Anda di halaman 1dari 3

BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang
Kecacatan (disabilitas, invaliditas) akibat stroke sampai saat ini masih
merupakan masalah kesehatan yang utama baik di negara maju maupun di negara
berkembang. Karena disamping mengakibatkan angka kematian yang masih
tinggi. Stroke merupakan penyakit otak paling destruktif, yakni salah satu
penyebab dari gangguan berjalan. Stroke merupakan suatu kondisi dimana
keadaan darah membeku akibat tersumbat atau pembuluh darah arteri pecah
kemudian aliran darah masuk ke otak. Kurangnya oksigen dan glukosa yang
mengalir ke otak menyebabkan kematian sel-sel otak dan kerusakan otak, sering
mengakibatkan penurunan suara, gerakan, dan memori. Otak merupakan pusat
dari aktivitas tubuh kita; jika kerusakan itu terjadi pada bagian otak yang
bertanggung jawab terhadap kontrol gerak atau sensasi pada kaki, hal itu dapat
mempengaruhi kemampuan berjalan penderita stroke. (Kelompok Studi
Serebrovaskuler & Neuro Geriatri Perdossi, 1999).
Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun terjadi 500.000 penduduk terkena
serangan stroke, sekitar 2,5 % atau 125.000 orang meninggal, dan sisanya cacat
ringan maupun berat. Secara umum, dapat dikatakan angka kejadian stroke adalah
200 per 100.000 penduduk. Dalam satu tahun, di antara 100.000 penduduk, maka
200 orang akan menderita stroke. Kejadian stroke iskemik sekitar 80% dari
seluruh total kasus stroke, sedangkan kejadian stroke hemoragik hanya sekitar

20% dari seluruh total kasus stroke (Yayasan Stroke Indonesia, 2012). Pada
penelitian berskala cukup besar yang dilakukan oleh survey Asean Neurologic
Association (ASNA) di 28 rumah sakit di seluruh Indonesia, pada penderita stroke
akut yang dirawat di rumah sakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita
laki-laki lebih banyak dari perempuan dan profil usia dibawah 45 tahun cukup
banyak yaitu 11,8%, usia 45-64 tahun berjumlah 54,7% dan diatas usia 65 tahun
sebanyak 33,5% (Misbach, 2001).
Penderita stroke mengalami gangguan fungsi motoris, pada kondisi
yang berat, salah satu masalah neurologis yang disebabkan oleh kerusakan syaraf
pada otot yang terlibat dalam gerak flexi pada pergelangan kaki dan jari kaki
adalah drop foot. Drop foot

merupakan suatu ketidak-mampuan untuk

mengangkat kaki ketika berjalan baik karena kelemahan maupun kelumpuhan otot
dalam mengangkat kaki. Kaki terkulai akibat lesi nervus peronealis atau tibialis
yang menyebabkan kelumpuhan otot anterior tungkai bawah. Gangguan
neurologis ini menyebabkan jari kaki menunduk ke bawah dan menghalangi
gerakan berjalan normal telapak kaki, akibatnya telapak kaki tidak dapat diangkat
dan jalan menjadi diseret. . (David warner, 2002).
Pada penanganan drop foot, ortotik prostetik memeberikan pelayanan
dalam bentuk ortosis salah satunya adalah pemberian Ankle Foot Ortosis (AFO)
dengan desain yang paling tepat dalam kasus drop foot ringan yakni Posterior
Leaf Spring Ankle Foot Orthosis (PLS-AFO) dengan tipe fleksibel AFO dimana
pemotongan garis trimlines yang membelakangi malleolus pada area ankle yang
mampu mencegah plantar fleksi pada ankle penderita drop foot saat heel strike

dan spring saat push-off. sehingga dapat berperan sebagai stabilisator


keseimbangan pola jalan
Akan tetapi pemilihan tipe dan jenis AFO yang diberikan juga perlu
menimbangkan beberapa hal penting seperti hasil pasien assessment dan
kebutuhan pasien. Maksudnya adalah penentuan tipe dan jenis AFO atau ortosis
lainnya, tidak mutlak diberikan pada satu kasus. Jadi, dapat berubah
menyesuaikan deformitas atau kecacatan tambahan pasien yang ada. (Don Weber,
1993).
B. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Penulis dapat mengetahui kondisi tentang stroke.
2. Penulis dapat mengetahui bagaimana penanganan pasien dengan keadaan drop
foot akibat stroke dalam hal ini berkaitan dengan bidang Ortotik Prostetik
C. Manfaat Penulisan
Manfaat yang dapat diambil oleh penulis maupun pembaca setelah
penulisan makalah adalah (1) penulis dapat berbagi informasi dan juga
memperdalam pengetahuan mengenai stroke dan berbagai deformitas yang timbul
seperti drop foot serta penanganannya terutama di bidang layanan ortotik
prostetik, (2) penulis dapat memantapkan pengetahuan dan keahlian dalam
pembuatan rancang bangun ortosis dalam hal ini AFO