Anda di halaman 1dari 59

Bahan Bakar Bensin

2
Bensin
Putu Winda Aryantini 4213100108
Jurusan Teknik Sistem Perkapalan
Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Keputih, Sukolilo,
Surabaya 60111

Pendahuluan
Bahan bakar bensin adalah senyawa hidrokarbon yang kandungan oktana atau
isooktananya tinggi. Senyawa oktana adalah senyawa hidrokarbon yang
digunakan sebagai patokan untuk menentukan kualitas bahan bakar bensin yang
dikenal dengan istilah angka oktana. Dalam pengertian ini bahan bakar bensin
dibandingkan dengan campuran isooktana atau 2,3,4 trimetilpentana dengan
heptana. Isooktana dianggap sebagai bahan bakar paling baik karena hanya
pada kompresi tinggi saja isooktana memberikan bunyi ketukan (detonasi) pada
mesin. Sebaliknya, heptana dianggap sebagai bahan bakar paling buruk. Angka
oktana 100, artinya bahan bakar bensin tersebut setara dengan isooktana murni.
Angka oktana 80, artinya bensin tersebut merupakan campuran 80% isooktana
dan 20% heptana. Bensin (premium, super) merupakan bahan bakar cair yang
digunakan oleh kebanyakan motor-motor bensin. Bensin adalah bahan bakar cair
yang mudah menguap, pada suhu 60 derajat celcius kurang lebih 35-60% sudah
menguap dan akan menguap 100% kira-kira pada suhu diatas 100 derajat
celcius (G.Haryono,1997:74). Premium adalah bahan bakar minyak jenis distilat
berwarna kekuningan yang jernih dan mempunyai nilai oktan 88. Bensin
premium mempuyai sifat anti ketukan yang baik dan dapat dipakai pada mesin
dengan batas kompresi hingga 9,0 : 1 pada semua jenis kondisi, namun tidak
baik jika digunakan pada motor bensin dengan kompresi tinggi karena dapat
menyebabkan knocking. Bensin premium produk Pertamina memiliki kandungan
maksimum sulfur (S) 0,05%, timbal (Pb) 0,013% (jenis tanpa timbal) dan Pb 0,3%
(jenis dengan timbal), oksigen (O) 2,72%, pewarna 0,13 gr/100 l, tekanan uap 62
kPa, titik didih 215 C, serta massa jenis (suhu 15C). Bensin premium,
mempunyai sifat anti ketukan yang lebih baik dan dapat dipakai pada mesin
kompresi tinggi pada semua kondisi (Surbhakty 1978:36).

1. Sejarah Penggunaan Bahan Bakar Bensin

Bahan Bakar Bensin

Menurut Piriou, B. Et al (2013) upaya untuk menjalankan mesin reciprocating


pada bahan bakar padat dalam bentuk debu/serbuk dibagi dalam tiga periode
utama, dimulai dengan karya-karya Rudolf Diesel pada tahun 1892. Sejak studi
pertama yang dipimpin oleh Diesel, banyak ICES berbahan bakar padat telah
dikembangkan, tetapi tidak ada yang mencapai skala komersial. Dalam
kebanyakan kasus, digunakan bahan bakar padat bubuk batu bara fosil, dalam
bentuk kering atau bubur dengan minyak diesel atau air. Sumber daya ini relatif
murah dan sebagian besar masih tersedia di seluruh dunia dibandingkan dengan
minyak mentah.
Periode pertama, sebagian besar dibuat di Jerman dengan batubara kering, dan
berakhir dengan Perang Dunia II dan menyebabkan banyak perbaikan ICE
berbahan bakar debu batu bara bereksperimen dengan R. Diesel. Pemakaian
mesin adalah hambatan teknis yang penting dan tampaknya telah diselesaikan
antara tahun 1930 dan tahun 1940.
Periode kedua dilakukan di Amerika Serikat antara tahun 1945 dan 1973
penelitian mencari penyebab penurunan dari keausan mesin ke tingkat lebih
lanjut yang diamati dengan solar murni. Masalah utama, yaitu ukuran bahan
bakar dan penyampaian ke silinder dengan waktu yang tepat, namun belum
terpecahkan. Untuk alasan ini, penelitian lain yang dipimpin di Amerika Serikat
selama periode yang berfokus pada penggunaan batu bara bentuk dalam
suspensi dalam bakar diesel atau air. Kombinasi seperti ini disebut Coal Diesel
Slurries (CDS) dan Coal Water Slurries (CWS).
Selama dua periode ini, studi kebanyakan eksperimental. Periode ketiga dari
tahun 1973 sampai sekarang dan meliputi tes skala penuh mesin dengan slurries
serta beberapa studi teoritis dan keanekaan hayati, masin terutama dilakukan di
Amerika Serikat, dengan dana yang besar dari Departemen Energi. Secara garis
besar perkembangan sejarah penggunaan bahan bakar padat pada mesin
pembakaran dalam yaitu:
1. 1892 1945: Bahan bakar bubuk kering
Upaya Jerman untuk menjalankan mesin pembakaran internal dengan debu
batubara kering telah diterbitkan oleh Soehngen pada tahun 1976. Selama
periode ini, mesin diesel diuji dengan debu batubara. Tapi tak satu pun dari
teknologi yang dikembangkan telah mencapai skala komersial. Dalam
penelitian ini diketahui batu bara adalah bahan bakar pembakaran lambat,
untuk mesin diesel kecepatan rendah. Dengan demikian, semua mesin
Jerman dikembangkan dan dirancang untuk berjalan di kecepatan 1001000rpm. Perbaikan teknologi terkait menyebabkan 200 paten. Pada tahun
1940, dilaporkan upaya Jepang untuk menjalankan 75 HP, untuk 6 silinder
debu batu bara pada mesin dengan kecepatan 2000rpm. Lain pula dengan
penelitian yang dipimpin oleh Belousov tahun 2006. Banyak tambahan data
yang menarik yang diperoleh, termasuk angka dan deskripsi debu
pembakaran dalam kondisi mesin. Selama hampir setengah abad, tujuannya
adalah jelas biaya. Keuntungan yang diperoleh adalah pada perbedaan
harga minyak dengan batubara. Sangat sedikit data pada kualitas batubara
yang tersedia. Rudolf diesel pada tahun 1892 Diesel mencoba untuk
menjalankan ICE pada debu batubara, tapi berhenti karena penanganan sulit

Bahan Bakar Bensin

ada bahan bakar bubuk. Bubuk bahan bakar difumigasi melalui saluran pipa
mesin, karena kesulitan pada pengukuran akurat untuk kadar bahan bakar
bubuk yang sedemikian rupa, maka Diesel terfokus pada minyak mentah
yang jauh lebih mudah untuk digunakan.
2.

Rudolf Pawlikowski
Mulai tahun 1916, bekas rekan kerja Diesel mampu untuk pertama kalinya
menjalankan ICE dengan debu batu bara. Dalam perusahaanya yang
bernama Kosmos, Pawlikowsko membangun delapan mesin dengan bahan
bakar batubara (yang disebut RUPA motor) dengan menambahkan chamber
di mesin. Dimana bahan bakar bubuk batu bara dinyalakan. Tekanan
dikembangkan selama prapembakaran injeksi pada pembakaran utama di
chamber dan bahan bakar yang tersisa pada tekanan rendah diinjeksi
langsung. Pawlikowski juga mencoba untuk memecahkan masalah dengan
mengembangkan sistem penyesusaian tertentu cincin piston sehingga
membatasi bagian abu di bak mesin. Perusahaan The COSMOS ini ditutup
pada tahun 1928. Karya Pawlikowski berhenti pada tahun 1945 dan
menghasilkan 30 paten Mulai tahun 1925, atas dasar penelitian Pawlikowski
itu, empat Perusahaan Jerman mengembangkan mesin mampu berjalan
dengan debu batubara kering.

3.

I-G Farben Industrie


Perusahaan Jerman ini yang membangun dua mesin yang berbeda antara
tahun 1925 , dan 1929 serta tiga mesin yang lebih kecil untuk penelitian.
Perusahaan ini mengadopsi sistem mesin Pawlikowski. Mereka mampu
membatasi tingkat keausan dengan mengintegrasikan cincin dengan dinding
silinder, sehingga mereka dapat menyesuaikan secara terus menerus selama
pengoperasian mesin. Pembersihan liners silinder, dengan cara ditutupi
dengan partikel yang tidak terbakar, dan dilakukan dengan meniup udara
terkompresi, air atau minyak mentah pada akhir fase buang.

4.

Schichau Werke Ge Antara 1930 dan 1939


Konsep mesin yang digunakan masih sama dengan Pawlikowsko. Schichau
adalah orang pertama yang mencoba penggunaan paduan keras
berdasarkan baja dan Chrome, Nikel, Silicon dan Mangan, untuk
meningkatkan ketahanan aus. Dengan menggunakan paduan ini, mereka
mampu mengurangi tingkat keausan. Mereka juga mengembangkan katup
bola, khusus untuk debu, dalam rangka meningkatkan penyegelan kualitas
selama operasi mesin. Mesin ini diklaim telah berjalan selama 6000 h.
Penelitian ini kemudian dihentikan karena alasan ekonomi.
I. Bruenner Machinenfabrik
Penelitian ini dilakukan pada periode 1930-1945. Mereka mulai dengan
sistem injeksi berdasarkan Pawlikowski, yang mereka ubah di Dresden
University. Sistem injeksi debu baru ini meningkatkan laju aliran bahan
bakar. kecepatan maksimum sampai 1200 rpm. Mereka menggunakan
partikel dengan ukuran 60 mikron yang mengandung 21% berat abu,
menyebabkan tingkat pembakaran yang tinggi dan keausan yang lama.

5.

6.

Hanomag

Bahan Bakar Bensin

7.

8.

Perusahaan Jerman ini mengembangkan salah satu mesin berbahan bakar


debu batu bara antara tahun 1935 dan 1945. Sangat sedikit informasi tetapi
mesin mereka diklaim telah berjalan selama 700 jam. Debu diinduksi dalam
prechamber untuk 0.4 - 0.7% vol dari silinder utama, selama fase masuk,
sehingga memungkinkan tekanan injeksi rendah (24-29 bar). Selama fase
kompresi, bahan bakar padat dicampur dengan udara dalam cara yang
sangat efektif, yang mengarah ke proses pengeringan yang baik dan awal
devolatilisasi diikuti oleh pengapian dan pembakaran di dalam ruang utama.
Mereka mengalami masalah pengapian dini dan pembuangan partikel yang
tidak terbakar dalam prechamber tersebut. Kekurangannya adalah mesin
tidak dapat berjalan pada kecepatan tinggi dan proyek ini ditinggalkan.
Mesin Hanomag hancur selama Perang Dunia kedua.
194-1973: (periode pasca-perang)
Penelitian tentang batubara ICE terus terjadi di Amerika Serikat. Caton dan
Rosegay merupakan peneliti selama periode ini .Dalam rangka untuk
membatasi kesulitan konsumsi bahan bakar untuk mesin, campuran
batubara dengan air (CWS) atau solar (CDS) digunakan. Sebenarnya, bubur
cair berperilaku seperti cairan hingga 50% berat batubara bubuk. Modifikasi
pendingin bahan bakar ini memungkinkan penggunaan sistem injeksi diesel
konvensional. Jadi pada masa ini batu bara atau bahan bakar padat sudah
dicampur dengan bahan bakar cair dan mengunakan mesin diesel
konvesional.
1973-sekarang: Terutama batubara cair sebagai bahan bakar
Berbagai program yang dipimpin selama periode ini terkendala masalah
emisi. Amerika Serikat memutuskan untuk mengembangkan teknologi yang
didasarkan pada batubara, sebagian besar tersedia di wilayah mereka
sendiri. Departemen Energi AS (DOE) menyediakan dana besar untuk
proyek-proyek termasuk perkembangan mesin batubara, baik dalam skala
laboratorium atau dalam kondisi nyata, seperti penggunaan pada kereta api
atau pembangkit listrik. Pada tahun 1975 di Inggris, untuk alasan
kemerdekaan energi, Perkins Mesin LTD meninjau kemungkinan penggunaan
debu batu bara di mesin pembakaran dalam, terutama dalam bentuk bubur.

2. Komposisi Senyawa Penyusun Bensin


Mogas atau Bensin adalah campuran isomer-isomer heptana dan oktana.
Pembakaran bensin oleh gas oksigen dari udara akan menghasilkan energi yang
berfungsi menjalankan mesin kendaraan. Efisiensi energi yang tinggi dan
komponen bensin yang rantai karbonnya banyak bercabang. Adapun komponen
mogas atau bensin yang rantainya lurus atau sedikit bercabang akan
menghasilkan energi yang kurang effisien, artinya energi banyak terbuang
dalam bentuk panas bukan sebagai kerja untuk menggerakkan mesin.
Mogas atau bensin adalah cairan yang mudah disimpan, dipindahkan dan
alirannya mudah dikontrol, selain itu juga bensin mempunyai sifat mudah
menguap, mudah menyala dan terbakar. Di dalam pemakaiannya dalam motor
pembakar, bensin cair ini terlebih dahulu harus diubah bentuk menjadi uap atau
kabut agar mudah terbakar.

Bahan Bakar Bensin

Bensin-bensin yang mengandung molekul-molekul hidrokarbon dengan titik didih


rendah akan memudahkan motor dihidupkan pada suhu sekeliling yang rendah.
Disamping itu kendaraan dapat dijalankan tanpa pemanasan yang sedikit lama
pada beban yang rendah. Bila suhu disekeliling cukup tinggi akan
mengakibatkan bensin dapat mendidih dalam pipa yang terletak antara tangki
dan karburator. Sehingga pompa bahan bakar tidak akan berfungsi dengan baik
karena bensin mengandung gelembung-gelembung (kantong uap).
Fraksi mogas atau bensin dari penyulingan minyak mentah terlalu sedikit bagi
masyarakat-masyarakat haus bensin dan kualitasnya pun rendah. Untuk
meningkatkan kualitas dan kuantitas bensin, dilakukan proses kertakan
(cracking) dan reformasi terhadap fraksi-fraksi bertitik didih tinggi, yang dibagi
menjadi dua bagian yaitu :
1. Kertakan katalitik berupa proses memanaskan bahan katalitik bertitik didih
tinggi dibawah tekanan dan dengan kadar katalis (tanah liat alumunium
dicuci dengan asam dan dijadikan bubuk halus). Dibawah kondisi ini molekul
besar akan patah-patah menjadi fragmen kecil.
2. Kertakan kukus adalah suatu teknik mengubah alkana menjadi alkena.
Reformasi katalitik mengubah senyawa alifatik menjadi senyawa aromatik
alkena dan senyawa aromatik yang diperoleh dalam cara kertakan dan
reformasi ini dijadikan bahan baku untuk membuat plastik dan senyawa
organik sintetik lainnya.
Terdapat tiga komponen penyusun utama bensin, yaitu :
1. Parrafin, misalnya Octana C8H18
Parrafin merupakan fraksi utama dari minyak mentah yang dihasilkan dari
straightdestilation, di mana senyawa yang dihasilkan mempunyai bilangan
oktan rendah. Parafin tidak mudah bereaksi dengan senyawa kimia lain
(inert), tetapi pada suhu tinggi sebagian kecil akan teroksidasi atau pecah
(cracking), tidak larut dalam air dan alkohol tetapi larut dalam fraksi minyak
bumi dan benzena. Parafin merupakan senyawa hidrokarbon tinggi yang
jenuh (parafin). Pada proses penyulingan ikut tersuling setelah gas oil.
Oktana adalah senyawa hidrokarbon jenis alkana dengan rumus kimia C8H18.
Oktana mempunyai banyak jenis isomer struktur yang perbedaannya
terletak pada jumlah dan lokasi percabangan dari rantai karbonnya. Salah
satu isomernya, 2,2,4-trimetilpentana(isooktana) adalah komponen utama
pada bensin dan digunakan pada penghitungan bilangan oktan.

Gambar 1. Isomer Octana

2.

3.

Bahan Bakar Bensin

Napthenes, misalnya Cyclohexane C6H12


Sikloheksana ialah suatu sikloalkana dengan rumus molekul C6H12.
Sikloheksana digunakan sebagai pelarut non-polar untuk industri kimia, dan
juga sebagai bahan mentah untuk produksi industri asam adipat dan
kaprolaktam, yang keduanya merupakan zat-antara yang digunakan dalam
produksi nilon. Pada skala industri, sikloheksana diproduksi dengan
mereaksikan
benzena
dengan
hidrogen.
Produsen
sikloheksana
memperkirakan
sekitar 11,4% permintaan global untuk benzena.
Disebabkan sifat-sifat kimia dan konformasionalnya yang unik, sikloheksana
juga digunakan di laboratorium analisis dan sebagai standar. Sikloheksana
memiliki. Sikloheksana memiliki bau khas seperti-deterjen, mengingatkan
produk pembersih (yang kadang-kadang digunakan).

Gambar 2. Sikloheksana
Aromatic, misalnya Benzena C6H6
Senyawa benzena mempunyai rumus molekul C6H6, dan termasuk dalam
golongan senyawa hidrokarbon. Bila dibandingkan dengan senyawa
hidrokarbon lain yang mengandung 6 buah atom karbon, misalnya heksana
(C6H14) dan sikloheksana (C6H12), maka dapat diduga bahwa benzena
mempunyai derajat ketidakjenuhan yang tinggi. Dengan dasar dugaan
tersebut maka dapat diperkirakan bahwa benzena memiliki ciri-ciri khas
seperti yang dimiliki oleh alkena. Perkiraan tersebut ternyata jauh berbeda
dengan kenyataannya, karena benzena tidak dapat bereaksi seperti alkena
(adisi, oksidasi, dan reduksi). Lebih khusus lagi benzena tidak dapat bereaksi
dengan HBr, dan pereaksi-pereaksi lain yang lazimnya dapat bereaksi
dengan alkena. Sifat-sifat kimia yang diperlihatkan oleh benzena memberi
petunjuk bahwa senyawa tersebut memang tidak segolongan dengan alkena
ataupun sikloalkena. Senyawa benzena dan sejumlah turunannya
digolongkan dalam senyawa aromatik, Penggolongan ini dahulu sematamata dilandasi oleh aroma yang dimiliki sebagian dari senyawa-senyawa
tersebut. Perkembangan kimia pada tahap berikutnya menyadarkan para
kimiawan bahwa klasifikasi senyawa kimia haruslah berdasarkan struktur
dan kereaktifannya, dan bukan atas dasar sifat fisikanya. Saat ini istilah
aromatik masih dipertahankan, tetapi mengacu pada fakta bahwa semua
senyawa aromatik derajat ketidakjenuhannya tinggi dan stabil bila
berhadapan dengan pereaksi yang menyerang ikatan pi ().

Bahan Bakar Bensin

Kekule (1866) menetapkan bahwa molekul benzena mempunyai tiga buah


ikatan rangkap. Ikatan rangkap pada benzena tidak mudah dioksidasi seperti
ikatan rangkap pada senyawa lain. Ikatan tersebut tidak tetap, melainkan
dinamis dan tempatnya selang-seling tidak berurutan, sehingga rumus
struktur benzena dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 3. Struktur Benzena


Pada pengukuran dengan difraksi sinar X ternyata jarak antara atomatom
karbon dalam molekul benzena sama semua yaitu 1,39 . Hal itu berarti
antara atom-atom C harus ada satu ikatan saja, yaitu suatu ikatan bukan
ikatan tunggal, dan bukan pula suatu ikatan rangkap. Oleh karena itu dapat
dikatakan bahwa benzena mempunyai suatu ikatan yang khas antara atomatom C-nya, sehingga struktur benzena dinyatakan sebagai segi enam
beraturan yang didalamnya terdapat suatu lingkaran.

3. Komposisi Kimia Bensin


Campuran ideal untuk pembakaran antara udara dan masing-masing senyawa
penyusun bensin dapat dihitung dari massa relatif masing-masing atom dan
kesetimbangan reaksi kimia. Massa relatif atom-atom penyusun bensin dan
oksigen adalah :
Carbon, C : 12
Hidrogen, H : 1
Oxygen, O : 16
Persamaan reaksi kesetimbangan untuk proses pembakaran sempurna dari
Octana adalah:
2C8H18 + 25 O2
16 CO2 + 18 H2O
massa molekul relatif dari 2 C8H18 adalah :
2 ((12 x 8) + (1 x 18)) = 228
massa molekul relatif dari 25 O2 adalah :
25 (16 x 2) = 800
Sehingga perbandingan antara Oksigen dan Oktana untuk pembakaran
sempurna adalah 800 : 228 = 3,5 : 1 dengan kata lain untuk membakar 1 Kg
Oktana dibutuhkan 3,5 Kg Oksigen.
Kandungan Oksigen dalam udara bebas adalah 23% per satuan massa udara
atau 21% per satuan volume, berarti setiap 1 Kg udara bebas mengandung 0,23
Kg Oksigen. Sehingga untuk mendapatkan 1 Kg Oksigen diperlukan 4,35 Kg
Udara. Campuran ideal antara udara dan bensin untuk proses pembakaran
Oktana secara keseluruhan adalah
(3,5 x 4,35) : 1 = 15,2 : 1.

Bahan Bakar Bensin

Dengan perhitungan yang sama untuk Cyclohexane dan Benzena didapatkan :


Cyclohexane :
C6H12 + 9 O2
6 CO2 + 6 H2O
Air fuel ratio : 14,7 : 1
Benzena:
2C6H6 + 15 O2
12 CO2 + 3 H2O
Air fuel ratio : 13,2 : 1
Perhitungan perbandingan di atas disebut perhitungan perbandingan ideal atau
perbandingan Stoichiometric. Nilai mengindikasikan seberapa besar
penyimpangan jumlah udara dalam campuran dibandingkan dengan kebutuhan
secara teori.
Tabel 1. Nilai
Nilai
<< 1
<1
=1
>1
>>1

Keterangan
Udara yang dimasukkan sangat
kurang dari kebutuhan teori
Udara yang dimasukkan kurang
dari kebutuhan teori
Udara yang dimasukkan sesuai
dengan kebutuhan teori
Udara yang dimasukkan lebih
banyak dari kebutuhan teori
Udara yang dimasukkan jauh
lebih banyak dari kebutuhan
teori

Campuran sesuai adalah campuran yang menghasilkan daya paling baik dengan
emisi gas buang yang ramah lingkungan untuk keadaan kerja tertentu. Ketika
mesin di-start dan masih dingin, komponen mesin juga masih dingin, banyak
bensin yang telah disemprotkan kembali mengembun. Agar bensin yang
tercampur dengan udara membentuk campuran yang mudah terbakar, bensin
harus diperbanyak. Pertimbangan lain, saat mesin masih dingin, penyesuaian
celah-celah pada komponen belum sebaik setelah temperatur kerja,
kemungkinan ada kebocoran kompresi yang lebih besar, disamping faktor
gesekan yang masih tinggi sehingga campuran yang sesuai adalah campuran
kaya, agar menghasilkan daya lebih besar. Selama temperatur berubah dari
dingin menjadi panas, berangsur-angsur bensin dikurangi sampai pada
perbandingan yang sesuai untuk kondisi panas. Pada temperatur kerja campuran
dirancang paling ramah lingkungan, = 0,9 1,1. Hal ini dipertahankan pada
berbagai kecepatan kerja mesin. Saat percepatan, dimana katup gas dibuka
dengan seketika, penambahan udara terjadi dengan seketika. Agar mesin tidak
mati maka bahan bakar juga harus ditambahkan dengan seketika. Untuk
keadaan beban penuh (saat kendaraan menanjak/katup gas terbuka penuh)
campuran harus menghasilkan daya maksimal, maka nilai yang sesuai = 0,85
0,95.
Tetapi saat kendaraan tidak memerlukan daya (saat jalan turun), jumlah bensin
dapat dikurangi dari kebutuhan untuk penghematan bahan bakar.

Bahan Bakar Bensin

4. Properties Thermal dari Bensin


Proses penguapan yang terjadi didalam campuran bahan bakar dan udara
dipengaruhi berat molekul dalam bagian-bagian yang menyusun campuran
tersebut. Bagian dari campuran yang memiliki berat molekul yang kecil akan
mendidih pada temperatur yang rendah (fornt-end volatility) dan bagian yang
memiliki pada berat molekul yang lebih besar akan mendidih pada temperatur
yang lebih tinggi (high-end volatility). Jika didalam campuran bahan bakar
mengandung terlalu banyak bagian front-end volatility maka dapat menimbulkan
masalah yaitu berkurangnya efisiensi volumetris karena bahan bakar menguap
terlalu cepat sehingga mengurangi kerapatan dari bahan bakar. Untuk dapat
memaksimalkan efisiensi volumetris, menguapnya bahan bakar seharusnya
terjadi dalam langkah kompresi dan dalam langkah pembakaran. Oleh karena itu
perlu menambahkan komponen dengan berat molekul tinggi kedalam campuran
bensin. Penambahan high-end volatility yang terlalu banyak mengakibatkan
bahan bakar tidak dapat menguap dan berakhir sebagai polutan pada gas
buang. Suatu cara yang biasa digunakan untuk menggambarkan besarnya
penguapkan suatu bensin adalah menggunakan tiga temperatur pada 10%
penguapan, temperatur pada 50% penguapan, temperatur 90% penguapan.
Pada gambar kurva temperatur-penguapan, bensin diklasifikasikan menjadi 5781-1030C dan juga menggambarkan presentase penguapan yang terjadi.

Gambar 3. Kurva temperatur penguapan untuk bensin

5. Penggunaan Bensin pada Industri


Konsumsi BBM oleh sektor industri senantiasa mengalami kenaikan. Peningkatan
terbesar terutama terjadi pada jenis minyak solar. minyak bakar dan minyak
tanah. Namun memasuki tahun 1998 konsumsi BBM sektor industri mengalami
penurunan sebesar 4.3%. Hal ini berlanjut hingga tahun 1999 dimana
konsumsinya turun sebesar 6.2%. Terjadinya penurunan ini merupakan efek dari
krisis ekonomi yang mulai melanda pada pertengahan tahun 1997. Sejak krisis
ekonomi, banyak industri yang menghentikan produksinya, sementara yang lain
walaupun tetap berproduksi namun dengan kapasitas yang lebih rendah dari
sebelumnya. Kejadian seperti ini banyak terjadi pada industri makanan dan

Bahan Bakar Bensin

minuman, industri tekstil, pakaian jadi, industri kulit, dan barang dari kulit.
Memasuki tahun 2000 konsumsi BBM di sektor industri kembali meningkat,
bahkan pertumbuhan nya terbilang tinggi yaitu 23.5 %.
Dalam lingkup mikro perlu diwaspadai bahwa peningkatan pemakaian energi di
sektor industri dalam beberapa tahun terakhir bukan hanya terjadi karena proses
transformasi struktural yang cepat dari pertanian ke industri saja. Namun lebih
jauh dari itu diduga karena terjadi pemborosan pemakaian energi di sektor ini.
Krisis moneter pada pertengahan tahun 1997 telah membuat kurs rupiah
terdepresiasi sangat tajam. Keadaan ini sangat memukul industri dalam negeri
yang selama ini masih memiliki ketergantungan yang besar terhadap mesinmesin produksi impor, sehingga banyak diantara mereka yang tak mampu untuk
meng-upgrade mesin-mesin produksinya. Sehingga banyak yang beroperasi
hanya mengandalkan mesin-mesin tua yang tentu saja sangat boros bahan
bakar. Indikasi ini bisa dilihat dari nilai intensitas energi pada tahun 1997 yaitu
4.196, nilai ini mengalami lonjakan yang cukup besar dari tahun 1996 yang
hanya 2.637. Intensitas energi yang kian besar berarti bahwa pemakaian energi
kian tidak efisien. Bila dilihat hubungan nilai tambah sektor industri dengan
pemakaian energi, ternyata sebelum dan sesudah krisis ekonomi mengalami
perubahan. Pada masa sebelum krisis ekonomi. pertumbuhan nilai tambah lebih
besar dari pertumbuhan pemakaian energi. Namun semenjak tahun 1998, yang
terjadi sebaliknya, pertumbuhan pemakaian energi lebih besar dari pertumbuhan
nilai tambahnya. Hal ini khusus terjadi pada industri makanan, industri tekstil,
industri kertas, dan industri kimia.
Selain itu ada dugaan bahwa pemakaian energi di sektor industri lebih besar dari
data yang disajikan oleh departemen energi dan sumber daya mineral. Selama
ini konsumsi energi di sektor industri khususnya untuk BBM dicatat dengan
pendekatan dari sisi supply yaitu berdasarkan pasokan langsung dari Pertamina.
Padahal kalau kita menyimak berita di media massa. ternyata selama ini banyak
penyelewengan penggunaan BBM oleh sektor industri yaitu berupa pengalihan
jatah BBM rumah tangga ke sektor industri. Hal ini terjadi karena adanya
disparitas harga yang cukup besar. dimana BBM untuk sektor industri sudah
tidak mendapat subsidi lagi dari pemerintah. Jadi sebenarnya intensitas energi di
sektor industri yang menunjukkan tingkat efisiensi pemakaian energi akan lebih
besar dari angka yang ada.
Berdasarkan fakta diatas, kita sebagai konsumen harus bijak dalam
menggunakan BBM. Apalagi keadaan ekonomi dalam negeri yang
memprihatinkan, semakin memperburuk keseimbangan alur alur perdagangan.
Dengan demikian sebagai masyarakat yang mengerti akan pentingnya
meghemat BBM sebagai sumber energi yang jumlahnya terbatas, maka perlu
dikembangkan energi alternatif.
Kebijakan penghapusan subsidi BBM pada tahun 2005 merupakan momentum
yang tepat bagi pemerintah untuk mengembangkan batubara sebagai energi
alternatif yang prospeknya cukup menjanjikan. baik dilihat dari cadangan yang
melimpah maupun dari harga yang relatif lebih murah dibanding BBM. Sebagai
contoh bila digunakan di sektor listrik, batubara lebih murah dibanding BBM.
Pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang menggunakan solar, harga

Bahan Bakar Bensin

10

listrik mencapai Rp 500 per KWh. Sementara menggunakan batubara biayanya


hanya sekitar Rp 50 per KWh. Jadi bisa menghemat biaya kurang lebih Rp 30
milyar per tahun.
5.1 Konsumsi Energi di Indonesia
Sektor industri masih mendominasi konsumsi energi, dengan pemakaian sebesar
329,7 juta SBM (setara barrel minyak) atau 49,86% dari total konsumsi energi
nasional. Di tempat kedua, sektor transportasi menyumbang konsumsi sebesar
226,6 juta SBM (32.26%). Sementara rumah tangga dan bangunan komersial
masing masing menggunakan 81,5 juta SBM (10,31%) dan 29,1 juta SBM
(3,62%). Saat ini terdapat sekitar 10 perusahaan yang menggunakan energi
terbesar di Indonesia, adalah (1) PT Krakatau Steel (besi baja), (2) PT Panca Citra
Wira Brothers (tekstil), (3) PT Semen Gresik (semen), (4) PT GT Petrochem
Industri (kimia), (5) PT Mulya Keramik Indah Raya (keramik), (6) PT Petrokimia
Gresik (kimia), (7) PT Semen Padang (semen), (8) PT Colorindo Aneka Chemicals
(kimia), (9) PT Golden Island Texstile Ind (tekstil), dan (10) PT Sugih Brothers
(tekstil). Konsumsi energi juga di sector Industri terlihat dari tahun ke tahun
mengalami peningkatan. Sehingga menjadi suatu signal bagi pemerintah untuk
menyediakan pasokan yang cukup bagi industry di Indonesia.

Gambar 4. Konsumsi Energi Final berdasarkan Sektor


Trend peningkatan permintaan energy dari industry dari tahun ke tahun
merupakan suatu tantangan dalam penyediaan pasokan energi untuk sektor
industri di Indonesia, dalam rangka untuk mendukung industry yang
beroreantasi ekspor. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa salah satu cara
yang tepat adalah menghentikan ekspor bahah baku seperti batu bara dan gas.
Cina sukses menjadi negara industri yang berorientasi ekspor, karena berhasil
membenahi masalah energinya, sehingga ekspor Cina meningkat seiring dengan
peningkatan daya saing industry mereka.

11

Bahan Bakar Bensin

5.2 Komponen Faktor Produksi Industri


Fungsi produksi dapat didefinisikan sebagai suatu proses transformasi dari input
menjadi output. Dalam kasus industry yang ditunjukkan oleh Data Indsutri Besar
Sedang (Survey IBS), terlihat bahwa input yang digunakan dalam porses
produksi adalah Tenaga Kerja, Bahan Baku dan Pelumas, Bahan Baku Penolong,
Listrik dan Non Listrik, dan Input Lainnya. Komponen pengeluaran terbesar di
Industri secara agregat adalah biaya untuk bahan baku penolong yaitu rata-rata
sebesar 40,10Miliar (76.64%) di tahun 2008, kemudian diikuti oleh biaya lain dan
biaya tenaga kerja (Lihat Tabel 2).
Tabel 2. Rata-rata biaya faktor produksi industri di Indonesia

Sementara rata-rata pengeluaran untuk bahan bakar dan pelumas bagi industry
adalah Rp 1.77 Miliar (3.38% terhadap total faktor produksi) pada tahun 2008,
dimana komponen energi terbesar disumbangkan oleh bahan bakar Solar sekitar
Rp 834.13 juta (47.14% dari penggunaan energi industri), sedangkan
pengeluaran Industri untuk energi terbesar kedua adalah batubara, yaitu ratarata sebesar Rp. 213.53 juta (21.07%) pada tahun 2008. Dari sisi factor produksi
terlihat bahwa hamper seluruh komponen energi mengalami peningkatan hingga
pada tahun 2010. Hal ini menunjukkan bahwa input produksi yang berasal dari
bahan bakar dan pelumas bagi industri cukup penting dalam rangka untuk
meningkatkan daya saing industri di Indonesia. Nilai pengeluaran energi dan
proporsi berdasarkan jenis energi yang digunakan Industri di Indonesia
ditampilkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Rata-rata biaya yang dikeluarkan oleh industri berdasarkan jenis energi

Bahan Bakar Bensin

12

Harga BBM di Indonesia masih relative rendah karena disubsidi, sementara harga
minyak di dunia terus melejit.Harga BBM subsidi Rp 4.500/ liter, dan harga BBN
tidak bersubsidi rata-rata adalah Rp 9.000 / liter, sementara di beberapa Negara
hampir mencapai Rp 12.000 / liter. Murahnya harga BBM juga merupakan salah
satu penghambat konversi BBM ke Gas. Tetapi seperti beberapa pendapat
sebelumnya, bahwa menurunkan subsidi bukanlah pekerjaan yang mudah dan
harus ada kebijakan dan keseriusan dari seluruh pihak terkait.
Saat ini, harga crude oil hampir mencapai US$ 95. Kenaikan harga ini adalah
suatu hal yg tidak bisa dihindari mengingat meningkatnya konsumsi
perindustrian akan energi dan juga pemakaian bahan bakar di sektor
transportasi dan industri. Kenaikan harga crude oil akan berdampak lanjut
terhadap kenaikan harga bensin, harga barang dan jasa, yang akan merugikan
konsumen. Tidaklah mudah bagi pemerintah untuk menjadi penengah di dalam
perekonomian industri energi karena perindustrian ini terkait oleh politik luar dan
dalam negeri.Hubungan diplomasi antara Negara-negara produsen minyak
sangat terkait dalam penentuan harga minyak. Banyak analisa perindustrian di
bidang energi yang menuju kepada peningkatan harga minyak yang akan terus
melambung, karena kebutuhan perindustrian yang akan semakin meningkat.
Tetapi ada juga opini yang mengatakan bahwa perindustrian akan mengganti
bahan bakar dasar menjadi batu bara yang sekarang ini mempunyai harga dasar
yang lebih rendah.

6. Penggunaan Bensin terhadap Transportasi


Transportasi merupakan sarana vital yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Di
Indonesia, sarana transportasi sudah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat
yang hidup di Negara terkenal kaya akan sumber daya alamnya. Sesuai dengan
perkembangan sarana transportasi saat ini, muncul berbagai macam sarana
transportasi yang menyajikan berbagai macam fitur yang ditawarkan. Contohnya
saja sepeda motor yang semakin variatif dengan segala model dan variasinya.
Diimbangi dengan gaya hidup orang Indonesia yang konsumtif sehingga para
produsen sepeda motor berlomba-lomba mengeluarkan produk-produk baru
demi memenuhi permintaan konsumen yang semakin beragam.
Hampir semua orang memiliki sepeda motor untuk membantu melakukan
aktivitas yang mereka jalani. Hal ini dapat kita lihat di kehidupan sehari-hari
semakin banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Semakin
bertambahnya sepeda motor, maka semakin banyak pula kebutuhan bahan
bakar yang harus dibutuhkan. Bahan bakar yang semakin langka karena adanya
permintaan yang meningkat, memaksa pemerintah untuk mengeluarkan
kebijakan adanya konversi minyak tanah ke gas dan subsidi bahan bakar.
Dengan alasan untuk menghemat bahan bakar yang semakin berkurang dan
memberikan keringan bagi orang yang tidak mampu untuk bisa membeli bahan
bakar. Tetapi kebijakan ini dirasa belum cukup untuk mengatasi masalah yang
ada saat ini.

13

Bahan Bakar Bensin

Konsumsi bahan bakar kendaraan semakin menjadi perhatian mengingat harga


bahan bakar minyak sebagai bahan bakar utama kendaraan semakin meningkat
harganya. Di Indonesia, bahan bakar minyak untuk kendaraan sebagian besar
diproduksi oleh PT Pertamina berupa bensin dan solar. Bahan bakar bensin
produksi Pertamina terdiri dari Premium, Pertamax maupun Pertamax Plus yang
mempunyai kandungan nilai oktan berbeda, masing-masing RON 88, RON 91
dan RON 95. Angka oktan pada bahan bakar digunakan sebagai pedoman untuk
mengatur periode penundaan (delay period) waktu nyala api busi untuk
merambat ke bagian yang paling jauh dari busi. Bensin dengan angka oktan
yang tinggi mempunyai periode penundaan yang panjang (Hartono T., 2011).
Namun demikian, penggunaan bahan bakar dengan angka oktan yang tinggi
tidak memberikan perbaikan effisiensi dan daya jika digunakan untuk mesin
yang dirancang untuk menggunakan bahan bakar dengan bilangan oktan yang
rendah (Arismunandar, 2002).

7. Emisi dan Efek Lingkungan dari Bensin


Emisi gas buang adalah sisa hasil pembakaran bahan bakar didalam mesin
pembakaran dalam dan mesin pembakaran luar, yang dikeluarkan melalui
sistem pembuangan Mesin. Uji emisi adalah mengukur emisi gas buang dari
kendaraan bermotor (mesin bensin maupun diesel) dengan menggunakan alat
khusus yang sering disebut Gas Analyzer. Dalam mendukung usaha pelestarian
lingkungan hidup, negara-negara di dunia mulai sumber pencemaran udara
terbesar oleh menyadari bahwa gas buang kendaraan merupakan salah satu
polutan atau karena itu, gas buang kendaraan harus dibuat sebersih mungkin
agar tidak mencemari udara. Namun keuntungan dari emisi yang baik tidak
hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk kendaraan itu sendiri. Kendaraan
menjadi efisien, bertenaga dan hemat BBM. Dari hasil uji emisi, akan dapat
terlihat permasalahan apa saja yang ada di mesin kendaraan kita. Misalnya jika
nilai Oksigen (O2) di atas 2.5%, maka kemungkinan terdapat masalah pada
campuran udara dan bahan bakar yang tidak tepat, saluran intake yang bocor
atau pembakaran yang tidak sempurna. dan seterusnya.
Emisi gas buang kendaraan yang mencemari udara dan lingkungan dapat
mengganggu kesehatan manusia, terutama bagi manusia yang tinggal di kota
besar, yang bermukim di daerah industri dan padat lalu lintas kendaraan
bermotor. Dampak yang ditimbulkan berupa asap dan uap yang berbau dan akan
mempengaruhi pernafasan, penciuman, penglihatan, badan menjadi lemas, IQ
berkurang dan bila dibiarkan secara terus menerus akan mengakibatkan
kematian massal. Dampak yang ditimbulkan oleh emisi gas buang kendaraan
tidak hanya berdampak pada manusia saja tetapi juga pada hewan dan
tumbuhan. Tugaswati (2008) menyatakan bahwa setelah berada di udara,
beberapa senyawa yang terkandung dalam emisi gas buang kendaraan bermotor

Bahan Bakar Bensin

14

dapat berubah karena terjadinya suatu reaksi, misalnya dengan sinar matahari
dan uap air, atau juga antara senyawa-senyawa tersebut satu dengan yang lain.
Proses reaksi tersebut ada yang berlangsung cepat dan terjadi saat itu juga di
lingkungan jalan raya, dan ada pula yang berlangsung dengan lambat. Reaksi
kimia di atmosfer kadangkala berlangsung dalam suatu rantai reaksi yang
panjang dan rumit, dan menghasilkan produk akhir yang dapat lebih aktif atau
lebih lemah dibandingkan senyawa aslinya. Sebagai contoh, adanya reaksi di
udara yang mengubah nitrogen monoksida (NO) yang terkandung di dalam gas
buang kendaraan bermotor menjadi nitrogen dioksida (NO2 ) yang lebih reaktif,
dan reaksi kimia antara berbagai oksida nitrogen dengan senyawa hidrokarbon
yang menghasilkan ozon dan oksida lain, yang dapat menyebabkan asap awan
fotokimi (photochemical smog). Pembentukan smog ini kadang tidak terjadi di
tempat asal sumber (kota), tetapi dapat terbentuk di pinggiran kota. Jarak
pembentukan smog ini tergantung pada kondisi reaksi dan kecepatan angin.
Photocemical smog akan menghalangi pandangan, iritasi mata dan dapat
menjadi penyebab kanker.
Pada negara-negara yang memiliki standar emisi gas buang kendaraan yang
ketat, ada 5 unsur dalam gas buang kendaraan yang akan diukur yaitu senyawa
HC, CO, CO2, O2 dan senyawa NOx. Sedangkan pada negara-negara yang standar
emisinya tidak terlalu ketat, hanya mengukur 4 unsur dalam gas buang yaitu
senyawa HC, CO, CO2 dan O2.
1. Karbon Monoksida (CO)
Asap kendaraan merupakan sumber utama bagi karbonmonoksida di
berbagai perkotaan. Data mengungkapkan bahwa 60% pencemaran udara di
Jakarta di sebabkan karena benda bergerak atau transportasi umum yang
berbahan bakar solar terutama berasal dari metromini. Formasi CO
merupakan fungsi dari rasio kebutuhan udara dan bahan bakar dalam proses
pembakaran di dalam ruang bakar mesin diesel. Percampuran yang baik
antara udara dan bahan bakar terutama yang terjadi pada mesin-mesin yang
menggunakan Turbocharger merupakan salah satu strategi untuk
meminimalkan emisi CO. Karbon monoksida yang meningkat di berbagai
perkotaan dapat mengakibatkan turunnya berat janin dan meningkatkan
jumlah kematian bayi serta kerusakan otak. Karena itu strategi penurunan
kadar karbon monoksida akan tergantung pada pengendalian emisi seperti
penggunaan bahan katalis yang mengubah bahan karbon monoksida
menjadi karbon dioksida dan penggunaan bahan bakar terbarukan yang
rendah polusi bagi kendaraan bermotor. Banyak CO dari gas buang itu
tergantung dari perbandingan bahan bakar dan udara (Arends&Berenschot
1980 :73).
2. Hidrokarbon (HC)
Bensin adalah senyawa hidrokarbon, jadi setiap HC yang didapat di gas
buang kendaraan menunjukkan adanya bensin yang tidak terbakar dan
terbuang bersama sisa pembakaran. Apabila suatu senyawa hidrokarbon
terbakar sempurna (bereaksi dengan oksigen) maka hasil reaksi pembakaran

15

3.

4.

Bahan Bakar Bensin

tersebut adalah karbondioksida (CO2) dan air (H2O). Walaupun rasio


perbandingan antara udara dan bensin (AFR=air fuel ratio) sudah tepat dan
didukung oleh desain ruang bakar mesin saat ini yang sudah mendekati
ideal, tetapi tetap saja sebagian dari bensin seolaholah tetap dapat
bersembunyi dari api saat terjadi proses pembakaran dan menyebabkan
emisi HC pada ujung knalpot cukup tinggi. Untuk menurunkan emisi HC
dalam gas buang dalam gas buang diperlukan katalisator untuk
mempercepat pembakaran dengan oksigen menjadi CO2 dan H2O
(Arismunandar ,2002:155).
Karbon Dioksida (CO2)
Karbondioksida merupakan ancaman terbesar seiring dengan kemajuan
teknologi dan industri otomotif yang berdampak pada kesehatan manusia.
Konsentrasi CO2 menunjukkan secara langsung status proses pembakaran di
ruang bakar. Semakin tinggi maka semakin baik. Saat AFR berada di angka
ideal, emisi CO2 berkisar antara 12% sampai 15%. Apabila AFR terlalu kurus
atau terlalu kaya, maka emisi CO 2 akan turun secara drastis. Apabila CO 2
berada dibawah 12%, maka kita harus melihat emisi lainnya yang
menunjukkan apakah AFR terlalu kaya atau terlalu kurus. Perlu diingat
bahwa sumber dari CO2 ini hanya ruang bakar dan CC (Catalytic Converter).
Apabila CO2 terlalu rendah tapi CO dan HC normal, menunjukkan adanya
kebocoran exhaust pipe. Persen karbondioksida dalam gas buang
dipergunakan sebagai petunjuk akan kesempurnaan pembakaran (Surbhakty
1978:54).
Oksigen (O2)
Konsentrasi dari oksigen di gas buang kendaraan berbanding terbalik dengan
konsentrasi CO2. Untuk mendapatkan proses pembakaran yang sempurna,
maka kadar oksigen yang masuk ke ruang bakar harus mencukupi untuk
setiap molekul hidrokarbon. Dalam ruang bakar, campuran udara dan bensin
dapat terbakar dengan sempurna apabila bentuk dari ruang bakar tersebut
melengkung secara sempurna. Kondisi ini memungkinkan molekul bensin
dan molekul udara dapat dengan mudah bertemu untuk bereaksi dengan
sempurna pada proses pembakaran. Tapi ruang bakar tidak dapat sempurna
melengkung dan halus sehingga memungkinkan molekul bensin seolah-olah
bersembunyi dari molekul oksigen dan menyebabkan proses pembakaran
tidak terjadi dengan sempurna. Untuk mengurangi emisi HC, maka
dibutuhkan sedikit tambahan udara atau oksigen untuk memastikan bahwa
semua molekul bensin dapat bertemu dengan molekul oksigen untuk
bereaksi dengan sempurna. Ini berarti AFR 14,7:1 (lambda = 1.00)
sebenarnya merupakan kondisi yang sedikit kurus. Inilah yang menyebabkan
oksigen dalam gas buang akan berkisar antara 0.5% sampai 1%. Normalnya
konsentrasi oksigen di gas buang adalah sekitar 1.2% atau lebih kecil
bahkan mungkin 0%. Tapi kita harus berhati-hati apabila konsentrasi oksigen
mencapai 0%. Ini menunjukkan bahwa semua oksigen dapat terpakai semua
dalam proses pembakaran dan ini dapat berarti bahwa AFR cenderung kaya.

Bahan Bakar Bensin

16

Dalam kondisi demikian, rendahnya konsentrasi oksigen akan berbarengan


dengan tingginya emisi CO. Apabila konsentrasi oksigen tinggi dapat berarti
AFR terlalu kurus tapi juga dapat menunjukkan beberapa hal lain. Menurut
Winarno (2001 : 39) Nilai SFC mengalami penurunan pada seluruh range
kecepatan yang diuji seiring dengan naiknya prosentase bioethanol dalam
bahan bakar campuran bioethanol dan pertamax dengan prosentase
bioethanol 20 %. Penurunan nilai SFC pada seluruh range kecepatan yang
diuji seiring dengan naiknya prosentasi bioetanol dalam bahan bakar
campuran. Hal ini menunjukan bahwa penambahan bioethanol dalam bahan
bakar pertamax dapat menurunkan konsumsi bahan bakar campuran. Hasil
ini juga mengindikasi bahwa untuk jumlah bahan bakar yang sama, besarnya
energi pembakaran yang dapat dikonversi menjadi tenaga mesin dapat lebih
besar. Pada putaran yang lebih tinggi (>7000 RPM), daya yang di hasilkan
juga cenderung mengalam penurunan seiring dengan naiknya prosentase
biethanol.
Kesadaran masyarakat akan pencemaran udara akibat gas buang kendaraan
bermotor di kota-kota besar saat ini makin tinggi. Dari berbagai sumber bergerak
seperti mobil penumpang, truk, bus, lokomotif kereta api, kapal terbang dan
kapal laut, kendaraan bermotor saat ini maupun dikemudian hari akan terus
menjadi sumber yang dominan dari pencemaran udara di perkotaan. Di DKI
Jakarta, kontribusi bahan pencemar dari kendaraan bermotor ke udara adalah
sekitar 70%.

Gambar 5. Komposisi gas buang motor bensin


Motor bensin dapat juga mengeluarkan emisi gas sulfurdioksida (SO2) dalam
jumlah yang kecil.

7.1 Komposisi dan Perilaku Gas Buang Kendaraan Bermotor


Emisi kendaraan bermotor mengandung berbagai senyawa kimia. Komposisi dari
kandungan senyawa kimianya tergantung dari kondisi mengemudi, jenis mesin,
alat pengendali emisi bahan bakar, suhu operasi dan faktor lain yang semuanya
ini membuat pola emisi menjadi rumit. Jenis bahan bakar pencemar yang
dikeluarkan oleh mesin dengan bahan bakar bensin maupun bahan bakar solar
sebenarnya sama saja, hanya berbeda proporsinya karena perbedaan cara
operasi mesin. Secara visual selalu terlihat asap dari knalpot kendaraan
bermotor dengan bahan bakar solar, yang umumnya tidak terlihat pada
kendaraan bermotor dengan bahan bakar bensin. Walaupun gas buang

17

Bahan Bakar Bensin

kendaraan bermotor terutama terdiri dari senyawa yang tidak berbahaya seperti
nitrogen, karbon dioksida dan upa air, tetapi didalamnya terkandung juga
senyawa lain dengan jumlah yang cukup be sar yang dapat membahayakan gas
buang membahayakan kesehatan maupun lingkungan.
Bahan pencemar yang terutama terdapat didalam gas buang buang kendaraan
bermotor adalah karbon monoksida (CO), berbagai senyawa hindrokarbon,
berbagai oksida nitrogen (NOx) dan sulfur (SOx), dan partikulat debu termasuk
timbel (PB). Bahan bakar tertentu seperti hidrokarbon dan timbel organik,
dilepaskan keudara karena adanya penguapan dari sistem bahan bakar. Lalu
lintas kendaraan bermotor, juga dapat meningkatkan kadar partikular debu yang
berasal dari permukaan jalan, komponen ban dan rem. Setelah berada di udara,
beberapa senyawa yang terkandung dalam gas buang kendaraan bermotor
dapat berubah karena terjadinya suatu reaksi, misalnya dengan sinar matahari
dan uap air, atau juga antara senyawa-senyawa tersebut satu sama lain. Proses
reaksi tersebut ada yang berlangsung cepat dan terjadi saat itu juga di
lingkungan jalan raya, dan adapula yang berlangsung dengan lambat. Reaksi
kimia di atmosfer kadangkala berlangsung dalam sua tu rantai reaksi yang
panjang dan rumit, dan menghasilkan produk akhir yang dapat lebih aktif atau
lebih lemah dibandingkan senyawa aslinya. Sebagai contoh, adanya reaksi di
udara yang mengubah nitrogen monoksida (NO) yang terkandung di dalam gas
buang kendaraan bermotor menjadi nitrogen dioksida (NO2 ) yang lebih reaktif,
dan reaksi kimia antara berbagai oksida nitrogen dengan senyawa hidrokarbon
yang menghasilkan ozon dan oksida lain, yang dapat menyebabkan asap awan
fotokimi (photochemical smog). Pembent ukan smog ini kadang tidak terjadi di
tempat asal sumber (kota), tetapi dapat terbentuk di pinggiran kota. Jarak
pembentukan smog ini tergantung pada kondisi reaksi dan kecepatan angin
Untuk bahan pencemar yang sifatnya lebih stabil sperti limbah (Pb), beberapa
hidrokarbon-halogen dan hidrokarbon poliaromatik, dapat jatuh ke tanah
bersama air hujan atau mengendap bersama debu, dan mengkontaminasi tanah
dan air. Senyawa tersebut selanjutnya juga dapat masuk ke dalam rantai
makanan yang pada akhirnya masuk ke dalam tubuh manusia melalui sayuran,
susu ternak, dan produk lainnya dari ternak hewan. Karena banyak industri
makanan saat ini akan dapat memberikan dampak yang tidak diinginkan pada
masyarakat kota maupun desa. Emisi gas buang kendaraan bermotor juga
cenderung membuat kondisi tanah dan air menjadi asam. Pengalaman di negara
maju membuktikan bahwa kondisi seperti ini dapat menyebabkan terlepasnya
ikatan tanah atau sedimen dengan beberapa mineral/logam, sehingga logam
tersebut dapat mencemari lingkungan.

7.2 Dampak Terhadap Kesehatan

Senyawa-senyawa di dalam gas buang terbentuk selama energi diproduksi untuk


mejalankan kendaraan bermotor. Beberapa senyawa yang dinyatakan dapat
membahayakan kesehatan adalah berbagai oksida sulfur, oksida nitrogen, dan

Bahan Bakar Bensin

18

oksida karbon, hidrokarbon, logam berat tertentu dan partikulat. Pembentukan


gas buang tersebut terjadi selama pembakaran bahan bakar fosil-bensin dan
solar didalam mesin. Dibandingkan dengan sumber stasioner seperti industri dan
pusat tenaga listrik, jenis proses pembakaran yang terjadi pada mesin
kendaraan bermotor tidak sesempurna di dalam industri dan menghasilkan
bahan pencemar pada kadar yang lebih tinggi, terutama berbagai senyawa
organik dan oksida nitrogen, sulfur dan karbon. Selain itu gas buang kendaraan
bermotor juga langsung masuk ke dalam lingkungan jalan raya yang sering
dekat dengan masyarakat, dibandingkan dengan gas buang dari cerobong
industri yang tinggi. Dengan demikian maka masyarakat yang tinggal atau
melakukan kegiatan lainnya di sekitar jalan yang padat lalu lintas kendaraan
bermotor dan mereka yang berada di jalan raya seperti para pengendara
bermotor, pejalan kaki, dan polisi lalu lintas, penjaja makanan sering kali
terpajan oleh bahan pencemar yang kadarnya cukup tinggi. Estimasi dosis
pemajanan sangat tergantung kepada tinggi rendahnya pencemar yang
dikaitkan dengan kondisi lalu lintas pada saat tertentu. Keterkaitan antara
pencemaran udara di perkotaan dan kemungkinan adanya resiko terhadap
kesehatan, baru dibahas pada beberapa dekade be lakangan ini. Pengaruh yang
merugikan mulai dari meningkatnya kematian akibat adanya episod smog
sampai pada gangguan estetika dan kenyamanan. Gangguan kesehatan lain
diantara kedua pengaruh yang ekstrim ini, misalnya kanker pada paru-paru atau
organ tubuh lainnya, penyakit pada saluran tenggorokan yang bersifat akut
maupun khronis, dan kondisi yang diakibatkan karena pengaruh bahan
pencemar terhadap organ lain sperti paru, misalnya sistem syaraf. Karena setiap
individu akan terpajan oleh banyak senyawa secara bersamaan, sering kali
sangat sulit untuk menentukan senyawa mana atau kombinasi senyawa yang
mana yang paling berperan memberikan pengaruh membahayakan terhadap
kesehatan. Bahaya gas buang kendaraan bermotor terhadap kesehatan
tergantung dari toksiats (daya racun) masing-masing senyawa dan seberapa
luas masyarakat terpajan olehnya. Beberapa faktor yang berperan di dalam
ketidakpastian setiap analisis resiko yang dikaitkan dengan gas buang
kendaraan bermotor antara lain adalah :
Definisi tentang bahaya terhadap kesehatan yang digunakan
Relevansi dan interpretasi hasil studi epidemiologi dan eksperimental
Realibilitas dari data pajanan
Jumlah manusia yang terpajan
Keputusan untuk menentukan kelompok resiko yang mana yang akan
dilindungi
Interaksi antara berbagai senayawa di dalam gas buang, baik yang sejenis
maupun antara yang tidak sejenis
Lamanya terpajan (jangka panjang atau pendek)
Pada umumnya istilah dari bahaya terhadap kesehatan yang digunakan adalah
pengaruh bahan pencemar yang dapat menyebabkan meningkatnya resiko atau

19

Bahan Bakar Bensin

penyakit atau kondisi medik lainnya pada seseorang ataupun kelompok orang.
Pengaruh ini tidak dibatasi hanya pada pengaruhnya terhadap penyakit yang
dapat dibuktikan secara klinik saja, tetapi juga pada pengaruh yang pada suatu
mungkin juga dipengaruhi faktor lainnya seperti umur misalnya. Telah banyak
bukti bahwa anak-anak dan para lanjut usia merupakan kelompok yang
mempunyai resiko tinggi di dalam peristiwa pencemaran udara. Anak-anak lebih
peka terhadap infeksi saluran pernafasan dibandingkan dengan orang dewasa,
dan fungsi paru-paru nya juga berbeda. Para usia lanjut masuk di dalam kategori
kelompok resiko tinggi karena penyesuaian kapasitas dan fungsi paru-paru
menurun, dan pertahanan imunitasnya melemah. Karena kapasitas paru-paru
dari penderita penyakit jantung dan paru-paru juga rendah, kelompok ini juga
sangat peka terhadap pencemaran udara. Berdasarkan sifat kimia dan
perilakunya di lingkungan, dampak bahan pencemar yang terkandung di dalam
gas buang kendaraan bermotor digolongkan sebagai berikut :
Bahan-bahan pencemar yang terutama mengganggu saluran pernafasan.
Yang termasuk dalam golongan ini adalah oksida sulfur, partikulat, oksida
nitrogen, ozon dan oksida lainnya.
Bahan-bahan pencemar yang menimbulkan pengaruh racun sistemik, seperti
hidrokarbon monoksida dan timbel/timah hitam.
Bahan-bahan pencemar yang dicurigai menimbulkan kanker seperti
hidrokarbon.
Kondisi yang mengganggu kenyamanan seperti kebisingan, debu jalanan, dll.
1) Bahan-Bahan Pencemar yang Terutama Mengganggu Saluran
Pernafasan
Organ pernafasan merupakan bagian yang diperkirakan paling banyak
mendapatkan pengaruh karena yang pertama berhubungan dengan bahan
pencemar udara. Sejumlah senyawa spesifik yang berasal dari gas buang
kendaraan bermotor seperti oksida - oksida sulfur dan nitrogen, partikulat
dan senyawa-senyawa oksidan, dapat menyebabkan iritasi dan radang pada
saluran pernafasan. Walaupun kadar oksida sulfur di dalam gas buang
kendaraan bermotor dengan bahan bakar bensin relatif kecil, tetapi tetap
berperan karena jumlah kendaraan bermotor dengan bahan bakar solar
makin meningkat. Selain itu menurut studi epidemniologi, oksida sulfur
bersama dengan partikulat bersifat sinergetik sehingga dapat lebih
meningkatkan bahaya terhadap kesehatan.
Oksida sulfur dan partikulat
Sulfur dioksida (SO2) merupakan gas buang yang larut dalam air yang
langsung dapat terabsorbsi di dalam hidung dan sebagian besar saluran
ke paru-paru. Karena partikulat di dalam gas buang kendaraan bermotor
berukuran kecil, partikulat tersebut dapat masuk sampai ke dalam
alveoli paru-paru dan bagian lain yang sempit. Partikulat gas buang
kendaraan bermotor terutama terdiri jelaga (hidrokarbon yang tidak

Bahan Bakar Bensin

20

terbakar) dan senyawa anorganik (senyawa-senyawa logam, nitrat dan


sulfat). Sulfur dioksida di atmosfer dapat berubah menjadi kabut asam
sulfat (H2SO4) dan partikulat sulfat. Sifat iritasi terhadap saluran
pernafasan, menyebabkan SO2 dan partikulat dapat membengkaknya
membran mukosa dan pembentukan mukosa dapat meningkatnya
hambatan aliran udara pada saluran pernafasan. Kondisi ini akan
menjadi lebih parah bagi kelompok yang peka, seperti penderita
penyakit jantung atau paru-paru dan para lanjut usia.
Oksida Nitrogen
Diantara berbagai jenis oksida nitrogen yang ada di udara, nitrogen
dioksida (NO2) merupakan gas yang paling beracun. Karena larutan NO2
dalam air yang lebih rendah dibandingkan dengan SO2, maka NO2 akan
dapat menembus ke dalam saluran pernafasan lebih dalam. Bagian dari
saluran yang pertama kali dipengaruhi adalah membran mukosa dan
jaringan paru. Organ lain yang dapat dicapai oleh NO2 dari paru adalah
melalui aliran darah. Karena data epidemilogi tentang resiko pengaruh
NO2 terhadap kesehatan manusia sampai saat ini belum lengkap, maka
evaluasinya banyak didasarkan pada hasil studi eksprimental.
Berdasarkan studi menggunakan binatang percobaan, pengaruh yang
membahayakan seperti misalnya meningkatnya kepekaan terhadap
radang saluran pernafasan, dapat terjadi setelah mendapat pajanan
sebesar 100 g/m3 . Percobaan pada manusia menyatakan bahwa kadar
NO2 sebsar 250 g/m3 dan 500 g/m3 dapat mengganggu fungsi
saluran pernafasan pada penderita asma dan orang sehat.
Ozon dan oksida lainnya
Karena ozon lebih rendah lagi larutannya dibandingkan SO2 maupun
NO2, maka hampir semua ozon dapat menembus sampai alveoli. Ozon
merupakan senyawa oksidan yang paling kuat dibandingkan NO2 dan
bereaksi kuat dengan jaringan tubuh. Evaluasi tentang dampak ozon dan
oksidan lainnya terhadap kesehatan yang dilakukan oleh WHO task
group menyatakan pemajanan oksidan fotokimia pada kadar 200-500
g/m dalam waktu singkat dapat merusak fungsi paru-paru anak,
meningkat frekwensi serangan asma dan iritasi mata, serta menurunkan
kinerja para olaragawan.
2) Bahan-bahan pencemar yang menimbulkan pengaruh racun sistemik
Banyak senyawa kimia dalam gas buang kendaraan bermotor yang dapat
menimbulkan pengaruh sistemik karena setelah diabsorbsi oleh paru, bahan
pencemar tersebut dibawa oleh aliran darah atau cairan getah bening ke
bagian tubuh lainnya, sehingga dapat membahayakan setiap organ di dalam
tubuh. Senyawa-senyawa yang masuk ke dalam hidung dan ada dalam
mukosa bronkial juga dapat terbawa oleh darah atau tertelan masuk
tenggorokan dan diabsorbsi masuk ke saluran pencernaan. Selain itu ada
pula pemajanan yang tidak langsung, misalnya melalui makanan, seperti
timah hitam. Diantara senyawa-senyawa yang terkandung di dalam gas

21

Bahan Bakar Bensin

kendaraan bermotor yang dapat menimbulakan pengaruh sistemik, yang


paling penting adalah karbon monoksida dan timbel.
Karbon Monoksida
Karbon monoksida dapat terikat dengan haemoglobin darah lebih kuat
dibandingkan dari oksigen membentuk karboksihaemoglobin (COHb),
sehingga menyebabkan terhambatnya pasokan oksigen ke jaringan
tubuh. Pajanan CO diketahui dapat mempengaruhi kerja jantung (sistem
kardiovaskuler), sistem syaraf pusat, juga janin, dan semua organ tubuh
yang peka terhadap kekurangan oksigen. Pengaruh CO terhadap sistem
kardiovaskuler cukup nyata teramati walaupun dalam kadar rendah.
Penderita penyakit jantung dan penyakit paru merupakan kelompok
yang paling peka terhadap pajanan CO. Studi eksperimen terhadap
pasien jantung dan penyakit pasien paru, menemukan adanya hambatan
pasokan oksigen ke jantung selama melakukan latihan gerak badan pada
kadar COHb yang cukup rendah 2,7 %. Pengaruh pajanan CO kadar
rendah pada sistem syaraf dipelajari dengan suatu uji psikologi.
Walaupun diakui interpretasi dari hasil uji seperti ini sulit ditemukan
bahwa kadar COHb 16 % dianggap membahayakan kesehatan. Pengaruh
bahaya ini tidak ditemukan pada kadar COHb sebesar 5%. Pengaruh
terhadap janin pada prinsipnya adalah karena pajanan CO pada kadar
tinggi dapat menyebabkan kurangnya pasokan oksigen pada ibu hamil
yang konsekuennya akan menurunkan tekanan oksigen di dalam
plasenta dan juga pada janin dan darah. Hal ini dapat menyebabkan
kelahiran prematur atau bayi lahir dengan berat badan rendah
dibandingkan normal. Menurut evaluasi WHO, kelompok penduduk yang
peka (penderita penyakit jantung atau paru-paru) tidak boleh terpajan
oleh CO dengan ka dar yang dapat membentuk COHb di atas 2,5%.
Kondisi ini ekivalen dengan pajanan oleh CO dengan kadar sebesar 35
mg/m3 selama 1 jam, dan 20 mg/mg selama 8 jam. Oleh karena itu,
untuk menghindari tercapainya kadar COHb 2,5-3,0 % WHO
menyarankan pajanan CO tidak boleh melampaui 25 ppm (29 mg/m3)
untuk waktu 1 jam dan 10 ppm (11,5 mg/mg3) untuk waktu 8 jam.
Timbel
Timbel ditambahkan sebagai bahan aditif pada bensin dalam bentuk
timbel organik (tetraetil-Pb atau tetrametil-Pb). Pada pembakaran
bensin, timbel organik ini berubah bentuk menjadi timbel anorganik.
Timbel yang dikeluarkan sebagai gas buang kendaraan bermotor
merupakan partikel-partikel yang berukuran sekitar 0,01 m. Partikelpartikel timbel ini akan bergabung satu sama lain membentuk ukuran
yang lebih besar, dan keluar sebagai gas buang atau mengendap pada
kenalpot. Pengaruh Pb pada kesehatan yang terutama adalah pada
sintesa haemoglobin dan sistem pada syaraf pusat maupun syaraf tepi.
Pengaruh pada sistem pembentukkan Hb darah yang dapat
menyebabkan anemia, ditemukan pada kadar Pb-darah kelompok

Bahan Bakar Bensin

22

dewasa 60-80g/100 ml dan kelompok anak > 40 g/100 ml. Pada kadar
Pb-darah kelompok dewasa sekitar 40 g/100 ml diamati telah ada
gangguan terhadap sintesa Hb, seperti meningkatnya ekskresi asam
aminolevulinat (ALA). Pengaruh pada enzim -ALAD dapat diamati pada
kadar Pb-darah sekitar 10g/100 ml. Akumulasi protoporfirin dalam
eritrosit (FEP) yang merupakan akibat dari terhambatnya aktivitas enzim
ferrochelatase , dapat terlihat pada wanita edngan kadar Pb-darah 2030 g/100 ml, pada pria dengan kadar 25-35 g/100 ml, dan pada anak
dengan kadar > 15 g/100 ml. Pengaruh Pb terhadap hambatan aktivitas
enzim ALAD tidak menyatakan adanya keracunan yang membahayakan,
tetapi dapat menunjukkan adanya pajanan Pb terha dap tubuh.
Meningkatnya ekskresi ALA dan akumulasi FEP adalam urin
mencerminkan adanya kerusakan fungsi fisiologi yang pada akhirnya
dapat merusak fungsi metokhondrial.
Pengaruh pada syaraf otak anak diamati pada kadar 60g/100 ml, yang
dapat menyebabkan gangguan pada perkembangan mental anak.
Penelitian pada pengaruh Pb yang dikaitkan IQ anak telah banyak
dilakukan tetapi hasilnya belum konsisten. Sistem syaraf pusat anak
lebih peka dibandingkan dengan orang dewasa. Gangguan terhadap
fungsi syaraf orang dewasa berdasarkan uji psikologi diamati pada kadar
Pbdarah 50 g/100 ml. Sedangkan gangguan sistem syaraf tepi diamati
pada kadar Pbdarah 30 g/100 ml. Timbel dapat menembus plasenta,
dan karena perkembangan otak yang khususnya peka terhadap logam
ini, maka janinlah yang terutama mendapat resiko.
3) Bahan-Bahan Pencemar yang Dicurigai Menimbulkan Kanker
Pembakaran didalam mesin menghasilkan berbagai bahan pencemar dalam
bentuk gas dan partikulat yang umumnya berukuran lebih kecil dari 2m.
Beberapa dari bahanbahan pencemar ini merupakan senyawa-senyawa yang
bersifat karsinogenik dan mutagenik, seperti etilen, formaldehid, benzena,
metil nitrit dan hidrokarbon poliaromatik (PAH). Mesin solar akan
menghasilkan partikulat dan senyawa-senyawa yang dapat terikat dalam
partikulat seperti PAH, 10 kali lebih besar dibandingkan dengan mesin bensin
yang mengandung timbel. Untuk beberapa senyawa lain seperti benzena,
etilen, formaldehid, benzo(a)pyrene dan metil nitrit, kadar di dalam emisi
mesin bensin akan sama bes arnya dengan mesin solar.
Emisi kendaraan bermotor yang mengandung senyawa karsinogenik
diperkirakan dapat menimbulkan tumor pada organ lain selain paru. Akan
tetapi untuk membuktikan apakah pembentukan tumor tersebut hanya
diakibatkan karena asap solar atau gas lain yang bersifat sebagai iritan.
Dalam banyak kasus, analisis risiko dibuat berdasarkan hasil studi
epidemiologi. Apabila analisis-analisis tersebut cukup lengkap dan dapat
mengendalikan berbagai faktor pengganggu (confounding) seperti misalnya

Bahan Bakar Bensin

23

ke biasaan merokok, maka kesimpulan yang ditarik dapat sangat berharga,


tanpa peduli apakah hasil studi pada umumnya hasil studi seperti itu jarang
didapatkan. Mengesampingkan pengaruh yang langka akibat pencemaran,
seperti penyakit tumor dan kangker semata-mata berdasarkan hasil studi
epidemiologi yang negatif, sebenarnya kurang tepat. Pada studi yang
melibatkan populasi kecil (misalnya 1000 orang) terasa wajar apabila hasil
studi tentang sejenis tumor yang hanya terjadi pada beberapa kasus per
100.000 orang, menjadi negatif. Kesulitan menjadi lebih besar apabila
pengaruh yang dicari tersebut dapat timbul karena hal lain, dapat
diperkirakan bahwa persentase peningkatan dalam prevalensi akan sangat
kecil. Hal yang sama ditemukan pada studi eksperimental.
Di dalam studi eksperimental, adanya hubungan antara dosis dan respons
untuk dosis rendah sangat sulit untuk dibuktikan, karena kecilnya jumlah
orang yang dapat diteliti. Pengaruh jangka panjang bisa dilaksanakan pada
binatang percobaan, tetapi lagi-lagi di dalam mengekstrapolasikan
penemuan tersebut untuk manusia sering tidak pasti. Hal yang sering
ditemui dalam studi eksperimental seperti ini adalah kesulitan untuk
mensimulasikan kondisi pajanan yang sebenarnya. Karena itu maka evaluasi
secara ilmiah tentang dampak dari suatu pencemaran terhadap kesehatan,
apabila mungkin, harus didasarkan pada sifat kimiawi dari tiap senyawa,
metabolismenya dan sifat umum lainnya, di samping yang juga ditemukan
dalam studi epidemiologi dan eksperimental.

7.3 Dampak Emisi Gas Buang Terhadap Lingkungan

Tidak semua senyawa yang terkandung di dalam gas buang kendaraan bermotor
diketahui dampaknya terhadap lingkungan selain manusia. Beberapa senyawa
yang dihasilkan dari pembakaran sempurna seperti CO2 yang tidak beracun,
belakangan ini menjadi perhatian orang. Senyawa CO2 sebenarnya merupakan
komponen yang secara alamiah banyak terdapat di udara. Oleh karena itu CO2
dahulunya tidak menepati urutan pencemaran udara yang menjadi perhatian
lebih dari normalnya akibat penggunaan bahan bakar yang berlebihan setiap
tahunnya. Pengaruh CO2 disebut efek rumah kaca dimana CO2 diatmosfer dapat
menyerap energi panas dan menghalangijalanya energi panas tersebut dari
atmosfer ke permukaan yang lebih tinggi. Keadaan ini menyebabkan
meningkatnya suhu rata -rata di permukaan bumi dan dapat mengakibatkan
meningginya permukaan air laut akibat melelehnya gununggunung es, yang
pada akhirnya akan mengubah berbagai sirklus alamiah.
Pengaruh pencemaran SO2 terhadap lingkungan telah banyak diketahui. Pada
tumbuhan, daun adalah bagian yang paling peka terhadap pencemaran SO2,
dimana akan terdapat bercak atau noda putih atau coklat merah pada
permukaan daun. Dalam beberapa hal, kerusakan pada tumbuhan dan bangunan
disebabkan karena SO2 dan SO3 di udara, yang masing-masing membentuk

Bahan Bakar Bensin

24

asam sulfit dan asam sulfat. Suspensi asam di udara ini dapat terbawa turun ke
tanah bersama air hujan dan mengakibatkan air hujan bersifat asam. Sifat asam
dari air hujan ini dapat menyebabkan korosif pada logam-logam dan rangka
-rangka bangunan, merusak bahan pakian dan tumbuhan. Oksida nitrogen, NO
dan NO2 berasal dari pembakaran bahan bakar fosil. Pengaruh NO yang utama
terhadap lingkungan adalah dalam pembentukan smog. NO dan NO2 dapat
memudarkan warna dari serat-serat rayon dan menyebabkan warna bahan putih
menjadi kekuning-kuningan. Kadar NO2 sebesar 25 ppm yang pada umumnya
dihasilkan adari emisi industri kimia, dapat menyebabkan kerusakan pada
banayak jenis tanaman. Kerusakan daun sebanyak 5 % dari luasnya dapat terjadi
pada pemajanan dengan kadar 4-8 ppm untuk 1 jam pemajanan. Tergantung dari
jenis tanaman, umur tanaman dan lamanya pemajanan, kerusakan terjadi dapat
bervariasi. Kadar NO2 sebesar 0,22 ppm dengan jangka waktu pemajanan 8
bualan terus menrus, dapat menyebabkan rontoknya daun berbagai jenis
tanaman.
Mengingat besarnya bahaya yang ditimbulkan oleh beberapa senyawasenyawa
di dalam emisi gas buang kendaraan bermotor, maka Pemerintah melalui
Menteri Negara Lingkungan Hidup menetapkan Peraturan Menteri No. 05 Tahun
2006 tentang ambang batas emisi gas buang kendaraan lama sebagai berikut :
1) Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Lama adalah batas
maksimum zat atau bahan pencemar yang boleh dikeluarkan langsung dari
pipa gas buang kendaraan bermotor lama;
2) Kendaraan Bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan
teknik yang berada pada kendaraan itu;
3) Kendaraan Bermotor Lama adalah kendaraan yang sudah diproduksi, dirakit
atau diimpor dan sudah beroperasi di wilayah Republik Indonesia;
4) Uji emisi kendaraan bermotor lama adalah uji emisi gas buang yang wajib
dilakukan untuk kendaraan bermotor lama secara berkala;
5) Menteri adalah Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang
pengelolaan lingkungan hidup;
6) Gubernur adalah Kepala Daerah Provinsi;
7) Bupati/Walikota adalah Kepala Daerah Kabupaten/Kota.

8. Perkembangan harga Bensin


Sejak awal pemerintahan Orde Baru hingga di era Reformasi sekarang ini,
perkembangan ekonomi Indonesia tampaknya selalu dipengaruhi oleh gejolak
harga bahan bakar minyak (BBM) dunia. Selama periode pertama, fluktuasi
harga minyak dunia berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi,

25

Bahan Bakar Bensin

pada periode kedua ini, gejolah kenaikan harga minyak tersebut cenderung
berpengaruh pada tingkat inflasi.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi telah dicapai selama dua puluh lima tahun
pembangunan Indonesia sejak tahun 1969, antara lain telah dipacu oleh
melimpahnya penerimaan devisa dari ekspor minyak bumi akibat naiknya harga
ekspor minyak dunia. Hal itu dimungkinkan karena pangsa ekspor minya bumi
saat itu merupakan sebagian besar dari total ekspor Indonesia. Pada tahun 1970
pangsa ekspor minyak bumi masih 40,3%, terus meningkat mencapai tertinggi
pada tahun 1982, sebesar 82,4 %. Menjelang reformasi, tahun 1997, pangsa
ekspor minyak bumi tinggal sekitar 22% dari total ekspor Indonesia. (Dumairy,
1997, hal. 183). Namun, setelah itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai
menurun seiring dengan menurunnya penerimaan ekspor minyak bumi. Selain
turunnya harga minyak bumi, pangsa ekspor minyak Indonesia juga mulai
menurun seiring dengan semakin berkurangnya produksi minyak bumi di negeri
ini.
Selanjutnya,di masa reformasi sekarang ini gejolak kenaikan harga dunia justru
berpengaruh terhadap terhadap beban APBN yang menanggung subsidi
terhadap konsumen bahan bakar minyak. Sehubungan dengan itu, timbul
permasalahan bagi pemerintah antara pilihan menanggung subsidi yang
semakin besar atau menguragi subsidi dengan konsekuensi meningkatnya inflasi
karena naiknya harga BBM di dalam negeri. Hal ini disebabkan oleh posisi
Indonesia sudah tidak lagi menjadi bagian anggota OPEC, malahan sudah
menjadi negara pengimpor neto terhadap bahan bakar minyak (BBM).

Gambar 6. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


Selama lima tahun pertama pembangunan di era Orde Baru pertumbuhan
ekonomi Indonesia mencapai rata-rata 8,56 persen per tahun (1969-1973).
Pertumbuhan tertinggi sebesar 11, 3% dicapai pada tahun 1973. Walaupun pada
periode lima tahun kedua (1974-1978) terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi
menjadi rata-rata 6,96 persen per tahun, namun pertumbuhan ekonomi tersebut
masih tergolong tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama sepuluh tahun

Bahan Bakar Bensin

26

tersebut telah didukung oleh bonanza (rezeki nomplok) minyak bumi yang
diterima Indonesia. Kenaikan devisa ekspor minyak saat itu dipicu oleh
melonjaknya harga minyak dunia akibat konflik antara Arab dan Izrael, di mana
negara-negara Arab anggota OPEC menghentikan ekspor ke negara-negara
pendukung Izrael. Krisis energi minyak dunia tersebut terjadi pada tahun 1973.
Indonesia yang saat itu masih sebagai anggota negara OPEC telah menikmati
rezeki petro dollar tersebut. Peretumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut
berlangsung hingga akhir tahun 1970-an. (Dumairy, 1997, ibid). Selanjutnya,
krisis minyak dunia sejak awal tahun 1970-an tersebut telah menyebabkan krisis
ekonomi di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, negara-negara di Eropa
dan Jepang. Akibatnya, harga minyak dunia menurun drastis sejak awal tahun
1980-an. Hal itu berpengaruh pada kinerja perekonomian Indonesia. Di samping
dampak krisi ekonomi dunia mulai masuk ke Indonesia, keadaannya diperparah
oleh anjloknya harga minyak sehingga penerimaan ekspor berkurang drastis.
Akhirnya, hal itu berpengaruh terhadap menurunnya pertumbuhan ekonomi
Indonesia. Memasuki era Reformasi, yang ditandai oleh krisis moneter dan
ekonomi pada tahun 1998, gejolak harga minyak dunia yang cenderung terus
meningkat telah membuat pemerintah Indonesia kesulitan dalam memenuhi
anggaran pembangunan. Hal ini disebabkan oleh dasar patokan APBN adalah
harga minyak dunia, sementara posisi Indonesia sudah menjadi negara
pengimpor bersih terhadap minyak bumi (BBM). Untuk melindungi kepentingan
konsumen yang sebagian besar masih tergolong rendah, maka pemerintah
terpaksa memberikan subsidi harga BBM di dalam negeri. Namun hal ini tampak
semakin memperberat usaha pemenuhan keuangan pada APBN Indonesia setiap
tahunnya. Untuk mengurangi beban pada APBN tersebut, pilihan yang dilakukan
oleh pemerintah Indonesia adalah dengan mengurangi subsidi BBM. Namun
dampaknya cenderung menyebabkan kenaikan harga-harga umum.
Kebijakan pemerintah Indonesia mengurangi subsidi BBM dengan cara
menaikkan harga BBM sebesar rp.2000/liter untuk premium dan Rp. 1000/liter
untuk solar pada bulan juni 2013 telah diprediksi akan menyebabkan kenaikan
tingkat inflasi. Dampak utama dari kenaikan harga BBM tersebut adalah
kenaikan tarif angkutan dan biaya produksi di sektor industri, yang pada
gilirannya akan meningkatkan inflasi di semua sektor ekonomi. Para ahli
memperkirakan dampak kenaikan harga BBM bulan juli tersebut akan
meningkatkan inflasi sekitar 2,46 persen dari target pemerintah sekitar 7,2
persen. (Kompas, Rabu 19 Juni 2013, hal.19). Akan tetapi, bagi pihak yang
mendukung kebijakan pemerintah tersebut dengan alasan bahwa alokasi subsidi
BBM oleh pemerintah tidak tepat sasaran, sehinggan menimbulkan ketidak
adilan. Data susenas 2008 dan Bank Dunia 2010, menunjukkan bahwa 25%
rumah tangga yang berpendapatan (dan pengeluaran) tinggi justru menimati
subsidi BBM sekitar 77% per bulan. Sementara itu, 25% kelompok rumah tangga
berpenghasilan (dan berpengeluaran) rendah hanya menikmati alokasi subsidi
BBM sekitar 15%. Alasan kedua adalah harga patokan BBM di Indonesia jauh

27

Bahan Bakar Bensin

lebih rendah dari pada harga BBM di berbagai negara, termasuk negara-negara
yang berpendapatan lebih rendah dari pada Indonesia. Sebagai contoh, di
negara Kamboja dan Laos harga BBM telah mencapai lebih dari Rp. 13.000,- per
liter. (Rafika Dwi H, 2013). Sehubungan dengan uraian tersebut, maka yang
menjadi permasalah pokok di dalam penelitian ini adalah Seberapa besar
pengaruh perubahan harga BBM terhadap tingkat inflasi secara keseluruhan di
Indonesia.
1) Perkembangan Harga BBM
Perkembangan harga BBM di Indonesia sejak bulan April 1979 hingga Juni
2013. Selama periode tersebut, tampaknya pertumbuhan harga premium
dan solar menunjukkan tren pertumbuhan yang meningkat. Petumbuhan
harga solar secara rata-rata meningkat lebih cepat dari pada harga
premium. Selama periode tersebut, harga solar meningkat rata-rata 32,44
persen. Harga solar meningkat dar rp. 35/liter pada bulan April 1979 menjadi
rp. 5.500/liter pada bulan Juni 2013. Sementara itu harga premium
meningkat rata-rata 26,10 persen, yaitu dari rp. 100/liter menjadi rp.
6.500/liter pada periode yang sama.
Walaupun tren harga kedua komoditi itu menunjukkan peningkatan, namun
tingkat pertumbuhannya berfluktuasi dari waktu ke waktu. Selama periode
1979-2013, terdapat 4 titik puncak pertumbuhan harga BBM di Indonesia
dengan tingkat pertumbuhan rata-rata di atas 50 persen, yaitu pada tahun
1979, 1982, 1998 dan tahun 2005. Pada bulan April 1979, pemerintah
menetapkan harga premium dan solar masing-masing menjadi Rp.100 per
liter dan rp. 35 per liter. Bila dibandingkan dengan harga kedua komoditi itu
pada bulan April 1975, maka masing-masing meningkat sebesar 75,43
persen dan 59,09 persen. Kenaikan harga BBM pada bulan Mei 1980 dengan
tingkat perubahan yang lebih rendah dari periode sebelumnya, yaitu masingmasing meningkat 50 persen. Selanjutnya, kenaikan harga BBM pada bulan
Januari 1982 mencapai 60 persen untuk premium dan 61 persen untuk solar.
Sejak itu, perubahan harga BBM berfluktuasi dengan tren menurun hingga
Januari 1993.
Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM pada bulan Mei 1998 yang
masing-masing sebesar 71,43 persen untuk premium dan 57,89 persen
untuk solar telah membuat keadaan perekonomian Indonesia semakin berat.
Sementara perekonomian kita sedang dilanda krisis moneter yang dipicu
oleh anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, peristiwa
kenaikan harga BBM pada bulan Mei 1998 tersebut telah menambah faktor
pemicu kerusuhan yang terjadi saat itu di hampir seluruh pelosok negeri ini.
Sebagai dampak dari krisi ekonomi dan kerusuhan tersebut, ekonomi
Indonesia mengalami pertumbuhan negatif pada tahun tersebut.
Pertumbuhan harga BBM cendrung menurun sejak tahun 1998 hingga tahun
2003. Bahkan pada bulan oktober 2000 pemerintah membuat kebijakan

Bahan Bakar Bensin

28

penurunan harga premium sebesar 4,17 persen dari rp. 1.200 per liter
menjadi rp. 1.150 per liter, sementara harga solar tetap dipertahankan
sebesar rp. 600 per liter.
Kenaikan harga BBM tertinggi selama 34 tahun terakhir terjadi pada bulan
Oktober 2005. Harga premium meningkat dari rp. 1.810 menjadi rp. 4.500
per liter atau meningkat sebesar 148, 61 persen. Sementara itu, harga solar
meningkat lebih tinggi, dari rp. 1.650 menjadi rp. 4.300 per liter atau
meningkat sebesar 160,6 persen. Kenaikan harga BBM tersebut antara lain
telah dipicu oleh keadaan perekonomian Indonesia yang terkena dampak
krisis ekoonomi global yang bermula dari krisis di Amerika Serikat.
Pada bulan Mei 2008, kenaikan harga BBM kembali dilakukan oleh
pemerintah masing-masing sebesar 33,33 persen untuk premium, dan 27,90
persen untuk solar. Namun, pada bulan Januari 2009 pemerintah
mengeluarkan kebijakan penurunan harga BBM untuk meringankan beban
masyarakat. Pada waktu itu, harga premium diturunkan sebesar 25 persen,
dari rp. 6.000 per liter menjadi rp. 4.500 per liter. Sementara itu, harga solar
diturunkan sebesar 18,8 persen dari rp. 5.500 per liter menjadi 4.500 per
liter. Terakhir, pada bulan juni 2013 pemerintah terpaksa meningkatkan lagi
harga BBM mengingat beban subsidi pada APBN semakin membesar akibat
harga impor BBM semakin tinggi. Pada masa tahun 1970-an hingga awal
tahun 1990-an Indonesia masih bertindak sebagai bagian dari negara
eksportir minyak (OPEC). Namun sejak pertengahan tahun 1990-an,
Indonesia sudah menjadi negara pengimpor minyak secara netto. Oleh
karenanya, kenaikan harga minyak di pasaran dunia telah berdampak pada
melonjaknya besaran subsidi pada APBN. Untuk mengurangi beban subsidi
tersebut, pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM.

1.

Gambar 7. Perkembangan harga BBM jenis Solar dan Premium di Indonesia


Perkembangan Tingkat Inflasi
Tingkat inflasi menunjukkan kecenderungan meningkatnya harga-harga
barang secara umum. Tingkat inflasi diukur berdasarkan perkembangan
Indeks Harga Konsumen (IHK). Di dalam pembahasan penelitian ini, tingkat

Bahan Bakar Bensin

29

inflasi yang digunakan adalah data inflasi bulanan, yaitu tingkat inflasi yang
terjadi pada bulan yang bersamaan dengan terjadinya perubahan harga
BBM. Selama periode 1979 hingga 2013, tampak perkembangan inflasi
berfluktuasi dan mempunyai cenderung menurun. Pada bulan April 1979,
saat terjadi kenaikan harga BBM, tingkat inflasi sebeasar 3,20 persen.
Namun, pada saat pemerintah mengambil kebijakan menaikkan harag BBM
pada bulan Juni 2013, ternyata tingkat inflasi hanya mencapai 1,03 persen.
Pada awal periode tersebut, April 1979 sampai dengan Januari 1984, tingkat
inflasi bulanan rata-rata di atas 3 persen. Setelah itu, tingkat inflasi yang
mengiringi perubahan harga BBM tersebut cenderung menurun, kecuali pada
bulan Mei 1998 dan Oktober 2005. pada bulan Mei 1998, tingkat inflasi
mencapai 5,24 persen, dan pada bulan Oktober 2005 mencapai puncaknya,
yaitu 8,70 persen. Secara tahunan, tingkat inflasi pada tahun 1998 mencapai
puncak tertinggi sepanjang sejarah sejak pemerintahan ORDE baru hingga
era reformasi, yaitu 77,63 persen. Tingkat inflasi tertinggi kedua terjadi pada
tahun 2005 yang mencapai 17,11 persen.

Gambar 8. Perkembangan Tingkat Inflasi


Sejaka April 1979 hingga Juli 1986, tampak tren perubahan harga BBM dan
inflasi terus menurun, dan bahkan mencapai pertumbuhan negatif pada
bulan Juli 1986. pada bulan Juli 1986 pemerintah menurunkan harga BBM
sebesar 17,36 persen untuk jenis solar, sementara harga premium tetap
dipertahankan. Dampaknya adalah tingkat inflasi menurun, bahkan menjadi
deflasi sebesar 0,2 persen. Setelah itu trennya meningkat hingga mencapai
puncak pada bulan Mei 1998. Kenaikan harga premium sebesar 71,43 persen
dan harga solar sebesar 57,89 persen pada waktu itu diperkirakan telah
membawa peningkatan inflasi hingga menjadi 5,24 persen. Selanjutnya,
pada bulan Oktober 2000 harga BBM dan inflasi kembali mencapai titik
terendah. Pada tahun itu harga premiun turun sebesar 4,17 persen,
sementara harga premium tidak berubah. Dampaknya adalah tingkat inflasi
juga mencapai titik terendah, yaitu sebesar 1,16 persen. Tren perkembangan
harga BBM dan inflasi meningkat kembali hingga mencapai puncak lagi pada

Bahan Bakar Bensin

30

bulan Oktober 2005. Kenaikan harga premium sebesar 148,61 persen dan
harga solar sebesar 160,60 persen pada waktu itu diperkirakan telah
membawa peningkatan inflasi hingga menjadi 8,70 persen. Pada bulan
Januari 2009, baik perubahan harga BBM maupun tingkat inflasi sma-sama
kembali mencapai tutuk terendah. Pada waktu itu harga premium turun 25
persen dan harga solar turun 18,80 persen. Keadaan itu lalu diikuti oleh
tingkat inflasi yang negatif atau deflasi sebesar 0,07 persen. Keadaan
terakhir, pada bulan Juni 2013, pemerintah menaikkan harga premium
sebesar 44,44 persen dan solar sebesar 22,22 persen, sehingga tingkat
inflasi juga meningkat menjadi 1,03 persen.

Gambar 9. Perkembangan harga BBM dan Inflasi di Indonesia


Selanjutnya, inflasi di Indonesia dikelompokkan ke dalam
pengeluaran, yaitu:
1. Kelompok Bahan Makanan (BM)
2. Kelompok Makanan Jadi, Minuman, dan Tembakau (MJMT)
3. Kelompok Perumahan
4. Kelompok Sandang
5. Kelompok Kesehatan
6. Kelompok Pendidikan dan Olahraga
7. Kelompok Transportasi dan Komunikasi

kelompok

Tabel 4. Hubungan antara perubahan harga BBM dan Inflasi menurut kelompok
pengeluaran Mei 2008-Juni 2013

31

Bahan Bakar Bensin

Perubahan harga BBM pada Tabel di atas merupakan modifikasi dari data harga
premium dan harga solar. Di mana harga kedua jenis BBM itu disatukan, lalu
diuhitung persentase perubahannya. Pada awalnya, penelitian ini merencanakan
untuk menyajikan data inflasi menurut kelompok pengeluaran dengan rentangan
waktu 1979-2013. Akan tetapi, data hanya tersedia untuk 3 tahun, yaitu dari
2008, 2009 dan 2013. Dengan demikian, data tersebut tidak bisa digunakan
untuk keperluan regresi. Namun demikian, penulis mencoba untuk
menganalisisnya secara kualitatif dengan mengamati tren perkembangan
selama 3 tahun tersebut. Data pada tabel, di atas mengindikasikan bahwa
perubahan harga BBM cenderung berpengaruh lebih dominan terhadap tingkat
inflasi pada kelompok bahan makanan, dan kelompok transportasi dan
komunikasi dari pada terhadap kelompok pengeluaran yang lainnya. Angka
dalam tanda kurung menunjukkan tingkat perubahan inflasi dari bulan sebelum
dilakukan perubahan harga BBM. Pada bulan Mei 2008, seiring dengan terjadi
perubahan harga BBM sebesar 30,68 persen, tampak perubahan tingkat inflasi
pada kelompok bahan makanan meningkat sebesar 1,17 poin dibandingkan
dengn tingkat inflasi pada bulan April 2008. Begitu juga dengan tingkat inflasi
pada kelompok transportasi dan komunikasi meningkat 3,41 poin dibandingkan
dengan data pada bulan sebelumnya. Tingkat inflasi kelompok sandang, dan
kelompok pendidikan dan olahraga, masing-masing cuma naik 0,11 poin dan
0,24 poin. Sebaliknya inflasi pada kelompok perumahan dan kesehatan justru
menurun, masing-masing 0,04 poin dan 1,19 poin. Sementara inflasi pada
kelompok makanan jadi, minuman, dan tembakau tidak mengalami perubahan.
Penurunan harga BBM pada bulan Januari 2009 sebesar 21,74 persen telah
berpengaruh terhadap penurunan tingkat inflasi pada kelompok bahan makanan
sebesar 2,05 poin dan penurunan pada inflasi kelompok transportasi dan
komunikasi sebesar 2,32 poin, kelompok perumahan 0,15 poin, dan kelompok
sandang sebesar 0,5 poin. Sebaliknya, inflasi pada kelompok makanan jadi,
minuman dan tembakau, kelompok kesehatan, dan kelompok pendidikan dan
olah raga justru mengalami peningkatan. Fenomena pada bulam Juni 2013, juga
mengisyaratkan pengaruh perubahan harga BBM yang berpengaruh lebih
dominan terhadap inflasi pada kelompok bahan makanan, dan kelompok
transportasi dan komunikasi.

Bahan Bakar Bensin

32

Gambar 10. Perkembangan Harga BBM

9. Konsumsi Bensin Dunia dan Per Negara


Selama 11 tahun terakhir, produksi energi nasional terus mengalami
peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,6% per tahun. Ekspor
mengalami pertumbuhan rata-rata 6,8% per tahun, impor tumbuh rata-rata
10,2% per tahun sementara konsumsi domestic hanya tumbuh 1,8% per tahun.

Gambar 11. Pasokan dan Kebutuhan Energi


Pertumbuhan produksi energi terbesar terjadi pada batubara, selama kurun
waktu tersebut produksi batubara mengalami pertumbuhan rata-rata 15,1% per
tahun dari 323.569 ribu SBM menjadi 1.483.738 ribu SBM. Sementara minyak
bumi cenderung mengalami penurunan produksi rata-rata 4% per tahun dari
517.489 ribu SBM menjadi 329.265 ribu SBM. Di sisi lain, ekspor batubara juga
mengalami
peningkatan yang sangat cepat, dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 15,3%
per tahun dari 245.534 ribu SBM menjadi 1.145.220 ribu SBM. Sementara pada
sisi impor, produk petroleum merupakan jenis energi yang mengalami
pertumbuhan impor sangat besar hingga mencapai 15,1% per tahun dari 93.285
ribu SBM menjadi 311.472 ribu SBM selama kurun waktu 2000 s.d 2011.

33

Bahan Bakar Bensin

Gambar 12. Konsumsi Energi Final per Jenis Energi


Bahan bakar minyak (BBM) masih menjadi energi yang paling besar dikonsumsi
dibandingkan dengan jenis energi lainnya. Konsumsi BBM pada tahun 2011
mencapai 365 juta SBM atau setara dengan 32,7% (dengan bilomassa) dan
43,6% (tanpa biomasa) terhadap total konsumsi energi final seluruhnya.
Sementara LPG merupakan jenis energi yang mengalami peningkatan tertinggi
dibandingkan dengan energi jenis lainnya. Pada tahun 2011, konsumsi LPG
mencapai 37.046
ribu SBM atau tumbuh 15,56% dibandingkan konsumsi pada tahun sebelumnya.
Hal ini diperkirakan disebabkan oleh perluasan program konversi minyak tanah
ke LPG ke wilayah-wilayah yang sebelumnya belum terjangkau oleh program ini.
Konsumsi listrik pada tahun 2011 juga menunjukan peningkatan yang cukup
besar hingga 8,04% jika dibandingkan pada tahun sebelumnya. Peningkatan
konsumsi listrik tidak lepas dari program-program dan kebijakan Pemerintah dan
PLN dalam rangka meningkatkan rasio eletrifikasi nasional, mengurangi
pemadaman bergilir dan melakukan program sambungan satu juta pelanggan.
Sebagian besar kilang minyak yang dimiliki Indonesia saat ini dimiliki oleh
Pertamina dengan usia rata-rata diatas 30 tahun, mengingat sudah lebih dari 20
tahun tidak ada penambahan kapasitas kilang minyak baru di Indonesia.
Berdasarkan teknologinya sebelum tahun 1970 kilang yang dibangun adalah
kilang dengan low processing dimana spesifikasi kilang dirancang untuk
mengolah minyak ringan. Setelah 1970 kilang yang dibangun dirancang dengan
spesifikasi high processing untuk mengolah minyak berat baik yang berasal dari
sumur lokal maupun timur tengah. Dua kilang minyak lainnya (Tri Wahana
Universal, dan Tuban/TPPI) yang dikelola swasta belum mampu melakukan
produksi secara optimal untuk memenuhi kebutuhan BBM nasional. Dari
kapasitas kilang nasional sebesar 1.157 juta barel per hari, kilang Pertamina
memproduksi BBM nasional hanya mencapai 37,7 juta kilo liter per tahun atau
sekitar 0,65 juta barel per hari. Produksi tersebut
diantaranya terdiri dari premium 10,2 juta KL, solar 18,5 juta KL, minyak tanah
2,3 juta KL, dan avtur 2,7 juta KL . Selain memproduksi bahan bakar minyak,
kilang-kilang minyak Pertamina juga menghasilkan bahan bakar khusus seperti
pertamax, pertamax plus, pertadex, LPG, serta produk petrokimia seperti
pelumas, aspal, propilen, dan naphta.
Terkait dengan rencana pemerintah untuk melakukan pembatasan BBM
bersubsidi, Pemerintah perlu mempertimbangkan kemungkinan impor BBM non
subsidi (Pertamax, Pertamax plus, Pertamina Dex) karena produksi BBM non
subsidi dalam negeri hanya 3,3 juta barel per tahun, jauh di bawah kebutuhan
BBM nasional dan terbatas hanya dihasilkan dari Kilang Plaju, Kilang Balikpapan,

Bahan Bakar Bensin

34

dan Kilang Balongan. Pertimbangan lainnya adalah adanya excess produksi BBM
subsidi akibat kebijakan pembatasan tersebut.
Tabel 5. Produksi Kilang Minyak Pertamina

Dengan ketersediaan infrastruktur kilang nasional saat ini, produksi BBM oleh
nasional baru dapat memenuhi sekitar 56% kebutuhan BBM nasional. Ditambah
dengan teknologi kilang yang sudah tua mengakibatkan efisiensi kilang semakin
lama semakin menurun. Diperkirakan jika kondisi kilang minyak nasional tidak
ada perbaikan dan penambahan kapasitas kilang baru, dengan asumsi
pertumbuhan
kebutuhan BBM 4% per tahun, pada tahun 2015 Indonesia akan mengalami
defisit BBM hingga mendekati 50% dari total kebutuhan nasional. Kondisi
tersebut dapat mengakibatkan ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM
semakin besar dan cenderung merugikan Indonesia mengingat harga BBM impor
yang dibeli oleh Indonesia dalam hal ini Pertamina merupakan harga spot yang
banyak dipengaruhi oleh aksi spekulan.
Kini Indonesia kembali merencanakan pembangunan dua kilang minyak baru
dengan kapasitas masing-masing 300.000 bph, yaitu Kilang Balongan Baru
Indramayu ditargetkan beroperasi 2017 dan Kilang Tuban, ditargetkan beroperasi
2018. Dengan dibangunnya dua kilang baru tersebut, akan memberikan
tambahan produksi BBM sebesar 17,89 juta KL yang terdiri dari premium 7,79
juta KL, solar 7,23 juta KL, dan avtur sebesar 2,87 juta KL. Selain dua kilang
tersebut, Pemerintah juga berencana untuk membangun kilang sendiri dengan
menggunakan dana APBN dengan kapasitas 300 MBCD dimulai pada tahun 2012
dan diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2019.
Selain penambahan kilang, Pertamina juga berencana melakukan refurbishment
kilang untuk meningkatkan kualitas produksi, antara lain refurbishment Kilang
Plaju, kero treater Kilang Dumai-BLPP untuk pengalihan minyak tanah menjadi
avtur, penambahan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Kilang CilacapProyek Langit Biru Cilacap (PLBC), bottom upgrading BLPP Kilang Balikpapan,
dan revamping Kilang Dumai. Melalui refurbishment Kilang Plaju Pertamina

Bahan Bakar Bensin

35

mentargetkan penambahan produksi premium sebesar 120 ribu KL, dan avtur
2,61 juta KL melalui proyek kero treater Kilang Dumai pada tahun 2013. Pada
tahun 2014 akan terdapat penambahan produksi Premium 1,9 juta KL melalui
proyek RFCC Kilang Cilacap. Dan pada tahun 2017 melalui proyek bottom
upgrading Kilang Balikpapan dan revamping Kilang Dumai akan menambah
produksi premium sebesar 1,23 juta KL, minyak tanah 470 ribu KL, solar 2,26
juta KL, dan avtur 480 ribu KL.

Gambar 13. Sebaran dan Lokasi Kilang Minyak di Indonesia


Berbeda dengan kinerja produksi minyak mentah, seiring dengan peningkatan
PDB dan jumlah penduduk, konsumsi BBM di Indonesia semakin lama semakin
meningkat. Hal ini terlihat dari perkembangan konsumsi minyak mentah yang
terjadi selama ini sebagaimana digambarkan dalam grafik. Di era tahun 70-an,
konsumsi minyak hanya dikisaran 100 ribu s. d. 350 ribu BPD. Namun, dari tahun
ke tahun konsumsi terus meningkat atau tumbuh di kisaran 6,1% per tahun
selama periode 1970 s. d. 2012.

Gambar 14. Konsumsi dan Surplus/Defisit Minyak

Bahan Bakar Bensin

36

Kondisi yang bertolak belakang antara kinerja produksi dan konsumsi minyak,
pada akhirnya membuat Indonesia mengalami defisit minyak. Hal ini mulai
terjadi pada tahun 2004 di mana Indonesia mengalami defisit minyak sekitar 5
juta ton, kemudian terus merangkak naik hingga tahun 2012 yang mengalami
defisit 27 juta ton. Konsekuensi defisit sudah dapat dipastikan bahwa Indonesia
harus impor baik dalam bentuk minyak mentah maupun hasil olahan (bensin,
diesel, dan kerosene). Ketika impor, otomatis juga dapat berdampak pada neraca
perdagangan Indonesia.

Gambar 15. Grafik Neraca Minyak dan BBM

Bahan Bakar Bensin

37

Gambar 16. Grafik Ekspor-Impor Minyak


Dari diatas terlihat bahwa semakin lama volume impor minyak dan BBM
semakin meningkat. Tahun 2008, volume impor mencapai 24,6 juta kiloliter (KL),
meningkat 56,9% menjadi 38,6 juta KL pada tahun 2012. Dari sisi nilai nominal
pun otomatis defisit neraca perdagangan meningkat. Pada tahun 2003, terjadi
defisit neraca perdagangan sekitar US$414,8 juta, kemudian pada tahun 2011
periode Januari - November menjadi US$19,0 miliar. Pada dasarnya, kenaikan
konsumsi minyak atau BBM tidak menimbulkan permasalahan selama kenaikan
tersebut mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan
masyarakat secara maksimal. Pertanyaannya adalah sudah maksimalkah
konsumsi tersebut dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan
masyarakat? Hal ini dapat ditunjukkan dalam rasio PDB dengan konsumsi energi
($/Kg Setara Minyak) sebagaimana terlihat dalam grafik dibawah ini. Indonesia
terlihat masih di bawah Singapura ($8,3), Malaysia ($5,4), Korea ($4,88), dan
Brunei Darussalam ($4,84) dalam hal efisiensi penggunaan energi untuk
peningkatan PDB.

Gambar 17. Rasio PDB terhadap konsumsi energy


Kekurangefisienan konsumsi energi tidak dapat terlepaskan dari kebijakan energi
nasional Indonesia. Salah satunya adalah kebijakan harga BBM tertentu di
pasaran yang disubsidi oleh Pemerintah. Harga BBM bersubsidi yang murah
mendorong masyarakat kurang memperhatikan penggunaan BBM tersebut
secara efisien. Sebagai contoh harga premium Rp6.500 per liter, solar Rp5.500
per liter, sementara itu harga minuman cola 1,5 liter harganya Rp10.000.
Premium dan solar merupakan SDA yang sulit diperoleh dan fungsinya sangat
strategis untuk menghasilkan energi. Sementara itu, minuman cola mudah
diproduksi termasuk bahan baku juga mudah didapat dan dapat di substitusi
penggunaanya. Contoh ini menunjukan bahwa kebijakan harga murah
menunjukan adanya ketidaksesuaian antara nilai ekstrinsik dengan fungsinya.

Bahan Bakar Bensin

38

10. Perkembangan Produksi Bensin


Sejak tahun 1990an produksi minyak mentah Indonesia telah mengalami tren
penurunan yang berkelanjutan karena kurangnya eksplorasi dan investasi di
sektor ini. Di beberapa tahun terakhir sektor minyak dan gas negara ini
sebenarnya menghambat pertumbuhan PDB. Target-target produksi minyak,
ditetapkan oleh Pemerintah setiap awal tahun, tidak tercapai untuk beberapa
tahun berturut-turut karena kebanyakan produksi minyak berasal dari ladangladang minyak yang sudah menua. Saat ini, Indonesia memiliki kapasitas
penyulingan minyak yang kira-kira sama dengan satu dekade lalu,
mengindikasikan bahwa ada keterbatasan perkembangan dalam produksi
minyak, yang menyebabkan kebutuhan saat ini untuk mengimpor minyak demi
memenuhi permintaan domestik. Penurunan produksi minyak Indonesia
dikombinasikan dengan permintaan domestik yang meningkat mengubah
Indonesia menjadi importir minyak dari tahun 2004 sampai saat ini,
menyebabkan Indonesia harus menghentikan keanggotaan jangka panjangnya
(1962-2008) di OPEC. Kendati begitu, Indonesia akan bergabung kembali dengan
OPEC pada Desember 2015. Tabel di bawah menunjukkan produksi minyak yang
menurun selama satu dekade terakhir. Tabel ini dibagi dalam dua angka
produksi, yang pertama diambil dari perusahaan minyak dan gas multinasional
BP Global (angka-angkanya mencakup minyak mentah, shale oil, oil sands dan
gas alam cair), dan angka-angka produksi yang kedua bersumber dari Satuan
Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas)
dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (angka-angka ini mencakup
minyak mentah dan kondensat minyak).
Tabel 6. Produksi Minyak Bumi Indonesia

Kurangnya eksplorasi dan investasi-investasi lain di sektor minyak ini telah


menyebabkan penurunan dalam produksi minyak Indonesia yang disebabkan
karena manajemen yang lemah dari pemerintah, birokrasi yang berlebihan,
kerangka peraturan yang tidak jelas serta ketidakjelasan hukum mengenai
kontrak. Hal ini menciptakan iklim investasi yang tidak menarik bagi para
investor, terutama bila melibatkan investasi jangka panjang yang mahal. Secara
kontras, konsumsi minyak Indonesia menunjukkan tren naik yang stabil.

Bahan Bakar Bensin

39

Karena jumlah penduduk yang bertumbuh, peningkatan jumlah penduduk kelas


menengah, dan pertumbuhan ekonomi; permintaan untuk bahan bakar terusmenerus meningkat. Karena produksi domestik tidak bisa memenuhi permintaan
domestik, Indonesia mengimpor sekitar 350.000 sampai 500.000 barel bahan
bakar per hari dari beberapa negara.
Tabel 7. Konsumsi Minyak Indonesia

Kebanyakan proses produksi minyak Indonesia terkonsentrasi di cekungancekungan yang ada di wilayah barat negara ini. Namun, karena hanya sedikit
penemuan minyak baru yang signifikan di wilayah Barat ini, Pemerintah telah
mengubah fokusnya ke wilayah Timur Indonesia. Kendati begitu, cadangan
minyak yang terbukti di seluruh negara ini telah turun dengan cepat menurut
sebuah publikasi dari perusahaan minyak BP. Di 1991 Indonesia memiliki 5,9
miliar barel cadangan minyak terbukti namun jumlah ini telah menurun menjadi
3,7 miliar barel pada akhir 2014. Sekitar 60% dari potensi ladang minyak baru
Indonesia berlokasi di laut dalam yang membutuhkan teknologi maju dan
investasi modal yang besar untuk memulai produksi.

11. Produksi dan Reformula Bensin yang akan datang


Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, penduduk, pengembangan wilayah, dan
pembangunan dari tahun ke tahun, kebutuhan akan pemenuhan energi disemua
sektor pengguna energi secara nasional juga semakin besar. Selama ini
kebutuhan energi dunia dipenuhi oleh sumber daya tak terbarukan, seperti
minyak bumi dan batubara. Namun, tidak selamanya energi tersebut dapat
mencukupi seluruh kebutuhan dalam jangka panjang. Cadangan energi semakin
lama semakin menipis dan proses produksinya membutuhkan waktu jutaan
tahun. Krisis bahan bakar fosil di Indonesia telah terlihat indikasinya dengan
terjadinya kelangkaan di beberapa tempat. Krisis bahan bakar minyak (BBM) ini
diakibatkan oleh harga minyak mentah yang melonjak sangat tinggi di samping
cadangan minyak mentah Indonesia yang terbatas sedangkan konsumsi energi
terus meningkat sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi dan pertambahan
penduduk sehingga produksi dalam negeri berkurang. Karena keterbatasan
produksi BBM dari kilang domestik, pertamina terpaksa masih mengimpor 40%
persen kebutuhan bahan bakar minyak nasional. Kapasitas kilang Pertamina
hanya 1,030 juta kiloliter per tahun. Sementara, kebutuhan BBM nasional sekitar
1,4 juta kiloliter per tahun. Oleh karena itu, Pertamina masih harus mengimpor
BBM dari luar negeri. Untuk BBM jenis premium, tahun 2009 ini Pertamina akan

Bahan Bakar Bensin

40

mengimpor 8,8 juta kiloliter. Produksi Premium dari kilang Pertamina hanya 10,9
juta kiloliter sementara kebutuhan Premium nasional sebesar 19,7 juta kiloliter.
Untuk BBM jenis solar Pertamina akan mengimpor 6,3 juta liter untuk menutupi
kekurangan produksi kilang domestik yang sebesar 16,7 juta kiloliter. Kebutuhan
Solar nasional adalah sebesar 22 juta kilo liter.
Peningkatan pertumbuhan ekonomi serta populasi dengan segala aktivitasnya
akan meningkatkan kebutuhan energi di semua sektor pengguna energi.
Peningkatan kebutuhan energi tersebut harus didukung adanya pasokan energi
jangka panjang secara berkesinambungan, terintegrasi, dan ramah lingkungan.
Pasokan energi diusahakan berasal dari sumber energi dalam negeri dan dari
impor dari negara lain apabila pasokan energi dalam negeri tidak mencukupi.
Mengingat potensi sumberdaya minyak bumi dan kemampuan kapasitas kilang
di dalam negeri yang terbatas maka perlu dicarikan bahan bakar alternatif untuk
substitusi BBM.
Pemanfaatan sumber energi terbarukan menjadi solusi pemenuhan kebutuhan
energi yang semakin lama semakin besar di masa mendatang. Sumber daya
energi terbarukan memiliki keunggulan, yakni dapat diproduksi dalam waktu
relatif tidak lama dibandingkan dengan sumber energi tak terbarukan. Namun,
sumber daya terbarukan selama ini belum dimanfaatkan secara optimal di
Indonesia.
Terkait dengan krisis energi bahan bakar yang akan dialami Indonesia sekitar 2030 tahun mendatang, maka untuk mengurangi ketergantungan terhadap
pemakaian minyak bumi, pengembangan bahan bakar nabati menjadi salah satu
alternatif solusi untuk mengatasi krisis energi di masa datang. Kebutuhan akan
minyak bumi di Indonesia mencapai 1.300.000 barel/hari, sementara cadangan
yang dimiliki hanya sebesar 900.000 barel/hari. Jadi, setiap harinya perlu
tambahan sekitar 400.000 barel untuk pemenuhan kebutuhan minyak bumi.
Pengembangan energi alternatif, bisa meminimalisir kemungkinan terjadinya
krisis energi di masa datang. Sejalan dengan permasalahan tersebut,
pemerintah melalui Peraturan Presiden No.5 Tahun 2006 telah mengeluarkan
kebijakan energi nasional. Kebijakan ini bertujuan untuk mewujudkan
terjaminnya pasokan energi dalam negeri. Kebijakan utama meliputi penyediaan
energi yang optimal, pemanfaatan energi yang efisien, penetapan harga energi
ke arah harga keekonomian dan pelestarian lingkungan. Kebijakan utama
tersebut didukung dengan pengembangan infrastruktur, kemitraan dunia usaha,
pemberdayaan masyarakat dan pengembangan penelitian. Kebijakan energi
nasional ini juga memuat upaya untuk melakukan diversifikasi dalam
pemanfaatan
energi.
Usaha
diversifikasi
ini
ditindaklanjuti
dengan
dikeluarkannya Instruksi Presiden No.1 Tahun 2006 tentang penyediaan dan
pemanfaatan bahan bakar nabati (biofuel) sebagai bahan bakar lain (Sugiono,
2005). Pengembangan dalam pemanfaatan biofuel menjadi lebih menarik
dengan semakin meningkatnya harga minyak mentah dunia yang mencapai

41

Bahan Bakar Bensin

US$70 per barel pada akhir tahun 2005. Berdasarkan road map biofuel pada
Blueprint Pengelolaan Energi Nasional, Indonesia ditargetkan mampu
mensubstitusi minyak solar dengan biodiesel sebanyak 2% pada tahun 2010, 3%
tahun 2015 dan 5% tahun 2025 serta mensubstitusi bensin dengan bioethanol
(gasohol) sebanyak 2% pada tahun 2010, 3% tahun 2015 dan 5% tahun 2025
(DESDM (2005) Blueprint Pengelolan Energi Nasional 2005-2025, Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral). Penggunaan energi final dapat dilihat pada
Gambar dibawah ini.

Gambar 18. Perkiraan penggunaan energy final di sector transportasi perjenis


energy di Indonesia
Banyak ilmuwan mulai meneliti untuk mencari jenis energi baru yang murah,
mudah dan ramah lingkungan untuk menggantikan sumber energi yang tersedia
sekarang, yaitu dengan penggunaan minyak nabati sebagai bahan bakar karena
pemakaian minyak nabati sebagai bahan bakar dapat mengurangi polusi
lingkungan sedangkan penggunaan bahan bakar minyak bumi, baik dari
penggunaan berupa alat transportasi maupun dari penggunaan oleh industri
sangat mencemari lingkungan disebabkan tingkat polusi yang ditimbulkan
sangat tinggi. Diantara minyak nabati yang berpotensi digunakan sebagai bahan
alternatif adalah minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO). Tanaman
kelapa sawit merupakan salah satu sumber minyak nabati yang saat ini menjadi
komoditas pertanian utama dan unggulan di Indonesia, sebagai sumber
pendapatan bagi jutaan keluarga petani, sebagai sumber devisa negara,
penyedia lapangan kerja, sebagai pemicu dan pemacu pertumbuhan sentrasentra ekonomi baru dan sebagai pendorong berkembangnya industri hilir
berbasis minyak sawit (CPO) di Indonesia.
Minyak sawit dianggap lebih ekonomis karena setiap hektar kebun kelapa sawit
mampu menghasilkan 5 ton minyak sawit/tahun atau setara tiga kali jumlah
produksi dari tanaman jarak untuk luas lahan dan jangka waktu yang sama dan
untuk menghasilkan 1 liter bahan bakar dibutuhkan sekitar 1 kg CPO. Secara
ekonomi pengembangan biofuel dari minyak sawit akan mengontrol permintaan

Bahan Bakar Bensin

42

dan suplay produk perkebunan. Jika kelebihan untuk kebutuhan pangan,


disamping di ekspor dapat dipakai untuk bahan bakar, sehingga dapat
mengontrol harga CPO.
Produksi CPO Indonesia tahun 2009 lebih dari 18 juta ton, konsumsi domestik
untuk pangan kurang lebih 5 juta ton sedangkan konsumsi domestik untuk
biodiesel kurang lebih 2-3 juta ton. Sehingga pengembangan biofuel di Indonesia
tidak akan menggangu ketahanan pangan ( Direktur Jenderal Minyak Dan Gas
Bumi, 2009). Dengan ketersediaan minyak sawit yang cukup banyak, maka
minyak sawit merupakan salah satu bahan baku alternatif yang sangat potensial
untuk membuat bahan bakar pengganti gasoline, kerosene dan diesel. Harga
CPO dunia terus merangkak naik ini tidak terlepas dari adanya program konversi
energi yang tengah gencar dilakukan diseluruh belahan dunia. Hal tersebut
dilakukan dalam upaya mengurangi ketergantungan akan minyak dunia yang
semakin terbatas persediaannya. Kenaikan harga CPO dunia tersebut berimbas
pada kenaikan CPO di pasar domestik, dimana harga CPO sempat mencapai Rp.
7626 per kilogram, lebih tinggi dari kisaran normal yang berkisar Rp. 6500 per
kilogram. Tren dunia yang beralih ke bahan bakar nabati (BBN) menjadikan bisnis
biofuel menjadi salah satu bisnis yang banyak diminati oleh para investor. CPO
merupakan salah satu bahan baku biofuel termurah dibandingkan dengan
minyak nabati lainnya, disamping karena energi alternatif ini ramah terhadap
lingkungan (Harian bisnis Indonesia: Arvie,2007).
Bensin (gasoline), bahan bakar solar (diesel) dan minyak tanah (kerosene)
adalah bahan bakar yang dihasilkan dari minyak mentah dengan proses distilasi
langsung ataupun dari hasil perengkahan, alkilasi dan isomerisasi. Peranan
gasoline dan diesel sebagai bahan bakar kendaraan bermotor tidak dapat lepas
dari kehidupan masyarakat saat ini. Karena peningkatan mobilitas masyarakat
menyebabkan konsumsi bahan bakar di Indonesia menjadi sangat tinggi yang
tidak diimbangi dengan kemampuan penyediaannya. Berbagai proses telah
dilakukan untuk menghasilkan biofuel diantaranya proses esterifikasi namum
kelemahan proses ini adalah pada pemisahan biofuel dan gliserol. Proses
transesterifikasi, minyak nabati yang digunakan kandungan asam lemak
bebasnya harus rendah, jika kandungan asam lemak bebasnya tinggi, butuh
katalis dalam jumlah yang besar yang dapat menyebabkan terbentuknya sabun
sehingga menyulitkan dalam proses pemisahan.
Proses perengkahan non katalis (thermal cracking) berlangsung pada temperatur
dan tekanan yang tinggi sehingga membutuhkan energi yang besar. Saat ini
mulai dikembangkan penelitian tentang pembuatan biofuel dari minyak nabati
dengan proses perengkahan berkatalis, proses ini dapat memecah hidrokarbon
kompleks menjadi molekul yang lebih sederhana, meningkatkan kualitas dan
kuantitas produk, berlangsung pada temperatur dan tekanan yang rendah
dengan adanya katalis. Pada beberapa penelitian proses perengkahan minyak
nabati dengan berbagai macam katalis menghasilkan berbagai jenis biofuel yang

43

Bahan Bakar Bensin

komposisinya dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya waktu reaksi,


temperatur reaksi, laju alir umpan, dan jenis katalis. (Adjaye et al, 1996, Twaiq et
al, 2003, Charusiri and Vitidsant , 2005)
Berbagai jenis katalis telah digunakan dalam proses perengkahan untuk
menghasilkan biofuel diantaranya adalah katalis X, Y dan faujasite. Kataliskatalis ini merupakan katalis perengkahan yang awalnya digunakan pada proses
perengkahan minyak bumi, kemudian dikembangkan lebih lanjut pada proses
perengkahan minyak nabati. Beberapa katalis yang juga digunakan pada proses
perengkahan yaitu HZSM-5, Zeolit dan ultrastabil Y (USY). Dari ketiga jenis
katalis ini ternyata HZSM-5 yang menghasilkan konversi dan yield produk yang
terbesar, sebagaimana yang telah diteliti oleh Twaiq dkk (1999), konversi
katalitik minyak sawit menjadi berbagai jenis hidrokarbon dimana pada
temperatur 350o C laju umpan 1h-1 dengan katalis HZSM-5, konversi yang
dihasilkan 99% yield gasoline 28,3% dan pada kondisi yang sama untuk katalis
zeolit konversinya 82% yield gasoline 22%, katalis USY konversi yang diperoleh
53% dan yield gasoline 7,3%.
Menurut Sang dkk (2004), konversi katalitik minyak sawit berdasar pada residu
campuran asam lemak dengan katalis HZSM-5 menggunakan reaktor fixedbed
pada tekanan atmosfir. Hasil yang diperoleh fraksi gasoline 44,4% berat pada
laju umpan 3,66 lh-1 dan temperatur reaksi 440o C. Menurut Subagjo (1991)
zeolit ZSM-5 mempunyai sifat unik yaitu mempunyai ukuran pori 0,54 x 0,57 nm
( ukuran molekul hidrokarbon C11), berstruktur dimensi tiga, bersifat organofil.
Kombinasi ketiga sifat diatas menyebabkan ZSM-5 bersifat selektif terhadap
pembentukan hidrokarbon C11, mempunyai umur katalis yang panjang serta
tahan terhadap perlakuan panas dan asam. Kebutuhan katalis perengkahan di
Indonesia sangat besar dan selama ini dipenuhi dengan mengimpor dari negara
lain. Indonesia memiliki bahan baku pembuatan katalis dalam jumlah yang besar
sehingga Indonesia sebaiknya memulai pengembangan katalis perengkahan.
Penelitian dengan bahan baku minyak nabati khususnya minyak kelapa sawit ini
dapat digunakan sebagai model yang nantinya bisa dikembangkan
menggunakan minyak nabati jenis lain misalnya minyak jagung, minyak bunga
matahari, minyak kanola dan minyak jarak yang saat ini sudah dibudidayakan.

12. Prospek Penggunaan Bensin yang akan datang


Untuk negara pengimpor minyak bumi, pengembangan dan penggunaan bioenergi dapat mengurangi ketergantungan pada sumber energi berbasis minyak
bumi. Sedangkan bagi negara penghasil minyak bumi, pengembangan teknologi
bio-energi dapat menghemat penggunaan minyak dan menjadi energi alternatif
selain minyak bumi. Bio-energi lebih tersebar dan terdistribusi merata di seluruh
muka bumi dibanding dengan sumber minyak bumi. Oleh karena itu dapat

Bahan Bakar Bensin

44

merupakan peluang besar bagi pengembangan ekonomi lokal, regional, maupun


nasional. Dipandang dari perencanaan ke depan pengembangan bio-energi atau
energi terbarukan merupakan suatu peluang untuk program kecukupan energi.
Memproduksi bio-masa dan menggunakan serta mengembangkan limbah biomasa untuk keperluan teknologi bio-energi akan memberikan stimulasi pada
pembangunan dan pertumbuhan ekonomi pedesaan. Antara lain hal tersebut
dapat mendorong efisiensi usaha tani, pengelolaan hutan, industri jasa di
pedesaan, pemasaran, pengembangan produk baru dan kesempatan kerja. Oleh
karena itu, inovasi teknologi seyogyanya diarahkan kepada penggunaan lebih
banyak sumber daya lokal, dan sumber daya energi yang dapat diperbaharui
dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Kebijakan untuk pengembangan
energi terbarukan harus berpihak kepada kepentingan masyarakat dan
kesejahteraan pengguna.

12.1 Pentingnya Energi Terbarukan

Pada saat ini usaha pertanian yang semakin intensif memerlukan masukan baik
berasal dari energy fossil (minyak bumi) yang tidak dapat diperbarui maupun
energi yang dapat diperbarui. Produk-produk seperti pupuk, obat, alat mesin
pertanian hampir semuanya diproduksi dengan input energi minyak bumi.
Prosesing hasil pertanian dalam pengeringan, pengolahan, pendinginan/
pembekuan, semuanya bergerak dengan sumber energi fossil atau minyak bumi.
Isu penting tentang energi yang perlu dihadapi terbagi dalam tiga hal : yaitu (a)
bagaimana mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak sebagai
sumber utama energi pertanian (b) bagaimana mengembangkan sistem usaha
tani yang semakin berorientasi pada organic Farming dan (c) bagaimana
mendorong penelitian teknologi yang mengarah pada pengembangan
seluasluasnya bio-energi atau energi yang dapat diperbaharui. Kendala dalam
menghadapi dan menjawab isu-isu tersebut antara lain adalah :
a) Sebagian bahan pertanian diproses untuk pangan dan hasil-hasil utama yang
lain, karena itu ada kompetisi antara memproduksi pangan dan
memproduksi bio-energi. Pada saat ini konsentrasi pengolahan bahan
pertanian masih pada produk utama, sedangkan hasil samping (by product),
belum banyak tersentuh untuk proses yang dapat menghasilkan bio-energi.
Salah satu penyebabnya adalah karena tuntutan pengadaan pangan lebih
utama dan lebih strategis.
b) Sumber Daya Manusia, terutama di tingkat pedesaan masih berkonsentrasi
pada kepentingan produksi dan belum banyak yang menyentuh pada proses
pasca produksi atau industrialisasi hasil pertanian.
Alasan yang perlu dikemukakan mengapa energi terbarukan menjadi sangat
penting adalah karena :
a) Aspek Eksternal; adanya tekanan-tekanan global yang berkaitan dengan
lingkungan.

Bahan Bakar Bensin

45

b) Aspek Internal: kenyataan bahwa bahan bakar fossil yang semakin sedikit,
sementara sumber enegri terbarukan yang melimpah, dan perlunya
pembangunan berkelanjutan (Panggabean, 2001)
Aspek Eksternal
Lebih jauh Panggabean ( 2001) menyebutkan diantara lima gas yang diproduksi
dari proses polusi efek rumah kaca, CO2 dan CH4 adalah yang paling dominan.
Gas CO2 dihasilkan oleh proses pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak
bumi, gas alam dan batubara, sedangkan CH4 dihasilkan oleh kegiatan
pertanian. Polusi CO2 yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil itu
sebagian besar (50% - 60%) dihasilkan oleh pembangkit listrik. Seluruh dunia
sedang berusaha untuk mencegah pemanasan global ini dengan cara yang
sesuai bagi negaranya, antara lain dengan mengganti proses produksi listrik
dengan menggunakan pembangkit-pembangkit yang tidak mengeluarkan CO2
atau yang mengeluarkan gas CO2 lebih kecil dibandingkan dengan yang ada
sekarang. Indonesia mempunyai peluang untuk berpartisipasi melalui
penggantian cara produksi listrik dengan memanfaatkan sumber Energi
Terbarukan skala kecil (mini-hydro dan micro-hydro), energi surya, energi
biomasa (limbah pertanian/perkebunan) dan energi angin untuk skala kecil (< 10
MW), dan juga energi panas bumi untuk skala yang lebih besar.
Aspek Internal
Penggunaan energi listrik di Indonesia pada saat ini didasarkan pada minyak
bumi, gas alam, batubara, energi hidro dan panas bumi, masing-masing 9
dengan kapasitas (dalam MW): 6389, 8170, 4790, 3024 dan 770. Namun
demikian dengan keterbatasan kemampuan pelayanan dan jangkauan distribusi,
hampir kurang lebih 26 juta rumah tangga (43.2%) di Indonesia belum
menikmati listrik, yang sebagian besar berada di pedesaan (PRESSEA, 2002,
Panggabean 2001). Krisis ekonomi telah membawa dampak mahalnya energi
listrik bagi sebagaian besar masyarakat karena subsidi mulai dikurangi bahkan
dihapus. Oleh karena itu, pemikiran kearah penggalian sumber sumber energi
baru dan energi terbarukan (renewable energy), menjadi agenda riset yang
semakin penting, baik karena masalah eksternal maupun internal. Manfaat dan
dampak pengembangannya akan menjadi sangat nyata bagi pemulihan ekonomi
jangka panjang yang memerlukan investasi kebijakan dan infrastruktur
memadai.

12.2 Alternatif Energi Untuk Indonesia


a) Solar Energi
Indonesia memiliki keuntungan cukup besar karena berada di sekitar
garis equator, dimana setiap waktu menerima sinar matahari yang
cukup dengan perbedaan rata rata suhu udara yang tidak terlalu besar
antar wilayah. Namun demikian cuaca actual bervariasi dari satu tempat

Bahan Bakar Bensin

46

ke tempat lain. Rata rata tingkat insolasi adalah 4.5 kw/m2/hari di bagian
Timur Indonesia. Namun sayangnya, sampai saat ini belum terdapat peta
radiasi sinar matahari yang akan menjadi dasar bagi pengembangan
teknologi energi.
Berbeda dengan Thailand dengan situasi yang hampir mirip dengan
Indonesia, negara ini telah memiliki peta radiasi sinar matahari dengan
menggunakan citra satelit yang dikumpulkan selama 6 tahun (19931998), dan data dikumpulkan melalui satelit bumi ( Pressea, 2003). Data
tersebut digunakan untuk mengembangkan model fisik guna
memperkirakan rata-rata radiasi sinar matahari pada setiap inteval
waktu dan lokasi di seluruh wilayah Thailand.. Informasi seperti ini
seharusnya dimiliki oleh Indonesia untuk mengembangkan hal yang
sama sesuai dengan kondisi wilayah yang diinginkan.
b) Bio Energi
Istilah Bio-energi sangat erat dengan Bio-masa, yang intinya adalah
merupakan konversi bio-masa kepada panas, cair, atau bahan bakar gas.
Bioenergi
dipertimbangkan
sebagai
alternatif
tersedia
untuk
mengantisipasi kekurangan pasokan bahan bakar minyak. Bio-masa
tersebut dapat berbentuk sebagai bahan tanaman dan pepohonan,
bahan pangan dan pakan, sisa atau limbah tanaman dan hewan, kayu
dan limbahnya, tanaman aquatic, limbah kota dan bahan limbah lainnya.
(EREN, 2001). Semua aspek yang berkaitan dengan teknologi
penanganan, pengumpulan, penyimpanan dan prasarana adalah aspek
penting dari rantai sumber bio-masa. Beberapa bentuk pengembangan
atau penggunaan energi bio-masa adalah sebagai berikut :
BioGas
Biogas diproduksi dari limbah, manusia, hewan atau bahan pertanian
lain (sekam) yang dapat berupa bahan bakar yang bersih. Jika
dikembangkan secara terencana dan terpadu (contoh Crop Livestock
System) dapat memberikan kontribusi yang baik.
Briket Arang
Pengembangan Briket Arang dari kayu, tempurung kelapa, sisa
bahan kelapa sawit, sekam dan limbah dan hasil pertanian lainnya,
merupakan sumber energi yang dapat diperbaharui, termasuk dalam
hal ini adalah pengembangan pengering berbahan bakar sekam (rice
husk stove), dan charcoal yang memiliki potensi komersial yang
tinggi.
Biofuels
Bahan bakar dengan basis sumber biomasa sangat dimungkinkan
seperti contoh adalah : ethanol, methanol, bio-diesel, bahan gas
seperti hydrogen dan methane. Sebagai negara penghasil produk
pertanian dan sumber daya lahan yang masih cukup potensial,
peluang tersebut dapat diusahakan.
c) Energi Air dan Angin

Bahan Bakar Bensin

47

Angin dan air juga dapat dipakai sebagai energi alternatif dengan
mengkonversikannya menjadi energi listrik atau energi mekanik. Kincir
air dapat ditemui di beberapa tempat di Sumatera Barat sebagai sumber
penggerak penggilingan padi, atau untuk keperluan irigasi. Namun
manajemen lingkungan dan perubahan teknologi telah menggeser
kedudukan teknologi indigenous ini dengan teknologi ber bahan bakar
minyak. Suatu tekanan lingkungan menyebabkan berubahnya
kemampuan untuk menyediakan energi secara alami yang bebas polusi
dan investasi pemeliharaan sehingga memutus rantai keberlanjutan di
tingkat pedesaaan.

13. Ketersediaan Bensin


Pada pertengahan abad ke-19, penggunaan sumber daya energy berkembang
pesat. Dengan bertambah makmurnya kehidupan umat manusia, menunjukkan
bertambah banyaknya jumlah energy sampai dengan 40 tahun yang lalu, energy
yang dapat digunakan untuk 100 tahun, sekarang hanya cukup untuk memenuhi
15 tahun saja. Sudah tentu pemakai terbesar dari sumber daya energy ini adalah
Negara-negara maju. Negara-negara maju yang perpenduduk dari jumlah
penduduk dunia mempergunakan dari jumlah energy yang ada. Sebagai
contoh, jumlah energy yang dipergunakan oleh satu orang warga Negara jepang
adalah 5 kali dari satu orang warga cina. Namun sekarang tidak dapat dipungkiri
bahwa penggunaan energy oleh Negara-negara berkembang pun bertambah.
Energy yang selama ini dipergunakan umumnya berasal dari minyak bumi, batu
bara dan gas bumi. Semuanya ini berasal dari bahan bakar fosil, yang dimana
kondisinya telah mencapai batas, diantaranya adalah :
1. Batas Persediaan
Hampir 85 % dari energy yang kita pergunakan adalah berasal dari bahan
bakar fossil. Bahan bakar fossil yang berasal dari fossil makhluk hidup
beberapa juta tahun yang lalu ini, akan dipergunakan habis hanya dalam
kurun waktu 200 300 tahun saja. Kalau energy dipergunakan seperti
kondisi sekarang ini, maka persediaan bahan bakar fossil yang ada sekarang
yaitu minyak bumi tinggal 40 tahun, gas bumi 63 tahun, dan batubara 231
tahun lagi.
2. Batas Masalah Lingkungan
Dalam penggunaannya bahan bakar fossil memiliki salah satu batas lagi,
yaitu pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh material berbahaya
yang dikeluarkan seperti NOx dan SOx, yang dapat mengakibatkan hujan
asam dan pencemaran lainnya. Dan juga CO2 hasil pembakaran , yang
mengakibatkan tingginya kenaikan suhu permukaan bumi. Untuk mengatasi
kondisi yang ada, sekaligus untuk memenuhi kebutuhan energy di masa
yang akan datang, eksistensi dari penemuan/pemakaian energy baru sangat
diharapkan.

Bahan Bakar Bensin

48

Berbalik dengan ketersediaan minyak bumi yang mulai menipis di muka bumi
karena explorasi yang dilakukan secara tak terkendali. Namun tidak dapat
dipungkiri juga bahwasanya minyak bumi merupakan kebutuhan yang sangat
penting bagi kehidupan manusia bahkan sector industry, dan sangat penting
juga untuk menjaga peradaban manusia di jaman industrialisasi ini, sehingga
minyak bumi ini menjadi perhatian serius bagi banyak pemerintah di berbagai
Negara. Saat ini minyak bumi masih menjadi sumber energy terbesar di banyak
kawasan di dunia, dengan persentase bervariasi mulai dari yang terendah.
Minyak Bumi sebagian besar digunakan untuk memproduksi bensin dan minyak
bakar, keduanya merupakan sumber "energi primer" utama. 84% dari volume
hidrokarbon yang terkandung dalam minyak Bumi diubah menjadi bahan bakar,
yang di dalamnya termasuk dengan bensin, diesel, bahan bakar jet, dan elpiji.
Minyak Bumi yang tingkatannya lebih ringan akan menghasilkan minyak dengan
kualitas terbaik, tapi karena cadangan minyak ringan dan menengah semakin
hari semakin sedikit, maka tempat-tempat pengolahan minyak sekarang ini
semakin meningkatkan pemrosesan minyak berat dan bitumen, diikuti dengan
metode yang makin kompleks dan mahal untuk memproduksi minyak. Karena
minyak Bumi tyang tingkatannya berat mengandung karbon terlalu banyak dan
hidrogen terlalu sedikit, maka proses yang biasanya dipakai adalah mengurangi
karbon atau menambahkan hidrogen ke dalam molekulnya. Untuk mengubah
molekul yang panjang dan kompleks menjadi molekul yang lebih kecil dan
sederhana, digunakan proses fluid catalytic cracking. Karena mempunyai
kepadatan energi yang tinggi, pengangkutan yang mudah, dan cadangan yang
banyak, minyak Bumi telah menjadi sumber energi paling utama di dunia sejak
pertengahan tahun 1950-an. Minyak Bumi juga digunakan sebagai bahan
mentah dari banyak produk-produk kimia, farmasi, pelarut, pupuk, pestisida, dan
plastik; dan sisa 16% lainnya yang tidak digunakan untuk produksi energi diubah
menjadi material lainnya.
Cadangan minyak yang diketahui saat ini berkisar 190 km3 (1,2 triliun barrel)
tanpa pasir minyak, atau 595 km3 (3,74 triliun barrel) jika pasir minyak ikut
dihitung. Konsumsi minyak Bumi saat ini berkisar 84 juta barrel (13,4106 m3)
per harinya, atau 4.9 km3 per tahunnya. Dengan cadangan minyak yang ada
sekarang, minyak Bumi masih bisa dipakai sampai 120 tahun lagi, jika konsumsi
dunia diasumsikan tidak bertambah.
Kebutuhan global akan minyak pada tahun 2008 yang lalu telah mencapai
sekitar 87,1 juta barel per hari. Angka ini meningkat cukup drastis dan
merupakan rekor tertinggi dalam kurun waktu hampirsatu dekade ini. Padahal,
pada tahun 2000, kebutuhan minyak dunia hanya sebesar 75,4 juta per barel per
hari. Artinya, hanya kurun waktu delapan tahun terjadi peningkatan sebesar 11,7
juta barel atau tumbuh rata-rata 1,93%.

49

Bahan Bakar Bensin

Bahkan ketika harga minyak dunia melesat ke rekor tertinggi pada tahun 2008
yang lalu, 147 dolar/barel, konsumsi minyak dunia menunjukkan peningkatan
sebesar 1,6 juta barel dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan
bahwa minyak dunia masih kokoh menempati urutan teratas dalam daftar
penyedia (supplier) kebutuhan energi di dunia. Minyak bumi masih tak
tergantikan oleh sumber energi lainnya kendati pun saat ini telah muncul
beberapa energi terbarukan (renewable energy) seperti biofuel, nuklir, panas
bumi (geothermal), biomass, dan sebagainya.
Menurut data terbaru dari IFR Report, Economist 2008, dalam rentang tahun
2005 2030 diperkirakan kebutuhan minyak akan tumbuh sebesar 1,4% per
tahun. Sebenarnya, prediksi angka pertumbuhan ini jika dibandingkan dengan
angka pertumbuhan sumber energi lainnya seperti gas, masih lebih rendah.
Akan tetapi, dalam proporsi penggunaan minyak sebagai energi di dunia, masih
jauh lebih besar dibandingkan dengan sumber energi lainnya.
Pada tahun 2005, minyak memegang kendali sebesar 39,2% dari total
kebutuhan energi di dunia. Proporsi ini jauh di atas gas (23,0%), bahan padat
(27,6%), bahkan energi terbarukan (10,2%) sekalipun. Dua dekade mendatang,
lebih tepatnya pada tahun 2030, diperkirakan proporsi minyak sebagai sumber
energi akan mengalami penurunan menjadi sekitar 36,5% dari total kebutuhan
energi di dunia. Sedangkan proporsi gas naik menjadi 27,4%, bahan padat turun
menjadi 26,8%, dan energi terbarukan justru diperkirakan turun ke angka 9,2%.
Hal ini menggambarkan situasi bahwa sampai dengan tahun 2030, minyak
masih menjadi primadona sumber energi.
World Economic Review 2007, Prior Statistics 2008 melaporkan bahwa sektor
transportasi dan industri menjadi penyumbang terbesar untuk kebutuhan
minyak dunia dengan pertumbuhan rata-rata 1,2% per tahunnya sampai dengan
tahun 2030. Dan yang perlu dijadikan catatan adalah negara-negara di kawasan
Asia-Pasifik dan Asia Selatan memberikan porsi terbesar yaitu 58% dari total
peningkatan kebutuhan minyak dunia. Hal ini mengingat di kawasan tersebut
terdapat negara-negara berkembang dengan populasi penduduk yang sangat
besar seperti Indonesia, India, Vietnam, serta negara maju seperti China yang
konsumsi minyaknya menempati urutan ketiga di dunia.
Populasi penduduk yang besar dan masalah transportasi massal yang belum
memadai di beberapa negara berkembang tersebut menyebabkan jumlah
kendaraan pribadi berbahan bakar minyak terus meningkat setiap tahunnya.
Pada akhirnya menyebabkan konsumsi minyak dunia juga mengalami
peningkatan.
Lalu, bagaimana dengan jumlah cadangan minyak dunia saat ini? Berdasarkan
World Energy Report, OPEC Report 2008, cadangan minyak mentah terbukti di
dunia (world proven crude oil) berada pada posisi 1.195.318 juta barel, dimana
sebagian besar berada di negara-negara yang tergabung dalam OPEC. Cadangan

Bahan Bakar Bensin

50

negara-negara tersebut mencapai 927.146 juta barel atau sekitar 77,6% dari
total cadangan minyak mentah terbukti di dunia. Arab Saudi merupakan negara
yang mempunyai cadangan minyak bumi (oil reservoir) terbesar yaitu 264,3
miliar barel. Berbeda jauh dengan Indonesia (ketika laporan tersebut dibuat,
Indonesia masih merupakan anggota OPEC) yang berada di posisi kedua
terbawah dari 25 negara yang tercatat memiliki cadangan minyak bumi, dengan
kandungan minyak bumi sebesar 4,4 miliar barel. Berikut adalah grafik yang
menunjukkan besarnya konsumsi minyak dunia

Gambar 19. Konsumsi Minyak Bumi per tahun dunia


Berdasarkan data yang tersedia, jika kita menganalisa secara ekstremyaitu
dengan menganggap bahwa cadangan minyak bumi tidak akan bertambah
sampai dengan tahun 2030 dan pertumbuhan kebutuhan minyak rata-rata 1,4%
(anggapan perhitungan mulai tahun 2008) seperti laporan IFR Report, Economist
2008 di atas, maka ketika tahun 2030 telah tiba, cadangan minyak mentah
dunia akan terkuras sebesar 843,95 miliar barel (70,6%). Hanya tersisa 351,38
miliar barel (29,6%). Cukupkah untuk beberapa tahun setelahnya? Tak ada
seorang pun dari kita yang tahu.
Memang kondisi demikian kemungkinan kecil terjadi karena berbagai aktivitas
eksplorasi minyak (oil exploration) untuk menemukan sumur-sumur minyak baru
masih terus dilakukan oleh berbagai perusahaan minyak dunia lewat
penelitiannya. Namun, alangkah bijaknya kita sebagai pengguna minyak bumi
untuk memanfaatkan minyak sebagai sumber energi secara tepat dan efisien.
Keadaan ini bisa dilihat di negara jepang dengan kemajuan teknologi dan
pesatnya perkembangan perekonomian di Jepang telah mengakibatkan tingginya
peningkatan konsumsi energi pada tahun 19601970. Namun hal ini tidak
berlanjut lama, peristiwa Oil shock pada tahun 1973, telah membawa
beberapa perubahan, terutama kesadaran akan penghematan energi. Semenjak
tahun 1973 hingga sekarang (tahun 2000) penggunaan energi dalam bidang
industri dapat dikatakan stabil. Hal ini sangat bertolak belakang dengan
penggunaan energi oleh masyarakat dan transportasi. Pemakaian peralatan

51

Bahan Bakar Bensin

elektronik dan kendaraan bermotor telah mengakibatkan jumlah penggunaan


energi tahun 1997 dua kali lipat tahun 1973. Akibatnya, jumlah total
penggunaan energi di Jepang pada tahun 1997 adalah 1.4 kali tahun 1973.
Menurut data tahun 1993, kemampuan Jepang untuk menyediakan energi sendiri
hanya sekitar 18 % saja. Sebagian besar dari sumber energi Jepang, berasal dari
luar negeri. Terutama minyak bumi, bisa dikatakan seluruhnya adalah hasil
impor. Sekitar 80 % dari minyak buminya berasal dari timur tengah. Tingginya
ketergantungan Jepang akan luar negeri dan lemahnya persediaan energi dalam
negeri, menyebabkan kepentingan akan penghematan energi dan penyediaan
berbagai macam jenis energi, lebih banyak dibandingkan negara-negara lainnya.
Selain daripada itu sebagai konsumen pemakai minyak bumi masalah
pencemaran udara akibat dari gas NOx, SOx, begitu pula kenaikan suhu
permukaan bumi akibat dari CO2 telah mendorong Jepang untuk bersegera
dalam mencari pengganti minyak bumi sebagai sumber energinya.

14. Mesin Bensin


Motor atau mesin bensin atau sering disebut mesin otto adalah salah satu jenis
mesin pembakaran dalam yang menggunakan percikan bunga api listrik dari
busi untuk menciptakan penyalaan dan membakar bahan bakar di dalam ruang
bakar. sehingga mesin bensin juga dikenal dengan istilah mesin penyalaan cetus
api (spark ignition engine). Mesin ini dirancang dengan bahakan bakar bensin
(gasoline) atau yang sejenisnya. Pada mesin bensin, pada umumnya udara dan
bahan bakar dicampur sebelum masuk ke ruang bakar, sebagian kecil mesin
bensin modern mengaplikasikan injeksi bahan bakar langsung ke silinder ruang
bakar termasuk mesin bensin 2 tak untuk mendapatkan emisi gas buang yang
ramah lingkungan. Proses pencampuran udara dan bahan bakar dilakukan oleh
karburator atau sistem injeksi, keduanya mengalami perkembangan dari sistem
manual sampai dengan penambahan sensor-sensor elektronik. Sistem Injeksi
Bahan bakar di motor otto terjadi diluar silinder, tujuannya untuk mencampur
udara dengan bahan bakar seproporsional mungkin. Siklus kerja dari mesin
bensin dapat dilihat pada gambar

Bahan Bakar Bensin

52

Gambar 20. Siklus Motor Bensin


Siklus di atas terdiri dari 4 proses, yakni :
1) Proses pemasukan campuran bahan bakar-udara yang dilanjutkan dengan
langkah kompresi (1 2)
2) Pada akhir langkah kompresi campuran bahan bakar-udara di dalam ruang
bakar (silinder) terjadi proses pembakaran pada volume konstan. Pada
proses pembakaran ini sejumlah kalor akan dihasilkan dan dapat digunakan
untuk proses berikutnya (2 3).
3) Proses ekspansi atau langkah tenaga (kerja). Dalan proses ini, gas panas
hasil pembakaran akan mendorong piston melakukan ekspansi dan
menghasilkan tenaga atau kerja (3 4).
4) Langkah pembuangan gas hasil pembakaran keluar dari ruang bakar
(silinder) atau langkah buang (4 1).
Keempat proses di atas akan terjadi secara berulang-ulang hingga membentuk
siklus motor bensin atau siklus otto.
Pada mesin bensin di sebut juga dengan siklus volume konstan (Siklus
Otto),dimana pembakaran terjadi pada saat volume konstan. Dalam satu siklus
ini untuk menghasilkan tenaga gerak pada mesin bensin dilakukan beberapa
proses yang dimulai dari proses pengisapan gas ke dalam silinder,
mengkompresikan, membakarnya, kerja dan membuang gas sisa pembakaran ke
luar silinder. Di lihat dari prinsip kerjanya dalam melakukan satu siklus untuk
menghasilkan kerja dibagi menjadi dua jenis :
Mesin 4 langkah (four stroke engines).
Mesin 2 langkah (two stroke engines)
Untuk mesin 4 langkah terdapat 4 kali gerakan piston atau 2 kali putaran poros
engkol (crank shaft) untuk tiap siklus pembakaran, sedangkan untuk mesin 2
langkah terdapat 2 kali gerakan piston atau 1 kali putaran poros engkol untuk
tiap siklus pembakaran. Sementara yang dimaksud langkah adalah gerakan
piston dari TMA (Titik Mati Atas) atau TDC (Top Death Center) sampai TMB (Titik
Mati Bawah) atau BDC (Bottom Death Center) maupun sebaliknya dari TMB ke
TMA.
Mesin 4 langkah (four stroke engines).
Mesin 4 langkah mempunyai 4 gerakan piston yaitu :
1. Langkah hisap (suction stroke)

Bahan Bakar Bensin

53

Pada langkah ini bahan bakar yang telah bercampur dengan udara
dihisap oleh mesin. Pada langkah ini katup hisap (intake valve) membuka
sedang katup buang (exhaust valve) tertutup, sedangkan piston
bergerak menuju TMB sehingga tekanan dalam silinder lebih rendah dari
tekanan atmosfir. Dengan demikian maka campuran udara dan bahan
bakar akan terhisap ke dalam silinder.
2. Langkah Kompresi (compression stroke)
Pada langkah ini kedua katup baik intake maupun exhaust tertutup dan
piston bergerak dari TMB ke TMA. Karena itulah maka campuran udara
dan bahan bakar akan terkompresi, sehingga tekanan dan suhunya akan
meningkat. Beberapa saat sebelum piston mencapai TMA terjadi proses
penyalaan campuran udara dan bahan bakar yang telah terkompresi
oleh busi (spark plug). Pada proses pembakaran ini terjadi perubahan
energi dari energi kimia menjadi energi panas dan gerak.
3. Langkah Ekspansi (expansion stroke)
Karena terjadi perubahan energi dari energi kimia menjadi energi gerak
dan panas menimbulkan langkah ekspansi yang menyebabkan piston
bergerak dari TMA ke TMB. Gerakan piston ini akan mengakibatkan
berputarnya poros engkol sehingga menghasilkan tenaga. Pada saat
langkah ini kedua katup dalam kondisi tertutup.
4. Langkah Buang (exhaust stroke)
Pada langkah ini piston bergerak dari TMB ke TMA, sedangkan katup
buang terbuka dan katup isap tertutup, sehingga gas sisa pembakaran
akan terdorong keluar melalui saluran buang (exhaust manifold) menuju
udara luar.

Gambar 21. Siklus Motor Bakar 4 Langkah

Bahan Bakar Bensin

14.1 Siklus Aktual Motor Bensin

54

Siklus udara volume konstan atau siklus otto adalah proses yang ideal. Dalam
kenyataannya baik siklus volume konstan, siklus tekanan konstan dan 11 siklus
gabungan tidak mungkin dilaksanakan, karena adanya beberapa hal sebagai
berikut:
1. Fluida kerja bukanlah udara yang bisa dianggap sebagai gas ideal, karena
fluida kerja di sini adalah campuran bahan bakar (premium) dan udara,
sehingga tentu saja sifatnya pun berbeda dengan sifat gas ideal.
2. Kebocoran fluida kerja pada katup (valve), baik katup masuk maupun katup
buang, juga kebocoran pada piston dan dinding silinder, yang menyebabkan
tidak optimalnya proses.
3. Baik katup masuk maupun katup buang tidak dibuka dan ditutup tepat pada
saat piston berada pada posisi TMA dan atau TMB, karena pertimbangan
dinamika mekanisme katup dan kelembaman fluida kerja. Kerugian ini dapat
diperkecil bila saat pembukaan dan penutupan katup disesuaikan dengan
besarnya beban dan kecepatan torak.
4. Pada motor bakar torak yang sebenarnya, saat torak berada di TMA tidak
terdapat proses pemasukan kalor seperti pada siklus udara. Kenaikan
tekanan dan temperatur fluida kerja disebabkan oleh proses pembakaran
campuran udara dan bahan bakar dalam silinder.
5. Proses pembakaran memerlukan waktu untuk perambatan nyala apinya,
akibatnya proses pembakaran berlangsung pada kondisi volume ruang yang
berubah-ubah sesuai gerakan piston. Dengan demikian proses pembakaran
harus dimulai beberapa derajat sudut engkol sebelum torak mencapai TMA
dan berakhir beberapa derajat sudut engkol sesudah TMA menuju TMB. Jadi
proses pembakaran tidak dapat berlangsung pada volume atau tekanan
yang konstan.
6. Terdapat kerugian akibat perpindahan kalor dari fluida kerja ke fluida
pendingin, misalnya oli, terutama saat proses kompresi, ekspansi dan waktu
gas buang meninggalkan silinder. Perpindahan kalor tersebut terjadi karena
ada perbedaan temperatur antara fluida kerja dan fluida pendingin.
7. Adanya kerugian energi akibat adanya gesekan antara fluida kerja dengan
dinding silinder dan mesin
8. Terdapat kerugian energi kalor yang dibawa oleh gas buang dari dalam
silinder ke atmosfer sekitarnya. Energi tersebut tidak dapat dimanfaatkan
untuk kerja mekanik.

15. Kesimpulan

Bahan Bakar Bensin

55

Bahan bakar bensin adalah senyawa hidrokarbon yang kandungan


oktana atau isooktananya tinggi. Dalam pengertian ini bahan bakar
bensin dibandingkan dengan campuran isooktana atau 2,3,4
trimetilpentana dengan heptana. Isooktana dianggap sebagai bahan
bakar paling baik karena hanya pada kompresi tinggi saja isooktana
memberikan bunyi ketukan (detonasi) pada mesin.
Mogas atau bensin adalah cairan yang mudah disimpan, dipindahkan
dan alirannya mudah dikontrol, selain itu juga bensin mempunyai sifat
mudah menguap, mudah menyala dan terbakar. Di dalam pemakaiannya
dalam motor pembakar, bensin cair ini terlebih dahulu harus diubah
bentuk menjadi uap atau kabut agar mudah terbakar.

Pada gambar kurva temperatur-penguapan, bensin diklasifikasikan


menjadi 57-81-1030C dan juga menggambarkan presentase penguapan
yang terjadi.

Konsumsi BBM oleh sektor industri senantiasa mengalami kenaikan.


Peningkatan terbesar terutama terjadi pada jenis minyak solar. minyak
bakar dan minyak tanah. Namun memasuki tahun 1998 konsumsi BBM
sektor industri mengalami penurunan sebesar 4.3%. Hal ini berlanjut

Bahan Bakar Bensin

56

hingga tahun 1999 dimana konsumsinya turun sebesar 6.2%. Terjadinya


penurunan ini merupakan efek dari krisis ekonomi yang mulai melanda
pada pertengahan tahun 1997.

Sejak awal pemerintahan Orde Baru hingga di era Reformasi sekarang ini,
perkembangan ekonomi Indonesia tampaknya selalu dipengaruhi oleh
gejolak harga bahan bakar minyak (BBM) dunia. Selama periode pertama,
fluktuasi harga minyak dunia berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.
Akan tetapi, pada periode kedua ini, gejolah kenaikan harga minyak tersebut
cenderung berpengaruh pada tingkat inflasi.

57

Bahan Bakar Bensin

Sejak tahun 1990an produksi minyak mentah Indonesia telah mengalami


tren penurunan yang berkelanjutan karena kurangnya eksplorasi dan
investasi di sektor ini. Di beberapa tahun terakhir sektor minyak dan gas
negara ini sebenarnya menghambat pertumbuhan PDB. Target-target
produksi minyak, ditetapkan oleh Pemerintah setiap awal tahun, tidak
tercapai untuk beberapa tahun berturut-turut karena kebanyakan produksi
minyak berasal dari ladang-ladang minyak yang sudah menua. Saat ini,
Indonesia memiliki kapasitas penyulingan minyak yang kira-kira sama
dengan satu dekade lalu, mengindikasikan bahwa ada keterbatasan
perkembangan dalam produksi minyak, yang menyebabkan kebutuhan saat
ini untuk mengimpor minyak demi memenuhi permintaan domestik.
Penurunan produksi minyak Indonesia dikombinasikan dengan permintaan
domestik yang meningkat mengubah Indonesia menjadi importir minyak dari
tahun 2004 sampai saat ini, menyebabkan Indonesia harus menghentikan
keanggotaan jangka panjangnya (1962-2008) di OPEC.

Motor atau mesin bensin atau sering disebut mesin otto adalah salah satu
jenis mesin pembakaran dalam yang menggunakan percikan bunga api
listrik dari busi untuk menciptakan penyalaan dan membakar bahan bakar di
dalam ruang bakar. sehingga mesin bensin juga dikenal dengan istilah mesin
penyalaan cetus api (spark ignition engine). Mesin ini dirancang dengan
bahakan bakar bensin (gasoline) atau yang sejenisnya.

Bahan Bakar Bensin

58

16. Daftar Pustaka


Allinger, Norman L. et.al. 1976. Organic Chemistry. Second edition. New
York:Worth Publishers Inc
Fessenden, Fessenden. 1992. Kimia Organik. (Terjemahan Aloysius Hadyana
Pudjaatmaka). Edisi ketiga. Jakarta:Penerbit Erlangga
Junisra,. Modul pelatihan Sistim Injeksi Bensin, Dept Automotif VEDC-Malang.
1987.
Cengel, Yunus A., dan Boles, Michael A., 1994, Thermodynamic: An Engineering
Approach, Mc. Graw-Hill Inc., United State of America.
Barnes, D. F. and Halpern, J., (2000) The Role of Energy Subsidies, Energy
Services for the Worlds Poor, pp.60-68.
Tjandranegara, A. Q. (20012). Gas Bumi Sebagai Substitusi Bahan Bakar
Minyak: Optimisasi Investasi Infrastruktur dan Analsisi Dampak Terhadap
Perekonomian Nasional. Ringkasan Disertasi. Univsersitas Indonesia
Hartono, T., 2011. Penelitian Pengaruh Penggunaan Bahan Bakar Premium,
Pertamax dan Pertamax Plus Terhadap Unjuk Kerja Motor Bakar Bensin,
MAKALAH SEMINAR TUGAS AKHIR, Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pryde LT (1973) Environmental Chemistry ; An Introduction.pp 155-164
World Health Organization (1977) Environmental Health Criteria No. 3, Lead.
Geneva.
World Health Organization (1979) Environmental Health Criteria No. 8, Sulfur
oxides and suspended particulate matter. Geneva