Anda di halaman 1dari 39

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI.......................................................................................................

DAFTAR TABEL............................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN...................................................................................

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................

2.1. Definisi..........................................................................................................

2.2. Statistik Abortus............................................................................................

2.3. Patologi.........................................................................................................

2.4. Etiologi..........................................................................................................

2.4.1. Faktor janin.........................................................................................

2.4.2. Faktor Maternal..................................................................................

2.4.3. Kelainan Traktus Genitalis................................................................. 13


2.4.4. Faktor Paternal................................................................................... 15
2.5. Klasifikasi Abortus........................................................................................ 15
2.6. Abortus Habitualis........................................................................................ 21
2.6.1. Definsi ............................................................................................... 21
2.6.2. Etiologi............................................................................................... 21
2.6.3. Patofisiologi ....................................................................................... 23
2.6.4. Manajemen Pengelolaan Abortus Habitualis .................................... 24
2.7. Komplikasi Abortus...................................................................................... 27
2.8. Aspek hukum................................................................................................ 28
2.9. Abortus Elektif (Volunter)............................................................................. 28
2.10. Teknik Bedah Untuk Aborsi........................................................................ 29
2.10.1. Legalitas .......................................................................................... 35
2.11. Prognosis..................................................................................................... 35
BAB III. KESIMPULAN..................................................................................... 37
1

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 38

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Risiko Kejadian Abortus dengan Usia Ibu...............................................4
Tabel 2.2 Temuan Kromosom pada Abortus............................................................8
Tabel 2.3 Prakiraan Insidensi Dari Penyebab Kejadian Abortus Spontan
Berulang .............................................................................................................. 21

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Frekuensi Kelainan Kromosom pada Abortus dan Bayi Lahir Mati 6
Gambar 2.2. Abortus spontan trimester pertama dan kedua dengan usia ibu......

Gambar 2.3. Ovum Abnormal..............................................................................

Gambar 2.4. Abortus Iminens.............................................................................. 17


Gambar 2.5. Abortus Insipiens............................................................................. 18
Gambar 2.6 Abortus Inkomplet............................................................................ 18
Gambar 2.7 Abortus komplet............................................................................... 19
Gambar 2.8 Missed Abortion............................................................................... 20

BAB I
PENDAHULUAN
Abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun sebelum janin
mampu bertahan hidup. Abortus spontan adalah kejadian pengakhiran kehamilan,
ditandai dengan keluarnya hasil konsepsi intrauterin sebelum fetus dapat bertahan
hidup diluar rahim (berusia < 20 minggu, dengan berat badan < 500 gram), tanpa
adanya intervensi medis maupun mekanis.
Abortus merupakan kejadian yang sering ditemukan sehari-hari. Penyebab
abortus spontan tersering adalah akibat abnormalitas kromosom, pada masa usia
kehamilan sebelum 12 minggu, dan lebih dari 90% konsepsi yang memiliki kariotipe
normal akan berlanjut. Keguguran dapat dilihat sebagai proses seleksi alamiah untuk
kontrol kualitas hasil konsepsi.1
Saat ini abortus masih merupakan masalah kontroversial di masyarakat
Indonesia. Jenis abortus terbanyak di Indonesia adalah abortus kriminalis. Angka
kejadian abortus sukar ditentukan karena abortus provokatus banyak yang tidak
dilaporkan kecuali bila sudah terjadi komplikasi. Resiko abortus meningkat seiring
dengan jumlah keguguran pada kehamilan sebelumnya dan perjalanan usia. 2,13
Alasan seorang wanita melakukan abortus beraneka ragam, yang tersering
adalah kehamilan yang tidak diinginkan. Pengguguran kandungan yang kebanyakan
dipilih adalah cara yang tidak aman dikarenakan keterbatasan biaya dan pengetahuan
masyarakat mengenai bahaya-bahaya abortus tersebut. WHO mengestimasikan
bahwa aborsi yang tidak aman bertanggung jawab terhadap 14% dari kematian ibu di
Asia Tenggara.2,13
Upaya untuk menurunkan angka kejadian abortus melibatkan kerja sama
banyak pihak; baik pemerintah, tenaga medis, tokoh yang berpengaruh di suatu
daerah dan diri pribadi tiap orang. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan
menghindari terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, tersedianya informasi dan

pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas untuk dewasa muda, pelayanan


pemasangan kontrasepsi, dirumuskannya kebijakan untuk menurunkan insidensi
abortus yang tidak aman serta tersedianya perawatan paska abortus pada pasien yang
mengalami komplikasi.2,13

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Abortus (aborsi/ abortion) adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun
sebelum janin mampu bertahan hidup. Di Amerika Serikat, definisi ini terbatas pada
terminasi kehamilan sebelum 20 minggu berdasarkan pada tanggal hari pertama haid
normal terakhir. Definisi lain yang sering digunakan adalah keluarnya janin-neonatus
yang beratnya kurang dari 500 gram. Definisi abortus bervariasi, tergantung dari
kebijakan hukum dalam melaporkan abortus, kematian janin, dan kematian neonatus
(Cunningham, 2010).
Abortus spontan adalah abortus terjadi tanpa intervensi medis atau mekanis untuk
mengosongkan uterus. Istilah lain yang digunakan adalah miscarriage (Cunningham,
2010).
2.2. Statistik Abortus
Di Amerika Serikat: pada tahun 2003, sekitar 16 wanita dari 1000 wanita yang
berusia 15-44 tahun melakukan abortus, dan setiap 1000 kelahiran hidup, kurang

lebih 241 abortus telah dilakukan, mengacu pada Centers for Disease Control and
Prevention. Pada masa 20 tahun terakhir, telah berlangsung pengembangan yang
cukup serius dalam bidang teknologi yang digunakan untuk abortus pada trimester ke
dua. Hal ini dan kebijakan sosial tentang abortus semakin membuat banyak wanita
yang mencari cara untuk melakukan terminasi kehamilan.
Abortus legal adalah prosedur yang aman. Angka kejadian infeksi kurang dari 1
persen, dan kurang dari 1 dari 100.000 kematian yang terjadi pada abortus trimester
pertama. Abortus lebih aman untuk ibu daripada membiarkan kehamilan sampai
aterm. Abortus secara medikal dan surgikal lebih aman dan efektif, dilakukan oleh
tenaga yang terlatih.
Kebanyakan wanita yang melakukan abortus menurut statistik adalah wanita kulit
putih (53%); 36% kulit hitam, dan 8% ras kulit lainnya, dan 3% ras yang tidak
diketahui.
Angka abortus tertinggi pada golongan wanita umur antara 20 sampai dengan 24
tahun. Angka abortus terendah pada wanita kurang dari 20 tahun, dan lebih tua dari
40 tahun akan tetapi wanita pada golongan usia ini lebih sering melakukan abortus
daripada mempertahankan kehamilan.
Di dunia, abortus menyebabkan sekurang-kurangnya 13% kematian pada wanita
hamil. Perhitungan baru adalah 50 juta abortus dilakukan secara luas setiap tahun,
dengan 30 juta di antaranya terjadi di negara berkembang. Kurang lebih 20 juta
abortus dilakukan tidak secara aman karena suatu keadaan di mana kurangnya tenaga
kerja terlatih. (emedicinehealth, 2009).
2.3. Patologi
Abortus biasanya disertai oleh perdarahan ke dalam desidua basalis dan nekrosis
di jaringan dekat tempat perdarahan. Ovum menjadi terlepas, dan hal ini memicu
kontraksi uterus yang menyebabkan ekspulsi. Apabila kantung dibuka, biasanya
dijumpai janin kecil yang mengalami maserasi dan dikelilingi oleh cairan, atau
mungkin tidak tampak janin di dalam kantung dan disebut blighted ovum.
Pada abortus tahap lebih lanjut, terdapat beberapa kemungkinan hasil. Janin yang
tertahan dapat mengalami maserasi. Tulang-tulang tengkorak kolaps dan abdomen

kembung oleh cairan yang mengandung darah. Kulit melunak dan terkelupas in utero
atau dengan sentuhan ringan meninggalkan dermis. Organ-organ dalam mengalami
degenerasi dan nekrosis. Cairan amnion mungkin terserap saat janin tertekan dan
mengering untuk membentuk fetus kompresus. Kadang-kadang, janin akhirnya
menjadi sedemikian kering dan tertekan sehingga mirip dengan perkamen, yang
disebut juga sebagai fetus papiraseus (Cunningham, 2010).
2.4. Etiologi
Lebih dari 80 persen abortus terjadi pada 12 minggu pertama, dan setengahnya
disebabkan oleh kelainan kromosom, dan setelah trimester pertama, angka kejadian
abortus dan insidensi dari kelainan kromosom menurun (Gambar 2.1).

Gambar 2.1. Frekuensi kelainan kromosom pada abortus dan bayi lahir mati
untuk tiap semester dibandingkan dengan frekuensi kelainan
kromosom pada bayi lahir hidup. Presentase untuk tiap kelompok
diperliatkan dalam tanda kurung (Cunningham, 2005).

Gambar 2.2 Abortus spontan trimester pertama dan kedua dengan usia ibu
(dari Harlap dkk, 1980, dengan ijin)
Mekanisme yang menyebabkan abortus tidak selalu jelas, tetapi pada bulan-bulan
awal kehamilan, ekspulsi ovum secara spontan hampir selalu didahului oleh kematian
mudigah atau janin. Karena itu, pertimbangan etiologi pada abortus dini antara lain
mencakup pemastian penyebab kematian janin apabila memungkinkan.
2.4.1. Faktor janin
Perkembangan Zigot Abnormal
Temuan morfologis tersering pada abortus spontan dini adalah kelainan
perkembangan zigot, mudigah, janin bentuk awal, atau kadang-kadang plasenta.
Dalam suatu analisis terhadap 1000 abortus spontan, Hertig dan Sheldon (1943)
menjumpai ovum patologis ("blighted") yang pada separuhnya mudigah mengalami
degenerasi atau tidak ada sama sekali. Ovum yang abnormal semacam itu dapat
dilihat di Gambar 2.3 (Cunningham, 2010).

Gambar 2.3. Ovum abnormal. Potongan melintang sebuah ovum cacat yang
memperlihatkan kantung korion yang kosong yang tertanam didalam massa
endometrium polipoid ( dari Hertig dan Rock, 1944) (Williams, 2005).
Abortus Karena Kelainan Kromosom
Kelainan kromosom sering dijumpai pada mudigah dan janin awal yang
mengalami abortus spontan, dan merupakan penyebab sebagian besar abortus pada
awal kehamilan. Sekitar 50 sampai 60 persen abortus spontan dini disertai dengan
kelainan kromosom pada konseptus (Tabel 1). Jacobs dan Hassold (1980) melaporkan
bahwa sekitar 95% dari kelainan kromosom disebabkan oleh kesalahan
gametogenesis maternal dan 5 % oleh kesalahan paternal.

10

Tabel 2.1 Temuan Kromosom pada Abortus (Cunningham, 2010)

Pemeriksaan Kromosom

Kajii et al.

Eiben et

(1980)

al. (1990)

(%)
Normal ( euploid) 46XY dan 46XX

(%)

Simpson
(1980) (%)

46

51

54

Trisomi autosom

31

31

22

Monosomi X (45,X)

10

Triploidi

Tetraploidi

Anomali structural

Trisomi ganda

0,9

Trisomi Tripel

0,4

TT

Lain-lain XXY, monosomi 21

0.8

TT

Monosomi autosom G

TT

0,1

Abnormal ( euploidi)

0,7

11

Trisomi mosaic

TT

0,1

Polisomi Kromosom seks

TT

0,2

Kelainan Tidak Spesifik

TT

0,9

TT = Tidak Tercantum

Tabel 2.2 Persentase Anomali Kromosom pada Abortus Spontan dan Lahir
Hidup (Solveig, 2005)
Anomali
Trisomi autosom
13
16
18
21
Lainnya
Total trisomy
Monosomi X
Trisomi kromosom sex
Triploidi
Tetraploidi

Abortus
Spontan

Lahir
Hidup

1.10%
5.58%
0.84%
2.00%
11.81%
21.33%
8.35%
0.33%
5.79%
2.39%

0.01%
0.00%
0.02%
0.11%
0.00%
1.34%
0.01%
0.15%
0.00%
0.00%

12

Total abnormal
Jumlah karyotype

41.52%
3.353

0.60%
31.521

Trisomi autosom merupakan kelainan kromosom yang tersering dijumpai pada


abortus trimester pertama (Tabel 2.1). Trisomi dapat disebabkan oleh nondisjunction
tersendiri, translokasi seimbang maternal atau paternal, atau inversi kromosom
seimbang. Penataan ulang struktur kromosom secara seimbang djumpai pada 2
sampai 3 persen pasangan dengan riwayat abortus rekuren. Translokasi dapat
ditemukan pada kedua orang tua. Inversi kromosom seimbang juga dapat dijumpai
pada pasangan dengan abortus rekuren. Trisomi untuk semua autosom kecuali
kromosom nomor 1 pernah dijumpai pada abortus, tetapi yang tersering adalah
autosom 13,16,18, 21, dan 22.
Monosomi X (45,X) adalah kelainan kromosom tersering berikutnya dan
memungkinkan lahirnya bayi perempuan hidup (sindrom Turner). Triploidi sering
dikaitkan dengan degenerasi hidropik pada plasenta. Mola hidatidosa parsial mungkin
mernperlihatkan perkembangan janin yang bersifat triploid atau trisomik untuk
kromosom 16. Janin yang memperlihatkan kelainan-kelainan ini sering mengalami
abortus dini, dan beberapa yang mampu bertahan hidup lebih lama mengalami
malformasi berat. Usia ibu dan ayah yang lanjut tidak berkaitan dengan kelainan ini.
Triploidi sering berhubungan dengan degenerasi plasenta, inkomplet (parsial)
hydatidiform mola mengandung triploidi atau trisomi untuk kromosom 16, walaupun
kebanyakan janin ini mengalami abortus awal, namun beberapa dapat bertahan lebih
lama dan mengalami malformasi. Keadaan ibu dan ayah tidak meningkatkan insidensi
dari triploidi.
Tetraploidi abortus jarang yang dapat lahir hidup dan biasanya terjadi abortus
pada awal gestasi.

13

Kelainan struktural kromosom jarang menyebabkan abortus dan baru


teridentifikasi setelah dikembangkannya teknik-teknik pemitaan (banding). Sebagian
dari bayi ini lahir hidup dengan translokasi seimbang dan mungkin normal
(Cunningham,2010).

Monosomi

autosom

sangat

jarang

dijumpai,dan

tidak

memungkinkan kehidupan. Polisomi kromosom seks (47,XXX atau 47,XXY) jarang


dijumpai pada abortus tetapi relatif sering pada bayi lahir hidup (Cunningham, 2005).
Kajii dkk., (1980) melaporkan bahwa 75% dari abortus aneuploid terjadi sebelum
minggu ke-8, sedangkan abortus euploid memuncak pada usia gestasi sekitar 13
minggu. Stein dkk., (1980) membuktikan bahwa insidensi abortus euploid meningkat
secara drastis setelah usia ibu 35 tahun (Cunningham, 2010).

2.4.2. Faktor Maternal


Infeksi
Infeksi jarang menyebabkan abortus. Sejumlah penyakit kronik diperkirakan dapat
menyebabkan abortus. Menurut Sauerwein dkk., 1993. Bukti bahwa Toxoplasma
gondii menyebabkan abortus pada manusia kurang meyakinkan. Tidak terdapat bukti
bahwa Listeria monocytogenes atau Chlamydia trachomatis menyebabkan abortus
pada manusia (Feist dkk., 1999; Osser dan Persson, 1996; Paukku dkk., 1999).
Menurut Brown dkk 1997, herpes simpleks tidak dilaporkan meningkatkan insidensi
terjadinya abortus (Cunningham, 2010).

14

Pernah dilaporkan bahwa abortus spontan secara independen berkaitan dengan


antibodi virus imunodefisiensi manusia 1 (HIV-1) dalam darah ibu, seroreaktivitas
sifilis pada ibu, dan kolonisasi vagina ibu oleh streptokokus grup B. Penelitian Van
Benthem pada tahun 2000, melaporkan bahwa wanita dengan HIV positif tidak
meningkatkan risiko terjadinya abortus spontan. Pada 2002, Oakeshott dkk
melaporkan adanya hubungan antara abortus spontan pada trimester pertama dan
bakterialis vaginosis (Cunningham, 2010).
Kelainan Endokrin
Hipotiroidisme
Hipotiroidisme adalah menurunnya hormon tiroid berhubungan dengan defisiensi
yodium. Hormon tiroid berpengaruh penting pada proses fertilisasi, implantasi, dan
perkembangan janin. Sehingga pada hipotiroidisme dapat menyebabkan abortus.
Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus adalah salah satu kelainan metabolic yang ditandai dengan
kenaikan gula darah. Pada wanita hamil bisa didapatkan dua macam diabetes, yaitu
diabetes mellitus tipe 1, tipe 2, atau tipe gestasional. Pada diabetes mellitus tipe 1
ditandai dengan independensi terhadap insulin. Pada diabetes mellitus tipe 2
didapatkan individu yang resisten terhadap insulin. Sedangkan pada diabetes mellitus
gestasional, terjadi pada wanita hamil. Resiko yang terjadi pada wanita dengan
diabetes mellitus salah satunya adalah abortus dikarenakan kurangnya perfusi oksigen
dari ibu ke janin melalui placenta. Selain abortus, tidak jarang ditemukan malformasi
kongenital mayor meningkat pada wanita dengan diabetes dependen-insulin. Risiko
ini berkaitan dengan derajat kontrol metabolik pada trimester pertama. Dalam suatu
studi, Craig dkk 2002, melaporkan adanya peningkatan insidensi abortus berulang
pada wanita dengan resistensi insulin (Cunningham, 2010).

15

Defisiensi progesteron
Progesteron adalah hormone golongan steroid yang berpengaruh pada siklus
menstruasi, kehamilan, dan embryogenesis. Pada defisiensi progesterone atau dikenal
sebagai defek fase luteal(Lutealphase deficiency/LPD) adalah gangguan fase luteal.
Gangguan ini menyebabkan disfungsi tuba dengan akibat transpor ovum terlalu cepat,
mobilitas uterus yang berlebihan, dapat menyebabkan kesukaran nidasi karena
endometrium tidak dipersiapkan dengan baik. Penderita dengan LPD mempunyai
karakteristik siklus haid yang pendek, interval post ovulatoar kurang dari 14 hari dan
infertil sekunder dengan recurrent early losses (LP Kalolo, 2009).
Nutrisi
Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa defisiensi salah satu zat gizi atau
defisiensi sedang semua nutrien merupakan penyebab abortus. Mual dan muntah yang
timbul agak sering pada awal kehamilan, dan semua penyakit yang dipicunya, jarang
diikuti oleh abortus spontan. Namun beberapa penelitian menyatakan abortus
seringkali terjadi pada wanita hamil yang mengalami kekurangan gizi secara
menyeluruh karena pertumbuhan janin membutuhkan sumber nutrisi yang baik.
Faktor Imunologis
Banyak perhatian ditujukan pada sistem imun sebagai faktor penting dalam
kematian janin berulang. Dua model patofisiologis utama yang berkembang adalah
teori autoimun (imunitas terhadap tubuh sendiri) dan teori aloimun (imunitas terhadap
orang lain) (Cunningham, 2010).
-

Faktor autoimun

16

Penyakit kolagen pada pembuluh darah adalah penyakit dimana sistem imun yang
terdapat dalam tubuh menyerang organ tubuh itu sendiri. Penyakit ini sangat
berbahaya pada saat kehamilan maupun diantara kehamilan. Pada penyakit ini, wanita
membuat antibodi untuk jaringan tubuhnya sendiri. Contoh dari penyakit kolagen
yang berhubungan dengan abortus adalah Systemic Lupus Erythematosus (SLE) dan
sindroma antibodi antifosfolipid (Antiphopholipid Syndrome/APS). Pemeriksaan
darah dapat dilakukan untuk memeriksa adanya antibodi abnormal dan digunakan
untuk mendiagnosis keadaan ini. APS dikenal juga dengan nama Hughes syndrome
merupakan penyakit autoimun yang pada dekade akhir ini makin dikenal sebagai
salah satu penyebab abortus berulang (LP Kalolo, 2009).
-

Faktor aloimun
Kematian janin berulang pada sejumlah wanita didiagnosis sebagai akibat faktor-

faktor aloimun. Diagnosis faktor aloimun berpusat pada beberapa pemeriksaan:


o Perbandingan Human Leucocyte Antigen (HLA) ibu dan ayah.
o Pemeriksaan serum ibu untuk medeteksi keberadaan antibodi sitotoksi
leukosit ayah.
o Pemeriksaan serum ibu mendeteksi faktor-faktor penyekat (blockingfactors)
pada reaksi pencampuran limfosit (mixed Iymphocyte reaction) ibu-ayah.
Validitas model ini masih diragukan. Sebagai contoh, pasangan yang memiliki
HLA yang sama jelas masih mungkin mengalami kehamilan . Hal ini dapat dilihat
pada penelitian-penelitian lain dimana tidak ditemukan adanya perbedaan dalam
frekuensi kesamaan HLA pada pasangan dengan kematian janin berulang dengan
mereka yang reproduksinya berhasil (Cunningham, 2010).
Tindakan Pembedahan (Laparotomi)

17

Tidak terdapat bukti bahwa pembedahan yang dilakukan pada kehamilan tahap
awal dapat meningkatkan angka abortus karena pembedahan dianggap mengganggu
proses pertumbuhan dan perkembangan janin. Sebagai contoh, tumor ovarium dan
mioma bertangkai umumnya diangkat tanpa mengganggu kehamilan. Peritonitis
meningkatkan kemungkinan abortus (Cunningham, 2005).
2.4.3. Kelainan Traktus Genitalis
Retroversio uteri, mioma uteri, atau kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan
abortus. Tetapi harus diingat bahwa hanya retroversio uteri gravidi inkarserata atau
mioma submukosa yang memegang peranan penting. Sebab lain abortus dalam
trimester kedua ialah serviks inkompeten yang dapat disebabkan oleh kelemahan
bawaan pada serviks, dilatasi serviks berlebihan, konisasi, amputasi, atau robekan
serviks luas yang tidak dijahit.

Serviks inkompeten
Kelainan ini ditandai oleh pembukaan serviks tanpa nyeri pada trimester kedua,
atau mungkin awal trimester ketiga, disertai prolaps dan menggembungnya selaput
ketuban ke dalam vagina, diikuti oleh pecahnya selaput ketuban dan ekspulsi janin
imatur. Apabila tidak diterapi secara efektif, rangkaian ini akan berulang pada setiap
kehamilan.
Walaupun penyebab serviks inkompeten belum jelas, riwayat trauma pada serviks,
terutama sewaktu dilatasi dan kuretase, konisasi, kauterisasi atau amputasi tampaknya
merupakan faktor penyebab serviks inkompeten.
Terapi serviks inkompeten adalah tindakan bedah, berupa penguatan serviks
dengan jahitan purse-string. Perdarahan, kontraksi uterus, atau pecahnya selaput

18

ketuban

biasanya

merupakan

kontraindikasi

untuk

tindakan

pembedahan

(Cunningham, 2010).
2.5. Abortus Iminens
Abortus iminens ialah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu, dan hasil konsepsi masih berada dalam uterus (Budiono
Wibowo,2005). Kira-kira 12-15% dari seluruh kehamilan berakhir spontan sebelum
umur kehamilan 20 minggu. Setengah dari abortus iminens akan berlanjut menjadi
abortus komplet atau inkomplet, sedangkan pada sisanya kehamilan akan terus
berlangsung. Perdarahan pada abortus iminens umumnya sedikit, tetapi dapat
menetap selama beberapa hari sampai beberapa minggu. Terjadinya abortus iminens
akan meningkatan risiko kehamilan yang kurang optimal dalam bentuk kelahiran
preterm, berat lahir rendah dan kematian perinatal (Cunningham, 2005).

Gambar 2.4 Abortus Iminens (Taber, 1994)


2.5.1. Diagnosis Abortus Iminens

19

Data subjektif
o Perdarahan pervaginam : gejala paling khas dan dapat bervariasi
dari perdarahan vagina sampai sedikit bercak atau flek kecoklatan.
Biasanya perdarahan kurang dari haid normal. Tidak ada jaringan
plasenta yang dikeluarkan.
o Nyeri abdomen: suprapubik, intermiten dan bersifat kram-dapat
tidak ada, minimum atau ringan. Beberapa pasien mungkin
mengeluh nyeri punggung bawah.
o Riwayat haid : biasanya pasien sadar satu atau lebih siklus haid
terlewatkan.
o Gejala kehamilan : sela kehamilan viabel, biasanya tidak ada
perubahan gejala kehamilan subjektif seperti nyeri tekan payudara,
mual pagi hari dan seterusnya (Taber, 1994).

Data objektif
o Pemeriksaan fisik :

Pemeriksaan umum: normal

Pemeriksaan abdomen: normal (lunak, tidak nyeri tekan)

Pemeriksaan osbtetrikus : pada pemeriksaan spekulum,


biasanya hanya ada sedikit darah atau sekret kecoklatan di
dalam vagina. Ostium uteri tertutup. Pada pemeriksaan
bimanual, uterus membesar, lunak dan tidak nyeri tekan.
Besar uterus sesuai dengan riwayat haid. Serviks tertutup,

20

tidak mendatar dan mempunyai konsistensi hamil normal


(Taber, 1994).
o Pemeriksaan penunjang

Laboratorium :

Darah rutin : nilai dalam batas normal

Urinalisis : pada kasus abortus iminens, urinalisis


normal. Jika eritrosit atau leukosit ditemukan, maka
kemungkinan masalah traktus urinarius harus
dicurigai, karena sistitis atau obstruksi ureter
menimbulkan gejala yang serupa dengan abortus
iminens (Taber, 1994).

USG, hasil USG dapat menunjukkan :

Buah kehamilan masih utuh, ada tanda kehidupan


janin.

Meragukan

Buah kehamilan tidak baik, janin mati (Sofie


Krisnadi, 2003).

2.5.2. Diagnosis Banding Abortus Iminens


-

Perdarahan implantasi (tanda Hartman) : dapat timbul sekitar saat haid


yang diperkirakan. Biasanya jumlahya tidak lebih dari darah haid hari
pertama siklus yang normal. Tidak ada nyeri atau nyeri pinggang penyerta.

21

Abortus insipiens atau inkomplet : ditandai oleh perdarahan yang lebih


hebat, pendataran dan dilatasi serviks, dan pengeluaran sebagian hasil
konsepsi.

Missed abortion : uterus lebih kecil dari yang diperkirakan untuk lama
amenore.

Kehamilan ektopik : harus dipertimbangkan bila pasien mengeluh nyeri


pelvis atau nyeri abdomen akut unilateral selama kehamilan muda. Gejala
dan tanda kehamilan ektopik akan sangat mirip dengan abortus iminens
jika disertai komplikasi perdarahan korpus luteum.

Kehamilan mola : ukuran uterus akan lebih besar dari yang diperkirakan
untuk umur kehamilan umumnya.

Lesi serviks atau trauma vagina : polip yang tampak di ostium uteri
eksternum, maupun reaksi desidua serviks, dapat berdarah pada kehamilan
muda. Nyeri biasanya tidak ada. Pemeriksaan spekulum dari serviks dan
vagina akan menegakkan diagnosis (Taber, 1994).

2.5.3. Penanganan Abortus Iminens


Penanganan abortus iminens terdiri atas :
1. Istirahat baring. Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam
pengobatan, karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke
uterus dan berkurangnya rangsang mekanik.
2. Pemberian hormon progesteron pada abortus iminens berguna untuk
memperbaiki struktur endometrium pada kehamilan awal.

22

3. Pemeriksaan ultrasonografi penting dilakukan untuk menentukan apakah


janin masih hidup (Budiono Wibowo, 2005). Bila hasil USG meragukan,
ulangi pemeriksaan USG 1-2 minggu, kemudian bila hasil USG tidak
baik, lakukan evakuasi (Sofie Krisnadi, 2003).
4. Pasien dinasehatkan untuk tidak bersenggama untuk meminimkan
kemungkinan rangsangan prostaglandin (Taber, 1994).
2.5.4. Prognosis Abortus Iminens
Macam dan lamanya perdarahan menentukan prognosis kelangsungan kehamilan.
Abortus iminens dapat berulang dikemudian hari jika kondisi maternal tidak dijaga.
Prognosis menjadi kurang baik bila perdarahan berlangsung lama, mules-mules yang
disertai perdarahan serta pembukaan serviks (Budiono Wibowo, 2005).
2.6. Abortus Insipiens
Abortus insipiens ialah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20
minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi
masih dalam uterus (Budiono Wibowo,2005). Kadang-kadang perdarahan dapat
menyebabkan kematian bagi ibu dan jaringan yang tertinggal dapat menyebabkan
infeksi sehingga evakuasi harus segera dilakukan.

23

Gambar 2.5 Abortus Insipiens (Taber, 1994)


2.6.1. Diagnosis Abortus Insipiens
-

Data Subjektif
o Nyeri abdomen : kram suprapubik intermiten progresif diakibatkan
oleh kontraksi uterus yang menimbulkan pendataran dan dilatasi
serviks.
o Perdarahan pervaginam : jumlah perdarahan cenderung sangat
bervariasi.

Beberapa

pasien

mengalami

perdarahan

hebat,

sementara yang lain mungkin menunjukkan gejala minimum.


o Riwayat haid : meskipun sebagian besar abortus timbul sebelum
12 minggu setelah siklus haid terakhir, namun abortus yang lambat
dapat terjadi selama trimester kedua.
o Kebocoran cairan amnion : abortus bersifat insipiens, bila selaput
amnion pecah.
-

Data Objektif
o Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan umum : biasanya masih dalam batas normal.

Pemeriksaan abdomen : abdomen lunak dan tidak nyeri


tekan. Uterus dapat teraba per abdomen, tergantung pada
umur kehamilan.

24

Pemeriksaan obstetrikus : Pada pemeriksaan spekulum,


sering serviks mendatar dan berdilatasi. Selaput amnion
dapat terlihat menonjol melalui serviks atau dapat robek,
dengan cairan amnion ada di dalam vagina. Pemeriksaan
bimanual menunjukkan uterus membesar dan lunak,
besarnya kurang lebih sama dengan lamanya amenore
(Taber, 1994).

o Pemeriksaan penunjang

Laboratorium

Darah

rutin:

hemoglobin

dan

hematokrit

menunjukkan anemia dari perdarahan sebelumnya.


Hitung

leukosit

dan

hitung

jenis

dapat

mengidentifikasi suatu infeksi sistemik.

Urinalisis: hasil urinalisis normal.

2.6.2. Penanganan Abortus Insipiens


Pasien harus di rawat di rumah sakit. Dilakukan terminasi kehamilan dengan
pemberian oksitosin (20 unit dalam 1000 ml larutan ringer laktat) untuk memajukan
kelahiran janin. Analgesik mungkin dibutuhkan untuk menghilangkan nyeri dan
ketakutan.
Setelah janin lahir kuretase mungkin diperlukan bila ada kemungkinan jaringan
plasenta tertinggal (Taber, 1994). Antibiotik di berikan selama 3 hari (Sofie Krisnadi,
2003).
2.7. Abortus Inkomplet

25

Abortus inkomplet ialah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan


sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus (Budiono Wibowo,
2005). Bahkan bila janin dan plasenta tampak dikeluarkan sebagai suatu konseptus
utuh, sejumlah jaringan plasenta sering robek lepas dan tetap menempel pada dinding
uterus (Taber, 1994).

Gambar 2.6 Abortus Inkomplet (Budiono Wibowo, 2005)


2.7.1. Diagnosis Abortus Inkomplet
-

Data subjektif
o Nyeri abdomen: Nyeri kram suprapubik terjadi akibat kontraksi
uterus dalam usaha mengeluarkan isi uterus. Mula-mula nyeri
cenderung ringan dan intermiten, tetapi secara bertahap menjadi
lebih hebat.
o

Perdarahan pervaginam: ini merupakan gejala yang paling khas


dari abortus inkomplet. Jumlah pendarahan cenderung lebih
banyak daripada darah haid biasa, pendarahan mungkin hebat dan
bahkan cukup berlebihan untuk menyebabkan syok hipovolemik.

26

Selama jaringan plasenta tetap melekat sebagian pada dinding


uterus, maka kontraksi miometrium terganggu, pembuluh darah di
dalam segmen telanjang pada tempat plasenta berdarah hebat.
Pasien dapat mengeluarkan banyak bekuan darah atau janin yang
dapat dikenal atau jaringan plasenta.
o Gejala kehamilan : banyak pasien sadar akan hilangnya gejala
kehamilan subjektif. Gejala ini mungkin menandakan kematian
janin intrauteri yang mendahului abortus spontan.
-

Data objektif
o Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan umum : Suhu badan normal, kecuali ada


infeksi penyerta. Nadi, tekanan darah dan pernafasan
normal, kecuali abortus terinfeksi atau hipovolemia akibat
perdarahan berlebihan.

Pemeriksaan abdomen : abdomen biasanya lunak dan tidak


nyeri tekan.

Pemeriksaan obstetrikus : pada pemeriksaan spekulum,


sering vagina mengandung banyak bekuan darah dan
serviks tampak mendatar dan dilatasi. Jaringan plasenta
dapat terlihat di ostium uteri atau vagina. Pada pemeriksaan
vagina, serviks lunak, dilatasi dan mendatar. Jaringan
plasenta atau bekuan darah atau keduanya dapat teraba.
Uterus membesar dan lunak. Diagnosis ditegakkan dengan
terlihatnya jaringan plasenta atau janin.

27

o Pemeriksaan penunjang

Laboratorium

Darah rutin: hitung leukosit biasanya dalam batas


normal, kecuali ada infeksi penyerta. Apusan darah,
hemoglobin,

nilai

hematokrit

menunjukkan

perdarahan sebelumnya atau anemia terdahulu.

Urinalisis : normal

2.7.2. Penanganan Abortus Inkomplet


1. Perbaiki keadaan umum: Apabila abortus inkomplet disertai shock karena
perdarahan, harus segera diberikan infus cairan NaCl fisiologis atau cairan
Ringer Laktat. Jika pada pemeriksaan hematologi didapatkan Hb rendah
dapat yang disusul dengan transfusi darah.
2. Evakuasi: Digital, kuretase. Setelah syok diatasi dilakukan kerokan. Pasca
tindakan, disuntikkan intramuskulus ergometrin untuk mempertahankan
kontraksi otot uterus (Budiono Wibowo, 2005).
3. Antibiotik selama 3 hari
2.8. Abortus Komplet
Pada abortus komplet semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Pada keadaan ini,
kuretase tidak perlu dilakukan (Budiono Wibowo, 2005). Pada setiap abortus, penting
untuk memeriksa semua jaringan yang dilahirkan, apakah komplet atau tidak dan

28

untuk membedakan dengan kelainan trofoblas (molahidatidosa) (Sofie Krisnadi,


2003).
Pada abortus komplet, perdarahan segera berkurang setelah isi rahim dikeluarkan
dan selambat-lambatnya dalam 10 hari perdarahan berhenti sama sekali karena dalam
masa ini luka rahim telah sembuh dan epitelisasi telah selesai. Serviks juga dengan
segera menutup kembali. Bila dalam 10 hari setelah abortus masih ada perdarahan,
abortus inkomplet atau endometritis pasca abortus harus dipikirkan (Sofie Krisnadi,
2003).
Penderita dengan abortus komplet tidak memerlukan pengobatan khusus, hanya
apabila menderita anemia perlu diberi sulfas ferrosus atau transfusi (Budiono
Wibowo, 2005).

Gambar 2.7 Abortus komplet (Budiono Wibowo, 2005)


2.9. Missed Abortion
Missed Abortion ialah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin
tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. Etiologi missed abortion tidak
diketahui, tetapi diduga akibat pengaruh hormon progesteron. Pemakaian hormon

29

progesteron pada abortus iminens mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion
(Budiono Wibowo,2005). Pada kematian janin di awal kehamilan, janin akan lebih
cepat keluar. Sedangkan pada kematian janin dengan kehamilan yang lebih lanjut,
akan menyebabkan retensi janin akan lebih lama (Sofie Krisnadi, 2003).

Gambar 2.8 Missed Abortion (Taber, 1994)


2.9.1. Diagnosis Missed Abortion
-

Data Subjektif
o Perdarahan pervaginam: bisa ada atau tidak (Sofie Krisnadi, 2003).
o Gejala kehamilan : meskipun kehamilan muda normal dengan
amenore, mual pagi hari, perubahan payudara dan pembesaran
abdomen, gejala-gejala ini sering berhenti setelah kematian janin.

Data Objektif
o Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan umum : biasanya gambarannya benar-benar


normal. Jarang ekimosis kulit dapat terlihat, yang

30

menggambarkan

kemungkinan

gangguan

koagulasi

penyerta.

Pemeriksaan abdomen : uterus dapat diraba atau mungkin


juga tidak pada pemeriksaan abdomen. Bila teraba, maka
uterus lebih kecil dari perkiraan menurut hari pertama
siklus haid normal terakhir. Bunyi jantung janin tidak
terdengar.

Pemeriksaan obstetrikus : ostium uteri menutup. Meskipun


biasanya uterus terasa membesar dan lunak, namun
ukurannya lebih kecil dari yang diperkirakan menurut lama
kehamilan yang diperkirakan.

o Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium

Darah rutin : penurunan hitung trombosit dapat


merupakan petunjuk pertama gangguan koagulasi
penyerta.

Urinalisis : normal

USG: tampak janin tidak utuh dan membentuk gambaran


kompleks, diagnosis USG tidak selalu harus tertahan 8
minggu (Taber, 1994).

2.9.2. Penanganan Missed Abortion


1. Perbaikan keadaan umum (Sofie Krisnadi, 2003).

31

2. Hipofibrinogenemia dapat terjadi apabila janin yang mati lebih dari 1


bulan tidak dikeluarkan. Apabila terdapat hipofibrinogenemia, perlu
diadakan persedian darah segar atau fibrinogen (Budiono Wibowo, 2005).
3. Faktor mental penderita perlu diperhatikan karena tidak jarang wanita
yang bersangkutan merasa gelisah, mengetahui ia mengandung janin yang
telah mati, dan ingin supaya janin secepatnya dikeluarkan (Budiono
Wibowo, 2005).
4. Pada uterus yang besarnya tidak melebihi 12 minggu sebaiknya dilakukan
pembukaan serviks uteri dengan memasukkan laminaria selama kira-kira
12 jam dalam kanalis servikalis, yang kemudian dapat diperbesar dengan
busi Hegar sampai cunam ovum atau jari dapat masuk dalam kavum uteri.
Hasil konsepsi dapat dikeluarkan dengan mudah serta aman, dan sisanya
dibersihkan dengan kuret (Budiono Wibowo, 2005).
5. Jika besar uterus melebihi kehamilan 12 minggu, maka pengeluaran hasil
konsepsi diusahakan dengan infus intravena oksitosin dosis cukup tinggi.
Dosis oksitosin dapat dimulai dengan 20 tetes permenit dari cairan 500 ml
glukosa 5% dengan 10 satuan oksitosin, dosis ini dapat dinaikkan sampai
ada kontraksi. Bilamana diperlukan, dapat diberikan sampai 50 satuan
oksitosin. Jika tidak berhasil infus dapat diulangi setelah penderita
istirahat 1 hari (Budiono Wibowo, 2005).

2. 10. Abortus Habitualis


Abortus habitualis ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturutturut (Budiono Wibowo, 2005). Kejadiannya jauh lebih sedikit daripada abortus

32

spontan (kurang dari 1%), lebih sering pada primi tua (Sofie Krisnadi, 2003). Jika
seorang penderita telah mengalami abortus 2 kali berturut-turut, maka optimisme
untuk kehamilan berikutnya berjalan normal adalah sekitar 63%, jika abortus 3 kali
berturut-turut maka kemungkinan kehamilan keempat berjalan normal hanya sekitar
16% (Rustam Mochtar, 1998).
2.10.1. Diagnosis Abortus Habitualis
Diagnosis abortus habitualis tidak sukar ditentukan dengan anamnesis. Khususnya
diagnosis abortus habitualis karena inkompentensia, menunjukkan gambaran klinik
yang khas, yaitu dalam kehamilan triwulan kedua terjadi pembukaan serviks tanpa
disertai mulas, ketuban menonjol dan pada suatu saat pecah, kemudian timbul mulas
yang selanjutnya diikuti oleh pengeluaran janin yang biasanya masih hidup dan
normal. Apabila penderita datang dalam triwulan pertama, maka gambaran klinik
tersebut dapat diikuti dengan melakukan pemeriksaan vaginal tiap minggu (Budiono
Wibowo,2005).
2.10.2. Penanganan Abortus Habitualis
1. Memperbaiki keadaan umum,
2. Pemberian makan yang sempurna,
3. Memberikan anjuran istirahat yang banyak,
4. Larangan coitus dan olahraga,
5. Pada serviks inkompeten, apabila penderita telah hamil, maka operasi
untuk mengecilkan ostium uteri internum sebaiknya dilakukan pada
kehamilan 12 minggu atau lebih (Budiono Wibowo, 2005).

33

2.11 Abortus Septik


Abortus septik adalah abortus yang terinfeksi, dengan penyebaran mikroorganisme
dan produknya ke dalam sirkulasi sistemik ibu (Taber, 1994). Infeksi dalam uterus
atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus, tetapi biasanya ditemukan pada
abortus inkomplet dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan tanpa
memperhatikan asepsis dan antisepsis (Budiono Wibowo, 2005).
2.11.1 Diagnosis abortus septik
-

Data subjektif
o Nyeri abdomen: biasanya suprapubik, hebat dan konstan. Pada
kasus parametritis dan peritonitis terbukti nyeri abdomen lebih
difus.
o Perdarahan pervaginam : Jumlah perdarahan bervariasi. Beberapa
pasien mengalami perdarahan minimum sementara lainnya
mengalami perdarahan hebat.
o Gejala haid : Sebagian besar pasien abortus septik sadar
kehamilannya dan melaporkan bahwa siklus haid normalnya yang
terakhir terjadi 2 bulan atau lebih sebelum mulai timbulnya gejala
saat ini.
o Menggigil dan demam : Merupakan gejala khas infeksi serius.
Pasien sering merasa lemah dan sakit parah.

Data objektif
o Pemeriksaan fisik

34

Pemeriksaan umum : biasanya pasien demam dengan suhu


diatas

38o

C,

menggambarkan
takikardia,

dapat

disertai

hipotensi

syok

endotoksik.

juga

disebabkan

dan

takikardia

Hipotensi
oleh

dan

perdarahan

intraperitonium sekunder dari perforasi uterus atau laserasi


atau keduanya.

Pemeriksaan abdomen : nyeri tekan suprapubik merupakan


penemuan yang khas. Nyeri tekan abdomen generalisata
dengan nyeri lepas, quarding/defance muscular, rigiditas,
atau distensi menunjukkan adanya keterlibatan peritoneum.

Pemeriksaan Obstetrikus : Pada pemeriksaan spekulum,


hasil konsepsi atau sekret berdarah, purulen dapat terlihat
dalam vagina. Serviks dapat berdilatasi, dengan sekret
berbau busuk yang dikeluarkan dari ostium eksternum.
Fragmen jaringan plasenta dalam kanalis servikalis atau
vagina dikeluarkan dengan forsep cincin dan dikirim ke
laboratorium untuk pemeriksaan bakteriologi dan patologi.
Pada pemeriksaan bimanual, biasanya uterus membesar dan
nyeri tekan. Gerakan serviks terasa sangat nyeri. Sering
ostium internum berdilatasi dan dapat dilalui satu jari.
Nyeri

tekan

ligamentrum

latum

merupakan

bukti

parametritis dan selulitis pelvis. Massa adneksa dapat


berupa abses atau hematoma (Taber, 1994).
o Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium :

35

Darah rutin : hitung leukosit hampir selalu


meningkat dengan peningkatan neutrofil dan batang
apusan hitung jenis.

Urinalisis : normal, kecuali ada hemolisis atau


infeksi traktus urinarius yang menyertai (Taber,
1994).

2.11.2. Penanganan Abortus Septik


1. Perbaiki keadaan umum (seperti infus, tranfusi, dan atasi syok septik bila
ada).
2. Posisi Fowler.
3. Antibiotik yang adekuat (untuk bakteri aerob dan anaerob).
4. Uterotonik.
5. Pemberian antibiotik selama 24 jam intravena, dilanjutkan dengan
evakuasi digital atau kuret tumpul.
2.12 Komplikasi Abortus
Komplikasi yang berbahaya pada abortus adalah perdarahan, perforasi, infeksi
dan syok.
1.

Perdarahan

36

Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil


konsepsi dan jika perlu pemberian tranfusi darah. Kematian karena
2.

perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.


Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam
posisi hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diamat-amati
dengan teliti. Jika`ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparotomi dan
tergantung dari luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi atau perlu

3.
4.

histerektomi.
Infeksi
Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan
karena infeksi berat (syok endoseptik) (Budiono Wibowo, 2005).
BAB III
KESIMPULAN

1. Abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun sebelum janin


mampu bertahan hidup < 20 minggu didasarkan pada tanggal HPHT, atau
keluarnya janin-neonatus yang beratnya kurang dari 500 gram.
2. Abortus spontan terjadi tanpa tindakan mekanis atau medis untuk
mengosongkan uterus (misscarriage), sedangkan Abortus terinduksi adalah
terminasi kehamilan secara medis atau bedah sebelum janin mampu hidup
(viabel), sekitar 60% abortus dilakukan sebelum usia gestasi 8 minggu, 88%
sebelum minggu ke-12 kehamilan.
3. Abortus Spontan dapat disebabkan oleh kelainan kromosom, kelainan
anatomi, kelainan hormonal, kelainan imunologis, kelainan endokrin,

37

trombofilia,tindakan bedah, penyakit kronis, infeksi, kelain an nurisi,


pemakaian obat dan faktor lingkungan.
4. Insidensi abortus sulit ditentukan karena kadang-kadang seorang wanita dapat
mengalami abortus tanpa mengetahui bahwa ia hamil, dan tidak mempunyai
gejala yang hebat sehingga hanya dianggap sebagai menstruasi yang
terlambat.
5. Angka abortus tertinggi menurut statistik terdapat pada wanita kulit putih
dengan golongan umur antara 20-24 tahun.
6. Abortus dibagi atas abortus spontan dan abortus buatan. Abortus spontan
dibagi atas abortus iminens (keguguran mengancam), abortus insipiens
(keguguran berlangsung), abortus inkomplet (keguguran tidak lengkap),
abortus komplet (keguguran lengkap), missed abortion (abortus tertunda) dan
abortus habitualis (keguguran berulang).
7. Abortus biasanya disertai oleh perdarahan ke dalam desidua basalis dan
nekrosis di jaringan dekat tempat perdarahan. Ovum menjadi terlepas, dan hal
ini memicu kontraksi uterus yang menyebabkan ekspulsi.
8. Komplikasi yang berbahaya pada abortus adalah perdarahan, perforasi, infeksi
dan syok.

38

DAFTAR PUSTAKA
Cunningham FG, Gran NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom KD. 2010.
Abortion. In: Williams Obstetrics. 23st. New York: Mc. Graw-Hills, pg. 215226.
Cunningham FG, Gran NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom KD. 2005.
Abortion. Dalam: Obstetri Williams. Edisi ke-21. Jakarta: EGC, hal.951-975.
LP Kalolo, S. Darmadi. 2009. Laporan Kasus : Abortus Habitualis pada
Antiphospholipid Syndrome. http://www.journal.unair.ac.id/filerPDF/IJCPML12-2-09.pdf

39

Budiono Wibowo. 2005. Kelainan Dalam Lamanya Kehamilan. Dalam: Ilmu


Kebidanan. Edisi ke-3. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka. Hal 302-12.
Rustam Mochtar. 1998. Abortus dan Kelainan dalam Tua Kehamilan. Dalam :
Sinopsis Obstetri Jilid I. Edisi ke-2. Jakarta : EGC. Hal 209-17.
Sofie R. Krisnadi. 2005. Kelainan Lama Kehamilan. Dalam: Obstetri Patologi Ilmu
Kesehatan Reproduksi. Edisi ke-2. Jakarta : EGC. Hal 1-9.
Taber, Ben-Zion. 1994. Abortus. Dalam : Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan
Ginekologi (Terjemahan). Edisi ke-1. Jakarta : EGC. 57-77.
Anonymus,2010. Abortion.
http://www.emedicinehealth.com/abortion/article_em.htm