Anda di halaman 1dari 10

Organisasi dan Personalia BK di sekolah

Selasa, 31 Desember 2013

Organisasi dan Personalia BK di sekolah


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sekolah adalah suatu organisasi formal. Di dalamnya terdapat usaha-usaha
administrasi untuk mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran Nasional. Bimbingan dan
Konsling adalah sub organisasi dari orgnisasi di sekolah yang melingkupinya.
Bimbingan dan Konseling disekolah merupakan bagian terpadu dari sekolah tersebut,
sehingga dalam pelaksanaannya tergantung bagaimana pengorganisasian yang dijalankan
sekolah tersebut, sehingga tidak ada tolak ukur bagaimana organisasi bimbingan dan
konseling disekolah yang terbaik.
Pengorganisasian kegiatan Bimbingan dan Konseling adalah bentuk
kegiatan
yang
mengatur
cara
kerja,
prosedur
kerja
dan
pola
atau
mekanisme
kerja
kegiatan
Bimbingan
dan
Konseling.
Kegiatan
Bimbingan dan Konseling dapat berjalan dengan lancar, tertib, efektif dan
efisien
apabila
dilaksanakan
dalam
suatu
organisasi
yang
baik
dan
teratur.Adapun pola organisasi Bimbingan dan Konseling di sekolah, dan
pola tersebut tidak perlu selalu seragam strukturnya. Setiap sekolah dapat menyusun struktur
organisasi
Bimbingan
dan
Konseling
sesuai
dengan
besar kecilnya dan kepentingan sekolah bersangkutan dalam pelaksanaan
layanan Bimbingan dan Konseling.
Layanan bimbingan dan konseling dilaksanakan di bawah tanggung jawab Kepala
Sekolah dan seluruh staf. Koordinator bimbingan dan konseling bertanggung jawab dalam
menyelenggarakan bimbingan dan konseling secara operasional. Personel lain yang
mencakup Wakil Kepala Sekolah, Guru Pembimbing (konselor), guru bidang studi, dan wali
kelas memiliki peran dan tugas masing-masing dalam penyelenggaraan layanan bimbingan
dan konseling. Secara rinci deskripsi tugas dan tanggung jawab masing-masing personil.
Bimbingan dan Konseling tidak akan dapat dilaksanakan tanpa organisasi yang baik
dan sempurna. Tanpa organisasi tersebut berarti tidak adanya koordinasi dan perencanaan,
sasaran yang cukup jelas, kontrol dan kepemimpinan yang berwibawa, tegas dan bijaksana.
Dengan arti lain, suatu organisasi yang baik ditandai oleh adanya dasar dan tujuan organisasi,
personalia dan perencanaan yang matang.
B. Tujuan Makalah
Agar dapat mengetahui bagaimana organisasi pelayanan BK di sekolah.
Agar dapat mengerti bagaimana personil/personalia pada BK di sekolah.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Organisasi Dan Personalia Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah
1. Struktur Organisasi
Struktur organisasi pelayanan bimbingan dan konseling pada setiap
satuan pendidikan tidak mesti sama. Masing-masing disesuaikan dengan kondisi satuan
pendidikan yang bersangkutan. Meskipun demikian, struktur organisasi pada setia satuan
pendidikan hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Menyeluruh, yaitu mencakup unsur-unsur penting yang terlibat di dalam sebuah satuan
pendidikan yang ditujukan bagi optimalnya bimbingan dan konseling.
b. Sederhana, maksudnya dalam pengambilan keputusan/kebijaksanaan jarak antara pengambil
kebijakan dengan pelaksananya tidak terlampau panjang. Keputusan dapat dengan cepat
diambil tetapi dengan pertimbangan yang cermat, dan pelaksanaan layanan/kegiatan
bimbingan dan konseling terhindar dari urusan birokrasi yang tidak perlu.
c. Luwes dan terbuka, sehingga mudah menerima masukan dan upaya pengembangan yang
berguna bagi pelaksanaan dan tugas-tugas organisasi, yang semuanya itu bermuara pada
kepentingan seluruh peserta didik.
d. Menjamin berlangsungnya kerja sama, sehingga semua unsur dapat saling menunjang dan
semua upaya serta sumber dapat dikoordinasikan demi kelancaran dan keberhasilan
pelayanan bimbingan dan konseling untuk kepentinga peserta didik.
e. Menjamin terlaksananya pengawasan, penilaian dan upaya tindak lanjut, sehingga
perencanaan pelaksanaan dan penilaian program bimbingan dan konseling yang berkualitas
dapat terus dilakukan. Pengawasan dan penilaian hendaknya dapat berlangsung secara
vertikal (dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas), dan secara horizontal (penilaian
sejawat).
2. Personil
Personil yang dapat berperan dalam pelayanan bimbingan dan konseling terentang
secara vertikal dan horizontal. Pada umumnya dapat diidentifikasi sebagai berikut.
a. Personil pada Kantor Dinas Pendidikan yang bertugas melakukan pengawasan (penyeliaan)
dan pembinaan terhadap penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling di satuan
pendidikan.
b. Kepala Sekolah, sebagai penanggung jawab program pendidikan secara menyeluruh
(termasuk di dalamnya program bimbingan dan konseling) di satuan pendidikan masingmasing.
c. Guru Pembimbing atau Guru Kelas, sebagai petugas utama dan tenaga inti dalam pelayanan
bimbingan dan konseling.
d. Guru-guru lain, (guru mata pelajaran Guru Praktik) serta wali kelas, sebagai penanggung
jawab dan tenaga ahli dalam mata pelajaran, program latihan atau kelas masing-masing.
e. Orang tua, sebagai penanggung jawab utama peserta didik dalam artiyang seluas-luasnya.
f. Ahli-ahli lain, dalam bidang non bimbingan dan nonpelajaran/latihan (seperti dokter,
psikolog, psikiater) sebagai subjek alih tangan kasus.
g. Sesama peserta didik, sebagai kelompok subyek yang potensialuntuk diselenggarakannya
bimbingan sebaya Untuk setiap personil yang diidentifikasikan itu ditetapkan, tugas,
wewenang, dan tanggung jawab masing-masing yang terkait langsung secara keseluruhan
organisasi pelayanan bimbingan dan konseling. Tugas, wewenang dan tanggung jawab Guru
Pembimbing sebagai tenaga inti pelayanan bimbingan dan konseling dikaitkan dengan rasio
antara seorang Guru Pembimbing dan jumlah peserta didik yang menjadi tanggung jawab

langsungnya. Guru Kelas sebagai tenaga pembimbing bertanggungjawab atas pelaksanaan


bimbingan dan konseling terhadap seluruh peserta didik di kelasnya.
Berhubungan dengan jenjang dan jenis pendidikan serta besar kecilnya satuan pendidikan,
jumlah dan kualifikasi personil (khusus personil sekolah) yang dapat dilibatkan dalam
pelayanan bimbingan dan konseling pada setiap satuan pendidikan dapat tidak sama. Dalam
kaitan itu, tugas, wewenang dan tanggung jawab masing-masing personil di setiap satuan
pendidikan disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan yang bersngkutan tanpa
mengurangi tuntutan akan efektifitas dan efisiensi pelayanan bimbingan dan konseling secara
menyeluruh demi kepentingan peserta didik.
Adapun struktur Organisasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah (SMP/MTs,
SMA/MA/SMK) adalah sebagai berikut.

Gambar 1. Struktur Organisasi Bimbingan Konseling di SMP/MTs. dan SMA/MA/SMK


Beban tanggungjawab guru pembimbing (konselor) melaksanakan layanan bimbingan dan
konseling adalah 1 : 150 siswa, sehingga jumlah konselor yang dibutuhkan pada satu sekolah
adalah jumlah seluruh siswa dibagi 150. Pemberian layanan dasar bimbingan secara klasikal
dapat memanfaatkan waktu pengembangan diri yaitu 2 (dua) jam pelajaran. Aktivitas dapat
dilakukan didalam maupun diluar kelas secara terjadwal sehingga setiap siswa memperoleh
kesempatan memperoleh layanan. Lingkup materi layanan adalah layanan pribadi, sosial,
belajar maupun karir.
Sebagaimana disebutkan dalam berbagai ketentuan yang dikutip pada awal ini,
kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah terutama dibebankan kepada Guru Pembimbing
di SMP/SMA, dan kepada Guru Kelas (di SD). Untuk dapat mengemban dan
mengembangkan pelayanan bimbingan dan konseling dengan pengertian, tujuan, fungsi,
prinsip, asas, jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung, serta jenis-jenis
program,diperlukan tenaga yang benar-benar berkemampuan, baik ditinjau dari
personalitasnya maupun profesionalitasnya.
1. Modal Personal

Modal dasar yang akan menjamin suksesnya penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan
konseling di sekolah adalah berupa karakter personal yang ada dan dimiliki oleh tenaga
penyelenggara bimbingan dan konseling. Modal personal tersebut adalah :
a.

Berwawasan luas, memiliki pandangan dan pengetahuan yang luas, terutama tentang
perkembangan
peserta
didik
pada
usia
sekoahnya,
perkembangan
ilmu
pengetahuan/teknologi/kesenian dan proses pembelajarannya, serta pengaruh lingkungan dan
modernisasi terhadap peserta didik.

b. Menyayangi anak, memiliki kasih sayang terhadap peserta didik, rasa kasih sayang ini
ditampilkan oleh Guru Pembimbing/Guru Kelas benar-benar dari hati sanubarinya (tidak
berpura-pura atu dibuat-buat) sehingga peserta didik secara langsung merasakan kasih sayang
itu.
c.

Sabar dan bijaksana, tidak mudah marah dan atau mengambil tindakan keras dan emosional
yang merugikan peserta didik serta tidak sesuai dengan kepentingan perkembangan mereka,
segala tindakan yang diambil Guru Pembimbing/Guru Kelas didasarkan pada pertimbangan
yang matang.

d. Lembut dan baik hati, tutur kata dan tindakan Guru Pembimbing/ Guru Kelas selalu
mengenakkan hati, hangat dan suka menolong.
e.

Tekun dan teliti, Guru Pembimbing/Guru Kelas setia menemani tingkah laku dan
perkembangan peserta didik sehari-hari dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan
berbagai aspek yang menyertai tingkah laku dan perkembangan tersebut.

f.

Menjadi contoh, tingkah laku, pemikiran , pendapat dan ucapan-ucapan Guru


Pembimbing/Guru Kelas tidak tercela dan mampu menarik peserta didik untuk mengikutinya
dengan senang hati dan suka rela.

g.

Tanggap dan mampu mengambil tindakan, Guru Pembimbing/Guru Kelas cepat memberikan
perhatian terhadapa apa yang terjadi dan atau mungkin terjadi pada diri peserta didik, serta
mengambil tindakan secara tepat untuk mengatasi dan atau mengantisipasi apa yang terjadi
dan mungkin apa yang terjadi itu.

h.

Memahami dan bersikarp positif terhadap pelayanan bimbingan dan konseling, Guru
Pembimbing/Guru Kelas memahami tujuan serta seluk beluk layanan bimbingan dan
konseling dan dengan bersenang hati berusaha sekuat tenaga melaksanakannya secara
professional sesuai dengan kepantingan dan perkembangan peserta didik.

2. Modal Profesional
Modal professional mencakup kemantapan wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai dan
sikap dalam bidang kajian pelayanan bimbingan dan konseling. Semuanya itu dapat diperoleh
melalui pendidikan dan atau pelatihan khusus dalam program pendidikan bimbingan dan
konseling. Dengan modal professional itu, seorang tenaga pembimbing (Guru Pembimbing
dan Guru Kelas) akan mampu secara nyata melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling
menurut kaidah-kaidah keilmuannya, teknologinya dan kode etik profesionalnya.
Apabila modal personal dan modal profesional tersebut dikembangkan dan dipadukan
dalam diri Guru Pembimbing dan Guru Kelas serta diaplikasikan dalam wujud nyata terhadap

peserta didik yaitu dalam bentuk kegiatan dan layanan pendukung bimbingan dan konseling,
dapat diyakni pelayanan bimbingan dan konseling akan berjalan dengan lancar dan sukses.
3. Modal Instrumental
Pihak sekolah atau satuan pendidikan perlu menunjang perwujudan kegiatan Guru
Pembimbing dan Guru Kelas itu dengan menyediakan berbagai sarana dan prasarana yang
merupakan modal instrumental bagi suksesnya bimbingan dan konseling, seperti ruangan
yang memadai, perlengkapan kerja sehari-hari, instrument BK dan sarana pendukung lainnya.
Dengan kelengkapan instrumental seperti itu kegiatan bimbingan dan konseling akan
memperlancar dalam keberhasilannya akan lebih dimungkinkan.
Disamping itu, suasana profesional pengembangan peserta didik secara menyeluruh perlu
dikembangkan oleh seluruh personil sekolah. Suasana profesional ini, selain
mempersyaratkan teraktualisasinya ketiga jenis modal tersebut, terlebih-lebih lagi adalah
terwujudnya saling pengertian, kerjasama dan saling membesarkan diantara seluruh personil
sekolah.

B. Jenis Layanan Konseling


1. Orientasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik memahami lingkungan baru, terutama
lingkungan sekolah/madrasah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk menyesuaikan diri
serta mempermudah dan memperlancar peran peserta didik di lingkungan yang baru.
2. Informasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menerima dan memahami berbagai
informasi diri, sosial, belajar, karir/jabatan, dan pendidikan lanjutan.
3. Penempatan dan Penyaluran, yaitu layanan yang membantu peserta didik memperoleh
penempatan dan penyaluran yang tepat di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program
studi, program latihan, magang, dan kegiatan ekstra kurikuler.
4. Penguasaan Konten, yaitu layanan yang membantu peserta didik menguasai konten tertentu,
terumata kompetensi dan atau kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah,
keluarga, dan masyarakat.
5. Konseling Perorangan, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam mengentaskan
masalah pribadinya.
6. Bimbingan Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pengembangan
pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir/jabatan, dan pengambilan
keputusan, serta melakukan kegiatan tertentu melalui dinamika kelompok.
7. Konseling Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pembahasan dan
pengentasan masalah pribadi melalui dinamika kelompok.
8. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam
memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani
kondisi dan atau masalah peserta didik.
9. Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan
memperbaiki hubungan antar mereka.
C. Kegiatan Pendukung
Aplikasi Instrumentasi, yaitu kegiatan mengumpulkan data tentang diri peserta didik dan
lingkungannya, melalui aplikasi berbagai instrumen, baik tes maupun non-tes.

Himpunan Data, yaitu kegiatan menghimpun data yang relevan dengan pengembangan
peserta didik, yang diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematis, komprehensif, terpadu,
dan bersifat rahasia.
Konferensi Kasus, yaitu kegiatan membahas permasalahan peserta didik dalam pertemuan
khusus yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan data, kemudahan dan
komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik, yang bersifat terbatas dan tertutup.
Kunjungan Rumah, yaitu kegiatan memperoleh data, kemudahan dan komitmen bagi
terentaskannya masalah peserta didik melalui pertemuan dengan orang tua dan atau
keluarganya.
Tampilan Kepustakaan, yaitu kegiatan menyediakan berbagai bahan pustaka yang dapat
digunakan peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan sosial, kegiatan belajar,
dan karir/jabatan.
Alih Tangan Kasus, yaitu kegiatan untuk memindahkan penanganan masalah peserta didik ke
pihak lain sesuai keahlian dan kewenangannya.
D. Format Kegiatan
Individual, yaitu format kegiatan konseling yang melayani peserta didik secara perorangan.
Kelompok, yaitu format kegiatan konseling yang melayani sejumlah peserta didik melalui
suasana dinamika kelompok.
Klasikal, yaitu format kegiatan konseling yang melayani sejumlah peserta didik dalam satu
kelas.
Lapangan, yaitu format kegiatan konseling yang melayani seorang atau sejumlah peserta
didik melalui kegiatan di luar kelas atau lapangan.
Pendekatan Khusus, yaitu format kegiatan konseling yang melayani kepentingan peserta
didik melalui pendekatan kepada pihak-pihak yang dapat memberikan kemudahan.

E. Program Pelayanan
Jenis Program
1. Program Tahunan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu
tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah.
2. Program Semesteran, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama
satu semester yang merupakan jabaran program tahunan.
3. Program Bulanan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu
bulan yang merupakan jabaran program semesteran.
4. Program Mingguan, yaitu program pelayanan konseling meliputi seluruh kegiatan selama
satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan.
5. Program Harian, yaitu program pelayanan konseling yang dilaksanakan pada hari-hari
tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan
dalam
bentuk
satuan
layanan (SATLAN) dan
atau
satuan
kegiatan
pendukung (SATKUNG) konseling.
F. Pelaksanaan Kegiatan
Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya, konselor berpartisipasi secara aktif
dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin, insidental dan keteladanan.
Program pelayanan konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG
dilaksanakan sesuai dengan sasaran, substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat, dan pihak-pihak
yang terkait.
1. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Konseling
a. Di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah:
Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan
informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten, kegiatan instrumentasi, serta
layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di dalam kelas.
Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan
dilaksanakan secara terjadwal
Kegiatan tidak tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi,
kegiatan konferensi kasus, himpunan data, kunjungan rumah, pemanfaatan kepustakaan, dan
alih tangan kasus.
b. Di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah:
Kegiatan tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan orientasi,
konseling perorangan,, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan mediasi, serta
kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas.
Satu kali kegiatan layanan/pendukung konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran
ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas.
Kegiatan pelayanan konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50%
dari seluruh kegiatan pelayanan konseling, diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan
sekolah/madrasah.
Kegiatan pelayanan konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG).
Volume dan waktu untuk pelaksanaan kegiatan pelayanan konseling di dalam kelas dan di
luar kelas setiap minggu diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah
Program pelayanan konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan
memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang
kelas, dan mensinkronisasikan program pelayanan konseling dengan kegiatan pembelajaran

mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler, serta mengefektifkan dan mengefisienkan
penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah.

BAB III
KESIMPULAN
Struktur organisasi pelayanan bimbingan dan konseling pada setiap satuan pendidikan
tidak mesti sama. Masing-masing disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan yang
bersangkutan.
Personil yang dapat berperan dalam pelayanan bimbingan dan konseling terentang secara
vertikal dan horizontal.
Apabila modal personal dan modal profesional tersebut dikembangkan dan dipadukan
dalam diri Guru Pembimbing dan Guru Kelas serta diaplikasikan dalam wujud nyata terhadap
peserta didik yaitu dalam bentuk kegiatan dan layanan pendukung bimbingan dan konseling,
dapat diyakni pelayanan bimbingan dan konseling akan berjalan dengan lancar dan sukses.

DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas.2008. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bahan Belajar Mandiri Musyawarah
Kerja Pengawas Sekolah), Jakarta: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan
Tenaga Kependidikan]
Sumber : http://kolom-edukasi.blogspot.com/2010/07/kegiatan-bimbingan-dan-konselingdi.html
Prayitno. 1997. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di
Sekolah Buku II Pelayanan Bimbingan dan Konseling (SLTP).
Jakarta: kerjasama koperasi karyawan pusgrafin dengan penerbit
Penebar Aksara.
Jones, J.J. 1987. Secondary School Administration. New York: Mc Graw Hill Book