Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Rongga hidung atau cavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang dan
dipisahkan oleh septum nasi dibagian tengahnya.1 Septum nasi membagi cavum nasi menjadi
cavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk cavum nasi bagian depan disebut nares
anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan cavum
nasi dan nasofaring. Pada dinding lateral hidung terdapat tiga konka yaitu konka inferior,
media dan superior. Diantara konka terdapat meatus nasi inferior, meatus nasi media dan
meatus nasi superior.1
Posisi anatomi hidung harus diketahui untuk menentukan kelainan dan penyakit pada
hidung. 1 Adapun kelainan yang sering dijumpai pada rongga hidung ialah corpus
alienum.2 Secara harafiah corpus alienum diartikan sebagai benda asing baik benda mati atau
benda hidup, berarti corpus alienum hidung merupakan benda asing di dalam hidung yang
tanpa sengaja ditemukan di dalam hidung dan biasanya terjadi pada anak-anak karena
ketidaktahuan sehingga benda-benda yang berukuran kecil seperti kapas, mainan, kelereng,
baterai dan kancing baju sering dimasukan ke dalam rongga hidung.2

Kondisi ini membuat ketidaknyamanan pada hidung yang akan mengakibatkan


tersumbatnya aliran udara, perdarahan bahkan sampai infeksi yang disertai dengan bau busuk
yang berasal dari infeksi benda asing tersebut dan merupakan kasus kegawatdaruratan pada
anak karena dapat terjadi risiko seperti penjelasan diatas sehingga, dibutuhkan tindakan
segera untuk mengeluarkan banda asing tersebut.1,2

BAB II
LAPORAN KASUS

A. Identitas pasien

Nama

: An. IO

Umur

: 14 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Suli

Pekerjaan

: Pelajar

Tanggal masuk poliklinik THT : 01 Desember 2014

B. Anamnesis

Keluhan utama : Lubang hidung sebelah kiri tersumbat

Anamnesis terpimpin :
Keluhan ini dirasakan sejak beberapa bulan yang lalu, sebelumnya terdapat kapas di lubang
hidung sebelah kiri dan telah dikeluarkan namun masih tersisa satu kapas sehingga, pasien
dirujuk dari tual ke poliklinik THT RSU dr. M Haulussy Ambon. Keluhan ini disertai dengan
bau busuk yang berasal dari lubang hidung sebelah kiri ketika pasien bernapas. Pasien
mengaku jika flu maka cairan hanya keluar dari lubang hidung sebelah kanan saja.

Keluhan penyerta : Batuk (-), sekret dari hidung (+), sesak napas (-), bersin-bersin (-),
gatal di telinga & hidung (-), nyeri menelan (-), demam (-).

Riwayat penyakit dahulu : Hidung kiri pernah kemasukan kapas dan sempat
dikeluarkan.

Riwayat keluarga : Tidak ada.

Riwayat kebiasaan : Korek kuping (+).

Riwayat pengobatan : Pasien diberi obat antibiotik berupa tablet, namun pasien lupa
nama obat.

C. Pemeriksaan fisik
1. Pemeriksaan telinga

Pemeriksaan
Telinga

Kanan

Kiri

Inspeksi

Normal

Normal

Otoskopi

Daun Telinga

Nyeri tarik aurikula Nyeri tarik aurikula


(-),

nyeri

tekan (-),

nyeri

tekan

tragus (-)

tragus (-)

Liang Telinga

Lapang, serumen (-)

Lapang, serumen (-)

Membran

Intak, refleks cahaya Intak, refleks cahaya

Timpani

(+)

(+)

2. Pemeriksaan pendengaran
Tes Garpu Tala

Rinne

Weber

Swabach

Kanan

Kiri

+
Tidak ada lateralisasi

Sesuai pemeriksa

Sesuai pemeriksa

3. Pemeriksaan hidung
Rhinoskopi anterior

Cavum

Kanan

Kiri

Lapang, pucat, sekret (-)

Lapang, pucat, sekret


(+) warna kuning

Konka

Permukaan

licin, Masa (+), warna putih-

hiperemi (-), edem (-)

kehitaman,

konsistensi

keras

Septum

Deviasi (-)

Deviasi (-)

4. Pemeriksaan tenggorok
Inspeksi

Tonsil palatina

Dinding faring posterior

Uvula

Kanan

Kiri

T1, tenang

T1, tenang

Hipermis (-), post nasal drip (-), granuler (-)


Deviasi (-)

5. Pemeriksaan leher

Kelenjar limfe

Masa/nodul

Kelenjar tiroid

D. Anjuran pemeriksaan penunjang


Pemeriksaan radiologi : foto rontgen kepala.

E. Diagnosis
Corpus alienum (kapas) cavum nasi sinistra.
F. Terapi

Pembesaran (-), nyeri palpasi (-)


Tidak ditemukan
Pembesaran (-), nyeri palpasi (-)

Ekstraksi corpus alienum.

Cefadroxil sirup 3x1 sendok makan.

G. Anjuran
Jangan memasukan benda-benda yang berukuran kecil ke dalam hidung, minum obat
secara teratur serta meminta orang tua untuk mengawasi anak ketika sedang bermain agar
kejadian ini tidak terulang lagi.

H. Prognosis
Prognosis untuk pasien ini baik.

G. Resume
Pasien pria berusia 14 tahun datang ke poliklinik THT RSU Dr. M Haulussy Ambon dengan
keluhan lubang hidung sebelah kiri tersumbat. Keluhan ini dirasakan sejak beberapa bulan
yang lalu disertai dengan bau busuk dari lubang hidung sebelah kiri ketika pasien bernapas.
Keluhan yang dialami berawal ketika pasien memasukan kapas dan kapas tersebut tertinggal
di dalam lubang hidung sebelah kiri, kapas sempat dikeluarkan namun masih tersisa satu
kapas sehingga pasien dirujuk dari tual ke poliklinik THT RSU Dr. M Haulussy Ambon.

Pasien mengaku jika flu maka cairan hanya keluar dari lubang hidung sebelah kanan saja.
Tidak ditemukan keluhan penyerta berupa batuk, sesak napas, bersin-bersin, gatal di telinga
& hidung, nyeri menelan, dan demam. Pasien sempat diberikan obat antibiotik berupa tablet
namun pasien lupa nama obat. Dari pemeriksaan fisik hidung ditemukan adanya sekret yang
berwarna kekuningan dari lubang hidung sebelah kiri dan masa yang berwarna putihkehitaman dengan konsistensi keras.

BAB III
DISKUSI

A. Defenisi
Corpus alienum dapat diartikan sebagai benda asing berupa benda mati atau benda
hidup.2,3 Benda asing di dalam organ ialah benda yang berasal dari luar tubuh, yang dalam
keadaan normal tidak ada.2,3 Biasanya anak kecil sering memasukan manik-manik atau
potongan mainan, karet penghapus dan sebagainya ke dalam hidung. Kadang-kadang ada
lalat yang bertelur di hidung, dan telurnya menetas menjadi larva. Keadaan ini disebut myasis
hidung.1,2,3

B. Klasifikasi

Benda asing yang berasal dari luar tubuh, disebut benda asing eksogen, biasanya
masuk melalui hidung atau mulut. Sedangkan yang berasal dari dalam tubuh, disebut benda
asing endogen.1,2,3 Benda asing eksogen terdiri dari benda padat, cair atau gas. Benda eksogen
padat terdiri dari zat organik, seperti kacang-kacangan (yang berasal dari tumbuh-tumbuhan),
tulang (yang berasal dari kerangka binatang) dan zat anorganik seperti paku, jarum, peniti,
batu dan lain-lain.1,2,3,4
Benda asing eksogen cair dibagi dalam benda cair yang bersifat iritatif, seperti zat
kimia, dan benda cair non-iritatif, yaitu cairan dengan pH 7,4. Benda asing endogen dapat
berupa sekret kental, bekuan darah, nanah, krusta, perkijuan, membran difteri, bronkolit dan
cairan amnion yang dapat masuk ke dalam saluran napas bayi pada saat proses persalinan.1

C. Etiologi dan faktor predisposisi


Faktor yang mempermudah terjadinya aspirasi benda asing ke dalam saluran napas
antara lain faktor personal (umur, jenis kelamin, pekerjaan, kondisi sosial, tempat tinggal),
kegagalan mekanisme proteksi yang normal (antara lain keadaan tidur, kesadaran menurun,
alkoholisme dan epilepsi).1,3 Faktor fisik yaitu kelainan dan penyakit neurologik, proses
menelan yang belum sempurna pada anak. Faktor dental, medikal dan surgikal (antara lain
tindakan bedah, ekstraksi gigi molar pada anak yang berumur < 4 tahun). 1,3 Faktor kejiwaan

antara lain emosi dan gangguan psikis. Ukuran dan bentuk serta sifat benda asing, faktor
kecerobohan (antara lain meletakkan benda asing di dalam mulut, persiapan makanan yang
kurang baik, makan atau minum tergesa-gesa, makan sambil bermain (pada anak-anak),
memberikan kacang atau permen pada anak yang gigi molarnya belum lengkap.1,4,5

D. Epidemiologi
Semua kasus benda asing yang masuk ke dalam saluran napas dan saluran cerna yang
terjadi pada anak-anak, sepertiga dari benda asing yang teraspirasi tersangkut di saluran
napas.1,2,3 55% dari kasus benda asing di saluran napas terjadi pada anak berumur < 4 tahun.
Pada tahun 2000 anak di bawah umur 4 tahun, insidens kematian mendadak akibat aspirasi
atau tertelan benda asing lebih tinggi. 1,2,3 Bayi dibawah umur 1 tahun, gawat napas karena
aspirasi benda asing merupakan penyebab utama kematian (National Safety Council).1
Kacang atau biji tumbuhan lebih sering teraspirasi pada anak yang berumur antara 2-4
tahun, karena belum mempunyai gigi molar yang lengkap dan belum dapat mengunyah
makanan dengan baik.1,5,6 Enam sampai delapan persen benda asing yang teraspirasi berupa
plastik yang sukar didiagnosis secara radiologik, karena bersifat non-iritatif serta radiolusen
sehingga dapat menetap di traktus trakeobronkial untuk periode yang lama. 1,5,6 Benda asing
di laring dan trakea lebih sering terdapat pada bayi dengan usia < 1 tahun. 1,5,6 Benda asing di

hidung lebih sering terjadi pada anak-anak, karena anak yang berumur 2-4 tahun cenderung
memasukan benda-benda yang ditemukan dan dapat dijangkaunya ke dalam lubang hidung,
mulut atau dimasukkan oleh anak lain.1,5,6
Benda asing di bronkus paling sering berada di bronkus kanan, karena bronkus utama
kanan lebih besar, mempunyai aliran udara lebih besar dan membentuk sudut lebih kecil
terhadap trakea dibandingkan dengan bronkus utama kiri. 1,7,8 Benda asing di saluran napas
dapat menjadi penyebab berbagai penyakit paru, baik akut maupun kronis dan harus dianggap
sebagai diagnosis banding.1,7,8

E. Patogenesis
Benda asing mati (inanimate foreign bodies) di hidung cenderung menyebabkan
edema dan inflamasi mukosa hidung, dapat terjadi ulserasi, epistaksis, jaringan granulasi dan
dapat berlanjut menjadi sinusitis.1 Benda asing hidup (animate foreign bodies) menyebabkan
reaksi inflamasi dengan derajat bervariasi dari infeksi lokal sampai destruksi masif tulang
rawan dan tulang hidung dengan membentuk daerah supurasi yang dalam dan
berbau.1,2,3 Cacing askaris di hidung dapat menimbulkan iritasi dengan derajat yang bervariasi
karena gerakannya.1

Tujuh puluh lima persen dari benda asing di bronkus ditemukan pada anak di bawah
umur 2 tahun, dengan riwayat yang khas yaitu pada saat benda atau makanan ada di dalam
mulut, anak tertawa atau menjerit sehingga pada saat inspirasi, laring terbuka dan makanan
atau benda asing masuk ke dalam laring.1,9,10 Pada saat benda asing tersebut terjepit di sfingter
laring, pasien batuk berulang-ulang (paroksismal), sumbatan di trakea, mengi dan
sianosis.1,9,10 Bila benda asing telah masuk ke dalam trakea atau bronkus kadang-kadang
terjadi fase asimtomatik selama 24 jam atau lebih kemudian diikuti oleh fase pulmonum
dengan gejala yang tergantung pada derajat sumbatan bronkus.1
Benda asing organik seperti kacang-kacangan, mempunyai sifat higroskopik, mudah
untuk menjadi lunak dan mengembang jika terkena air serta dapat menyebabkan iritasi pada
mukosa.1,9,10 Mukosa bronkus menjadi edema dan meradang serta dapat pula terjadi jaringan
granulasi di sekitar benda asing, sehingga gejala sumbatan bronkus makin menghebat.
Akibatnya timbul gejala laringotrakeobronkitis, toksemia, batuk dan demam yang tidak terusmenerus (irreguler).1,9,10
Benda asing anorganik menimbulkan reaksi jaringan yang lebih ringan dan lebih
mudah didiagnosis dengan pemeriksaan radiologik, karena umumnya benda asing anorganik
bersifat radioopak.1,9,10 Benda asing yang terbuat dari metal seperti peniti dan jarum dapat
masuk ke dalam bronkus yang lebih distal dengan gejala batuk spasmodik. Benda asing yang

lama berada di bronkus dapat menyebabkan perubahan patologik jaringan sehingga


menimbulkan komplikasi, antara lain penyakit paru kronik supuratif, bronkiektasis, abses
paru dan jaringan granulasi yang menutupi benda asing.1,9,10

F. Diagnosis1
Diagnosis klinis benda asing di saluran napas ditegakan berdasarkan anamnesis
adanya riwayat tersedak sesuatu, tiba-tiba timbul choking (rasa tercekik) gejala, tanda,
pemeriksaan fisik dengan auskultasi, palpasi dan pemeriksaan radiologik sebagai
pemeriksaan penunjang. Diagnosis pasti benda asing di saluran napas ditegakkan setelah
dilakukan tindakan endoskopi atas indikasi diagnostik dan terapi.
Anamnesis yang cermat perlu ditegakkan, karena kasus aspirasi benda asing sering
tidak segera dibawa ke dokter pada saat kejadian. Perlu diketahui macam benda atau bahan
yang teraspirasi dan telah berapa lama tersedak benda asing tersebut.

G. Manifestasi klinis1,2,3
Gejala sumbatan benda asing di dalam saluran napas tergantung pada lokasi benda
asing, derajat sumbatan (total atau sebagian) sifat, bentuk dan ukuran benda asing. Benda
asing yang masuk melalui hidung dapat tersangkut di hidung, nasofaring, laring, trakea dan

bronkus. Selain itu, biasanya pasien datang berobat dengan keluhan hidung kemasukan benda
serta hidung teras tersumbat, keluar sekret dan bau pada satu sisi hidung. Kadang demam dan
sampai merusak bentuk hidung.
Benda yang masuk melalui mulut dapat terhenti di orofaring, hipofaring, tonsil, dasar
lidah, sinus piriformis, esofagus atau dapat juga tersedak masuk ke laring, trakea dan
bronkus. Gejala yang timbul bervariasi dari tanpa gejala sampai kematian sebelum diberi
pertolongan akibat sumbatan total.
Benda asing di hidung pada anak sering luput dari perhatian orang tua karena tidak
ada gejala dan bertahan untuk waktu yang lama. Dapat timbul rinolith di sekitar benda asing.
Gejala yang paling sering ialah hidung tersumbat, rinore unilateral dengan cairan kental dan
berbau. Kadang-kadang terdapat rasa nyeri, demam, epistaksis dan bersin. Pada pemeriksaan,
tampak edema dengan inflamasi mukosa hidung unilateral dan dapat terjadi ulserasi. Benda
asing biasanya tertutup oleh mukopus, sehingga disangka sinusitis. Dalam hal demikian bila
akan menghisap mukopus haruslah berhati-hati supaya benda asing itu tidak terdorong ke
arah nasofaring yang kemudian dapat masuk ke laring, trakea dan bronkus. Benda asing
seperti karet busa sangat cepat menimbulkan sekret yang berbau busuk.

H. Pemeriksaan penunjang1,2,3

Pada kasus benda asing di saluran napas dapat dilakukan pemeriksaan radiologik dan
laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis. Benda asing yang bersifat radioopak
dapat dibuat foto rontgen segera setelah kejadian, sedangkan benda asing radiolusen (seperti
kacang-kacangan) dibuatkan foto rontgen setelah 24 jam kemudian, karena sebelum 24 jam
kejadian belum menunjukkan gambaran radiologis yang berarti. Biasanya setelah 24 jam baru
tampak tanda atelektasis atau emfisema.
Pemeriksaan radiologik leher dalam posisi tegak untuk penilaian jaringan lunak
leher dan pemeriksaan toraks postero-anterior dan lateral sangat penting pada aspirasi benda
asing. Pemeriksaan toraks lateral dilakukan dengan lengan di belakang punggung, leher
dalam fleksi dan kepala ekstensi untuk melihat keseluruhan jalan napas dari mulut sampai
karina. Karena benda asing di bronkus sering tersumbat di orifisium bronkus utama atau
lobus, pemeriksaan paru sangat membantu untuk menegakkan diagnosis.
Video fluoroskopi merupakan cara terbaik untuk melihat saluran napas secara
keseluruhan, dapat mengevaluasi pada saat ekspirasi dan inspirasi serta adanya obstruksi
parsial. Emfisema obstruktif merupakan bukti radiologik pada benda asing di saluran napas
setelah 24 jam teraspirasi. Gambaran emfisema tampak sebagai pergeseran mediastinum ke
sisi paru yang sehat pada saat ekspirasi (mediastinal shift) dan pelebaran interkostal.

Bronkogram berguna untuk benda asing radiolusen yang berada di perifer pada
pandangan endoskopi, serta perlu untuk menilai bronkiektasis akibat benda asing yang lama
berada di bronkus.
Pemeriksaan laboratorium darah diperlukan untuk mengetahui adanya gangguan
keseimbangan asam basa serta tanda infeksi traktus trakeobronkial.

I. Penatalaksanaan1,2,10
Untuk dapat menanggulangi kasus aspirasi dengan cepat dan tepat perlu diketahui
dengan sebaik-baiknya gejala di tiap lokasi tersangkutnya benda tersebut. Secara prinsip
benda asing di saluran napas diatasi dengan pengangkatan segera secara endoskopik dalam
kondisi yang paling aman, dengan trauma yang minimum. Kebanyakan pasien dengan
aspirasi benda asing yang datang ke ahli THT (Telinga, Hidung, Tenggorok) telah melalui
fase akut, sehingga pengangkatan harus dipersiapkan seoptimal mungkin baik dari segi alat
maupun personal yang telah terlatih.
Benda asing di hidung. Cara mengeluarkan benda asing dari dalam hidung ialah
dengan memakai pengait (haak) yang dimasukkan ke dalam hidung di bagian atas, menyusuri
atap kavum nasi sampai menyentuh nasofaring. Setelah itu pengait diturunkan sedikit dan

ditarik ke depan. Dengan cara ini benda asing itu akan ikut terbawa ke luar. Dapat pula
menggunakan cunam Nortman atau wire loop.
Tidaklah bijaksana mendorong benda asing dari hidung ke arah nasofaring dengan
maksud supaya masuk ke dalam mulut. Dengan cara itu benda asing dapat terus masuk ke
laring dan saluran napas bagian bawah yang menyebabkan sesak napas, sehingga
menimbulkan keadaan yang gawat. Pemberian antibiotik sistemik selama 5-7 hari hanya
diberikan pada kasus benda asing hidung yang telah menimbulkan infeksi hidung maupun
sinus.

DAFTAR PUSTAKA

1. Mariana H J. Benda asing di saluran napas : Soepardi A E, Iskandar N, Bashiruddinn J,


Restuti D R, Editor. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala & leher.
Jakarta: Balai penerbit FKUI; 2007. Hal.259-265.
2. Jonathan I, Sharma V K, Yucel A. Nasal foreign body. [online] [2014 Nov 30]. Available
from : http://www.waent.org.

3. Pavan M, Gupta N, Patel P, Parmar V. Nasal foreign body a riview of management strategies
and a clinical scenario presentation. [online] [2014 Nov 30]. Available from :
http://emedicine.medscape.org/nasalforeignbody
4. Cummings W Charles, Fint W Paul, Haughey H Bruce, Richardson A Mark, Robbins K
Thomas, et al. Cumming otolaryngology head and neck surgery 4 th edition. Philadelphia,
Pennsylvania: Elseiver Inc; 2007.
5. Probst R, Grevers G, Iro H. Basic otorhinolaryngology: a step by step learning guide. New
York: Thieme; 2006.
6. Pasha R. Otorhinolaryngology head and neck surgery: clinical reference guide. Singular
Thomas Learning; 2005.
7. Van de Water TR, Grevers G, Iro H. Ballengers otorhinolaryngology: a step by step learning
guide. New York: Thieme; 2006.
8. Snow JB, Ballenger JJ. Ballengers otorhinolaryngology head and neck surgery. 16 th Edition.
Hamilton: BC Decker Inc; 2003.
9. Lalwani AK. Current diagnosis and treatment : otolaryngology head and neck surgery.
2nd Edition. New York: Mc Graw Hill Publication; 2008.
10. Myers EN, Ferris RL. Nasal disorders. Berlin: Springer; 2007.
\