Anda di halaman 1dari 16

1

ERITRODERMA
BAB 1
Pendahuluan
Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari
lingkungan hidup manusia. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta
merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Salah satu kelainan kulit yang dapat
menyebabkan terganggunya fungsi kulit adalah eritroderma.1
Eritroderma adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya kemerahan atau
eritema yang bersifat generalisata yang mencakup 90% permukaan tubuh yang
berlangsung dalam beberapa hari sampai beberapa minggu.Bila eritemanya antara
50-90% dinamakan pre-eritroderma.3Dermatitis eksfoliativa dianggap sinonim
dengan eritroderma.2,4Bagaimanapun, kedua istilah ini adalah berbeda, karena
pada gambaran klinik dapat menghasilkan penyakit yang berbeda. Pada banyak
kasus, eritroderma umumnyadisebabkan kelainan kulit yang ada sebelumnya
(misalnya psoriasis atau dermatitis atopik), cutaneous T-cell lymphoma (CTCL)
atau reaksi obat. Identifikasi penyakit yang menyertai menggambarkan satu dari
sekian banyak kelainan kulit.5
1.1 Epidemiologi
Insidens eritroderma sangat bervariasi, menurut penelitian dari 0,9-70 dari
100.000 populasi. Penyakit ini dapat mengenai pria ataupun wanita namun paling
sering pada pria dengan rasio 2 : 1 sampai 4 : 1, dengan onset usia rata-rata > 40
tahun, meskipun eritroderma dapat terjadi pada semua usia.Insiden eritroderma
makin bertambah. Penyebab utamanya adalah psoriasis. Hal tersebut seiring
dengan meningkatnya insidens psoriasis.3,6
Penyakit kulit yang sedang diderita memegang peranan penting lebih dari
setengah kasus dari eritroderma. Identifikasi psoriasis mendasari penyakit kulit
lebih dari seperempat kasus. Didapatkan laporan bahwa terdapat 87 dari 160 kasus
adalah psoriasis berat.6
Abraham et al. menyatakan bahwa dari 101 kasus eritroderma didapatkan 75%
adalah pria dengan usia rata-rata 50 tahun, dengan durasi penyakit adalah 5 tahun.

Anak-anak bisa menderita eritroderma diakibatkan alergi terhadap obat. Alergi


terhadap obat bisa karena pengobatan yang dilakukan sendiri ataupun penggunaan
obat secara tradisional.2
1.2 Etiologi
Eritroderma dapat disebabkan oleh akibat alergi obat secara sistemik, perluasan
penyakit kulit, penyakit sistemik termasuk keganasan. 6 Penyakit kulit yang dapat
menimbulkan eritroderma diantaranya adalah psoriasis 23%, dermatitis spongiotik
20%, alergi obat 15%, CTCL atau sindrom sezary 5%.7
Secara morfologis gambaran eritroderma menyerupai beberapa kelainan kulit dan
penyakit sistemik, begitu pula akibat alergi obat-obatan tertentu (Tabel 1).
Eritroderma yang disebabkan oleh alergi obat secara sistemik
Keadaan ini banyak ditemukan pada dewasa muda. Obat yang dapat menyebabkan
eritroderma adalah arsenik organik, emas, merkuri (jarang), penisilin, barbiturat.
Insiden ini dapat lebih tinggi karena kebiasaan masyarakat orang sering
melakukan pengobatan sendiri dan pengobatan secara tradisional. 2Waktu
mulainya obat ke dalam tubuh hingga timbul penyakit bervariasi dapat segera
sampai 2 minggu. Gambaran klinisnya adalah eritema universal. Bila ada obat
yang masuk lebih dari satu yang masuk ke dalam tubuh diduga sebagai
penyebabnya ialah obat yang paling sering menyebabkan alergi.3
Eritroderma yang disebabkan oleh perluasan penyakit kulit
Eritroderma et causa psoriasis, merupakan eritroderma yang paling
banyak ditemukan dan dapat disebabkan oleh penyakit psoriasis maupun akibat
pengobatan psoriasis yang terlalu kuat.3
Dermatitis seboroik pada bayi juga dapat menyebabkan eritroderma yang
juga dikenal sebagai penyakit Leiner. Etiologinya belum diketahui pasti. Usia
penderita berkisar 4-20 minggu.Ptyriasis rubra pilaris yang berlangsung selama
beberapa minggu dapat pula menjadi eritroderma. Selain itu yang dapat
menyebabkan eritroderma adalah pemfigus foliaseus, dermatitis atopik dan liken
planus.2,3
Eritroderma akibat penyakit sistemik

Berbagai penyakit atau kelainan alat dalam termasuk infeksi fokal dapat memberi
kelainan kulit berupa eritroderma. Jadi setiap kasus eritroderma yang tidak
termasuk akibat alergi obat dan akibat perluasan penyakit kulit harus dicari
penyebabnya, yang berarti perlu pemeriksaan menyeluruh (termasuk pemeriksaan
laboratorium dan sinar X toraks), untuk melihat adanya infeksi penyakit pada alat
dalam dan infeksi fokal.

Ada kalanya terdapat leukositosis namun tidak

ditemukan penyebabnya, jadi terdapat infeksi bakterial yang tersembunyi (occult


infection) yang perlu diobati.3
Tabel 1. Proses yang Berkaitan dengan Timbulnya Eritroderma
Penyakit Kulit
Dermatitis atopik

Penyakit Sistemik
Mikosis fungoides

Obat-obatan
Sulfonamid

Dermatitis kontak

Penyakit Hodgkin

Antimalaria

Dermatofitosis

Limfoma

Penisilin

Penyakit Leiner

Leukemia akut dan kronis

Sefalosporin

Liken planus

Multipel mieloma

Arsen

Mikosis fungoides

Karsinoma paru

Merkuri

Pemfigus foliaceus

Karsinoma rektum

Barbiturat

Pitiriasis rubra

Karsinoma tuba falopii

Aspirin

Psoriasis

Dermatitis

Kodein

Sindrom Reiter

papuloskuamosa

Dermatitis seboroik

AIDS

Dermatitis statis

pada Difenilhidantoin
Yodium
Isoniazid
Kuinidin

Kaptopril
Sumber: Fitzpatrick et all. Fitzpatricks dermatology in general medicine.

1.3 Patofisiologi
Dalam mempelajari patogenis dari eritroderma membutuhkan pengetahuan
biologi normal dari epidermis. Seperti pada jaringan lainnya, epidermis
melakukan regenerasi secara rutin yang terjadi pada membrana basalis, dan sel-sel

ini berubah menjadi struktur keratin yang utuh melalui proses selama 10-12 hari.
Pada umumnya, sel-sel ini membutuhkan tambahan sekitar 12-14 hari lagi di
stratum korneum sebelum sel ini dilepaskan.6
Berdasarkan penelitian, jumlah skuama yang hilang pada manusia normal antara
500-1000 mg/hari.

Pengelupasan keratin paling banyak terjadi pada telapak

tangan, kulit kepala, dan dahi (kurang lebih 2-3,5 gr/m2 per 24 jam) dan paling
sedikit pada dada, lengan bawah dan tungkai bawah (0,1 gr/m 2 per 24 jam).
Karena Tubuh mengkatabolisme 50-60 gr protein per hari, pengelupasan kulit
yang fisiologis ini berperan penting dalam metabolisme protein secara
keseluruhan.6
Pada eritroderma terjadi peningkatan laju pengelupasan epidermis. Meskipun
beberapa peneliti memperkirakan sekitar 100 gr epidermis hilang setiap harinya,
tetapi pada beberapa literatur menyatakan bahwa hanya 20-30 gr yang hilang.
Pada skuama penderita eritroderma ditemukan peningkatan jumlah asam nukleat
dan hasil metabolismenya, penurunan jumlah asam amino, dan peningkatan
jumlah protein bebas.6
Reaksi tubuh terhadap suatu agen dalam tubuh (baik itu obat-obatan, perluasan
penyakit kulit dan penyakit sistemik)adalah berupa pelebaran pembuluh darah
kapiler (eritema) yang generalisata.Eritema berarti terjadi pelebaran pembuluh
darah yang menyebabkan aliran darah ke kulit meningkat sehingga kehilangan
panas bertambah. Akibatnya pasien merasa dingin dan menggigil. Pada
eritroderma kronis dapat terjadi gagal jantung. Juga dapat terjadi hipotermia
akibat peningkatan perfusi kulit. Penguapan cairan yang makin meningkat dapat
menyebabkan dehidrasi. Bila suhu badan meningkat, kehilangan panas juga
meningkat. Pengaturan suhu terganggu. Kehilangan panas menyebabkan
hipermetabolisme kompensatoar dan peningkatan laju metabolisme basal.
Kehilangan cairan oleh transpirasi meningkat sebanding laju metabolisme basal.1,6
Kehilangan skuama dapat mencapai 9 gram/m2 permukaan kulit atau lebih sehari
sehingga menyebabkan kehilangan protein Hipoproteinemia dengan berkurangnya
albumin dan peningkatan relatif globulin terutama gammaglobulin merupakan

kelainan yang khas. Edema sering terjadi, kemungkinan disebabkan oleh


pergesaran cairan ke ruang ekstravaskuler.1
Eritroderma akut dan kronis dapat menganggu mitosis rambut dan kuku berupa
kerontokan rambut dan kuku berupa kerontokan rambut difus dan kehilangan
kuku. Pada eritroderma yang telah berlangsung berbulan bulan dapat terjadi
perburukan keadaan umum yang progresif.2
1.4 Manifestasi Klinis
Gambaran klinis eritroderma beraneka ragam dan bervariasi tiap individu.
Kelainan yang paling pertama muncul adalah eritema, yang disebabkan oleh
pelebaran pembuluh darah, yang umumnya terjadi pada area genetalia,
ekstremitas, atau kepala. Eritema ini akan meluas sehingga dalam beberapa hari
atau minggu seluruh permukaan kulit akan terkena, yang akan menunjukan
gambaran yang disebut red man syndrome.6
Skuama muncul setelah eritema, biasanya setelah 2-6 hari.Skuama adalah lapisan
stratum korneum yang terlepas dari kulit. Skuama berkonsistensi mulai dari halus
sampai kasar.6 Ukuran skuama bervariasi; pada proses akut akan berukuran besar,
sedangkan pada proses kronis akan berukuran kecil. Warna skuama juga
bervariasi, dari putih hingga kekuningan. Deskuamasi yang difus dimulai dari
daerah lipatan, kemudian menyeluruh. Dapat juga mengenai membran mukosa,
terutama yang disebabkan oleh obat. Bila kulit kepala sudah terkena, dapat terjadi
alopesia, perubahan kuku, dan kuku dapat lepas. Pada eritroderma, skuama tidak
selalu terdapat, misalnya eritroderma karena alergi obat sistemik, pada mulanya
tidak disertai skuama, skuama kemudian timbul pada stadium penyembuhan
timbul.6,10

Gambar 1. Eritema disertai Skuama


Sumber: www.your-doctor.net/dermatology_atlas
Kulit kepala dapat terlibat, yang akan meluas ke folikel rambut dan matriks kuku.
Kurang lebih 25% dari pasien mengalami alopesia, dan pada banyak kasus, kuku
akan mengalami kerapuhan sebelum lepas seluruhnya. Telapak tangan dan kaki
biasanya ikut terlibat, namun jarang mengenai membran mukosa. Sering terjadi
pula bercak hiper dan hipopigmentasi.Pada eritroderma kronis, eritema tidak
begitu jelas karena bercampur dengan hiperpigmentasi.2,6
Epidermis berukuran tipis pada awal proses penyakit dan akan terlihat dan terasa
tebal pada stadium lanjut. Kulit akan terasa kering dengan krusta berwarna
kekuningan yang disebabkan serum yang mengering dan kemungkinan karena
infeksi sekunder. Pada beberapa kasus, manifestasi klinis yang muncul pada
eritroderma yang akut menyerupai nekrolisis epidermal toksik, walaupun secara
patofisiologi sangat berbeda.6
Pada eritroderma karena penyakit kulit, penyakit sistemik dan obat-obatan,sering
dijumpai

kelainan-kelainan

yang

mendasarinya,

yang

membantu

dalam

menegakan diagnosis. Sering ditemukan plak psioriasis yang masih tersisa; papul
atau lesi oral likenplanus; gambaran pulau yang khas dari pitiriasis rubra; dan lesi
papular dari drug eruption.6 Gejala dari penyakit yang mendasari ini sering sulit
ditemukan dan harus diperiksa dengan cermat.3
Pasien mengeluh kedinginan. Pengendalian regulasi suhu tubuh menjadi hilang,
sehingga sebagai kompensasi terhadap kehilangan panas tubuh, sekujur tubuh
pasien menggigil untuk dapat menimbulkan panas metabolik. Eritroderma akibat

alergi obat secara sistemik diperlukan anamnesis yang teliti untuk mencari obat
penyebabnya. Umumnya alergi timbul akut dalam waktu 10 hari. Pada mulanya
kulit hanya eritem saja, setelah penyembuhan barulah timbul skuama. 2,3 Pada
eritroderma akibat alergi obat, dapat disertai edema pada wajah dan leher.12,13

Gambar 2. Eritroderma karena alergi obat (gambar kiri); Red Man Syndrome
(gambar kanan)
Sumber: www.your-doctor.net/dermatology_atlas
Eritroderma akibat perluasan penyakit kulit seringkali pada psoriasis dan
dermatitis seboroik bayi. Psoriasis dapat menjadi eritroderma karena dua hal
yaitu: karena penyakitnya sendiri atau karena pengobatan yang terlalu kuat.
Psoriasis yang menjadi eritroderma tanda khasnya akan menghilang. Pada
eritroderma et causa psoriasis, merupakan eritroderma yang disebabkan oleh
penyakit psoriasis atau pengobatan yaitu kortikosteroid sistemik, steroid topikal,
komplikasi fototerapi, stress emosional yang berat, penyakit terdahulu misalnya
infeksi.2,3,11
1.5 Diagnosis
Diagnosis agak sulit ditegakkan, harus melihat dari tanda dan gejala yang sudah
ada sebelumnya misalnya, warna hitam-kemerahan di psoriasis dan kuningkemerahan di pilaris rubra pityriasis; perubahan kuku khas psoriasis; likenifikasi,

erosi, dan ekskoriasi di dermatitis atopik dan eksema menyebar, relatif


hiperkeratosis tanpa skuama,dan pityriasis rubra; ditandai bercak kulit dalam
eritroderma. Dengan beberapa biopsi biasanya dapat menegakkan diagnosis.2,6,9
mencari tanda dari
etiologi dari riwayat
dan pemeriksaan fisik

terlihat multiple pada


+
biopsy punch; diulangi
biopsy 3-6 bulan untuk
menentukan
diagnosis
pasti

diagnosis
pasti
dan
pengobatan
yang tepat

--

dilakukan pemeriksaan
tambahan : biopsy untuk
immunofluorescence, CBC,
CD4: ratio CD8, CXR, biopsy
kelenjar limfa

pikirkan
DD lain

Diagram 1. Diagnosis pasien yang dicurigai


(CBC = pemeriksaan sel darah, CXR = x-ray thoraks)
Sumber: Champion RH ed. Rooks, textbook of dermatology, 5th ed
1.6 Diagnosis Banding
Ada beberapa diagnosis banding pada eritorderma :
Dermatitis Atopik
Dermatitis atopik adalah peradangan kulit kronis yang terjadi di lapisan epidermis
dan dermis, sering berhubungan dengan riwayat atopik pada keluarga asma
bronchial, rhinitis alergi, konjungtivitis. Atopik terjadi diantara 15-25% populasi,

berkembang dari satu menjadi banyak kelainan dan memproduksi sirkulasi


antibodi IgE yang tinggi, lebih banyak karena alergi inhalasi. Dermatitis atopik
adalah penyakit kulit yang mungkin terjadi pada usia berapapun,tetapi biasanya
timbul sebelum usia 5 tahun. Biasanya, ada tiga tahap: balita, anak-anak dan
dewasa.5,8
Dermatitis atopik merupakan salah satu penyebab eritroderma pada orang dewasa
dimana didapatkan gambaran klinisnya terdapat lesi pra-existing, pruritus yang
parah, likenifikasi dan prurigo nodularis, sedangkan pada gambaran histologi
terdapat

akantosis

ringan,

spongiosis

variabel,

dermal

eosinofil

dan

parakeratosis.3,8
Psoriasis
Eritroderma psoriasis dapat disebabkan oleh karena pengobatan topikal yang
terlalu kuat atau oleh penyakitnya sendiri yang meluas. Ketika psoriasis menjadi
eritroderma biasanya lesi yang khas untuk psoriasis tidak tampak lagi karena
terdapat menghilang dimana plak-plak psoriasis menyatu, eritema dan skuama
tebal universal. Psoriasis mungkin menjadi eritroderma dalam proses yang
berlangsung lambat dan tidak dapat dihambat atau sangat cepat. Faktor genetik
berperan. Bila orang tuanya tidak menderita psoriasis resiko mendapat psoriasis
12%, sedangkan jika salah seseorang orang tuanya menderita psoriasis resikonya
mencapai 34 39%.2,9
Psoriasis ditandai dengan adanya bercak-bercak, eritema berbatas tegas dengan
skuama yang kasar, berlapis-lapis dan transparan disertai fenomena tetesan lilin,
Auspitz, dan Kobner.3

Dermatitis seboroik
Dermatitis
seboroikadalah

peradangan

kulit

yang

kronis

ditandaidenganplakeritema yang sering terdapat pada daerah tubuh yang banyak


mengandung kelenjar sebasea sepertikulit kepala, alis, lipatannasolabial, belakang
telinga, cuping hidung, ketiak, dada, antara skapula. Dermatitis seboroik dapat

10

terjadi pada semua umur, dan meningkat pada usia 40 tahun. Biasanya lebih berat
apabila terjadi pada laki-laki daripada wanita dan lebih sering pada orang-orang
yang banyak memakan lemak dan minum alkohol.2,10
Biasanya kulit penderita tampak berminyak, dengan kuman Pityrosporum ovale
yang hidup komensal di kulit berkembang lebih subur. Pada kepala tampak
eritema dan skuama halus sampai kasar (ketombe). Kulit tampak berminyak dan
menghasilkan skuama putih yang berminyak pula. Penderita akan mengeluh rasa
gatal yang hebat.(3)DS dapat diakibatkan oleh ploriferasi epidermis yang
meningkat seperti pada psoriasis. Hal ini dapat menerangkan mengapa terapi
dengan sitostatik dapat memperbaikinya. Pada orang yang telah mempunyai
faktor predisposisi, timbulnya DS dapat disebabkan oleh faktor kelelahan sterss
emosional infeksi, atau defisiensi imun.10
1.7 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin, didapatkan penurunan hemoglobin,
peningkatan eosinofil, dan peningkatan leukosit (pada infeksi sekunder). Kadar
imunoglobulin dapat meningkat, khususnya IgE. Albumin serum menurun
dangamma globulin meningkat relatif. Didapatkan pula ketidakseimbangan
elektrolit karena dehidrasi.6
Pasien dengan eritrodetma yang luas dapat ditemukan tanda-tanda dari
ketidakseimbangan nitrogen: edema, hipoalbuminemia, dan hilangnya masa otot.
Beberapa penelitian menunjukan terdapat perubahan keseimbangan nitrogen dan
potasium ketika laju pembentukan skuama mencapai 17 gr/m2 per 24 jam.
Histopatologi
Pada kebanyakan pasien dengan eritroderma histopatologi dapat membantu
mengidentifikasi penyebab eritroderma pada sampai dengan 50% kasus, biopsi
kulit dapat menunjukkan gambaran yang bervariasi, tergantung berat dan durasi
proses inflamasi. Pada tahap akut, spongiosis dan parakeratosis menonjol, terjadi
edema. Pada stadium kronis, akantosis dan perpanjangan rete ridge lebih
dominan.2

11

Eritroderma akibat limfoma, yang infiltrasi bisa menjadi semakin pleomorfik, dan
mungkin akhirnya memperoleh fitur diagnostik spesifik, seperti bandlike limfoid
infiltrat di dermis-epidermis, dengan sel cerebriform mononuklear atipikal dan
Pautrier's microabscesses. Pasien dengan sindrom Sezary sering menunjukkan
beberapa fitur dari dermatitis kronis, dan eritroderma jinak mungkin kadangkadang menunjukkan beberapa gambaran tidak jelas pada limfoma.2
Pemeriksaan immunofenotipe infiltrat limfoid juga mungkin sulit menyelesaikan
permasalahan karena pemeriksaan ini umumnya memperlihatkan gambaran sel T
matang pada eritroderma jinak maupun ganas. Pada psoriasis papilomatosis dan
gambaran clubbing lapisan papiler dapat terlihat, dan pada pemfigus foliaseus,
akantosis superficial juga ditemukan. Pada eritroderma ikhtisioform dan ptiriasis
rubra pilaris, biopsi diulang dari tempat-tempat yang dipilih dengan cermat dapat
memperlihatkan gambaran khasnya. 2
1.8 Penatalaksanaan
Terapi yang optimal untuk eritroderma tergantung pada penegakan penyebab
penyakit.2 Pada eritroderma karena alergi obat, penghentian dari obat-obat yang
menyebabkan alergi atau berpotensi menyebabkan alergi memberikan hasil yang
baik. Pada eritroderma karena penyakit kulit, penyakit yang mendasari harus
diatasi. Pemberian salep ter pada psoriasis sebaiknya secara hati-hati karena
mampu mencetuskan eksaserbasi eritroderma.3
Karena terdapat peningkatan kehilangan cairan transepidermal, dehidrasi sering
ditemukan sebagai komplikasi. Input dan output cairan harus dipantau secara hatihati.Pemberian kortikosteroid topikal efektif dalam mengatasi inflamasi pada
kulit. Pemberian antihistamin ditujukan untuk mengatasi pruritus.2
Sistemik :
cetirizine 1x10mg/hari
prednisone 4x 10mg/hari
Topikal Pelembab : lanolin 10%
BAB II
STATUS PASIEN DERMATOVENEROLOGI

12

A. IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis Kelamin
Usia
Agama
Alamat
Pekerjaan

: Tn. Burhan
: Laki-laki
: 60 tahun
: Islam
: Tais
: Petani

B. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan pada tanggal: 15 Maret 2016.
Keluhan Utama
Pasien merasakan gatal dan kulit terkelupas di seluruh tubuh.
Riwayat Penyakit Sekarang
Satu bulan lalu kulit tampak kemerahan, kemerahan kulit dirasakan pada tangan
dan leher. Kulit kemerahan disertai dengan rasa panas dan gatal, lama kelamaan
permukaan kulit menjadi menebal dan terasa kering. Kelainan kulit ini menjalar
ke bagian tubuh yang lain, 1 minggu terakhir kelainan kulit ini menyebar
keseluruh tubuh yang tampak kemerahan, panas, gatal, bersisik, perih dan
mengelupas. Beberapa hari terakhir kelainan kulit semakin bertambah, kulit
semakin mengelupas, gatal dan bersisik.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami penyakit kulit serupa sebelumya dan belum ada
pengobatan lain sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga dengan keluhan yang sama dengan pasien.
Riwayat Sosial Ekonomi
Bekerja di kebun.
C. PEMERIKSAAN DERMATOLOGI
Keadaan umum
Kesadaran

: baik
: kompos mentis

13

Tanda tanda vital : S : 36,7 C, N : 100x/menit, P : 20x/menit, TD : 120/80


mmHg.
Pemeriksaan Ujud Kelainan Kulit (UKK):
a. Pada region Facialis
: makula eritema, skuama, likenifikasi,
krusta dan ekskoriasi.
b. Pada regio Thorax dan abdomen : makula eritema, skuama, likenifikasi,
krusta dan ekskoriasi.
c. Pada regio Flan : : makula eritema, skuama, likenifikasi, krusta dan
ekskoriasi.
d. Pada regio Ekstremitas : makula eritema, skuama, likenifikasi, krusta dan
ekskoriasi.
D. RESUME
Laki-laki usia 60 tahun datang dengan keluhan kulit gatal dan mengelupas pada
seluruh tubuh. Kulit kemerahan disertai dengan rasa panas dan gatal, lama
kelamaan permukaan kulit menjadi menebal dan terasa kering. Kelainan kulit ini
menjalar ke bagian tubuh yang lain, 1 minggu terakhir kelainan kulit ini menyebar
keseluruh tubuh yang tampak kemerahan, panas, gatal, bersisik, perih dan
mengelupas. Beberapa hari terakhir kelainan kulit semakin bertambah, kulit
semakin mengelupas, gatal dan bersisik.
Pemeriksaaan fisik didapatkan :
a. Pada region Facialis

: makula eritema, skuama,

likenifikasi, krusta dan ekskoriasi.


b. Pada regio Thorax dan abdomen : makula eritema, skuama,
likenifikasi, krusta dan ekskoriasi.
c. Pada regio Flan
: : makula eritema, skuama, likenifikasi,
krusta dan ekskoriasi.
d. Pada regio Ekstremitas : makula eritema, skuama, likenifikasi,
krusta dan ekskoriasi
E. DIAGNOSIS
Diagnosis Banding

:1. Eritroderma
2. Psoriasis Vulgaris
3. Dermatitis Atopik

14

F. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


Darah rutin, Hitung Jenis, IgE, albumin serum dan elektrolit.
G. DIAGNOSIS KERJA
Eritroderma
H. TATALAKSANA
A. NON MEDIKAMENTOSA
Menganjurkan pasien untuk menghindari penggunaan sabun dengan kadar pH
yang tidak sesuai dengan pH kulit, mandi dengan air yang lebih bersih dan
memakai pakaian yang tidak berlapis-lapis. Diet tinggi protein.
B. MEDIKAMENTOSA
Pengobatan sesuai kausa : eritroderma karena obat hentikan obatnya.
Pemberian kortikosteroid : Prednisone 4 x 10 mg
Anti histamin : cetirizin 1 x 10 mg
Topikal : emolien (salep lenolin 10 %) atau krim urea 10 %.
Pada pasien ini diberikan prednison 4 x 10 mg dan hidrokortison 2,5 % serta
cetirizin 1 x 10 mg
I. PROGNOSIS
Et vitam
Et functionam
Et sanactionam

: bonam
: bonam
: dubia et bonam

J. PEMBAHASAN
Pada kasus ini, diagnosis ditegakan berdasarkan anamnesis, gejala klinis, dan
pemeriksaan fisik pada pasien. Pada anamnesis diperoleh informasi bahwa pasien
datang dengan keluhan gatal dam kulit terkelupas pada seluruh tubuh.
Sebelumnya keluhan ini hanya dirasakan di sekitar daerah tangan dan leher,
kemudian perut juga mengalami gejala yang sama. Pasien mengaku pernah
mengalami gejala yang sama seperti saat ini, mendapatkan pengobatan namun
gejala tidak sembuh total. Pada pemeriksaan dermatologi ditemukan makula

15

eritema, skuama, likenifikasi, krusta dan ekskoriasi. Jika melihat wujud kelainan
kulit (UKK) yang ditemukan pada pasien ini maka diagnosis yang dapat
ditegakkan dapat berupa, eritroderma, psoriasis atau dermatitis atopik.

DAFTAR PUSTAKA
Balci DD, Sangun O, Duran N, Peker E. Etiopathogenic Factors and Clinical
Findings of Pityriasis Alba.Turkiye Klinikleri J Dermatol.
Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C, editors. Rooks Textbook of
Dermatology. 7th ed. Massachusetts: Blackwell; 2004.
Andrews Disease of The Skin Clinical Dermatology. 9 th ed. New York: WB
Saunders Company; 2014.s
Juanda, A., Hamzah, M., Aisah, S., Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi
Kelima, Jakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007.
Bolognia JL, Jorizzo JL, Rapini RP, editors. Dermatology. 2nd. Chapter 65. New
York: Mosby Elsevier; 2008.

16

Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors.
Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. 7th ed. New York: McGraw-Hill
Companies, Inc; 2008.