Anda di halaman 1dari 21

1

A. Judul : ANALISIS HUKUM PERJANJIAN KERJA BERSAMA ANTARA


PENGUSAHA DAN PEKERJA YANG DIWAKILI OLEH
SERIKAT PEKERJA MENURUT HUKUM PERDATA

B. Latar Belakang
Jumlah tenaga kerja yang tersedia di Indonesia tidak seimbang dengan
jumlah lapangan kerja yang tersedia. Terlebih lagi dari sebagian besar tenaga kerja
yang tersedia adalah yang berpendidikan rendah atau tidak berpendidikan sama
sekali. Kenyataannya, lapangan pekerjaan yang ada tidak sebanding dengan
jumlah tenaga kerja yang tersedia.
Keadaan ini menimbulkan adanya kecenderungan majikan untuk berbuat
sewenangwenang kepada pekerja/buruhnya. Buruh dipandang sebagai objek.
Buruh dianggap sebagai faktor ekstern yang berkedudukan sama dengan
pelanggan pemasok atau pelanggan pembeli yang berfungsi menunjang
kelangsungan perusahaan dan bukan faktor intern sebagai bagian yang tidak
terpisahkan atau sebagai unsur konstitutif yang menjadikan perusahaan.
Majikan dapat dengan leluasa untuk menekan pekerja/buruhnya untuk
bekerja secara maksimal, terkadang melebihi kemampuan kerjanya. Misalnya,
majikan dapat menetapkan upah hanya maksimal sebanyak upah minimum
provinsi yang ada, tanpa melihat masa kerja dari pekerja itu. Seringkali pekerja
dengan masa kerja yang lama upahnya hanya selisih sedikit lebih besar daripada
upah pekerja yang masa kerjanya kurang dari satu tahun.

Posisi pekerja yang lemah dapat diantisipasi dengan dibentuknya serikat


pekerja/serikat buruh yang ada di perusahaan. Ada anggapan selama ini bahwa
serikat buruh belum menjadi suara pekerja, baik di tingkat kerja ataupun dalam
tingkat pengambilan keputusan secara nasional. Serikat pekerja/buruh saat ini
menghadapi tantangan yang berat.
Kedudukan buruh yang lemah ini membutuhkan suatu wadah supaya
menjadi kuat. Wadah itu adalah adanya pelaksanaan hak berserikat di dalam suatu
Serikat Pekerja/Buruh. Tujuan dibentuknya Serikat Pekerja/Buruh adalah
menyeimbangkan posisi buruh dengan majikan. Melalui keterwakilan buruh di
dalam Serikat Pekerja/Buruh, diharapkan aspirasi buruh dapat sampai kepada
majikan. Selain itu, melalui wadah Serikat Pekerja/Buruh ini diharapkan akan
terwujud peran serta buruh dalam proses produksi. Hal ini merupakan salah satu
upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hubungan industrial di tingkat
perusahaan.
Keberadaan Serikat Pekerja/Buruh saat ini lebih terjamin dengan
diundangkannya UndangUndang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat
Pekerja/Buruh. Sebelum adanya UndangUndang Nomor 21 Tahun 2000,
kedudukan Serikat Pekerja/Buruh secara umum hanyalah dianggap sebagai
kepanjangan tangan atau boneka dari majikan, yang kurang meneruskan aspirasi
anggotanya. Hal ini karena pada masa Orde Baru Serikat Pekerja/Buruh hanya
diperbolehkan satu, yaitu serikat pekerja seluruh Indonesia (SPSI). Pada masa
Orde Baru itu pulalah muncul suatu serikat buruh tandingan SPSI, yaitu serikat
buruh seluruh Indonesia (SBSI).

Salah satu bentuk perlindungan hukum yang diberikan oleh pemerintah bagi
buruh adalah adanya jaminan atas kebebasan berserikat dan berkumpul dalam
suatu wadah Serikat Pekerja/Buruh. Kemerdekaan berserikat dan berkumpul serta
menyampaikan pendapat merupakan hak dasar yang dimiliki oleh warga negara
dari suatu negara hukum demokratis yang berkedaulatan rakyat.1
Suatu perjanjian harus dianggap lahir pada waktu tercapainya suatu kesepakatan
antara kedua belah pihak. Orang yang hendak membuat perjanjian harus
menyatakan kehendaknya dan kesediaannya untuk mengikatkan dirinya.
Pernyataan kedua belah pihak bertemu dan sepakat.2
Perjanjian Kerja adalah suatu perjanjian di mana pihak kesatu (si buruh),
mengikatkan dirinya untuk di bawah perintah pihak yang lain, si majikan untuk
suatu waktu te rtentu melakukan pekerjaan dengan menerima upah. Perintah ini
menunjukkan bahwa hubungan antara pekerja dan pengusaha adalah hubungan
bawahan dan atasan. Pengusaha sebagai pihak yang lebih tinggi secara sosial
ekonomi memberikan perintah kepada pihak pekerja/buruh yang secara sosial
ekonomi mempunyai kedudukan yang lebih rendah untuk melakukan pekerjaan
tertentu.
Istilah Perjanjian Perburuhan dikenal dalam UndangUndang Nomor 21
Tahun 1954 tentang Perjanjian Perburuhan antara Serikat Buruh dengan
Pengusaha/Majikan, undangundang ini merupakan salah satu dari undang

1 Asri Wijayanti. 2010. Hukum Ketenagakerjaan Pasca Reformasi. Jakarta : Sinar


Grafika, halaman 75
2 Subekti. 2001. PokokPokok Hukum Perdata. Jakarta : PT. Intermasa, halaman 138

undang yang dinyatakan dicabut dengan UndangUndang Nomor 13 Tahun 2003


tentang Ketenagakerjaan. UndangUndang Nomor 21 Tahun 1954 lahir pada saat
bangsa kita menganut demokrasi liberal, sehingga semangat undangundang ini
juga tidak lepas dari filosofi tersebut.
Sesuai dengan semangat itu masingmasing pihak yang membuat perjanjian
perburuhan cenderung berupaya membela kepentingannya sehingga tidak jarang
pihak yang satu melakukan tekanan kepada pihak yang lain jika kepentingannya
tidak terpenuhi. Konsep tersebut tidak sesuai dengan kepribadian bangsa, dan
sejalan dengan perkembangan yang terjadi dalam hukum perburuhan khususnya
dengan lahirnya konsepsi Hubungan Industrial Pancasila (HIP), maka istilah
perjanjian perburuhan diganti dengan istilah Kesepakatan Kerja Bersama (KKB)
yang dalam pembuatannya mengutamakan musyawarah dan mufakat sesuai
dengan nilainilai Pancasila. UndangUndang Nomor 13 Tahun 2003
menggunakan istilah Perjanjian Kerja Bersama (PKB) karena substansi PKB ini
sendiri memuat syaratsyarat kerja hak dan kewajiban kedua belah pihak yang
dihasilkan melalui perundingan (perjanjian) dan isinya bersifat mengikat.3

Sesuai uraian di atas, dianggap penting untuk dilakukan penulisan skripsi


tentang Analisis Hukum Perjanjian Kerja Bersama Antara Pengusaha dan
Pekerja yang Diwakili Oleh Serikat Pekerja Menurut Hukum Perdata
sebagai judul dalam proposal skripsi ini.
1. Rumusan Masalah
3 Lalu Husni. 2009. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia Edisi Revisi. Jakarta :
PT Raja Grafindo Persada, halaman 74

Masalah dapat dirumuskan sebagai suatu pernyataan tetapi lebih baik


dengan suatu pertanyaan. Keunggulan menggunakan rumusan masalah dalam
bentuk pertanyaan ini adalah untuk mengontrol hasil penelitian, sehingga akhir
dari penelitian seseorang akan dapat mengetahui apakah pertanyaan yang
dirumuskan dalam rumusan masalah dapat dijawab seluruhnya.4
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka untuk lebih
memahami pembahasan perlu kiranya dikemukakan beberapa permasalahan yang
timbul dalam perjanjian kerja bersama antara pengusaha dan pekerja yang
diwakili oleh serikat pekerja menurut hukum perdata.
Adapun beberapa permasalahan yang di ajukan dalam proposal skripsi ini
adalah:
a. Bagaimana pelaksanaan perjanjian kerja bersama antara pengusaha,
pekerja dan serikat pekerja?
b. Bagaimana perlindungan hukum terhadap pekerja dalam pelaksanaan
perjanjian kerja bersama?
c. Bagaimana akibat hukum bila

salah

satu

pihak

melakukan

wanprestasi?
2. Faedah Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan menjadi suatu faedah yang baik,
adapun faedah dalam penelitian ini adalah :
a. Secara Teoritis
Penulisan ini dapat menjadi sumbangan ilmu pengetahuan terutama di
bidang hukum perdata, yang nantinya dapat dijadikan sebagai sumber bacaan
4 Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. 2010. Pedoman
Penulisan Skripsi. Medan, halaman 5

ataupun daftar pustaka bagi pengembangan ilmu hukum khususnya mengenai


perjanjian kerja bersama antara pengusaha dan pekerja yang diwakili oleh serikat
pekerja menurut hukum perdata.
b. Secara Praktis
Penelitian ini dapat bermanfaat sebagai bahan informasi untuk semua
pihak yang berkaitan dalam hukum perdata khususnya dalam perjanjian kerja
bersama bagi para pihak baik bagi kepentingan Negara, bangsa, masyarakat yang
membutuhkannya secara umum. Terutama bagi mahasiswa Fakultas Hukum untuk
dijadikannya sebagai acuan dalam melihat perkembangan yang terjadi di
lapangan.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin diperoleh dalam melaksanakan penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pelaksanaan perjanjian kerja bersama antara pengusaha,
pekerja dan serikat pekerja
2. Untuk mengetahui perlindungan

hukum

terhadap

pekerja

dalam

pelaksanaan perjanjian kerja bersama


3. Untuk mengetahui akibat hukum bila salah satu pihak melakukan
wanprestasi
D. Defenisi Operasional
Definisi

operasional atau kerangka konsep adalah kerangka yang

menggambarkan hubungan antara definisidefinisi/konsepkonsep khusus yang


diteliti dalam penulisan ini. Konsep merupakan salah satu unsur konkrit dari teori.

Berdasarkan judul yang diajukan yaitu Analisis Hukum Perjanjian


Kerja Bersama Antara Pengusaha dan Pekerja yang Diwakili Oleh Serikat
Pekerja Menurut Hukum Perdata maka dijabarkanlah definisi operasionalnya
sebagai berikut :
1. Perjanjian Kerja Bersama menurut Sentanoe Kertonegoro adalah :
a. Dasar dari individualisme dan liberalisme (free fight liberalisme)
berpandangan bahwa antara pekerja dan pengusaha adalah dua pihak
yang mempunyai kepentingan yang berbeda dalam perusahaan.
b. Mereka bebas melakukan perundingan dan membuat perjanjian tanpa
campur tangan pihak lain.
c. Dibuat melalui perundingan yang bersifat tawar-menawar (bargaining)
masing-masing pihak akan berusaha memperkuat kekuatan tawarmenawar, bahkan dengan menggunakan senjata mogok dan penutupan
perusahaan.
d. Hasilnya adalah perjanjian yang merupakan keseimbangan dari
kekuatan tawar-menawar5.
2. Pengusaha adalah (1) orang perorangan, persekutuan, atau badan hukum
yang menjalankan perusahaan milik sendiri; (2) orang, perorangan,
persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan
perusahaan bukan miliknya; (3) orang, perorangan, persekutuan atau
badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana
dimaksud dalam angka (1) dan (2) yang berkedudukan diluar wilyah
Indonesia6.

5 Asri Wijayanti, Op. Cit., halaman 92.

3. Pekerja atau buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima
upah atau imbalan dalam bentuk lain7.
4. Serikat pekerja/serikat buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh,
dan untuk pekerja/buruh baik di perusahaan maupun diluar perusahaan,
yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis dan bertanggungjawab
guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan
pekerja dan buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan
keluarganya8.
E. Tinjauan Pustaka
1. Tinjauan Umum tentang Perjanjian Kerja Bersama
Dalam berbagai kepustakaan, mengenai Perjanjian Kerja Bersama (PKB)
tidak ada sarjana yang memberikan pengertian yang berbeda tentang PKB. Hal ini
terjadi karena undangundang yang mengaturnya telah memberikan pengertian
yang jelas mengenai perjanjian kerja bersama. Hanya saja penyebutan nama atau
istilah yang belum ada keseragaman. Ada yang pernah menamakannya
persetujuan perburuhan kolektif, persetujuan perburuhan bersama, dan ada juga
yang menamakannya syaratsyarat kerja umum. Pada akhirnya timbul istilah
baru, yaitu kesepakatan kerja bersama dan perjanjian kerja bersama. Namun
istilah Perjanjian Kerja Bersama (PKB) merupakan yang paling tepat daripada
6 Setiawan Widagdo. 2012. Kamus Hukum. Jakarta : PT. Prestasi Pustakaraya, halaman
420
7 Ibid., halaman. 389.
8 Pasal 1 angka 1 UndangUndang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat
Pekerja/Serikat Buruh

istilah dengan kesepakatan kerja bersama, karena tidak memenuhi unsur syarat
sahnya suatu perjanjian sebagaimana diatur dalam Psal 1320 KUH Perdata, yaitu :
a.
b.
c.
d.

Adanya kesepakatan
Adanya kecakapan
Adanya suatu hal tertentu
Adanya sebab yang halal
Berdasarkan Pasal 1 angka 21 UUKK, PKB adalah adalah perjanjian yang

merupakan hasil perundingan antara serikat pekerja/buruh atau beberapa serikat


pekerja/serikat buruh yang tercatat dalam instansi yang bertanggung jawab di
bidang ketenagakerjaan dengan pengusaha, atau beberapa pengusaha atau
perkumpulan pengusaha yang memuat syaratsyarat kerja, hak dan kewajiban
kedua belah pihak.
Dalam praktek selama ini banyak istilah yang dipergunakan untuk
menyebutkan PKB, seperti :
a. Perjanjian

Perburuhan

Kolektif

(PPK)

atau

Collectieve

Arbeids

Overeenkomst (CAO)
b. Persetujuan Perburuhan Kolektif (PPK) atau Collectieve Labour
Agreement (CLA)
c. Persetujuan Perburuhan Bersama (PPB)
d. Kesepakatan Kerja Bersama (KKB)
Semua istilah tersebut pada hakikatnya sama, karena yang dimaksud
adalah perjanjian perburuhan sebagaimana tercantum pada Pasal 1 ayat (1)
UndangUndang Nomor 21 Tahun 1954. PKB dibuat oleh pengusaha bersama
serikat pekerja/serikat buruh, yang notabene sebagai representasi pekerja/buruh di
dalam perusahaan.

10

Seperti lazimnya perjanjian, pembuatan PKB juga ada ketentuan


ketentuan yag harus diperhatikan. Ketentuanketentuan dimaksud adalah :
a. Salah satu pihak (serikat pekerja/serikat buruh atau pengusaha)
mengajukan pembuatan PKB secara tertulis, disertai konsep PKB.
b. Minimal keanggotaan serikat pekerja/serikat buruh 50 % (lima puluh
persen) dari jumlah pekerja/buruh yang ada pada saat pertama
pembuatan PKB.
c. Perundingan dimulai paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak
permohonan tertulis.
d. Pihakpihak yang berunding adalah pengurus serikat pekerja/serikat
buruh dan pimpinan perusahaan yang bersangkutan, dengan membawa
surat kuasa masingmasing.
e. Perundingan dilaksanakan oleh tim perunding dari kedua belah pihak
masingmasing 5 (lima) orang.
f. Batas waktu perundingan bipartit 30 (tiga puluh) hari sejak hari
pertama dimulainya perundingan.
g. Selama proses perundingan masingmasing pihak :
1) Dapat berkonsultasi kepada pejabat Depnaker.
2) Wajib merahasiakan halhal yang sifatnya belum final sebagai
keputusan perundingan.
h. Bila sudah 30 (tiga puluh) hari perundingan bipartit tidak
menyelesaikan pembuatan PKB, salah satu pihak wajib melaporkan
kepada Kantor Depnaker untuk diperantai atau dapat melalui Lembaga
Arbitrase.
i. Batas waktu pemerantaraan atau penyelesaian arbitrase maksimal 30
(tiga puluh) hari.
j. Bila 30 (tiga puluh) hari pemerantaraan atau penyelesaian arbitrase
tidak berhasil, maka pegawai perantara harus melaporkan kepada
Menteri Tenaga Kerja.

11

k.

Menteri Tenaga Kerja menempuh berbagai upaya untuk menetapkan


langkahlangkah penyelesaian pembuatan PKB maksimal 30 (tiga

puluh) hari.
l. Sejak ditandatangani oleh wakil kedua belah pihak, PKB sah dan resmi
berlaku serta mengikat kedua belah pihak dan anggotanya.
m. Setelah disepakati dan ditandatangani, PKB tersebut wajib didaftarkan
kepada Depnaker.
n. Kedua belah pihak wajib menyebarluaskan isi dan makna PKB kepada
semua pihak dalam lingkungan kerjanya.
PKB mempunyai kedudukan tertinggi dalam perusahaan. Oleh karena itu,
setiap perjanjian kerja yang dibuat tidak boleh bertentangan dengan PKB.
Demikian pula PKB tidak boleh diganti dengan Peraturan Perusahaan. PKB dapat
dibut dengan jangka waktu berlakunya paling lama 2 (dua) tahun, dan dapat
diperpanjang lagi masa berlakunya paling lama 1 (satu) tahun berdasarkan
kesepakatan tertulis antara pengusaha dengan serikat pekerja/serikat buruh yang
membuatnya.
Selain itu, sesuai dengan sifat serikat pekerja/serikat buruh yang bebas,
maka dalam PKB tidak diperbolehkan untuk :
a. Memuat aturan yang mewajibkan seorang pengusaha hanya boleh
menerima atau menolak pekerja/buruh dari satu golongan, baik
berkenaan dengan agama, golongan warga negara atau bangsa,
maupun

karena

keyakinan

politik

atau

anggota

dari

suatu

perkumpulan.
b. Memuat aturan yang mewajibkan seorang pekerja/buruh hanya bekerja
atau tidak boleh bekerja pada pengusaha dari satu golongan, baik

12

berkenaan dengan agama, golongan warga negara atau bangsa,


maupun

karena

keyakinan

politik

atau

anggota

dari

suatu

perkumpulan.
c. Memuat aturan yang bertentangan dengan ketertiban umum dan
kesusilaan.9
2. Tinjauan Umum tentang Pengusaha dan Pekerja
Istilah majikan kurang sesuai dengan konsep Hubungan Industrial
Pancasila karena istilah majikan berkonotasi sebagai pihak yang selalu berada di
atas, padahal antara buruh dan majikan secara yuridis adalah mitra kerja yang
mempunyai kedudukan sama, karena itu lebih tepat jika disebut dengan istilah
pengusaha.
Pasal 1 angka 5 UndangUndang Nomor 13 Tahun 2003 menjelaskan
pengertian pengusaha, yakni :
a. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan
suatu perusahaan milik sendiri.
b. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri
sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya.
c. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di
Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam poinpoin
di atas yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia.
Maksud dari pengertian di atas adalah :
a. Orang perseorangan adalah orang pribadi yang menjalankan atau
mengawasi operasioanal perusahaan.
9 Ida Hanifah Lubis. 2009. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia. Medan :
CV Ratu Jaya, halaman 58

13

b. Persekutuan adalah suatu bentuk usaha yang tidak berbadan hukum seperti
CV, Firma, Maatschaap, dan lainlain, baik yang bertujuan untuk mencari
keuntungan maupun tidak.
c. Badan Hukum (recht person) adalah suatu badan yang oleh hukum
dianggap sebagai orang, dapat mempunyai harta kekayaan secara terpisah,
mempunyai hak dan kewajiban hukum dan berhubungan hukum dengan
pihak lain.
Pada prinsipnya pengusaha adalah pihak yang menjalankan perusahaan
baik milik sendiri maupun bukan milik sendiri. Secara umum istilah pengusaha
adalah orang yang melakukan suatu usaha. Sebagai pemberi kerja, pengusaha
adalah seorang majikan dalam hubungannya dengan pekerja atau buruh. Pada sisi
yang lain pengusaha yang menjalankan perusahaan bukan miliknya adalah
seorang pekerja atau buruh dalam hubungan dengan pemilik perusahaan atau
pemegang saham karena bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam
bentuk lain.
Sedangkan pengertian perusahaan menurut Pasal 1 angka 6 Undang
Undang Nomor 13 Tahun 2003 :
a. Setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang
perseorangan, persekutuan, atau badan hukum, baik milik swasta maupun
milik negara yang memperkerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah
atau imbalan dalam bentuk lain.
b. Usahausaha sosial dan usahausaha lain yang mempunyai pengurus dan
memperkerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam
bentuk lain.

14

Pengertian pekerja atau buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan
menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Dalam definisi ini terdapat dua
unsur, yaitu unsur orang yang bekerja dan unsur menerima upah atau imbalan
dalam bentuk lain. Hal ini berbeda dengan definisi tenaga kerja yaitu setiap orang
yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa, baik
untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat.
Bagi pekerja atau buruh hubungan hukum dengan pembeli kerja bersifat
keperdataan yaitu dibuat di antara para pihak yang mempunyai kedudukan
perdata. Hubungan hukum antara kedua belah pihak selain diatur dalam perjanjian
kerja yang mereka tanda tangani juga diatur dalam peraturan perundang
undangan yang dibuat oleh instansi atau lembaga yang berwenang untuk itu.
Istilah buruh telah digantikan istilah pekerja yaitu orang yang bekerja
dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Pekerja adalah sebagian
dari tenaga kerja, dalam hal ini pekerja adalah orang yang sudah mendapat
pekerjaan tetap, hal ini karena tenaga kerja meliputi meliputi orang pengangguran
yang mencari pekerjaan, ibu rumah tangga dan orang lain yang belum atau tidak
mempunyai pekerjaan tetap.10

3. Tinjauan Umum tentang Serikat Pekerja


Bagi pengusaha, adanya organisasi buruh dalam perusahaannya,
sesungguhnya sangat menguntungkannya karena adanya organisasi buruh akan
sangat membantunya dalam penyusunan lembaga musyawarah untuk mencapai
10 Danang Sunyoto. 2013. Hak dan Kewajiban Bagi Pekerja dan Pengusaha.
Yogyakarta : Pustaka Yustisia, halaman 19

15

kesepakatan kerja, memberikan perlindungan dan kesejahteraan yang adil dan


wajar bagi para buruhnya.
Dengan adanya serikat buruh, tiap buruh akan terdidik dan terbiasa untuk
melaksanakan

tata

cara

demokrasi

dalam

menyalurkan

kehendak

dan

kepentingankepentingannya, sehingga tiap buruh tidak perlu mengadakan


perbuatan atau tindakantindakan secara sendirisendiri, yang kadangkadang
bahkan akan menimbulkan masalah yang berlarutlarut atau gangguangangguan
terhadap proses produksi. Dengan adanya Serikat Buruh segala amanat dan
kehendaknya akan ditampung dalam wadah organisasinya, dengan demikian
maka:
a. Tiap buruh akan terus menekuni pekerjaanpekerjaannya dengan
penuh kedisiplinan, sehingga proses produksi dapat berlangsung terus
tidak mengalami hambatanhambatan.
b. Sedangkan amanat, perbaikan dan kehendak para buruh akan
diperjuangkan bahwa Serikat Buruh terhadap pengusaha, dengan
menempuh jalan yang tertib, melalui musyawarah untuk menghasilkan
kemufakatan. Hasil musyawarah dan kemufakatan tersebut dengan
demikian tidak hanya untuk kepentingan beberapa orang buruh saja,
melainkan untuk kepentingan segenap buruh yang ada dalam
perusahaan itu.
Cara hubungan kerja yang demikianlah yang perlu dikukuhkan, dimana
para buruh dan pengusaha akan terus menjalankan roda perusahaannya, karena
perusahaan sangat menyangkut kepentingan umum, dimana hasilhasilnya sangat

16

diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat banyak, jalannya perusahaan


tidak boleh terhenti karena urusan intern (pengusaha dengan para buruhnya).11
F. Metode Penelitian
Metode penelitian pada hakekatnya memberikan pedoman mengenai tata cara
yang mempelajari dan memahami lingkunganlingkungan yang dihadapinya.
Metode itu sendiri berasal dari kata metode berasal dari bahasa yunani
methodos yang berarti cara kerja upaya atau jalan suatu kegiatan pada dasarnya
adalah salah satu upaya tersebut bersifat ilmiah dalam mencari kebenaran yang
dilakukan dengan mengumpulkan data sebagai dasar penentuan kebenaran yang
dimaksud.
1. Sifat/Materi Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian yang bersifat deskriptif analitis
yakni penelitian yang menggambarkan mengenai faktafakta atau kenyataan
secara sistematis dan mengadakan analisa terhadap faktafakta tersebut.
Berdasarkan sifat penelitian, akan didapatkan penelitian mengarah kepada
penelitian hukum yuridis normatif.
2. Sumber Data
Sehubungan dengan usaha untuk mencari dan mengumpulkan data yang
diperlukan dalam rangka penulisan skripsi ini, maka sumber data yang digunakan
adalah data sekunder yang terdiri atas:
a. Bahan Hukum Primer

11 G. Kartasapoetra. 1994. Hukum Perburuhan di Indonesia Berlandaskan Pancasila.


Jakarta : Sinar Grafika, halaman 206

17

Bahan hukum primer adalah bahanbahan hukum yang mengikat12,


yakni :
a. Kitab UndangUndang Hukum Perdata (Burgelijk Wetboek)
b. UndangUndang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
c. UndangUndang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat
Pekerja/Serikat Buruh
b. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberi penjelasan
bahan hukum primer berupa bukubuku yang berkaitan dengan bahan
penelitian, dan internet.
c. Bahan Hukum Tersier
Bahan hukum tersier adalah bahan yang menunjang bahan hukum
primer dan bahan hukum sekunder. Berupa bahanbahan yang memberikan
petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum
sekunder seperti Kamus Hukum.

3. Alat Pengumpul Data


Alat yang dipergunakan dalam pengumpulan data penelitian adalah
melalui studi dokumen berdasarkan studi pustaka yang dilakukan (Library
Research) sebagai data penelitian.
4. Analisis Data
Agar dapat mengajukan dan dapat memberikan penilaian terhadap
penelitian ini maka dimanfaatkan data yang terkumpul dan diperoleh. Data
tersebut kemudian ditelaah dan dijadikan acuan pokok dalam pemecahan yang
12 Bambang Sunggono. 2012. Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta : Rajawali Pers,
halaman 185

18

akan diuraikan dengan mempergunakan analisis kualitatif yaitu menjelaskan dan


memaparkan hasil penelitian serta menarik kesimpulan.
G. Jadwal Penelitian
Untuk melaksanakan penelitian yang direncanakan, dalam pembuatan skripsi ini
ada beberapa tahapantahapan jadwal penelitian adalah sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan
Dalam tahap ini dilakukan persiapan mulai dari urusan administrasi hingga
pembuatan proposal diperlukan waktu selama 2 (dua) minggu.
2. Tahap Pengumpulan Data
Dalam tahap ini dilakukan pengumpulan literatur dan bahanbahan lain
yang berkenaan dengan penelitian sebagai lanjutan tahap persiapan.
Diperlukan waktu selama 3 (tiga) minggu.
3. Tahap Penyusunan Laporan
Untuk penulisan dan pengolahan data dari hasil penelitian dibutuhkan
waktu 3 (tiga) minggu.
4. Tahap Penyelesaian Laporan (Penyempurnaan)
Dalam tahap ini dilakukan penyelesaian dari penelitian, sehingga menjadi
skripsi dan akan memasuki tahap pemeriksaan Dosen Pembimbing hingga
sampai dengan selesai. Diperlukan waktu selama 4 (empat) minggu.
Berdasarkan hal tersebut jumlah waktu yang dibutuhkan penulis dalam
menyelesaikan penulisan skripsi adalah 12 (dua belas) minggu atau sekitar dalam
masa 3 (tiga) bulan.

19

DAFTAR PUSTAKA

Buku :
Asri Wijayanti. 2010. Hukum Ketenagakerjaan Pasca Reformasi. Jakarta : Sinar
Grafika.
Bambang Sunggono. 2012. Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta : Rajawali
Pers.
Danang Sunyoto. 2013. Hak dan Kewajiban Bagi Pekerja dan Pengusaha.
Yogyakarta : Pustaka Yustisia.
Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. 2010. Pedoman
Penulisan Skripsi. Medan.
G. Kartasapoetra. 1994. Hukum Perburuhan di Indonesia Berlandaskan
Pancasila. Jakarta : Sinar Grafika
Ida Hanifah Lubis. 2009. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia.
Medan : CV Ratu Jaya.
Lalu Husni. 2009. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia Edisi Revisi.
Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Setiawan Widagdo. 2012. Kamus Hukum. Jakarta : PT. Prestasi Pustakaraya.
Subekti. 2001. Pokok Pokok Hukum Perdata. Jakarta : PT. Intermasa.

Perundang Undangan :
1
2
3

Kitab Undang Undang Hukum Perdata


Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
Undang Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja / Serikat
Buruh

20

KERANGKA SKRIPSI SEMENTARA

Halaman Sampul depan..........................................................................................


Halaman Judul.........................................................................................................
Halaman Berita Acara Skripsi................................................................................
Halaman Pendaftaran Ujian Skripsi......................................................................
Halaman Pernyataan Keaslian...............................................................................
Halaman Persetujuan Pembimbing........................................................................
Kata Pengantar.........................................................................................................
Daftar Isi...................................................................................................................
Abstrak......................................................................................................................
Bagian Pokok
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................
A. Latar Belakang...............................................................................................
1. Rumusan Masalah....................................................................................
2. Faedah Penelitian.....................................................................................
B. Tujuan Penelitian...........................................................................................
C. Metode Penelitian...........................................................................................
1. Sifat / Materi Penelitian...........................................................................
2. Sumber Data.............................................................................................
3. Alat Pengumpul Data...............................................................................
4. Analisis Data............................................................................................
D. Definisi Operasional.......................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................
A. Tinjauan Umum tentang Perjanjian Kerja Bersama.......................................
B. Tinjauan Umum tentang Pengusaha dan Pekerja...........................................
C. Tinjauan Umum tentang Serikat Pekerja.......................................................
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.......................................

21

A. Perlindungan hukum antara pengusaha dan pekerja dalam perjanjian kerja


bersama.........................................................................................................
B. Kajian aspek hukum perdata antara pengusaha, pekerja dan serikat
pekerja...........................................................................................................
C. Status perjanjian kerja bersama dalam suatu perikatan hukum antara
pengusaha dan pekerja...................................................................................
BAB IV PENUTUP..................................................................................................
A. Kesimpulan.............................................................................................
B. Saran........................................................................................................
Rekomendasi atas kemungkinan masih adanya masalah atau untuk
menindaklanjuti hasil penelitian sesuai / sejalan dengan kesimpulan
yang ada (diawali dengan kata sebaiknya, hendaknya, dan lain lain)
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1. Bagaimana peran aktif serikat pekerja dalam mempertahankan hak dan
melaksanakan kewajiban pekerja di lingkungan usaha?
2. Sejauh apa perusahaan memberikan kebebasan dalam berserikat kepada
pekerjanya?