Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Antenatal Care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan
kesehatan mental dan fisik ibu hamil. Sehingga mampu menghadapi persalinan,
kala nifas, persiapan pemberiaan ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara
wajar (Manuaba, 1998). Pemeriksaan kehamilan atau ANC merupakan
pemeriksaan ibu hamil baik fisik dan mental serta menyelamatkan ibu dan anak
dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas, sehingga keadaan mereka post
partum sehat dan normal, tidak hanya fisik tetapi juga mental (Wiknjosastro,
2005).
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia saat ini telah berhasil diturunkan
dari 307/100.000 kelahiran hidup (KH) pada tahun 2002 menjadi 228/ 100.000
KH pada tahun 2007 (SDKI, 2007). Namun demikian, masih diperlukan upaya
keras untuk mencapai target RPJMN 2010-2014 yaitu 118/100.000 KH pada
tahun 2014 dan Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals),
yaitu AKI 102/100.000 KH pada tahun 2015. (Kemenkes RI, 2010)
Kematian ibu hamil dan bersalin dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
pendidikan dan pengetahuan, sosial budaya, sosial ekonomi, geografi dan
lingkungan, aksesabilitas ibu pada fasilitas kesehatan serta kebijakan makro dalam
kualitas pelayanan kesehatan, terdapat perbedaan distribusi dari masing-masing
faktor penyebab kematian ibu. Perdarahan merupakan penyebab kematian
tertinggi, yaitu sebanyak 28%. Persentase tertinggi kedua disebabkan oleh
eklampsia, yaitu sebanyak 24%. Sebab-sebab lainnya antara lain infeksi (14,9 %),
abortus (12,9 %), partus lama (6,9 %), emboli (2,1 %), serta komplikasi pasca
persalinan (9,2 %). (Depkes RI, 2001)
Cakupan kunjungan ibu hamil di Indonesia pada tahun 2007 sebesar 84%
dan mengalami peningkatan pada tahun 2012 yang mencapai 87,37, sedangkan
cakupan kunjungan ibu hamil di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2007 sebesar
1

86,82% mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2006 yang


mencapai 88,78%, namun dengan seiring perkembangan teknologi dan
pengetahuan pada tahun 2012 kunjungan ibu hamil sebanyak 92,99% dan masih
dibawah target pada tahun 2010 yaitu 95% (Depkes RI, 2013). Dari 35
kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jawa Tengah, ada 16 kota yang belum
mencapai target salah satunya adalah Sragen (92,94%). Pelayanan kesehatan
masyarakat di Kota Sragen mencatat bahwa pada tahun 2009 cakupan kunjungan
keempat (K4) sebesar 92,12%, dan meningkat pada tahun 2012 cakupan
kunjungan keempat (K4) sebesar 92,94%, tetapi menurun bila dibandingkan
dengan cakupan kunjungan pertama (K1) yaitu sebesar 97,9 %. (Depkes RI,
2013)
Pelayanan kesehatan ibu selama kehamilan merupakan hal penting bagi
ibu hamil maupun bayi yang dikandungnya. Upaya pelayanan tersebut merupakan
salah satu upaya pencegahan terhadap kondisi buruk yang dapat terjadi pada
seorang ibu hamil. Berbagai kondisi dapat terjadi pada seorang ibu hamil.
1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah adalah untuk membahas mengenai kasus
antenatal care yang dialami ibu serta intervensi apa yang dapat diberikan pada ibu
hamil tersebut.

1.3 Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah :
1.3.1 Bagi ibu dan janin
Membantu memilihkan pelayanan kesehatan yang dapat diterapkan pada ibu
hamil yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan bayi
1.3.2 Bagi Keperawatan Maternitas
Memperkaya pengetahuan perawat dan ibu mengenai intervensi apa saja
yang dapat diterapkan pada ibu hamil
2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Antenatal Care (ANC)


2.1.1. Pengertian
Pemeriksaan Antenatal Care (ANC) adalah pemeriksaan
kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu
hamil. Sehingga mampu menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan
pemberiaan ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar
(Manuaba, 1998). Kunjungan ANC adalah kunjungan ibu hamil ke
bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ibu merasa dirinya hamil
untuk mendapatkan pelayanan/ asuhan antenatal. Pelayanan antenatal
ialah untuk mencegah adanya komplikasi obstetri bila mungkin dan
memastikan bahwa komplikasi dideteksi sedini mungkin serta
ditangani secara memadai (Saifuddin, dkk., 2002). Pemeriksaan
kehamilan atau ANC merupakan pemeriksaan ibu hamil baik fisik dan
mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan,
persalinan dan masa nifas, sehingga keadaan mereka postpartum sehat
dan normal, tidak hanya fisik tetapi juga mental (Wiknjosastro, 2005).
Pelayanan antenatal terintegrasi merupakan integrasi pelayanan
antenatal rutin dengan beberapa program lain yang sasarannya pada
ibu hamil, sesuai prioritas Departemen Kesehatan, yang diperlukan
guna meningkatkan kualitas pelayanan antenatal. Keuntungan
pelayanan Antenatal Care dapat mengetahui berbagai resiko dan
komplikasi hamil sehingga ibu hamil dapat diarahkan untuk
melakukan rujukan ke rumah sakit. (Manuaba,1998)
2.1.2. Tujuan Antenatal Care (ANC)
Menurut Saifuddin 2006, tujuan Antenatal Care adalah :
a. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu
dan tumbuh kembang janin.
3

b. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, maternal dan


sosial ibu dan bayi.
c. Mengenal secara dini adanya komplikasi yang mungkin terjadi
selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan
dan pembedahan.
d. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan
selamat ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
e. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan
pemberian ASI Eksklusif.
f. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran
bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.
g. Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.
Menurut Depkes RI (2004) tujuan Antenatal Care (ANC) adalah untuk
menjaga agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilannya, persalinan dan
nifas dengan baik dan selamat, serta menghasilkan bayi yang sehat.
2.1.3 Pelayanan Ante Natal Care (ANC)
Dalam melakukan pemeriksaan antenatal, tenaga kesehatan harus
Memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai standar terdiri dari:
(Kemenkes RI, 2010)
1) Timbang berat badan
Penimbangan berat badan pada setiap kali kunjungan antenatal
dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan janin.
Penambahan berat badan yang kurang dari 9 kilogram selama
kehamilan atau kurang dari 1 kilogram setiap bulannya
menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan janin.
2) Ukur lingkar lengan atas (LiLA)
Pengukuran LiLA hanya dilakukan pada kontak pertama untuk
skrining ibu hamil berisiko kurang energi kronis (KEK). Kurang
energi kronis disini maksudnya ibu hamil yang mengalami
kekurangan gizi dan telah berlangsung lama (beberapa bulan/tahun)
dimana LiLA kurang dari 23,5 cm. Ibu hamil dengan KEK akan
dapat melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR).
3) Ukur tekanan darah

Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan antenatal


dilakukan untuk mendeteksi adanya hipertensi (tekanan darah
140/90 mmHg) pada kehamilan dan preeklampsia (hipertensi
disertai edema wajah dan atau tungkai bawah; dan atau proteinuria)
4) Ukur tinggi fundus uteri
Pengukuran tinggi fundus pada setiap kali kunjungan antenatal
dilakukan untuk mendeteksi pertumbuhan janin sesuai atau tidak
dengan umur kehamilan. Jika tinggi fundus tidak sesuai dengan
umur kehamilan, kemungkinan ada gangguan pertumbuhan janin.
Standar pengukuran menggunakan pita pengukur setelah kehamilan
24 minggu.
5) Hitung denyut jantung janin (DJJ)
Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan selanjutnya
setiap kali kunjungan antenatal. DJJ lambat kurang dari 120x/menit
atau DJJ cepat lebih dari 160x/menit menunjukkan adanya gawat
janin.
6) Tentukan presentasi janin
Menentukan presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II dan
selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. Pemeriksaan ini
dimaksudkan untuk mengetahui letak janin. Jika, pada trimester III
bagian bawah janin bukan kepala, atau kepala janin belum masuk
ke panggul berarti ada kelainan letak, panggul sempit atau ada
masalah lain.
7) Beri imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
Untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum, ibu hamil harus
mendapat imunisasi TT. Pada saat kontak pertama, ibu hamil
diskrining status imunisasi TT-nya. Pemberian imunisasi TT pada
ibu hamil, disesuai dengan status imunisasi ibu saat ini.
8) Beri tablet tambah darah (tablet besi)
Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus mendapat
tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan diberikan sejak
kontak pertama.
9) Periksa laboratorium (rutin dan khusus)
Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada saat antenatal meliputi:
a. Pemeriksaan golongan darah, Pemeriksaan golongan darah
pada ibu hamil tidak hanya untuk mengetahui jenis golongan
darah ibu melainkan juga untuk mempersiapkan calon
5

pendonor darah yang sewaktu-waktu diperlukan apabila terjadi


b.

situasi kegawatdaruratan.
Pemeriksaan kadar hemoglobin darah (Hb) Pemeriksaan kadar
hemoglobin darah ibu hamil dilakukan minimal sekali pada
trimester

pertama

dan

sekali

pada

trimester

ketiga.

Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui ibu hamil tersebut


menderita anemia atau tidak selama kehamilannya karena
kondisi anemia dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang
c.

janin dalam kandungan.


Pemeriksaan protein dalam urin Pemeriksaan protein dalam
urin pada ibu hamil dilakukan pada trimester kedua dan ketiga
atas indikasi. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui
adanya proteinuria pada ibu hamil. Proteinuria merupakan

d.

salah satu indikator terjadinya preeklampsia pada ibu hamil.


Pemeriksaan kadar gula darah. Ibu hamil yang dicurigai
menderita Diabetes Melitus harus dilakukan pemeriksaan gula
darah selama kehamilannya minimal sekali pada trimester
pertama, sekali pada trimester kedua, dan sekali pada trimester

e.

ketiga (terutama pada akhir trimester ketiga).


Pemeriksaan darah Malaria Semua ibu hamil di daerah
endemis Malaria dilakukan pemeriksaan darah Malaria dalam
rangka skrining pada kontak pertama. Ibu hamil di daerah non
endemis Malaria dilakukan pemeriksaan darah Malaria apabila

f.

ada indikasi.
Pemeriksaan tes Sifilis Pemeriksaan tes Sifilis dilakukan di
daerah dengan risiko tinggi dan ibu hamil yang diduga Sifilis.
Pemeriksaaan Sifilis sebaiknya dilakukan sedini mungkin pada

g.

kehamilan.
Pemeriksaan HIV Pemeriksaan HIV terutama untuk daerah
dengan risiko tinggi kasus HIV dan ibu hamil yang dicurigai
menderita HIV. Ibu hamil setelah menjalani konseling
kemudian diberi kesempatan untuk menetapkan sendiri

h.

keputusannya untuk menjalani tes HIV.


Pemeriksaan BTA Pemeriksaan BTA dilakukan pada ibu hamil
yang dicurigai menderita Tuberkulosis sebagai pencegahan
6

agar infeksi Tuberkulosis tidak mempengaruhi kesehatan janin.


Selain pemeriksaaan tersebut diatas, apabila diperlukan dapat
dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya di fasilitas rujukan.
10) Tatalaksana/penanganan kasus berdasarkan hasil pemeriksaan
antenatal di atas dan hasil pemeriksaan laboratorium, setiap
kelainan yang ditemukan pada ibu hamil harus ditangani sesuai
dengan standar dan kewenangan tenaga kesehatan. Kasus-kasus
yang tidak dapat ditangani dirujuk sesuai dengan sistem rujukan.
(Kemenkes RI, 2010)
2.1. 4 Keluhan yang biasa terjadi pada kehamilan
Para pelaksana kesehatan ibu dan anak harus mampu
membedakan keluhan yang biasa terjadi pada kehamilan normal dan
keluhan yang mungkin merupakan tanda dan gejala komplikasi.
Keluhan yang biasa terjadi pada kehamilan antara lain,
a. Mual-mual ringan pada 3-4 bulan pertama kehamilan
b. Sering mengantuk pada 3-4 pertama kehamilan dan pada
minggu terakhir kehamilan.
c. Rasa nyeri anggota tubuh yang akan hilang bila beristirahat,
dipijat, atau berolahraga.
d. Napas sedikit sesak pada kehamilan 8-9 bulan karena desakan
janin. Jika hal tersebut dirasakan oleh ibu hamil, jelaskan bahwa
keluhan tersebut normal, dan bertahukan kapan keluhan tersebut
akan hilang serta cara mengatasinya bila keluhan tersebut
timbul. (Sarminah, 2012)
2.2 Pendidikan kesehatan pada ibu hamil
2.2.1 Pengertian
Menurut Perry dan Potter (2005), pendidikan kesehatan
seringkali melibatkan perubahan sikap dan nilai sehingga dapat
menimbulkan keyakinan yang memotivasi seseorang untuk belajar
dan mengaplikasikan pendidikan tentang fakta yang diberikan.
Motivasi adalah dorongan (berupa ide, emosi, atau kebutuhan fisik)
7

yang menyebabkan seseorang mengambil suatu tindakan. Motivasi


dapat berasal dari motif sosial, tugas atau fisik (Perry & Potter, 2005).
2.2.2 Faktor pendukung pemberian pendidikan kesehatan
a) Pendidikan
Latar

belakang

pendidikan

merupakan

faktor

yang

mempengaruhi pola pikir seseorang. Latar belakang pendidikan


akan membentuk cara berpikir seseorang termasuk membentuk
kemampuan untuk memahami faktor-faktor yang berkaitan dengan
penyakit dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menjaga
kesehatan (Perry &Potter, 2005). Penelitian yang telah dilakukan
oleh Sugiharto, Suharyo, Sukandarno, dan Shofa (2003), dimana
pada penelitian yang dilakukan terhadap 310 pasien hipertensi
didapatkan tingkat pendidikan responden paling banyak yaitu tidak
pernah sekolah sebanyak 48 orang (31%), pendidikan responden
paling sedikit adalah tamat akademi sebanyak 1 orang (0,6%) dan
tamat pasca sarjana sebanyak 1 orang (0,6%). Penelitian tersebut
menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan dapat mempengaruhi
kemampuan dan pengetahuan seseorang dalam menerapkan
perilaku hidup sehat. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka
semakin tinggi kemampuan seseorang dalam menjaga kesehatan.
b) Suku
Blum

(1990)

berpengaruh

mengidentifikasi
terhadap

status

empat

faktor

kesehatan,

yaitu

utama

yang

keturunan,

lingkungan, pelayanan kesehatan, dan perilaku. Keturunan


termasuk dalam faktor utama karena sifat genetik diturunkan oleh
orang tua kepada keturunannya. Menurut Perry & Potter (2005),
latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan, nilai, dan
kebiasaan individu. Budaya mempengaruhi cara melaksanakan
kesehatan pribadi
c) Pekerjaan dan penghasilan

Haryono (2004) bahwa faktor sosial ekonomi sangat berpengaruh


terhadap status kesehatan wanita selama hamil terutama dalam
pelayanan antenatal yang sangat penting selama kehamilan.
2.2.3 KIE Efektif
KIE efektif dilakukan pada setiap kunjungan antenatal yang
meliputi:
a. Kesehatan

ibu

setiap

ibu

hamil

dianjurkan

untuk

memeriksakan kehamilannya secara rutin ke tenaga kesehatan


dan menganjurkan ibu hamil agar beristirahat yang cukup
selama kehamilannya (sekitar 9- 10 jam per hari) dan tidak
b.

bekerja berat.
Perilaku hidup bersih dan sehat setiap ibu hamil dianjurkan
untuk menjaga kebersihan badan selama kehamilan misalnya
mencuci tangan sebelum makan, mandi 2 kali sehari dengan
menggunakan sabun, menggosok gigi setelah sarapan dan

c.

sebelum tidur serta melakukan olah raga ringan.


Peran suami/keluarga dalam kehamilan dan perencanaan
persalinan setiap ibu hamil perlu mendapatkan dukungan dari
keluarga terutama suami dalam kehamilannya. Suami, keluarga
atau masyarakat perlu menyiapkan biaya persalinan, kebutuhan
bayi, transportasi rujukan dan calon donor darah. Hal ini
penting apabila terjadi komplikasi kehamilan, persalinan, dan

d.

nifas agar segera dibawa ke fasilitas kesehatan.


Tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas serta
kesiapan

menghadapi

komplikasi

setiap

ibu

hamil

diperkenalkan mengenai tanda-tanda bahaya baik selama


kehamilan, persalinan, dan nifas misalnya perdarahan pada
hamil muda maupun hamil tua, keluar cairan berbau pada jalan
lahir saat nifas, dsb. Mengenal tanda-tanda bahaya ini penting
agar ibu hamil segera mencari pertolongan ke tenaga kesehtan
e.

kesehatan.
Asupan gizi seimbang selama hamil, ibu dianjurkan untuk
mendapatkan asupan makanan yang cukup dengan pola gizi
9

yang seimbang karena hal ini penting untuk proses tumbuh


kembang janin dan derajat kesehatan ibu. Misalnya ibu hamil
disarankan minum tablet tambah darah secara rutin untuk
f.

mencegah anemia pada kehamilannya.


Gejala penyakit menular dan tidak menular. Setiap ibu hamil
harus tahu mengenai gejala-gejala penyakit menular (misalnya
penyakit IMS, Tuberkulosis) dan penyakit tidak menular
(misalnya hipertensi) karena dapat mempengaruhi pada

g.

kesehatan ibu dan janinnya.


Penawaran untuk melakukan konseling dan testing HIV di
daerah tertentu (risiko tinggi). Konseling HIV menjadi salah
satu komponen standar dari pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Ibu hamil diberikan penjelasan tentang risiko penularan HIV
dari ibu ke janinnya, dan kesempatan untuk menetapkan
sendiri keputusannya untuk menjalani tes HIV atau tidak.
Apabila ibu hamil tersebut HIV positif maka dicegah agar
tidak terjadi penularan HIV dari ibu ke janin, namun
sebaliknya apabila ibu hamil tersebut HIV negatif maka
diberikan bimbingan untuk tetap HIV negatif selama

h.

kehamilannya, menyusui dan seterusnya.


Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan pemberian ASI ekslusif
Setiap ibu hamil dianjurkan untuk memberikan ASI kepada
bayinya segera setelah bayi lahir karena ASI mengandung zat
kekebalan tubuh yang penting untuk kesehatan bayi.

i.

Pemberian ASI dilanjutkan sampai bayi berusia 6 bulan.


KB paska persalinan Ibu hamil diberikan pengarahan tentang
pentingnya ikut KB setelah persalinan untuk menjarangkan
kehamilan dan agar ibu punya waktu merawat kesehatan diri

j.

sendiri, anak, dan keluarga.


Imunisasi setiap ibu hamil harus mendapatkan imunisasi
Tetanus Toksoid (TT) untuk mencegah bayi mengalami tetanus

k.

neonatorum.
Peningkatan kesehatan intelegensia pada kehamilan (Brain
booster) untuk dapat meningkatkan intelegensia bayi yang

10

akan dilahirkan, ibu hamil dianjurkan untuk memberikan


stimulasi auditori dan pemenuhan nutrisi pengungkit otak
(brain booster) secara bersamaan pada periode kehamilan.
(Kemenkes RI, 2010)
2.2.4 Pentingnya pendidikan kesehatan
Pendidikan merupakan komponen penting dari perawatan
prenatal, terutama bagi wanita yang sedang hamil untuk peratam
kalinya. Tiga studi yang telah dilakukan di Gambia, mendukung
bahwa pemberian informasi dan pendidikan merupakan komponen
utama dari Antenatal Care (ANC) karena dapat membrikan
kesempatan penting untuk berdiskusi antara ibu hamil dan penyedia
layanan kesehatan selama kehamilan dan mengenai komplikasi yang
mungkin timbul selama kehamilan. Selain memberikan pendidikan
kesehatan Antenatal Care (ANC) pelayanan kesehatan juga harus
memeberikan informasi tentang perawatan postpartum, perawatan
bayi baru lahir, menyusui, tanda-tanda masalah saat postpartum, dan
tindakan yang tepat untuk mengatasi hal tersebut. (Al-Alteeq.,M.,A.,
Al-Rusaless.,A.A, 2015)

11

BAB III
KASUS

PENGKAJIAN ANTENATAL
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. YT
DENGAN G1 P0 A0H0
di KLINIK BERSALIN ANUGERAH
TANGGAL 9 November 2015

3.1. PENGKAJIAN
I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. YT

Umur

: 31 tahun

Pendidikan

: S2

12

Pekerjaan

: Dosen

Status perkawinan

: Menikah

Agama

: Hindu

Suku

: Bali

Alamat

: Banjar Pancadarma Mengwi

No. CM

Tanggal MRS

: 5 November 2015

Tanggal pengkajian

: 5 November 2015

Sumber informasi

: Pasien

II. PENANGGUNG SUAMI


Nama

: Tn. YD

Umur

: 32 tahun

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: PNS

Alamat

: Banjar Pancadarma Mengwi

Hubungan dengan pasien

: Suami

III. ALASAN KUNJUNGAN


Keluhan utamaalasan ke poli
Pasien datang ke klinik bersalin ANUGERAH untuk memeriksakan
kehamilannya.
IV. RIWAYAT OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
A.

Riwayat Menstruasi
13

B.

Menarche

: Umur 13 tahun

teratur
Banyaknya
Keluhan
HPHT

: 4 kali ganti pembalut per hari


: nyeri perut
: 25 September 2015

Riwayat Pernikahan
Menikah : 1 kali

C.

Kehamilan

Umur
Kehamil

: tidak

Lamanya: 4 hari

Lama : 3 tahun

Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu

Anak ke
Thn

Siklus

an

Persalinan

Komplikasi Nifas

pe

jen

peno

penyu

lasera

ny

is

long

lit

si

infeksi

Anak
Perdarah

Jen

an

is

uli

kel

am
in

D.

Riwayat kehamilan saat ini :


Status Obstetrikus
:
G1 P0 A0H0
UK : 6/7 minggu
TP
: 1 Juni 2016
ANC kehamilan ini : ibu mengatakan rutin memeriksakan
kehamilannya ke dokter.

E.

Riwayat Keluarga Berencana :

Akseptor KB
: jenis :
Masalah
:-

Lama : -

14

BB

pj

F.

Riwayat Penyakit Klien dan Keluarga


Pasien mengatakan keluarganya memiliki riwayat hipertensi (Ayah
pasien).

V. POLA FUNGSIONAL KESEHATAN


1. Pemeliharaan dan persepsi terhadap kesehatan
Arti sehat menurut pasien adalah bisa melakukan aktivitas secara
normal, dan dalam keadaan mood yang bagus. Tiap bulan rutin
melakukan cek up kehamilan, minum obat penambah darah yang
diberikan oleh dokter ( satu kali tiap hari untuk obat penambah darah),
pasien merasa malas untuk beraktivitas. Pasien mengatakan senang
dengan kehamilannya karena setelah 3 tahun menanti kehamilan dan
selalu mencari tahu terkait pengeahuan ibu hamil, melahirkan, dan
merawat bayi.
2. Nutrisi metabolic
Pasien mengatakan bahwa nafsu makan pasien berkurang akibat mual
dan muntah, frekuensi makan 2 kali sehari tidak seperti saat sebelum
kehamilan dan porsi makannya sedikit. BB: 54 Kg (sekarang), BB
sebelumnya: 52 Kg, TB: 154cm, BMI: 21,9 (normal: 18-25)
3. Pola eliminasi
Pasien BAB 2x/hari, konsistensi lembek, tidak ada perdarahan, BAK
5-6x/hari, warna kuning jernih, nyeri (-), perdarahan (-).
4. Pola aktivitas dan latihan
Kemampuan perawatan diri
Makanan minuman

Mandi

Toileting

Berpakaian

Mobilisasi di tempat tidur

15

Berpindah

Ambulasi ROM

0: mandiri, 1: alat bantu, 2: dibantu orang lain, 3: dibantu orang lain


dan alat, 4: tergantung total
Keterangan :
Pasien tidak memiliki masalah pada pola aktivitas dan latihan.
5. Pola tidur dan istirahat
Pasien mengatakan ada perubahan pola tidur dan istirahat selama
kehamilan. Pada saat sebelum hamil pasien mengatakan tidur pukul
23.00 dan bangun pada 4.30. Setelah hamil pasien tidur pukul 22.00
sampai 05.30, kualitas tidur nyenyak. Pasien tidur siang terkadang 3
jam, dan sering merasa pusing saat bangun dari tempat tidur.
6. Pola perseptual
Pasien menggunakan kacamata (

kanan dan kiri). Pasien lulusan

S2 dan mampu untuk mengambil keputusan sendiri.


7. Pola persepsi diri
Pasien berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah keatas, pasien
biasa mengikuti aktivitas di lingkungan rumah. Pasien mengatakan
bahwa suami klien memberikan perhatian baik sebelum kehamilan
ataupun selama kehamilan. Klien juga merasa nyaman ketika berada
disamping suaminya. Tidak ada bagian tubuh yang tidak disukai
selama kehamilan.
8. Pola seksual dan reproduksi
Pasien mengaku sebelum hamil melakukan hubungan seks sebanyak 2
kali dalam seminggu. Namun, selama hamil (usia kehamilan saat ini)
pasien mengaku pernah melakukan hubungan seks 1 kali. Pasien
menarche usia 13 tahun, siklus 30 hari, tidak teratur, dan ada keluhan
nyeri perut saat hari kedua menstruasi.

16

9. Pola peran-hubungan
Dirumah pasien berperan sebagai istri. Pasien mengatakan bahwa
hubungan klien dengan keluarga terutama suami baik dan menerima
kehamilan ini karena kehamilan ini sudah ditunggu-tunggu sejak 3
tahun. Apabila ada masalah rumah tangga, pasien selalu melibatkan
suami untuk mengambil keputusan.
10. Pola menejemen koping stres
Pasien mengatakan bahwa pasien tidak mengalami stress selama
kehamilan, karena kehamilan ini sangat ditunggu-tunggu sejak 3
tahun setelah pernikahan.
11. Sistem nilai dan keyakinan
Pasien beragama Hindu, rutin beribadah di rumah maupun tempat
suci. Sebelum hamil pasien selalu rutin sembahyang (menghaturkan
canang) tetapi setelah hamil pasien tidak pernah menghaturkan canang
karena pasien mual ketika mencium aroma dupa, namun pasien tetap
sembahyang rutin (tidak menggunakan dupa atau setelah dupa habis).
Pasien tidak percaya dengan mitos pada ibu hamil.

VI. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan umum
GCS
: E4 V5 M6
Tingkat kesadaran : Compos mentis
Tanda-tanda vital
: TD:100/70 mmHg N: 70x/m
RR: 18x/m

T: 36,7 C
BB
: 54 kg
TB: 154 cm LILA: 25cm
Head to toe
Kepala

: massa (-), lesi (-), bentuk simetris, rambut hitam, ikal


dibagian ujung rambut

Wajah

: bentuk wajah simetris, edema (-) , lesi (-), massa (-), pucat

(-)
Mata

: bersih, sekret(-), konjungtiva merah muda, skelera putih

Leher

: tidak ada pembengkakkan pada leher ibu


17

Dada

: bentuk normal, retraksi (-), lesi (-), edema (-), massa (-)

Payudara

Inspeksi : - Areola: gelap


- Puting : menonjol
- Tidak terdapat dimplingretraksi
Palpasi : - Tidak ada pengeluaran ASI
- Tidak ada nodul

Jantung dan Paru


-

Inspeksi :
Pengembangan dada simetris, RR: 18x/m
Palpasi :
Nyeri tekan (-) massa (-), HR: 70x/m
Perkusi :
Tidak dilakukan
Auskultasi
tidak dilakukan

Abdomen :
-

Inspeksi : linea : striae : Pembesaran sesuai UK : Gerakan janin


:kontraksi : Luka bekas operasi : - Auskultasi : DJJ :Bising Usus : 10x/m
- Palpasi
: tidak dilakukan
Ballotement : Leopold 1
:- TFU : Leopold II
: Kanan :
Kiri :
Leopold III :Leopold IV :Penurunan Kepala : (penurunan bag. Terbawah dgn metode lima jari)
Kontraksi
:- Perkusi
:Genitalia dan perinium :

Kebersihan
Keputihan

: genetalia bersih
: kadang-kadang

karakteristik : bening tidak berbau


18

VT

:-

Anus

Hemoroid : tidak ada


Perdarahan : tidak ada

Ekstremitas :
Atas :
Oedema
: tidak ada
Varises
: tidak ada
CRT
: < 2 detik
Kekuatan Otot: 5/5
Tonus
:Bawah :
Oedema
: tidak ada
Varises
: tidak ada
CRT
: < 2 detik
Refleks
:+
Kekuatan Otot: 5/5
Tonus
:
VII. DATA PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium
laboratorium
Pemeriksaan USG
- DJJ
- taksiran persalinan

tidak

ada

pemeriksaan

:
:: 1 Juni 2016

VIII. DIAGNOSA MEDIS : IX. PENGOBATAN


Terapi obat yang diberikan
Cal-95 1x sehari
Folda (kapsul mengandung Asam Folat sebanyak 800 mcg, DHA 30 mg,
vit B12 12 mcg) 1xsehari
Folac (@tablet 400 mcg) 1xsehari

19