Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH KALIMAT EFEKTIF:

PENALARAN/LOGIKA, DEFINISI, DAN


GENERALISASI.
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya. Penulis juga berterima kasih kepada ibu

Eliza Putri, M.Pd

selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia yang telah membimbing sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Kalimat Efektif : Penalaran/ Logika, Definisi dan
Generalisasi.
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa
Indonesia. Makalah ini juga bertujuan untuk memahami dan memperluas wawasan mengenai
kalimat efektif, penlaran/ logika, definisi, dan generalisasi.
Seperti pepatah yang mengatakan Tak Ada Gading yang Tak Retak, sama halnya
dengan makalah ini yang masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran penulis
harapkan untuk membuat karya tulis yang lebih baik. Semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca.
Jakarta, April 2014

Penulis

DAFTAR ISI
i

...

ii

..

....

..

................................

...

. 4

.. 5

.. 5

. 7

..

.. 9

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi yang dipakai oleh masyarakat. Dalam bahasa terdapat
ide, gagasan pikiran, dan perasaan yang mewakili diri seseorang. Setiap gagasan pikiran atau
konsep yang dimiliki seseorang pada prakteknya harus dituangkan kedalam bentuk kalimat.
Kata-kata yang digunakan dalam membentuk kalimat haruslah dipilih dengan tepat. Kalimat
yang jelas dan baik akan mudah dipahami orang lain. Kalimat yang demikian disebut dengan
kalimat efektif. Sebuah kalimat efektif haruslah secara tepat dapat mewakili keinginan
penulis, oleh karena itu harus disusun secara sadar untuk mencapai daya informasi yang
diinginkan oleh penulis terhadap pembacanya. Melalui kalimat efektif dapat disampaikan
gagasan pikiran, ide dan pendapat dengan tepat ke dalam kalimat yang bersih sehingga orang
lain akan dengan tepat dapat menerima seperti yang diharapkan. Sebuah kalimat dikatakan
efektif apabila mencapai sasarannya dengan baik sebagai alat komunikasi.
Keterampilan menggunakan perangkat kebangsaan dalam menulis merupakan keterampilan
pokok yang harus dimiliki, disamping keterampilan menyajian dan keterampilan menata
perwajahan. Tanpa kemauan menggunakan bahasa, mustahil dapat mencapai suatu tulisan yang
baik.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :
a.

Apa pengertian kalimat efekif?

b.

Apa saja syarat kalimat efektif?

c.

Apa pengertian penalaran atau logika?

d.

Apa saja hal dasar tentang proses berpikir logis?


1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui pengertian kalimat efektif, penalaran/logika, dan definisi.
2. Mengetahui syarat kalimat efektif.

3. Mengetahui pengertian penalaran/logika.


4. Mengetahui hal-hal yang mendasari proses berpikir logis.

BAB II
RINGKASAN MATERI
2.1 Pengertian Kalimat Efektif

Kalimat dapat dikatakan efektif bila dirasa hidup dan mudah dipahami oleh pembaca atau
pendengar dalam menangkap informasi yang ada dalam kalimat.
Kalimat yang efektif mempersoalkan bagaimana ia dapat mewakili secara tepat isi pikiran
atau perasaan pengarang/pembicara, bagaimana ia dapat mewakilinya secara segar, dan sanggup
menarik perhatian pembaca dan pendengar terhadap apa yang dibicarakan (Keraf, 2004:40).
Kalimat efektif juga mampu berusaha agar gagasan pokok selalu mendapat tekanan dalam
pikiran para pembaca.
Jadi kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi syarat-syarat berikut:
1. Secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis.
2. Sanggup menimbulkan gagsan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca
seperti yanng dipikirkan pembicara atau penulis.
Keraf (2004:40) menyatakan bahwa kita memerlukan syarat-syarat lain untuk dapat membuat
kalimat yang efektif, yakni: kesatuan gagasan, koherensi yang kompak, penekanan, variasi,
paralelisme, dan penalaran. Sementara menurut Akhadiah (1991:116) ciri kalimat yang efektif
adalah kesepadanan dan kesatuan, kesejajaran bentuk (paralelisme), penekanan, kehematan
dalam mengunakan kata, dan kevariasian dalam struktur kalimat. Tetapi dalam makalah ini kita
hanya akan membahas salah satu unsur dalam membenuk kalimat efektif, yakni penalaran atau
logika.
2.2 Penalaran atau logika
Keraf (2004:40) menyatakan yang dimaksud dengan kalimat efektif adalah kalimat yang
secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis. Berarti, bukan hanya
struktur gramatikal yang berperan penting agar ide pokok kalimat dapat diungkapkan dengan
baik dan benar. Ada unsur lain yang harus diperhatikan yaitu penalaran atau logika. Kalimat yang
efektif harus logis karena setiap kalimat harus bisa dipertanggungjawabkan dari segi akal sehat
dan sesuai dengan penalaran. Berikut ini adalah contoh kalimat yang logis dan tidak logis :

Kepada kepala sekolah waktu dan tempat kami persilahkan.


(tidak logis)
Untuk mempersingkat waktu mari kita lanjutkan acara ini. (logis)
Seluruh bagian dari kedua kalimat di atas sebenarnya bisa dimengerti, tetapi ada beberapa
bagian yang sulit diterima akal sehat. Maka dari itu, jalan pikiran penulis/pembicara menentukan

mudah-tidaknya sebuah kalimat dipahami.


Berikut ini adalah uraian singkat beberapa hal dasar tentang proses berpikir logis.
2.2.1 Definisi

Definisi atau batasan yang tepat merupakan kunci dari ciri berpikir yang logis dan menjadi
ciri-ciri menulis yang logis. Setiap istilah harus memiliki batasan arti yang jelas dan tepat agar
tidak terjadi salah paham, serta setiap pembaca mengartikan sama.
Beberapa macam definisi:
2.2.1.1 Definisi berupa sinonim kata
Definisi berupa sinonim kata adalah pembatasan pengertian sebuah kata dengan memberikan
sinonim atau kata-kata yang bersamaan artinya dengan kata yang akan dijelaskan. Misalnya kita
membatasi pengertian kemerdekaan dengan kebebasan. Walaupun batasan ini tidak terlalu
memberikan hasil yang memuaskan, tapi untuk tujuan praktis hal ini sangat membantu, terutama
mengenai istilah-istilah teknis atau istilah-istilah yang belum dikenal. Contoh lain:
Memboyak
=
jungkir balik
Pekeras
=
upeti
2.2.1.2 Definisi berdasarkan etimologi
Definisi berdasarkan etimologi (asal-usul kata) adalah pembatasan pengertian sebuah kata
dengan mengikuti jejak etimologi dan arti yang asli hingga arti yang sekarang. Tujuannya adalah
untuk menunjukkan bahwa istilah itu tidak hanya mengandung pengertian yang sekarang saja.
Contoh:
Homonim: Homonim berasal dari bahasa yunani homo berarti sama dan nym berarti nama.
Homonim adalah kata yang penamaan dan pengucapannya sama tetapi artinya berbeda.
2.2.1.3 Definisi formal atau riil
Definisi formal atau riil atau bisa disebut juga definisi logis adalah suatu cara untuk membatasi
pengertian suatu istilah dengan membedakan genusnya dan mengadakan deferensiasinya. Maka
dari itu, hal pertama yang dilakukan adalah melakukan klasifikasi atau menempatkan kata dalam
kelas atau genusnya. Semakin sempit kelasnya, semakin baik definisinya.
Contoh:
Kata
Mobil sedan
Sedan
Parang
Parang

Adalah

Kelas/genus
Sejenis kendaraan (kurang jelas karena kelasnya terlalu
luas)
Sejenis kendaraan darat roda empat (lebih jelas)
Sejenis senjata (kurang jelas)
Sejenis senjata tajam yang berbentuk seperti golok
(lebih jelas)

Langkah kedua adalah melakukan deferensiasi. Deferensiasi adalah menyebutkan ciri-ciri


yang membedakan suatu kata dari anggota lain yang sekelasnya.
Contoh:
Kata
Sedan

Parang

Adalah Kelas/genus
Diferensiasi
Sejenis kendaraan darat roda Yang berukuran kecil
empat

dan memiliki bodi

Sejenis senjata tajam yang

yang lebih pendek.


Tetapi ukurannya

berbentuk seperti golok

lebih besar dan


memiliki ujung yang
lebar.

Syarat untuk membuat definisi yang baik:


Kata yang didefinisikan dan bagian yang mendefinisikan harus
bersifat paralel atau sejajar bobotnya. Karena kedua bagian itu
sama persis, maka harus dihindari kata-kata: dimana, bilamana, bila, kalau dalam sebuah

1)

2)

definisi.
Contoh:
Rumah adalah dimana orang tinggal. (salah)
Rumah adalah tempat tinggal manusia yang terbuat dari... (baik)
Kata yang didefinisikan tidak boleh menjadi bagian dari yang
mendefinisikan.
Contoh:
Membaca adalah kegiatan membaca dan menemukan makna dari tulisan. (salah)
Membaca adalah kegiatan merespon lambang-lambang tertulis dengan menggunakan pengertian
yang tepat. (baik)

3) Yang didefinisikan harus sama dengan yang


mendefinisikan.
Contoh:
Hamba adalah manusia. (salah jika digunakan sebagai definisi, tetapi kalimat yang baik sebagai
pernyataan)
Hamba adalah manusia milik orang lain. (baik)
4) Bagian yang mendefinisikan tidak boleh bersifat negatif.
Contoh:
Pulpen adalah alat tulis yang tidak boleh digunakan untuk menulis di papan tulis
2.2.1.4

Defini luas

Banyak kata, terutama kata-kata abstrak seperti: kebaikan, demokrasi, kebebasan,


keadilan, liberal dan sebagainya. Kata-kata tersebut sulit dibatasi dengan hanya menggunakan
satu kalimat dan membutuhkan lebih banyak keterangan daripada apa yang diperlukan oleh
definisi formal.
Oleh karena itu, bila kita ingin menerangkan arti suatu kata untuk umum, kita harus
membuat ilustrasi dengan membuat bandingan pengertian di daerah lain ataupun pengertian kata
tersebut di masa lalu. Perluasan yang demikian dari suatu definisi formal sebagai dasar, disebut
definisi luas. Suatu definisi luas dapat terdiri dari suatu alinea panjang suatu artikel, bahkan
kadang-kadang terdiri dari suatu buku besar yang beratus-ratus halaman panjangnya.
2.3 Generalisasi
Generalisasi adalah suatu pernyataan yang mengatakan bahwa apa yang benar mengenai
beberapa hal yang semacam, adalah benar atau berlaku pula untuk kebanyakan dari peristiwa
atau hal yang sama.
Misalnya dalam pengalaman kita yang pertama, ketika sepotong besi dimasukan ke dalam api,
ternyata volumenya membesar. Pengalaman-pengalaman selanjutnya dengan: tembaga,
kuningan, emas, perak dan alumunium memperlihatkan hal yang sama seperti besi. Berdaraskan
kenyataan lain bahwa semua barang yang dikemukakan di atas adalah logam, maka kita
membuat sebuah kesimpulan yang bersifat generalilasi: semua logam akan memuai bila
dipanaskan.
Generalisasi adalah sebuah proses berpikir yang esensial. Tanpa generalisasi tidak akan ada
evaluasi terhadap pengalaman-pengalaman. Sebab itu dalam membuat sebuah generalisasi harus
benar-benar diperhatikan apakah peristiwa-peristiwa yang dipakai cukup banyak dan
meyakinkan. Bila barang yang dipakai sebagai dasar generalisasi tidak relevan, maka
generalisasi akan pincang, akan ditolak oleh akal sehat.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kalimat dapat dikatakan efektif bila
dirasa hidup dan mudah dipahami oleh pembaca atau pendengar dalam menangkap informasi
yang ada dalam kalimat. Kalimat yang efektif harus logis karena setiap kalimat harus bisa
dipertanggungjawabkan dari segi akal sehat dan sesuai dengan penalaran. Dalam membuat
sebuah kalimat efektif tidak hanya diperlukan kemahiran gramatika atau sinteksis, tetapi ada
unsur lain yang harus diperhatikan yaitu penalaran atau logika. Kalimat yang efektif harus logis
karena harus dipertanggungjawabkan dari segi akal sehat manusia.

DAFTAR PUSTAKA
Keraf, Gorys. 2004. Komposisi. Semarang: Nusa Indah.
Alkadiah, Sabakti, dkk. 1991. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa
Erlangga.

Indonesia. Jakarta: