46

C.4 .Diagnosis 16,17


Menentukan usia kehamilan
Menentukan

usia

kehamilan

yang

benar

adalah

penting.

Menstruasi terakhir, ukuran rahim, time of quickening ( gerakan kencang di perut


ibu yang disebabkan oleh aktivitas janin yang dirasakan oleh ibu untuk pertama
kalinya ), dan pengukuran USG awal digunakan untuk menentukan usai
kehamilan.
Penilaian Janin
a. Diagnosis klinis
Riwayat pasien akan meningkatkan indeks kecurigaan mengenai
pertumbuhan suboptimal. Estimasi berat secara manual, pengukuran
tinggi fundus secara serial, dan perkiraan dari ibu tentang keaktifan
aktifitas janin adalah ukuran klinis sederhana. Ketidaktepatan dan
inkonsistensi dapat mencegah keyakinan luas dalam metode-metode
klinis.
b. Evaluasi hormonal
Tes hormone itu pada satu waktu popular untuk penilaian IUGR tetapi
jarang digunakan sekarang. Estriol urin dan kadar human placental
lactogen cenderung rendah atau menurun pada

kehamilan dengan

IUGR meskipun terdapat variasi pada beberapa individu.


c. Ultrasonografi
Karena kehandalannya menetukan usia kehamilan, kemampuan untuk
mendeteksi

gangguan

pertumbuhan

janin

dengan

pengukuran

antropomorfik, dan kemampuan untuk mendeteksi anomaly janin, oleh


Karena itu USG merupakan alat untuk diagnosis yang diandalkan saat
ini. Pengukuran antropomorfik berikut digunakan dalam kombinasi
untuk memprediksi penurunan pertumbuhan dengan tingkat akurasi
yang tinggi.
i.
Biparietal diameter (BPD). Ketika pengukuran serial BPD
kurang optimal 50-80% bayi akan memiliki berat lahir di
ii.

bawah normal.
Lingkar abdomen. Hati adalah organ pertama yang berdampak
pada hambatan pertumbuhan. Lingkar perut yang kecil

47

merupakan tanda awal dari retardasi pertumbuhan yang


iii.

asimetris dan kekurangan daripada cadangan glikogen.


Rasio lingkar kepala untuk lingkar abdomen. Rasio ini
biasanya berubah dengan meningkatnya usia kehamilan. Pada
trimester kedua, lingkar kepala lebih besar dari lingkar
abdomen. Pada kehamilan sekitar 32-36 minggu rasionya 1 : 1
dan setelah 36 minggu lingkar abdomen lebih besar. Jika rasion
kepala-abdomen < 1 akhir kehamilan adalah prediksi IUGR

iv.

asimetris
Panjang femur. Panjang femur mempunyai korelasi yang baik
dengan panjang mahkota-tumit (crown-lump length, CRL) dan
memberikan

pengukuran

awal

daripada

panjang

janin.

Pengukuran serial panjang femur adalah sama efektifnya


v.

dengan pengukuran kepala untuk mendeteksi IUGR simetris


Morfologi plasenta dan penilaian cairan ketuban dapat
membantu dalam membedakan janin konstitusional kecil dari
sebuah retardasi pertumbuhan. Sebagai contoh, penuaan
plasenta dengan oligohidramnion menunjukkan bahaya IUGR
dan janin, sedangkan morfologi plasenta normal dengan jumlah
normal

cairan

ketuban

menunjukkan

janin

dengan

konstitusional kecil.
d. Pengukuran kecepatan gelombang dengan menggunakan alat doppler
pada sirkulasi ibu dan janin dapat mendeteksi IUGR. Penurunan
kecepatan gelombang sirkulasi ibu menunjukkan penurunan perfusi
arteri uteroplasenta. Kecepatan gelombang yang di deteksi oleh fetal
Doppler pada sirkulasi arteri menunjukkan gawat janin kronis, fetal
distress, dan hipoksia. Resiko terbesar untuk IUGR dikaitkan dengan
tidak adanya aliran diastolic atau aliran balik dalam arteri umbilikalis.
F.Penilaian pada neonatus
1. Penurunan berat badan waktu usia kehamilan merupakan metode
paling ringkas untuk mendiagnosa IUGR. Namun, metode ini

48

cenderung salah diagnosis secara konstitusional dengan bayi kecil dan


bayi yang ukuran pertumbuhan proporsional terhambat.
2. Tampilan fisik. Apabila bayi tanpa dengan sindrom malformasi
congenital dan infeksi, kelompuk IUGR ini mempunyai ciri tampilan
fisik. Bayi-bayi ini umumnya kurus, dengan kulit mengelupas, dan
longgar karena kehilangan tisu subkutan, abdomen skafoid, dan kepala
besar yang tidak proporsional.
3. Kurva Lubchenko mungkin sulit digunakan untuk memperkirakan
terjadinya IUGR
4. Indeks Ponderal

dibawah

persentil

10

membantu

untuk

mengidentifikasi neonatus dengan IUGR terutama mereka yang berat


badan lahir kurang dari 2500 g
Ponderal Indeks = berat dalam gram x ( 100/panjang dalam
centimeter )
Jika indeks Ponderal kurang dari 2, hal ini menunjukkan IUGR
simetris. IUGR simetris terjadi ketika pertumbuhan janin dipengaruhi
selama trimester pertama dan penyebab termasuk terjadinya gangguan
kromosom, kelainan genetic, hipertensi ibu berat dan infeksi. Jika
indeks Ponderal lebih dari 2,5 mengindikasikan IUGR asimetris. IUGR
asimetris terjadi ketika pertumbuhan janin dipengaruhi kemudian
dalam kehamilan dan sebab-sebab termasuk malnutrisi ibu dan
penyakit pembuluh darah ibu seperti pre-eklampsia dna hipertensi.
Kondisi IUGR simetris adalah buruk.

49

Gambar 2. Klasifikasi bayi baru lahir berdasar Pertumbuhan intrauterine dan usia
kehamilan

5. Skor Ballard.
Usia kehamilan dihitung dengan menggunakan Modifikasi Skor
Ballard. Ada dua kelompok parameter yang akan dinilai dalam system
penilaian. Mereka kematangan fisik dan kematangan neuromuscular.
Pemeriksaan ini paling akurat saat 30 hingga 42 jam usia kelahiran. Bayi
IUGR mempunyai tingkat skala yang tinggi berbanding bayi premature
dengan berat yang sama, berbagai parameter yang akan dinilai di bawah
masing-masing adalah :

50

Maturitas Fizikal
Diperiksa kulit, lanugo, permukaan plantar, payudara, telinga, dan
genital. Skor -1 ke 5 diberikan kepada masing-masing parameter

berdasarkan temuan pada pemeriksaan fisik dan tingkat kematangan


Maturitas Neuromuskular
Diperiksa postur, jendela pergelangan tangan, arm recoil, sudut
poplitea, scarf sign, tumit ke telinga/ skor -1 ke 5 diberikan kepada
masing-masing parameter berdasarkan temuan pada pemeriksaan fisik
dan tingkat kematangan.

C.5.Penemuan Klinis 15
Pada inspeksi pertama pada banyak bayi kecil masa kehamilan
beberapa karakterisktik fisik jelas segera menunjukkan adanya IUGR.
Pada IUGR asimetrik, salah satu segera terlihat adalah kepala tampak
besar, namun lingkar kepala sebenarnya normal atau hampir, ini karena
dada dan terutama keliling perut berkurang. Kepala hanya terlihat besar
pada tubuhnya. Otak terhindar atau kurang dipengaruhi pada hambatan
intrauterine yang mungkin Karena gangguan intrauterine relative pada
akhir kehamilan. Karena rasio massa otak dengan massa hati adalah tinggi,
hipoglikemia mungkin timbul pada bayi tersebut. Lemak pada kulit
subkutan menghilang dan kulit terlihat longgar dan kering. Meskipun kulit
mereka tampak pucat, banyak dari IUGR ini mengalami polisitemia;
hematokrit vena mereka mungkin lebih besar dari 60.
Pada IUGR asimetrik yang ekstrem massa otot pada pantat, paha
dan pipi juga berkurang. Oleh karena panjang tubuh bayi IUGR ini tidak
berkurang seperti lemak subkutan, maka bayi ini sering terlihat tipis dan
panjang. Lipatan klulit longitudinal dipaha menunjukkan penurunan berat
lemak di bawah kulit, sebaliknya dengan lipatan paha horizontal pada bayi
yang lebih besar, menunjukkan status gizi Negara jauh lebih baik. Bayi
bermata lebar, mungkin karena terjadinya hipoksia kronis saat intrauterine.
Perut terlihat mendatar atau cekung ( skafoid ) bukan bulat seperti pada
bayi dengan gizi yang baik. Saat lahir, umbilicus umumnya tipis, berbeda
dengan umbilicus biasa yang besar, abu-abu berkilau dan lembab. Oleh
51

karena semua umbilicus akan terlihat layu setelah lahir maka kondisi
umbilicus 24 jam usia kelahiran mempunyai signifkansi diagnostic yang
kecil. Rambut pada kulit kepala biasanya jarang. Sutura di kepala sering
melebar akibat pertumbuhan tulang terganggu. Ubun-ubun besar meskipun
ukurannya besar teraba lembut atau cekung sehingga menyebabkan
tekanan intracranial meningkat sehingga mengakibatkan sutura melebar.
Sebagian besar bayi ini lebih aktif dari yang diperkirakan untuk berat lahir
rendah. Kekuatan tangisan mereka mungkin sangat mengesankan.
Seringkali, tanda, ekspresi wajah terbelalak dikombinasikan dengan
menyodorkan lidah berulang yang merangsang gerakan menghisap. Kesan
keseluruhan semangat dan baik sering disalahartikan, karena kesan ini
adalah hasil dari stress yang disebabkan oleh hipoksia kronis saat
intrauterine. Banyak dari bayi mengalami kejang setelah 6-18 jam
kemudian, terutama mereka yang ubun-ubun besar keras akibat adanya
edema otak dari hipoksia intrauterine. Sebaliknya pada asfiksia perinatal
berat bayi mengalami depresi sehingga terlihat flasid dan lethargi.
Pada IUGR simetrik pula, terlihat dalam bayi kecil masa kehamilan
dengan penampilan cukup berbeda dari yang dijelaskan di atas. Bayi ini,
yang terjadi gangguan lebih awal, sehingga tidak terlihat wasted, yaitu
mereka kecil, tetapi kepala dan ukuran tubuh proporsional. Kulit tidak
berlebihan, tetapi lebih tebal ( dengan vaskuler subkutan tidak jelas terlihat
atau tidak tampak sama sekali ) dari yang diharapkan untuk bayi dengan
ukuran yang sama yang tumbuh sesuai masa kehamilan. Mereka umumnya
sangat aktif dan kemungkinan terjadinya hipoglikemik atau polisitemia
sangat kecil. Bayi ini adalah hipoplasia yang bisa ada malformasi atau
terjadi infeksi pada awal intrauterine ( seperti rubella atau penyakit inklusi
cytomegalic ).
Dua tipe umum IUGR ini dapat di identifikasi dengan pengukuran
tubuh dengan mengacu pada kurva pertumbuhan intrauterine. IUGR
asimetrik lebih umum terjadi berbanding IUGR simetrik, gangguan
tampaknya timbul pada trimester terakhir. Bayi ini memiliki lingkar kepala

52

dan panjang tubuh dalam persentil normal umumnya antara 25 dan 50


tetapi berat badan mereka di bawah persentil 10. Factor ibu yang
berhubungan dengan IUGR yang paling sering termasuk toksemia,
hipertensi kronik, dan penyakit ginjal kronis. Tipe kedua yaitu IUGR
simetrik mungkin dimulai di awal kehamilan. Hal ini ditandai dengan
pengurangan merata di lingkar kepala, panjang tubuh dan berat. Semua
ukuran ini berada di bwah persentil 10 ( table 1 ). Factor yang
berhubungan termasuk infeksi virus intrauterine, kelainan kromosom,
kelainan bawaan besar, genetis kecil tapi dinyatakan baik bayi, dan
mungkin ibu kekurangan gizi.
C.6 .Komplikasi 14
Morbiditas dan mortalitas janin dan bayi meningkat pada IUGR
dan meningkat tinggi apabila berat lahir bayi kurang dari persentil 5.
IUGR pada saat kelahiran mungkin berhubungan dengan resiko kesehatan
dimana ini mungkin akan menetap hingga dewasa.
Diperkirakan bahwa istilah untuk bayi dengan berta 2.000-2.500
gram saat lahir resiko kematian neonatal adalah empat kali lebih tinggi
dibandingkan bayi dengan berat 2.500-3.000 gram dan sepuluh kali lebih
tinggi dibandingkan dengan bayi berrat 3.000-3.500 gram. Dalam Negaranegara berkembang dengan prevalensi berat badan lahir rendah yang
tinggi, bayi IUGR menyebabkan sebagian besar kematian neonatal.
Meskipun hubungan antara IUGR dan kematian meningkat paling kuat
selama periode neonatal awal ( tujuh hari ), dan meluas di luar waktu ini.
Selain itu, ada peningkatan resiko jangka diare pada bayi di bwah 2.500
gram dan peningkatan resiko pneumonia pada bayi IUGR dalam negaranegara berkembang.
IUGR memiliki konsekuensi jangka panjang yang signifikan pada
ukuran tubuh, komposisi, dan kekuatan otot. Nayi IUGR yang baru lahir di
Negara-negara industry sebagiannya secara relative mempengaruhi selama
dua tahun pertama kehidupan. Namun, hal ini biasanya tidak cukup untuk

53

mengimbangi pertumbuhan prenatal yang terhambat. Bayi ini akan lebih


pendek sekitar 5 cm dan lebih ringan 5 kg pada masa dewasa.
Beberapa,

tapi

tidak

semua

studi

megaevaluasi

hasil

neurodevelopmental pada bay iIUGR telah menunjukkan adanya disfungsi


neurologis, terutama pada laki-laki dengan status social rendah. Disfungsi
neurologis berhubungan dengan deficit perhatian, hiperaktif, kejanggalan,
dan prestasi di sekolah buruk. Dampak pada perkembangan kognitif dan
perilaku dalam enam tahun pertama kehidupan masih belum jelas,
meskipun deficit dalam kognitif telah ditemukan pada anak dengan berat
badan lahir sangat rendah.
Kebanyakan fungsi kekebalan tubuh telah terbukti terjadi
penurunan pada bayi IUGR. Semakin besar hambatan pada pertumbuhan
janin,semakin besar pula penurunan kompetensi kekebalan. penurunan
nilai ini mungkin akan berlanjut sehingga masa kanak-kanak. Satu studi
menghubungkan bahwa pertumbuhan janin yang tidak proporsional
mengubah konsentrasi immunoglobulin E dalam kehidupan dewasa dan
juga menghubungkan kepada penyakit autoimun tiroid.
Terdapat bukti dari asosiasi antara pertumbuhan janin terhambat
dan tekanan darah, non insulin dependent diabetes, penyakit jantung
koroner, dan kanker dalam kehidupan dewasa. Hipotesis Barker
mengatakan asal usul panyakti dengan gizi kurang selama periode kritis
pada awal kehamilan dan bayi meningkatkan resiko penyakit kronis pada
masa dewasa. Transisi gizi- yaitui pergeseran pola diet dan gaya hidup
yang telah dihasilkan dari urbanisasi dan pembangunan ekonomi yang
cepat

dapat

mempercepat

munculnya

awal

undernutrition

pada

konsekuensi dewasa.
C.7. Manajemen 11,12
Manajemen bayi kecil untuk usia kehamilan mulai dari periode kehamilan itu
sendiri. Diagnose antenatal merupakan kunci manajemen IUGR yang baik, yaitu
termasuklah :

54

Adanya faktor resiko maternal harus diwaspadai terjadinya IUGR oleh


dokter perbidanan. Selama pemeriksaan antenatal saat IUGR terdeteksi
semua langkah harus diambil untuk mengetahui penyebabnya.
Persalinan dan resusitasi
Jika dicurigai pertumbuhan janin terhambat harus dilakukan upaya
memastikan diagnosis ini, dan jika benar untuk menetukan apakah janin
mengalami anomaly atau berada dalam kondisi fisiologis yang buruk.
Sejumlah praktisi telah melakukan kordosintesis untuk menetukan
kariotipe secara cepat karena deteksi aneuploidi letal dapat meniadakan
keharusan dilakukannya seksio sesaria. Sebaliknya, American College of
Obstetrician and Gynecologists memyimpulkan bahwa tidak terdapat
cukup data untuk mewajibkan kordosentesis sebagai penatalaksanaan
pertumbuhan janin terhambat. Waktu pelahiran amat penting dan klinisi
harus sering menimbang bahaya-bahaya pelahiran preterm terhadap resiko
kematian janin.

BAB III
ANALISIS KASUS
A. Analisis Klinis

55

Pasien G1P0A0 datang ke Puskesmas Tempuran dengan keluhan bercak


darah dari jalan lahir sejak 1 hari yang lalu. Bercak darah tersebut berwarna merah
kecoklatan. Bercak tidak disertai nyeri. Kenceng-kenceng (-), keluar air-air dari
jalan lahir (-), riwayat jatuh (-) riwayat minum alkohol (-). Pasien menyangkal
mengkonsumsi obat-obatan tertentu, atau mengonsumsi pil kontrasepsi. Menarche
usia 12 tahun, siklus 28 hari, lama 7 hari teratur, banyaknya 2-3 pembalut
perhari.Tidak ada keluhan saat menstruasi. HPHT

: 17 Juni 2015 HPL

24

Maret 2016. Pasien belum pernah melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC).


Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien baik, tanda-tanda
vital dalam batas normal, status generalis dalam batas normal, pada status lokalis
yaitu dari pemeriksaan obstetric didapatkan Tinggi Fundus Uteri : 23 cm pada usia
kehamilan 35 minggu, hal ini tidak sesuai karena berdasarkan rumus Mc Donald
dengan TFU 23 cm seharusnya kehamilan berusia 26 minggu. HIS (-) jarang,
DJJ : (+) 144x/menit, regular. Palpasi: Leopold 1 didapatkan teraba bulat, lunak,
Leopold 2 : kiri: teraba bagian rata, keras seperti papan; kanan : teraba bagian
kecil-kecil; Leopold 3 : teraba bagian bulat, keras,Leopold 4 : bagian terbawah
janin belum masuk pintu atas panggul,konvergen.
Secara klinis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang mengarahkan diagnosis klinis pada G1P0A0, 24 tahun, Hamil 35
minggu, Janin tunggal Intrauterin, Presentasi Kepala, U dengan perdarahan
antepartum.Pasien dirujuk ke RS Budi Rahayu, pada tanggal 25 februari pasien
melahirkan secara spontan bayi laki-laki, berat badan; 1400 gr,panjang badan 40
cm, dan tidak menangis spontan sehingga bayi tersebut di rawat di ruang
perawatan anak selama 2 minggu.
Terdapat beberapa hal yang mendukung kondisi perdarahan antepartum
dan pertumbuhan janin terhambat, dimana menurut teori Bloom, kesehatan
manusia dipengaruhi beberapa unsur yang saling berkaitan secara hierarki yaitu
lingkungan, pelayanan kesehatan, perilaku, dan keturunan. Pada pasien ini unsur
yang terkait pertama adalah tentang perilaku yaitu kurangnya pengetahuan pasien
dan keluarga pasien akan pentingnya pemeriksaan pada masa kehamilan (ANC)
dan tanda-tanda bahay pada kehamilan sehingga menyebabkan kurangnya
pengetahuan pasien tentang gizi selama masa kehamilan.

56

A.1

Analisis Home Visit


Pada hasil home visit yang telah dilakukan, pasien tinggal dengan suami,

dan bayi laki-laki pasien Kesehariannya, pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga
dan suami bekerja sebagai karyawan swasta. Dari hasil penilaian/family
assessment tools, pada keluarga pasien termasuk ke dalam bentuk keluarga inti
dimana terapat suami, istri dan anak. Sedangkan untuk siklus hidup keluarga
termasuk dalam Childbearing family dimana suatu keluarga dengan (kelahiran
anak pertama sampai berusia 30 bulan), berlangsung sekitar 2.5 tahun.
Hubungan pasien dengan keluarganya cukup baik, fungsi keluarga pasien
dinilai dengan perangkat APGAR dan keluarga pasien termasuk kedalam keluarga
yang memiliki fungsi keluarga kurang sehat dengan skor 7, hasil telah terlampir
pada bab I, berikut adalah uraian penjelasannya;
Tabel 3.1 Komponen APGAR
Komponen
Adaptation

Kondisi Pasien
Pasien merasa puas dengan pembagian tugasnya atau
kewajiban dalam rumah tangga dengan suaminya. Menurut
pasien, suami selalu memberikan uang untuk pasien mengurus

Partnershi

rumah tangga dan memenuhi kebutuhan keluarganya.


Pasien terkadang merasa mendapat solusi dari permasalahan

sakitnya, dimana keluarga menyarankan untuk langsung

Growth

berobat mengatasi keluhannya tersebut.


Pasien merasa puas dengan kebebasan yang diberikan dari
suami untuk mengembangkan kemampuan atau keinginan yang
dimiliki. Pasien tidak aktif mengikuti kegiatan disekitar
lingkungan rumah seperti arisan, pertemuan RT, RW dan

Affection

pengajian.
Pasien cukup mendapat kasih sayang dari keluarganya baik
suami, bapak dan ibu serta mertua. Ketika pasien sakit atau ada
keluarga yang sakit, keluarga saling membantu untuk menjaga

Resolve

dan merawat yang sakit serta menemani untuk berobat.


Pasien terkadang merasa puas dengan waktu yang ada untuk
menjalin kebersamaan karena sehari-hari sudah sibuk dengan
57

kegiatan masing-masing walaupun waktu berkumpul bersama


hanya pada malam hari ketika makan malam.
A.2. Prioritas Masalah dan Pelaksanaan Program
Tabel 3.2 Prioritas Masalah dan Pelaksanaan Program
No
.
1.

Masalah
yang

Tar

Sasa

get

ran

Dihadapi
Perdarahan Ter

Rencana Pembinaan

Kolaborasi

Pasi

Edukasi kepada pasien Dokter,

antepartum kon

en

dan keluarga (minimal bidan

dan

dan

melibatkan

Masa

kelu

anggota

Kehamilan

arga

memungkinkan)

Gizi trol

orang puskesmas

keluarga

jika bagian KIA

tentang :

Pemeriksaan

kehamilan

(ANC)

Gambaran

bahwa

perdarahan

anterpartum

merupakan tanda bahaya

saat kehamilan.
Edukasi
perdarahan
dan

anterpartum

komplikasi

dapat

yang

timbul

serta

penatalaksanaan

segera

serta

tentang

pentingnya

gizi

selama kehamilah
Pentingnya bagi pasien
untuk menghindari faktor
pencetus

trauma,

aktivitas

berlebihan,

hubungan seksual dan


konsumsi

obat-obatan/

58

jamu

yang

dapat

membahayakan
kehamilan.

Pentingya

minum

obat

secara

teratur

sesuai

anjuran

dokter.
Mendapatkan KIE untuk
mengatasi

kurangnya

pengetahuan

tentang

perdarahan an
tepartum

dan

komplikasinya dan gizi


pada masa keh milan.
A.4

Prinsip Kedokteran Keluarga

A. 4. 1 Holistic Care
Pada pasien ini telah dilakukan anamnesa disease (berkaitan
dengan klinis pasien) dan anamnesis illness (berkaitan dengan perasaan
pasien

terhadap

penyakitnya),

serta

telah

dilakukan

anamnesis

psikososial dan tergali permasalahan klinis dan psikisnya yang saling


berkaitan.

A. 4. 2 Comprehensive Care
Pada pasien ini telah mendapatkan dari aspek promotif berupa
edukasi dan konseling tentang pentingnya pemeriksaan semasa
kehamilan,gizi

selama

kehamilan,

perdarahan

antepartum

serta

kompikasi yang dapat timbul. Upaya preventif dilakukan dengan edukasi


mengenai pemeriksaan kehamilan selanjutnya. Upaya kuratif dilakukan
dengan merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi. Upaya
rehabilitatif dan paliatif tidak dilakukan pada pasien ini.
A. 4. 3 Personal Care

59

Pasien telah diberikan pelayanan yang memberikan kesempatan


bagi pasien untuk bertanya, mendapat informasi tentang penyakit yang
sedang dialaminya serta pasien dapat menyalurkan perasaan, ide, harapan
terhadap penyakitnya.
A. 4. 4 Continuing Care
Pasien telah mendapatkan pelayanan satu kali home visit untuk
melihat perkembangan kesehatan pasien dan bayinya, mengontrol
perkembangan kesehatan dan penyakit dari pasien serta untuk melihat
faktor-faktor resiko kebiasaan dan perilaku sehari-hari yang terkait dari
penyakitnya.

A. 4. 5 Patient Centered, Family Focused, dan Community Oriented


Pada pasien ini untuk manajeman diri pasien telah melibatkan
suami pasien.
A. 4. 6 Emphasis of Preventive Medicine
Pencegahan agar tidak terjadi perdarahan antepartum dan
pertumbuhan janin terhambat pada kehamilan berikutnya. Perilaku pasien
dapat dirubah dengan mudah karena pasien memiliki keinginan kuat agar
kelainan pada kehamilan dapat dihindari.

A. 4. 7 Colaborative dan Coordinate Care


Untuk penanganan pasien telah dilakukan diantaranya adalah
dokter dan bidan. Namun sebaiknya bagian KIA puskesmas juga
meninjau kejadian antepartum.
A. 4. 8 Patient Adovocacy
Pada pasien ini telah dijelaskan hasil pemeriksaan yang telah
dilakukan, penjelasan penyakitnya secara rinci sesuai dengan kebutuhan
pasien.

60

BAB IV
PENUTUP

A.

Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil binaan keluarga ini adalah didapatkannya
pemahaman terhadap pembinaan yang dilakukan cukup baik, sikap seluruh
anggota keluarga yang kooperatif sehingga mempunyai keinginan untuk
mengubah perilaku yang tidak baik bagi kesehatan dan tidak
61

ditemukannya faktor penyulit yang dapat menghambat binaan yang


diberikan.
Pasien dan suami pasien mengerti faktor-faktor yang menyebabkan
keluhan yang dideritanya sehingga berusaha untuk menghindari faktor
pencetus tersebut. Pasien mengerti dan bersedia mengubah perilaku yang
dapat meningkatkan faktor resiko timbulnya penyakit tersebut.
B.

Saran
1.

Bagi keluarga binaan yaitu :


a.

Agar

dilakukan

pemantauan

dan

pembinaan

yang

berkesinambungan terhadap pasien baik pada penyakitnya


maupun masalah-masalah dalam keluarganya
b.

Meningkatkan peran dari seluruh anggota keluarga dalam


penatalaksanaan dan dukungan terhadap pasien, terutama peran
dari suami yang ikut serta bertanggung jawab dalam menjaga
kondisi pasien.

c.

Agar lebih memperhatikan kesehatan diri pasien dan suami


terutama untuk memeriksa secara rutin ke dokter dan menghindari
risiko.

2.

Bagi Puskesmas
a.

Sistem penatalaksanaan pasien secara paripurna dengan


pendekatan kedokteran keluarga.

b.

Tersedianya sarana yang memadai untuk pengelolaan


pasien dengan pendekatan kedokteran keluarga

62

c.

Sistem pemberian informasi yang jelas dan komprehensif


yang ditujukan pada pasien dan keluarganya.

DAFTAR PUSTAKA
1

Wiknjosastro, Hanifa. Ilmu Kebidanan Edisi 4, Jakarta. Yayasan Bina Pustaka

2
3

Sarwonoprawirojardjo. 2009.
Mochtar, Rustam. Sinopsis Obstetri Jilid 1 Edisi 2. Jakarta. EGC. 1998.
Cherney, Allan. Obstetrics & Gynecologic Diagnosis & Treatment 9th Ed.

McGraw Hill Companies. USA. 2006.


Cunningham, Garry. Williams Obstetrics 21st Ed. McGraw Hill Companies.

5
6
7

USA. 2001.
Saju, Joy. Placenta Previa. http://www.emedicine.com/med/topics3721.htm.
Gaufberg, Slava. Abruptio Placenta. http://www.emedicine.com/med/topic/.
Greg,
Marrinan.
Placenta
Previa.

8
9

http://www.emedicine.com/med/topic3425.htm.
Patrick, Ko. Placenta Previa. http://www.emedicine.com/med/topic5467.htm.
Alkalay A, 2008. IUGR. http://pdfcontact.com/ebook/pengertian_iugr.html

63

10 Chatelain F, 2010. Children Born With IUGR.


http//www.sav.sk/journals/endo/full/er0100f.pdf.
11 Cunninghan FG, Gant NF, Leveno KJ, et al, 2005. Obstetri Williams Vol 1/Edisi
21. EGC. Jakarta.
12 Harper T, 2008. Fetal Growth Restriction. http://www.emedicine.com.
13 JamesWD, 2009. IUGR.http://freedownloadbooks.net/-IUGR-pdf.html
14 Rockville P and Bethesda, 2010. IUGR.
http://idmgarut.wordpress.com/2009/01/26/intra-uterine-growth-retardation-iugr/
15 Sasongko W, 2009. Pertumbuhan Janin Terhambat. http://www.botefilia.com.
16 Sharoon C, 2010. Intrauterine Growth Restriction.
http//www.imagingpathways.health.wa.gov.au/includes/pdf/iugr.pdf17 Wikjosastro H, 2005. Ilmu Kandungan Edisi ke2 Cetakan ke4. YBB-SP. Jakarta

64