Anda di halaman 1dari 5

SEJARAH PERKEMBANGAN HAM

Nama : Muhammad Nur Rois


NIM : 1114101221

1. PENGERTIAN HAM
Istilah Hak Asasi Manusia (HAM) dalam beberapa bahasa asing dikenal dengan
sebutan droit de ihome (Perancis), yang berarti hak manusia, human right (Inggris)
atau mensen rechten (Belanda) yang dalam bahasa Indonesia disalin menjadi hakhak kemanusiaan atau hak-hak asasi manusia.
Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak dasar yang dimiliki manusia sesuai dengan
kodratnya, melekat pada diri manusia dan tanpa hak-hak itu manusia tidak dapat
hidup layak sebagai manusia.Seperti yang tertuang dalam pembukaan piagam hak
asasi manusia vide Tap MPR No.XVII/MPR/1998 Hak Asasi Manusia adalah hak-hak
dasar yang melekat pada diri manusia secara kodrat, universal, dan abadi sebagai
anugerah yang diberikan oleh tuhan yang maha esa.Seperti hak hidup, hak
berkeluarga, hak untuk mengembangkan diri, hak keadilan, hak kemerdekaan, hak
berkomunikasi, hak keamanan, dan hak kesejahteraan merupakan hak yang tidak
boleh deiabaikan atau dirampas oleh siapapun.
Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat
dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan
anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara,
hukum, Pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat
dan martabat manusia (pasal 1 ayat 1 UU No.39 Tahun 1999).
Koentjoro Poerbapranoto (1976) berpendapat, Hak Asasi Manusia adalah hak-hak
yang dimiliki manusia menurut kodratnya yang tidak dapat dipisahkan dari
hakikatnya sehingga sifatnya suci.
John Locke mengemukakan bahwa HAM adalah hak-hak yang diberikan langsung
oleh Tuhan yang Maha Pencipta sebagai sesuatu yang bersifat kodrati(Mansyur
Effendi, 1994).
Prof. Dr. Dardji Darmodiharjo, SH mengemukakan bahwa HAM adalah hak-hak
dasar atau hak-hak pokok yang dibawa manusia sejak lahir sebagai anugerah Tuhan
Yang Maha Esa.

2. SEJARAH HAM
Sejarah Nasional Hak Asasi Manusia (HAM):
Deklarasi HAM yang dicetuskan di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal
10 Desember 1948, tidak berlebihan jika dikatakan sebagai puncak peradaban umat
manusia setelah dunia mengalami malapetaka akibat kekejaman dan keaiban yang
dilakukan negara-negara Fasis dan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II.
Deklarasi HAM sedunia itu mengandung makana ganda, baik ke luar
(antarnegara-negara) maupun ke dalam (antar negara-bangsa), berlaku bagi semua
bangsa dan pemerintahan di negara-negaranya masing-masing. Makna ke luar
adalah berupa komitmen untuk saling menghormati dan menjunjung tinggi harkat

dan martabat kemanusiaan antar negara-bangsa, agar terhindar dan tidak


terjerumus lagi dalam malapetaka peperangan yang dapat menghancurkan nilainilai kemanusiaan. Sedangkan makna ke dalam, mengandung pengertian bahwa
Deklarasi HAM sedunia itu harus senantiasa menjadi kriteria objektif oleh rakyat
dari masing-masing negara dalam menilai setiap kebijakan yang dikelauarkan oleh
pemerintahnya.
Adapun hakikat universalitas HAM yang sesungguhnya, bahwa ke-30 pasal
yang termaktub dalam Deklarasi HAM sedunia itu adalah standar nilai kemanusiaan
yang berlaku bagi siapapun, dari kelas sosial dan latar belakang primordial apa pun
serta bertempat tinggal di mana pun di muka bumi ini. Semua manusia adalah
sama. Semua kandungan nilai-nilainya berlaku untuk semua.
Di Indonesia HAM sebenarnya telah lama ada. Sebagai contoh, HAM di
Sulawesi Selatan telah dikenal sejak lama, kemudian ditulis dalam buku-buku adat
(Lontarak). Antara lain dinyatakan dalam buku Lontarak (Tomatindo di Lagana)
bahwa apabila raja berselisih faham dengan Dewan Adat, maka Raja harus
mengalah. Tetapi apabila para Dewam Adat sendiri berselisih, maka rakyatlah yang
memustuskan. Jadi asas-asas HAM yang telah disorot sekarang, semuanya sudah
diterpkan oleh Raja-Raja dahulu, namun hal ini kurang diperhatikan karena sebagian
ahli hukum Indonesia sendiri agaknya lebih suka mempelajari teori hukum Barat.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa HAM sudah lama lahir di Indonesia,
namun dalam perkembangannya tidak menonjol karena kurang dipublikasikan.
Human Rights selalu terkait dengan hak individu dan hak masyarakat. Ada yang bertanya
mengapa tidak disebut hak dan kewajban asasi. Juga ada yang bertanya mengapa bukan Social Rights.
Bukankan Social Rights mengutamakan masyarakat yang menjadi tujuan ? Sesungguhnya dalam Human
Rights sudah implisit adanya kewajiban yang harus memperhatikan kepentingan masyarakat. Demikian
juga tidak mungkin kita mengatakan ada hak kalau tanpa kewajiban. Orang yang dihormati haknya
berkewajiban pula menghormati hak orang lain. Jadi saling hormat-menghormati terhadap masing-masing
hak orang. Jadi jelaslah kalau ada hak berarti ada kewajiban.

3. PERKEMBANGAN HAM DI INDONESIA


Berikut ini adalah perkembangan HAM di Indonesia:

Periode sebelum kemerdekaan (1908-1945)


Sebelum Indonesia merdeka,banyak organisasi pergerakan
nasional berpemikiran HAM,beberapa organisasi telah memperlihatkan
adanya kesdaran berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui
petisi-petisi yang dilakukan kepada colonial maupun dalam tulisan
dalam suratkabar.Beberapa organisasi yang bergerak dalam konteks
pemikiran HAM sebelum kemerdekaan adalah: Boedi Oetomo,
Perhimpunan Indonesia, Sarekat Islam, Partai Komunis Indonesia,

Indische partij, Partai Nasional Indonesia, Organisasi Pendidikan


Nasional Indonesia.

Periode Orde Lama (1945-1966)


Pemikiran HAM pada periode awal kemerdekaan masih pada hak
untuk merdeka, hak kebebbasan untuk berserikat melalui organisasi
politik yang didirikan serta hak kebebasan untuk menyampaikan
pendapat terutama diparlemen.Pemikiran HAM telah mendapat
legitimasi secara formal karena telah memperoleh pengaturan dan
masuk kedalam hokum dasar Negara (konstitusi) yaitu,UUD
45.Komitmen terhadap HAM pada periode awal sebagaimana
ditunjukan dalam maklumat pemerintah tanggal 1 November.langkah
selanjutnya memberikan keleluasaan kepada rakyat untuk mendirikan
partai politik.Sebagaimana tertera dalam maklumat pemerintah
tanggal 3 November 1945.

Periode Orde Baru (1966-1998)


Pada periode ini proses penegakan HAM mengalamai
kemunduran ,karena HAM tidak lagi dihormati, dilindungi, dan
ditegakkan.Sikap defensive pemerintah tercermin dengan peran media
yang tidak bebas, kebebasan bersuara atau berpendapat di depan
umum dibatasi bahkan terkadang dilarang.Banyak terjadi kasusx
pelanggaran HAM yang belum terpecahkan samapi sekarang yaitu
Tragedi Semanggi, Tanjung Priok, Peristiwa Tri Sakti.Namun pada
periode ini ada sedikit kemajuan dalam proses penegakan HAM salah
satunya dibentuknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS
HAM) berdasarkan KEPRES No.50 tahun 1993 tanggal 7 Juni 1993.

Periode Reformasi (1998-Sekarang)


Pergantian rezim pemerintahan pada tahun 1998 memberikan
dampak yang sangat besar pada penegakan dan perlindungan HAM di
Indonesia.Pada saat ini mulai dilakukan pengkajian terhadap beberapa
kebijakan pemerintah orde baru yang berlawanan dengan pemajuan
dan perlindungan HAM.Selanjutnya dilakukan penyusunan peraturan
perundang-undangan yang berkaitan dengan pemberlakuan HAM
dalam kehidupan ketatanegaraan dan kemasyarakatan di
Indonesia.Banyak pengusutan dan penyeledikan kasus pelanggaran
pada masa reformasi ini.

4. BENTUK DAN CONTOH PELANGGARAN HAM DI INDONESIA


Berikut ini adalah contoh pelanggaran HAM di Indonesia:

Terjadinya penganiayaan pada praja STPDN oleh seniornya yang


menyebabkan meninggalnya Klip Muntu pada tahun 2003
Kasus Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri yang banyak
dianiaya,diperkosa, dan gajinya tidak dibayar
Kasus Babe yang telah membunuh anak-anak dan menyodomi mereka
Penculikan aktivis 1997/1998
Penenembakan mahasiswa Trisakti
Peristiwa Tanjung Priok
Kasus pembunuhan aktivis HAM ,Munir