Anda di halaman 1dari 31

GENETIKA

Disusun Oleh

ARADEA WIRADIREJA

(108170002)

DUDI HIDAYAT

(108170004)

EMALLIA FITRIANI

(108170005)

ELEN AGUSTIANI

(108170006)

GEO WULAN PURNAMA

(108170009)

KAOFUL JALIL

(1081700011)

STEFANUS TRISSANTO

(1081700019)

SUCI APRIANI

(1081700020)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI
Skenario

Anakku Bukan Anakku


Beberapa bulan lalu media massa menyoroti kasus Bambang Tri dan Mayangsari,
dicurigai bahwa anak yang dilahirkan Mayangsari bukan merupakan garis keturunan
Bambang Tri, maka dilakukanlah tes DNA anak dan kedua orang tuanya untuk
membuktikan kebenaran tersebut, walaupun sampai sekarang hasilnya belum pernah
dipublikasikan.
Kata Kunci
1. Garis Keturunan
2. Anak dan orang tua
3. Tes DNA
Daftar Masalah
1. Bagaimana pola dan dasar garis keturunannya?
2. Teori apa saja yang berhubungan dengan garis keturunan?
3. Bagimana struktur kromosom, DNA dan RNA?
4. Bagaimana perkembangan genetika?
5. Bagaimana proses sintesis protein?
6. Peranan asam nukleat dalam sintesis protein?
7. Bagaimana biosintesis purin dan purimidin?
8. Bagaimana proses dan gangguan dalam pembentukan DNA?
9. Bagaimana proses transkripsi, translasi dan regulasinya?
10. Hukum Mendel?
11. Bagimana proses tes DNA?
12. Apa manfaat tes DNA?
13. Bagaimana perubahan urutan nukleotida DNA (normal dan tidak normal)?
Analisis Masalah
1. Sasaran Belajar
2. Sasaran Belajar
3. Kromosom strukturnya XX dan XY, DNA strukturnya double helix
4. dimulai dari teori darwin samapai hukum mendel
5. Sasaran Belajar

6. Sasaran Belajar
7. Sasaran Belajar
8. Sasaran Belajar
9. Sasaran Belajar
10. hukum Mendel dibagi 2
11. Sasaran Belajar
12. Mengetahui hubungan orang tua dan anak, keperluan penyelidikan kepolisian
13. Sasaran Belajar
Main Problem
Tes DNA

Anak
Genetika

Garis Keturunan

Orang Tua

Sasaran Belajar
1. Pola dan dasar garis keturunannya
2. Teori yang berhubungan dengan garis keturunan
3. Struktur kromosom, DNA dan RNA
4. Perkembangan genetika
5. Proses sintesis protein
6. Peranan asam nukleat dalam sintesis protein
7. Biosintesis purin dan purimidin
8. Proses dan gangguan dalam pembentukan DNA
9. Proses transkripsi, translasi dan regulasinya
10. Hukum Mendel
11. Proses tes DNA
12. Manfaat tes DNA
13. Perubahan urutan nukleotida DNA (normal dan tidak normal)
Melengkapi Sasaran Belajar

1. Pola dan dasar garis keturunan


Konsep dasar
Konsep gen (Mendel menyebutnya 'faktor'). Gen adalah pembawa sifat. Alel
adalah ekspresi alternatif dari gen dalam kaitan dengan suatu sifat. Setiap
individu disomik selalu memiliki sepasang alel, yang berkaitan dengan suatu
sifat yang khas, masing-masing berasal dari tetuanya. Status dari pasangan alel
ini dinamakan genotipe. Apabila suatu individu memiliki pasangan alel sama,
genotipe individu itu bergenotipe homozigot, apabila pasangannya berbeda,
genotipe individu yang bersangkutan dalam keadaan heterozigot. Genotipe
terkait dengan dengan sifat yang teramati. Sifat yang terkait dengan suatu
genotipe disebut fenotipe.
2. Teori yang berhubungan dengan garis keturunan
Teori Keuntungan Dominans
Teori ini menyatakan bahwa ada suatu keadaan homozigot yang menurunkan
penampilan ("merugikan") sehingga penampilan rata-rata populasi dengan
genotipe demikian lebih rendah daripada homozigot lainnya maupun
heterozigot. Keadaan heterozigot mengkompensasi fenotipe sehingga tidak
terjadi kerugian. Heterosis terjadi karena akumulasi pada semua lokus yang
bertanggung jawab, maka terjadi keuntungan akibat persilangan. Berikut adalah
contoh untuk tiga lokus dengan perilaku itu:
Generasi:

P1

Genotipe:

Ab C

aBc

Ab C
Nilai :

P2

aBc

2+0+2 = 4

Generasi:

F1

Genotipe:

Ab C

0+2+0 = 2


aBc
Nilai :

2+2+2 = 6

Homozigot dominan pada masing-masing lokus (AA, BB, dan CC) masing-masing
menyumbang nilai 2 untuk suatu fenotipe. Homozigot resesif memberikan pengaruh
negatif sehingga tidak memberi sumbangan apa pun. Kondisi heterozigot menyumbang
nilai 2, sama dengan dengan homozigot dominan. Akibatnya, penampilan F1 akan
secara dramatis melebihi kedua tetuanya.
Teori Dominans-berlebih
Teori Dominans-berlebih menyatakan, peningkatan penampilan pada generasi F1 hasil
persilangan, yang heterozigot, terjadi akibat genotipe heterozigot pada suatu lokus
berekspresi lebih kuat daripada genotipe homozigot di lokus itu. Dalam teori ini, tidak
dipermasalahkan perbedaan fenotipe pada homozigot. Karena fenotipe dikendalikan
oleh banyak lokus dengan perilaku seperti itu, muncullah gejala heterosis. Berikut
adalah contoh untuk tiga lokus dengan perilaku itu:
Generasi:

P1

Genotipe:

Ab C

aBc

Ab C
Nilai :

P2

aBc

1+0+1 = 2

Generasi:

F1

Genotipe:

Ab C

0+1+0 = 1

aBc
Nilai :

2+2+2 = 6

Setiap homozigot dominan pada masing-masing lokus (AA, BB, dan CC) menyumbang
nilai 1 untuk suatu fenotipe, homozigot resesif tidak memberikan sumbangan apa pun,

sedangkan heterozigot menyumbang nilai 2. Akibatnya, penampilan F1 akan secara


dramatis melebihi kedua tetuanya.
Teori ini dapat menjelaskan mengapa gejala heterosis segera menghilang pada generasigenerasi selanjutnya akibat penyerbukan sendiri. Namun demikian, banyak hasil
penelitian yang menunjukkan bahwa kontribusi genotipe heterozigot tidaklah terlalu
besar, atau dengan kata lain, hanya sedikit lokus yang berperilaku dominans-berlebih.
Penelitian jangka panjang yang dilakukan Sprague (1983)

[6]

menunjukkan sedikitnya

dukungan bagi teori ini. Menggunakan data dari Stuber (1992) yang menyatakan adanya
bukti dominans-berlebih, Cockerham dan Zeng (1996)

[7]

menunjukkan bahwa

dominans-berlebih semu (pseudooverdominance) akibat pautan berposisi trans alel


dominan pada lokus-lokus yang berbeda lebih dapat menjelaskan temuan itu.
Bagaimana gejala dominans-berlebih semu bekerja dapat dijelaskan sebagai berikut:
Generasi:

P1

Genotipe:

Ab C

aBc

Ab C
Nilai :

P2

aBc

(1+0)+1 = 2

Generasi:

F1

Genotipe:

Ab C

(0+1)+0 = 1



aBc
Nilai :

(1+1)+1 = 3

Aspek semu terjadi karena ada dua (atau lebih) lokus yang berpaut dalam keadaan trans
(atau repulsion, dalam contoh adalah pada lokus A dan B - perhatikan garis yang
menghbungkan keduanya). Karena berpaut, kedua lokus itu berperilaku seperti satu
lokus sehingga seakan akan hanya ada dua lokus: satu lokus sejati (C) dan satu lokus
semu (AB). Lokus semu itu menyumbang satu nilai dan pada nilai yang dihasilkan oleh

F1 seakan-akan lokus semu itu meningkat penampilannya (menyumbang dua). Perilaku


demikian dapat diketahui dengan teknik genetika molekuler.
Teori Epistasis
Macam-macam heterosis
Di kalangan pemuliaan atau penangkaran, heterosis seringkali dibedakan berdasarkan
cara penentuannya, untuk kepentingan studi dan praktis.
Heterosis antara tetua (midparent heterosis) ditentukan sebagai penyimpangan
penampilan keturunan F1 dari rata-rata tetuanya. Penentuan heterosis ini diperlukan
untuk kepentingan kajian genetik namun kurang memiliki nilai praktis.
Heterosis tetua terbaik (best/high parent heterosis) dihitung sebagai selisih
penampilan keturunan F1 dari tetua dengan penampilan lebih baik. Istilah yang terakhir
ini di kalangan pemuliaan tanaman juga disebut heterobeltiosis.
Heterosis standar digunakan pula dalam uji penampilan dan dihitung berdasarkan
selisih penampilan hibrida dengan varietas standar.
Kedua pengertian heterosis terakhir ini lebih memiliki manfaat praktis.
Adapun teori lain yang berpendapat diantaranya :
1. Teori Ovisma berpendapat bahwa yang sesungguhnya memiliki sifat keturunan
adalah sel

telur yang dihasilkan oleh induk betina. Sedangkan sel jantan hanya

menghasilkan cairan berfungsi sebagai penggiat perkembangan sel telur


2. Teori Animalkulisma seiring ditemukannya mikroskup para ilmuwan waktu
ituberpendapat bahwa didalam cairan yang dihasilkan oleh individu jantan terdapat
hawan-hewan kecil, waktu itu disebut animalkulus yang sekarang disebut
spermatozoa.ditegaskan dari sel pria inilah sifat dari maklukhidup sedang sel betina
hanya sebagai penggiat.
3. Teori preformasi dipelopori oleh Anthonie van leeuwenhoek (1632 1723)
swammerdam (1637 1680 ),Bonnet (1720 1793 ) berpendapat bahwa didalam

selsperma sudah terbentuk manusia-manusia yang kecil-kecil. Hal ini seiring dengan
berkembangnya penemuan mikroskup yang masih sederhana.
4. Teori epigenesis dipeloporo oleh Wolff (1733-1794),Von baer (1792-1880) teori ini
menentang teori-teori sebelumnya dengan teorinya bahwa spermatozoa maupun sel
telur tidak memiliki susunan sperti teori preformasi ,melainkan sel telur yang sudah
dibuahi aleh seperma akan mengadakan pertumbuhan sedikit demi sedikit hingga
menjadi individu sempurna.
5. teori pangenesis dikemukakan oleh Carles darwin (1809-1882)dikatakan didalam sel
kelamin terdapat tnas-tunas yang akan bekembang setelah sel telur dibuahi sel
seperma.
6. Teori plasma benih dikemukakan oleh August weismann (1834-1914) mengatakan
gamet tidak dihasilkan oleh jaringan tubuh tetapi oleh jaringan khusus ( yang saat
sekarang dikenal sel kelamin ) sehingga jika ada kecacatan pada jaringan tubuh
tidak akan diwariskan pada keturunannya.
7. Teori perkawinan silang dikemukakan pertama kali oleh Gregor mendel (18221884)
Teori Darwin
Teori revolusionernya meletakkan landasan bagi teori evolusi modern dan prinsip garis
keturunan yang sama (common descent) dengan mengajukan seleksi alam sebagai
mekanismenya. Teori ini kini dianggap sebagai komponen integral dari ilmu biologi.
Bukunya On the Origin of Species by Means of Natural Selection, or The Preservation
of Favoured Races in the Struggle for Life (biasanya disingkat menjadi The Origin of
Species) (1859) merupakan karyanya yang paling terkenal sampai sekarang. Buku ini
menjelaskan evolusi melalui garis keturunan yang sama sebagai penjelasan ilmiah yang
dominan mengenai keanekaragaman di dalam alam.
Meselson dan Stahl membuktikan bahwa DNA bereplikasi sesuai model semikonservatif.

3.

Perkembangan genetika
a. Zaman Pre Mendel ( sebelum abad XIX )

Bangsa Babylonia ( 6000 Tahun lalu ), telah menyusun silsilah kuda untuk
memperbaiki keturunannya. Sedangkan bangsa Cina ( beberapa abad SM ),
melakukan seleksi terhadap benih-benih padi untuk mencari sifat unggul
tanaman itu. Di Amerika dan Eropa ( ribuan tahun lalu ), orang telah melakukan
seleksi dan penyerbukan silang terhadap gandum dan jagung yang asalnya
adalah rumput liar.
b. Zaman Mendel ( 1822-1884 )
Di tandai dengan waktu Mendel melakukan percobaan persilangan pada
tanaman ercis ( Pisum Sativum ). Mendel ternyata berhasil mengamati
sesuatu ,macam sifat keturunan ( karakter ) yang di turunkan dari generasi ke
generasi. Mendel juga berhasil membuat perhitungan matematika tentang sifat
genetis karakter yang di tampilkan. Factor genetis ini kemudiandisebut
determinant atau factor. Dengan keberhasilannya tersebut, maka Mendel
dinamakan BAPA GENETIKA.dan sekaligus memberi dasar pengetahuan bagi
genetika madder
c. Zaman Post Mendel ( setelah tahun 1900 )
Zaman ini di tandai dengan adanya ditemukannya karya Mendel oleh :
1. Hugo de vries ( Belanda )
2. Carts Correns ( Jerman )
3. Erich Von Tshcemak ( Austria )
Setelah itu banyak ahli yang melakukan penelitian, diantaranya :
1. Bateson & Punnet ( 1861-1926 )
Pada tahun 1907 melakukan percobaan pada ayam untuk membuktikan apakah
percobaan Mendel berlaku pada hewan. Mereka menemukan adanya sifat-sifat
yang menyimpang dari matematika Mendel.Selain itu juga menemukan juga
adanya interaksi antara gen dalam menumbuhkan suatu variasi.
2.

Van Beneden & Boveri


Mengatakan bahwa kromosom dalam nucleus merupakan pembawa bahan
genetis.

3. Flemming & Roux

Mengamati proses pembelahan sel somatic yang kemudian diberi nama MITOSIS
dan MIOSIS.
4.

Weissmann
Mengatakan bahwa kromosom membagi dua pada waktu pembelahan sel yakni
dalam pembentukan gamet/meiosis.

5.

Sutton
Mengumumkan adanya kesejajaran antara tingkah laku kromosom ketika sel sedang
membelah dengan segregasi bahan genetis penemuan Mendel.

6. Morgan
Mengatakan gen merupakan unit terkecil bahan genetis,(istilah gen diperkenalkan
oleh Johansen) dan gen terdapat banyak dalam satu kromosom,dengan kata lain gengen berangkai.Bahan genetis tidak baka,dapat mengalami perubahan.Perubahan
genetis yang bukan karena pengaruh hybrid ini disebut mutasi.
7. Garrod (1909)
Menemukan

banyak

penyakit

bawaan

disebabkan

keabnormalan

kegiatan

enzim,sedangkan enzim itu diproduksi oleh gen.


8.

Ingram (1956)
Mengatakan terdapat perbedaan hemoglobin normal dengan abnormal yang
penyebabnya dalah karena terdapat perbedaan pada urut-urutan asam-asam amino
dalam molekul globinnya. Perbedaan itu terjadi karena adanya mutasi.

9. Muller (1927) & Auerbach (1962)


Dalam penelitiannya melihat bahwa mutasi dapat terjadi dengan cara buatan
(induksi).
10. Watson & Crick (1953)-Wilkins (1961)
Mengatakan susunan molekul gen adalah ADN.
11. Nirenberg (1961)

Menyusun kode genetis yang menentukan urutan-urutan asam amino dalam sintesa
protein,dan mengetahui gen bekerja menumbuhkan suatu karakter lewat sintesa
protein dalaPerkembangan genetika sering kali menjadi contoh klasik mengenai
penggunaan metode ilmiah dalam ilmu pengetahuan atau sains.

Berikut adalah tahapan-tahapan perkembangan genetika:

1859 Charles Darwin menerbitkan The Origin of Species, sebagai dasar variasi
genetik.;

1865 Gregor Mendel menyerahkan naskah Percobaan mengenai Persilangan


Tanaman;

1878 E. Strassburger memberikan penjelasan mengenai pembuahan berganda;

1900 Penemuan kembali hasil karya Mendel secara terpisah oleh Hugo de Vries
(Belgia), Carl Correns (Jerman), dan Erich von Tschermak (Austro-Hungaria)
==> awal genetika klasik;

1903 Kromosom diketahui menjadi unit pewarisan genetik;

1905 Pakar biologi Inggris William Bateson mengkoinekan istilah 'genetika';

1908 dan 1909 Peletakan dasar teori genetika populasi oleh Weinberg (dokter
dari Jerman) dan secara terpisah oleh James W. Hardy (ahli matematika Inggris)
==> awal genetika populasi;

1910 Thomas Hunt Morgan menunjukkan bahwa gen-gen berada pada


kromosom, menggunakan lalat buah (Drosophila melanogaster) ==> awal
sitogenetika;

1913 Alfred Sturtevant membuat peta genetik pertama dari suatu kromosom;

1918 Ronald Fisher (ahli biostatistika dari Inggris) menerbitkan On the


correlation between relatives on the supposition of Mendelian inheritance
(secara bebas berarti "Keterkaitan antarkerabat berdasarkan pewarisan Mendel"),
yang mengakhiri perseteruan antara teori biometri (Pearson dkk.) dan teori
Mendel sekaligus mengawali sintesis keduanya ==> awal genetika kuantitatif;

1927 Perubahan fisik pada gen disebut mutasi;

1928 Frederick Griffith menemukan suatu molekul pembawa sifat yang dapat
dipindahkan antarbakteri (konjugasi);

1931 Pindah silang menyebabkan terjadinya rekombinasi;

1941 Edward Lawrie Tatum and George Wells Beadle menunjukkan bahwa gengen menyandi protein, ==> awal dogma pokok genetika;

1944 Oswald Theodore Avery, Colin McLeod and Maclyn McCarty mengisolasi
DNA sebagai bahan genetik (mereka menyebutnya prinsip transformasi);

1950 Erwin Chargaff menunjukkan adanya aturan umum yang berlaku untuk
empat nukleotida pada asam nukleat, misalnya adenin cenderung sama banyak
dengan timin;

1950 Barbara McClintock menemukan transposon pada jagung;

1952 Hershey dan Chase membuktikan kalau informasi genetik bakteriofag (dan
semua organisme lain) adalah DNA;

1953 Teka-teki struktur DNA dijawab oleh James D. Watson dan Francis Crick
berupa pilin ganda (double helix), berdasarkan gambar-gambar difraksi sinar X
DNA dari Rosalind Franklin ==> awal genetika molekular;

1956 Jo Hin Tjio dan Albert Levan memastikan bahwa kromosom manusia
berjumlah 46;

1958 Eksperimen Meselson-Stahl menunjukkan bahwa DNA digandakan


(direplikasi) secara semikonservatif;

1961 Kode genetik tersusun secara triplet;

1964 Howard Temin menunjukkan dengan virusRNA bahwa dogma pokok dari
tidak selalu berlaku;

1970 Enzim restriksi ditemukan pada bakteri Haemophilus influenzae,


memungkinan dilakukannya pemotongan dan penyambungan DNA oleh peneliti
(lihat juga RFLP) ==> awal bioteknologi modern;

1977 Sekuensing DNA pertama kali oleh Fred Sanger, Walter Gilbert, dan Allan
Maxam yang bekerja secara terpisah. Tim Sanger berhasil melakukan
sekuensing seluruh genom Bacteriofag -X174;, suatu virus ==> awal
genomika;

1983 Perbanyakan (amplifikasi) DNA dapat dilakukan dengan mudah setelah


Kary Banks Mullis menemukan Reaksi Berantai Polymerase (PCR);

1985 Alec Jeffreys menemukan teknik sidik jari genetik.

1989 Sekuensing pertama kali terhadap gen manusia pengkode protein CFTR
penyebab cystic fibrosis;

1989 Peletakan landasan statistika yang kuat bagi analisis lokus sifat kuantitatif
(analisis QTL) ;

1995 Sekuensing genom Haemophilus influenzae, yang menjadi sekuensing


genom pertama terhadap organisme yang hidup bebas;

1996 Sekuensing pertama terhadap eukariota: khamir Saccharomyces cerevisiae;

1998 Hasil sekuensing pertama terhadap eukariota multiselular, nematoda


Caenorhabditis elegans, diumumkan;

2001 Draf awal urutan genom manusia dirilis bersamaan dengan mulainya
Human Genome Project;

2003 Proyek Genom Manusia (Human Genome Project) menyelesaikan 99%


pekerjaannya pada tanggal (14 April) dengan akurasi 99.99%

4.

Hukum Mendel
Terdapat 2 ukum Mendel :
1. Hukum Segregasi
Sebelum melakukan suatu persilangan, setiap individu menghasilkan gametgamet yang kandungan gennya separuh dari kandungan gen pada individu.
Sebagai contoh, individu DD akan membentuk gamet D, dan individu dd akan
membentuk gamet d. Pada individu Dd, yang menghasilkan gamet D dan gamet
d, akan terlihat bahwa gen D dan gen d akan dipisahkan (disegregasi) ke dalam
gamet-gamet yang terbentuk tersebut. Prinsip inilah yang kemudian dikenal
sebagai hukum segregasi atau hukum Mendel I.
Hukum Segregasi :
Pada waktu berlangsung pembentukan gamet, tiap pasang gen akan disegregasi ke
dalam masing-masing gamet yang terbentuk.
2. Hukum Pemilihan Bebas
Persilangan yang hanya menyangkut pola pewarisan satu macam sifat seperti yang
dilakukan oleh Mendel tersebut di atas dinamakan persilangan monohibrid.
Mendel melakukan persilangan monohibrid untuk enam macam sifat lainnya, yaitu
warna bunga (ungu-putih), warna kotiledon (hijau-kuning), warna biji (hijaukuning), bentuk polong (rata-berlekuk), permukaan biji (halus-keriput), dan letak
bunga (aksial-terminal).
Selain persilangan monohibrid, Mendel juga melakukan persilangan dihibrid, yaitu
persilangan yang melibatkan pola perwarisan dua macam sifat seketika. Salah satu

di antaranya adalah persilangan galur murni kedelai berbiji kuning-halus dengan


galur murni berbiji hijau-keriput. Hasilnya berupa tanaman kedelai generasi F 1 yang
semuanya berbiji kuning-halus. Ketika tanaman F1 ini dibiarkan menyerbuk sendiri,
maka diperoleh empat macam individu generasi F2, masing-masing berbiji kuninghalus, kuning-keriput, hijau-halus, dan hijau-keriput dengan nisbah 9 : 3 : 3 : 1.
Jika gen yang menyebabkan biji berwarna kuning dan hijau masing-masing adalah gen
G dan g, sedang gen yang menyebabkan biji halus dan keriput masing-masing adalah
gen W dan gen w, maka persilangan dihibrid terdsebut dapat digambarkan secara skema
seperti pada diagram berikut ini.
P:

Kuning, halus
GGWW
Gamet
GW

Hijau, keriput
ggww
gw

Kuning, halus
GgWw

F1 :

Menyerbuk sendiri (GgWw x GgWw )

F2 :
Gamet

GW

Gw

Gw

Gw

GGWW

GGWw

GgWW

GgWw

Gw

(kuning,halus)
GGWw

(kuning,halus)
GGww

(kuning,halus)
GgWw

(kuning,halus)
Ggww

gW

(kuning,halus)
GgWW

(kuning,keriput)
GgWw

(kuning,halus)
GgWW

(kuning,keriput)
GgWw

gw

(kuning,halus)
GgWw

(kuning,halus)
Ggww

(hijau,halus)
GgWw

(hijau,halus)
Ggww

(kuning,halus)

(kuning,keriput)

(hijau,halus)

(hijau,keriput)

Gamet
GW

Gambar 2.2. Diagram persilangan dihibrid untuk sifat warna dan bentuk biji
Dari diagram persilangan dihibrid tersebut di atas dapat dilihat bahwa fenotipe F 2
memiliki nisbah 9 : 3 : 3 : 1 sebagai akibat terjadinya segregasi gen G dan W secara
independen. Dengan demikian, gamet-gamet yang terbentuk dapat mengandung
kombinasi gen dominan dengan gen dominan (GW), gen dominan dengan gen resesif
(Gw dan gW), serta gen resesif dengan gen resesif (gw). Hal inilah yang kemudian

dikenal sebagai hukum pemilihan bebas (the law of independent assortment) atau
hukum Mendel II.
Hukum Pemilihan Bebas :
Segregasi suatu pasangan gen tidak bergantung kepada segregasi pasangan gen
lainnya, sehingga di dalam gamet-gamet yang terbentuk akan terjadi pemilihan
kombinasi gen-gen secara bebas.
Diagram kombinasi gamet dan gamet dalam menghasilkan individu generasi F2
seperti pada Gambar 2.2 dinamakan diagram Punnett. Ada cara lain yang dapat
digunakan untuk menentukan kombinasi gamet pada individu generasi F2, yaitu
menggunakan diagram anak garpu (fork line). Cara ini didasarkan pada perhitungan
matematika bahwa persilangan dihibrid merupakan dua kali persilangan monohibrid
5.

Struktur kromosom, DNA dan RNA


Kromosom
Kromosom adalah kromatin yang merapat, memendek dan membesar pada waktu
terjadi proses pembelahan dalam inti sel (nucleus), sehingga bagian bagiannya
dapat terlihat dengan jelas di bawah mikroskop biasa. Komponen sel dalam inti sel,
berfungsi dalam pembelahan sel sebagai pembawa sifat yang diturunkan. Setiap
kromosom eukariot terdiri dari satu molekul DNA linear yang sangat panjang.
Kromosom manusia dibedakan atas 2 tipe, yaitu :

a. Autosom, ialah kromosom yang tiada hubungannya dengan penentuan jenis


kelamin. Dari 46 kromosom di dalam inti sel tubuh manusia, maka yang 44 buah
(atau 22 pasang) merupakan autosom.
b. Seks kromosom, ialah sepasang kromosom yang menentukan jenis kelamin. Seks
kromosom dibedakan atas 2 macam, yaitu kromosom X dan kromosom Y.

Gambar 1: Kromosom. (1) Kromatid. Salah satu dari dua bagian identik
kromosom yang terbentuk setelah fase S pada pembelahan sel. (2) Sentromer.
Tempat persambungan kedua kromatid, dan tempat melekatnya mikrotubulus.
(3) Lengan pendek (4) Lengan panjang.

Bagian- bagian kromosom:


sentromer ~ kinetokor : penyempitan primer, pusat pergerakan
kromosom dalam pembelahan sel
telomer : lengan kromosom, bisa memiliki penyempitan sekunder
Letak sentromer dalam kromosom
Telosentrik
Akrosentrik
Sub metasentrik
metasentrik
DNA

eu

protein

kromosomal

(histon

dan

non

histon)

menjadi

nukleoprotein/kromatin. DNA double-strand melilit sekitar oktomer (4 pasang histon)


menjadi nukleosom + linker DNA menjadi solenoid menjadi filamen menjadi super
coiled menjadi kromosom.
DNA
Pada tahun 1953, James Watson and Francis Crick telah membuka wawasan baru

tentang penemuan model struktur DNA. Publikasi dari model double heliks DNA ini
disusun berdasarkan penemuan:
1. Penemuan struktur asam nukleat dari Pauling & Corey
2. Pola difraksi DNA (Single-crystal X-ray analysis) dari Wilkins & Franklin
3. Pola perbandingan jumlah A-T, G-C (1:1) dari Chargaff atau dikenal sebagai Hukum
Ekivalen Chargaff:
o Jumlah purin sama dengan pirimidin
o Banyaknya adenin sama dengan timin, juga jumlah glisin sama dengan sitosin.
DNA adalah rantai doble heliks berpilin yang terdiri atas polinukleotida. Berfungsi
sebagai pewaris sifat dan sintesis protein. Struktur DNA (deoxyribosenucleic acid)
yaitu:
1. gula 5 karbon (deoksiribosa)
2. gugus fosfat
3. basa nitrogen.
Bentuk DNA adalah rantai double heliks berpilin ke kanan. Dalam DNA terdapat
struktur-struktur di atas. Namun, jika diambil 1 lempeng yang mengandung ikatan
fosfat, gula dan basa nitrogen, maka lempeng tersebut disebut nukleotida. Jika plat itu
hanya basa nitrogen dan gula saja maka disebut nukleosida. Maka, DNA adalah polimer
dari nukleotida.
Gula deoksiribosa pada DNA merupakan gula lima karbon yang kehilangan 1 atom
oksigen. Gula deoksiribosa memegang basa nitrogen pada atom karbon nomor 1,
sedangkan atom C nomor 5 berikatan dengan gugus fosfat. Gugus fosfat ini saling
berikatan dengan gugus fosfat lainnya membentuk ikatan fosfodiester. Karena DNA
merupakan rantai ganda dan atom-atom karbon mempunyai aturan diatas untuk
mengikat basa nitrogen dan gugus fosfat maka satu rantai DNA terlihat berdiri tegak
sedangkan rantai pasangannya justru terbalik. Maka pada notasi penulisan kode genetik
DNA, ditulis 5-kode genetik-3, sedangkan untuk rantai pasangannya justru ditulis 3kode genetik-5. Pengaturan ini disebut konfigurasi antiparalel.

Ada 2 kelompok basa nitrogen yang berikatan pada DNA yaitu


a. Purin, terdiri dari basa nitrogen adenine dan guanin.
b. Pirimidin, terdiri dari basa nitrogen sitosin dan timin . pada RNA, timin diganti
dengan urasil.

Basa Purin selalu berpasangan dengan basa pirimidin melalui ikatan hidrogen. Adenine
selalu berpasangan dengan hymine melalui 2 ikatan hidrogen sedangkan cytosine
berpasangan dengan guanine melalui 3 ikatan hidrogen.
RNA
Asam ribonukleat (bahasa Inggris:ribonucleic acid, RNA) senyawa yang merupakan
bahan genetik dan memainkan peran utama dalam ekspresi genetik. Dalam dogma
pokok (central dogma) genetika molekular, RNA menjadi perantara antara informasi
yang dibawa DNA dan ekspresi fenotipik yang diwujudkan dalam bentuk protein.

Struktur RNA
Struktur dasar RNA mirip dengan DNA. RNA merupakan polimer yang tersusun dari
sejumlah nukleotida. Setiap nukleotida memiliki satu gugus fosfat, satu gugus gula
ribosa, dan satu gugus basa nitrogen (basa N). Polimer tersusun dari ikatan berselangseling antara gugus fosfat dari satu nukleotida dengan gugus gula ribosa dari nukleotida
yang lain.
Berbeda dengan DNA, RNA merupakan rantai panjang lurus yang berfungsi dalam
sintesis protein. Terdapat 3 jenis RNA yaitu:
1. mRNA(messenger RNA atau RNA duta/RNAd), bertugas untuk mengkodekan kode
genetik dari DNA untuk sintesis protein. Terdapat di anak inti.sel. Triplet kode
genetik pada mRNA disebut kodon.
2. tRNA(transfer RNA atau RNAt), bertugas untuk mencocokkan triplet yang ada pada
mRNA dengan protein yang sesuai. Terdapat di sitoplasma. Triplet kode genetik
pada tRNA disebut antikodon.
3. rRNA(ribosomal RNA atau RNAr), bertugas untuk memasangkan kodon mRNA
dengan

antikodon

tRNA

dan

menggeser

rantai-rantai

supaya

terbentuk

polipeptida(protein). Terdapat di ribosom.


Struktur RNA(ribosenucleic acid) yaitu
1. Gula 5 karbon ribosa.
2. Gugus fosfat.
3. Basa nitrogen yang persis sama dengan basa nitrogen DNA namun pada mRNA
thymine diganti dengan urasil.

Perbedaan antara DNA dan RNA


Berdasarkan penjelasan sebelumnya kita dapat menyimpulkan beberapa perbedaan
antara DNA dengan RNA sebagai berikut :
a. Komponen. Gula pada DNA deoksiribosa , sedangkan RNA adalah ribosa. Basa
nitrogen : - purin DNA adalah Adenin dan Guanin, pada RNA adalah Adenin dan
Guanin. Pirimidin DNA adalah Timin dan sitosin, pada RNA adalah Urasil dan
sitosin
b. Bentuk : DNA berbentuk rantai panjang , ganda, dan berpilin (double heliks). RNA
berbentuk rantai pendek, tunggal, dan tidak berpilin
c. Letak : DNA terletak di dalam nukleus, kloroplas, mitokondria. RNA terletak di
dalam nukleus, sitoplasma, kloroplas, mitokondria
d. Kadar : DNA tetap dan RNA tidak tetap

6.

Pembentukan dan Perubahan DNA (Proses sintesis protein, proses


traskripsi, translasi, regulasinya serta peranan asam nukleat, biosintesis purin
dan purimidin)
ASAM NUKLEAT
Asam nukleat adalah suatu polimer yang terdiri ats banyak molekul nukleotida.
Asam nukleat ada dua macam, yaitu DNA dan RNA. Asam-asam nukleat pada
jaringan-jaringan tubuh sebagia nukleoprotein, yaitu gabungan antara asam nukleat
dan proteinBiosintesi protein yang terjadi dalam sel merupakan reaksi kimia yang
kompleks dan melibatkan beberapa senyawa penting, terutama DNA dan RNA.

Molekul DNA merupakan rantai polinukleotida yang mepunyai beberapa jenis basa
purin dan pirimidin, dan berbentuk heliks ganda. Antar rantai satu dengan
pasanganya dalam heliks ganda tersebut terdapat ikaan hidrogen, yaitu ikatan yang
terjadi antar adenin dengan timin dan antar sitosin dan guanin. Molekul DNA
PRA SINTESIS PROTEIN
Sebelum sintesis protein dilakukan, perlulah diadakan persiapan yang menyeluruh,
salah satunya pemasangan asam amino pada salah satu ujung tRNA. 1 asam amino
harus diikatkan pasada salah satu ujung tRNA dengan antikodon yang benar, namun
protein ini sesuai dengan kodon bukan antikodon. Enzim yang melakukan proses ini
adalah enzim tRNA aminoasil sintetase. Enzim ini mengikatkan asam amino pada
bagian sisi asam amino kemudian tRNA dengan antikodon spesifik untuk asam
aminonya. tRNA dan asam amino berikatan pada enzim sebelum akhirnya
dilepaskan.
SINTESIS PROTEIN
Sintesis protein adalah proses pembentukan protein dari monomer peptida yang
diatur susunannya oleh kode genetik. Sintesis protein dimulai dari anak inti sel,
sitoplasma dan ribosom. Sintesis protein terdiri dari:
1. Transkripsi.
DNA membuka menjadi 2 rantai terpisah. Karena mRNA berantai tunggal, maka
salah satu rantai DNA ditranskripsi (dicopy). Rantai yang ditranskripsi
dinamakan DNA sense atau template dan kode genetik yang dikode disebut
kodogen.

Sedangkan

yang

tidak

ditranskripsi

disebut

DNA

antisense/komplementer. RNA Polimerase membuka pilinan rantai DNA dan


memasukkan nukleotida-nukleotida untuk berpasangan dengan DNA sense
sehingga terbentuklah rantai mRNA.
Pada Prokarion hanya 1 ensim yang dapat diisolasi yaitu :RNA-polimerase.
Dalam aktifitasnya butuh : 4 macam ribonukleotida. Pola cetakan DNA, Mg 2++
atau Mn2-Berlangsung dengan pasangan basa nitrogen tertentu antara pola
cetakan DNA dengan RNA baru. Pasangan basa tersebut adalah :

DNA : Thimin (T)

RNA : Adenin (A)

Guanin (G)

Sitosin (C)

Sitosin (C)

Guanin (G)

Adenin (A)

Urasil (U)

Transkripsi terdiri dari 3 tahap :


1. Inisiasi (permulaan)
Pembentukan
kompleks

transkripsi/kompleks

prainisiasi

(PIC)

mengarahkan RNA polimerase utk menempati promoter, karena RNA

polimerase saja tidak dapat mengenali promoter


Tahap I: pengikatan faktor transkripsi basal TFIID pada TATA box
Selanjutnya faktor transkripsi basal lain, TFIIB & TFIIA berikatan pada
kompleks TFIID/promoter kompleks terner. Kompleks ini yang menggiring

kompleks RNA pol II/TFIIF ke promoter


Penambahan TFIIE&TFIIH merupakan tahap akhir pada perakitan PIC

Faktor lain yang berperan dalam inisiasi:


o

Aktivator : Sp1 terikat pada kotak GC, CTF terikat pada kotak CAAT

menentukan frekuensi inisiasi


Koaktivator : TAFs (bagian dari TFIID) membantu kerja aktivator
o Enhancer atau repressor
o

Transcription-Initiation in Eukaryotes

2. Elongasi
o Setelah RNA polimerase terikat pada promoter, dimulailah proses pembacaan
template strand DNA dari arah 35
o Dihasilkan mRNA transkrip primer dengan polaritas 53
o mRNA transkrip primer ini akan diproses di nukleus sebelum menjadi mRNA
matur di sitoplasma
o pembacaan berhenti setelah ada sinyal terminasi

Elongation in Prokaryotes & Eukaryotes


Elongation Close Up

3. Terminasi

Berhentinya ikatan fosfodiester

Sinyal terminasi: diberikan oleh protein rho/ faktor rho mengaktifkan


protein terminasi untuk memberhentikan transkripsi

DNA-RNA memisah, DNA akan membentuk double helix kembali

RNA polimerase melepaskan DNA


Setelah transkripsi di nukleus selesai, nascent RNA akan mengalami pemrosesan
sebelum menuju sitoplasma untuk memulai proses translasi.
Terminasi

2. Translasi
mRNA / RNAd yang sudah terbentuk keluar dari anak inti sel menuju rRNA. Disana
mRNA masuk ke rRNA / RNAr diikuti oleh tRNA / RNAt. Ketika antikodon pada
tRNA cocok dengan kodon mRNA kemudian rantai bergeser ke tengah. Kodon
mRNA berikutnya dicocokkan dengan tRNA kemudian asam amino yang pertama

berikatan dengan asam amino kedua. tRNA pertama keluar dari rRNA. Proses ini
berlangsung hingga kodon stop, ribosom subunit besar dan kecil terpisah, mRNA
dan tRNA keluar dari ribosom.

Proses penerjemahan urutan nucleotida yang ada pada mol. mRNA menjadi rangkaian
asam-asam amino,yang menyusun suatu polipeptida/protein(hanya mol mRNA yang
ditranslasi). Mol. mRNA merupakan transkrip/salinan urutan DNA yang menyusun
suatu gen dalam bentuk ORF (Open Reading Frame/kerangka baca terbuka). rRNA
salah satu mol.penyusun ribosom(sintesa prot) tRNA adl pembawa as.amino yg akan
disambung menjadi rantai polipeptida.
Ciri ORF :
- Kodon initiasi translasi yaitu: Urutan ATG(DNA),
atau AUG (mRNA).
- Serangkaian urutan nukleotida yg menyusun banyak kodon.
- Kodon terminasi translasi yaitu :
TAA (UAA pd mRNA), TAG(UAG pd mRNA)atau
TGA (UGA pd mRNA).
Translasi berlangsung didalam ribosom. Translasi pada prokarion, sudah dimulai
sebelum transkripsi selesai, sehingga proses transkripsi dan translasi berlangsung secara
hampir serentak (karena sel sederhana, tidak ada pembagian ruang, sehingga mol DNA
genom ada dalam sitoplasma bersama komponen sel lain, sehingga mol mRNA hasil
transkripsi dapat langsung kontak dengan ribosom sebelum untaian mRNA selesai
disintesis). Translasi pada eukarion dapat berlangsung bila transkripsi sudah selesai
(karena sel komplek, ada pembagian ruang, ada nucleus, DNA genom ada dalam

nucleus terpisah dari komponen sel yang lain, transkripsi terjadi dalam nucleus, translasi
dalam ribosom di sitoplasma).
Biosintesis Purin

Dimulai dari gula ribosa

Fosforilasi

Biosintesis basa
Ribosa-5P + ATP

Biosintesis Nukleotida Pirimidin


Pertumbuhan basa
Penggabungan Gula dalam bentuk PRPP

REGULASI GEN
Sebelum penemuan DNA, telah diketahui bahwa gen adalah unit fisik dan fungsional
dari hereditas yang mengandung informasi untuk sintesis protein. Jadi gen mengandung
informasi hereditas. Gen-gen membawa informasi yang harus dikopi secara akurat
untuk ditransmisikan kepada generasi berikutnya. Pada tahun 1940-an, peneliti
menemukan bahwa informasi genetik terutama terdiri dari instruksi untuk membentuk
protein. Protein adalah molekul makro yang berperan dalam hampir semua fungsi sel
yaitu: sebagai bahan pembangun struktur sel dan membentuk enzim-enzim yang
mengkatalisis reaksi-reaksi kimia di dalam sel; meregulasi ekspresi gen, memungkinkan
sel untuk bergerak dan berkomunikasi antar sel. Jadi fungsi paling penting dari DNA
adalah membawa gen yang mengandung informasi yang menentukan jenis protein yang
harus disintesis, kapan, dalam tipe sel yang mana, dan seberapa banyak jumlah protein
yang harus disintesis.

Dengan semakin berkembangnya pengetahuan molekuler maka definisi dari gen adalah
Keseluruhan sekuen asam nukleat yang dapat ditranskrip menjadi RNA fungsional
dan protein, pada waktu dan tempat yang tepat selama pertumbuhan dan
perkembangan oraganisma.
Komposisi gen adalah: daerah pengkode (exon and intron) yang mengkode RNA
atau protein + sekuen-sekuen pengaturan (Regulatory sequences: termasuk.
promoter yang menginisiasi terjadinya transkripsi, enhancer/silencer yang
menentukan tinggi rendahnya aktivitas transkripsi, polyadenylation site, splicing
sites serta signal terminasi transkripsi).
Produk gen :
a. RNA yang kemudian ditranslasi menjadi protein
b. Hanya RNA seperti rRNA, tRNA, snRNA, snoRNA dan miRNA
Satu gen mempunyai potensi menghasilkan banyak produk karena adanya :
promoter- promoter yang berbeda alternative splicing.

Gambar 7. Daerah regulasi gen, exon, intron, dan signal akhir proses Transkripsi dari
gen prokariota dan eukaryot.
Perubahan DNA
Denaturasi (meleleh)
Untaian benang DNA dapat dipisahkan (didenaturasi) oleh peningkatan suhu, oleh
karenanya disebut pelelehan DNA.
Proses ini dapat diikuti dengan mengamati serapan sinar ultraviolet oleh DNA.

Basa DNA yang berikatan dengan pasangannya menyerap sinar uv lebih sedikit
daripada DNA yang terlepas; hal ini disebut hypochromism
PELELEHAN DAN PENEMPELAN (MELTING AND ANNEALING) DNA
Denaturasi DNA bersifat dapat balik (reversible).

Pembentukan DNA double heliks dari DNA yang mengalami denaturasi disebut
annealing (penempelan).

Penurunan suhu hingga di bawah Tm (perubahan pH, kekuatan ion, dll.)


mengakibatkan annealing.
Tm tergantung pH, kekuatan ion, panjang DNA, dan komposisi basa DNA

DENATURASI DAN ANNEALING


Denaturasi merupakan akibat dari rusaknya interaksi yang menstabilkan struktur
DNA:
Ikatan Hidrogen
Kumpulan Base
Renaturasi dari untai DNA yang terpisah terjadi melalui 2 tahap.
Renaturasi dari untai DNA yang mengalami denaturasi parsial terjadi melalui 1
tahap yang cepat
DEAMINASI BASA
Basa nukleotida dapat mengalami kehilangan gugus amino eksosiklik secra spontan
(deamination).

Pada kondisi dalam sel, deaminasi sitosin dari DNA terjadi dengan frekuensi satu di
antara 107 residu setiap 24 jam.
Deaminasi A dan G terjadi pada frekuensi 1/10nya

7.

Proses tes DNA


Tes DNA adalah metode untuk mengidentifikasi fragmen-fragmen dari DNA itu
sendiri. Atau secara sederhananya adalah metode untuk mengidentifikasi,
menghimpun dan menginventarisir file-file khas karakter tubuh.
DNA yang biasa digunakan dalam tes ada dua yaitu DNA mitokondria dan DNA inti
sel. Perbedaan kedua DNA ini hanyalah terletak pada lokasi DNA tersebut berada
dalam sel, yang satu dalam inti sel sehingga disebut DNA inti sel, sedangkan yang
satu terdapat di mitokondria dan disebut DNA mitokondria. Untuk tes DNA,
sebenarnya sampel DNA yang paling akurat digunakan dalam tes adalah DNA inti
sel karena inti sel tidak bisa berubah. DNA dalam mitokondria dapat berubah karena
berasal dari garis keturunan ibu yang dapat berubah seiring dengan perkawinan
keturunannya. Sebagai contoh untuk sampel sperma dan rambut. Yang paling
penting diperiksa adalah kepala spermatozoanya karena didalamnya terdapat DNA
inti, sedangkan untuk potongan rambut yang paling penting diperiksa adalah akar
rambutnya. Tetapi karena keunikan dari pola pewarisan DNA mitokondria
menyebabkan DNA mitokondria dapat dijadikan sebagai marka (penanda) untuk tes
DNA dalam upaya mengidentifikasi hubungan kekerabatan secara maternal.
Untuk akurasi kebenaran dari tes DNA hampir mencapai 100% akurat. Adanya
kesalahan bahwa kemiripan pola DNA bisa terjadi secara random (kebetulan) sangat
kecil kemungkinannya, mungkin satu diantara satu juta. Jikapun terdapat kesalahan
itu disebabkan oleh faktor human error terutama pada kesalahan interprestasi

fragmen-fragmen DNA oleh operator (manusia). Tetapi dengan menerapkan


standard of procedur yang tepat kesalahan human error dapat diminimalisir atau
bahkan ditiadakan.
Tahapan Metode Tes DNA
Untuk metode tes DNA di Indonesia, masih memanfaatkan metode elektroforesis DNA.
Dengan intreprestasi hasil dengan cara menganalisa pola DNA menggunakan marka
STR (short tandem repeats). STR adalah lokus DNA yang tersusun atas pengulangan 26 basa. Dalam genom manusia dapat ditemukan pengulangan basa yang bervariasi
jumlah dan jenisnya. Dengan menganalisa STR ini, maka DNA tersebut dapat
diprofilkan dan dibandingkan dengan sampel DNA terduga lainnya.
Pada dasarnya tahapan metode tes DNA dengan cara elektroforesis meliputi beberapa
tahapan berikut yaitu pertama tahapan preparasi sampel yang meliputi pengambilan
sampel DNA (isolasi) dan pemurnian DNA. Dalam tahap ini diperlukan kesterilan alatalat yang digunakan. Untuk sampel darah, dalam isolasinya dapat digunakan bahan
kimia phenolchloroform sedangkan untuk sampel rambut dapat digunakan bahan kimia
Chilex. Selanjutnya DNA dimurnikan dari kotoran-kotoran seperti protein, sel debris,
dan lain lain. Untuk metode pemurnian biasanya digunakan tehnik sentrifugasi dan
metode filtrasi vakum. Tetapi berbagai ilmuwan telah banyak meninggalkan cara
tersebut dan beralih ke produk-produk pemurnian yang telah dipasarkan seperti produk
butir magnet dari Promega Corporation yang memanfaatkan silica-coated paramagnetic
resin yang memungkinkan metode pemisahan DNA yang lebih sederhana dan cepat.
Tahapan selanjutnya adalah memasukan sampel DNA yang telah dimurnikan kedalam
mesin PCR (polymerase chain reaction) sebagai tahapan amplifikasi. Hasil akhir dari
tahap amplifikasi ini adalah berupa kopi urutan DNA lengkap dari DNA sampel.
Selanjutnya kopi urutan DNA ini akan dikarakterisasi dengan elektroforesis untuk
melihat pola pitanya. Karena urutan DNA setiap orang berbeda maka jumlah dan lokasi
pita DNA (pola elektroforesis) setiap individu juga berbeda. Pola pita inilah yang
disebut DNA sidik jari (DNA finger print) yang akan dianalisa pola STR nya. Tahap
terakhir adalah DNA berada dalam tahapan typing, proses ini dimaksudkan untuk
memperoleh

tipe

DNA.

Mesin

PCR

akan

membaca

data-data

DNA dan

menampilkannya dalam bentuk angka-angka dan gambar-gambar identfikasi DNA.


Finishing dari tes DNA ini adalah mencocokan tipe-tipe DNA.

8.

Manfaat tes DNA


Tes DNA umumnya digunakan untuk 2 tujuan yaitu (1) tujuan pribadi seperti
penentuan perwalian anak atau penentuan orang tua dari anak dan (2) tujuan hukum,
yang meliputi masalah forensik seperti identifikasi korban yang telah hancur,
sehingga untuk mengenali identitasnya diperlukan pencocokan antara DNA korban
dengan terduga keluarga korban ataupun untuk pembuktian kejahatan semisal dalam
kasus pemerkosaan atau pembunuhan. Hampir semua sampel biologis tubuh dapat
digunakan untuk sampel tes DNA, tetapi yang sering digunakan adalah darah,
rambut, usapan mulut pada pipi bagian dalam (buccal swab), dan kuku. Untuk
kasus-kasus forensik, sperma, daging, tulang, kulit, air liur atau sampel biologis apa
saja yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) dapat dijadikan sampel tes
DNA.

REFERENASI
1. Muray RK, Granner DK, Rodwell VW. Biokimia Harper Edisi 27. Jakarta. EGC.
2006.
2. Fried Geore H, Hademenos Geoger J. Schaums Out Lines Biologi Edisi 2. Jakarta.
Erlangga. 2006.
3. Campbell neil A, Reece Jane B, Mitchell Lawrence G. Biologi edisi kelima Jilid I.
Jakarta. Erlangga. 2002.
4. Guyton AC. Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta. ECG. 1997

5. Guyton AC. Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta. EGC. 2007.
6. Suryo. Genetika Manusia. Yogyakarta. Gadja Mada University Press. 2008.
7. Yatim, wildan. Biologi Sel Lanjut. Bandung. Tarsito. 2003.
8. Poedjiadi Anna, Supriyanti FM Titin. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta. UI-Press.
2005.
9. Triwibono Yuwono. Biologi Molekuler. Erlangga. Jakarta. 2002
10. Lehning AJ. Dasar-dasar Biokimia Jilid 3. Jakarta. Erlangga. 1989
11. http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/biokimia/di-balik-teknologi-tes-dna
12. http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080811032810AAWD712
13. http://mr-fabio2.blogspot.com/2009/01/genetika-vina-citra-xii-ipa7.html
14. http://biodas.wordpress.com/rancangan-pembelajara/bahan-ajar/molekul-hereditas/
15. http://inherent.brawijaya.ac.id/biomol/materi/ebook2.pdf
16. http://medicine.uii.ac.id/upload/Blok-Biomedis-2008-2009-Genetika-DasarKedokteran-UII.pdf
17. http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/14/mengenal-dna-dan-rna/
18. http://www.ptapadang.net/data/artikel/Tes_DNA_Sebagai_Alat_Bukti_Penetapan_A
sal_Usul_Anak_di_PA.pdf
19. http://yayanakhyar.files.wordpress.com/2009/01/genetika-dasar_files-of-drsmed.pdf
20. skripsigratis.files.wordpress.com/2008/05/test-dna-4508.doc