Anda di halaman 1dari 34

BAB II

INSTRUMEN HUKUM INTERNASIONAL DAN HUKUM NASIONAL YANG


BERKAITAN DENGAN PEMANASAN GLOBAL

A. INSTRUMEN HUKUM INTERNASIONAL


A. 1 UNITED NATIONS FRAMEWORK CONVENTION ON CLIMATE
CHANGE
Diluncurkan pada tahun 1992 dan diberlakukan pada tahun 1994,
menetapkan suatu tujuan pokok

untuk menstabilkan konsentrasi gas-gas

rumah kaca di atmosfer pada tingkat yang akan mencegah intervensi manusia
yang berbahay pada sistem ilkim. 4
UNFCCC dibentuk pada tanggal 1992 dalam Rio Summit di Rio de
Jainero, Brazil yang mempunyai tujuan untuk menegosiasikan perjanjian yang
berskala luas dalam mereduksi dan membatasi dampak dari pemanasan
global. Terdapat beberapa kemajuan dalam satu dasawarsa terakhir. 5
Second World Climate Confrence yang dilaksanakan pada tahun 1990
merupakan sebuah langkah signifikan bagi awal permintaan akan adanya
sebuah kerangka kerja perjanjian internasional. Konfrensi ini di sponsori oleh
WMO

(World

Meteorology

Organization),

UNEP

(United

Nations

The World Bank, World Development Report 2010: Development and Climate
Change in 2010, (Washington: The International Bank for Reconstruction and
Development, 2010), hal 318
5
Mark Maslin, Global Warming: A Very Short Introduction, Oxford University
Press Inc, New York, 2004, hal 118

Universitas Sumatera Utara

Environmental Programme), dan organisasi internasional lainnya, serta


negosiasi dan diskusi pada tingkat mentri di antara 137 negara ditambah
komunitas negara-negara Eropa. UNFCCC menyusun kerangka kerja untuk
melakukan aksi terhadap pengontrolan dan pembatasan emisi.
UNFCCC tersebut akhirnya diterima secara universal sebagai suatu
komitmen politik internasional tentang perubahan iklim dan kemudian di buka
untuk ditandatangani pada KTT Bumi tentang Lingkungan dan Pembangunan
(United Nations Confrence on Environmental and Development) di Rio de
Jainero, Brazil pada bulan Juni 1994 dan mulai berkekuatan tetap pada
tanggal 21 Maret 1994 setelah diratifikasi oleh 50 negara. terdapat 189 negara
yang meratifikasi konvensi tersebut dan negara yang meratifikasi disebut
parties (negara pihak). 6

A. 2 PROTOKOL KYOTO

a. Sejarah Lahirnya Protokol Kyoto

Gagasan dan program untuk menurunkan emisi GRK secara


internasional telah dilakukan sejak tahun 1979. Program itu memunculkan
sebuah gagasan dalam bentuk perjanjian internasional, yaitu Konvensi
Perubahan Iklim, yang diadopsi pada tanggal 14 Mei 1992 dan berlaku sejak
6

Perjalanan
Panjang
Protokol
Kyoto,
diakses
dari
http://www.terranet.or.id/beritanya.php?od-12671, pada tanggal 11 november
2010

Universitas Sumatera Utara

tanggal 21 Maret 1994, Pemerintah Indonesia turut menandatangani


perjanjian tersebut dan telah mengesahkannya melalui Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 1994.

Agar Konvensi tersebut dapat dilaksanakan oleh Para Pihak, dipandang


penting adanya komitmen lanjutan, khususnya untuk negara pada Annex I
(negara industri atau negara penghasil GRK) untuk menurunkan GRK
sebagai unsur utama penyebab perubahan iklim. Namun, mengingat
lemahnya komitmen Para Pihak dalam Konvensi Perubahan Iklim,
Conference of the Parties (COP) III yang diselenggarakan di Kyoto pada
bulan Desember tahun 1997 yang dimana menghasilkan suatu konsensus
yang berupa keputusan dasar bagi negara-negara industri untuk mengurangi
emisi gas rumah kaca gabungan yang paling sedikit persen darii tingkat
emisi tahun 1990 menjelang periode 2008-2012. komitmen yang mengikat
secara hukum ini akan mengembalikan tendensi peningkatan emisi yang
secara historis dimulai di negara-negara tersebut 150 tahun yang lalu.
Protokol Kyoto yang demikian selanjutnya protokol itu disebut, disusun
untuk mengatur target waktu penurunan emisi bagi negara maju.
Sementara, negara berkembang tidak memiliki kewajiban atau komitmen
untuk menurunkan emisinya. 7

Daniel Murdiyarso, Protokol Kyoto: Implikasinya bagi Negara Berkembang,


Jakarta: Penerbit Buku Kompas,Jakarta,2007, hal 36

Universitas Sumatera Utara

Di bawah Protokol Kyoto, negara-negara maju atau industri harus


patuh di bawah hukum yang mengikat tentang pengendalian enam emisi
gas rumah kaca

yaitu:

Carbondioxide ,

Methane,

Nitrousoxide,

Hydrofluorocarbons, Perfluorocarbons, dan Sulfurhexafluoride. 8

Lahirnya Protokol Kyoto tidak dapat dilepaskan dari peran UNFCCC


(United Nations Framework Convention on Climate Change) sebagai
kerangka Konvensi Perubahan Iklim yang diterima secara universal. Pada
Konferensi para pihak kedua (CoP-2) di Jenewa merupakan titik awal
dimana para negara memutuskan untuk mengadopsi suatu Protokol sebagai
langkah konkret untuk menghadapi pemanasan global. Pertemuan tersebut
menghasilkan deklarasi Jenewa yang terdiri dari 10 butir dan beberapa
diantaranya yang relevan dengan Protokol Kyoto adalah;

pertama,

pengakuan dan penerimaan para mentri dan ketua delegasi atas laporan
IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) dapat digunakan
sebagai pijakan untuk mengambil tindakan global, nasional dan local
khususnya oleh negara-negara Annex I dalam rangka menurunkan emisi
GRKnya. Kedua, ajakan kepada semua pihak untuk mendukung
pengembangan Protokol dan Instrumen legal lainnya yang didasarkan atas
temuan ilmiah yang disajikan dalam laporan tersebut. Ketiga, instruksi
8

Kyoto Protocol, dapat dilihat pada Microsoft Encarta 2006. 1993-2005


Microsoft Corporation. All rights reserved.
9
Daniel Murdiyarso, Sepuluh Tahun Perjalanan Negosiasi: Konvensi Perubahan
Iklim, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2003, hal 23

Universitas Sumatera Utara

kepada semua perwakilan para pihak untuk mempercepat negosiasi


terhadap teks Protokol yang secara hukum akan mengikat sehingga dapat
adopsi pada CoP (Conference of Parties) III berupa komitmen negaranegara dalam konvensi kebijakan dan tindakan atau policies and measures
(PAMs).

Keempat,

undangan

kepada

negara

berkembang

untuk

mengimplementasikan konvensi dan mendukung upaya tersebut.

b. Tujuan Protokol Kyoto

Protokol Kyoto bertujuan menjaga konsentrasi GRK di


atmosfer agar berada pada tingkat yang tidak membahayakan sistem iklim
bumi. Untuk mencapai tujuan itu, Protokol mengatur pelaksanaan
penurunan emisi oleh negara industri sebesar 5 % di bawah tingkat emisi
tahun 1990 dalam periode 2008-2012 yang tercipta dalam suatu prinsip
kerja sama yang dapat terlihat pada mekanisme yang ada pada Protokol
Kyoto seperti; 10

Implementasi Bersama (Joint Implementation)

Implementasi Bersama adalah sebuah mekanisme yang


memungkinkan negara-negara maju untuk membangun proyek
bersama

yang

dapat

menghasilkan

kredit

penurunan

atau

10

Sekilas Perubahan Iklim dalam Kerangka Negosisasi Internasional, diakses


dari http://www.wwf.or.id/admin/file-upload/files/FCT1189527007.pdf, pada
tanggal 15 novenmber 2010

Universitas Sumatera Utara

penyerapan emisi GRK. Implementasi Bersama merupakan


suatumekanisme untuk mengalihkan unit pengurangan emisi yang
diperoleh dari suatu kegiatan atau program yang dilakukan di
negara maju ke negara maju lainnya. Hal ini berarti bahwa setiap
kegiatan atau program yang dilakukan oleh suatu negara di negara
lainnya akan memberikan unit pengurangan emisi bagi negara yang
melakukan program tersebut. 11

Perdagangan Emisi (Emission Trading)

Perdagangan

Emisi

merupakan

mechanisme

yang

memungkinkan sebuah negara maju untuk menjual kredit


penurunan emisi GRK kepada negara maju lainnya. Perdagangan
Emisi dapat dimungkinkan ketika negara maju yang menjual kredit
GRK memiliki kredit penurunan GRK melebihi target negaranya.

Mekanisme

Pembangunan

Bersih

(Clean

Development

Mechanism).

Mekanisme ini memungkinkan negara-negara non- Annex I


untuk berperan aktif membantu penurunan emisi GRK melalui
proyek yang di implementasikan oleh sebuah negara maju.
11

Guide To The Kyoto Protocol, diakses dari:


http://yosemite.epa.gov/oar/globalwarming.nsf/uniqueKeyLookup/SHSU5BUQN2
/$File/Kyoto.pdf,pada tanggal 15 November 2010

Universitas Sumatera Utara

Nantinya kredit penurunan emisi GRK yang dihasilkan dari proyek


tersebut dapat dimiliki oleh negara maju tersebut. Mekanisme
Pembangunan Bersih juga bertujuan agar negara berkembang dapa
mendukung pembangunan bekelanjutan, selain itu

Mekanisme

Pembangunan Bersih adalah satu-satunya mekanisme di mana


negara berkembang dapat berpartisipasi dalam Protokol Kyoto.

c. Manfaat Pengesahan Protokol Kyoto

Dengan mengesahkan Protokol Kyoto, Indonesia mengadopsi Protokol


tersebut sebagai hukum nasional untuk dijabarkan dalam kerangka peraturan
dan kelembagaan sehingga dapat:

1. Mempertegas

komitmen

pada

Konvensi

Perubahan

Iklim

berdasarkan prinsip tanggung jawab bersama yang dibedakan


(common but differentiated responsibilities principle) ;
2. Melaksanakan pembangunan berkelanjutan khususnya untuk
menjaga kestabilan konsentrasi GRK di atmosfer sehingga tidak
membahayakan iklim bumi;
3. Membuka peluang investasi baru dari negara industri ke Indonesia
melalui MPB;

Universitas Sumatera Utara

4. Mendorong kerja sama dengan negara industri melalui MPB guna


memperbaiki dan memperkuat kapasitas, hukum, kelembagaan,
dan alih teknologi penurunan emisi GRK;
5. Mempercepat pengembangan industri dan transportasi dengan
tingkat emisi rendah melalui pemanfaatan teknologi bersih dan
efisien serta pemanfaatan energi terbarukan;
6. Meningkatkan kemampuan hutan dan lahan untuk menyerap GRK.

d. Materi Pokok Protokol Kyoto

Protokol Kyoto disusun berdasarkan prinsip tanggung jawab bersama


yang dibedakan, sebagaimana tercantum dalam prinsip ketujuh Deklarasi Rio,
yang berarti bahwa semua negara mempunyai semangat yang sama untuk
menjaga dan melindungi kehidupan manusia dan integritas ekosistem bumi,
tetapi dengan kontribusi yang berbeda sesuai dengan kemampuan negara
masing-masing. Protokol Kyoto terdiri atas 28 Pasal dan 2 Annex:

Annex A : Gas Rumah Kaca dan kategori sektor/sumber.

Annex B : Kewajiban penurunan emisi yang ditentukan untuk Para Pihak.

Materi pokok yang terkandung dalam Protokol Kyoto, antara lain hal-hal
berikut:

Universitas Sumatera Utara

a) Definisi

Protokol

Kyoto

mendefinisikan

beberapa

kelembagaan

Konvensi dan Protokol, yaitu:

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)

IPCC didirikan pada tahun 1988 oleh kedua badan


perserikatan bangsa-bangsa (PBB) yaitu UNEP (United
Nations Environmental Programme) dan WMO (World
Meteorological Organization). Pendiri IPCC ini mempunyai
tujuan untuk melakukan berbagai studi saintifik mengenai
perubahan iklim. IPCC terdiri dari 2500 ilmuwan dari
seluruh dunia dan memberikan pernyataan dan laporan
secara berseri mengenai perubahan iklim dan dampaknya. 12
Beberapa laporan dari IPCC terkait dengan perubahan iklim
antara lain adalah mengenai semakin meningkatnya panas

12

Shannon K. Orr, Interest Groups and International Climate Change Policy,


paper ini dipersiapkan untuk Annual Meeting of the American Political Science
Association, August 28-August 31, 2003, diakses dari
http://www.allacademic.com/meta/p64400_index.html,pada tanggal 14
November 2010, Hal 3

Universitas Sumatera Utara

atmosfir yang meningkat dari 1,4 derajat celcius menjadi


5,8 derajat celcius di akhir abad 21. 13

Laporan pertama pada tahun 1990 telah banyak membantu


dimulainya proses negosiasi tentang konvensi perubahan
iklim. Laporan pengkajian kedua yang disahkan pada tahun
1995 telah banyak menolong para negara pihak dalam
mengadopsi Protokol Kyoto. Sedang laporang ketiga yang
diterbitkan pada tahun 2001 banyak mengungkap buktibukti baru mengenai perubahan iklim dan kerentanan
negara-negara

berkembang.

Tidak

seperti

laporan

sebelumnya, pada laporan ketiga, IPCC juga menyiapkan


rangkuman dari ketiga kelompok kerja yang dikenal dengan
nama synthesis report. IPCC juga menghasilkan beberapa
makalah teknis (technological papers) dan laporan khusus
yang telah diselesaikan IPCC. Laporan tersebut diantaranya
adalah

methodological

dan

technological

issues

of

technology transfer dan land-use, land use change and


forestry. Dari laporan pengkajian IPCC kedua diperoleh
bahwa efisiensi energi sebesar 10-30 persen dapat

13

Sonia Labatt and Rodney R. White, Carbon Finance: The Finanial Implication of
Climate Change, Jon Wiley & Sons, Inc, New Jersey, 2007, hal 5.

Universitas Sumatera Utara

dilakukan banyak negara tanpa biaya atau dengan biaya


yang tidak berarti untuk waktu 20-30 tahun mendatang. 14

IPCC terbagi dalam tiga kelompok kerja (working group)


ditambah task force yang mempunyai fungsi unutk
mengkalkulasi jumlah GRK yang diproduksi oleh tiap-tiap
negara. keempat kelompok ini memiliki dua co-chairmen
(satu dari negara maju dan satu lagi dari negara
berkembang)

serta

unit

technical

support.

WG-1

mempunyai tugas untuk mengkaji aspek ilmiah dari


perubahan dan sistem iklim.

15

WG-1 inilah yang

melaporkan berbagai informasi dan data-data terbaru


mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kondisi perubahan
iklim. iklim.

WG-2 mengkaji tingkat kerawanan social-ekonomi dan


sistem

alami

terhadap

perubahan

iklim,konsekuensi

negative dan positif dari perubahan iklim, dan berbagai


pilihan untuk penyesuaian terhadap perubahan iklim. 16
Tugas dari kelompok kerja ini lebih menekankan pada
14

Daniel Murdiyarso, Op.Cit, Hal 35-36


The IPCC Working Group I, diakses dari http://www,ipcc.ch/about/workinggroup1.htm, pada tanggal 16 november 2010.
16
The IPCC Working Group II, diakses dari http://www,ipcc.ch/about/workinggroup2.htm, pada tanggal 16 november 2010
15

Universitas Sumatera Utara

kajian-kajian mengenai dampak-dampak dari perubahan


iklim baik dampak ekonomi maupun social. WG-3
melakukan kajian-kajian untuk mengurangi perubahan
iklim melalui pembatasan atau mencegah emisi gas rumah
kaca dan meningkatkan aktivitas yang dapat memindahkan
gas rumah kaca tersebut dari atmosfer. 17 Laporan-laporan
yang berasal dari WG-3 ini diorientasikan untuk mencari
solusi atau respon terkait dengan perubahan iklim serta
kebijakan-kebijakan instrument yang tepat.

Pada tahun 2001 ketiga kelompok kerja tersebut telah


mempublikasikan laporan yang berasal dari 400 ahli dari
120 negara yang dilibatkan dalam proses drafting, revisi,
dan menyeesaikan laporan. Sedangkan 2500 ahli lainnya
melakukan review terhadap laporan-laporan tersebut.
Selain itu, IPCC juga menyusun penelitian mengenai gas
rumah kaca; dari mana asalnya dan mengkaji tentang
konsensus yang berhubungan dengan pemanasan global. 18

IPCC merupakan contoh grobal environmental governance


yang berbentuk institusi yang sifatnya formal. IPCC secara
17

The IPCC Working Group III, diakses dari http://www,ipcc.ch/about/workinggroup3.htm, pada tanggal 16 november 2010
18
Mark Maslin, Op.Cit, hal 15

Universitas Sumatera Utara

tipikal mepunyai fungsi sebagai global environmental


governance karena dibentuk bukan atas inisiatif para
pemerintah,

namun

dibentuk

oleh

dua

organisasi

internasional yaitu UNEP dan WMO. Didalam IPCC ini


meliputi tenaga-tenaga ahli di bidang lingkungan dan para
ilmuwan. 19 Karena bukan atas inisiatif para pemerintah,
IPCC menjadi sebuah lemabaga otonom. Namun sebagai
lembaga otonom, IPCC selalu terlibat dialog dengan para
pemerintah. Hal ini dapat dilihat dari dua co-chaimen yang
ada di dalam IPCC yang merupakan perwakilan dari
negara-negara maju dan berkembang.

Conference of the Parties (COP)

COP merupakan implementasi dan negosiasi dalam


konteks politik dari Konvensi Kerangka Persekutuan
Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (United Nation
Framework Convention on Climate Change) yang bertemu

19

Frank Biermann, Global Environmental Governance: Conceptualization and


Examples, Global Governance Working Paper No.12, November 2004,
(Amsterdam, Berlin, Oldenburg, Postdam: The Global Governance Project), hal
13

Universitas Sumatera Utara

setiap satu tahun sekali merupakan badan pembuat


keputusan tertinggi.

CoP

bertanggung

jawab

mengulas

dan

mengimplementasikan hasil konvensi dengan menelaah


komunikasi nasional dan menginventarisir emisi yang
dikumpulkan oleh para pihak tersebut. Setiap pihak
konvensi ini mewakili delegasi nasional yang mempunyai
otoritas atas nama pemerintahannya untuk melakukan
negosiasi dalam konvensi. 20 Sedangakan IPCC merupakan
lembaga merupakan lembaga yang memberikan data dan
fakta mengenai perubahan iklim dan dampaknya yang
berisikan aktor-aktor non-pemerintah dan privat.

Konfrensi para pihak (First session of Confrence of The


Parties I) ini melakukan siding pertamanya yang diadakan
di Berlin, Jerman pada tahun 1995. Konfrensi tersebut
memutuskan bahwa komitmen negara-negara maju untuk
mengembalikan emisi ke tingkat tahun 1990 menjelang
tahun 2000, tidak memadahi untuk mencapai tujuan jangka
panjang konvensi untuk menghindari pengaruh manusia
yang membahayakan sistem iklim bumi. Oleh karena itu
20

Shannon K Orr, Op.Cit, hal 5

Universitas Sumatera Utara

para mentri dan pejabat tinggi lainnya menanggapinya


dengan mengadopsi Mandat Berlin yang antara lain
menekankan dimulainya suatu proses yang memungkinkan
pengambilan tindakan pada periode setelah tahun 2000.
CoP I juga memberikan mandate untuk para pihak agar
segera meluncurkan serangkaian rencana pembicaraan baru
untuk memperjelas komitmen-komitmen negara maju. 21

CoP II dilaksanakan pada tanggal 8-19 Juli di 1996 di


Jenewa. Konfrensi tersebut membicarakan berbagai hal,
antara lain seperti pengembangan dan transfer teknologi di
antara

pihak-pihak;

pembahasanmengenai

kegiatan

secretariat yang berhubungan dengan bantuan teknis dan


financial kepada para pihal-pihak; pengkajian mengenai
laporan IPCC sehubungan dengan pemasan global dan
terciptanya memorandum of understanding (MoU) antara
pihak-pihak konferensi dan GEF (global environmental
facility). 22 Namun konfrensi ini belum menghasilkan suatu
konsensus yang dapat mengikat negara-negara secara

21
22

Daniel Murdiyarso,2003,Op.Cit hal 3

Report of The Conference of the Parties on Its Second Session (CoP II),
Laporan
mengenai
CoP
II
ini
dapat
di
download
melalui
http://unfccc.int/resource/docs/cop2/15a01.pdf, diakses pada tanggal 16
November 2010

Universitas Sumatera Utara

hukum untuk melakukan reduksi terhadap emisi yang


diproduksi.

Pada CoP III di Kyoto tahun 1997, para pihak dalam


UNFCCC telah berhasil menciptakan suatu konsensus baru
untuk membatasi negara-negara maju atau industri dalam
meproduksi GRK. Konfrensi tersebut telah menghasilkan
protokol yang merupakan dasar bagi negara-negara industri
untuk mengurangi emisi GRK gabungan mereka paling
sedikit 5 persen dari tingkat emisi tahun 1990 menjelang
2008-2012.

23

negara-negara

yang

bertujuan

untuk

mengurangi emisi secara signifikan dan negara-negara yang


konsen terhadap konsekuensi ekonomi dan politik.

24

b) Kebijakan dan Tata Cara

Pasal 2 Protokol Kyoto mengatur kebijakan dan tata cara


dalam mencapai komitmen pembatasan dan penurunan emisi oleh
negara pada Annex I serta kewajiban untuk mencapai batas waktu
komitmen tersebut. Di samping itu, Protokol juga mewajibkan
negara industri untuk melaksanakan kebijakan dan mengambil
23

Daniel Murdiyarso, Op. Cit, hal 4


Sandra Rollings-Magnusson and Robert C. Magnusson, The Kyoto Protocol:
Implication of a Flawed but Important Environmental Policy, Canadian Public
Policy, Vol XXVI no 3, University of Toronto Press, Toronto, 2000, hal 348
24

Universitas Sumatera Utara

tindakan untuk meminimalkan dampak yang merugikan dari


perubahan

iklim

terhadap

pihak

lain,

khususnya

negara

berkembang.

e. Target Penurunan Emisi

Target penurunan emisi yang dikenal dengan nama Quantified Emission


Limitation and Reduction Objectives (QELROs) yang dijelaskan dalam Pasal
3 dan 4 Protokol Kyoto adalah ketentuan pokok dalam Protokol Kyoto. Emisi
GRK menurut Annex A Protokol Kyoto meliputi : Carbon Dioxide (CO2),
Methane

(CH4),

Nitrous

Oxide

(N2O),

Hydrofluorocarbon

(HFC),

Perfluorocarbon (PFC), dan Sulfurhexafluoride (SF6) .Target penurunan


emisi GRK bagi negara pada Annex I Konvensi diatur dalam Annex B
Protokol Kyoto. Ketentuan ini merupakan pasal yang mengikat bagi negara
pada Annex I. Protokol juga mengatur tata cara penurunan emisi GRK secara
bersama-sama. Jumlah emisi GRK yang harus diturunkan tersebut dapat
meringankan negara yang emisinya tinggi, sedangkan negara yang emisinya
rendah atau bahkan karena kondisi tertentu tidak mengeluarkan emisi dapat
meringankan beban kelompok negara yang emisinya tinggi.

Universitas Sumatera Utara

A. 3 PROTOKOL MONTREAL
a. Sejarah lahirnya Protokol Montreal

Sejarah lahirnya protokol montreal berangkat dari penelitian dua ahli


kimia dari University of California, Rowland dan Molina, pada tahun
1974 yang memberi sebuah hipotesis sekaligus sebagai early
warning tentang adanya keterkaitan rusaknya lapisan ozon akibat gas
klorin yang terkandung dalam senyawa CFC (Chlorofluorocarbons).
Gas klorin yang mampu bertahan sampai ratusan tahun ini,
diindikasikan sebagai penyebab menipisnya lapisan ozon. Kemudian
tahun 1985, Farman melakukan sebuah penelitian dan menemukan
lubang ozon (ozon hole) di benua Antartika. Kondisi ini akhirnya
menjadi sebuah perbincangan yang sangat menarik di kalangan para
pemerhati masalah lingkungan khususnya di Amerika Serikat.

Ozon merupakan gas yang tidak berwarna yang tersusun atas tiga
unsure oksigen (O). secara kimia, ozon sangat aktif dan bereaksi
dengan sejumlah zat lain. ozon bisa berdampak positif ketika berada
pada kondisi normal. Salah satu sifat ozon yang sangat baik adalah
mampu menyerap ultraviolet-B (UV-B) yang sangat merusak
kesehatan manusia dan lingkungan, maka ketika ozon dalam kondisi
berlubang yang terjadi adalah persoalan yang rumit terhadap manusia

Universitas Sumatera Utara

dan lingkungan. Untuk mengukur temperatur ozon digunakan alat


yang disebut sebagai Dobson Unit (DU). Ozon dalam kondisi standar
jika berada dalam kondisi standar jika berada pada kondisi
temperature 300 DU setara dengan 3 milimeter atau 0,12 inchi.
Sementara jika berada di kisaran dibawah 300 DU, maka terjadi
persoalan dengan ozon. Warna hijau dan kuning menunjukkan ozon
dalam kondisi standard atau berlimpah sementara warna biru dan ungu
ozon dalam kondisi sedikit. 25

Ketika ozon dalam jumlah yang standar maka lapisan ozon akan
berfungsi secara optimal. Ozon akan melindungi alam semesta dari
beragam kerusakan baik yang terjadi dalam tubuh manusia maupun
lingkungan. Kerusakan alam yang melanda dunia saat ini serta
munculnya banyak penyakit yang menimpa masyarakat dunia
representasi dari lemahnya pengawasan dan regulasi terhadap lapisan
ozon. Lapisan ozon yang fungsinya sebagai filter terhadap sinar ultra
violet telah mengalami kerusakan akibat munculnya zat radikal bebas
seperti CFC (chlorofluorocarbon). Untuk mengamankan kondisi
lapisan ozom maka perlu dibentuk regim internasional untuk mengatur
jumlah zat-zat yang dapat meipiskan lapisan ozon yang banyak
diproduksi oleh negara-negara besar. Sebelum fase pengaturan zat-zat
25

http://ozonholewatch.htm. Down Load Tanggal 14 november 2010.

Universitas Sumatera Utara

yang dapat menipiskan lapisan ozon maka negara-negara yang perduli


terhadap masalah ozon, sepakat untuk membuat regulasi terhadap
perlindungan lapisan ozon yang dikenal sebagai Konvensi Wina
(Vienna Convention for the Protection of the Ozone Layer).

Konvensi Wina (Vienna Convention)

Konvensi Wina merupakan

bentuk keprihatinan masyarakat

internasional terhadap persoalan menipisnya lapisan ozon yang


terjadi pada tahun 1985. Untuk menyikapi persoalan lingkungan
khususnya masalah ozon, maka pada tanggal 22 Maret 1985
dibentuklah konvensi Wina (Vienna Convention for the Protection
of the Ozone Layer) di Wina, Austria. Tujuan dari konvensi Wina
ini adalah bahwa para negara sepakat untuk melindungi manusia
dan lingkungan dari bahaya penipisan ozon (ozone deletion layer)
melalui penelitian, observasi, dan bahkan pertukaran informasi.
Pada tahun 1985, negara-negara yang telah meratifikasi Konvensi
Wina berjumlah 184 negara dam pada tanggal 13 maret 2007,
anggota Konvensi Wina yang telah meratifikasi adalah 191

Universitas Sumatera Utara

negara. 26 Amerika Serikat sendiri telah menandatangani Konvensi


Wina yang yang telah meratifikasi Konvensi Wina pada tanggal 27
Agustus 1986.

Amerika Serikat sebagai negara besar mempunyai peran yang


sangat signifikan dalam proses perlindungan lapisan ozon. Hal ini
mengingat bahwa pengaruh

Amerika Serikat terhadap sekutu-

sekutunya begitu sangat besar. Keputusan Amerika Serikat untuk


menandatangani dan meratifikasi Konvensi Wina secara tidak
langsung diikuti oleh negara-negara dunia internasional yang
meratifikasi Konvensi Wina tentunya merupakan sebuah langkah
maju dalam program perlindungan lingkungan khususnya ozon
yang digalakkan oleh PBB. Kemudian sebagai langkah konkret
dalam perlindungan lapisan ozon dari zat-zat yang dapat
menipiskan lapisan ozon maka dibuat sebuah protokol. Protokol
adalah aturan-aturan khusus secara detail yang menjelaskan isi dari
sebuah konvensi. Maka untuk menindaklanjuti dari program
perlindungan lapisan ozon dibentuklah Protokol Montreal.

Regulasi yang komprehensif dalam protokol montreal memiliki


pengaruh yang sangat signifikan dalam mengatur jalannya
26

http://status of ratification the ozone secretariat.htm. Down Load tanggal 14


november 2010.

Universitas Sumatera Utara

produksi zat-zat yang dapat menipiskan lapisan ozon. Hal ini


sangat penting karena gas klorin yang terkandung dalam senyawa
CFC mampu menipiskan lapisan ozonKetika gas klorin tidak
dikendalikan secara terukur maka bahaya besar akan mengancam
mahluk hidup yang ada di muka bumi ini. Untuk itu pemahaman
dan pengetahuan tentang Protokol Montreal merupakan hal yang
wajib diketahui oleh banyak pihak baik kalangan akademisi,
pemerhati lingkungan, masyarakat awam, dan bahkan para
pengambil

kebijakan-kebijakan

strategis

terkait

dengan

lingkungan.

Protokol Montreal (Montreal Protocol)

Protokol Montreal (Montreal Protocol on Substnaces that Deplete


the Ozone Layer) dideklarasikan oleh negara-negara Pihak pada
tanggal Protokol Montreal pada tahun 1987, para Pihak yang
meratifikasi Protokol Montreal sangatlah sedikit, yakni berkisar 31
negara Pihak. Tetapi, seiring dengan perjalanan waktu dan desakan
dunia internasional dan kelompok-kelompok pemerhati masalah
lingkungan khususnya masalah menipisnya lapisan ozon di atas
benua Antartika maka jumlah negara yang sudah meratifikasi

Universitas Sumatera Utara

Protokol Montreal sampai dengan tanggal 13 maret 2007 mencapai


angka kisaran yang sangat menakjubkan yakni 191 negara. dan
hanya lima negara yang belum meratifikasi Protokol Montreal.
Kelima negara tersebut adalah Irak, Andora, Timor leste, Holy
Sea, San Marino. 27

Untuk merespon Protokol Montreal ini, Amerika Serikat telah


mengirimkan delegasinya (full powers) untuk menandatanganinya
Protokol Montreal pada tanggal 16 September 1987 dan di level
domestik Amerika Serikat, Amerika Serikat telah meratfikasi
Protokol Montreal pada tanggal 21 April 1988. Tujuan dari
Protokol Montreal ini adalah untuk mengendalikan lebih lanjut
terhadap menipisnya lapisan ozon yang kemudian menyebabkan
lubang ozon (ozon hole) diatas benua Antartika yang mencapai 27
kilometer persegi dengan cara mengendalikan lebih dan bahkan
meminimalisasikan zat-zat yang dapat menipiskan lapisan ozon
(ozon depletion substances)

Berpijak pada kerangka hipotesa Rowland dan Molina, tentang gas


klorin dari senyawa CFC (chlorofluorocarbon) yang mamu
merusak lapisan ozon, maka di awal pembentukan Protokol
27

http://status of ratification Ozone secretariat.htm Down Load 14 november


2007

Universitas Sumatera Utara

Montreal, Protokol Montreal mengajak negara-negara untuk segera


mempunyai perhatian yang besar terhadap bencana atmosfer
yang mengancam kehidupan manusia dan lingkungan di masa
yang akan datang. Perhatian terhadap persoalan ozon sedikit
menampakkan

bentuknya

pada

beberapa

tahun

pasca

dideklarasikannya Protokol Montreal. Hal ini bisa dilihat dari tiga.


fakta berikut.

Pertama, masuknya 12 anggota masyarakat Eropa, yang tnetunya


sangat mempunyai pengaruh yang sangat signifikan bagi
oengurangan zat-zat yang dapat menipiskan lapisan ozon dan
negara-negara Eropa tersebut mempunyai kepedulian yang serius
terhadap pengurangan ODS (ozon depletion substances). Selain itu
juga, menjelang bukan maret 1989, pihak yang meratifikasi
Protokol Montreal semakin bertambah banyak menjadi 40 negara.

Kedua, negara-negara pihak yang telah meratifikasi Protokol


Montreal sudah mulai menunjukkan keseriusan terhadap Protokol
Montreal dengan membuat regulasi di level domestic. Tidak
terkecuali pula, negara-negara Eropa yang memiliki beban 768.400
ton CFC juga berjanji unutk meminimalisasikan atau melakukan
pengurangan secara bertahap (phase out) terhadap jumlah CFC

Universitas Sumatera Utara

yang dimilikinya. Negara-negara Eropa tersebut berjanji untuk


menuntaskan phase out di negaranya masing-masing pada tahun
2000, yang kemudian dijadwal ulang lebih cepat pada tahun 1997.
Pihak Amerika Serikat yang mempunyai predikat the most
producer of CFC yakni 694.600 ton juga berjanji untuk melakukan
phase out di level domestik Amerika Serikat dengan membuat
regulasi terhadap CFC dan melakukan pengawasan terhadap
produksi, konsumsi, ekspor, dan impor CFC.

Ketiga, munculnya pembahasan-pembahasan mengenai keinginan


untuk

memperluas adanya ketentuan-ketentuan dari badan

pengawas Montreal yang diselenggarakan di Helsinki pada musim


semi pada tahun 1989. ketentuan-ketentuan tersebut menyangkut
pembatasan-pembatasan terhadap produksi metal klorofom dan
karbon tetaklorida, karena dua zat ini ternyata memiliki kans yang
cukup memadai yakni sekitar 13 persen dalam merusak lapisan
ozon. 28

Setelah mendapatkan perhatian yang cukup besar dari banyak


pihak, maka diharapkan Protokol Montreal akan mamou berjalan
efektif dalam mengawal regulasi dalam rangka mengurangi kadar
28

Daryanto, Agenda Politik Internasional, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006, Hal


488-489.

Universitas Sumatera Utara

CFC dan zat-zat lain yang merupakan zat yang menipiskan lapisan
ozon. Untuk itu perlu dibuat sebuah regulasi berupa pengaturan
dan amandemen-amandemen dalam Protokol Montreal. Dalam
sejarahnya,

Protokol

Monteal

telah

mengalami

satu

kali

pengaturan yakni di Wina pada tahun 1995 dan empat kali


amandemen. Pegaturan dan amandemen ini dilakukan atas
kerangka dasar bahwa untuk melaksanakan dan mengefektifkan
tujuan dari Protokol Montreal diperlukan perubahan dan
pengaturan yang disesuaikan dengan dinamika zat-zat yang
menipiskan lapisan ozon dan kondisi domestic di masing-masing
negara pihak.

Amandemen pertama dalam Protokol Montreal terjadi pada


tanggal 29 Juni 1990. Amandemen ini disebut Amandemen
London, Inggris. Amandemen London ini telah diratifikasi oleh
185 negara Pihak dan Amerika Serikat telah meratifikasi
amandemen London pada tanggal 18 Desember 1991. Tujuan dari
amandemen ini adalah untuk memperkuat prosedur-prosedur
prosedur pengawasan substansi-substansi yang mengurangi lapisan
ozon termasuk dalam Protokol Montreal, serta memperluas
lingkup Protokol dengan menambah 12 ODS baru dan membentuk
mekanisme keuangan untuk Protokol Montreal.

Universitas Sumatera Utara

b. Negara-Negara Peratifikasi Protokol Montreal

Paska dideklerasikannya Protokol Montreal pada tahun 1987 sebagai


media pelaksana dari konvensi Wina pada tahun 1985, maka banyak
negara yang tertarik unutk bergabung pada tahun 1987 adalah 31
negara Pihak. Seperti Arab Saudi, Mesir, Inggris, Belanda, Jerman,
Jepang, Uni Soviet dan lain-lain. diantara banyak negara yang
menandatangani dan meratifikasi Protokol Montreal, negara-negara
Eropa merupakan negara yang sangat peduli terhadap persoalan
lingkungan. Negara yang sangat menonjol dalam perlindungan
terhadap lingkungan adalah Jerman, khususnya Jerman Barat. Ketika
fenomena lubang ozon menjadi perbincangan yang hangat di kalangan
akademisi, praktisi, dan epistemic community, maka saat itu pula
banyak negara yang apatis dan tidak sedikit pula yang hanya
menganggapnya sebagai isu politik. Jerman Barat, sebelum terjadinya
unifikasi dengan Jerman Timur, memiliki sikap yang berbeda dengan
negara-negara lain. Maksudnya adalah Jerman memiliki perhatian
yang relative besar terhadap persoalan penipisan lapisan ozon di atas
benua Antartika. Keseriusan Jerman Barat atas persoalan ozon, dapat
dilihat dari dibentuknya departemen lingkungan hidup yang secara
khusus menangani regulasi zat-zat yang menipiskan lapisan ozon.

Universitas Sumatera Utara

Konsen negara-negara di dunia internasional untuk persoalan


lingkungan tentu tidak bisa dilepaskan begitu saja dengan leran dari
kelompok-kelompok yang mempunyai perhatian yang sangat besar
terhadap persoalan lingkungan khususnya mengenai penipisan lapisan
ozon. Penipisan lapisan stratosfir yang berdampak pada kerugian yang
sangat besar bagi kehidupan mahluk hidup yang ada di muka bumi
adalah hal yang sangat urgen untuk segera mendapatkan perhatian
yang besar.

Gebrakan politil di lingkaran kekuasaan dan tekanan yang dilakukan


pleh para pemerhati dan aktivis lingkungan untuk menekan
pemerintahannya masing-masing memberikan efek yang luar biasa
bagi terwujudnya sistem rejim yang kuat untuk menjadi regulator bagi
stabilisasi permasalahan lingkungan yang terkait dengan lubang ozon.
Hal ini tentunya menjadi kabar baik bagi terwujudnya fenomena alam
yang bebas dari ketakutan bencana dunia ke depan. Kelompokkelompok yang perduli terhadap permasalahan lingkungan memiliki
peran yang sangat penting dalam menyadarkan negara yang acuh-tak
acuh terhadap persoalan lingkungan.

Data terakhir yang memuat jumlah protokol Montreal tanggal 13


maret 2007 ada sekitar 191 negara yang telah meratifikasi Protokol

Universitas Sumatera Utara

Montreal. Amerika Serikat sendiri menandatangani Protokol Montreal


pada tanggal 16 september 1987 dan meratifikasi Protokol Montreal
pada tanggal 21 April 1988. Pada sesi sebelumnya, Amerika Serikat
juga menandatangani Konvensi Wina yang merupakan cikal bakal
terbentuknya Protokol Montreal pada tanggal 22 Maret 1985 dan
meratifikasinya pada tanggal 27 agustus 1985.

B. INSTRUMEN HUKUM NASIONAL

B. I. Undang-Undang no. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan


Pengelolaan Lingkungan Hidup

Sehubungan dengan kualitas lingkungan hidup yang semakin menurun telah


mengancam kelangsungan perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya
sehingga perlu dilakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang
sungguh-sungguh dan konsisten oleh semua pemangku kepentingan. 29 Oleh karena
itu diterbitkanlah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Adapun ruang lingkup perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup ini


meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan
29

Perlindungan
dan
Pengelolaan
Lingkungan
Hidup
diakses
http://www.digilib-ampl.net/detail/detail.php, tanggal 17 november 2010

dari

Universitas Sumatera Utara

penegakan hukum. Perencanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup


dilaksanakan melalui tahapan inventarisasi lingkungan hidup, penetapan wilayah
ekoregion, dan penyusunan RPPLH.

Pemanfaatan sumber daya alam dilakukan berdasarkan RPPLH. Mengenai


pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup dilaksanakan dalam
rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup. Pemeliharaan lingkungan hidup
dilakukan melalui upaya konservasi sumber daya alam, pencadangan sumber daya
alam, dan/atau pelestarian fungsi atmosfer. Setiap orang yang memasukkan ke dalam
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,
mengedarkan,

menyimpan,

memanfaatkan,

menghasilkan,

membuang,

mengangkut,

mengolah,

dan/atau

menimbun B3 wajib melakukan pengelolaan B3.

Pemerintah dan Pemerintah Daerah mengembangkan sistem informasi lingkungan


hidup untuk mendukung pelaksanaan dan pengembangan kebijakan perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup.

Masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk
berperan aktif dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Untuk
penyelesaian sengketa lingkungan hidup dapat ditempuh melalui pengadilan atau
diluar pengadilan.

Universitas Sumatera Utara

B. II. BALI ROADMAP

United Nations Climate Change Conference 2007 dilaksanakan di Denpasar


pada tanggal 3-14 Desember 2007. Konferensi tersebut telah menghasilkan sejumlah
keputusan dan yang paling utama di antaranya adalah Bali Roadmap yang merupakan
sebuah kumpulan keputusan yang dibuat sebagai persiapan untuk konferensi PBB
tentang perubahan iklim global yang akan diselenggarakan selanjutnya. 30

Pada dasarnya, Bali Roadmap ialah langkah-langkah yang didalamnya


tercakup kesepakatan aksi adaptasi, jalan pengurangan emisi gas rumah kaca, dan
transfer teknologi dan keuangan yang meliputi adaptasi dan mitigasi. poin-poin Bali
Roadmap, yaitu :

1. Adaptasi

Negara-negara peserta konferensi bersepakat untuk membiayai proyek adaptasi di


negara-negara berkembang melalui metode clean development mechanism
(CDM). CDM ialah salah satu dari ketiga metode pengurangan emisi CO2 yang
ditetapkan dalam Kyoto Protocol. Proyek ini dilaksanakan oleh Global
Environment Facility (GEF). Kesepakatan ini memastikan adanya dana adaptasi
pada tahap awal periode komitmen pertama Kyoto Protocol (2008-2012). Dana
yang tersedia berjumlah sekitar 37 juta euro dan mengingat banyaknya jumlah
30

UNCCC2007: Bali Roadmap" diakses dari http://www.uncccbaliroadmapMajari Magazine.htm, pada tanggal 16 november 2010

Universitas Sumatera Utara

proyek CDM, angka ini akan bertambah menjadi sekitar US$ 80-300 juta dalam
periode 2008-2012. Beberapa negara peserta konferensi belum menyepakati
pelaksanaan proyek adaptasi ini dikarenakan sulitnya regulasi dan penyatuan
kebijakan nasional.

2. Teknologi

Negara-negara peserta konferensi bersepakat untuk memulai program strategis


untuk memfasilitasi teknologi mitigasi dan adaptasi yang dibutuhkan negaranegara berkembang. Tujuan program ini adalah untuk memberikan contoh proyek
yang konkrit, menciptakan lingkungan investasi yang menarik, dan juga termasuk
memberikan insentif untuk sektor swasta untuk melakukan alih teknologi. Global
Environment Facility (GEF) akan menyusun program ini bersama dengan
lembaga keuangan internasional dan perwakilan-perwakilan dari sektor keuangan
swasta. Negara-negara peserta konferensi juga bersepakat untuk memperpanjang
mandat Expert Group on Technology Transfer selama 5 tahun. Grup ini diminta
memberikan perhatian khusus pada kesenjangan dan hambatan pada penggunaan
dan pengaksesan lembaga-lembaga keuangan.

3. Reducing emissions from deforestation in developing countries (REDD)

Emisi karbon yang disebabkan karena deforestasi hutan merupakan isu utama di
Bali. Negara-negara peserta konferensi bersepakat untuk menyusun sebuah

Universitas Sumatera Utara

program REDD dan menurunkan hingga tahapan metodologi. REDD akan


memfokuskan diri kepada penilaian perubahan cakupan hutan dan kaitannya
dengan emisi gas rumah kaca, metode pengurangan emisi dari deforestasi, dan
perkiraan jumlah pengurangan emisi dari deforestasi. Deforestasi dianggap
sebagai komponen penting dalam perubahan iklim sampai 2012.

4. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)

Negara-negara peserta konferensi bersepakat untuk mengakui Fourth Assessment


Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sebagai
assessment yang paling komprehensif dan otoritatif.

5. Clean Development Mechanisms (CDM)

Merupakan

mekanisme

Implementation.

31

yang

berbasis

Negara-negara

pasar

peserta

juga

sama

konferensi

seperti Joint

bersepakat

untuk

menggandakan batas ukuran proyek penghutanan kembali menjadi 16 kiloton


CO2 per tahun. Peningkatan ini akan mengembangkan angka dan jangkauan
wilayah

negara

CDM

ke

negara

yang

sebelumnya

tak

bisa

ikut

mengimplementasikan mekanisme pengurangan emisi CO2 ini.

6. Negara Miskin

31

Daniel Murdiyarso, CDM: Mekanisme Pembangunan Bersih,


Jakarta, 2003, hal 5

Universitas Sumatera Utara

Negara-negara peserta konferensi bersepakat untuk memperpanjang mandat Least


Developed Countries (LDCs) Expert Group. Grup ini akan menyediakan saran
kritis bagi negara miskin dalam menentukan kebutuhan adaptasi. Hal tersebut
didasari fakta bahwa negara-negara miskin memiliki kapasitas adaptasi yang
rendah.

Setelah mundurnya jadwal konferensi selama satu hari dan setelah


diadakannya perpanjangan waktu selama 23 jam, delegasi dari 189 negara, termasuk
Amerika Serikat, akhirnya dapat menyepakati Bali Roadmap. Keikutsertaan Amerika
Serikat dalam Bali Roadmap memberikan sinyal positif bagi keberhasilan
menyatukan seluruh bangsa dalam satu aksi bersama untuk menyelamatkan bumi.
Seperti yang kita ketahui, Amerika Serikat ialah negara emiten karbon dan negara
industri yang sangat besar dan tanpa keikutsertaan AS dalam Bali Roadmap, upaya
penyelamatan bumi tidak akan maksimal.

Universitas Sumatera Utara