Anda di halaman 1dari 12

Olviani Shahnara 0706 278 411 Tugas Akhir 2 Pilihan Penyelesaian Sengketa Penutupan Areal Pertambangan Olviani Shahnara

Dastie Kanya : Mediator : Co. Mediator

Mediator bersama dengan Co. Mediator mengadakan pertemuan pada hari Jumat tanggal 20 Mei 2011 dengan para pihak yang bersengketa dan/atau memiliki kepentingan terhadap sengketa tersebut untuk mengadakan proses mediasi. Adapun para pihak yang menghadiri proses mediasi tersebut adalah sebagai berikut:
1.

Andri, sebagai perwakilan dari penambang tradisional (penambang liar); Ibnu, sebagai perwakilan dari organisasi lingkungan WALHI; Leo, Kepala Bagian Humas, sebagai perwakilan dari PT. NM; Alexis, Kepala Bagian Humas, sebagai perwakilan dari perusahaan penambangan baru;

2.

3.

4.

5.

Ilman, sebagai Bupati Bojong Jengkol (Pemerintah Daerah lainnya); Samuel, sebagai Bupati Swarna Indah (Pemerintah Daerah); dan

6.

7. Dimas, sebagai Kepala Dirjen Pertambangan (Pemerintah Pusat). Sebelumnya para pihak telah sepakat untuk melakukan proses mediasi sebagai usaha untuk menemukan jalan keluar atau solusi dari permasalahan yang sedang mereka hadapi dan sepakat untuk membiarkan Mediator dan Co. Mediator menjadi pihak ketiga yang membantu mereka dalam proses mediasi. ALUR PROSES MEDIASI 1. Mediator dan Co. Mediator pertama-tama memperkenalkan diri mereka terlebih dahulu kepada para pihak dan menjelaskan secara singkat peranan mereka dalam proses mediasi ini;

2. Mediator dan Co. Mediator membuat denah tempat duduk yang kemudian disetujui oleh para pihak. Urutan denah tempat duduk tersebut adalah sebagai berikut:

Samuel

Dimas

Ilman Ibnu

Leo

Alexis

Andri

Mediato r

Co. Media

3. Mediator dan Co. Mediator selanjutnya meminta para pihak untuk memperkenalkan diri satu persatu dengan menyebutkan nama dan jabatan mereka; 4. Mediator dan Co. Mediator selanjutnya membacakan tata tertib mediasi yang harus ditaati oleh semua pihak, yaitu: a. Setiap pihak akan diberikan kesempatan berbicara perihal duduk perkara permasalahan masing-masing pihak dan kepentingan yang mereka bawa denga porsi yang sama; b. Selama pihak-pihak tersebut berbicara, tidak boleh ada pihak lain yang menyelak pembicaraan, bertanya dan/atau menanggapi;
c.

Setiap pihak diharuskan untuk menyimak setiap pihak yang sedang berbicara tanpa bercakap-cakap dan apalagi bercanda yang dapat mengganggu jalannya proses mediasi; dan

d.

Waktu mediasi akan berlangsung selama 90 menit agar tidak mengganggu waktu solat jumat bagi yang mengerjakan.

5.

Mediator dan Co. Mediator meminta para pihak untuk satu persatu mengutarakan permasalahan mereka, duduk perkara, dan keinginan serta kepentingan mereka di depan seluruh pihak lainnya;

6.

Setelah mengetahui duduk perkara masing-masing pihak serta kepentingan yang mereka bawa, Mediator dan Co. Mediator kemudian mencoba untuk menyusun agenda mediasi untuk mempermudah jalannya mediasi dan mengefektifkan serta mengefisiensikan waktu yang ada. Agenda tersebut terdiri dari 5 (lima) bagian yaitu: (1) Kerjasama Para Pihak; (2) Perizinan; (3) Peraturan Perundang-Undangan yang terkait; (4) Masalah Lingkungan; (5) Masalah Kesejahteraan Masyarakat.

7. Proses Mediasi; 8. Kesepakatan Akhir Para Pihak.

KEPENTINGAN PARA PIHAK

1. WALHI Bahwa PT. NM selama ini dirasa tidak ada usaha dalam mengembangkan iklim sektor di sekitar lokasi pertambangan dan juga tidak ada upaya menanggulangi kerusakan yang terjadi akibat eksporasi pertambangan tersebut; Bahwa ada laporan dari masyarakat sekitar bahwa limbah PT. NM memiliki potensi sebagai bahan berbahaya beracun; Bahwa perusakan lingkungan yang terjadi sudah diketahui oleh Bupati Swara Indah, Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat, namun mereka seakan tutup mata pada hal-hal tersebut 2. Penambang Tradisional

Bahwa penambangan liar yang selama ini dilakukan oleh para penambang tradisional di daerah setempat yaitu di daerah kabupaten Swara Indah telah menjadi mata pencaharian bagi para penambang tradisional;

Bahwa penambang tradisional cukup senang dengan kehadiran PT. NM selama ini karena mereka dapat pula menyambung kehidupan mereka secara tidak langsung;

Bahwa para penambang tradisional ingin agar tambang yang mereka dapatkan dapat dibeli oleh PT. NM secara permananen dan berkelanjutan;

3. PT. NM Bahwa PT. NM selama 20 tahun ini peduli terhadap masyarakat di sekitar dan sangat ramah lingkungan; Bahwa sejak 10 tahun terakhir selalu datang gangguan dari banyak pihak, terutama dari organisasi lingkungan seperti WALHI yang menuduhkan banyak hal kepada mereka; Bahwa PT. NM tidak puas dengan Pemerintah Daerah (Bupati Swara Indah) yang membebankan pajak terjadap pasir yang sebenarnya bukan menjadi objek pertambangan mereka; Bahwa PT. NM sesungguhnya tidak berkeberatan untuk memberikan tempat penggalian emas untuk para penambang tradisional dan bersedia untuk membeli hasil tambang para penambang tradisional tersebut dengan harga yang wajar dan tidak mahal; Bahwa PT. NM mempunyai AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) yang sah dan izin eksplorasi dari Pemerintah Pusat;
-

Bahwa PT. NM memang telah memiliki perhatian terhadap Development;

Community

Bahwa PT. NM telah melakukan pembuangan limbah ke laut secara betul dan menurut prosedur yang telah dilegalkan dengan mengolah terlebih dahulu limbahnya sebelum dibuang ke laut;

Bahwa PT. NM tetap akan melakukan pembuangan limbah ke laut selama tidak ada larangan dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;

Bahwa PT. NM membuka kesempatan yang sangat besar untuk perusahaan pertambangan yang baru untuk melakukan kerjasama atau joint venture.

4. Perusahaan Pertambangan Baru


-

Bahwa perusahaan pertambangan baru ini mampu melakukan Underground Mining agar nantinya tidak terjadi kerusakan yang lebih hebat lg, karena eksplorasi akan dilakukan jauh ke dalam tanah;

Bahwa perusahaan pertambangan baru memiliki teknologi dan modal yang cukup memadai untuk lebih mengeksplorasi bahan-bahan tambang di daerah Kabupaten Swara Indah;

Bahwa perusahaan pertambangan baru membuka kesempatan kerjasama terhadap PT. NM karena PT. NM memiliki pengetahuan yang lebih tentang areal tambang di Kabupaten Swara Indah;

Bahwa perusahaan pertambangan baru memiliki kekhawatiran karena tidak adanya peraturan berarti dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah tentang pembagian keuntungan yang jelas dan pasti;

Bahwa perusahaan pertambangan baru tertarik untuk mengembangkan masyarakat di sekitar nantinya apabila mereka beroperasi;

Bahwa perusahaan pertambangan baru tidak mau diikutsertakan oleh PT. NM dalam menyelesaikan persoalan-persoalan atau permasalahan yang dimiliki oleh PT. NM.

5. Bupati Swara Indah Bahwa Bupati Swara Indah yang sekarang menjabat yaitu Bapak Samuel adalah bupati baru yang baru saja menduduki jabatan tersebut; Bahwa Bupati Swara Indah meminta tuntutan kepada PT. NM dan/ataupun kepada perusahaan pertambangan yang baru untuk memperhatikan pula masyarakat di

sekitar karena masih kurangnya sarana pendidikan dan kesehatan terhadap masyarakat tersebut; Bahwa Bupati Swara Indah meminta untuk dilibatkan dalam segala perundingan yang terjadi antara PT. NM dan pihak-pihak lain yang berkepentingan karena semuanya pasti saling bersangkut pautan; Bahwa Bupati Swara Indah meminta PT. NM untuk juga dapat mempekerjakan putra-putra daerah setempat di perusahaan mereka; Bahwa terhadap pajak galian pasir akan tetap dikenakan pajak; Bahwa Bupati Swara Indah menuntuk PT. NM untuk mengadakan reklamasi dan reboisasi secepat mungkin; Bahwa Bupati Swara Indah bersedia untuk sama-sama membersihkan lingkungan; Bahwa Bupati Swara Indah membuka kerjasama yang sebesar-besarnya dengan Kabupaten lain yaitu Kabupaten Bojong Jengkol untuk bersama-sama membersihkan aliran sungai hingga ke hulu sungai; Bahwa Bupati Swara Indah selaku Pemerintah Daerah mengajukan keberatan kepada Pemerintah Pusat karena Pemerintah Daerah hanya mendapatkan 20% hasil keuntungan pertambangan dari pajak yang dipungut oelh Pemerintah Pusat; Bahwa Bupati Swara Indah ingin bernegosiasi dengan pemerintah Pusat masalah pembagian hasil tersebut; Bahwa Bupati Swara Indah terbuka dengan kehadiran investor baru nantinya.

6. Bupati Bojong Jengkol Bahwa Kabupaten Bojong Jengkol turut merasakan kerugian akibat kesalahan prosedur pertambangan yang dilakukan di Kabupaten Swara Indah karena hulu di Kabupaten Bojong Jengkol menjadi sangat kotor; Bahwa Bupati Bojong Jengkol meminta Pemerintah Pusat menegur Bupati Swara Indah dan memeriksa lebih lanjut AMDAL yang dimiliki oleh PT. NM;

Bahwa Bupati Bojong Jengkol meminta PT. NM untuk tidak membuang limbah perusahaan lewat sungai;

Bahwa masyarakat Kabupaten Bojong Jengkol yang akhirnya merasakan dampak yang tidak menyenangkan ini dan menghambat kegiatan keseharian yang mereka biasa lakukan di hulu sungai.

7. Pemerintah Pusat Bahwa PT. NM memang perusahaan pertambangan yang ramah lingkungan oleh karena itulah PT. NM mendapatkan ijin pertambangan; Bahwa Pemerintah Pusat ingin melakukan kajian terhadap fakta-fakta

pembuangan limbah akan tetapi terhambat di masalah biaya; Bahwa Pemerintah Pusat meminta bantuan dana untuk pengkajian tersebut kepada PT. NM dan disanggupi oleh PT. NM itu sendiri; Bahwa Undang-Undang yang baru mengatur pembagian keuntungan yang lebih besar kepada Pemerintah Daerah; Bahwa Pemerintah Pusat ingin adanya pengawasan akan tetapi terhambat pula oleh faktor Sumber Daya Manusia.

KESEPAKATAN AKHIR

Pada hari Jumat tanggal 20 Mei 2011 melalui proses mediasi para pihak yang bersengketa sepakat untuk menakhiri sengketa melalui sebuah kesepakatan yang telah disepakati bersama dengan hasil kesepakatan sebagai berikut:

Pasal 1

PT. NM bersedia untuk menyediakan lahan pertambangan dan fasilitas pemurnian emas untuk para penambang tradisional. Pasal 2 Hasil dari galian tambang yang ditambang oleh para Penambang Tradisional akan dijual kepada PT. NM dengan harga yang nantinya disepakati bersama kedua belah pihak secara continue.

Pasal 3 PT. NM bersedia menjadikan para Penambang Tradisional sebagai sub-kontraktor dari perusahaan mereka dalam melaksanakan usaha pertambangannya. Pasal 4 Penambang Tradisional wajib untuk mengikuti AMDAL dari PT. NM sebagai konsekuensi dari dijadikannya Penambang Tradisional sebagai sub-kontraktor oleh PT. NM Pasal 5 Penambang Tradisional diwajibkan untuk mendirikan paguyuban Penambang Tradisional oleh Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat agar lebih teratur dan mudah diawasi kegiatannya. Pasal 6 AMDAL perusahaan tambang yang baru nantinya harus mencakup wilayah Kabupaten Bojong Jengkol dan Daerah Aliran Sungai yang terkait selain mencakup wilayah pertambangannya di Kabupaten Swara Indah. Pasal 7 Pemerintah Pusat sepakat untuk memperbaiki pembagian Royalti dengan Pemerintah Daerah sehingga pembagiannya menjadi sebagai berikut: Pemerintah Pusat sebanyak 30% dari jumlah keseluruhan Royalti dan Pemerintah Daerah sebanyak 70% dari keseluruhan Royalti dengan fokus tujuan agar pembangunan di Kabupaten Swara Indah lancar. Pasal 8 Negosiasi mengenai Peraturan atau Undang-Undang terkait pembagian Royalti yang dibayarkan oleh perusahaan akan dinegosiasikan kembali dalam waktu paling lama 1 (satu) minggu antara perusahaan penambang baru, Bupati Swara Indah dan Pemerintah Pusat. Pasal 9

Pemerintah Pusat sepakat untuk membentuk tim independen guna meninjau mengenai limbah yang hasilnya akurat dan dapat dipercaya dan diterima oleh setiap pihak. Pasal 10 PT. NM bersedia untuk memperbaiki kondisi lingkungan yang mengalami kerusakan dalam sisa waktu 5 (lima) tahun. Pasal 11 Para Pihak (WALHI, Penambang Tradisional, PT. NM, Perusahaan Baru, Bupati Swara Indah, Bupati Bojong Jengkol dan Pemerintah Pusat) sepakat untuk mengadakan pertemuan kembali dalam waktu paling lama 3x24 jam untuk melakukan negosiasi lebih lanjut masalah:
a.

Corporate Social Responsibilty oleh PT. NM;

b. Pajak pasir antara Bupati Swara Indah dan PT. NM; c. Reklamasi, Reboisasi dan kandungan limbah; d. Perbaikan serta pembersihan lingkungan sungai dan hulu sungai yang tercemar; dan e. Kesejahteraan masyarakat sekitar.

Para pihak,

Dimas Marino (Perwakilan Pemerintah Pusat)

Samuel Harnaen (Bupati Swara Indah)

Ilman Hadi (Bupati Bojong Jengkol)

Leonardo Saragi (Perwakilan PT. Nasional Megah)

Alexis Bramantia (Perwakilan PT. X)

Ibnu Danisworo (Perwakilan WALHI)

Andri Sanjaya (Perwakilan Penambang Tradisional)

Mediator,

Olviani Shahnara

Ko-Mediator

Dastie Kanya