Anda di halaman 1dari 4

PEGADAIAN SYARIAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas Tengah Semester Mata Kuliah : Lembaga Keuangan Syari`Ah Dosen Pengampu : Bapak Ahmad Supriyadi, S.Ag., M.Hum.

Disusun Oleh: KHAMBALI


209014

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) KUDUS JURUSAN SYARI`AH/AS 2011

4.Kententuan Barang Gadai


Dalam menggadaikan barang dipegadaian barang syariah harus memiliki ketentuan-ketentuan sbb: 1. Barang yang tidak boleh di jual,tidak boleh digadaikan 2. tidak sah menggadaikan barang yang bukan milik orang lain 3. gadai itu tidak sah apa bila utangnya belum pasti 4. disyaratkan pula utang piutang dalam gadai diketahui ke2 belah pihak 5. menerima gadai oleh pegadaian adalah salah satu rukun akad gadai yang ditetapkan oleh pegadaian 6. seandaainya ada orang menggadaikan barang namun barang tersebut belum diterima oleh pegadaian ,maka orang tersebut boleh membatalkannya 7. apabila ke2 belah pihak itu saling menyepakakati ,barang sudah ada ditangan pegadaian maka sudah sah /resmi digadai 8. penarikan kembali (pembatalan)akad gadai itu adakalanya dengan ucapan (mengucapkan dengan kata-kata)dan ada kalanya dengan tindakan(langsung dicabut secara langsung) 9. jika akhir masa sewanya belum tiba waktu membayar utangnya termasuk batal 10. barang gadai adalah amanat ditangan penerima gadai karena ia telah menerima barang itu dengan ijin nasabah 11. jika masa pembayaran utang pada gadai lebih awal dari pada masa sewa maka tidak termasuk [pembatalan gadai 12. jika barang itu musnah tanpa ada kesengajaan dari pihak penggadai tidak wajib menanggung wajib menanggung barang tersebut dan jumlah pinjaman yang telah diterima oleh pegadaian tidak boleh dipotong/dibebaskan, sebab barang tersebut adalah amanat nasabah untuk mendapatkan pinjaman. 5. Akad Perjanjian Gadai Syariah Ada akad perjanjian yaitu: 1. Akad al-qardhul hasan adalah akad yang dilakukan pada kasus nasabah yang menggadaikan barangnya untuk keperluan konsumtif. Dengan dmikian nasabah (rahin) akan

memberikan biaya upah atau fee kepada pegadaian (murtahin) yang telah menjaga atau merawat barang pegadaian (marhun) 2. Akad al-madharabah adalah akad yang dilakukan untuk nasabah yang menggadaikan jaminannya untuk menambah modal usahanya (pembiayaan infestasi dan modal kerja) dengan demikian rahin akan memberikan bagi hasil (berdasarkan keuntungan) kepada murtahin sesuai dengan kesepakatan, sampai modal yang dipinjam dilunasi 3. Akad bai al muqayyadah Untuk sementara akad ini dapat jika rahin yang menginginkan menggadaikan barangnya untuk keperluan produktif, artinya dalam menggadaikan rahin, tersebut menginginkan modal kerja berupa pembelian barang, sedangkan barang yang dijaminkan untuka akad ini adalah barang-barang yang dapat dimanfaatkan oleh rahin atau murtahin. Dengan demikian murtahin akan memberikan barang yang sesuai kaenginan rahin dan akan memberikan uang kepada murtahin sesuai dengan kesepakatan pada saat akad sedang berlangsung

6. Persamaan Dan Perbedaan Antara Gadai Syariah Dan Gadai Konvensional Persamaan Hak gadai atas pinjaman uang Adanya anjunan sebagai jaminan hutang Tidak boleh mengambil barang yang digadaikan Biaya barang yang digadaikan ditanggung oleh para pemberi barang Apabila batas waktu pinjaman uang habis, barang yang digadaikan boleh dilelang atau dijual Perbedaan Gadai atau rahin dalam hukum islam dilakukan dengan sukarela atas dasar tolong-menolong tanpa mencari keuntungan, sedangkan gadai menurut hukum perdata disamping ada prinsip tolong-menolong juga menarik keuntungan dengan cara menarik bunga atau sewa Dalam hukum perdata, hak gadai hanya berlaku pada benda yang bergerak, yang berwujud. Sedangkan dalam hukum islam, gadai hany berlaku pada seluruh benda, baik benda yang bergerka maupun tidak bergerak Dalam gadai islam tidak ada istilah bunga Gadai dalam hukum perdata dilaksanakan melalui sesuatu lembaga yang disebut perusahaan pegadaian, rahin menurut hukum islam, dapat dilaksanakan tanpa melalui suatu lembaga