Anda di halaman 1dari 13

Syok hipovolemik ec gastroenteritis dengan dehidrasi berat

Yunita Verayanti Siokh


102012056, D6
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Email: yunita.siokh@civitas.ukrida.ac.id
Pendahuluan
Syok adalah suatu sindrom klinis yang terjadi akibat gangguan hemodinamik dan
metabolik ditandai dengan kegagalan sistem sirkulasi untuk mempertahankan perfusi yang
adekuat ke organ-organ vital tubuh. Hal ini muncul akibat kejadian pada hemostasis tubuh
yang serius seperti, perdarahan yang masif, trauma atau luka bakar yang berat (syok
hipovolemik), infark miokard luas atau emboli paru (syok kardiogenik), sepsis akibat bakteri
yang tak terkontrol (syok septik), tonus vasomotor yang tidak adekuat (syok neurogenik) atau
akibat respons imun (syok anafilaktik).1
Syok hipovolemik merupakan kondisi medis atau bedah dimana terjadi kehilangan
cairan dengan cepat yang berakhir pada kegagalan beberapa organ, disebabkan oleh volume
sirkulasi yang tidak adekuat dan berakibat pada perfusi yang tidak adekuat. Syok
hopovolemik di masukan dalam kasus kegawatdaruratan. Kegawatdaruratan merupakan
kondisi yang membutuhkan penanganan segera untuk menyelamatkan pasien. Dalam kasus
pbl kali ini saya akan membahas mengenai syok hipovolemik yang di sebabkan karena
gastrienteritis dengan dehidrasi berat.
Skenario
Seorang perempuan berusia 76 tahun di bawa ke IGD RS karena penurunan kesadaran sejak
20 menit yang lalu. Tiga hari sebelumnya, pasien mengalami diare. Frekuensi diare sangat
sering kira-kira 2 jam sekali dan di sertai muntah. Riwayat lain tidak diketahui.
Primary survey
Langkah utama dan penting dalam menilai pasien yang datang dalam kondisi syok
adalah dengan melakukan survei primer.1
1. Airway maintenance, langkah pertama dalam survei primer adalah penilaian jalan
nafas. Bila pasien masih dapat berbicara, maka kemungkinan jalan nafas tidak ada
1

hambatan, namun apabila pasien tidak sadarkan diri, kemungkinan pasien tidak dapat
mempertahankan jalan nafasnya. Jalan nafas dapat dibebaskan dengan melakukan
triple airway maneuver yakni head tilt, chin lift, jaw thrust. Jika terdapat hambatan
jalan nafas karena cairan, maka cairan tersebut harus dibersihkan dari mulut. Apabila
terjadi obstruksi, maka dapat dilakukan endotracheal tube.
2. Breathing and ventilation, toraks harus diperiksa dengan inspeksi, palpasi, perkusi,
auskultasi. Tujuan dari langkah ini adalah menilai pasien memiliki nafas yang adekuat
dan menilai apakah terdapat kondisi toraks mengancam nyawa, seperti airway
obstruction, tension pneumothorax, hematothorax, flail chest, open pneumothorax,
cardiac tamponade.
3. Circulation, pada langkah ini, dinilai sirkulasi darah pada seluruh tubuh, dengan
melakukan pemeriksaan tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi nafas, konjungtiva,
dan waktu pengisian kapiler. Pendarahan adalah salah satu penyebab dari syok
hipovolemik, selain itu kondisi kehilangan cairan lain jga dapat menyebabkan syok
hipovolemik seperti diare berat dan luka bakar masif . Perdarahan eksternal dapat
dikontrol dengan pemberian tekanan.
4. Disability/neurologic assessment, dalam langkah ini, penilaian neurologis dasar dibuat
yakni AVPU (alert, verbal stimuli response, painful stimuli response, unresponsive).
Salah satu cara yang mudah untuk menilai pada langkah ini adalah dengan Glasgow
Coma Scale.
5. Exposure and environmental control, pasien harus tidak berpakaian, dengan
penguntingan pakaian, berikan selimut untuk mencegah hipotermia.
Critical Care Scoring
Penilaian pada penyakit menjadi metode yang popular untuk menjadi triage pasien,
banyak cara penilaian yang diperkenalkan, namun masing-masing mempunyai keterbatasan
tersendiri. Dari banyak cara penilaian akan dibahas yang sering digunakan pada unit gawat
darurat.1
1. Glasgow Coma Scale (GCS), menilai koma pada pasien dengan trauma kepala. Skala
ini didasarkan pada pembukaan mata, respon verbal, dan respon motorik. Total dari
skala ini adalah penjumlahan skor dari ketiga respon ini yang bervariasi dari nilai
terendah 3 sampai nilai tertinggi 15 yang berarti sadar penuh. Pemeriksaan pasien dan
penghitungan GCS dapat dilakukan dalam waktu kurang dari 1 menit.
Tabel 1. Glasgow Coma Scale.
2

Eye
4 = spontan
3 = suara
2 = nyeri
1 = tidak ada

Verbal
5 = orientasi penuh
4 = bicara bingung
3 = bahasa hanya kata
2 = hanya suara bukan kata
1 = tidak ada

Motor
6 = patuh perintah
5 = menunjuk rangsang
4 = menarik pada nyeri
3 = flexi
2 = ekstensi
1 = tidak ada
2. Trauma score, penilaian ini diperlukan karena meningkatnya kasus pasien trauma
yang diterima unit gawat darurat. Penilaian ini berdasar pada GCS dan status dari
sistem kardiovaskular dan respirasi. Range nilai dari skala ini adalah 1.
Setelah pemeriksaan survei primer dilaksanakan, atas kecurigaan pasien mengalami

syok hipovolemik, maka pasien perlu mendapatkan terapi resusitasi cairan. Perkiraan jumlah
cairan yang hilang pada kondisi hypovolemik tidak mudah dilakukan, pengurangan cairan
ekstrasel sebesar 15-25% atau sekitar 2-4L diperlukan sebelum timbulnya perubahan pada
tekanan darah atau frekuensi nadi. Jumlah cairan yang harus digantikan adalah cairan basal
yang diperlukan setiap hari, dan defisit cairan yang diakibatkan oleh diare dan muntah.1
Secondary survey
Setelah survei primer telah dilaksanakan dan resusitasi telah diberikan, sehingga tanda
vital kembali normal, survei sekunder dapat dimulai. Survei sekunder mencakup pemeriksaan
fisik yang lengkap, kemudian anamnesis yang lengkap pula. Pemeriksaan laboratorium
lanjutan dapat dilakukan sesuai dengan indikasi. Apabila pada saat dilakukannya survei
sekunder, kondisi pasien memburuk, maka survey primer kembali dilaksanakan dengan
kecurigaan adanya ancaman terhadap nyawa pasien.1
Anamnesis
Anamnesis merupakan pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara. Anamnesis
dapat dilakukan langsung kepada pasien, yang disebut autoanamnesis, atau dilakukan
terhadap orangtua, wali, orang yang dekat dengan pasien, atau sumber lain, yang disebut
aloanamnesis. Langkah-langkah dalam pembuatan anamnesis:

Identitas pasien: nama; umur; jenis kelamin; nama orangtua; alamat; umur,

pendidikan dan pekerjaan orangtua; agama dan suku bangsa.


Riwayat penyakit: keluhan utama
Riwayat perjalanan penyakit :
Sejak kapan diare ?
3

Sehari berapa kali ?


Bagaimana konsistensi fecesnya, warnanya, ada ampas, berbau ?
Apakah ada demam ?
Apa ada muntah ?
Ada sesak napas ?

Riwayat penyakit yang pernah diderita


Riwayat makanan
Riwayat keluarga
Dari alloanamnesis didapatkan pasien mengeluh sakit perut melilit, volume BAB

diare kira-kira 1 gelas aqua tiap BAB ,berwarna coklat di sertai lendir. Volume muntahan
sebanyak gelas aqua tiap muntah, berisi makanan dan cairan berwarna kuning. Setiap kali
makan dan minum dimuntahkan kembali.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah pemeriksaan keadaan umum dan kesadaran,
tanda-tanda vital, glasgow coma scale, waktu pengisian kapiler, pemeriksaan tekanan vena
jugularis, abdomen patologis yang dilakukan setelah kondisi gawat telah ditatalaksana dan
pasien kondisinya kembali stabil. Tanda-tanda vital yang diperiksa pada pasien adalah suhu
tubuh, frekuensi nafas, frekuensi nadi, tekanan darah. Glasgow coma scale seperti yang sudah
dijelaskan diatas.2
Hal yang dilakukan pada pemeriksaan abdomen adalah:
1. Inspeksi untuk melihat bentuk abdomen simetris atau tidak, datar atau menonjol,
warna kulit dan apakah dan apakah ada vena yang berdilatasi, juga dilihat adakah
adanya gerakan pada abdomen.
2. Palpasi dilakukan untuk mengetahui adana nyeri pada tekanan dan pelepasan sentuhan
pada bagian abdomen tertentu.
3. Perkusi dilakukan untuk mengetahui adanya pembesaran hati atau adanya perforasi
lambung, hal ini dilakukan dengan pembedaan suara timpani yang terdapat pada
rongga kosong dengan gas, dan suara pekak yang merupakan suara perkusi organ.
4. Auskultasi dilakukan untuk mengetahui adanya bising usus yang meningkat atau
adanya suara nadi pada abdomen seperti pada kasus aneurisma aorta.
Penilaian derajat dehidrasi dengan :
1. Keadaan dan tingkah laku
4

2.
3.
4.
5.
6.

Mata, air mata, rasa haus


Turgor kulit
Ubun-ubun cekung pada anak
Nadi cepat dan lemah
Pada keadaan asidosis metabolik terdapat pernapasan yang cepat dan dalam.

Diare terbagi atas tiga derajat.3


a. Diare dengan dehidrasi ringan, dengan gejala sebagai berikut:
1) Frekuensi buang air besar 3 kali atau lebih dalam sehari
2) Keadaan umum baik dan sadar
3) Mata normal dan air mata ada
4) Mulut dan lidah basah
5) Tidak merasa haus dan bisa minum
b. Diare dengan dehidrasi sedang, kehilangan cairan sampai 5-10% dari berat badan,
dengan gejala sebagai berikut :
1) Frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari dan sering
2) Kadang-kadang muntah, terasa haus
3) Kencing sedikit, nafsu makan kurang
4) Aktivitas menurun
5) Mata cekung, mulut dan lidah kering
6) Gelisah dan mengantuk
7) Nadi lebih cepat dari normal, ubun-ubun cekung.
c. Diare dengan dehidrasi berat, kehilangan cairan lebih dari 10% berat badan, dengan
gejala:
1) Frekuensi buang air besar terus-menerus
2) Muntah lebih sering, malas minum
3) Tidak kencing, tidak ada nafsu makan
4) Sangat lemah sampai tidak sadar
5) Mata sangat cekung, mulut sangat kering
6) Nafas sangat cepat dan dalam
7) Nadi sangat cepat, lemah atau tidak teraba
8) Ubun-ubun sangat cekung
Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit berat, kesadaran
apatis, tekanan darah 70/40 mmHg, denyut nadi 110x/menit teraba lemah, frekuensi napas

26x/menit, temperatur 360C, turgor kulit menurun, cor pulmo normal, abdomen hepar lien
tidak teraba, tidak ada nyeri tekan, akral teraba dingin.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium mungkin berguna dalam menentukan penyebab dari
hipotensi. Namun, resusitasi pada pasien dengan syok tidak boleh tertahan hanya karena
menunggu hasil laboratorium. Pemeriksaan laboratorium awal yang sebaiknya dilakukan
antara lain: analisis Complete Blood Count (CBC), kadar elektrolit (Na, K, Cl, HCO3, BUN,
kreatinin, kadar glukosa).3
Nilai hematokrit pada pasien dengan syok hipovolemik bervariasi dari rendah,
normal, hingga tinggi tergantung dari penyebab dan durasi syok. Saat kehilangan darah
berlangsung, evaluasi pada pengisian kapiler dengan cairan interstitial hematokrit dapat
bernilai normal. Namun apabila pasien mengalami perdarahan yang kronis namun perlahan,
dan terlambat untuk diketahui maka hematokrit akan bernilai rendah. Saat hipovolemia
terjadi karena kehilangan cairan bukan darah seperti diare, muntah, nilai hematokrit akan
tinggi. Asam laktat terakumulasi pada pasien dengan syok yang berat hingga menyebabkan
metabolisme

anaerob.

Penilaian

elevasi

asam

laktat

arterial

dengan

kecepatan

pembuangannya dengan volume resusitasi serta kontrol perdarahan merupakan marker yang
penting. Kegagalan untuk membuang kenaikan asam laktat arterial menunjukkan bahwa
resusitasi tidak adekuat. Jika telah diberikan resusitasi cairan yang cukup, namun masih tetap
tinggi kadar asam laktat arterial, maka harus dicari penyebab hipoperfusi yang lain.2,3
Pada pasien non-trauma dengan syok hipovolemik memerlukan pemeriksaan USG
jika dicurigai adanya aneurisma aorta abdominal. Jika perdarahan saluran crna dicurigai,
maka diperlukan pemasangan nasogastrik tube, dan lavage gaster dilakukan. Endoskopi juga
dapat dipergunakan untuk mengetahui sumber perdarahan. Pada kecurigaan deseksi aorta
maka diperlukan pemeriksaan CT-Scan. Jika dicurigai adanya trauma abdomen, maka FAST
USG dilakukan pada pasien, dengan kondisi stabil atau tidak stabil. Jika dicurigai adanya
trauma pada tulang panjang yang menyebabkan fraktur, maka diperlukan foto radiologis 2
posisi. Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan pada pasien dengan pengeluaran cairan
tanpa darah berlebih seperti kasus diare adalah kadar elektrolit dan juga Ph tubuh, karena
pada kasus-kasus ini ditakutkan terjadi pembuangan elektrolit berlebihan khususnya kalium
dan dapat terjadi metabolik asidosis.4

Monitoring hemodinamik
Penilaian pada central venous pressure jarang diperlukan untuk membuat diagnosis
syok hipovolemik. Karena volume darah yang berkurang dapat membuat vena kolaps, insersi
dari monitoring vena sentral dapat berbahaya. Jika tekanan darah pasien dan status mentalnya
tidak merespons terhadap administrasi cairan, maka harus dicurigai adanya sumber
perdarahan yang masih aktif. Central venous pressure monitoring berguna untuk pasien yang
lebih tua dengan kecurigan mengalami gagal jantung kongestif, karena administrasi cairan
berlebih dapat mengakibatkan terjadi edema pulmonar.3,4
Working Diagnosis
Syok hipovolemik adalah kondisi medis dimana terdapat kehilangan cairan yang
cepat, sehingga mengakibatkan gagal organ multipel karena volume darah yang bersirkulasi
dalam tubuh tidak adekuat, syok hipovolemik paling banyak disebabkan oleh karena
kehilangan darah yang cepat (hemoragik). Selain dari perdarahan, syok tipe ini dapat berasal
dari kehilangan cairan selain darah yang juga signifikan, contohnya adalah kehilangan cairan
karena gastroenteritis diare dan luka bakar yang masif. 5 Tingkat keparahan dari syok
bergantung tidak hanya pada volume cairan yang defisit tapi juga pada umur pasien dan
riwayat penyakit pasien sebelumnya. Faktor lain yang menentukan juga adalah kecepatan
volume cairan yang hilang, hal ini penting karena menentukan keberhasilan respons
kompensasi. Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang didapatkan
perempuan berumur 76 tahun menderita syok hipovolemik ec gastroenteritis dengan dehidrasi
berat.

Diagnosis banding
1. Syok hipovolemik ec Perdarahan
Syok hemoragi terjadi sebagai akibat dari kehilangan darah masif. Beberapa kondisi
yang menimbulkan kehilangan darah drastis mencakup perdarahan gastrointestinal,
hemoragi pascaoperasi, hemofilia, persalinan, dan trauma. Kehilangan darah minimal,
sampai 10% dari volume total, tidak menimbulkan perubahan nyata pada tekanan darah
atau curah jantung. Kehilangan darah sampai 45% dari volume darah total menurunkan

baik curah jantung maupun tekanan darah sampai nol. Gejala-gejalanya bergantung pada
kehilangan darah aktual dan apakah kehilangan tersebut tiba-tiba atau bertahap.5
2. Syok hipovolemi ec luka bakar
Luka bakar, khususnya luka bakar derajat tiga, sering menyebabkan syok
hipovolemik. Mekanisme yang terjadi pada syok ini tidak terlalu berhubungan dengan
kehilangan cairan melainkan berhubungan dengan kehilangan protein plasma melalui
permukaan yang terbakar.Kehilangan protein plasma secara bermakna menurunkan
tekanan osmotik koloid.5
Dalam upaya untuk menurunkan ekuilibrum tekanan koloid dan hidrostatik, air
meninggalkan ruang vaskular dan memasuki interstitium. Akibatnya, volume
intravaskular menurun, aliran balik menurun, curah jantung tidak adekuat, tekanan darah
menurun.5
Syok akibat luka bakar mungkin juga disebabkan oleh hemoragi dan sepsis yang
menyertai. Permukaan luka bakar meningkatkan agregasi trombosit dan aktivasi faktor
XII, yang menimbulkan pembentukan bekuan intravasikular lokal. Bekuan lokal ini bisa
merusak mikrosirkular, mengakibatkan iskemia dan nekrosis jaringan, dan dapat
mengkonsumsi faktor pembekuan, yang menyebabkan koagulasi intravasikular
diseminata (DIC).
Sepsis dapat diakibatkan oleh luka bakar luas karena kehilangan atau kerusakan barier
alamiah, yaitu kulit terhadap invasi bakteri. Selain itu

permukaan yang terbakar

melepaskan toksin ke dalam sirkulasi iskemik yang dapat menciderai kapiler usus,
dengan demikian melepaskan bakteri usus dan endotoksin ke dalam sirkulasi iskemik.5

Etiologi
Syok hipovolemik adalah terganggunya sistem sirkulasi akibat dari volume darah
dalam pembuluh darah yang berkurang. Hal ini bisa terjadi akibat dari volume darah yang
berkurang. Hal ini bisa terjadi akibat pendarahan yang masif atau kehilangan plasma darah.5
Penyebab syok hipovolemik dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok yang terdiri dari:
Tabel 2. Etiologi Syok Hipovolemik.

Perdarahan:
Hematom
subkapsular hati
Aneurisma aorta
pecah
Pendarahan
gastrointestinal
Perlukaan
berganda

Kehilangan plasma
Luka bakar yang
luas
Pankreatitis
Deskuamasi kulit
Sindrom Dumping

Kehilangan cairan
ekstraseluler
Muntah (vomitus)
Dehidrasi
Diare
Terapi diuretik
yang sangat
agresif
Diabetes insipidus
insufisiensi renal

Gejala klinis
Gejala syok hipovolemik cukup bervariasi, tergantung pada usia, kondisi premorbid,
besarnya volume cairan yang hilang, dan lamanya berlangsung. Kecepatan kehilangan cairan
tubuh merupakan faktor kritis respons kompensasi. Pasien muda dapat dengan mudah
mengkompensasi kehilangan cairan dengan jumlah sedang dengan vasokonstriksi dan
takhikardia. Kehilangan volume yang cukp besar dalam waktu lambat, meskipun terjadi pada
pasien usia lanjut, masih dapat ditolerir juga dibandingkan kehilangan dalam waktu yang
cepat atau singkat.1,5
Di sini akan terjadi peningkatan kerja simpatis, hiperventilasi, pembuluh vena yang
kolaps, pelepasan hormon stress serta ekspansi besar guna pengisian volume pembuluh darah
dengan menggunakan cairan interstisial, interselular dan menurunkan produksi urin. Pada
pasien dengan kemungkinan syok akibat hipovolemik, riwayat penyakit penting untuk
menentukan penyebab yang mungkin dan untuk penanganan langsung. Misalnya pada kasus
ini riwayat penyakit pasien adalah diare dengan dehidrasi berat. Penyakit diare inilah yang
menyebabkan pasien mengalami syok hipovolemi.
Pada hipovolemia ringan (<20% volume darah) terlihat gejala seperti takikardi ringan,
ekstremitas dingin, waktu pengisian kapiler meningkat, diaporesis, vena kolaps,dan cemas.
Pada hipovolemia sedang (20-40% volume darah), gejala yang muncul sama dengan
hipovolemia ringan dan ditambah takikardi, takipnea, oliguria, hipotensi ortostatik. Pada
hipovolemia berat (>40% volume darah), gejala klasik syok akan muncul hemodinamik yang
tidak stabil, hipotensi, agitasi, oligouria, kulit dingin, penurunan kesadaran, asidosis
metabolik disertai takikardi.1,5
Patofisiologi

Syok hipovolemik atau status syok akibat dari kehilangan volume cairan sirkulasi
(penurunan volume darah), dapat diakibatkan oleh berbagai kondisi yang secara bermakna
menguras volume darah normal, plasma, atau air. Patologi dasar, tanpa memperhatikan tipe
kehilangan cairan yang pasti, dihubungkan dengan defisit volume atau tekanan cairan
sirkulasi aktual. Penurunan volume cairan sirkulasi menurunkan aliran balik vena, yang
mengurangi curah jantung dan karenannya menurunkan tekanan darah. Penurunan curah
jantung disebabkan oleh penurunan volume preload walaupun terdapat kompensasi
peninggian resistansi vaskuler, vasokonstriksi dan takikardia.5
Tekanan darah masih dapat dipertahankan walaupun volume darah berurang 20-25%.
Pada permulaannny keadaan ventrikuler filling presure, CVP dan PAOP rendah, akan tetapi
dalam keadaan yang ekstrim dapat terjadi bradikardia. Pada keadaan hipovelemik yang berat
juga terjadi iskemi miokard, bahkan dapat terjadi infark. Penurunan volume intra vaskuler ini
menyebabkna penurunan volume intra ventrikuler kiri pada akhir diastole. Yang akibatnya
juga menyebabkan berkurangny kontraktilitas jantung dan juga menyebabkan menurunnya
curah jantung.5
Keadaan ini juga menyebabkan terjadinya mekanisme kompensasi dari pembuluh
darah dimana terjadi vasokonstriksi oleh katekolamin sehingga perfusi semakin memburuk.
Akan tetapi, bila kehilangan volume darah lebih dari 30% mulai terjadi shock. Dan bila
terjadi syok maka suplai O2 ke sel menurun sehingga menyebabkan gangguan perfusi
jaringan yang akhirnya bis amenimbulkan gangguan metabolism seluler.5

Bagan Patofisiologi Syok Hipovolemi

10

Decrease intravascular volume


Decrease venous return
Decreased ventricular filling
Decreased stroke volume
decreased cardiac output
inadequate tissue perfusion

Penatalaksanaan
Prinsip umum tatalaksana, resusitasi pada pasien dengan syok hipovolemik pada
ruang ICU dilaksanakan dengan dasar yang terkontrol. Seperti pada semua keadaan gawat,
prioritas dari airway, breathing, circulation harus dilaksanakan terlebih dahulu. Akses
intravena harus minimal melalui dua jalur. Kateter vena sentral tidak boleh dimasukkan
melalui vena jugularis atau subclavian pada pasien dengan syok hipovolemik karena risiko
terjadinya pneumothorax. Ketika hipovolemik diketahui maka tindakan yang harus dilakukan
adalah menempatkan pasien dalam posisi kaki lebih tinggi, menjaga jalur pernafasan dan
diberikan resusitasi cairan dengan cepat lewat akses intra vena atau cara lain yang
memungkinkan seperti pemasangan kateter CVP (central venous pressure) atau jalur
intraarterial. Cairan yang diberikan adalah garam isotonus yang diteteskan dengan cepat
(hati-hati terhadap asidosis hiperkloremia) atau dengan cairan garam seimbang seperti
Ringers laktat (RL) dengan jarum infus yang terbesar. Tidak ada bukti medis tentang
kelebihan pemberian cairan koloid pada syok hipovolemik. Pemberian 2-4 L dalam 20-30
menit diharapkan dapat mengembalikan keadaan hemodinamik.6
Pada pelaksanaannya jumlah cairan infus yang diberikan harus dihitung terlebih
dahulu, agar pasien tidak mengalami undertreatment maupun overtreatment, mengingat
kondisi pasien yang sudah berumur 76 tahun, maka kondisi overtreatment dapat
membahayakan pasien. Namun dalam terapi resusitasi cairan perlu juga dipikirkan kebutuhan
basal cairan yang dihitung dengan menggunakan berat badan tubuh. Rumus yang umum
digunakan adalah 10kg pertama dikalikan 4, 10kg kedua dikalikan 2, dan sisa berat badan

11

dikalikan satu, kemudian dijumlahkan. Angka hasil penjumlahan adalah kebutuhan basal
cairan per jam yang dibutuhkan oleh pasien.7
Pada hypovolemia yang persisten, dapat diberikan pula obat-obat inotropik, seperti
dopamine, dobutamine, vasopressin untuk menjaga kinerja ventrikel. Untuk muntah perlu di
berikan domperidon. Diare yang terjadi perlu dihentikan dan penyebabnya dicari lebih lanjut
apakah berupa suatu intoleransi atau suatu infeksi agar tidak memberikan tatalaksana yang
salah, untuk pemberian obat penghenti diare dapat diberikan loperamid dengan dosis 4mg
pada awalnya, dan 2 mg setiap diare, sehari tidak lebih dari 16mg.8
Komplikasi
Sequele neurologis, hal ini disebabkan oleh karena berkurangnya perfusi pada otak
yang merupakan organ vital. Kematian, disebabkan oleh kegagalan organ multipel karena
hipoperfusi, khususnya organ vital seperti otak dan jantung. Asidosis metabolik, dehidrasi
menimbulkan gejala syok, sehingga filtrasi glomerulus berkurang, sehingga konsentrasi asam
bertambah dan berakibat pH tubuh menurun.5
Prognosis
Prognosis bergantung pada jumlah volume cairan yang hilang serta seberapa cepat
penanganan kegawatan yang diberikan.8
Kesimpulan
Pasien perempuan berusia 76 tahun tersebut datang dengan syok hipovolemik yang
dikarenakan oleh gastroenteritis dengan dehidrasi berat. Hal pertama yang harus dilakukan
pada pasien yang datang dengan syok adalah melakukan survei primer yang terdiri dari
Airway, Breathing, Circulation, Disability, Exposure. Pada pasien ini diperlukan tatalaksana
setelah semua langkah dilakukan yakni berupa resusitasi cairan, dimana terdapat pilihan
kristaloid dan koloid, penggunaan kedua cairan ini

tidak harus terpisah dan dapat

dikombinasi. Setelah semua langkah dilakukan dan pasien menunjukkan tanda-tanda


perbaikan maka dapat dilakukan survei sekunder yakni anamnesis pasien dengan lengkap dan
evaluasi ulang pasien. Kasus syok hipovolemik memiliki prognosis yang sangat bergantung
pada jumlah cairan yang hilang dari tubuh, semakin banyak cairan yang terbuang, semakin
jelek prognosis dari pasien.

12

Daftar Pustaka
1. Pacagnella RC, Souza JP, Durocher J, et al. A systematic review of the relationship
between blood loss and clinical signs. PLoS One. 2013;8(3):e57594. Diunduh pada
15 november 2015
2. Bongard F S, Sue D Y, Vintch J R E. Current diagnosis & treatment critical care. New
York:McGrawhill;2008.h 10-2, 222-30.
3. Gleadle, Jonathan. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Erlangga;
2007.h 37,47
4. Burnside, McGlynn. Adams diagnosis fisik (alih bahasa: dr. Henny Lukmanto).
Jakarta: EGC;2004.h 117-22.
5. Abrutyn E, Braunwald E, Fauci AS et all editor. Harrisons principle of internal
medicine 16th ed. New York:McGrawhill;2005.h 1602-2.
6. Kliegman, Stanton, Schor, Behrman. Nelson textbook of pediatrics 19 th ed. New York.
Elsevier: 2011; h. 1276-1281.
7. Sarkar D, Philbeck T. The use of multiple intraosseous catheters in combat casualty
resuscitation. Mil Med. Feb 2009;174(2):106-8. Diunduh pada 16 november 2015
8. Ghafari MH, Moosavizadeh SA, Moharari RS, Khashayar P. Hypertonic saline 5% vs.
lactated ringer for resuscitating patients in hemorrhagic shock. Middle East J
Anesthesiol. Oct 2008;19(6):1337-47. Diunduh pada 16 november 2015

13