Anda di halaman 1dari 2

BERTASBIH

 Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti lubang (misykat) yang di
dalamnya ada pelita (misbah); pelita itu di dalam kaca; kaca itu bagai bintang berkilau; nyalanya
bersumber dari (minyak) pohon penuh berkah; pohon zaitun (yang tumbuh) tidak di timur dan
tidak di barat; yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walau tak tersentuh api.
 Cahaya di atas cahaya.
Allah menunjukkan cahaya-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
(Demikianlah) Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Allah Maha
Mengetahui segalanya.
(Cahaya itu) di dalam rumah-rumah (yang) diizinkan Allah (digunakan) untuk menyebut dan
meninggikan nama-Nya di dalamnya; bertasbih kepada-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan
petang.
(Yaitu) orang-orang yang tidak lalai oleh perdagangan dan jual beli (dan senantiasa) mengingat
Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan mereka pun takut kepada hari (akhir) ketika
hati terguncang dan mata terbalik-balik. (QS Al-Nuur [24]:35-37)

 Pohon penuh berkah,


pohon zaitun (yang tumbuh)
tidak di timur dan tidak di barat;
dengan demikian pagi ia memperoleh sinar matahari yang berlimpah dari timur, dan senja pun
memperoleh sinar matahari yang banyak dari barat kala surya jelang tenggelam.
Maka disebutlah;
minyaknya saja hampir-hampir menerangi
walau tak tersentuh api.
 Sebagian penafsir memaknai rumah-rumah (buyuutin)sebagai masjid-masjid. Benar, tetapi
dalam makna harfiah, buyuutin adalah rumah-rumah (kediaman); sebab bukankah di rumah-
rumah kita pun kita diizinkan menyebut dan meninggikan nama-Nya. Jika yang dimaksudkan
adalah masjid, tentu Allah menyatakan masajida,bukan buyuutin.
 Mereka yang menyebut dan meninggikan nama-Nya itu adalah kita, yang mampu
menyeimbangkan antara kehidupan dunia (perdagangan dan jual beli) dengan kehidupan akhirat.
Sehingga sesibuk-sibuknya bisnis dan aktifitas yang dijalani, tiba giliran shalat, kita bersegera
meninggalkan semua aktifitas duniawi itu. Dengan demikian, kita termasuk "orang-orang yang
tidak lalai".
 Dalam ayat ini, mengingat Allah (zikr)dibedakan dengan mendirikan shalat, sehingga dapat
disimpulkan, mengingat Allah yang dimaksud adalah zikir di luar shalat.Karena ayat sebelumnya
menyebut yusabbihu, maka itulah yang dimaksud dengan zikr, yaitu : bertasbih.
 Ayat yang sama juga menunjukkan ada penyejajaran antara mengingat Allah,dengan
mendirikan shalat,menunaikan zakat dan takut kepada hari akhir. Kesimpulannya, zikir,antara lain
dengan bertasbih, memiliki kedudukan yang sejajar dengan shalat,zakat, dan keyakinan akan hari
kiamat. Dengan demikian, zikir juga adalah amalan wajib.
 Cahaya di atas cahaya (nuurun 'ala nuurin) akan ditunjukkan Allah kepada siapa saja yang Dia
kehendaki. Meski disebut "siapa saja" tentulah bukan ke sembarang orang.Tetapi kepada kita
yang mampu,tidak saja mendirikan shalat,menunaikan zakat dan meyakini hari kiamat, sekaligus
mampu mewajibkan kepada diri sendiri untuk senantiasa menyebut dan meninggikan nama-Nya
dengan bertasbih di waktu pagi dan petang. Subhanallah wa bihamdihi, adalah lafaz tasbih yang
dipilihkan Allah sendiri kepada para malaikat dan hamba-hamba-Nya (Shahih Muslim dari Abu
Dzar r.a. dalam Al-Targhib wa al-Tarhib, jilid 2, h.409).
 Aku berlindung kepada Allah
dari kemungkinan kesalahan memahami
yang Dia maksudkan!