Anda di halaman 1dari 2

Tarekat ini dimasyhurkan oleh Muhammad bin Muhammad Bahauddin Al-Uwaisi al Bukhari Naqsyabandi Q.S.

(Mursyid yang berada pada silsilah ke-15 dalam Tarekat Naqsyabandiyah). Pada sumber lain nama beliau ditulis
Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad Al-Husayni Al-Uwaysi Al-Bukhari sementara ada pula yang menyebutnya
dengan nama Bahauddin Shah Naqsyabandi. Beliau lahir di Qashrul Arifan, sebuah desa di kawasan Bukhara, Asia
Tengah (Uzbekistan), pada Muharram tahun 717 H, atau tahun 1318 Masehi. Nasabnya bersambung kepada
Rasulullah SAW melalui Sayyidina Al-Husain RA.
Semua keturunan Al-Husain di Asia Tengah dan anak benua India lazim diberi gelar shah, sedangkan keturunan AlHasan biasa dikenal dengan gelar zadah dari kata bahasa Arab saadah (bentuk jamak dari kata sayyid), sesuai
dengan sabda Rasulullah SAW tentang Al-Hasan RA, "Sesungguhnya anakku ini adalah seorang sayyid."
Shah Naqsyabandi diberi gelar Bahauddin karena berhasil menonjolkan sikap beragama yang lurus, tetapi tidak
kering. Sikap beragama yang benar, tetapi penuh penghayatan yang indah.
Pada masanya, tradisi keagamaan Islam di Asia Tengah berada di bawah bimbingan para guru besar sufi yang
dikenal sebagai khwajakan (bentuk jamak dari khwaja atau khoja, yang dalam Persia berarti para kiai
agung/mahaguru). Mahaguru tersohor pada masa itu adalah Syaikh Muhammad Baba As Sammasi Q.S. (yang
berada pada silsilah ke 13).
Ketika Shah Naqsyabandi lahir, Khoja Baba Sammasi melihat cahaya menyemburat dari arah Qashrul Arifan, yaitu
saat beliau mengunjungi desa sebelahnya. Menurut riwayat lain, tanda-tanda aneh yang muncul sebelum kelahiran
Shah Naqsyabandi, berupa bau harum semerbak ke penjuru desa kelahirannya. Bau harum itu tercium ketika
rombongan Khoja Baba Sammasi, bersama pengikutnya melewati desa tersebut. Ketika itu Khoja Baba Sammasi
berkata, "Bau harum yang kita cium sekarang ini datang dari seorang laki-laki yang akan lahir di desa ini." Sekitar tiga
hari sebelum Shah Naqsyabandi lahir, wali besar ini kembali menegaskan bahwa bau harum itu semakin semerbak.
Setelah Shah Naqsyabandi lahir, dia segera dibawa oleh ayahnya kepada Khoja Baba Sammasi di daerah Sammas
(sekitar 4 km dari Bukhara). Khoja Baba Sammasi menerimanya dengan gembira dan berkata, "Ini adalah anakku,
dan menjadi saksilah kamu bahwa aku menerimanya."
Sumber lain meriwayatkan, setelah 18 tahun Shah Naqsyabandi lahir, Khoja Baba Sammasi memanggil kakek
Bahauddin agar membawanya kehadapan dirinya dan langsung dibaiat. Beliau lalu mengangkat Bahauddin sebagai
putranya.
Sebelum meninggal dunia, Khoja Baba Sammasi memberi wasiat kepada penerusnya, Syaikh As Sayyid Amir Kulal
Q.S. (silsilah ke 14), agar mendidik Shah Naqsyabandi meniti suluk sufi sampai ke puncaknya seraya menegaskan,
"Semua ilmu dan pencerahan spiritual yang telah kuberikan menjadi tidak halal bagimu kalau kamu lalai
melaksanakan wasiat ini!"
Tarekat ini dimasyhurkan oleh Muhammad bin Muhammad Bahauddin Al-Uwaisi al Bukhari Naqsyabandi Q.S.
(Mursyid yang berada pada silsilah ke-15 dalam Tarekat Naqsyabandiyah). Pada sumber lain nama beliau ditulis
Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad Al-Husayni Al-Uwaysi Al-Bukhari sementara ada pula yang menyebutnya
dengan nama Bahauddin Shah Naqsyabandi. Beliau lahir di Qashrul Arifan, sebuah desa di kawasan Bukhara, Asia
Tengah (Uzbekistan), pada Muharram tahun 717 H, atau tahun 1318 Masehi. Nasabnya bersambung kepada
Rasulullah SAW melalui Sayyidina Al-Husain RA.
Semua keturunan Al-Husain di Asia Tengah dan anak benua India lazim diberi gelar shah, sedangkan keturunan AlHasan biasa dikenal dengan gelar zadah dari kata bahasa Arab saadah (bentuk jamak dari kata sayyid), sesuai
dengan sabda Rasulullah SAW tentang Al-Hasan RA, "Sesungguhnya anakku ini adalah seorang sayyid."
Shah Naqsyabandi diberi gelar Bahauddin karena berhasil menonjolkan sikap beragama yang lurus, tetapi tidak
kering. Sikap beragama yang benar, tetapi penuh penghayatan yang indah.
Pada masanya, tradisi keagamaan Islam di Asia Tengah berada di bawah bimbingan para guru besar sufi yang
dikenal sebagai khwajakan (bentuk jamak dari khwaja atau khoja, yang dalam Persia berarti para kiai
agung/mahaguru). Mahaguru tersohor pada masa itu adalah Syaikh Muhammad Baba As Sammasi Q.S. (yang
berada pada silsilah ke 13).

Ketika Shah Naqsyabandi lahir, Khoja Baba Sammasi melihat cahaya menyemburat dari arah Qashrul Arifan, yaitu
saat beliau mengunjungi desa sebelahnya. Menurut riwayat lain, tanda-tanda aneh yang muncul sebelum kelahiran
Shah Naqsyabandi, berupa bau harum semerbak ke penjuru desa kelahirannya. Bau harum itu tercium ketika
rombongan Khoja Baba Sammasi, bersama pengikutnya melewati desa tersebut. Ketika itu Khoja Baba Sammasi
berkata, "Bau harum yang kita cium sekarang ini datang dari seorang laki-laki yang akan lahir di desa ini." Sekitar tiga
hari sebelum Shah Naqsyabandi lahir, wali besar ini kembali menegaskan bahwa bau harum itu semakin semerbak.
Setelah Shah Naqsyabandi lahir, dia segera dibawa oleh ayahnya kepada Khoja Baba Sammasi di daerah Sammas
(sekitar 4 km dari Bukhara). Khoja Baba Sammasi menerimanya dengan gembira dan berkata, "Ini adalah anakku,
dan menjadi saksilah kamu bahwa aku menerimanya."
Sumber lain meriwayatkan, setelah 18 tahun Shah Naqsyabandi lahir, Khoja Baba Sammasi memanggil kakek
Bahauddin agar membawanya kehadapan dirinya dan langsung dibaiat. Beliau lalu mengangkat Bahauddin sebagai
putranya.
Sebelum meninggal dunia, Khoja Baba Sammasi memberi wasiat kepada penerusnya, Syaikh As Sayyid Amir Kulal
Q.S. (silsilah ke 14), agar mendidik Shah Naqsyabandi meniti suluk sufi sampai ke puncaknya seraya menegaskan,
"Semua ilmu dan pencerahan spiritual yang telah kuberikan menjadi tidak halal bagimu kalau kamu lalai
melaksanakan wasiat ini!"