Anda di halaman 1dari 5

Perkembangan teknologi dan globalisasi informasi di satu sisi memiliki nilai

sangat positif. Hanya dengan satu unit PC dilengkapi modem dan hubungan telepon, kita
mampu mengakses berbagai informasi dengan berbagai subyek, melintasi batas teritorial
dengan biaya sangat murah, mudah, dan cepat. Tetapi, di sisi lain, dampak negatifnya pun
tidak kalah besar, karena berbagai informasi maupun gambar porno dengan mudah bisa
diakses untuk sekadar ditonton maupun "dinikmati". Bahkan, milis pribadi pun sering
kali mendapat kiriman "liar" meskipun kita sudah berusaha menjaga. Pornografi
merupakan salah satu saja dari berbagai dampak negatif yang ada. Selain pornografi,
mungkin masih ada lagi dampak negatif lainnya.

Informasi dan gambar porno belakangan menjadi marak, bahkan tabloid dan
koran porno dilengkapi kolom-kolom iklan layanan seks serta nomor telepon dengan
mudah kita temukan di setiap sudut tempat penjual koran, majalah, maupun VCD. Cepat
atau lambat akan mempengaruhi budaya bangsa kita, terutama anak-anak dan remaja
yang tengah membentuk identitas diri.

Fakta menunjukkan reformasi dan keterbukaan yang dimiliki Indonesia sejak


lengsernya Soeharto, telah melahirkan "anak haram" bernama pornografi. Medium
pornografi yang cukup populer di masyarakat belakangan ini adalah tabloid panas,
internet, dan piringan cakram padat (VCD) atau cakram padat digital (DVD) porno.

Tabloid panas lahir bersamaan munculnya kebebasan pers di era reformasi. Saat
itu jumlahnya diperkirakan mencapai 200 tabloid. Namun, seiring perkembangan dan
persaingan yang cukup ketat tabloid yang mengekspose syahwat kini tinggal sekitar 20
saja.

Pada prinsipnya pengelola yakin bahwa seks, kekerasan, dan kriminalitas adalah
bumbu media yang sudah ada sejak zaman baheula. Bahkan di luar negeri seks menjadi
menu utama sebuah media. Cuma yang menjadi permasalahan media syur di Indonesia
bebas beredar, bahkan dapat dibeli anak-anak di bawah umur.

Pornografi dalam Kamus Inggris-Indonesia oleh Hasan Shadily berarti porno,


gambar/bacaan cabul. Feminis dan moralis konservatif mendefinisikan pornografi
sebagai penggambaran material seksual yang mendorong pelecehan seksual dengan
kekerasan dan pemaksaan (lihat Ensiklopedia Feminisme, Maggie Humm). Menurut
definisi RUU Antipornografi, "pornografi adalah bentuk ekspresi visual berupa gambar,
lukisan, tulisan, foto, film atau yang dipersamakan dengan film, video, terawang,
tayangan atau media komunikasi lainnya yang sengaja dibuat untuk memperlihatkan
secara terang-terangan atau tersamar kepada publik alat vital dan bagian-bagian tubuh
serta gerakan-gerakan erotis yang menonjolkan sensualitas dan/ atau seksualitas, serta
segala bentuk perilaku seksual dan hubungan seks manusia yang patut diduga
menimbulkan rangsangan nafsu berahi pada orang lain."

Menurut pengamat media massa Ade Armando, menghapus pornografi sama


sekali dari Indonesia tidak mungkin. Jalan keluarnya adalah melakukan pembatasan-
pembatasan. Penegakan aturan memang sangat diperlukan karena di negara yang
menganut paham liberal saja pengaturannya sangat ketat.

Antara model yang berani pose vulgar atau telanjang dengan media memang
terjalin simbiosa mutualisma, saling menguntungkan. Bagi perempuan model tampil di
tabloid sebenarnya adalah upaya mengiklankan diri sehingga harga penawaran semakin
tinggi. Maklum model yang berani tampil vulgar di tabloid syur pada umumnya adalah
juga pekerja seks. Sedangkan tabloid diuntungkan dengan model karena pose mereka
dapat menarik perhatian pembeli. Uniknya, tabloid porno yang beredar tidak
mencantumkan alamat jelas. Mereka juga umumnya sangat tertutup untuk diwawancarai.

Selain media cetak, dunia pornografi juga sudah merambah ke pasar global
melalui dunia maya atau internet. Saat ini diperkirakan ada 200-an situs porno lokal baik
isi tampilan maupun pengelolanya. Ada yang resmi, ada pula yang setengah resmi dengan
memanfaatkan domain gratisan. Bahkan ada yang memanfaatkan celah di dunia maya
seperti praktik carding.

Beberapa situs pernah digrebek satuan cyber crime Markas Besar Polri. Tapi
situs-situs seperti ini tumbuh kembali dengan subur. Bahkan kantor berita Associated
Press pernah menyebut Indonesia bakal menjadi surga pornografi berikutnya selain
Rusia.

Hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa 70 persen laki-laki kantoran melihat


situs porno di tempat kerjanya. Mereka umumnya beralasan, melihat situs porno sebagai
pekerjaan iseng untuk melepas ketegangan atau menunggu jalan terbebas dari macet.
Situs porno lokal yang cukup populer di antaranya www.ayamkampung.com,
www.nonamanis.com, www.pramuria.net, www.17tahun.com, dan
www.indonsianbeauties.com.

Persoalan Pornografi dan Pornoaksi menurut penulis pokok persoalan sebenarnya


bukan pada ada tidaknya undang-undang yang mengatur, tapi lebih pada kondisi sosial
budaya yang sedang mengalami perubahan nilai. Karena kalau soal aturannya sebenarnya
persoalan ini sudah terakomodir didalam Undang-Undang Pidana. Perubahan nilai
tersebut didorong oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi Global,
dimana akses informasi dari dunia Global tidak mungkin lagi dibendung.

''Ketegasan Undang-undang tersebut juga masih dipertanyakan,'' demikian


diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam, Arifin Nasir, dalam rapat dengar
pendapat umum bersama Panitia Khusus RUU Pornografi, di Southlink, Sekupang, Jumat
(3/3) sore.

Saat ini perekonomian Batam sangat bergantung pada tingkat kunjungan wisman,
untuk itu diharapkan pemerintah dapat lebih bijaksana dalam melakukan sosialisasi,
bukan dengan cara merazia seperti yang dilakukan Poltabes Barelang baru-baru ini.
Menurut Arifin, dalam RUU yang masih kontroversial itu tidak dijelaskan batasan-
batasan yang jelas mengenai Pornografi dan Pornoaksi. Jika hal ini tidak diperhatikan
dikhawatirkan akan diartikan lain oleh masyarakat secara umum. ''Kejelasan tiap-tidap
draft sangat diperlukan, biar tidak salah arti,'' ujar Arifin.

Pornografi dan pembajakan di Tanah Air memang sudah tidak terkendali.


Padahal, di negara liberal saja seperti Amerika Serikat benda-benda porno dijual terbatas
dan tidak di tempat sembarangan. Lantaran itu kiranya regulasi yang tegas seperti
Undang-undang Pornografi dan Pornoaksi perlu segera diberlakukan.(YYT/Adi Prasetya
dan Dono Prayogo)

Pro kontra pendapat pendengar

Topohudoyo: Undang-Undang ini nantinya tidak akan menyelesaikan masalah, tapi


justru akan semakin membuka peluang untuk perbuatan melanggar hukum, dan ini amat
berbahaya menurut penulis justru lebih berbahaya dari aksi pornografi itu sendiri.
Misalnya tindakan kelompok-kelompok ekstrim untuk bertindak menurut kemauannya
sendiri karena merasa benar, kan ada payung hukumnya! Pemerintah bersama DPR
sekarang ini lagi disibukkan dengan pembahasan masalah RUU Pornografi dan
Pornoaksi. Katanya undang-undang ini dimaksudkan untuk membendung merebaknya
kegiatan Pornografi dan Pornoaksi yang dinilai merusak moral bangsa terutama anak-
anak. Apa itu Bisa dan Apakah itu solusi terbaik untuk mengatasi dan menangkal dampak
negatif Pornografi dan Pornoaksi? itulah pertanyaan yang sering terlontar dari beberapa
kalangan.

Titi Qadarsih: Eyang sama cucu, jadi berenang ama cucunya, gitu. Jadi cucunya enggak
pake baju kan? Di kolam nih. Lalu dilukis, terus dipasang di rumah yang banyak tamu.
Jadi bukan di ruang seni. Apakah ini salah? Nah, pertanyaannya itu ya. Jadi enggak perlu
ada undang-undang pornografi pornoaksi.

Sutarto: Menurut saya RUU ini sangat otoriter ya, otoriter dan kejam. Karena itu
membelenggu para pekerja seni. Gimana dengan para pelukis, gitu ya? Para penulis?
Fotografer, gitu ya?

Abdullah: Kita kadang-kadang hanya bisa menyebut masya Allah atau astagfirullah.

Choirul: Mungkin lebih baik baik bentuknya itu peraturan daerah. Batasan pornografi
dan pornoaksi itu pada tiap-tiap daerah kan berbeda-beda. Di Aceh jelas sekali, kalau
enggak pake selendang aja itu sudah melanggar. Apalagi mau buka-bukaan.

Supeno: Sampai anak saya nanya, dia bilang, Pak itu kok enggak pake baju. Karena kan
yang difoto cuma pake BH dan celana dalam. Aku bilang itu setan lagi difoto. Nah inilah
kadang-kadang ini salah kaprah semua. Jadi kebebasan yang dikasih pemerintah kepada
orang itu digunakan untuk sembarangan. Artinya dengan telanjang bulet, foto-foto, kan
gitu.

Agung Sasongko: Di Indonesia kan ada beberapa suku yang secara budaya seperti itu
tidak apa-apa. Seperti di Papua, atau sebagian di Bali misalnya, di Ubud itu ada seperti
itu. Juga di Jambi juga ada, Kalimantan Timur juga ada. Mestinya itu kan harus
dilindungi karena itu kan budaya. Demikian juga kreasi pematung, pelukis dan lain-lain.
Begitu juga di dunia pendidikan. Kalau misalnya guru menerangkan biologi itu kan harus
dikupas juga.

Ayu Utami: Ya, yang menjadi persoalan utama dalam Rancangan Undang-Undang Anti
Pornografi ini saya kira selain dasar pemikirannya, adalah rumusannya. Rumusannya itu
selalu mengatakan bahwa barang siapa yang mengeksploitasi bagian tubuh erotis atau
bagian tubuh sensual bahkan pada manusia dewasa, ini menjadi sebuah definisi
pornografi. Buat saya ini berbahaya sekali karena dua kata ini, yaitu mengeksploitasi dan
bagian tubuh tertentu yang sensual itu amat karet sifatnya. Atau kata-kata yang bisa
ditafsirkan tanpa dasar. Apa sih batasan mengeksploitasi itu? Apakah berputar-putar itu
eksploitatif, apakah bergerak patah-patah itu eksploitatif dan begitu juga apakah itu
bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa maupun anak-anak sebetulnya.
Apakah bibir itu sensual, apakah itu jari-jari itu sensual, apakah payudara yang sensual?
Nah inikan semua yang ukurannya adalah individu. Dan buat saya tafsir individu ini
enggak bisa menjadi dasar sebuah rancangan undang-undang.

Nurul Arifin: Pornografi sebetulnya bukan dibuat oleh perempuan dan bukan untuk
perempuan. Jadi pornografi dibuat oleh laki-laki untuk laki-laki. Jadi yang menjadi
kekhawatiran saya, seandainya perempuan yang sudah menjadi obyek ini kemudian akan
menjadi korban ketika UU diberlukan. Jadi dia menjadi korban dua kali. Nah ini yang
harus terus diawasi, terus dikawal supaya tidak mereduksi lagi peran perempuan.

Musdah Mulia: Pertama kita setuju bahwa pornografi adalah patologi sosial, kedua kita
setuju ruang publik tidak boleh diganggu. Ketiga saya kira bicara tentang pornografi,
ketika faktor-faktor pasal yang menjerat, harus jelas menjerat siapa. Kita terlanjur salah
kaprah. Kita hanya melihat pornografi dari aspek moralitas sehingga yang banyak
dilibatkan itu tokoh-tokoh agama. Tokoh-tokoh agama yang tidak mengerti persoalan
lagi. Jadi kan gimana ya? Ya, harus dari cara yang holistik ya, saya katakan. Dilihat dari
segi seni, dari segi kesehatan, dari pendidikan.

Ayu Utami: Saya kira hukum itu atau peraturan itu harus jelas dan tidak boleh bermain-
main pada tafsir ya. Maka itu lebih baik buat saya kalau mau, kalau memang mau
mengatur apa yang pantas tampil di depan umum atau di media massa, lebih baik seperti
yang dilakukan di banyak negaralah. Jadi bukan soal tafsir tapi bener-bener deskripsi apa
yang dianggap tidak layak. Misalnya puting payudara tidak layak ditampilkan. Rambut
kelamin tidak boleh. Jadi usah diberi tafsir tapi kita sepakat bahwa itu menyalahi prinsip
kepantasan masyarakat. Lebih baik begitu daripada kita berputar-putar pada kata-kata
yang tidak jelas.
Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1994 tentang LSF
Pasal 19
(3) Bagian-bagian yang perlu dipotong atau dihapus dalam suatu film dan reklame film
dinilai dari segi Sosial Budaya, adalah:
a. adegan seorang pria atau wanita dalam keadaan atau mengesankan telanjang
bulat, baik dilihat dari depan, samping, atau dari belakang;
b. close up alat vital, paha, buah dada, atau pantat, baik dengan penutup atau tanpa
penutup;
c. adegan ciuman yang merangsang, baik oleh pasangan yang berlainan jenis
maupun sesama jenis yang dilakukan dengan penuh birahi;
d. adegan, gerakan atau suara persenggamaan atau yang memberikan kesan
persenggamaan, baik oleh manusia maupun oleh hewan, dalam sikap
bagaimanapun, secara terang-terangan atau terselubung;
e. gerakan atau perbuatan onani, lesbian, homo atau oral sex;
f. adegan melahirkan, baik manusia maupun hewan, yang dapat menimbulkan birahi.