Anda di halaman 1dari 19

Masalah Pembelajaran Praktikum di SMK

Diajukan untuk memenuhi tugas Akhir Pada Bidang Studi

Metode Khusus Pembelajaran Elektronika

Disusun oleh :

Robi Setiawan 521 5077 545

Fakultas Teknik

Jurusan Teknik Elektronika

Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2010
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allaw SWT atas segala rahmat beserta
karunia yang telah diberikan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan
pembuatan proposal pembuatan alat yang berjudul Masalah Pembelajaran
Praktikum di SMK Sebagai syarat kelulusan mata kuliah Metode Khusus
Pembelajaran Elektronika.

Penulis pun tidak lupa mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya karena


tanpa adanya bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak peyelsaian dalam
pembuatan Tugas tentang Masalah Pembelajaran Praktikum di SMK ini tidak dapat
terselsaikan, oleh sebab itu penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya
kepada pihak-pihak yang telah membantu, yaitu:

1. Bapak Drs. Bambang D.P. sebagai dosen mata kuliah Metode Khusus
Pembelajaran Elektronika jurusan teknik Elektronika, Fakultas Teknik,
Universitas Negeri Jakarta.
2. Kedua Orang tua kami yang telah memberikan dukungan moril maupun
materil.
3. Teman-teman yang namanya tidak bisa kami sebut satu-persatu atas semua
dukungan dan masukan yang berarti bagi kami.

Kami menyadari bahwa pembuatan tugas ini masih terdapat kekurangan.


Kritik dan saranlah yang kami tunggu demi hasil yang lebih baik kedepannya.

Jakarta, mei 2010

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................... 1

DAFTAR ISI........................................................................................................... 2

ABSTRAK.............................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.............................................................................................. 4


1.2 Identifikasi Masalah...................................................................................... 5
1.3 Batasan Masalah........................................................................................... 5
1.4 Rumusan Masalah......................................................................................... 5
1.5 Tujuan............................................................................................................ 5
1.6 Manfaat......................................................................................................... 5

BAB II TEORI DASAR

2.1 Pengertian Praktek........................................................................................ 6


2.2 Fungsi Praktek............................................................................................... 6
2.3 Sistem Pembelajaran Praktek....................................................................... 6
2.4 Peralatan Praktek.......................................................................................... 6
2.5 Tempat Kerja Praktek.................................................................................... 7
2.6 Ujian Praktek.......................................... 7

BAB III METODOLOGI

3.1 Sistem Pembelajaran Praktek....................................................................... 9

3.2.a Production Base Education and Training......................................... 9

3.2.b Total Block System........................................................................... 9

3.2.c Model Pembelajaran Konstruktivistik.. 9


3.2.d Aspek-aspek Pembelajaran Konstruktivistik. 10
3.2 Peralatan Praktek.......................................................................................... 12

3.3 Tempat Kerja Praktek.................................................................................... 13

3.4 Ujian Praktek................................................................................................. 14

BAB IV PENEMUAN

4.1 Media Pembelajaran Praktek Elektronika Digital Model Briefcase Terpadu.. 15

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan..................................................................................................... 17

5.2 Saran............................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA

2
ABSTRAK

Robi Setiawan. 2010. Masalah Pembelajaran Praktikum di SMK. Tugas Akhir. S1


Pendidikan Teknik Elektronika. Fakultas teknik. Universitas Negeri Jakarta.

Praktikum merupakan salah satu jenis pendidikan dan pelatihan untuk siswa
SMK. Pelaksanaan Pembelajaran Praktik merupakan usaha pemerintah untuk
meningkatkan sumberdaya manusia untuk menghasilkan produk yang terbaik di era
globalisasi ini.

Pada tugas akhir ini akan meneliti sebuah masalah tentang pembelajaran
praktikum di SMK, baik dari system pembelajaran, peralatan praktek, tempat atau
bengkel praktek, dan ujian prakteknya. Penelitian dilakukan dengan cara membuat
pemecahan masalahnya dengan argumentasi yang logis dimana nantinya solusi ini
dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan masalah
pembelajaran praktikum di SMK. Teori pemecahan masalah pembelajaran praktikum
di SMK ini nantinya akan dikembangkan berdasarkan kajian-kajian teori dari sumber-
sumber yang signifikan dan bermutu.

Hasil penelitian yang di dapat dari sumber belajar dan media pembelajaran
yang di pakai nanti akan lebih memotivasi minat belajar siswa-siswi di SMK di dalam
mengikuti program pembelajran praktek di sekolahnya. Alat yang di pakai di SMK
juga mendapatkan bantuan dari pemerintah departemen pendidikan yang berupa
program revitalisasi peralatan praktek di SMK guna meningkatkan mutu lulusan di
sekolah-sekolah SMK. Tempat atau bengkel praktek seuai penelitian masih
menggunakan kerjasama dari luar negeri dan berbagai instansi perusahaan terkait
untuk menunjang kerja praktek yang lebih stabil dan bermanfaat. Ujian praktek yang
diselenggarakan di SMK mendapat bantuan dari lembaga-lembaga pemerintahan
maupun yang terkait dengan instansi perusahaan untuk menjadi pengawas dan
pemberi bantuan berupa kisi-kisi materi yang akan di uji.

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam ruang lingkup pembangunan nasional di bidang pendidikan, salah satu


jenis pendidikan pada tingkat menengah atas adalah Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK). Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan serta
membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis
serta bertanggung jawab. Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang
mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu.
Tujuan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah Sekolah Menengah Kejuruan
bagian subsistem dari pendidikan menengah bertujuan menyiapkan siswa/ tamatan :

a) Memasuki lapangan kerja serta dapat mengembangkan sikap profesional.


b) Mampu memilih karir, mampu berkompetensi, dan mampu mengembangkan
diri.
c) Menjadi tenaga kerja tingkat menengah untuk mengisi kebutuhan dunia kerja
pada saat ini maupun masa yang akan datang; (4) Menjadi warga Negara yang
produktif, adaptif, dan kreatif.

Oleh karena itulah, kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang


semula berbasis sekolah (school based) dan mata pelajaran (subject matter), mulai
tahun lalu disesuaikan menjadi kurikulum berbasis kompetensi ditekankan agar siswa
yang mengikuti pendidikan di sekolah memperoleh kompetensi yang diinginkan
sesuai dengan tuntutan dunia kerja, serta kecenderungan perkembangan IPTEK di
masa yang akan datang dengan tetap mengacu kepada ketentuan-kententuan yang
berlaku.

Di tengah kebijakan pemerintah untuk meningkatkan jumlah SMK, persoalan


mutu pendidikan di jenjang SMK masih menghadapi masalah. Pasalnya, pendidikan
yang berfokus untuk menyiapkan tenaga kerja terampil di tingkat menengah ini justru
menghadapi kendala di dalam sistem pembelajaran dan tingkat penyediaan sarana
prasarana baik peralatan, tempat kerja sampai waktu yang belum memadai. Sekitar 55
persen peralatan praktik di SMK kondisinya berada di bawah standar sarana nasional.

Dari beberapa asumsi tersebutlah maka dibuat rencana pemecahan masalahnya


dengan argumentasi yang logis dimana nantinya solusi ini dapat digunakan untuk
menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan masalah pembelajaran praktikum di
SMK.

4
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, dapat di identifikasi masalah yang
ada sebagai berikut:
1. Bagaimana membuat penyelesaian masalah pembelajaran praktikum di
SMK?
2. Bagaimana mengembangkan teori dari rencana pemecahan masalah
praktikum di SMK?

1.3 Batasan Masalah


Dalam penulisan proposal tugas akhir ini, maka penulis membatasi
pembahasan masalah yang ada yaitu:
1. pembuatan rencana pemecahan pembelajaran praktikum di SMK.
2. pengembangan teoriyang berdasarkan kajian teori dari sumber yang
signifikan.

1.4 Rumusan Masalah


Sesuai dengan batasan masalah diatas, maka permasalahan dalam
proposal tugas ini dapat di rumuskan yaitu: Bagaimana membuat dan
mengembangkan teori rencana pemecahan masalah pembelajaran praktikum
di SMK dengan beradasarkan kajian teori dari sumber yang signifikan?.

1.5 Tujuan
Tujuan dari tugas ini adalah untuk membuat dan mengembangkan teori
pemecahan masalah pembelajaran praktikum di SMK yang nantinya dapat
diaplikasikan sesuai dengan kebutuhan pengajaran.

1.6 Manfaat
Adapun manfaat dari tugas ini untuk dapat membuat dan
mengembangkan suatau pemeahan masalah secara logis dan signifikan.

5
BAB II

TEORI DASAR

2.1 Pengertian Praktek

Praktikum atau yang biasa disebut praktek adalah kegiatan atau salah satu
metode pembelajaran yang dilakukan di tempat kerja praktikum atau lab praktek
maupun untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dan melihat kemampuan nyata di
dunia kerja serta mendapatkan umpan balik perkembangan ilmu pengetahuan apa
yang telah dipraktekan di tempat kerja melalui jalur pengembangan diri dengan
mendalamai bidang ilmu tertentu dan aplikasinya.

2.2 Fungsi Praktek

fungsi utama dari prkatek di dalam pendidikan sendiri adalah antara lain:

1. untuk dapat mengetahui kemampuan siswa di dalam pengembangan


teori dasar yang telah dicapai oleh siswa tersebut.
2. mempelajari aplikasi dan relevansinya dengan bahan pembelajaran
praktikum.
3. mendapatkan umpan balik perkembangan teknologi berupa
pengalaman dalam bidang kerja.
4. mempelajari dan menguasai kemampuan dasar siswa di dalam
praktikum di lapangan kerja.

2.3 Sistem Pembelajaran Praktek

Sistem Pembelajaran praktek di SMK masih banyak guru praktek yang hanya
memberikan pengetahuan dasar yang terbatas pada mata pelajaran teorinya saja, hal
ini tentu saja akan mempengaruhi perkembangan siswa-siswi yang sedang uji praktek.
Guru atau pembimbing praktek tidak dapat memotivasi siswa-siswi di SMK dengan
sistem pembelajaran yang terbatas dengan begitu siswa-siswi SMK hanya memiliki
batasan ilmu yang tidak cukup untuk bersaing di dunia industri nantinya.

2.4 Peralatan Praktek

Untuk SMK dengan program keahlian seperti teknik, otomotif, mesin, atau
penerbangan, memang masih susah untuk memenuhi peralatan praktek sesuai standar
nasional. "Dalam 2-3 tahun ke depan, untuk program keahlian tersebut baru
ditargetkan bisa memenuhi standar minimal," kata Joko Sutrisno, Direktur Pembinaan
SMK Depdiknas, di Jakarta.

Pengadaan peralatan praktik SMK cukup mahal karena selama ini


mengandalkan dari pembelian di luar negeri. Momen merosotnya nilai tukar rupiah
terhadap dollar AS akan dijadikan introspeksi untuk bisa menyediakan peralatan atau
perakitan alat-alat praktik di dalam negeri.

6
2.5 Tempat Kerja Praktek

Di dalam kerja praktek SMK pastinya memiliki sebuah fasilitas atau tempat
kerja yang biasa disebut bengkel praktek, hal ini guna menunjang kerja praktek siswa-
siswi SMK untuk dapat praktek lebih aman dan tidak menggangu kelas lain yang
sedang belajar. tidak adanya tempat kerja praktek justru malah akan mempersulit baik
siswa maupun guru praktek yang akan mengajarkan dan mengawasi ujian praktikum
di sekolah-sekolah SMK.

Untuk program praktek kerja industri yang melalui instansi-insatansi


pemerintah maupun swasta masih memiliki keterbatasan jumlah yang dapat
menampung siwa-siswi SMK untuk dapat praktek. Keterbatasan jumlah instansi di
Paser yang benar-benar tudak sesuai dengan kebutuhan anak membuat sekolah
mengambil kebijakan untuk membagi dua siswa menjadi dua bagian.

Sebenarnya banyak kantor yang bisa menerima siswa kami, cuma kami
usahakan yang benar-benar sesuai dengan jurusannya, kata Sultani Ketua Kelompok
Kerja (Pokja) Prakerin di SMK Negeri 3 Tanah Grogot.

2.6 Ujian Praktek

Ujian praktik kompetensi siswa di setiap SMK sangatlah penting guna


mengukur kemampuan siswa-siswi yang telah mengikuti metode pembelajaran
praktikum di sekolahnya. Namun terkadang banyak dari sekolah-sekolah SMK hanya
menggangapnya sebagai formalitas untuk dapat lulus dari jenjang menengah kejuruan.
Hal ini akan berdampak saat siswa-siswi SMK langsung terjun kedunia kerja di mana
sistem pembelajaran praktek lebih ditekankan di bidang tenaga kerjanya.

Masalah ini dikarenakan tingginya nilai kelulusan untuk ujian praktek nasional
di setiap daerah. Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Kementerian
Pendidikan Nasional, Joko Sutrisno, menerangkan bahwa syarat kelulusan untuk
jenjang sekolah menengah kejuruan (SMK) tidak jauh berbeda dengan syarat
kelulusan di jenjang sekolah umum. Namun khusus untuk SMK, nilai ujian praktik
kejuruan ditetapkan minimal 7,00 dan nilai itu juga digunakan untuk menghitung nilai
rata-rata ujian nasional (UN).

Dengan adanya penambahan syarat kelulusan bagi siswa SMK tersebut, kata
Joko menambahkan, maka pada saat UN siswa SMK punya beban lebih berat
dibanding siswa SMU. Siswa SMK yang akan mengikuti ujian nasional tahun ini
memang cukup berat ,karena ujian teori menjadi mata ujian pokok. Sehingga mata
ujiannya menjadi lima yaitu Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, ujian
teori dan ujian praktek kejuruan, ujarnya.

Stres menghadapi Ujian Nasional (UN) 2007, banyak siswa SMK yang
meninggalkan bengkel (tempat praktik). Mereka diakui Direktur Pendidikan
Menengah Kejuruan (SMK) Depdiknas Joko Sutrisno lebih berkonsentrasi pada tiga
mata pelajaran wajib UN yakni Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
"Padahal keahlian nantinya ikut menjadi penentu kelulusan siswa SMK," tutur Joko,
Rabu (7/3).

7
Ia bisa memaklumi mengapa siswa lebih berkonsentrasi pada mata pelajaran
tersebut. Sebab selain standar kelulusan minimal naik menjadi 5,00, uji kompetensi
keahlian sebagai bagian dari UN belum tersosialisasikan dengan baik.

Kasus banyaknya siswa SMK yang meninggalkan bengkel menurut Joko bisa
menimbulkan efek yang tidak baik. Setidaknya lulusan kurang menguasai bidang
keahlian yang dipelajarinya.

Karena itu, ia mengingatkan agar siswa SMK tidak hanya terkonsentrasi pada
mata pelajaran wajib UN. Sebab uji kompetensi keahlian akan menjadi bagian penting
dari proses penentuan kelulusan siswa SMK.

Tahun lalu, uji kompetensi masih menjadi bagian dari ujian akhir nasional
(UAS). Artinya, wewenang kelulusan siswa masih didominasi oleh sekolah. Namun
untuk tahun ini, uji kompetensi keahlian diselenggarakan oleh BSNP (badan standar
nasional pendidikan) bekerjasama dengan industri.

Diakui, lulusan SMK belakangan mulai mendominasi mahasiswa perguruan


tinggi. Terutama perguruan tinggi jurusan teknik termasuk politeknik. Ini dikarenakan
bidang keahlian yang dipelajari siswa SMK, bersinergi dengan jurusan-jurusan yang
ada di politeknik. "Dan model pendidikan yang seperti itu yang justeru sekarang laki
keras," tandas Joko.

8
BAB III
METODOLOGI

3.1 Sistem Pembelajaran Praktek

Praktek memang paling utama dibutuhkan di sekolah-sekoah SMK, karena


SMK memiliki potensial penilian di bidang praktek itu sendiri. Peralatan praktek yang
memadai sangatlah penting bagi siwa-siswi di SMK untuk menjalankan program
pembelajaran praktikum. Metode Pembelajaran dilakukan 2 sistem yang dilengkapi
dengan sarana penunjang yang cukup memadai dan model pembelajaran yang
konstruktivistik.

a. Production Base Education and Training

Sistem ini merupakan penggabungan 2 konsep yaitu functional skill yang


menekankan pada tahapan, sistematika dan pengukuran pembelajar-an melalui
kompetensi yang dilakukan dengan extra functional skill melalui pemagangan yang
menyatu dalam lingkungan belajar siswa.

b. Total Block System

Dengan sistem ini kegiatan praktik disatukan sehingga siklus kegiatan praktik
dan teori diatur menjadi 1 minggu praktik dan 2 minggu teori. Sisklus ini berlaku
mulai dari kelas 1 sampai kelas 3. Pengalaman menunjukkan bahwa dengan sistem ini
praktik menjadi lebih efektif.

c. Model Pembelajaran Konstruktivistik

Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek aktif


menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan.
Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya.
Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif
yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan
disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah.
Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi.

Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses


pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang
harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain.
Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar
siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan
membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.

Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi


kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman
sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan
konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si
pendidik melainkan pada pembelajar.

9
Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu:

1) Mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan,


2) Mengutamakan proses,
3) Menanamkan pembelajaran dalam konteks pengalaman social,
4) Pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman.

Hakikat pembelajaran konstruktivistik oleh Brooks & Brooks dalam Degeng


mengatakan bahwa pengetahuan adalah non-objective, bersifat temporer, selalu
berubah, dan tidak menentu. Belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari
pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar
berarti menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta
menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini maka si belajar akan memiliki
pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergentung pada pengalamannya, dan
perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.

d. Aspek-aspek Pembelajaran Konstruktivistik

Fornot mengemukakan aaspek-aspek konstruktivitik sebagai berikut: adaptasi


(adaptation), konsep pada lingkungan (the concept of envieronmet), dan pembentukan
makna (the construction of meaning). Dari ketiga aspek tersebut oleh J. Piaget
bermakna yaitu adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu
asimilasi dan akomodasi.

Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi,


konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam
pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan
mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada.
Proses asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan
perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan skemata. Asimilasi adalah
salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri
dengan lingkungan baru perngertian orang itu berkembang.

Akomodasi, dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang


tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah
dipunyai. Pengalaman yang baru itu bias jadi sama sekali tidak cocok dengan skema
yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi.
Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan
yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan
rangsangan itu. Bagi Piaget adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi
dan akomodasi. Bila dalam proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan
adaptasi terhadap lingkungannya maka terjadilah ketidaksetimbangan
(disequilibrium). Akibat ketidaksetimbangan itu maka tercapailah akomodasi dan
struktur kognitif yang ada yang akan mengalami atau munculnya struktur yang baru.
Pertumbuhan intelektual ini merupakan proses terus menerus tentang keadaan
ketidaksetimbangan dan keadaan setimbang (disequilibrium-equilibrium). Tetapi bila
terjadi kesetimbangan maka individu akan berada pada tingkat yang lebih tinggi
daripada sebelumnya.

10
Tingkatan pengetahuan atau pengetahuan berjenjang ini oleh Vygotsky
disebutnya sebagai scaffolding. Scaffolding, berarti memberikan kepada seorang
individu sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian
mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut
mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah mampu
mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan pembelajar dapat berupa petunjuk,
peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang
memungkinkan siswa dapat mandiri. Vygotsky mengemukakan tiga kategori
pencapaian siswa dalam upayanya memecahkan permasalahan, yaitu:

1) Siswa mencapai keberhasilan dengan baik,


2) Siswa mencapai keberhasilan dengan bantuan,
3) Siswa gagal meraih keberhasilan. Scaffolding, berarti upaya pembelajar untuk
membimbing siswa dalam upayanya mencapai keberhasilan. Dorongan guru
sangat dibutuhkan agar pencapaian siswa ke jenjang yang lebih tinggi menjadi
optimum.

Konstruktivisme Vygotsky memandang bahwa pengetahuan dikonstruksi


secara kolaboratif antar individual dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh setiap
individu. Proses dalam kognisi diarahkan melalui adaptasi intelektual dalam konteks
social budaya. Proses penyesuaian itu equivalent dengan pengkonstruksian
pengetahuan secara intra individual yakni melalui proses regulasi diri internal. Dalam
hubungan ini, para konstruktivis Vygotskian lebih menekankan pada penerapan teknik
saling tukar gagasan antar individual.

Dua prinsip penting yang diturunkan dari teori Vygotsky adalah:

1) Mengenai fungsi dan pentingnya bahasa dalam komunikasi social yang


dimulai proses pencanderaan terhadap tanda (sign) sampai kepada tukar
menukar informasi dan pengetahuan,
2) Zona of proximal development. Pembelajar sebagai mediator memiliki peran
mendorong dan menjembatani siswa dalam upayanya membangun
pengetahuan, pengertian dan kompetensi.

Sumbangan penting teori Vygotsky adalah penekanan pada hakikat


pembelajaran sosiakultural. Inti teori Vygotsky adalah menekankan interaksi antara
aspek internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan
social pembelajaran. Menurut teori Vygotsky, funsi kognitif manusia berasal dari
interaksi social masing-masing individu dalam konteks budaya. Vygotsky juga yakin
bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum
dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya atau
tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal development mereka. Zona of
proximal development adalah daerah antar tingkat perkembangan sesungguhnya yang
didefinisikan sebagai kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dan tingkat
perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah
di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu.

11
Pengetahuan dan pengertian dikonstruksi bila seseorang terlibat secara social
dalam dialog dan aktif dalam percobaan-percobaan dan pengalaman. Pembentukan
makna adalah dialog antar pribadi.dalam hal ini pebelajar tidak hanya memerlukan
akses pengalaman fisik tetapi juga interaksi dengan pengalaman yang dimiliki oleh
individu lain. Pembelajaran yang sifatnya kooperatif (cooperative learning) ini
muncul ketika siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan belajar yang diinginka oleh
siswa. Pengelolaan kelas menurut cooperative learning bertujuan membantu siswa
untuk mengembangkan niat dan kiat bekerja sama dan berinteraksi dengna siswa
yang lain. Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas
yaitu: pengelompokan, semangar kooperatif dan penataan kelas.

3.2 Peralatan Praktek

Di sekolah menengah khususnya SMK penyediaan berbagai macam fasilitas


atau sarana prasana yang menunjang setiap murid untuk mengikuti metode
pembelajaran praktikum ini di rasa masih menghadapi kesulitan dan belum cukup
memadai di berbagai sekolah-sekolah SMK, sehingga di saat menghadapi ujian
praktek siswa siswi SMK tidak dapat menyelesaikan masalah dengan baik dan benar.
Hal itu mungkin dikarenakan oleh kurangnya biaya dan minimnya modal yang
dimiliki oleh setiap sekolah-sekolah SMK karena baik fasilitas maupun perlatan
praktek ini terbilang cukup mahal apalagi bagi SMK yang kurang mampu untuk
memenuhi kebutuhan setiap muridnya.

Menurut Joko Sutrisno, Direktur Pembinaan SMK Depdiknas, untuk SMK


dengan program keahlian bisnis dan manajemen atau teknologi informasi, peralatan
praktik di sekolah sudah banyak yang memenuhi standar nasional. "Untuk SMK yang
masih terbatas peralatan praktiknya, ya harus didukung oleh perusahaan-perusahaan.
Cara lain yang sedang dikembangkan yakni merakit sendiri supaya biaya pengadaan
atau pembelian bisa ditekan," jelas Joko.

Banyaknya perusahaan-perusahaan yang membantu menyumbangkan


sebagian modal atau keuntungannya juga merupakan suatu hal yang dapat membantu
kelancaran kerja praktek di SMK. PT Toyota- Astra Motor (TAM) berusaha terus
membantu upaya peningkatan kualitas pendidikan sekolah kejuruan teknik di tanah air
melalui program link and match.

Melalui Toyota Technical Education Program (T-TEP), Agen Tunggal


Pemegang Merek Toyota di tanah air itu menyerahkan bantuan alat peraga pelajaran
ke sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jawa Tengah.
Alat peraga yang diberikan berupa satu unit Toyota Avanza kepada SMK 7
Semarang. Sedangkan enam buah transmisi dan enam buah computer diberikan
kepada enam SMK lainnya di wilayah tersebut.
Selain komitmen untuk memajukan dunia pendidikan, bantuan ini juga
merupakan bentuk terima kasih kami terhadap dukungan masyarakat Jawa-Tengah
terhadap keberadaan dan kemajuan Toyota, tutur Johnny Darmawan, Presiden
Direktur PT TAM, dalam siaran persnya, Kamis (25/3).

12
Johnny berharap bantuan alat peraga berupa satu unit Toyota Avanza bisa
menjadikan SMK 7 Semarang benar-benar menjadi sekolah T-TEP. Mudah-
mudahan sumbangan yang tidak seberapa ini dapat menggairahkan kemajuan dunia
pendidikan di Jawa Tengah, tandas dia.

Johnny menjelaskan T-TEP merupakan salah satu bagian dari program


tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Toyota yang pelaksanaanya bekerjasama
dengan Kementerian Pendidikan Nasional. Sejak berlangsung 1991 hingga saat ini
sudah 51 SMK di berbagai wilayah Indonesia yang masuk dalam program ini.

Tujuh di antaranya di Jawa Tengah. Hasilnya cukup mengembirakan, siswa


lulusan SMK tersebut keahliannya bisa memenuhi kriteria teknisi di jaringan Toyota .
Di Jawa tengah saja, sudah 70 siswa yang masuk menjadi tenaga teknisi, aku Johnny.

Bantuan kali ini diterima secara simbolis diterima oleh Sekretaris Daerah
Provinsi Jateng Hadi Prabowo mewakili Gubernur Jawa Tengah. Penyerahan
dilakukan di Kantor Pemerintah Propinsi Jawa Tengah, di Tugu, Semarang .

Dalam upaya peningkatan mutu lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK),


Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) melakukan revitalisasi peralatan
praktek pada bengkel-bengkel atau labolatorium SMK di Indonesia sebesar Rp 357
miliyar dan beberapa ruang kelas di 910 SMK.

"Kami melakukan penambahan dan keterkinian sarana praktek siswa SMK.


Masing masing sekolah negeri maupun swasta diberikan blockgrand sebesar Rp 350
juta akhir Desember 2006. Anggaran itu diperoleh dari APBNP (Anggaran
Pendapatan Belanja Negara Perubahan) tahun 2006," kata Direktur Pembinaan SMK,
Joko Sutrisno.

3.3 Tempat Kerja Praktek

Seperti SMKN 9 Padang yang terus memperluas kerjasama dengan beberapa


industri yang relevan di bidang perhotelan, restoran dan bakery. Selain industri di
dalam negeri baik di Kota Padang, Sumatera Barat atau luar Sumatera Barat,
kerjasama luar negeri terus mendapat dukungan dari industri di Malaysia dan
Singapure. Hal ini guna memotivasi siswa-siswi SMK untuk bisa lebih
mengembangkan kemampuan belajar agar dapat bersaing dengan siswa-siswi lain di
dalam perkembangan dan kemajuan teknologi dan industri.

Tahap ke dua di Tahun 2008, SMK Negeri 9 Padang, kembali mengirim siswa
melaksanakan praktek kerja industri (Prakerin) luar negeri ke Singapure dan
Malaysia. Total jumlah peserta sebanyak 24 orang. Mereka akan melaksanakan
praktek di Teppayaki Concept Sd.Bhd Malaysia dan Mr Bean Rest Singapure. Selain
mendapatkan praktek kompetensi di Bidang Restorant, para siswa juga mendapatkan
fasilitas penginapan, makan, asuransi, dan uang saku.

13
Direncanakan selain dengan negara tetangga, juga akan dilakukan kerjasama
dengan beberapa perusahan di Eropa, khususnya negara Swiss. Hal ini sesuai dengan
pengembangan SMKN 9 Padang sebagai rintisan Sekolah Bertaraf Internasional
(SBI). Penjajagan kerjasama tersebut akan dilakukan oleh Kepala SMKN 9 Padang
pada bulan November mendatang bersama beberapa sekolah lain di Indonesia yang
sama-sama rintisan SBI.

3.4 Ujian Praktek

Yang harus dilakukan di dalam menghadapi ujian praktek biasanya siswa-


siswi SMK diberi kisi-kisi yang berupa materi ujian prakteknya. namun hal ini tidak
menjadi alasan bagi siswa untuk untuk tidak meremehkan ujian praktek.

Seperti halnya di SMKN 29 (STM Penerbangan) Jakarta Selatan, Ujian


praktik kompetensi siswa melibatkan sejumlah anggota TNI AU sebagai tim penilai.
Selam itu, staf Garuda Maintenance Facilities Aera Asia (anak perusahaan Garuda
Indonesia yang bergerak di bidang perawatan pesawat) juga ikut menjadi tim penilai.
hal ini sangatlah penting bagi sekolah-sekolah di SMK agar nantinya lulusan SMK
benar-benar yang memliki kualitas kerja yang baik.

penerbangan sangat tinggi. Usai UN. akan ada rekrutmen dan GMF Aeroasa,
sedangkan untuk program teknik pendingin lulusan tahun lalu, hampir 100 persen
terserap di dunia kena. tandasnya.

Sementara itu, di SMKN 32 Jakarta, di han terakhir ujian praktik. Kamis


(11/2) akan menguji kompetensi siswa dari kelas Tata Busana Sebanyak 24siswa
dengan 24 karya busana muslim akan ditampilkan secara statis di boneka peraga atau
mannequin. Karya siswa itu akan diuji oleh para profesional yang tergabung dalam
ikatan Penata Busana Indonesia (IPBI).

Ujian praktik ini siswa harus mengikuti rambu-rambu, misalnya jenis bahan
yang digunakan dan anggaran pakaian yang dibuat siswa," kata Wakil Kepala Sekolah
Bidang Kesswaan SMKN 32, Oom Siti Halimah. Rabu (10/2). Ia bilang, anggaran
bahan yang digunakan oleh sswa ditentukan Rp 200.000, termasuk pelapis pakaian
dan aksesonsnya.

14
BAB IV
TEMUAN

1. Media Pembelajaran Praktek Elektronika Digital Model Briefcase Terpadu

Semakin tingginya tuntutan relevansi pendidikan dan kebutuhan tenaga


industri mengakibatkan berbagai konsep pengembangan yang berhubungan dengan
kurikulum, materi, media pembelajaran, metoda, dan strategi pembelajaran.
Kurikulum didefinisikan sebagai satu rencana yang dikembangkan untuk mendukung
proses mengajar/belajar. Salah satu diantaranya yang sekarang menjadi kebijakan
adalah kurikulum berbasis kompetensi, dimana kompetensi yang dibutuhkan
dirumuskan secara jelas dengan tolok ukur jelas.

Pada Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tahun 2004 disebutkan


bahwa pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan
peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu yang memiliki
ketrampilan, pengetahuan dan sikap agar kompeten. Lulusan yang berkompetensi
hanya dapat dihasilkan dari suatu proses yang didukung komponen-komponen
penunjang yang sesuai. Komponen-komponen penunjang tersebut antara lain meliputi
pemilihan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi serta daya dukung
peralatan yang ada di laboratorium.

Berdasarkan kurikulum SMK pada Bidang Elektronika Industri terdapat mata


diklat elektronika yang terdiri dari elektronika analog dan elektronika digital.
Mengacu pada kompetensi keahlian dan level kualifikasi keahlian teknik elektronika
industri maka proses pembelajaran elektronika digital dituntut untuk mampu
memberikan ketrampilan berkarya bagi setiap peserta didik. Agar tujuan di atas
tercapai diperlukan suatu unit praktikum yang mampu untuk digunakan sebagai media
pembelajaran praktek. Kenyataan yang ada di SMK, masih banyak laboratorium yang
belum memiliki unit praktikum untuk elektronika digital, hal ini disebabkan oleh
beberapa faktor antara lain : biaya, tempat, kepraktisan, serta kelengkapan unit
praktikum sebagai media pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.
Dari situs http://www.dikmenjur.go.id/ disebutkan bahwa Dalam rangka mendukung
peningkatan mutu Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Pemerintah akan
mengadakan peralatan Pendidikan SMK sesuai dengan tuntutan Kompetensi dan
perkembangan ilmu dan teknologi. Peralatan pendidikan SMK tersebut diharapkan
merupakan produksi lokal, ataupun teknologi pengganti (subtitution technology). Dan
pada tahun 2007 ini dikmejur melalui web site-nya http://www.dikmenjur.go.id/
menawarkan pada penyedia jasa peralatan SMK untuk memberikan informasi
peralatan yang dapat digunakan di SMK.

15
Berdasarkan latar belakang tersebut, kami peneliti di Jurusan Pendidikan
Teknik Elektronika melalui program penelitian IPTEK yang ditawarkan oleh
Lembaga Penelitian UNY merencanakan akan meneliti tentang desain Media
Pembelajaran Praktek Elektronika Digital Dengan Model Briefcase Terpadu.
Briefcase terpadu yang kami teliti dirancang untuk dapat digunakan sebagai media
pembelajaran dengan fasilitas lengkap , tidak memerlukan tempat luas, praktis
penggunaannya karena semua fasilitas sudah tersedia dalam satu cashing dan mudah
dibawa , serta dilengkapi dengan modul pembelajaran untuk praktek elektronika
digital. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mengatasi masalah yang selama ini
dihadapi oleh SMK dalam masalah penyediaan media pembelajaran untuk praktek
Elektronika Digital dan masalah ketersediaan ruang lab untuk praktikum.

16
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Praktek memang paling utama dibutuhkan di sekolah-sekoah SMK, karena


SMK memiliki potensial penilian di bidang praktek itu sendiri. Peralatan praktek yang
memadai sangatlah penting bagi siwa-siswi di SMK untuk menjalankan program
pembelajaran praktikum. Metode Pembelajaran dilakukan 2 sistem yang dilengkapi
dengan sarana penunjang yang cukup memadai dan model pembelajaran yang
konstruktivistik.

d. Production Base Education and Training

Sistem ini merupakan penggabungan 2 konsep yaitu functional skill yang


menekankan pada tahapan, sistematika dan pengukuran pembelajar-an melalui
kompetensi yang dilakukan dengan extra functional skill melalui pemagangan yang
menyatu dalam lingkungan belajar siswa.

e. Total Block System.

Dengan sistem ini kegiatan praktik disatukan sehingga siklus kegiatan praktik
dan teori diatur menjadi 1 minggu praktik dan 2 minggu teori. Sisklus ini berlaku
mulai dari kelas 1 sampai kelas 3. Pengalaman menunjukkan bahwa dengan sistem ini
praktik menjadi lebih efektif.

f. Model Pembelajaran Konstruktivistik

Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek aktif


menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan.
Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya.
Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif
yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan
disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah.
Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi.

2. Saran

Di dalam Praktek hendaknya kita harus mengenal sistem dan metode


pembelajaran yang baik bag kepentingan guru pembimbing praktek dan siswa-siswi
peserta praktek. Tidak ketinggalan alatdan tempat praktek harus sesuai dengan standar
nasional.

17
DAFTAR PUSTAKA

mashoedah.blogspot.com, media pembelajaran praktek elektronika. Media


Pembelajaran Praktek Elektronika Digital Model Briefcase Terpadu.
http://mashoedah.blogspot.com/2008/09/media-pembelajaran-praktek-
elektronika.html
www.smkmikael.com, pendidikan dan pelatihan. Program Pendidikan dan
Pelatihan. http://www.smkmikael.com/pendidikan_dan_pelatihan.shtml

www.kaltimpost.co.id, berita. Tempat Praktek SMK Masih Terbatas.


http://www.kaltimpost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=37530

nasional.kompas.com, read. Peralatan Praktik SMK di Bawah Standar Nasional.


http://nasional.kompas.com/read/2009/01/14/20103647/peralatan.praktek.smk.di.baw
ah.standar.nasional

www.tempointeraktif.com, prototype. Toyota Serahkan Satu Unit Avanza untuk


Praktek Siswa SMK.
http://www.tempointeraktif.com/hg/prototype/2010/03/25/brk,20100325-
235516,id.html
bataviase.co.id, node. Ujian Praktik SMK Dinilai Tim TNI AU.
http://bataviase.co.id/node/92093

www.smkn3tarakan.com, artikel aksi. Nilai Ujian Praktek SMK Minimal 7.


http://www.smkn3tarakan.com/?mod=artikel&aksi=baca&id=84
www.jurnalnet.com, berita utama topik. Stres UN, siswa SMK tinggalkan bengkel.
http://www.jurnalnet.com/konten.php?nama=BeritaUtama&topik=5&id=941

www.dradio1034fm.or.id, detail. Pemerintah Masih Sulit Memenuhi Peralatan


Praktek Siswa SMK Dengan Standar Nasional.
http://www.dradio1034fm.or.id/detail.php?id=3850
puslit.petra.ac.id, Journals. Model Pembelajaran Konstruktivistik Sebagai
Alternatif Mengatasi Masalah Pembelajaran.
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/.

www.jayapurakab.go.id, artikel. Revitalisasi Peralatan Praktek SMK Guna


Tingkatkan Mutu Lulusan.
http://www.jayapurakab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=127%3Ati
ngkatkan-mutu-smkn-6-tambah-volume-praktek&Itemid=131

www.smk9padang.com, article. Siswa SMKN 9 Padang Melaksanan Praktek di


Singapur dan MalaysiaOleh smk9pdg.
http://www.smk9padang.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=10&arti
d=16

18