Anda di halaman 1dari 23

ADBM VERSI FLAM ZAHRA

355.
Maka dua prajurit sandi tersebut segera bergegas meninggalkan tempat
persembunyiannya.
Namun ternyata keduanya tetap memilih melewati semak bahkan ilalang yang
banyak tumbuh di sisi sisi bulak panjang itu.
"Di depan itu ada turunan tajam juga kelokan yang tidak terlalu kelihatan
sebelumnya,bisik orang pertama."
"Maksudmu kelokan sebelah tebing di atas tempuran sungai itu?bertanya prajurit
sandi yang bernama Sima."...
Namun dalam pada itu prajurit pertama hanya berdesis,"Pasti orang orang yang
kurang waras itu sudah menjadi mayat bersama kuda kuda mereka."
Sebenarnyalah sebagai prajurit sandi, mereka berdua tetap dalam kewaspadaan
tinggi. Bukan takut diketahui kehadirannya oleh kelompok berkuda tadi, karena
mereka berdua sudah yakin para penunggang kuda itu adalah orang orang yang
sudah kehilangan penalarannya sama sekali.
Namun keduanya tetap hati hati serta dalam kewaspadaan tinggi,untuk berjaga
jaga seandainya kelompok berkuda itu ternyata sengaja di umpankan oleh pasukan
lawan.
Mereka tidak ingin,disaat mereka serta kawan kawan prajurit sandi lainnya keluar
dari tempat persembunyiannya, maka dengan tiba tiba telah datang kelompok
pasukan yang kuat menyergap mereka.
Sementara itu yang terjadi terhadap Rara Wulan serta yang lainnya ternyata tidak
seperti yang diperkirakan oleh dua orang prajurit sandi tersebut.
Walau mereka telah berpacu diluar batas kewajaran dengan kudanya masing
masing, namun sesungguhnya mereka telah terlebih dahulu memikirkan
kemungkinan kemungkinan yang dapat terjadi.
Baik keadaan kuda kuda mereka maupun jalan jalan sulit yang akan dilalui.
Dan Rara Wulan yang ternyata ditunjuk memimpin kelompok berkuda itu oleh
Pangeran Pringgalaya.
Selain karena kemampuan Rara Wulan yang tinggi, juga dirinya sudah mengenal
alam di tanah perdikan Menoreh seolah olah di luar kepala.

Sebenarnyalah di saat mereka telah berderap cepat mendekati tanah yang


menurun tajam, Rara Wulan telah meneriakkan aba aba untuk menghentikan kuda
kuda mereka.
Memang hampir semua kuda kuda mereka meringkik keras.

356.
Bahkan ada beberapa kuda yang sampai harus berbalik arah.
Suara ringkikan kuda kuda itu sebenarnyalah telah menggema sampai jauh
menembus batas bulak panjang tersebut.
Dalam pada itu berkata Rara Wulan pada akhirnya,"Mari segera kita laksanakan
perintah ini.
Walau mungkin adalah sesuatu yang jarang kita lakukan, namun aku yakin ini sudah
melalui pertimbangan yang mapan dari Pangeran Pringgalaya."...
"Benar Rara, seakan bergumam Rumeksa kepada dirinya sendiri.
Para prajurit sandi Panaraga kebanyakan adalah hasil dari pendadaran yang belum
terlalu lama.
Walau sesungguhnya mereka sudah matang dari ilmu telik sandinya, namun aku
yakin sisa sisa sebagai bekas prajurit yang terbiasa langsung beradu dada dengan
lawan tetap sedikit banyak masih mengakar dalam pikiran mereka."
Dan sesaat kemudian, anggota kelompok Gajah Liwung itu telah berloncatan dari
punggung kudanya masing masing.
Sesuai dengan aba aba dari Rara Wulan, mereka segera menyebar turun di kanan
kiri bulak panjang, berlindung di balik belukar atau gerumbulan tanaman yang
tumbuh lebat.
Sebenarnyalah suara ringkikan kuda kuda tersebut nyata nyata telah di dengar jelas
oleh dua orang prajurit sandi yang mengikuti mereka.
Bahkan prajurit prajurit sandi lain yang menyebar sampai ke ujung bulak panjang
itu juga sayup sayup dapat mendengar suara itu.
Dan dalam pada itu berkata salah seorang prajurit sandi yang mengikuti derap kuda
itu,"Aku seperti sedang membayangkan, sekelompok orang yang kurang waras itu
telah dilemparkan ke dasar tebing oleh kuda kuda mereka sendiri."

"Mungkin memang seperti itu adanya, menjawab kawan yang satunya.


Namun kita tetap harus selalu hati hati, bisa jadi pasukan lawan sengaja
mengorbankan orang orang dungu tersebut."
"Mereka itu sudah gila."
"Bukan, namun mereka adalah dungu, bantah prajurit yang bernama Sima sambil
menatap wajah kawannya lekat lekat.
Tidak ada orang gila yang begitu mahir dalam berkuda serta tetap melalui perintah
dari pimpinannya.
Kemungkinan yang pasti mendekati benar, mereka adalah bekas prajurit yang putus
asa."
"Itu juga gila namanya."
Namun prajurit sandi Panaraga yang bernama Sima itu tidak menanggapi perkataan
kawannya itu lagi.
Bahkan ia terlihat telah bergeser merayap naik mendekati tepi bulak panjang.
Sebenarnyalah prajurit sandi yang merangkak perlahan lahan itu tetap dalam
kewaspadaan tinggi.

357.
Hingga berhenti di balik semak yang sudah tidak ada penghalang lagi di depannya,
karena yang telah terlihat setelah itu ialah tepian bulak panjang.
Dengan mencoba menajamkan pendengarannya seandainya saja terdengar suara
derap kuda yang lain atau suara langkah langkah kaki, yang mungkin saja itu
adalah pasukan pemukul yang telah disiapkan oleh para pengawal tanah perdikan.
"Apakah memang mereka benar benar gila, batin prajurit sandi itu setelah beberapa
lama tidak juga a...da tanda tanda hadirnya pasukan yang akan menjebak mereka."
Lalu prajurit sandi itu akhirnya telah berdiri dan naik ke bulak yang hanya beberapa
langkah dari tempatnya.
Kembali di amati dengan sungguh sungguh keadaan di sekelilingnya.
Sebagai prajurit sandi yang telah di tempa dengan pendadaran yang sangat berat,
sudah pasti akan dapat menangkap sesuatu yang terlihat mencurigakan.
3

Sementara itu kawannya ternyata telah mengikuti lalu berdiri di sampingnya.


Lalu berkata kawannya itu," Tidak akan ada pasukan lainnya. Mari segeralah kita
datangi tempat mereka bunuh diri itu."
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya prajurit sandi yang bernama Sima itu
menganggukkan kepalanya, lalu berkata,"Baiklah, mungkin dugaanku memang
salah.
Dan aku rasa kawan kawan yang lainpun juga tengah menuju ke dekat tempuran
sungai."
Sebenarnyalah dua orang prajurit sandi tersebut telah bergegas bahkan berlari lari
kecil mendekati tempat kelokan tajam yang sudah tidak jauh lagi.
Namun dalam pada itu Rara Wulan serta sebagian kawan kawannya terutama
Paripih serta Lelana, telah menangkap desiran suara langkah langkah kaki yang
menuju ke sekitar tempat mereka berada.
Suara langkah kaki itu bahkan semakin lama semakin jelas terdengar.
"Rara, sepertinya rencana kita akan berhasil, bisik Paripih perlahan."
"Mudah mudahan, jawab Rara Wulan."
"Mereka kelihatannya mendatangi tempat ini melalui bulak panjang, tidak dengan
merayap melewati semak belukar, berkata Paripih selanjutnya."
Namun dalam pada itu berkata Rara Wulan, tidak hanya terhadap Paripih namun
juga kepada anggota lainnya,"Ingat kita harus bergerak cepat lalu meninggalkan
tempat ini sebelum datang prajurit bantuan mereka.

358.
Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, tidak lama kemudian sekelompok
prajurit yang sebenarnya adalah para petugas sandi Panaraga telah saling
mendekati di tikungan bulak tempat kuda kuda itu berkumpul.
Prajurit penghubung yang ternyata juga disertai beberapa prajurit, juga telah
merayap mendekati bulak di sebelah tempuran sungai tersebut.
Maka hampir dalam waktu bersamaan, sekelompok prajurit itu telah tiba dan berdiri
disekitar kuda kuda yang seakan akan telah me...njadi kebingungan itu.

Namun dalam pada itu Rara Wulan yang berlindung di balik semak belukar sedang
menanti saat yang tepat untuk menurunkan perintah penyerangan.
"Ingat tujuan utama kita, berbisik Rara Wulan dengan sangat perlahan.
Untuk menghadirkan nama sebuah perguruan ke pasukan lawan, khususnya untuk
menandingi keberadaan nama perguruan semu."
"Padepokan Ringin Kembar, bisik Rumeksa sambil mengangguk anggukkan
kepalanya."
Seakan menjadi tanda untuk memulai serangan, perkataan Rumeksa itu, maka Rara
Wulanpun telah memberi isyarat untuk segera memulai penyergapan tersebut.
Sebenarnyalah sekelompok prajurit sandi itu benar benar terkejut yang teramat
sangat.
Apalagi sebelumnya sebagian prajurit sandi itu telah meyakini kejadian itu bukanlah
suatu jebakan.
Namun sebenarnyalah tanpa ada teriakan sama sekali, beberapa orang telah benar
benar menyerang kelompok mereka.
Prajurit prajurit sandi Panaraga itu seperti membeku beberapa saat sebelum
akhirnya baru menyadari tentang apa yang sudah terjadi.
Namun sesungguhnya beberapa kawan mereka telah banyak yang terlempar
pingsan tanpa mampu berbuat sesuatu apapun.
Sementara itu Rara Wulan serta yang lainnya memang berniat untuk segera
melumpuhkan lawan mereka semua dan nantinya akan cepat cepat meninggalkan
tempat tersebut.
Kelompok yang dulu menyebut dirinya Gajah Liwung itu sungguh sungguh telah
menghentakkan kemampuan mereka.
Paripih maupun Lelana sebagai murid murid Ki Ajar Gurawa nyata nyata telah
membuat beberapa orang prajurit sandi tersebut hanya bisa mencoba untuk tetap
bertahan saja.
Walau lawan lawan mereka kemudian telah mencabut senjatanya masing masing,
namun kedua orang saudara seperguruan itu tetap mampu mendesak dengan
kecepatan tata geraknya yang rumit.
Dan disaat tiga orang prajurit sandi itu bersama sama menghentak dengan
menusukkan ujung pedangnya ke arah dada Paripih maupun Lelana, ternyata dua
orang saudara seperguruan itu hampir bersamaan telah menjatuhkan tubuhnya ke
tanah.
5

Dan hampir dalam waktu bersamaan pula tendangan Paripih maupun Lelana telah
menghunjam di lambung serta perut prajurit prajurit sandi tersebut.
Begitu derasnya tendangan yang telah di lambari tenaga dalam tinggi itu, hingga
membuat ketiga prajurit sandi itu terlempar dan tidak mampu untuk bangun
kembali.

360.
Sebenarnyalah di sekitar tempat mereka berdua, ternyata juga banyak kawan
kawan lainnya yang terpaksa harus menghentikan perlawanannya.
Luka luka di sekujur tubuh atau tulang tulang yang terasa berpatahan telah
menjadikan para prajurit sandi itu tidak mempunyai pilihan lain.
Dan yang dipikirkan kemudian oleh para prajurit sandi yang telah terluka, bahkan
ada yang cukup parah itu, hanyalah memilih untuk menyerah tanpa berusaha untuk
menyingkir dari arena pertempuran.
Wala...upun sesungguhnya tetap ada satu atau dua orang dari mereka yang telah
berhasil meloloskan diri untuk membuat hubungan kepada induk pasukan.
Sementara itu kelompok Gajah Liwung telah semakin menguasai arena
pertempuran.
Serangan yang tidak terduga sama sekali yang mengakibatkan begitu cepat
menyusut anggota kelompoknya, yang ternyata telah membuat para prajurit sandi
itu goyah ketahanan jiwaninya.
Jumlah mereka yang pada awalnya hampir dua kali dari lawan lawannya, ternyata
hanya dalam waktu yang terhitung pendek telah mematahkan perlawanan kawan
kawan prajurit sandi lainnya.
Namun dalam pada itu seorang prajurit yang ternyata menjadi pemimpin kelompok
itu, tidak mau melihat kenyataan yang terjadi.
Bahkan di saat hampir semua kawan kawannya telah saling melemparkan senjata
senjatanya untuk menyerah, pemimpin prajurit sandi itu terlihat melompat
menjauhi lawannya.
Rara Wulan yang kebetulan menjadi lawannya mengira pemimpin prajurit itu juga
akan segera menyerah seperti kawan kawannya yang lain.
Akan tetapi ternyata tidak seperti yang dibayangkan oleh Rara Wulan.
6

Bahkan pemimpin prajurit sandi itu menatap wajah Rara Wulan lekat lekat.
"Aku mengakui kecerdikan tipu muslihat kelompokmu, yang akhirnya mampu
menjadikan anggotaku seperti anak anak kecil."
Rara Wulan masih diam, belum menyahuti perkataan pemimpin prajurit tersebut.
Hanya Rara Wulan tetap membalas tatapan tajam mata lawannya itu yang seakan
akan bisa membakar apa yang dilihatnya.
"Berkata orang itu selanjutnya, Kau perempuan yang berilmu tinggi, dan aku yakin
kau adalah pemimpin atau ketua dari kelompokmu itu."
Rara Wulan yang mulai mengerti arah perkataan lawannya itu, segera menyela
dengan nada dalam,"Kau ingin menantang dengan berperang tanding, Kisanak?"

361.
"Bagus, andai kau memang paham akan ucapanku, jawab pemimpin kelompok
prajurit sandi tersebut di sela sela tertawanya yang tiba tiba telah berderai panjang.
Namun apakah itu yang akan kau pilih, walau aku sudah meyakini ilmumu memang
sangat tinggi."
Rara Wulan sendiri sengaja hanya akan berbicara seperlunya kepada pemimpin
prajurit itu.
Sesungguhnya Rara Wulan telah mengerti bahwa lawannya yang kemudian
menantang untuk berperang tanding itu sebenarnya dirinya sedang menj...adi
sangat gelisah.
"Akhirnya kembali berucap pemimpin prajurit sandi itu setelah sejenak seakan akan
sedang mengatur getar jantungnya,"Akan tetapi menilik dari cara bertempur kalian,
aku menjadi ragu apakah kau masih berani berdiri di alas kakimu sendiri.
Kalian telah dengan licik menjebak kami, dan kemudian menikam punggung
punggung kami disaat kami telah masuk dalam perangkap yang telah kalian
siapkan sebelumnya."
Akhirnya tergelitik juga Rara Wulan untuk menyahut perkataan orang yang
menantangnya untuk berperang tanding tersebut.
Sambil tersenyum berkata perlahan Rara Wulan,"Kuda kuda kami yang licik,
Kisanak.

Harusnya mereka tidak meringkik keras keras, hingga tidak menjadikan orang orang
yang mendengar dari kejauhan telah berani menarik kesimpulan tentang kuda kuda
kami itu."
Perkataan Rara Wulan itu telah membuat wajah pemimpin prajurit sandi tersebut
menjadi merah kelam serta jantungnya seakan akan telah rontok saat itu juga.
Lalu berkata dengan menggeram pemimpin prajurit itu,"Mungkin benar seperti
dugaanku ,bahwa kau tidak akan menyanggupi tantangan perang tanding ini.
Kau hanya berilmu sangat tinggi disaat bertempur secara berkelompok."
Ternyata jawaban Rara Wulan berikutnya, kembali membuat pemimpin prajurit
sandi itu seolah olah telah mendengar petir yang luar biasa kerasnya.
"Itulah kelemahanku, Kisanak.
Mungkin itu adalah warisan dari leluhur kami tentang keterbatasan ini.
Kami tidak bisa berpisah antara anggota satu dengan yang lain.
Pasti kau sudah merasakan bobot tenaga dalam kami waktu terungkap di saat kami
sedang berpasangan."
Sebenarnyalah Rara Wulan tidak berkeinginan untuk melayani tantangan berperang
tanding melawan pemimpin yang sudah kehilangan pengamatan diri itu.
Walau lawannya itu dalam bekal ilmu yang sudah cukup mapan, namun Rara Wulan
ternyata sudah mampu mengira ngira berada dimana tataran orang itu.

362.
Lalu berkata Rara Wulan selanjutnya,"Kisanak, Kami datang hanya akan memberi
pesan kepada Perguruan Semu.
Dan tentunya kami semua sudah mengerti dengan pasti bahwa kau bukanlah dari
jajaran para prajurit sandi Panaraga yang sebenarnya."
"He ,apa maksudmu?"
Rara Wulan tersenyum disaat mulai meraba bahwa pemimpin prajurit sandi
tersebut sudah mulai agak mapan dalam menilai keadaan....

Gejolak yang sempat membuatnya menjadi sangat gelisah di saat harga dirinya
sebagai pemimpin kelompok itu sedang dipertaruhkan, justru karena ia adalah
anggota perguruan semu.
Lalu kembali berkata Rara Wulan,"Kami adalah murid murid dari Perguruan Ringin
Kembar.
Pasti salah seorang dari gurumu sudah pernah menyinggung tentang nama
perguruan kami ini."
Pemimpin prajurit sandi itu diam termangu mangu seolah olah sedang membuat
pertimbangan pertimbangan dari ucapan perempuan yang telah di tantangnya
untuk berperang tanding itu.
Sementara itu para anggota prajurit sandi yang telah menyerah maupun yang
mengalami luka luka, masih diam di tempatnya masing masing.
Bahkan prajurit yang telah menyerah yang tidak mengalami luka luka di tubuhnya,
dadanya menjadi semakin berdebar debar ketika mengetahui pemimpinnya
ternyata tidak segera meletakkan senjata.
"Dia tidak pantas menjadi seorang pemimpin prajurit sandi, batin salah seorang
prajurit sandi yang telah menyerah.
Harga dirinya itu akan mengantarkannya menjadi debu.
Apakah Ia tidak melihat, perempuan itu seolah olah hanya sedang bermain main
saja saat bertempur tadi.
Setitik keringatpun belum tampak membasahi pakaian perempuan itu."
Setelah terdiam sesaat,berkata Rara Wulan seterusnya,"Kau tidak akan bisa
memaksaku untuk berperang tanding.
Selain kami tidak punya banyak waktu, sesungguhnya kami butuh kau untuk tetap
hidup, hingga nantinya bisa mengatakan kepada gurumu tentang hadirnya kembali
nama perguruan Ringin Kembar.
Setelah lama mencari jejak jejaknya, akhirnya kami menemukan perguruan yang
sering berganti ganti nama itu ada di tanah perdikan Menoreh ini."
Pemimpin prajurit sandi yang sedang diam termangu mangu itu menjadi terkejut
ketika tiba tiba Rara Wulan telah melompat di punggung kudanya.
Juga di ikuti oleh anggota kelompok Gajah Liwung yang lain.
"Kisanak, teriak Rara Wulan sesaat sebelum menghentak lari kudanya.

Kembalilah ke pasukanmu serta katakan, Padepokan Ringin Kembar telah bangun


dari tidurnya."
Tanpa menunggu jawaban dari orang itu, Rara Wulan telah melarikan kudanya
meninggalkan tikungan bulak di dekat tempuran sungai itu.
Pemimpin serta prajurit prajurit sandi lainnya tidak mampu berucap apapun, ketika
kuda kuda kelompok Gajah Liwung itu dengan tiba tiba telah melesat cepat
meninggalkan mereka.
Para prajurit yang terluka, justru yang dengan sengaja menyingkir ke arah timur
menjauhi arena pertempuran, juga sempat memandang derap kaki kaki kuda itu
melintas cepat di depan mereka.
Namun dalam pada itu Rara Wulan masih saja dengan aba abanya, walau mereka
sudah semakin jauh dari arena pertempuran.

363.
Demikianlah beberapa saat kemudian kelompok Gajah Liwung tersebut telah
mendekati padukuhan di perbatasan tanah perdikan Menoreh.
Derap kuda yang masih tetap berpacu kencang itu akhirnya mulai melambat begitu
Rara Wulan telah memberikan isyaratnya.
Berkata Rara Wulan sesaat setelah mereka tidak berpacu lagi,"Sebentar lagi senja
akan segera turun.
Kita akan langsung menghadap Pangeran Pringgalaya, untuk memberikan laporan
hasil dari tugas yang telah kita emban tadi."...
"Benar Rara, sahut Mandira yang saat itu berkuda paling dekat, disebelah Rara
Wulan.
Namun aku rasa kita tidak harus terus berpacu dengan kuda kuda kita ini."
Rara Wulan hanya mengangguk anggukkan kepala, namun kuda Rara Wulan sendiri
memang sudah tidak berpacu dengan cepat lagi, bahkan semakin lama Rara Wulan
terus melambatkan lari kudanya.
Ternyata Rara Wulan serta kawan kawannya lebih memilih untuk melalui jalan di
pinggiran padukuhan itu.
Walau sebenarnya para penduduk tanah perdikan sudah banyak yang mengetahui
tentang keadaan yang sebenarnya sedang terjadi, namun Rara Wulan serta kawan
10

kawannya tetap tidak ingin membuat gelisah para penduduk yang tinggal di
padukuhan itu, justru padukuhan itu sebagai padukuhan paling luar yang
berbatasan dengan hutan belantara.
Namun dalam pada itu berkata Rumeksa disaat mereka telah berbelok menuju ke
arah padukuhan induk,"Apakah mereka, terutama Perguruan Semu benar benar
akan percaya dengan kemunculan nama Perguruan Ringin Kembar?"
"Itulah yang di inginkan oleh Pangeran Pringgalaya, jawab Rara Wulan dengan nada
dalam.
Untuk membuat para pemimpin Perguruan Semu menjadi ragu ragu tentang
kebenaran laporan dari para prajurit sandi tersebut."
"Dan memang nama Perguruan Ringin Kembar itu memang tidak pernah ada, sahut
Pranawa yang berkuda di paling belakang."
Para anggota Gajah Liwung lainnya sama sama mengangguk anggukkan kepalanya
membenarkan percakapan sesaat itu.
Semakin lama terlihat langit memang mulai nampak buram.
Namun para anggota kelompok Gajah Liwung sudah tidak terlalu jauh lagi dengan
padukuhan induk Tanah Perdikan.
Akhirnya disaat senja benar benar turun, kuda kuda mereka telah sedikit berpacu di
jalan jalan padukuhan induk.
Perintah yang jelas dari Pangeran Pringgalaya sebelumnya, telah membawa
anggota kelompok Gajah Liwung melarikan kuda kuda mereka menuju ke rumah Ki
Gede Menoreh, sebagai induk juga lapis pertahanan terakhir dari pasukan para
pengawal

364.
Sebenarnyalah di hari itu, baik pasukan para pengawal maupun gabungan prajurit
Panaraga dengan Perguruan Semu, sama sama belum bergerak.
Walau kedudukan pasukan Panaraga lebih di untungkan dengan keadaan medan
yang berada di perbukitan serta lebih terlindungi dengan lebatnya pohon pohon,
namun ternyata pasukan para pengawal telah memperhitungkan keadaan tersebut.
Para pengawal yang seakan akan dengan sengaja telah memilih membuat garis
pertahanan di tengah tengah bulak ...panjang.
Gelar menyebar dan sangat terbuka, justru karena telah melalui penilaian yang
cermat dari Pangeran Pringgalaya.
11

Dan di saat malam benar benar telah turun, oncor oncor telah ditancapkan
memanjang di seluruh garis pertahanan para pengawal.
Dengan kesiagaan yang tinggi secara bergiliran para pengawal selalu berjaga di
setiap sudut garis pertahanan tersebut.
Sementara itu para pemimpin prajurit Panaraga maupun Perguruan Semu telah
menjatuhkan perintah memperketat penjagaan di malam itu, walau sesungguhnya
mereka juga yakin para pengawal tidak akan memilih untuk mulai menggerakkan
pasukannya di waktu malam.
Akan tetapi peristiwa yang terjadi di bulak panjang di sisi barat tanah Perdikan
itulah yang membuat pasukan Panaraga lebih berhati hati, justru terhadap
pergerakan pasukan lawan dalam kelompok kelompok kecil.
Kebo Langitan sendiri menjadi berdebar debar ketika secara terperinci telah
dilaporkan tentang peristiwa yang menimpa para prajurit sandi Panaraga.
"Turangga Pethak, desis Kebo Langitan.
Segera kau tambahkan prajuritmu untuk lebih menyebar ke sisi timur.
Para pengawal memang sangat licik."
Ki Pideksa yang juga hadir di antara para pemimpin serta senapati Panaraga itu
hanya mampu menarik nafas dalam dalam dengan sedikit mengangguk anggukkan
kepalanya.
Ia tahu benar tentang apa yang telah terjadi serta apa yang di inginkan oleh para
pemimpin Tanah Perdikan Menoreh serta senapati Mataram.
Turangga Pethak sendiri telah meninggalkan tempat untuk segera melaksanakan
perintah tambahan tersebut.
Namun dalam pada itu berkata Kebo Langitan memecahkan kesunyian yang
sesaat,"Apakah Kakang Pideksa serta yang lain mengenal tentang nama Perguruan
Ringin Kembar?"
Hampir bersamaan Ki Pideksa serta sebagian pemimpin lainnya menggelengkan
kepalanya.
"Aku baru pertama kali ini mendengar nama perguruan itu, berkata Ki Ageng Panjer
Bumi.
Atau mungkin karena aku sendiri yang sudah jarang keluar dari padepokan, hingga
tidak tahu peristiwa peristiwa yang terjadi berikutnya."

12

Dalam pada itu menyahut perlahan Panembahan Gede seakan hanya ia sendiri
yang mendengar ucapannya,"Mungkin itu hanya sekedar nama, yang tidak pernah
nyata akan wujud dari padepokannya sendiri."
"Aku setuju pendapatmu itu, berkata Ki Pideksa."
"Itu hanya perkiraanku semata mata, Ki Pideksa."
Ki Pideksa diam sesaat sebelum menjawab perkataan Panembahan Gede,"Kita telah
di hadapkan kepada dua persoalan.
Tentang kejadian di hutan sisi barat serta keberadaan Perguruan Ringin Kembar itu
sendiri."

365.
Kebo Langitan menarik nafas dalam dalam, lalu menyahut ucapan Ki Pideksa
itu,"Apa yang sebaiknya kita lakukan, Kakang?
Justru disaat dua pasukan segelar sepapan sudah saling beradu dada."
Panembahan Gede serta para pemimpin maupun senapati lainnya, nampak sama
sama terdiam,hanya kerut kerut di dahi mereka terlihat jelas, mencoba membuat
penilaian dari kemungkinan kemungkinan yang dapat terjadi.
Namun dalam pada itu berkata Ki Pideksa,"Itulah Mataram yang sebenarnya....
Coba kalian ingat peristiwa peristiwa sejak berakhirnya Pajang sampai waktu
sekarang ini.
Dalam perang Madiun, perang saudara disaat berhadapan dengan Adipati Pati, Juga
disaat Pangeran Puger di Pajang kurang setuju melepas pusaka pusaka piyandel ke
Mataram,apakah yang kisanak semua bisa simpulkan dari semua itu?"
Hampir bersamaan semua orang yang berada di perkemahan induk itu
mengangguk anggukkan kepalanya.
Justru disaat telah di beri kesempatan untuk menjawab pertanyaan pertanyaan,
telah menjadikan mereka seakan akan telah di beri jawaban yang sesungguhnya.
Empu Serat Waringin yang lebih banyak diam telah menyahut untuk yang pertama
kali,"Bukan karena Mataram dibentengi oleh orang orang berilmu yang seolah olah
tiada yang mampu mengimbanginya.

13

Adipati Pati,Adipati Madiun adalah orang orang yang berilmu rangkap yang jarang
ada bandingnya.
Walau di Mataram juga ada Panembahan Senapati maupun Ki Patih Mandaraka,
namun itu telah menunjukkan keseimbangan, yang sebenarnya bukan mutlak milik
Mataram."
Ki Pideksa berdesah sambil menarik nafas dalam dalam.
Namun di saat akan menyahut perkataan Empu Serat Waringin tersebut,
Panembahan Gede telah berucap mendahului,"Namun walau mungkin hanya dinilai
selapis tipis, kehadiran trah Majapahit tetap menjadikan Mataram lebih unggul
maupun matang dalam benturan ilmu yang sesungguhnya."
"Maksud kau apakah atas kehadiran murid dari perguruan Windujati di pihak
Mataram,yang justru adalah cucu dari Eyang Windujati itu sendiri? bertanya Ki
Pideksa."
Panembahan Gede hanya mengangguk kecil membenarkan perkataan Ki Pideksa
tersebut.
"Namun itu hanya di saat Mataram memberontak terhadap Pajang,desis Kebo
Langitan tiba tiba.
Sesudahnya, wadag orang bercambuk itu sudah tidak sanggup lagi untuk
menyangga ilmu yang tiada terlawan tersebut.
Justru sekarang orang bercambuk itu telah tiada."

366.
"Aku pernah mendengar tentang orang bercambuk itu,walau belum pernah
bertemu, gumam Ki Ageng Panjer Bumi."
Namun dalam pada itu akhirnya berkata Ki Pideksa," Adi Kebo Langitan serta para
Kisanak semua, akhirnya kita sudah mulai meyakini, walau itu bukan satu satunya
yang menentukan, namun ternyata ilmu orang orang Mataram bukanlah ilmu yang
tidak tertandingi sama sekali."
"Baiklah, berkata Ki Pideksa selanjutnya.
Mungkin kali ini kita sudah terlambat selangkah lagi, just...ru di saat hanya
mencoba untuk memangkas nama Menoreh, bukan nama Mataram yang lebih
besar.
14

Namun tentu kita tidak akan pernah melangkah surut."


"Aku tidak akan pernah meninggalkan hutan yang telah kita jadikan sebagai
landasan ini, tiba tiba menyahut Kebo Langitan dengan nada dalam.
Justru disaat perang belum terjadi sama sekali."
Ki Pideksa nampak tersenyum sambil mengangguk anggukkan kepalanya.
Namun dalam pada itu berkata Kebo Langitan selanjutnya walau dengan suara lirih
seolah olah hanya ia sendiri yang mendengar,"Walau di hari pertama gelar pasukan
kita ini telah digoncang oleh siasat para pengawal Tanah Perdikan.
Cara yang seakan akan pasukan Panaraga serta Perguruan Semu ini tidak lebih dari
gerombolan perampok yang tidak bearti sama sekali."
"Ah, aku rasa tidak seperti itu,akhinya Tumenggung Jaya Wiguna menyahut setelah
sebelumnya lebih memilih untuk mendengarkan saja.
Gabungan prajurit kita ini tetaplah sebagai pasukan yang kuat serta lebih besar dari
pasukan lawan."
Demikianlah para senapati Pasukan Panaraga itu masih terus berbicara dengan
sungguh sungguh.
Hampir semua senapati diberi kesempatan untuk membuat penilaian penilaian atas
apa yang telah terjadi, tentang peristiwa di hutan sisi barat tersebut.
Justru di saat mereka telah meyakini tentang keseimbangan ilmu mereka.
Akhirnya Kebo Langitan sebagai senapati tertinggi telah menjatuhkan perintah
perintah selanjutnya.
Hingga di saat waktu tengah malam akan sampai di puncaknya, para senapati
pasukan Panaraga itu telah kembali ke dalam pasukan mereka masing masing.
Ki Pideksa sendiri tetap bersama Kebo Langitan di induk pasukan.
"Biarlah para prajurit tidur bergantian di paruh gelar ini, berkata Kebo Langitan
disaat telah berada di dalam pasukannya kembali.
Ki Pideksa mengangguk anggukkan kepalanya, lalu berkata,"Aku setuju dengan
langkahmu ini, Adi.
Biar para pengawal Tanah Perdikan mengerti kalau kita pun akan selalu siap andai
perang terbuka ini justru terjadi di malam hari."

15

Sejenak mereka berdua masih terus saja memberi perintah perintah kepada
keseluruhan prajurit, sebelum akhirnya Ki Pideksa mohon ijin untuk menilik keadaan
di sayap kiri pasukan Panaraga.
"Hati hati lah, Kakang.
Sebaiknya Kakang Pideksa membawa beberapa orang prajurit.
Walau seakan akan tidak berjarak sama sekali, namun untuk berjaga jaga andai
orang orang yang mengaku murid murid Perguruan Ringin Kembar itu menyusup di
sela sela gerumbul liar."

367.
Sebenarnyalah Ki Pideksa segera bergegas menuju ke sayap kiri pasukan Panaraga.
Namun Kebo Langitan tidak mampu untuk memaksa, ketika Ki Pideksa lebih
memilih untuk berjalan seorang diri.
Kebo Langitan hanya dapat menarik nafas dalam dalam sambil memandang
punggung Ki Pideksa hilang di balik lebatnya pohon pohon besar di sekitar hutan
itu.
Kebo Langitan mengetahui dengan pasti siapa Ki Pideksa adanya tersebut....
Salah seorang dari sedikit orang berilmu tinggi yang diyakini telah tuntas kawruh
lahir maupun batinnya.
"Mungkin bisa saja prajurit prajurit itu justru akan dapat menjadi beban tersendiri
bagi Kakang Pideksa, batin Kebo Langitan dengan kepalanya terangguk angguk."
Sebenarnyalah jarak antara induk pasukan dengan sayap kiri pasukan Panaraga itu
tidaklah terlalu jauh, bahkan termasuk dalam hitungan yang cukup dekat.
Namun di malam yang cukup pekat,justru disaat bulan yang memang baru mulai
menapak dalam lengkungannya yang nyaris tidak terlihat, Ki Pideksa melangkah
perlahan melalui semak belukar ke arah timur di hutan tanah perdikan Menoreh
tersebut.
Ki Pideksa sengaja mengambil jalan yang tidak pernah dilalui oleh para prajurit
maupun murid murid Perguruan Semu, walau jalan yang di ambil Ki Pideksa
tersebut masih berujud semak semak atau belukar yang cukup rapat.

16

"Mungkin dengan cara ini, aku tidak harus menjawab pertanyaan pertanyaan dari
para prajurit penghubung atau petugas sandi pasukan Panaraga,batin Ki Pideksa
setelah beberapa lama berjalan.
Bahkan mungkin akan dapat membayangi keberadaan para murid Perguruan Ringin
Kembar, andai apa yang dikhawatirkan Adi Kebo Langitan itu menjadi kenyataan.
Justru rapatnya semak belukar ini memang sangat mungkin untuk disusupi oleh
murid murid Perguruan Ringin Kembar."
Namun ternyata Ki Pideksa tidak melihat sesuatu yang mencurigakan, bahkan
hingga ia sudah mendekati
tempat yang di sebut sayap kiri gelar Garuda Nglayang tersebut.
Akhirnya beberapa saat kemudian Ki Pideksa telah berhenti di tempat yang agak
terbuka di dekat pohon Sanakeling yang tumbuh sebelah menyebelah.
Yang terlihat kemudian, begitu menghentikan langkah kakinya, tiba tiba Ki Pideksa
segera menyilangkan kedua tangannya dengan kepalanya yang sedikit terangkat
keatas.
Sekejap kemudian seolah olah telah begitu saja terdengar di sekitar tempat itu
suara burung kedasih walau hanya samar samar.

368.
Suara yang benar benar seperti burung kedasih yang sesungguhnya.
Beberapa orang prajurit yang sedang dalam kesiagaan tinggi pada sayap kiri gelar,
bahkan merasa suara burung kedasih itu dapat sedikit mengurangi ketegangan di
dada mereka, justru suara burung kedasih tersebut seakan akan tidak berbeda
sama sekali dengan suara burung yang sesungguhnya.
Sebenarnyalah suara burung Kedasih itu tidak terlalu lama terdengar.
Sedikit demi sedikit, suara burung Kedasih tersebut ba...gai luruh terbawa semilir
angin malam, hingga pada akhirnya suara burung Kedasih itu lenyap tidak
terdengar sama sekali.
Ki Pideksa nampak menurunkan kepalanya seperti sediakala sambil menarik nafas
dalam dalam.

17

Namun dalam pada itu dengan menolehkan kepalanya perlahan berdesis Ki


Pideksa,"Aku tahu kalian berdua pasti akan mengetahui keberadaanku di tempat
ini."
Sebenarnyalah sesaat kemudian dua orang telah hadir di dekat pohon Sanakeling
yang tumbuh sebelah menyebelah tersebut.
Tidak beberapa lama tanpa menunggu waktu segera berucap salah seorang
diantaranya,"Aku tidak mengira Kyai jauh jauh menemui kami di tanah perdikan ini."
Menyahut orang yang kedua kemudian,"Kami di pasukan Panaraga hanya sebagai
prajurit biasa, Kyai.
Tentunya kami tidak mempunyai wewenang untuk menerima kehadiran Kyai Pideksa
di dalam perkemahan.
Untuk itu mungkin sebaiknya Kyai dapat segera mengatakan kepentingan Kyai
Pideksa jauh jauh datang ke tanah perdikan ini."
Namun dalam pada itu Ki Pideksa benar benar terkesiap atas apa yang baru saja ia
dengar dari mulut
dua orang yang mendatanginya itu.
Ki Pideksa seakan akan tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengar itu.
Sebenarnyalah untuk beberapa saat Ki Pideksa hanya mampu terdiam, walau
sesungguhnya di dalam dada orang yang sudah memutih alis serta seluruh rambut
di kepalanya itu menjadi bergumuruh seolah bagai terjangan badai yang datang
susul menyusul tiada pernah berhenti sama sekali.
Yang dapat dilakukan Ki Pideksa hanyalah mengatur pernafasannya untuk
mengatasi perasaannya yang terasa menghentak hentak.
Namun dalam pada itu tiba tiba kembali berkata salah seorang yang datang
kemudian di dekat pohon Sanakeling itu,"Bagaimana keadaan padepokan Kyai serta
orang orang yang mencari ilmu di sana?"
Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah pertanyaan pertanyaan dari dua orang
tersebut yang seolah olah tiada pernah ada putusnya sama sekali.
Pertanyaan pertanyaan yang membuat Ki Pideksa semakin terpaku diam di
tempatnya.
Walau seakan akan nafas Ki Pideksa terasa semakin sesak dengan darah yang
mengalir tidak terkendali,namun sesungguhnya pertanyaan pertanyaan itu telah
memberikan jawaban atas kebenaraan cerita yang telah di sampaikan kepadanya.

18

369.
Ki Pideksa pun segera mencoba untuk bisa menerima semua yang telah dikatakan
oleh dua orang yang sengaja ia minta kehadirannya tersebut.
Walau sedikit demi sedikit namun perasaan dalam diri Ki Pideksa yang semula bagai
terpanggang bara api,akhirnya mampu menjadi reda kembali.
Cerita yang datang kepadanya akhirnya mampu ia buktikan sendiri kebenarannya.
Justru karena semua itu ia terima dari orang yang selama ini begitu dekat dengan
dirinya....
"Ternyata cerita itu benar adanya, berkata Ki Pideksa dalam hati.
Mereka berdua sungguh sungguh sudah tidak mengakuiku sebagai gurunya lagi."
Ki Pideksa menarik nafas dalam dalam, sambil memandang kedua orang
dihadapannya itu, berkata perlahan lahan Ki Pideksa,"Tujuanku jauh jauh pergi ke
tanah perdikan Menoreh ini sebenarnyalah memang untuk menemui kalian berdua.
Cerita yang aku terima itu lah yang akhirnya memang membuatku terburu buru
untuk segera menjumpai kalian berdua.
Hingga di lebatnya hutan serta malam yang sangat pekat ini, kita dapat bertemu
kembali.
Dan ternyata cerita itu memang benar adanya."
Sesaat Ki Pideksa berhenti sejenak, menata perasaannya yang sedikit bergejolak
kembali.
"Lalu berkata Ki Pideksa selanjutnya," Arya Alit dan kau Jaka Panengah, walau aku
tidak akan pernah memutuskan hubungan guru dengan murid, namun aku tidak
memaksa kalian berdua untuk tetap memanggilku dengan sebutan guru.
Mungkin memang tidak pantas bagiku untuk tetap dipanggil guru, justru karena
ilmu kalian berdua sungguh sungguh telah menggapai mega di langit tertinggi."
Pekatnya malam yang telah semakin meninggalkan puncaknya, hanya kunang
kunang yang terkadang beterbangan memberikan sedikit cahayanya.
Namun sebenarnyalah ketajaman panggraita Ki Pideksa mampu merasakan sesuatu
yang terjadi terhadap kedua orang yang berdiri di hadapannya itu.

19

Ketajaman penglihatan laki laki yang telah memutih rambut serta alisnya itu
ternyata dapat melihat berubahnya raut wajah kedua orang yang selama ini telah
mewarisi seluruh ilmu yang ia miliki.
Untuk beberapa saat Ki Pideksa masih belum meneruskan perkataannya kembali.
Sengaja Ki Pideksa menunggu, untuk memberi kesempatan kepada kedua orang
yang ternyata adalah Arya Alit serta Jaka Panengah adanya itu, untuk menyahut
ucapannya.
Sebenarnyalah ketiga orang yang berdiri di dekat pohon Sanakeling yang tumbuh
sebelah menyebelah itu memang terdiam tanpa berucap sepatah katapun lagi.
Hanya kedua mata mereka yang saling pandang satu sama lain.
Akan tetapi keadaan tersebut tidak bertahan dalam waktu yang terlalu lama, justru
sesaat kemudian sesuatu yang terjadi telah membuat Ki Pideksa menjadi terkejut
yang tiada terkira.
Sebenarnyalah walau perlahan lahan turunnya kabut tipis yang datang begitu saja
melingkari tempat itu, telah menjadikan jantung Ki Pideksa seakan akan menjadi
berhenti berdenyut.

370.

Kabut yang semakin lama menjadi bertambah tebal. Kunang kunang yang semula
menjadi sedikit penerang, akhirnya telah lenyap begitu saja tanpa ada yang tersisa
sedikitpun. Suara binatang binatang malam yang seolah olah sedang
mendendangkan kidung menemani berlalunya malam, tiba tiba juga tiada lagi
terdengar sama sekali. Seakan akan mereka juga sedang ikut merasakan sesuatu
yang sangat menakutkan yang tiba tiba telah hadir begitu saja... di sekitar tempat
tinggalnya.
Malam yang sebenarnya memang sudah sedemikian pekat itu menjadi bertambah
kelam tanpa dapat mata memandangnya walau hanya untuk melihat sejengkal di
depan mata.
Namun pada akhirnya, beberapa saat kemudian Ki Pideksa nampak menarik nafas
dalam dalam.

20

Ki Pideksa tidak ingin terlalu lama larut dalam goncangan perasaan, justru karena ia
merasa dua orang yang sedang berdiri dihadapannya itu tidak mempunyai maksud
yang buruk terhadapnya.
Yang dilakukan Ki Pideksa kemudian adalah segera menajamkan penglihatannya
dengan alas salah satu ilmunya aji Sapta Pandulu.
Walau demikian pekat kabut yang menyelimuti tempat di sekitar pohon Sanakeling
yang tumbuh sebelah menyebelah itu, namun dengan puncak aji Sapta Pandulunya,
Ki Pideksa masih mampu melihat keberadaan dua orang murid kepercayaannya itu.
Dalam pekatnya kabut yang teramat sangat itu, akhirnya Ki Pideksa dapat melihat
Arya Alit serta Jaka Panengah yang tengah tersenyum memandangnya. Kembali Ki
Pideksa menarik nafas panjang dengan kepala sedikit terangguk angguk.
Berkata Ki Pideksa dalam hati, "Luar biasa kau Arya Alit, walau kalian berdua sudah
tidak dapat dikatakan muda lagi, namun saat seusia kalian, setengah saja dari ilmu
guru masih belum mampu aku mewarisinya."
Kepala Ki Pideksa tiba tiba sedikit terangkat, kembali ia memandang ke arah salah
satu muridnya, disaat Arya Alit berucap dengan perlahan "Bukan hanya terhadap
Kyai seorang, namun kepada orang yang mewariskan ilmu kabut ini, aku maupun
adi Jaka Panengah juga tidak pernah menganggapnya sebagai guru."
Ki Pideksa yang telah semakin mampu mengendalikan perasaannya itu kemudian
menyahut perkataan Arya Alit tersebut, "Ternyata kalian berdua juga telah mewarisi
ilmu dari jalur Windujati, justru Perguruan Windujati sampai sekarang tetap kuyakini
sebagai perguruan yang jarang ada duanya."
"Ilmu kabut ini lebih tua jika hanya dibandingkan dengan ilmu kabut Windujati."
"He, benarkah yang kau katakan itu, Alit?" jawab Ki Pideksa dengan nada tinggi.
Namun dalam pada itu berkata Arya Alit selanjutnya, "Itu hanya salah satu ilmu di
luar dari jalur perguruan Kyai Pideksa. Dan ternyata keyakinan Kyai selama ini
adalah salah, justru jalur Windujati bukanlah perguruan yang tidak tertandingi."

371

Ki Pideksa mengangguk anggukan kepalanya.


Apa yang di lihat serta di dengarnya dari kedua orang muridnya itu, ternyata
semakin mampu mengembalikan penalarannya menjadi semakin mapan.
21

"Tidak akan berguna jika aku masih mencoba untuk mengingatkan mereka berdua,
batin Ki Pideksa....
Selain ilmunya memang seakan tiada batas, ternyata keyakinan mereka berdua ini
benar benar telah bulat, mengakar kuat dalam hatinya masing masing.
Aku hanya akan mengatakan sesuatu tentang Agung Sedayu, andai mereka berdua
masih belum mengetahui semuanya."
Lalu berkata Ki Pideksa,"Aku tidak tahu dengan pasti, apakah kalian berdua sama
sama mengetrapkan ilmu kabut yang teramat dahsyat ini?
Namun aku minta sebaiknya segera kalian tarik ilmu yang semakin sulit aku untuk
selalu bisa melihat dimana kalian berdua berdiri."
Arya Alit nampak tersenyum tipis,lalu berkata,"Ilmu kabut ini belum dalam
puncaknya, Kyai.
Dan masih banyak lagi ilmu ilmu lain yang Kyai belum mengetahuinya."
Dang yang terjadi kemudian,tidak dalam waktu yang terlalu lama, seakan akan
kabut yang teramat pekat itu mulai perlahan lahan dihisap naik ke angkasa.
Ki Pideksa pun menarik nafas panjang sambil mengurai aji sapta pandulunya begitu
kabut tebal itu telah mulai menghilang hingga tanpa tersisa sama sekali.
Ki Pideksa menjadi semakin mengerti andai Arya Alit maupun Jaka Panengah benar
benar mengetrapkan ilmu kabut itu dalam kemampuan puncak, tentunya dirinya
akan sangat kesulitan untuk dapat melihat keberadaan kedua muridnya itu berada.
"Andai benar seperti yang dikatakan, tentu kedua muridku ini akan sangat sulit
dijajaki ketinggian ilmunya, berkata Ki Pideksa dalam hati."
"Akhirnya aku bisa melihat kalian lagi Alit, Panengah.
Andai kalian tidak segera menarik ilmumu tadi, mungkin sekarang aku sudah
menjadi pingsan akibat terlalu memaksakan kemampuanku melebihi batas."
Arya Alit maupun Jaka Panengah hanya mengangguk angguk tanpa menyahut
perkataan Ki Pideksa.
Namun dalam pada itu berkata kembali Ki Pideksa setelah terdiam beberapa
saat,"Arya Alit maupun kau Jaka Panengah, aku hanya ingin mengatakan sedikit
sebelum aku kembeli ke induk pasukan.
Aku tidak menjadikan soal andai kalian tidak menganggap aku atau orang orang
yang mewariskan ilmu ilmunya itu sebagai guru.

22

Dan aku juga percaya kalian berdua adalah orang yang berilmu sangat tinggi
seakan tiada batas,melampaui mega mega di langit."
"Alit, Panengah,lanjut Ki Pideksa setelah sejenak menghentikan perkataannya,
mengatur nafasnya yang tiba tiba terasa sesak.
Aku hanya minta kalian berdua untuk lebih mengenal nama seorang Agung Sedayu
baik saat mudanya maupun di waktu sekarang.
Dan menurut cerita yang aku dengar, Agung Sedayu sering terluka parah dalam
setiap perang tandingnya.
Itulah yang harus segera kalian pahami, sehingga pada akhirnya kalian akan
sungguh sungguh mengerti siapa sebenarnya Agung Sedayu itu."

23