Anda di halaman 1dari 6

RESUME JURNAL

PERAN FAKTOR-FAKTOR PSIKOLOGIS TERHADAP


DEPRESI PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2
Latar Belakang
Jumlah kasus DM di Amerika bertambah sangat cepat dan 90% dari semua
penderita DM adalah DM tipe 2. Jumlah penderita DM di dunia termasuk di
Indonesia diperkirakan meningkat tajam sampai tahun 2020. Indonesia menempati
urutan ke empat setelah India, China dan Amerika Serikat yang paling banyak
menderita DM yaitu sebanyak 8,6%.dibandingkan dengan penderita penyakit lain,
penderita DM berisiko lebih besar untuk mengalami depresi dan depresi dapat
menyebabkan DM menjadi lebih parah dua kali lipat. Depresi yang dialami
penderita DM juga lebih besar terjadi pada penderita yang memiliki komplikasi
ganda dibandingkan penderita yang tidak memiliki komplikasi. Depresi juga dpaat
mempengaruhi ketidakpatuhan terhadap manajemen diet dan manajemen obat
sehingga depresi pada penderit DM dapat memperberat beban penyakit tersebut.
Penelitian ini memiliki beberapa variabel diantaranya adalah dukungan sosial,
harga diri, resiliensi, optimisme dan depresi.
Secara langsung, jurnal ini memang tidak menyebutkan permasalahan apa
yang menjadi latar belakang dilakukannya penelitian ini. Namun, secara tidak
langsung jurnal ini mencari tahu tentang peranan faktor-faktor psikologis terhadap
depresi yang terjadi pada penderita DM tipe 2.
Masalah
Masalah yang diangkat pada jurnal ini adalah faktor psikologis yang berperan
terhadap depresi pada pasien diabetes melitus di Kabupaten Sleman pada tahun
2014.

Tujuan
Tujuan penulisan jurnal ini adalah untuk mengetahui faktor psikologis apa saja
berperan terhadap depresi dan bagaimana peranan faktor-faktor psikologis
tersebut terhadap depresi pada penderita DM tipe 2.

Metode
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan desain cross
sectional. Proses pengumpulan data ini dengan cara memberikan sejumlah
pertanyaan pada subjek penelitian yang diambil pada satu waktu yang sama.
Subjek penelitian ini berjumlah 248 pasien DM tipe 2. Data yang dikumpulkan
menggunakan skala persepsi dukungan sosial, optimisme, resiliensi, harga diri dan
depresi. Data dianalisis menggunakan persamaan struktural atau structural
equation modeling (SEM) dengan bantuan program statistik AMOS 18.
Hasil
Sebagian besar pasien DM tipe 2 berada pada kategori psikologis keadaan
sedang yang memiliki tingkat optimisme (41,5%) resiliensi (54,8%), harga diri
(54,0%), dukungan sosisal (55,2%) dan depresi (44,4%). Hal ini berarti, subjek
pada penelitian ini memiliki rasa optimis, resilien, punya harga diri, dukungan
sosial dan memiliki depresi dengan kategori sedang.
Berdasarkan hasil analisis pada penelitian ini menunjukkan bahwa,
pengaruh dukungan sosial pada individu dengan diabetes sangat berhubungan
dengan gejala diabetes yang dikeluhkan penderita. Penderita DM tipe 2 yang
mengalami depresi rata-rata kurang efektif dalam mengelola penyakitnya jika
dukungan sosial yang didapat dari keluarga dan lingkungan kurang, sehingga hal
ini menyebabkan kurangnya keinginan untuk hidup serta kurangnya harapan
untuk masa depannya dibandingkan dengan individu yang tidak mengalami
depresi.
Berdasarkan hasil uji hipotesis pada penelitian ini juga didapatkan bahwa
dukungan sosial berperan langsung terhadap optimisme, resiliensi dan harga diri.

Hasil uji tersebut juga menunjukkan bahwa peran langsung dukungan sosial
terhadap masing-masing variabel yaitu optimisme (0,717), resiliensi (0,811),
harga diri (0,269) dan depresi (-0,210) dan pengaruh tidak langsung terhadap
depresi (-0,397). Persepsi dukungan sosial, optimisme, resiliensi dn harga diri
berpengaruh secara signifikan terhadap depresi. Hal ini menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh secara langsung dan tidak langsung dukungan sosial terhadap
optimisme, resiliensi, harga diri dan depresi. Pengaruh langsung antara persepsi
dukungan sosial terhadap optimisme, resiliensi, dan harga diri menunjukkan
koefisien positif, sedangkan koefisien persepsi dukungan sosial terhadap depresi
adalah negatif. Artinya, persepsi dukungan sosial yangs emakin banyak dan besar
dari keluarga dan lingkungan akan diikuti dengan semakin tinggi pula optimisme,
resiliensi dan harga diri pada penderita DM tipe 2, sedangkan persepsi dukungan
sosial terhadap depresi memiliki koefisien estimasi negatif yang menunjukkan
bahwa semakin besar persepsi dukunga sosial, akan semakin menurun pula
depresi yang dialami oleh penderita DM tipe 2.

RESUME JURNAL
PREVALENCE AND PREDICTORS OF DEPRESSION AMONG
TYPE 2 DIABETES MELITUS OUTPATIENTS IN EASTERN
PROVINCE SAUDI ARABIA
Latar Belakang
Diabetes melitus adalah salah satu penyakit yang berhuungan dengan
berbagai macam komplikasi yang serius. Salah satu komplikasi yang jarng
diketahui adalah depresi. Depresi yang tidak terdiagnosis dapat menghambat
pengobatan penyakit itu sendiri dan hal tersebut menyebabkan penyakit DM
memiliki klinis yang buruk. Salah satu penelitian yang dilakukan di Jeddah tahun
2003 melaporkan bahwa prevalensi depresi pada penderita DM dan non-DM dan
hasil pemeriksaan dari segi demografi dan komorbidsama seperti pencetus dari

depresi. Diabetes dan depresi berhubungan dengan angka morbiditas dan


mortalitas.
Beberapa penelitian telah melaporkan prevalensi depresi yang berhubungan
dengan DM tipe 2 dan faktor apa saja yang berhubungan dengan penderita DM.
hanya saja, informasi mengenai prevalensi depresi akibat DM dan risiko yang
berhubungan dengan depresi tersebut masih sangat terbatas. Oleh karena hal itulah
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini
Masalah
Permasalahan yang terjadi pada penelitian ini yaitu mengenai prevalensi dan
pencetus depresi pada penderita DM tipe 2 di Provinsi Timur Saudi Arabia pada
tahun 2013.
Tujuan
Tujuan penulisan jurnal ini yaitu untuk mengetahui prevalensi dan faktor pencetus
depresi pada penderita DM tipe 2 di Provinsi Timur Saudi Arabia
Metode
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross
sectional. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Pemerintah Provinsi Timur
Saudi Arabia. Subjek penelitian ini yaitu penderita DM tipe 2 yang datang pada
kunjungan klinik dan bersedia menjadi subjek dalam penelitian ini. Penderita DM
tipe 2 yang dijadikan subjek penelitian adalah mereka yang berusia > 18 tahun
dan bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Sedangkan, penderita DM tipe 1
maupun penderita DM gestasional dan tipe lain tidak dijadikan subjek penelitian.
Penderita yang memiliki kecacatan berupa tuli, bisu dan belum didiagnosis juga
tidak dijadikan subjek pada penelitian ini.
Ukuran sampel yang ditetapkan sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya
yang dilakukan oleh Engum, dkk pada tahun 2003, yaitu sebesar 19% dengan
kekuatan sebesar 80% dan rasio non-respon sebesar 10%. Jumlah subjek yang
ditetapkan adalah 260 penderita. Subjek yang berpartisipasi dalam penelitian ini
dipilih secara sistematic random sampling dengan melihat catatan medis penderita

di rumah sakit tersebut. Hanya lima dari 260 partisipan tidak dapat mengikuti
interview yang dilakukan karena alasan kesibukan dan lain-lain. Namun, lima
partisipan penggantinya dipilih secara acak dengan teknik sistematic random
sampling yang sama hingga besar sampel mencapai 260 subjek.
Data dikumpulkan dengan kuesioner yang didesain untuk mendapatkan
gambaran informasi karakteristik sosiodemografi dan faktor kesehatan. Variabel
demografi yang diambil berupa jenis kelamin, usia, status pernikahan, asal daerah,
tingkat pendidikan, jumlah keluarga, jumlah pendapatan perbulan dan pekerjaan.
Sedangkan faktor kesehatan yang diambil termasuk durasi diabetes dan kontrol
diabetes. Kontrol DM yang diambil berdasarkan dokumentasi yang tertulis di
catatan medik baik itu kontrol dengan baik maupun tidak terkontrol.
Tingkat depresi penderita DM diukur dengan menggunakan skala
Multidimensional Perceived Social Support Scale (PSSS). Skala ini menggunakan
persepsi dukungan sosial dari keluarga, teman dan lainnya. Sedangkan The Center
for Epidemiologic Studies Depression Scale (CES-S) digunakan untuk melihat
tanda dan gejala dari depresi pada penderita DM.
Hasil
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hampir setengah dari sampel
penelitian mengalami depresi (49,6%). Rata-rata usia penderita DM yng
mengalami depresi kurang lebih 49 tahun dan yang tidak mengalami depresi
kurang lebih pada usia 53 tahun. Hampir 53% yang mengalami depresi berjenis
kelamin perempuan dan 34% dari mereka tidak menikah. Semua pasien yang
bukan berasal dari Saudi mengalami depresi dan lebih dari setengahnya memiliki
tingkat pendidikan yang menengah yaitu sebanyak 53%. Lebih dari 50% penderita
DM yang tidak berkerja juga mengalami depresi, begitu juga pada mereka yang
memiliki pendapatan perbulan kurang dari rata-rata juga mengalami depresi.
Penderita DM yang depresi rata-rata menderita penyakitnya lebih dari 20 tahun
(52,5%). Penderita DM yang depresi memiliki tingkat dukungan sosial yang
rendah (63,6%) dan kontrol DM yang tidak baik (64%).
Tabel 2 pada penelitian ini menunjukkan pencetus depresi pada penderita
DM dengan menggunakan regresi multivariat logistik. Hasilnya menunjukkan

bahwa penderita yang tidak menikah lebih banyak mengalami depresi


dibandingkan dengan penderita DM yang menikah dan hal tersebut terbukti
signifikan secara statistik (P=0.025). Pada penelitian ini juga didapatkan bahwa
penderita DM dengan kontrol yang tidak baik lebih banyak mengalmai depresi
dibandingkan dengan penderita DM yang terkontrol dengan baik dan hal ini juga
telah terbukti signifikan secara statistik (P=0,000).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor risiko yang berhubungan
dengan depresi pada penderita DM sangatlah penting. Hal ini berguna untuk
memulai pengobatan yang lebih awal untuk meningkatkan klinis yang baik dan
hasil yang lebih baik, hal ini juga berhubungan dengan besarnya biaya yang harus
dibayarkan. Ketika DM dapat dikontrol dengan baik, penderita DM akan
merasakan lebih baik dan merasa aman dari ancaman komplikasi DM. namun,
ketika DM tidak terkontrol dengan baik penderita akan mengalami stress dan hal
tersebut dapat memicu kecemasan akan terjadinya komplikasi pada penderita DM.
Hal inilah yang akan menyebabkan penderita DM akan lebih mudah mengalami
depresi.