Anda di halaman 1dari 22

CATATAN NEUROLOGI RS POLRI

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

FOLLOW UP HARIAN PASIEN

(SOAP)

S O

: (KELUHAN) : (PEMERIKSAAN) TENSI RR (RESPIRASI RATE) GCS : E4 M6 V5 NADI T (SUHU)

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS Pemeriksaan Meningeal sign (kaku kuduk dkk) NC (NERVI CRANIALIS) N ii dan N III : PUPIL NCL (Nervi Cranialis Lain) I s/d XII (selain N II dan N III) Motorik: D S Sensorik : D S

NB: Sensorik menentukkan lesi(dermatom setinggi apa?) Refleks Fisiologis: D S Refleks patologis D S

SISTEM OTONOM BAB : terkontrol Hasil Pemeriksaan Penunjang

BAK : terkontrol

Keringat : normal

Klinis : Topis : Etiologi

DD:

: - Pemeriksaan tambahan - Terapi - KIE Mohamad Fikih/FK UPN Veteran 2

Keterangan
Pemeriksaan meningeal sign y y y y y Kaku kuduk Laseque Kerniq Brudzinsky I Brudzinsky II

SARAF KRANIALIS  N. I: normal, pasien masih dapat mencium bau makanan, sabun, jeruk  N. II:    Visus dan lapang pandang normal. Pupil bulat, isokor, ukuran 2mm / 2mm. Refleks cahaya langsung +/+.

 N. III, N. IV, dan N. VI:     N. V  Sensorik: V1 : baik V2 : baik V3 : baik  Motorik: inspeksi: tidak terlihat hipotrofi palpasi: saat menggigit keras, kontraksi otot maseter kiri dan kanan sama keras.  N. VII:  Inspeksi : Wajah pasien kiri dan kanan simetris. Celah palpebra kiri dan kanan normal. Plica nasolabialis kiri dan kanan simetris.  Pasien dapat memejamkan mata dengan kuat ketika pemeriksa berusaha mengangkat kedua kelopak mata pasien.   Pasien mampu mengangkat alisnya, kerutan di dahi tampak Pada saat menyeringai, tidak sisi yang tertinggal Pergerakan bola mata normal baik ke segala arah, baik ke medial dalam dan lateral. Tidak ada nistagmus. Tidak terdapat ptosis.

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

Pada saat menggembungkan pipi, mengembang sempurna

 N. VIII:   N. IX    N.X:     N. XI   Pasien dapat menoleh ke kanan dan ke kiri. Pasien dapat mengangkat bahu dengan baik. Tidak ada disfoni dan disfagi. Arkus faring terlihat simetris. Uvula berada di tengah. Sensorik : pengecapan 1/3 posterior lidah dalam batas normal. Motorik : fungsi menelan baik. Fungsi pendengaran: suara gesekan jari terdengar.

 N. XII   y y Di dalam mulut lidah terlihat normal, tidak ada deviasi, dan atrofi. Saat menjulurkan lidah, tidak terlihat deviasi.

Kesimpulan: kalau tidak ditemukan kelainan NC NC tidak ditemukan kelainan Kalau ada salah satu (contoh N VII) ada kelainan N VII perifer/ sentral sin/dextra

MOTORIK Inspeksi Tonus : ekstremitas atas dan bawah tidak tampak atrofi dan tidak terdapat fasikulasi : Ekstremitas atas : normotonus / normotonus Ekstremitas bawah: normotonus / normotonus Kekuatan: Lengan atas Lengan bawah Tangan Jari tangan Tungkai atas Tungkai bawah Kaki Kanan 5 5 5 5 5 5 5 Kiri 5 5 5 5 5 5 5

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

Kesimpulan motorik:

5 5

5 5

Refleks fisiologis:

Kanan

Kiri

Biseps 2+ 2+ Triseps 2+ 2+ Patella 2+ 2+ Achilles 2+ 2+ Keterangan: 2 hiperrefleks, 1 normorefleks, 0 hiporefleks Kesimpulan : RF 2+ 2+ 2+ 2+

Refleks patologis: Hoffman-Trommer Babinski Oppenheim Gordon Schaefer Chaddock Kesimpulan RP ---

Kanan ---

Kiri -

SENSORIK Rangsang nyeri Ekstremitas atas Ekstremitas bawah Rangsang raba Ekstremitas atas Ekstremitas bawah Rangsang Suhu Ekstremitas atas Ekstremitas bawah Rangsang getar Ekstremitas atas Ekstremitas bawah

Kanan

Kiri

normoalgesia normoalgesia normoestesia normoestesia

normoalgesia normoalgesia normoestesia normoestesia

tidak diperiksa tidak diperiksa tidak diperiksa tidak diperiksa tidak diperiksa tidak diperiksa tidak diperiksa tidak diperiksa

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

Lokasi anatomi Motor neuron

Pola kelainan -Parese otot, fasikulasi. -Tonus : flaccid - Distribusi pada satu akar saraf sesuai dermatom - Distribusi pada banyak akar saraf

Penyakit -Polio mielitis acuta anterior -A.L.S. -SMA -HNP Cervical (eg : C6, C7) -HNP Lumbal (eg: L5,S1) -Sy Cauda Equina - Sy Guillain Barre

Mono radikulopati Poli radikulopati

Plexus Mono neuropati

- Distribusi Plexus - Distribusi Satu Saraf Tepi

-Brachialgia - Ischialgia -Carpal Tunnel Sy - Saturday Night Palsy


- Lepra Poli neuropati D.M. Myasthenia gravis Polimiositis, Distrofi Moscular Progressiva

Mono neuropati Multiplex Poli neuropati Neuro Muscular Junction Miopati

- Distribusi beberapa saraf tepi - Banyak saraf tepi : Difus, Simetrik, Reflex distal menurun Parese otot yang berfluktuasi - Kelemahan otot Proximal yang progresif

Kelainan Neurologi V : Vaskular I : Infeksi T : Trauma A : Autoimune M : Metabolik I : Iatrogenik N : Neoplasma D : Degeneratif S : Serebro vascular (stroke) E : Epilepsi M : Metabolik E : Elektrolite N : Neoplasma I : Infeksi T : Trauma E : Endokrine (versi dr.Marjanti SpS)

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

VERTIGO

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

STROKE STROKE defisit neurologis yang tiba yang bersifat fokal/global yang belangsung cepat > 24 Jam yang bahkan meninggal yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah di otak. Komponen : 1. Jantung ( MCI, AF, Infark, dll) 2. Pembuluh darah (AVM, aneurisma, dll) 3. Darah (viskositas, komp.kolesterol, gula) Kelainan: 1. PA y Stroke Hemorragik (intraserebral, subarachnoid) y Stroke non hemorragik (Emboli, thrombus) 2. Pembuluh darah y Sistem Karotis y Sistem vertebrobasiler 3. Onset y TIA <24 jam y RIND (Reversible Iskemik Neurologi Defisit) < 2minggu y Stroke in evolution y Stroke komplite Faktor resiko 1. Non Modifikasi y Umur y Jenis Kelamin y Ras y Genetik 2. Modifikasi y HT y Kolesterol y Jantung (AF, RA, dll) y Gula y Stress y Pemakaian narkoba y Pemakaian alat kontrasepsi y Merokok y Emosi y Life style

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

SKOR SIRIRAJ (SKORE STROKE)

(2,5 x S) + (2 x M) + (2 x N) + (0,1 x Diastole) (3 x A) 12


Keterangan S = Sadar 0 = Compos mentis 0 = tidak ada 0 = tidak ada 0 = tidak ada 1 = ada, salah satu/lebih (DM, angina, penyakit PD) 12 = konstanta Kesimpulan: >1 < -1 = Perdarahan supratentorial = Infark/iskemik 1 = ada 1 = ada 1 = somnolen 2 = spoor/koma

M = Muntah N = Nyeri kepala A = Ateroma

-1 s/d 1 = Meragukan

MABP = Mean Arteri Blood Pressure

S+2D 3

Aspilet dosis kecil fungsinya sebagai antiagregasi Aspilet dosis besar fungsinya sebagai analgetik.

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

Aliran LSS : ventrikel lateralis


for.monroe

ventrikel III
aqueductus sylvii

ventrikel IV
for.luschka&magendi

cysterna magna ruang subarahnoid villi arahnoid aliran darah


KOMA Perbedaan koma neurologi dan non neurologi/metabolic Neurologi Non neurologi/Metabolik Anamnesa y Onset y Riwayat penyakit dahulu Pemeriksaan fisik y Pupil y Reflek cahaya y Reflek kornea y Adanya lateralisasi y Refleks fisiologis y Refleks patologis Laboratorium Mendadak Adanya deficit neurologis Isokhor Lambat (kemungkinan MBO) Kejang Partial Meningkat + Kronik progressive DM/ Ginjal/ Hati Tidak ada deficit Anisokhor + Normal + Normal Kejang umum + Normal Hiperkolesterol Hiperglikemia Ureum/kreatinin naik Bilirubin meningkat

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

10

SINKOP

II.1

Definisi Sinkop berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata syn dan koptein yang artinya memutuskan. Sehingga definisi sinkop (menurut European Society of Cardiology:ESC), adalah suatu gejala dengan karakteristik klinik kehilangan kesadaran yang tiba-tiba dan bersifat sementara, dan biasanya menyebabkan jatuh. Onsetnya relatif cepat dan terjadi pemulihan spontan. Kehilangan kesadaran tersebut terjadi akibat hipoperfusi serebral. 3,4

II.2

Etiologi Kegiatan sebelum sinkop dapat memberikan petunjuk mengenai penyebab gejala. Sinkop dapat terjadi pada saat istirahat, dengan perubahan postur, pada tenaga, setelah latihan, atau dengan situasi tertentu seperti batuk, atau berdiri lama. Sinkop terjadi dalam waktu 2 menit berdiri menunjukkan hipotensi ortostatik.3 Secara garis besar, penyebab sinkop dibagi menjadi dua. Akibat kelainan jantung (cardiac sinkop) dan penyebab bukan kelainan jantung. Pembagian ini sangat penting, karena berhubungan dengan tingkat risiko kematian. Penyebab sinkop dapat diklasifikasikan dalam lima kelompok yaitu vascular-cardiac, neurologi, sinkop refleks, sinkop metabolik dan sinkop lain-lain.4

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

11

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

12

TRAUMA MEDULA SPINALIS

A. GAMBARAN KLINIS Trauma Medula spinalis akut dapat mengakibatkan renjatan spinal (spinal shock). Renjatan spinal (RS) merupakan sindrom klinik yang sering dijumpai pada sebagian besar kasus TMS di daerah servikal dan torakal. RS ditandai oleh adanya gangguan menyeluruh fungsi saraf somatomotorik, somatosensorik, dan otonomik simpatik. Gangguan somatik berupa paralisis flaksid, hilangnya refleks kulit dan tendon, serta anastesi sampai setinggi distribusi segmental medula spinalis yang terganggu. Sedangkan gangguan otonomik berupa hipotensi sistemik, bradikardia, dan hiperemia pada kulit. RS dapat berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa bulan. Semakin hebat trauma MS yang terjadi, semakin lama dan semakin hebat pula RS yang terjadi. Sebagian besar trauma MS terjadi di daerah servikal. Akan tetapi yang paling sering mengakibatkan cedera berat adalah trauma di daerah torakal. Hal ini berkaitan dengan penampang melintang kanalis spinalis di daerah torakal yang lebih sempit dibanding servikal. Trauma MS di segmen torakal dapat mengakibatkan paraplegia, disertai kelemahan otot interkostal yang dapat mengganggu kemampuan inspirasi dan ekspirasi. Semakin tinggi segmen medula spinalis yang terkena, semakin berat pula gangguan fungsi respirasi yang terjadi. Cedera setinggi segmen servikal (C4-C8) dapat mengakibatkan tetraplegia dan kelemahan otot interkostal yang lebih berat, sehingga otot diafragma harus bekerja lebih keras. Cedera servikal di atas segmen C4 dapat mengakibatkan pentaplegia, yaitu tetraplegia disertai kelumpuhan otot diafragma dan otot leher. Pada keadaan terakhir ini, diperlukan ventilator untuk membantu kelangsungan hidup penderita.

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

13

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

14

Kelumpuhan berdasarkan letak lesi dibagi menjadi 2 1 . Lesi Upper Motor Neuron/UMN/Central a. Hemispher Cerebri : - Korteks Precentralis - Kapsula Interna b. Batang Otak : - Mesencephalon - Pons - Medulla oblongata c. Medulla Spinalis 2 . Lesi Lower Motor Neuron / LMN / Perifer a . Motor neuron b . Radix ventralis c . Saraf tepi d . Motor end plate e . Otot

Ciri-ciri Kelumpuhan Upper Motor Neuron/ Sentral Tonus Hiperrefleksi Refleks patologis Tidak ada atrofi otot

Ciri-ciri Kelumpuhan Lower Motor Neuron/Perifer Tonus (atoni) Arefleksi Reflek patologis (-) Atrofi

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

15

SISTEM OTONOM

FUNGSI
DENYUT JANTUNG IRIS

SIMPATIS
MEMACU DILATASI

PARASIMPATIS
MENAHAN KONTRIKSI

BRONCHI
PERISTALTIK GI SEKRESI GI PENGOSONGAN VU SPHINCTER GI SPHINTER VU SALIVA SEKRESI ADRENAL A.CORONARIA ARTERI PD. UMUMNYA KLJ. KERINGAT PILOMOTOR

DILATASI
MENGHAMBAT ------- , , --------------- ,, -------KONTRIKSI ----- ,, -----KENTAL MEMACU DILATASI KONTRIKSI STIMULASI STIMULASI

KONTRIKSI
MEMACU ---- ,, --------- ,, -----RELAKSASI ------ ,, ------> CAIR EFEK KECIL / ------------ ,, ----------------- ,, ----------------- ,, -------TAK ADA SARAF

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

16

PARKINSON I. Pendahuluan Penyakit parkinson adalah gangguan gerak kronis progresif yang ditandai dengan adanya tremor, bradikinensia, rigiditas dan ketidakstabilan posturall akibat degenerasi sel-sel yang menghasilkan dopamin di substansia nigra. Terjadinya degenerasi sel-sel tersebut dapat mengakibatkan kerusakan pada sistim motor dan sistim limbik.

II.

Klasifikasi p Penyebab a. Primer atau idiopatik - Penelitian terakhir membuktikan adanya peran toksin lingkungan b. Sekunder atau akuisita - Paparan kronis zat kimia (Mn, CO, Reserpin, Antipsikotik) - Penyakit (Ensefalitis, CKB, Alfametildopa, kaptopril) c. Sindrom Parkinson Plus - Gejala yang timbul bersamaan dengan penyakit lain (Alzheimer) Stadium Penyakit Parkinson Stadium I : Unilateral, ekspresi wajah berkurang, lengan yang terkena dalam posisi flexi dengan tremor dan ayunan lengan agak berkurang atau normal Stadium II : Bilateral, postur tubuh bungkuk ke depan, gaya berjalan lambat, langkah kecil, sukar membalikkan badan Stadium III : Gangguan gaya berjalan, ketidakstabilan postural, jarang tarjatuh

III.

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

17

IV.

: Disabilitas, berjalan terbatas tanpa bantuan, sulit berdiri, kecenderungan terjatuh o Stadium V : Tidak mampu berdiri atau jalan, bicara tidak jelas, wajah tanpa ekspresi, jarang berkedip Kriteria Diagnosis 1. Secara klinis : - Dua dari tiga tanda kardinal gangguan motorik tremor, rigiditas dan bradikinensia postural - Tiga dari empat tanda motorik : tremor, rigiditas, bradikinensia dan ketidakstabilan psotural 2. Kriteria Koller - Dua dari tiga tanda kardinal selama 1 tahun atau lebih - Respon terapi Levedopa sampai perbaikan sedang atau bermakna dan lama perbaikan selama 1 tahun atau lebih 3. Kriteria Hughes - Klinis possible terhadap satu dari : Tremor (conset baru atau istirahat), rigiditas, bradikinensia - Klinik probable bila terdapat dua dari : tremor postural, rigiditas, bradikinensia, reflek postural terganggu - Klinis definit terdapat kombinasi dari 3 tanda kardinal Terapi 1. Dopamin agnoist 2. Levedopa 3. Selegilin 4. Amatidine 5. COMT inhibitor

Stadium IV

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

18

Rangkuman  SGB (SINDROMAGUILLAIN-BARRE) Suatu penyakit akut dimana terjadi polineuropati karena proses demielinisasi akibat inflamasi pada saraf kranial, akar saraf bagian ventral atau dorsal ataupun sepanjang perjalanan saraf perifer, dan dengan manifestasi klinis utama berupa kelumpuhan LMN.  Etiologi SGB Imunologik dan Sering dihubungkan dengan virus Epstein-Barr atau virus sitomegalo ( CMV ). y Klinis utama berupa kelemahan LMN, biasanya simetris. y Periode perjalanan penyakitnya mulai beberapa hari sampai 2 minggu. y Kelemahan proksimal sama dengan distal, bagian tungkai lebih dulu dibanding lebih atasnya ( lengan, badan, interkostal dan leher ), kemudian nervi kraniales. y Dapat terjadi paralisis motorik total, dengan gagal nafas dan mengalami kematian. y Gangguan sensorik ( baal dan kesemutan )tetapi tidak menonjol. y Gangguan autonom juga sering terjadi ( pada kasus yang berat terjadi disautonom ; hipertensi / hipotensi.  Miastenia Gravis ( MG ) adalah penyakit autoimun yang didapat dan mengganggu transmisi neuromuskular pada NMJ akibat kekurangan / kerusakan reseptor ACh.  Gambaran klinis MG y Onset : insidious dapat juga presipitous y Keluhan khas : kelemahan otot setelah/ssaat digunakan dan membaik saat istirahat y Gejala inisial : y Fokal y Otot bulbar y Otot ekstremitas ( 10% ) y Otot mata ( 60% ) ; diplopia, ptosis. y Perkembangan : y 10% pada otot y 90% ke umum.  Epilepsi gangguan neurologi yang berulang,serangannya sama dengan yang pertama yang disebabkan oleh aliran listrik yang diotak berlebihan.  Tumor otak (kronik progresif) Gejalanya:  Nyeri kepala: biasanya muncul pada pagi hari setelah bangun tidur, nyeri tepat bertambah berat waktu posisi berbaring dan berkurang bila duduk.  Muntah proyektil  Edema papil (funduskopi)  Kejang ini terjadi bila tumor berada dihemisfer serebri serta merangsang korteks motorik.  Lobus frontalis daerah preprontalis (gejala gangguan mental (euphoria)), refleks memegang (grasp refleks) Mohamad Fikih/FK UPN Veteran 19

 Area broka afasia motorik (kiri)  Lobus presentralis (area motorik), bila terdapat SOL kejang fokal, kejang pada sisi kontralateral, lumpuh jika ada penekanan terhadapa jalur kortikospinal.  Tumor dikelenjar hipofisis akromegali  Lobus temporalis diunkus gejala halusinasi pembauan dan pengecapan. dimedia dejavu korteks dibagian belakang temporal pendengaran. tumor dihemisfer dominan bagian belakang (area wernicke) afasia sensoris. kortikospinal kelumpuhan anggota badan sisi kontralateral.  Lobus parietalis gangguan sensorik (post sentralis) hilangnya kebal,berbagai sensasi.  Tumor dilobus oksipitalis nyeri kepala (gangguan awal utama) defek lapang pandang penglihatan. Lesi dihemisfer dominan visual object agnosta (tdk mengenal object)  Tumor di mesensepalon sering menekan jalur supra nuclear dari nucleus N III, dan N IV gangguan konjugasi bola mata. Juga terjadi dilatasi pupil sebelah mata (anishokor), yg bereaksi negative pada rangsang cahaya.  Tumor didaerah pons dan medulla oblongata paresis N VI unilateral dan hemiparesis alternans.  Tumor diserebelum (biayanya menyerang anak-anak) TIK menekan LCS hidrosephalus.  ETIOLOGI LBP  Kongenital  Trauma  Inflamasi  Tumor  Ggn. Metabolik  Degenerasi  Kelaian alat viscera / retroperitoneal  Psikogenik  Kelainan sikap  Jenis-jenis nyeri  Nyeri lokal  Referred pain  Nyeri Radikuler  Nyeri akibat kontraksi otot / spasme untuk proteksi  Klasifikasi berdasarkan lokasi : 1. Meningitis : Infeksi meningen 2. Ensefalitis : Infeksi parenkhim otak 3. Myelitis : Infeksi medula spinalis. Patogenesis: Masuknya mikroba ke SSP dapat secara : 1. Hematogen 2. Implantasi langsung. mis.: pungsi lumbal, VP Shunt. 3. Perluasan lokal mis.: mastoiditis 4. Melalui saraf tepi mis.: rabies, herpes simpleks Mohamad Fikih/FK UPN Veteran 20

MENINGITIS SEPTIK AKUT Kuman penyebab : 1. Haemophilus Influenzae 2. Meningococcal 3. Pneumococcal & gram positif lain - Streptococcal - Staphylococcal 4. Kuman gram negatif - Listeria monocytogenesis - Klebsiela pneumonia - Pseudomonas aerogenesis, dll Apakah spondylosis itu? Spondylosis merupakan penyakit degeratif pada tulang belakang dimana terdapat osteofit di sepanjang bagian anterior dan lateral dari kolom vertebral. Osteofit merupakan taji atau penonjolan tulang yang terbentuk di sepanjang sendi. Osteofit biasanya terbentuk akibat kerusakan pada permukaan sendi. Hal tersebut menyebabkan batasan pada pergerakan sendi bersamaan dengan berbagai tingkatan rasa sakit. Bagian tulang belakang manakah yang terkena dampak spondylosis? Bagian tulang belakang manapun dapat terkena dampak dari spondylosis, namun biasanya bagian servik dan lumbar cenderung yang lebih umum mengalami gejalanya. Istilah-istilah Cervical Spondylosis, Thoracic Spondylosis, dan Lumbar Spondylosis menerangkan bagian tulang belakang yang terkena dampaknya. Apakah yang menyebabkan spondylosis? Spondylosis diyakini merupakan akibat dari masalah pada diskus sirkuler antara dua tulang vertebral. Diskus tersebut dinamakan Annulus fibrosus. Hal ini mengarah ke perubahan yang bersifat degeneratif seiring dengan usia. Seiring penuaan, diskus tersebut akan kehilangan air, terbagi menjadi beberapa bagian, dan lalu hancur. Kondisi tersebut menyebabkan adanya wear and tear (rusaknya sendi akibat sering digunakan) diantara tulang-tulang punggung atau vertebra. Hasilnya adalah pembentukan osteofit yang menyebabkan rasa sakit dan keterbatasan gerakan sendi. Selain bertambahnya usia, kondisi seperti arthritis dan trauma juga terlibat sebagai penyebab spondylosis. Apasajakah gejala spondylosis? Pasien yang menderita spondylosis dapat mengalami:
y

Nyeri leher yang menyebar ke bahu, atau sakit punggung. Lokasi nyeri atau rasa sakit berhubungan dengan seberapa banyak tulang belakang yang terlibat.

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

21

y y y y

Sensasi abnormal atau kehilangan sensasi yang mengacu pada segmen tulang belakang yang terlibat. Otot terasa lemah (khususnya pada lengan dan tungkai). Kehilangan keseimbangan. Kehilangan kendali kandung kemih dan/atau usus bagian bawah (kondisi darurat medis).

Apasajakah yang menjadi pilihan perawatan dan penanganan standar untuk spondylosis? Banyak pasien yang mengalami spondylosis merasa bahwa perawatan yang mereka lakukan tidak ideal. Perawatan dan penanganan konservatif serta perubahan gaya hidup memberikan beberapa hasil pada banyak kasus. Tujuan akhir dari penanganan ini adalah untuk memperlambat proses pada spondylosis dan meningkatkan kualitas hidup dengan memulihkan tanda dan gejala-gejala spondylosis. Di bawah ini merupakan beberapa bentuk penanganan spondylosis: Penanganan konservatif:
y y y y y y y

Analgesik (penghilang rasa sakit) dan pengobatan anti-peradangan seperti NSAID. Obat untuk merelaksasi otot. Terapi panas. Stimulasi listrik. Terapi pijat. Fisioterapi dan latihan untuk menguatkan otot. Suntikan di sendi tulang belakang pada kondisi parah.

Penanganan melalui operasi/bedah:


y

y y

Jika metode-metode di atas tidak memberikan hasil yang diperlukan atau jika tingkat keparahan penyakit di luar batas kemampuan penanganan konservatif, maka keterlibatan operasi atau bedah dapat menjadi penting. Jika tidak dapat diperbaiki, penanganan melalui operasi melibatkan perbaikan atau pelepasan (di buang) diskus intervertebral yang terkena dampak spondylosis. Kadang dua tulang vertebral digabungkan dengan menggunakan serpihan-serpihan tulang dan hasil penggabungan ini disisipkan di antara dua tulang vertebral yang berdekatan.

Mohamad Fikih/FK UPN Veteran

22