Analisis Kebijakan Desentralisasi Pendidikan

Senin, 03-05-2010 13:36:21 oleh: Ade Suerani Kanal: Opini (Telaah Kritis Standar Kelulusan Nasional)

Media massa pekan ini ramai mengangkat berita hasil UN SMA dan Sederajat. Pasca pengumuman 26 April, sebagian siswa bersuka cita dan sebagian lainnya pilu, bahkan ada yang meronta histeris. Fenomena yang paling miris, terjadi di Jambi, karena ada yang minum racun mengakhiri hidup karena malu. Beberapa daerah mengaku prosentase kelulusan tahun ini menurun. Secara nasional, Menteri Pendidikan Nasional mengatakan tingkat kelulusan menurun sekitar 11 persen Yang paling ironis, di Kalimantan Timur ada 39 sekolah yang 100 persen siswanya tidak lulus. Sangat memprihatinkan!

Standar Kelulusan Urusan Siapa? Sebenarnya persoalan UN ini setiap tahun menjadi polemik. Daerah tidak siap dengan standar kelulusan yang ditetapkan pemerintah pusat yang (juga) setiap tahunnya naik. Ketidaksiapan itu salah satunya dipicu karena kekurangan dana. Urusan dana memang menjadi persoalan substantif esensial. Untuk itu, konstitusi mengamanatkan agar bidang pendidikan mendapat alokasi anggaran baik APBN maupun APBD sebesar 20 persen. Amanah konstitusi ini hampir di setiap daerah tidak dapat terpenuhi, lagi-lagi karena kemampuan keuangan daerah. Di Sulawesi Tenggara ada sekitar 40 SKPD yang konsen di berbagai bidang. Jika bidang pendidikan dijadikan "sumber mata air" (mendapat alokasi 20 persen APBD), maka puluhan SKPD lainnya bisa menjadi "sumber air mata". Kita tentu tidak ingin ada gap yang berlebihan antar SKPD, apalagi ada sekitar 7000an pegawai provinsi yang juga didanai APBD Sultra, dan 2 juta rakyat Sultra yang juga perlu difasilitasi kehidupannya. Sepuluh tahun otonomi daerah yang diwujudkan dengan desentralisasi, hari ini publik bertanya, penentuan standar kelulusan itu urusan siapa, Pemerintah atau Pemerintahan Daerah? Bagian ini akan diulas setelah pertanyaan mengapa pemerintah menetapkan standar kelulusan secara sepihak?!?! Saya katakan sepihak karena, pendidikan di Indonesia tidak bisa digeneralisasi. Pendidikan di Indonesia kualitasnya tidak merata. Siswa yang di kota-kota besar khususnya di Jawa, tentu secara kualitas berada di atas siswa di Sulawesi. Siswa di Kendari, bisa lebih pandai dari siswa di desa apalagi di pelosok. Pemerintah pun mengakuinya dengan mengklasifikasi ada sekolah unggulan dan ada sekolah biasa-biasa saja, dsbnya.

pemerintahan daerahlah yang paling tahu kondisi riil siswa-siswinya. Lantas. yang merupakan tempat atau lingkup dimana kewenangan yang diserahkan dari pusat akan diatur. Pusat tidak boleh mengurangi. masih diurus pemerintah pusat? Secara harfiah. otonomi daerah adalah bersumber dari desentralisasi tetapi desentralisasi tidaklah selalu mengacu pada otonomi. sehingga juga paling tahu bagaimana penanganannya. daerah otonom . Dalam hal pendidikan. kata desentralisasi berasal dari dua penggalan bahasa Latin. yakni: de berarti 'lepas'. karena desentralisasi ketatanegaraan yang dirumuskan dalam UU No. tentu ada pertimbangan lain sehingga tidak menetapkan standar kelulusan nasional sepihak. mengapa kebijakan standar kelulusan masih ditentukan pemerintah pusat? Inilah kemudian muncul idiom otonomi setengah hati.Jika pemerintah (baca : Kementerian Pendidikan Nasional) mau mendengar aspirasi daerah. Desentralisasi memang merupakan staatskundige decentralisatie (desentralisasi ketatanegaraan). Namun kemudian sejak awal tahun 2000 urusan ini diserahkan kepada daerah. misalnya. Tanpa mendiskriminasikan siswa-siswa berkualitas di daerah maju. bahkan siswa selaku obyek sasaran pun mungkin tidak pernah tahu mengapa standar kelulusan nasional itu 5. 32 Tahun 2004 mengamanatkan itu. sebenarnya telah mendesentralisasikan urusan pendidikan. urusan pendidikan yang diserahkan dari pemerintah pusat ke pemerintahan daerah wajib disertai dengan sumber pendanaan. Dengan demikian. kurang maju. seperti halnya dengan dekonsentrasi (RDH Koesoemahatmadja. diurus dan dilaksanakan. apalagi menegasikan kewenangan pemerintahan yang telah diserahkan kepada daerah otonom.5 (lima koma lima) atau mengapa standar kelulusan mesti menasional? Desentralisasi Pendidikan Otonomi daerah sejak 1 Januari 2000. pusat seharusnya rela menyerahkan urusan standar kelulusan ditentukan pemerintah daerah. atau lepas dari pusat. Variabel apa yang dipakai? Publik tidak mendapat akses informasinya. koq ya. pemerintahan daerah berhak mengatur dan mengurus sendiri urusan pendidikan berdasarkan aspirasi masyarakat daerah secara nyata. Betapa pun luasnya cakupan otonomi. Daerah otonom tersebut melalui pemerintahan daerah berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. (***) . sehingga menjadi urusan daerah yang sifatnya otonom. Katanya. otonomi daerah itu desentralisasi. sarana prasarana serta personil (pendidik dan tenaga kependidikan). Namun demikian. Desentralisasi dalam sistem pemerintahan di Indonesia mengacu kepada pembentukan suatu area yang disebut daerah otonom. Urusan pendidikan.daerah otonom tidak boleh melepaskan diri dari Negara Kesatuan RI. bukan ambtelijke decentralisatie. centrum berarti 'pusat'. mula-mula merupakan urusan pemerintah pusat. 1979). dan tidak maju. Dengan demikian. luas dan bertanggung jawab. desentralisasi yang diemban pemerintahan daerah tidaklah boleh meretak-retakkan bingkai Negara Kesatuan RI. Revisi melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah juga mengamatkan bahwa.

dsbnya. Di Sulawesi Tenggara ada sekitar 40 SKPD yang konsen di berbagai bidang. bisa lebih pandai dari siswa di desa apalagi di pelosok. Siswa yang di kota-kota besar khususnya di Jawa. tentu secara kualitas berada di atas siswa di Sulawesi. Jika bidang pendidikan dijadikan "sumber mata air" (mendapat alokasi 20 persen APBD). Urusan dana memang menjadi persoalan substantif esensial. Secara nasional. terjadi di Jambi. Ketidaksiapan itu salah satunya dipicu karena kekurangan dana. Sangat memprihatinkan! Standar Kelulusan Urusan Siapa? Sebenarnya persoalan UN ini setiap tahun menjadi polemik. Pasca pengumuman 26 April. hari ini publik bertanya. penentuan standar kelulusan itu urusan siapa. sebagian siswa bersuka cita dan sebagian lainnya pilu. di Kalimantan Timur ada 39 sekolah yang 100 persen siswanya tidak lulus. maka puluhan SKPD lainnya bisa menjadi "sumber air mata". Amanah konstitusi ini hampir di setiap daerah tidak dapat terpenuhi. Pendidikan di Indonesia kualitasnya tidak merata. pendidikan di Indonesia tidak bisa digeneralisasi. dan 2 juta rakyat Sultra yang juga perlu difasilitasi kehidupannya. Kita tentu tidak ingin ada gap yang berlebihan antar SKPD. Pemerintah atau Pemerintahan Daerah? Bagian ini akan diulas setelah pertanyaan mengapa pemerintah menetapkan standar kelulusan secara sepihak?!?! Saya katakan sepihak karena. Sepuluh tahun otonomi daerah yang diwujudkan dengan desentralisasi. bahkan ada yang meronta histeris. apalagi ada sekitar 7000an pegawai provinsi yang juga didanai APBD Sultra. karena ada yang minum racun mengakhiri hidup karena malu. lagi-lagi karena kemampuan keuangan daerah. konstitusi mengamanatkan agar bidang pendidikan mendapat alokasi anggaran baik APBN maupun APBD sebesar 20 persen. Fenomena yang paling miris. Daerah tidak siap dengan standar kelulusan yang ditetapkan pemerintah pusat yang (juga) setiap tahunnya naik. Pemerintah pun mengakuinya dengan mengklasifikasi ada sekolah unggulan dan ada sekolah biasa-biasa saja.Analisis Kebijakan Desentralisasi Pendidikan Senin. . 03-05-2010 13:36:21 oleh: Ade Suerani Kanal: Opini (Telaah Kritis Standar Kelulusan Nasional) Media massa pekan ini ramai mengangkat berita hasil UN SMA dan Sederajat. Siswa di Kendari. Menteri Pendidikan Nasional mengatakan tingkat kelulusan menurun sekitar 11 persen Yang paling ironis. Untuk itu. Beberapa daerah mengaku prosentase kelulusan tahun ini menurun.

masih diurus pemerintah pusat? Secara harfiah. daerah otonom . pemerintahan daerahlah yang paling tahu kondisi riil siswa-siswinya. sehingga juga paling tahu bagaimana penanganannya. yang merupakan tempat atau lingkup dimana kewenangan yang diserahkan dari pusat akan diatur. Katanya. 32 Tahun 2004 mengamanatkan itu. pemerintahan daerah berhak mengatur dan mengurus sendiri urusan pendidikan berdasarkan aspirasi masyarakat daerah secara nyata. urusan pendidikan yang diserahkan dari pemerintah pusat ke pemerintahan daerah wajib disertai dengan sumber pendanaan. koq ya. karena desentralisasi ketatanegaraan yang dirumuskan dalam UU No. tentu ada pertimbangan lain sehingga tidak menetapkan standar kelulusan nasional sepihak. diurus dan dilaksanakan.Jika pemerintah (baca : Kementerian Pendidikan Nasional) mau mendengar aspirasi daerah. Namun kemudian sejak awal tahun 2000 urusan ini diserahkan kepada daerah. Desentralisasi memang merupakan staatskundige decentralisatie (desentralisasi ketatanegaraan). Revisi melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah juga mengamatkan bahwa. Betapa pun luasnya cakupan otonomi. Dalam hal pendidikan. seperti halnya dengan dekonsentrasi (RDH Koesoemahatmadja. sebenarnya telah mendesentralisasikan urusan pendidikan. bahkan siswa selaku obyek sasaran pun mungkin tidak pernah tahu mengapa standar kelulusan nasional itu 5.5 (lima koma lima) atau mengapa standar kelulusan mesti menasional? Desentralisasi Pendidikan Otonomi daerah sejak 1 Januari 2000. mengapa kebijakan standar kelulusan masih ditentukan pemerintah pusat? Inilah kemudian muncul idiom otonomi setengah hati. yakni: de berarti 'lepas'. Urusan pendidikan. Variabel apa yang dipakai? Publik tidak mendapat akses informasinya. sehingga menjadi urusan daerah yang sifatnya otonom. Desentralisasi dalam sistem pemerintahan di Indonesia mengacu kepada pembentukan suatu area yang disebut daerah otonom. sarana prasarana serta personil (pendidik dan tenaga kependidikan). pusat seharusnya rela menyerahkan urusan standar kelulusan ditentukan pemerintah daerah. Dengan demikian. (***) . kurang maju. otonomi daerah adalah bersumber dari desentralisasi tetapi desentralisasi tidaklah selalu mengacu pada otonomi. Pusat tidak boleh mengurangi. mula-mula merupakan urusan pemerintah pusat. misalnya. apalagi menegasikan kewenangan pemerintahan yang telah diserahkan kepada daerah otonom. Daerah otonom tersebut melalui pemerintahan daerah berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. Tanpa mendiskriminasikan siswa-siswa berkualitas di daerah maju. Lantas. Namun demikian. dan tidak maju.daerah otonom tidak boleh melepaskan diri dari Negara Kesatuan RI. Dengan demikian. kata desentralisasi berasal dari dua penggalan bahasa Latin. 1979). atau lepas dari pusat. bukan ambtelijke decentralisatie. luas dan bertanggung jawab. otonomi daerah itu desentralisasi. desentralisasi yang diemban pemerintahan daerah tidaklah boleh meretak-retakkan bingkai Negara Kesatuan RI. centrum berarti 'pusat'.