Anda di halaman 1dari 62

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keperawatan di dunia sebagai profesi lahir sejak tahun 1858 ketika Florence
Nightingale yang dikenal sebagai The Lady of The Lamp memberikan
pelayanan keperawatan yang berbasis pada ilmu pengetahuan. Di Indonesia,
keperawatan telah lahir sejak tahun 1816 ketika penjajahan Belanda dan
berkembang dengan dibukanya sekolah keperawatan setara diploma pada
tahun 1962 dan setara sekolah keperawatan setara sarjana pada tahun 1985
(Hidayat, 2012). Keperawatan sebagai profesi terus berubah sejalan dengan
masyarakat yang terus berkembang dan mengalami perubahan.
Keperawatan sebagai bentuk pelayanan professional merupakan bagian
integral yang tidak dapat dipisahkan dari upaya pelayanan kesehatan secara
menyeluruh. Selain itu pelayanan keperawatan merupakan salah satu faktor
penentu baik buruknya mutu dan citra institusi pelayanan kesehatan.
Pelayanan kesehatan utamanya di Rumah Sakit, pelayanan keperawatan
mempunyai posisi yang sangat strategis dalam menentukan mutu karena
jumlah perawat terbanyak dari profesi lain dan paling lama kontak dengan
klien, sehingga keperawatan adalah ujung tombak pelayanan kesehatan dan
sering digunakan sebagai indikator pelayanan kesehatan yang bermutu, serta
berperan dalam menentukan tingkat kepuasan klien (Priyanto, 2005).
Pelayanan kesehatan telah memberikan peluang pada tenaga kesehatan untuk
memperoleh status profesionalismenya dengan cara proaktif berespon
terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat. Masyarakat sebagai obyek
pelayanan

pun terus meningkatkan standar kesehatan yang bisa dicapai,

sehingga peran perawat dalam sistem kesehatan.


Peran perawat profesional meliputi sebagai peran care giver, advocate,
educator, collabolator, counselor, coordinator, counsultan dan change agent.

Salah satunya peran perawat diterapkan di Rumah Sakit adalah peran perawat
sebagai educator. Perawat memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien.
Perawat membantu pasien untuk meningkatkan kesehatannya melalui
pemberian pengetahuan yang terkait dengan keperawatan dan tindakan medis
yang diterima sehingga pasien atau keluarga dapat menerima tanggung jawab
terhadap hal-hal yang diketahuinya. Peran perawat sebagai pendidik juga
dapat memberikan pendidikan kesehatan kepada kelompok keluarga yang
berisiko, kader kesehatan, dan masyarakat.
Peran educator perawat dalam memberikan pendidikan kepada pasien
menunjukkan

potensinya

untuk

meningkatkan

kepuasan

konsumen,

memperbaiki kualitas kehidupan, memastikan kelangsungan perawatan,


mengurangi insidensi komplikasi penyakit, meningkatkan kepatuhan terhadap
rencana pemberian perawatan kesehatan, menurunkan ansietas pasien, dan
memaksimalkan kemandirian dalam melakukan aktivitas kehidupan seharihari (Bastable, 2002).
Pendidikan kesehatan kepada pasien bertujuan untuk mempertahankan
kondisi sehat pasien, meningkatkan kesehatan, dan mencegah terjadinya
suatu penyakit dan komplikasi (Potter & Perry, 2005). Edukasi merupakan
pendidikan kesehatan dalam bentuk kegiatan dan pelayanan keperawatan
yang merupakan bagian penting dari peran perawat yang professional dalam
upaya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit (preventif) yang dapat
dilakukan di rumah sakit ataupun di luar rumah sakit (non-klinis). Edukasi
pemberian pendidikan kesehatan ini dengan teknik pemberian poster dan
ceramah. Teknik ceramah dan pemberian poster akan menambah pemahaman
sebanyak 90% (Silaban, 2012).
Perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh manusia
baik yang dapat diamati secara langsung maupun yang tidak dapat diamati
oleh pihak luar. Seseorang dapat menerima suatu respon terhadap stimulus
atau objek yang berkaitan dengan sakit, penyakit sistem pelayanan kesehatan,
makanan, dan minuman serta lingkungan. Sehingga perilaku merupakan

totalitas penghayatan dan aktivitas seseorang, yang merupakan hasil bersama


atau resultan baik faktor eksternal ataupun internal. Domain dalam perilaku
seseorang yakni kognitif, afektif dan psikomotor. Pengetahuan merupakan
hasil dari domain perilaku tersebut (Notoatmodjo, 2012).
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi
melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa, dan raba. Kurangnya pengetahuan pasien dan keluarga
dalam pembuangan sampah infeksius dan non infeksius menjadi salah satu
penyebab permasalahan di Ruangan Hemodialisa.
Pada tanggal 2-7 mei dilakukannya kajian situasi mengenai pembuangan
sampah infeksius dan non infeksius. Terdapat 76 pasien belum mengetahui
perbedaan isi sampah infeksius dan non infeksius di Ruang Hemodialisa.
Sangat

pentingya

diberikan

intervensi

pendidikan

kesehatan

untuk

memberikan pengetahuan kepada keluarga dan pasien dalam membedakan


sampah infeksius dan non infeksius di Ruang Hemodialisa.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraia latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang
dirumuskan adalah Bagaimana sikap pasien dan keluarga setelah diberikan
pendidikan kesehatan pembuangan sampah infeksius dan non infeksius di
Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Immanuel Bandung?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah melakukan praktik manajemen keperawatan selama 18 hari,
mahasiswa

program

Profesi

Ners

mampu

melaksanakan

tugas

kepemimpian dan pengelolaan manajemen keperawatan di Ruang


Hemodialisa sesuai dengan konsep dan langkah-langkah manajemen
keperawatan.
2. Tujuan Khusus

Setelah melakukan praktek kepemimpinan dan manajemen keperawatan


selama 18 hari, mahasiswa program profesi ners mampu:
a. Mengetahui peran perawat sebagai educator.
b. Mengetahui konsep pendidikan kesehatan.
c. Mengetahui konsep sikap
d. Mengetahui konsep sampah yang ada di Rumah Sakit.
e. Memahami penatalaksanaan pendidikan kesehatan di Ruang
Hemodialisa Rumah Sakit Immanuel Bandung.
D. Waktu
Praktik mata ajar kepemimpinan dan manajemen keperawatan ini
dilaksanakan selama 18 hari sejak tanggal 02 Mei 2016 hingga tanggal 21
Mei 2016, di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Immanuel Bandung
E. Metode Pengumpulan data
Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan laporan ini adalah :
1. Observasi
Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data kondisi fisik ruangan,
inventaris ruangan (alat dan bahan), penerimaan pasien baru, timbang
terima pasien, pelaksanaan operan, discharge planning pemulangan
pasien dan pendidikan kesehatan yang diberikan perawat pada pasien
sesuai dengan standar operasional prosedur, penggunaan sarana dan
prasarana.
2. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan pengatur ruangan, penanggung jawab shif,
perawat pelaksana dank lien serta keluarga klien terkait dengan
pelaksanaan asuhan keperawatan.
3. Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi untuk mengumpulkan data tentang dokumentasi
proses keperawatan, standar prosedur tindakan keperawatan.
4. Instrument Pengumpulan Data
Instrument yang digunakan dalam pengumpulan data adalah angket,
lembar observasi dan pedoman wawancara.
F. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan yang penulis gunakan dalam makalah ini adalah
sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan

Terdiri dari latar belakang, tujuan umum dan khusus, waktu dan tempat
praktik, metode pengumpulan data dan sistematika penulisan.
BAB II Tinjauan Teori
Terdiri dari pengertian konsep peran perawat sebagai educator, konsep
pendidikan kesehatan, konsep sikap, konsep sampah medis.
BAB III Kajian Situasi Manajemen Keperawatan Ruang Hemodialisa
Uraian kegiatan terdiri dari kajian situasi Ruang Hemodialisa, berisi profil
Rumah Sakit, profil ruangan, pengkajian situasi lingkungan. Analisis SWOT,
Matriks strategi, Matriks SWOT, Prioritas masalah dan Fish Bone dan
Planning of Action (POA).
BAB IV Implementasi dan Evaluasi Hasil
Terdiri dari implementasi dari masalah yang ditemukan di Ruang Hemodialisa
serta terdapat evaluasi hasil dari Implementasi yang dilakukan.
BAB V Penutup
Bab ini terdiri dari kesimpulan dan saran.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Peran Educator Perawat Profesional
1. Pengertian Peran Perawat
Pengertian perawat menurut Kepmenkes RI No. 1239 tahun 2001 tentang
registrasi dan praktik perawat, perawat adalah seseorang yang telah lulus
pendidikan perawat, baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perawat juga
dituntut melakukan peran dan fungsi sebagaimana yang diharapkan oleh
profesi dan masyarakat sebagai pengguna jasa pelayanan keperawatan
(Kusnanto, 2004).
Perawat adalah profesi yang sifat pekerjaannya berhubungan dengan
manusia, terjadi proses interaksi antara individu, saling mempengaruhi antar
individu dan dapat memberikan dampak terhadap tiap-tiap individu yang
bersangkutan (Suhaemi, 2004). Peran adalah seperangkat tingkah laku yang

diharapkan dari masyarakat sesuai dengan kedudukannya di masyarakat.


Peran perawat adalah seperangkat tingkah laku yang dilakukan oleh perawat
sesuai dengan profesinya (Kusnanto, 2004).
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan peran perawat adalah harapan
yang diinginkan oleh pasien atau keluarga dari tingkah laku perawat dalam
menjalankan tugasnya. Perawat mempunyai peranan dalam berinteraksi
dengan pasien yang dapat mempengaruhi kesehatan sehingga pasien
memiliki derajat kesehatan yang lebih tinggi.

2. Peran Perawat
Peran perawat profesional meliputi (Doheny, 1982 dalam Kusnanto, 2004):
a. Peran care giver
Perawat bertindak sebagai pemberi asuhan keperawatan. Perawat dapat
memberikan pelayanan secara langsung dan tidak langsung kepada
pasien dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang
meliputi: pengkajian, menegakkan diagnosa keperawatan berdasarkan
hasil analisis data, merencanakan intervensi keperawatan sebagai upaya
mengatasi masalah yang muncul dan membuat langkah/cara pemecahan
masalah, melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana
yang telah disusun, dan melakukan evaluasi berdasarkan respon pasien
terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Pemberian asuhan
keperawatan, perawat melihat individu sebagai mahluk yang holistik dan
unik.
b. Peran client advocate
Perawat bertindak sebagai pembela untuk melindungi pasien. Perawat
berfungsi sebagai penghubung antara pasien dengan tim kesehatan lain
dalam upaya pemenuhan kebutuhan pasien, membela kepentingan pasien,
dan membantu pasien memahami semua informasi dan upaya kesehatan
yang diberikan oleh tim kesehatan dengan pendekatan tradisional
maupun profesional. Peran advokasi mengharuskan perawat bertindak

sebagai narasumber dan fasilitator dalam tahap pengambilan keputusan


terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh pasien. Peran perawat
sebagai advokasi mengharuskan perawat untuk dapat melindungi dan
memfasilitasi keluarga dan masyarakat dalam pelayanan keperawatan;
c. Peran educator
Perawat memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien. Perawat
membantu pasien untuk meningkatkan kesehatannya melalui pemberian
pengetahuan yang terkait dengan keperawatan dan tindakan medis yang
diterima sehingga pasien atau keluarga dapat menerima tanggung jawab
terhadap hal-hal yang diketahuinya. Peran perawat sebagai pendidik juga
dapat memberikan pendidikan kesehatan kepada kelompok keluarga yang
berisiko, kader kesehatan, dan masyarakat.
d. Peran collaborator
Perawat bekerjasama dengan tim kesehatan lain dan keluarga dalam
menentukan rencana maupun pelaksanaan asuhan keperawatan yang
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan pasien.
e. Peran counsellor
Sebagai pemberi bimbingan/konseling pasien. Tugas utama perawat
adalah mengidentifikasi perubahan pola interaksi pasien terhadap
keadaan sehat sakitnya. Pola interaksi ini merupakan dasar dalam
merencanakan metode untuk meningkatkan kemampuan adaptasinya.
Memberikan konseling kepada pasien, keluarga, dan masyarakat tentang
masalah kesehatan sesuai prioritas. Konseling diberikan kepada
individu/keluraga dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan
pengalaman yang lalu, pemecahan masalah difokuskan pada masalah
f.

keperawatan, dan mengubah perilaku hidup ke arah perilaku hidup sehat;


Peran coordinator
Perawat menjadi koordinator untuk memanfaatkan sumber dan potensi
dari pasien baik materi maupun kemampuan pasien secara terkoordinasi

sehingga tidak ada intervensi yang terlewatkan maupun tumpang tindih.


g. Peran change agent
Perawat menjadi pembaharu untuk melakukan perubahan-perubahan.
Perawat mengadakan inovasi dalam cara berpikir, bersikap, bertingkah
laku, dan meningkatkan keterampilan pasien/keluarga agar menjadi

sehat. Peran ini berhubungan dengan perencanaan, kerja sama, perubahan


yang sistematis dalam berhubungan dengan pasien, dan cara memberikan
perawatan kepada pasien;
h. Peran consultant
Perawat menjadi sumber informasi untuk memecahkan masalah pasien.
Peran ini secara tidak langung berkaitan dengan permintaan pasien
terhadap informasi tentang tujuan keperawatan yang diberikan. Perawat
adalah sumber informasi yang berkaitan dengan kondisi spesifik pasien.
3. Peran Pendidik/Educator Perawat
Pendidikan kesehatan bagi pasien telah menjadi satu dari peran yang paling
penting bagi perawat yang memberikan asuhan keperawatan kepada pasien.
Pasien dan anggota keluarga memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan
kesehatan (Potter & Perry, 2005). Perawat sebagai pendidik bertugas untuk
memberikan pengajaran baik dalam lingkungan klinik, komunitas, sekolah,
maupun pusat kesehatan masyarakat (Brunner&Suddarth, 2003).
Perawat sebagai pendidik menjalankan perannya dalam memberikan
pengetahuan, informasi, dan pelatihan ketrampilan kepada pasien, keluarga
pasien maupun anggota masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit dan
peningkatan kesehatan (Susanto, 2012). Perawat sebagai pendidik berperan
untuk

mendidik

dan

mengajarkan

individu,

keluarga,

kelompok,

masyarakat, dan tenaga kesehatan lain sesuai dengan tanggungjawabnya.


Perawat sebagai pendidik berupaya untuk memberikan pendidikan atau
penyuluhan

kesehatan

kepada klien

dengan

evaluasi

yang

dapat

meningkatkan pembelajaran (Wong, 2009).


Perawat dalam perannya sebagai pendidik perlu memahami kekuatan, baik
dulu maupun saat ini yang telah berdampak dan terus berdampak pada
tanggung jawab mereka di dalam praktik dengan pengajaran sebagai aspek
utama dari peran profesional perawat. Perawat diharapkan memberikan
instruksi kepada pasien agar dapat mempertahankan tingkat kesejahteraan
yang

optimum,

mencegah

penyakit,

menangani

penyakit,

dan

mengembangkan keterampilan sehingga dapat memberikan perawatan


pendukung bagi anggota keluarga (Bastable, 2002).
Perawat profesional pada dasarnya harus siap untuk memberikan jasa
pengajaran efektif yang dapat memenuhi kebutuhan perorangan dan
kelompok dalam berbagai kondisi di lingkungan praktik (Bell 1986, dalam
Bastable, 2002). Peran perawat sebagai pendidik akan meningkatkan
kepuasan kerja perawat saat perawat menyadari bahwa kegiatan pengajaran
berpotensi untuk membantu terbinanya hubungan terapeutik dengan pasien
yang lebih besar dan menciptakan perubahan yang benar-benar membuat
perbedaan dalam kehidupan orang lain (Bastable, 2002).
Perawat sebagai pendidik harus memiliki kemampuan sebagai syarat
utama antara lain (Asmadi, 2008):
a. Wawasan ilmu pengetahuan.
Pendidikan kesehatan merupakan upaya sadar yang dilakukan oleh
seorang edukator untuk mempengaruhi orang lain agar dapat berperilaku
atau memiliki pengetahuan dan pemahaman yang sesuai dengan yang
diharapkan. Dalam Proses pendidikan ini terjadi transfer ilmu
pengetahuan yang luas bukan hanya menyangkut ilmu keperawatan,
tetapi juga ilmu-ilmu lain.
b. Komunikasi.
Keberhasilan proses pendidikan dipengaruhi oleh kemampuan perawat
dalam berkomunikasi, baik secara verbal maupun non verbal.
Kemampuan berkomunikasi ini merupakan aspek mendasar dalam
keperawatan. Perawat harus berinteraksi dengan pasien selama 24 jam
penuh. Interaksi merupakan bagian dari komunikasi. Perawat dapat
memberikan informasi/penjelasan kepada pasien, membujuk dan
menghibur pasien, dan menjalankan tugas lainnya dengan adanya
komunikasi. Proses komunikasi diharpakan dapat mempengaruhi dan
meyakinkan pihak lain baik itu pasien, rekan sejawat, maupun tenaga
kesehatan lain. Citra profesionalisme yang baik pada perawat akan
tercipta dengan komunikasi yang baik pula.
c. Pemahaman psikologis.
9

Sasaran pelayanan keperawatan adalah pasien, dalam hal ini individu,


keluarga, dan juga masyarakat. Perawat harus mampu memahami
psikologis agar dapat mempengaruhi orang lain. Perawat harus
meningkatkan sensitivitas dan kepeduliannya. Saat berbicara dengan
orang lain perawat harus melakukannya dengan hati dengan kata lain
perawat berkomunikasi dengan orang lain dengan menyentuh hati orang
lain. Setiap pemikiran dan ide perawat dapat langsung diterima oleh
pasien sehingga tujuan pendidikan kesehatan dapat tercapai.
d. Model/contoh.
Seberapa bagusnya gaya komunikasi perawat dan luasnya wawasan ilmu
pengetahuan, orang lain perlu melihat bukti atas apa yang disampaikan.
Upaya untuk mengubah dan menigkatkan profesionalisme perawat paling
baik dilakukan melalui pembuktian secara langsung melalui peran
sebagai model. Perawat harus mampu menjadi model yang baik dalam
menjalankan profesinya.
4. Faktor yang Menghambat Peran Educator Perawat
Faktor yang menghambat kemampuan perawat untuk menjalankan perannya
sebagai pendidik/educator antara lain (Bastable, 2002):
a. Kesiapan perawat dalam memberikan pengajaran.
Banyak perawat juga tenaga perawatan kesehatan lain yang tidak siap
untuk memberikan pengajaran. Pada sebuah penelitian didapatkan hasil
bahwa pendidikan pasien pada dasarnya merupakan tanggung jawab
perawat, tetapi hasil penelitian menemukan bahwa aktivitas pendidikan
yang dilakukan secara keseluruhan hasilnya tidak memuaskan. Temuan
pada studi riset ini menunjukkan bahwa peran perawat sebagai pendidik
perlu diperkuat;
b. Terjadi kesalahan fungsi akibat dari koordinasi dan delegasi yang tidak
tepat.
Pemberi perawatan kesehatan berusaha membahas materi yang sama,
tetapi mengabaikan konsistensi. Kesalahan koordinasi dan delegasi yang
menyebabkan pendidikan kesehatan tidak berjalan secara tepat waktu,
tidak lancar, dan tidak mendalam. Karakter pribadi perawat pendidik.
10

Karakter pribadi perawat memainkan peranan penting dalam menentukan


hasil interaksi dalam proses pendidikan kesehatan. kesadaran pengajaran
yang rendah dan kurang keyakinan dalam pengajaran;
c. Pendidikan pasien masih menjadi prioritas rendah.
Alokasi dana untuk program pendidikan masih tetap ketat dan dapat
menghambat pemakaian strategi dan teknik pengajaran yang inovatif dan
hemat waktu.
d. Kurangnya waktu pengajaran.
Kurangnya waktu untuk mengajar merupakan halangan utama yang
selalu ada. Pasien yang parah hanya dirawat dalam waktu yang singkat
dimana terjadi pertemuan yang singkat antara pasien dan perawat di
lingkungan gawat darurat, saat rawat jalan, atau di lingkungan rawat
jalan lain. Perawat harus tahu cara menggunakan pendekatan yang
singkat, efisien, dan tepat guna untuk pendidikan pasien dan staf dengan
memakai

metode

dan peralatan

instruksional saat pemulangan.

Perencanaan pulang memainkan peranan yang lebih penting untuk


memastikan kesinambungan perawatan di semua lingkungan;
e. Jenis sistem dokumentasi yang digunakan.
Jenis sistem dokumentasi yang digunakan oleh lembaga perawatan
kesehatan

akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas pendidikan

kesehatan pasien yang dicatat. Baik pengajaran formal maupun informal


seringkali dilakukan tanpa didokumentasikan karena tidak adanya
kemudahan dan kurangnya perhatian pada dokumentasi. Pencatatan
upaya pengajaran yang tidak memadai akan menghalangi komunikasi
yang terjadi antara pemberi perawatan kesehatan mengenai apa yang
telah diajarkan dan memunculkan kekurangan yang ada.
5. Pendidikan Kesehatan sebagai Tugas Peran Educator Perawat
Pendidikan kesehatan merupakan fungsi di dalam lingkup praktik
keperawatan termasuk tanggung jawab promosi kesehatan dan pencegahan
penyakit di lingkungan seperti sekolah, rumah, rumah sakit, dan industri
(National League for nursing, 1918 dalam Bastable, 2002). Pendidikan
kesehatan yang efektif menjadi penting dalam asuhan kesehatan untuk

11

menurunkan jumlah pasien ke rumah sakit dan meminimalkan penyebaran


penyakit yang dapat dicegah (Noble, 1991 dalam Potter & Perry, 2005).
Pendidikan kepada pasien menunjukkan potensinya untuk meningkatkan
kepuasan konsumen,

memperbaiki

kualitas

kehidupan,

memastikan

kelangsungan perawatan, mengurangi insidensi komplikasi penyakit,


meningkatkan kepatuhan terhadap rencana pemberian perawatan kesehatan,
menurunkan ansietas pasien, dan memaksimalkan kemandirian dalam
melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (Bastable, 2002).
Pendidikan kesehatan kepada pasien bertujuan untuk mempertahankan
kondisi sehat pasien, meningkatkan kesehatan, dan mencegah terjadinya
suatu penyakit dan komplikasi (Potter & Perry, 2005). Pemberian informasi
yang dibutuhkan pasien tentang perawatan kesehatan perlu untuk menjamin
kontinuitas perawatan dari rumah sakit ke rumah (Bull, 1992 dalam Potter
& Perry, 2005).
6. Tanggung Jawab Perawat pada Pendidikan Kesehatan
Tiga area yang menjadi tanggung jawab perawat terhadap pendidikan
kesehatan kepada pasien antara lain (Krugger, 1991 dalam Potter & Perry,
2005) :
a. Persiapan pasien dalam menerima perawatan
contoh: penyuluhan preoperasi, injeksi insulin;
b. Persiapan pasien pulang dari perawatan rumah sakit
contoh: medikasi untuk pulang dan prosedur tertentu dan risiko
komplikasi yang mungkin menyebabkan pasien kembali ke dokter atau
rumah sakit;
c. Pencatatan aktivitas pendidikan pasien
Contoh: menuliskan pendidikan kesehatan tertentu dalam catatan
kesehatan pasien, format catatan pendidikan pasien atau ringkasan pasien
pulang.
7. Alat Bantu Pengajaran
Berbagai alat bantu pengajaran tersedia bagi perawat untuk digunakan
dalam memberikan pendidikan kepada pasien. Pemilihan alat bantu yang

12

tepat bergantung pada metode instruksional yang dipilih. Alat bantu


pengajaran antara lain (Potter & Perry, 2005):
a. Materi cetak, merupakan alat bantu pengajaran tertulis yang tersedia
seperti buklet, leaflet, dan pamflet. Materi dalam materi cetak harus dapat
dibaca dengan mudah oleh peserta didik, informasi harus akurat dan
aktual, metode yang digunakan harus metode yang ideal untuk
memahami konsep dan hubungan yang kompleks;
b. Instruksi terprogram, merupakan instruksi setiap bagian secara tertulis
dan langkah pengajaran mengharuskan peserta didik menjawab
pertanyaan dan pengajar memberi tahu apakah salah atau benar. Instruksi
hanya berbentuk verbal, akan tetapi pengajar dapat menggunakan
gambar

atau

diagram.

Metode

membutuhkan pengajaran aktif,

memberikan respon segera, mengoreksi jawaban yang salah dan


mendorong jawaban yang benar. Peserta didik belajar menurut kecepatan
dari masing-masing kemampuan peserta didik;
c. Instruksi komputer, merupakan penggunaan format instruksi yang
terprogram dalam komputer. Metode ini membutuhkan kemampuan
dalam mengoperasikan komputer;
d. Materi audiovisual, materi sangat berguna bagi pasien yang memiliki
masalah pemahaman bacaan. Contohnya slide, kaset, dan video;
e. diagram, merupakan ilustrasi yang menunjukkan hubungan dalam
bentuk garis dan simbol. Metode ini menunjukkan ide-ide kunci,
kesimpulan dan konsep kunci.
f. Grafik, merupakan presentasi visual dari data menurut urutan angka.
Grafik membatu peserta didik untuk mendapatkan informasi secara cepat
mengenai suatu konsep;
g. Bagan, merupakan rangkuman sejumlah ide dan fakta visual yang sangat
ringkas yang dapat menunjukkan sekumpulan pokok ide,langkah, atau
kejadian. Tabel menunjukkan hubungan antara beberapa ide atau konsep;
h. gambar atau foto, kedua media ini lebih disukai daripada diagram karena
lebih secara akurat menunjukkan detail dan benda yang sesungguhnya.
Gambar memperlihatkan detail dalam objek nyata. Objek fisik,
penggunaan perlengkapan objek atau model yang dapat dimanipulasi dari
hasil kreatifitas atau kerajinan.

13

B. Pengetahuan
1. Pengertian pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui
pancaindera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman,
rasa, dan raba. Sebagian pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga (Notoatmodjo, 2012).
2. Proses adopsi perilaku
Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh
pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh
pengetahuan. Penelitian Rogers dalam Notoatmodjo 2012 mengungkapkan
bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di
dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni:
a. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu
b. Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus
c. Evaluation, (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut
bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi
d. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru
e. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengertahuan,
kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
Namun demikian, dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa
perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap di atas. Apabila
penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini
didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif, maka perilaku
tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku
itu tidak didasari oleh pengethuan dan kesadaran maka tidak akan
berlangsung lama. Contohnya ibu-ibu menjadi peserta KB, kkarena
diperintahkan oleh lurah atau ketua RT tanpa mengetahui makna dan tujuan
KB, maka mereka akan segera keluar dari keikutsertaanya dalam KB setelah
beberapa saat perintah tersebut diterima (Notoatmodjo, 2007).
3. Tingkat pengetahuan

14

Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif menurut Notoatmodjo


(2012) mempunyai enam tingkatan, yaitu :
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini
adalah tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk
mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain dapat
menyebutkan,

menguraikan,

mendefinisikan,

menyatakan,

dan

sebagainya.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan
materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi
disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum,
rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang
lain.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur
organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis
ini

dapat

dilihat

dari

penggunaan

kata

kerja,

seperti dapat

menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan


sebagainya.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun
f.

formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.


Evaluasi (evaluation)

15

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi


atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu
didasarkan

pada

suatu

kriteria

yang

ditentukan

sendiri,

atau

menggunakankriteria-kriteria yang telah ada.


4. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2007), ada dua faktor yang mempengaruhi
pengetahuan seseorang yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor
internal meliputi status kesehatan, intelegensi, perhatian, minat, dan bakat.
Sedangkan faktor eksternal meliputi keluarga, masyarakat, dan metode
pembelajaran. Beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang
menurut Wawan dan Dewi (2010) antara lain :
a. Faktor internal
1) Tingkat pendidikan
Pendidikan adalah bimbingan yang diberikan seseorang terhadap
perkembangan orang lain menuju ke arah cita-cita tertentu yang
menentukan manusia untuk berbuat untuk mencapai keselamatan dan
kebahagiaan. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi
yang akhirnya dapat mempengaruhi seseorang. Pada umumnya makin
tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi.
2) Pekerjaan
Pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk
menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga.
3) Umur
Semakin cukup umur individu, tingkat kematangan dan kekuatan
seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja.
4) Informasi
Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan
mempunyai pengetahuan yang lebih luas.
b. Eksternal
1) Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada di sekitar manusia
dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan
perilaku orang atau kelompok.
2) Sosial budaya

16

Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi


dari sikap dalam menerima informasi.
C. Sikap
1. Pengertian
Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap merupakan sesuatu yang tidak
dapat langsung dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari
perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya
kesesuaian rekasi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan seharihari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial
(Notoadmojo, 2012).

Menurut (Newcomb dalam Notoadmojo, 2012), sikap itu merupakan


kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan
motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas akan
tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih
merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka.
2. Komponen sikap
Menurut Allport (1954) dalam Notoadmojo (2012) menjelaskan bahwa
sikap itu mempunyai 3 komponen pokok yaitu :
a. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek.
b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
c. Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave)
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh
(total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran,
keyakinan dan emosi memegang peranan yang penting.
3. Tingkatan sikap
Ada beberapa tingkatan dari sikap yaitu :
a. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan
b.

stimulus yang diberikan (objek) .


Merespons (responding)

17

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan


tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Sebab dengan
seseorang mengerjakan suatu pekerjaan terlepas dari pekerjaan itu benar
c.

atau salah, adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.


Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu

d.

masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.


Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan
segala risiko merupakan merupakan sikap yang paling tinggi.

4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sikap


Menurut Anwar (2005) ada beberapa faktor yang mempengaruhi sikap
terhadap obyek sikap antara lain :
a. Pengalaman pribadi, untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap,
pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu,
sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut
terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional.
b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting, pada umumnya individu
cenderung untuk memiliki sikap yang searah dengan sikap orang yang
dianggap penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh
keinginan untuk menghindari konflik dengan orang penting tersebut.
c. Pengaruh kebudayaan, tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan
garis yang mengarahkan sikap kita terhadap berbagai masalah.
Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena
kebudayaanlah yang memberi corak pengalaman individu-individu
masyarakat asuhannya.
d. Media massa, dalam pemberitaan surat kabar maupun radio atau media
komunikasi lainnya, berita yang seharusnya faktual disampaikan secara
obyektif cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisnya, akibatnya
berpengaruh terhadap sikap konsumennya.
e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama, konsep moral dan ajaran dari
lembaga pendidikan dan lembaga agama sangat menentukan sistem
kepercayaan, tidak mengherankan jika pada gilirannya konsep tersebut
mempengaruhi sikap.

18

f.

Faktor Emosional, suatu bentuk merupakan pernyataan yang disadari


emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau
pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.

D. Konsep Sampah
1. Pengertian
Sampah menurut WHO adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai,
tidak disenangi atau sesatu yang dibuang berasal dari kegiatan manusia dan
tidak terjadi dengan sendirinya. Sampah adalah bahan yang tidak
mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam
pembikinan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembikinan
manufktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan (Kementerian
Lingkungan Hidup, 2005).
2. Jenis Sampah
Pada prinsipnya sampah dibagi menjadi sampah padat, sampah cair dan
sampah dalam bentuk gas (fume, smoke). Sampah padat dapat dibagi
menjadi beberapa jenis yaitu :
a. Berdasarkan zat kimia yang terkandung didalamnya
1) Sampah anorganik misalnya : logam-logam, pecahan gelas, dan plastic
2) Sampah Organik misalnya : sisa makanan, sisa pembungkus dan
sebagainya
b. Berdasarkan dapat tidaknya dibakar
1) Mudah terbakar misalnya : kertas, plastik, kain, kayu
2) Tidak mudah terbakar misalnya : kaleng, besi, gelas
c. Berdasarkan dapat tidaknya membusuk
1) Mudah membusuk misalnya : sisa makanan, potongan dagin
2) Sukar membusuk misalnya : plastik, kaleng, kaca
3. Karakteristik Sampah
a. Garbage yaitu jenis sampah yang terdiri dari sisa-sisa potongan hewan
atau sayuran dari hasil pengo lahan yang sebagian besar terdiri dari zatzat yang mudah membusuk, lembab, dan mengandung sejumlah air
bebas.
b. Rubbish terdiri dari sampah yang dapat terbakar atau yang tidak dapat
terbakar yang berasal dari rumah-rumah, pusat-pusat perdagangan, kantor
tapi yang tidak termasuk garbage

19

c. Ashes (Abu) yaitu sisa-sisa pembakaran dari zat-zat yang muda h


terbakar baik dirumah, dikantor, industri.
d. Street Sweeping (Sampah Jalanan) berasal dari pembersihan jalan dan
trotoar baik dengan tenaga manusia maupu n dengan tenaga mesin yang
terdiri dari kertas-kertas, daun-daunan.
e. Dead Animal(Bangkai Binatang) yaitu bangkai-bangkai yang mati
karena alam, penyakit atau kecelakaan.
f. Houshold Refuse yaitu sampah yang terdiri dari rubbish, garbage, ashes
yang berasal dari perumahan.
g. Abandonded Vehicles (Bangkai Kendaraan) yaitu bangkai- bangkai
mobil, truk, kereta api.
h. Sampah Industri terdiri dari sampah padat yang berasal dari industriindustri, pengo lahan hasil bumi.
i. Demolition Wastes yaitu sampah yang berasal dari pembongkaran
gedung.
j. Construction Wastes yaitu sampah yang berasal dari sisa pembangunan,
perbaikan dan pembaharuan gedung-gedung.
k. Sewage Solid terdiri dari benda-benda kasar yang umumnya zat organik
hasil saringan pada pintu masuk suatu pusat pengelolahan air buangan.
l. Sampah khusus yaitu sampah yang memerlukan penanganan khusus
misalnya kaleng-kaleng cat, zat radiokatif. (Mukono, 2006)
4. Limbah Rumah Sakit
Prss, A.(2005), Limbah rumah sakit adalah limbah yang mencakup semua
buangan yang berasal dari instalasi kesehatan, fasilitas penelitian, dan
laboratorium.
5. Macam-macam limbah medis
Kepmenkes Republik Indonesia No.1204/Menkes/SK/X/2004, mengatakan
Limbah Rumah Sakit ada 3 macam yakni;
a. Limbah cair artinya semua air buangan termasuk tinja yang berasal dari
kegiatan rumah sakit yang kemungkinan mengandung mikrooganisme,
bahan kimia beracun dan radioaktif yang berbahaya bagi kesehatan.
b. Limbah Gas adalah semua limbah yang berbentuk gas yang berasal dari
kegiatan pembakaran di rumah sakit seperti insenerator, dapur,
perlengkapan generator, anastesi, dan pembuatan obat Sitotoksik.

20

c. Limbah padat adalah semua limbah rumah sakit yang berbentuk padat
sebagai akibat kegiatan rumah sakit yang terdiri dari limbah medis padat
dan limbah padat non medis.

6. Klasifikasi Sampah Padat


No Kategori Limbah
1.
Infeksius
Limbah

Definisi
yang
terkontaminasi Kultur

Contoh
laboratorium,

organism 21rganism (bakteri, virus, limbah

dari

bangsal

parasit, atau jamur) yang tidak secara isolasi, kapas, materi, atau
rutin ada lingkungan dan 21rganism

peralatan yang teresentuh

tersebut dalam jumlah dan virulensi pasien


yang
2.

Patologis

cukup

untuk

terinfeksi,

menularkan ekskreta.

penyakit pada manusia rentan.


Limbah berasal dari pembiakan dan

Bagian tubuh manusia

stock bahan yang sangat infeksius, dan


otopsi, organ binatang percobaan dan
bahan lain yang telah diinokulasi,
terinfeksi atau kontak dengan bahan
Sitotoksik

yang

yang sangat infeksius.


Limbah
dari
bahan

hewan

(limbah

anatomis), darah dan


cairan tubuh yang lain,
janin.

yang Dari

materi

yang

terkontaminasi dari persiapan dan terkontaminasi pada saat


pemberian

obat

sitotoksis

untuk persiapan dan pemberian

kemoterapi kanker yang mempunyai

obat,

kemampuan untuk membunuh atau

ampul,

mengahambat
hidup.

pertumbuhan

misalnya

spuit,

kemasan,

obat

sel kedaluarsa, larutan sisa,


urine,

tinja,

muntahan

pasien yang mengandung


Benda tajam

obat sitotoksik.
Materi yang dapat menyebabkan luka Jarum,
jarum

suntik,

iris atau luka tusuk. Semua benda skalpel,

bedah,

pisau

21

tajam ini memiliki potensi bahaya peralatan


dan

dapat

melalui

menyebabkan

sobekan

atau

infus,

gergaji

cedera bedah, dan pecahan kaca


tusukan.

Benda- benda tajam yang terbuang


mungkin terkontaminasi oleh darah,
cairan tubuh, bahan mikrobiologi,
Farmasi

bahan beracun atau radioaktif.


Limbah farmasi mencakup produksi

obat-obatan, vaksin, dan

farmasi. Kategori ini juga mencakup

serum

barang yang akan di buang setelah

kedaluarsa,

digunakan untuk menangani produk

digunakan, tumpah, dan

yang

sudah
tidak

farmasi, misalnya botol atau kotak terkontaminasi, yang tidak


yang berisi residu, sarung tangan, diperlukan lagi.
masker, slang penghubung darah atau
Kimia

cairan, dan ampul obat.


mengandung zat kimia yang

Reagent di laboratorium,

berbentuk padat, cair, maupun gas

film

untuk

rontgen,

yang berasal dari aktivitas diagnostic desinfektan


dan

eksperimen

serta

dari kadaluarsa

pemeliharaan kebersihan rumah sakit tidak


Radioaktif

dengan menggunakan desinfektan.


Bahan yang terkontaminasi dengan
radioisotop

yang

berasal

yang
atau

sudah

diperlukan

lagi,

solven
Cairan yang tidak terpakai

dari dari radioaktif atau riset

penggunaan medis atau riset radio

dilaboratorium,

peralatan

nukleida.Limbah ini dapat berasal kaca, kertas absorben yang


dari antara lain : tindakan kedokteran terkontaminasi, urine dan
nuklir,

radio-imunoassay

dan ekskreta dari pasien yang

bakteriologis; dapat berbentuk padat, diobati atau diuji dengan


Logam yang

cair atau gas


radionuklida yang terbuka.
Limbah yang mengandung logam Thermometer,
alat

bertekanan

berat

tinggi/ berat

termasuk dalam subkategori limbah

dalam

konsetrasi

tinggi pengukur tekanan darah,


residu

dari

ruang

22

kimia berbahaya dan biasanya sangat pemeriksaan

gigi,

dan

toksik. Contohnya adalah limbah sebagainya.


merkuri yangberasal dari bocoran
peralatan kedokteran yang rusak.
Kontainer

Limbah

bertekanan

berbagai

yang
jenis

berasal

dari tabung gas, kaleng aerosol

gas

yang yang mengandung residu,

digunakan di rumah sakit.

gas cartridge.

(sumber : Pengelolaan aman limbah layanan kesehatan, 2005)

7. Pengaruh Limbah Rumah Sakit terhadap lingkungan dan kesehatan


Depkes RI (2001) Pengaruh limbah rumah sakit terhadap kualitas
lingkungan dan kesehatan dapat menimbulkan berbagai masalah seperti :
a. Gangguan kenyamanan dan estetika
Ini berupa warna yang berasal dari sedimen, larutan, bau phenol,
eutrofikasi dan rasa dari bahan kimia organik.
b. Kerusakan harta benda
Dapat disebabkan oleh garam-garam yang terlarut (korosif, karat), air
yang berlumpur dan sebagainya yang dapat menurunkan kualitas
bangunan di sekitar rumah sakit.
c. Gangguan/kerusakan tanaman dan binatang
Ini dapat disebabkan oleh virus, senyawa nitrat, bahan kimia, pestisida,
logam nutrien tertentu dan fosfor.
d. Gangguan terhadap kesehatan manusia
Ini dapat disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, virus,

senyawa-

senyawa kimia, pestisida, serta logam seperti Hg, Pb, dan Cd yang
berasal dari bagian kedokteran gigi.
e. Gangguan genetik dan reproduksi
Meskipun mekanisme gangguan belum sepenuhnya diketahui secara
pasti, namun beberapa senyawa dapat menyebabkan gangguan atau
kerusakan genetik dan sistem reproduksi manusia misalnya pestisida,
bahan radioaktif.
8. Jenis Tempat Sampah

23

Tempat sampah pilah ini berfungsi untuk memisahkan jenis sampah,


organik, non organik, B3, Kertas Dan Residu. Tempat sampah ini di
bedakan atas 5 (Lima) jenis yakni;
a. Tempat sampah Organik di tandai dengan warna hijau dan bertuliskan
organik, sampah inilah yang dijadikan bahan pupuk kompos seperti
daun-daunan, bekas sayuran. Adanya tempat sampah ini sangat
membantu dalam mempercepat pembuatan kompos karena sudah
terpisahkan antara organik, non organik dan B3.
b. Tempat sampah Non Organik di tandai dengan warna kuning bertuliskan
Non Organik, seperti plastik bekas, gelas bekas air mineral kemasan jenis
plastik, dll Dengan adanya tempat sampah dengan Tulisan Anorganik,
maka akan membantu mempercepat pemanfaatannya sebagai Kerajinan
Daur ulang atau.
c. Tempat Sampah Infeksius ditandai dengan warna plastic kuning
bertuliskan sampah infeksius berisikan spuit, jarum dan benda tajam,
darah, tinja, pempers, plabot.
d. Tempat sampah dengan plastik hitam berisikan sampah seperti tissue,
plastic bekas makanan, botol minuman.
e. Tempat sampah B3 di tandai dengan warna MERAH bertuliskan B3
seperti sampah beling, kaca, gelas beling, dll. Manfaat dari tempat
f.

sampah ini tentu saja agar nantinya tidak membahayakan bgi orang lain.
Tempat sampah khusus Kertas ditandai dengan warna BIRU. Dengan

bertuliskan Kertas pada tempat sampahnya.


g. Tempat sampah yang hanya diisi dengan kertas, manfatnya nanti akan
mempermudah kita dalam pengolahan Kerajinan.
h. Tempat sampah yang terakhir adalah warna ABU -ABU dengan Tulisan
Residu. Tempat sampah ini hanya boleh di isi sampah-sampah Selain 4
i.

jenis tersebut diatas.


Tempat sampah Infeksius adalah warna Kuning dengan tulisan sampah
infeksius. Tempat sampah ini hanya boleh diisi dengan plabot, kateter
urin, kateter infuse, cairan pasien, darah, pempers, tissue bekas cairan,
hanscound, masker.

24

BAB III
KAJIAN SITUASI MANAJEMEN RUANG HEMODIALISA
A. Profil Rumah Sakit Immanuel Bandung
Rumah Sakit Immanuel adalah Rumah Sakit swasta yang diselenggarakan oleh
Yayasan Badan Rumah Sakit Gereja Kristen Pasundan. Rumah Sakit Immanuel
sebagai Rumah Sakit pendidikan swasta yang mempunyai tugas untuk
memberikan pelayanan kesehatan, pendidikan serta penelitian di bidang
kedokteran, keperawatan dan kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna
dengan

mengutamakan

upaya

penyembuhan

dan

pemulihan

serta

melaksanakan upaya rujukan, yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu


dengan upaya peningkatan dan pencegahan.

25

Rumah Sakit Immanuel mempunyai falsafah, visi, misi, tujuan, dan mutu
kebijakan yaitu:
1. Falsafah Rumah Sakit Immanuel Bandung
Pelayanan keperawatan professional berdasarkan cinta kasih, hormat dan
peduli, dengan visi; menjadikan keperawatan sebagai unggulan Rumah
Sakit Immanuel yang dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan
teknologi keperawatan terkini yang mampu bersaing secara nasional dan
internasional atas dasar kasih Kristus serta misi; membangun landasan yang
kuat untuk menciptakan pelayanan keperawatan profesional yang memiliki
komitmen untuk melayani secara holistik, memberikan askep secara
profesional yang bertanggungjawab dan bertanggung gugat berdasarkan
standar dan etika profesi, menjadikan keperawatan di Rumah Sakit
Immanuel

sebagai

sarana

pembelajaran

dan

pengembangan

ilmu

keperawatan yang profesional, menjadikan tim keperawatan Rumah Sakit


Immanuel sebagai pilihan masyarakat yang dapat dipercaya.

2. Visi Rumah Sakit Immanuel Bandung


Memberikan pelayanan dan pendidikan kesehatan yang prima dan inofatif
berfokus kepada pasien sebagai perwujudan cinta kasih Allah.
3. Misi Rumah Sakit Immanuel Bandung
a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan paripurna yang prima dan
berbasis keselamatan pasien.
b. Menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan mengembangkan budaya
ilmiah di bidang kesehatan.
c. Mengembangkan layanan tersier, unggul dan berkembang.
d. Mengembangkan budaya kerja dan karakter SDM yang berlandaskan
nilai-nilai kristiani agar memberikan pelayanan terbaik, handal dan
beretikadalam menjalankan kompetensinya.
e. Menjalani kemitraan dengan berbagai pihak dalam upaya memperkuat
peran rumah sakit dalam pelayanan dan pendidikan kesehatan.
4. Tujuan Rumah Sakit Immanuel
a. Terwujudnya layanan dan pendidikan kesehatan yang memberikan
kepuasan dan kepercayaan pelanggan.
26

b. Adanya penelitian dan pengembangan di bidang pelayanan dan


pendidikan kesehatan yang menghasilkan produk inovatif.
c. Terwujudnya sinergitas kerjasama dengan semua pihak dalam rangka
memperkuat peran Rumah Sakit dalam pelayanan dan pendidikan
kesehatan.
5. Falsafah Keperawatan Rumah Sakit Immanuel
Falsafah keperawatan Rumah Sakit Immanuel yakni EMPATI artinya
melakukan tindakan nyata untuk mengatasi penderitaan atau kesulitan orang
lain yang dijabarkan sebagai berikut:
Energik: bersemangat untuk melaksanakan tugas
Mutu: memberikan pelayanan keperawatan dan pelayanan kebidanan
dengan kualitas terbaik yang memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan.
Profesional: memberikan pelayanan keperawatan dan pelayanan kebidanan
berdasarkan standar profesi dan kode etik profesi.
Aman: memberikan pelayanan keperawatan dan pelayanan kebidanan yang
bebas dari bahaya atau risiko bagi pasien, diri sendiri, staf lain dan Rumah
Sakit.
Tekun: senantiasa memberikan pelayanan keperawatan dan pelayanan
kebidanan dengan sungguh-sungguh.
Integritas: bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai kebijakan,
pedoman, panduan dan standar yang berlaku di Rumah Sakit Immanuel.
6. Visi Keperawatan Rumah Sakit Immanuel Bandung
Menjadikan keperawatan Rumah Sakit Immanuel sebagai profesi unggulan
dalam menyediakan pelayanan kesehatan bermutu kepada mesyarakat.a
7. Misi Keperawatan Rumah Sakit Immanuel Bandung
a. Memberikan pelayanan keperawatan bermutu sesuai dengan harapan
pelanggan.
b. Menjadi wahana pendidikan, penelitian di bidang keperawatan untuk
menghasilkan tenaga keperawatan yang profesional dan beretika.
27

c. Menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung terselenggaranya


pelayanan keperawatan.
8. Tujuan Keperawatan Immanuel Bandung
a. Terselenggaranya pelayanan keperawatan yang holistik, bermutu dan
terintegrasi.
b. Terwujudnya iklim kerja akademis dan profesional di pelayanan
keperawatan
c. Tersedianya sarana dan prasarana yang mendukung penyelenggaraan
pelayanan
9. Kebijakan Mutu Rumah Sakit Immanuel Bandung
Kebijakan mutu Rumah Sakit Immanuel adalah Rumah Sakit Immanuel
senantiasa berupaya memenuhi kepuasan pelanggan dengan perbaikanperbaikan dan penyempurnaan yang berkesinambungan serta konsisten
dalam sistem manajemen mutu pelayanan, pendidikan dan penelitian
kesehatan yang berbasis bukti.
Rumah Sakit Immanuel dilengkapi dengan beberapa sarana pelayanan yang
dapat menunjang pelayanan kesehatan. Saranan pelayanan rawat inap
mencakup rawat inap untuk anak, dewasa dengan penyakit bedah, dewasa
dengan penyakit dalam, ruang maternitas, ruang ODC, ruang intensif (terdiri
dari kelas I, II, III, VIP, Super Vip). Sarana pelayanan rawat jalan mencakup
poliklinik anak, umum, gigi, penyakit dalam, penyakit jantung, syaraf, THT,
mata, kandungan dan KB, poliklinik paru, KIA, kulit dan kelamin,
konsultasi gizi dan jiwa, serta terdapat fasilitas kesehatan lain seperti USG,
EEG, EKG, medical check-up, radiologi, laboratorium, kamar bedah,
wound-care, rehabilitasi medik dan fisioterapi.
B. Profil Ruang Hemodialisa
Ruang Hemodialisa merupakan ruangan rawat jalan bagi penderita gagal ginjal.
Ruangan ini dikepalai seorang dokter bergelar Sp.PD.KGH wakilnya seorang
perawat DIII Keperawatan. Ruang hemodialisa mempunyai kapasistas tempat
tidur 27, jumlah mesin dialiss 30 unit, 1 mesin reaktif dan 1 mesin non reaktif
di ruang ICU, 21 mesin dan 21 bed di ruang hepatitis C non reaktif, 1 mesin di

28

ruang hepatitis B, 5 mesin dan 5 bed di ruang hepatitis C aktif serta 1 mesin
Back up. Waktu kerja ruang Hemodialisa dibagi menjadi 2 shif yakni pagi
(06.30-14.00) dan shif sore (12.00-19.00). Jumlah tenaga kerja di ruang
Hemodialisa diantaranya 1 dokter konsulen, 2 dokter umum, 1 orang kepala
ruangan Hemodialisa, 5 orang penanggung jawab shif, 10 orang perawat
pelaksana, 2 orang inverntaris, dan 2 orang klining servis.
C. Kajian Situasi Ruang hemodialisa
Pengkajian dilakukan pada tanggal 02 s/d 07 Mei 2016, meliputi ketenagaan
(Sumber daya Manusia), struktur, denah ruangan, sarana dan prasarana, metode
pemberian asuhan keperawatan di Hemodialis
1. Sumber Daya Manusia (Ketenagaan)
Tabel 3.1
Distribusi Frekuensi Tenaga Kerja
Berdasarkan Pendidikan Terakhir di Ruang Hemodialisa
No
1
2
3
4

Jenjang Pendidikan
Jumlah
Persentase
Dokter
3
14 %
S1 Keperawatan Ners
2
10%
DIII Keperawatan
14
67%
SMA
2
9%
(Sumber : Data Kepegawaian Ruang Hemodialisa, 2016)

Berdasarkan tabel di atas, perawat Ruang Hemodialisa didominasi oleh


lulusan DIII Keperawatan yakni 67 %.
Tabel 3.2
Distribusi Frekuensi Tenaga Kerja
Berdasarkan Jabatan di Ruang Hemodialisa
No
Jabatan
Jumlah
Persentase
1 Kepala Instalasi
1
4,76%
2 Wakil manager
1
4,76%
3 Dokter Umum
2
9,52%
4 PJ Shift
5
23,80%
5 Perawat Pelaksana
10
47,61%
6 Inventarisir
2
9,52%
100%
(Sumber : Data Kepegawaian Ruan Hemodialisa, 2016)

29

Tabel di atas menggambarkan bahwa perawat pelaksana mendominasi


distribusi pemberi layanan tenaga keperawatan Ruang hemodialisa yakni
47,61%
2. Struktur Organisasi
DIREKTUR UTAMA
( dr. Bina Miguna, MM BAT )
DIREKTUR PELAYANAN MEDIS
( dr. Bintang B.M. Napitupulu, Sp. THT KL )

Ka. INSTALANSI RUANG HEMODIALISA


(dr. Santoso Chandra, Sp. PD-KGH)

dr.UMUM
( dr. Rita dan dr. Mulyawan)

Wa. Ka INSTALANSI RUANG HEMODIALISA


( Kristiyan Bagus, AMK)

(Penanggung Jawab shif)


Euis Komalasari, AMK
Trijono Sucipto, AMK
Suminta, AMK
Putu Ika Susanti, S.kep. Ners
Ruti Setiawati, AMK
10 orang Perawat Pelaksana
2 Investaris
Struktur Organisasi Ruang Hemodialisa
(Sumber : Data Ruang Hemodialisa, 2016)

30

3. Denah Ruangan

Bagan
Denah Ruang Hemodialisa
(Sumber : Data Ruang Hemodialisa, 2016)

31

4. Fasilitas Ruangan
Tabel 3.3 Fasilitas ruangan
No
1
2
3
4
6
7
8
9
12
13
14
15
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
28
30
31
32
33
34
35
36
37

38

NAMA BARANG
Barang Habis Pakai
Alkohol 70 % One Med 1 l
Braunoderm Spray 250 ml
Braunoderm Spray 1 liter
Dializer Dora
Dializer F7
Hemoclean
Fresco Handrub 500 ml
Viorex No Rinse pink Galon
Renalin (Haemodialisa)
Sod Chloride 0,9% 1 liter
Heparin Inviclot 5 ml
Hansaplast
Masker E care tali
Masker 3 Fly karet
ST Non steril Maxter (M)
AV Fistula Renaltech
Acid Concentrate Fresenius
Bloodline Renaltech
Bikarbonad Cair Renaltech
Bloodline MLH (Gambro)
General P Apron
Infusion set (Renaltech)
Micropore 0,5 cm
Pastik (1 karton=20 box)
Spuit 3 cc one med
Spuit 10 cc one med
Set HD
Extradine 1 liter
Cavirub NR (Alkohol)
Infus Set
Blood line ABN
Blood line F
Mesin Toray f
Non reaktif
Reaktif
Isolasi
ICU Reaktif dan Non
Back up
Mesin Re-use

JUMLAH SATUAN
2
3
3
30
15
6
1
1 galon
1
3.020
400
61
100
700
8000
800
930
1.050
930
272
100
1050
240
1000
1.200
1.200
1200
1
1
1200/b
150/m
120/m

Fls
Fls
Fls
Buah
Buah
Galon
Galon
Galon
Galon
Fls
Vial
Buah
Buah
Buah
Box
Buah
Galon
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Fls
Buah
buah
Buah

11
5
1
2
2

Buah
Buah
Buah
Buah
Buah

Buah

KET

32

39
40
41
42
43
44
45

Lemari Dializer
Lemari alkes
Lemari linen
Troly tindakan
Troly emergency
Meja counter
Computer

2
3
1
5
2
2
2

Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah

5. Prosedural
Ruang Hemodialisa memiliki SOP sebanyak 35, dan SOP Rumah Sakit
Immanuel sebanyak 189.
6. Analisis Kebutuhan Tenaga Perawat
a. Perhitungan BOR
Di Ruang Hemodialisa, dalam sehari jumlah pasien rata-rata berjumlah
50 orang.
Perhitungan BOR dalam seminggu yang dilakukan oleh kelompok
adalah sebagai berikut:
Shif Pagi
BOR =
Jumlah Pasien x 100 %
Jumlah Tempat Tidur
= 152 x 100% = 93,82 %
162
Shif Siang
BOR = 124 x100% = 76,54%
162
Jadi, BOR Ruang Hemodialisa dalam 6 hari shif pagi 93,82 % dan shif
siang 76,54%

b. Kebutuhan tenaga perawat


Pembagian jadwal dinas terbagi menjadi 3 shift yaitu dinas pagi (8
orang), sore (7 orang). Kualifikasi jumlah perawat adalah 16. Perawat
yang sudah bersertifikasi sebanyak 87,5%
E. Identifikasi SWOT
1. Faktor-Faktor Internal
a. Kekuatan/ Strength
1) Memiliki visi, misi dan filosofi Rumah Sakit.
2) BOR dalam sehari sebanyak dalam 6 hari shif pagi 93,82 % dan shif
siang 76,54%

33

3) Tenaga perawat yang berpendidikan DIII Keperawatan sebanyak 14


orang, berpendidikan S.Kep Ners sebanyak 2 orang.
4) Adanya perawat yang bersertifikat pelatihan Hemodialisa sebanyak
13 orang, sertifikat ini berlaku seumur hidup.
5) Tempat sampah yang sudah terpisah infeksius (infeksius, umum,
plabot/ spuit/vial).
6) Kapasitas tempat tidur yang memadai, tempat tidur dan alat tenun
yang tertata di dalam lemari lengkap dan bersih.
7) Sudah terdapat tenaga inventaris 2 orang, serta tenaga kebersihan
khusus ruang Hemodialisa.
8) Adanya pembagian ruangan, seperti adanya ruangan hepatitis C non
reaktif, reaktif dan ruang isolasi HBsAG.
9) Adanya kebijakan Rumah Sakit Immanuel dalam mengadakan
pelatihan-pelatihan bagi perawat.
10) Adanya ISO atau penilaian mutu pelayanan di Rumah Sakit
Immanuel.
11) Sarana dan prasarana dalam kondisi baik
12) Memiliki dokter konsultan ginjal sebagai penanggung jawab dan
kepala instalasi.
13) Adanya kerja sama antar Rumah Sakit Immanuel dan Stik Immanuel
ditandai dengan adanya mahasiswa praktek sebanyak 6 orang.
14) Adanya peningkatan tindakan keperawatan selama 3 bulan terakhir
dari bulan Februari sebanyak 1123, bulan Maret 1203, dan bulan
15)
16)
17)
18)
19)
20)

April sebanyak 1292 tindakan.


Terdapat ruang ganti perawat laki-laki dan perempuan
Terdapat ruang sterilisasi untuk dialysis
Terdapat ruang status klien yang tersusun rapi
Terdapat tolit untuk pasien dan karyawan
Adanya peningkatan pasien baru 4-5 orang dalam sebulan.
Adanya pelatihan bagi perawat hemodialisa yang belum mengikuti

pelatihan
21) Adanya kerja sama dalam pengadaan alat-alat hemodialisa
b. Kelemahan/ Weakness
1. Kurangnya pendidikan kesehatan pola hidup bagi pasien.
2. Belum optimalnya pelaksanaan tindakan hemodialisa sesuai dengan
SOP.

34

3. Belum optimalnya pelaksanaan tindakan sesuai dengan standar


operasional prosedur

penanganan resiko jatuh (bed plang tidak

terpasang).
4. Masih kurangnya tenaga perawat di ruangan Hemodialisa.
5. Belum maksimalnya sepenuhnya perawat yang bertugas di Ruang
Hepatitis B yang menggunakan APD sesuai prosedur
6. Belum optimalnya pelaksanaan tindakan sesuai dengan standar
operasional prosedur identifikasi pasien.
7. Masih kurang optimalnya pengisian dokumentasi rekam medis
pasien.
8. Belum adanya pelabelan ruangan.
9. Belum adanya papan stuktur organisasi ruangan Hemodialisa.
10. 14 tenaga perawat pendidikan D III Keperawatan.
11. Ruang tunggu keluarga yang belum memadai.
12. Belum optimalnya penempatan alat kesehatan dalam troli di ruang
hepatitis c aktif dan reaktif.
13. Belum terciptanya kenyamanan dan rasa aman di ruang tunggu
keluarga pasien.
14. Resiko tinggi penyebaran infeksi pada alat tenun.
15. Kurang optimalnya pemberian pendidikan kesehatan mengenai
16. Belum optimalnya perilaku pasien dan keluarga dalam membedakan
pembuangan sampah secara infeksius maupun non infeksius
17. Kurang optimalnya pembagian perawat di ruang Hepatitis B (Isolasi)
18. Kurang optimalnya prosedur pembuangan AV-Vistula pada saat
terminasi
2. Faktor-faktor Eksternal
a. Kesempatan/ Opportunity
1) Adanya undang-undang konsumen untuk meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan.
2) UU No. 38 tahun 2014 tentang keperawatan.
3) Adanya pengadaan BPJS untuk pasien Hemodialisa
b. Ancaman/ Threat

1) Adanya undang-undang tentang perlindungan hak konsumen.


2) Pembandingan pelayanan kesehatan oleh masyarakat dengan RS yang
memiliki standar internasional.
3) Adanya Rumah Sakit lain yang memiliki kualitas lebih baik dengan
standar akreditasi Joint Commission International (JCI) .

35

4) Adanya

tuntutan

yang

lebih

tinggi

dari

masyarakat

untuk

mendapatkan pelayanan yang profesional.

3. Matriks SWOT
Tabel 3.4
Matriks SWOT
Eksternal

Kekuatan/ Strength :
1) Memiliki visi, misi dan
filosofi Rumah Sakit.
2) BOR dalam sehari pada
shif pagi 93,82 % dan shif
yang

berpendidikan

DIII

Keperawatan sebanyak 14
berpendidikan

S.Kep Ners sebanyak 2


orang.
4) Adanya

kesehatan pola hidup bagi


pasien.
2. Belum

optimalnya
tindakan

hemodialisa sesuai dengan


SOP.
3. Belum

optimalnya

pelaksanaan tindakan sesuai


dengan standar operasional
prosedur penanganan resiko

perawat

bersertifikat

yang

pelatihan

Hemodialisa sebanyak 13
orang,

pendidikan

pelaksanaan

siang 76,54%
3) Tenaga perawat

orang,

Weakness (W) :
1. Kurangnya

sertifikat

ini

berlaku seumur hidup.


5) Tempat sampah yang

jatuh

(bed

plang

terpasang).
4. Masih kurangnya
perawat

di

tidak
tenaga

ruangan

Hemodialisa.
5. Belum
maksimalnya

36

sudah terpisah infeksius

sepenuhnya perawat yang

(infeksius, umum, plabot/

bertugas di Ruang Hepatitis

spuit/vial).
6) Kapasitas tempat

tidur

memadai, tempat

sesuai prosedur
6. Belum
optimalnya

tidur dan alat tenun yang

pelaksanaan tindakan sesuai

lengkap dan bersih.


7) Sudah terdapat tenaga

dengan standar operasional

yang
Internal

B yang menggunakan APD

inventaris 2 orang, serta


tenaga kebersihan khusus

prosedur identifikasi pasien.


7. Masih kurang optimalnya
pengisian

dokumentasi

ruang Hemodialisa.
8) Adanya
pembagian

rekam medis pasien.


8. Belum adanya pelabelan

ruangan, seperti adanya

ruangan
9. Belum adanya papan stuktur

ruangan hepatitis C non


reaktif, reaktif dan ruang
isolasi HBsAG.
9) Adanya kebijakan Rumah
Sakit

Immanuel

mengadakan

dalam

pelatihan-

pelatihan bagi perawat.


10) Adanya
ISO
atau
penilaian mutu pelayanan
di

Rumah

Immanuel.
11) Sarana dan

Sakit
prasarana

dalam kondisi baik


12) Memiliki
dokter
konsultan ginjal sebagai
penanggung jawab dan
kepala instalasi.
13) Adanya kerja sama antar
Rumah Sakit Immanuel

organisasi

ruangan

Hemodialisa
10. 14
tenaga

perawat

pendidikan D III.
11. Ruang tunggu keluarga yang
belum memadai
12. Belum
optimalnya
penempatan alat kesehatan
dalam

troli

di

ruang

hepatitis c aktif dan reaktif.


13. Belum
terciptanya
kenyamanan dan rasa aman
di ruang tunggu

keluarga

pasien.
14. Resiko tinggi penyebaran
infeksi pada alat tenun.
15. Kurang
optimalnya
pemberian

pendidikan

Immanuel

kesehatan mengenai
16. Belum optimalnya perilaku

ditandai dengan adanya

pasien dan keluarga dalam

dan

Stik

37

mahasiswa

praktek

sebanyak 6 orang.
14) Adanya
peningkatan

membedakan
sampah

pembuangan

secara infeksius

keperawatan

maupun non infeksius


17. Kurang
optimalnya

selama 3 bulan terakhir

pembagian perawat di ruang

tindakan
dari

bulan

sebanyak

Februari

1123,

bulan

Maret 1203, dan bulan


April

sebanyak

tindakan.
15) Terdapat
perawat

1292

ruang

ganti

laki-laki

dan

Hepatitis B (Isolasi)
18. Kurang optimalnya prosedur
pembuangan

AV-Vistula

pada saat terminasi

perempuan
16) Terdapat ruang sterilisasi
untuk dialysis
17) Terdapat ruang

status

klien yang tersusun rapi


18) Terdapat
tolit
untuk
pasien dan karyawan
19) Adanya
peningkatan
pasien baru 4-5 orang
dalam sebulan.
20) Adanya pelatihan bagi
perawat

hemodialisa

yang belum mengikuti


pelatihan
21) Adanya

kerja

sama

dalam pengadaan alatalat hemodialisa.


Opportunities (O)
SO Strategi:
1) Adanya
undang- 19. Memiliki lulusan
undang

konsumen

untuk

meningkatkan

mutu

pelayanan

WO Strategi :
S.Kep 1) Adanya

undang-undang

Ners dan DIII sebagai

konsumen

untuk

tenaga

meningkatkan

mutu

kesehatan

profesional

yang

diharapkan

pelayanan kesehatan dengan

38

kesehatan.
2) UU No. 38 tahun 2014
tentang keperawatan.
3) Adanya
pengadaan
BPJS

untuk

pasien

Hemodialisa
4) Adanya pelatihan bagi
perawat

hemodialisa

yang belum mengikuti

dapat

merah

kerjasama

cara meningkatkan fasilitas

antar rumah sakit didalam

di Ruang Hemodialisa dan

maupun diluar negeri.


1) Tersedianya buku panduan

jumlah perawat di ruangan


2) Adanya penilaian mutu

dan pedoman pengisian

pelayanan

RS

dokumentasi

asuhan

menuntut

ruangan

keperawatan

lengkap

meningkatkan

dengan

tindakan

perawat, fasilitas ruangan,

SOP

keperawatan

pelatihan.
5) Adanya kerja

merupakan

sama

alat untuk meningkatkan

dalam pengadaan alat-

ISO atau penilaian mutu

alat hemodialisa.

pelayanan
1

kesehatan

Immanuel.
2) SDM dengn

standar

prosedur

kualifikasi

S1 dan DIII

merupakan

kekuatan
menangkap

jumlah
operasional

dalam

diruangan

dengan

menangkap

cara

peluang

kebijakan

rumah

dalam

sakit

mengadakan

pelatihan-pelatihan

sakit dalam mengadakan

perawat.

perawat.
3) Pemanfaatan

semua

perawat-perawat

peluang kebijakan rumah


pelatihan-pelatihan

untuk

tindakan keperawatan.
3) Meningkatkan pengalaman
kerja

pendidikan
untuuk

dan

Immanuel

bagi

bagi
sistem

pendukung sesuai dengan


fungsinya

untuk

meningkatkan
pelayanan.
ST Strategi:
undang- 1. Adanya perawat

Threats (T) :
1. Adanya
undang

tentang

perlindungan

hak

konsumen.
2. Pembandingan
pelayanan

kualitas
WT Strategi :
dengan 1. Meningkatkan

jumlah

kualifikasi pendidikan S1

perawat dengan kualifikasi

dan

merupakan

pendidikan

kekuatan untuk melindungi

melindungi

D3

Ners

untuk
hak-hak

hak-hak konsumen.
konsumen.
kesehatan 2. Kapasitas tempat tidur yang 2. Meningkatkan
39

perawat

oleh

masyarakat

memadai, tempat tidur dan

dengan

dengan

RS

alat tenun yang lengkap

pendidikan S1 Ners untuk

dan

merupakan

memperkecil

adanya

untuk

perbandingan

pelayanan

memiliki

yang
standar

internasional.
3. Adanya Rumah Sakit
lain

yang

kualitas

memiliki

lebih

dengan

baik

kekuatan

memperkecil tuntutan dari

kesehatan oleh masyarakat

pasien dan keluarga untuk

dengan RS yang memiliki

mendapatkan

pelayanan

standar

akreditasi

yang profesional.
Joint 3. Perawat yang memiliki

Commission
International (JCI) .
4. Adanya tuntutan yang
lebih

bersih

tinggi

masyarakat

dari
untuk

mendapatkan
pelayanan
profesional.

standar internasional.
3. Meningkatkan fasilitas

di

ruangan Hemodialisa untuk

kualifikasi pendidikan S1

memperkecil

dan

adanya rumah sakit yang

D3

kekuatan
memperkecil

merupakan
untuk
persaingan

antar rumah sakit yang


semakin kuat.

yang

kualifikasi

ancaman

memiliki

standar

internasional

dan

Joint

kualitas

Commission

International.
4. Mengoptimalkan pendidikan
kesehatan

yang

diberikan

pada saat pasien pulang,


orientasi ruangan pada pasien
baru

untuk

memperkecil

ancaman dari masyarakat.

40

4. Matriks
a. Matriks IFE
Tabel 3.5
Matriks IFE
No
1.

Faktor

Bobot

Rating

Skor

Strength
a. Memiliki visi, misi dan filosofi Rumah Sakit.
b. BOR dalam sehari pada shif pagi 93,82% dan
shif siang 76,54%

0,08
0,07

4
3

0,24
0,21

0,04

0,12

0,04

0,12

0,01

0,02

0,02

0,04

0,01

0,02

0,02

0,06

0,02

0,06

0,01

0,03

0,01
0,03

3
3

0,03
0,09

0,02

0,06

c. Tenaga perawat yang berpendidikan DIII


sebanyak 14 orang, S.Kep Ners sebanyak 2
orang (termasuk wakil manager).
d. Adanya perawat yang bersertifikat pelatihan
hemodialisa (14 orang), sertifikat ini berlaku
seumur hidup.
e. Tempat sampah yang sudah terpisah
(infeksius, umum, plabot / spuit / vial)
f. Kapasitas tempat tidur yang memadai,
tempat tidur dan alat tenun yang tertata di
dalam lemari lengkap dan bersih.
g. Sudah terdapat tenaga inventaris 2 orang,
serta 2 tenaga kebersihan khusus ruang
Hemodialisa.
h. Adanya pembagian ruangan, seperti adanya
ruangan non reaktif, reaktif, dan ruang isolasi
HBsAG.
i. Dari beberapa rumah sakit yang berada di
Jawa Barat yang mempunyai ruang
Hemodialisa, Ruang Hemodialisa RS.
Immanuel merupakan salah satu yang
mempunyai ruang isolasi HBsAG.
j. Adanya kebijakan Rumah Sakit Immanuel
dalam mengadakan pelatihan-pelatihan bagi
perawat.
k. Sarana dan prasarana dalam kondisi baik
l. Memiliki dokter konsultan ginjal sebagai
penanggung jawab dan kepala instalasi.
m. Adanya kerja sama antar Rumah Sakit
Immanuel dan Stik Immanuel ditandai
dengan adanya mahasiswa praktek sebanyak
6 orang.

41

n. Adanya peningkatan tindakan keperawatan

0,03

0,06

April sebanyak 1292 tindakan


o. Terdapat ruang ganti perawat laki-laki dan

0,01

0,01

perempuan
Terdapat ruang sterilisasi untuk dialysis
Terdapat ruang status klien yang tersusun rapi
Terdapat tolit untuk pasien dan karyawan
Adanya peningkatan pasien baru 4-5 orang

0,02
0,01
0,01
0,01

1
1
1
1

0,02
0,01
0,01
0,01

dalam sebulan.
t. Adanya pelatihan bagi perawat hemodialisa

0,01

0,01

yang belum mengikuti pelatihan


u. Adanya kerja sama dalam pengadaan alat-

0,01

0,01

0,02

0,04

0,04

0,12

0,04

0,12

0,05

0,15

0,03

0,09

0,03

0,09

0,01

0,01

0,01

0,03

0,01

0,02

0,03
0,04

2
3

0,06
0,12

selama 3 bulan terakhir dari bulan Februari


sebanyak 1123, bulan Maret 1203, dan bulan

p.
q.
r.
s.

2.

alat hemodialisa
Kelemahan
a. Kurangnya pendidikan kesehatan pola hidup
bagi pasien
b. Belum optimalnya penempatan troli dan alat
kesehatan di ruang hepatitis C aktif dan reaktif
c. Belum optimalnya ketenagaan perawat di
ruang hepatitis b
d. Masih kurangnya tenaga perawat di ruangan
Hemodialisa
e. Tidak sepenuhnya perawat yang bertugas di
Ruang HBsAG yang menggunakan APD
sesuai prosedur
f. Belum optimalnya sarana prasarana tempat
tunggu keluarga
g. Masih
kurang
optimalnya
pengisian
dokumentasi rekam medis pasien.
h. Tidak adanya pelabelan troli alat kesehatan
diruangan hepatitis C aktif dan reaktif
i. Tidak adanya papan stuktur organisasi
ruangan Hemodialisa
j. tenaga perawat pendidikan D III Keperawatan.
k. Resiko tinggi penyebaran infeksi pada alat
tenun.

42

l. Belum optimalnya penempatan alat kesehatan

0,03

0,09

reaktif.
m. Belum terciptanya kenyamanan dan rasa aman

0,03

0,09

di ruang tunggu keluarga pasien.


n. Kurang optimalnya pemberian pendidikan

0,03

0,09

0,02

0,06

infeksius
p. Kurang optimalnya pembagian perawat di

0,03

0,09

ruang Hepatitis B (Isolasi)


q. Kurang optimalnya prosedur pembuangan AV-

0,03

0,09

dalam troli di ruang hepatitis c aktif dan

kesehatan mengenai
dan Av-Shunt
o. Belum optimalnya

perawatan dabulumen
perilaku

keluarga dalam membedakan


sampah

pasien

dan

pembuangan

secara infeksius maupun non

Vistula pada saat terminasi


TOTAL NILAI

2,52

Rating (nilai) antara 1 - 4 bagi masing-masing faktor yang memiliki nilai:


1 = Sangat lemah
2 = Tidak begitu lemah
3 = Cukup kuat
4 = Sangat kuat
Jadi, rating mengacu pada kondisi rumah sakit, sedangkan bobot mengacu pada
industri dimana perusahaan berada.
a. Kalikan antara bobot dan rating dari masing-masing faktor untuk
menentukan nilai skornya.
b. Jumlah semua skor untuk mendapatkan skor total bagi Rumah Sakit yang
dinilai. Nilai rata-rata adalah 2,5. Jika nilainya dibawah 2,5 menandakan
bahwa secara internal Rumah Sakit adalah lemah. Sedangkan nilai yang

43

berada diatas 2,5 menunjukkan posisi internal yang kuat. Seperti pada
matriks EFE, Matriks IFE terdiri dari cukup banyak faktor. Jumlah faktorfaktornya tidak berdampak pada jumlah bobot karena ia selalu berjumlah
1,0.
b. Matriks EFE

Bagan 3.6
Matriks EFE
No
1.

2.

Faktor
Kesempatan/ Opportunity
1. Adanya undang-undang konsumen
untuk meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan..
2. UU No. 38 tahun 2014 tentang
keperawatan
3. Adanya pengadaan BPJS untuk pasien
Hemodialisa

Bobot

Rating

Skor

0,2

0,6

0,3

0,9

0,19

0,19

a. Adanya undang-undang tentang


perlindungan hak konsumen.

0,1

0,2

b. Pembandingan pelayanan kesehatan


oleh masyarakat dengan RS yang
memiliki standar internasional.
c. Adanya Rumah Sakit lain yang
memiliki kualitas lebih baik dengan
standar akreditasi Joint Commission
International (JCI) .
d. Adanya tuntutan yang lebih tinggi
dari masyarakat untuk mendapatkan
pelayanan yang profesional.
TOTAL

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

0,2

Ancaman/ Threat

2,29

Rating (nilai) antara 1 sampai 4 bagi masing-masing factor yang memiliki nilai:
1 = Sangat Lemah
2 = Tidak Begitu Lemah
3 = Cukup Kuat
4 = Sangat Kuat
44

Jadi, rating mengacu pada kondisi perusahaan, sedangkan bobot mengacu pada
industry dimana perusahaan berada.
a. Kalikan antara bobot dan rating dari masing-masing factor untuk menentukan
nilai skornya.
b. Jumlah semua skor untuk mendapatkan skor total bagi perusahaan yang
dinilai. Nilai rata-rata adalah 2,5. Jika nilainya dibawah 2,5 menandakan
bahwa secara internal, perusahaan adalah lemah, sedangkan nilai yang berada
diatas 2,5 menunjukkan posisi internal yang kuat. Seperti halnya pada matriks
EFE, matriks IFE terdiri dari cukup banyak faktor. Jumlah faktor-faktornya
tidak berdampak pada jumlah bobot karena ia selalu berjumlah 1,0.
c. Matriks Internal Eksternal (IE)
Matriks IE bermanfaat untuk memposisikan suatu SBU perusahaan ke dalam
matriks yang terdiri dari 9 sel dengan memperhatikan nilai total EFE dan IFE.
Matriks IE menempatkan berbagai divisi dari organisasi dalam diagram skematis,
sehingga disebut matriks porto folio. Matriks IE dengan sumbu horizontal X
adalah nilai IFE yang dibagi menjadi 3 daerah yaitu :
1,0 1,99 = IFE lemah
2,0 2,99 = IFE rata-rata
3,0 4,0 = IFE kuat
Matriks IE dengan sumbu vertical Y adalah nilai EFE yang dibagi menjadi 3
daerah, yaitu :
1,0 1,99 = EFE rendah
2,0 2,99 = EFE rata-rata
3,0 4,0 = EFE kuat
Berdasarkan data diatas matriks IFE: 2,52 dan matriks EFE 2,29

45

Skema 3.1
Matriks EFE dan IFE
S K O R TOTAL I F E
Kuat
3,0 4,0

Sedang
2,0 2,99 2,0

Lemah
1,0 - 1,99

II

III

IV

VI

VII

VIII

IX

46

4,0
S
K
O
R
T
O
T
A
L

Tinggi
3,0 - 4,0
3,0
Sedang
2,0 2,99
2,0
Rendah
1,0 1,99

E
F
E

1,0

Diagram cartesius berdasarkan kasus diatas termasuk kuadran V. Strategi yang


cocok untuk kasus ini adalah strategi-strategi hold dan maintain. Strategi yang
umum dipakai adalah strategi market penetration (penetrasi pasar) dan product
develovment, pengembangan pasar dan product development (perkembangan
produk), intergrasi kedepan dan intergrasi horisontal. Artinya ruangan tersebut
harus mempenetrasi sistem pemasarannya, dan bagaimana mengembangkan
produk yang diruangan.
Yaksis

= T + O = 2,29

XAksis = S + W = 2,51
Diagram Cartesius Matrik Space
Opportunity
Y

Strategi pembenahan

Strategi agresif
X axix, (2,51)+Yaxix : (2,29)

47

Weaknesess

Strategi bertahan

Strengths

Strategi diversivikasi

Threats

Gambar diagram cartesius di atas dapat disimpulkan bahwa ruang hemodialisa


memiliki kekuatan yang baik dalam mengatasi masalahnya menyangkut
kelemahan internal dan ancaman eksternal memalalui peluang eksternal yang
ada karena berada pada Agresive Strategy. Namun perlu diingat ruang
hemodialia juga harus membertahankan atau mengubah strategi sebelumnya ke
arah yang lebih baik karena berada pada ancaman yang cukup untuk
mengganggu roda organisasinya yang dapat dilihat pada cukup besarnya
Diversifikasi Strategy. Oleh karena itu, ruang hemodialisa disarankan untuk
segera memberikan pelabelan disetiap troli hepatitis c aktif dan reaktif,
mengubah posisi ruang tunggu dengan menambah fasilitas untuk tempat
penyimpanan leaflet, mengubah posisi untuk posisi tempat duduk.
5. Scoring Prioritas Masalah
Tabel 3.7
Scoring Prioritas Masalah
No

MASALAH

Mg

Sv

Mn

Nc

Af

SKOR

KET

48

1.

Belum
perilaku

optimalnya
pasien

keluarga

dan
dalam

membedakan
pembuangan

19

IV

sampah

secara infeksius maupun


non infeksius
Proses untuk mendapatkan masalah di atas dengan menggunakan metode
pembobotan yang memperhatikan aspek :
1. Magnetude (Mg)
Kecenderungan besar dan masalah sering terjadi.
2. Severity (Sv)
Besarnya kerugian yang ditimbulkan dari masalah ini.
3. Manageability (Mn)
Berfokus kepada keperawatan sehingga dapat diatur untuk perubahannya.
4. Nursing Consent (Nc)
Melibatkan pertimbangan dan perhatian perawat.
5. Affordability (Af)
Ketersediaan sumber daya.
Rentang nilai yang digunakan 1-5 dengan rincian :
5 : sangat penting
4 : penting
3 : cukup penting
2 : kurang penting
1

: sangat kurang penting

a. Interpretasi / Prioritas Masalah


Interpretasi berdasarkan matriks prioritas masalah telah didapatkan sesuai prioritas
masalah adalah :
1. Belum optimalnya perilaku pasien dan keluarga dalam membedakan
pembuangan sampah secara infeksius maupun non infeksius

49

b. Hasil Analisis dan Assesment


1. Belum optimalnya perilaku pasien dan keluarga dalam membedakan
pembuangan sampah secara infeksius maupun non infeksius
Hasil observasi: setelah dilakukan observasi selama 6 hari, ditemukan bahwa
masih ada penempatan sampah yang tidak sesuai dengan tempatnya seperti
sampah tisue cuci tangan, gelas plastik berisi susu bekas minum pasien
ditemukan ada di tempat sampah infeksius dan setelah diwawancarai dari 87
orang didapatkan 61 orang mengetahui perbedaan tempat sampah infeksius
dan non infeksius dan 26 orang tidak mengetahui.
c. Alternatif Penyelesaian Masalah Berdasarkan Masalah di atas :
1. Belum optimalnya perilaku pasien dan keluarga dalam membedakan
pembuangan sampah secara infeksius maupun non infeksius
Berkolaborasi dengan kepala ruangan untuk melakukan re-sosialisasi kepada
keluarga dan pasien dalam pembuangan sampah secara infeksius dan non
infeksius
d. Pembobotan CARL
Seleksi penyelesaian masalah menggunakan pembobotan CARL, yaitu :
C : CAPABILITY

: Kemampuan melaksanakan alternatif

A : ACCEEABILITY

: Kemudahan menggunakan alternative

R : READINESS

: Kesiapan dalam melaksanakan alternative

L : LEVERAGE : Daya ungkit alternatif dalam menyelesaikan masalah


Rentang penilaian 1-5 yaitu
5
4
3
2
1

= Sangat mampu
= Mampu
= Cukup mampu
= Kurang mampu
= Tidak mampu

50

Tabel 3.8
Scoring CARL
No
1.

Alternatif pemecahan Masalah


C
Berkolaborasi dengan kepala ruangan 4

A
4

R
4

L
3

Score
15

Ket
III

untuk melakukan re-sosialisasi kepada


keluarga dan pasien dalam pembuangan
sampah

secara

infeksius

dan

non

infeksius
e. Prioritas Alternatif Pemecahan Masalah
Hasil scoring di atas merupakan penyelesaian masalah dari yang tertinggi sampai
yang terendah didapatkan
1. Berkolaborasi dengan kepala ruangan untuk melakukan re-sosialisasi kepada
keluarga dan pasien dalam pembuangan sampah secara infeksius dan non
infeksius
6. Analisis Fish Bone
Sebelum rencana intervensi disusun maka dilakukan suatu analisis terhadap aspek
man (sumber daya manusia), money ( uang atau dana), Material (materi atau
bahan), methode (metode), Machine (Mesin), dan environment (lingkungan)
sebagai penyebab dari masalah yang muncul menggunakan metode analisis
Fishbone.

51

52

1. Belum optimalnya perilaku pasien dan keluarga dalam membedakan pembuangan sampah secara infeksius maupun
non infeksius
MAN

Kurangnya kesadaran pasien

Material

dan keluarga pasien tentang

Tidak adanya poster,

pemilahan sampah.

MONEY
-

lefleat pembuangan
sampah infeksius dan
non infeksius

PROBLEM

Pembuangan sampah non infeksius


dan infeksius yang belum optimal
oleh pasien dan keluarga pasien
METHODE

Adanya SOP pemberian


pendidikan kesehatan

Mechine

ENVIRONMENT

Adanya kebijakan Kepala

Tidak adanya ruangan

Ruangan dalam
memberikan pendidikan

edukasi, suasana di
ruangan hemodialisa
nyaman

kesehatan

53

E. Perencanaan/Planning Of Action (POA)


Tabel 3.9
Planning Of Action (POA)
No
1.

Masalah

Tujuan

Belum

Tujuan

optimalnya

Panjang:
Setelah

perilaku
pasien

dan

keluarga
dalam
membedakan
pembuangan
sampah baik
secara
infeksius
maupun non
infeksius

Strategi
Jangka Melibatkan kepala ruangan
maupun

dilakukan

intervensi

selama

minggu

diharapkan

pasien

Kegiatan

dan

pasien

keluarga
dapat

PJ

mengingatkan

shift
tata

untuk
cara

a. Mengobservasi
dalam

pembuangan

tempatnya sesuai label yang

sampah sesuai

kepada

pembuangan

sampah

ruangan

baik secara infeksius

ruangan

maupun non infeksius


Tujuan
Jangka

memberikan

intervensi selama 3 hari


diharapkan pasien dan
keluarga pasien dapat

2016

tempatna
b. Berkonsultasi

tempat

dilakukan

PJ

melakukan

membedakan

Pendek:
Setelah

Waktu

Pasien dan 09 -14 mei Risa

pasien dan keluarga keluarga

pembuangan sampah pada


sudah disediakan.

Sasaran

kepala
dan

ci
untuk

pendidikan
kesehatan mengenai
perbedaan
pembuangan sampah
infeksius

dan

54

Biaya

membedakan

tempat

pembuangan

sampah

infeksius
infeksius

dan

non

noninfeksius.
c. Membuat
leaflet
mengenai
pembuangan sampah
infeksius

dan non

infeksius
d. Mengkonsultasikan
leaflet

kepihak

Promkes
e. Mengkonsultasikan
leaflet

ke

pihak

PPRS.
f. Mengkonsultasikan
poster

ke

pihak

Promkes.
g. Memberikan
pendidikan
kesehatan mengenai
perbedaan

tempat

buang sampah.
h. Mengevaluasi
dengan

berdiskusi

55

mengenai
pembuangan sampah
infeksius

dan

noninfeksius.
i. Penempelan Poster
didepan pintu masuk
pasien dan keluarga
serta

ditempat

pencucian

tangan

dekat

tempat

sampah.

56

BAB IV
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

Setelah rencana kegiatan atau Planning Of Action tersusun dan disepakati maka
implementasi atas kegiatan dilaksanakan. Implementasi kegiatan berlangsung pada
tanggal 09 April 2016 14 April 2016, dilakukan evaluasi atas seluruh kegiatan yang
telah dilaksanakan mengacu pada tujuan dari pelaksanaan kegiatan.
A. Masalah
1. Belum optimalnya perilaku pasien dan keluarga dalam membedakan
pembuangan sampah baik secara infeksius maupun non infeksius
a. Pada tanggal 11 Mei 2016 berkoordinasi dengan Kepala ruangan untuk
membuat surat kepada pihak Promkes dan PPRS Rumah Sakit Immanuel
Bandung.
b. Pada tanggal 12 Mei 2016 pukul 09.00 konsultasi leaflet kepada pihak
Promkes RS. Immanuel Bandung mengenai pembuangan sampah infeksius
dan non infeksius di Ruang Hemodialisa
Hasil konsultasi : Ibu T. mengatakan alangkah baiknya untuk pembuatan
poster agar selalu dibaca oleh pasien dan keluarga dan tetap melakukan
penyuluhan kepada keluarga dan pasien.
c. Pada tanggal 12 Mei 2016 pukul 13.00 konsultasi leaflet kepada pihak
PPRS Immanuel mengenai pembuangan sampah infeksius dan Non
infeksius.
Hasil konsultasi: Ibu A. mengatakan untuk penyuluhan mengenai sampah
alangkah baiknya untuk menggunakan poster dan me-resosialisasi kepada
semua perawat di Ruang Hemodialisa untuk selalu meberikan orientasi
kepada setiap pasien baru.
d. Pada tanggal 13 Mei 2016 pukul 09.00 kami melakukan konsultasi poster
kepada pihak promkes.

57

Hasil konsultasi: ibu T. mengatakan untuk poster diperjelas kembali


mengenai sampah infeksius dan sampah non infeksius.
e. Pada tanggal 14-18 Mei 2016 pukul 12.00 kami melakukan pendidikan
kesehatan kepada setiap pasien hemodialisa mengenai pembuangan sampah
infeksius dan non infeksius.
f. Pada tanggal 14-18 Mei 2016 2016 pukul 16.00 kami melakukan evaluasi
dengan cara berdiskusi dengan pasien dan keluarga mengenai pembuangan
sampah infeksius dan non infeksius, didapatkan hasil 78 orang mengetahui
perbedaan sampah infeksius dan non infeksius.
g. Pada tanggal 16 Mei 2016 pukul 19.00 kami melakukan penempelan poster
di depan pintu masuk (pintu depan) pasien dan keluarga dan di depan
tempat sampah.
B. Evaluasi
Belum optimalnya perilaku pasien dan keluarga dalam membedakan
pembuangan sampah baik secara infeksius maupun non infeksius
Pada tanggal 14-18 Mei 2016 2016 pukul 16.00 kami melakukan evaluasi
dengan cara berdiskusi bersama Pasien dan keluaga. Didapatkan hasil yang
mengetahui perbedaan sampah infeksius dan non infeksius sebelum
diberikan intervensi adalah 61 orang. Sesudah diberikan intervensi
sebanyak 78 orang. Jadi, terjadi peningkatan pengetahuan sebelum
diberikan intervensi dan sesudah diberikan intervensi untuk pasien dan
keluarga yang mengetahui perbedaan sampah infeksius dan non infeksius.
C. Rencana Tindak Lanjut
Belum optimalnya perilaku pasien dan keluarga dalam membedakan
pembuangan sampah baik secara infeksius maupun non infeksius
Rencana tindak lanjut yang dibutuhkan adalah adanya kebijakan dari kepala
Ruangan untuk memberikan informasi/himbauan kepada seluruh pasien
dan keluarga sesuai pada tempatnya.

58

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Manajemen berfungsi untuk melakukan semua kegiatan yang perlu dilakukan
dalam rangka pencapaian tujuan dalam batas batas yang telah ditentukan pada
tingkat administrasi. Kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi yang terjadi
pada suatu keadaan dan diarahkan melalui proses komunikasi ke arah
tercapainya sesuatu tujuan. Setelah melakukan kajian situasi, mahasiswa
melakukan pengolahan data dengan melakukan analisis setiap data yang didapat
membuat analisis SWOT dan menetukan masalah yang akan disosialisasikan ke
ruangan dan melakukan intervensi serta implementasi keperawatan, Nursalam
2012.
Berdasarkan pada kajian di Ruang Hemodialisa RS Immanuel dan hasil analisis
SWOT yang mencakup kekuatan, kelemahan serta ancaman dan peluang dari
SWOT analisis ini disimpulkan dalam beberapa masalah yaitu menyangkut
dengan Belum optimalnya perilaku pasien dan keluarga dalam membedakan
pembuangan sampah baik secara infeksius maupun non infeksius. Dari hasil
59

implementasi dan di evaluasi terjadi peningkatan pengetahuan pasien dan


keluarga mengenai pembuagan sampah infeksius dan non infeksius.

B. SARAN

1. Rumah Sakit Immanuel Bandung


Diharapkan untuk Rumah Sakit Immanuel Bandung untuk meningkatkan
mutu pelayanan keperawatan di Ruang Hemodialisa yakni meningkatkan
mutu pelayanan di Ruang Hemodialisa dengan penambahan beberapa sarana
dan prasarana guna kepentingan dan keselamatan pasien.
2. Ruang Hemodialisa
Diharapkan bagi para perawat Hemodialisa untuk mempertahankan potensi
yang dimiliki ruangan serta mengoptimalkan asuhan keperawatan yang
selama ini dilaksanakan sehingga tercapailah mutu dalam memberikan
asuhan keperawatan kepada pasien secara profesional.
3. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Immanuel Bandung
Diharapakan bagi institusi pendidikan untuk lebih meningkatkan pelaksanaan
praktek khususnya dalam mata ajaran Kepemimpinan dan Manajemen
Keperawatan, guna meningkatkan lulusan sarjana keperawatan yang handal
dan berkompeten serta mampu bersaing ditingkat nasional maupun
internasional.
4. Mahasiswa Keperawatan

60

Diharapkan mahasiswa profesi keperawatan menjadikan praktik keperawatan


manajemen sebagai pengalaman yang berguna ketika akan bersaing dalam
dunia kerja.

DAFTAR PUSTAKA

Dumilah, Ayuningtias, 2006 Modul Managemen Strategi, FKM UI, Jakarta


Dwiantara, L., Sumarto, Rumsari. 2005. Manajemen logistik. Jakarta: Grasindo
Gibson, Ivancevich et al. 2011. Organisasi: Perilaku, Sturkur, Proses. Jilid I. Jakarta:
Binarupa Aksara.
Gillies, D.A. 2012. Manajemen Keperawatan: Suatu Pendekatan Sistem. Edisi II.
Saunders Company
Marquis, Bessie L. 2010. Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan: Teori dan
Aplikasi. Jakarta: EGC
Moekijat. 2014. Tata Laksana Kantor, Manajemen Perkantoran. Edisi 9. Bandung :
Mandar Maju
Nursalam, 2011. Proses Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik
Keperawatan Profesional. Edisi 3.

Jakarta: Penerbit Selemba Medika.

61

62