Anda di halaman 1dari 6

Diambil dari mailing list assunnah@yahoogroups.

com

Message: 1
Date: Sat, 16 Apr 2005 07:31:38 +0700
From: "Sigit, Iman" <iman.sigit@sulzer.com>
Subject: >>Enam Tahun di Rumah Syaikh Albani<<

Dikutip dari www.salafi.or.id <http://www.salafi.or.id/>

6 Tahun di Rumah Syaikh Albani


Penulis: Abu Abdurrahman Muhammad Al Khatib

Pada hari ini sabtu 2 oktober 1999 ribuan bahkan jutaan orang menangis, mereka
menangis karena mendengar sebuah berita duka, yang merupakan musibah besar dengan
wafatnya seorang Imam besar.

________________________________

Berita duka ini sampai kepadaku seusai shalat ashar hari ini dari istri beliau rahimahullah.
Dengan serta merta aku menuju rumah sakit tempat beliau dirawat. Disana aku jumpai
istri dan putra beliau Abdul Lathif yang menemani beliau selama masa perawatan.
Setelah masuk kamar tiba-tiba kusaksikan dihadapanku jasad Syaikh rahimahullah yang
telah ditutup dengan selembar kain, dibaringkan diatas sebuah tempat tidur. Air mataku
mengalir tidak mampu menahan tangisan atas kepergiannya. Kubuka wajahnya yang
bercahaya lalu kucium keningnya. Kami mengangkat jasadnya untuk dimuat disebuah
mobil milik salah seorang teman, lalu membawanya ke rumah duka. Ikut bersama kami
di mobil jenazah, putra beliau Abdul Lathif. Ia sangat sedih dan banyak mengucurkan air
mata. Kami menghibur dan menasihatinya untuk bersabar. Ia hanya memandang kami
sedang kedua matanya meneteskan air mata yang banyak. Abdul Lathif menceritakan
kondisi ayahnya sehari sebelum wafat, ia berkata : “Hingga kemarin dalam kondisi
sakitnya yang semakin parah ayah masih sempat berkata :”Berikan kitab shahih sunan
Abi Dawud!!”

Aku katakan : “Subhanallah (Maha suci Allah), semoga Allah swt membalas kebaikanmu
ya Syaikh. Sungguh engkau telah hidup sepanjang usiamu, siang dan malam, engkau
membela Sunnah Rasul saw hingga akhir hidupmu. Dalam kondisi tidak mampu
menegakkan punggungmu, aku melihatmu menyuruh putra atau cucu-cucumu menulis,
tanpa mengenal sakit dan tidak pula mengeluhkan kesakitanmu. Semua itu tiada lain
kecuali anugerah dan keutamaan dari Allah swt yang diberikan kepadamu, maka Dia-lah
yang maha pemberi karunia dan keutamaan”.

Sesampainya kami di rumah Syaikh, di sana kami jumpai beberapa teman yang telah
mendahului kami dan mulailah para ikhwah berdatangan dari berbagai pelosok kota
Amman , tempat Syaikh berdomisili selama lebih dari delapan belas tahun.
Kami bergegas mempersiapkan jenazah Syaikh rahimahullah, memandikan dan
mengafaninya. Begitu selesai menyiapkan, kami mengeluarkan dan meletakkannya di
sebuah ruangan besar. Seketika rumah Syaikh rahimahullah telah penuh sesak oleh
pelayat yang terdiri dari para pecinta dan murid-muridnya. Syaikh Abu Malik
mengisyaratkan kepada kami agar wajah Syaikh tidak ditutup sehingga para pelayat
melepaskan kepergiannya.

Mereka pun segera mencium kening Syaikh sebagai tanda perpisahan dengannya . lalu
jenazah Syaikh disiapkan untuk dishalatkan. Para ikhwan yang bermusyawarah tentang
tempat pemakamannya, aku katakan kepada mereka bahwa Syaikh rahimahullah
berulang-ulang menyebutkan kehendaknya di depanku, beliau ingin dikuburkan
dipemakaman yang terletak pada sisi jalan yang menuju ke rumahnya agar tetap
mendapat ucapan “salam” dari saudara-saudara dan pecintanya. Di antara wasiat beliau
sebagaimana yang dikatakan oleh putranya Abdul Lathif, agar jenazahnya dibawa dari
rumahnya ketempat pemakaman dengan cara dipikul, setelah para pelayat melepaskan
kepergian beliau, kami segera keluar dari rumah untuk menshalatkannya.

Demikian sang Imam dan tokoh ini kembali kepada Rabbnya Tabaraka wata`ala dengan
meninggalkan warisan ilmu yang bermanfaat, tergores di sela-sela ratusan karya tulisnya
yang kemudian Allah mentakdirkannya diterima di seantero dunia bahkan sebagiannya
telah diterjemahkan ke beragam bahasa di dunia ini.

Demikian pula beliau telah meninggalkan sejumlah muridnya yang berjalan diatas
manhaj salaf yang dianutnya selama hidup beliau. Semoga dengan pertolongan Allah swt
merekapun akan berjalan diatasnya hingga datangnya ajal.

Aku mengenal beliau rahimahullah semenjak 23 tahun yang lalu. Usiaku pada saat itu
menginjak empat belas tahun.

Sungguh Allah swt telah menganugerahi aku nikmat dan karunia-Nya sejak aku
mengenal manhaj salaf dan mencintainya. Tidak pernah kutinggalkan setiap jalan yang
menunjukku kepadanya, kecuali kutempuhnya. Aku berkenalan dengan murid-murid
syaikh, duduk dan berteman dengan mereka. Aku mulai membeli kitab-kitab syaikh dan
kitab yang pertama kubeli adalah “shifat shalat Nabi saw“. Aku selalu menanti
kedatangan Syaikh dari negeri Syam sebagaimana biasa untuk menyampaikan kajian-
kajian.

Pada tahun 1980, Syaikh berhijrah dari negeri Siria ke Amman (Yordania). Yang
kemudian menjadi tempat domisilinya. Beliau memilih tinggal di perkampungan yang
sederhana. Ia pernah ditawari sebidang tanah oleh seorang kaya yang terletak di sekitar
kota Amman , namun tetap ditolaknya dan bersikeras untuk tetap tinggal di tengah–
tengah kaum muslimin yang berekonomi lemah. Kota Amman pun gembira atas
kedatangan Syaikh sebagaimana para pecintanya. Selama enam tahun telah kulalui
bersama Syaikh di rumahnya, setiap hari selalu kudapati ilmu sebagaimana aku pun telah
belajar darinya tentang akhlaq. Maka apakah yang hendak kuceritakan ?
Syaikh rahimahullah adalah seorang yang penuh kasih sayang dan belas kasihan. Sekali
waktu pernah beliau katakan padaku: “Hai Muhammad, engkau tidak memiliki kendaraan
(mobil), sementara putra-putrimu perlu beristirahat (bertamasya), maka siapkan hari apa
saja yang kamu inginkan, kita akan pergi bersama agar kamu bersenang-senang bersama
mereka. Dua hari kemudian, kami siapkan apa yang diperlukan, lalu keluar bersama
syaikh dan istrinya ke sebuah tempat tamasya di luar kota Amman . Dan beliau membawa
makanan serta beraneka buah-buahan sehingga anak-anakku sangat gembira.

Suatu ketika aku pernah bekerja dan memperbaki pada bagian atap rumah Syaikh. Aku
mengangkat dan memindahkan sebuah kayu besar, hingga aku merasa keberatan dan
hampir terjatuh dari atap rumah, kalau saja bukan karena karunia Allah swt padaku.

Mendengar peristiwa itu, Syaikh segera memuji Allah swt atas keselamatanku dan
langsung menyungkur bersujud kepada Allah swt mensyukuri-Nya, sedang kedua
matanya mengucurkan air mata, menangisi kejadian ini. Lalu dikeluarkan dari sakunya
sebanyak seratus dinar dan diberikannya kepadaku.

Syaikh ‫ رحمه ال‬adalah seorang yang berperangai wara` yaitu selalu menjauhkan diri dari
perbuatan yang tidak bermanfaat dan syubhat. Pernah suatu ketika beliau menjadi
penengah bagi seorang yang ingin bekerja di salah satu perusahaan persero. Selang
beberapa hari, orang tersebut mengetuk pintu rumah beliau sambil membawa sejumlah
buah zaitun dan menuturkan kepadaku : “Ini adalah hadiah untuk Syaikh“, pada waktu itu
Syaikh sedang tidur.

Setelah bangun dari tidurnya kusampaikan amanat orang itu. Dengan serta merta Syaikh
bertutur: “Tidak halal bagi kita untuk memakannya, karena telah disabdakan oleh
Rasulullah saw” (yang artinya) :

“Barang siapa yang menolong seseorang dengan suatu pertolongan, lalu diberikan
kepadanya hadiah dan diterimanya, berarti dia telah mendatangi salah satu pintu riba”.

Maka kami segera membagi-bagikannya kepada para fuqara`.

Kedermawanan Syaikh Al-Albani rahimahullah

Sering kali aku anjurkan Syaikh untuk membangun masjid, atau memberi kepada seorang
fakir atau para janda atau seorang peminta-minta, dan tidak pernah beliau menolak.
Banyak cerita dalam masalah ini di antaranya : “Pernah datang kepada beliau seorang
penderita sakit yang pengobatannya dengan menggunakan suntikan. Ia harus disuntik
sebanyak 15 kali dengan biaya setiap suntikan 20 dinar. Syaikh menyuruh aku untuk
meneliti kebenaran dakwaannya. Setelah mengetahui kebenarannya, beliau memberi
kepadaku biaya yang dibutuhkan lalu kubelikan suntikan tersebut”.

Ketika hendak membangun rumahku aku memerlukan dana, maka kudatangi beberapa
rumah dan mengetuk pintu-pintu mereka (untuk meminta pinjaman, pent) namun
hasilnya nihil. Aku teringat seorang yang cukup mampu, dia dikenal oleh Syaikh. Maka
kukatakan kepada istrinya: “ Tolong sampaikan kepada Syaikh jika beliau berkenan
menjadi perantaraku agar orang itu memberiku pinjaman. Keesokan harinya ketika aku
sedang duduk dikantorku. Syaikh berkata : “Ya Muhammad! engkau menghendaki agar
aku menjadi penengahmu terhadap si fulan agar dia memberimu pinjaman?”. Aku
bertukas : “benar”. Lalu kata Syaikh rahimahullah : “Aku lebih utama terhadapmu dari
pada orang itu, aku berikan kepadamu seberapa yang kamu perlukan”. Aku pun menangis
lalu kukatakan padanya: “Ya Syaikh kami, semoga Allah swt membalas kebaikanmu”.
Demi Allah swt tidak pernah terdetik dalam hatiku bahwa apa yang kucari akan kudapati
dari Syaikh karena aku tidak pernah melihat apa yang ada padanya. Ketika dana pinjaman
itu diberikan padaku beliau berkata: “Yang seribu dinar ini sebagai hadiah untukmu, tidak
terhitung sebagai pinjaman. Aku pun menangis untuk kedua kalinya, semoga Allah swt
membalasnya rahimahullah.

Kisah yang lain:

Belum lama ini ketika beliau berada di rumah sakit, datang seorang wanita mengadu
padanya tentang terjeratnya dalam cengkraman bunga bank. Karena ia mengambil
pinjaman dari salah satu bank sebanyak 9000 dinar, dan bunganya telah melipatgandakan
hutang tersebut. Ia datang kepada Syaikh, untuk meminta bantuan agar terlepas darinya.
Sebagaimana kebiasaannya, Syaikh meminta kepadaku untuk meneliti kasus ini. Setelah
diteliti dengan seksama kebenarannya, beliau menyetujui untuk meminjamkannya dana
sebesar 7000 dinar. Wanita itu datang bersama putra-putranya. Lalu Syaikh berkata :
“Yang seribu dinar sebagai hadiah dan yang selebihnya sebagai pinjaman yang
dibutuhkan”. Alangkah girangnya wanita itu dan anak-anaknya. Mereka mendo`akan
Syaikh rahimahullah, demikian pula aku ikut mendo`akannya “semoga Allah swt
membalas kebaikanmu ya Syaikh”.

Kemudian Syaikh memandang kami seraya berkata:

"Yaa ikwan wallaahi inni atamanna an ashbaha milyuuniiran, hatta ukhrijaaluluufa min
amstali hadzihi almar'a min kuyuudi arriba"

“Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, aku berangan-angan menjadi seorang “milyuner”


hingga dapat melepaskan ribuan muslim yang senasib dengan wanita ini dari jeratan riba”
.

Kelembutan Dan Belas Kasihan Syaikh rahimahullah

Pernah suatu ketika istriku hampir melahirkan. Sementara Syaikh selalu bertanya
tentangnya. Sehari sebelum istriku melahirkan bayinya, tatkala aku akan meninggalkan
perpustakaan, beliau berkata kepadaku: ”Silahkan ambil mobil ummul Fadhl [1] karena
mungkin kamu memerlukannya di tengah malam. Mobil itu kubawa selama dua hari dan
ternyata benar, saat melahirkan tiba ditengah malam. Aku keluar dari rumahku, aku tidak
tahu hendak pergi kemana?? setelah berupaya mencari seorang bidan dan tidak
kutemukan, terfikir olehku bahwa istri Syaikh rahimahullah memiliki pengalaman dalam
hal kelahiran. Aku segera menuju ke rumah beliau, sedang aku dirundung keragu-raguan
karena khawatir akan mengganggu dan mengejutkannya di saat-saat seperti ini. Aku
mengetuk pintu rumahnya, beliaupun menjawabku, lalu kusampaikan kepadanya
permohonan maafku yang sebesar-besarnya dan memberitahukan keperluanku. Beliau
menjawabku sambil bercanda : “Mengapa kamu tidak lakukan seperti Syaikhmu?
sungguh aku telah membantu sendiri istriku ketika melahirkan”. Lalu beliau melanjukkan
dengan mengucapkan: “sebentar !!! aku akan membangunkan Ummu Fadhl, dia akan
pergi bersamaku”. Lalu kami pun diberi oleh Allah swt seorang putra bernama Abdullah.

Mobil Syikh Al-Albani

Adapun mobil beliau ibarat sekor unta yang selalu mengantar teman-teman kami. Beliau
mengangkut mereka dan membawanya dari suatu tempat ke tempat yang lain. Beliau
katakan padaku : “Ya Muhammad, ayahku rahimahullah pernah berkata :

likulli syaiin zakaatun, wazakaatus sayaarati : hamlunnaasi biha

“setiap sesuatu ada zakatnya, dan zakat mobil adalah mengangkut orang”

Mutiara Hikmah Syaikh Al Albani rahimahullah

Itmaamul ma'ruf khairun minal bad i bihi

“Menyempurnakan suatu yang ma`ruf lebih baik dari pada memulainya”.

Ini adalah mutiara hikmah yang kami ambil dari beliau, dan alangkah indahnya hikmah
ini.

Syaikh Al-Albani seorang yang selalu memenuhi kebutuhan saudara-saudaranya,


sehingga seorang merasa cukup dengan sesuatu dari bantuan beliau. Syaikh merasa
senang dan selalu bertekad untuk menyempurnakan bantuannya. Namun orang yang
dibantu segera berkata : “Menyempurnakan sesuatu yang ma’ruf lebih baik dari
memulainya”.

Banyak ilmu yang kami dapat dari mutiara hikmah ini dalam bermu`amalah dengan
saudara-saudara kami.

Inilah hal penting yang dapat kusajikan untuk para pembaca dari sela-sela kehidupanku
bersama beliau selam 6 tahun. Bisa jadi musibah kematian Syaikh membuatku lupa akan
banyak hal.

Saya yakin bahwasanya banyak peristiwa dan sikap-sikap Syaikh yang wajib kucatat
sebagai sebuah catatan bersejarah untuk memenuhi hak-hak Syaikh rahimahullah .

Semoga Allah swt merahmatimu wahai Syaikh kami, dengan rahmat yang luas.
Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'uun

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali”

[1] Ummul fadhl adalah istri Al-Albani yang keempat.

Maraji':
Majalah al-Ashalah 23 hal: 55-58