Anda di halaman 1dari 7

1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Laut Indonesia memeiliki luas lebih kurang 5,6 juta km2 dengan garis pantai
sepanjanag 81.000 km dengan pontensi sumber daya terutama perikanan laut yang
cukup besar baik dari kualitas maupun elevensitasnya, selain itu Indonesia tetap
berhak untuk berpatisispasi diluas batas 200 ml dan 2EE,serta pengelolahan dan
penmanfaatan kekayaan alam dasar laut perairan internasional di luar batas
kontinen. (Prajitna,2009).

Oceanografi dapat didfinisikan secara sederhana sebagai suatu ilmu yanag


mempelajari lautan ilmu ini semata-mata bukanlah merupakan suatu ilmu yang
murni,tetapi merupakan perpaduan dari bermacam-macam ilmu dasar yang
lain.ilmu-ilmu yang lain termasuk didalamnya ialah ilmu tanah (geology),ilmu bumi
(geography),ilmu fisika (physic), ilmu kimia (cimestry), ilmu hayat (biology), dan ilmu
iklim (meterology). (Hutabarat dan evans,2008).

Oceanografi berasal dari basa yunani, oceanos yang berati laut dan graphas
yang berati gambaran atau diskriptis secara sederhana ,oceanografi dapat diartikan
sebagai gambaran atau diskripsi tentang laut.(Wikipedia,2009).

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dari pratikum oceanografi yaitu agar mahasiswa dapat mengetahui


factor-faktor kualitas air seperti ph,suhu,salinitas,kecerahan,sifat eptis
air,gelombang,serta pasang surut.

Tujuan dilaksanakan praktikum oceanografi yaitu agar mahasiswa dapat


melaksankan pengukuran kualitas laut baik dari parameter fisika dan parameter
kimia.

1.3 Waktu dan Tempat

Praktikum oceanografi dilaksanakan pada hari sabtu,tanggal 22 mei


2010,pada pukul 07.00-17.00 WIB. Dipelabuhan Tanjung Tenbaga Kabupaten
Probolinggo, Jawa Timur.

1
2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perairan Laut

Air di laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material
lainnya seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-
partikel tak terlarut. Sifat-sifat fisis utama air laut ditentukan oleh 96,5%, air murni
(Subgio, 2010).

Lingkungan laut selalu berubah atau dinamis. Cepat atau lambat perubahan
itu sama-sama mempunyai pengaruh, yakni kedua sifat perubahan tersebut akan
mengubah intensitas faktor-faktor lingkungan. Perubahan apapun yang terjadi akan
baik bagi suatu kehidupan dan buruk bagi kehidupan yang lain. Faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi kehidupan di laut diantaranya faktor lingkungan. Faktor-faktor
lingkungan maupun air, salinitas, suhu dan cahaya (Rumimohtarto, 2009).

2.2. Parameter Fisika

2.2.1. Suhu

Suhu merupakan salah satu faktor pembatas terhadap ikan-ikan atau biota
akuatik. Suhu dapat mengendalikan fungsi fisiologis organisme dan berperan secara
langsung atau tidak langsung bersama dengan komponen kualitas air lainnya
mempengaruhi kualitas akuatik. Temperatur air mengendalikan spawning dan
natching. Mengenalikan aktivitas, memacu atau menghambat pertumbuhan dan
perkembangan, menyebabkan air menjadi panas atau dingin sekali secara
mendadak. Temperatur air juga mempengaruhi berbagai macam reaksi fisika dan
kimiawi di dalam lingkungan akuatik (Sovisa, 2009).

Menurut Nontji (1987) suhu air permukaan di perairan nusantara kita


umumnya berkisar antara 28 – 31oC. Suhu air di dekat pantai biasanya sedikit lebih
tinggi daripada yang di lepas pantai.

2
Peningkatan suhu perairan mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi
kimia, evaporasi dan valurisasi. Peningkatan suhu juga menyebabkan penurunan
gas di dalam air, misalnya gas O2, CO2, N2, CH4 dan sebagainya (Hassam Efendi,
2009).

2.2.2. Kecepatan Arus

Arus adalah gerakan mengalir suatu massa air ke arah tertentu. Arus ini bisa
sehangat 30oC atau sedingin -2oC, tergantung darimana air tersebut berasal, dan
lebar arus bisa lebih dari 60 km. Sebagian besar arus bergerak dengan kecepatan
10 km per hari, meskipun untuk beberapa jenis arus dapat bergerak lebih cepat.
Arus membawa banyak sekali air ke seluruh penjuru bumi, mempengaruhi dan
membantu mengatur iklim. Arus terdapat di permukaan maupun di samudera yang
dalam. Arus mempunyai arti yang sangat penting dalam menentukan arah pelayaran
bagi kapan (Kurniawan et,al., 2009).

Arus laut (sea current) adalah gerakan massa air laut dari tempat ke tempat
lain baik secara vertikal (gerakan ke atas) maupun secara horisontal (gerakan ke
samping). Menurut letaknya arus dibedakan menjadi dua yaitu arus atas dan arus
bawah. Arus atas adalah arus yang bergerak di permukaan laut, sedangkan arus
bawah adalah arus yang bergerak di bawah permukaan laut (Hanafi, 2009).

2.2.3. Kecerahan dan Sifat Optis Air

 Kecerahan
Dengan mengetahui kecerahan suatu perairan, kita dapat mengetahui
sampai dimana masih ada kemungkinan terjadi proses asimilasi dalam air, lapiran-
lapisan manakah yang paling keruh, yang agak keruh dan yang paling keruh (Kordi
dan Andi, 2007).

3
Faktor kecerahan ini berhubungan dengan penetrasi cahaya. Kecerahan
perairan tinggi, berarti penetrasi cahaya yang tinggi dan ideal untuk memicu
produktivitas perairan yang tinggi pula (Dedi, 2009).

 Sifat Optis Air


 Sifat optis air sangat berhubungan dengan intensitas matahari, hal ini
berkaitan dengan besar sudut penyinaran yang terbentuk. Cahaya yang
tiba di permukaan air sebagian akan dipantulkan, sebagian akan
diteruskan. Pada permukaan laut yang bergelombang cahaya sebagian
dipantulkan dihamparkan, sinar yang diteruskan sebagian akan
diabsorbsi air (Naylor, 2002).
 Kekeruhan menggambarkan sifat optis air yang ditentukan berdasarkan
benyaknya cahaya yang diserap oleh bahan – bahan yang terdapat
dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh bahan organik dan anorganik
yang tersuspensi dan terlarut, maupun bahan anorganik dan organic
yang berupa plankton dan mikroorganisme lain (Ansori, 2010).

2.2.4. Pasang Surut

Pasang surut adalah gerakan naik turunnya permukaan laut (sea level)
secara periodik yang ditimbulkan oleh adanya gaya tarik menarik dari benda-benda
angkasa terutama matahari dan bulan terhadap massa air bumi (Kurniawan et,al.,
2008).

Pasang surut air laut (ocean side) merupakan bentuk gerakan air laut yang
terjadi karena pengaruh gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi. Hal ini
didasarkan pada bunyi hukum yaitu “dua benda akan terjadi saling tarik menarik
dengan kekuatan yang berbanding terbalik dengan pagkat dua jaraknya”.
Berdasarkan hukum tersebut berarti makin jauh jaraknya makin kecil daya tariknya,
karena jarak dari bumi ke matahari lebih jauh daripda jarak ke bulan. Maka pasang
surut permukaan air laut lebih banyak dipengaruhi oleh bulan (Hanafi, 2009).

4
2.2.5. Gelombang

Gelombang laut atau ombak merupakan gerakan air laut yang paling umum
dan mudah diamati. Helmoles menerangkan prinsip dasar terjadinya gelombang laut
sebagai berikut, “jika ada dua massa benda kerapatannya (densitasnya) bergesekan
satu sama lain, maka pada bidang gerakannya akan terbentuk gelombang”.
Gelombang terjadi karena beberapa sebab, antara lain angin, menabrak pantai, atau
gempa. Berdasarkan gerakan permukaannya, gelombang dapat dikelompokkan
sebagai berikut: gerak osilasi, gerak transiasi, gerak swash dan back swash (Hanafi,
2009).

Menurut Hutabarat dan Stewart (2008), gelombang selalu menimbulkan


sebuah ayunan air yang bergerak tanpa henti-hentinya pada lapisan permukaan laut
dan jarang dalam keadaan sama sekali diam. Hembusan angin-angin sepoi-sepoi
pada cuaca yang tenang sekalipun sudah cukup dapat menimbulkan riak
gelombang. Sebaliknya dalam keadaan dimana terjadi badai yang besar dapat
menimbulkan gelombang besar yang dapat mengakibatkan suatu kerusakan hebat
pada kapal-kapal atau daeah-daearah pantai.

2.3. Parameter Kimia

2.3.1. pH

pH adalah cerminan dan derajaf keasaman yang diukur dari jumlah ion
hidrogen menggunakan rumus umum pH = -log (H+). Air murni terdiri dari ion H+ dan
OH- dalam jumlah berimbang hingga pH air murni biasa. Makin banyak ion OH-
dalam cairan makin rendah ion H+ dan makin tinggi pH. Cairan demikian disebut
cairan alkalis. Sebaliknya makin banyak ion H+ makin rendah pH dan cairan tersebut
bersifat asam (Andayani, 2005).

Air laut mempunyai kemampuan menyangga yang sangat besar untuk


mencegah perubahan pH. Perubahan pH sedikit saja dan pH alami akan
membeerikan petunjuk tergannggunya sistem penyangga. Hal ini dapat
menimbulkan perubahan dan ketidakseimbangan kadar CO2 yang membahayakan

5
kehidupan biota laut. pH air laut permukaan di Indonesia umumnya bervariasi dari
lokasi ke lokasi antara 6,0 – 8,5 (SMK Negeri 3 Kimia Madiun, 2009).

2.3.2. Salinitas

Secara ideal, salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam


gram pada setiap kilogram air laut. Secara praktis, adalah susah untuk mengukur
salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan
meninjau komponen yang terpenting saja yaitu klorida (Cl). Kandungan klorida
diterapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam garam ion klorida pada 1 kg air
laut jika semua halogen digantikan kandungan oleh klorida. Penetapan ini
mencerminkan proses kimiawi titrasi untuk menentukan kandungan klorida
(Kurniawan et.al, 2008).

Di perairan samudera, salinitas biasanya berkisar antara 34 – 35%. Di


perairan pantai terjadi pengenceran, misalnya karena pengaruh aliran sungai,
salinitas bisa turun rendah. Sebaliknya di daerah dengan penguapan yang sangat
kuat, salinitas bisa meningkat tinggi (Naniji, 1987).

2.3.3. DO (Dissolved Oxygen)

Menurut Kordi dan Andi (2007) oksigen adalah salah satu jenis gas yang
terlarut di dalam air dengan jumlah yang sangat banyak, yaitu menempati urutan
kedua setelah nitrogen. Oksigen merupakan salah satu faktor pembatas, sehingga
apabila ketersediaannya di dalam air tidak mencukupi kehidupan biota budidaya,
maka segala aktivitas biota akan terhambat.

Oksigen adalah salah satu unsur kimia penunjang utama kehidupan. Dalam
air laut, oksigen dimanfaatkan oleh organisme perairan untuk proses respirasi dan
untuk menguraikan zat organik oleh mikroorganisme. Ketiadaan oksigen dalam
suatu perairan akan menyebabkan organisme dalam perairan tersebut tidak dapat
hidup dalam waktu yang lama. Oleh karena itu salah satu cara untuk menjaga

6
kelestarian kehidupan dalam laut adalah dengan cara memantau kadar oksigen
dalam perairan tersebut (Hutagalung et.al, 1985).