Anda di halaman 1dari 39

ASRI NURVITA SARI

KHOLIDATUL HUSNA
M.EDI SUTANTO
SAKINAH GINA
WILDIASTUTI
YASIN

PEMBIMBING:
DR. ARFAN MAPALILU, SPS
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta
STATUS NEUROLOGIS
IDENTITAS PASIEN
 Nama : Tn. K
 Jenis Kelamin : Laki laki
 Umur : 62 Tahun
 Pekerjaan : Pensiunan
 Agama : Islam
 Status Perkawinan : Duda
 Alamat : Komplek Bea Cukai No. 40
Pisangan Ciputat Tangerang
 Masuk RS : 10 Agustus 2009
ANAMNESIS
KELUHAN UTAMA
Penurunan kesadaran tiba-tiba 3 jam sebelum
masuk rumah sakit (SMRS).

KELUHAN TAMBAHAN
Sakit kepala, muntah menyembur.
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

 Pasien dibawa ke IRD RSUP Fatmawati karena


penurunan kesadaran tiba-tiba 3 jam SMRS. Awalnya,
pasien mengeluh sakit kepala yang hebat saat buang air
besar. Pasien kemudian sempoyongan dan saat diberi
minum ia tidak bisa menelan. Pasien lalu muntah
menyembur dan mengalami penurunan kesadaran.
Keluarga mencoba membangunkan pasien namun tidak
ada respon, akhirnya keluarga membawa pasien ke IGD
RSUP Fatmawati.
 Mulut mencong (-), bicara pelo (-), kejang (-),
demam (-), kelemahan atau baal sesisi (-) Riwayat
stroke sebelumnya dan trauma disangkal. Pasien
merupakan penderita kencing manis sejak 5 tahun
lalu, dan berobat rutin ke poli penyakit dalam
RSUP Fatmawati. Pasien mendapat obat minum
dan keluarga tidak mengetahui nama obatnya.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
 Darah tinggi, sakit jantung, kolesterol, stroke

disangkal. Kencing manis (+) sejak 5 tahun yang


lalu.

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


 Kencing manis (+) kedua orangtua pasien, darah

tinggi (-), stroke (-)


PEMERISAAN FISIK (1)
KEADAAN UMUM (Tampak Sakit Berat)
 Kesadaran : Sopor koma
 Sikap : Berbaring
 Kooperasi : tidak Kooperatif
 Keadaan Gizi : Kurang
 Tekanan Darah : 220 / 140 mmHg (kanan=kiri)
 Nadi : 106 x/mnt
 Suhu : 36,7 0C
 Pernafasan : 20 x/mnt
 GCS : E1M2V1

KEADAAN LOKAL
 Trauma Stigmata : Tidak ada
 Pulsasi A.Carotis : Teraba, kanan = kiri, reguler
 Perdarahan Perifer : capilary refil time < 2 detik
 Columna Vertebralis : letak ditengah
 Kepala : Normosefali, rambut hitam beruban, distribusi
merata, tidak mudah dicabut
 Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, ptosis
-/-, lagoftalmus -/-, pupil bulat isokor, refleks cahaya
langsung -/-, refleks cahaya tidak langsung -/-.
 Telinga : Normotia +/+, sekret -/-
 Hidung : Deviasi septum -/-
 Mulut : Terpasang OPA
 Leher : Bentuk simetris, trakea lurus di tengah, tidak
teraba pembesaran KGB dan tiroid.
PEMERISAAN FISIK (2)
PEMERIKSAAN JANTUNG
 Inspeksi : Pulsasi ictus cordis tidak terliat
 Palpasi : Pulsasi ictus cordis teraba di ICS V
 Perkusi : Batas kanan : Linea sternalis dekstra
Batas kiri : 1 jari medial linea midclavicula sinistra.
Pinggang jantung : ICS 3 linea parasternalis sinistra
 Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur -, gallop –

PEMERIKSAAN PARU
 Inspeksi : Simetris statis-dinamis
 Palpasi : Vokal fremitus simetris di kedua lapang paru
 Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
 Auskultasi : Suara napas vesicular +/+; Ronki -/-; Wh -/-.
PEMERISAAN FISIK (3)
PEMERIKSAAN ABDOMEN
 Inspeksi : Datar
 Palpasi : Supel, nyeri tekan (-) hepar/lien tidak teraba membesar
 Perkusi :Timpani
 Auskultasi : BU (+) normal.

PEMERIKSAAN FISIK EKSTREMITAS


 Akral hangat +/+; oedema -/-, sianosis -/-; nyeri tekan -/-.
PEMERISAAN NEUROLOGIS
RANGSANGAN MENINGEAL
 Kaku kuduk –

 Laseque : >70o/70o

 Kernik: >135o/ >135o

 Brudzinski I-II: -/-

PENINGKATAN TIK
 Nyeri kepala +, muntah proyektil + , penurunan

kesadaran +.
PEMERISAAN NEUROLOGIS
SARAF – SARAF KRANIAL
 N.I  tidak dapat di nilai
 N.II
 Acies Visus : tidak dapat di nilai
 Visus Campus : tidak dapat di nilai
 Lihat warna : tidak dapat di nilai
 Funduskopi : tidak dapat di nilai
 N. III,IV dan VI
 Kedudukkan bola mata : ortoposisi + / +
 Pergerakkan bola mata : doll’s eyes -/-
 Exopthalmus :-/-
 Nystagmus :-/-
PEMERISAAN NEUROLOGIS
3. N. III,IV dan VI 4. N. V
Pupil  Cab. Motorik tidak

- Isokor, bulat, dapat dinilai


D=2mm  Cab. Sensorik

- RCL -/-  Opthalmicus tidak


dapat dinilai
- RCTL -/-  Maksilaris tidak dapat
dinilai
 Mandibularis tidak
dapat dinilai
PEMERISAAN NEUROLOGIS
5. N. VII 7. IX.X
 Motorik orbitofrontal : TDN  Motorik : TDN

 Motorik orbikularis : TDN  Sensorik : TDN

 Pengecap lidah TDN

8. N. XI
6. N.VIII  Angkat bahu : TDN menoleh

 Vestibular Vertigo -/-; TDN


nistagmus -/-
 Koklear  Tuli konduktif -/-; Tuli 9. XII
perspektif -/-.  Pergerakan lidah : terpasang opa

 Atrofi TDN

 Fasikulasi TDN tremor TDN


PEMERISAAN NEUROLOGIS
SISTEM MOTORIK GERAKAN INVOLUNTER
 Tremor -/-; chorea-/-; atetose

 Ekstremitas atas -/-; miokloni -/-; tics -/-


proksimal – distal : TROFIK  Normotrofik
kesan hemiparese (-)
TONUS  Normotonus
 Ekstremitas bawah
proksimal – distal : SISTEM SENSORIK
kesan hemiparese (-)  Propioseptik TDN
 Ekstroseptik TDN
FUNGSI SEREBELAR FUNGSI LUHUR
 Ataxia TDN  Astereognosia TDN
 Disdiadokokinesis  Apraksia TDN
TDN  Afasia TDN
 Jari-jari TDN

 Jari-hidung TDN
FUNGSI OTONOM
 Tumit-lutut TDN
 Miksi : terpasang
 Rebound phenomenon
kateter
TDN  defekasi, sekresi
 Hipotoni TDN
keringat : baik
PEMERISAAN NEUROLOGIS
REFLEKS FISIOLOGIS REFLEKS PATOLOGIS
 Kornea :-/-  Babinsky :+/+
 Biceps : +2 / +2  Chaddok :+/+
 Triceps : +2 / +2  Gordon :+/+
 Radius : +2 / +2  Schaefer :+/+
 Lutut : +2 / +2
 Tumit : +2 / +2 KEADAAN PSIKIS
 Intelegensia : TDN

 Tanda regresi : TDN

 Demensia : TDN
Pemeriksaan Laboratorium
PEMERIKSAAN RADIOLOGI
Sinus & diafragma baik
Tulang & soft tissue baik
Cor:
Elongasi aorta (+)
CTR 51 %
Apex tertanam
Pulmo
Kedua hilus menebal
Corakan bronkovaskular normal

Brain CT scan tanpa kontras:


•Perdarahan intracerebelum,
ventrikulomegali
•Perdarahan subarachnoid yang
mengisi sistem ventrikel.

 
RESUME
 Anamnesis
Pasien, laki-laki, 62 tahun, dibawa ke RSUP Fatmawati karena penurunan
kesadaran tiba-tiba 3 jam SMRS. Awalnya, pasien mengeluh sakit kepala
yang hebat saat buang air besar. Pasien kemudian sempoyongan dan saat
diberi minum ia tidak bisa menelan. Pasien lalu muntah menyembur dan
mengalami penurunan kesadaran. Keluarga mencoba membangunkan
pasien namun tidak ada respon, akhirnya keluarga membawa pasien ke
IGD RSUP Fatmawati. Mulut mencong (-), bicara pelo (-), kejang (-),
demam (-), kelemahan atau baal sesisi (-) Riwayat stroke sebelumnya dan
trauma disangkal. Pasien merupakan penderita kencing manis sejak 5 tahun
lalu, dan berobat rutin ke poli penyakit dalam RSUP Fatmawati. Pasien
mendapat obat minum dan keluarga tidak mengetahui nama obatnya. Darah
tinggi, sakit jantung, kolesterol, stroke disangkal. Riwayat penyakit
keluarga: kedua orang tua pasien menderita kencing manis, darah tinggi (-),
stroke (-)
RESUME
Pemeriksaan fisik:
Kesadaran : Sopor-koma, GCS: E1M2V1 = 4
Tanda vital: TD 220/140 mmHg (MABP 166 mmHg), HR
106x/menit
Jantung: batas jantung bergeser ke kiri
Pemeriksaan neurologis:
Tanda rangsang meningeal: (-)
N. Cranialis: kesan parese (-)
Motorik: kesan parese (-)
Reflek fisiologis : ++ / ++
Reflek patologis : + / +
Sensorik : tidak dapat dinilai
Autonom : terpasang kateter
RESUME

 Pemeriksaan penunjang:
 Laboratorium
 Leukosit: 21.600 u/l
 GDS: 362 mg/dl
 Radiologi:
 Rontgen Thoraks:
 Brain CT scan:
 Perdarahan intracerebelum, ventrikulomegali
 Perdarahan subarachnoid yang mengisi sistem ventrikel.
  
DIAGNOSIS KERJA

 Diagnosis klinis :
 Peningkatan tekanan intra kranial
 DM tipe 2
 Hipertensi emergency
 Leukositosis
 Asidosis respirtorik.
 Diagnosis etiologi : Stroke Hemorragik
 Diagnosis topik : cerebellum, subarachnoid
 
Penatalaksanaan

 ABC
 Elevasi kepala 30o
 IVFD Asering 500 cc/12 jam
 Inj citicolin 2 x 500 mg
 Manitol loading 250 cc dilanjutkan 4 x 125 cc
 Vitamin K Inj 3 x1 amp
 Transamin Inj 3 x 1 amp
 Nimodipine 1 mg/jam
 Konsul penyakit dalam
 Konsul anestesi
PROGNOSIS
 Ad vitam : malam
 Ad functionam : malam
 Ad sanationam : malam
 
STROKE
WHO :”tanda-tanda klinis yang berkembang cepat
akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global),
dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam
atau lebih, dapat menyebabkan kematian, tanpa
adanya penyebab lain selain vaskuler.”

Stroke
iskemik
Epidemiologi
 Di Indonesia, menurut SKRT th 1995, stroke
termasuk penyebab kematian utama
 Secara umum, 85% kejadian stroke adalah stroke
oklusif, 15 % adalah stroke hemoragik
FAKTOR RISIKO STROKE
Tidak Dapat Diubah: Dapat Diubah:
- Usia - Hipertensi
- Jenis kelamin
- Diabetes mellitus
- Faktor Genetik
- Penyakit jantung
- Hiperlipidemia
- Ras
- Merokok
- Intake alkohol berlebihan
- Obesitas
- Hiperuricemia
Klasifikasi
Berdasarkan kelainan patologi Berdasarkan sistem
 Stroke iskemi
pembuluh darah
 Stroke hemoragik  Sistem karotis
Berdasarkan waktu terjadinya  Sistem vertebrobasiler
 Transient Ischemic Attack

(TIA)
 Reversible Ischemic Neurologic

Deficit (RIND)
 Stroke in evolution

 Completed Stroke
Stroke Hemoragik
 Pecahnya pembuluh
darah otak
menyebabkan
keluarnya darah ke
jaringan parenkim
otak, ruang cairan
serebrospinalis
disekitar otak atau
kombinasi keduanya
Stroke Hemoragik
Perdarahan intraserebral (PIS)
 akibat cedera vaskular yang dipicu oleh hipertensi dan ruptur salah
satu dari banyak arteri kecil yang menembus otak.
 Sekitar 70-90 % kasus PIS disebabkan oleh hipertensi.
 Sebagian besar perdarahan intraserebral pada hipertensi, akibat dari
ruptur mikroaneurisma pada arteriol kecil (terutama pada cabang
lentikulostriata dari arteri serebral media)
 Kebanyakan perdarahan meluas ke dalam ventrikel otak.
 sering terjadi pada saat pasien terjaga dan aktif
 Biasanya perdarahan dibagian dalam jaringan otak  defisit
neurologik fokal yang cepat dan memburuk secara progresif dalam
beberapa menit sampai <2 jam
Perdarahan Intraserebral
 Angka kematian  50%.
 perdarahan ke dalam ruang infratentorium di
daerah pons atau serebelum memiliki prognosis
yang jauh lebih buruk karena cepatnya timbul
tekanan pada struktur-struktur vital dibatang otak.
2. Perdarahan subarakhnoid

Biasanya berasal dari pecahnya suatu aneurisma,


perluasan hematom akibat trauma,meluasnya
perdarahan intraserebral akibat hipertensi ke dalam
sistem ventrikel,

Kel;D.W.A-Spidolla
Algoritma Gajah Mada
Penatalaksanaan ICH
 Mengobati etiologinya, menurunkan tekanan intrakranial
yang tinggi dengan neuroprotektor dapat diberikan.
 Tindakan bedah dilakukan dengan mempertimbangkan usia
dan skala koma Glasgow lebih dari 4 dan hanya dilakukan
pada penderita dengan:
 Perdarahan serebellum dengan diameter lebih dari 3 cm
dilakukan kraniotomi dekompresi
 Hidrosefalus akut akibat perdarahan intraventrikuler atau
serebellum dapat dilakukan VP shunting
 Perdarahan lobar diatas 60 cc dengan tanda-tanda
peningkatan intrakranial akut dan disertai dengan ancaman
herniasi
Penatalaksanaan SAH
 nimodipine dapat diberikan untuk mencegah vasospasme
pada perdarahan subarachnoid primer akut, diawali dengan 1-
2 jam pertama 1 mg/jam dilanjutkan 1-6 mg/jam dengan
continous infusion dan selanjutkan dengan pemberian per oral
4-6x60 mg.
 Terapi hipervolimik-hipertensif hemodelusi di ICU/NCCU
 Pengobatan baru dengan a ballon angioplasty, intraarterial
papaverine atau kombinasi keduanya.
 Pemasangan coil atau clipping aneurisma 30 % untuk
mencegah rebleeding.