Anda di halaman 1dari 19

Rancangan Program Pembelajaran

Kelas X Semester 1
Oleh:
Elsa Sulastri
Al Humaerah
Andi Huzaima zahwa nursyahbani

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(RPP)
Sekolah

: SMAN 1 Mallengkeri

Mata pelajaran

: Biologi

Kelas/ Semester

: X/ Satu

Alokasi Waktu:
A. Kompetensi Inti (KI)
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
2. Menghayati dan Mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli

(gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan
menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural

berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya,


dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural
pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait

dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan


mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan
B. Kompetensi Dasar
1. KD pada KI-1
KD 1.1 Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang
keanekaragaman hayati, ekosistem, dan lingkungan hidup.
2. KD pada KI-2
KD 2.1 Berperilaku ilmiah: teliti, tekun, jujur sesuai data dan fakta, disiplin,
tanggung jawab,dan peduli dalam observasi dan eksperimen, berani dan santun
dalam mengajukan pertanyaan dan berargumentasi, peduli lingkungan, gotong
royong, bekerjasama, cinta damai, berpendapat secara ilmiah dan kritis, responsif
dan proaktif dalam dalam setiap tindakan dan dalam melakukan pengamatan dan
percobaan di dalam kelas/laboratorium maupun di luar kelas/laboratorium.
3. KD pada KI-3

KD 3.2 Menganalisis data hasil obervasi tentang berbagai tingkat keanekaragaman


hayati (gen, jenis dan ekosistem) di Indonesia.
4. KD pada KI-4
KD 4.2 Menyajikan hasil identifikasi usulan upaya pelestarian keanekaragaman
hayati Indonesia berdasarkan hasil analisis data ancaman kelestarian berbagai
keanekaragaman hewan dan tumbuhan khas Indonesia yang dikomunikasikan dalam
berbagai bentuk media informasi.
C. Indikator Pencapaian Kompetensi
1. Indikator KD pada KI-1
1.1 Menunjukkan sifat kagum keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang
keanekaragaman hayati, ekosistem, dan lingkungan hidup.
2. Indikator KD pada KI-2
2.1 Menampilkan perilaku ilmiah seperti teliti, tekun, jujur sesuai data dan fakta,
disiplin, tanggung jawab, dan peduli dalam observasi mengenai berbagai tingkat
keanekaragaman hayati di Indonesia
2.2 Menunjukkan sikap berani dan santun dalam mengajukan pertanyaan dan
berargumentasi dalam kegiatan pembelajaran.
3. Indikator KD pada KI-3
3.1 Menjelaskan pengertian keanekaragaman hayati
3.2 Menjelaskan tingkat-tingkat keanekaragaman hayati
3.3 Mengamati adanya gejala keanekaragaman hayati di lingkungan sekitar
3.4 Menganalisis data hasil obervasi tentang berbagai tingkat keanekaragaman
hayati (gen, jenis dan ekosistem) di lingkungan sekitar.
4. Indikator KD pada KI-4
4.1 Mengidentifikasi berbagai ancaman kelestarian berbagai keanekaragaman hewan
dan tumbuhan khas Indonesia
4.2 Mengemukakan upaya pelestarian keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia
4.3 Memproyeksikan upaya pelestarian berbagai keanekaragaman hewan dan
tumbuhan khas Indonesia ke dalam media informasi.
D. Materi Pembelajaran
(Terlampir)
E. Kegiatan Pembelajaran
1. Pertemuan Pertama: ( 3 JP) 135 menit
a. Kegiatan Pendahuluan (15 menit)
Guru masuk kedalam ruangan dengan raut wajah yang senang dan ceria

memberi salam kepada siswa, menanyai kabar siswa dan mulai mengabsen.
Guru mengajak siswa memanjakan puji dan syukur kepada Tuhan atas

keanekaragaman yang telah diciptakanNya.


Guru memulai pembelajaran dengan mendiskusikan mengenai kompetensi
yang telah dipelajari dan dikembangkan sebelumnya berkaitan dengan
kompetensi yang akan dipelajari dan dikembangkan selanjutnya.

Menyampaikan kompetensi dasar serta indikator yang ingin dicapai dan

manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.


Menyampaikan kontrak belajar seperti lingkup, sumber belajar, dan teknik

penilaian yang digunakan.


b. Kegiatan Inti (indoor: 30 menit, outdoor: 30 menit, presentasi 50 menit)
Guru menanyai pendapat siswa tentang pengertian keanekaragaman hayati
Guru memberikan kesimpulan tentang pengertian dari keanekaragaman

hayati
Guru menjelaskan lebih lanjut mengenai keanekaragaman hayati termasuk

gen, ekosistem dan populasi.


Guru membagi siswa kedalam 5 kelompok yang terdiri dari 5 orang yang

heterogen dan membagikan LKPD tiap kelompok


Guru menyuruh siswa untuk keluar kelas mengamati keanekaragaman
hayati yang ada di lingkungngan sekitar (lingkungan sekolah) selama 20

menit
Selama di luar kelas, guru mengamati dan memfasilitasi siswa apabila ada

yang kurang dimengerti dan membutuhkan penjelasan


Guru memerintahkan siswa untuk kembali ke kelas
Guru memberikan kertas ke siswa untuk membuat mind map tentang hasil

observasi yang telah dlakukan dengan estimasi waktu 15 Menit


Guru menyuruh perwakilan kelompok untuk mempertanggung jawabkan

hasil observasinya dengan estimasi waktu 5-7 menit untuk semua kelompok
c. Kegiatan Penutup (15 menit)
Guru meberikan pertanyaan kepada siswa tentang mengerti atau tidaknya

mengenai keanekaragaman hayati.


Guru menyimpulkan tentang materi pembelajaran yang diajarkan hari itu.
Guru memerintahkan siswa untuk membaca buku, literatur ataupun melalui
internet mengenai keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia dan

ancaman-ancaman kelestarian tumbuhan dan hewan khas Indonesia


Guru mengakhiri kegiatan pembelajaran serta mengucapkan salam
2. Pertemuan Kedua: ( 2 JP/ 90 menit)
a. Kegiatan Pendahuluan (10 menit)
Guru memasuki ruangan dan mengucapkan salam
Guru menyapa siswa dan menanyai kabar siswa serta mulai mengabsen
Setelah mengabsen, guru menyai siswa mengenai materi yang dibahas

sebelumnya.
Guru melakukan review sederhana materi sebelumnya
Guru memerintahkan siswa untuk kembali bergabung dengan kelompok
sebelumnya dan menggunakan metode pembelajaran two stay dan two stray

namun kondisi kelompok yang berjumlah 5 orang sehingga 2 tetap dan tiga
teman lainnya jalan ke kelompok yang lain
b. Kegiatan Inti (65 menit)
Guru memberikan arahan mengenai inti pembelajaran hari itu (ancaman

kelestarian tanaman dan hewan khas indonesia.


Guru memerintahkan setiap kelompok untuk mengarahkan anggotanya

yang stray untuk mulai berkeliling pada setiap kelompoknya.


Setelah semua kelompok selesai berkunjung dan kembali ke kelompok asal
masing-masing, guru memerintahkan siswa untuk berdiskusi sesama
anggota

kelompoknya

tentang

bagaimana

upaya

pelestarian

keanekaragaman hayati dari ancaman-ancaman yang di dapat dari

kelompok lain.
Setalah berdiskusi, guru memerintahkan siswa untuk mengkomunikasikan
atau mempresentasikan upaya-upaya yang di usulkan oleh anggota

kelompoknya.
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
Guru mempersilahkan siswa untuk menyimpulkan ancaman-ancaman

kelestarian keanekaragaman hayati serta bagaimana upaya pelestariannya


c. Kegiatan Penutup (15 menit)
Guru memberikan kesimpulan mengenai pembelajaran pada hari itu dan
memberikan tugas kepada siswa untuk membuat mading setiap kelompok
mengenai ancaman-ancaman beserta upaya pelestarian keanekaragaman
hayati tersebut. Tugas tersebut dijadikan sebagai tiket untuk memasuki

evaluasi pekan depan.


Sebelum menutup proses pembelajaran, guru kembali bertanya kepada
siswa mengenai tugas dan hal-hal yang belum dipahami mengenai materi

ataupun tugas.
Setelah tidak ada pertanyaan, guru mengakhir pembelajaran dengan

mengucapkan salam.
F. Penilaian, Pembelajaran Remedial dan Pengayaan
G. Penilaian, Pembelajaran Remedial dan Pengayaan
1. Teknik penilaian
a. Teknik tes
1) Tes tertulis
Tes bentuk uraian
2) Tes lisan
b. Teknik non tes
1) Observasi
2. Instrumen penilaian
a. Penilaian afektif

Nilai rata-rata

lingkungan Peduii

Terbuka

Cermat

Teliti

jawab Bertanggung

1.
2.
3.
4.
5.

Nama Peserta Didik

Jujur

No
.

Sikap yang dinilai

Dst..

b. Penilaian kognitif
Soal Essai
1. Apakah yang dimaksud dengan keanekaragaman Hayati?
Rubrik Penilaian
Nilai

Deskripsi
Keanekaragaman
hayati
merupakan
pernyataan mengenai berbagai macam variasi
atau bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat
yang terdapat pada berbagai tingkatan
makhluk hidup.
Menuliskan jawaban hanya sebagian yang

benar
Menuliskan jawaban yang salah
Tidak menjawab

1
0

2. Tuliskan contoh-contoh tempat yang dijadikan sebagai lokasi pelestarian in situ


dan pelestarian ex situ

Nilai

Deskripsi

Pelestarian in situ contohnya


Taman asional Ujung Kulon dan
Taman nasional Way Kambas.

Pelestarian ek situ contohnya


kebun binatang.

2
1
0

Menuliskan jawaban yang hanya salah


satunya yang benar
Menuliskan jawaban yang salah
Tidak menjawab

3. Manfaat apa saja yang bisa didapat oleh manusia dari keanekaragaman hayati di
Indonesia?
Nilai
4

2
1
0

Deskripsi
Beberapa keanekaragaman hayati dapat
dimanfaatkan sebagai bahan sandang,
pangan, papan, dan obat-obatan.
Beberapa keanekaragaman hayati dapat
dimanfaatkan sebagai bahan sandang,
pangan.
Menulis jawaban yang salah
Tidak menjawab

3. Pembelajaran Remedial dan Pengayaan


Pembelajaran remedial dilakukan segera setelah kegiatan penilaian.
H. Media/alat, Bahan, dan Sumber Belajar
1. Media/alat
a Real object (tumbuhan dan hewan yang ada di lingkungan sekitar sekolah)
b Laptop dan LCD
c Alat tulis menulis
d LKPD (Terlampir)
2. Bahan dan Sumber Belajar
a Buku biologi SMA kurikulum 2013
b Internet
c Lingkungan sekolah

Lembar Kerja Peserta Didik


Materi Keanekaragaman Hayati

Kelompok

Kelas

Nama/ Nis

: 1.
2.
3.
4.
5.

Kompetensi Dasar 3.2: Menganalisis data hasil obervasi tentang berbagai tingkat
keanekaragaman hayati (gen, jenis dan ekosistem) di Indonesia.
Indikator

: 3.1 Menjelaskan pengertian keanekaragaman hayati


3.2 Mengamati adanya gejala keanekaragaman hayati di
lingkungan sekitar
3.3 Menganalisis data hasil obervasi tentang berbagai tingkat
keanekaragaman hayati (gen, jenis dan ekosistem) di
lingkungan sekitar.

Langkah Kerja:
1.
2.
3.
4.

Tentukan areal yang aka anda amati.


Amatilah makhluk hidup disekitarmu.
Golongkan makhluk hidup tersebut berdasarkan tingkat keanekaragamannya
Tulis hasil pengamatanmu pada table yang disediakan
Tabel Hasil Observasi

No

Nama Hewan/Tumbuhan yang diamati

Keterangan

Pertanyaan:

Lampiran
Keanekaragaman Hayati Tingkat Ekosistem
Di lingkungan manapun Anda di muka bumi ini, maka Anda akan menemukan makhluk
hidup lain selain Anda. Semua makhluk hidup berinteraksi atau berhubungan erat dengan
lingkungan tempat hidupnya.
Lingkungan hidup meliputi komponen biotik dan komponen abiotik. Komponen biotik
meliputi berbagai jenis makhluk hidup mulai yang bersel satu (uni seluler) sampai makhluk
hidup bersel banyak (multi seluler) yang dapat dilihat langsung oleh kita. Komponen abiotik
meliputi iklim, cahaya, batuan, air, tanah, dan kelembaban. Ini semua disebut faktor fisik.
Selain faktor fisik, ada faktor kimia, seperti salinitas (kadar garam), tingkat keasaman, dan
kandungan mineral.
Baik komponen biotik maupun komponen abiotik sangat beragam atau bervariasi. Oleh
karena itu, ekosistem yang merupakan interaksi antara komponen biotik dengan komponen
abiotik pun bervariasi pula.
Di dalam ekosistem, seluruh makhluk hidup yang terdapat di dalamnya selalu melakukan
hubungan timbal balik, baik antar makhluk hidup maupun makhluk hidup dengan
lingkungnnya atau komponen abiotiknya. Hubungan timbal balik ini menimbulkan keserasian
hidup di dalam suatu ekosistem. Apa yang menyebabkan terjadinya keanekaragaman tingkat
ekosistem? Perbedaan letak geografis antara lain merupakan faktor yang menimbulkan
berbagai bentuk ekosistem.

Gambar 2. Keanekaragaman ekosistem (a) padang rumput (b) padang tundra (c) gurun
pasir
Perbedaan

letak

geografis

menyebabkan

perbedaan

iklim.

Perbedaan

iklim

menyebabkan terjadinya perbedaan temperature, curah hujan, intensitas cahaya matahari, dan
lamanya penyinaran. Keadaan ini akan berpengaruh terhadap jenis-jenis flora (tumbuhan) dan
fauna (hewan) yang menempati suatu daerah.
Di daerah dingin terdapat bioma Tundra. Di tempat ini tidak ada pohon, yang tumbuh
hanya jenis lumut. Hewan yang dapat hidup, antara lain rusa kutub dan beruang kutub. Di

daerah beriklim sedang terdpat bioma Taiga. Jenis tumbuhan yang paling sesuai untuk daerah
ini adalah tumbuhan conifer, dan fauna/hewannya antara lain anjing hutan, dan rusa kutub.
Pada iklim tropis terdapat hutan hujan tropis. Hutan hujan tropis memiliki flora
(tumbuhan) dan fauna (hewan) yang sangat kaya dan beraneka ragam. Keanekaragaman
jenis-jenis flora dan fauna yang menempati suatu daerah akan membentuk ekosistem yang
berbeda. Maka terbentuklah keanekaragaman tingkat ekosistem.
Totalitas variasi gen, jenis dan ekosistem menunjukkan terdapat pelbagai variasi
bentuk, penampakan, frekwensi, ukuran dan sifat lainnya pada tingkat yang berbeda-beda
merupakan keanekaragaman hayati.
Keanekaragaman

hayati

berkembang

dari

keanekaragaman

tingkat

gen,

keanekaragaman tingkat jenis dan keanekaragaman tingkat ekosistem. Keanekaragaman


hayati perlu dilestarikan karena didalamnya terdapat sejumlah spesies asli sebagai bahan
mentah perakitan varietas-varietas unggul. Kelestarian keanekaragaman hayati pada suatu
ekosistem akan terganggu bila ada komponen-komponennya yang mengalami gangguan.
Gangguan-gangguan

terhadap

komponen-komponen

ekosistem

tersebut

dapat

menimbulkan perubahan pada tatanan ekosistemnya. Besar atau kecilnya gangguan terhadap
ekosistem dapat merubah wujud ekosistem secara perlahan-lahan atau secara cepat pula.
Contoh-contoh gangguan ekosistem , antara lain penebangan pohon di hutan-hutan
secara liar dan perburuan hewan secara liar dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.
Gangguan tersebut secara perlahan-lahan dapat merubah ekosistem sekaligus mempengaruhi
keanekaragaman tingkat ekosistem. Bencana tanah longsor atau letusan gunung berapi,
bahkan dapat memusnahkan ekosistem. Tentu juga akan memusnahkan keanekaragaman
tingkat ekosistem. Demikian halnya dengan bencana tsunami.
Sumber:

https://belajar.kemdikbud.go.id/SumberBelajar/tampilajar.php?

ver=12&idmateri=102&lvl1=2&lvl2=3&lvl3=0&kl=10
Keanekaragaman hayati yang terdapat di suatu wilayah bermacam-macam.
Keanekaragaman hayati sangat diperlukan untuk kelestarian hidup organisme dan
berlangsungnya daur materi (aliran energi). Walaupun begitu, tetap kuantitas dan kualitas
keanearagaman hayati di suatu wilayah dapat menurun atau bahkan dapat menghilang.
Keanekaragaman hayati dapat kita jaga kelestariannya serta dapat disembuhkan
kembali. Keanekaragaman hayati atau biodiversitas adalah variasi organisme hidup yang
mempunyai tiga pembagian tingkat, yaitu gen, spesies dan ekosistem. Menurut UU No.5
Tahun 1994, keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman yang ada di antara makhluk

hidup yang ada di semua wilayah yaitu daratan, lautan dan perairan atau akuatik, serta
komplek-komplek

ekologi

yang

termasuk

dari

keanekaragamannya,

meliputi

keanekaragaman dalm spesies, antara spesies dengan ekosistem.


Kemudian Keanekaragaman hayati menurut SOerjani (1996) adalah menyangkut
keunikan suatu spesies dan genetik di mana makhluk hidup tersebut menetap.
Keanekaragaman hayati dikatakan unik spesies hidup di suatu habitat yang khusus atau
makanan yang disantapnya sangat khas. Sebagai contoh yaitu komodo di pulau komodo,
Flores, Rinca, Gili Motang dan Panda yang ada di China hanya memakan daun bambu, dan
koala yang ada di Australia yang hanya memakan daun kayu putih.

Dilihat dari pengertiannya maka keanekaragaman hayati dapat dibagi menjadi tiga macam
yaitu keanekaragaman gen dan keanekaragaman jenis atau spesies serta keanekaragaman
ekosistem.
A. Keanekaragaman Gen
Adalah perbedaan atau variasi gen yang terdapat dalam suatu spesies makhluk hidup.
Contoh, buah durian yang memiliki kulit tebal, kulit tipis, dagingnya tebal, berdanging buah
tipis, biji besar atau biji kecil. Demikian pula dengan buah pisang yang mempunyai ukuran,
warna, bentuk dan tekstur serta rasa daging buah yang tidak sama dengan yang pisang
lainnya. Pisang mempunya beberapa variasi yaitu pisang raja uli, pisang raja molo, pisang
raja jambe, pisang raja sereh.
Keanekaragaman sifat genetik pada suatu makhluk hidup dikendalikan oleh gen-gen
yang ada didalam kromosom yang dimilikinya. Kromosom tersebut didapatkan dari kedua
induknya melalui pewarisan sifat. Namun, gen juga dapat dipengaruhi dengan kondisi

lingkungan tempat hidupnya. Contohnya bibit yang diambil dari batang induk mangga yang
memiliki sifat genetik berbuah dengan besar,dan bila ditanam pada area yang berbeda maka
ada kemungkinan tidak menghasilkan buah mangga berukuran besar seperti sifat genetik
induknya.
Keanekaragaman gen juga dapat ditingkatkan melalui hibridisasi atau perkawinan
silang antara spesies satu dengan spesies yang berbeda sifat atau melalui proses domestikasi
(budidaya tumbuhan liar atau hewan). Contohnya adalah proses hibrid dari tanaman anggrek
akan mendapatkan warna yang beragam, hibridisasi sapi fries Holland dengan sapi bali, dan
hibridisasi berbagai jenis tanaman atau hewan tertentu dengan spesies liar untuk
mendapatkan jenis yang tahan terhadap penyakit. Dengan cara hibridisasi ini maka kita dapat
memperoleh sifat genetik yang baru dari suatu organisme-organisme pada suatu spesies.
B. Keanekaragaman Jenis
Keanekaragaman jenis adalah adanya perbedaan yang bisa ditemukan pada kelompok
atau komunitas pada berbagai spesies yang hidup di suatu habitat makhluk. Contoh, di
halaman kita terdapat pohon mangga, jeruk, rambutan, kelapa, bunga melati, bunga mawar,
jahe, kunyit, burung, lebah, semut, kupu-kupu, dan cacing. Keanekaragaman jenis yang lebih
tinggi umumnya dapat ditemukan di suatu tempat yang jauh dari kehidupan manusia, semisal
di hutan. Di hutan terdapat jenis hewan dan tumbuhan yang lebih banyak dibandingkan
dengan di kebun atau di sawah.
Adapun beberapa jenis organisme yang memiliki ciri-ciri fisik yang hampir sama
seperti tumbuhan kelompok palem yaitu pinang, aren, sawit dan kelapa yang memiliki daun
seperti pita. Namun, tumbuh-tumbuhan tersebut merupakan spesies yang berbeda, kelapa
memiliki nama spesies Cocos Nucifera, pinang bernama Areca catechu.
C. Keanekaragaman Ekosistem
Ekosistem bisa terbentuk disebabkan adanya berbagai kelompok spesies yang dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungannya, setelah itu saling mempengaruhi antar spesies
dengan spesies dan spesies dengan lingkungan abiotik tempat hidup, semisal suhu, air, udara,
tanah, cahaya matahari, kelembapan dan mineral. Ekosistem berbeda dengan lainnya sesuai
dengan spesies pembentuknya.
Terdapat beberapa ekosistem yaitu ekosistem hutan, ekosistem rawa, ekosistem
terumbu karang, ekosistem laut dalam, ekosistem padang lamu, ekosistem mangrove,
ekosistem dana, eosistem pantai pasir dll. Kemudian adapun ekosistem buatan manusia yaitu

agro ekosistem seperti sawah, kebun, dan ladang. Hanya saja agroekosistem memiliki tingkat
keanekaragaman spesies yang lebih rendah dibandingkan dengan ekosistem alamiah, tetapi
mempunyai tingkat keanekaragaman genetik yang lebih tinggi.
Keberadaan keanekaragaman hayati ini tidak akan selalu tetap keadaannya, baik jumlah
serta jenisnya. Hal ini disebabkan oleh berbagai macam faktor, seperti perburuan, kerusakan
ekosistem, serta pemanfaatan yang berlebihan. Pemanfaatan keanekaragaman hayati untuk
berbagai keperluan secara berlebihan ini ditandai dengan semakin langkanya beberapa jenis
flora dan fauna.
Hal ini disebabkan rusaknya habitat dan ekosistem yang ditempati flora dan fauna
tersebut. Ketidakseimbangan tersebut apabila dibiarkan, dapat mengancam keanekaragaman
hayati. Oleh karenanya, kegiatan-kegiatan yang dapat menyebabkan kerusakan kekayaan
hayati di Indonesia ini harus dicegah. Pemerintah pun tidak tinggal diam, hal ini dapat dilihat
dari undang-undang yang dikeluarkan pemerintah mengenai konservasi (pengawetan) sumber
daya hayati yaitu Undang-Undang No. 23 tahun 1997 tentang pengolahan lingkungan hidup.
Dari undang-undang tersebut pengolahan lingkungan hidup diharapkan dapat bermanfaat
serta berkelanjutan. Berikut ini upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan
keanekaragaman hayati di Indonesia antara lain sebagai berikut:
i Perlindungan alam
Alam merupakan tempat manusia hidup sekaligus tempat untuk memperoleh
bahan kebutuhannya. Dari alam, manusia mendapatkan makanan dan energi. Kebutuhan
manusia yang diperoleh dari lingkungannya bukan hanya sesaat, melainkan selama
spesies itu ada sehingga kebutuhan itu tetap ada, bahkan makin meningkat. Untuk dapat
menyediakan kebutuhan hidup secara berkesinambungan itu, manusia harus selalu
berusaha menjaga kelestarian keanekaragaman hayati. Perlindungan dan pelestarian
keanekaragaman hayati di Indonesia telah dilaksanakan semenjak pemerintahan Hindia
Belanda, tepatnya tahun 1912, yang berpusat di Bogor.
Setelah merdeka, perlindungan alam dilaksanakan oleh Departemen Kehutanan
dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Perlindungan alam dapat dikelompokkan
menjadi perlindungan alam umum dan perlindungan alam khusus. a. Perlindungan alam
umum Perlindungan alam secara umum berarti melindungi semua komponen alam
secara keseluruhan yang meliputi kesatuan flora, fauna, dan tanahnya.
Perlindungan alam secara umum dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu
sebagai berikut: Perlindungan alam ketat adalah perlindungan alam yang tidak
memperbolehkan campur tangan manusia dalam usaha perlindungannya.

Biasanya daerah ini digunakan untuk kepentingan ilmiah atau penelitian,


misalnya, Taman Nasional Ujung Kulon dan Pulau Panaitan Perlindungan alam
terbimbing adalah perlindungan alam di bawah bimbingan para ahli, misalnya di kebun
raya dan taman nasional Taman nasional. Biasanya meliputi daerah yang luas, tidak
boleh ada bangunan tempat tinggal maupun industri, dan biasanya berfungsi sebagai
tempat rekreasi. Beberapa contoh taman nasional yaitu Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango (+ 15.000 ha), Taman Nasional Kerinci Seblat (+ 1,5 juta ha), dan Taman
Nasional Meru Betiri (+ 50.000 ha). Ciri-ciri taman nasional, antara lain:
(a) tersedianya kawasan yang cukup luas bagi pengembangan satu atau lebih ekosistem
yang tidak banyak dijamah oleh manusia. Dalam kawasan ini berkembang jenis tanaman
dan hewan yang memiliki nilai ilmiah;
(b) karena kepentingannya yang khas bagi ilmu pengetahuan, pengelolaannya berada di
tangan pemerintah;
(c) karena memiliki unsur ilmu pengetahuan dan daya tarik ilmiah, kawasan ini dapat
dikunjungi dan dikelola untuk kemanfaatan manusia, tanpa mengubah ciri-ciri ekosistem
ii Pengawetan hutan
Hutan adalah ciptaan Tuhan yang merupakan sumber keanekaragaman hayati yang
sangat besar manfaatnya bagi kehidupan manusia dan makhluk lainnya sehingga kita
harus memelihara keaslian hutan tersebut. Akan tetapi, akhir-akhir ini manusia
cenderung melakukan perusakan hutan. Hutan yang terpelihara dengan baik dapat
memperkaya hidup manusia secara material dan spiritual sehingga manusia harus
berusaha untuk memelihara semaksimal mungkin keanekaragam hayati tersebut.
Adapun tujuan dari pengawetan hutan, antara lain, sebagai berikut. Menjaga
keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna, dengan mencegah tindakan manusia
yang dapat merusak macam-macam flora dan fauna yang masih asli.
Menjaga keseimbangan air di musim penghujan dan musim kemarau. Humus
menggemburkan tanah. Tanah yang gembur mampu menahan air hujan. Selain itu, pada
musim kemarau, sungai dan sumur tetap berair karena air-air tanah itu keluar sebagai
mata air Mencegah erosi. Permukaan tanah mudah tererosi. Tanah terlindung oleh humus
dan terikat akar. Pada saat terjadi hujan humus akan menghambat terlemparnya butiranbutiran tanah permukaan dari tempatnya sehingga terhindarlah dari erosi.
Mencegah banjir. Terjadinya erosi akibat hutan gundul menyebabkan berkurangnya
humus serta pendangkalan sungai dan danau sehingga dapat terjadi banjir pada musim
penghujan Sumber perekonomian. Penyediaan kayu untuk berbagai industri terpentin dan
rotan merupakan hasil hutan yang sangat besar pengaruhnya terhadap perekonomian

Indonesia Tindakan yang dapat dilakukan untuk pengawetan hutan diantaranya sebagai
berikut:
Tidak melakukan penebangan pohon di hutan secara semena-mena, tetapi dilakukan
dengan sistem tebang pilih Mengusahakan agar penebangan pohon diimbangi dengan
penanaman kembali Mengadakan peremajaan hutan dan reboisasi, yaitu menanami
kembali bekas hutan yang telah rusak Mencegah kebakaran. Kerusakan hutan yang
paling besar terjadi karena kebakaran. Jika terjadi kebakaran hutan, harus diusahakan
pemadaman secepat mungkin
iii Perlindungan margasatwa
Menjaga keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem, harus diusahakan
agar tidak ada satu atau lebih komponen ekosistem yang mengalami kepunahan. Oleh
sebab itu, usaha pelestarian keanekaragaman hayati harus dilakukan secara terpadu,
artinya dalam suatu pelestarian itu, seluruh komponen ekosistem harus dilestarikan
secara keseluruhan.
Sikap manusia sangat berpengaruh terhadap perlindungan satwasatwa langka
yang mulai terancam kepunahan ini. Manusia harus sadar bahwa makhluk hidup apa pun
jika telah punah, keberadaannya di alam tidak dimungkinkan lagi. Upaya untuk
melestarikan hewan-hewan langka adalah sebagai berikut.
Membuat undang-undang perburuan dengan aturan-aturannya yang meliputi
batas-batas daerah perburuan, masa berburu, jumlah hewan yang boleh diburu, jenis
hewan, umur, jenis kelamin hewan, dan yang paling penting adalah hasil buruan tidak
untuk diperjualbelikan Membiakkan hewan-hewan langka yang hampir punah, misalnya
dengan mengisolasi hewan-hewan tertentu, memelihara, dan membiakkannya kemudian
dilepaskan kembali ke asalnya. Memindahkan hewan langka yang hampir punah ke
tempat lain yang habitatnya lebih sesuai dan lebih aman Mengambil telur hewan-hewan
tertentu pada saat tertentu untuk kemudian menetaskannya, membiakkannya, dan
mengembalikannya ke habitat semula.
KEANEKARAGAMAN HAYATI
Makhluk hidup dapat dijumpai di berbagai lingkungan. Pada lingkungan terdapat
faktor abiotik yang mempengaruhinya, seperti topografi, geologi, dan iklim.
Penyebaran makhluk hidup pada kondisi lingkungan abiotik yang berbeda memberi
kemungkinan adanya keanekaragaman hayati. Hewan dan tumbuhan yang hidup di
darat berbeda dengan yang hidup di perairan. Perbedaan itu misalnya pada warna,
bentuk dan ukuran. Perbedaan tersebutlah yang menimbulkan keanekaragaman.
Selain faktor lingkungan, keanekaragaman dapat disebabkan oleg faktor gen.
1. Berbagai tingkat keanekaragaman hayati
a. Keanekaragaman gen

Keanekaragaman yang menyebabkan variasi antarindividu yang masih


berada dalam tingkat spesies yang sama. Contohnya : kelapa macamnya yaitu
kelapa gading; kopyor; hidrid; dan kelapa hijau, mangga macamnya mangga tali
jiwo; gadung; golek; dan arumanis, padi macamnya padi IR; sedani; wulu; dan
kapuas.
b. Keanekaragaman jenis
Keanekaragaman yang menyebabkan variasi antarspesies, lebih mudah
diamati karena perbedaan lebih menyolok. Contohnya : variasi famili Palmae
antara lain kelapa; siwalan; aren dan pinang, variasi famili Graminae antara lain
padi, gandum, tebu, dan jagung.
c. Keanekaragaman Ekosistem
Dari semua variasi yang ada pada setiap tingkat jenis akan mempunyai
tempat hidup yang berbeda, tempat hidup ini akan membentuk ekosistem yang
berbeda pula. Contohnya : kelapa ekosistemnya di daerah pantai, siwalan
ekosistemnya di daerah kering, aren ekosistemnya di daerah rawa.
2. Manfaat mempelajari keanekaragaman hayati
Keanekaragaman hayati telah banyak dipelajari oleh menusia sejak zaman
dahulu. Hal tersebut dilakukan selain untuk memenuhi kebutuhan sandang dan
pangan juga untuk keperluan pengobatan suatu penyakit. Manfaat mempelajari
keanekaragaman hayati antara lain:
c.
d.
e.
f.
g.

mengetahui manfaat masing-masing jenis bagi kehidupan manusia


mengetahui adanya saling ketergantungan makhluk hidup
mengetahui ciri-ciri dan sifat masing-masing jenis
mengetahui kekerabatam antar makhluk hidup
mengetahui manfaat keanekaragaman dalam mendukung kelangsungan hidup
manusia

3. Mempelajari keanekaragaman hayati tanpa dan dengan cara klasifikasi


Bila kita mempelajari keanekaragaman hayati tanpa klasifikasi, akan
memungkinkan terjadinya kerancuan pengertian dalam menunjuk suatu jenis
makhluk hidup, misalnya burung gereja di Belanda musch, di Inggris house
sparrow, di Amerika english sparrow, di Spanyol gorrion, di Jerman hausspreling.
Bahkan dalam satu negara sering dijumpai spesies hewan atau tumbuhan memiliki
nama daerah berbeda-beda, misalnya burung merpati di Jawa Tengah doro, di
Madura dere, di Bali kedis dedare, dan di Jawa Barat japati. Namun, bila kita

mempelajari keanekaragaman hayati dengan klasifikasi, maka akan memperoleh


kemudahan dan keseragaman dalam menunjuk suatu jenis.
4. Keanekaragaman hayati di Indonesia
Indonesia memiliki kodisi fisik (lingkungan abiotik) yang sangat bervariasi,
sehingga menuntut hewan dan tumbuhan yang hidup di dalamnya untuk
beradaptasii dengan cara yang berbeda-beda agar dapat bertahan hidup. Keadaan
lingkungan abiotik yang sangat bervariasi menjadikan Indonesia kaya akan hewan
dan tumbuhan. Lingkungan abiotik dan biotik yang khas menyebabkan munculnya
makhluk hiidup yang khas pula. Bahkan ada tanaman-tanaman dan hewan-hewan
tertentuu yang hidup di daerah-daerah tertentu pula, contohnya burung
Cenderawasih di Irian jaya, burung Maleo di Sulawesi, Komodo di Pulau Komodo,
Bunga Bangkai di Sumatra.
5. Klasifikasi
Pengklasifikasian telah lama dilakukan oleh para ahli, yang pertama kali
Aristoteles dan Theophrastus. Aristoteles memperkenalkan 520 jenis hewan dalam
buku Historia Animalium dan Theophrastus memperkenalkan 480 jenis tumbuhan
dalam buku Historia Plantarum. Sistem klasifikasi ada 3 macam yaitu:
a. Sistem klasifikasi alamiah oleh Theophratus dalam bahasa latin Polinomial.
b. Sistem klasifikasi buatan oleh Carolus Linnaeus dalam bahasa latin Binomial.
c. Sistem klasifikasi filogenetik oleh Charles Darwin dalam bahasa latin Binomial.
6. Perkembangan Klasifikasi
Ilmu pengetahuan semakin berkembang dari masa ke masa. Perkembangan ini
sering menuntut perubahan dalam klasifikasi, khususnya pada tingkat kingdom.
Setiap sistem klasifikasi yang digunakan harus bersifat eksklusif dan inklusif.
Sistem klasifikasi dibuat untuk memudahkan kita mempelajari keanekaragaman
hayati di dunia ini. Perkembangan sistem klasifikasi menunjukkan bagaimana para
ilmuwan bekerja yaitu terbuka untuk perubahan dalam hal-hal yang baru. Dewasa
ini kita telah memiliki Kode Internasional Tata Nama Tumbuhan (International
Code of Botanical Nomenclature) dan Kode Internasional Tata Nama Hewan
(International Code of Zoological Nomenclature).
Cara Menulis Nama Jenis
Ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam menulis nama jenis dengan
sistem tata nama ganda adalah sebagai berikut: Huruf pertama dari kata yang
menyebutkan marga (genus) ditulis dengan huruf besar, sedangkan untuk kata

penunjuk jenis (spesies) ditulis dengan huruf kecil semua. Contoh: Zea mays, Zea :
genus, mays : spesies. Bila nama jenis ditulis dengan tangan atau ketik, harus
diberi garis bawah pada kedua kata nama tersebut. Namun bila dicetak harus
memakai huruf miring. Contoh: Zea mays bila diketik, Zea mays bila diketik.
Bila nama penunjuk jenis lebih dari dua kata, kedua kata terakhir tersebut harus
dirangkaikan dengan tanda penghubung. Contoh: Hibiscus rosa sinensis menjadi
Hibiscus rosa-sinensis.
Bila nama jenis itu diberikan untuk mengenang jasa orang yang
menemukannya maka nama penemu dapat dicantumkan pada kata kedua dengan
menambahkan hisuf (i) di belakangnya. Contohnya antara lain tanaman pinus yang
ditemukan Merkus, maka nama tanaman itu Pinus merkusii. Dapat juga apabila ada
spesies yang ditemukan Linnaeus maka di belakang bisa di beri tanda (L.)
I. Di samping cara pemberian nama spesies, ada pula cara penulisan nama kelas,
bangsa,

dan

famili,

yaitu

sebagai

berikut:

Nama kelas adalah nama genus + nae. Contoh: Equisetum + nae menjadi Kelas
Equisetinae
Nama Ordo adalah nama genus + ales. Contoh: Zingiber + ales menjadi Ordo
Zingiberales
Nama Famili adalah nama genus + aceae. Contoh: Canna + aceae menjadi Famili
Cannaceae