Anda di halaman 1dari 10

2016

RESUME PRINSIP BANGUNAN TAHAN


GEMPA

ZULFA AULAWI
1509200060021

MANAJEMEN INFRA STRUKTUR PEMUKIMAN DAN BANGUNAN


ZULFA AULAWI | 1509200060021

RESUME

PRINSIP-PRINSIP BANGUNAN TAHAN GEMPA


LATAR BELAKANG
Gempa bumi adalah sebuah fenomena getaran yang dikaitkan dengan kejutan yang terjadi pada
kerak bumi. Gempa bumi menyebabkan goncangan dan getaran yang beragam sehingga

menelan banyak korban jiwa, bangunan dan fasilitas lainnya. Menurut data yang direkam
selama 10 tahun terakhir, pengaruh gempa bumi (earthquake disaster) terhadap bangunan
di Indonesia cukup signifikan. Hal ini dikarenakan intensitas gempa yang terjadi cukup tinggi
terkait letak geografis wilayah kepulauan Indonesia yang berada diantara tiga lempeng benua,
yakni Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik. Disamping itu, keberadaan gunung berapi dengan
segala aktifitas vulkaniknya juga berpartisipasi dalam bencana gempa yang terjadi di
Indonesia. Sebagian bencana gempa di Indonesia terjadi di daerah lepas pantai, dan sebagian
lagi di daerah pemukiman. Pada daerah pemukiman yang cukup padat, perlu adanya suatu
perlindungan untuk mengurangi angka kematian penduduk dan kerusakan berat akibat
goncangan gempa. Dengan menggunakan prinsip teknik yang benar, detail konstruksi yang
baik dan praktis maka kerugian harta benda dan jiwa menusia dapat dikurangi.
KLASIFIKASI GEMPA
Gempa dapat digolongkan menjadi beberapa kategori. Menurut proses terjadinya, gempa
bumi diklasifikasikan menjadi seperti berikut:
- Gempa tektonik: terjadi akibat tumbukan lempeng-lempeng di litosfer kulit bumi oleh
tenaga tektonik. Tumbukan ini akan menghasilkan getaran. Getaran ini yang
merambat sampai ke permukaan bumi.
- Gempa vulkanik: terjadi akibat aktivitas gunung api. Oleh karena itu, gempa ini hanya
dapat dirasakan di sekitar gunung api menjelang letusan, pada saat letusan, dan
beberapa saat setelah letusan.
- Gempa runtuhan atau longsoran: terjadi akibat daerah kosong di bawah lahan
mengalami runtuh. Getaran yang dihasilkan akibat runtuhnya lahan hanya dirasakan
di sekitar daerah yang runtuh.
Menurut bentuk episentrumnya, ada dua jenis gempa., yaitu :
- Gempa sentral: episentrumnya berbentuk titik.
- Gempa linear: episentrumnya berbentuk garis.
Menurut kedalaman hiposentrumnya, ada tiga jenis gempa, yaitu :
- Gempa bumi dalam: kedalaman hiposenter lebih dari 300 km di bawah permukaan
bumi.
- Gempa bumi menengah: kedalaman hiposenter berada antara 60-300 km di bawah
permukaan bumi.
- Gempa bumi dangkal: kedalaman hiposenter kurang dari 60 km.

MANAJEMEN INFRA STRUKTUR PEMUKIMAN DAN BANGUNAN


ZULFA AULAWI | 1509200060021

Menurut jaraknya, ada tiga jenis gempa, yaitu :


- Gempa sangat jauh: jarak episentrum lebih dari 10.000 km.
- Gempa jauh: jarak episentrum sekitar 10.000 km.
- Gempa lokal: jarak episentrum kurang 10.000 km.
Menurut lokasinya, ada dua jenis gempa, yaitu :
- Gempa daratan: episentrumnya di daratan.
- Gempa lautan: episentrumnya di dasar laut. Gempa jenis inilah yang menimbulkan
tsunami
Sedangkan menurut akibat dan daya rusaknya terhadap bangunan (damage), gempa
dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu :
- Gempa Ringan, tidak mengakibatkan efek yang berarti pada struktur,
- Gempa Sedang, sedikit berakibat pada struktur tapi masih aman,
- Gempa Besar, sudah mengakibatkan kerusakan pada struktur, tapi strukturnya masih
tetap berdiri dan tidak roboh.

PRINSIP-PRINSIP BANGUNAN TAHAN GEMPA


Mendesain bangunan tahan gempa pada dasarnya adalah sebuah upaya untuk membuat
seluruh elemen bangunan menjadi satu kesatuan yang utuh dan tidak mudah roboh akibat
gempa. Konsep bangunan tahan gempa yang diterapkan dalam proses desain meliputi
rancangan denah, pemilihan material bangunan, dan struktur-struktur utama bangunan. Selain
itu, konsep desain bangunan tahan gempa juga mengacu pada pemanfaatan material
setempat, budaya masyarakat yang berperan dalam proses membangun rumah, serta aspek
kemudahan dalam pelaksanaan di lapangan.
Berikut ini prinsip- prinsip yang dipakai dalam perencanaan kosntruksi bangunan tahan
gempa:
1. Pondasi
Struktur pondasi merupakan bagian
dari struktur yang paling bawah dan
berfungsi untuk menyalurkan
beban gempa dari dinding ke tanah.
Pondasi harus dapat menahan gaya
tarik vertikal dan gaya tekan dari
dinding. Untuk itu pondasi harus
diletakkan pada tanah yang keras.
Kedalaman
minimum
untuk
pembuatan pondasi adalah 6-75
cm. Pasangan batu kali sering digunakan untuk pondasi dan dikerjakan setelah lapisan
pasir urug dan aanstampeng (pasangan batu kosong) selesai dipasang. Pondasi juga
harus mempunyai hubungan yang kuat dengan sloof. Hal ini dapat dilakukan dengan
pembuatan angkur antara sloof dan pondasi yang memiliki jarak 1 m. Angkur dapat
dibuat dari besi berdiameter 12 mm dengan panjang 20 -25 cm. Pondasi yang

MANAJEMEN INFRA STRUKTUR PEMUKIMAN DAN BANGUNAN


ZULFA AULAWI | 1509200060021

menggunakan sistem pondasi batu kali menerus, terdapat hubungan antara sloof
dengan pondasi dipergunakan angker setiap 0.5 meter. Hal ini dimaksudkan supaya ada
keterikatan antara pondasi dengan sloof, sehingga pada saat terjadinya gempa ikatan
antara pondasi dengan sloof tidak dapat lepas.

2. Kolom
Kolom harus menggunakan kolom
menerus
(ukuran
yang
mengerucut/ semakin mengecil
dari lantai ke lantai). Dan untuk
meningkatkan
kemampuan
bangunan terhadap gaya lateral
akibat gempa, pada bangunan
tinggi (high rise building) acapkali
unsur
vertikal
struktur
menggunakan gabungan antara
kolom dengan dinding geser (shear
wall).
3. Denah Bangunan
Dalam mendesain sebuah bangunan, langkah awal yang dilakukan adalah
menuangkan ide atau gagasan dalam sebuah sketsa. Selanjutnya merealisasaikan
sketsa tersebut menjadi maket yang memberikan kejelasan informasi mengenai skala
yang sesuai. Dalam rancangan bangunan diperlukan gambar denah bangunan secara
keseluruhan yang menunjukkan potongan bangunan setinggi 1 meter dari lantai.
Denah bangunan memberikan kejelasan mengenai fungsi ruang, susunan ruang,
dimensi ruang, letak pintu dan bukaan-bukaan lainnya, isi ruang, dan fungsi utilitas
ruang.
Khusus pada bangunan tahan gempa denah bangunan perlu didesain secara simetris.
Berdasarkan pengamatan pada kerusakan bangunan akibat gempa, diketahui bahwa
struktur bangunan yang demikian dapat menahan gaya gempa. Struktur seperti ini
juga mengurangi efek gaya torsi yang ditimbulkan saat terjadi gempa. Denah yang
simetris memungkinkan pembagian kekuatan yang merata pada setiap bagian
bangunan. Dengan adanya pemerataan tersebut, maka bangunan tidak akan mudah
roboh saat terjadi gempa.
Selain denah, elemen lain yang perlu dirancang secara simetris terhadap sumbu
bangunan adalah perencanaan ruang, penempatan dinding-dinding penyekat, serta
lubang-lubang pintu dan jendela.

MANAJEMEN INFRA STRUKTUR PEMUKIMAN DAN BANGUNAN


ZULFA AULAWI | 1509200060021

Konstruksi Balok Korbel untuk dilatasi struktur adalah sebagai berikut.

4. Bahan / Material Bangunan


Alam semesta telah menyediakan material-material yang mampu dimanfaatkan dalam
proses perancangan bangunan. Akan tetapi manusia harus tetap mengasah
kreativitasnya untuk menciptakan material-material yang sesuai dengan kebutuhan
mereka. Dalam proses pemilihan material bagi rancangan bangunan tahan gempa perlu
memperhatikan faktor berat material tersebut. Material yang sebaiknya digunakan
adalah material yang ringan namun kuat. Hal ini sesuai dengan konsep bahwa beban
inersia gempa sebanding dengan berat bahan bangunan tersebut.
Berat bahan bangunan adalah sebanding dengan beban inersia gempa. Sebagai
contoh penutup atap GENTENG menghasilkan beban gempa horisontal sebesar 3X
beban gempa yang dihasilkan oleh penutup atap SENG. Sama halnya dengan pasangan
dinding BATA menghasiIkan beban gempa sebesar 15X beban gempa yang dihasilkan
oleh dinding KAYU.

MANAJEMEN INFRA STRUKTUR PEMUKIMAN DAN BANGUNAN


ZULFA AULAWI | 1509200060021

5. Struktur Atap
Pada struktur atap yang menahan beban gempa dalam arah horizontal, jika tidak
terdapat batang pengaku di dalamnya maka bangunan tersebut akan runtuh jika
terjadi gempa bumi. Apabila bangunan tersebut cukup lebar maka diperlukan
setidaknya 2 hingga 3 batang pengaku pada tiap-tiap ujung bangunan. Tetapi perlu
diperhatikan bahwa batang pengaku ini harus memiliki sistem menerus sehingga gaya
dapat dialirkan ke ring balok pada ketinggian langit-langit. Gaya-gaya dari batang
pengaku dan beban saling tegak lurus bidang pada dinding sehingga menghasilkan
momen lentur pada ring balok. Apabila panjang dinding pada arah lebar lebih besar
dari 4 meter, maka diperlukan batang pengaku horizontal pada sudut untuk
memindahkan beban dari batang pengaku pada bidang tegak dinding dalam yang
merupakan elemen-elemen struktur yang menahan beban gempa utama.
Material atap yang digunakan harus material yang ringan namun kuat. Kuda-kuda
menggunakan material dari kayu sedangkan atap menggunakan seng. Metode
sambungan yang digunakan sangat sederhana, hal ini untuk mempermudah
masyarakat dalam mencontoh metode tersebut. Untuk memperkuat hubungan
antara batang serta menjaga stabilitasnya, maka hubungan antara batang
membentuk segitiga. Hubungan antara kuda-kuda yang satu dengan kuda-kuda
lainnya menggunakan batang pengaku dan batang pengaku di badan bangunan yang
biasa disebut dengan batang lintel. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah
sambungan antar batang horizontal jangan terletak pada titik kritis, hal ini untuk
menghindari terjadinya lendutan antara sambungan tarik dan sambungan tekan.

MANAJEMEN INFRA STRUKTUR PEMUKIMAN DAN BANGUNAN


ZULFA AULAWI | 1509200060021

Jika tidak terdapat batang pengaku (bracing) pada struktur atap yang menahan beban
gempa dalam arah horizontal, maka keruntuhan akan terjadi seperti, diperlihatkan
pada gambar berikut:

6. Desain Kapasitas (Capacity Design)


Konsep Desain Kapasitas adalah dengan meningkatkan daktalitas elemen- elemen
struktur dan perlindungan elemen- elemen struktur lain yang diharapkan dapat
berperilaku elastik. Salah satunya adalah dengan konsep strong column weak beam.
Dengan metode ini, bila suatu saat terjadi goncangan yang besar akibat gempa, kolom
bangunan di desain akan tetap bertahan, sehingga orang- orang yang berada dalam
Gedung masing mempunyai waktu untuk menyelamatkan diri sebelum Bangunan
roboh seketika.
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendesain kolom yang kuat antara lain :
a. Pengaturan jarak antar sengkang,
b. Peningkatan mutu beton, dan
c. Perbesaran penampang.
d. Serta untuk struktur bangunan dengan baja, bisa dimodifkasi sambungan
hubungan antara balok dengan kolom.

MANAJEMEN INFRA STRUKTUR PEMUKIMAN DAN BANGUNAN


ZULFA AULAWI | 1509200060021

Tiap Negara mempunyai desain


sendiri dalam merencanakan
tingkat
daktilitas
untuk
keamanan bangunan yang
mereka
bangun,
hal
ini
tergantung dari letak geologi
negara
masingmasing.
Misalnya
Jepang
yang
menerapkan tingkat daktilitas 1.
Dengan desain ini, bangunan di
desain benar- benar kaku (full
elastic).
Berikut ini adalah macam- macam tingkat daktlitas beserta kondisi yang ditimbulkan :
a. Daktilitas 1 : Keadaan elastis, dengan konsep ini tulangan di desain besar- besar
untuk membuat bangunan menjadi kaku (full elastic). Contohnya : Jepang.
Konsekuensinya, saat gempa melebihi rencana, maka Gedung akan langsung
roboh tanpa memberi tanda (peringatan) terlebih dahulu.
b. Daktilitas 2 : Keadaan Plastis (intermediete)
c. Daktilitas 3 : Keadaan plastis dengan struktur yang daktil, perecanaan struktur
dengan metode Capasity Design. Ini menjadi dasar perencanaan bangunan
tahan gempa di Indonesia, yaitu dengan pembentukan sendi plastis di balok,
sehingga saat ada gempa Bangunan akan memberi 'tanda' atau peringatan
terlebih dahulu, sehingga orang- orang dalam gedung mempunyai waktu untuk
menyelamatkan diri.

KESIMPULAN
Tujuan dari perancangan bangunan tahan gempa adalah merancang bangunan yang
mempunyai daya tahan terhadap gempa bumi, dalam arti bahwa bila bangunan terkena
gempa bumi maka bangunan tidak akan mengalami kehancuran secara structural.Prinsip
bangunan tahan gempa terdapat pada konfigurasi bentuk bangunan, pemilihan material
bangunan yang ringan, sistem konstruksi penahan beban, dan ketahanan bangunan terhadap
kebakaran.
Konfigurasi bentuk bangunan secara mendatar (horizontal) maupun keatas (vertikal)
bangunan harus diletakan sesimetris mungkin terhadap pusat massa dari bangunan tersebut.
Hal ini dikarenakan struktur bangunan simetris dapat menahan gaya gempa yang lebih baik
daripada bangunan yang bentuknya tidak beraturan.
Semakin ringan bobot bangunan, maka gaya gempa yang diterima bangunan akan jauh
berkurang. Hal ini terjadi karena besarnya gaya gempa yang diterima suatu bangunan

MANAJEMEN INFRA STRUKTUR PEMUKIMAN DAN BANGUNAN


ZULFA AULAWI | 1509200060021

tergantung dari besarnya percepatan gempa dan berat total dari bangunan itu sendiri. Dapat
disimpulkan bahwa semakin berat suatu bangunan maka semakin besar pula gaya gempa
yang akan terjadi pada bangunan tersebut.
Demi menciptakan konstruksi bangunan tahan gempa, struktur pondasi, kolom, balok, dan
struktur atap harus dibuat menyatu dengan sambungan yang memadai. Dinding harus
dikaitkan pada semua lantai dan atap. Ini untuk menghasilkan dukungan atau stabilitas
horizontal dan vertikal. Untuk konstruksi kayu, selain tambahan struktur menyilang (bracing),
juga harus dilengkapi dengan plat baja pengikat di setiap sambungannya, sehingga geraknya
menjadi fleksibel. Bangunan dengan struktur beton bertulang harus memakai tulangan yang
tepat sesuai dengan perhitungan strukturnya, baik tulangan utama maupun cincinnya.
Sambungan antara kolom, pondasi dan sloof pun harus diperhatikan detailnya, agar
mempunyai kekuatan yang cukup untuk menahan beban gempa.
Gempa bumi seringkali diikuti oleh terjadinya bahaya kebakaran, karena besarnya
kemungkinan terjatuhnya kompor, lilin atau lampu penerangan, sambungan arus pendek
pada instalasi listrik dan lain sebagainya. Selain dengan alternatif bahan ringan seperti kayu,
beton ringan aerasi hebel sering digunakan dalam perencanaan bangunan di daerah yang
rawan gempa. Beton ringan aerasi hebel memiliki ketahanan terhadap kebakaran yang jauh
lebih baik.