Anda di halaman 1dari 7

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pengambilan keputusan dan pemecahan masalah adalah bagian penting dari pekerjaan
seorang manajer, Pengambilan Keputusan adalah suatu proses memilih pemecahan masalah
dari beberapa alternative yang tersedia. Pengambilan Keputusan Rasional adalah suatu
proses sistematik dari penetapan masalah, mengevaluasi alternative, dan memilih
pemecahan yang optimal.

Waktu dan hubungan manusia dalam membuat keputusan


Waktu dan hubungan manusia merupakan elemen penting dalam proses pembuatan
keputusan. Pembuatan keputusan menghubungkan keadaan organisasi masa kini dengan
tindakan yang akan diambil organisasi ke masa depan. Pembuatan keputusan juga
menggunakan masa lalu. Pengalaman masa lalu positif dan negatif memainkan bagian
penting dalam menentukan pilihan mana yang dilihat oleh manajer layak atau diinginkan. Jadi
tujuan untuk masa depan sebagian berdasarkan pada pengalaman masa lalu.
Dalam beberapa budaya , hubungan manusia lebih penting dalam memutuskan mengenai
hubungan bisnis dari pada di Amerika Serikat. Misal orang Cina percaya bahwa rencana yang
paling lengkap pun akan selalu melibatkan masalah yang tak terlihat. Orang Cina lebih tertarik
pada komitmen yang sudah berlangsung lama dan jujur untuk bekerja sama dari pada kontrak
yang tampaknya mulus tanpa jebakan.
Seorang manajer tentu saja tidak membuat keputusan terpisah, kalau dia sedang membuat
keputusan, keputusan yang lain dibuat orang lain baik di dalajm maupun di luar organisasi.

Apa itu masalah ?


Masalah adalah situasi yang terjadi kalau yang diharapkan/inginkan berbeda dengan
kenyataan.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Gusni Aidil Zahar SE,MBA

PENGANTAR MANAJEMEN

Proses menemukan masalah


Empat macam situasi yang biasanya memberikan sinyal adanya masalah :
1.
2.
3.
4.

Deviasi dari pengalaman masa lalu.


Deviasi dari rencana yang ditetapkan
Orang lain memberi tahu adanya masalah.
Prestasi pesaing.

Keputusan pada dasarnya ada yang terprogram dan ada yang tidak terprogram.
Keputusan terprogram Adalah keputusan yang dibuat dalam menyelesaikan
masalah rutin yang yang ditetapkan dengan peraturan, prosedur atau kebiasaan.
Keputusan terprogram digunakan untuk menangani masalah yang terjadi berulang
kali, apakah kompleks atau sederhana.
Keputusan tidak terprogram adalah penyelesaian spesifik yang diciptakan lewat
proses tidak terstruktur untuk menangani masalah non rutin. Bila suatu masalah
jarang muncul untuk dicakup oleh suatu kebijakan atau demikian penting yang
memerlukan perlakuan khusus. Keputusan tidak terprogram ini yang sering ditemui
sehari-hari dan disinilah keahlian menaqjer diperlukan untuk menyelesaikannya.

Apa yang Dimaksud dengan Pengambilan Keputusan Rasional?


Langkah-langkah Pengambilan Keputusan Rasional
Tahap 1.Pengamatan situasi
- Mendefinisikan masalah
Mendiagnosis penyebabMendefinisikan Masalah
Langkah pertama dalam pengambilan keputusan adalah mengenali (mengidentifikasi)
dan menentukan (mendefinisikan) masalah. Suatu masalah timbul ada perbedaan
antara keinginan yang ditetapkan dan keadaan yang dihadapi.
Tahap 2. Mengidentifikasi Kriteria Keputusan
Kriteria keputusan adalah ukuran dasar yang digunakan untuk menuntun pertimbangan
dan keputusan. Biasanya, semakin banyak ditemukan kriteria yang memungkinkan
untuk memcahkan masalah, maka akan semakin baik pemecahan masalahnya.
Tahap 3 Menimbang Kriteria

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Gusni Aidil Zahar SE,MBA

PENGANTAR MANAJEMEN

Banyak jumlah model matematika yang dapat dipakai untuk menimbang kriteria
keputusan, semua memerlukan pengambil keputusan untuk menentukan peringkat awal
kriteria

keputusan.

Beberapa

menggunakan

perbandingan

mutlak

(absolute

comparisons), suatu proses setiap kriteria keputusan dibandingkan dengan ukuran


dasar atau tingkatan atas manfaatnya sendiri. Metode lain adalah perbandingan nisbi,
suatu proses dimana masing-masing kriteria keputusan dibandingkan secara langsung
terhadap tiap-tiap kriteria yang lain.
Tahap 4 Membuat Alternatif Pilihan Tindakan
Setelah mengenali dan menimbang kriteria keputusan yang akan menuntun proses
pengambilan keputusan, langkah berikutnya adalah mengenali pilihan tindakan yang
mungkin dapat memecahkan masalah. Secara umum pada langkah ini pemikirannya
adalah untuk menyusun sebanyak mungkin alternatif.
Tahap 5 Mengevaluasi Setiap Alternatif
Dilakukan penilaian atas kemungkinan pemecahan masalah dengan mengumpulkan
informasi secara sistematik, dan mengevaluasi setiap alternatif terhadap masing-masing
kriteria.
Tahap 6 Memperkirakan Keputusan yang Paling Optimal
Nilai peringkat dan bobot kriteria dipergunakan untuk menghitung nilai optimal dari
masing-masing alternatif rangkaian tindakan. Kemudian, manajer rasional memilih
alternatif yang memiliki nilai optimal yang tinggi.
Tahap 7 Implementasi dan monitor hasil

Keterbatasan Pengambilan Keputusan Rasional

Secara umum, manajer yang tekun menyelesaikan enam langkah model pengambilan
keputusan rasional akan membuat keputusan yang lebih baik daripada manajer yang tidak
melakukannya. Tetapi dalam kenyataannya terdapat beberapa kendala, manajer menghadapi

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Gusni Aidil Zahar SE,MBA

PENGANTAR MANAJEMEN

kendala waktu dan uang untuk menguji seluruh pemecahan yang mungkin dengan seluruh
kriteria yang tepat.
1. Keterbatasan Rasionalitas
Keterbatasan rasionalitas berarti proses pengambilan keputusan dibatasi oleh kendala
dunia nyata yaitu keterbatasan sumber-sumber daya, informasi yang tidak lengkap dan
tidak sempurna, dan keterbatasan kemampuan manajer dalam membuat keputusan.
Dan yang menjadi kendala manajer mengalami kelebihan informasi (situasi di mana
pembuat keputusan memiliki terlalu banyak informasi yang harus diperhatikan).
Secara teoritis pembuat keputusan rasional secara penuh memaksimalkan (memilih
alternatif yang terbaik) keputusan dengan memilih solusi yang optimal. Akan tetapi
dengan

adanya

keterbatasan

mengakibatkan

manajer

tidak

memaksimalkan

keputusannya, mereka cukup memenuhi saja (memilih alternatif yang cukup baik).
2. Kesalahan Umum Pengambilan Keputusan
Bentuk kesalahan umum pengambilan keputusan adalah terlalu bergantung pada
instuisi dan praduga ketersediaan, praduga representatif, dan praduga menjangkar dan
penyesuaian.
a. praduga ketersediaan
kecenderungan yang tidak disadari oleh pengambil keputusan untuk memberi pilihan
pada informasi terbaru, kesan hidup yang mempengaruhi emosi, dan tindakan
maupun perilaku khusus yang mereka lihat secara langsung.
b. praduga representatif
kecenderungan yang tidak disadari olehb pengambil keputusan untuk menduga
kemungkinan terjadinya suatu peristiwa berdasarkan kemiripan pada peristiwa
sebelumnya.
c. praduga menjangkar dan penyesuaian
kecenderungan yang tidak disadari
mempergunakan

suatu

nilai

awal

atau

oleh

pengambil

pengalaman

keputusan

sebagai

dasar

untuk
atas

perbandingan diseluruh proses keputusan.


3. Risiko dan Pengambilan Keputusan di bawah Kondisi yang Sulit
Manajer diasumsikan membuat keputusan di bawah kondisi yang pasti, dengan
informasi dan pengetahuan yang lengkap tentang semua hasil yang mungkin diperoleh.
Dalam sebagian besar situasi, manajer membuat keputusan di bawah kondisi yang
berisiko, dimana ada kemungkinan yang sangat untuk kalah (membuat keputusan yang
salah). Jadi risiko dan kondisi berisiko menyebabkan manajer sulit untuk membuat
keputusan yang sangat rasional dan optimal. Kerangka positif (pemaparan suatu

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Gusni Aidil Zahar SE,MBA

PENGANTAR MANAJEMEN

masalah dalam kaitannya dengan keuntungan, yang mempengaruhi pembuat keputusan


menjadi mengurangi risiko) mendorong pengambil keputusan untuk menghindari risiko,
sedangkan kerangka negatif (pemaparan masalah dalam kaitannya dengan kerugian,
mempengaruhi pembuat keputusan untuk menjadi pencari risiko) mendorong orang
untuk menjadi pencari risiko. Manajer juga membuat keputusan di bawah kondisi
ketidakpastian, yaitu suatu kondisi di mana pengambil keputusan tidak pernah
mengetahui kemungkinan menang atau kalah.

Meningkatkan Cara Pengambilan Keputusan


Secara teori pengambilan keputusan rasional menuntun kepada keputusan optimal, tetapi
dalam praktik ada keterbatasan dunia nyata, kesalahan umum pengambilan keputusan dan
situasi berisiko membuat keputusan yang sangat rasional sulit untuk dicapai. Akibatnya dalam
dunia usaha manajer lebih banyak merasa puas dan membuat keputusan yang cukup baik dari
pada memaksimalkan dan mengoptimalkan keputusan.
Mempergunakan Peraturan dan Pengujian untuk Meningkatkan Pengambilan Keputusan
1. Aturan Keputusan
Aturan keputusan merupakan sekumpulan kriteria di mana alternatif pemecahannya
harus dapat diterima oleh pembuat keputusan. Jika satu alternatif tidak memenuhi
kriteria dalam aturan keputusan, alternatif tersebut ditolak. Ada dua jenis aturan
keputusan, yaitu :
a. Aturan kamus
Aturan keputusan yang mengharuskan pengambil keputusan untuk membuat
peringkat kriterianya sesuai dengan tingkat kepentingannya dan kemudian menguji
alternatif pemecahan terhadap kriteria tersebut dalam peringkatnya, sehingga
alternatif yang memenuhi patokan yang paling penting kemudian harus memenuhi
patokan penting kedua, dan seterusnya.
b. Aturan batas minimum
Aturan keputusan yang mengharuskan alternatif pemecahan untuk memenuhi
kriteria keputusan minimum yang telah ditetapkan.
2. Pengujian Multi-Variabel
Suatu pendekatan sistematis atas suatu percobaan untuk menganalisis

dan

mengevaluasi pemecahan yang potesial. Pemikiran dasarnya adalah untuk menguji


melalui percobaan beberapa pemecahan potesial dalam waktu yang bersamaan dan
lebih menggunakan data daripada keyakinan, menuntun pengambil keputusan.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Gusni Aidil Zahar SE,MBA

PENGANTAR MANAJEMEN

Menggunakan Kelompok untuk Meningkatkan Pengambilan Keputusan


1. Keunggulan dan Perangkap Pengambilan Keputusan Kelompok
Kelompok dapat melakukan pekerjaan jauh lebih baik daripada individu dalam dua tahap
penting dari proses pengambilan keputusan : mendefinisikan masalah dan menyusun
alternatif pemecahan. Ada empat alasan mengapa :
a. Anggota kelompok biasanya memiliki pengetahuan, keterampilan, kemampuan, dan
pengalaman yang berbeda; dan kelompok mampu meninjau masalah dalam
berbagai pandangan.
b. Kelompok dapat menemukan dan mengakses informasi lebih banyak daripada yang
didapat oleh individual.
c. Bertambahnya pengetahuan

dan

informasi

yang

dimiliki

oleh

kelompok

mempermudah mereka untuk dapat menyusun alternatif solusi lebih banyak.


d. Jika kelompok terlibat dalam proses pengambilan keputusan, anggota kelompok
akan lebih memiliki komitmen untuk menjalankan pemecahan yang telah dipilih.

Selain kelebihan tersebut terdapat satu perangkap bagi pengambilan keputusan


kelompok, yaitu pemikiran kelompok. Pemikiran kelompok merupakan suatu hambatan
atas pengambilan keputusan yang baik, disebabkan oleh tekanan di dalam kelompok
karena tidak disetujui oleh anggota lain. Pemikiran kelompok biasanya terjadi pada
kondisi :
a. Kelompok terisolasi dari kelompok lain dengan persektif yang berbeda
b. Pimpinan kelompok memulai dengan menggambarkan preferensi yang kuat untuk
keputusan tertentu.
c. Tidak ada prosedur yang dibuat yang secara sistematis mendefinisikan masalah
dan mengembangkan alternatif.
d. Anggota kelompok mempunyai latar belakang dan pengalaman yang sama.
2. Konflik yang Terstruktur
Keputusan kelompok berjalan paling baik jika anggota kelompok mendorong terjadinya
konflik tipe-c, dan tidak berjalan baik, apabila terperosok ke dalam konflik tipe-a. Konflik
tipe-c atau konflik kognitif merupakan perbedaan pendapat yang menitikberatkan pada
masalah dan persoalan dalam kaitannya dengan perbedaan opini. Sedangkan konflik
tipe-a atau konflik afektif merupakan perbedaan pendapat yang menitikberatkan pada
orientasi persoalan individual atau pribadi.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Gusni Aidil Zahar SE,MBA

PENGANTAR MANAJEMEN

Pendekatan devils advocacy dan penyelidikan dialektikal memperbaiki keputusan


kelompok karena mereka membuat konflik tipe-c terrstruktur kedalam proses
pengambilan keputusan. Devils advocacy adalah metode pengambilan keputusan
dimana suatu individu atau sub-kelompok diberi tugas untuk berperan kritis.
Penyelidikan dialektikal adalah metode pengambilan keputusan di mana pembuat
keputusan menyatakan asumsi-asumsi atas usulan pemecahan (suatu tesis) dan
meyusun satu solusi yang berlawanan (antithesis) terhadap solusi tersebut.
3. Teknik Kelompok Nominal
Teknik kelompok nominal merupakan metode pengambilan keputusan yang dimulai dan
diakhiri dengan membuat anggota kelompok menuliskan dan mengevaluasi ide secara
tenang, dan kemudian berbagi bersama kelompok.
4. Teknik Delphi
Suatu metode pengambilan keputusan oleh suatu panel yang beranggotakan tenagatenaga ahli, menanggapi pertanyaan-pertanyaan dan terhadap satu sama lain, sehingga
mencapai suatu kesepakatan atas suatu persoalan.
5. Tukar Pikiran Melalui Elektronik
Suatu metode pengambilan keputusan, di mana anggota kelompok membangun ide
atas ide orang lain untuk menyusun sebanyak-banyaknya alternatif pemecahan masalah
yang mungkin.
Electronic brainstorming mengatasi masalah hambatan produksi dan kekhawatiran
evaluasi, maka Electronic brainstorming adalah metode yang lebih efektif untuk
menyusun alternatif dibandingkan dengan face-to-face brainstorming.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ir.Gusni Aidil Zahar SE,MBA

PENGANTAR MANAJEMEN