Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

NODUL PITA SUARA

DISUSUN OLEH
Sri Hartati
406137007

PEMBIMBING
Dr. Nurlina M. Rauf, Sp. THT, KL, M.kes.

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT TELINGA


HIDUNG TENGGOROKAN
PERIODE 29 Desember 2014 31 Januari 2015

LEMBAR PENGESAHAN

Referat
Vocal Nodule

Pembimbing
dr. Nurlina M. Rauf, Sp. THT-KL

Pelapor

Sri Hartati

Mengetahui

dr. Nurlina M. Rauf, Sp. THT-KL

406137007

Bagian Ilmu THT


Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
Periode 29 Desember 2014 31 Januari 2015

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan referat ini tepat pada waktunya. Laporan ini disusun saat penulis
melaksanakan kepaniteraan Ilmu Telinga, Hidung, Tenggorokan, Kepala & Leher pada 29
Desember 2014 31 Januari 2015, dengan berbekal pengetahuan, pengarahan serta bimbingan
yang diperoleh sebelum dan selama kepaniteraan ini.
Walaupun telah berusaha menyelesaikan ini dengan sebaik-baiknya, penulis menyadari
bahwa laporan ini masih belum sempurna. Oleh karena itu dengan rendah hati penulis
mengharapkan saran dan kritik yang membangun agar di masa mendatang penulis dapat
menyusun laporan dengan lebih baik. Semoga laporan referat ini bermanfaat bagi kita semua.

Ciawi, Januari 2015

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................

DAFTAR ISI..............................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar belakang.............................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
Anatomi laring...........................................................................................................

Rongga laring.............................................................................................................

Fisiologi laring...........................................................................................................

Nodul pita suara


2.3.1 Definisi....................................................................................................

2.3.2 Etiologi....................................................................................................

2.3.3 Epidemiologi...........................................................................................

2.3.4 Patologi....................................................................................................

2.3.5 Patofisiologi.............................................................................................

10

2.3.6 Gejala Klinis............................................................................................

10

2.3.7 Diagnosis.................................................................................................

11

2.3.8 Diagnosis Banding...................................................................................

12

2.3.9 Penatalaksanaan.......................................................................................

13

2.3.10 Prognosis...............................................................................................

14

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan................................................................................................

15

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................

16

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Nodul pita suara (vocal nodule) adalah pertumbuhan yang menyerupai jaringan parut dan
bersifat jinak pada pita suara. Terdapat berbagai sinonim klinis untuk nodul pitasuara termasuk
screamers nodule, singers nodule, atau teachers nodule.
Nodul biasanya terbentuk akibat pemakaian suara yang berlebihan, terlalu keras atau
terlalu lama seperti pada seorang guru, penyanyi, penyiar, presenter dan sebagainya. Nodul dapat
terjadi pada anak-anak dan dewasa, pada dewasa wanita lebih sering terkena. Penggunaan suara
yang berlebihan secara terus menerus mengkin merupakan faktor pencetus yang terpenting.
Kelelahan bersuara pada profesi-profesi tersebut cukup sering ditemukan, prevalensinya
9,713%. Dengan self assessment ternyata prevalensinya meningkat menjadi 73%. Hal ini
menunjukkan bahwa sebenarnya prevalensi kelelahan bersuara cukup tinggi.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Anatomi Laring

Anatomi Laring
Laring merupakan bagian yang terbawah dari saluran nafas bagian atas. Bentuknya
menyerupai limas segitiga terpancung, dengan bagian atas lebih besar daripada bagain
bawah. Bagian atas laring adalah aditus laring sedangkan bagian bawahnya adalah batas kaudal
1,2

kartilago krikoid.

Bangunan kerangka laring tersusun dari satu tulang, yaitu tulang hyoid dan beberapa
buah tulang rawan. Tulang hyoid terbentuk seperti huruf U, yang permukaan atasnya
dihubungkan dengan lidah, mandibula dan tengkorak oleh tendon dan otot-otot. Sewaktu
menelan, kontraksi otot-otot ini akan menyebabkan laring tertarik ke atas, sedangkan bila laring
diam, maka otot-otot ini bekerja untuk membuka mulut dan membantu menggerakkan lidah.
Tulang rawan yang menyusun laring adalah kartilago epiglottis, kartilago tiroid.
Kartilago krikoid, kartilago aritenoid, kartilago kornikulata, kartilago kuneiformis dan kartilago
tritesea. Kartilago krikoid dihubungkan dengan kartilago tiroid oleh ligamentum krikotiroid.
Bentuk kartilago krikoid berupa lingkaran. Terdapat 2 buah (sepasang) kartilago aritenoid yang
terletak dekat permukaan belakang laring dan membentuk sendi dengan kartilago krikoid,
disebut kartilago krikoaritenoid. Sepasang kartilago kornikulata (kiri dan kanan) melekat pada
kartilago kuneiformis terdapat dalam lipatan ariepiglotik dan kartilago terletak di dalam
ligamentum hiotiroidlateral.
Pada laring terdapat 2 buah sendi, yaitu artikulatio krikotiroid dan artikulatio
krikoaritenoid. Ligamentum yang membentuk susunan laring adalah seratokrikoid (anterior,
lateral dan posterior), ligamentum krikotiroid medial, ligamentum krikotiroid posterior,
ligamentum kornikulofaringal, ligamentum hiotiroid lateral, ligamentum hiotiroid medial,
ligamentum hioepiglotika, ligamentum,ventrikularis, ligamentum vocal yang Menghubungkan
kartilago aritenoid dengan kartilago tiroid, dan ligamentum tiroepiglotika.

Gerakan laring dilaksanakan oleh kelompok otot-otot ekstrinsik dan otot-otot instrinsik.
Otot ekstrinsik terutama bekerja pada laring secara keseluruhan, sedangkan otot instrinsik
bekerja menyebabkan gerak baggian-bagaian tertentu yang berhubungan dengan gerakan pita
suara.

Otot ekstrinsik laring ada yang terletak di atas tulang hyoid (suprahioid) dan otot
yang terletak di bawah tulang hyoid (infrahioid). Otot-otot ekstrinsik yang suprahioid ialah
m.digastrikus, m.geniohioid, m.stilohioid dan m.milohioid. otot yang infrahioid ialah
m.sternohioid, m.omohioid dan m,tirohioid. Otot-otot ekstrinsik laring yang suprahioid
berfungsi menarik laring kebawah, sedangkan yang infrahioid menarik laring ke atas. Otot-otot
instrinsik laring adalah M.krikoaritenoid lateral, M.tiroepiglotika, M.vokalis, M.tiroaritenoid,
M.ariepiglotika dan M.krikotiroid. Otot-otot ini terletak dibagian lateral laring. Otot-otot
instrinsik laring yang terletak dibagian posterior adalah M.aritenoid transversum, M.aritenoid
oblique dan M. krikoaritenoid posterior. Sebagian besar otot-otot instrinsik adalah otot adduktor
(kontraksinya akan mendekatkan kedua pita suara ke tengah) kecuali M.krikoaritenoid posterior
yang merupakan otot abductor (kontraksinya akan menjauhkan kedua pita suara ke lateral).

Rongga Laring
Batas atas rongga laring (cavum laryngis) ialah aditus laring, batas bawahnya ialah
bidang yang melalui pinggir bawah kartilago krikoid. Batas depannya ialah permukaan belakang
epiglottis, tuberkullum epiglotik, ligamentum tiroepiglotik, sudut antara kedua belah lamina
kartilago tiroid dan arkus kartilago krikoid. Batas lateralnya ialah membrane kuadranngularis,
kartilago aritenoid, konus elastikus dan arkus kartilago krikoid, sedangkan batas belakangnya
adalah m.aritenoid transversus dan lamina kartilago krikoid.

Dengan adanya lipatan mukosa pada ligamentum vokal dan ligamentum ventrikulare,
maka terbentuklah plika vokalis (pita suara asli) dan plika ventrikularis (pita suara palsu).
Bidang antara plika vokalis kiri dan kanan disebut rima glottis, sedangkan antara kedua plika
ventrikularis disebut rima vestibuli. Plika vokalis dan plika ventrikularis membagi laring dalam
3 bagian, yaitu vestibulum laring, glotik dan subglotik.

Potongan koronal laring memperlihatkan 3 bagian laring


Vestibulum laring ialah rongga laring yang terdapat di atas plika ventrikularis. Daerah ini
disebut supraglotik. Antara plika vokalis dan plika ventrikularis, pada tiap sisinya disebut
ventrikulus laring morgagni.
Rima glottis terdiri dari 2 bagian,yaitu bagian intermembran dan bagain interkartilago.
Bagian intermembran ialah ruang antara kedua plika vokalis, dan terletak dibagian anterior,
sedangkan bagian interkartilago terletak antara kedua puncak kartilago aritenoid, dan terletak
dibagian posterior. Daerah subglotik adalah rongga laring yang terletak dibawah plika
vokalis.
2.2 Fisiologi laring
Laring berfungsi untuk proteksi, batuk, respirasi, menelan, emosi serta fonasi, fungsi
laring sebagai proteksi ialah untuk mencegah makanan dan benda asing masuk ke dalam trakea,
dengan jalan menutup aditus laring dan rima glottis secara bersamaan. Terjadinya penutupan
aditus laring ialah karena pengangkatan laring ke atas akibat kontraksi otot-otot

Penutupan rima glottis terjadi karena adduksi plika vokalis. Kartilago aritenoid kiri
dan kanan mendekat karena adduksi otot-otot instrinsik. Selain itu dengan reflex batuk,
benda asing yang telah masuk ke dalam trakea dapat dibatukkan keluar. Demikian juga dengan
bantuan batuk, secret yang berasal dari paru dapat dikeluarkan.

Fungsi respirasi dari laring ialah dengan mengatur besar kecilnya rima glottis.
Dengan terjadinya perubahan tekanan udara dalam traktus trakeo-bronkial akan dpat
mempengaruhi sirkulasi darah tubuh. Dengan demikian larign juga berfungsi sebagai alat
pengatur sirkulari darah.
Fungsi laring dalam membantu proses memelan ialah dengan 3 mekanisme, yaitu
gerakan laring bagian bawah ke atas, menutup aditus laingis dan mendorong bolus makan turun
ke hipofaring dan tidak mungkin masuk ke dalam laring. Laring juga berfungsi untuk
mengekspresikan emosi seperti berteriak.
Fungsi lain laring adalah untuk fonasi, dengan membuat suara serta menentukan
tinggi rendahnya nada. Tinggi rendahnya nada diatur oleh ketegangan plika vokalis. Bila
plika vokalis adduksi, maka m.krikotiroid akan merotasikan kartilago aritenoid. Pada saat yang
bersamaan m.krikoaritenoid posterior akan menahan atau menarik kartilago krikoaritenoid ke
belakang. Plika vokalis kiri dalam keadaan yang efektif untuk berkontraksi. Sebaliknya
kontraksi m.krikoaritenoid akan mendorong kartilago aritenoid ke depan, sehingga plika
vokalis akan mengendor. Kontraksi serta mengendornya plika vokalis akan Menentukan
tinggi rendahnya nada.

Kerangka laring dan membrannya (penampang anterior)

Laring potongan mid sagital dan plika vokalis.

2.3 Nodul Pita Suara


2.3.1 Definisi
Nodul pita suara merupakan pertumbuhan yang menyerupai jaringan parut dan bersifat
jinak pada pita suara. Kelainan ini disebut juga singers nodule, screamers nodul atau
teachers nodul. Bentuk kelainan ini dapat dilihat seperti gambar

2.3.2

Etiologi
Nodul pita suara biasanya disebabkan oleh penyalahgunaan pemakaian suara (vocal

abuse) dalam waktu lama, berlebihan dan dipaksakan seperti pada seorang guru, penyanyi,
anak-anak dan lain-lain. Faktor-faktor penyebab laringitis kronis sangat berpengaruh di sini.
Tetapi penggunaan suara yang berlebihan secara terus menerus merupakan faktor pencetus
yang terpenting. Akibatnya lesi paling sering terdapat pada pemakai suara professional.
Hal-hal lain yang dapat menyebabkan nodul pita suara di antaranya : sorakan,sering
berbicara atau berbicara yang keras, batuk sering dan keras untuk membersihkantenggorokan,
penggunaan suara yang tidak biasa atau kuat selama bermain atau marah, pengguna nada
yang terlalu tinggi. Orang-orang dengan kebiasaan seperti ini akan menyebabkan cedera pada
pita suaranya. Jika hal ini terjadi, pita suara awalnya akan mengalami penebalan dan menjadi
merah. Jika penyalahgunaan suara berlanjut maka penebalan pada tengah pita suara akan
berkembang menjadi sebuauh nodul.
Terbentuknya nodul pita suara karena cara berbicara yang salah (vocal abuse). Yang
disebut cara berbicara yang salah seperti:

Terlalu keras

Terlalu lama atau banyak bersuara

Terlalu tinggi nadanya

Terlalu rendah

Ditekan

Salah cara menyanyi

Berteriak

2.3.3

Epidemiologi
Orang-orang yang banyak menggunakan suara cenderung untuk mendapatkan nodul

pada pita suara mereka. Nodul pita suara merupakan kelainan yang sering terjadi pada anak
laki-laki dan wanita dewasa.
Nodul dua sampai tiga kali lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibanding anak
perempuan, yaitu usia 8-12 tahun. suara serak yang kronis terjadi lebih dari 5% pada anakanak sekolah. Anak-anak biasanya tidak peduli pada suara seraknya. Dari anak-anak tersebut
yang menderita suara serak yang kronis, nodul adalah penyebab sebanyak 38-78%. Ini
membuat nodul pita suara sebagai penyebab tersering gangguan suara pada anak-anak usia
sekolah. Pada dewasa, wanita lebih sering terkena dari laki-laki. Lesi biasanya berasal dari
trauma pada mukosa pita suara yang tertekan sewaktu vibrasi yang berlebihan.
2.3.4

Patologi
Asal nodul pita suara berhubungan dengan anatomi pita suara yang khas. Nodul dapat

bilateral dan simetris pada pertemuan sepertiga anterior dan dua pertiga posterior pita suara.
Pada daerah ini terjadi kerja maksimal yang membebani pita suara, seperti aktivitas berteriak
dan bernyanyi. Lesi biasanya berasal dari trauma pada mukosa pita suara sewaktu vibrasi
yang berlebihan dan dijumpai adanya daerah penebalan mukosayang terletak pada pita suara.
Selain itu, menurut Benninger nodul dapat bilateral namun seringkali asimetris,
sedangkan menurut Nurbaiti nodul dapat ditemukan unilateral jika pitasuara kontralateralnya
terdapat kelumpuhan. Nodul berkembang sebagai penebalan hiperplastik dari epitelium
karena vocal abuse.
Pada tepi bebas pita suara, terdapat ruang potensial subepitel (Reinkes Space),yang
mudah diinfiltrasi oleh cairan edema atau darah, dan mungkin inilah yang terjadi pada lesi

yang disebabkan oleh trauma akibat penggunaan suara berlebih. Karena nodul merupakan
reaksi inflamasi terhadap trauma mekanis, terlihat perubahan inflamasi yang progresif. Nodul
yang baru biasanya lunak dan berwarna merah. Ditutupi oleh epitel skuamosa dan stroma di
bawahnya mengalami edema serta memperlihatkan peningkatan vaskularisasi, dilatasi
pembuluh darah dan pendarahan sehingga menimbulkan nodul polipoid dalam berbagai
tingkat pembentukan. Jika trauma atau penyalahgunaan suara ini berlanjut, maka nodul
menjadi lebih matang dan lebih keras karena mengalami fibrosis dan hialinisasi. Nodul yang
matang seperti pada penyanyi profesional tampak pucat danfibrotik. Epitel permukaannya
menjadi tebal dan timbul keratosis, akantosis, dan parakeratosis. Nodul yang fibrotik dan
matang jarang ditemukan pada anak-anak dan biasanya ditemukan terlambat
2.3.5 Patofisiologi
Nodul pita suara disebabkan oleh penggunaan suara yang salah, yaitu bicara yang
terlalu keras, terlalu lama atau terlalu tinggi. Lesi terjadi pada pertemuan 1/3 anterior dan 2/3
posterior dari tepi bebas pita suara yaitu pada tengah atau pusat dari pita suara yang
membraneus karena daerah ini merupakan pusat dari gerakan vibrasi dari pita suara. Sebagai
akibat trauma mekanis ini akan timbul reaksi radang. Kemudian terjadi perubahan-perubahan
yang selanjutnya timbul penebalan. Pengerasan setempat yang akhirnya membentuk nodul.
Nodul ini yang menghalangi kedua pita suara salling merapat pada waktu fonasi
sehingga timbul gangguan suara (parau).
Nodul ini pada awalnya masih reversible artinya bisa pulih kembali jika diperbaiki
cara bicaranya yang salah dengan bantuan bina wicara (speech therapy). Tapi jika nodulnya
sudah lama dan permanen maka diperlukan operasi bedah laring mikroskopis.
2.3.6

Gejala Klinis
Pada awalnya pasien mengeluhkan suara pecah pada nada tinggi dan gagal dalam

mempertahankan nada. Selanjutnya pasien menderita serak yang digambarkan sebagai suara
parau, yang timbul pada nada tinggi, terkadang disertai dengan batuk. Nada rendah terkena
belakangan karena nodul tidak berada pada posisi yang sesuai ketika nada dihasilkan.
Kelelahan suara biasanya cepat terjadi sebelum suara serak menjadi jelas dan menetap. Jika
nodul cukup besar, gangguan bernafas adalah gambaran yang paling umum.
2.3.7

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan laringoskopi,


baik tidak langsung dan langsung. Pada pemeriksaan laringoskop langsung digunakan
endoskopi seperti laringoskopi serat optik atau video stroboskopi. Pada anak,laring dapat
dilihat melalui laringoskopi serat optik. Laringoskop dengan jelas dapat menunjukkan
penampakan kecil, tergambar jelas lesi pita suara sebagai penebalan mukosa pita suara
berbentuk fusiform.
Lesi ini dapat dibedakan dari pita suara normal karena berwarna keputihan. Lesi dapat
beragam tergantung lamanya penyakit. Nodul akut dapat berupa polipoid, merah dan edema.
Nodul kronis biasanya kecil, pucat, runcing, dan simetris. Nodul biasanya bilateral dan
tampak pada pertemuan sepertiga anterior dan dua pertiga posterior pita suara seperti yang
tampak pada gambar.

Gambaran Nodul Pita Suara Bilateral

nodul pita suara kecil

Nodul pita suara sedang

Nodul pita suara berat

Biopsi akan memastikan nodul tersebut bukanlah suatu keganasan, gambaran


patologiknya ialah epitel gepeng berlapis yang mengalami proliferasi dan di
sekitarnyaterdapat jaringan yang mengalami kongesti.

2.3.8

Diagnosa Banding

a. Laringitis kronis non spesifik


Kelainan radang kronis sering mengenai mukosa laring dan menimbulkan bermacammacam manifestasi klinis. Penyebab pasti belum diketahui, tetapi mungkin ada salah satu
atau lebih penyebab iritasi laring yang menetap, seperti penggunaan suara yang berlebihan,
bahan yang dihirup seperti asap rokok danasap industri, bernapas melalui mulut secara terus
menerus akibat obstruksi hidung mengakibatkan gangguan kelembaban udara pernapasan dan
perubahan mukosa laring.
b. Polip pita suara

Suara serak juga merupakan keluhan utamanya, tetapi ini bervariasi, tergantung besar
dan lokasi polip. Perubahan suara berkisar dari tak serak sampai afoni. Bila polip menonjol di
antara pita suara, pasien merasakan ada sesuatu yangm mengganggu di tenggorokannya. Bila
polipnya besar dan dapat bergerak mungkin dapat terjadi seperti serangan tercekik.
c. Papilloma laring
Gejala awal penyakit ini adalah suara serak dan karena sering terjadi pada anak,
biasanya disertai dengan tangis yang lemah. Papiloma dapat membesar kadang-kadang dapat
menyebabkan sumbatan jalan nafas yang mengakibatkan sesak dan stridor sehingga
memerlukan trakeostomi.
d. Keratosis laring
Gejala yang sering ditemukan pada penyakit ini adalah suara serak yang
persisten.Sesak nafas dan stridor tidak selalu ditemukan. Selain itu ada rasa yang mengganjal
di tenggorokan, tanpa rasa sakit dan disfagia.Pada keratosis laring, terjadi penebalan epitel,
penambahan lapisan sel dengangambaran pertandukan pada mukosa laring. Tempat yang
sering mengalami pertandukan adalah pita suara dan fossa interaritenoid.
e. Pachydermia laring.
Ini merupakan suatu pembentukan hiperplasia lokal dari epitel pada pita suara,yang
terjadi akibat proses yang kronik. Lesi bersifat bilateral simetris, dan daerah yang terkena
pada posterior suara dan interaritenoid. Gejala yang ditemukan adalah serak yang kronis, rasa
kering dan batuk. Masa bilateral pada pita suara dan interaritenoid, dengan benjolan
kemerahan.
2.3.9

Penatalaksanaan
Kunci dari penatalaksanaan adalah membuat pasien mengerti bahwa penyalahgunaan

suara adalah penyebab dari nodul. Secara keseluruhan terapi dari nodul pita suara mencakup :
a. Istirahat suara total
Hal ini adalah penting untuk penanggulangan awal. Dengan istirahat suara, nodul yang
kecil dapat dengan sendirinya dan hilang seluruhnya. Karena istirahat bersuara merupakan
salah satu tekhnik untuk mengistirahatkan organ-organ pembentuk suara.
b. Eksisi mikrolaring
Hal ini dilakukan jika nodul fibrotik, nodul besar, dan curiga keganasan. Nodul yang
sudah matur juga bisa diangkat dengan laser CO2, menggunakan teknik shaving. Menurut
Benninger, hal ini dilakukan jika terdapat beberapa keadaan berikut ;

i.

nodul pita suara dicurigai terjadi pada anak, ketidakpatuhan penderita dalam
menjalani pemeriksaan,

ii.

pada dewasa, jika ekstirpasi nodul memang diinginkan dan jika diagnosis masih
samar.
Namun menurut Hajar dan Saragih, 1 pembedahan pada anak tidak mendapat tempat

sebagai penatalaksanaan nodul pita suara.


Pasca tindakan penderita harus istirahat suara total, sekurang-kurangnya seminggu,
sebaiknya 2 minggu.8 Masih dalam rentang tersebut, Hajar dan Saragih, mengharuskan
penderita menjalani istirahat suara total selama 10-14 hari dan sebelum operasi dilakukan,
penderita menjalani terapi bicara selama 6 bulan.
c. Terapi berbicara
Terapi berbicara pra dan pasca tindakan adalah utama untuk memperbaiki traumavokal
dan untuk mencegah berulangnya kembali setelah eksisi pembedahan, selain itu untuk
mengubah pola berbicara yang lebih santai dan memperbaiki teknik berbicara yang salah.
Menurut Benninger, terapi bicara harus digunakan sebagai terapi lini pertama dan
utama pada anak-anak dan dewasa. Dokumentasi dari gambaran nodul di klinik suara
menunjukkan kemajuan terapi dan meningkatkan kepatuhan terapi bicara.
2.3.10 Prognosis
Prognosis penatalaksanaan nodul pita suara seluruhnya adalah baik. Penggunaan yang
berlebihan secara berlanjut dari suara akan menyebabkan lesi ini timbul kembali. Nodul ini
dapat dicegah atau disembuhkan dengan istirahat suara dan dengan mempelajari kegunaan
suara dengan tepat. Jika kebiasaan yang salah dalam berbicara tidak diubah maka kesempatan
akan tinggi untuk kambuh kembali.

BAB III
Kesimpulan

Nodul pita suara adalah bentuk laringitis kronis yang terlokalisir, ditandai
denganadanya lesi berupa massa kecil jaringan inflamasi yang terdapat pada pinggir bebas
pita suara yaitu pada pertemuan sepertiga anterior dan dua pertiga posterior pitasuara.
Penyebabnya adalah penggunaan suara yang berlebihan dalam waktu lama atau
penggunaan suara yang tidak benar.
Gejala yang timbul berupa suara serak, kelelahan suara, sesak nafas dan batuk.
Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan laringoskop tak
langsung dan langsung serta pemeriksaan histopatologi. Diagnosis banding adalah laringitis
kronis non spesifik, polip pita suara, papilloma laring, keratosis laring, dan pachydermia
laring.
Pengobatan dengan istirahat dan terapi bicara. Pada nodul pita suara yang tidak bisa
disembuhkan dengan terapi bicara diperlukan operasi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Hajar, Siti, Saragih, Rahman A. Nodul Pita Suara. Majalah Kedokteran Nusantara Volume
38. 2005

2. Hermani, Bambang A, Hartono, Cahyono A. Kelainan Laring. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher edisi keenam. Balai Penerbitan FK UI.
Jakarta, 2008.
3. Benninger MS. Vocal Cord Nodule in Current Diagnosis and Treatment Otolaryngology
Head & Neck Surgery Second Edition. 2002.
4. Moore, Keith L, Agur, Anne MR. Anatomi Klinis Dasar . Hipokrates. Jakarta, 2002.
5. Hermani, Bambang H, Syahrial M. Disfonia. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala & Leher edisi keenam. Penerbit. Balai Penerbitan FK UI. Jakarta,
2008.