Anda di halaman 1dari 11

Adab-Adab Berbicara Bagi Wanita Muslimah Ahad, 02 Januari 2011 - 18:51:17 :: kategori Kewanitaan Penulis: Redaksi Salafy-BPP .

: Wahai saudariku muslimah.. Berhati-hatilah dari terlalu banyak berceloteh dan terlalu banyak berbicara,Allah Ta'ala berfirman: ) : 114). Artinya: "Dan tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka,kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah,atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia ". (An nisa:114) :.

Dan ketahuilah wahai saudariku,semoga Allah ta'ala merahmatimu dan menunjukimu kepada jalan kebaikan, bahwa disana ada yang senantiasa mengamati dan mencatat perkataanmu. " Artinya: "Seorang duduk disebelah kanan,dan yang lain duduk disebelah kiri.tiada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir" (Qaaf:1718). Maka jadikanlah ucapanmu itu menjadi perkataan yang ringkas, jelas, yang tidak bertele-tele yang dengannya akan memperpanjang pembicaraan. 1) Bacalah Al qur'an karim dan bersemangatlah untuk menjadikan itu sebagai wirid keseharianmu, dan senantiasalah berusaha untuk menghafalkannya sesuai kesanggupanmu agar engkau bisa mendapatkan pahala yang besar dihari kiamat nanti. : - : ): 17 -18)

Dari abdullah bin umar radiyallohu anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, beliau bersabda: dikatakan pada orang yang senang membaca alquran: bacalah dengan tartil sebagaimana engkau dulu sewaktu di dunia membacanya dengan tartil, karena sesungguhnya kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca. HR.abu daud dan attirmidzi

2) Tidaklah terpuji jika engkau selalu menyampaikan setiap apa yang engkau dengarkan,karena kebiasaan ini akan menjatuhkan dirimu kedalam kedustaan. :

Dari Abu hurairah radiallahu 'anhu,sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta ketika dia menyampaikan setiap apa yang dia dengarkan." (HR.Muslim dan Abu Dawud) 3) jauhilah dari sikap menyombongkan diri (berhias diri) dengan sesuatu yang tidak ada pada dirimu,dengan tujuan membanggakan diri dihadapan manusia. - : :

Dari aisyah radiyallohu anha, ada seorang wanita yang mengatakan:wahai Rasulullah,aku mengatakan bahwa suamiku memberikan sesuatu kepadaku yang sebenarnya tidak diberikannya.berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam,: orang yang merasa memiliki sesuatu yang ia tidak diberi,seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan." (muttafaq alaihi) 4) Sesungguhnya dzikrullah memberikan pengaruh yang kuat didalam kehidupan ruh seorang muslim,kejiwaannya, jasmaninya dan kehidupan masyarakatnya. maka bersemangatlah wahai saudariku muslimah untuk senantiasa berdzikir kepada Allah ta'ala,disetiap waktu dan keadaanmu.Allah ta'ala memuji hamba-hambanya yang mukhlis dalam firman-Nya: Artinya: "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring" (Ali imran:191) 5) Jika engkau hendak berbicara,maka jauhilah sifat merasa kagum dengan diri sendiri, sok fasih dan terlalu memaksakan diri dalam bertutur kata,sebab ini merupakan sifat yang sangat dibenci Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam,dimana Beliau bersabda: )191 : (

"sesungguhnya orang yang paling aku benci diantara kalian dan yang paling jauh majelisnya dariku pada hari kiamat : orang yang berlebihan dalam berbicara, sok fasih dengan ucapannya dan merasa ta'ajjub terhadap ucapannya." (HR.Tirmidzi,Ibnu Hibban dan yang lainnya dari hadits Abu Tsa'labah Al-Khusyani radhiallahu anhu) 6) Jauhilah dari terlalu banyak tertawa,terlalu banyak berbicara dan berceloteh.jadikanlah

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, sebagai teladan bagimu,dimana beliau lebih banyak diam dan banyak berfikir.beliau Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, menjauhkan diri dari terlalu banyak tertawa dan menyibukkan diri dengannya.bahkan jadikanlah setiap apa yang engkau ucapkan itu adalah perkataan yang mengandung kebaikan, dan jika tidak,maka diam itu lebih utama bagimu. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, bersabda:

" Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaknya dia berkata dengan perkataan yang baik,atau hendaknya dia diam." (muttafaq alaihi dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu) 8) jangan kalian memotong pembicaraan seseorang yang sedang berbicara atau membantahnya,atau meremehkan ucapannya. Bahkan jadilah pendengar yang baik dan itu lebih beradab bagimu,dan ketika harus membantahnya,maka jadikanlah bantahanmu dengan cara yang paling baik sebagai syi'ar kepribadianmu. 9) berhati-hatilah dari suka mengolok-olok terhadap cara berbicara orang lain,seperti orang yang terbata-bata dalam berbicara atau seseorang yang kesulitan berbicara.Alah Ta'ala berfirman: ()11 :

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik." (QS.Al-Hujurat:11) 10) jika engkau mendengarkan bacaan Alqur'an,maka berhentilah dari berbicara,apapun yang engkau bicarakan, karena itu merupakan adab terhadap kalamullah dan juga sesuai dengan perintah-Nya, didalam firman-Nya: : )402 :( Artinya: "dan apabila dibacakan Alqur'an,maka dengarkanlah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kalian diberi rahmat". Qs.al a'raf :204 11) bertakwalah kepada Allah wahai saudariku muslimah,bersihkanlah majelismu dari ghibah dan namimah (adu domba) sebagaimana yang Allah azza wajalla perintahkan kepadamu untuk menjauhinya. bersemangatlah engkau untuk menjadikan didalam majelismu itu adalah perkataan-perkataan yang baik,dalam rangka menasehati,dan petunjuk kepada kebaikan. perkataan itu adalah sebuah perkara yang besar,berapa banyak dari perkataan seseorang yang dapat menyebabkan kemarahan dari Allah azza wajalla dan menjatuhkan pelakunya kedalam jurang neraka.Didalam hadits Mu'adz radhiallahu anhu tatkala Beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam: apakah kami akan disiksa dengan apa yang kami

ucapkan? Maka jawab Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: ) (

"engkau telah keliru wahai Mu'adz,tidaklah manusia dilemparkan ke Neraka diatas wajahwajah mereka melainkan disebabkan oleh ucapan-ucapan mereka." (HR.Tirmidzi,An-Nasaai dan Ibnu Majah) 12- berhati-hatilah -semoga Allah menjagamu- dari menghadiri majelis yang buruk dan berbaur dengan para pelakunya,dan bersegeralah-semoga Allah menjagamu- menuju majelis yang penuh dengan keutamaan, kebaikan dan keberuntungan. 13- jika engkau duduk sendiri dalam suatu majelis, atau bersama dengan sebagian saudarimu,maka senantiasalah untuk berdzikir mengingat Allah azza wajalla dalam setiap keadaanmu sehingga engkau kembali dalam keadaan mendapatkan kebaikan dan mendapatkan pahala.Allah azza wajalla berfirman: )191 : (

Artinya: "(yaitu) orang orang yang mengingat Allah sambil berdiri,atau duduk,atau dalam keadaan berbaring" (QS..ali 'imran :191) 14- jika engkau hendak berdiri keluar dari majelis, maka ingatlah untuk selalu mengucapkan: "maha suci Engkau ya Allah dan bagimu segala pujian,aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak untuk disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu, dan aku bertaubat kepada-Mu" Sehingga diampuni bagimu segala kesalahanmu di dalam majelis tersebut.

Ditulis oleh: Haya Bintu Mubarak Al-Buraik Dari kitab: mausu'ah al-mar'ah al-muslimah: 31-34 Alih bahasa : Ummu Aiman

Umamah Bintu Abil Ash radhiyallahu 'anha Rabu, 02 April 2008 - 08:38:36 :: kategori Kewanitaan Penulis: Al-Ustadzah Ummu 'Abdirrahman Bintu 'Imran .: Bagaimana takkan bahagia merasakan kasih sayang seorang yang begitu mulia, menjadi panutan seluruh manusia. Kisah buaian sang kakek dalam shalat menyisakan faedah besar bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Zainab, putri sulung Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, disunting pemuda Quraisy, Abul Ash bin Ar-Rabi bin Abdil Uzza bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay AlQurasyi namanya Allah Subhanahu wa Taala menganugerahi mereka dua orang anak, Umamah dan Ali Sepanjang masa kecilnya, Umamah bin Abil Ash benar-benar merasakan kasih sayang sang kakek, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam Hingga suatu kali, para shahabat tengah duduk di depan pintu rumah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam Ternyata beliau muncul dari pintu rumahnya sembari menggendong Umamah kecil. Beliau shalat sementara Umamah tetap dalam gendongannya Jika beliau ruku, beliau letakkan Umamah Bila beliau bangkit, beliau angkat kembali Umamah. Begitu seterusnya hingga beliau menyelesaikan shalatnya. Suatu hari, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah mendapatkan hadiah Di antaranya berupa seuntai kalung Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memungutnya Aku akan memberikan kalung ini pada seseorang yang paling kucintai di antara keluargaku, kata beliau waktu itu Para istri beliau pun saling berbisik, yang akan memperoleh kalung itu pastilah Aisyah radhiyallahu anha Ternyata Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memanggil Umamah, sang cucu. Beliau pakaikan kalung itu di leher Umamah Berhiaslah dengan ini, wahai putriku! kata beliau Lalu beliau usap kotoran yang ada di hidung Umamah. Ketika Abul Ash meninggal, dia wasiatkan Umamah pada Az-Zubair ibnul Awwam radhiyallahu anhu Tahun terus berganti Pada masa pemerintahan Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu meminang Umamah Az-Zubair ibnul Awwam radhiyallahu anhu pun menikahkan Ali dengan Umamah Namun dalam pernikahan ini Allah Subhanahu wa Taala tidak memberikan seorang anak pun kepada mereka. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu pernah meminta Al-Mughirah bin Naufal Al-Harits bin Abdil Muththalib Al-Hasyimi radhiyallahu anhu agar bersedia menikah dengan Umamah bila dia telah wafat Ali pun berpesan pula kepada Umamah, bila dia meninggal nanti, dia ridha jika Umamah menikah dengan Al-Mughirah. Subuh hari, 17 Ramadhan, 40 tahun setelah hijrah Allah Subhanahu wa Taala takdirkan Umamah harus berpisah dengan suaminya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, terbunuh oleh seorang Khawarij bernama Abdurrahman ibnu Muljam dengan tikaman pedangnya Selesai masa iddahnya, Umamah mendapatkan pinangan Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu anhuma Umamah pun segera mengutus seseorang untuk memberitahukan hal ini kepada Al-Mughirah bin Naufal Kalau engkau mau, kau serahkan urusan ini padaku, :.

jawab Al-Mughirah. Umamah pun mengiyakan. Lalu Al-Mughirah meminang Umamah pada Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhuma yang kemudian menikahkan AlMughirah dengan Umamah. Allah Subhanahu wa Taala karuniakan pada mereka seorang anak, Yahya ibnul Mughirah namanya. Namun tidak lama hidup bersisian dengan Al-Mughirah, Umamah bintu Abil Ash meninggal di masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu anhuma Umamah bintu Abil Ash, semoga Allah Subhanahu wa Taala meridhainya Wallahu taala alamu bish-shawab.

Istri-istri Rasulullah : Aisyah binti Abu Bakar Kamis, 10 Maret 2005 - 02:49:24 :: kategori Kewanitaan Penulis: Majalah Salafy Edisi XV/Dzulqaidah/1417/1997 .: Hari-hari indah bersama kekasih Allah dilalui dengan singkatnya ketabahan menghiasi kesendiriannya guru besar bagi kaumnya pendidikan kekasih Allah telah menempanya. :.

Dia adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq , yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lebih suka memanggilnya Humaira Aisyah binti Abu Bakar Abdullah bin Abi Khafafah berasal dari keturunan mulia suku Quraisy. Ketika umur 6 tahun, gadis cerdas ini dipersunting oleh manusia termulia Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdasarkan perintah Allah melalui wahyu dalam mimpi beliau. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengisahkan mimpi beliau kepada Aisyah :Aku melihatmu dalam mimpiku selama tiga malam, ketika itu datang bersamamu malaikat yang berkata : ini adalah istrimu. Lalu aku singkap tirai yang menyembunyikan wajahmu , lalu aku berkata sesungguhnya hal itu telah ditetapkan di sisi Allah (Muttafaqun alaihi dari 'Aisyah radilayallahu 'anha) Aisyah radhiyallahu anha memulai hari-harinya bersama Rasulullah sejak berumur 9 tahun. Mereka mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga yang diliputi suasana Nubuwwah. Rumah kecil yang disamping masjid itu memancarkan kedamaian dan kebahagiaan walaupun tanpa permadani indah dan gemerlap lampu yang hanyalah tikar kulit bersih sabut dan lentera kecil berminyak samin (minyak hewan). Di rumah kecil itu terpancar pada diri Ummul Mukminin teladan yang baik bagi istri dan ibu karena ketataatannya pada Allah, rasul dan suaminya. Kepandaian dan kecerdasannya dalam mendampingi suaminya, menjadikan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sangat mencintainya Aisyah menghibur Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sangat mencintainya Aisyah menghibur Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika sedih, menjaga kehormatan diri dan harta suami tatkala Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdawah di jalan Allah Aisyah radhiyallahu anha juga melalui hari-harinya dengan siraman ilmu dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sehingga ribuan hadist beliau hafal Aisyah radhiyallahu anha juga ahli dalam ilmu faraid (warisan dan ilmu obat-obatan). Urmah bin Jubair putra Asma binti Abu Bakar bertanya kepada Aisya radhiyallahu anha : Wahai bibi, dari mana bibi mempelajari ilmu kesehatan? Aisyah menjawab :Ketika aku sakit, orang lain mengobatiku, dan ketika orang lain sakit aku pun mengobatinya dengan sesuatu Selain itu, aku mendengar dari orang lain, lalu aku menghafalnya Selain keahliannya itu, Aisyah juga seorang wanita yang menjaga kesuciannya. Seperti kisah beliau sepulang dari perang Hunain, yang dikenal dengan haditsul ifqi. Ketika mendekati kota Madinah, beliau kehilangan perhiasan yang dipinjam dari Asma. Lalu dia turun untuk mencari perhiasan itu. Rombongan Rasulullah dan para sahabatnya berangkat tanpa menyadari bahwa Aisyah tertinggal. Aisyah menanti jemputan, dan tiba-tiba datanglah Sufyan bin Muathal seorang tentara penyapu ranjau. Melihat demikian, Sufyan menyabut

Asma Allah lalu Sufyan turun dan mendudukkan kendaraanya tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya kemudian Aisyah naik kendaraan tersebut dan Sufyan menuntun kendaraan tersebut dengan berjalan kaki. Dari kejadian ini, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya menyebarkan kabar bohong untuk memfitnah ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha Fitnah ini menimbulkan goncangan dalam rumah tangga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tapi Allah yang Maha Tahu berkehendak menyingkap berita bohong tersebut serta mensucikan beliau dalam Al-Quranul Karim dalam surat An-Nur ayat 11-23. Diantara kelebihan beliau yang lainnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memilih untuk dirawat di rumah Aisyah dalam sakit menjelang wafatnya. Hingga akhirnya Rasulullah wafat di pangkuan Aisyah dan dimakamkan dirumahnya tanpa meninggalkan harta sedikitpun. Ketika itu Aisyah radhiyallahu anha berusia 18 tahun Sepeninggal Rasulullah, Aisyah mengisi hari-harinya dengan mengajarkan Al-Quran dan Hadits dibalik hijab bagi kaum laki-laki pada masanya. Dengan kesederhanaannya, beliau juga menghabiskan hari-harinya dengan ibadah kepada Allah, seperti puasa Daud. Kesederhanaan juga nampak ketika kaum muslimin mendapatkan kekayaan dunia, beliau mendapatkan 100.000 dirham. Saat itu beliau berpuasa, tetapi uang itu semua disedekahkan tanpa sisa sedikitpun. Pembantu wanitanya mengingatkan beliau :Tentunya dengan uang itu anda bisa membeli daging 1 dirham buat berbuka? Aisyah menjawab : Andai kamu mengatakannya tadi, tentu kuperbuat Begitulah beliau yang tidak gelisah dengan kefakiran dan tidak menyalahgunakan kekayaan kezuhudannya terhadap dunia menambah kemuliaan. Wallahualam bishowwab

stri-istri Rasulullah : Saudah binti Zam'ah Kamis, 10 Maret 2005 - 02:28:34 :: kategori Kewanitaan Penulis: Majalah Salafy Edisi XIV/Syawwal/1417/1997 .: :. Namanya menggoreskan tinta emas dalam lembaran sejarah kaum muslimin. Dia wanita yang tabah. Keinginan menjadi pendamping Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sampai wafatnya adalah bukti kesetiannya terhadap beliau Dia adalah Saudah binti Zamah Aku ingin sekali menjadi dirinya. Saudah menikah pertama kali dengan Sakran bin Amr, saudara laki-laki Suhaili bin Amr AlAmiri. Ia bersama suaminya adalah termasuk kelompok kaum muslimin yang berjumlah 8 orang dari Bani Amir yang hijrah ke Habasyah dengan meninggalkan harta-harta mereka. Mereka arungi laut penderitaan diatas keridhaan, rela atas kematian yang akan menghadangnya, demi kemenangan agama yang mulia ini. Dan sungguh bertambah keras siksa dan kesempitan yang dialaminya karena penolakan mereka terhadap kesasatan dan kesyirikan. Tak lama kemudian setelah berakhirnya pengujian pengungsian di negeri Habasyah, ujian yang lainpun datang. Saudah harus kehilangan suaminya menghadap Sang Khaliq selamalamanya. Maka jadilah ia seorang janda seiring dengan usianya yang mulai menapaki masa senja. Hari-hari duka dilalui dengan ketabahan. Dan inilah yang membuat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam merasa terkesan kepadanya serta bersedia membantu Saudah tak ubahnya seperti masa kedukaan yang dialami Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sejak meninggalnya Khadijah Ummul Mukminin Ath-Thahirah. Wanita pertama yang beriman dikala manusia berada dalam kekafiran, yang mendermakan hartanya ketika manusia menahannya, dan melalui dialah Allah anugerahkan seorang putera. Namun setelah masa-masa itu datanglah Khaulah binti Hakim kepada Rasulullah seraya bertanya:Tidakkah engkau ingin menikah lagi, Ya Rasulullah? Dengan suara sedih dan duka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab :Siapakah yang akan menjadi istriku setelah Khadijah, ya Khaulah? Khaulah berkata lagi :Terserah padamu , ya Rasulullah.., engkau menginginkan yang gadis atau yang janda Siapakah yang masih perawan?, tanya Rasulullah kepada Khaulah Khaulah pun menjawab :Anak perempuan dari orang yang paling engkau cintai, Aisyah binti Abu Bakar Dan siapakah kalau janda? tanya beliau. Khaulah menjawab: Ia adalah Saudah binti Zamah, yang ia beriman kepadamu dan mengikutimu atas apa-apa yang kamu ada padanya Akhirnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menikah dengan Aisyah radhiyallahu anha dan tidak lama kemudian beliau menikahi Saudah menjadi pendamping kedua bagi beliau Kehadirannya sebagai istri dalam rumah tangga Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mampu membahagiakan hati beliau. Dan Saudah hidup bersendirian dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sekitar tiga tahun lebih. Beliau membantu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan putri-putri beliau. Setelah selama tiga tahun baru kemudian datang lah Aisyah ke rumah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan disusul istri-istri beliau yang lain seperti Hafshah, Zainab Ummu Salamah, dan lainnya.

Saudah memahami bahwa pernikahannya dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam didasari karena rasa iba beliau kepadanya setelah kematian suaminya. Semua itu menjadi jelas ketika Nabi ingin menceraikannya secara baik-baik, sehingga ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyampaikan tentang keinginannya untuk talak (thalaq) Saudah, maka Saudah merasa se-akan-akan berada dalam mimpi yang buruk yang menyesakkan dadanya. Ia tetap ingin menjadi istri Sayyidul Mursalin sampai Allah membangkitkannya dirinya di hari kiamat kelak Dengan suara yang lembut ia berbisik kepada suaminya: Tahanlah aku, wahai Rasulullah dan demi Allah, aku berharap Allah membangkitkan aku di hari Kiamat dalam keadaan aku sebagai istrimu Kemudian ia memberikan hari-hari gilirannya untuk Aisyah istri yang sangat disayangi beliau. Akhirnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memperkenankan permintaan wanita yang mempunyai perasaan baik ini. Sehingga Allah turunkan ayat tentang hal ini, yaitu dalam surat An-Nisa ayat 128 : maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik Rasulullah bersabda : "Tidak ada seorang wanita pun yang paling aku senangi menjadi orang sepertinya selain Saudah binti Zam`ah... (Hadis riwayat Muslim dari Aisyah radiyallahu 'anha). "Kata Saudah: Wahai Rasulullah, aku berikan hariku kepada Aisyah radliyallahu 'anha. Jadi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membagi waktu kepada Aisyah radliyallahu 'anha dua hari, sehari miliknya sendiri dan sehari lagi pemberian Saudah."(HR Muslim dari Aisyah radliyallahu 'anha) Demikianlah Ummul Mukminin Saudah tinggal di rumah Nabi, dan beliau hari-harinya dengan keridhaan, ketenangan dan rasa syukur kepada Allah sampai kepergiannya menghadap Rabbnya dimasa pemerintahan Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu Wallahu alam bishshowwab