Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Landasan Teoritik


Teori merupakan serangkaian asumsi, konsep, data, definisi dan proposisi untuk
menerangkan suatu fenomena social secara sistematis dengan cara merumuskan
menghubungkan antar konsep. Penelitian ini mengkaji sudi mengenai peranan pemuda
dalam pembangunan Indonesia
II.2 Gerakan Sosial
Studi tentang gerakan sosial banyak bersangkutpaut dengan disiplin sosiologi
politik dan psikologi sosial, baik dari ulasan makro maupun mikro. Kaitan erat fenomena
gerakan sosial dengan psikologi sosial nampak pertma kali dari publikasi Charles Makay
yang berjudul Extraordinary Popular Delusions & The Madness of Crowds tahun 1841;
kemudian karya Gustav Le Bon yang berjudul The Crowd, publikasi Le Bon ini
membawa pengaruh besar meningkatkan perkembangan penelitian tentang perilaku
kolektif, seperti Robert Park seorang Amerika yang studi di Jerman yang menulis disertai
tentang perilaku individu dalam kerumunan tahun 1904; selanjutnya Park dan Ernest
Burgess mengulas contagion theory dalam buku introduction to the Science of Sociology
tahun 1921; Ralph Turner dan Lewis Killian yang memperkenalkan teori Emergent Norm
Perspective dalam bukunya Collective Behaviour tahun 1957; Neil Smelser dengan teori
The Value-Added dalam buku Theory of Collective Behavior tahun 1962; Clarck
McPhail dengan teori SBI (symbolic interactionist/ behaviorist) atau Sociocybernetic
yang menekankan bahwa perilaku kolektif adalah bentuk dari perilaku kelompok; Floyd
Allport dengan teori Konvergen mengulas perilaku kolektif dalam buku Social
Psychology tahun 1924; Neil Miller dan John Dollar dalam buku Social Learning and
Imitation tahun 1941; pendekatan individual terhadap perilaku kolektif dimunculkan
tahun 1988 oleh Michaek Hogg dan Dominic Abrams dalam bukunya Social
Identification : A Social Psychology of Intergroup Relations and Group Processes;
William Kornhauser dengan teori Mass Society dalam buku The Politics of Mass Society
tahun 1959 menyatakan bahwa gerakan sosial (social movement) sifatnya personal
daripada politis, karena terkait dengan keinginan terbebas dari masalah perasaan
terkekang/ terisolasi; Stoufer dengan teori deprivasi relatif tahun 1949 yang kemudian
dikembangkan oleh Denton Morrison tahun 1971 dalam buku Some Notes toward Theory
on Relative Deprivation, Social Movements and Social Change; Meyer Zald dan Roberta
Ash dalam bukunya Social Movement Organizations memunculkan teori Resource
Mobilization; serta Douglas Mc Adam dengan teori Political Process dalam buku terbitan
tahun 1982 dengan judul Political Process and the Development of Black Insurgency
1930-1970.
Di samping itu, menurut Cook et.al. (1995) banyak publikasi dari psikolog yang
mengulas perilaku kolektif dan gerakan social dari sudut psikologi social, antara lain :
Freud dengan bukunya Group Psychology & the Analysis of the Ego, yang terbit tahun
1921; Dollartd et.al. dengan bukunya Frustration and Aggression yang terbit tahun 1939;
Adorno et.al. dengan buku The Authoritarian Personality yang terbit tahun 1950.
Lebih jauh lagi Di Renzo (1990) dalam bukunya Human Social Behavior
mengugkapkan berbagai jenis dari perilaku kolektif, antara lain: crowds, panic behavior,
mass hysteria, behavior in desasters, rumor, publics, publics opinion, mass behavior, dan
social movement. Sedangkan Locher (2002) dalam bukunya Collective Behavior
membedakan perilaku kolektif sebagai berikut: mass suicides, mob violence, riots, crazes,
panics, fads, rumors, physical hysterias, millenarian groups, sightings, miracles dan social
movements. Menurut John Lofland (2003) perilaku kolektif mencakup 4 jenis yang
berbeda, yakni kerumunan (crowd), masa (mass), publik, dan gerakan sosial (social
movement).
Gerakan sosial dianggap memiliki keistimewaan dibanding perilaku kolektif yang
lain, utamanya tentang pengorganisasian kelompok yang tidak kelihatan pada jenis
perilaku kolektif yang lain. Pada dasarnya gerakan sosial mencakup beberapa konsep,
yakni; orientasi tujuan pada perubahan (change-oriented goals), ada tingkatan tertentu
dalam suatu organisasi (some degree of organization), tingkatan kontiunitas aktivitas
yang sifatnya temporal, (some degree of temporal continuity); serta aksi kolektif di luar
lembaga (aksi ke jalan) dan di dalam lembaga (lobi politik) (some extrainstitutional and
institutional) (Cook et.al., 1995). Dari berbagai konsep di atas nampak sekali bahwa
gerakan sosial mencakup pula adanya suatu organisasi tertentu yang lebih kompleks dan
bertahan lama dibanding perilaku kolektif lain misalnya crowd.
Sementara itu Locher (2002), menekankan bahwa gerakan sosial (social
movement) memiliki karakteristik yang berbeda dengan perilaku kolektif yang lain,
yakni: (1). Organized, perilaku para aktivis/ partisipan dalam gerakan sosial memiliki
strategi tertentu, ada pemimpin yang membuat tugas-tugas tertentu pada anggotanya, ada
kesadaran untuk mengarah pada sebuah tujuan ternentu; (2). Deliberate, artinya aktivis
gerakan ada kesenjangan untuk ikut serta dalam gerakan sosial, dalam upaya mencari
publisitas maka sedikit banyaknya orang yang ikut serta akan sangat berperan, ada
perencanaan yang disengaja untuk membesarkan bargaining power gerakan: (3).
Enduring, artinya sebuah gerakan sosial bisa berjangka waktu lama bahkan ada yang
dalam hitungan tahunan, seperti Green Peace, tergantung pada tujuan yang hendak
dicapai dalam sebuah gerakan sosial. Lebih jelasnya dapat dilihat dari berbagai definisi
dan pengertian dari gerakan sosial.
Gerakan sosial dapat didefinisikan sebagai gerakan suatu organisasi atau
sekelompok organisasi yang bermaksud mengadakan perubahan terhadap struktur sosial
yang sudah ada sebelumnya (Orum, 1974; Stallings, 1973; Wiggins et.al., 1994; Cook
et.al., 1995; Allen et.al., 1980). Sementara itu DiRenzo (1990) mendefinisikan gerakan
sosial sebagai perilaku dari sebagian anggota masyarakat untuk mengoreksi kondisi yang
hanya menimbulkan problem atau tidak menentu, serta memunculkan kehidupan baru
yang lebih baik.
DI sisi lain, Toch (dalam Kuppuswamy, 1979) mendefinisikan gerakan sosial
sebagai suatu usaha sejumlah individu yang secara kolektif bertujuan untuk
menyelesaikan problem yang muncul dalam suatu masyarakat. Searah dengan hal itu
Blumer (dalam Allan et.al., 1980) mendefinisikan gerakan sosial sebagai kegiatan
kolektif untuk memunculkan kehidupan baru. Sedangkan Gusfield (dalam Allen et.al.,
1980) mengartikan gerakan sosial sebagai aktifitas dan kepercayaan masyarakat akan
harapan adanya perubahan beberapa aspek dari kondisi sosial. Gerakan sosial yang
dimaksudkan, berbeda dengan perilaku kolektif yang lain seperti crowd, karena gerakan
sosial lebih terstruktur, mempunyai tujuan lebih jelas, serta mampu bertahan lama sebagai
fenomena sosial (DiRenzo, 1990; Wiggins et.al., 1994; Cook et.al., 1995).
Sementara itu Zurcher & Snow (dalam Michener dan Delamater, 1999),
mendefinisikan gerakan sosial sebagai aktivitas kolektif yang mengekspresikan tingkat
kepedulian yang tinggi tentang beberapa isu tertentu. Kepedulian tersebut bisa dalam
bentuk petisi, menyisihkan waktu dan uang, menceritakan pada keluarga atau teman,
berpartisipasi dalam pawai atau demo, mengungkapkan ketidakpatuhan atau
mengkampanyekan dukungan pada kandidat tertentu.

Secara lebih luas dapat dikatakan bahwa gerakan sosial mencakup dua istilah
pokok, yakni: aksi dan kolektif. Aksi yang dilakukan bisa dibedakan menjadi 4 jenis
(Wiggins et.al., 1994), yaitu: aksi sipil (Civil Actions), aksi protes (Protest Actions), aksi
menghalang-halangi (Obstruction Actions), serta aksi kekerasan (Violent Actions)
Sedangkan perilaku kolektif yang mengidikasikan bahwa aksi tersebut dilakukan
oleh lebih dari satu orang, dibedakan menjadi 3 hal (Wiggins et.al., 1994):
1. Organisasi (Organizations): suatu gerakan sosial bisa berupa organisasi tunggal
atau jaringan dari beberapa organisasi. Organisasi yang mempunyai tujuan utama
mengadakan perubahan sosial ini disebut dengan organisasi gerakan sosial (Social
Movement Organizations/ SMOs).
2. Kelompok dengan ciri-ciri tertentu (Identity Groups): gerakan sosial lebih
didasarkan pada kategori yang sama/ sejenis, misalnya gerakan wanita/ feminist,
homoseksual, kulit putih, kulit hitam, mahasiswa, atau pekerja.
3. Crowd: merupakan gerakan sosial dari beberapa orang yang berkumpul bersama
pada suatu waktu yang terbatas untuk mempertanyakan / memprotes suatu topik
tertentu. Perilaku individu yang berada dalam bentuk crowd ini sulit untuk
diarahkan atau dikontrol.

Secara lebih rinci ada cara lain untuk mengklasifikasikan gerakan sosial, yakni
berdasarkan tujuan atau cara tertentu yang digunakan, ada 4 tipe dari gerakan sosial
(DiRenzo, 1990):
1. Gerakan Perubahan (Reform Movements):
Gerakan perubahan dipusatkan pada perubahan bentuk tertentu dari masyarakat.
Tujuan gerakan ini terbatas, yakni mengkoreksi ketidakadilan yang ada di
masyarakat. Gerakan perubahan cenderung bekerja pada suatu sistem daripada
melawan sistem. Contoh dari gerakan ini antara lain: Gerakan Sadar Lingkungan,
Kelompok Gay, dan Feminis.
2. Gerakan Revolusioner (Revolutionairy Movement):
Gerakan Revolusioner cenderung sebagai gerakan yang ingin mengadakan
perubahan secara radikal pada nilai sosial, institusi, dan kegiatan. Gerakan
revolusioner ini cenderung menggunakan kekerasan untuk mendapatkan suatu
yang diinginkan. Banyak negara yang muncul akibat adanya gerakan ini, antara
lain: Perancis, Amerika Serikat, dan Uni Soviet. Berbagai contoh gerakan ini
antara lain: Revolusi Cina Komunis untuk membentuk negara RRC tahun 1949;
Revolusi Kuba tanggal 26 Juli 1950 oleh Fidel Castro untuk menumbangkan
rejim Fulgencio Battista; Revolusi menggulingkan Shah Iran Reza Pahlevi oleh
Ayatollah Khomeinin tahun 1979; dan revolusi yang terjadi di Nicaragua tahun
1980 yang dilakukan oleh Gerakan Nasional Sandinista untuk menjatuhkan
kepemimpinan diktatorial Anastasio Somoza.
3. Gerakan Reaksioner
Tujuan gerakan reaksioner adalah menghalangi perubahan yang akan terjadi atau
mencegah perubahan yang berasal dari tempat lain. Gerakan ini kebanyakan
muncul pada waktu perubahan sosial yang radikal terjadi. Selama itu banyak
individu yang mengalami perasaan tidak menentu. Akibatnya mereka memelihara
status quo atau kembali pada cara / jalan sebelumnya. Contoh gerakan ini adalah
Klu Klux Klan yang tidak menginginkan hak sama antara kulit hitan dan putih;
kampanye melawan Equal Right Amendment yang diperjuangkan kaum feminis;
gerakan Life to Life yang ingin mencabut legalisasi aborsi; gerakan Moral
Majority yang berjuang untuk kembali pada ajaran agama Kristen yang
fundamental; serta gerakan anti nuklir (Green Peace).
4. Gerakan Ekspresif
Gerakan ekspresif ini lebih ditunjukan pada individu daripada masyarakat.
Berbeda dengan gerakan sosial lainnya, gerakan ekspresif ini berorientasi pada
perubahan psikologis. Gerakan ini mencari puas secara emosional dan
kesejahteraan masyarakat yang mengarah pada pengembangan identitas atau gaya
hidup yang baru. Individu yang bergabung dalam gerakan ini berharap
menemukan jalan yang efektif sebagai kompensasi perasaan frustasi yang
diakibatkan kondisi sosial yang menindas. Individu merubah hubungan atau
reaksi pada masyarakat dengan mengadopsi filosofi kehidupan yang baru atau
merevisi sistem kepercayaan dan nilai-nilai hidupnya. Contoh dari gerakan ini
antara lain: gerakan Kebebasan Gay (Gay Liberation Movement) dan Gerakan
Kebebasan Wanita (Women’s Liberation Movement).

Sementara itu Locher (2002) mengungkapkan berbagai jenis dari gerakan sosial,
antara lain:
1. Alternative Social Movements
Gerakan sosial ini menginginkan membuat perubahan pemikiran perilaku pada
sekelompok orang pada masalah tertentu. Gerakan ini tidak mengancam pada
stabilitas pada struktur sosial tertentu, namun hanya mengadakan perubahan pada
masyarakat tertentu dengan cara-cara tertentu pula. Sebagai contoh DARE (Drug
Abuse Resistance Education) Program dan SADA (Students Against Drugs and
Alcohol) yang sasarannya mengarahkan kalangan muda Amerika untuk menjauhi
narkoba.
2. Redemptive Social Movements
Gerakan ini menginginkan adanya perubahan yang lebih dramatis tetapi hanya
dalam kehidupan dari kelompok tertentu. Tujuan dari gerakan ini adalah
mengadakan perubahan / transformasi yang kelompok tertentu. Jadi targetnya
pada kelompok yang spesifik dan terbatas. Contohnya adalah gerakan dari sekte
tertentu yang bertujuan memberikan keselamatan tapi hanya kepada mereka yang
masuk dalam kelompoknya.
3. Reformative Social Movements
Gerakan ini menginginkan adanya perubahan pada komunitas atau masyarakat
tetapi dengan cara-cara terbatas. Tujuan dari gerakan ini adalah merubah sikap
masyarakat tentang topik atau pandangan tertentu. Gerakan reformasi sosial ini
tidak ingin melawan atau mengganti pemerintahan, tapi ingin pemerintah
merubah hal-hal tertentu yang tidak sesuai. Gerakan ini bisa bersifat progresif
atau reaksioner.
4. Revolutionary Social Movements
Gerakan ini menginginkan adanya perlawanan yang total terhadap pranata sosial
sebelumnya dan mengganti dengan sistem yang baru. Tujuan gerakan adalah
mengadakan perubahan total di masyarakat. Gerakan ini ingin melawan
pemerintahan dan menggantinya dengan pemimpin yang baru. Biasanya akan
muncul dinasti atau pemerintahan dengan paham baru ayng sangat berbeda sekali
dengan pemerintahan/ kekuasaan sebelumnya.

Ryan (dalam DIRenzo, 1990) mengidentifikasikan 4 tingkatan dari gerakan sosial.


Formulasi secara sederhana merupakan bentuk ideal untuk membantu menunjukkan
dinamika dan proses dari gerakan sosial. Empat tingkatan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Incipient Stage:
Pada situasi gerakan sosial haruslah ada tipe dari tekanan struktur atau sosial yang
tidak memuaskan dialami oleh individu. Kondisi yang tidak menyenangkan dan
tidak teraihnya kebutuhan bisa disebabkan oleh persoalan khusus, misalnya
diskriminasi atau pengangguran. Kondisi ini mengarah pada situasi tidak nyaman
(malaise), mengembangkan alienasi, masa menjadi gelisah dan mulai muncul
keresahan. Hal inilah yang menjadi karakteristik yang khas yang memungkinkan
munculnya atau kesiapan untuk melakukan gerakan sosial.
2. Popular Stage:
Pada tingkatan selanjutnya berkembang sejumlah orang untuk saling mengenal
dan membagi perasaan antara satu dengan yang lain. Identifikasi dengan gerakan
akan meningkatkan secara cepat bila ondisi yang tidak menyenangkan bertambah.
Pimpinan atau agitator menjadi pemicu dramatisasi situasi dan meningkatkan
jumlah pengikut gerakan. Aktifitas utama pada fase ini mencakup klarifikasi
persoalan dan tujuan, serta memelihara aktifitas yang berbeda dari para anggota
dengan memusatkan pada tujuan gerakan.
3. Organizational Stage:
Pada fasi ini terjadi klarifikasi tujuan dan mobilisasi aksi. Kelompok formal dan
organisasi yang lebih kompleks akan muncul. Selama periode ini muncul perilaku
yang terstruktur, yakni: peran kepemimpinan teridentifikasikan secara jelas;
pemimpin formal muncul; tugas-tugas dikembangkan; kebijaksanaan khusus dan
program kegiatan dibuat; tujuan terbentuk; dan strategi peningkatan mulai
dilaksanakan. Akhirnya faksi/ golongan akan berkembang, tergantung pada
ukuran gerakan, dasar perbedaan opini tentang persoalan dan metode resolusi.
4. Institutional Stage:
Fase terakhir ini akan muncul bila gerakan yang penuh kesuksesan diintegrasikan
dalam sejumlah struktur sosial dari masyarakat. Suatu saat situasi dikembangkan,
sehingga gerakan sosial tidak lama lagi menjadi fenomena perilaku kolektif.
Organisasi ini menjadi bagian dari organisasi sosial yang permanen dan lembaga
yang terstruktur dari suatu masyarakat. Akhirnya muncullah lembaga tertentu
yang mempunyai tendensi untuk ekspansi dan abadi. Kebanyakan gerakan sosial
tidak sampai pada fase ini.

Untuk lebih jelasnya fase-fase tersebut di atas bisa menjelaskan dinamika


munculnya gerakan mahasiswa sebagai berikut:
1. Pada awalnya sekelompok mahasiswa yang peduli akan perubahan kondisi sosial
ke arah yang lebih baik, berkumpul untuk melakukan suatu gerakan
memunculkan suatu isu sosial yang sedang hangat.
2. Kemudian dipilihlah seorang Koordinator Umum (kordum), yang bertugas untuk
mengkookdinasikan seluruh kegiatan gerakan. Kordum dibantu oleh Sekretaris,
Bendaharam Humas, dan Koordinator Lapangan (Korlap). Setelah terbentuk
mulailah diadakan rapat (dengan memberi surat undangan bagi mereka yang
dikenal atau diketahui afiliasi politik) untuk merancang kegiatan demo. Tugas
Bendahara adalah mengumpulkan dana yang diperoleh dari pribadi-pribadi yang
interes dengan kegiatan demo, termasuk dosen-dosen yang simpati, aktivis LSM,
dan mahasiswa lain. Sedangkan Humas mempunyai tugas vital untuk menyebar
luaskan pamflet, press release dan menghubungi bebagai pihak yang terkait dalam
demo. Sedangkan tugas Korlap adalah memimpin lagsung (pelaksana
operasional) kegiatan demo yang akan dilakukan, termasuk membatasi orang-
orang yang boleh untuk memberikan pidato. Tugas Korlap hanya berlangsung
sekali kegiatan demo. Korlap mempunyai anggota khusus yang mengurus
berbagai bidang, antara lain: Tim Advokasi, yang mempunyai tugas untuk
menyelesaikan persoalan para anggota demo yang tertangkap aparat kepolisian
atau militer. Mereka bekerja sama dengan LBH tertentu; Tim Keamanan yang
bertugas untuk menghindari terjadinya kekerasan dan provokasi negatif; Tim
Lobying ke aparat, yang bertugas untuk meloby ke aparat agar bisa long march ke
suatu tempat tertentu; Tim yang menghitung jumlah aparat kepolisian dan militer;
serta Tim dokumentasi untuk mendata identitas para pendemo.
3. Sebelum hari H dilakukan berbagai rapat dengan mengundang para aktivis.
Kemudian menandai poster atau pamflet agar terjadi provokasi negatif serta
sebagai bukti bila terjadi sesuatu dalam demo, dengan cara memberi nomor pada
setiap pamflet. Hal tersebut untuk menghindari kejadian demonstrasi mereka
disalahgunakan oleh oknum tertentu dengan membawa pamflet gelap.
4. Beberapa hari sebelum hari H disebarkan undangan untuk melakukan demo pada
setiap orang. Penyebaran undangan dilakukan guna menambah maraknya demo,
dengan harapan hadirnya aparat militer dan wartawan untuk meningkatkan
pemunculan isu dan publisitas di media massa.
5. Pada waktu hari H, yang mempunyai tugas penting adalah Korlap untuk
mengorganisasikan demo di lapangan agar tidak melenceng dari arah yang sudah
digariskan. Misalnya menghadirkan diri untuk tidak melakukan tindakan brutal
terhadap aparat keamanan, seperti melempar batu/ sepatu ke aparat. Tugas Korlap
tersebut berhenti dalam satu kali demonstrasi, yang kemudian diganti lagi pada
demo berikutnya.
6. Setelah kegiatan demo selesai, maka tugas dari Humas untuk membuat kronologi
laporan yang menyangkut proses kegiatan demo. Pembuatan laporan ini kadang
didramatisir sedemikian rupa untuk lebih meningkatkan penyebaran isu sosial.
Laporan kemudian diserahkan pada berbagai media massa untuk ditayangkan
esok harinya.
7. Kegiatan demonstrasi bertahan lama apabila tujuan gerakan belum tercapai.
Namun demikian pada kenyataan di lapangan jarang ada gerakan mahasiswa yang
melembaga dalam sebuah system dan diakui oleh sistem (perguruan tinggi).
Selain itu semakin banyaknya tuntutan untuk segera menyelesaikan kuliah dan
tugas perkuliahan yang sudah selesai (lulus) membuat aktivis gerakan mahasiswa
hanya terhenti pada fase munculnya organisasi
II.3. Mahasiswa
Dalam bukunya yang berjudul Mahasiswa dan Gerakan Sosial Drs. Andik Matulessy,
M.Si menjabarkan bahwasanya pemahaman mengaenai mahasiswa terdiri dari 2
pengertian yang saling komplementer, pertama, predikat “maha” yang berarti “besar”
menempatkan mahasiswa pada posisi atau status social yang tinggi, dalam arti memiliki
kapasitas mental-sosial yang patut dibanggakan, yakni idealisme yang tinggi, kejujuran,
keterbukaan, kreativitas, menolong yang lemah, berani dan berbagai predikat lain yang
sulit dicapai oleh golongan yang lain; kedua, mahasiswa dianggap memiliki kapasitas
kecerdasan/intelektual yang melebihi kelompok yang lain, yang ditunjukkan dengan
kemampuannya untuk menganalisis persoalan, memecahkan persoalan penting dalam
kehidupansosialnya, melakukan kajian pada persoalan yang up-to date, mendalami ilmu,
tampil dalam mimbar ilmiah, perdebatan akademik, dan sebagainya. Aktualisasi dari
kedua fungsi tersebut ditampilkan dalam berbagai kegiatan, baik yang bernuansakan
ilmiah-akademik, religius, hura-hura, lomba karya ilmiah, penyaluran hobby sampai
dengan memunculkan dalam bentuk sebuah gerakan social atau lebih dikenal dengan
unjuk rasa ataupun demo.
Adapun pengertian lain menyebutkan, mahasiswa adalah sekelompok angkatan umur
dengan rata-rata umur 17 tahun-26 tahun yang telah menyelesaikan pendidikan di
Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dn meneruskannya ke Perguruan Tinggi

Hasil Tujuan

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Mahasiswa Persepsi/ Idealisme Gerakan Mahasiswa

Latar Belakang:
-Keadaan Nasional
Indonesia