Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II

PERCOBAAN I

ION KOMPLEKS KARBONATOTETRAAMINKOBALT(III)

Disusun Oleh :
Nama

: Nur Fitriani

NIM

: 09/283536/PA/12597

Hari, Tanggal

: Selasa, 20 Maret 2012

Asisten

: Adhi Dwi H

LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2012

ION KOMPLEKS KARBONATOTETRAAMINKOBALT(III)


INTISARI
Nur Fitriani
09/283536/PA/12597
Telah dilakukan percobaan Ion Kompleks Karbonatotetraminkobalt(III) dengan
tujuan mempelajari cara pembuatan, cara pemurnian, dan karakterisasi ion kompleks
[Co(NH3)4CO3]+.
Ion kompleks karbonatotetraminkobalt(III) dibuat dengan mereaksikan
Co(NO3)2 6H2O, NH4OH, dan NH4CO3 dalam medium air dan diikuti dengan oksidasi
H2O2. Produk berupa kompleks [Co(NH3)4CO3]NO3 kemudian dimurnikan dengan
metode rekristalisasi dan kemudian dikarakterisasi dengan metode konduktometri.
Kompleks yang terbentuk berupa kristal berwarna ungu dengan berat rendemen
.% dan berdasarkan konduktivitas molarnya membentuk dua ion yaitu
[Co(NH3)4CO3]+ dan NO3-.
Keyword : karbonatotetraaminkobalt(III), ion kompleks

ION KOMPLEKS KARBONATOTETRAAMINKOBALT(III)

I.

TUJUAN
Mempelajari cara pembuatan, cara pemurnian, dan karakterisasi ion kompleks
[Co(NH3)4CO3]+

II.

LANDASAN TEORI
Ion kompleks atau molekul terdiri dari atom atau ion pusat dan sejumlah ligan.
Jumlah relatif komponen-komponen ini dalam kompleks stabil mengikuti ketentuan
stoikiometri , walaupun ini tidak diinterpretasikan dengan konsep klasik valensi.
Atom pusat dapat dikarakterkan oleh bilangan koordinasi yang menunjukkan jumlah
ligan (monodentat) yang dapat membentuk kompleks stabil dengan satu atom pusat.
Dalam kebanyakan kasus, bilangan koordinasi adalah 6 (sebagai dalam kasus Fe 2+,
Fe3+, Zn2+, Cr3+, Co3+, Ni2+), kadang 4 (Cu2+, Cu2+), tetapi 2 (Ag2+) dan 8 ( beberapa
ion dalam kelompok platinum) bisa terbentuk. Ligan tersusun disekitar atom pusat
secara simetris. Ion anorganik sederhana dan molekul seperti NH3, CN-, Cl-, H2O
membentuk ligan monodentat (Svehla,1979).
Dalam menjelaskan proses pembentukan dan susunan koordinasi senyawa
senyawa komleks, Werner merumuskan dalam tiga aturan atau teorema :
1. beberapa kompleks ion logam mempunyai dua jenis valensi, yaitu valensi utama
dan valensi tambahan atau valensi koordinasi. Valensi utama berkaitan dengan
keadaan oksidasi ion logam, sedangkan valensi tambahan berkaitan dengan bilangan
koordinasi ion logam.
2. Ion ion logam itu cenderung jenuh baik valensi utamanya maupun valensi
tambahannya.
3. valensi koordinasi mengarah ke dalam ruangan mengeliligi ion logam pusat.
Intisari proses pembentukan senyawa kompleks koordinasi adalah perpindahan
satu atau lebih pasangan electron dari ligan ke ion logam.
Proses pembentukan ikatan donor akseptor electron tersebut dapat
digambarkan dengan persaman
M + :L M:L
Dimana M adalah ion logam dan L adalah liganyang mempunyai pasangan electron
(Rivai, Harrizul, 1995, asas pemeriksaan kimia, ui press, Jakarta.)
Konduktometri merupakan metode analisis kimia berdasarkan daya hantar listrik
suatu larutan. Daya hantar listrik (G) suatu larutan bergantung pada jenis dan
konsentrasi ion di dalam larutan. Daya hantar listrik berhubungan dengan
pergerakan suatu ion di dalam larutan ion yang mudah bergerak mempunyai daya
hantar listrik yang besar ( Masykuri, 2009).
Untuk menghindari elektrolisis, pengukuran hantaran dilakukan dengan arus
bolak-balik (AC) dengan frekuensi sekitar 1000Hz. Biasanya digunakan suatu
jembatan wheatstone yang dimodifikasi untuk melakukan penentuan hantaran
elektrolit (L) yang beroperasi pada sumber energy AC. Kondisi kesetimbangan dapat

diamati dengan seksama dengan menggunakan galvanometer AC, maupun


earphone. Suatu kondisi kesetimbangan terbentuk bila output dari amplifier, ataupun
suara dalam earphone mempunyai nilai nol, yaitu keadaan di mana :
R
1 R3
Rx R 2
(Khopkar, 2008)
III.

METODE PERCOBAAN
a. ALAT DAN BAHAN
ALAT
Alat alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah gelas ukur 50 mL, gelas
ukur 10 mL, corong gelas, penyaring Buchner, Erlenmeyer 250 mL, gelas beker
100 mL, gelas beker 150 mL, pipet tetes, konduktometer, dan hot plate.
BAHAN
Bahan bahan yang digunakan adalah kobalt (II) nitrat heksahidrat, ammonium
karbonat, larutan ammonium 15 M, larutan hydrogen peroksida 30%, kertas
saring, kertas whattman 42, akuades dan etanol.
b. CARA KERJA
Kristal Co(NO3)2. 6H2O sebanyak 7,5 g (26 mmol) dilarutkan dengan 15 mL
akuades dalam gelas beker 250 mL (gelas beker pertama).
Sebanyak 10 g (NH4)CO3 dilarutkan dengan 30 mL akuades dalam gelas
beker 250 mL dan diaduk kemudian ditambah 30 mL NH4OH 15 M. Larutan
dituang ke gelas beker pertama.
Sebanyak 4 mL H2O2 30% ditambahkan secara bertetes tetes di awal
pemanasan dan diaduk terus menerus. Pemanasan dilakukan sampai volume
larutan 75 60 mL dalam lemari asam. Selama pemanasan ditambahkan 2,5 g
(NH4)2CO3. Larutan dijaga agar tidak sampai mendidih.
Larutan yang masih panas disaring dengan2 lapis kertas saring dan filtrat
ditampung dalam gelas beker 250 mL dan ditutup dengan plastic dan didinginkan
dalam pendingin/kulkas hingga terbentuk kristal. Jika telah terbentuk kristal,
larutan disaring dengan kertas whattman 42. Kristal dicuci dengan akuades dan
etanol bertetes tetes. Kristal dikeringkan dan ditimbang.

IV.

HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


Hasil Percobaan
1. Produk yang dihasilkan garam kompleks [Co(NH4)4CO3]NO3 berbentuk kristal
berwarna ungu dan tidak berbau
2. Berat rendemen :

a.

3.

Konduktivitas molar menunjukkan bahwa senyawa yang terbentuk adalah


[Co(NH4)4CO3]NO3 dengan jumlah ion dalam larutan berair adalah 2.

b. Pembahasan
Oksidasi oleh H2O2
H2O2 + Co(Nh3)6 ] 2+ + CO3
Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari cara pembuatan, cara pemurnian, dan
karakterisasiion kompleks [Co(NH3)4CO3]+.
Senyawa atau ion kompleks terdiri dari ion pusat, yang umumnya merupakan ion
atau atom logam, dan sejumlah ligan. Ligan terikat secara kovalen koordinasi,
dengan logam atau ion pusat. Jumlah ligan yang terikat ditentukan oleh bilangan
koordinasi dan jenis ligan. Ion logam Co2+ mempunyai bilangan oksidasi 6, yang
berarti dapat menerima 6 pasang elektron donor.

Ion kompleks .dibuat dalam bentuk garam dengan mereaksikan


Co(No3)2.6H2O, NH4OH, dan NH4CO3 dalam medium air dan diikuti oksidasi
dengan H2O2. Kristal yang terbentuk dimurnikan dengan mengendapkan dan
dicuci dengan etanol dan akuades dengan jumlah sedikit.
Untuk membuat kompleks .. digunakan 7,5 g kristal ---- yang dillarutkan
dengan 15 mL akuades dalam gelas beker. Pelarutan berfungsi untuk reaksi dapat
berjalan dengan maksimal. Selain itu, dengan pelarutan kristal garam akan terurai
menjadi ion kompleks ---dan ion No3.
Reaksinya
Pada gelas beker yang lain dilarutkan (NH4)2Co3 sebanyak 10 g dengan 30 mL
akuades dan diatmbah 30 ml NH3 15 M. Kedua larutan kemudian dicampur dan
dipanaskan sambil diaduk terus menerus. Pemanasan bertujuan untuk
meningkatkan kecepatan reaksi dengan menambah energi kalor atau panas.
Dengan adanya kalor energi untuk meninngkatkan energi tumbukan antar molekul.
Pengadukan akan meningkatkan intensitas kontak dan tumbukan antar molekul.
Pemanasan dilakukan sampai larutan menjadi + 75 mL. pemanasan dilakukan di
dalam lemari asam karena pada reaksi ini dihasilkan gas NH3 atau amoniak.
Pada saat dipanaskan ditambahkanH2O2 sebagai oksidator Co2+ .
Rx stgah sel h2o2 adalah
H2o2 + 2H+ + 2e 2H2O
Ligan dalam ion kompleks akan terganti dengan NH3 karena H2O merupakan
ligan yang lebih lemah dibanding dengan NH3. Dalam kasus kobalt,
bagaimanapun, hanya empat dari 6 molekul ligan H2O yang dapat digantikan oleh
NH3 dan membentuk larutan berwarna merah. Dua ligan h2o yg tidak terganti
dengan nh3 inilah yang kemudian terganti/terdesak oleh molekul ligan CO32Reaksi total.
Warna berasal dari ion kompleks yang terbentuk. Orbital d pada kobalt (II) akan
mengalami splitting oleh pengikatan ligan H2O. elektron dapat mengalami transisi
dari orbital t2g menuju orbital eg dengan menyerap panjang gelombang pada
spektra cahaya tampak. Warna yang tidak terserap (warna komplementer) akan
tampak sebagai warna dari senyawa kompleks
Setelah volume + 75 mL larutan disaring dengan kertas saring dan dituang ke
dalam gelas beker untuk kemudian didinginkan di dalam pendingin/kulkas hingga
terbentuk endapan kristal. Apabila endapan telah terbentuk, larutan disaring
dengan kertas whattman 42 dan penyaring Buchner hingga kandungan air benar
benar sedikit. Endapan dikemudian dicuci dengan etanol dan air bertetes tetes. .
pencucian dengan air bertujuan untuk mengihilangkan ion ion lain yang masih
melekat pada kristal, sedangkan etanol digunakan untuk menghilangkan
pengotor.kristal dikeringkan dengan oven. Kristal yg terbentuk ditimbang.
Kristal yang terbentuk berwarna ungu tua dengan berat 1,03 g. berat rendemen
adalah 15,89%..Rendemen yang diperoleh relatif rendah hal ini dapat dikarenakan
beberapa hal. Reaktan tidak bereaksi maksimal, sehingga senyawa kompleks yang
terbentuk hanya sedikit. Dapat juga terjadi karena kandungan air dalam larutan

masih cukup tinggi sedangkan kristal senyawa komplek larut dalam air sehingga
kristal yang terbentuk berkurang.
.rendemen diperoleh dari kelompok lain karena kelompok praktikan tidak
terbentuk produk. Hal ini dapat dikarenakan pemanasan yang kurang maksimal
karena penggunaan gelas beker kecil. Dimungkinkan kadar air masih terlalu
tinggi, sehingga kompleks yang terbentuk terlarut oleh air dalam larutan.
Komplek kering yang terbentuk kemudian dilarutkan dalam labu ukur 100 ml
dan diukur DHL nya. Kalibrasi dilakukan dengan menggunakan larutan KOH
0,001 M. DHL ditentukan oleh mobilitas dari ion ion dalam larutan. Semakin
banyak ion dalam larutan maka akan semakin tinggi daya hantar listriknya.
Daya hantar listrik yang diperoleh berada di dua range DHL, yaitu 209,,,,,. Hal
ini dimungkinkan karena adanya pengotor lain yang belum bersih saat pencucian
sehingga menjadi ion ionnya saat dilarutkan kembali sewaktu pengukuran.
Range ini berada diperkiraan jumlah ion 2 dan 3. Dan diambil jumlah ion 2
karena senyawa yang terbentuk akan menjadi 2 buah ion, yaitu ..

V.

VI.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari pecobaan ini adalah
1. Senyawa kompleks [Co(NH4)4CO3]NO3 berbentuk kristal berwarna ungu.
2. Dalam larutan berair, kompleks [Co(NH4)4CO3]NO3 membentuk dua ion yaitu ion
kompleks kompleks [Co(NH4)4CO3]+ dan NO3- .
DAFTAR PUSTAKA
Khopkar, S. M, 2008, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI Press, Jakarta
Lawrance, Geoffrey A. , 2010, Introduction to Coordination Chemistry, John
Wiley&Sons, United Kingdom
Masykuri, M., 2009, Kimia Analitik III, UNS, Solo
Rivai, Harrizul, 1995, Asas Pemeriksaan Kimia, UI Press, Jakarta

Svehla, G. ,1979, Vogels Textbook of Macro and Semimicro Qualitative Inorganic


Analysis, Longman, New York
Lampiran
- Laporan Sementara
- Perhitungan

Yogyakarta, 3 April 2012


Praktikan

Asisten

Adhi Dwi H

Nur Fitriani

Perhitungan
1. Berat rendemen
Co(NO3)2.6H2O + H2O [Co(H2O)6]2+ + 2NO320,026 mol
0,026 mol
0,052 mol
Co2+
Co3+ + e2Co2+
2Co3+ + 2e2+
2+
H2O2 + 2e + H 2H2O
H2O2 + 2e + H 2H2O
2Co2+ + H2O2 + H+ 2Co3+
Reaksi oksidasi total
2Co2+
+ H2O2
+ 2H+ 2Co3+ + H2O
0,026 mol
0,185 mol
0,026
[Co(H2O)6]2+ +(NH4)2CO3 + 6NH3 +

2NO32- +

H2O2

[Co(NH3)4CO3]NO3 + 2NH4 + H2O

0,026 mol 0,130 mol 0,45 mol


0,052 mol 0,0012 mol
0,0012 mol 0,0012 mol 0,0072 mol 0,0024 mol 0,0012 mol
Berat teoritis = Mr x mol

0,0012 mol

= 249,0678 g/mol x 0,0012 mol


= 6,4757628 g
Berat eksperimen = 1,03 g
berat eksperimen
1,03 g

x 100 =
Rendemen
berat teoritis
6,48 g
2. Karakterisasi
Jumlah Ion
2
3
4
5

x 100% = 15,89%

Kisaran Daya Hantar Listrik


118 131
235 273
408 435
- 560

DHL eksperimen :209,71 => jumlah ion 2