Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Mekanikal -- Judul Artikel Singkat --

Analisis Pengaruh Variasi Waktu Bukaan Injektor Dan Suhu Udara Masuk Terhadap
Emisi Gas Buang Pada Sepeda Motor EFI 113 CC Dengan Konventer Kit Bbg (Lpg)
Berbasis Mikrokontroller
Fajar Luqmantara1, Mira Esculenta2
Teknik Otomotif Elektronik, Teknik Mesin, Politeknik Negeri Malang
fajarluqmantara@yahoo.com1, mmilla20@gmail.com2
Abstrak
Pada engine motor EFI berbahan bakar bensin, suhu udara merupakan salah satu faktor yang memengaruhi
banyaknya bahan bakar bensin yang disemprotkan oleh injector. Saat suhu semakin tinggi maka kepadatan udara
semakin berkurang. Kepadatan udara dapat memengaruhi kecepatan laju udara yang mengalir, semakin padat maka
laju udara semakin lambat, dan sebaliknya. Bahan bakar akan mengikuti laju udara maka injector akan
menyemprotkan lebih sedikit bahan bakar bensin saat udara panas, dan juga sebaliknya saat suhu rendah.
Campuran udara dan bahan bakar (AFR) dapat memengaruhi emisi gas buang. Apabila campurannya tepat maka
emisi gas buang akan lebih bagus. AFR dan emisi kendaraan yang menggunakan bahan bakar gas (LPG) tentu
berbeda. Tujuan penelitian ini adalah merancang suatu perangkat konventer kit bahan bakar LPG dengan
memprogram penyemprotan injector menggunakan sebuah mikrokontroller duplikat dari mikrokontroller motor
EFI yang asli dan sebuah alat pengatur suhu udara pada intake manifold. Sehingga didapatkan AFR gas (LPG) yang
bagus. Metode penelitan dengan mengujikan sepeda motor injeksi yang telah dipasangi konventer kit bahan bakar
gas (LPG) dan sebuah pengatur suhu udara pada intake manifold pada alat uji emisi. Pada penelitian ini akan
diambil data dengan variasi bukaan injektor 45-55 ms dan dengan suhu udara masuk 46 Co dan 55 Co.

Kata-kata kunci : Udara masuk, Suhu, LPG, Emisi

Abstract
In a gasoline EFI engine, air temperature is a factor that could effect of how much fuel will be sprayed by
injector. The higher the air temperature gets the less dense the air becomes. Density of an air can effects the speed of
air flow, the higher dense air make air flow more slowly. So, injector will spraying more fuel when the air
temperature decreases. Air fuel ratio(AFR) can effect of the emission of exhaust gas. If the mixture is fit with the
condition of engine work,the emission will be decrease. When the engine use different kind of fuel like LPG, the AFR
will be different too. The exhaust gas emission of the engine will be different. The purpose of the study is to design a
gass converter kit (LPG) with reprogramming the setting of injector spraying duration on a duplicate
microcontroller from the real microcontroller (EFI) and make a controller of the air intake temperature.The methods
of the study is to test the engine that already uses a LPG converter kit in a emission test tool. Testing the engine with
independent variables of injection timing (45-55 ms) and different air temperature (46 Co and 55 Co)

Keywords : air intake , temperature, LPG, emission

I. PENDAHULUAN [
Sebuah alat yang digunakan untuk melakukan
perubahan sehingga bisa memanfaatkan bahan bakar
yang berbeda dikenal sebagai ALAT KONVERSI
(Converter) yang terdiri dari penggantian lubang
gas/bahan bakar (main jet dan pilot jet pada mesin
konvensional) dan sebuah alat regulator. Alat
kelengkapan pemanfaatan gas dirancang untuk bekerja

dengan gas tertentu yang memiliki tekanan tertentu.


Dengan alat konversi ini tekanan gas diatur sesuai dengan
tekanan dan jumlah (flow) yang dibutuhkan untuk
mejalankan mesin sepeda motor. Untuk menggunakan
bahan bakar LPG pada kendaraan dibutuhkan konventer
kit.
Konverter mempunyai dua tipe yaitu konverter
kit kovensional dan konverter squensial yang telah

Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Malang, June 11th, 2013

|1

Jurnal Mekanikal -- Judul Artikel Singkat -menggunakan control ECU. Pada konveter kit
konvensional besarnya BBG yang dialirkan tidak dapat
diatur sesuai kebutuhan sehingga masih adanya
keborosan penggunaan BBG. Sehinngga perlu adanya
sistem control yang dapat mengatur durasi penyempotan
BBG pada intake manifold agar diperoleh campuran yang
sesuai dengan kebutuhan engine.
Sejauh ini pembuatan konventer kit bahan bakar
gas masih sejauh mesin konvensional untuk sepeda
motor. Sehingga emisi dari kendaraan yang telah
menggunakan konventer kit ini masih belum dapat diatur
agar lebih ramah lingkungan. Melihat masalah tersebut
penulis tertarik untuk mengembangkan konventer kit
sebelumnya dengan menambakan sistem mikrokontroller
sehingga emisi kendaraan dapat diminimaliskan sesuai
dengan harapan dan penggunaan bahan bakar gas
menjadi lebih hemat. pembakaran BBM mengandung gas
seperti HC, CO, CO2, NOx gas ini merupakan gas yang
berbahaya bagi manusia dan juga berdampak buruk pada
lingkungan yang dapat menyebabkan pemanasan global.
Sebagai upaya untuk menghemat pemakaian
BBM dan juga guna mengurangi polusi udara yang
ditimbulkan dari emisi gas buang kendaraan perlu adanya
sumber energy alternative yang ramah lengkungan. Salah
satu energy alternative sebagai pengganti bahan bakar
minyak pada kendaraan yang sedang berkembang saat
ini adalah menggunakan Bahan Bakar Gas (BBG).
Beberapa jenis BBG diantaranya adalah Liquid
Petroleum Gas (LPG), Compression Natural Gas (CNG),
Liquid Natural Gas (LNG) dan gas hydrogen.
LPG memiliki beberapa keunggulan dari segi teknis dan
ekonomis. Tekanan LPG dalam tangki antara 1,0 sampai
1,2 MPa, sedangkan CNG mencapai sekitar 20 MPa.
LPG dapat menurunkan emisi gas buang dan menghemat
pemakaian bahan bakar. Dari sisi besarnya tekanan dalam
tangki dan faktor ketersediaan didaerah, LPG relatif lebih
aman untuk dikembangkan sebagai bahan bakar
kendaraan di Indonesia.
Pemanfaatan LPG sebagai pengganti bahan
bakar kendaraan bensin diperlukan suatu alat yang
digunakan untuk mengkonversi BBG alat tersebut adalah
Converter kit.Converter mempunyai dua type yaitu
konverter kit kovensional dan konverter squensial yang
telah menggunakan control ECU. Pada konveter kit
konvensional besarnya BBG yang dialirkan tidak dapat
diatur sesuai kebutuhan sehingga masih adanya
keborosan penggunaan BBG. Sehinngga perlu adanya
sistem control yang dapat mengatur durasi penyempotan
BBG pada intake manifold agar diperoleh campuran yang
sesuai dengan kebutuhan engine. Dengan menambahkan
sebuah mikrokontroller pada konverter kit sehingga dapat
mengatur BBG. Sehingga dapat menghasilkan output
tenaga yang maximal, efisien, dan juga emisi gas uang
yang ramah lingkungan.

II. DASAR TEORI


A. Emisi Gas Buang
Emisi gas buang adalah hasil atau sisa dari
pembakaran bahan bakar di dalam mesin yang di buang
2|

melalui saluran gas buang. Sisa hasil pembakaran berupa


air (H2O), gas CO atau disebut juga karbon monooksida
yang beracun, CO2 atau disebut juga karbon dioksida
yang merupakan gas rumah kaca, NOx senyawa nitrogen
oksida, HC berupa senyawa Hidrat arang sebagai akibat
ketidak sempurnaan proses pembakaran serta partikel
lepas. Ada beberapa kandungan dari sisa pembakaran
pada kendaraan bermotor yaitu :
1) CO (Karbon monoksida)
CO = gabungan karbon dan oksigen yang tidak
mencukupi untuk membentuk karbon dioksida (CO2). CO
terjadi karena pembakaran tidak sempurna akibat
kurangnya oksigen pada proses pembakaran (campuran
terlalu kaya). CO tidak beraroma, tidak berwarna tapi
sangat beracun2) Rata-rata emisi CO pada mesin 4 tak:
Mesin dengan karburator
Mesin EFI

: 1,5 3,5 %

: 0,5 1,5 %

Umumnya emisi CO disebabkan 11 hal : putaran idle


terlalu rendah, system choke rusak/menutup terus, air jet
karburator tersumbat, filter udara kotor, campuran terlalu
kaya, kerusakan pada karburator, missal: posisi
pelampung terlalu tinggi, penyetelan katup tidak tepat,
tekanan bahan bakar terlalu tinggi (pada EFI), injektor
tidak bisa menutup dengan sempurna, sensor udara, posisi
throtle dan suhu rusak, dan prosesor pada ECU rusak.
2) Nitrogen oksida (NOx)
Dihasilkan akibat adanya N2 (Nitrogen) dalam
campuran udara dan bahan bakar serta suhu pembakaran
mencapai 1800C sehingga terjadi pembentukan Nox.
Biasanya timbul ketika mesin bekerja pada beban yang
berat. Nox tidak beraroma, namun terasa pedih di mata.
Kesalahn udara-bensin juga sangat mempengaruhi emisi
Nox, dimana campuran kurus cenderung mengakibatkan
Nox meningkat.
Rata-rata emisi NOx:
Mesin dengan karburator
Mesin EFI

: 2.000 3.000 ppm

: 1.500 2.500 ppm

3) HC (Hidrokarbon)
Adalah bahan bakar mentah yang tidak terbakar
selama prose pembakaran. Emisi HC beraroma bensin
dan terasa perih di mata serta menyebabkan gangguan
iritasi mata, hidung, paru-paru dan saluran pernafasan.
Selain itu juga menyebabkan fenomena photochemical
smog/kabut. HC yang tinggi menyebabkan tenaga mesin
berkurang dan konsumsi bahan bakar meningkat.
Rata-rata emisi HC:
Mesin dengan karburator
Mesin EFI

: 200 - 400 ppm

: 50 200 ppm

4) CO2 ( Karbondioksida )
Gas CO2 sangat berguna bagi tumbuhan pada
proses asimilasi, dimana substansi CO2 berubah menjadi
O2 setelah proses asimilasi. Namun CO2 juga bersifat
menyerap panas sehingga apabila berlebihan akan
meningkatkan suhu permukaan bumi. Semakin tinggi
CO2 dalam gas buang mengindikasikan bahwa
pembakaran dalam mesin semakin baik. Sebaliknya

Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Malang, June 11th, 2013

Jurnal Mekanikal -- Judul Artikel Singkat -semakin rendah kadar CO2 menandakan bahwa efisiensi
pembakaran tidak bagus dan berarti pula kinerja mesin
tidak bagus. Akibatnya gas buang, CO dan HC berlebihan
dan konsumsi bahan bakar meningkat.
Rata-rata emisi CO2:
Mesin dengan karburator
Mesin EFI

: 12 15 %

: 12 16 %

A.

Konverter Kit
Konverter kit adalah serangkaian alat tambahan pada
kendaraan atau mesin yang menggunakan bahan bakar
gas. Konverter kit berfungsi untuk mengatur jumlah
bahan bakar gas dan mengatur tekanan gas yang keluar
dari tabung gas. Converter kit sendiri terdiri dari tabung
Gas LPG dan Pressure regulator.
1) Tabung Gas LPG merupakan wadah dari
gas LPG yang nantinya akan disalurkan
menuju ke Intake Manifold sebagai bahan
bakar. Tekanan LPG dalam tangki antara
1,0 sampai 1,2 MPa.Gas-discharge Lamp
(Lampu Lucutan Gas)
2) Pressure
regulator
digunakan
untuk
menurunkan tekanan yang masuk untuk
mendapatkan
tekanan
keluar
yang
dibutuhkan. Pressure regulator tidak hanya
menurunkan tekanan tetapi juga menjaga
pada tekanan yang diinginkan
Mikrokontrol Unit
Mikrokontroler AVR merupakan pengontrol utama
standar industri dan riset saat ini. Hal ini dikarenakan
berbagai kelebihan yang dimilikinya dibandingkan
mikroprosesor, antara lain, murah, dukungan software
dan dokumentasi yang memadai, dan memerlukan
komponen pendukung yang sedikit salah satu tipe
mikrokontroler AVR untuk aplikasi standar yang
memiliki fitur memuaskan ialah ATmega8535/16 atau
ATtiny13 (Budiharto dkk., 2010:293)

5.
6.
7.

WatchdogTimer dengan osilator internal


SRAM sebesar 512 byte
Memori Flash sebesar 8kb dengan kemampuan read
while write
8. Unit Interupsi Internal dan External
9. Port antarmuka SPI untuk mendownload program ke
flash
10. EEPROM sebesar 512 byte yang dapat diprogram
saat operasi
11. Antarmuka komparator analog
12. Port USART untuk komunikasi serial.
2) Konfigurasi Pin ATmega16
Gambar berikut ini merupakan susunan kaki standar
40 pin DIP microcontroller AVR ATmega16

Gambar 1. Konfigurasi Pin


(Sumber : Sidik, 2012: 3)

B.

1) Mikrokontroler AVR ATMega16


Mikrokontroler AVR memiliki arsitektur 8 bit, di
mana semua instruksi dikemas dalam kode 16-bit dan
sebagian besar instruksi dieksekusi dalam 1 (satu) siklus
clock. AVR berteknologi RISC (Reduced Instruction Set
Computing), sedangkan seri MCS51 berteknologi CISC
(Complex Instruction Set Computing). AVR dapat
dikelompokkan menjadi 4 kelas, yaitu keluarga ATtiny,
keluarga AT90Sxx, keluarga ATMega, dan AT86RFxx.
Pada dasarnya yang membedakan masing-masing kelas
adalah memori, peripheral, dan fungsinya. Berdasarkan
spesifikasi
Mikrokontroler
ATmega16
menurut
(Budiharto,dkk.2010:295) di dalam Mikrokontroler
ATmega 16 terdiri dari:
1. Saluran I/O sebanyak 32 buah, yang terdiri atas Port
A, B, C dan D
2. ADC (Analog to Digital Converter)
3. Tiga buah Timer/Counter dengan kemampuan
perbandingan
4. CPU yang terdiri atas 32 register

di dalam ATmega16 terdapat 40 kaki yang mempunyai


fungsi yang perlu diketahui dalam penggunaan
ATmega16, berikut ini penjelasan Budiharto,dkk
(2010:295-296) tentang susunan kaki ATmega
1. VCC merupakan pin masukan positif catu daya.
Setiap device elektronika digital tentunya butuh
sumber catu daya yang umumnya sebesar 5V, oleh
karena itu biasanya di pcb kit microcontroller, selalu
ada ic regulator 7805
2. GND sebagai pin Ground
3. Port A (PA0..PA7) merupakan pin I/O dua arah dan
dapat diprogram sebagai pin masukan ADC.
4. Port B (PB0..PB7) merupakan pin I/O dua arah dan
pin fungsi khusus, yaitu Timer/Counter, komparator
analog, dan SPI.
5. Port C (PC0..PC7) merupakan pin I/O dua arah dan
pin fungsi khusus yaitu TWI, komparator analog,
dan Timer Osilator
6. Port D (PD0..PD7) merupakan pin I/O dua arah dan
pin fungsi khusus, yaitu komparator analog, interupsi
eksternal, dan komunikasi serial.
7. Reset merupakan pin yang digunakan untuk me-reset
Microcontroller.
8. XTAL 1 dan XTAL 2 sebagai pin masukan clock
eksternal. Suatu microcontroller membutuhkan
sumber detak (clock) agar dapat mengeksekusi
instruksi yang ada di memori. Semakin tinggi nilai
kristalnya, maka semakin cepat microcontroller
tersebut.

Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Malang, June 11th, 2013

|3

Jurnal Mekanikal -- Judul Artikel Singkat -9. AVCC sebagai pin masukan tegangan ADC.
10. AREF sebagai pin masukan tegangan referensi
C.

Optocoupler
Optocoupler adalah suatu piranti yang terdiri dari 2
bagian yaitu transmitter dan receiver, yaitu antara bagian
cahaya dengan bagian deteksi sumber cahaya terpisah.
Biasanya optocoupler digunakan sebagai sakelar elektrik,
yang bekerja secara otomatis. Optocoupler atau
optoisolator merupakan komponen penggandeng
(coupling) antara rangkaian input dengan rangkaian
output yang menggunakan media cahaya (opto) sebagai
penghubung. Dengan kata lain, tidak ada bagian yang
konduktif antara kedua rangkaian tersebut. Optocoupler
sendiri terdiri dari 2 bagian, yaitu transmitter (pengirim)
dan receiver (penerima).

rangkaianElektronika. Satuan Nilai Resistor atau


Hambatan adalah Ohm (). Nilai Resistor biasanya
diwakili dengan Kode angka ataupun Gelang Warna yang
terdapat di badan Resistor. Hambatan Resistor sering
disebut juga dengan Resistansi.
F.

Injektor
Injektor adalah salah satu bagian dari sistem bahan
bakar injeksi yang akan mengabutkan bahan bakar agar
terjadi proses pencampuran yang homogen antara udara
dan bahan bakar. Injector dilengkapi dengan plunger
yang akan membuka dan menutup saluran bahan bakar
dan kerja plunger dikontrol oleh solenoid yang mendapat
instruksi dari ECU. Injektor berfungsi menyemprotkan
bensin menuju engine untuk dicampur dengan udara.
Agar bensin mudah bercampur dengan udara maka
bensin dikabutkan dengan halus sehingga mudah berubah
menjadi uap (Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan, 2008:325)

III. METODOLOGI PENELITIAN


A. Kerangka Konsep Penelitian

Gambar 2 Konfigurasi Optocoupler


(Sumber : Zamidra, 2010: 55)
D.

Transistor
Transistor adalah komponen elektronika yang terbuat
dari bahan semikonduktor dan mempunyai tiga elektroda
(triode) yaitu dasar (basis), pengumpul (kolektor) dan
pemancar (emitor). Dengan ketiga elektroda (terminal)
tersebut, tegangan atau arus yang dipasang di satu
terminalnya mengatur arus yang lebih besar yang melalui
2 terminal lainnya.
Ada 2 jenis transistor yaitu transistor tipe P N P dan
transistor jenis N P N. Transistor NPN adalah
transistor positif dimana transistor dapat bekerja
mengalirkan arus listrik apabila basis dialiri tegangan
arus positif. Sedangkan transistor PNP adalah transistor
negatif,dapat bekerja mengalirkan arus apabila basis
dialiri tegangan negatif.

Gambar 3. Transistor
(Sumber : Teknikelektronika.com)
E.

Resistor
Resistor atau disebut juga dengan Hambatan adalah
Komponen Elektronika Pasif yang berfungsi untuk
menghambat dan mengatur arus listrik dalam suatu
4|

Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Malang, June 11th, 2013

Jurnal Mekanikal -- Judul Artikel Singkat -5. Merangkai Alat


Merangkai alat sesuai dengan desain, rangkaian,
konponen yang telah di siapkan.
6. Unjuk Kerja Alat
Mencoba kerja alat untuk mengetahui alat bekerja
sesuai dengan rencana atau tidak. Jika terjadi
kesalahan/tidak sesuai maka dilakukan perangkaian
kembali pada alat. Hal ini dilakukan berulang sampai
alat bekerja dengan baik.
7. Pengambilan Data
Pengambilan data dilakuakan sesuai dengan
pembacaan data yang di peroleh dari percobaan yang
telah dilakukan.
8. Analisis Data
Melakukan analisis terhadap data yang telah
didapatkan sehingga nantinya akan mendapatkan
kesimpulan dari data yang telah di dapatkan.
9. Kesimpulan
Merupakan langkah pembuatan suatau simpulan
terhadap seluruh proses yang dilakukan dari awal
hingga akhir.
10. Selesai
Merupakan akhir dari proses pembuatan alat.

Gambar 4. Diagram Alir Penelitian


1.

B. Variabel Penelitian
1. Variabel bebas (independent variable)
Dalam penelitan ini variablel bebas yang
digunakan adalah :
Variasi semroptan injector dalam ms.
Variasi Suhu udara masuk ke Intake Manifold
2. Variabel terikat yang diamati pada penelitian adalah :
Nilai AFR
Kandungan CO dan HC pada emisi gas buang.

Prosedur penelitian
Mulai
Tahap awal pembuatan alat dengan berbagai
kesiapannya dalam tahap ini perlu mempelajari latar
belakang pembuatan alat.
2. Identifikasi masalah
Berdasarkan studi lapangan dan literatur di didapatkan
pokok permasalahan yang di timbulkan oleh sepeda
motor 4 tak yang telah dipasangi conventer kit bahan
bakar gas.
3. Rumusan masalah
Mencari permasalahan utama dan pemecahan masalah
berdasarkan hasil identifikasi masalah.
4. Desain Alat
Merupakan pembuatan desain alat dan serta rangkaian
yang akan digunakan

Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Malang, June 11th, 2013

|5

Jurnal Mekanikal -- Judul Artikel Singkat -C.

Pengujian Alat

45

626

677

632

47

524

553

551

49

468

508

503

51

674

667

666

53

633

666

645

55

703

677

678

45

317

276

287

47

428

433

448

49

489

480

478

51

348

363

357

11

53

408

505

476

12

55

642

682

633

3
4

9
10

Suhu
(Co)

HC (ppm)

Durasi
(ms)

No

46

55

Pengujian alat dilakukan setelah pemrograman alat


dan alat sudah terhubung dengan ECU dan injektor.
Setelah semua terpasang, alat diuji apakah alat dapat
membaca sinyal keluaran dari ECU tanpa merubah
timing durasi penginjeksian. Untuk melihatnya
dibutuhkan alat osiloskop yang akan menunjukkan sinyal
output dari mikrokontroller duplikat, apakah sesuai
dengan sinyal output dari ECU motor dan dapat
menghidupkan engine. Setelah itu percobaan kedua
adalah merubah timing durasi penginjeksian dengan
mengisi sebuah program ke dalam mikrokontroler
duplikat. Lalu dengan memasang satu probe ke output
ECU engine, dan satu probe lagi ke output
mikrokontroller duplikat. Apakah ada perbedaan sinyal
antara probe pada output ECU dengan probe pada output
mikrokontroller duplikat yang terlihat pada display
osiloskop. Setelah percobaan kedua selesai kemudian
dilakukan pemasangan Konverter Kit BBG (LPG) pada
engine sepeda motor lalu mencari timing durasi
penginjeksian yang sesuai sehingga engine dapat bekerja.

Gambar 5. Sinyal output ECU dan sinyal output


mikrokontroller duplikat

IV. HASIL PENELITIAN


A.

Pengambilan Data
Pengambilan data yang pertama dilakukan untuk
mengetahui perbandingan bahan bakar gas dan udara
(AFR) dengan suhu udara masuk pada Intake Manifold
dan variasi waktu bukaan injektor.

N
o

AFR

Selanjutnya dilakukan pengambilan data kandungan gas


HC (ppm) dalam emisi gas buang pada engine sepeda
motor dengan suhu udara masuk pada Intake Manifold
dan variasi waktu bukaan injektor.

Durasi
(ms)

45

14.4

13.4

13.4

47

14

14.2

14

49

14.2

13.5

14.1

51

12.9

13.4

13

53

13.7

13.2

13.8

55

13.6

14.3

13.8

45

16.8

16

16.2

47

13.7

13.5

13.3

49

13

13.9

14

51

15.2

15.4

15.2 Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Malang, June 11th, 2013

53

15.2

14.8

14.5

55

12.8

13

13

9
10
6|
11
12

Suhu
(Co)

46

55

Jurnal Mekanikal -- Judul Artikel Singkat --

B.

Analisis data
yang digunakan adalah Desain
Eksperimen Faktorial dengan 2 Faktor. Metode DOEfactorial digunakan untuk menemukan dimanakah letak
perubahan atau perbedaan pada data atau hasil
pengukuran berdasarkan variabel suhu udara masuk pada
Intake Manfold dan variasi waktu bukaan injektor
terhadap nilai AFR dan kandungan emisi gas buang yaitu
HC dan CO.

Grafik Hasil Pengolahan Data

Fitted Means
Waktu Bukaan * Suhu Udara M

16.5

Suhu
Udara M
46
55

16.0

5.5

5.0
500

4.5

Suhu
(Co)

1 300
2 3.0
3

CO (%)

Durasi
(ms)

45

5.28

5.53

47

45

47

45

47

49

51
4.85

Bukaan
Injektor
49
51

14.5
14.0
13.5
13.0
45

47

49

51

53

55

Bukaan Injektor

Dari hasil data table di atas diperoleh grafik berikut


Grafik Faktorial Plot dan interaksi bukaan injektor dan
suhu udara masuk terhadap nilai AFR.

Grafik Faktorial Plot dan Interaksi bukaan injektor dan


suhu udara masuk terhadap emisi HC.

Grafik Faktorial Plot dan Interaksi bkaan injektro dan


suhu udara masuk terhadap emisi CO.

5.11

3
5.34

53

55

53

55

4.9

49

Bukaan Injektor
4.76

4.84

4.66

51

5.85

5.88

5.79

53

5.5

5.67

5.44

55

5.5

5.53

5.43

45

3.49

3.04

3.22

47

4.54

4.85

4.75

49

5.36

5.09

5.24

51

3.16

3.21

3.18

11

53

4.73

5.14

4.88

12

55

5.2

5.1

4.87

10

46

55

ESIMPULAN DAN

15.0

Suhu
Suhu
Udara M
Udara M
46
46
55
55

600

3.5

15.5

Mean of AFR

Bukaan
Bukaan Injek
Injek ** Suhu
Suhu Udara
UdaraM
M

700
6.0

9
GRAFIK PENGARUH BUKAAN INJEKTOR DAN SUHU UDARA MASUK THD NILAI AFR

Fitted
Fitted Means
Means

No400
4.0

Pengolahan Data

C.

V. GRAFIK PENGARUH BUKAAN INJEKTOR DAN SUHU


SUHU UDARA
UDARA MASUK
MASUKTHD
THDEMISI
EMISIHC
CO

Me
of CO(%)
HC (ppm)
Me
aan
n of

Selanjutnya dilakukan pengambilan data kandungan gas


CO (%) dalam emisi gas buang pada engine sepeda motor
dengan suhu udara masuk pada Intake Manifold dan
variasi waktu bukaan injektor.

SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan pengolahan data dan analisis hasil data
statistik pengaruh suhu udara udara masuk pada Intake
Manifold dan variasi lama bukaan Injektor terhadap nilai
AFR dan kandngan emisi gas buang pada engine dengan
bahan bakar gas dapat diambil kesimpulan secara umum
berdasarkan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Dengan penambahan suhu udara masuk pada
Intake Manifold nilai AFR menjadi naik dan itu
berarti campuran bahan bakar gas dan udara
menjadi lebih miskin.
2. Dengan meningkatnya suhu udara masuk pada
Intake Manifold terjadi penurunan kadar HC di
setiap variasi waktu bukaan injektor.
3. Dengan meningkatnya suhu udara masuk pada
Intake Manifold terjadi penurunan kadar CO di
setiap variasi waktu bukaan injektor.
4. Campuran yang paling sempurna terjadi pada
suhu 55 Co dengan bukaan Injektor 51 ms,
karena menghasilkan kadar CO yang paling
rendah dan nilai AFR yang mendekati
stokiometri bahan bakar gas, yaitu 15.52.
B. Saran
Sebagai tindak lanjut dari kesimpulan di atas,
penelitian ini dapat dilanjutkan untuk proses
pembuatan penelitian selanjutnya dengan saran
sebagai berikut :
1. Perlu ditambahkan variabel tambahan yang
dapat diatur, tidak hanya mengatur bukaan

Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Malang, June 11th, 2013

|7

Jurnal Mekanikal -- Judul Artikel Singkat --

2.

injektor tapi juga pada sensor putaran sensor


crank dan juga timing pengapian agar dapat
diperoleh hasil emisi yang lebih sempurna
dengan control pada kedua sensor tersebut
sehingga injektor dapat menyemprotkan bahan
bakar sesuai dengan putaran dan dengan
pengapian yang tepat.
Perlu menggunakan injektor khusus bahan
bakar gas karena injektor pada engine berbahan
bakar bensin akan cepat panas apabila tidak
terdapat pendinginnya (bahan bakar cair
bensin).

VI. DAFTAR PUSTAKA


Winoto, Ardi. 2010. Mikrokontroler AVR Atmega
8/32/16/8535 dan pemrogamannya dengan bahasa C pada
WinAVR. Bandung: Informatika Bandung
Syahrul. 2012. Mikrokontroler AVR ATMEGA8535.
Bandung: Informatika Bandung
Sidik Nurcahyo. 2012. Aplikasi dan Teknik
Pemerograman Mikrokontroler AVR Atmel. Yogyakarta:

8|

Andi
Heri Andrianto. 2013. Pemrograman mikrokontroler AVR
ATmega16 menggunakan Bahasa C. Bandung:
Informatika Bandung
Gunandi. 2011. Sistem Kelistrikan Bodi. Yogyakarta:
Mentari Pustaka
Djarwanto. 1995.Statistika Non-Parametrik. Yogyakarta:
BPFE-Yogyakarta
Team Toyota. 1995. NEW STEP 1: training manual.
Jakarta: Toyota Astra Motor PT
Team Toyota. 1995. TOYOTA STEP 2: materi pelajaran
chasis group. Jakarta: Toyota Astra Motor PT
motogokil.com/2014/01/12/menggali-kelebihan-directinjection/(diakses pada tanggal 11 Agustus 2015
pukul 20.30)
Nurhadi, S.Pd., SST.,M.T. 2012. Pengaruh pengukuran
Emisi Gas Buang. Otogram.blogspot .com (diakses
pada tanggal 3 Juni pukul 19.30)
faturtkj.blogspot.com/2014/02/resistor-kapasitortransistor-dan.html(diakses pada tanggal 20 Agustus
pukul 14.30)

Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Malang, June 11th, 2013