Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN HASIL EKSPERIMEN KIMIA

MENGUKUR TITIK BEKU AIR DAN LARUTAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Kimia

Oleh :

NAMA : INE RATNA DEWI

KELAS : XII IPA 6

NO ABSEN : 20

SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 TASIKMALAYA

JALAN RUMAH SAKIT UMUM NO. 28 TASIKMALAYA

2010
LAPORAN HASIL EKSPERIMEN KIMIA

MENGUKUR TITIK BEKU AIR DAN LARUTAN

I. JUDUL : Mengukur titik beku air dan larutan


II. TUJUAN : Mengukur titik beku air yang dibandingkan dengan titik
Beku larutan
III. ALAT DAN BAHAN

No Nama Alat/ Bahan Satuan Jumlah

1 Termometer -100C s.d 1100C 1


2 Stopwatch/ Jam Tangan Biasa 1
3 Tabung Reaksi 20 cc 3
4 Beacker glass 250 cc 1
5 Pengaduk Kaca Biasa 1
6 Sendok Biasa 1
7 Es Bongkahan Secukupnya
8 Urea [ Co(NH2)2 ] 1 molal 10 mL
9 Urea [ Co(NH2)2 ] 2 molal 10 mL
10 Garam dapur (NaCl) 1 molal 10 mL
11 Air aquadest 10 mL

IV. Prosedur Kerja dan Hasil Pengamatan


a. Prosedur Kerja dan Hasil Pengamatan terhadap air (pelarut murni)
Prosedur Kerja Hasil Pengamatan

1. Menyiapkan campuran
pembeku dengan cara Tabel Pengamatan terhadap air
menempatkan 100 gram es,
Waktu (s) Suhu (0C)
20 gram NaCl, dan 10 mL air
0s 270C
dalam beacker glass 250 mL 60 s 130C
dan mengaduknya 120 s 70C
180 s 10C
1 240 s 00C
2. Mengisi volume tabung
3 300 s 00C
reaksi 360 s 00C
420 s 00C
3. Memasukkan thermometer 540 s 00C
ke dalam air dan
menentukan suhu awalnya Tf0 = 00C
4. Meletakkan tabung reaksi
pada alat pendingin dan
memulai penghitungan
waktu dengan stopwatch
5. Mencatat suhu setiap 60
sekon
6. Setelah suhu tidak turun lagi,
teruskan pengamatan selama
3 menit agar hasilnya akurat
7. Menentukan titik beku air

b. Prosedur Kerja dan Hasil Pengamatan terhadap Urea [ Co(NH2)2 ] 1 molal


Prosedur Kerja Hasil Pengamatan

1. Menyiapkan campuran
pembeku dengan cara Tabel Pengamatan terhadap Urea 1 m
menempatkan 100 gram es,
Waktu (s) Suhu (0C)
20 gram NaCl, dan 10 mL air
0s 290C
dalam beacker glass 250 mL 60 s 140C
dan mengaduknya 120 s 90C
180 s 50C
1
2. Mengisi volume tabung 240 s 00C
3 300 s -20C
reaksi 360 s -20C
420 s -20C
3. Memasukkan thermometer
ke dalam air dan
Tf0 = 00C Tf = Tf0 - Tf1
menentukan suhu awalnya Tf1 = Kf . m
Tf1 = -20C
4. Meletakkan tabung reaksi
pada alat pendingin dan
Tf = 0 – (-2)
memulai penghitungan
Tf = 20C
waktu dengan stopwatch
5. Mencatat suhu setiap 60
sekon
6. Setelah suhu tidak turun lagi,
teruskan pengamatan selama
3 menit agar hasilnya akurat
7. Menentukan titik beku Urea [
Co(NH2)2 ] 1 molal

c. Prosedur Kerja dan Hasil Pengamatan terhadap Urea [ Co(NH2)2 ] 2 molal


Prosedur Kerja Hasil Pengamatan

1. Menyiapkan campuran
pembeku dengan cara Tabel Pengamatan terhadap Urea 2 m
menempatkan 100 gram es, Waktu
Suhu (0C)
20 gram NaCl, dan 10 mL air (s)
0s 270C
dalam beacker glass 250 mL
60 s 90C
dan mengaduknya 120 s 50C
1 180 s 00C
2. Mengisi volume tabung 240 s -50C
3
300 s -50C
reaksi 360 s -50C
3. Memasukkan thermometer 420 s -50C
ke dalam air dan
Tf0 = 00C Tf = Tf0 - Tf1
menentukan suhu awalnya
Tf1 = -50C Tf1 = Kf . m
4. Meletakkan tabung reaksi
pada alat pendingin dan
Tf = 0 – (-5)
memulai penghitungan
Tf = 50C
waktu dengan stopwatch
5. Mencatat suhu setiap 60
sekon
6. Setelah suhu tidak turun lagi,
teruskan pengamatan selama
3 menit agar hasilnya akurat
7. Menentukan titik beku Urea [
Co(NH2)2 ] 2 molal

d. Prosedur Kerja dan Hasil Pengamatan terhadap Garam dapur (NaCl) 1


molal
Prosedur Kerja Hasil Pengamatan

8. Menyiapkan campuran
pembeku dengan cara Tabel Pengamatan terhadap NaCl 1 m
menempatkan 100 gram es, Waktu
Suhu (0C)
20 gram NaCl, dan 10 mL air (s)
0s 270C
dalam beacker glass 250 mL
60 s 140C
dan mengaduknya 120 s 60C
1 180 s 00C
9. Mengisi volume tabung 240 s -50C
3
300 s -70C
reaksi 360 s -70C
10. Memasukkan thermometer 420 s -70C
ke dalam air dan
Tf0 = 00C Tf = Tf0 - Tf1
menentukan suhu awalnya
Tf1 = -70C Tf1 = Kf . m
11. Meletakkan tabung reaksi
pada alat pendingin dan
Tf = 0 – (-7)
memulai penghitungan
Tf = 70C
waktu dengan stopwatch
12. Mencatat suhu setiap 60
sekon
13. Setelah suhu tidak turun lagi,
teruskan pengamatan selama
3 menit agar hasilnya akurat
14. Menentukan titik beku NaCl
2 molal

Rumus untuk menghitung titik beku larutan yaitu :

Tf = Tf0 - Tf1


Tf1 = Kf . m (non elektrolit)
Tf1 = Kf . m . i (elektrolit)

V. JAWABAN PERTANYAAN
1. Titik beku air (pelarut murni) = 00C
Titik beku larutan urea 1 molal = -20C
Titik beku larutan urea 2 molal = -50C
Titik beku larutan NaCl 1 molal = -70C
2. Lebih rendah titik beku larutan urea 2 molal
3. a. Penurunan titik beku larutan urea 1 molal  20C
b. Penurunan titik beku larutan urea 2 molal  50C
c. Penurunan titik beku larutan NaCl 1 molal  70C
4. Semakin tinggi konsentrasi, maka Tb semakin besar pula sehingga titik
beku larutan semakin rendah.

VI. KESIMPULAN
Titik beku larutan dipengaruhi oleh konsentrasi larutan, tetapan titik
beku pelarut murni, dan bagi larutan elektrolit, ada factor lain yang
mempengaruhi, yaitu factor van’t hoft. Selisih antara titik beku pelarut
murni (air) dengan titik beku larutan disebut Tb. Semakin besar Tb, maka
titik beku larutan semakin rendah. Titik beku larutan lebih rendah
dibandingkan dengan titik beku pelarut.
Contoh,  air murni pada suhu 0oC. Pada suhu ini air berada pada 
kesetimbangan antara fasa cair dan fasa padat.  Artinya kecepatan air
berubah wujud dari cair ke padat atau sebaliknya adalah sama, sehingga
bisa dikatakan fasa cair dan fasa padat pada kondisi ini memiliki  potensial
kimia yang sama, atau dengan kata lain tingkat energi kedua fasa adalah
sama.
Besarnya potensial kimia dipengaruhi oleh temperatur, jadi pada suhu
tertentu potensial kimia fasa padat atau fasa cair akan lebih rendah
daripada yag lain, fasa yang memiliki potensial kimia yang lebih rendah
secara energi lebih disukai, misalnya pada suhu 2 oC fasa cair memiliki
potensial kimia yang lebih rendah dibanding fasa padat sehingga pada suhu
ini maka air cenderung berada pada fasa cair, sebaliknya pada suhu -1 oC
fasa padat memiliki potensial kimia yang lebih rendah sehingga pada suhu
ini air cenderung berada pada fasa padat.
Apabila ke dalam air murni kita larutkan garam dan kemudian suhunya
kita turunkan sedikit demi sedikit, maka dengan berjalannya waktu
pendinginan maka perlahan-lahan sebagian larutan akan berubah menjadi
fasa padat hingga pada suhu tertentu akan berubah menjadi fasa padat
secara keseluruhan. Pada umumnya zat terlarut lebih suka berada pada fasa
cair dibandingkan dengan fasa padat, akibatnya pada saat proses
pendinginan berlangsung larutan akan mempertahankan fasanya dalam
keadaan cair, sebab secara energi larutan lebih suka berada pada fasa cair
dibandingkan dengan fasa padat, hal ini menyebabkan potensial kimia
pelarut dalam fasa cair akan lebih rendah (turun) sedangkan potensial kimia
pelarut dalam fasa padat tidak terpengaruh.
Maka akan lebih banyak energi yang diperlukan untuk mengubah larutan
menjadi fasa padat karena titik bekunya menjadi lebih rendah dibandingkan
dengan pelarut murninya. Inilah sebab mengapa adanya zat terlarut akan
menurunkan titk beku larutannya

VII. DAFTAR PUSTAKA

www.belajarkimia.com

www.chem-is-try.org

Purba, Michael. 2006. Kimia untuk SMA Kelas XII Jilid 1. Jakarta.
Erlangga

www.e-dukasi.net