Anda di halaman 1dari 35

NASKAH AKADEMIS DRAFT RUU SUSUNAN DAN KEDUDUKAN

MPR, DPR, DPD


DAN DPRD
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa
Negara Republik Indonesia adalah negara yang berkedaulatan rakyat yang dalam pelaksanaannya
menganut prinsip kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan.
Untuk melaksanakan kedaulatan rakyat atas dasar kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, perlu diwujudkan lembaga permusyawaratan
rakyat, lembaga perwakilan rakyat, dan lembaga perwakilan daerah yang mampu mencerminkan
nilai-nilai demokrasi serta dapat menyerap dan memperjuangkan aspirasi rakyat termasuk
kepentingan daerah sesuai dengan tuntutan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sejalan dengan perkembangan kehidupan ketatanegaraan dan politik bangsa, termasuk
perkembangan dalam susunan dan kedudukan lembaga permusyawaratan dan lembaga perwakilan
dengan keberadaan lembaga perwakilan daerah sebagai komponen baru dalam sistem
keparlemenan Indonesia, telah dibentuk Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan
dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan
Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, yang dimaksudkan sebagai upaya penataan
susunan dan kedudukan majelis permusyawaratan rakyat, dewan perwakilan rakyat, dewan
perwakilan daerah, dan dewan perwakilan rakyat daerah dalam rangka mewujudkan lembaga
permusyawaratan rakyat, lembaga perwakilan rakyat, dan lembaga perwakilan daerah.
Untuk mengembangkan kehidupan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, perlu
diwujudkan lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah
yang bersama-sama dengan pemerintah daerah mampu mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Untuk mewujudkan lembaga permusyawaratan/perwakilan yang lebih mampu mencerminkan nilainilai demokratis dan memperjuangkan aspirasi rakyat dan daerah sesuai perkembangan kehidupan
berbangsa dan bernegara perlu penataan kembali susunan dan kedudukan Majelis Permusyawaratan
Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas dipandang perlu untuk membentuk Undang-undang (UU)
tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD, sebagai penyempurnaan UndangUndang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat,
Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dalam
rangka meningkatkan peran dan tanggung jawab lembaga permusyawaratan rakyat, lembaga
perwakilan rakyat, dan lembaga perwakilan daerah untuk mengembangkan kehidupan demokrasi,
menjamin keterwakilan rakyat dan daerah dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya, serta
mengembangkan mekanisme checks and balances antara lembaga legislatif dan eksekutif serta
meningkatkan kualitas, produktivitas, dan kinerja anggota lembaga permusyawaratan rakyat, lembaga
perwakilan rakyat, dan lembaga perwakilan daerah demi mewujudkan keadilan dan kesejahteraan
rakyat.

B. Maksud dan tujuan


1. Maksud
Pembentukan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD dimaksudkan untuk
melakukan penyempurnaan atas UU Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR,
DPR, DPD, dan DPRD, khususnya penyempurnaan atas sejumlah materi pengaturan kelembagaan
yang terkait dengan peningkatan kinerja MPR, DPR, DPD, dan DPRD dan anggota-anggotanya.
2. Tujuan
Tujuan pembentukan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD adalah
terbentuknya undang-undang sebagai landasan hukum yang kuat bagi pemantapan MPR, DPR,
DPD, dan DPRD sebagai lembaga permusyawaratan rakyat, lembaga perwakilan rakyat, lembaga
perwakilan daerah, dan lembaga perwakilan rakyat daerah, sehingga pelaksanaan kedaulatan rakyat
atas dasar kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/
perwakilan, serta pengembangan demokrasi dalampenyelenggaraan pemerintahan negara dan
pemerintahan daerah, dapat terwujud.
C. Landasan penyempurnaan
1. Landasan filosofis
Secara filosofis, pembentukan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD
diperlukan sebagai upaya pengaktualisasian nilai-nilai demokrasi dalam penyelenggaraan kehidupan
bernegara dan berpemerintahan. Kehadiran lembaga-lembaga negara dalam bentuk lembaga
permusyawaratan rakyat, lembaga perwakilan rakyat, dan lembaga perwakilan daerah sesungguhnya
adalah cerminan nilai-nilai demokrasi dalam hidup bernegara dan berpemerintahan. Melalui lembagalembaga tersebut, penyerapan dan penyaluran aspirasi rakyat dan daerah dalam proses dan tata
kelola kenegaraan dan kepemerintahan diharapkan dapat berlangsung dengan baik.
2. Landasan politik
Sejalan dengan pemikiran filosofis di atas, pembentukan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR,
DPR, DPD, dan DPRD juga diperlukan dalam rangka mewujudkan tata kelembagaan negara dan
pemerintahan yang mencerminkan aktualisasi prinsip checks and balances dalam pengelolaan
kekuasaan. Sebagaimana telah ditegaskan dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Hasil
Amandemen, mandat pengelolaan kekuasaan negara secara institusional telah diberikan kepada
sejumlah lembaga negara dan pemerintahan, yang pada domain perwakilan politik berada pada
lembaga permusyawaratan rakyat, lembaga perwakilan rakyat, danlembaga perwakilan daerah, serta
lembaga perwakilan rakyat daerah.
Kehadiran lembaga-lembaga tersebut merupakan suatu keharusan dan kebutuhan bagi
berlangsungnya proses pengelolaan kekuasaan yang akuntabel, terkontrol, dan seimbang, terutama
dalam kerangka perwujudan penyelenggaraan pemerintahan negara dan daerah yang berwatak
demokratis, jauh dari watak otoriterian, dan tidak terpusat pada eksekutif, terutama pada Presiden di
tingkat nasional serta pada gubernur dan bupati/walikota di tingkat daerah.

3. Landasan sosiologis
Pembentukan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD pada dasarnya
tidak hanya bermakna filosofis dan politik, tetapi juga memiliki makna sosiologis. Kehadiran lembagalembaga permusyawaratan rakyat, lembaga perwakilan rakyat, dan lembaga perwakilan daerah, serta
lembaga perwakilan rakyat daerah, yang memiliki kemampuan dalam memainkan peran secara
maksimal dalam tata pengelolaan negara dan pemerintahan merupakan sebuah kebutuhan. Realitas

sosial mengisyaratkan bahwa berbagai persoalan dan kebutuhan publik senantiasa mengandaikan
pentingnya kehadiran lembaga-lembaga permusyawaratan dan perwakilan politik dalam
penanganannya. Sistem penyelenggaraan pemerintahan negara dan daerah yang bertumpu pada
eksekutif, secara faktual tidak selalu dapat dijadikan andalan dalam penyelesaian persoalan dan
pemenuhan kebutuhan masyarakat. Bahkan, secara sosiologis, ketidakadilan justeru sering terjadi
dalam sistem sosial yang dikelola tanpa perwakilan politik.
4. Landasan hukum
Pembentukan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD didasarkan pada
mandat konstitusi sebagai hukum dasar, baik sebagai hukum dasar dalam kaitan dengan
kewenangan pembentukan undang-undang maupun sebagai hukum dasar dalam kaitan dengan
materi muatan undang-undang. Khusus yang terkait dengan materi muatan undang-undang,
pembentukan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD didasarkan pada
pasal-pasal dalam UUD 1945 (Hasil Amandemen), khususnya Pasal 2 ayat (1) yang mengatur
tentang MPR, Pasal 18 ayat (3) yangmengatur tentang DPRD sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan daerah, Pasal 19 ayat (2) yang mengatur tentang susunan DPR, Pasal 22C ayat (4)
yang mengatur tentang susunan dan kedudukan DPD, dan Pasal 22E yang menegaskan tentang
pemilihan umum sebagai proses pengisian keanggotaan DPR, DPD, dan DPRD.
Sementara itu, UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
Tahun 2005-2025 dan Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional Tahun 2005-2009 menggariskan bahwa salah satu misi pembangunan
nasional jangka panjang adalah mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum, yang
akan diwujudkan melalui pencapaian sasaran pokok berupa ”pemantapan pelembagaan
demokrasi yang kokoh”. Pemantapan kelembagaan demokrasi yang kokoh dicapai melalui
penyempurnaan struktur politik yang dititikberatkan pada proses pelembagaan demokrasi, yang
dilakukan dengan, antara lain:
a. mempromosikan dan menyosialisasikan pentingnya keberadaan sebuah konstitusi yang kuat dan
memiliki kredibilitas tinggi sebagai pedoman dasar bagi seluruh proses demokratisasi berkelanjutan;
b. menata hubungan antara kelembagaan politik, dalam kehidupan bernegara;
c. meningkatkan kinerja lembaga-lembaga penyelenggara negara dalam menjalankan kewenangan
dan fungsi-fungsi yang diberikan oleh konstitusi dan peraturan perundangan-undangan; dan
d. menciptakan kelembagaan demokrasi lebih lanjut untuk mendukung berlangsungnya konsolidasi
demokrasi secara berkelanjutan,
yang dicapai melalui pelaksanaan program, antara lain:
a. penyempurnaan dan penguatan kelembagaan demokrasi, yang bertujuan untuk
mewujudkan pelembagaan fungsi-fungsi dan hubungan antara lembaga eksekutif, legislatif,
yudikatif, lembaga politik lainnya, serta lembaga-lembaga kemasyarakatan yang kokoh dan
optimal;
b. perbaikan proses politik, yang bertujuan untukmeningkatkan kualitas dan efektivitas
penyelenggaraan pemilihan umum dan uji kelayakan publik, serta pelembagaan perumusan
kebijakan publik.

D. Metode
Pembentukan UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD dilakukan dengan
metode kerja sebagai berikut:
a. Evaluasi atas pelaksanaan UU Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR,
DPR, DPD, dan DPRD;
b. Pengkajian terhadap pasal-pasal dalam UU Nomor 22 Tahun 2003 yang dinilai mengandung
kelemahan dan/atau bermasalah;
c. Pengkajian terhadap konsep teoritis tentang sistem perwakilan yang ideal;
d. Penyesuaian dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; dan
e. Analisis komprehensif dan penyusunan konsep pengaturan yang baru.
E. Sistematika penulisan
Naskah Akademik ini ditulis dengan sistematika sebagai berikut:
Bab I PENDAHULUAN, berisi uraian tentang latar
belakang, maksud dan tujuan, landasan penyempurnaan, metode, dan
sistematika penulisan;
Bab II ARAH DAN TUJUAN SERTA CAKUPAN PENYEMPURNAAN UU
NOMOR 22 TAHUN 2003 TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MPR, DPR, DPD, DAN
DPRD, yang berisi uraian tentang arah dan tujuan serta cakupan
penyempurnaan UU Nomor 22 Tahun 2003;
Bab III PROBLEMATIKA UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN
2003 TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MPR, DPR, DPD, DAN DPRD, berisi
uraian tentang kondisi objektif lembaga permusyawaratan dan lembaga
perwakilan, dan identifikasi aspek-aspek yang memerlukan penyempurnaan;
Bab IV MATERI RANCANGAN UNDANG-UNDANG, berisi uraian
tentang materi penyempurnaan dan susunan rancangan undang-undang; dan
Bab V PENUTUP.

BAB II
ARAH DAN TUJUAN SERTA CAKUPAN PENYEMPURNAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 22
TAHUN 2003 TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MPR, DPR, DPD, DAN DPRD

A. Arah dan tujuan penyempurnaan UU Nomor 22 Tahun 2003


Penyempurnaan UU Nomor 22 Tahun 2003 pada dasarnya merupakan bagian
dari upaya penataan kehidupan politik dan pemerintahan di Indonesia,
khususnya dalam rangka pencapaian suatu sistem politik yang demokratis
dan sistem pemerintahan yang efektif.
Sistem politik yang demokratis mengandung pengertian bagaimana
institusi, prosedur, dan rutinitas demokrasi menyatu dalam kultur
berpolitik di tempat tersebut. Dalam hal ini sistem politik yang
demokratis adalah semakin mengemukanya cara-cara demokrasi untuk menata
negara, politik, dan masyarakat. Politik yang demokratis menjadi sebuah
sistem bila kepentingan berbagai aktor dalam jangka panjang adalah
untuk menjaga stabilitas aturan-aturan main demokratis yang mereka
sepakati.
Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan upaya melihat aplikasi
konsepsi partisipasi dan representasi pada lembaga dan proses politik
secara kritis. Dalam hal ini, semangat memperkuat lembaga dan proses
politik adalah dalam rangka menjadikannya sensitif dan responsif
terhadap keinginan rakyat. Aturan main dan mekanisme yang dibuat harus
juga aplikatif. Misalnya, pengertian wakil rakyat dikaitkan dengan
tingkah laku yang memperjuangkan kepentingan rakyat. Penguasa yang
memerintah harus dipilih melalui pemilihan umum. Warga negara dijamin
haknya untuk mengutarakan dan menuntut institusi yang mengatasnamakan
mereka merespon kepentingan mereka. Adanya prosedur yang memungkinkan
pemilik kedaulatan, yaitu rakyat, mengawasi dan memberikan sanksi
terhadap mereka yang mengatasnamakan mereka. Adanya mekanisme checks
and balances antar lembaga-lembaga pemerintahan dalam kerangka
kepentingan rakyat.
Sementara itu, pemerintahan yang efektif adalah suatu proses
pembentukan dan pelaksanaan kebijakan publik oleh lembaga-lembaga
publik yang selaras dengan aspirasi dan keinginan rakyat berdasarkan
tata perundangan yang berlaku. Sedangkan pengertian sistem pemerintahan
yang efektif adalah suatu pola hubungan antara berbagai lembaga-lembaga
publik dalam rangka pembentukan dan pelaksanaan kebijakan publik dengan
dasar-dasar prinsip tertentu untuk menterjemahkan aspirasi dan
keinginan rakyat.
Pentingnya suatu sistem pemerintahan yang efektif, paling tidak karena
3 (tiga) alasan utama. Pertama, dengan adanya pemerintahan yang
efektif, aktivitas pemerintahan menjadi lebih responsif. Pemerintah
akan berusaha menterjemahkan keinginan rakyat menjadi kebijakan publik.
Kedua, pemerintahan yang efektif akan membuat aktivitas pemerintahan

lebih bisa didukung oleh berbagai kekuatan politik maupun masyarakat.


Energi ini akan membuat pencapaian aktivitas pemerintah meluas oleh
karena partisipasi masyarakat dan kekuatan politik dalam pelaksanaan
fungsi pemerintahan umum seperti memberikan pelayanan umum, mengatur
konflik, maupun pembagian sumber-sumber ekonomi. Ketiga, pemerintahan

yang efektif akan memungkinkan berlangsungnya aktivitas yang stabil


dalam jangka panjang. Semakin minimnya distorsi dan interupsi proses
pemerintahan akan membuat pencapaian tujuan bernegara dan berbangsa
lebih mudah.
Untuk mendukung tercapainya sistem pemerintahan yang efektif, maka
perlu suatu upaya serius untuk menguatkan berbagai elemen sistem
pemerintahan bagi kebijakan publik yang aspiratif dan responsif. Jenis
elemen-elemen tersebut sangat tergantung pada jenis sistem pemerintahan
yang hendak dibangun.
Sebagai sebuah sistem pemerintahan, untuk efektivitas fungsi
pemerintahan maka lembaga presiden harus juga didukung oleh bekerjanya
suatu sistem perwakilan yang efektif. Hubungan antara keduanya harus
pula berimbang, yang didasarkan pada fondasi checks and balances.
Secara umum dapat dikatakan bahwa penguatan sistem pemerintahan
presidensiil membutuhkan penguatan lembaga kepresidenan, penguatan
lembaga perwakilan, serta perimbangan hubungan kelembagaan antara
presiden dan legislatif.
Dalam banyak pemikiran dan teori tentang perancangan konstitusi dan
kelembagaan (constitutional and institutional design) baik yang klasik
maupun kontemporer, para pakar melihat keterkaitan yang erat antara
upaya penataan sistem politik yang demokratis dengan sistem
pemerintahan yang efektif.
Bagi negara yang tengah mengalami transisi politik seperti Indonesia,
maka pemahaman terhadap hubungan antara kedua proses itu menjadi sangat
penting untuk beberapa alasan. Karena keterbatasan waktu dan tenaga
maka seringkali penataan elemen-elemen sistem politik dan pemerintahan
dilakukan secara terpisah. Logika yang digunakan seringkali berbeda
satu dengan yang lainnya. Dalam realitas, semua elemen tersebut akan
digunakan dan menimbulkan kemungkinan komplikasi satu dengan lainnya.
Munculnya sistem perwakilan yang kuat akan membuat
sistem pemerintahan presidensial menjadi efektif. Selanjutnya, sistem
keparlemenan juga memiliki hubungan yang langsung dengan pelaksanaan
sistem presidensialisme. Keberadaan sistem bikameral akan diharapkan
memperkuat sistem perwakilan. Dalam sistem bikameral maka perwakilan
rakyat itu didasarkan pada perwakilan berdasarkan kekuatan politik
(partai) dan perwakilan berdasarkan teritori. Luasnya wilayah
Indonesia, kompleksitas persoalan daerah, dan semangat desentralisasi
menjadi dasar penguatan berdasarkan perwakilan teritori.
Kedudukan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) pada realitasnya tak jelas
karena kekuasaan dan hak-haknya yang sangat terbatas (DPD RI, 2006).
Demi tegaknya prinsip checks and balances maka amandemen kembali
konstitusi dalam jangka menengah atau panjang bersifat mutlak karena
menjadi salah satu fondasi utama bagi stabilitas dan efektifitas sistem
pemerintahan presidensial. Urgensi prinsip saling mengawasi secara
seimbang itu diabaikan pula oleh konstitusi hasil amandemen dalam hal
relasi DPR sebagai representasi rakyat dan DPD sebagai representasi
wilayah. DPD harus dipandang sebagai “Senat” ataupun
“Majelis Tinggi” yang juga memiliki kewenangan legislasi kendati tidak
harus seluas kekuasaan legislasi yang dimiliki DPR sebagai “Majelis
Rendah”, sehingga kedua Dewan adalah kamar-kamar parlemen di dalam
suatu sistem perwakilan bicameral yang kuat (strong bicameral). Dengan
demikian harus dibuat pengaturan yang memungkinkan untuk membuat

kerjasama dan sinergitas antara DPR dan DPD. Bentuknya dapat berupa
penguatan fungsi MPR.
B. Cakupan penyempurnaan UU Nomor 22 Tahun 2003
Salah satu ciri sistem presidensial adalah berlaku dan tegaknya prinsip
pemisahan kekuasaan di antara tiga cabang kekuasaan utama yakni
eksekutif-legislatif-yudikatif dan terutama antara lembaga eksekutif
dan legislatif . Melalui pemisahan kekuasaan tersebut diharapkan dapat
ditegakkan prinsip check and balances di antara cabang-cabang kekuasaan
pemerintahan.. Problematik sistem presidensial hasil amandemen atas
konstitusi kita dewasa ini adalah bahwa prinsip checks and balances itu
sulit ditegakkan karena presiden yang memperoleh mandat dan legitimasi
langsung dari rakyat tidak memiliki semacam hak veto untuk menolak UU
yang telah disepakati oleh DPR. Di sisi lain, UU yang telah disepakati
oleh pemerintah dan DPR tetap bisa berlaku sebagai hukum positif
meskipun tidak disahkan oleh Presiden dalam waktu 30 hari. Selain itu,
konstitusi semestinya pula mengakomodasi prinsip checks and balances
yang sama dalam relasi intra-parlemen, yaitu antara DPR dan DPD. Jelas
sekali bahwa penataan relasi presiden dan parlemen (dalam hal ini DPR
dan DPD), dan relasi DPR-DPD seperti diamanatkan oleh konstitusi hasil
amandemen, cenderung tidak akan menghasilkan sistem presidensiil yang
kuat, stabil, dan efektif. Sebaliknya, yang muncul adalah praktik tata
kelola pemerintahan yang cenderung parlementer dan atau campur-aduk
antara obsesi presidensialisme di satu pihak dan praktik
parlementarianisme di pihak lain. Oleh karena itu, pembentukan sistem
pemerintahan presidensial yang kuat dan efektif pada dasarnya tak bisa
dipisahkan dari kontribusi sistem legislatif atau keparlemenan yang
sinergis dan efektif pula.
Paling tidak ada empat argumen kesaling-keterkaitan antara sistem
pemerintahan di satu pihak dan sistem perwakilan di pihak lain.
Pertama, berbeda dengan sistem parlementer di mana fokus segenap proses
politik berpusat pada parlemen, maka di dalam sistem presidensial
lembaga eksekutif berbagi peranan dan fungsi secara relatif tegas dan
jelas dengan lembaga legislatif. Kedua, konsisten dengan argumen
pertama, presiden dan parlemen masing-masing memiliki tanggung jawab
secara terpisah sekaligus secara bersama-sama dalam penguatan dan
efektifitas sistem pemerintahan presidensial. Ketiga, konsisten dengan
dua argumen sebelumnya, tanggung jawab secara terpisah – dalam
fungsinya masing-masing —sekaligus bersama-sama tersebut hanya dapat
ditegakkan apabila relasi antara presiden dan parlemen dibangun di atas
prinsip checks and balances. Keempat, sistem legislatif yang dapat
melembagakan tanggung jawab secara bersama-sama, sinergis dan efektif
hanya dapat diwujudkan apabila terbangun pola relasi dan kerjasama yang
sinergis di antara bagian-bagian parlemen.
Dalam kaitan ini, penguatan sistem perwakilan dimaksudkan sebagai upaya
membangun sistem perwakilan yang tidak hanya koheren dan konsisten
dengan pilihan sistem pemerintahan presidensiil, melainkan juga
mendukung dan memperkuatnya. Tampak di sini bahwa terdapat empat konsep
utama yang saling terkait satu satu lain untuk membangun sistem
perwakilan demikian, yaitu sinergitas, efektifitas, akuntabilitas, dan
produktifitas. Sistem perwakilan yang sinergis diperlukan bukan saja
dalam rangka efektifitas fungsi setiap lembaga parlemen (DPR dan DPD),
melainkan juga untuk meningkatkan kualitas akuntabilitas di satu pihak
dan produktifitas di pihak lain.
Akuntabilitas adalah konsep yang tak terpisahkan dari keberadaan setiap

lembaga perwakilan. DPR sebagai parlemen yang mewakili rakyat, DPD yang
mewakili wilayah (propinsi), dan para anggotanya yang memperoleh mandat
tersebut dapat dikatakan akuntabel apabila dalam melaksanakan fungsi,
kewenangan, dan hak-haknya berorientasi kepada kepentingan rakyat
selaku pemberi mandat melalui melalui pemilihan umum. Sedangkan
produktifitas berhubungan dengan tingkat pencapaian kinerja
keparlemenan dalam hitungan produk kebijakan yang dihasilkan selama
masa kerja parlemen.
Dewasa ini sinergitas parlemen belum terbangun karena DPR dan DPD
cenderung bekerja sendiri-sendiri. Konstitusi memang membatasi
kewenangan DPD, namun peran dan kontribusi DPD sebenarnya dapat
dioptimalkan melalui mekanisme relasi dan kerjasama yang lebih baik
antara DPR dan DPD. Efektifitas DPR dan DPD sebagai bagian dari lembaga
parlemen nasional relatif belum optimal karena struktur alat
kelengkapan kedua Dewan belum mendukung efektifitas kerja keparlemenan.
Berkaitan dengan kebutuhan penyempurnaan sistem perwakilan, maka dalam
jangka pendek paling kurang ada empat arah sekaligus tujuan yang hendak
dicapai untuk memperkuat sistem perwakilan yang masih bersifat
“semi-bikameral” yang berlaku dewasa ini, yaitu: (1) peningkatan
efektifitas keparlemenan DPR; (2) penguatan akuntabilitas lembaga dan
anggota parlemen; (3) penataan hubungan kerja DPR dan DPD; dan (4)
peningkatan efektifitas fungsi MPR.
Dalam konteks substansi hasil amandemen, di satu pihak hendak dibangun
sistem pemerintahan presidensiil yang kuat, stabil, dan efektif, namun
di sisi lain obsesi besar tersebut tidak didukung oleh struktur
perwakilan bicameral yang kuat pula. Kedudukan Dewan Perwakilan Daerah
(DPD) yang semestinya merupakan salah satu “kamar” dari sistem
perwakilan dua-kamar, bahkan tak jelas karena kekuasaan dan hak-haknya
yang sangat terbatas. Tidak mengherankan jika para anggota DPD dewasa
ini mempertanyakan relevansi keberadaan mereka dalam sistem yang
berlaku jika tidak ada komitmen politik untuk mengubahnya secara
mendasar (DPD RI, 2006). Sebaliknya, para politisi di Panitia Ad-Hoc I
MPR selaku penyusun konstitusi justru makin memperkuat posisi,
kedudukan, kekuasaan, dan hak-hak DPR melebihi yang seharusnya dimiliki
oleh DPR dalam konteks sistem presidensial.
Selain itu, UUD 1945 hasil amandemen tidak melembagakan berlakunya
mekanisme checks and balances di antara cabang-cabang kekuasaan
pemerintahan utama, yakni lembaga eksekutif-legislatif pada khususnya
dan eksekutif-legislatif-yudikatif pada umumnya. Di satu pihak, suatu
UU dapat tetap berlaku apabila dalam waktu 30 hari tidak disahkan oleh
Presiden, namun di pihak lain Presiden tidak memiliki semacam hak veto
untuk menolak UU yang telah disetujui DPR. Padahal tegaknya prinsip
checks and balances bersifat mutlak karena menjadi salah satu fondasi
utama bagi stabilitas dan efektifitas sistem pemerintahan presidensial.
Urgensi prinsip saling mengawasi secara seimbang itu diabaikan pula
oleh konstitusi hasil amandemen dalam hal relasi DPR sebagai
representasi rakyat dan DPD sebagai representasi wilayah.
Sistem pemerintahan yang terkonstruksi dalam UUD 1945 adalah sistem
pemerintahan presidensiil, yang bercirikan keberlakuan dan penegakan
prinsip pemisahan kekuasaan di antara tiga cabang kekuasaan utama yakni
legislatif, eksekutif, dan yudikatif, dan secara khusus antara lembaga
eksekutif dan legislatif . Melalui pemisahan kekuasaan tersebut
diharapkan dapat ditegakkan prinsip check and balances di antara

cabang-cabang kekuasaan pemerintahan.


Penguatan sistem pemerintahan presidensiil pada dasarnya tidak bisa
dipisahkan dari kontribusi sistem legislatif atau keparlemenan yang
sinergis dan efektif pula. Paling tidak ada empat argumen
kesaling-keterkaitan antara sistem pemerintahan di satu pihak dan
sistem perwakilan di pihak lain. Pertama, berbeda dengan sistem
parlementer di mana fokus segenap proses politik berpusat pada
parlemen, maka di dalam sistem presidensiil, lembaga eksekutif berbagi
peranan dan fungsi secara relatif tegas dan jelas dengan lembaga
legislatif. Kedua, konsisten dengan argumen pertama, presiden dan
parlemen masing-masing memiliki tanggung jawab secara terpisah
sekaligus secara bersama-sama dalam penguatan dan pengefektifan sistem
pemerintahan presidensiil. Ketiga, konsisten dengan dua argumen
sebelumnya, tanggung jawab secara terpisah dalam fungsinya
masing-masing hanya dapat ditegakkan apabila relasi antara presiden dan
parlemen dibangun di atas prinsip checks and balances. Keempat, sistem
legislatif yang dapat melembagakan tanggung jawab secara bersama-sama,
sinergis dan efektif hanya dapat diwujudkan apabila terbangun pola
relasi dan kerjasama yang sinergis di antara bagian-bagian parlemen.
Dalam kaitan ini, penguatan sistem perwakilan dimaksudkan sebagai upaya
membangun sistem perwakilan yang tidak hanya koheren dan konsisten
dengan pilihan sistem pemerintahan presidensiil, melainkan juga
mendukung dan memperkuatnya. Tampak di sini bahwa terdapat empat konsep
utama yang saling terkait satu sama lain untuk membangun sistem
perwakilan dimaksud, yaitu sinergitas, efektifitas, akuntabilitas, dan
produktifitas. Sistem perwakilan yang sinergis diperlukan bukan saja
dalam rangka efektifitas fungsi setiap lembaga parlemen (DPR dan DPD),
melainkan juga untuk meningkatkan kualitas akuntabilitas di satu pihak
dan produktifitas di pihak lain.
Akuntabilitas adalah konsep yang tak terpisahkan dari keberadaan setiap
lembaga perwakilan. DPR sebagai parlemen yang mewakili rakyat, DPD yang
mewakili wilayah (propinsi), dan para anggotanya yang memperoleh mandat
tersebut dapat dikatakan akuntabel apabila dalam melaksanakan fungsi,
kewenangan, dan hak-haknya berorientasi kepada kepentingan rakyat
selaku pemberi mandat melalui pemilihan umum.
Produktifitas berhubungan dengan tingkat pencapaian kinerja
keparlemenan dalam hitungan produk kebijakan yang dihasilkan selama
masa kerja parlemen.
Dewasa ini, sinergitas parlemen belum terbangun karena DPR dan DPD
cenderung bekerja sendiri-sendiri. Konstitusi memang membatasi
kewenangan DPD, namun peran dan kontribusi DPD sebenarnya dapat
dioptimalkan melalui mekanisme relasi dan kerjasama yang lebih baik
antara DPR dan DPD. Efektifitas DPR dan DPD sebagai bagian dari lembaga
parlemen nasional relatif belum optimal karena struktur alat
kelengkapan kedua Dewan belum mendukung efektifitas kerja keparlemenan.
Sementara itu, peranan DPRD provinsi sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan daerah provinsi dan DPRD kabupaten kota sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan kabupaten/kota juga dirasakan masih
memerlukan peningkatan. Rumusan ketentuan yang menyangkut kedua lembaga
perwakilan rakyat daerah tersebut, baik yang terkait dengan kelembagaan
maupun yang terkait dengan keanggotaan masih perlu disempurnakan.
Dari sisi kebutuhan penyempurnaan sistem permusyawaratan/perwakilan,
maka dalam jangka pendek, khususnya dalam rangka penyempurnaan UU Nomor

22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD,
terdapat paling sedikit enam arah sekaligus tujuan yang hendak dicapai
untuk memperkuat sistem perwakilan yang berlaku dewasa ini, yaitu:
1. peningkatan efektifitas persidangan MPR;
2. peningkatan efektifitas pelaksanaan tugas, wewenang, dan kewajiban DPR;
3. penguatan fungsi dan hak, serta efektifitas pelaksanaan tugas, wewenang, dan kewajiban DPD;
4. penataan hubungan kerja DPR dan DPD;
5. peningkatan akuntabilitas dan kinerja anggota DPR dan DPD;
6. pemantapan kedudukan dan fungsi DPRD sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah;
dan
7. peningkatan akuntabilitas dan kinerja anggota DPRD.
Sesuai dengan Pasal 2 UUD 1945, MPR sebagai institusi negara yang
terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD memiliki tugas dan wewenang
sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 3 dan Pasal 8 ayat (2) dan ayat (3)
UUD 1945. Dari sudut kelembagaan, MPR mempunyai kedudukan dan
kewenangan tersendiri, yang berbeda sama sekali dengan kedudukan dan
kewenangan DPR dan DPD. MPR bukan hanya merupakan persidangan gabungan
anggota DPR dan anggota DPD, tetapi juga adalah lembaga sendiri.
Oleh karena itu, keberadaan MPR sebagai lembaga negara yang oleh
konstitutisi diberi tugas dan wewenang kenegaraan yang secara tegas
berbeda dengan tugas dan wewenang DPD dan DPD tetap perlu ditingkatkan
efektititasnya, terutama efektifitas persidangan MPR.
Efektifitas lembaga perwakilan menunjuk pada kapasitas lembaga tersebut
dalam mengoptimalkan peranan fraksi, komisi dan alat kelengkapan
lainnya dalam mendukung kinerja parlemen sebagai lembaga perwakilan
rakyat/daerah dan mitra eksekutif. Dalam konteks sistem pemerintahan
presidensiil, prinsip checks and balances tidak akan tegak apabila
kinerja keparlemenan tidak efektif.
Agenda penguatan akuntabilitas parlemen, baik secara institusi maupun
anggota secara individual, perlu dilakukan dalam rangka mendukung
penguatan sistem presidensiil. Akuntabilitas institusi makin kuat
apabila pelaksanaan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan DPR
berorientasi pada penguatan sistem presidensiil. Di sisi lain,
akuntabilitas anggota secara individual makin kuat apabila kinerja para
anggota DPR berorientasi pada penguatan akuntabilitas Dewan secara
institusi.
Penguatan kapasitas parlemen dalam fungsi legislasi juga perlu
dilakukan melalui pengadaan staf ahli yang profesional dan bersifat
permanen. Beban kerja DPR yang sangat berat sebagai akibat
tekanan fungsi legislasi yang berada di pundaknya, mengharuskan Dewan
memiliki staf ahli permanen yang dibiayai oleh negara. Penataan ulang
pengaturan hak recall bagi Pimpinan dan anggota DPR dengan perluasan
kewenangan dan optimalisasi fungsi Badan Kehormatan adalah juga
penting. Satu hal yang dapat dijadikan pertimbangan adalah bahwa
perubahan sistem pemilu legislatif menuju sistem proporsional terbuka
penuh meniscayakan dikuranginya peranan partai dalam recalling terhadap
anggota Dewan. Hal yang sama secara proporsional juga berlaku bagi

lembaga dan anggota DPD dan DPRD sesuai dengan kedudukan dan fungsi
masing-masing.
Penataan kembali kunjungan anggota parlemen (DPR, DPD, dan DPRD) pada
waktu reses supaya berkunjung langsung ke daerah pemilihannya dan
berkomunikasi intensif dengan konstituennya juga sangat penting.
Terkait dengan keberadaan DPD, masih terdapat ruang yang memadai bagi
pengaturan dan penataan relasi kerja antara DPR dan DPD. Arahnya adalah
penguatan DPD sebagai mitra DPR dalam kerangka sistem perwakilan.
Melalui penataan kembali hubungan kerja DPR-DPD diharapkan kinerja
kedua Dewan secara sinergis di satu pihak dan efektifitas sistem
pemerintahan presidensiil di pihak lain dapat meningkat.

BAB IV
MATERI RANCANGAN UNDANG-UNDANG
A. Materi Penyempurnaan
1. Persidangan dan pengambilan keputusan MPR
Seiring dengan perkembangan dan dinamika politik bangsa dan negara
dewasa ini, maka patut diperkirakan bahwa persidangan dan pengambilan
keputusan di MPR tidak selalu akan berlangsung dengan mulus.
Kemungkinan terjadinya kebuntuan (deadlock) dalam pengambilan keputusan
sangatlah besar. Oleh karena itu, pengaturan tentang persidangan dan
pengambilan keputusan MPR disempurnakan dengan memberi kemungkinan
dilakukannya pengambilan keputusan dengan pemungutan suara ulang.
Apabila karena sifat masalah yang dihadapi tidak mungkin dicapai
keputusan dengan mempergunakan pemungutan suara sekali jalan, dilakukan
pemungutan suara ulang. Apabila dalam pemungutan suara ulang diperoleh
hasil sama dengan hasil pemungutan suara sebelumnya, maka pengambilan
keputusan ditangguhkan sampai rapat berikutnya, atau usul yang
bersangkutan ditolak.
2. Susunan DPR
Sesuai dengan sistem pemilihan yang akan digunakan dalam pemilihan umum
anggota DPR dan DPRD, yaitu sistem proporsional dengan daftar terbuka
penuh dengan penetapan calon terpilih berdasarkan perolehan suara
terbanyak, maka berbeda dengan rumusan UU 22/2003 yang menyatakan bahwa
“DPR terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang
dipilih berdasarkan hasil pemilihan umum”, RUU ini menegaskan bahwa
“DPR terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang
dipilih melalui pemilihan umum”.
3. Fungsi DPR
Dalam rangka
pemantapan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara berdasarkan UUD

1945, khususnya dalam relasi kenegaraan antara DPR dan Presiden, perlu penegasan makna fungsi
DPR dalam kerangka kebersamaan penyelenggaraan
pemerintahan negara dengan Presiden. Sehingga, dalam RUU ini dirumuskan
pengaturan tentang fungsi DPR sebagai berikut:
a. fungsi legislasi dilaksanakan dalam pembentukan undang-undang dengan persetujuan bersama
Presiden;
b. fungsi anggaran dilaksanakan dalam bentuk
pemberian persetujuan atau tidak memberikan persetujuan atas
undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara dengan
persetujuan bersama Presiden;
c. fungsi pengawasan dilaksanakan melalui pengawasan
atas pelaksanaan undang-undang dan anggaran pendapatan dan belanja
negara.
4. Tugas dan Wewenang DPR
Dalam rangka pemantapan sistem perwakilan berdasarkan UUD 1945 Hasil
Amandemen, khususnya dengan keberadaan DPD sebagai lembaga perwakilan
daerah, maka perlu dilakukan penyesuaian tugas dan wewenang DPR,
terutama yang terkait langsung dengan DPD. Dalam RUU ini,
direkomendasikan rumusan tambahan tugas dan wewenang DPR sebagai
berikut:
a. menerima rancangan undang-undang yang diusulkan
oleh DPD yang berkaitan dengan otonomi daerah, pembentukan,
pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah,
pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta
perimbangan keuangan pusat dan daerah;
b. membahas rancangan undang-undang sebagaimana
dimaksud pada huruf c bersama DPD sebelum dimulainya pembahasan
oleh DPR bersama Presiden sesuai tata tertib DPR;
c. membahas pertimbangan DPD atas rancangan
undang-undang mengenai anggaran pendapatan dan belanja negara dan
rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan
agama;
d. membahas bersama DPD rancangan undang-undang yang
diusulkan oleh Presiden dan/atau DPR, berkaitan dengan otonomi daerah,
pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan
daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya,
serta perimbangan keuangan pusat dan daerah, sebelum dimulainya
pembahasan oleh DPR dengan Presiden sesuai tata tertib DPR.
5. Hak DPR
DPR sebagai lembaga perwakilan yang berkedudukan sebagai lembaga negara
memiliki hak konstitusional berupa hak interpelasi, angket, dan
menyatakan pendapat. Penggunaan hak tersebut penting diatur dalam
undang-undang dengan pertimbangan perlunya dasar legitimasi yang kuat
bagi DPR dalam menggunakan haknya, sehingga di dalam RUU dirumuskan
sebagai berikut:

a. Penggunaan hak interpelasi:


1) Hak interpelasi adalah hak DPR
untuk meminta keterangan kepada Presiden mengenai kebijakan Pemerintah
yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan
bermasyarakat dan bernegara.
2) Hak interpelasi diajukan oleh
paling sedikit 15 (lima belas) orang anggota DPR kepada pimpinan DPR
dan mendapatkan persetujuan dari rapat paripurna DPR yang dihadiri
sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPR dan
putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga)
dari jumlah anggota DPR yang hadir.
b. Penggunaan hak angket:
1) Hak angket adalah hak DPR untuk
melakukan penyelidikan terhadap kebijakan Pemerintah yang penting dan
strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan
bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
2) Hak angket diajukan oleh paling
sedikit 15 (lima belas) orang anggota DPR kepada pimpinan DPR dan
mendapatkan persetujuan dari rapat paripurna DPR yang dihadiri
sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota DPR dan
putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga)
dari jumlah anggota DPR yang hadir.
3) Dalam menggunakan hak angket
dibentuk panitia angket yang terdiri atas semua unsur fraksi DPR dengan
keputusan DPR.
4) Panitia angket melaporkan
pelaksanaan tugasnya kepada rapat paripurna DPR paling lama 60 (enam
puluh) hari sejak dibentuknya panitia angket.
5) Dalam menggunakan hak
angketnya, DPR dapat memanggil pejabat negara, pejabat pemerintah,
badan hukum, atau warga masyarakat yang dianggap mengetahui atau patut
mengetahui masalah yang diselidiki untuk memberikan keterangan serta
untuk meminta menunjukkan surat atau dokumen yang berkaitan dengan hal
yang sedang diselidiki.
6) Pejabat negara, pejabat
pemerintah, badan hukum, atau warga masyarakat yang dipanggil
wajib memenuhi panggilan DPR kecuali ada alasan yang sah menurut
peraturan perundang-undangan.
7) Dalam hal telah dipanggil
dengan patut secara berturut-turut tidak memenuhi panggilan, DPR dapat
memanggil secara paksa dengan bantuan Kepolisian Negara Republik
Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
c. Penggunaan hak menyatakan pendapat:
1) Hak menyatakan
pendapat adalah hak DPR untuk menyatakan pendapat terhadap
kebijakan Pemerintah yang penting dan strategis atau mengenai kejadian

luar biasa yang terjadi di tanah air atau situasi dunia internasional
disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut
pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket.
2) Hak menyatakan pendapat
diajukan oleh paling sedikit 15 (lima belas) orang anggota DPR kepada
pimpinan DPR dan mendapatkan persetujuan dari rapat paripurna DPR
yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah
anggota DPR dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari
jumlah anggota DPR yang hadir.
6. Kewajiban Anggota DPR
Dalam rangka peningkatan akuntabilitas dan kinerja lembaga dan anggota
DPR, dipandang perlu merumuskan aturan yang menyangkut kewajiban
anggota DPR untuk dapat memenuhi kewajibannya dalam menegaskan
"menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi
masyarakat”. Sehingga, di dalam RUU dirumuskan bahwa disamping
kewajiban-kewajiban yang lain, anggota DPR juga mempunyai kewajiban:
a. menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara berkala;
b. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat.
7. Pimpinan DPR
Sejalan dengan penerapan sistem pemilihan proporsional yang telah
dikemukakan sebelumnya, RUU ini juga menganut prinsip perlunya
memberikan reward secara politik bagi partai politik yang berhasil
memperoleh hasil pemilihan umum yang lebih baik dari partai politik
lainnya. Sehingga, berbeda dengan ketentuan dalam UU Nomor 22 Tahun
2003, di dalam RUU ini dirumuskan ketentuan bahwa:
a. Pimpinan DPR terdiri atas seorang Ketua dan tiga
orang wakil ketua yang berasal dari partai politik berdasarkan urutan
perolehan kursi terbanyak di DPR;
b. Dalam hal terdapat lebih dari satu partai
politik yang memperoleh kursi sama, Ketua dan wakil ketua
ditentukan berdasarkan urutan hasil perolehan suara terbanyak dalam
pemilu;
c. Dalam hal terdapat lebih dari satu partai
politik yang memperoleh suara sama, Ketua dan wakil ketua
ditentukan berdasarkan persebaran perolehan suara.
Sementara itu, pengaturan tentang pemberhentian Pimpinan DPR juga
dipandang perlu disempurnakan, khususnya dalam kaitan dengan
akuntabilitas dan kinerjanya, serta dengan mempertimbangkan keberadaan
mereka sebagai kader partai politik. Oleh karena itu, pengaturan
tentang pemberhentian Pimpinan DPR dirumuskan sebagai berikut:
a. Pimpinan DPR berhenti dari jabatannya karena:
1) meninggal dunia;
2) mengundurkan diri; atau
3) diberhentikan.

b. Alasan pemberhentian Pimpinan DPR, selain karena


alasan sebagaimana telah dirtentukan dalam UU Nomor 22 Tahun 2003, juga
apabila:
1) tidak dapat melaksanakan tugas secara
berkelanjutan atau berhalangan tetap sebagai pimpinan DPR selama 3
(tiga) bulan berturut-turut;
2) melanggar sumpah/janji jabatan dan kode etik DPR berdasarkan hasil pemeriksaan Badan
Kehormatan DPR;
3) diusulkan oleh partai politiknya sesuai ketentuan undang-undang; atau 4) diberhentikan sebagai
anggota partai politik;
c. Dalam hal salah satu pimpinan DPR
diberhentikan dari jabatannya, penggantinya berasal dari fraksi yang
sama dengan fraksi pimpinan yang diberhentikan.
8. Sanksi bagi anggota DPR
Berbeda dengan UU Nomor 22 Tahun 2003 yang tidak mengatur sanksi bagi
anggota DPR yang tidak melaksanakan kewajibannya, maka di dalam RUU ini
ditegaskan bahwa anggota DPR yang terbukti tidak melaksanakan
kewajibannya dapat dikenai sanksi, dengan pengaturan sebagai berikut:
a. anggota DPR yang tidak melaksanakan kewajiban
dapat dikenakan sanksi berupa pemberhentian sebagai anggota DPR
dan/atau pemberhentian sementara sebagai anggota DPR;
b. setiap orang, kelompok atau organisasi dapat
mengajukan pengaduan kepada Badan Kehormatan DPR dalam hal memiliki
bukti-bukti yang cukup bahwa terdapat anggota DPR yang tidak
melaksanakan salah satu atau lebih
kewajibannya;
c. badan Kehormatan DPR berwenang menyelidiki,
memverifikasi dan memutuskan pengaduan sebagaimana dimaksud pada
huruf b;
d. dalam hal Badan Kehormatan DPR memutuskan anggota
DPR tidak melaksanakan kewajibannya, keputusan Badan Kehormatan
disampaikan kepada pimpinan DPR;
e. pimpinan DPR menyampaikan keputusan Badan
Kehormatan DPR tentang pemberhentian anggota DPR atau pemberhentian
sementara anggota DPR kepada Presiden untuk memperoleh pengesahan
pemberhentian atau pemberhentian sementaranya;
f. Dalam hal keputusan Badan Kehormatan DPR
menyatakan tidak terdapat cukup bukti anggota DPR tidak melaksanakan
kewajibannya, anggota DPR direhabilitasi namanya.
9. Tugas dan Wewenang DPD
Seiring dengan pemantapan sistem perwakilan berdasarkan UUD 1945 Hasil
Amandemen melalui penyesuaian tugas dan wewenang DPR, terutama yang
terkait langsung dengan DPD, khususnya dengan keberadaan DPD sebagai

lembaga perwakilan daerah, maka dalam RUU ini juga dipandang perlu
dilakukan penyesuaian dan tambahan tugas dan wewenang DPD, dengan
rumusan sebagai sebagai berikut:
a. ikut serta dalam penyusunan program legislasi
nasional yang berkaitan dengan otonomi daerah, pembentukan, pemekaran
dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber
daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan
pusat dan daerah;
b. ikut membahas bersama DPR rancangan undang-undang yang berkaitan dengan hal sebagaimana
dimaksud pada huruf a;
yang diajukan oleh Presiden dan DPR, yang berkaitan dengan otonomi
daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat
dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi
lainnya, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah;
d. bersama DPR membahas pertimbangan DPD atas
rancangan undang-undang APBN dan rancangan undang-undang yang berkaitan
dengan pajak, pendidikan, dan agama;
e. menyampaikan hasil pengawasan atas pelaksanaan
undang-undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan
penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya
alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta pelaksanaan undang-undang
APBN, pajak, pendidikan, dan agama, kepada DPR sebagai bahan
pertimbangan untuk ditindaklanjuti.
Sedikit berbeda dengan rumusan UU Nomor 22 Tahun 2003 yang menegaskan
keikutsertaan DPD dalam pembahasan RUU pada awal pembicaraan Tingkat I,
maka dalam RUU ini ditegaskan bahwa pelaksanaan tugas dan wewenang di
atas dilakukan sebelum pembahasan RUU dalam rapat kerja antara DPR
dengan Presiden sesuai tata tertib DPR.
10. Hak DPD
Dalam rangka penguatan DPD, dan sesuai dengan pasal 22D UUD 1945, dipandang perlu
menambah hak DPD sebagai
berikut:
a. memberikan pertimbangan kepada DPR dalam
pembahasan rancangan undang-undang mengenai anggaran pendapatan dan
belanja negara dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak,
pendidikan, dan agama;
b. melakukan pengawasan atas pelaksanaan
undang-undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran, dan
penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya
alam, dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan APBN, pajak,
pendidikan, dan agama.
11. Kewajiban Anggota DPD
Dalam rangka peningkatan akuntabilitas dan kinerja lembaga dan anggota
DPD, dipandang perlu merumuskan aturan yang menyangkut kewajiban
anggota DPD untuk dapat memenuhi kewajibannya dalam menegaskan
"menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi

masyarakat”. Sehingga, di dalam RUU dirumuskan bahwa disamping


kewajiban-kewajiban yang lain, anggota DPD juga mempunyai kewajiban:
a. menyerap dan menghimpun aspirasi masyarakat di
daerah yang di wakilinya melalui kunjungan kerja secara
berkala;
b. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat.
12. Pimpinan DPD
Pengaturan tentang pemberhentian Pimpinan DPD dipandang perlu disempurnakan, khususnya
dalam kaitan dengan akuntabilitas dan kinerjanya. Oleh karena itu, pengaturan tentang
pemberhentian Pimpinan DPD dirumuskan sebagai berikut:
a. Pimpinan DPD berhenti dari jabatannya karena:
1) meninggal dunia;
2) mengundurkan diri; atau
3) diberhentikan.
b. Alasan pemberhentian Pimpinan DPD, selain karena
alasan sebagaimana telah ditentukan dalam UU Nomor 22 Tahun 2003, juga
apabila:
1) tidak dapat melaksanakan tugas secara
berkelanjutan atau berhalangan tetap sebagai pimpinan DPD selama 3
(tiga) bulan berturut-turut;
2) melanggar sumpah/janji jabatan dan kode etik DPD berdasarkan hasil pemeriksaan Badan
Kehormatan DPD.
13. Sanksi bagi anggota DPD
Berbeda dengan UU Nomor 22 Tahun 2003 yang tidak mengatur sanksi bagi
anggota DPD yang tidak melaksanakan kewajibannya, maka di dalam RUU ini
ditegaskan bahwa anggota DPD yang terbukti tidak melaksanakan
kewajibannya dapat dikenai sanksi, dengan pengaturan sebagai berikut:
a. Anggota DPD yang tidak melaksanakan kewajibannya
dapat dikenakan sanksi berupa pemberhentian sebagai anggota DPD atau
pemberhentian sementara sebagai anggota DPD;
b. Setiap orang, kelompok atau organisasi dapat
mengajukan pengaduan kepada Badan Kehormatan DPD dalam hal memiliki
bukti-bukti yang cukup bahwa terdapat anggota DPD yang tidak
melaksanakan salah satu atau lebih kewajibannya;
c. Badan Kehormatan DPD berwenang memeriksa,
memverifikasi dan memutuskan pengaduan sebagaimana dimaksud pada
huruf b;
d. Dalam hal Badan Kehormatan DPD memutuskan anggota
DPD tidak melaksanakan kewajibannya, keputusan Badan Kehormatan
disampaikan kepada pimpinan DPD.

e. Pimpinan DPD menyampaikan keputusan Badan


Kehormatan DPD tentang pemberhentian anggota DPD atau pemberhentian
sementara anggota DPD kepada Presiden untuk memperoleh
pengesahan pemberhentian atau pemberhentian sementaranya.
f. Dalam hal keputusan Badan Kehormatan DPD
menyatakan tidak terdapat cukup bukti anggota DPD tidak melaksanakan
kewajibannya, anggota DPD direhabilitasi namanya.
14. Susunan dan Kedudukan DPRD Provinsi
Sesuai dengan sistem pemilihan yang akan digunakan dalam pemilihan umum
anggota DPR dan DPRD, yaitu sistem proporsional dengan daftar terbuka
penuh dengan penetapan calon terpilih berdasarkan perolehan suara
terbanyak, maka berbeda dengan rumusan UU 22/2003 yang menyatakan bahwa
“DPRD provinsi terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan
umum yang dipilih berdasarkan hasil pemilihan umum”, RUU ini menegaskan bahwa
“DPRD provinsi terdiri atas anggota partai politik peserta
pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan umum”.
Sesuai dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,
rumusan kedudukan DPRD provinsi perlu disesuaikan dari “lembaga
pemerintahan daerah provinsi” menjadi “unsur penyelenggara pemerintahan
daerah provinsi”.
15. Fungsi DPRD Provinsi
Untuk menegaskan dan memberi makna bagi kedudukan DPRD Provinsi sebagai
unsur penyelenggara pemerintahan daerah provinsi, maka rumusan fungsi
DPRD provinsi dari fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan,
dipandang perlu disesuaikan dan dirubah menjadi:
a. fungsi pembentukan peraturan daerah provinsi;
b. fungsi pembahasan dan persetujuan anggaran
pendapatan dan belanja daerah provinsi bersama dengan gubernur; dan
c. fungsi pengawasan pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi.
16. Tugas dan Wewenang DPRD Provinsi
Sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah provinsi, DPRD provinsi
mempunyai tugas dan wewenang yang secara langsung terkait dengan tujuan
penyelenggaraan pemerintahan daerah. Oleh karena itu, rumusan tugas dan
wewenang DPRD provinsi perlu disempurnakan dan disesuaikan dengan
konstruksi penyelenggaraan pemerintahan daerah menurut UU Nomor 32
Tahun 2004, dengan tambahan sebagai berikut:
a. memilih wakil gubernur dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil gubernur;
b. memberikan persetujuan terhadap rencana kerjasama
internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah provinsi;
c. memberikan persetujuan terhadap rencana kerjasama
antar daerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan
daerah;

d. mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.


17. Hak DPRD Provinsi
DPRD provinsi sebagai lembaga perwakilan rakyat daerah yang
berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah provinsi
memiliki hak konstitusional berupa hak interpelasi, angket, dan
menyatakan pendapat. Penggunaan hak tersebut penting diatur dalam
undang-undang dengan pertimbangan perlunya dasar legitimasi yang kuat
bagi DPRD provinsi dalam menggunakan haknya, sehingga di dalam RUU
dirumuskan sebagai berikut:
a. Penggunaan hak interpelasi:
1) Hak interpelasi adalah hak DPRD
provinsi untuk meminta keterangan kepada gubernur mengenai kebijakan
pemerintah provinsi yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat,
daerah, dan negara.
2) Hak interpelasi diajukan oleh
paling sedikit 10 (sepuluh) orang anggota DPRD provinsi kepada pimpinan
DPRD provinsi dan mendapatkan persetujuan dari rapat paripurna DPRD
provinsi yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari
jumlah anggota DPRD provinsi dan putusan diambil dengan persetujuan
sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD
provinsi yang hadir.
b. Penggunaan hak angket:
1) Hak angket adalah hak DPRD
provinsi untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan gubernur yang
penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat,
daerah, dan negara yang diduga bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan.
2) Hak angket diajukan oleh paling
sedikit 10 (sepuluh) orang anggota DPRD provinsi kepada pimpinan DPRD
provinsi dan mendapatkan persetujuan dari rapat paripurna DPRD provinsi
yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah
anggota DPRD provinsi dan putusan diambil dengan persetujuan
sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD provinsi
yang hadir.
3) Dalam menggunakan hak angket
dibentuk panitia angket yang terdiri atas semua unsur fraksi DPRD
provinsi dengan keputusan DPRD provinsi.
4) Panitia angket melaporkan
pelaksanaan tugasnya kepada rapat paripurna DPRD provinsi paling lama
60 (enam puluh) hari sejak dibentuknya panitia angket.
5) Dalam menggunakan hak
angketnya, DPRD provinsi dapat memanggil pejabat negara tingkat
provinsi, pejabat pemerintah provinsi, badan hukum, atau warga
masyarakat di provinsi yang dianggap mengetahui atau patut mengetahui
masalah yang diselidiki untuk memberikan keterangan serta untuk meminta
menunjukkan surat atau dokumen yang berkaitan dengan hal yang sedang
diselidiki.

6) Pejabat negara tingkat


provinsi, pejabat pemerintah provinsi, badan hukum, atau warga
masyarakat di provinsi yang wajib memenuhi panggilan DPRD provinsi
kecuali ada alasan yang sah menurut peraturan perundang-undangan.
7) Dalam hal telah dipanggil
dengan patut secara berturut-turut tidak memenuhi panggilan, DPRD
provinsi dapat memanggil secara paksa dengan bantuan Kepolisian Negara
Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
c. Penggunaan hak menyatakan pendapat:
1) Hak menyatakan
pendapat adalah hak DPRD provinsi untuk menyatakan pendapat
terhadap kebijakan gubernur yang penting dan strategis atau mengenai
kejadian luar biasa yang terjadi di daerah disertai dengan rekomendasi
penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi
dan hak angket.
2) Hak menyatakan pendapat
diajukan oleh paling sedikit 10 (sepuluh) orang anggota DPRD provinsi
kepada pimpinan DPRD provinsi dan mendapatkan persetujuan dari
rapat paripurna DPRD provinsi yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4
(tiga perempat) dari jumlah anggota DPRD provinsi dan putusan diambil
dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah
anggota DPRD provinsi yang hadir.
18. Keanggotaan DPRD Provinsi
Dengan mempertimbangan perlunya pembangunan pemerintahan daerah yang
berbasis struktur penyelenggara pemerintahan yang efektif dan efisien,
serta mempertimbangkan jumlah anggota DPR-RI yang relatif kecil
(Hasil Pemilu 2004 berjumlah 550 orang), maka jumlah kursi DPRD
provinsi menurut RUU ini seyogianya disesuaikan. Diusulkan agar
“Anggota DPRD provinsi berjumlah paling sedikit 30 (tiga puluh) orang
dan paling banyak 90 (sembilan puluh) orang”, tidak lagi berjumlah
paling sedikit 35 (tiga puluh lima) dan paling banyak 100 (seratus)
orang sebagaimana ditetapkan dalam UU Nomor 22 Tahun 2003.
19. Kewajiban anggota DPRD Provinsi
Dalam rangka peningkatan akuntabilitas dan kinerja lembaga dan anggota
DPRD provinsi, dipandang perlu merumuskan aturan yang menyangkut
kewajiban anggota DPRD provinsi untuk dapat memenuhi kewajibannya dalam
menegaskan "menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti
aspirasi masyarakat”. Sehingga, di dalam RUU dirumuskan bahwa disamping
kewajiban-kewajiban yang lain, anggota DPRD provinsi juga mempunyai
kewajiban:
a. menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara berkala;
b. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat;
c. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas bagi anggota DPRD provinsi.
Untuk mendukung pelaksanaan tugas dan wewenang DPRD provinsi, anggota
DPRD provinsi mengikuti orientasi dan pendalaman tugas, yang

dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, khususnya UU


Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
20. Pimpinan DPRD Provinsi
Prinsip pemberian reward secara politik bagi partai politik yang
berhasil memperoleh hasil pemilihan umum yang lebih baik dari partai
politik lainnya dalam pengisian Pimpinan DPR juga perlu digunakan dalam
pengisian Pimpinan DPRD provinsi, sehingga ketentuan dalam pengisian
Pimpinan DPRD provinsi dirumuskan sebagai berikut:
a. Pimpinan DPRD provinsi terdiri atas seorang Ketua
dan paling banyak 3 (tiga) orang wakil ketua yang berasal dari partai
politik berdasarkan urutan perolehan kursi terbanyak di DPRD provinsi;
b. Dalam hal terdapat lebih dari satu partai politik
yang memperoleh kursi sama, ketua dan wakil ketua DPRD provinsi
ditentukan berdasarkan urutan hasil perolehan suara terbanyak dalam
pemilu;
c. Dalam hal terdapat lebih dari satu partai politik
yang memperoleh suara sama, ketua dan wakil ketua DPRD provinsi
ditentukan berdasarkan persebaran perolehan suara.
Sementara itu, pengaturan tentang pemberhentian pimpinan DPRD provinsi
juga dipandang perlu disempurnakan, khususnya dalam kaitan dengan
akuntabiliats dan kinerjanya, serta dengan mempertimbangkan keberadaan
mereka sebagai kader partai politik. Oleh karena itu, pengaturan
tentang pemberhentian pimpinan DPRD provinsi dirumuskan sebagai berikut:
a. Pimpinan DPRD provinsi berhenti dari jabatannya karena:
1) meninggal dunia;
2) mengundurkan diri; atau
3) diberhentikan.
b. Alasan pemberhentian pimpinan DPRD provinsi,
selain karena alasan sebagaimana telah ditentukan dalam UU Nomor 22
Tahun 2003, juga apabila:
1) tidak dapat melaksanakan tugas secara
berkelanjutan atau berhalangan tetap sebagai pimpinan DPRD provinsi
selama 3 (tiga) bulan berturut-turut;
2) melanggar sumpah/janji jabatan dan kode etik DPRD
provinsi berdasarkan hasil pemeriksaan badan kehormatan DPRD provinsi;
3) diusulkan oleh partai politiknya sesuai ketentuan undang-undang; atau
4) diberhentikan sebagai anggota partai politik.
c. Dalam hal salah satu pimpinan DPRD provinsi
diberhentikan dari jabatannya, penggantinya berasal dari fraksi yang
sama dengan fraksi pimpinan yang diberhentikan.
21. Sanksi bagi anggota DPRD Provinsi
Berbeda dengan UU Nomor 22 Tahun 2003 yang tidak mengatur sanksi bagi

anggota DPRD provinsi yang tidak melaksanakan kewajibannya, maka di


dalam RUU ini ditegaskan bahwa anggota DPRD provinsi yang terbukti
tidak melaksanakan kewajibannya dapat dikenai sanksi, dengan pengaturan
sebagai berikut:
a. Anggota DPRD provinsi yang tidak melaksanakan
kewajiban dapat dikenakan sanksi berupa pemberhentian sebagai anggota
DPRD provinsi atau pemberhentian sementara sebagai anggota DPRD
provinsi;
b. Setiap orang, kelompok atau organisasi dapat
mengajukan pengaduan kepada badan kehormatan DPRD provinsi dalam hal
memiliki bukti-bukti yang cukup bahwa terdapat anggota DPRD provinsi
yang tidak melaksanakan salah satu atau lebih
kewajibannya;
c. Badan kehormatan DPRD provinsi berwenang
memeriksa, memverifikasi dan memutuskan pengaduan sebagaimana
dimaksud pada huruf b;
d. Dalam hal badan kehormatan DPRD provinsi
memutuskan anggota DPRD provinsi tidak melaksanakan kewajibannya,
keputusan badan kehormatan disampaikan kepada pimpinan DPRD provinsi;
e. Pimpinan DPRD provinsi menyampaikan keputusan
badan kehormatan DPRD provinsi tentang pemberhentian anggota DPRD
provinsi atau pemberhentian sementara anggota DPRD provinsi kepada
Menteri Dalam Negeri untuk memperoleh pengesahan pemberhentian atau
pemberhentian sementaranya;
f. Dalam hal keputusan badan kehormatan DPRD
provinsi menyatakan tidak terdapat cukup bukti anggota DPRD provinsi
tidak melaksanakan kewajibannya, anggota DPRD
provinsi direhabilitasi namanya.
22. Susunan dan Kedudukan DPRD Kabupaten/Kota
Sesuai dengan sistem pemilihan yang akan digunakan dalam pemilihan umum
anggota DPR dan DPRD, yaitu sistem proporsional dengan daftar terbuka
penuh dengan penetapan calon terpilih berdasarkan perolehan suara
terbanyak, maka berbeda dengan rumusan UU 22/2003 yang menyatakan bahwa
“DPRD kabupaten/kota terdiri atas anggota partai politik peserta
pemilihan umum yang dipilih berdasarkan hasil pemilihan umum”, RUU ini
menegaskan bahwa “DPRD kabupaten/kota terdiri atas anggota partai
politik peserta pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan umum”.
Sesuai dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,
rumusan kedudukan DPRD kabupaten/kota perlu disesuaikan dari “lembaga
pemerintahan daerah kabupaten/kota” menjadi “unsur penyelenggara
pemerintahan daerah kabupaten/kota”.
23. Fungsi DPRD Kabupaten/Kota
Untuk menegaskan dan memberi makna bagi kedudukan DPRD kabupaten/ kota
sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah kabupaten/kota, maka
rumusan fungsi DPRD kabupaten/kota dari fungsi legislasi, anggaran, dan
pengawasan, dipandang perlu disesuaikan dan dirubah menjadi:
a. fungsi pembentukan peraturan daerah kabupaten/kota;

b. fungsi pembahasan dan persetujuan anggaran


pendapatan dan belanja daerah provinsi bersama dengan bupati/walikota;
dan
c. fungsi pengawasan pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota.
24. Tugas dan Wewenang DPRD Kabupaten/Kota
Sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah kabupaten/kota, DPRD
kabupaten/kota mempunyai tugas dan wewenang yang secara langsung
terkait dengan tujuan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Oleh karena
itu, rumusan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota perlu disempurnakan
dan disesuaikan dengan konstruksi penyelenggaraan pemerintahan daerah
menurut UU Nomor 32 Tahun 2004, dengan tambahan sebagai berikut:
a. memilih wakil bupati/wakil walikota dalam hal
terjadi kekosongan jabatan wakil bupati/wakil
walikota;
b. memberikan persetujuan terhadap rencana kerjasama
internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota;
c. memberikan persetujuan terhadap rencana kerjasama
antar daerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan
daerah;
d. mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
25. Hak DPRD Kabupaten/Kota
DPRD kabupaten/kota sebagai lembaga perwakilan rakyat daerah yang
berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah
kabupaten/kota memiliki hak konstitusional berupa hak interpelasi,
angket, dan menyatakan pendapat. Penggunaan hak tersebut penting diatur
dalam undang-undang dengan pertimbangan perlunya dasar legitimasi yang
kuat bagi DPRD kabupaten/kota dalam menggunakan haknya, sehingga di
dalam RUU dirumuskan sebagai berikut:
a. Penggunaan hak interpelasi:
1) Hak interpelasi adalah hak DPRD kabupaten/kota
untuk meminta keterangan kepada bupati/walikota mengenai kebijakan
pemerintah kabupaten/kota yang penting dan strategis serta berdampak
luas pada kehidupan masyarakat, daerah, dan negara.
2) Hak interpelasi diajukan oleh paling sedikit 10
(sepuluh) orang anggota DPRD kabupaten/kota kepada pimpinan DPRD
kabupaten/kota dan mendapatkan persetujuan dari rapat paripurna DPRD
kabupaten/kota yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat)
dari jumlah anggota DPRD kabupaten/kota dan putusan diambil dengan
persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota
DPRD kabupaten/kota yang hadir.
b. Penggunaan hak angket:
1) Hak angket adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk
melakukan penyelidikan terhadap kebijakan bupati/walikota yang penting
dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat, daerah,
dan negara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

2) Hak angket diajukan oleh paling sedikit 10


(sepuluh) orang anggota DPRD kabupaten/kota kepada pimpinan DPRD
kabupaten/kota dan mendapatkan persetujuan dari rapat paripurna DPRD
kabupaten/kota yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat)
dari jumlah anggota DPRD kabupaten/kota dan putusan diambil dengan
persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota
DPRD kabupaten/kota yang hadir.
3) Dalam menggunakan hak angket dibentuk panitia
angket yang terdiri atas semua unsur fraksi DPRD kabupaten/kota dengan
keputusan DPRD kabupaten/kota.

4) Panitia angket melaporkan pelaksanaan tugasnya


kepada rapat paripurna DPRD kabupaten/kota paling lama 60 (enam puluh)
hari sejak dibentuknya panitia angket.
5) Dalam menggunakan hak angketnya, DPRD
kabupaten/kota dapat memanggil pejabat negara tingkat kabupaten/kota,
pejabat pemerintah kabupaten/kota, badan hukum, atau warga masyarakat
di kabupaten/kota yang dianggap mengetahui atau patut mengetahui
masalah yang diselidiki untuk memberikan keterangan serta untuk meminta
menunjukkan surat atau dokumen yang berkaitan dengan hal yang sedang
diselidiki.
6) Pejabat negara tingkat kabupaten/kota, pejabat
pemerintah kabupaten/kota, badan hukum, atau warga masyarakat di
kabupaten/kota yang wajib memenuhi panggilan DPRD kabupaten/kota
kecuali ada alasan yang sah menurut peraturan perundang-undangan.
7) Dalam hal telah dipanggil dengan patut secara
berturut-turut tidak memenuhi panggilan, DPRD kabupaten/kota dapat
memanggil secara paksa dengan bantuan Kepolisian Negara Republik
Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
c. Penggunaan hak menyatakan pendapat:
1) Hak menyatakan
pendapat adalah hak DPRD kabupaten/kota untuk menyatakan pendapat
terhadap kebijakan bupati/walikota yang penting dan strategis atau
mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di daerah disertai dengan
rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak
interpelasi dan hak angket.
2) Hak menyatakan pendapat
diajukan oleh paling sedikit 10 (sepuluh) orang anggota DPRD
kabupaten/kota kepada pimpinan DPRD kabupaten/kota dan mendapatkan
persetujuan dari rapat paripurna DPRD kabupaten/kota yang
dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota
DPRD kabupaten/kota dan putusan diambil dengan persetujuan
sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota DPRD
kabupaten/kota yang hadir.
26. Kewajiban anggota DPRD Kabupaten/Kota
Dalam rangka peningkatan akuntabilitas dan kinerja lembaga dan anggota
DPRD kabupaten/kota, dipandang perlu merumuskan aturan yang menyangkut
kewajiban anggota DPRD kabupaten/kota untuk dapat memenuhi kewajibannya
dalam menegaskan "menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti

aspirasi masyarakat”. Sehingga, di dalam RUU dirumuskan bahwa disamping


kewajiban-kewajiban yang lain, anggota DPRD kabupaten/kota juga
mempunyai kewajiban:
a. menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui kunjungan kerja secara berkala;
b. menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat;
c. mengikuti orientasi dan pendalaman tugas bagi anggota DPRD kabupaten/kota.
Untuk mendukung pelaksanaan tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota,
anggota DPRD kabupaten/kota mengikuti orientasi dan pendalaman tugas,
yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, khususnya
UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
27. Pimpinan DPRD Kabupaten/Kota
Prinsip pemberian reward secara politik bagi partai politik yang
berhasil memperoleh hasil pemilihan umum yang lebih baik dari partai
politik lainnya dalam pengisian Pimpinan DPR dan DPRD provinsi juga
perlu digunakan dalam pengisian pimpinan DPRD kabupaten/kota, sehingga
ketentuan dalam pengisian pimpinan DPRD kabupaten/kota dirumuskan
sebagai berikut:
a. Pimpinan DPRD provinsi terdiri atas seorang Ketua
dan paling banyak 2 (dua) orang wakil ketua yang berasal dari partai
politik berdasarkan urutan perolehan kursi terbanyak di DPRD
kabupaten/kota;
b. Dalam hal terdapat lebih dari satu partai politik
yang memperoleh kursi sama, ketua dan wakil ketua DPRD kabupaten/kota
ditentukan berdasarkan urutan hasil perolehan suara terbanyak dalam
pemilu;
c. Dalam hal terdapat lebih dari satu partai politik
yang memperoleh suara sama, ketua dan wakil ketua DPRD kabupaten/kota
ditentukan berdasarkan persebaran perolehan suara.
Sementara itu, pengaturan tentang pemberhentian pimpinan DPRD
kabupaten/kota juga dipandang perlu disempurnakan, khususnya dalam
kaitan dengan akuntabilitas dan kinerjanya, serta dengan
mempertimbangkan keberadaan mereka sebagai kader partai politik. Oleh
karena itu, pengaturan tentang pemberhentian pimpinan DPRD
kabupaten/kota dirumuskan sebagai berikut:
a. Pimpinan DPRD kabupaten/kota berhenti dari jabatannya karena:
1) meninggal dunia;
2) mengundurkan diri; atau
3) diberhentikan.
b. Alasan pemberhentian Pimpinan DPRD kabupaten/kota,
selain karena alasan sebagaimana telah ditentukan dalam UU Nomor 22
Tahun 2003, juga apabila:
1) tidak dapat melaksanakan tugas secara
berkelanjutan atau berhalangan tetap sebagai pimpinan DPRD

kabupaten/kota selama 3 (tiga) bulan berturut-turut;


2) melanggar sumpah/janji jabatan dan kode etik DPRD
kabupaten/kota berdasarkan hasil pemeriksaan badan kehormatan DPRD
kabupaten/kota;
3) diusulkan oleh partai politiknya sesuai ketentuan undang-undang; atau
4) diberhentikan sebagai anggota partai politik.
c. Dalam hal salah satu pimpinan DPRD kabupaten/kota
diberhentikan dari jabatannya, penggantinya berasal dari fraksi yang
sama dengan fraksi pimpinan yang diberhentikan.
28. Sanksi bagi anggota DPRD Kabupaten/Kota
Berbeda dengan UU Nomor 22 Tahun 2003 yang tidak mengatur sanksi bagi
anggota DPRD kabupaten/kota yang tidak melaksanakan kewajibannya, maka
di dalam RUU ini ditegaskan bahwa anggota DPRD kabupaten/kota yang
terbukti tidak melaksanakan kewajibannya dapat dikenai sanksi, dengan
pengaturan sebagai berikut:
a. Anggota DPRD kabupaten/kota yang tidak
melaksanakan kewajiban dapat dikenakan sanksi berupa pemberhentian
sebagai anggota DPRD kabupaten/kota atau pemberhentian sementara
sebagai anggota DPRD kabupaten/kota;
b. Setiap orang, kelompok atau organisasi dapat
mengajukan pengaduan kepada badan kehormatan DPRD kabupaten/kota dalam
hal memiliki bukti-bukti yang cukup bahwa terdapat anggota DPRD
kabupaten/kota yang tidak melaksanakan salah satu atau lebih
kewajibannya;
c. Badan kehormatan DPRD kabupaten/kota berwenang
memeriksa, memverifikasi dan memutuskan pengaduan sebagaimana
dimaksud pada huruf b;
d. Dalam hal badan kehormatan DPRD kabupaten/kota
memutuskan anggota DPRD kabupaten/kota tidak melaksanakan kewajibannya,
keputusan badan kehormatan disampaikan kepada pimpinan DPRD
kabupaten/kota;
e. Pimpinan DPRD kabupaten/kota menyampaikan
keputusan badan kehormatan DPRD kabupaten/kota tentang pemberhentian
anggota DPRD kabupaten/kota atau pemberhentian sementara anggota DPRD
kabupaten/kota kepada gubernur untuk memperoleh pengesahan
pemberhentian atau pemberhentian sementaranya;
f. Dalam hal keputusan badan kehormatan DPRD
kabupaten/kota menyatakan tidak terdapat cukup bukti anggota DPRD
kabupaten/kota tidak melaksanakan kewajibannya,
anggota DPRD kabupaten/kota direhabilitasi namanya.
29. Penggantian Antarwaktu Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota
Sejalan dengan upaya peningkatan akuntabilitas dan kinerja lembaga dan
anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota, maka

pengaturan tentang penggantian antarwaktu anggota DPR, DPD, DPRD


provinsi, dan DPRD kabupaten/kota juga perlu disempurnakan.
a. Penggantian antarwaktu anggota DPR:
Anggota DPR berhenti antarwaktu karena:
1) meninggal dunia;
2) mengundurkan diri; atau
3) diberhentikan.
Dalam RUU dirumuskan bahwa anggota DPR diberhentikan antarwaktu, selain
karena alasan yang telah ditetapkan di dalam UU Nomor 22 Tahun 2003,
juga apabila:
1) tidak dapat melaksanakan tugas secara
berkelanjutan atau berhalangan tetap sebagai anggota DPR selama 3
(tiga) bulan berturut-turut;
2) tidak menghadiri rapat paripurna dan/atau rapat
alat kelengkapan yang menjadi tugas dan kewajibannya selama 6 (enam)
kali berturut-turut tanpa alasan yang sah;
3) diberhentikan sebagai anggota partai politik.
Pemberhentian anggota DPR yang berkedudukan sebagai pimpinan DPR yang
telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud di atas disampaikan oleh
pimpinan partai politik kepada pimpinan DPR untuk selanjutnya
disampaikan oleh pimpinan DPR kepada Presiden untuk diresmikan. Usulan
pemberhentian oleh pimpinan partai politik tersebut dikirim tembusannya
kepada Presiden.
Apabila diperlukan, Badan Kehormatan DPR dalam melakukan penyelidikan,
verifikasi, dan pengambilan keputusan dapat dibantu oleh tim ahli
independen yang dibentuk oleh Badan Kehormatan DPR.
Dalam hal penyampaian usulan pemberhentian oleh unsur pimpinan DPR
tidak dilaksanakan paling lambat dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja
setelah diterimanya usulan pemberhentian, dengan sendirinya
pemberhentian dapat diresmikan oleh Presiden.
b. Penggantian antarwaktu anggota DPD:
Anggota DPD berhenti antarwaktu karena:
1) meninggal dunia;
2) mengundurkan diri; atau
3) diberhentikan.
Dalam RUU dirumuskan bahwa anggota DPD diberhentikan antarwaktu, selain
karena alasan yang telah ditetapkan di dalam UU Nomor 22 Tahun 2003,
juga apabila:
1) tidak dapat melaksanakan tugas secara
berkelanjutan atau berhalangan tetap sebagai anggota DPD selama 3
(tiga) bulan berturut-turut.

2) tidak menghadiri rapat paripurna dan rapat alat


kelengkapan yang menjadi tugas, wewenang dan kewajibannya selama 6
(enam) kali berturut-turut tanpa alasan yang sah.
3) diusulkan oleh masyarakat dari daerah yang diwakilinya sesuai ketentuan undang-undang.
Pemberhentian anggota DPD yang berkedudukan sebagai pimpinan DPD yang
telah memenuhi ketentuan di atas (angka 1 dan angka 2) langsung
disampaikan oleh unsur pimpinan DPD lainnya kepada Presiden untuk
diresmikan.
Pemberhentian anggota DPD dan anggota DPD yang berkedudukan sebagai
pimpinan DPD yang telah memenuhi ketentuan angka 3 disampaikan oleh
masyarakat pengusul kepada pimpinan DPD untuk selanjutnya disampaikan
oleh pimpinan DPD kepada Presiden untuk diresmikan. Usulan
pemberhentian oleh masyarakat pemilih dikirim tembusannya kepada Komisi
Pemilihan Umum.
Apabila diperlukan, Badan Kehormatan DPD dalam melakukan penyelidikan,
verifikasi, dan pengambilan keputusan dapat dibantu oleh tim ahli
independen yang dibentuk oleh Badan Kehormatan DPD.
Dalam hal penyampaian usulan pemberhentian oleh unsur pimpinan DPD
tidak dilaksanakan paling lambat dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja sejak
diterimanya usulan pemberhentian, dengan sendirinya pemberhentian dapat
diresmikan oleh Presiden.
c. Penggantian antarwaktu anggota DPRD provinsi:
Anggota DPRD provinsi berhenti antarwaktu karena:
1) meninggal dunia;
2) mengundurkan diri; atau
3) diberhentikan.
Dalam RUU dirumuskan bahwa anggota DPRD provinsi diberhentikan
antarwaktu, selain karena alasan yang telah ditetapkan di dalam UU
Nomor 22 Tahun 2003, juga apabila:
1) tidak dapat melaksanakan tugas secara
berkelanjutan atau berhalangan tetap sebagai anggota DPRD provinsi
selama 3 (tiga) bulan berturut-turut;
2) tidak menghadiri rapat paripurna dan rapat alat
kelengkapan yang menjadi tugas, wewenang dan kewajibannya selama 3
(tiga) kali berturut-turut tanpa alasan yang sah;
3) diberhentikan sebagai anggota partai politik.
Pemberhentian anggota DPRD provinsi yang berkedudukan sebagai
pimpinan DPRD provinsi yang telah memenuhi ketentuan tersebut di atas
disampaikan oleh pimpinan partai politik kepada pimpinan DPRD provinsi
untuk selanjutnya disampaikan oleh pimpinan DPRD provinsi kepada
Menteri Dalam Negeri melalui gubernur untuk diresmikan. Usulan
pemberhentian oleh pimpinan partai politik dikirim tembusannya kepada
Menteri Dalam Negeri dan gubernur.

Apabila diperlukan, Badan Kehormatan DPRD provinsi dalam melakukan


penyelidikan, verifikasi, dan pengambilan keputusan dapat dibantu oleh
tim ahli independen yang dibentuk oleh Badan Kehormatan DPRD provinsi.
Dalam hal penyampaian usulan pemberhentian oleh unsur pimpinan DPRD
provinsi tidak dilaksanakan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak
diterimanya usulan pemberhentian, dengan sendirinya pemberhentian dapat
diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri setelah menerima pemberitahuan
dari gubernur atas usul dari pimpinan partai politik yang bersangkutan.
d. Penggantian antarwaktu anggota DPRD kabupaten/kota:
Anggota DPRD kabupaten/kota berhenti antarwaktu karena:
1) meninggal dunia;
2) mengundurkan diri; atau
3) diberhentikan.
Dalam RUU dirumuskan bahwa anggota DPRD kabupaten/kota diberhentikan
antarwaktu, selain karena alasan yang telah ditetapkan di dalam UU
Nomor 22 Tahun 2003, juga apabila:
1) tidak dapat melaksanakan tugas secara
berkelanjutan atau berhalangan tetap sebagai anggota DPRD
kabupaten/kota selama 3 (tiga) bulan berturut-turut.
2) tidak menghadiri rapat paripurna dan rapat alat
kelengkapan yang menjadi tugas, wewenang dan kewajibannya selama 3
(tiga) kali berturut-turut tanpa alasan yang sah.
3) diberhentikan sebagai anggota partai politik.
Pemberhentian anggota DPRD kabupaten/kota yang berkedudukan sebagai
pimpinan DPRD kabupaten/kota yang telah memenuhi ketentuan tersebut di
atas disampaikan oleh pimpinan partai politik kepada pimpinan DPRD
kabupaten/kota untuk selanjutnya disampaikan oleh pimpinan DPRD
kabupaten/kota kepada gubernur melalui bupati/walikota untuk
diresmikan. Usulan pemberhentian oleh pimpinan partai politik dikirim
tembusannya kepada gubernur dan bupati/walikota.
Apabila diperlukan, badan kehormatan DPRD kabupaten/kota dalam
melakukan penyelidikan, verifikasi, dan pengambilan keputusan dapat
dibantu oleh tim ahli independen yang dibentuk oleh badan kehormatan
DPRD kabupaten/kota.
Dalam hal penyampaian usulan pemberhentian oleh unsur pimpinan DPRD
kabupaten/kota tidak dilaksanakan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja,
dengan sendirinya pemberhentian dapat diresmikan oleh gubernur setelah
menerima pemberitahuan dari bupati/walikota atas usul pimpinan partai
politik yang bersangkutan.
30. Calon Pengganti Antar Waktu Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota
Dalam rangka penggantian antarwaktu anggota DPR, dirumuskan ketentuan bahwa calon pengganti
adalah:
a. calon anggota DPR yang memperoleh suara terbanyak

urutan berikutnya dalam daftar peringkat perolehan suara dari


partai politik yang sama pada daerah pemilihan yang sama;
b. apabila calon pengganti sebagaimana dimaksud pada
huruf a mengundurkan diri, meninggal dunia, atau diberhentikan,
diajukan calon anggota DPR yang memperoleh suara terbanyak urutan
berikutnya dari partai politik yang sama pada daerah pemilihan yang
sama.

Dalam rangka penggantian antarwaktu anggota DPD, dirumuskan ketentuan bahwa calon pengganti
adalah:
a. calon anggota DPD yang memperoleh suara terbanyak
urutan berikutnya dalam daftar peringkat perolehan suara calon
anggota DPD dari provinsi yang sama;
b. apabila calon pengganti sebagaimana dimaksud pada
huruf a mengundurkan diri, meninggal dunia, atau diberhentikan,
diajukan calon anggota DPD yang memperoleh suara terbanyak urutan
berikutnya dalam peringkat perolehan suara calon anggota DPD dari
provinsi yang sama.
Dalam rangka penggantian antarwaktu anggota DPRD provinsi, dirumuskan ketentuan bahwa calon
pengganti adalah:
a. calon anggota DPRD provinsi yang memperoleh suara
terbanyak urutan berikutnya dalam daftar peringkat perolehan suara dari
partai politik yang sama pada daerah pemilihan yang sama;
b. apabila calon pengganti sebagaimana dimaksud pada
huruf a mengundurkan diri, meninggal dunia, atau diberhentikan,
diajukan calon pengganti pada urutan peringkat perolehan suara
berikutnya dari partai politik yang sama pada daerah pemilihan yang
sama.
Dalam rangka penggantian antarwaktu anggota DPRD kabupaten/kota, dirumuskan ketentuan bahwa
calon pengganti
adalah:
a. calon anggota DPRD kabupaten/kota yang memperoleh
suara terbanyak urutan berikutnya dalam daftar peringkat perolehan
suara dari partai politik yang sama pada daerah pemilihan yang sama;
b. apabila calon pengganti sebagaimana dimaksud pada
huruf a mengundurkan diri, meninggal dunia, atau diberhentikan diajukan
calon pengganti pada urutan peringkat perolehan suara berikutnya dari
partai politik yang sama pada daerah pemilihan yang sama.
Tata cara pengajuan penggantian antarwaktu, verifikasi terhadap
persyaratan calon pengganti antarwaktu, dan pengesahan calon pengganti
antarwaktu anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota
ditetapkan dengan peraturan pemerintah.
31. Pemberhentian Sementara Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota
Untuk mengantisipasi kemungkinan selama masa jabatannya anggota DPR,
DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota tersangkut masalah hukum,
khususnya sebagai akibat dari perbuatan melawan hukum berupa perkara
tindak pidana umum dan perkara tindak pidana khusus, maka dipandang

perlu adanya pengaturan tentang pemberhentian sementara anggota DPR,


DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota.
Anggota DPR, DPD, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota diberhentikan sementara karena:
a. menjadi terdakwa dalam perkara tindak pidana umum yang diancam dengan pidana penjara lima
tahun atau lebih;
b. menjadi terdakwa dalam perkara tindak pidana khusus.
Beberapa rumusan ketentuan yang menyangkut pemberhentian sementara
anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota adalah:
a. Dalam hal anggota DPR, DPD, DPRD provinsi dan DPRD
kabupaten/kota dinyatakan terbukti bersalah karena melakukan tindak
pidana sebagaimana dimaksud pada huruf a dan/atau huruf b di atas
berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum
tetap, anggota yang bersangkutan diberhentikan sebagai anggota DPR,
DPD, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota;
b. Dalam hal anggota DPR, DPD, DPRD provinsi dan DPRD
kabupaten/kota dinyatakan tidak terbukti melakukan tindak pidana
sebagaimana dimaksud pada huruf a dan/atau huruf b berdasarkan putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, anggota yang
bersangkutan diaktifkan kembali sampai dengan berakhirnya masa jabatan
anggota DPR, DPD, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota;
c. Dalam hal anggota DPR, DPD, DPRD provinsi dan DPRD
kabupaten/kota diberhentikan sementara, hak keuangannya tidak
dibayarkan kecuali uang representasi;
d. Dalam hal anggota DPR, DPD, DPRD provinsi dan DPRD
kabupaten/kota diberhentikan, pemberhentiannya berlaku terhitung mulai
tanggal putusan pengadilan telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
32. Alat Kelengkapan dan Pendukung
Sebagai bagian dari upaya penguatan DPD sebagai lembaga perwakilan
daerah yang berkedudukan sebagai lembaga negara, dipandang perlu
melegitimasi keberadaan beberapa alat kelengkapan DPD yang selama ini
telah ada berdasarkan Peraturan Tata Tertib DPD. Beberapa alat
kelengkapan yang dipandang penting untuk menjadi tambahan rumusan dalam
RUU adalah:
a. Panitia Musyawarah;
b. Panitia Perancang Undang-Undang;
c. Panitia Urusan Rumah Tangga;
d. Panitia Kerjasama Antar Parlemen;
e. Alat Kelengkapan lain yang diperlukan.
Sementara itu, penguatan DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota,
khususnya dalam pelaksanaan fungsi pembentukan peraturan daerah
provinsi dan pembentukan peraturan daerah kabupaten/kota, dipandang
perlu alat kelengkapan DPRD yang terkait langsung dengan fungsi
tersebut. Oleh karena itu, di dalam RUU dirumuskan adanya Panitia
Program Penyusunan Peraturan Daerah sebagai alat kelengkapan DPRD

Provinsi dan alat kelengkapan DPRD kabupaten/kota.


Untuk mengoptimalkan pelaksanaan fungsi, tugas dan wewenang DPR, DPRD
provinsi, dan DPRD kabupaten/kota, serta hak dan kewajiban anggota DPR,
dibentuk fraksi sebagai wadah berhimpun anggota-anggota DPR, DPRD
provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. Setiap anggota DPR, DPRD provinsi,
dan DPRD kabupaten/kota menjadi anggota salah satu fraksi. Setiap
fraksi di DPR beranggotakan paling sedikit 25 (dua puluh lima) orang,
di DPRD provinsi beranggotakan paling sedikit 15 (lima belas) orang, di
DPRD kabupaten/kota beranggotakan paling sedikit 10 (sepuluh ) orang.
Partai politik yang jumlah anggotanya di DPR, DPRD provinsi, dan DPRD
kabupaten/kota mencapai ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
atau lebih dapat membentuk 1 (satu) fraksi. Dalam hal partai politik
yang jumlah anggotanya di DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota
tidak mencapai ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), anggotanya
dapat bergabung dengan anggota partai politik yang memenuhi
ketentuan untuk membentuk 1 (satu) fraksi atau anggotanya bergabung
dengan anggota partai politik lain untuk memenuhi ketentuan pembentukan
fraksi.
33. Pengelolaan Keuangan MPR, DPR, dan DPD
Berbeda dengan UU Nomor 22 Tahun 2003, di dalam RUU dirumuskan bahwa
kedudukan protokoler dan keuangan pimpinan dan anggota MPR, DPR dan DPD
diatur dengan peraturan pemerintah berdasarkan masukan dari
masing-masing lembaga. Pengelolaan keuangan MPR, DPR, dan DPD
dilaksanakan oleh Sekretariat Jenderal MPR, Sekretariat Jenderal DPR,
dan Sekretariat Jenderal DPD sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
Hal tersebut sejalan dengan ketentuan UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara dan UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara, yang menunjuk Kepala Satuan Kerja sebagai Pengguna Anggaran.
Oleh karena itu, Sekretaris Jenderal MPR, Sekretaris Jenderal DPR, dan
Sekretaris Jenderal DPD sebagai Kepala Satuan Kerja Sekretariat
Jenderal MPR, DPR, dan DPD adalah Pengguna Anggaran. Sesuai dengan
rumusan dalam RUU ini, maka Pimpinan MPR, Pimpinan DPR, dan Pimpinan
DPD mempunyai tugas menetapkan arah dan kebijakan umum anggaran MPR,
DPR, dan DPD.
34. Ketentuan Lain-lain
Untuk mengakomodasi dinamika politik pemerintahan pasca pemilihan umum,
khususnya dalam kaitan dengan pembentukan daerah otonom baru, maka
dalam ketentuan lain-lain perlu diatur ketentuan tentang pengisian
anggota DPRD provinsi dan/atau DPRD kabupaten/kota pada provinsi dan
atau kabupaten/kota yang dibentuk setelah pemilihan umum.
Pengisian anggota DPRD provinsi dan/atau DPRD kabupaten/kota pada
provinsi dan atau kabupaten/kota yang dibentuk setelah pemilihan umum,
disamping ketentuan yang telah terdapat dalam UU Nomor 22 Tahun 2003,
juga harus dilakukan dengan ketentuan “menetapkan jumlah kursi DPRD
provinsi dan atau DPRD kabupaten/kota yang bersangkutan berdasarkan
jumlah penduduk menurut ketentuan undang-undang tentang pemilihan umum
anggota DPR, DPD, dan DPRD”.
Pengurangan anggota DPRD provinsi induk dan atau DPRD kabupaten/kota
induk sebagai akibat dari pemindahan anggota DPRD provinsi dan atau

DPRD kabupaten/kota ke daerah yang dibentuk setelah pemilihan umum,


dapat dilakukan pengisian anggota baru, dengan ketentuan:
a. jumlah kursi DPRD provinsi dan atau DPRD
kabupaten/kota yang bersangkutan ditentukan kembali berdasarkan jumlah
penduduk menurut ketentuan Undang-Undang tentang Pemilihan Umum anggota
DPR, DPD, dan DPRD;
b. dalam hal jumlah anggota DPRD provinsi dan atau
DPRD kabupaten/kota yang ada setelah dikurangi dengan anggota yang
dipindahkan ke provinsi/kabupaten/kota yang baru tidak memenuhi jumlah
kursi sebagaimana dimaksud pada huruf a, dilakukan pengisian baru;
c. pengisian baru sebagaimana dimaksud pada huruf b
dilakukan dengan mengangkat anggota baru dari daftar calon tetap
anggota DPRD provinsi dan atau DPRD kabupaten/kota induk berdasarkan
peringkat perolehan suara dari setiap calon dalam pemilihan umum yang
berasal dari daerah pemilihan di provinsi dan atau kabupaten/kota induk.
B. Susunan Rancangan Undang-Undang
RUU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD disusun
dengan struktur Bab dan Pasal, yang terdiri atas 13 Bab dan 131 Pasal.
Dibandingkan dengan UU Nomor 22 Tahun 2003 yang terdiri atas 12 Bab dan
114 Pasal, maka dalam RUU terdapat penambahan 1 Bab dan 17 Pasal.
Penambahan Bab terjadi karena Bab VIII (ALAT KELENGKAPAN, PROTOKOLER,
KEUANGAN, DAN PERATURAN TATA TERTIB) dalam UU Nomor 22 Tahun 2003
dijadikan dua bab dalam RUU, yaitu Bab VIII (ALAT KELENGKAPAN DAN
PENDUKUNG) dan Bab IX (KEDUDUKAN PROTOKOLER, KEUANGAN, DAN PERATURAN
TATA TERTIB).
Secara lengkap, ke 13 Bab dan 126 Pasal dalam RUU adalah:
Bab I KETENTUAN UMUM;
terdiri atas 1 pasal, yaitu Pasal 1.
BAB II MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT;
terdiri atas 14 pasal, yaitu Pasal 2 sampai dengan Pasal 15.
BAB III DEWAN PERWAKILAN RAKYAT;
terdiri atas 21 pasal, yaitu Pasal 16 sampai dengan Pasal 36.
BAB IV DEWAN PERWAKILAN DAERAH;
terdiri atas 15 pasal, yaitu Pasal 37 sampai dengan Pasal 51.
BAB V DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI;
terdiri atas 20 pasal, yaitu Pasal 52 sampai dengan Pasal 71.
BAB VI DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN/KOTA;
terdiri atas 20 pasal, yaitu Pasal 72 sampai dengan Pasal 91.
BAB VII PENGGANTIAN ANTARWAKTU;

terdiri atas 19 pasal, yaitu Pasal 92 sampai dengan Pasal 110.


BAB VIII ALAT KELENGKAPAN DAN PENDUKUNG;
terdiri atas 6 pasal, yaitu Pasal 111 sampai dengan Pasal 116.
BAB IX KEDUDUKAN PROTOKOLER, KEUANGAN, DAN PERATURAN TATA TERTIB;
terdiri atas 3 pasal, yaitu Pasal 117 sampai dengan Pasal 119.
BAB X KEKEBALAN, LARANGAN, DAN
PENYIDIKAN TERHADAP ANGGOTA MPR, DPR, DPD, DPRD PROVINSI, DAN DPRD
KABUPATEN/KOTA;
terdiri atas 5 pasal, yaitu Pasal 120 sampai dengan Pasal 124.
BAB XI KETENTUAN LAIN-LAIN;
terdiri atas 2 pasal, yaitu Pasal 125 sampai dengan Pasal 126.
BAB XII KETENTUAN PERALIHAN;
terdiri atas 3 pasal, yaitu Pasal 127 sampai dengan Pasal 129.
BAB XIII KETENTUAN PENUTUP;
terdiri atas 2 pasal, yaitu Pasal 130 sampai dengan Pasal 131.

BAB V
PENUTUP
Demikianlah Naskah Akademik ini dibuat untuk dijadikan acuan dalam
perumusan dan pembahasan RUU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR,
DPD, dan DPRD.

DAFTAR PUSTAKA
1. Arend Lijphart, Sistem Pemerintahan Parlementer dan Presidensial, Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 1995.
2. Scott Mainwaring, “Presidentialism, Multipartism,
and Democracy: The Difficult Combination,” Comparative Political
Studies, 26, 1993.
3. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan
MPR, DPR, DPD, dan
DPRD.
6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan.
8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun
2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun
2005-2025.
10. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Pedoman Penyusunan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah.
11. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2005 tentang
Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2004 tentang Pedoman
Penyusunan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
12. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2005-2009.